SAK ETAP (Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik)
Diluncurkan secara resmi pada tanggal 17 Juli 2009
Siapa saja penggunanya yaitu entitas yang tidak memiliki akuntabilitas public signifikan, yaitu entitas yang :
Tidak tercatat di pasar modal
Tidak sedang dalam proses untuk pengajuan pernyataan pendaftaran di pasar modal Bukan lembaga keuangan
Yang melatar belakangi pengembangan SAK ETAP
IFRS for SME yang dikelurkan IASB masih terlalu kompleks untuk ukuran perusahaan menengah di Indonesia.
Manfaat SAK ETAP
Dengan adanya SAK ETAP perusahaan kecil menengah mampu untuk : Menyusun laporan keuangannya sendiri
Dapat diaudit dan mendapatkan opini audit
Lebih mudah untuk memperoleh pinjaman dari Bank untuk tujuan pengembangan usaha
Akuntansi keuangan dalam persepsi UKM
Kenapa hingga sekarang ini banyak di antara para pelaku usaha UKM tidak menerapkan pembukuannya sesuai dengan SAK
Sistem informasi keuangan yang sulit didapat, sulit dimengerti/ diaplikasikan. Hanya diperlukan ketika usahanya membutuhkan tambahan modal.
Diperlukan biaya yang mahal untuk mendapatkan karyawan yang terlatih. Sistem akuntansi dalam bentuk softwere relative mahal.
Diperlukan sosialisasi dan kampanye yang intens tentang pentingnya penyusunan laporan keuangan secara rutin yang dapat diaudit dan mendapat opini audit.
SAK-ETAP disajikan lebih sederhana, mudah dimengerti, mudah diperoleh, murah dan terjangkau. SAK-ETAP yang dikembangkan harus mendapat pengakuaun Bank dan pemerintah.
SAK UMUM vs SAK ETAP
SAK UMUM SAK ETAP
Penyajian Laporan Keuangan Dengan adanya ED PSAK 1 di masa depan penyajian laporan keuangan mengikuti IFRS dengan perubahan antara lain, - Tidak ada lagi pos luar biasa pada neraca
- Laba Rugi komprehensive - Cash flow metode langsung (dianjurkan), dan tidak langsung.
Minimum pos yang harus ada di neraca lebih sedikit.
- Silent terhadap pos luar biasa
- Laporan laba rugi (tanpa harus menyajikan laba rugi komprehensive)
- Cash flow dengan metode tidak langsung
Aset Tetap dan Properti Investasi
1. Memberikan pilihan metode biaya atau revaluasi untuk aset tetap.
2. Metode Fair value untuk properti investasi.
Aset tetap, properti investasi menggunakan metode biaya kecuali ada ketentuan pemerintah yang
mengharuskan model revaluasi diterapkan.
Aset Tidak Berwujud - Saat ini aset tidak berwujud diamortisasi selama 20th. - ED PSAK 19 (Terbit 2011) - Aset tidak berwujud dengan masa manfaat tak terbatas, tidak diamortisasi.
- Aset tidak berwujud diamortisasi selama 10th. - Pengukuran menggunakan metode biaya.
Instrumen Keuangan - Ruang lingkup: aset dan kewajiban keuangan, - Diklasifikasikan pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, dimiliki hingga jatuh tempo, tersedia untuk dijual, pinjaman dan pinjaman yang diberikan.
- Ruang lingkup; investasi pada efek tertentu
- Klasifikasi trading, held to maturity, dan available for sale. Hal tsb mengacu pada PSAK no 50 (1998).
- Impayment menggunakan incurred loss concept. - Derecognition
- Hedging dan derivatif.
dibanding ketentuan PSAK 50 dan PSAK 55 (revisi 2006)
Persediaan LIFO tidak lagi diijinkan (PSAK 14 revisi 2008)
LIFO tidak diijinkan
Ketentuan lainnya sama dengan PSAK
Penurunan nilai Aset - Ruang lingkup kecuali; persediaan, aset yang timbul dari kontrak konstruksi, aset pajak tangguhan, aset yang timbul dari manfaat pensiun. - Penurunan nilai non persediaan.
- Penurunan nilai unit penghasil kas dan goodwill.
- Ruang lingkup yang meliputi semua jenis aset kecuali aset yang timbul dari manfaat pensiun.
- Tidak mengatur penurunan nilai goodwill.
