EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE ICE BREAKIN (1)

29 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE ICE BREAKING DALAM

MELATIH KONSENTRASI SISWA TERHADAP PEMBELAJARAN

FISIKA

Sri Maryani

Jurusan Pendidikan Fisika FKIP Universitas Mataram Email : Maryanisri14@gmail.com

Abstrak

Motivasi dalam belajar dapat ditentukan oleh berbagai aspek pembelajaran. Keberhasilan dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas mengindikasikan tercapainya suatu tujuan suatu pembelajaran. Penanam rasa suka, senang, tertarik, dan butuh kepada peserta didik merupakan salah satu kiat yang efektif untuk keberhasilan belajar peserta didik. Belajar tidak hanya dibatasi pada tempat, kondisi, dan media ajar yang berupa buku, atau informasi secara langsung oleh guru dan waktu tertentu saja. Peserta didik akan termotivasi untuk mengikuti pembelajaran dengan baik jika guru mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi siswa. Keaktifan belajar merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran untuk mempermudah siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan guru sehingga pada akhirnya prestasi belajar siswa pun dapat ditingkatkan. Untuk meningkatkan minat dan aktivitas belajar dalam pembelajaran fisika diperlukan suasana yang menyenangkan. Hal itu dapat dilakukan melalui kombinasi permainan dalam hal ini penggunaan ice breaking dalam proses pembelajaran fisika. Pembelajaran fisika yang cenderung membosankan dan berpatokan pada penggunaan beberapa perumusan sehingga membuat peserta didik merasa sukar untuk memahami penyampaian informasi belajar yang diberikan pada saat proses pembelajaran. Ice breaking berfungsi mengembalikan konsentrasi peserta didik yang dapat dilakukan di awal pembelajaran, pada saat kegiatan inti, maupun akhir. Diharapkan penggunaan ice breaking dapat mengoptimalkan konsentrasi peserta didik sehingga meningkatkan daya serap materi ajar fisika. Ice breaking digunakan sebagai opsi untuk menunjang peningkatan motivasi belajar siswa terhadap pembelajaran fisika.

Kata kunci: Motivasi belajar, ice breaking, pengembalian konsentrasi

PENDAHULUAN

Optimalisasi konsentrasi siswa dalam proses pembelajaran merupakan sesuatu yang harus dipertimbangkan oleh para pendidik. Konsentrasi ini memicu kemampuan daya serap materi yang diterima oleh peserta didik pada saat proses belajar mengajar di dalam kelas tengah berlangsung. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan atau mengembalikan konsentrasi siswa selama

(2)

kreatif, dan dinamis. Ice breaking dalam konteks pembelajaran di kelas memang digunakan untuk mencairkan suasana, menjaga konsentrasi belajar, membina hubungan baik antar warga kelas, pun dapat digunakan untuk menajamkan ingatan dalam pelajaran. Penggunaan ice breaking bagi pendidik berguna mengangkat citra positif pembelajaran, sedangkan bagi siswa pembelajaran menjadi tidak menjemukan tetapi menyenangkan. Dengan ice breaking seorang guru juga dapat mengakomodir modalitas belajar siswa, baik gaya belajar V-A-K, multiple intelligences siswa, atau mengaktifkan IQ, EQ, dan SQ siswa. Menurut Dryden & Vos (2000) belajar akan efektif bila proses pembelajaran dilaksanakan dengan suasana yang menyenangkan (joyfull learning). Ada beberapa hal yang mendukung efektivitas hasil belajar siswa diantaranya siswa belajar dalam kondisi senang, pendidik menggunakan berbagai variasi metode dan teknik, menggunakan media belajar menarik dan menantang, penyesuaian dengan konteks, pola induktif, dan siswa sebagai subjek dalam pembelajaran. Ice breaking adalah “peralihan situasi dari yang membosankan, membuat mengantuk, menjenuhkan, dan tegang menjadi rileks, bersemangat, tidak membuat mengantuk, serta ada perhatian dan ada rasa senang untuk mendengarkan atau melihat orang yang berbicara di depan kelas atau ruangan pertemuan. Ice breaking dapat diartikan sebagai pemecah situasi kebekuan fikiran atau fisik siswa. Ice breaking juga dimaksudkan untuk membangun suasana belajar yangdinamis, penuh semangat, dan antusiasme. Ice breaking berguna untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan (fun) serta serius tapi santai. KAJIAN TEORI

