Tr iw ulan I V - 2008
Kantor Bank Indonesia
Kupang
KAJI AN EKON OM I REGI ON AL
K
K
K
A
A
A
T
T
T
A
A
A
P
P
P
E
E
E
N
N
N
G
G
G
A
A
A
N
N
N
T
T
T
A
A
A
R
R
R
Sejalan dengan salah satu tugas pokok Bank Indonesia, Kantor Bank Indonesia (KBI) di daerah memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan kontribusi secara optimal dalam proses formulasi kebijakan moneter. Secara triwulanan KBI Kupang melakukan pengkajian dan penelitian terhadap perkembangan perekonomian daerah sebagai masukan kepada Kantor Pusat Bank Indonesia dalam kaitan perumusan kebijakan moneter tersebut. Selain itu kajian/analisis ini dimaksudkan untuk memberikan informasi yang diharapkan dapat bermanfaat bagi eksternal stakeholder setempat, yaitu Pemda, DPRD, akademisi, serta masyarakat lainnya.
Kajian ini mencakup Makro Ekonomi Regional, Perkembangan Inflasi, Perkembangan Perbankan, Sistem Pembayaran Regional, serta Prospek Perekonomian Daerah pada periode mendatang. Dalam menyusun kajian ini digunakan data baik yang berasal dari intern Bank Indonesia maupun dari ekstern, dalam hal ini dinas/instansi terkait.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan kajian ini masih terdapat kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan masukan dari semua pihak untuk meningkatkan kualitas isi dan penyajian laporan. Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, baik dalam bentuk penyampaian data maupun dalam bentuk saran, kritik dan masukan sehingga kajian ini dapat diselesaikan. Kami mengharapkan kerja sama yang telah terjalin dengan baik selama ini, kiranya dapat terus berlanjut di masa yang akan datang.
Kupang, Januari 2008 Bank Indonesia Kupang
D
D
D
A
A
A
F
F
F
T
T
T
A
A
A
R
R
R
I
I
I
S
S
S
I
I
I
HALAMAN JUDUL--- 1
KATA PENGANTAR --- 2
DAFTAR ISI --- 3
RINGKASAN EKSEKUTIF --- 6
MAKRO EKONOMI REGIONAL 1.1 SISI PERMINTAAN --- 14
1.2 SISI PENAWARAN --- 21
BOKS--- 35
PERKEMBANGAN INFLASI 2.1 KONDISI UMUM--- 37
2.2 INFLASI TAHUNAN (y-o-y) --- 39
2.3 INFLASI 2008 (y-t-d) --- 40
BOKS --- 43
PERKEMBANGAN PERBANKAN 3.1 KONDISI UMUM--- 46
3.2 INTERMEDIASI PERBANKAN --- 48
3.3 KREDIT UMKM--- 54
3.4 PERKEMBANGAN BPR--- 56
SISTEM PEMBAYARAN 4.1 KONDISI UMUM--- 58
4.2 TRANSAKSI RTGS --- 60
4.3 TRANSAKSI KLIRING --- 61
4.4 TRANSAKSI TUNAI --- 63
KEUANGAN DAERAH 5.1 KONDISI UMUM--- 66
5.3 BELANJA DAERAH --- 69
TENAGA KERJA DAN KESEJAHTERAAN
6.1 KONDISI UMUM--- 72 6.2 PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN --- 72 6.3 PERKEMBANGAN KESEJAHTERAAN --- 74
OUTLOOK PEREKONOMIAN
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi
Kelompok Kajian, Statistik dan Survei KBI Kupang
Jl. Tom Pello No. 2 Kupang – NTT [0380] 832-047 ; fax : [0380] 822-103
Ringkasan Eksekutif
Provinsi Nusa Tenggara Timur Triwulan IV-2008
PERKEMBANGAN MAKRO EKONOMI
Pertumbuhan ekonomi NTT sepanjang tahun 2008 cenderung melambat. Pada triwulan IV pertumbuhan ekonomi turun hingga level
dibawah 3% ; y-o-y (2,90%). Angka Pendapatan Domestik Regional Bruto
(PDRB) untuk NTT pada triwulan IV-2008 tercatat sebesar Rp 3,03 triliun. Secara sektoral, kontribusi pertanian terhadap pembentukan PDRB masih dominan, khususnya untuk subsektor tanaman pangan. Disusul dengan sektor jasa-jasa, sektor perdagangan hotel dan restoran. Kondisi struktur ekonomi NTT relatif tidak menunjukan perubahan yang berarti, hanya saja pertumbuhan sektor perdagangan, hotel dan restoran dan sektor jasa relatif lebih cepat dibandingkan primary sector (sektor ekonomi). Penurunan kemampuan daya beli masyarakat NTT, tercermin dari melambatnya kinerja konsumsi rumah tangga. Dari sisi permintaan, konsumsi merupakan prime mover bagi perekonomian NTT, khususnya konsumsi makanan (food consumption). Hal ini tercermin dari struktur pembentukan PDRB yang mencapai diatas 80%. Menurunnya aktivitas konsumsi memberika efek yang cukup signifikan terhadap kinerja ekonomi secara keseluruhan. Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi 2008 lebih rendah dari tahun 2007. Melambatnya laju pertumbuhan pada tahun 2008 secara sektoral disebabkan karena penurunan aktivitas sektor industri akibat berhentinya produksi PT. Semen Kupang, penurunan aktivitas sektor jasa akibat penurunan belanja pemerintah yang tercermin dari penurunan konsumsi pemerintah. Sementara dari sisi penggunaan, tekanan terhadap konsumsi sangat signifikan menurunkan kinerja ekonomi NTT.
PERKEMBANGAN INFLASI REGIONAL
Secara tahunan inflasi Kota Kupang mengalami kenaikan
dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, yaitu 10,90%. Peningkatan
peningkatan harga barang. Kemudian permasalahan lain yang menjadi faktor pendorong adalah kelancaran pasokan dan pergerakan harga di daerah penyuplai. Tingkat ketergantungan yang sangat tinggi terhadap impor lokal membuat pergerakan harga cenderung fluktuatif.
PERKEMBANGAN PERBANKAN
Kinerja perbankan di Provinsi NTT pada triwulan IV tahun 2008 masih mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya.
Walaupun krisis keuangan global mulai mempengaruhi kinerja sistem keuangan di Indonesia, namun hal tersebut belum berpengaruh pada kinerja perbankan di Provinsi NTT. Kemampuan perbankan dalam meningkatkan asetnya masih tetap terpelihara. Hal serupa juga terjadi pada kegiatan penghimpunan dana masyarakat (DPK), dimana pada triwulan ini masih mengalami perkembangan yang positif walaupun akselerasi pertumbuhannya cenderung mengalami penurunan. Secara tahunan, kinerja perbankan pada tahun 2008 mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2007. Peningkatan kinerja tersebut tercermin dari pertumbuhan aset, kredit dan DPK yang mengalami perkembangan positif. Dibandingkan dengan triwulan sebelumnya atau pun tahun lalu tingkat LDR pada triwulan IV-2008 relatif lebih baik yang mencapai 67,51%. Tren peningkatan suku bunga belum berdampak terhadap performance kredit perbankan NTT. Sampai dengan triwulan IV-08 rasio non performing loan (NPLs) juga terjaga, yaitu pada level 1,39%.
PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN
Peningkatan aktivitas sistem pembayaran selama tahun 2008 dipengaruhi oleh peningkatan laju pertumbuhan ekonomi propinsi
NTT. Kinerja perekonomian yang membaik, diindikasikan dengan
KESEJAHTERAAN DAN KETENAGAKERJAAN
Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008 sebesar 4,82% relatif belum
optimal dalam memberikan perbaikan signifikan, baik dari sisi tenaga
kerja maupun kesejahteraan bagi masyarakat NTT. Hal ini tampak dari daya serap sektor riil terhadap tenaga kerja yang masih belum menunjukkan perubahan yang nyata dalam beberapa tahun terakhir. Tingkat pengangguran terbuka relatif belum mengalami perubahan. Pada bulan Agustus 2008, tercatat dari jumlah angkatan kerja di provinsi NTT sebesar 2.166,92 ribu jiwa dan terdapat 80,81 ribu yang menganggur atau secara prosentase tingkat pengangguran terbuka di NTT sebesar 3,73%. Kondisi tersebut relatif tidak jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya untuk periode yang sama, yaitu 3,72%. Namun demikian, jika diamati lebih lanjut 45,24% dari total angkatan kerja yang berkerja, termasuk dalam kategori setengah menganggur. Hal ini mengindikasikan peningkatan daya serap tenaga kerja didominasi pada sektor-sektor informal. Sehingga secara umum, kondisi ketenagakerjaan di NTT masih belum mengalami perubahan signifikan.
PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH
Kebijakan fiskal bagi provinsi NTT memiliki kontribusi yang penting
bagi pendorong (stimulus) pertumbuhan ekonomi. Ketergantungan
sektor swasta terhadap anggaran belanja pemerintah, baik provinsi maupun pemerintah pusat belum menunjukan perubahan yang signifikan. Hal ini dikarenakan relatif rendahnya pertumbuhan investasi di NTT dalam beberapa tahun terakhir. Peran anggaran pemerintah terhadap perekonomian NTT tercermin dari share konsumsi pemerintah terhadap pembentukan PDRB. Pada triwulan IV-2008 mencapai 20,44% atau setara dengan Rp. 618,56 miliar, sedangkan selama tahun 2008 konsumsi pemerintah mencapai 19,67% dari total PDRB tahun 2008. Realisasi pendapatan daerah sampai dengan akhir triwulan III-2008 sebesar 84,43%. Dalam rencana anggaran tahun 2008 diperkirakan pendapatan daerah mencapai Rp. 938,93 miliar. Kontribusi dana perimbangan untuk mengisi celah fiskal (fiscal gap) dalam share pos pendapatan daerah terlihat cukup dominan. Dari sisi pengeluaran, realisasi belanja sampai dengan triwulan III-2008 sebesar 62,16% dari rencana belanja 2008. Dari Rp. 1,14 triliun, terealisasi sebesar Rp. 708,23 miliar.
