ANALISIS GERAK KETERAMPILAN PASSING BAWAH DALAM PERMAINAN BOLA VOLI ( Suatu Tinjauan Anatomi, Fisiologi, dan Biomekanika )

Teks penuh

(1)

ANALISIS GERAK KETERAMPILAN PASSING BAWAH DALAM PERMAINAN BOLA VOLI ( Suatu Tinjauan Anatomi, Fisiologi, dan Biomekanika )

SKRIPSI

Diajukan sebagai syarat menyelesaikan Studi Strata I untuk mendapatkan gelar Sarjana Sains

oleh :

Aditya Bayu Perdananto 6250406033

ILMU KEOLAHRAGAAN

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

(2)

ii

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimanakah analisis gerak keterampilan passing bawah dalam permainan bola voli ditinjau dari segi anatomi, fisiologi, dan biomekanika? Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui analisis gerak keterampilan passing bawah dalam permainan bola voli ditinjau dari segi anatomi, fisiologi, dan biomekanika.

Subjek dalam penelitian ini adalah pemain Klub Bola Voli Putra Mustika Blora yang berjumlah 6 orang. Untuk objek/variabel penelitian adalah analisis gerak keterampilan passing bawah ditinjau dari anatomi, fisiologi, dan biomekanika. Untuk memperoleh data yang sesuai maka dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi dan pengamatan/observasi. Data dokumentasi diperoleh dari buku, majalah, dokumen, artikel. Untuk data pengamatan diperoleh dari pedoman pengamatan yang berdasarkan landasan teori. Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerak keterampilan passing bawah pada pemain bola voli Putra Mustika dalam kategori baik, dengan rincian : 1. ditinjau dari faktor anatomi dalam kategori baik, 2. ditinjau dari faktor fisiologi dalam kategori sangat baik, 3. ditinjau dari faktor biomekanika dalam kategori baik

Setelah diperoleh hasil penelitian dan dibahas, maka dapat diambil simpulan bahwa gerak keterampilan passing bawah secara keseluruhan pemain di Klub Bola Voli Putra Mustika dalam ketegori baik, dengan rincian : 1. gerak keterampilan passing bawah pemain bola voli Putra Mustika ditinjau dari faktor anatomi dalam kategori baik, 2. gerak keterampilan passing bawah pemain bola voli Putra Mustika ditinjau dari faktor fisiologi dalam kategori sangat baik, 3. gerak keterampilan passing bawah pemain bola voli Putra Mustika ditinjau dari faktor biomekanika dalam kategori baik.

Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan, maka peneliti mengajukan saran : Bagi pemain bola voli, agar dapat melakukan keterampilan passing bawah dengan baik dan benar, maka perlu lebih memperhatikan faktor anatomi, fisiologi, dan biomekanika, bagi pelatih, dalam pelaksanaan latihan para pemain hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip latihan diantaranya pengelolaan latihan dengan memperhatikan faktor anatomi, fisiologi, dan biomekanika, dan bagi peneliti lain yang melakukan penelitian sejenis, hendaknya hasil penelitian ini digunakan sebagai bahan pertimbangan agar diperoleh hasil yang lebih dapat dipertangungjawabkan secara ilmiah.

(3)

iii

hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah. Apabila di kemudian hari terbukti skripsi ini adalah hasil jiplakan dari karya tulis orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Semarang, Mei 2011

Aditya Bayu Perdananto NIM 6250406033

(4)

iv

telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang

Pada hari : Kamis

Tanggal : 18 Agustus 2011

Panitia Ujian,

Ketua Panitia Sekretaris

Drs. Tri Nurhasono, M.Pd Drs. Hadi Setyo S, M.Kes NIP. 19600429.198810.1.001 NIP. 19551229.198810.1.001 Dewan Penguji, 1. DR. Soegiyanto, MS (Ketua)_________________ NIP. 19540111.198103.1.002 2. Dr. Sugiharto, MS (Anggota)_______________ NIP. 19571123.198503.1.001

3. Drs. Musyafari Waluyo, M.Kes (Anggota)_______________ NIP. 19490507.197503.1.001

(5)

v “Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan umatnya, manusia berusaha dan Allahlah yang menentukan”

PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan untuk : 1. Bapak dan ibu tercinta

2.Adik-adikku tersayang 3. Almamaterku IKOR 2006 4. Kerabat rudid kost

(6)

vi

hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan pembuatan skripsi dengan judul “Analisis Gerak Keterampilan Passing Bawah Dalam Permainan Bola Voli” . Penulisan skripsi ini merupakan pemenuhan sebagian syarat untuk menyelesaikan program studi Strata Satu pada Jurusan Ilmu Keolahragaan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang.

Seiring dengan rasa syukur penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang kami hormati :

1. Prof. Dr. H. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si., Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk menimba ilmu di Universitas Negeri Semarang;

2. Drs. Harry Pramono, M.Si., Dekan FIK Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kemudahan dalam pengurusan surat ijin penelitian.

3. Drs. Musyafari Waluyo, M.Kes., Ketua Jurusan IKOR yang telah memberikan pengarahan dalam penyusunan skripsi.

4. Dr. Sugiharto, MS., Dosen pembimbing 1 yang telah memberikan bimbingan, saran, dan dukungan hingga selesainya skripsi ini.

5. Drs. Musyafari Waluyo, M.Kes., Dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, saran, dan dukungan hingga selesainya skripsi ini. 6. Kusnan, Spd., Ketua Klub Bola Voli Putra Mustika Blora yang telah

(7)

vii

8. Bapak dan Ibu Dosen FIK yang telah mendidik serta memberikan bekal ilmu pengetahuannya kapada penulis skripsi.

9. Karyawan dan karyawati FIK yang telah banyak membantu dalam bidang Administrasi.

10. Teman – teman mahasiswa IKOR’06 yang telah banyak memberikan semangat dalam penyusunan skripsi ini.

11. Bapak, ibu, dan adikku tercinta yang telah banyak memberikan dukungan baik moral maupun materiil dan tak pernah lelah berdoa untukku.

12. Semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan dan dukungan dalam penyusunan skripsi ini.

Semoga segala bantuan yang Bapak/Ibu dan Saudara berikan kepada peneliti, mendapat berkah dan balasan dari Allah SWT. Akhirnya peneliti berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Semarang, 2011

(8)

viii

HALAMAN JUDUL………...……….. i

SARI……… ii

PERNYATAAN……….. iii

PENGESAHAN……… iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ……….. v

KATA PENGANTAR………... vi

DAFTAR ISI……… viii

DAFTAR TABEL……… xi

DAFTAR GAMBAR ……….. xii

DAFTAR LAMPIRAN……… xiii

BAB I PENDAHULUAN……….. 1 1.1 Latar Belakang………. 1 1.2 Permasalahan………... 6 1.3 Tujuan Penelitian………. 6 1.4 Pembatasan Masalah………... 6 1.5 Manfaat Penelitian……….. 6

1.6 Sumber Pemecahan Masalah……….. 7

BAB II LANDASAN TEORI……… 8

2.1 Landasan Teori……… 8

2.1.1 Permainan Bola Voli……… 8

2.1.2 Teknik Permainan Bola Voli……… 9

2.1.2.1 Servis……… ……… 9

2.1.2.2 Passing……….. 10

2.1.2.3 Umpan………. 10

2.1.2.4 Smash………... 10

2.1.2.5 Bendungan……… ……… 10

(9)

ix

2.1.5 Analisis Gerak Passing Bawah……… 14

2.1.5.1 Sikap Awalan………... 15

2.1.5.2 Sikap Saat Perkenaan………... 15

2.1.5.3 Sikap Akhir………... ……… 16

2.1.6 Analisis Anatomi Dalam Passing Bawah………. 19

2.1.6.1 Kerja Sendi Dan Gerak Yang Terjadi……….. 20

2.1.7 Analisis Fisiologi Dalam Passing Bawah……… 21

2.1.7.1 Mekanisme Gerakan Otot………. ……… 22

2.1.7.2 Otot Yang Berperan Dalam Passing Bawah……… 23

2.1.7.3 Bentuk Kontraksi Otot Dalam Passing Bawah………. ……… 27

2.1.8 Analisis Biomekanika Dalam Passing Bawah………. 31

2.1.8.1 Sifat Gerakan……… ……… 32

2.1.8.2 Prinsip Mekanika Yang Diterapakan……… 33

2.2 Kerangka Berfikir……… 37

2.2.1 Analisis Anatomi Pada Gerak Keterampilan Passsing Bawah………. 37

2.2.2 Analisis Fisiologi Pada Gerak Keterampilan Passing Bawah………... 38

2.2.3 Analisis Biomekanika Pada Gerak Keterampilan Passing Bawah…... 40

BAB III METODE PENELITIAN……… 42

3.1 Metode Penelitian……… 42

3.2 Subjek Penelitian……… 42

3.3 Objek Penelitian……….. 42

3.4 Teknik Pengumpulan Data……….. 43

3.5 Instrumen Penelitian……… 44

3.6 Analisis Data……… 44

3.6.1 Analisis Deskriptif………... 44

3.6.1 Analisis Deskriptif Presentase………. 45

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……….. 47

(10)

x

BAB V SIMPULAN DAN SARAN………. 59

5.1 Simpulan……….. 59

5.2 Saran……… 60

DAFTAR PUSTAKA ………... 61

(11)

