HALAMAN JUDUL
Analisa Lokasi dan Keruangan
ANALISA LOKASI RESTORAN CEPAT SAJI
STUDI KASUS KFC DARMO
SURABAYA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan yang berjudul Laporan Analisa Lokasi Restoran Cepat Saji Studi Kasus KFC Darmo Surabaya sebagai tugas dari mata kuliah Analisa Lokasi dan Keruangan. Laporan ini berisi hasil analisa faktor-faktor yang berpengaruh dalam penentuan lokasi retail berdasarkan teori-teori penentuan lokasi dan prefrensi responden.Penulis berterima kasih kepada Ibu Belinda Ulfa Aulia, MSc, dan Bapak Dr. Nanang Setiawan beserta tim dosen atas bimbingannya sebagai dosen mata kuliah Analisa Lokasi dan Keruangan dan juga kepada seluruh pihak yang telah banyak memberikan saran, masukan, maupun kritik dalam proses penyusunan laporan.
Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan dapat memberikan masukan informasi serta pengetahuan yang bermanfaat bagi seluruh pihak.
Surabaya, Mei 2016
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...1
KATA PENGANTAR...2
DAFTAR ISI...3
BAB I PENDAHULUAN...5
1.1 Latar Belakang...5
1.2 Tujuan...6
1.3 Ruang Lingkup...6
1.3.1 Ruang Lingkup Kawasan...6
1.3.2 Ruang Lingkup Substantif...6
1.4 Sistematika Penulisan...6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...8
2.1. Pengertian Retail...8
2.2. Jenis – Jenis Retail...8
2.3. Pengertian Retail Waralaba...10
2.4. Teori Analisa Lokasi Retail Waralaba...10
2.5. Analisis Gravity Model (Teori Titik Henti)...13
2.6. Confirmatory Factor Analysis (CFA)...14
2.7. Teori Linkert...14
BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI...16
3.1. Profil Restaurant Cepat Saji KFC...16
3.1.1. Sejarah KFC di Indonesia...16
3.1.2. Menu KFC di Indonesia...17
3.2. Persebaran Restoran KFC di Surabaya...17
3.3. Gambaran Lokasi KFC Darmo di Surabaya...18
BAB IV ANALISIS...20
4.1 Variabel Penentuan Lokasi...20
4.2 Alur Berpikir...21
4.3 Metode Pengumpulan Data...22
4.4 Profil Responden...22
4.6 Analisis Lokasi...23
4.6.1 Analisis Gravity Model...23
4.6.2 Confirmatory Factor Analysis (CFA)...25
4.6.3 Pembobotan...27
5.1.1 Analisa Kesesuaian Teori...29
BAB V KESIMPULAN...33
3.4. Kesimpulan...33
3.5. Lesson Learned...33
DAFTAR PUSTAKA...34
LAMPIRAN...35
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Perencanaan lokasi merupakan suatu kegiatan strategis yang bertujuan untuk memaksimalkan keuntungan bagi perusahaan (Herjanto, 2007:126). Lokasi sangat mempengaruhi biaya dan menentukan penghasilan, lokasi sepenuhnya memiliki kekuatan untuk membuat (atau menghancurkan) strategi bisnis sebuah perusahaan (Heizer dan Render, 2009:487).
Aspek lokasi dan ruang menjadi salah satu faktor penting karena keberadaannya yang terbatas dan semakin penuh oleh aktivitas manusia. Pengenalan terhadap karakteristik lokasi dan ruang merupakan hal penting dalam menghasilkan suatu keputusan yang optimal. Salah satunya adalah lokasi perdagangan dan jasa.
Memilih lokasi dalam melakukan kegiatan perdagangan dan jasa merupakan salah satu elemen yang penting karena lokasi akan mempengaruhi penyusunan strategi dan rencana yang harus dilakukan. Perencanaan dalam menentukan lokasi yang tepat dapat bermanfaat bagi efisiensi dan kelancaran kegiatan perdagangan dan jasa yang dilakukan oleh produsen, sehingga biaya produksi dan bahan baku dapat diminimalkan serta dapat memberikan keuntungan maksimum sekaligus menarik kosumen. Dalam penentuan lokasi retail juga bisa dilakukan pendekatan secara spasial maupun non spasial.
Faktor aksesabilitas, strategi marketing, harga produk, sasaran, luas lahan, tingkat pelayanan, selera konsumen, pendapatan konsumen dan penduduk yang dilayani menjadi faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi perdagangan dan jasa. Selain itu, faktor lain yang menjadi pertimbangan penting adalah fasilitas yang tersedia seperti tempat parkir. Hal ini dikarenakan kecenderungan konsumen untuk memilih lokasi dengan kondisi fasilitas yang memadai dan tingkat pelayanan yang baik pula.
Oleh karena itu, pada laporan ini akan dibahas mengenai hasil analisis faktor-faktor penentuan lokasi kegiatan perdagangan dan jasa khususnya untuk restoran cepat saji yang tepat di Surabaya berdasarkan teori – teori penentuan lokasi retail dan prefrensi responden. Dalam memilih lokasi tidak bisa sembarangan dan perlu adanya pertimbangan yang tepat. Pemilihan lokasi perdagangan dan jasa juga harus berpatokan pada perkembangan pembangunan suatu daerah yang sering kali menimbulkan dampak baik positif maupun negatif yang dapat mempengaruhi kinerja dan perkembangan usaha.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui teori – teori penentuan lokasi retail dan menarik sintesa dari pendapat pakar tersebut.
2. Mengetahui keterkaitan antara teori – teori penentuan lokasi retail dengan kondisi retail yang menjadi studi kasus.
3. Menganalisis faktor yang berpengaruh dalam penentuan lokasi retail berdasarkan teori-teori penentuan lokasi dan prefrensi responden.
4. Menganalisa kesesuaian antara faktor lokasi dengan pemilihan lokasi restoran cepat saji yang memenuhi kriteria faktor lokasi yang sudah ditetapkan.
1.3 Ruang Lingkup
1.3.1 Ruang Lingkup Kawasan
Lingkup wilayah studi yang menjadi obyek pengamatan adalah Restoran Cepat Saji KFC Darmo Surabaya yang merupakan bagian dari wilayah administrasi Kelurahan Darmo Kecamatan Wonokromo dan Unit Pengembangan Wonokromo. Lokasi KFC Darmo ini ada pada Jalan Raya Darmo.