OUTLOOK PERTUMBUHAN EKONOMI DAN INFLASI
Pada tahun 2009 diperkirakan perekonomian NTT tetap akan tumbuh
positif pada kisaran 4,50 ± 1%. Secara struktural, dari sisi sektoral relatif
positif bagi kinerja ekonomi tahun 2009, Selain itu, faktor pendukung lainnya adalah pelaksanaan even nasional dalama rangka kegiatan pemilihan umum (PEMILU). Pelaksanaan PEMILU diperkirakan akan menjadi penggerak utama bagi kinerja konsumsi tahun 2009. Sementara sumber tekanan yang dapat menghambat laju pertumbuhan ekonomi adalah pelemahan daya beli masyarakat. Penetapan UMP tahun 2009 masih jauh dibawah standart Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Dari sisi eksternal, turunnya harga komoditi di pasar internasional mulai dirasakan oleh petani NTT akan semakin menurunkan tingkat daya beli masyarakat, terutama para petani di NTT.
Perkembangan inflasi Kota Kupang untuk tahun 2009 diperkirakan
relatif akan lebih rendah dibandingkan tahun 2008. Tingkat inflasi Kota
Kupang pada akhir tahun 2009 diperkirakan akan berada pada kisaran 9 ± 1%. Sumber utama tekanan inflasi diperkirakan masih berasal dari kelompok bahan makanan. Peningkatan demand yang tidak diimbangi dari sisi suplai akan menjadi salah satu pemicu tekanan inflasi tahun 2009. Selain itu permasalahan klasik yang selalu terjadi adalah hambatan terhadap kelancaran distribusi juga mememgang peranan yang penting. Keputusan pemerintah untuk menurunkan harga BBM per 15 Januari diharapkan dapat memberikan sinyal positif terhadap tekanan inflasi tahun 2009. Namun demikian penurunan tersebut diperkirakan tidak akan serta merta langsung ditransmisikan melalui penurunan harga-harga barang di Kota Kupang.
Bagi perbankan NTT, kondisi perekonomian NTT tetap memberikan
peluang peningkatan usaha di tahun 2009. Pertumbuhan penghimpunan
Laju Inflasi Tahunan (yoy %) 8.44 6.43 10.63 10.45 10.90 PDRB - Harga Konstan (miliar Rp) 2,941.08 2,652.05 2,808.45 2,937.56 3,026.25 - Pertanian 1,139.84 1,112.92 1,151.97 1,139.45 1,120.75 - Pertambangan dan Penggalian 41.61 35.20 36.42 37.60 39.38 - Industri Pengolahan 46.05 41.19 42.75 44.08 45.08 - Listrik, gas dan air bersih 11.74 9.84 10.81 11.44 12.13 - Bangunan 205.44 169.93 175.19 184.51 194.53 - Perdagangan, Hotel dan Restoran 481.50 432.27 451.67 485.91 506.25 - Pengangkutan dan komunikasi 211.94 192.23 209.15 214.21 219.84 - Keuangan, Persewaan, dan Jasa 104.98 91.75 98.57 104.68 107.67 - Jasa 697.97 566.71 631.91 715.68 780.62 Pertumbuhan PDRB (yoy) 3.86% 5.86% 5.32% 5.31% 2.90% Nilai Ekspor Nonmigas (USD Juta) 1.91 0.91 2.31 3,94 8,13* Nilai Impor Nonmigas (USD Juta) 0.26 2.94 0.50 1,12 0* Sistem Pembayaran
Inflow (miliar Rp) 231.72 527.55 175.25 247.34 273.20 Outflow (miliar Rp) 966.43 359.75 562.25 683.34 919.40 Netflow (miliar Rp) -734.71 167.80 -387.00 -436.00 -646.20 MRUK (miliar Rp) 109.64 111.93 78.20 88.67 42.75 Uang Palsu (ribu Rp) 80 60 500 100 50.00 Nominal RTGS (miliar Rp) 35.71 1.74 10.52 21.30 69.26 Nominal Kliring (miliar Rp) 419.35 418.77 441.09 373.84 420.70
Sumber : Berbagai sumber (diolah) Keterangan :
1) LPE (Laju Pertumbuhan Ekonomi) PDRB atas dasar harga konstan 2000 2) (y-o-y) = year on year, thn dasar 2002
3) Ekspor data dari Bagian PDIE-BI bln November 2008 *
TAB E L INDIK ATOR E K ONOMI TE R P IL IH
P R OVINS I NUS A TE NGGAR A TIMUR
INFLASI DAN PDRB
Tw.IV-08 Tw.II-08
Tw.I-08 Tw.III-08
PERBANKAN
nk Umum
tal Aset (Rp Triliun) 8.52 8.32 8.55 9.53 9.94
PK (Rp Triliun) 7.30 7.16 7.44 7.89 8.00
Tabungan (Rp Triliun) 3.53 3.28 3.37 3.59 4.32 Giro (Rp Triliun) 2.23 2.28 2.43 2.55 1.90 Deposito (Rp Triliun) 1.53 1.60 1.64 1.74 1.78
redit (Rp Triliun) 4.20 4.29 4.81 5.24 5.40
Modal Kerja 1.23 1.16 1.38 1.50 1.50
Konsumsi 2.86 3.02 3.29 3.58 3.74
Investasi 0.12 0.12 0.15 0.16 0.16
DR (%) 57.61 59.95 64.74 66.42 67.51
PLs (%) 1.54 1.79 1.62 1.64 1.39
redit UMKM (Triliun Rp) 4.07 4.27 4.78 5.20 5.34
R
tal Aset (Rp Miliar) 33.45 40.72 48.49 56.22 68.32
PK (Rp Miliar) 16.78 20.84 27.79 33.48 38.89
Tabungan (Rp Miliar) 6.85 8.92 12.08 14.72 17.52 Deposito (Rp Miliar) 9.93 11.92 15.71 18.76 21.38
redit (Rp Miliar) 24.66 26.96 36.63 43.88 51.48
Modal Kerja 12.48 12.90 18.55 23.65 27.80 Konsumsi 12.65 13.59 17.57 19.63 22.34
Investasi 0.00 0.47 0.50 0.60 1.34
redit UMKM (Rp Miliar) 24.66 26.96 36.63 43.88 51.48 asio NPL Gross (%) 4.92 5.31 3.54 3.69 2.61 DR (%) 143.64 129.40 131.78 131.07 132.37
umber : Bank Indonesia Kupang (diolah)
P R OVINS I NUS A TE NGGAR A TIMUR
Tw.IV-08 Tw.II-08
INDIKATOR
TAB E L INDIK ATOR E K ONOMI TE R P IL IH
B
B
B
A
A
A
B
B
B
I
I
I
M
M
M
A
A
A
K
K
K
R
R
R
O
O
O
E
E
E
K
K
K
O
O
O
N
N
N
O
O
O
M
M
M
I
I
I
R
R
R
E
E
E
G
G
G
I
I
I
O
O
O
N
N
N
A
A
A
L
L
L
Pertumbuhan ekonomi NTT sepanjang tahun 2008 cenderung
melambat. Pada triwulan I perekonomian NTT tumbuh cukup menjanjikan
dengan 5,91%;y-o-y, memasuki triwulan II sampai dengan triwulan IV justru
menunjukan tren yang menurun. Pada triwulan IV pertumbuhan ekonomi turun
hingga level dibawah 3% ; y-o-y (2,90%). Angka Pendapatan Domestik
Regional Bruto (PDRB) untuk NTT pada triwulan IV-2008 tercatat sebesar
Rp 3,03 triliun. Melambatnya laju pertumbuhan kinerja ekonomi NTT juga
tercermin dari perkembangannya secara triwulanan (q-t-q). Setelah mengalami
kontraksi pada triwulan I, memasuki triwulan II, III dan perekonomian tumbuh
positif dengan kecenderungan melambat.
Tabel 1.1 Perkembangan Ekonomi Provinsi NTT
Kenaikan harga BBM, diindikasikan memberi dampak yang cukup
signifikan terhadap perekonomian NTT. First round effect yang terjadi,
memukul sektor transportasi, sehingga memaksa ditetapkannya tarif baru
angkutan kota yang meningkat pada kisaran 20% dan disusul kenaikan tarif
angkutan sungai dan perairan oleh PT ASDP sebesar 25%. Dampak selanjutnya
adalah menaikan harga barang-barang konsumsi (second round effect),
meskipun lonjakan tidak terjadi secara langsung, namun mengingat komponen
biaya transportasi bisa mencapai 50% dari komponen harga jual suatu produk
tertentu di wilayah NTT (terutama untuk barang impor antar pulau), maka
perlahan tapi pasti kenaikan harga-harga pun mulai dirasakan. Akibatnya,
penurunan daya beli masyarakat yang diakibatkan karena penurunan
pendapatan riil mulai terjadi.