xi

3.1. Kategori Deskriptif Persentase……… 46

4.1. Ringkasan Data Faktor Anatomi………. 47

4.2. Ringkasan Data Faktor Fisiologi………. 47

4.3. Ringkasan Data Faktor Biomekanika……….. 48

4.4. Ringkasan Data Keseluruhan………... 48

4.5. Anatomi……… 48

4.6. Fisiologi……… 49

4.7. Biomekanika ……… 49

(12)

xii

1. The Dig (Clenched First Method) ………. 12

2. Mengemis (Thumb Over Palm Method) ……… 12

3. Sikap Saat Perkenaan Bola Pada Passing Bawah ……….. 13

4. Sikap Awalan ………. 15

5. Sikap Perkenaan ………. 16

6. Sikap Akhir ……… 16

7. Urutan Gerak Berguling Ke Samping ……… 18

8. Urutan Gerak Menjatuhkan Diri Ke Depan ………... 19

9. Otot Bahu ………... 25

10. Otot Lengan Bawah ………. 27

11. Gerakan Ekstensor Siku ………... 28

12. Gerakan Perkenaan Bola ……….. 29

13. Gerakan Lanjutan ………. 29

14. Gerakan Persiapan ……… 30

15. Gerakan Perkenaan ………... 30

(13)

xiii

1. Lembar Pedoman Pengamatan atau Observasi ……….. 63

2. Deskripsi Data Anatomi ………. 69

3. Deskripsi Data Fisiologi ………. 71

4. Deskripsi Data Biomekanika ……….. 73

5. Deskripsi Data Faktor Keseluruhan ……… 75

6. Hasil Analisis Data ……….. 80

7. Usul Penetapan Pembimbing ………... 81

8. SK Dosen Pembimbing ……… 82

9. Surat Ijin Penelitian ……….. 83

10. Surat Keterangan Telah Penelitian ………. 84

11. Surat Keterangan Pelatih ……… 85

12. Sertifikat Pelatih ………. 86

(14)

1.1 Latar Belakang

Permainan bola voli sudah dikenal sejak abad pertengahan terutama di Negara-negara Romawi. Perkembangan bola voli mengalami banyak perubahan sesuai dengan perkembangan jaman, ilmu pengetahuan dan teknologi, baik perubahan fasilitas dan perlengkapan maupun peraturan permainan/perwasitan, sejak lahirnya sampai sekarang, diciptakan oleh William G Morgan seorang guru pendidikan jasmani pada Young Man Christian Association (Y.M.C.A) di Amerika Serikat pada tahun 1895 (A. Sarumpaet, 1992:72).

Bola voli merupakan permainan yang awal mulanya ditujukan oleh William G Morgan sebagai olahraga rekreasi di dalam lapangan yang tertutup (indoor) bagi mereka yang menghendaki rekreasi setelah bekerja sehari penuh. Pada waktu itu, olahraga yang sedang populer adalah basket yang diciptakan pada tahun 1981. Morgan melihat para pengusaha yang bermain basket banyak yang sudah mencapai usia lanjut, sementara basket termasuk olahraga yang memeras tenaga. Selain itu, mereka lebih menginginkan olahraga yang tidak terlalu menguras tenaga. Itulah yang mendorong William G Morgan memperkenalkan olahraga bola voli (Nuril Ahmadi, 2007:2).

Berkembang dan terwujudnya peraturan permainan bola voli yang seragam diseluruh dunia berawal dari terbentuknya International Volley Ball Federation (IVBF) di Paris pada tahun 1946. Selanjutnya peraturan permainan bola voli masih akan berkembang dan memang harus dikembangkan sejalan

(15)

dengan perkembangan permainannya. Setelah terbentuknya IVBF, segala sesuatu tentang perubahan peraturan permainan yang berhak untuk mengesahkannya adalah konggres IVBF (M.Mariyanto, Sunardi, Agus Margono, 1994:12).

IVBF bertugas untuk mengembangkan cabang olahraga yang berada di bawah naungannya. Tugas tersebut diantaranya menghimpun perkumpulan bola voli nasional yang telah menjadi anggota dan membantu perkembangan organisasi bola voli nasional suatu negara mulai pemasalan, pembibitan, pembinaan, dan pertandingan antar klub maupun antar sekolah perguruan tinggi. Bahkan IVBF juga bertanggung jawab atas penyelenggaraan berbagai macam pertandingan yang bertaraf internasional seperti olimpiade (M.Mariyanto, Sunardi, dan Agus Margono, 1994:12). Dengan masuknya permainan bola voli ke dalam olimpiade, olahraga ini makin populer dan digemari oleh masyarakat umum di seluruh dunia dan bahkan merupakan salah satu cabang olahraga yang mempunyai penggemar terbanyak di dunia (Machfud Irsada, 1999 : 7).

Teknik permainan bola voli pada awalnya amat sederhana, yang bertujuan untuk memantulkan bola sehingga melewati atas jaring ke lapangan lawan. Sama sekali tidak ada tujuan memainkan bola agar dapat melewati jaring dan pihak pemain di seberang jaring mengalami kesulitan untuk mengembalikannya (Nuril Ahmadi, 2007:14).

Perkembangan tersebut mudah dipahami karena bola voli dimainkan semata-mata untuk tujuan rekreasi agar diperoleh kesenangan dan kegembiraan. Namun pada perkembangannya permainan bola voli menjadi olahraga yang kompetitif untuk mencapai prestasi. Karena itu, bola dimainkan untuk

(16)

diseberangkan ke lapangan lawan sampai lawan tidak bisa atau sulit memainkannya kembali. Oleh karena itu, penguasaan keterampilan memainkan bola dalam permainan bola voli menjadi tuntutan utama (Nuril Ahmadi,2007:14) Permainan bola voli merupakan suatu permainan yang kompleks yang tidak mudah dilakukan oleh setiap orang. Sebab, dalam permainan bola voli dibutuhkan koordinasi gerak yang benar-benar bisa diandalkan untuk melakukan semua gerakan yang ada dalam permainan bola voli (Nuril Ahmadi,2007:20). Dalam permainan bola voli ada beberapa bentuk teknik yang harus dikuasai. Teknik bola voli ada lima yaitu 1)servis (tangan bawah, tangan samping dan servis atas); 2)passing (passing atas dan passing bawah); 3)umpan; 4)smash (smash normal, smash semi, smash pull, smash pull straigh dan smash push); 5)block. Untuk dapat menjadi pemain bola voli yang baik teknik tersebut harus dapat dikuasai dengan baik (M. Yunus, 1992:130-132).

Salah satu teknik yang ada dalam permainan bola voli adalah operan lengan. Teknik ini juga dikenal sebagai operan tangan bawah (underhead passing) atau bump. Operan ini biasanya menjadi teknik pertama yang digunakan tim yang tidak memegang servis. Operan ini digunakan untuk menerima servis, menerima spike, memukul bola setinggi pinggang ke bawah, dan memukul bola yang memantul dari net. Berdasarkan kenyataan bahwa teknik ini kebanyakan hanya digunakan menerima bola, maka teknik ini biasanya hanya disebut sebagai operan (Barbara L Viera, 2004:19).

Passing bawah seringkali digunakan untuk mengarahkan bola kepada rekan satu tim. Sangat penting artinya bagi setiap pemain untuk dapat meredam

(17)

kekuatan bola yang dipukul dengan keras tersebut dan mengarahkan bola tersebut ke rekan satu tim agar ia dapat melakukan operan overhead atau mengumpan bola. Teknik ini merupakan titik awal dari sebuah penyerangan. Bila bola yang dioperkan jelek, pengumpan akan mengalami kesulitan untuk menempatkan bola yang baik untuk para penyerang (Barbara L Viera, 2004:19-20).

Pemain bola voli pada kenyataanya tingkat kondisi fisik, anatomis, fisiologis, serta keterampilan biomekanika geraknya berbeda, sedangkan untuk diperoleh bibit pemain bola voli yang baik perlu diketahui seberapa besar faktor tersebut diatas ikut berpengaruh terhadap hasil permainan bola voli terutama dalam melakukan passing bawah. M. Yunus (1992:13) menyatakan bahwa syarat-syarat bibit pemain bola voli yang baik antara lain dipenuhi syarat-syarat fisik, yaitu kesehatan yang baik tidak dimiliki cacat tubuh, postur tubuh tinggi, dimiliki unsur kondisi fisik yang baik (kekuatan, kecepatan, kelincahan, daya tahan, koordinasi, kelentukan, power) dan secara fisiologis dimiliki kemampuan kerja otot yang baik.