1.3.2 Ruang Lingkup Substantif
Ruang lingkup substansi dalam pembahasan ini berkaitan dengan analisa pemilihan lokasi restoran cepat saji. Laporan ini membahas tentang keterkaitan faktor-faktor penentuan lokasi retail dengan teori-teori penentuan lokasi, dan juga untuk menganalisa faktor penentuan lokasi yang berpengaruh dalam penentuan lokasi retail berdasarkan teori-teori penentuan lokasi dan prefrensi responden. Selain itu, menganalisa kesesuaian antara faktor lokasi dengan pemilihan lokasi restoran cepat saji yang memenuhi kriteria faktor lokasi yang sudah ditetapkan.
1.4 Sistematika Penulisan
Bab I Pendahuluan berisi latar belakang, tujuan, ruang lingkup wilayah, ruang lingkup substansi, dan sistematika penulisan.
Bab II Tinjauan Pustaka yang berisi pengertian kawasan retail, jenis-jenis retail, serta teori-teori terkait dengan pemilihan lokasi retail. Pada bab ini dilakukan survei sekunder terhadap beberapa literatur yang menjadi referensi.
Bab III Gambaran Umum Wilayah Studi yang didalamnya berisi gambaran lokasi dan profil Restoran Cepat Saji KFC Darmo Surabaya serta persebaran restoran cepat saji KFC lainnya yang ada di Surabaya.
Bab IV Analisa berisi hasil identifikasi faktor-faktor penentu lokasi sesuai prioritas dan hasil analisa berdasarkan teori – teori penentuan lokasi retail dan prefrensi responden yang disajikan dalam bentuk tabel, diagramatik, gambar, dan peta.
Bab V Kesimpulan berisi kesimpulan dan lesson learned yang tepat berdasarkan hasil analisa terhadap penentuan lokasi restoran cepat saji di KFC Darmo Surabaya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Retail
Retail adalah suatu penjualan dari sejumlah komoditas kepada konsumen. Retail juga merupakan semua usaha bisnis yang mengarahkan secara langsung kemampuan pemasarannya untuk memuaskan konsumen akhir berdasarkan organisasi penjualan barang dan jasa sebagai inti dari distribusi (Gilbert, 2003:6). Pada dasarnya retailing tidak hanya menjual produk – produk kebutuhan, akan tetapi juga dapat menjual produk dan jasa secara langsung kepada konsumen tanpa melalui perantara, seperti penyewaan VCD dan Barber.
Retail dapat diklasifikasikan dalam banyak cara diantaranya yakni berdasarkan aktivitas penjualan barang yang terbagi menjadi dua yakni retail kecil dan retail besar. Retail kecil didominasi oleh kepemilikan secara individu sedangkan retail besar dimiliki oleh organisasi atau perusahaan besar seperti departmen store, warehouse, supermarket, maupun catalog store (Pintel & Diamond, 1971). Selain itu, menurut Pintel dan Diamond dalam konsepnya yakni Took, menyatakan bahwa tipe retail terdiri dari:
Central Business District (CBD)
Secondary Business District (SBD)
Neighborhood Business District (NBD)
Shopping Center
Anchor Stores
Free – Standing Retailer
2.2. Jenis – Jenis Retail
Jenis – jenis usaha retail dapat dikelompokkan atau dibedakan menjadi 8 kelompok dengan masing – masing jenisnya yang berdasarkan aspek masing – masing. Menurut Pintel dan Diamond, pengelompokkan tersebut sebagai berikut.
1. Jenis Usaha Ritail berdasarkan Skala Usahanya
Jenis bisnis retail ini terdiri dari retail besar dan retail kecil yang memiliki perbedaan pada skala pelayanan dan besar serta kepemilikan outlet.
2. Jenis Usaha Ritail berdasarkan Teknik Pemasaran Produk
Jenis bisnis retail ini terdiri dari dua jenis yakni In – Store Retailing yang merupakan media penjualan yang transaksi antara penjual dan pembeli dilakukan pada suatu temoat tertentu seperti warung atau toko. Yang kedua yakni non – store Retailing yakni jenis retail yang penawaran barang atu jasanya melalui media lain selain toko, seperti telepon, surat, internet serta pedagang keliling yang menjual dagangannya ke rumah – rumah konsumen.
3. Jenis Usaha Ritail berdasarkan Tipe Kepemilikannya Jenis bisnis ratail ini dibagi menjadi 3 yakni:
Independent Retail Firm
Waralaba (Franchising)
Retail dioperasikan oleh retailer yang kepemilikannya terdapat pada perusahaan induk (franchisor) yang bekerjasama dengan retailer terkait penggunaan merk dagang, standart kualitas, sampai kemasan produksi, maupun strategi dalam usahanya. Contoh: Mc Donald (McD), KFC, Pizza Hut dan lain sebagainya.
Coorperate Chain
Kelompok usaha yang terdiri dari satu atau lebih jenis usaha yang saling berkaitan dalam satu manajemen. Contoh: matahari, ramayana, trans corp, dll. 4. Jenis Usaha Ritail berdasarkan Produk yang Dijual
Jenis bisnis retail ini terdiri dari 2 macam yakni service retailing yakni retail yang menjual produknya kepada konsumen berupa jasa atau layanan dan terdiri dari rented – good service, Owned – Good Service, dan non – good service.
Yang kedua yakni Product Retailing yang merupakan bisnis retail yang menjual berbagai produk berupa barang kebutuhan. Terdapat beberapa jenis dari product retailing ini yakni Departemen Stores, Catalog Showroom, Food and Drug Retailer. 5. Jenis Usaha Ritail berdasarkan Bentuk Hukum
Jenis bisnis retail yang terdiri dari retail perorangan, retail kemitraan atau partnership, dan retail berbentuk perseroan terbatas baik bersifat privat maupun publik.
6. Jenis Usaha Ritail berdasarkan Struktur Operasional
Jenis bisnis retail yang terdiri dari retail – retail berdasarkan jumlahnya yakni retail dengan satu outlet, retail dengan banyak outlet, dan consumer co – operative.
7. Jenis Usaha Ritail berdasarkan Outlet
Jenis bisnis retail yang terdiri dari Minimarket dengan ukuran 400 m2, Supermarket dengan ukuran 400 – 5000 m2, serta hypermarket dan grosir dengan ukuran lebih dari 5000 m2.
8. Jenis Usaha Ritail berdasarkan Lokasi
Merupakan sekelompok bisnis retail yang sengaja direncanakan, dikembangkan, dimiliki dan dikelola sebagai satu unit.