IV I II III IV
PDRB (miliar) 2,941.08 2,653.15 2,808.97 2,939.49 3,026.25
y-o-y 3.86% 5.91% 5.34% 5.38% 2.90%
q-t-q 5.43% -9.79% 5.87% 4.65% 2.95%
2007
NTT 2008
Penurunan kemampuan daya beli masyarakat NTT, tercermin dari
melambatnya kinerja konsumsi rumah tangga. Dari sisi permintaan,
konsumsi merupakan prime mover bagi perekonomian NTT, khususnya
konsumsi makanan (food consumption). Hal ini tercermin dari struktur
pembentukan PDRB yang mencapai diatas 80%. Menurunnya aktivitas konsumsi
memberika efek yang cukup signifikan terhadap kinerja ekonomi secara
keseluruhan.
Secara sektoral, kontribusi pertanian terhadap pembentukan PDRB
masih dominan, khususnya untuk subsektor tanaman pangan. Disusul
dengan sektor jasa-jasa, sektor perdagangan hotel dan restoran. Kondisi struktur
ekonomi NTT relatif tidak menunjukan perubahan yang berarti, hanya saja
pertumbuhan sektor perdagangan, hotel dan restoran dan sektor jasa relatif
lebih cepat dibandingkan primary sector (sektor ekonomi). Hal ini tercermin dari
share sektor pertanian yang cenderung menurun, sedangkan di sisi lain dua
sektor yang lain justru secara perlahan menunjukkan peningkatan. Dukungan
dari sisi permodalan merupakan salah satu pendorong utama, peningkatan
kinerja kedua sektor dimaksud.
Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi 2008 lebih rendah dari
tahun 2007. Melambatnya laju pertumbuhan pada tahun 2008 secara sektoral
disebabkan karena penurunan aktivitas sektor industri akibat berhentinya
produksi PT. Semen Kupang, penurunan aktivitas sektor jasa akibat penurunan
belanja pemerintah yang tercermin dari penurunan konsumsi pemerintah.
Sementara dari sisi penggunaan, tekanan terhadap konsumsi sangat signifikan
menurunkan kinerja ekonomi NTT.
1.1 Sisi Permintaan
Dari sisi permintaan, kegiatan konsumsi (konsumsi rumah tangga,
swasta, maupun pemerintah) memegang peranan sebagai sentral
aktivitas ekonomi. Memang secara tahunan (y-o-y), untuk tahun 2008
konsumsi rumah tangga yang notabene merupakan penggerak terbesar
komponen konsumsi, mengalami penurunan laju pertumbuhan. Demikian pula
dari sisi investasi. Sejak tiga tahun terakhir selalu mengalami penurunan
akselerasi. Sejalan dengan melambatnya laju pertumbuhan konsumsi, maka laju
pertumbuhan impor NTT juga cenderung mengalami tren yang sama.
Tabel 1.2 PDRB Sisi Permintaan
1. Konsumsi
Dari segi konsumsi, pertumbuhan (y-o-y) ekonomi NTT mengalami
penurunan yang cukup signifikan. Pada triwulan laporan konsumsi hanya
tumbuh 3,48%. Sebelum kenaikan BBM (triwulan I-2008) konsumsi bisa
tumbuh hingga 8,22%. Shock kenaikan harga BBM bersubsidi, kontan
memberikan dampak kontraksi terhadap tingkat konsumsi. Kenaikan harga
secara umum yang diakibatkan karena second round effect dari peningkatan
Permintaan
(miliar) IV I II III IV
Konsumsi 3,255 2,910 3,145 3,233 3,368 Investasi 383 351 362 381 402 Ekspor 947 826 879 951 970 Impor 1,807 1,666 1,731 1,799 1,889 Perubahan stok 163 231 154 174 175 PDRB 2,941 2,653 2,809 2,939 3,026
2007 2008
Sumber : BPS Provinsi NTT
Grafik 1.4 Komposisi PDRB Sisi Permintaan Tw IV-08
Grafik 1.3 Struktur PDRB Sisi Permintaan Tw IV-08
biaya transportasi menyebabkan tingkat daya beli masyarakat mengalami
penuruan. Meskipun untuk household consumption, triwulan IV-2008 sudah
mengalami recovery sehingga meningkat 4,27% ; y-o-y. Namun jumlah tersebut
masih jauh dibawah pertumbuhan tahun lalu 7,96% ; y-o-y.
Secara tahunan pertumbuhan konsumsi menunjukan perlambatan.
Pada tahun 2008, konsumsi secara keseluruhan tumbuh 4,54%, sedangkan
tahun 2007 lalu peningkatannya mencapai 7,11%. Perlambatan kinerja
konsumsi di NTT, diakui juga oleh salah satu agen utama penjual sepeda motor
merk Yamaha, penjualannya tumbuh pada kisaran 32% pada akhir tahun 2008
nanti. Namun demikian, pihak Yamaha mulai pesimis terhadap prospek
penjualan kendaraan roda dua tahun 2009 mendatang di NTT. Selain itu
perkembangan penjualan motor dinilai berkembang terlalu cepat, sehingga dari
3 tahun terakhir justru cenderung menurun.
Grafik 1.6 Perkembangan Konsumsi Tahunan Grafik 1.5 Perkembangan Konsumsi Triwulanan
Sumber : BPS Provinsi NTT diolah Sumber : BPS Provinsi NTT diolah
Kinerja konsumsi sangat didominasi konsumsi rumah tangga. Dari
total konsumsi pada tahun 2008, 77,80% merupakan konsumsi rumah tangga.
Sebagian besar aktivitas konsumsi rumah tangga didorong oleh konsumsi
makananan. Sedangkan untuk non food consumption diperkirakan berasal dari
kebutuhan yang terkait dengan perumahan. Hal ini tercermin dari
Grafik 1.8 Komposisi Konsumsi Rumah Tangga
Grafik 1.7 Konsumsi Rumah Tangga
Sumber : BPS Provinsi NTT diolah
Sumber : BPS Provinsi NTT diolah
Grafik 1.10 Perkembangan Kredit Konsumsi Grafik 1.9 Konsumsi Listrik Rumah Tangga
Sumber : Bank indonesia Kupang Sumber : PT PLN Wilayah NTT
Sejalan dengan melambatnya pertumbuhan konsumsi, dari sisi
perkembangan kredit konsumtif juga mengalami sedikit penurunan.
Kredit konsumsi pada tahun 2008 tumbuh 31,10%, sedangkan tahun 2007 lalu
sedikit lebih tinggi dengan 31,84%. Dari sisi kualitas kredit, pembiayaan
konsumtif pada tahun 2008 relatih dengan rasio NPLs 0,46%, sehingga tingkat
risikonya masih dalam kategori aman.
2. Investasi
Kinerja investasi di Provinsi NTT relatif menunjukan
perkembangan positif. Pada triwulan IV-2008, investasi sudah mengalami
ekspansi 4,81%;y-o-y, lebih baik dibandingkan dua triwulan sebelumnya.
dan APBD) membuat kegiatan timing realisasi anggaran menjadi key point.
Sementara disisi lain komposisi alokasi belanja modal dalam APBD 2008 justru
berkurang, karena adanya kenaikan belanja rutin pegawai (kenaikan gaji PNS
mulai April 2008).
Sementara investasi yang dilakukan oleh sektor swasta masih
perlu ditingkatkan. Sepanjang tahun 2008, pihak BKPMD Provinsi NTT telah
mengeluarkan 10 (sepuluh) surat persetujuan untuk melakukan investasi. Dari
10 perusahaan tersebut, terdiri atas 9 perusahaan merupakan perusahaan PMA
dan 1 PMDN. Adapun bidang investasi yang dilirik adalah pertambangan,
pertanian dan perkebunan (Jatropha, palawija), serta budidaya ikan laut. Namun
demikian sampai dengan saat ini praktis baru 1 perusahaan, yaitu PT.
Manhattan Capital Jakarta yang telah melakukan realisasi investasi.
Grafik 1.11 Perkembangan Investasi Triwulanan Grafik 1.12 Perkembangan Investasi Tahunan
Sumber : BPS NTT diolah Sumber : BPS NTT diolah
Secara tahunan, pada tahun 2008 kinerja investasi NTT cenderung
melambat dibandingkan tahun 2007. Pada tahun 2007 lalu investasi secara
keseluruhan tumbuh 6,11%, sedangkan tahun 2008 hanya tumbuh sebesar
4,16%. Faktor keterbatasan infrastruktur maupun dan aspek kepastian hukum
diperkirakan menjadi penghambat laju investasi, khususnya oleh swasta. Sebagai
ilustrasi, jaminan ketersediaan jaringan listrik di seluruh wilayah NTT masih
belum maksimal. Masih banyak wilayah NTT yang belum menikmati listrik tanpa
putus atau sesuai kebutuhan. Padahal perannya sangat vital dalam mendukung
aktivitas ekonomi terutama sektor industri. Sejalan dengan pelaksanaan otonomi
kentalnya pengaruh adat dan budaya. Pengembangan sistem pelayanan satu
atap bisa dijadikan salah satu opsi perbaikan (one stop service).
Grafik 1.13 Perkembangan Kredit Investasi Grafik 1.14 Konsumsi Semen Tahunan
Sumber : ASI Sumber : Bank Indonesia Kupang
Lambatnya kinerja investasi di Provinsi NTT juga tercermin dari
segi pembiayaan oleh lembaga keuangan (perbankan). Penyaluran kredit
investasi oleh perbankan sampai dengan akhir tahun 2008, memiliki share
terkecil, hanya 3,08% dari total kredit atau sebesar Rp.166,29 miliar.
Perkembangan investasi di NTT juga bisa didekati dengan perkembangan
konsumsi semen sebagai prompt indicator.