Pembelajaran Fisika

Fisika merupakan mata pelajaran yang terkesan kaku dan membosankan bagi siswa. Hal ini mengakibatkan rendahnya kualitas proses dan prestasi belajar. Fakta menunjukkan bahwa dalam pembelajaran fisika motivasi belajar siswa cenderung rendah dan siswa mengalami kesulitan belajar pada mata pelajaran fisika. Hal ini didasari oleh anggapan atau doktrin yang telah melekat pada siswa yang menyatakan bahwa fisika merupakan mata pelajaran yang rumit dan membutuhkan ekstra kemampuan untuk menghapal ragam jenis persamaan-persamaan yang ada. Oleh karena itu perlu adanya stimulus berupa permainan dalam pembelajaran fisika guna meningkatkan motivasi belajar siswa.

Pembelajaran fisika, baik di sekolah maupun di perguruan tinggi tekanan intinya pada upaya memahami konsep fisika melalui proses internalisasi dalam diri peserta didik dan selanjutnya penguasaan konsep tersebut. Beberapa pendidik telah melakukan cara agar siswa berusaha lebih untuk memahami konsep dengan mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari dibandingkan dengan menghapal persamaan.

Pengertian Ice Breaking

(3)

Karakteristik teknik Ice breaker adalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Salah satu caranya dengan meramu Ice breaker yang disisipkan dalam proses pembelajaran, yang dapat dilakukan dengan menyajikan lelucon, variasi tepuk tangan, yel-yel, bernyanyi, permainan (games) dan sebagainya pada saat membuka pelajaran, jeda pada saat pertengahan penyampaian materi pembelajaran dan pada kegiatan menutup pembelajaran.

Ice breaker jenis games dapat membuat konsentrasi siswa terfokus di dalam kelas sehingga materi pelajaran akan lebih mudah dicerna karena Ice breaker jenis games merupakan kegiatan yang paling disukai oleh peserta didik

Setiawan dalam buku kecilnya Ice Breakers (2009) menyebut ice breaking sebagai “energizer” atau “refocus”, sebagai teknik yang digunakan dalam suatu forum untuk memecahkan kebekuan dan kejenuhan yang terjadi dalam forum tersebut. Alasan penggunaannya, audien/siswa perlu dilibatkan dalam forum sehingga muncul sense of belonging dan kebersamaan, adanya kejenuhan bila suasana belajar dalam waktu yang relatif lama, keterbatasan konsentrasi tiap orang dalam menerima informasi, dan beragamnya kondisi (modalitas belajar) para siswa sebelum proses pembelajaran.

Menurut Soenarno (dalam Caswita 2005: 1) Ice breaker merupakan peralihan situasi dari yang membosankan, membuat ngantuk, menjenuhkan, dan tegang menjadi rileks, bersemangat, tidak membuat mengantuk, serta ada perhatian dan ada rasa senang untuk mendengarkan atau melihat orang lain yang berbicara di depan kelas atau ruangan pertemuan.

Abduh (2011:7) mengungkapkan bahwa menggunakan ice breaking dalam pelajaran terkadang kita melihat timbulnya suasana yang kurang mendukung hingga menyebabkan tidak tercapainya tujuan dari pembelajaran. Suasana yang dimaksud adalah kaku, dingin, atau beku sehingga pembelajaran saat itu menjadi kurang nyaman.

Berdasarkan uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa permainan penyegar (ice breaking) adalah salah satu cara menarik yang dapat dilakukan untuk mengembalikan konsentrasi belajar peserta didik dan meningkatkkan daya serap materi yang diberikan pada saat berlangsungnya proses pembelajaran.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode kajian pustaka. Ide-ide penulisan diperoleh dari mengkaji beberapa artikel yang berkaitan (relevan) dengan penggunaan ice breaking sebagai salah satu cara untuk meningkatkan konsentrasi siswa. Menurut Pohan dalam Prastowo (2012: 81) kegiatan penyusunan kajian pustaka betujuan mengumpulkan data dan infomasi ilmiah, berupa teori-teori, metode, atau pendekatan yanng pernah berkembang dan telah didokumentasikan dalam bentuk buku, jurnal, naskah, catatan, rekaman sejarah, dokumen-dokumen, dan lain-lain yang terdapat di perpustakaan.

Penyajian kajian pustaka dibedakan menjadi dua, yaitu :

a. Penyajian kajian pustaka secara deskriptif

(4)

perbedaannya dengan pertimbangan bahwa analisis akan diuraikan pada tahap berikutnya.

b. Penyajian kajian pustaka secara deskriptif dengan analisis

Penyajian kajian pustaka secara deskriptif dengan analisis selain berbentuk deskripsi juga disertai penjelasan tentang perbedaan dan persamaannya. Dengan demikian, kajian pustaka menunjukkan di mana posisi penulis dalam kaitannya dengan penelitian yang sudah pernah dilakukan, apakah menolak, mengkritik, menerima, dan atau yang lainnya (Ratna dalam Prastowo, 2012: 84).

HASIL KAJIAN

Penerapan ice breaking yang bermula pada penyajian pembelajaran yang menyenangkan mengaitkannya dengan materi, membuat siswa belajar lebih baik. Dimana saat ice breaking diberikan siswa antusias dalam mengikutinya.

Ice breaking yang yang dikaitkan dengan materi memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkonsentrasi, mengasah daya ingat dan daya tangkap serta membangun kekompakan dalam kelompok.

(sumber : jurnal penelitian)

Gambar 1. Peningkatan motivasi belajar siswa siklus I ke siklus II

Berdasarkan gambar 1, penilaian terhadap pencapaian motivasi belajar siswa

berdasarkan pada akumulasi tiap indikator motivasi belajar dari siklus I sampai siklus II telah mencapai target yang diharapkan. Penerapan ice breaking yang bermula pada penyajian pembelajaran yang menyenangkan mengaitkannya dengan materi, membuat siswa belajar lebih baik. Dimana saat ice breaking diberikan siswa antusias dalam mengikutinya.

Suwarjo dan Imania (2010:127) ice breaking bertujuan untuk:

1. Menciptakan suasana santai pada diri peserta didik

2. Agar para peserta terhibur, senang dan bersantai

3. Membangkitkan suasana belajar yang bergairah dan bersemangat

4. Menumbuhkan motivasi belajar.

Sesuai dengan teori tersebut, fakta yang ditemukan dikelas saat guru memberikan ice breaking baik ketika diawal pembelajaran dan dipertengahan pembelajaran siswa mengikutinya dengan bersemangat. Hal ini menunjukkan adanya motivasi belajar siswa terhadap pelajaran fisika yang disampaikan oleh guru dengan menerapakan ice breaking. Dengan penggunaan ice breaking tersebut menimbulkan motivasi belajar, sehingga siswa sangat bersemangat, bergairah dan senang saat mengikuti proses pembelajaran.

Dalam proses pembelajaran di kelas, ice breaking dibutuhkan oleh guru dan siswa. Tujuan dari penggunaan ice breaking antara lain:

1. Mengarahkan otak agar berada pada kondisi gelombang alfa (8 s.d 12 Hz),

(5)

3. Menjaga stabilitas kondisi fisik maupun psikis audien/siswa agar senantiasa fresh dan nyaman dalam menyerap informasi.

Adapun manfaat dari penggunaan ice breaking dalam pembelajaran di kelas adalah:

1. Terjadinya proses penyampaian dan penyerapan informasi secara optimal dan maksimal,

2. Tumbuhnya motivasi guru dan siswa dalam proses pembelajaran,

3. Menguatkan hubungan antara guru dengan siswa.

PEMBAHASAN

Penggunaan ice breaking dalam optimalisai pencapaian konsentrasi siswa dalam pelajaran fisika dapat digunakan dengan menyajikan kata-kata yang berkaita dengan persamaan yang ada dalam fisika. Seperti halnya penggunaan ice breaking untuk memudahkan menyerap atau mengingat perumusan mengenai listrik dalam fisika.

ice breaking diawal pembelajaran memberikan semangat kepada siswa sebelum pembelajaran fisika dilaksanakan. Untuk membangkitkan motivasi belajar diawal pembelajaran, guru memberikan ice breaking diawal. Dengan guru memberikan ice breaking sebelum memulai kegiatan pembelajaran, guru memberiakan kesan yang menarik, menyenangkan, dan menumbuhkan perasaan nyaman pada awal pembelajaran. Ice breaking dipertengahan pembelajaran tujuannya untuk mengembalikan lagi konsentrasi siswa yang sudah mulai menurun. Hal ini dilakukan karena siswa pada pertengahan pembelajaran sudah terlihat malas, mengantuk dan bosan.

Waktu Penggunaan

Ice breaking diterapkan pada waktu pembelajaran berlangsung melewati batas menit fokus siswa, dapat pula diberikan ketika guru melihat ada kejenuhan pada diri siswa, atau diberikan saat materi pembelajaran memiliki keterkaitan dengan teknik dan materi Ice breaking yang diberikan.

Ragam Teknik Ice Breaking

Menyanyi

Menyanyi, nasyid, atau langgam merupakan kegiatan yang disukai banyak orang mulai anak-anak hingga dewasa. Menyanyi membuat suasana kelas menjadi ceria kembali. Guru sedikit berkreasi, mengubah (bukan merusak) syair lagu yang sedang “in” atau familiar tanpa mengganti nada, dan tentunya dikemas secara mendidik. Waktu menyanyi diperlukan 3 sampai 5 menit.

Permainan

Game atau permainan dalam ice breaking adalah kegiatan simulasi yang melibatkan audien/siswa mencerminkan suatu hikmah atau teladan tertentu. Waktu yang diperlukan dalam permainan antara 1 sampai 5 menit.

Teka-teki atau tebakan

Teka-teki, tebakan, atau kuis adalah kegiatan merangsang rasa ingin tahu siswa serta membangun krativitas siswa dalam membuat jawaban permasalahan dari sisi yang unik. Kegiatan ini melibatkan kognisi lebih kuat karena dituntut menjawab sedangkan waktunya cukup 1 sampai 2 menit.

(6)

Menyajikan kata-kata atau kalimat yang inspiratif, positif, dan memotivasi pembelajaran yang berisi hikmah dan teladan. Waktu yang diperlukan antara 2 – 4 menit.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengkajian pustaka tentang pengaruh ice breaking dalam pembelajaran fisika terhadap motivasi belajar peserta didik dapat disimpulkan bahwa implementasi ice breaking dalam pembelajaran fisika baik dan layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran. Hal ini terlihat dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa orang mengenai keefektifan ice breaking dalam meningkatkan konsentrasi siswa (peserta didik). Oleh karena itu, sebagai upaya meningkatkan motivasi belajar fisika bagi peserta didik, guru memiliki opsi menggunakan permainan dalam pembelajaran. permainan penyegar (ice breaking) dapat memotivasi siswa dalam proses pembelajaran. Suasana pembelajaran dikelas menjadi lebih menyenangkan, siswa sangat termotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran. Siswa yang awalnya menganggap pelajaran fisika menjenuhkan, membosankan dan sulit, sekarang berubah pikiran siswa menjadi senang belajar fisika dan tidak menganggap lagi bahwa pelajaran fisika sulit.

DAFTAR PUSTAKA

Aththibby, Arif Rahman., dkk. 2015. Pengaruh Permainan dalam Pembelajaran Fisika Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik.

Haryati, Noer. 2016. Pengaruh Ice Breaking Terhadap Motivasi Diri Siswa Dalam Mengikuti Pelajaran Matematika Kelas VII SMPN 17 Surakarta Tahun Pelajaran 2015/2016.

Luthfi, Moh. Fatih. 2014. Pembelajaran Menggairahkan Dengan Ice Breaking.

Figur

Gambar  1.  Peningkatan  motivasi  belajarsiswa siklus I ke siklus II
Gambar 1 Peningkatan motivasi belajarsiswa siklus I ke siklus II. View in document p.4

Referensi

Memperbarui...