2.3. Pengertian Retail Waralaba
Waralaba atau franchising merupakan bagian dari jenis retail berdasarkan kepemilikannya, dimana waralaba adalah perjanjian pembelian hak untuk menjual produk dan jasa dari pemilik usaha (franchisor). Pada waralaba, pembeli disebut franchisee. Dalam perjanjian waralaba, franchisor akan memberikan bantuan dalam memproduksi, operasional, manajemen bahkan masalah keuangan. Franchisor akan membantu franchisee mulai dari tahap awal usaha seperti pemilihan lokasi , mendesain toko hingga recruiting dan training karyawan atau pegawai. Pengertian lain waralaba menurut Ma’aruf pada tahun 2005, yakni hubungan bisnis antara pemilik merk, produk dan sistem operasional dengan pihak kedua berupa pemberian izin pemakaian merk, produk, sistem operasional dalam jangka waktu tertentu.
sebenarnya merupakan hubungan kontraktual antara franchisor dengan franchisee dimana franchisor menawarkan dan wajib memelihara kepentingan yang terus menerus pada usaha waralaba seperti bidang pengetahuan dan pelatihan.
Waralaba dioperasikan dibawah merk dagang yang sama, format dan prosedur dimiliki dan dikendalikan oleh franchisor dimana franchisee telah menanam investasi didalamnya dengan sumber dana sendiri.
2.4. Teori Analisa Lokasi Retail Waralaba
Adapun teori – teori yang terkait dengan pemilihan lokasi atau analisa lokasi retail waralaba yakni sebagai berikut:
a. Basu Swastha dan Irawan (1997)
Bagi seorang retailer untuk menentukan lokasi yang tepat bagi tokonya perlu memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :
Luas daerah perdagangan
Dapat dicapai dengan mudah
Potensi pertumbuhannya
Lokasi toko-toko saingan
1Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi potensi penjualan dari lokasi toko baru adalah:
Dapat dicapai dengan mudah
Populasi penduduk
Pesaing
Batas-batas daerah perdagangan
b. Jones dan Simmons (1993)
Beberapa faktor kunci dalam pemilihan lokasi bagi retai adalah :
Ukuran tanah yang digunakan, dengan indikator sebagai berikut :
a. Rata-rata lalu lintas harian dari rute dengan akses langsung terhadap lokasi retail b. Jarak terhadap pemberhentian transportasi terdekat
c. Banyaknya tenaga kerja dalam 10 menit jalan dari lokasi
Sosio ekonomi dan demografi, dengan indikator sebagai berikut : a. Jumlah dari rumah tangga
b. Rata-rata pendapatan
c. Penentuan rumah tangga yang memiliki anak d. Presentase pekerja profesional
a. Jumlah pesaing utama dari radius 1 km b. Jumlah pesaing sekunder dalam radius 2 km
c. Sin (1982)
Faktor-faktor yang mempengaruhi lokasi kegiatan perdagangan adalah :
Spatial atau geografis, yang berkaitan dengan karakteristik seperti ruang, jarak, aksesibilitas, ukuran, bentuk, aglomerasi, serta posisi relatif lokasi dalam keseluruhan.
Faktor-faktor lainnya yaitu ekonomi, politik, budaya, sehingga saling berpengaruh antara faktor spasial dan aspasial. Selain itu, perlu pula memperhatikan faktor konsumen dalam penetuan lokasi retail.
Terdapat 6 kriteria yang dilihat dalam ilmu yang berpengaruh dalam dalam pemilihan lokasi retail adalah :
Bahan mentah
Sumber daya tenaga (power resource)
Suplai tenaga kerja
Suplai air
Pemasaran
Fasilitas transportasi 1
d. Diana (2003)
Faktor-faktor penentu berkembangnya lokasi perdagangan meliputi : 1. Jumlah penduduk pendukung
Setiap jenis fasilitas perdagangan eceran mempunyai jumlah ambang batas penduduk atau pasar yang menjadi persyaratan dapat berkembangnya kegiatan. Jumlah penduduk pendukung dapat diketahui dari luas daerah pelayanan tetapi luas daerah layanan tidak dapat ditentukan sendiri karena faktor ini bergantung pada faktor fisik yang mempengaruhi daya tarik suatu fasilitas perdagangan.
2. Aksesibilitas
Aksesibilitas berkaitan dengan kemudahan pencapaian suatu lokasi melalui kendaraan umum dan pribadi serta pedestrian. Untuk fasilitas perdagangan kemudahan pencapaian lokasi, kelancaran lalu lintas dan kelengkapan fasilitas parkir merupakan syarat penentuan lokasi dan kesuksesan kegaiatan perdagangan.
Pada kegiatan perdagangan yang bersifat generative, analisa ambang batas penduduk dan pasar menjadi halyang penting sedangkan pada lokasi perdagangan yang bersifat suscipient, analisa kaitan spasial dari kegiatan merupakan hal yang penting.
4. Jarak
Kecenderungan pembeli untuk berbelanja pada pusat yang dominan, namun menyukai tempat yang dekat maka faktor jarak merupakan pertimbangan penting untuk melihat kemungkinan perkembangan suatu lokasi terutama pusat perdagangan sekunder yang menunjukkan trade off antara besarnya daya tarik pusat dan jarak antara pusat.
Dari teori – teori yang terkait dengan pemilihan lokasi retail waralaba tersebut maka terbentuklah beberapa faktor – faktor dan variable yang dikelompokkan sebagai berikut.
No Tokoh Variabel
3. Basu
Persaingan Lokasi toko–toko lokasi pesaing, psikografis, aksesibilitas, dan persaingan. Dalam penelitian ini, memepertimbangkan kedua preferensi yakni dari masyarakat serta dari pemilik gerai makanan cepat saji KFC di Jl. Darmo sehingga keempat variabel diatas dibutuhkan dalam menunjang penelitian. Keempat variabel tersebut juga telah memenuhi kebutuhan dalam melakukan penelitian.
2.5. Analisis Gravity Model (Teori Titik Henti)
Gravity model digunakan secara luas dalam teknik menentukan lokasi retail. Metode ini berasal dari William J. Reilly’s yang disebut dengan Hukum Gravity Ritel. Pada intinya, metode ini merupakan metode yang digunakan untuk mengevaluasi tingkah laku manusia yang mengukur bahwa setiap individu kemungkinan akan tertarik menuju ritel bergantung pada jarak tempuh, jarak tempuh ke took alternative, dan keunggulan masing-masing lokasi. Hukum Reilly’s secara sederhana dapat diibaratkan sebagai batasan area perdagangan, dengan cara menentukan titik yang berbeda dari dua kota atau dua wilayah, maka masing-masing luasan area perdagangan dapat ditentukan.