Apabila seseorang ingin mencapai sesuatu prestasi optimal perlu dimiliki empat macam kelengkapan yang meliputi: (1) pengembangan fisik, (2) pengembangan teknik, (3) pengembangan mental, (4) kematangan juara (M, Sajoto,1995:7). Kemudian faktor-faktor penentu pencapaian olahraga antara lain, aspek biologis terdiri dari: (1) potensi atau kemampuan dasar tubuh yang meliputi kekuatan, kecepatan, kelincahan, tenaga, daya tahan otot, daya kerja jantung dan paru-paru, kelentukan, keseimbangan, ketepatan dan kesehatan untuk olahraga, (2) fungsi organ-organ tubuh yang meliputi: daya kerja jantung, peredaran darah,

(18)

daya kerja paru-paru, daya kerja pernapasan, daya kerja panca indra, (3) struktur dan postur tubuh yang meliputi ukuran tinggi dan panjang tubuh, ukuran besar, lebar dan berat tubuh, (4) gizi yang meliputi jumlah makanan yang cukup, nilai makanan yang memenuhi kebutuhan, variasi makanan (M.Sajoto,1995:1)

Di lihat dari faktor anatomis dan fisiologis tubuh, passing bawah memerlukan koordinasi antara kerja sendi, gerak yang terjadi, otot yang berperan serta bentuk kontraksinya, dan tinjauan kerja syaraf yang terjadi dalam proses keefektifan kinerja. Sedangkan untuk faktor biomekanika, passing bawah memerlukan sifat gerakan, sifat gaya-gaya (sudut gerakan), serta prinsip mekanika yang diterapkan, misal : kestabilan dan keseimbangan, gaya otot, kelanjutan aplikasi gaya, dan prinsip-prinsip gerakan. Sehingga untuk dapat melakukan passing bawah dengan benar perlu diperhatikan kestabilan dan keseimbangan otot kaki, kelentukan dan besarnya sudut gerakan lengan terhadap tubuh, dan ketepatan melakukan ayunan lengan terhadap perkenaan dengan bola.

Keterampilan passing bawah yang dilakukan pada pemain pada umumnya kurang memperhatikan keefektifan dan koordinasi gerak. Seperti melakukan gerakan yang tidak perlu dilakukan atau gerakan yang berlebih dalam melalukan passing bawah. Hal tersebut hendaknya menjadi perhatian bagi tiap pemain maupun pelatih bola voli, yaitu pengetahuan tentang anatomi, fisiologi, dan biomekanika terhadap keterampilan gerak passing bawah.

Berdasarkan dari uraian diatas, maka peneliti akan mengadakan penelitian dengan judul “Analisis Gerak Keterampilan Passing Bawah Dalam Permainan Bola Voli ( Suatu Tinjauan Anatomi, Fisiologi, dan Biomekanika ) ” .

(19)

1.2 Pembatasan Masalah

Dari berbagai masalah yang muncul supaya pengkaji lebih mendalam dan menghindari salah perkiraan, maka masalah dalam penelitian ini dibatasi pada permasalah-permasalahan analisis gerak keterampilan passing bawah yang meliputi fisiologi, anatomi, dan biomekanika tubuh.

1.3 Permasalahan

Sesuai dengan latar belakang masalah dan alasan pemilihan judul maka munculah permasalahan yang dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut :

Bagaimanakah analisis gerak keterampilan passing bawah dalam permainan bola voli ditinjau dari segi anatomis, fisiologis, dan biomekanika tubuh?

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui : Analisis gerak keterampilan passing bawah dalam permainan bola voli ditinjau dari segi anatomis, fisiologis, dan biomekanika tubuh.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah :

1.4.1 Memberikan informasi kepada para pelatih bahwa faktor anatomis, fisiologis, dan biomekanika gerak tubuh berpengaruh terhadap gerak keterampilan passing bawah.

1.4.2 Bagi atlet bola voli merupakan informasi ilmiah dalam meningkatkan prestasi olahraga khususnya perbaikan teknik passing bawah.

(20)

1.4.3 Bagi penulis merupakan pengalaman berharga dan menambah pengetahuan serta wawasan dalam mempelajari cabang olahraga bola voli melalui pengalaman lapangan.

1.6 Sumber Pemecahan Masalah

Teori utama yang digunakan peneliti sebagai rujukan utama atau perspektif dalam penelitian ini adalah teori kinesiologi yang terdiri dari fisiologi, anatomi, biomekanika.

(21)

8 2.1 Landasan Teori

2.1.1 Permainan Bola Voli

Permainan bola voli merupakan salah satu cabang olahraga permainan besar yang dimainkan oleh 2 regu dan masing–masing regu terdiri 6 orang. Permainan ini adalah kontak tidak langsung, sebab masing-masing regu bermain dalam lapangannya sendiri dan dibatasi oleh jaring atau net. Prinsip bermain bola voli adalah memantul-mantulkan bola agar jangan sampai bola menyentuh lantai, bola dimainkan sebanyak-banyaknya tiga sentuhan dalam lapangan sendiri dan mengusahakan bola hasil sentuhan itu disebrangkan ke lapangan lawan melewati jarring masuk sesulit mungkin (Amung Ma’mun dan Totot Subroto, 2001:43). Olahraga ini mempunyai lapangan berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran panjang 18 m dan ukuran lebar 9 m dan dikelilingi oleh daerah bebas sekurangnya selebar 3 m yang dimainkan oleh dua grup berlawanan. Lapangan terbagi menjadi dua bagian yang sama panjang dengan dipisahkan oleh net yang melintang ditengah-tengah lapangan dengan tinggi 2,43 m untuk pria , 2,24 m untuk wanita dan lebar net sendiri 1 m. Garis batas serang untuk pemain belakang berjarak 3 meter dari garis tengah. Garis tepi lapangan adalah 5 cm dan berwarna terang berbeda dari warna lantai (Nuril Ahmadi,2007:16-19).

Permainan bola voli menggunakan bola sebagai alat, dan lengan tangan untuk memainkannya. Permainan bola voli ini dapat berlangsung atau dapat dilakukan dengan cara memvoli, yaitu memukul atau memainkan bola sewaktu

(22)

bola masih di udara. Maka yang menjadi pokok atau sasaran perhatian bagi setiap pemain adalah bola, untuk itu dalam setiap bermain voli pemain diharapkan dapat memainkan bola dengan baik. Lebih jelasnya bahwa dalam permainan bola voli ini, setiap pemain dituntut untuk dapat terampil atau menguasai bola dengan tangannya. Namun demikian jika bola memantul di udara dikarenakan oleh bagian tubuh yang lain serta bersih pantulannya juga diperkenankan (M. Mariyanto, Sunardi, dan Agus Margono, 1994:16).

2.1.2 Teknik Permainan Bola Voli

Teknik dalam meningkatkan prestasi bola voli erat sekali hubunganya dengan kemampuan gerak, kondisi fisik, taktik dan mental. Teknik bola voli harus dikuasai terlebih dahulu guna dapat mengembangkan mutu prestasi permainan bola voli. Penguasaan teknik permainan bola voli merupakan salah satu unsur yang menentukan, menang atau kalahnya suatu regu di dalam suatu pertandingan di samping unsur kondisi fisik, teknik dan mental (M. Mariyanto, Sunardi, dan Agus Margono, 1994:192).

Ada beberapa macam jenis pukulan yang harus dikuasai agar dapat bermain voli dengan baik dan benar, sehingga bisa mencapai prestasi optimal sesuai yang diharapkan. Adapun teknik dalam permainan voli yaitu meliputi : 2.1.2.1 Servis

Servis adalah pukulan bola yang dilakukan dari belakang garis akhir lapangan permainan melampaui net ke daerah lawan. Pukulan servis dilakukan pada permulaan dan setelah terjadinya setiap kesalahan (Nuril Ahmadi, 2007:20). 2.1.2.2 Passing

(23)

Passing adalah mengoperkan bola kepada teman sendiri dalam satu regu dengan suatu teknik tertentu, sebagai langkah awal untuk menyusun pola serangan kepada regu lawan (Herry Koesyanto, 2003:22).

2.1.2.3 Umpan

Umpan adalah usaha atau upaya seorang pemain bola voli dengan cara menggunakan teknik tertentu dengan tujuan menyajikan bola yang dimainkannya kepada teman secepatnya yang selanjutnya agar dapat melakukan serangan terhadap regu lawan (M. Mariyanto, Sunardi, dan Agus Margono, 1994:120). 2.1.2.4 Smash

Smash adalah pukulan bola yang keras dari atas ke bawah jalannya bola menukik melewati atas net menuju lapangan dan akan sulit diterima oleh lawan (M. Mariyanto, Sunardi, dan Agus Margono, 1994:127).

2.1.2.5 Bendungan (Block)

Block merupakan upaya pemain bola voli menggagalkan serangan lawan dengan cara membendung. Bendungan merupakan pokok dari seluruh pertahanan (M. Mariyanto, Sunardi, dan Agus Margono, 1994:137).

2.1.3 Tinjauan Teknik Passing

Macam-macam teknik passing ada dua yaitu passing atas dan passing bawah.

2.1.3.1 Teknik Passing Atas

Teknik passing atas ada tiga bagian, yaitu:

1) Sikap permulaan : ambil posisi siap normal yaitu kedua kaki berdiri selebar bahu, berat badan bertumpu pada telapak kaki bagian depan, lutut ditekuk dengan

(24)

badan merendah, tempatkan secepat mungkin di bawah bola, dengan kedua tangan diangkat lebih tinggi dari dahi, dan jari-jari tangan terbuka membentuk cekungan seperti setengah lingkaran bola.

2) Gerakan pelaksanaan : tepat pada saat bola berada di atas sedikit kedepan dahi, lengan diluruskan dengan gerakan agak eksplosif untuk mendorong bola, perkenaan bola pada jari-jari ruas pertama dan kedua dan yang dominan mendorong bola adalah ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah. Pada waktu perkenaan dengan bola, jari-jari agak ditegangkan kemudian diikuti dengan gerakan pergelangan tangan agar bola dapat memantul dengan baik.

3) Gerakan lanjutan : setelah bola memantul dengan baik, lanjutkan dengan meluruskan lengan kedepan atas, sebagai suatu gerakan lanjutan diikuti dengan memindahkan berat badan kedepan dengan melangkahkan kaki belakang kedepan dan segera mengambil sikap siap dalam posisi normal kembali (M. Yunus, 1992:80).