- Ada tambahan penurunan nilai untuk pinjaman yang diberikan dan piutang yang menggunakan PSAK 31. Laporan Keuangan
Konsolidasian
Diatur dalam PSAK 4
Menggunakan metode ekuitas (entitas asosiasi) dan metode konsolidasi penuh untuk entitas anak.
Tidak Diatur
Bila memiliki investasi atas asosiasi maupun subsidiary menggunakan metode ekuitas ( on line cosolidation).
Sewa - Mengatur perjanjian yang
mengandung sewa.
- Klasifikasi berifat principle based.
- Laporan keuangan lessee dan lessor
- Tidak mengatir perjanjian yang mengandung sewa ( psak 8)
- Klasifikasi sewa; kombinasi IFRS for SMEs dan SFAS 13 (rule based)
- Laporan keungan lessee dan lessor menggunakan PSAK 30 (1990): Akuntansi Sewa Biaya Pinjaman Komponen biaya pinjaman
Pengakuan dan kapitalisasi biaya pinjaman
Biaya pinjaman langsung dibebankan.
- Imbalan kerja jangka pendek - Imbalan pasca kerja, untuk manfaat pasti menggunakan PUC (Prject Unit Credit) - Imbalan jangka panjang lainnya
- Pesangon pemutusan kerja - Imbalan berbasis ekuitas
berbasis ekuitas - Untuk mafaat pasti
mengunakan PUC dan jika tidak bisa, menggunakan metode yang disederhanakan.
Pajak Penghasilan - Menggunakan deffered tax concept
- Penagkuan dan pengukuran pajak kini
- Pengakuan dan pengukuran pajak tangguhan
- Menggunakan tax payable concept.
- Tidak ada pengakuan dan pengukuran pajak tangguhan.
Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 17 Juli lalu telah meluncurkan standar akuntansi ETAP (SAK-ETAP) bertepatan dalam acara Seminar Nasional Akuntansi “Tiga pilar Standar Akuntansi Indonesia” yang dilaksanakan oleh Universitas Brawijaya dan Ikatan Akuntan Indonesia. Nama standard ini sedikit unik karena exposure draftnya diberi nama Standar Akuntansi UKM (Usaha Kecil dan Menengah), namun mengingat definisi UKM sendiri sering berubah, maka untuk menghindari kerancuan, standard ini diberi nama SAK Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik.
Apabila SAK-ETAP ini telah berlaku efektif, maka perusahaan kecil seperti UKM tidak perlu membuat laporan keuangan dengan menggunakan PSAK umum yang berlaku. Di dalam beberapa hal SAK ETAP memberikan banyak kemudahan untuk perusahaan dibandingkan dengan PSAK dengan ketentuan pelaporan yang lebih kompleks. Perbedaan secara kasat mata dapat dilihat dari ketebalan SAK-ETAP yang hanya sekitar seratus halaman dengan menyajikan 30 bab.
Sesuai dengan ruang lingkup SAK-ETAP maka Standar ini dimaksudkan untuk digunakan oleh entitas tanpa akuntabilitas publik. Entitas tanpa akuntabilitas publik yang dimaksud adalah entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan tidak menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement) bagi pengguna eksternal. Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit.
Lebih lanjut ruang lingkup standar ini juga menjelaskan bahwa Entitas dikatakan memiliki
modal atau regulator lain untuk tujuan penerbitan efek di pasar modal; atau entitas menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar masyarakat, seperti bank, entitas asuransi, pialang dan atau pedagang efek, dana pensiun, reksa dana dan bank investasi.
Sesuai dengan ruang lingkup SAK-ETAP maka Standar ini dimaksudkan untuk digunakan oleh entitas tanpa akuntabilitas publik. Di dalam beberapa hal SAK ETAP memberikan banyak kemudahan dibandingkan dengan PSAK dengan ketentuan pelaporan yang lebih kompleks.
Entitas yang memiliki akuntabilitas publik signifikan dapat menggunakan SAK ETAP jika otoritas berwenang membuat regulasi mengizinkan penggunaan standar tersebut. Hal ini dimungkinkan apabila misalnya pihak otoritas berwenang merasa ketentuan pelaporan dengan menggunakan PSAK terlalu tinggi biayanya ataupun terlalu rumit untuk entitas yang mereka awasi.