Gravity Model juga merupakan atau biasa disebut sebagai teori titik henti. Teori titik henti merupakan modifikasi dari teori gravitasi W. J. Reilly. Teori ini dapat digunakan untuk memberikan gambaran mengenai pola interaksi antara dua wilayah dan dapat memperkirakan penempatan lokasi suatu industry atau pusat pelayanan. Teori ini dapat digunakan jika memenuhi asusmsi awal teori titik henti yakni sebagai berikut:
1. Keadaan ekonomi penduduk relatif sama 2. Topografi wilayah datar
Teori titik henti yang dilakukan menggunakan data jarak jalan antara lokasi lokasi retail yang sama (KFC).
2.6. Confirmatory Factor Analysis (CFA)
CFA menurut Joreskog dan Sorborn (1993) digunakan untuk menguji unidimensional, validitas dan reliabilitas model pengukuran konstruk yang tidak dapat diukur langsung. Model pengukuran atau disebut juga model deskriptif (Ferdinant, 2002), measurement theory (Hair, dkk, 2006), atau confirmatory factor model (Long, 1983) yang menunjukkan operasionalisasi variabel penelitian menjadi indikator-indikator terukur yang dirumuskan dalam bentuk persamaan dan atau diagram jalur tertentu (dalam Kusnendi, 2008:98)
Tujuan CFA adalah untuk mengkonfirmasikan atau menguji model, yaitu model pengukuran yang perumusannya berasal dari teori. Sehingga, CFA bisa dikatakan memiliki dua focus kajian yaitu :
1. apakah indikator-indikator yang dikonsepsikan secara unidimensional, tepat, dan konsisten;
2. indikator-indikator apa yang dominan membentuk konstruk yang diteliti.
2.7. Teori Linkert
Skala linkert adalah suatu skala psikometrik yang umum digunakan dalam angket dan merupakan skala yang paling banyak digunakan dalam riset atau survei. Sewaktu menanggapi pertanyaan dalam skala linkert, responden menentukan tingkat persetujuan mereka terhadap suatu pernyataan dengan memilih salah satu dari pilihan yang tersedia. Biasanya tersedia 5 skala dengan format contoh sebagai berikut.
1. Sangat tidak setuju 2. Tidak setuju
3. Kurang setuju 4. Setuju
5. Sangat setuju
Dalam penelitian ini digunakan skala lingkert dengan pilihan sebagai berikut. 1. Sangat berpengaruh
2. Berpengaruh
3. Cukup berpengaruh 4. Tidak berpengaruh
5. Sangat tidak berpengaruh
BAB III
GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI
1.1 Profil Restaurant Cepat Saji KFC
KFC (dulu dikenal dengan nama Kentucky Fried Chicken) adalah suatu merek dagang waralaba dari Yum! Brands, Inc., yang bermarkas di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat. Didirikan oleh Col. Harland Sanders, KFC dikenal terutama karena ayam gorengnya, yang biasa disajikan dalam sebuah bucket dari kertas karton.
Col. Sanders mulai menjual ayam gorengnya pada tahun 1939 di restoran miliknya pada tepi jalan di Corbin, Kentucky yang selanjutnya pindah ke sebuah motel. Ia menutup usahanya pada akhir 1940-an sewaktu jalan tol Interstate melalui kotanya. Pada awal 1950-an, ia mulai berkeliling Amerika Serikat dan bertemu dengan Pete Harman di Salt Lake City, Utah, dan pada tahun 1952 bersama-sama mendirikan restoran Kentucky Fried Chicken yang pertama di dunia (restoran pertamanya tidak menggunakan nama tersebut). Sanders menjual seluruh waralaba KFC pada tahun 1964 senilai 2 juta USD, yang sejak itu telah dijual kembali sebanyak tiga kali. Pemilik terakhir adalah PepsiCo, yang menggabungkannya ke dalam divisi perusahaan Tricon Global Restaurants yang sekarang dikenal sebagai Yum! Brands, Inc.
1.1.1 Sejarah KFC di Indonesia
Pemilik tunggal waralaba KFC di Indonesia adalah PT. Fasrfood Indonesia Tbk, Perusahaan yang didirikan oleh GelaelGroup pada tahun 1978 ini merupakan pihak pertama yang memperoleh waralaba KFC untuk Indonesia.
KFC di Indonesia pertama kali sukses beroperasi pada bulan Oktober 1979 di Jl. Melawai, Jakarta kemudian dilanjutkan dengan pembukaan outlet-outlet lainnya. Setelah di Jakarta, KFC juga membuka outletnya di kota-kota besar Indonesia lain. Inilah yang membuat KFC saat ini menjadi bisnis waralaba cepat saji yang punya dominasi cukup tinggi di Indonesia. Di tahun 1990, Salim Group masuk sebagai pemegang saham utama. Adapun hingga saat ini kepemilikan saham adalah 43,8% milik PT Gelael Pratama dari Gelael Group, dan 35,8% kepada PT. Megah Eraraharja dari Salim Group; sementara saham minoritas (20,4%) didistribusikan kepada Publik dan Koperasi.
Di tahun 2007 outlet KFC di Indonesia sudah mencapai 307 outlet dengan 11.835 karyawan dan penjualan tahunan di atas Rp.1.590triliun. Data tahun 2014 menunjukkan bahwa outlet KFC di Indonesia sudah mencapai 493 gerai.
1.1.2 Menu KFC di Indonesia
menu mereka. Selain itu, di Indonesia kita mengenal banyak promo sepertu bundling dengan CD atau KFC Attack untuk menikmati renyahnya ayam KFC plus nasi dengan harga yang murah
1.2 Persebaran Restoran KFC di Surabaya
Di Kota Surabaya, persebaran restaurant cepat saji KFC terdapat kurang lebih 22 gerai KFC yang tersebar di Surabaya Utara, Barat, Timur, Pusat dan Selatan. Berikut merupakaan tabel persebaran Restaurant KFC di Kota Surabaya.
Tabel 3.1.