3. Net Ekspor
Neraca perdagangan provinsi NTT yang direfleksikan melalui PDRB
ekspor dan PDRB impor masih tetap negatif. Tingginya tingkat konsumsi
masyarakat NTT, mengakibatkan nilai PDRB impor melebihi ekspornya. Hal ini
disebabkan karena sebagian besar kebutuhan konsumsi masyarakat NTT
didatangkan dari Pulau Jawa, Bali, maupun Sulawesi (Makasar). Sementara itu
kinerja ekspor NTT masih relatif hanya bergantung pada komoditi-komoditi
pertanian dimana bentuk packaging masih dalam bahan mentah. Sebagian
besar ekspor NTT ke luar negeri umumnya diantarpulaukan terlebih dulu menuju
Surabaya atau Jakarta, sehingga bila dilihat komposisinya ekspor antarpulau
sangat mendominasi.
Kondisi net ekspor NTT pada posisi triwulan laporan negatif Rp. 919,13
miliar. Bila melihat perkembangan net ekspor NTT, dari tahun ke tahun
semakin bertumbuhnya tingkat konsumsi masyarakat NTT, dan pada saat yang
bersamaan tidak diimbangi dengan produktivitas hasil daerah NTT.
Grafik 1.15 Perkembangan PDRB Net Ekspor
Ekspor NTT pada triwulan IV-2008, secara tahunan mengalami
ekspansi sebesar 2,35%, dari Rp 947,37 miliar menjadi Rp 969,68 miliar.
Pertumbuhan ekspor NTT, sangat dipengaruhi kondisi panen hasil-hasil
perkebunan (mete, kopi). Selain itu saat ini, di Provinsi NTT sedang dilakukan
penelitian mengenai kandungan logam mangan. Bila melihat tahun 2008 secara
keseluruhan, ekspor NTT mengalami peningkatan sebesar 2,68%. Jumlah
tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun 2007 yang tumbuh 9,29%.
Terkait kondisi perkembangan pasar komoditi saat ini, beberapa
komoditi ekspor NTT, yang sebagian besar merupakan komoditi perkebunan
permintaan selama tahun 2008 masih tetap mengalami peningkatan. Hanya saja
penurunan harga di pasar internasional mulai berdampak terhadap tingkat
Grafik 1.16 Perkembangan Ekspor Triwulanan Grafik 1.17 Perkembangan Ekspor Tahunan
-1200 -1000 -800 -600 -400 -200 0 200 400 600 800 1000 1200
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
2005 2006 2007 2008
Rp m
il
ia
r
Net Ekspor
Sumber : BPS NTT diolah
harga di level petani. Hal ini mendorong Dinas Perkebunan Prov. NTT untuk
menaikan kembali target ekspornya di tahun 2009. Peningkatan jumlah
komoditi yang diekspor tercermin dari peningkatan aktivitas lelang komoditi di
Surabaya, mengingat Surabaya merupakan pintu ekspor bagi komoditi asal NTT,
karena sebelum diekspor barang asal NTT diantarpulaukan terlebih dahulu lewat
Surabaya. (Sumber : Kasubdin Disperindag Jatim).
Jika dilihat dari komposisi tujuan, ekspor NTT selama 2008
sebagian besar menuju negara di Asia dan Australia (Zona Oceania),
masing-masing sebesar 52,42% dan 43,84%. Apabila dilihat lebih detail, negara
importir terbesar untuk barang-barang asal NTT selama tahun 2008 adalah
Timor Leste Cina dengan 38,73%, kemudian diikuti dengan Cina sebesar
33,29%. Besarnya nilai ekspor NTT selama tahun 2008 sejumlah US $ 17,23
juta.
Grafik 1.18 Komposisi Ekspor per Negara Tujuan
Sumber : Bank Indonesia - DSM
Dari sisi impor, pada triwulan IV-2008 menunjukkan peningkatan
sebesar 4,52% (y-o-y), dari Rp. 1,81 triliun menjadi Rp. 1,89 triliun. Bila
melihat tren beberapa periode sebelumnya, penurunan aktivitas konsumsi, akan
memberikan reaksi terhadap penurunan akselerasi pertumbuhan impor,
terutama impor antar pulau. Dari total impor NTT 98,42% merupakan impor
antar pulau. Hal ini menunjukkan tingginya ketergantungan NTT terhadap suplai
barang dari luar dalam memenuhi kebutuhan konsumsi. Secara tahunan,
pertumbuhan impor pada tahun 2007 sebesar 10,15%, penurunan aktivitas
konsumsi pada tahun 2008 direspon dengan melambatnya laju pertumbuhan
Grafik 1.20 Perkembangan Impor Triwulanan Grafik 1.21 Perkembangan Impor Tahunan
Sumber : Bank Indonesia - DSM Sumber : BPS Provinsi NTT
1.2 Sisi Penawaran
Dari sisi penawaran, struktur perekonomian Provinsi NTT pada
triwulan IV-2008 relatif belum mengalami perubahan dibandingkan
dengan periode-periode sebelumnya. Dominasi tiga sektor utama, yaitu :
sektor pertanian, sektor jasa-jasa dan, sektor perdagangan, hotel & restoran
relatif tidak menglami perubahan, yang tercermin dari kontribusinya dalam
pembentukan angka PDRB yang masing-masing sebesar 37,03%, 25,79% dan
16,73%.
Demikian pula bila melihat struktur ekonomi keselurah pada
tahun 2008. Pertumbuhan ekonomi NTT tahun 2008 sebesar 4,82% sebagian
besar ditopang oleh kinerja sektor pertanian, dimana menyumbang hingga
1,65%, diikuti dengan sektor jasa-jasa sebesar 1,38% yang merupakan refleksi
dari peran fiscal policy dala perekonomian NTT. Namun bila melihat pergerakkan
Tabel 1.3 Perkembangan PDRB Sektoral
Penawaran
miliar IV I II III IV
Pertanian 1,140 1,114 1,152 1,141 1,121
Pertambangan 42 35 36 38 39
Industri Pengolahan 46 41 43 44 45
Listrik,Gas dan Air 12 10 11 11 12
Bangunan (konstruksi) 205 170 175 185 195
Perdagangan & Hotel 481 432 452 486 506
Transportasi & Komunikasi 212 192 209 214 220
Keuangan dan Persewaan 105 92 99 105 108
Jasa-jasa 698 567 632 716 781
PDRB 2,941 2,653 2,809 2,939 3,026
2007 2008
share struktur ekonomi terhadap pembentukan angka PDRB, share sektor
pertanian cenderung mengalami penurunan kontribusi, sedangkan sektor-sektor
lain yang cenderung lebih padat modal mulai meningkat.
Tabel 1.22 Struktur PDRB Sektoral Tabel 1.23 Sumbangan PDRB Sektoral 2008
Sumber : BPS Provinsi NTT diolah Sumber : BPS Provinsi NTT diolah
1. Pertanian
Kinerja sektor pertanian sebagai prime mover perekonomian NTT
pada triwulan IV-2008 mengalami kontraksi 1,67%. Penurunan kinerja
sektor pertanian secara keseluruhan disebabkan karena kinerja sektor
peternakan yang kontraksi sebesar 8,13%;y-o-y. Sementara untuk subsektor
lainnya tetap tumbuh positif.
Grafik 1.24 PDRB Triwulanan Sektor Pertanian
Sumber : BPS Provinsi NTT diolah
Grafik 1.25 PDRB Tahunan Sektor Pertanian
Sumber : BPS Provinsi NTT diolah
Secara tahunan, kinerja sektor pertanian NTT pada tahun 2008
sektor pertanian secara keseluruhan mengalami ekspansi sebesar 4,14% lebih
baik dibandingkan tahun 2007 yang hanya tumbuh 2,74%. Kondisi ini
diperkirakan tidak terlepas karena faktor musiman terkait dukungan cuaca. Bila
melihat data historis yang ada, khusus untuk sektor pertanian setiap dua tahun
mengalami perlambatan pertumbuhan. Curah hujan yang relatif lebih panjang
pada tahun genap mempengaruhi kinerja sektor pertanian NTT, yang sangat
diominasi oleh subsektor tabama. Dimana tingkat ketergantunganya terhadap
faktor cuaca sangat tinggi.
Pada tahun 2008, diperkirakan realisasi panen kopi selama Juni –
September mencapai 19.798,84 ton. Dari jumlah tersebut sebanyak 7.919,54
ton atau setara dengan Rp 28.994.250.000 diekspor, sedangkan sisanya
digunakan untuk menyuplai kebutuhan nasional. Sedangkan pada tahun 2007
ekspor kopi hanya sebesar 7.542,42 ton dari total produksi 18.891 ton.
Kemudian untuk komoditi kakao pada tahun 2008 juga diprediksi mengalami
peningkatan produksi menjadi 15.525,85 ton dengan volume ekspor mencapai
6.210,34 ton atau setara dengan Rp 43.472.000.000 (sumber : Disbun NTT).
Grafik 1. 27 Struktur PDRB Sektor Pertanian
Sumber : BPS Provinsi NTT diolah
Sumber : Bank Indonesia Kupang
Grafik 1.26 Perkembangan Kredit Pertanian
Kinerja sektor pertanian NTT masih bisa lebih dioptimalkan.
Kemampuan sumber daya manusia NTT (khususnya petani) dalam mengelola
sektor pertanian juga masih relatif rendah. Sebagian dari mereka masih
menggunakan teknologi tradisional dalam menjalankan usaha tani, seperti :
mengolah tanah dengan sistem tebas bakar, menggunakan bibit lokal, jarang
atau bahkan tidak mengunakan pupuk/pestisida, mengunakan pola tanam
sehingga hewan liar bebas keluar merusak tanaman. Kondisi tersebut
sebenarnya telah mengurangi produktivitas lahan yang ada.