SAK-ETAP ini akan berlaku efektif per 1 January 2011 namun penerapan dini per 1 Januari 2010 diperbolehkan. Entitas yang laporan keuangannya mematuhi SAK ETAP harus membuat suatu pernyataan eksplisit dan secara penuh (explicit and unreserved statement) atas kepatuhan tersebut dalam catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan tidak boleh menyatakan mematuhi SAK ETAP kecuali jika mematuhi semua persyaratan dalam SAK ETAP. Apabila perusahaan memakai SAKETAP, maka auditor yang akan melakukan audit di perusahaan tersebut juga akan mengacu kepada SAK-ETAP.
Mengingat kebijakan akuntansi SAKETAP di beberapa aspek lebih ringan daripada PSAK, maka ketentuan transisi dalam SAKETAP ini cukup ketat. Pada BAB 29 misalnya disebutkan bahwa pada tahun awal penerapan SAK ETAP, yakni 1 January 2011, Entitas yang memenuhi persyaratan untuk menerapkan SAK ETAP dapat menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan SAK ETAP, tetapi berdasarkan PSAK non-ETAP sepanjang diterapkan secara konsisten. Entitas tersebut tidak diperkenankan untuk kemudian menerapkan SAK ETAP ini untuk penyusunan laporan keuangan berikutnya. Oleh sebab itu per 1 January 2011, perusahaan yang memenuhi definisi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik harus memilih apakah akan tetap menyusun laporan keuangan menggunakan PSAK atau beralih menggunakan SAK-ETAP.
Selanjutnya ketentuan transisi juga menjelaskan bahwa entitas yang menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP kemudian tidak memenuhi persyaratan entitas yang boleh menggunakan SAK ETAP, maka entitas tersebut tidak diperkenankan untuk menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP. Hal ini misalnya ada perusahaan menengah yang memutuskan menggunakan SAK-ETAP pada tahun 2011, namun kemudian mendaftar menjadi perusahaan public di tahun berikutnya. Entitas tersebut wajib menyusun laporan keuangan berdasarkan PSAK non-ETAP dan tidak diperkenankan untuk menerapkan SAK ETAP ini kembali. Sebaliknya entitas yang sebelumnya menggunakan PSAK non-ETAP dalam menyusun laporan keuangannya dan kemudian memenuhi persyaratan entitas yang dapat menggunakan SAK ETAP, maka entitas tersebut dapat menggunakan SAK ETAP ini dalam menyusun laporan keuangan.
Berikut ini adalah table perbandingan PSAK dengan SAK-ETAP yang dapat membantu pembaca dalam mempelajari SAK-ETAP lebih jauh. Buku SAK-ETAP dapat diperoleh di kantor pusat Ikatan Akuntan Indonesia dan kantor-kantor cabang IAI.
Mengingat kebijakan akuntansi SAK-ETAP di beberapa aspek lebih ringan daripada PSAK, maka terdapat beberapa ketentuan transisi dalam SAK-ETAP yang cukup ketat:
Pada BAB 29 misalnya disebutkan bahwa pada tahun awal penerapan SAK-ETAP, yakni 1 January 2011 Entitas yang memenuhi persyaratan untuk menerapkan SAK ETAP dapat menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan SAK-ETAP, tetapi berdasarkan PSAK non-ETAP sepanjang diterapkan secara
konsisten. Entitas tersebut tidak diperkenankan untuk kemudian menerapkan SAK ETAP ini untuk penyusunan laporan keuangan berikutnya.
Per 1 January 2011, perusahaan yang memenuhi definisi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik harus memilih apakah akan tetap menyusun laporan keuangan menggunakan PSAK atau beralih menggunakan SAK-ETAP.
Entitas yang menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP kemudian tidak memenuhi persyaratan entitas yang boleh menggunakan SAK ETAP, maka entitas tersebut tidak diperkenankan untuk menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK-ETAP. Hal ini misalnya ada perusahaan
menengah yang memutuskan menggunakan SAK-ETAP pada tahun 2011, namun kemudian
mendaftar menjadi perusahaan public di tahun berikutnya. Entitas tersebut wajib menyusun laporan keuangan berdasarkan PSAK non-ETAP dan tidak diperkenankan untuk menerapkan SAK ETAP ini kembali.
Entitas yang sebelumnya menggunakan PSAK non-ETAP dalam menyusun laporan keuangannya dan kemudian memenuhi persyaratan entitas yang dapat menggunakan SAK ETAP, maka entitas tersebut dapat menggunakan SAK ETAP ini dalam menyusun laporan keuangan.