Tabel Persebaran Restoran KFC di Kota Surabaya
No Store Lokasi
1 THR Plaza Jl. Kusuma Bangsa 119
2 Plaza Surabaya Jl. Pemuda No. 31-71
3 Galaxy Plaza Surabaya Jl. Dharma Husada Timur No. 37 4 Tunjungan Plaza III Jl. Basuki Rahmad No. 8-12
5 Raya Darmo Jl. Raya Darmo No. 101
6 Tunjungan Plaza II Jl. Basuki Rahmat No. 8-12 7 Golden City Mall Surabaya Jl. H. Abdul Wahad Siamin No. 2-8 8 Supermal Pakuwon Surabaya Jl. Puncak Indah Lontar No. 2 9 Darmo Trade Centre Jl. Raya Wonokromo 10 BG Junction Surabaya Jl. Bubutan No. 1-7 11 Royal Plaza Surabaya Jl. Ahmad Yani No. 16-18
12 ITC Atom Jl. Bunguran No. 35B
13 Pasar Atom Surabaya Jl. Bunguran No. 45 14 City of Tomorrow Jl. A. Yani depan bundaran tol
15 Ahmad Yani Jl. Ahmad Yani 76-86
16 Jembatan Merah Plaza Jl. Jayeng Rono No. 2 17 Mulyosari Jl. Mulyosari No. 121 Blok AA
18 Adityawarman Jl. Adityawarman
19 Pondok Chandra Jl. Rungkut Menanggal No. 65 20 Ciputra World Jl. M. Sungkono No. 89 21 East Point Kembang Jepun Jl. Kapas Krampung No. 45 22 Sinar Rungkut Jl. Jemur Handayani 71
Sumber: http://www.kfcku.com/store/page
1.3 Gambaran Lokasi KFC Darmo di Surabaya
6,1 km dari KFC Basuki Rahmat, dan 4,6 km dari KFC Ahmad Yani. Berikut adalah peta dari lokasi dari KFC Darmo dan peta persaingan dengan KFC sekitarnya:
BAB IV ANALISIS 4.1 Variabel Penentuan Lokasi
Variabel penelitian adalah faktor atau hal yang diamati yang memiliki ukuran, baik ukuran yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Sedangkan kriteria adalah ukuran, prinsip atau standart yang dapat digunakan untuk menilai sesuatu atau mengambil keputusan. Berdasarkan tinjauan pustaka dan survey pendahuluan, didapatkan beberapa variabel, kriteria dan definisi operasional yang sesuai untuk dipergunakan dalam proses analisis. Dari kriteria tersebut didapatkan definisi operasional dan tingkat pengukuran preferensi terhadap responden agar proses analisis lebih mendalam dan tepat sasaran. Berdasarkan tinjauan teori didapatkan variabel, kriteria dan definisi operasional pada tabel berikut ini.
Variabel Kriteria Definisi Operasional Simbol
Aksesibilitas
Posisi Relatif Lokasi Posisi relatif lokasi yang dekat dengan raya dan lalu lintas yang lancar. fasilitas perjas yang lain dapat mempengaruhi
Luas lahan retail yang dipertimbangkan oleh
Fasilitas Penunjang
Alur berpikir merupakan alat atau metode penggambaran proses penelitian terhadap suatu objek penelitian tertentu. Alur berpikir dapat berbentuk bagan yang menjelaskan keterkaitan proses dari awal hingga akhir yakni tujuan akhir dari penulisan penelitian. Bagan kerangka berpikir memudahkan identifikasi analisis yang diperlukan dalam penulisan penelitian. Alur berpikir yang digunakan serta kaitannya dengan teori lokasi dapat dilihat pada bagan dibawah ini.
Bagan 1. Diagram Alur Berpikir Sumber: Hasil Analisa, 2016 Pemilihan Lokasi Restoran
Cepat Saji
Melalui diagram alur berpikir diatas dapat diketahui bahwa pada dasarnya penulisan laporan kaitannya dengan penentuan lokasi restoran cepat saji KFC Darmo adalah membandingkan antara teori-teori lokasi kawasan perdagangan atau ritel dengan kondisi faktual yang dapat diamati dari studi kasus yang dipilih. Kondisi faktual ini dijelakan melalui orientasi wilayah studi kasus dan pendapat konsumen melalui kuisioner. Hasil analisis inilah yang nantinya dapat diketahui faktor penentuan lokasi yang paling berpengaruh pada lokasi studi.
4.3 Metode Pengumpulan Data
Sebelum melakukan proses analisa data, hal terpenting adalah proses memperoleh data-data yang dibutuhkan untuk pembahasan dalam penulisan suatu penelitian atau pengamatan. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam menganalisis penentuan lokasi restoran cepat saji KFC Darmo Surabaya dilakukan melalui survei primer dan survei sekunder. Survei primer dilakukan dengan observasi secara langsung ke lapangan, penyebaran kuisioner kepada konsumen untuk mengetahui preferensi responden, dilengkapi pula dengan dokumentasi. Survei sekunder dilakukan melalui peninjauan beberapa teori mengenai penentuan lokasi baik dari buku maupun internet yang digunakan sebagai bahan pembanding dengan kondisi faktual restoran cepat saji KFC Darmo Surabaya.
4.4 Profil Responden
Analisa ini terkait dengan penentuan lokasi yang dilihat dari persepsi masyarakat selaku konsumen, oleh karena itu pihak yang menjadi responden untuk mengisi kuisioner terkait penentuan lokasi restoran cepat saji ini adalah konsumen yang sedang mengunjungi KFC Darmo, konsumen yang pernah mengunjungi KFC Darmo, maupun penduduk disekitasr lokasi KFC Darmo. Karakteristik responden yang diambil adalah penduduk dengan segala jenis profesi. Jumlah responden inimal yang ditentukan adalah 30 responden.
4.5 Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam pengolahan data terkait dengan penentuan lokasi restoran cepat saji KFC Darmo Surabaya yaitu menggunakan beberapa metode analisis antara lain.
Analisa deskriptif kualitatif yang digunakan untuk mendeskripsikan hasil observasi dan hasil kuisioner yang digunakan sebagai gambaran umum dalam laporan ini.
Darmo. Analisa likert memiliki perhitungan dengan skala 1-5. Skala ini digunakan untuk melakukan pembobotan. Rekapitulasi dari pembobotan dilakukan menggunakan excel dengan cara mengurutkan variabel sesuai dengan prioritas menurut responden.
Tabel 1. Skala Likert dan Nilai Bobotnya
Skala Likert Bobot
Analisa teori merupapakan analisa yang dilakukan dengan cara membandingkan kondisi eksisiting KFC Darmo dengan kajian teori yang telah dilakukan. Analisa teori ini dilakukan terhadap sintesa faktor penentu lokasi yang telah ditentukan.