Dari sisi pembiayaan, penyaluran kredit sektor pertanian oleh
perbankan di NTT masih relatif rendah. Hanya 1,56% dari total outstanding
kredit posisi Desember 2008 sebesar Rp 5,40 triliun. Lambatnya perkembangan
pembiayaan untuk sektor pertanian pada umumnya terkendala masalah
ketersediaan agunan, karena petani di NTT masih sangat tradisional dalam
mengelola keuangannya. Pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan masih
sangat minim.
2. Pertambangan
Kinerja sektor pertambangan di Provinsi NTT mengalami kontraksi
(y-o-y) sebesar 5,36% pada triwulan IV-2008. Sebagian besar aktivitas
pertamabangan di NTT cenderung didominasi oleh penamabangan batu-batuan.
Saat ini di wilayah Provinsi NTT sedang dilakukan kajian di beberapa titik yang
diperkirakan terdapat kandungan Mangan yang berlokasi di Kab Manggarai.
Hasil sampling logam mangan tersebut telah diekspor ke Cina oleh PT Arumbai
Mangabekti dan PT Prima Mining Manganese untuk dilakukan penelitian lebih
lanjut.
Grafik 1.29 PDRB Tahunan Sektor Pertambangan Grafik 1.28 PDRB Triwulanan Sektor Pertambangan
Secara tahunan, pada tahun 2008 secara keseluruhan sektor
pertamabangan tetap mengalami pertumbuhan. Pada tahun 2008,
ekspansi sektor pertamabangan mencapai 4,11%, sedangkan untuk tahun 2007
hanya sebesar 3,65%. Peningkatan aktivitas pembangunan infrastruktur,
khususnya jalan pada tahun 2008 mendorong peningkatan kegiatan
penambangan batu, pasir ataupun kapur. Potensi material tambang masih
banyak yang belum dieksplorasi. Data dari Dinas Pekerjaan Umum,
Pertambangan dan Energi Kabupaten Manggarai Timur antara lain
menyebutkan bahwa kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Manggarai itu
memiliki potensi pasir besi yang sudah terdeteksi sejak lama dan perlu
dieksplorasi lebih jauh. Potensi pasir besi itu terdapat di Desa Bamo Kecamatan
Kotakomba. Selain pasir besi, Manggarai Timur juga memiliki potensi
pertambangan lainnya seperti emas dan logam dasar lainnya di Kelurahan
Tanahrata Kecamatan Kotakomba. Untuk bisa mengolah potensi tersebut,
pemerintah daerah tentunya membutuhkan investasi, baik berupa tenaga ahli,
kajian yang komprehensif, teknologi dan juga investasi dalam bentuk uang
(Sumber : Flores Pos).
Grafik 1.30 Kredit Sektor Pertambangan
0,0 1,0 2,0 3,0 4,0 5,0 6,0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Dari sisi pembiayaan, penyaluran kredit sektor pertambangan oleh
perbankan di NTT juga masih minim, 0,05% dari total outstanding kredit
posisi September 2008 atau senilai Rp. 3,27 miliar. Potensi usaha pertambangan
yang masih belum terekspos membuat perbankan masih belum tertarik
terhadap usaha sektor ini.
Sumber : Bank Indonesia Kupang
2006 2007 2008
3. Industri Pengolahan
Pertumbuhan sektor industri NTT terus mengalami tekanan
sepanjang tahun 2008. Pada triwulan IV-2008, sektor industri mengalami
penurunan sebesar 2,11%. Penurunan aktivitas sektor industri secara umum
terjadi sepanjang tahun 2008. Tahun 2008 sektor industri hanya tumbuh
sebesar 0,66%, sedangkan tahun 2007 lalu terjadi peningkatan sebesar 3,54%.
Hal ini disebabkan karena berhentinya operasional produksi PT. Semen Kupang
yang merupakan industri terbesar di Provinsi NTT. Selain itu hasil pertanian di
NTT, baik yang diperdagangkan (diekspor) maupun untuk konsumsi lokal
sebagian besar masih dalam bentuk bahan mentah. Sehingga belum ada
pengolahan dala bentuk bahan setengah jadi masih belum optimal. Kondisi
tersebut mengakibatkan Provinsi NTT kehilangan potensi untuk mendapatkan
value added, karena dinikmati oleh daerah lain.
Sumber : BPS Provinsi NTT diolah
Grafik 1.31 PDRB Tahunan Sektor Industri
Sumber : BPS Provinsi NTT diolah
Grafik 1.32 PDRB Triwulanan Sektor Industri
Selain itu, lambatnya perkembangan sektor industri bisa
dikarenakan kondisi ketersediaan infrastruktur yang masih terbatas,
seperti halnya permintaan energi listrik yang tidak jarang masih belum bisa
dipenuhi oleh PLN. Lambatnya kinerja perindustrian NTT juga terlihat dari
prompt indicator konsumsi listrik industri yang justrucenderung mengalami
penurunan. Total outstanding kredit sektor industri sampai dengan akhir 2008
Grafik 1.33 Kredit Sektor Industri
Sumber : PLN Wilayah NTT Sumber : Bank Indonesia Kupang
Grafik 1.34 Konsumsi Listrik Sektor Industri
4. Listrik dan Air Bersih
Sektor listrik dan air bersih pada triwulan laporan mengalami
ekspansi 3,33% ; y-o-y. Sektor ini secara keseluruhan sangat bergantung
kepada kinerja subsektor listrik. Dengan kondisi masih diberlakukanya
pemadaman bergilir maka pertumbuhan subsektor listrik juga cenderung
melambat selama tahun 2008. Perkembangan subsektor listrik tercermin dari
prompt indicator perkembangan tingkat konsumsi listrik di wilayah NTT.
Pertumbuhan PDRB sektor listrik selama tahun 2008 sebesar 3,51% relatif lebih
rendah dibandingkan tahun 2007 yang mencapai 3,63%.
Grafik 1.35 PDRB Tahunan Grafik 1.36 PDRB Triwulanan
5. Bangunan
Pada triwulan IV-2008, sektor bangunan mengalami penurunan
5,31% ; y-o-y. Ketergantungan sektor bangunan terhadap proyek-proyek
pemerintah masih relatif tinggi, sehingga timing realisasi fisik proyek pemerintah
akan sangat menentukan pergerakkan sektor bangunan di NTT. Perkembangan
kinerja sektor bangunan juga tercermin dari tingkat pertumbuhan konsumsi
semen di NTT. Namun demikian, kenaikan harga saat ini sangat berpengaruh
terhadap peningkatan volume penjualan, bahkan menurut beberapa pedagang
menyatakan bahwa, sebagian pesanan dibatalkan karena tekanan dari sisi harga
(Sumber : Suver Penjualan Eceran KBI Kupang). Secara tahunan sektor bangunan
tumbuh 2,90%, sedikit lebih baik dibandingkan tahun 2007 2,89%.
Grafik 1.38 PDRB Triwulanan Sektor Bangunan Sumber : PLN Wilayah NTT
Grafik 1.39 PDRB Tahunan Sektor Bangunan Grafik 1.37 Jumlah Pelanggan & Konsumsi Listrik
Dari segi pembiayaaan, penyaluran kredit konstruksi oleh perbankan NTT
mengalami perkembangan positif. Outstanding kredit konstruksi meningkat
48,16% ; y-o-y menjadi Rp 93,42 miliar. Sementara dari sisi performancenya
tetap terkendali dengan 0,05%.
6. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran
Performance sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR) pada
triwulan laporan mengalami peningkatan sebesar 5,14%. Di tengah
tekanan dari sisi harga, sektor PHR tumbuh meskipun relatif lebih baik
dibandingkan posisi yang sama tahun lalu yang hanya sebesar 2,18%.
Pertumbuhan sektor perdagangan, hotel dan restoran sangat terkait dengan
kinerja konsumsi. Ketiga subsektor PHR, pada triwulan IV-2008 mengalami
perkembangan positif masing-masing sebesar 5,14%;perdagangan, 2,8%;hotel,
6,88%;restoran.
Sumber : ASI Sumber : Bank Indonesia Kupang
Grafik 1.42 PDRB Sektor PHR Grafik 1.43 Pertumbuhan SubSektor PHR
Perkembangan sektor PHR relatif ditentukan oleh subsektor
perdagangan. Hal ini dikarenakan kontribusinya sangat dominan hingga
97,16% terhadap pembentukan PDRB sektor PHR di triwulan IV-08. Hasil SPE
oleh KBI Kupang menunjukan pada bulan Desember indeks riil mengalami
kenaikan sebesar 1,10% dengan nilai kapitalisasi mencapai tingkat 12,35
milyar. Peningkatan nilai indeks riil penjualan eceran ini, cukup signifikan dan
memberi gambaran kondisi penjualan eceran yang mulai membaik. Namun
demikian, peningkatan nilai indeks riil penjualan eceran ini diperkirakan bukan
sebagai dampak dari kebijakan pemerintah terhadap penurunan harga BBM
sebesar 8% yang diberlakukan semenjak awal bulan ini, karena pada
kenyataannya penurunan harga BBM tersebut tidak diikuti oleh penurunan
harga barang atau jasa yang lain. Munculnya kembali aksi borong oleh
masyarakat kota Kupang karena bertepatan dengan adanya Hari Raya Natal dan
Tahun Baru.