2.1.3.2 Teknik Passing Bawah

Passing bawah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan satu tangan dan dua tangan. Passing bawah satu tangan biasanya dipergunakan apabila bola berada agak jauh dari badan dan agak rendah. Bentuk-bentuk melakukan passing bawah antara lain, menggunakan lengan dengan jari-jari menggenggam, punggung tangan dengan jari-jari terbuka, dan pergelangan tangan bagian dalam dengan tangan menggenggam. Sedangkan passing bawah dengan dua tangan ada beberapa bentuk sikap tangan sebelum melakukan passing bawah dua tangan antara lain :

(25)

1) The Dig (Clenched First Method) yaitu kedua ibu jari sejajar dan jari-jari tangan yang satu membungkus jari tangan lainnya, ini asalnya dari Amerika. Bentuk ini sering digunakan bagi pemain yang sudah tinggi kemampuan passing bawahnya, karena lebih fleksibel apabila menerima bola dari arah manapun. 2) Mengemis (Thumb Over Palm Method) yaitu kedua telapak tangan menghadap keatas dengan punggung satu tangan menenpel pada telapak tangan lainnya dan dijepit ibu jari. Perkenaan bola diatas pergelangan tangan (bagian proksimal) bentuk ini lebih tepatnya bagi pemula karena untuk mempermudah mengantisipasi bola pada bidang perkenaan (Herry Koesyanto, 2003:27-28).

Gambar 1 Gambar 2

The Dig (Clenched First Method) Mengemis (Thumb Over Palm Method) (Herry Koesyanto, 2003:27) (Herry Koesyanto, 2003:28)

Teknik passing bawah ada tiga bagian, yaitu: 1) Sikap permulaan :

Ambil sikap siap normal dalam permainan voli, yaitu : kedua lutut ditekuk dengan badan sedikit dibongkokkan kedepan , berat badan menumpu pada telapak kaki bagian depan untuk mendapatkan suatu kesetimbangan labil agar dapat lebih mudah dan lebih cepat beergerak kesegala arah. Kedua tangan

(26)

saling berpegangan yaitu punggung tangan kanan diletakkan diatas telapak tangan kiri kemudian saling berpegangan.

2) Gerak pelaksanaan :

Ayunkan kedua lengan kearah bola dengan sumbu gerak pada persendian bahu dan siku dalam keadaan lurus. Perkenaan bola pada bagian proksimal dari lengan , diatas dari pergelangan tangan dan pada waktu lengan membentuk sudut sekitar 45 derajat dengan badan , lengan diayunkan dan diangkat hampir lurus. 3) Gerak lanjutan :

Setelah ayunan lengan mengenai bola , kaki belakang melangkah kedepan untuk mengambil posisi siap kembali dan ayunan lengan untuk passing bawah kedepan tidak melebihi sudut 90 derajat dengan bahu atau badan (M. Yunus, 1992:79).

Gambar 3

Sikap saat perkenaan bola pada passing bawah (M. Mariyanto, Sunardi, dan Agus Margono 1994:125)

2.1.4 Kesalahan Umum Passing Bawah

Kesalahan yang sering terjadi di dalam melakukan passing bawah menurut M. Mariyanto, Sunardi, dan Agus Margono (1994:127) antara lain sebagai berikut :

(27)

1) Lengan pemukul ditekuk pada siku sehingga papan pemukul sempit, akibatnya bola berputar atau membelok arahnya.

2) Perkenaan bola pada kepalan telapak tangan. 3) Pada saat kontak dengan bola lengan kurang sejajar.

4) Tidak gerakan yang harmonis atau simultan antara gerakan lengan badan dan kaki.

5) Terlalu eksplosif gerakan ayunan secara keseluruhan, sehingga bola jauh menyeleweng.

6) Lutut kurang menekuk pada langkah persiapan pelaksanaan.

7) Perkenaan atau kontak bola dengan lengan bawah terlambat sehingga arah bola ke atas belakang.

8) Bola tinggi yang seharusnya di passing atas, tetapi diambil dengan passing bawah, sehingga tidak akurat pada sasaran yang dituju.

9) Kurang dapat mengatur kontak dengan bola cepat, sesuai dengan datangnya bola.

2.1.5 Analisis Gerak Passing Bawah

Passing merupakan teknik yang terpenting yang harus dikuasai dengan baik oleh para pemain voli. Keberhasilan suatu regu dalam permainan bisa ditentukan oleh keberhasilan didalam melakukan passing. Oleh karena itu passing merupakan teknik dasar yang harus dipelajari dengan baik dan benar serta ditingkatkan keterampilannya dengan latihan.

Urutan sikap passing bawah pada dasarnya sama dengan gerakan passing atas yaitu pada sikap permulaan, sikap saat perkenaan dan sikap akhir.

(28)

Perbedaannya terletak pada saat perkenaan bola dan tingginya letak bola. Pada passing bawah perkenaan bola berlangsung dibagian lengan bawah, sedangkan passing atas perkenaan bola berlangsung dibagian ujung jari telapak tangan. Untuk lebih jelasnya, berikut penulis uraikan tentang gerakan passing bawah mulai sikap permulaan, sikap saat perkenaan dan sikap akhir serta teknik dalam melakukan passing bawah yaitu sebagai berikut :

2.1.5.1 Sikap Awalan

Pemain mengambil sikap normal passing bawah bersiap untuk menerima bola. Pada saat tangan akan kontak dengan bola tangan dan lengan diturunkan, serta tangan dan lengan dalam keadaan terjulur kebawah depan. Siku dan kedua lengan harus selalu lurus dan merupakan suatu papan pemukul.

Gambar 4 Sikap awalan

(M. Mariyanto, Sunardi, dan Agus Margono, 1994:125) 2.1.5.2 Sikap Saat Perkenaan

Lengan pemain saat akan kontak dengan bola, pada bagian sebelah atas pergelangan tangan, mengambil posisi sedemikian sehingga badan berada dalam keadaan menghadap pada bola. Pada saat bola berada pada jarak yang tepat maka lengan segera diayunkan dari arah bawah keatas depan. Pada saat mengayun bola tangan telah berpegangan satu dengan yang lain. Perkenaan bola harus

(29)

diusahakan tepat pada bagian proksimal dari pergelangan tangan, dengan bidang yang selebar mungkin agar bola dapat melambung stabil. Maksudnya adalah agar bola selama menempuh lintasannya tidak membuat putaran yang banyak. Pantulan bola setelah mengenai bagian proksimal dari pergelangan tangan, akan memantul keatas depan dengan lambungan yang cukup tinggi dengan sudut pantul 90.

Gambar 5 Sikap perkenaan

(M. Mariyanto, Sunardi, dan Agus Margono, 1994:68) 2.1.5.3 Sikap Akhir

Setelah bola selesai di passing bawah, maka segera diikuti pengambilan sikap siap normal, dengan tujuan agar dapat bergerak lebih cepat untuk menyesuaikan diri dengan keadaan (M. Mariyanto, Sunardi, dan Agus Margono, 1994:124)

Gambar 6 Sikap akhir

(30)

(M. Mariyanto, Sunardi, dan Agus Margono, 1994:68)

Keadaan posisi dan jarak bola tidak selalu dalam keadaan ideal untuk dapat dilakukan dengan posisi normal. Menurut M. Yunus (1992:79) variasi passing bawah terdiri dari :

1) Passing bawah ke depan pada bola rendah.

Kunci pelaksanaannya : Cepat merendah dan bergerak ke bawah bola. 2) Passing bawah bergeser diagonal 45 derajat ke depan.

Kunci pelaksanaannya : Jangan lari menghadap bola, gunakan langkah silang atau langkah samping.

3) Passing bawah pada bola jauh di samping badan.

Kunci pelaksanaannya : Melangkah panjang ke samping depan diagonal 45 derajat dengan merendah.

4) Passing bawah dengan bergerak mundur.

Kunci pelaksanaannya : Badan merendah dan jangan ditegangkan, lakukan langkah kecil ke belakang kemudian lakukan passing bawah dengan ayunan lengan dan mengangkat badan dengan rilek.

5) Passing bawah dengan bergerak mundur diagonal 45 derajat.

Kunci pelaksanaannya : Pusatkan pandangan ke arah bola, gunakan langkah silang diagonal kebelakang sambil merendahkan badan.

6) Passing bawah ke belakang.

Kunci pelaksanaannya : Putar badan dengan cepat, dan dengan badan merendah, ayunkan lengan ke arah bola. Kontak bola dengan lengan dilakukan saat sudut antara lengan dengan badan.

(31)

Teknik permainan bola voli saat passing bawah ada kalanya dilakukan dengan satu tangan, yang mana posisi bola tidak memungkinkan untuk dipassing dengan dua tangan. Bola jatuh jauh dari posisi pemain baik di samping atau di depan (M. Mariyanto, Sunardi, dan Agus Margono, 1994:203-204). Berikut uraian beberapa teknik passing bawah dengan satu tangan:

1) Passing bawah dengan satu tangan sambil menjatuhkan diri ke samping. Prinsip gerakannya adalah: sikap menunggu dengan lutut ditekuk, kaki dilangkahkan melebar ke arah samping, bola dipukul dengan sisi atas lengan bawah, tubuh atas bertumpu pada lutut yang ditekuk, kemudian dilanjutkan berguling ke samping dengan tumpuan berturut-turut pada paha, pantat, punggung, lalu bahu.