Confirmatory Factor Analysis (CFA)
CFA digunakan untuk mengidentifikasi adanya hubungan antara variabel penentu lokasi restoran cepat saji KFC Darmo dengan melakukan uji korelasi dan validitas. CFA juga berfungsi untuk mengetahui faktor-faktor apakah yang mempengaruhi penentuan lokasi restoran cepat saji KFC Darmo jika dilihat dari perspektif masyarakat atau konsumen. Hasil inilah yang dapat mengukur faktor apakah yang menurut masyarakat menunjukan ketepatan dalam pemilihan lokasi gerai makanan cepat saji McDonalds yang dilakukan oleh pengelola. Proses analisis data dilakukan dengan analisis faktor dengan bantuan aplikasi. Setelah dilakukan proses running data, maka dapat dilihat pada tabel hasil uji signifikansi. Jika nilai signifikansinya kurang dari 0,5 maka variabel tersebut sesuai dengan variabel yang dipengaruhi yaitu penentuan lokasi. Namun apabila nilai signifikansinya lebih besar dari 0,5 maka variabel tersebut tidak sesuai dengan variabel yang dipengaruhi, sehingga variabel tersebut harus direduksi dan tidak bisa dilanjutkan untuk dilakukan analisa selanjutnya.
Output yang akan dihasilkan berupa urutan faktor-faktor berdasarkan nilai pembobotan sehingga diketahui besar pengaruhnya terhadap penentuan lokasi. Sehingga nantinya dapat diketahui kesesuaian antara faktor lokasi dengan pemilihan lokasi restoran cepat saji yang memenuhi kriteria faktor lokasi yang sudah ditetapkan.
4.6 Analisis Lokasi
4.6.1 Analisis Gravity Model
mengetahui apakah penentuan lokasi restoran cepat saji KFC sudah tepat. Berikut adalah rumus yang digunakan untuk menghitung titik henti:
Sebelum melakukan analisis titik henti, harus diketahui terlebih dahulu jarak KFC Basuki Rahmat ke KFC Darmo dan jarak KFC Ahmad Yani ke KFC Darmo. Selain itu juga diperlukan mencari data sekunder untuk mengetahui jumlah penduduk pada setiap kecamatan yang terdapat KFC yang akan dianalisis dengan analisa titik henti.
Jarak eksisting antara KFC Darmo, Basrah dan KFC Darmo antara Ahmad Yani Sumber : Data Sekunder
Dari data diatas dapat dilanjutkan dengan perhitungan analisis titik henti adalah sebagai berikut:
D1Titik henti KFC Darmo (A) ke arah KFC Basuki Rahmat (B)
D1 = 6,4 / 1 +(
= 6,4 / 1 + 1,47 = 6,4 / 2,47 = 2,59
D2 Titik henti KFC Darmo (A) ke arah KFC Ahmad Yani (C)
D1 = 4,8/ 1 +(
= 4,8/ 1 + 27,12 = 4,8 / 28,12
D : Jarak dihitung dari kecamatan yang kecil jumlah penduduknya. dA-B : Jarak lokasi restoran cepat saji A dengan gerai makanan cepat saji PA : Penduduk kecamatan dimana lokasi restoran cepat saji A terletak PB :Penduduk kecamatan dimana lokasi restoran cepat saji B terletak.
KFC Darmo (A) Kecamatan Wonokromo Jumlah Penduduk: 146.875 jiwa KFC Basuki Rahmat (B)
Kecamatan Genteng Jumlah Penduduk: 67.659 jiwa
KFC Ahmad Yani (C) Kecamatan Gayungan Jumlah Penduduk: 39.837 jiwa
= 0,17
Berdasarkan hasil analisis titik henti diatas, diketahui bahwa lokasi KFC Darmo kurang tepat jika dilihat dari perspektif KFC yang ada disekitarnya yaitu KFC Basuki Rahmat dan KFC Ahmad Yani. Dari analisis titik henti, lokasi KFC Darmo yang tepat ialah dengan jarak 2,59 kilometer dari KFC Basuki Rahmat atau 0,17 kilometer dari KFC Ahmad Yani, untuk lebih mudahnya dapat dilihat visualiasi dibawah ini.
Jarak seharusnya antara KFC Darmo, Basrah dan KFC Darmo antara Ahmad Yani Sumber : Hasil analisa, 2016
4.6.2 Confirmatory Factor Analysis (CFA)
Sektor perdagangan dan jasa merupakan sektor dimana konsumen atau pembeli adalah faktor kunci dalam keberlangsungan usaha mereka. Sehingga sebisa mungkin penempatan lokasi perdagangan dan jasa juga mendekati pusat-pusat berkumpulnya para calon pembeli dari badan usaha perdagangan dan jasa mereka. Pada makalah ini mengambil studi kasus pada restoran cepat saji KFC Darmo. Setiap usaha perdagangan dan jasa pastinya berusaha untuk mendapatkan pasar atau konsumen yang sebanya-banyaknya sehingga mendapatkan keuntungan dari penjualan produk yang ditawarkan. Maka dari itu diperlukan sebuah penelitian evaluasi penempatan lokasi restoran cepat saji KFC Darmo lokasi yang sudah ditempati sekarang apakah sudah tepat dan telah mempengaruhi konsumen untuk membeli produk pada kedua restoran cepat saji tersebut. Perspektif konsumen ini dapat menjadi pertimbangan terhadap efektif atau tidaknya lokasi dari restoran cepat saji KFC Darmo.
Untuk mengetahui faktor-faktor penentuan lokasi restoran cepat saji KFC Darmo dalam konteks ketepatan dan keefektifan dari perspektif konsumen, dalam makalan ini akan menggunakan skala likert yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau kelompok tentang pemilihan lokasi restoran cepat saji KFC Darmo. ANALISA LOKASI DAN KERUANGAN
2,59 km
KFC Basuki Rahmat (B) KFC Darmo (A) KFC Ahmad Yani (C)
0,17 km
Spatial
competition
Competitive
Pertanyaan yang dibuat dalam kuisioner adalah pernyataan yang mewakili setiap faktor yang kemudian di breakdown menjadi beberapa variabel-variabel penentu lokasi perdagangan dan jasa menurut para ahli. Kemudian setiap jawaban dihubungkan dengan bentuk pernyataan atau dukungan sikap yang diungkapkan dengan berisi lima tingkat jawaban yang menggambarkan apakah faktor-faktor penentuan lokasi perdagangan dan jasa telah mempengaruhi penentuan lokasi restoran cepat saji KFC Darmo dari perspektif konsumen sebagai salah satu Stakeholder kunci. Untuk tingkatan jawaban dalam analisis dengan skala likert adalah sebegai berikut:
5 : Sangat Berpengaruh
4 : Berpengaruh
3 : Ragu-Ragu
2 : Tidak Berpengaruh
1 : Sangat Tidak Berpengaruh
Faktor-faktor yang ditanyakan kepada konsumen seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya di metode penelitian yaitu terdiri dari 5 Faktor yang meliputi aksesibilitas, Demografi, Lahan, Persangan dan Fasilitas Penunjang yang masing masing faktornya nanti akan di pecah menjadi beberapa variabel sehingga total dari variabel penentu lokasi restoran cepat saji KFC Darmo adalah 11 variabel. Variabel-variabel yang didapatkan tersebut didapatkan dari pendapat para ahli mengenai faktor-faktor penentu lokasi perdagangan dan jasa.