Grafik 1.44 Struktur Sektor PHR Tw IV-08
Sumber : BPS Provinsi NTT diolah
Sumber : PLN Wilayah NTT
Grafik 1.45 Konsumsi Listrik Bisnis
Tumbuhnya sektor perdagangan, hotel dan restoran juga
tercermin melalui pembiayaan perbankan. Kredit sektor perdagangan, hotel
dan restoran mengalami peningkatan sebesar 32,59% (y-o-y), dengan total
outstanding kredit sampai dengan akhir 2008 sebesar Rp. 1,31 triliun atau
23,51% dari total kredit. Selain itu perkembangan sektor PHR juga tercermin
dari tingkat pemakaian listrik untuk pelanggan bisnis yang terus mengalami
7. Sektor Angkutan dan Komunikasi
Sektor transportasi dan komunikasi pada triwulan IV-2008
mengalami pertumbuhan sebesar 3,73% (y-o-y). Tumbuhnya sektor
angkutan dan komunikasi didorong oleh kedua subsektornya, masing-masing
meningkat 2,96% (subsektor angkutan) dan 6,60% (subsektor komunikasi).
Secara tahunan sektor ini tumbuh sebesar 7,44%. Peningkatan aktivitas sektor
transportasi salah satunya dipengaruhi oleh bertambahnya jumlah maskapai
penerbangan yang beroperasi di NTT pada tahun 2008.
Tumbuhnya sektor angkutan dan komunikasi juga tercermin dari
peningkatan dari sisi pembiayaan. Kredit sektor transportasi dan komunikasi
pada akhir 2008 meningkat sebesar 12,84% (y-o-y). Total outstanding kredit
sektor ini sebesar Rp. 29,75 miliar atau 0,63% dari total kredit.
Grafik 1.46 Kredit Sektor PHR
Grafik 1.48 PDRB Triwulanan
Sumber : Bank Indonesia Kupang Sumber : PLN Wilayah NTT
Sumber : BPS Provinsi NTT diolah
Grafik 1.49 PDRB Tahunan
Sumber : BPS Provinsi NTT diolah
8. Sektor Keuangan, Sewa dan Jasa Perusahaan
Sektor keuangan, sewa dan jasa perusahaan menunjukan
pekembangan positif pada triwulan laporan, meskipun cenderung
menurun. Ekspansi sektor ini pada triwulan IV-2008 sebesar 2,56%;y-o-y. Dari
sisi struktur PDRB sektor keuangan, sewa dan jasa perusahaan, subsektor
perbankan memberikan peranan paling tinggi dengan 48,70. Perkembangan
kinerja perbankan yang positif selama triwulan IV-08 mempengaruhi kinerja
sektor ini secara keseluruhan. Perkembangan sektor keuangan juga tercermin
dari perkembangan beberapa prompt indicator, penyaluran pembiayaan oleh
penggadaian maupun bebera indikator kinerja perbankan. Secara keseluruhan
untuk tahun 2008, sektor keuangan mengalami pertumbuhan sebesar 2,92%
dengan laju pertumbuhan tertinggi dialami oleh subsektor lembaga keuangan
selain bank.
Sumber : Bank Indonesia Kupang
Grafik 1.52 PDRB Tahunan Grafik 1.51 PDRB Triwulanan
Grafik 1.50 Kredit Sektor Transportasi
indikator
utama IV I II III IV
Aset (miliar) 8,516.24 8,546.128,318.80 9,533.02 9,941.95
y-o-y aset 12.29% 10.85% 8.26% 13.39% 16.74%
Kredit (miliar) 4,202.99 4,814.824,293.58 5,238.52 5,404.28
y-o-y kredit 31.63% 30.20% 30.58% 30.68% 28.58%
DPK (miliar) 7,296.11 7,437.547,162.46 7,887.35 8,004.80
y-o-y DPK 10.09% 7.48% 7.28% 10.45% 9.71%
LDR 57.61% 59.95% 64.74% 66.42% 67.51%
NPL 1.54% 1.79% 1.62% 1.64% 1.39%
2008 2007
Grafik 1.53 Perkembangan Kredit Penggadaian Tabel 1.4 Perkembangan Indikator Perbankan
Sumber : KBI Kupang
Sumber : Penggadaian Cab. Kupang
9. Sektor Jasa-jasa
Pada triwulan IV-2008, sektor jasa mengalami ekspansi sebesar
11,84%;y-o-y. Pertumbuhan sektor ini terutama didorong oleh subsektor
pemerintahan. Dengan kontribusi mencapai 75,73% dari total PDRB sektor jasa,
pertumbuhan sebesar 15,92%;y-o-y berdampak cukup signifikan terhadap
kinerja sektor jasa secara keseluruhan. Secara total untuk tahun 2008, sektor
jasa tumbuh sebesar 5,94%.
Grafik 1.55 Struktur PDRB Sektor Jasa Grafik 1.54 PDRB Sekor Jasa
Sumber : BPS Provinsi NTT diolah Sumber : BPS Provinsi NTT diolah
Sektor jasa merupakan salah satu penggerak utama yang
mendukung kinerja perekonomian NTT. Kontribusinya terhadap
pembentukan PDRB NTT secara keseluruhan di tahun 2008 mencapai 23,58%.
Bahkan, perkembangannya dari waktu ke waktu cenderung mengalami
kegiatan jasa pemerintahan. Perkembangan sektor jasa tercermin juga dari
outstanding kredit perbankan hingga posisi akhir tahun 2008 yang mencapai
Rp 92,04 miliar.
Sumber : Bank Indonesia Kupang
“Kajian Potensi Pengembangan Budidaya Sapi Potong
di Provinsi NTT
(studi kasus di Kabupaten Kupang)
”
Latar Belakang
Struktur Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang masih
didominasi oleh sektor Pertanian terutama sub sektor peternakan, menjadikan
komoditas peternakan khususnya sapi potong merupakan komoditas yang
potensial untuk dikembangkan. Oleh karena itu, dilakukan kajian terhadap
komoditas sapi potong yang bertujuan untuk meningkatkan minat masyarakat
dan pemerintah daerah dalam menunjang upaya pengembangan budidaya sapi
potong di Provinsi NTT, khususnya di Kabupaten Kupang. Penelitian yang
dilakukan meliputi : cara budidaya, peluang perolehan hasil, potensi pasar, jalur
distribusi/pemasaran (supply chain management system), analisa tingkat
kelayakan finansial pengembangan budidaya sapi potong serta jenis dan bentuk
kebijakan pemerintah daerah.
Metodologi
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : perhitungan
indeks konsentrasi, nilai LQ, cash flow, pay back period, NPV, BEP, internal rate
of return (IRR), profitability indeks dan schalogram diagram method. Sedangkan
analisis mengenai sistem pemeliharaan dan kebijakan pemerintah dilakukan
secara deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten
kupang merupakan daerah yang potensial untuk pengembangan sapi potong
dengan share 54,59% (data tahun 2006) dari total jumlah ternak sapi yang
diperdagangkan keluar NTT dimana NTT menduduki posisi kelima sebagai
pemasok ternak dan daging sapi nasional. Dengan potensi tersebut, diharapkan
NTT ikut berperan sebagai pensuplai subtitusi impor, karena secara nasional
impor yang dilakukan masih cukup tinggi. Pada tahun 2006, tercatat impor
daging sapi mencapai 25.949,2 ton sedangkan ternak sapi sebanyak 265.700
ekor.
Pembahasan
Selain itu, hasil analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa secara
dilakukan yang ditunjukkan dengan pendapatan bersih yang cukup tinggi, B/C
ratio lebih besar dari satu (>1), dan IRR yang lebih besar dari suku bunga
pinjaman bank (pada periode penelitian). Sedangkan kendala finansial yang
dihadapi adalah terkait dengan ketersediaan modal serta harga output yang
masih dibawah kendali para pedagang dalam pasar oligopsony ( diduga ada
kartel tertutup diantara para pedagang antar pulau dan pedagang pembeli).
Selain aspek finansial, secara teknis budidaya sapi potong terkendala pada
kelangkaan kelangkaan ketersediaan pakan terutama musim kemarau,
penurunan angka kelahiran, kematian sapi anakan relatif tinggi dan intensitas
ancaman penyakit masih tinggi. Untuk sistem pemasaran, budidaya sapi potong
dinilai sudah berjalan secara efisien. Hal tersebut tercermin dari tingkat efisiensi
pembiayaan yang kecil dan share pemasaran yang diperoleh peternak cukup
tinggi dibandingkan harga yang dibayar konsumen akhir.
` Rekomendasi
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, beberapa rekomendasi
yang dapat disampaikan antara lain : perlunya penataan sistem usaha
peternakan sapi potong secara terpadu dari hulu sampai hilir yang melibatkan
pemerintah, lembaga keuangan, petani dan swasta secara proporsional;
penyediaan paket – paket kredit mikro dengan memperhatikan siklus produksi
ternak (grace periods); dan mendorong tumbuhnya industri pemotongan ternak
secara lokal, dengan tujuan memutus/ memperpendek jalur ternak hidup ke luar
B
B
B
A
A
A
B
B
B
I
I
I
I
I
I
P
P
P
E
E
E
R
R
R
K
K
K
E
E
E
M
M
M
B
B
B
A
A
A
N
N
N
G
G
G
A
A
A
N
N
N
I
I
I
N
N
N
F
F
F
L
L
L
A
A
A
S
S
S
I
I
I
2.1 Kondisi Umum
Tingkat harga-harga di Kota Kupang pada triwulan IV-2008
menunjukkan kecenderungan peningkatan dibandingkan triwulan
sebelumnya. Tekanan terhadap harga-harga tercermin dari angka inflasi tahun
berjalan (y-t-d) yang lebih tinggi dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Peningkatan laju inflasi pada akhir triwulan 2008 merupakan tren yang secara
umum terjadi pada setiap akhir triwulan tahun berjalan. Tingginya laju inflasi
pada triwulan IV-2008 dipengaruhi oleh adanya hari raya keagamaan yaitu idhul
fitri pada bulan Oktober dan hari raya Natal pada bulan Desember. Peningkatan
terutama bersumber dari komponen inflasi yang bersifat nonfundamental, yaitu
inflasi volatile food. Peningkatan inflasi volatile food terkait dengan
meningkatnya permintaan barang yang mengakibatkan peningkatan harga
barang. Kemudian permasalahan lain yang menjadi faktor pendorong adalah
kelancaran pasokan dan pergerakan harga di daerah penyuplai. Tingkat
ketergantungan yang sangat tinggi terhadap impor lokal membuat pergerakan
harga cenderung fluktuatif.
Grafik 4.1 Perkembangan Inflasi Kupang
2007 2008 inflasi
IV I II III IV y-o-y 8.44% 6.43% 10.63% 10.45% 10.90% q-t-q 2.47% 3.33% 4.79% 0.46% 1.94% m-t-m 1.97% 0.34% 2.31% 0.31% 1.11%
y-t-d 8.44% 3.33% 8.28% 8.78% 10.90%
Tabel 4.1 Perkembangan Inflasi Kupang
Sumber : BPS diolah
Secara triwulanan, inflasi pada triwulan IV-2008 (q-t-q)
mencatatkan kenaikan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Laju
inflasi pada triwulan IV-2008 (q-t-q) adalah 1,94%, naik dibandingkan dengan
triwulan III yang hanya sebesar 0,46%. Kenaikan inflasi pada triwulan IV-2008
disumbang oleh tingginya inflasi pada bulan Desember yang mencapai 1,11%.
Hal ini terkait dengan perayaan Hari Raya Natal yang diperingati oleh sebagian
besar warga Kota Kupang sehingga menyebabkan meningkatnya permintaan
barang-barang khususnya untuk komoditas - komoditas yang terdapat pada
kelompok bahan makanan dan makanan jadi. Kebijakan pemerintah untuk
menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium dan solar
sebanyak dua kali, yaitu pada tanggal 1 Desember 2008 dan 15 Desember
2008, belum mempengaruhi laju inflasi di Kota Kupang. Kebijakan pemerintah
tersebut tidak secara langsung ditransmisikan melalui penurunan harga-harga,
sehingga inflasi Kota Kupang pada Desember 2008 berada diatas level 1%.
Pada akhir triwulan IV-2008, inflasi tahunan (y-o-y) Kota Kupang
lebih rendah dibandingkan inflasi tahunan nasional. Dilihat dari data
historis, inflasi Kota Kupang hampir selalu berada diatas inflasi nasional, tetapi
ada kondisi – kondisi tertentu (supply shock) yang menyebabkan inflasi Kupang
lebih rendah dibandingkan dengan nasional. Selain tahun 2008, hal yang sama
terjadi pada tahun 2005 dimana pada tahun tersebut ada kebijakan pemerintah
untuk menaikkan harga BBM yang menyebabkan lonjakan inflasi secara
nasional. Transmisi kebijakan tersebut juga berdampak langsung pada
peningkatan harga-harga dan laju inflasi di Kota Kupang, tetapi dampak yang
dirasakan tidak sebesar nasional. Hal ini disebabkan karena Kota Kupang
memiliki karakteristik inflasi yang berbeda dari inflasi nasional, dimana Kupang
cenderung lambat dalam menerima respon yang terjadi akibat supply shock,
tetapi memerlukan waktu yang lebih lama untuk mengantispasi dampak yang
Grafik 4.2 Inflasi Kupang vs Inflasi Nasional
2.2 Inflasi Tahunan (y-o-y)
Secara tahunan inflasi Kota Kupang mengalami kenaikan
dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, yaitu 10,90%. Hal ini
diperkirakan karena terjadi peningkatan konsumsi masyarakat, khususnya Kota
Kupang dalam memperingati perayaan Hari Raya Natal dan Tahun Baru.
Lonjakan permintaan khususnya pada kelompok Bahan makanan serta
Makanan, Minuman, Rokok dan Tembakau terutama pada sub kelompok
makanan jadi menyebabkan tingginya laju inflasi pada akhir triwulan ini.
Kenaikan harga-harga terpantau dari hasil pengamatan yang dilakukan di pasar
inpres Kupang, dimana komoditas-komoditas tertentu seperti mentega dan telur
yang digunakan sebagai bahan pembuat kue mengalami pergerakan yang
cukup signifikan.
Sumber : BPS diolah
Grafik 4.3 Inflasi Kelompok Barang Tw III-08 (y-o-y) Grafik 4.4 Perkembangan Inflasi y-o-y
Sepanjang tahun 2008, kelompok perumahan mengalami inflasi
paling tinggi dengan 18,13%, kemudian kelompok makanan, minuman,
rokok dan tembakau serta kelompok bahan makanan masing-masing sebesar
12,78% dan 11,34%. Laju inflasi kelompok perumahan dipengaruhi oleh
kenaikan berbagai bahan bangunan, terutama yang terbuat dari semen.
Kenaikan harga dasar semen di NTT membuat seluruh material yang terbuat dari
semen ikut terdongkrak. Semen yang umumnya dijual di bawah Rp. 40.000 per
sak meningkat hingga diatas Rp. 50.000 per sak. Hal ini disebabkan seluruh
pasokan semen untuk memenuhi kebutuhan di NTT harus didatangkan dari
daerah lain seiring dengan berhentinya produksi PT. Semen Kupang.
Berhentinya produksi PT Semen Kupang berpengaruh besar terhadap
pergeseran equilibrium price yang baru. Sedangkan untuk kelompok makanan
dan bahan makanan, tekanan berasal dari sisi permintaan serta sisi penawaran,
dimana tingkat konsumsi masyarakat meningkat seiring dengan perayaan Hari
Raya Natal, akan tetapi dari sisi penawaran mengalami tekanan disebabkan
pada akhir triwulan 2008 sebagian besar lahan petani memasuki masa tanam
yang menyebabkan pasokan barang di pasaran mengalami penurunan.
2.3 Inflasi 2008 (y-t-d)
Tekanan inflasi Kota Kupang sepanjang tahun 2008 memiliki
kecenderungan meningkat. Sampai dengan akhir triwulan IV-2008, inflasi
Kota Kupang mencapai 10,90%. Kondisi ini jauh lebih tinggi dibandingkan
dengan tahun 2007 lalu, dimana pada akhir triwulan yang sama tekanan inflasi
berada pada level 8,44% (y-t-d). Administered inflation merupakan faktor
utama yang memicu inflasi di daerah. Walaupun pada bulan Desember 2008
pemerintah mengeluarkan kebijakan menurunkan harga BBM, namun kondisi
perekonomian secara tahunan masih dipengaruhi kenaikan harga BBM pada
bulan Mei, terutama bagi NTT yang sangat bergantung kepada impor. Biaya
Selama triwulan IV-2008 (q-t-q), kelompok makanan, minuman,
rokok dan tembakau mengalami inflasi paling tinggi yaitu 4,56%,
kemudian kelompok bahan makanan sebesar 3,96%. Tingginya laju inflasi pada
kelompok makanan, khususnya pada sub kelompok makanan jadi, serta
kelompok bahan makanan disebabkan oleh meningkatnya permintaan yang
tidak diimbangi dengan peningkatan dari sisi supply sehingga menyebabkan
kecenderungan harga menjadi bergerak naik. Kondisi berbeda terjadi pada
kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan. Pada triwulan IV-2008,
kelompok ini mengalami deflasi hingga 3,87%. Laju deflasi yang relatif tinggi
terutama terjadi pada sub kelompok transpor. Hal ini terkait dengan kebijakan
pemerintah untuk menurunkan harga BBM sampai dengan dua kali pada bulan
Desember 2008. Penurunan harga BBM, terutama jenis premium dan solar
mengakibatkan biaya operasional untuk aktivitas transpor menurun.
Pergerakkan harga bahan makanan cenderung relatif bervariasi.
Harga kebutuhan pokok cenderung stabil sampai dengan akhir triwulan
IV-2008, kecuali untuk telur ayam yang mengalami lonjakan harga pada
pertengahan November 2008 dari Rp 20.000,-/kg menjadi Rp 25.000,-/kg. Hal
ini disebabkan telur ayam merupakan salah satu bahan utama untuk pembuatan
kue, sedangkan menjelang Hari Raya Natal permintaan kue akan meningkat.