Gambar 7

Urutan gerak berguling ke samping

(M. Mariyanto, Sunardi, dan Agus Margono., 1994:204)

2) Passing bawah dengan satu tangan sambil menjatuhkan diri ke depan.

Prinsip gerakannya adalah : meloncat dengan bertumpu pada satu kaki, menerpa dengan gerakan mendatar ke depan, bola dipukul dengan punggung tangan ke atas, menyentuh lapangan dengan telapak tangan, tangan mendorong sehingga dada, perut, dan paha meluncur di lantai sementara betis ditekuk ke atas.

(32)

Gambar 8

Urutan gerak menjatuhkan diri ke depan

(M. Mariyanto, Sunardi, dan Agus Margono, 1994:204)

2.1.6 Analisis Anatomi Dalam Passing Bawah

Ada dua jenis sikap permulaan untuk menganalisis gerakan tubuh yaitu sikap berdiri tegak dan sikap berdiri anatomis. Istilah arah yang digunakan ialah anterior, posterior, distal, proksimal, superior, inferior, medial, superficial, profundus. Gerakan dasar yang terjadi pada bidang sagital dengan sumbu transfersal ialah fleksi, ekstensi, fleksi dorsal, fleksi plantar. Gerakan pada bidang frontal sumbu anteroposterior ialah abduksi, adduksi, abduksi horisontal, adduksi horisontal, elevasi, depresi, fleksi lateral, infers, eversi. Gerakan dasar pada bidang transfersal dengan sumbu longitudinal ialah rotasi medial, rotasi lateral, supinasi, pronasi. Gerak sirkumduksi terjadi pada bidang sagital dan frontal dengan sumbu triaksial (Sudarminto, 1992:15).

Gerakan passing bawah merupakan koordinasi bagian anggota gerak atas yang terdiri dari tulang belakang, gelang panggul, gelang bahu, lengan atas dan lengan bawah. Sedangkan bagian anggota gerak bawah yang terlibat terdiri dari tulang paha, tulang tempurung lutut, tulang kering, tulang betis, dan tulang kaki.

(33)

Sehingga kedua bagian anggota gerak tersebut memerlukan koordinasi yang baik untuk bisa melakukan passing bawah dengan benar.

2.1.6.1 Kerja Sendi Dan Gerak Yang Terjadi

Sendi sterno klavikular, sendi yang dibentuk oleh ujung besar di sebelah sternum dari klavikula yang bergerak secara abduksi dan adduksi.

Sendi akromio klavikular, dibentuk oleh ujung luar dari klavikula yang bersendi dengan proseus akromion dari scapula bergerak secara abduksi dan adduksi.

Sendi bahu humero scapular, sendi putar kepala humerus membentuk sepertiga bola,pembatasan gerak ditentukan oleh otot yang mengelilinginya, kebebasan gerak keseluruh arah (abduksi, adduksi, fleksi, ekstensi, eksorotasi, dan endorotasi).

Sendi siku atau sendi engsel, membentuk sendi humero radialis dan empat permukaan persendian yang berada dalam kapsul sendi gerakan terjadi adalah fleksi dan ekstensi.

Sendi radio ulnari, sendi antara radius dan ulna, radius berputar dalam ligamen pembatas sendi dan dan ujung bawah radius berputar di atas kepala ulna serta dalam gerakan pronasi dan supinasi.

Sendi pinggul, membatasi gerakan sendi keseluruh arah dan membentuk sikap tegak tubuh dalam keadaan berdiri gerakan sendi fleksi dan ekstensi.

Sendi lutut, sendi pergelangan kaki, dan sendi telapak kaki merupakan sendi engsel yang melakukan gerakan fleksi dan ekstensi dengan gerakan sedikit mengayun (Syaifudin, 1996:33).

(34)

2.1.7 Analisis Fisiologi Dalam Passing Bawah

Gerakan pada bagian tubuh tertentu dihasilkan dari kontraksi sekelompok otot. Sekelompok otot yang menghasilkan gerakan disebut otot penggerak atau agonis. Pada sisi lain yang berkebalikan dengan otot penggerak ada otot lain yang sifatnya menghambat gerakan yang disebut antagonis. Di dalam gerakan suatu bagian tubuh, selain agonis dan antagonis ada lagi otot yang disebut sinergis yaitu otot yang bersifat mengatur gerakan. Apabila otot agonis, sinergis, dan antagonis bisa berfungsi secara serasi, maka gerakan bisa terjadi dengan lancar (Sugiyanto, 1992:245).

Gerakan-gerakan tubuh merupakan hasil dari gerak sejumlah otot yang terkoordinasi. Gerakan kelompok otot ini dapat merupakan kerjasama dari fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, dan rotasi. Karena fungsinya setiap otot itu yang memungkinkan kelompok otot bergerak efisien, maka otot tersebut dapat disebut sebagai penggerak utama, antagonis, dan sinergis (Sudarminto, 1992:33).

Pengertian koordinasi dari sudut pandang anatomi fisiologi adalah gerakan dilihat sebagai pengaturan terhadap kerja otot-otot yang diatur melalui system persyarafan atau disebut dengan intra musculare coordination. Koordinasi gerakan meliputi pengkoordinasian kerja otot-otot yang terlibat dalam suatu pelaksanaan gerakan. Pengkoordinasian kerja otot-otot tersebut diatur sedemikian rupa oleh system persyarafan.

Penyesuaian komponen-komponen kekuatan dan kecepatan yang dibutuhkan oleh otot-otot dalam pelaksanaan gerakan sesuai dengan kebutuhan setiap bagian gerakan. Penyesuaian kekuatan dan kecepatan ini dimaksudkan agar

(35)

setiap bagian gerakan dapat dilakukan secara efektif dan efisien, sehingga memungkinkan pencapaian hasil yang optimal (Phil Yanuar Kiram, 1992:50). 2.1.7.1 Mekanisme Gerakan Otot

Otot merupakan penggerak tulang yang dapat bergerak karena adanya sel otot. otot bekerja dengan cara berkontraksi (memendek) dan berelaksasi (memanjang) sehingga otot disebut alat gerak aktif. Dalam keadaan relaksasi ujung filamen aktin retumpang tindih satu sama lainnya, yang sekaligus juga terjadi tumpang tindih sepenuhnya antara filamen miosin. Pada keadaan berkontraksi maka filamen aktin akan tertarik ke bagian dalam diantara filamen miosin (Soegiyanto, 2004:4).

Otot pada umumnya bekerja dengan kontraksi dan relaksasi. Pada otot lurik terdapat aktin dan miosin yang mempunyai daya berkerut membentuk aktomiosin. Bila aktin mendekat ke miosin maka otot akan berkontraksi, sebaliknya bila aktin menjauhi miosin maka otot akan relaksasi (http://tedbio.multiply.com/journal/item/16).

Mekanisme gerak otot dari hasil penelitian dan pengamatan dengan mikroskop elektron dan difraksi sinar X, (Hansen dan Huxly ,l955) mengemukakan teori kontraksi otot yang disebut model sliding filaments. Model ini menyatakan bahwa kontraksi didasarkan adanya dua set filamen di dalam sel otot kontraktil yang berupa filament aktin dan filamen miosin. Rangsangan yang diterima oleh asetilkolin menyebabkan aktomiosin mengerut (kontraksi), dan kontraksi ini memerlukan energi. Pada waktu kontraksi filamen aktin meluncur di antara miosin ke dalam zona H (zona H adalah bagian terang di antara 2 pita

(36)

gelap). Dengan demikian serabut otot menjadi memendek yang tetap panjangnya ialah ban A (pita gelap), sedangkan ban I (pita terang) dan zona H bertambah pendek waktu kontraksi. Ujung miosin dapat mengikat ATP dan menghidrolisisnya menjadi ADP. Beberapa energi dilepaskan dengan cara memotong pemindahan ATP ke miosin yang berubah bentuk ke konfigurasi energi tinggi. Miosin yang berenergi tinggi ini kemudian mengikatkan diri dengan kedudukan khusus pada aktin membentuk jembatan silang. Kemudian simpanan energi miosin dilepaskan, dan ujung miosin lalu beristirahat dengan energi rendah, pada saat inilah terjadi relaksasi. relaksasi ini mengubah sudut perlekatan ujung miosin menjadi miosin ekor. Ikatan antara miosin energi rendah dan aktin terpecah ketika molekul baru ATP bergabung dengan ujung miosin. Sumber energi untuk gerak otot ATP (Adenosht Tri Phosphat) merupakan sumber energi utama untuk kontraksi otot ATP berasal dari oksidasi karbohidrat dan lemak. kontraksi otot merupakan interaksi antara aktin dan miosin yang memerlukan ATP (http://www.scribd.com/doc/37853517/Sistem-Mekanisme-Gerak-Otot).

2.1.7.2 Otot Yang Berperan Dalam Passing Bawah

Otot-otot yang bekerja menggerakan lengan menurut Syaifudin (1997:38) adalah:

Otot bahu terdiri dari :

1) M. deltoid atau (otot segitiga), otot ini berbentuk lengkung bahu dan berpangkal disisi tulang selangka ujung bahu, balung tulang belikat, dan diafise

(37)

tulang pangkal lengan terdapat kandung lender yang fungsinya mengangkat lengan sampai mendatar.