Tabel KMO and Bartlett’s Test menunjukkan bahwa KMO > 0,05 atau Sig < 0,05, sehingga bisa terus lanjut ke langkah selanjutnya yaitu lihat tabel anti-image Matriks.
Syarat agar variabel tidak tereduksi dan layak untuk melanjutkan ke langkah selajutnya adalah Nilai MSA > 0,5. Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa terdapat 3 variabel yang menunjukka nilai MSA kurang dari 0,5 yaitu X1, X3 dan X4. Sehingga variabel yang bisa melanjutkan untuk pembobotan hanyalah 8 variabel yaitu X2,X5,X6,X7,X8,X9,X10 dan X11, selain itu variabel tersebut juga berpengaruh terhadap pemilihan lokasi restoran cepat saji KFC Darmo menurut perspektif konsumen.
4.6.3 Pembobotan
Setelah mengetahui variabel apa saja yang berpengaruh terhadap pemilihan lokasi restoran cepat saji KFC Darmo menurut perspektif konsumen, langkah selanjutnya adalah menghitung pembobotan pada variabel yang berpengaruh. Pembobotan didapatkan dari data 35 responden yang kemudian diolah menggunakan Excel. Rumus yang digunakan dalam excel untuk mengetahui masing masing bobot pada variabel adalah sebagai berikut:
5
A
i :Jumlah variabel ke-i
n
: Jumlah variabel
Setelah jawaban 35 responden diolah didapatkan bobot pada masing maisng varaibel faktor penentu lokasi restoran cepat saji KFC Darmo. Hasil inilah yang dapat mengukur faktor apakah yang menurut konsumen menunjukan ketepatan dalam pemilihan lokasi restoran cepat saji KFC Darmo yang dilakukan oleh pengelola. Hasil pembobotan masing masing variabel dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
No. Variabel Simbol Bobot Peringkat
1. Kemudahan Mencapai Lokasi X2 0,100066 1
2. Rata-Rata Pendapatan X5 0,100066 6
3. Luas Lahan Perdagangan X6 0,092777 4
4. Tersedianya Lahan Parkir X7 0,096753 3
5. Promo yang Diberikan X8 0,084162 7
6. Harga Produk Lebih Murah X9 0,090789 5
7. Fasilitas Transportasi X10 0,078197 8
8. Fasilitas Perdagangan X11 0,098741 2
Dari data diatas dapat diketahui bahwa variabel yang mempunyai bobot terbesar adalah variabel kemudahan mencapai lokasi (X2) yaitu dengan bobot 0,100066, hal tersebut menunjukkan bahwa variabel X2 paling berpengaruh dalam penentuan lokasi restoran cepat saji KFC Darmo. Dilanjutkan dengan variabel fasilitas perdagangan (X11) yang dimaksud kelengkapan fasilitas perdagangan yang dapat mempermudah kegiatan yang ada seperti tersedianya Wi-Fi, Layanan Drive-Thru dan layanan 24 jam, variabel X11 ini memiliki bobot sebesar 0,098741. Sedangkan variabel yang berpengaruh paling rendah terdapat pada variabel fasilitas tranportasi (X10) yang memiliki bobot sebesar 0,078197.
5.1.1 Analisa Kesesuaian Teori
Kemudahan Mencapai Lokasi
Kemudahan mencapai lokasi yang dimaksud pada variabel ini adalah kemudahan mencapai lokasi restoran cepat saji KFC Darmo dengan menggunakan moda transportasi apapun seperti transportasi pribadi, transportasi umum maupun berjalan kaki. Pada konsisi eksisting di lapangan terdapat bermacam-macam pilihan moda transportasi umum yang dapat digunakan mulai dari angkot, bus kota maupun taksi yang melewati lokasi restoran cepat saji KFC Darmo. Jika konsumen mau berjalan kaki, lokasi di sekitar KFC Darmo menyediakan pedestrian ways yang cukup aman untuk digunakan menjangkau lokasi KFC Darmo. Variabel kemudahan mencapai lokasi terdapat pada peringkat tertinggi yaitu nomer satu dan memiliki bobot terbesar. Hal ini menunjukkan bahwa variabel kemudahalan mencapai lokasi sangat berpengaruh besar dalam pertimbangan penentuan lokasi restoran cepat saji KFC Darmo.
Fasilitas Perdagangan
Pada variabel fasilitas perdagangan yang dimaksud disini adalah kelengkapan fasilitas perdagangan yang dapat mempermudah kegiatan yang terjadi dalam restoran cepat saji Kfc Darmo. Contoh fasilitas perdagangan adalah tersedianya Wi-Fi, tersedianya Drive-Thru dan Layanan buka 24 jam. Pada kondisi eksisting di lapangan KFC Darmo mempunyai layanan Wi-Fi, Drive-Thru, layanan bukan 24 jam, KFC Coffe dan tempat bermain untuk anak anak. Fasilitas tersebut sudah cukup lengkap untuk KFC yang terdapat di Kota Surabaya.Variabel Fasilitas Perdagangan terdapat pada peringkat kedua. Hal tersebut menunjukkan bahwa variabel fasilitas perdagangan berpengaruh besar dalam pertimbangan penentuan lokasi retoran cepat saji KFC Darmo.
Tersedianya Tempat Bermain Anak-Anak Sumber : Googel Street View
Pada variabel lahan parkir yang dimaksud adalah tersedianya lahan parkir yang membuat konsumen bebas memilih moda transportasi apa yang digunakan untuk menuju lokasi KFC Darmo. Pada kondisi eksisting di lapangan KFC Darmo cukup mempunyai lahan parkir yang memadai sehingga tidak membuat konsumen yang datang bingung untuk mencari parkir. Variabel tersedia lahan parkir berada pada peringkat ketiga. Hal tersebut menunjukkan bahwa variabel tersedianya lahan parkir berpengaruh terhadap penentuan lokasi restoran cepat saji KFC Darmo.
Tampak depan KFC Darmo Sumber: Google Street View
Luas Lahan Perdagangan
Pada variabel luas lahan perdagangan yang dimaksud adalah luas lahan restoran cepat saji KFC Darmo yang dipertimbangkan oleh konsumen dari segi kenyamanan. Pada kondisi eksisting di lapangan KFC Darmo mempunyai luas lahan yang cukup luas yaitu ±587,15m2, meja dan kursi yang disediakan cukup banyak sehiingga saat kondisi ramai pengujung tidak membuat konsumen duduk berdempetan. Variabel luas lahan perdagangan terdapat pada posisi ke empat. Hal tersebut menunjukkan bahwa variabel luas lahan perdagangan berpengaruh dalam penentuan lokasi restoran cepat saji KFC Darmo.
Harga Produk Lebih Murah
Rata-Rata Pendapatan
Pada variabel rata-rata pendapatan yang dimasuk adalah rata-rata pendapatan masyarakat yang dapat mempengaruhi kebutuhan masyarakat dalam mengkonsumsi. Kondisi eksisting di lapangan bahwa rumah rumah yag terdapat di sekitar KFC Darmo adalah rumah kelas menengah atas mengingat kawasan darmo adalah kawasan budidaya, sehingga bisa dikatakan pendapatan relatif tinggi. Variabel rata-rata pendapat terdapat di posisi 3 paling rendah sehingga variabel ini berpengaruh kecil dalam penentuan lokasi restoran cepat saji KFC Darmo.
Promo yang Diberikan
Pada variabel promo yang diberikan hampir sama dengan variabel harga produk yang bermaksud strategi marketing yang digunakan oleh pihak pengusaha, promo yang dimaksud adalah iklan produk, hadiah dan potongan harga yang ditawarkan kepada konsumen. Pada konsisi eksisting di lapangan terdapat banyak iklan produk baliho di pinggir jalan dan brosur yang terdapat informasi mengenai potongan harga ataupun hadiah. Variabel promo yang diberikan terdapat pada posisi kedua terendah, hal tersebut menunjukkan bahwa variabel ini berpengaruh kecil dalam penentuan lokasi restoran cepat saji KFC Darmo.
Fasilitas Transportasi
BAB V KESIMPULAN
1.4 Kesimpulan
Alat analisa yang digunakan dalam menentukan dan memilih lokasi perdagangan dan jasa restoran cepat saji KFC darmo adalah Gravity Model dan CFA.
Variabel yang berpengaruh dalam penentuan lokasi restoran cepat saji tersebut yakni kemudahan mencapai lokasi, fasilitas perdagangan, tersedianya lahan parkir, luas lahan perdagangan, harga produk, promo yang diberikan, rata – rata pendapaan, serta fasilitas transportasi.
Dalam analisa sudah ditunjukan bahwa dari 11 variabel yang ditentukan untuk dijadikan faktor penentu lokasi restoran cepat saji KFC Darmo namun masih harus tereduksi karena kurang berkorelasi dengan variabel dependent atau variabel yang ditentukan.
1.5 Lesson Learned
Dalam menentukan lokasi yang optimal sebuah retail atau waralaba tidak hanya menggunakan faktor – faktor atau variabel secara spasial, akan tetapi juga memepertimbangkan aspek lainnya seperti harga produk dan strategi marketing.
DAFTAR PUSTAKA
Aulia, Belinda Ulfa, dkk. 2012. Diktat Analisis Lokasi dan Keruangan. Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Healey, Michael.J &. Ilbery,Brian W, 1996, Location & Change, London, Oxford University Press. Jones, Ken and Simmons, Jim, 1993, Location, Location, Location, Analyzing The Retail
3 4 .
Norwe 5 5 5 1 2 4 5 5 4 1 5
3 5 .
Agam 4 4 3 5 4 2 2 1 3 4 4
Tabel Jawaban Responden Sumber: Hasil Analisa, 2016
Nama
Responden
X2
X5
X6
X7
X8
X9
X10
X11
Elfarabie 4 5 5 5 4 3 2 5
Nur Jasilah 4 5 4 4 4 4 3 5
Dini 4 4 4 4 4 4 1 4
19 4 2 4 5 3 3 3 5
Siti Fatimah 5 5 5 4 5 5 2 5
Nimas Asri 4 3 4 4 4 5 2 3
Faricha Astri
A. 5 4 3 5 3 4 4 5
Lala 5 4 4 5 2 4 4 5
Desy Swi
Saputri 3 3 3 4 5 5 3 5
Rizky Nanda
Noverianto 5 4 5 5 5 5 4 5
Irmaa 5 2 5 4 3 2 4 4
Naufal
Abiyyudien 4 5 4 5 3 4 5 5
Maghfir 3 4 4 4 2 3 3 4
Rizca Swasono
Putri 5 4 5 4 4 5 3 5
Alysha 4 3 4 4 2 3 4 4
Abidin 5 1 5 1 5 5 1 1
Marsa Abrar F. 4 3 3 3 3 4 4 4
Ghita 4 3 3 5 3 3 4 4
Aya 5 4 4 4 4 4 4 3
Tasha 4 4 4 4 4 4 4 5
Amy 4 3 4 4 3 3 4 4
Ghifa Fatikha 5 5 5 5 3 5 5 5
Aldi 5 5 5 5 4 5 5 5
Kemalasari 4 3 5 5 5 4 3 4
Safitri Virta 3 3 2 2 2 2 3 3
Norita 4 4 4 4 3 4 4 4
5 5 5 5 5 5 5 5
Haka Adila 4 4 4 5 2 4 1 4
Ana 5 5 4 5 4 4 2 4
Addin 4 3 3 2 4 2 4 4
Bayu
Munggaran 5 4 3 4 5 4 3 3
Norwe 5 2 4 5 5 4 1 5
Agam 4 4 2 2 1 3 4 4
TOTAL 151 130 140 146 127 137 118 149 PEMBOBOTAN 0,100066 0,08615 0,092777 0,096753 0,084162 0,090789 0,078197 0,098741
PERINGKAT 1 6 4 3 7 5 8 2