Lonjakan pergerakan harga juga terjadi pada komoditas daging ayam. Harga
ayam naik pada kisaran Rp 10.000,-/kg sehingga menjadi Rp 45.000,-/kg. Hal
serupa juga terjadi pada komoditas ikan, harga ikan melonjak naik menjadi Rp
50.000,-/kg. Hal tersebut merupakan pengaruh dari kondisi perairan NTT yang
Grafik 4.6 Perkembangan Inflasi (y-t-d)
Grafik 4.5 Inflasi Kelompok Barang Tw IV-08 (q-t-q)
mengalami arus deras sehingga hasil tangkapan ikan semakin berkurang dan
harga ikan menjadi mahal. Untuk komoditas bumbu-bumbuan, harga pada
triwulan ini bersifat fluktuatif. Komoditas cabe merah yang pada awal Oktober
turun pada harga Rp 12.000,-/kg melonjak naik pada level Rp 20.000,-/kg pada
akhir Desember 2008. Demikian juga pada komoditas cabe rawit, naik pada
level Rp 35.000,-/kg setelah sebelumnya Rp 30.000,-/kg. Sedangkan untuk
bawang merah mengalami kenaikan harga sebesar Rp 2.000,-/kg sehingga
menjadi Rp 15.000,-/kg
Sumber : Pantauan Harga KBI Kupang Sumber : Pantauan Harga KBI Kupang
Grafik 4.9 Perkembangan Daging dan Ikan
Sumber : Pantauan Harga KBI Kupang
kenaikan harga bahan bakar minyak oleh pemerintah pada
bulan
nelitian yang dilakukan bertujuan untuk : 1) Mengetahui informasi
tentan
an ini dilakukan dengan metode survei. Populasi dalam penelitian
ini sem
kecamatan Kota Kupang.
DAMPAK KENAIKAN BBM TERHADAP EKSPEKTASI KENAIKAN HARGA BAHAN MAKANAN DAN PERILAKU KONSUMSI
Latar Belakang
Realisasi
Mei 2008 lalu secara tidak langsung akan ikut membentuk ekspektasi
inflasi oleh masyarakat dalam bentuk naiknya harga-harga komoditas.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi NTT, komoditas
penyumbang inflasi terbesar untuk Kota Kupang bersumber dari kelompok
bahan makanan dan kelompok perumahan. Adanya shock yang bersumber
dari administrered price diduga akan berpengaruh (multiplier effect) terhadap
meningkatnya harga dari komoditas-komoditas yang terkait pada kelompok
bahan makanan dan perumahan.
Tujuan
Pe
g efek isu kenaikan harga terhadap perkiraan pembentukan harga, 2)
Mengetahui informasi tentang efek isu kenaikan harga bahan bakar minyak
terhadap struktur biaya produksi, 3) Menggali informasi tentang efek isu
kenaikan harga bahan bakar minyak terhadap pola konsumsi rumah tangga, 4)
Menggali informasi tentang perkiraan harga sampai dengan akhir 2008,
setelah terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak.
Metodologi
Peneliti
ua orang yang tercatat berdomisili di Kota Kupang yang dikelompokan
atas dua kelompok, yaitu : 1) konsumen yaitu semua masyarakat yang ada di
Kota Kupang di luar produsen atau penjual komoditas, 2) produsen atau penjual
komoditas yang ada di Kota Kupang baik berupa perorangan maupun badan
usaha. Jumlah sampel yang terambil sebanyak 400 rumah tangga responden,
yang terdiri dari 250 rumah tangga konsumen bahan makanan dan 150 rumah
Pembahasan
Dari hasil survei didapatkan beberapa hal sebagai berikut :
apan ikan, warung
makan
yang
dikelua
Kota Kupang.
Penuru
pun mengalami peningkatan yang bervariasi menurut jenis bahan
makan
aikan harga BBM menjadi Rp.
634.97
UMKM industri rumah tangga penguna bahan bakar minyak di Kota
Kupang, adalah industri pengolahan makanan, penangk
, penggilingan jagung dan padi, parut kelapa, industri kerajinan tangan
rumah tangga, tahu tempe dan kerupuk. Biaya produksi dari usaha kecil atau
industri rumah tangga yang ada di Kota Kupang sekitar Rp. 2.034.063,65.
Pedagang selalu mengeluarkan biaya untuk melaksanakan berbagai
fungsi pemasaran. Kenaikan harga BBM mengakibatkan biaya pemasaran
rkan oleh lembaga pemasaran pun berubah. Kenaikan harga BBM
meningkatkan biaya pemasaran meningkat 33,45% dibandingkan dengan
keadaan sebelum kenaikan harga BBM. Komponen biaya pemasaran yang
meningkat cukup tinggi adalah komponen biaya tenaga kerja (65,08 %), diikuti
kenaikan biaya untuk BBM 41,11 % biaya transportasi 34,80 %.
Dampak kenaikan harga BBM berpengaruh terhadap omset pembelian
dan penjualan komoditas bahan makanan oleh pedagang di
nan omset pemasaran ini bervariasi diantara komoditas pangan yang
diperdagangkan. Komoditas bahan pangan yang mengalami penurunan cukup
signifikan adalah telur yang besarnya 61,5 diikuti dengan ikan 66.79% dan
beras 68,40.
Kenaikan harga BBM menyebabkan harga berbagai komoditas pangan di
Kota Kupang
an yang diperdagagkan. Kenaikan harga BBM menyebabkan kenaikan
harga komoditas pangan dengan variasi diantara komoditas yang dipasarkan.
Untuk kelompok beras sebagian besar (48,57 %) pedagang menaikan harga
beras kurang dari 5 % sementara sebanyak 42,86 % menaikan harga beras
yang dijual meningkat antar 5,1- 6 % terdapat sebagian kecil yang mengatakan
harga beras yang dijual meningkat lebih dari 7 %.
Rata-rata pengeluaran rumah tangga per bulan untuk kelompok bahan
makanan meningkat dari 488.934,54 sebelum ken
3,93 setelah kenaikan harga BBM. Sedangkan rata-rata pengeluaran
Rp. 939.869,76 menjadi Rp. 882. 741,07. Secara keseluruhan konsumen di Kota
Kupang memperkirakan bahwa harga bahan makanan pada akhir tahun 2008
naik. Perkiraan dengan trend sama juga akan terjadi pada semester I 2009.
Perkiraan konsumen ini erat dengan kaitannya dengan adanya Hari Raya Natal
dan Tahun Baru yang akan memicu kenaikan berbagai bahan makanan di Kota
Kupang. Faktor pemicu peningkatan harga pada semester pertama 2009 adalah
faktor iklim atau cuaca. Menyebabkan arus transportese barang tidak lancar dari
luar ke NTT terlambat sehingga dapat memicu kenaikan harga bahan makanan.
Dengan demikian untuk meminimalkan sumber tekanan inflasi di Kota
Kupang, pemerintah perlu melakukan beberapa langkah, yaitu :
(1) Ada pembinaan manajemen usaha dan pemasaran serta bantuan modal bagi
usaha menenggah, kecil dan mikro dalam pengelolaan usahanya agar bisa
(2)
bahan bekerja secara efisien dan efektif dalam pengelolaan usahanya, dan
Upaya untuk mengembangkan bahan makanan produk lokal untuk
mengurangi ketergantungan konsumen terhadap komoditas
B
B
B
A
A
A
B
B
B
I
I
I
I
I
I
I
I
I
P
P
P
E
E
E
R
R
R
K
K
K
E
E
E
M
M
M
B
B
B
A
A
A
N
N
N
G
G
G
A
A
A
N
N
N
P
P
P
E
E
E
R
R
R
B
B
B
A
A
A
N
N
N
K
K
K
A
A
A
N
N
N
3.1 Kondisi Umum
Kinerja perbankan di Provinsi NTT pada triwulan IV tahun 2008
masih mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya.
Walaupun krisis keuangan global mulai mempengaruhi kinerja sistem keuangan
di Indonesia, namun hal tersebut belum berpengaruh pada kinerja perbankan di
Provinsi NTT. Kemampuan perbankan dalam meningkatkan asetnya masih tetap
terpelihara. Hal serupa juga terjadi pada kegiatan penghimpunan dana
masyarakat (DPK), dimana pada triwulan ini masih mengalami perkembangan
yang positif walaupun akselerasi pertumbuhannya cenderung mengalami
penurunan. Secara tahunan, kinerja perbankan pada tahun 2008 mengalami
peningkatan dibandingkan dengan tahun 2007. Peningkatan kinerja tersebut
tercermin dari pertumbuhan aset, kredit dan DPK yang mengalami
perkembangan positif.
Tabel 3.1 Perkembangan Kinerja Perbankan
indikator
utama IV I II III IV
Aset (miliar) 8,516.24 8,546.128,318.80 9,533.02 9,941.95
y-o-y aset 12.29% 10.85% 8.26% 13.39% 16.74%
Kredit (miliar) 4,202.99 4,814.824,293.58 5,238.52 5,404.28
y-o-y kredit 31.63% 30.20% 30.58% 30.68% 28.58%
K (miliar) 7,296.11 7,437.547,162.46 7,887.35 8,004.80
o-y DPK 10.09% 7.48% 7.28% 10.45% 9.71%
LDR 57.61% 59.95% 64.74% 66.42% 67.51%
NPL 1.54% 1.79% 1.62% 1.64% 1.39%
2008 2007
DP
Grafik 3.1 Perkembangan Kinerja Perbankan
Tekanan dari sisi harga mempengaruhi peningkatan kebutuhan
pembiayaan perbankan di Provinsi NTT. Tingkat konsumsi masyarakat NTT
cukup dominan dalam menggerakkan perekonomian secara keseluruhan.
Kenaikan harga membuat biaya untuk memenuhi konsumsi masyarakat
mengalami peningkatan. Hal ini mengakibatkan tren pertumbuhan penyerapan
dana cenderung mengalami penurunan, karena masyarakat terpaksa harus
memangkas alokasi saving. Sejalan dengan hal tersebut, pada triwulan IV-2008
terjadi sedikit perlambatan pertumbuhan jumlah DPK sebesar 9,71% (y-o-y)
menurun di bandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mengalami lonjakan
cukup tinggi sebesar 10,45% (y-o-y). Secara tahunan, laju pertumbuhan DPK
s