2) M. subskapularis (otot depan tulang belikat), otot ini mulai dari depan tulang belikat menuju taju kecil tulang pangkal lengan, dibawahnya terdapat kandung lender yang fungsinya menengahkan atau memutar tulang humerus ke dalam. 3) M. suprasupinatus (otot depan tulang belikat), otot ini berpangkal di lekuk sebelah atas menuju ke taju besar tulang pangkal lengan yang fungsinya mengangkat lengan.

4) M. infraspinatus (otot bawah tulang belikat), otot ini berpangkal di lekuk sebelah bawah balung tulang belikat, menuju taju besar tulang pangkal lengan yang fungsinya memutar lengan ke dalam.

5) M. teres mayor ( otot lengan bulat besar ), otot ini berpangkal di siku bawah tulang belikat dan menuju ke taju kecil tulang pangkal lengan. Diantara otot lengan bulat kecil dan otot lengan besar terdapat kepala yang panjang dari muskulus triceps brachii yang fungsinya bisa memutar lengan kedalam.

6) M. teres minor (otot lengan belikat kecil), otot ini berpangkal di siku sebelah luar tulang belikat menuju taju besar tulang pangkal lengan yang fungsinya memutar lengan ke luar.

Otot pangkal lengan atas terdiri dari : otot-otot ketul ( fleksor ) dan otot kedang ( ekstensor ). Yang meliputi :

1) M. biceps brachii (otot lengan berkepala dua), kepala yang panjang melekat pada sendi bahu, kepala yang pendek melekat di sebelah luar dan di sebelah dalam. Otot ini ke bawah menuju ketulang pengumpil. Dibawah urat terdapat

(38)

kandung lender yang fungsinya membengkokkan lengan bawah siku, meratakan hasta dan mengangkat lengan.

2) M. brachialis (otot lengan dalam), otot ini berpangkal di bawah otot segitiga di tulang pangkal lengan menuju taju di pangkal tulang hasta yang fungsinya membengkokkan lengan bawah siku.

3) M. korako brachialis, otot ini berpangkal di prosesus korakoid menuju tulang pangkal lengan yang fungsinya mengangkat lengan.

4) M. triceps brachialis (otot lengan berkepala tiga), kepala luar berpangkal disebelah belakang tulang pangkal lengan dan menuju ke bawah kemudian bersatu dengan yang lain, kepala dalam dimulai sebelah dalam tulang pangkal lengan, kepala panjang dimulai pada tulang dibawah sendi dan ketiga-tiganya mempunyai sebuah urat yang melekat di olekrani.

Gambar 9 Otot bahu (Syaifudin, 1997:39)

(39)

Otot lengan atas bagian bawah terdiri : 1) M. ekstensor carpiradialis longus.

2) M. ekstensor carpiradialis brevis.

3) M. ekstensor carpiulnaris, ketiganya berfungsi sebagai ekstensi lengan.( menggerakan lengan ).

4) M. digitorum carpi radialis, fungsinya sebagai ekstensi jari tangan kecuali ibu jari.

5) M. ekstensor policis longus, fungsinya sebagai ekstensi ibu jari tngan. 6) Otot disebelah telapak tangan, fungsinya membengkokkan jari-jari tangan. 7) M. pronator teres (otot silang hasta bulat), fungsinya menggerakkan silang hasta dan membengkokkan lengan bawah siku.

8) Otot-otot fleksor tangan. M. palmaris longus. M. fleksor carpi radialis, M. fleksor digitor sublimis, fungsinya untuk fleksi jari ke dua dan kelingking. M. digitorum profundus, M. fleksor policis longus fungsinya fleksi ibu jari.

9) Otot yang bekerja memutar radialis ( pronator dan supinator ) terdiri

dari : M. pronator teresequadratus, fungsinya pronasi tangan, M. supinator brevis, fungsinya supinasi dari tangan.

(40)

Gambar 10 otot lengan bawah (Syaifudin,1997:43-44)

2.1.7.3 Bentuk Kontraksi Otot Dalam Passing Bawah

Setelah kita mengetahui letak dan nama dari otot bagian lengan, dengan begitu kita dapat menganalisa bagian otot lengan yang banyak bekerja atau berkontraksi pada saat melakukan gerakan passing bawah.

Daya (power) adalah gabungan antara kekuatan dan kecepatan atau pengerahan gaya otot maksimum dengan kecepatan maksimum (Eri praktiknyo, 2006:4). Power juga diartikan sebagai komponen kondisi fisik seseorang tentang kemampuannya dalam mempergunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja dalam waktu secepat-cepatnya (M. Sajoto,1995:8). Jadi, power adalah kemampuan otot atau sekelompok otot seseorang dalam mengerahkan tenaga secara maksimal dalam waktu secepatnya untuk melakukan kontraksi atau gerakan.

(41)

Pembahasan mengenai passing bawah dalam bola voli, telah diterangkan bahwa pola gerak lengan untuk melakukan passing bawah ada tiga tahapan yaitu tahap persiapan, tahap saat perkenaan, tahap akhir atau gerak lanjutan, sesuai dengan analisa pola gerak tersebut maka otot-otot lengan yang berkontraksi atau bekerja antara lain:

1) Untuk mempertahankan gerakan ekstensor siku, yaitu saat melakukan persiapan menerima bola agar lengan tetap lurus yaitu otot M. triceps brachialis, dan M. ekstensor carpiulnaris ulnaris.

Gambar 11 Gerakan ekstensor siku

(M. Mariyanto, Sunardi, dan Agus Margono, 1994:125)

2) Untuk menggerakan ayunan lengan ke atas saat tahap perkenaan dengan bola yaitu M. biceps brachi, M. deltoid, M. subscapularis, M. suprasupinatus, M. supinator brevis dan M. korako brachialis.

(42)

Gambar 12 Gerakan perkenaan bola

(M. Mariyanto, Sunardi, dan Agus Margono, 1994:125)

3) Untuk menggerakan lengan sebagai pendorong saat melakukan gerakan lanjutan, yaitu M. deltoid, M. teres minor, dan M. biceps brachii.

Gambar 13 Gerakan lanjutan

(43)

Passing bawah dalam gerakannya terjadi adanya kontraksi isometrik pada lengan karena pada kontraksi ini tidak kelihatan adanya gerakan pada saat terjadi ayunan lengan. Karena saat melakukan passing bawah bagian yang bekerja menggerakkan ayunan lengan adalah otot bahu, sehingga hanya terjadi gerakan pada sendi bahu dan tidak ada gerakan pada sendi siku (M. Mariyanto, Sunardi, dan Agus Margono, 1994:67).

Selain adanya kontraksi otot lengan, pada saat gerakan passing bawah juga terjadi proses relaksasi otot. Dalam gerakan passing bawah dari tahap awal persiapan, tahap perkenaan, sampai pada tahap akhir atau lanjutan terdapat sekelompok otot yang berelaksasi. Berikut beberapa otot lengan yang berelaksasi saat passing bawah :

1) Gerakan awal persiapan saat lengan lurus yaitu M. biceps brachii, dan M. pronator teres.

2) Gerakan tahap perkenaan saat ayunan ke atas yaitu M. triceps brachialis, M. pronator teres, dan M. pronator teresequadratus.

3) Gerakan tahap akhir atau lanjutan saat lengan sebagai pendorong yaitu M. triceps brachii, M. pronator teres, dan M. pronator teresequadratus.

Gambar 14 Gambar 15 Gambar 16 Gerakan Persiapan Gerakan perkenaan Gerakan Lanjutan

(44)

(M. Mariyanto, Sunardi, dan Agus Margono, 1994:125)

2.1.8 Analisis Biomekanika Dalam Passing Bawah

Biomekanika mempelajari tentang gaya internal dan gaya eksternal yang beraksi pada tubuh manusia dan pengaruh – pengaruh yang ditimbulkan oleh gaya – gaya tersebut (Sugiyanto, 1992:243).

Secara mekanis gerakan bisa diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu gerakan translatori dan gerakan rotatori (Sugiyanto, 1992:244). Gerakan translatori adalah gerakan di mana benda bergerak secara keseluruhan dari suatu tempat ke tempat lain. Sedangkan rotatori adalah gerakan yang berpusat pada poros tertentu seperti pada gerakan lengan tangan terhadap bahu.

Gerakan terjadi karena adanya stimulus gerak. Stimulus gerak dihantarkan oleh syaraf ke setiap unit gerak pada otot. Otot berkontraksi dan kemudian menggerakkan tulang yang berporos pada persendian. Untuk berkontraksinya otot diperlukan energi dan energi dihasilkan dari berfungsinya sistem suplai. Selama terjadinya, agar gerakan itu bisa dilakukan dengan lancar dan sesuai dengan kemauan, yang berperan mengendalikannya adalah system kontrol yaitu syaraf dan endokrin (Sugiyanto, 1992:245).

Pengertian koordinasi dari sudut pandang biomekanika tidak jauh berbeda dengan sudut pandang anatomi dan fisiologi. Pengertian dari sudut pandang biomekanika lebih diarahkan pada penyesuaian antara impuls kekuatan kepada otot atau sekelompok otot dengan kebutuhan setiap pelaksanaan bagian gerakan (Phil Yanuar Kiram, 1992:50). Koordinasi merupakan kemampuan tubuh

(45)

melakukan gerakan atau kerja dengan tepat dan efisien. Koordinasi adalah hubungan yang harmonis dari berbagai faktor yang terjadi pada suatu gerakan (Eri Pratiknyo, 2006:5).

2.1.8.1 Sifat Gerakan

Ditinjau dari biomekanika maka gerakan ayunan lengan saat passing bawah lebih banyak didominasi oleh kekuatan otot lengan, sedangkan otot yang terdapat pada pangkal lengan atas dan lengan bawah peran aktif terjadi saat impact (pertemuan) antara bagian proksimal lengan dan bola dimana lengan difleksikan dengan bantuan Musculus Biseps Brachii. Jadi pada saat impact (pertemuan) lengan dengan bola terjadi suatu momentum yang berkaitan dengan kecepatan dan massa benda yang sedang bergerak. Jika lengan saat impact dengan bola bergerak cepat, maka akan terjadi peningkatan momentum pada lengan terhadap bola. Sehingga dalam gerakan passing bawah memerlukan momentum yang harus dikontrol oleh pemain. Karena saat passing bawah memerlukan momentum dalam jumlah tertentu, sehingga bola dapat melayang dengan jarak yang tepat untuk sampai kepada sasaran.

Momentum merupakan besaran gerak yang bertambah atau berkurangnya dengan cara menambah atau mengurangi massa atau kecepatannya (Soedarminto,1992:116). Peningkatan momentum terjadi bila gaya digunakan searah dengan gerak. Bila gaya yang digunakan berlawanan dengan gerak akan menghasilkan perlambatan atau pengurangan momentum. Hal ini terjadi pada passing bawah saat kontak bola dengan lengan yang menghasilkan perlambatan bola. Sesuai dengan dengan hukum reaksi ”pada setiap aksi akan timbul suatu

(46)

reaksi yang sama besarnya dan berlawanan arahnya”. Bila suatu benda bergerak mendapatkan momentum, sedang benda lain yang dikenai gayanya akan memiliki momentum yang sama besar dan berlawanan arah (Sri Haryono, 2005:16).

Gerakan ayunan lengan dari bawah ke atas pada passing bawah adalah merupakan gerak fleksi dan abduksi lengan. Gerak fleksi adalah gerakan dari bagian tubuh yang terjadi dalam bidang sagital dan berputar pada sumbu transfersal. Sedangkan abduksi terjadi bila bagian badan bergerak menjauhi garis tengah badan di dalam bidang frontal. Dalam hal ini bagian tubuh tersebut adalah gerakan lengan saat melakukan passing bawah (Soedarminto, 1992:7).

Selain itu gerakan passing bawah merupakan gerakan pengungkit. Jadi bola diungkit ke atas dengan jalan ayunkan lengan dan ditambah dengan penurunan panggul. Maksud daripada gerakan ini tidak lain agar bola dapat dipantulkan ke atas dengan sudut pantul 90 derajat (M. Mariyanto, Sunardi, dan Agus Margono, 1994:69). Pengungkit adalah suatu batang yang kaku yang dapat berputar pada satu titik yang tetap bila gaya digunakan untuk mengatasi beban. Gerakan passing bawah merupakan pengungkit jenis kedua karena titik pusat gerak atau sumbu putar terdapat pada sendi bahu serta pangkal beban dan pangkal gaya terletak pada sepanjang lengan (Sri Haryono, 2005:21).

2.1.8.2 Prinsip Mekanika Yang Diterapkan

Gerakan passing bawah pada prinsipnya merupakan gerakan menyongsong bola yaitu gerakan menuju ke suatu tempat di mana bola tertuju. Gerakan menyongsong bola mengandung suatu tuntutan bagi pemain untuk dapat

(47)

berusaha menempatkan diri sehingga bola yang datang dapat dimainkan dengan mudah dan berhasil baik (M. Mariyanto, Sunardi, dan Agus Margono, 1994:161). Kualitas gerakan penyongsongan bola datang dapat dipengaruhi oleh cepat lambatnya bola yang datang dari lawan. Bola yang datang dari teman seregu lazimnya tidak keras dan tidak cepat sehingga pemain tidaklah terlalu mengalami kesulitan yang berarti untuk melakukan gerakan menyongsong bola. Selanjutnya untuk menyongsong bola cepat, maka selalu diperlukan gerakan imbangan yang cepat pula. Dan untuk menghadapi bola smes yang keras, haruslah dikembangkan latihan antisipasi terhadap arah gerak dan timing lawan yang melakukan smes tersebut (M.Mariyanto,Sunardi, Agus Margono,1992:162). Gerakan saat melakukan passing bawah selain gerakan lengan juga terjadi gerakan tungkai untuk memindahkan titik berat badan. Titik berat suatu benda sering disebut sebagai titik keseimbangannya (Soedarminto,1992:149). Menurut Boyke Mulyana (2000:19) letak titik berat atlet jarang tetap pada tempat yang sama selama beberapa waktu. Jika saat berdiri tegak dan kemudian menggerakkan tungkai ke arah depan satu langkah, maka titik beratnya berpindah ke arah yang sama. Jika menggerakan tungkai dan lengannya, maka titik beratnya berpindah ke depan lebih banyak massa yang dipindahkan.

Jarak berpindahnya titik berat tergantung pada seberapa besar dan jauh massa tubuh dipindahkan. Menurut Soedarminto (1992:150) jika bentuk atau posisi sebuah objek berubah, maka letaknya titik berat juga akan berubah. Tungkai cukup berat dan memiliki massa yang besar, sehingga menyebabkan pemindahan titik berat yang lebih besar dari pada ketika memindahkan salah satu

(48)

lengan saja. Pemindahan titik berat badan selalu berkaitan dengan jumlah massa yang dipindahkan dan jarak yang ditempuhnya.

Selain titik berat badan, keseimbangan dan stabilitas tubuh juga mempengaruhi gerakan saat melakukan passing bawah. Kedua hal tersebut merupakan dua istilah yang hampir sama tetapi mempunyai arti yang berlainan. Jika posisi sebuah objek diubah sedikit dan objek cenderung untuk kembali pada posisi semula, maka objek itu dalam keadaan seimbang atau stabil (Soedarminto,1992:152). Keseimbangan berkaitan dengan koordinasi dan kontrol. Jika atlet yang mempunyai keseimbangan yang baik, maka ia dapat mempertahankan keadaan equilibriumnya dan menetralkan gaya yang akan mengganggu penampilannya. Stabilitas berkaitan dengan seberapa besar tahanan yang diciptakan atlet untuk melawan gangguan lawan terhadap keseimbanganya. Semakin stabil atlet, maka semakin besar tahanan yang diciptakannya untuk mengatasi gaya yang mengganggunya. Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi stabilitas dan keseimbangan menurut Sri Haryono (2005:29) dalam passing bawah :

1) Stabilitas berbanding lurus dengan luas dasar menumpu.

Atlet dapat meningkatkan stabilitasnya bila ukuran bidang tumpuannya diperluas. Dalam gerakan persiapan penerimaan bola dalam passing bawah, dengan melangkahkan tungkai ke depan berarti dapat memperluas bidang tumpunya. Apabila seorang pemain melakukan posisi kuda-kuda dengan jarak antara kedua ujung kaki sempit, maka bermain tersebut ada pada keadaan yang tidak stabil, maka akan lebih mudah digoyangkan. Sebaliknya, apabila pemain

(49)

bola voli melakukan posisi kuda-kuda dengan jarak antara ujung kaki lebih lebar, maka pemain tersebut dalam keadaan yang lebih stabil, sebab ia memilki dasar menumpu yang luas sehingga tidak mudah digoyangkan.

2) Stabilitas berbanding terbalik dengan besarnya jarak antara titik berat badan dengan dasar penumpu.

Atlet dapat meningkatkan stabilitasnya bila titik berat badannya direndahkan. Seorang atlet yang menaikkan letak titik beratnya akan kurang stabil bila dibandingkan dengan atlet yang mempunyai letak berat badannya lebih rendah di atas bidang tumpunya. Sama halnya dalam gerakan penerimaan bola dalam passing bawah, dengan gerakan sedikit menekuk tungkai atas dan membungkukkan togok maka akan menurunkan letak titik beratnya. Sehingga tubuh akan lebih stabil dalam melakukan gerakan passing bawah.

3) Gaya gesekan.

Keseimbangan dapat dipertahankan sesuai dengan kebutuhan aktivitas cabang olahraga yang dilakukan, dapat dipergunakan alat yang mempunyai gaya gesekan yang sesuai dengan aktivitas cabang olahraga tersebut. Untuk memperoleh stabilitas yang besar diperlukan alat yang memiliki gaya gesekan yang besar pula, misalnya sepatu dengan sol yang dilengkapi secara khusus untuk hal itu. Pada pemain bola voli sebaiknya sepatu yang dipakai untuk bermain memiliki sol karet, hal ini bertujuan untuk memperoleh stabilitas yang besar pada saat melakukan posisi siap.

(50)

2.2 Kerangka Berfikir

2.2.1 Analisis anatomi pada gerak keterampilan passing bawah bola voli

Gerakan passing bawah secara anatomi merupakan suatu koordinasi antara anggota gerak tubuh bagian atas dan bawah. Untuk anggota gerak tubuh bagian atas terdiri dari tulang belakang, gelang panggul, gelang bahu, lengan atas dan lengan bawah. Sedangkan anggota gerak bagian bawah yang terlibat terdiri dari tulang paha, tulang tempurung lutut, tulang kering, tulang betis, dan tulang kaki. Sehingga kedua bagian anggota gerak tersebut memerlukan koordinasi yang baik untuk bisa melakukan passing bawah dengan benar.

Pembahasan mengenai passing bawah, menurut M. Yunus (1992:79) dapat dijelaskan bahwa pola gerak untuk melakukan passing bawah ada tiga tahapan yaitu saat permulaan, saat pelaksanaan, dan lanjutan. Berikut penjelasan kerja sendi dan gerak yang terjadi mengenai pola gerakan passing bawah :

1) Sikap permulaan :

Sendi bahu yang bergerak secara abduksi dan adduksi saat lengan mengayun ke depan.

Sendi siku yang bergerak secara fleksi dan ekstensi saat lengan dalam keadaan membengkok atau lurus.

Sendi radio ulna yang bergerak saat lengan dalam keadaan pronasi dan supinasi.

Sendi pinggul yang membatasi gerakan sendi keseluruh arah dan membentuk sikap tegak tubuh dalam keadaan berdiri.

(51)

Sendi lutut merupakan sendi engsel yang bergerak secara fleksi dan ekstensi. Sendi telapak kaki yang bergerak sedikit mengayun secara adduksi dan abduksi.

2) Sikap permulaan :

Sendi bahu bergerak secara abduksi saat lengan bergerak ke atas.

Sendi siku bergerak secara fleksi saat lengan bergerak lurus saat menerima bola.

Sendi radio ulna bergerak secara supinasi saat perkenaan bola dengan bagian proksimal lengan.

Sendi pinggul bergerak secara fleksi saat tubuh dalam keadaan condong ke depan.

Sendi lutut bergerak ekstensi saat gerakan lutut dalam keadaan lurus.

Sendi telapak kaki begerak secara adduksi saat adanya gerakan sedikit mengayun.

3) Sikap lanjutan :

Sendi bahu bergerak adduksi saat lengan kembali dalam posisi sikap awal. Sendi pinggul mempertahankan sikap tubuh yang agak condong ke depan. Sendi lutut bergerak fleksi saat tubuh bergerak dalam posisi sikap awal.

Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa kerja sendi dan gerak yang terjadi mempunyai peranan penting dalam hal koordinasi saat melakukan gerakan passing bawah sehingga menghasilkan keterampilan gerak yang baik. 2.2.2 Analisis Fisiologi pada gerak keterampilan passing bawah bola voli

(52)

Gerakan pada passing bawah saat sikap permulaan, perkenaan, dan lanjutan secara fisiologi merupakan hasil dari adanya koordinasi antara beberapa kontraksi sekelompok otot bagian tubuh.Yaitu kontraksi otot pada bahu, punggung, lengan atas, lengan bawah, panggul, tungkai atas, dan tungkai bawah.

Secara fisiologi kontraksi otot yang terlibat pada gerakan passing bawah adalah sebagai berikut :

1) Otot bagian bahu yang terdiri dari muskulus deltoid yang fungsinya mengangkat lengan sampai mendatar, muskulus supraspinatus yang fungsinya mengangkat lengan, muskulus teres mayor dan minor yang fungsinya memutar lengan ke dalam dan keluar.

2) Otot bagian punggung yang terdiri dari trapezius yang fungsinya mengangkat dan menarik sendi bahu, muskulus interspinalis yang fungsinya untuk sikap dan pergerakan tulan belakang.

3) Otot lengan atas yang terdiri dari muskulus bisep braki yang fungsinya untuk membengkokkan lengan bawah siku, meratakan, dan mengangkat lengan, muskulus brakialis yang fungsinya membengkokkan lengan bawah siku, muskulus korakobrakialis yang fungsinya mengangkat lengan, muskulus triceps braki yang fungsinya meluruskan lengan.

4) Otot lengan bawah yang terdiri dari muskulus pronator teres yang berfungsi membengkokkan lengan bawah, muskulus pronator teres equadratus yang fungsinya pronasi tangan, muskulus supinator brevis yang fungsinya supinasi tangan.

(53)

5) Otot bagian panggul yang terdiri dari muskulus gluteus maksimus yang fungsinya rotasi fleksi dan endorotasi femur, muskulus gluteus medius dan minimus yang fungsinya abduksi dan endorotasi dari femur.

6) Otot tungkai atas yang terdiri dari muskulus abductor femoralis yang fungsinya gerakan abduksi dari femur, muskulus ekstensor yang fungsinya membengkokkan paha dan meluruskan atau membengkokkan tungkai bawah. 7) Otot tungkai bawah yang terdiri dari muskulus tibialis anterior yang fungsinya mengangkat dan membengkokkan kaki, muskulus tibialis posterior yang fungsinya membengkokkan kaki di sendi tumit dan telapak kaki.

Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa koordinasi yang baik dari beberapa kontraksi otot pada bahu, punggung, lengan atas, lengan bawah, panggul, tungkai atas, dan tungkai bawah mempunyai peranan penting dalam melakukan gerakan keterampilan passing bawah.

2.2.3 Analisis biomekanika pada gerak keterampilan passing bawah bola voli Secara biomekanika gerakan ayunan lengan saat passing bawah lebih banyak didominasi oleh kekuatan otot lengan, sedangkan otot yang terdapat pada pangkal lengan atas dan lengan bawah peran aktif terjadi saat impact (pertemuan) antara bagian proksimal lengan dan bola dimana lengan difleksikan dengan bantuan Musculus Biseps Brachii. Jadi jika lengan saat impact dengan bola akan terjadi adanya momentum pada lengan terhadap bola. Sehingga pemain memerlukan momentum yang harus dikontrol agar bola dapat memantul dengan jarak yang tepat untuk sampai ke arah sasaran. Gerakan passing bawah merupakan gerakan pengungkit. Artinya bola diungkit ke atas dengan jalan ayunan lengan

(54)

dan ditambah dengan penurunan panggul agar bola dapat dipantulkan ke atas dengan baik (M. Mariyanto, Sunardi, dan Agus Margono, 1994:69)

Gerakan passing bawah selain adanya gerakan lengan juga terjadi gerakan tungkai untuk melakukan pemindahan titik berat badan. Menurut Boyke Mulyana (2000:19) letak titik berat atlet jarang tetap pada tempat yang sama selama beberapa waktu. Begitu juga menurut Soedarminto (1992:150) jika bentuk atau posisi sebuah objek berubah, maka letaknya titik berat juga akan berubah. Selain titik berat badan, keseimbangan dan stabilitas tubuh juga mempengaruhi gerakan saat melakukan passing bawah. Keseimbangan berkaitan dengan koordinasi dan kontrol. Stabilitas berkaitan dengan seberapa besar tahanan yang diciptakan atlet untuk melawan gangguan lawan terhadap keseimbanganya. Semakin stabil atlet, maka semakin besar tahanan yang diciptakannya untuk mengatasi gaya yang mengganggunya.

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa gaya, sifat gerakan, dan prinsip mekanika yang terapkan mempunyai peranan penting dalam melakukan gerakan keterampilan passing bawah.

(55)

42 3.1 Metode Penelitian

Pendekatan penelitian adalah metode yang digunakan untuk mendekati permasalahan yang diteliti sehingga dapat menjelaskan dan membahas permasalahan secara tepat (Suharsimi Arikunto, 2006:25). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Yaitu mengumpulkan data sebanyak-banyaknya mengenai faktor-faktor yang merupakan pendukung objek dan mencermati objek secara mendalam untuk menemukan semua variabel penting yang melatarbelakangi timbulnya objek untuk mencari kemungkinan pemecahan masalah yang diangkat (Suharsimi Arikunto, 2006:108).

3.2 Subjek dan Objek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah pemain klub bola voli Putera Mustika Blora. Sedangkan objek atau variabel pada penelitian ini adalah bagaimanakah analisis gerak keterampilan passing bawah ditinjau dari anatomi, fisiologi, dan biomekanika tubuh.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Data penelitian dihimpun langsung melalui : (1) dokumentasi, (2) pengamatan atau observasi. Agar data yang diperoleh seobjektif mungkin, maka data tersebut diperkuat dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap subjek penelitian.

Figur

Gambar 4  Sikap awalan

Gambar 4

Sikap awalan p.28
Gambar 6  Sikap akhir

Gambar 6

Sikap akhir p.29
Gambar 5  Sikap perkenaan

Gambar 5

Sikap perkenaan p.29
Gambar 9  Otot bahu  (Syaifudin, 1997:39)

Gambar 9

Otot bahu (Syaifudin, 1997:39) p.38
Gambar 10  otot lengan bawah  (Syaifudin,1997:43-44)

Gambar 10

otot lengan bawah (Syaifudin,1997:43-44) p.40
Tabel 1. Kategori Deskriptif Persentase

Tabel 1.

Kategori Deskriptif Persentase p.59
Tabel 4.1. Ringkasan Data Faktor Anatomi   Faktor Anatomi  Sesuai  Tidak sesuai

Tabel 4.1.

Ringkasan Data Faktor Anatomi Faktor Anatomi Sesuai Tidak sesuai p.60
Tabel  4.3. Ringkasan Data Faktor Biomekanika  Faktor Biomekanika  Sesuai  Tidak sesuai

Tabel 4.3.

Ringkasan Data Faktor Biomekanika Faktor Biomekanika Sesuai Tidak sesuai p.61
Tabel 4.7  Biomekanika

Tabel 4.7

Biomekanika p.62
Tabel 4.6  Fisiologi

Tabel 4.6

Fisiologi p.62
Tabel 4.8  Hasil Keseluruhan

Tabel 4.8

Hasil Keseluruhan p.63

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :