• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan antara Tingkat Stres dengan sik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Hubungan antara Tingkat Stres dengan sik"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Masa remaja atau masa adolescence adalah suatu fase tumbuh kembang yang

dinamis dalam kehidupan seorang individu. Masa ini merupakan periode transisi dari

masa kanak-kanak ke masa dewasa yang ditandai dengan percepatan perkembangan

fisik, psikologis, emosional, dan sosial (Ali & Asrori, 2010; Bobak, Lowdermilk, &

Jensen, 2004; Dhamayanti, 2009; Proverawati & Misaroh, 2009). Pertumbuhan dan

perkembangan manusia menjadi dewasa mengalami suatu tahap yang disebut masa

pubertas. Remaja perempuan mengalami masa pubertas lebih cepat dibandingkan

laki-laki. Pubertas pada remaja perempuan juga ditandai dengan Menarche yaitu

mendapatkan menstruasi (haid) pertama (Mikrajuddin, 2006).

Menstruasi adalah pengeluaran darah, mukus, dan debris sel dari mukosa uterus

disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium secara periodik dan siklik, yang dimulai

sekitar 14 hari setelah ovulasi (Bobak, Lowdermilk, & Jensen, 2004; Cunningham, Gant,

Leveno, Gilstrap, Hauth, & Wenstrom, 2005;nProverawati & Misaroh, 2009). Siklus

menstruasi merupakan waktu sejak hari pertama menstruasi sampai datangnya

menstruasi periode berikutnya sedangkan panjang siklus menstruasi adalah jarak antara

tanggal mulainya menstruasi yang lalu dan mulainya menstruasi berikutnya. Siklus

menstruasi pada wanita normalnya berkisar antara 21-35 hari dan hanya 10-15% yang

memiliki siklus menstruasi 28 hari dengan lama menstruasi 3-5 hari, ada yang 7-8 hari

(2)

Gangguan pada siklus menstruasi dipengaruhi oleh gangguan pada fungsi hormon,

kelainan sistemik, stres, kelenjar gondok, dan hormon prolaktin yang berlebihan.

Gangguan pada siklus menstruasi terdiri dari tiga, yaitu: siklus menstruasi pendek yang

disebut juga dengan Polimenore, siklus menstruasi panjang atau oligomenore, dan

amenore jika menstruasi tidak datang dalam 3 bulan berturut-turut (Proverawati & Misaroh, 2009; Wiknjosastro, 2005; Octaria, 2009 dikutip dari Isnaeni, 2010;)

Stres diketahui sebagai faktor penyebab (etiologi) terjadinya gangguan siklus

menstruasi. Kebanyakan wanita mengalami sejumlah perubahan dalam siklus menstruasi

selama reproduksi. Dalam pengaruhnya terhadap siklus menstruasi, stres melibatkan

sistem hormonal sebagai sistem yang berperan besar pada reproduksi wanita

(Perdanakusuma, 2010).

Dari data beberapa hasil studi menyatakan bahwa prevalensi pada populasi wanita

usia 18-55 tahun mengalami gangguan dengan menstruasinya dan juga dari hasil

penelitian pelajar lebih sering menunjukkan variasi menstruasi yang bermasalah, seperti

menstruasi tidak teratur. Siklus menstruasi yang abnormal berhubungan dengan stres

psikologi (Nepomnaschy, 2007), dan dari hasil penelitian beberapa studi juga

menjelaskan bahwa sewaktu stres terjadi aktivasi aksis hipotalamus-pituitari-adrenal

bersama-sama dengan sistem saraf autonom yang menyebabkan beberapa perubahan,

diantaranya pada sistem reproduksi yakni siklus menstruasi yang abnormal (Nevid,2005;

Pinel, 2009; Carlson, 2005; Sriarti, 2008). Dari data beberapa hasil studi dikatakan

bahwa penelitian di Jepang, terdapat 63% siswi mengalami menstruasi tidak teratur

(Yamamoto dkk, 2009). Pada remaja suka mengeluh tentang sekolah, misalkan kegiatan

(3)

pendidikan jenjang yang lebih tinggi untuk meraihnya dan lain – lainnya dapat

berpengaruh terhadap siklus menstruasi. Stres dapat menyebabkan terjadinya penekanan

pada hormon dan dapat menyebabkan kegagalan ovulasi pada wanita sehingga

terjadinya menstruasi (Desti,2010). Faktor yang mempengaruhi ketidakteraturan siklus

menstruasi dapat di pengaruhi oleh gaya hidup, gizi, usia, dan factor stress.

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan timbul pemikiran untuk mengetahui

lebih lanjut dan peniliti tertarik untuk membuktikan kebenaran hasil

penelitian-penelitian tersebut di kalangan siswi kelas XII di SMAN . Sebelumnya sudah ada

beberapa penelitian serupa, tetapi perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya

adalah subyek penelitian dan waktu penelitian.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian masalah pada latar belakang diatas, dapat dirumuskan masalah

penelitian yaitu apakah terdapat hubungan antara tingkat stres dengan siklus menstruasi

pada siswi kelas XII di SMAN ?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan tingkat stres

terhadap siklus menstruasi pada siswi kelas XII di SMAN

2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penelitian ini adalah :

a. Mengetahui gambaran tingkat stres pada siswi kelas XII IPA di SMA Negeri

(4)

c. Mengetahui gambaran siklus menstruasi pada siswi kelas XII IPA di SMA Negeri

d. Mengetahui gambaran siklus menstruasi pada siswi kelas XII IPS di SMA Negerri

e. Mengetahui hubungan tingkat stres terhadap siklus menstruasi pada siswi kelas

XII IPA di SMA Negeri

f. Mengetahui hubungan tingkat stres terhadap siklus menstruasi pada siswi kelas

XII di SMA Negeri

g. Mengetahui hubungan tingkat stres terhadap siklus menstruasi pada siswi kelas

XII di SMA Negeri

h. Mengetahui hubungan jurusan kelas terhadap tingkat stres pada siswi kelas XII di

SMA Negeri

D. Manfaat

1. Subjek Penelitian

Mengetahui hubungan tingkat stres terhadap siklus menstruasi

2. Diri sendiri

Untuk menambah wawasan tentang ilmu kedokteran khususnya tentang hubungan

tingkat stres terhadap siklus menstruasi serta untuk mengaplikasikan ilmu

pengetahuan yang telah didapat khususnya ilmu CRP (Commmunity Research

Program)

3. Tempat dilakukan penelitian

Sebagai data yang menggambarkan angka tingkat stres pada remaja kelas XII

(5)

dan manajemen stres agar masalah tersebut tidak sampai menyebabkan gangguan

yang lebih lanjut.

4. Pemerintah dan Tenaga Kesehatan

Sebagai sumber informasi bagi pemerintah dan praktisi kesehatan agar lebih

memperhatikan masalah kesehatan psikologis berupa tingkat stres karena

mempunyai dampak terhadap gangguan siklus menstruasi.

5. Masyarakat Umum

Sebagai sumber informasi dan ilmu pengetahuan sehingga diharapkan

masyarakat dapat mengatasi, mengelola, mengendalikan stres karena dapat

berdampak pada siklus menstruasi.

6. Bagi Responden

Sebagai bahan informasi bagi siswi SMAN untuk memahami tentang

(6)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI A. Tinjauan Pustaka

1. Stress

a. Pengertian

Stres adalah reaksi/respons tubuh terhadap stresor psikososial (tekanan mental/

beban kehidupan). Stres dewasa ini digunakan secara bergantian untuk

menjelaskan berbagai stimulus dengan intensitas berlebihan yang tidak disukai

berupa respons fisiologis, perilaku dan subjektif terhadap stresor, konteks yang

menjembatani pertemuan antara individu dengan stimulus yang membuat stres,

semua sebagai suatu sistem (WHO;2003).

Hawari 2001 dalam Sriati mengatakan bahwa stres menurut Hans Selye

merupakan respon tubuh yang sifatnya nonspesifik terhadap setiap tuntutan beban

atasnya. Stresor psikososial adalah setiap keadaan/peristiwa yang menyebabkan

perubahan dalam kehidupan seseorang, sehingga seseorang itu terpaksa

mengadakan adaptasi/penyesuaian diri untuk menanggulanginya. Namun, tidak

semua orang mampu melakukan adaptasi dan mengatasi stressor tersebut,

sehingga timbulah keluhan-keluhan antara lain stress (Sriati;2008).

b. Sumber Stress (Stresor)

Stresor adalah semua kondisi stimulasi yang berbahaya dan menghasilkan

reaksi stres, misalnya jumlah semua respons fisiologis nonspesifik yang

menyebabkan kerusakan dalam sistem biologis. Stress reaction acute (reaksi stres

(7)

adanya gangguan mental lain yang jelas, terjadi akibat stres fisik dan atau mental

yang sangat berat, biasanya mereda dalam beberapa jam atau hari. Kerentanan dan

kemampuan koping (coping capacity) seseorang memainkan peranan dalam

terjadinya reaksi stres akut dan keparahannya.

Jenis stresor meliputi fisik, psikologis, dan sosial. Stresor fisik berasal dari luar

diri individu, seperti suara, polusi, radiasi, suhu udara, makanan, zat kimia,

trauma, dan latihan fisik yang terpaksa. Pada stresor psikologis tekanan dari

dalam diri individu biasanya yang bersifat negatif yang menimbulkan frustasi,

kecemasan, rasa bersalah, khawatir berlebihan, marah, benci, sedih, cemburu, rasa

kasihan pada diri sendiri, serta rasa rendah diri, sedangkan stresor sosial yaitu

tekanan dari luar disebabkan oleh interaksi individu dengan lingkungannya.

Banyak stresor sosial yang bersifat traumatik yang tak dapat dihindari, seperti

kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, pensiun, perceraian,

masalah keuangan, pindah rumah dan lain-lain.

Papero 1997 dalam Sriati menyatakan ada empat variable psikologik yang

dianggap mempengaruhi mekanisme respons stres:

1) Kontrol: keyakinan bahwa seseorang memiliki kontrol terhadap

stresor yang mengurangi intensitas respons stres.

2) Prediktabilitas: stresor yang dapat diprediksi menimbulkan respons stres yang

tidak begitu berat dibandingkan stresor yang tidak dapat diprediksi.

3) Persepsi: pandangan individu tentang dunia dan persepsi stressor saat ini dapat

(8)

4) Respons koping: ketersediaan dan efektivitas mekanisme mengikat ansietas

dapat menambah atau mengurangi respons stress (Sriati;2008).

c. Tahapan Stres

Hawari 2001 dalam Sriati mengatakan bahwa Dr. Robert J. an Amberg dalam

penelitiannya membagi tahapan-tahapan stres sebagai berikut :

1) Stres Tahap I

Tahapan ini merupakan tahapan stres yang paling ringan dan biasanya

disertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut: 1)Semangat bekerja besar,

berlebihan (over acting) 2)Penglihatan “tajam” tidak sebagaimana biasanya

3)Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya, namun tanpa

disadari cadangan energi semakin menipis.

2) Stres tahap II

Dalam tahapan ini dampak/respon terhadap stresor yang semula

menyenangkan sebagaimana diuraikan pada tahap I di atas mulai menghilang

dan timbul keluhan-keluhan yang disebabkan karena cadangan energi yang

tidak lagi cukup sepanjang hari, karena tidak cukup waktu untuk beristirahat.

Istirahat yang dimaksud antara lain dengan tidur yang cukup, bermanfaat untuk

mengisi atau memulihkan cadangan energi yang mengalami defisit.

Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang yang berada pada stres tahap

II adalah sebagai berikut: 1) Merasa letih sewaktu bangun pagi yang

seharusnya merasa segar 2) Merasa mudah lelah sesudah makan siang 3) Lekas

(9)

nyaman (bowel discomfort) 5) Detakan jantung lebih keras dari biasanya

(berdebardebar) 6) Otot-otot punggung dan tengkuk terasa tegang 7) Tidak

bisa santai.

3) Stres tahap III

Apabila seseorang tetap memaksakan diri dalam pekerjaannya tanpa

menghiraukan keluhan-keluhan pada stress tahap II, maka akan menunjukkan

keluhan-keluhan yang semakin nyata dan mengganggu, yaitu: 1) Gangguan

lambung dan usus semakin nyata; misalnya keluhan maag, buang air besar

tidak teratur (diare) 2) Ketegangan otot-otot semakin terasa 3) Perasaan

ketidaktenangan dan ketegangan emosional semakin meningkat 4) Gangguan

pola tidur (insomnia), misalnya sukar untuk mulai masuk tidur (early

insomnia) atau terbangun tengah malam dan sukar kembali tidur (middle

insomnia) atau bangun terlalu pagi atau dini hari dan tidak dapat kembali tidur

(late insomnia) 5) Koordinasi tubuh terganggu (badan terasa akan jatuh dan

serasa mau pingsan). Pada tahapan ini seseorang sudah harus berkonsultasi

pada dokter untuk memperoleh terapi, atau bisa juga beban stres hendaknya

dikurangi dan tubuh memperoleh kesempatan untuk beristirahat guna

menambah suplai energi yang mengalami defisit.

4) Stres Tahap IV

Gejala stres tahap IV, akan muncul: 1) Untuk bertahan sepanjang hari saja

sudah terasa amat sulit 2) Aktivitas pekerjaan yang semula menyenangkan dan

mudah diselesaikan menjadi membosankan dan terasa lebih sulit 3) Yang

(10)

merespons secara memadai (adequate) 4) Ketidakmampuan untuk

melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari 5) Gangguan pola tidur disertai

dengan mimpi-mimpi yang menegangkan. Seringkali menolak ajakan

(negativism) karena tiada semangat dan kegairahan 6) Daya konsentrasi daya

ingat menurun 7) Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak dapat

dijelaskan apa penyebabnya.

5) Stres tahap V

Bila keadaan berlanjut, maka seseorang itu akan jatuh dalam stres tahap V,

yang ditandai dengan hal-hal sebagai berikut: 1) Kelelahan fisik dan mental

yang semakin mendalam (physical dan psychological exhaustion) 2)

Ketidakmampuan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang ringan dan

sederhana 3) Gangguan sistem pencernaan semakin berat (gastrointestinal

disorder) 4) Timbul perasaan ketakutan, kecemasan yang semakin meningkat,

mudah bingung dan panik.

6) Stres Tahap VI

Tahapan ini merupakan tahapan klimaks, seseorang mengalami serangan

panik (panic attack) dan perasaan takut mati. Tidak jarang orang yang

mengalami stres tahap VI ini berulang dibawa ke Unit Gawat Darurat bahkan

ICCU, meskipun pada akhirnya dipulangkan karena tidak ditemukan kelainan

fisik organ tubuh. Gambaran stres tahap VI ini adalah sebagai berikut: 1)

Debaran jantung teramat keras 2) Susah bernapas (sesak dan megap-megap) 3)

Sekujur badan terasa gemetar, dingin dan keringat bercucuran 4) Ketiadaan

(11)

maka keluhan atau gejala sebagaimana digambarkan di atas lebih didominasi

oleh keluhan-keluhan fisik yang disebabkan oleh gangguan faal (fungsional)

organ tubuh, sebagai akibat stresor psikososial yang melebihi kemampuan

seseorang untuk mengatasinya (Sriati;2008).

d. Respon Terhadap Stresor

1) Respon Fisiologis :

Situasi stres mengaktivasi hipotalamus yang selanjutnya mengendalikan

dua sistem neuroendokrin, yaitu sistem simpatis dan sistem korteks adrenal.

Sistem saraf simpatik berespons terhadap impuls saraf dari hipotalamus yaitu

mengaktivasi berbagai organ dan otot polos yang berada di bawah

pengendaliannya. Sebagai contohnya, ia meningkatkan kecepatan denyut

jantung dan mendilatasi pupil. Sistem saraf simpatis juga memberi sinyal ke

medulla adrenal. Untuk melepaskan epinefrin dan norepinefrin ke aliran darah.

Sistem korteks adrenal diaktivasi jika hipotalamus mensekresikan CRF

(corticotropin releasing factor), suatu zat kimia yang bekerja pada kelenjar

hipofisis yang terletak tepat dibawah hipotalamus. Kelenjar hipofisis

selanjutnya mensekresikan hormon ACTH (adrenocorticotropic hormone),

yang dibawa melalui aliran darah ke korteks adrenal. Dimana, ia menstimulasi

pelepasan sekelompok hormon, termasuk kortisol, yang meregulasi kadar gula

darah. ACTH juga memberi sinyal ke kelenjar endokrin lain untuk melepaskan

sekitar 30 hormon. Efek kombinasi berbagai hormon stres yang dibawa

melalui aliran darah ditambah aktivitas neural cabang simpatik dari sistem

(12)

Secara umum orang yang mengalami stres mengalami sejumlah gangguan

fisik seperti :

a) Gangguan pada organ tubuh menjadi hiperaktif dalam salah satu sistem

tertentu. Contohnya: muscle myopathy pada otot tertentu

mengencang/melemah, tekanan darah naik terjadi kerusakan jantung dan

arteri, sistem pencernaan terjadi maag, diare.

b) Gangguan pada sistem reproduksi. Seperti: amenorhea/ tertahannya

menstruasi, kegagalan ovulasi pada wanita, impoten pada pria, kurang

produksi semen pada pria, kehilangan gairah seks.

c) Gangguan pada sistem pernafasan: asma, bronchitis.

d) Gangguan lainnya, seperti pening (migrane), tegang otot, jerawat, dst.

2) Respon Psikologik :

a) Keletihan emosi, jenuh, mudah menangis, frustasi, kecemasan, rasa

bersalah, khawatir berlebihan, marah, benci, sedih, cemburu, rasa kasihan

pada diri sendiri, serta rasa rendah diri.

b) Terjadi depersonalisasi ; dalam keadaan stres berkepanjangan, seiring

dengan keletihan emosi, ada kecenderungan yang bersangkutan

memperlakuan orang lain sebagai ‘sesuatu’ ketimbang ‘seseorang’

c) Pencapaian pribadi yang bersangkutan menurun, sehingga berakibat pula

menurunnya rasa kompeten & rasa sukses

3) Respon Perilaku

a) Manakala stres menjadi distres, prestasi belajar menurun dan sering

(13)

b) Level stres yang cukup tinggi berdampak negatif pada kemampuan

mengingat informasi, mengambil keputusan, mengambil langkah tepat.

c) Siswi yang ‘over-stressed’ (stres berat) seringkali banyak membolos atau

tidak aktif mengikuti kegiatan pembelajaran.

e. Penatalaksanaan Stres

Strategi menghadapi stres antara lain dengan mempersiapkan diri menghadapi

stresor dengan cara melakukan perbaikan diri secara psikis/mental, fisik dan

sosial. Perbaikan diri secara psikis/mental yaitu dengan pengenalan diri lebih

lanjut, penetapan tujuan hidup yang lebih jelas, pengaturan waktu yang baik.

Perbaikan diri secara fisik dengan menjaga tubuh tetap sehat yaitu dengan

memenuhi asupan gizi yang baik, olahraga teratur, istirahat yang cukup.

Perbaikan diri secara sosial dengan melibatkan diri dalam suatu kegiatan, acara,

organisasi dan kelompok sosial. Mengelola stres merupakan usaha untuk

mengurangi atau meniadakan dampak negatif stresor.

Dalam mengelola stres dapat dilakukan beberapa pendekatan antara lain:

1) Pendekatan farmakologi; menggunakan obat-obatan yang berkhasiat

memulihkan fungsi gangguan neurotransmiter disusunan syaraf pusat otak

(sistem limbik). Sebagaimana diketahui system limbik merupakan bagian

otak yang berfungsi mengatur alam pikiran, alam perasaan dan perilaku

seseorang. Obat yang sering dipakai adalah obat anti cemas (axiolytic) dan

(14)

2) Pendekatan perilaku; mengubah perilaku yang menimbulkan stres,

toleransi/adaptabilitas terhadap stres, menyeimbangkan antara aktivitas fisik

dan nutrisi,serta manajemen perencanaan, organisasi dan waktu.

3) Pendekatan kognitif; mengubah pola pikir individu, berpikir positif dan sikap

yang positif, membekali diri dengan pengetahuan tentang stres,

menyeimbangkan antara aktivitas otak kiri dan kanan, serta hipnoterapi.

4) Relaksasi; upaya untuk melepas ketegangan. Ada 3 macam relaksasi yaitu

relaksasi otot, relaksasi kesadaran indera dan relaksasi melalui yoga, meditasi

maupun transendensi/keagamaan (Yulianti;2004, Chomaria;2009,

http://digilib.unsri.ac.id.;2009).

2. Menstruasi / Haid a. Pengertian

Ciri khas kedewasaan manusia ialah adanya perubahan-perubahan siklik pada

alat kandungannya sebagai persiapan untuk kehamilan. Pada wanita ditandai

dengan menstruasi pertama (menarche), uterus dan vagina membesar, buah dada

membesar serta jaringan ikat dan saluran darah bertambah, sifat kelamin sekunder

tampil, lengkung tubuh berkembang, adanya bulu-bulu ketiak dan pubis pelvis

melebar. Dan pada umumnya remaja putri belajar tentang menstruasi dari ibunya

(Liwellyn, 2007).

Menstruasi adalah secret fisiologik darah dan jaringan mukosa serta bersiklus

(15)

pada keadaan normal timbul kembali, biasanya dalam interval sekitar empat

minggu, kecuali dalam kehamilan dan laktasi selama reproduktif (Danis, 2007).

Menstruasi atau haid ialah pendarahan secara periodic dan siklik dari uterus,

disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium.

b. Siklus Menstruasi

Siklus menstruasi matang adalah kejadian berulang-ulang yang melibatkan

hipofisis, hipotalamus, ovarium, dan uterus (Handerson, 2006).

Menstruasi terjadi pada usia sekitar 10-15 tahun yang disebut dengan menarche

(menstruasi petama). Hormone penting yang mengendalikan siklus menstruasi

matur adalah estrogen, progesterone, gonodotropin, dan GnRh (Handerson, 2006).

Pengaruh hormone FSH (Folikel Stimulating Hormone) kedua indung telur

memilih satu sel telur untuk dimatangkan. Sel telur yang matang ini dilapisi

selaput yang sangat tipis, kemudian sel ini akan mendekat permukaan indung

telur, selaput pembungkusnya pecah dan sel telur ke luar. Dan peristiwa ini

disebut ovulasi. Sel telur yang bebas dan menuju rahim dan lebih kurang dalam

seminggu sampai rahim.

Sebelum ovulasi terjadi penebalan dinding rahim jaringan pembuluh darahnya

bertambah, hal ini dimaksudkan untuk memberi makanan bagi calon bayi, bila

tidak terjadi pembuahan persiapan ini tidak terpakai dan dinding rahim menebal

itu akan lepas dan keluar sebagai menstruasi. Satu siklus dihitung dari hari

pertama menstruasi sampai menstruasi berikutnya. Umumnya jarak siklus

menstruasi berkisar dari 15-45 hari, dengan rata-rata 4-6 hari. Darah menstruasi

(16)

tiap siklus berkisar dari 50-60-ml. pada tiap siklus dikenal tiga masa utama, ialah

sebagai berikut :

1) Masa haid selama 2-8 hari, pada waktu endometrium dilepas, sedangkan

hormon-hormon ovarium paling rendah (minimum).

2) Masa proliferasi sampai hari ke-14, maka pada waktu endometrium tumbuh

kembali, disebut juga endometrium mengadakan proliferasi. Antara hari

ke-12 sampai ke-14 dapat terjadi pelepasan ovum dari ovarium yang disebut

ovulasi.

3) Masa sekresi, pada waktu korpus rubrum menjadi korpus luteum yang

mengeluarkan progesterone. Dibawah pengaruh progesterone kelenjar

endometrium mulai bersekresi dan mengeluarkan getah yang mengandung

glikogen dan lemak. Pada akhir masa ini stroma endometriuym berubah

kearah desidua, terutama berada diseputar pembuluh-pembuluh arterial,

sehingga memudahkan adanya nidasi(Ilmu kebidanan, 2004).

Mentruasi dimulai saat pubertas dan menandai kemampuan seorang wanita

untuk mengandung anak. Menstruasi berlangsung kira-kira sekali sebulan sampai

wanita mencapai umur 45-50 tahun. Panjang rata-rata daur menstruasi adalah 28

hari, namun berkisar antara 21 hingga 40 hari. Daur menstruasi tergantung

berbagai hal termasuk kesehatan fisik, emosi,dan nutrisi wanita tersebut. Daur ini

melibatkan beberapa tahap yang dikendalikan oleh interakasi hormone yang

dikeluarkan hipotalamus, kelenjar dibawah otak depan, dan indung telur.

Anak-anak perempuan yang tidak mengenal tubuh mereka dan proses

(17)

atau bahkan hukuman akan tingkah laku yang buruk. Anak-anak perempuan yang

tidak diajari untuk menganggap menstruasi sebagai fungsi tubuh normal dapat

mengalami rasa malu yang amat dan perasaan kotor saat menstruasi mereka.

Bahkan saat menstruasi akhirnya dikenali sebagai proses normal, perasaan kotor

dapat tinggal sampai masa dewasa.

c. Pola Menstruasi

Pola menstruasi merupakan serangkaian proses menstruasi yang meliputi

siklus menstruasi, lama perdarahan menstruasi dan dismenorea. Siklus menstruasi

merupakan waktu sejak hari pertama menstruasi sampai datangnya menstruasi

periode berikutnya. Sedangkan panjang siklus menstruasi adalah jarak antara

tanggal mulainya menstruasi yang lalu dan mulainya menstruasi berikutnya.

Siklus menstruasi pada wanita normalnya berkisar antara 21-35 hari dan hanya

10-15% yang memiliki siklus menstruasi 28 hari dengan lama menstruasi 3-5 hari,

ada yang 7-8 hari. Setiap hari ganti pembalut 2-5 kali. Panjangnya siklus

menstruasi ini dipengaruhi oleh usia, berat badan, aktivitas fisik, tingkat stres,

genetik dan gizi (Wiknjosastro;2005, Octaria;2009).

Siklus menstruasi dipengaruhi oleh serangkaian hormon yang diproduksi oleh

tubuh yaitu Luteinizing Hormon , Follicle Stimulating Hormone dan estrogen.

Selain itu siklus juga dipengaruhi oleh kondisi psikis sehingga bisa maju dan

mundur. Masa subur ditandai oleh kenaikan luteinizing hormone secara signifikan

sesaat sebelum terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur dari ovarium). Kenaikan LH

akan mendorong sel telur keluar dari ovarium menuju tuba falopi. Didalam tuba

(18)

masa subur, yaitu bila sel telur ada dan siap untuk dibuahi. Sel telur berada dalam

tuba falopi selama kurang lebih 3-4 hari namun hanya sampai umur 2 hari masa

yang paling baik untuk dibuahi, setelah itu mati. LH surge yaitu kenaikan LH

secara tiba-tiba akan mendorong sel telur keluar dari ovarium. Sel telur biasanya

dilepaskan dalam waktu 16-32 jam setelah terjadi peningkatan LH.

Beberapa wanita merasakan nyeri tumpul pada bagian perut bawah pada saat

hal ini terjadi. Lama keluarnya darah menstruasi juga bervariasi, pada umumnya

lamanya 4 sampai 6 hari, tetapi antara 2 sampai 8 hari masih dapat dianggap

normal. Pengeluaran darah menstruasi terdiri dari fragmen-fragmen kelupasan

endrometrium yang bercampur dengan darah yang banyaknya tidak tentu.

Biasanya darahnya cair, tetapi apabila kecepatan aliran darahnya terlalu besar,

bekuan dengan berbagai ukuran sangat mungkin ditemukan.

Ketidakbekuan darah menstruasi yang biasa ini disebabkan oleh suatu sistem

fibrinolitik lokal yang aktif di dalam endometrium. Rata-rata banyaknya darah

yang hilang pada wanita normal selama satu periode menstruasi telah ditentukan

oleh beberapa kelompok peneliti, yaitu 25-60 ml. Konsentrasi Hb normal 14 gr

per dl dan kandungan besi Hb 3,4 mg per g, volume darah ini mengandung 12-29

mg besi dan menggambarkan kehilangan darah yang sama dengan 0,4 sampai 1,0

mg besi untuk setiap hari siklus tersebut atau 150 sampai 400 mg per tahun

(Heffner; 2008).

d. Faktor – faktor yang mempengaruhi gangguan pola menstruasi

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan gangguan pola menstruasi dalam

(19)

1) Fungsi hormon terganggu

Menstruasi terkait erat dengan sistem hormon yang diatur di otak,

tepatnya di kelenjar hipofisis. System hormonal ini akan mengirim sinyal ke

indung telur untuk memproduksi sel telur. Bila sistem pengaturan ini

terganggu otomatis siklus menstruasi pun akan terganggu.

2) Kelainan sistemik

Wanita yang tubuhnya sangat gemuk atau kurus bisa mempengaruhi

siklus menstruasinya karena sistem metabolism didalam tubuh tidak bekerja

dengan baik. Wanita penderita penyakit diabetes juga akan mempengaruhi

sistem metabolismenya sehingga siklus menstruasinya tidak teratur.

3) Cemas

Kecemasan adalah perasaan tidak nyaman atau ketakutan yang tidak jelas

dan gelisah disertai dengan respon otonom (sumber terkadang tidak spesifik

atau tidak diketahui oleh individu), perasaan yang was-was untuk mengatasi

bahaya (Nanda, 2005). Kecemasan atau ansietas adalah suatu keadaan

aprehensi atau keadaan khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang

buruk akan terjadi (Nevid, 2005). Kecemasan adalah perasaan tidak nyaman

yang biasanya berupa perasaan gelisah, takut, khawatir yang merupakan

manifestasi dari faktor psikologi dan fisiologi (Mansjoer, 2005). Kecemasan

atau ansietas adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang

berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya (Stuart, 2007)

Cemas juga dapat mengganggu sistem metabolisme didalam tubuh, bisa

(20)

sakit-sakitan, sehingga metabolismenya terganggu. Bila metabolismenya

terganggu, siklus menstruasinya pun ikut terganggu.

4) Kelenjar gondok

Terganggu fungsi kelenjar gondok/ tiroid juga bisa menjadi penyebab

tidak teraturnya siklus mentruasi. Gangguan bisa berupa produksi kelenjar

gondok yang terlalu tinggi (hipertiroid) maupun terlalu rendah (hipotiroid),

pasalnya sistem hormonal tubuh terganggu.

5) Hormon prolaktin berlebihan

Pada wanita menyusui produksi hormon prolaktin cukup tinggi. Hormon

prolaktin ini sering kali membuat wanita tak kunjung menstruasi karena

memang hormon ini menekan tingkat kesuburan. Pada kasus ini tidak

masalah, justru sangat baik untuk memberikan kesempatan guna memelihara

organ reproduksinya. Sebaliknya, tidak sedang menyusui, hormon prolaktin

juga bisa tinggi. Biasanya disebabkan kelainan pada kelenjar hipofisis yang

terletak di dalam kepala.

6) Kelainan fisik (Alat Reproduksi)

Kelainan fisik yang dapat menyebabkan tidak mengalami menstruasi

(aminorea primer) pada wanita adalah:

a) Selaput dara tertutup sehingga perlu operasi untuk membuka selaput dara.

b) Indung telur tidak memproduksi ovum.

c) Tidak mempunyai ovarium

(21)

Menstruasi atau haid mengacu kepada pengeluaran secara periodik darah dan

sel-sel tubuh dari vagina yang berasal dari dinding rahim wanita. Banyak wanita

yang tidak mengalami kenyamanan fisik selama beberapa hari sebelum

menstruasi mereka datang. Kira–kira setengah dari seluruh wanita menderita

akibat menstruasi. Beberapa gangguan pada menstruasi:

1) Amenore

Amenore primer adalah tidak terjadinya menarche sampai usia 17 tahun,

dengan atau tanpa perkembangan seksual sekunder. Amenore sekunder

berarti tidak terjadinya menstruasi selama bulan atau lebih pada orang yang

mengalami siklus menstruasi. Amenore merupakan gejala atau bukan suatu

penyakit. Penyebab amenore dapat fisiologik, organik, atau akibat gangguan

perkembangan.

2) Disminore

Disminore adalah nyeri selama menstruasi yang disebabkan oleh kejang

otot uterus. Penyebabnya adalah adanya jumlah prostaglandin F2 yang

berlebihan pada menstruasi yang merangsang hiperaktivitas uterus.

Gejala-gejalanya antara lain: nyeri (dapat tajam, tumpul, siklik, menetap) dapat

berlangsung dalam beberapa jam sampai 1 hari, mual, diare, sakit kepala, dan

perubahan emosional.

Selain gangguan-gangguan yang disebutkan diatas gangguan-gangguan lain

yang dapat mucul antara lain: payudara yang melunak, putting susu nyeri,

bengkak, mudah tersinggung, keram yang disebabkan kontraksi otot-otot halus

(22)

menangis. Dalam bentuk yang berat sering melibatkan depressi dan kemarahan

berat (Dani, 2007). Biasanya gangguan menstruasi yang sering terjadi adalah

siklus menstruasi tidak teratur atau jarang dan perdarahan yang lama atau

abnormal, termasuk akibat sampingan yang ditimbulkannya, seperti nyeri perut,

pusing, mual atau muntah.

Adapun beberapa ganguan menstruasi berdasarkan sebab-sebabnya yaitu

(Prawirohardjo, 2008):

1) Menurut jumlah perdarahan

a) Hipomenorea

Perdarahan menstruasi yang lebih pendek atau lebih sedikit dari

biasanya.

b) Hipermenorea

Perdarahan menstruasi yang lebih lama atau lebih banyak dari

biasanya (lebih dari 8 hari).

2) Menurut Siklus atau Durasi Perdarahan

a) Polimenore

Siklus menstruasi tidak normal, lebih pendek dari biasanya atau kurang

dari 21 hari.

b) Oligomenorea

Siklus menstruasi lebih panjang atau lebih dari 35 hari.

c) Amenorea

Amenorea adalah keadaan tidak ada menstruasi untuk sedikitnya 3

(23)

3) Gangguan lain yang berhubungan dengan menstruasi, di antarannya :

a) Premenstrual tension

Gangguan ini berupa ketegangan emosional sebelum haid, seperti

gangguan tidur, mudah tersinggung, gelisah, sakit kepala.

b) Mastadinia

Nyeri pada payudara dan pembesaran payudara sebelum menstruasi.

c) Mittelschmerz

Rasa nyeri saat ovulasi, akibat pecahnya folikel de Graff dapat juga

disertai dengan perdarahan/ bercak.

d) Dismenorea

Dismenorea merupakan rasa sakit akibat menstruasi yang sangat

menyiksa karena nyerinya luar biasa menyakitkan. Selama dismenorea,

terjadi kontraksi otot rahim akibat peningkatan prostaglandin sehingga

menyebabkan vasospasme dari arteriol uterin yang menyebabkan

terjadinya iskemia dan kram pada abdomen bagian bawah yang akan

merangsang rasa nyeri disaat menstruasi (Robert dan David; 2004).

Dismenorea terbagi menjadi dua, yaitu dismenorea primer dan

dismenorea sekunder. Dismenorea primer adalah nyeri menstruasi yang

dijumpai tanpa kelainan pada alat-alat genital yang nyata. Dismenorea

primer terjadi beberapa waktu setelah menarche biasanya setelah 12 bulan

atau lebih, oleh karena siklus-siklus menstruasi pada bulan-bulan pertama

setelah menarche umumnya berjenis anovulator yang tidak disertai rasa

(24)

permulaan menstruasi dan berlangsung untuk beberapa jam, walaupun

pada beberapa kasus dapat berlangsung beberapa hari. Sifat rasa nyeri

adalah kejang berjangkit-jangkit biasanya terbatas pada perut bawah,

tetapi dapat menyebar ke daerah pinggang dan paha. Bersamaan dengan

rasa nyeri dapat dijumpai rasa mual, muntah, sakit kepala, diare,

iritabilitas, dan sebagainya. Beberapa faktor memegang peranan sebagai

penyebab dismenorea primer antara lain: faktor kejiwaan (emosi labil,

kelelahan), faktor konstitusi (anemia, penyakit menahun, TBC), faktor

obstruksi kanalis servikalis,factor endokrin (peningkatan kadar

prosta-glandin,hormon steroid seks,kadar vasopresin tinggi) dan faktor alergi.

Sekitar 10% penderita dismenorea primer tidak dapat mengikuti kegiatan

sehari-hari.

Dismenorea Sekunder; terjadi pada wanita yang sebelumnya tidak

mengalami dismenore. Hal ini terjadi pada kasus infeksi, mioma

submucosa, polip corpus uteri, endometriosis, retroflexio uteri fixata,

gynatresi, stenosis kanalis servikalis, adanya AKDR, tumor ovarium

(Andaners;2010, Astika;2010).

Mansjoer (1999) mengatakan beberapa gangguan haid adalah :

1) Premenstrual tension (ketegangan prahaid) Ketegangan pra haid adalah

keluhan-keluhan yang biasanya mulai satu minggu sampai beberapa hari

sebelum datangnya haid dan menghilang sesudah haid datang walaupun

(25)

2) Mastodinia Mastodinia adalah nyeri pada payudara dan pembesaran

payudara sebelum menstruasi.

3) Mittleschmerz (rasa nyeri pada ovulasi) Mittleschmerz adalah rasa nyeri

saat ovulasi, akibat pecahnya folikel de Graff dapat juga disertai dengan

perdarahan/bercak.

4) Dismenore Dismenore adalah nyeri haid menjelang atau selama haid

sampai membuat perempuan tersebut tidak dapat bekerja dan harus tidur.

Nyeri sering bersamaan dengan rasa mual, sakit kepala, perasaan mau

pingsan, lekas marah.

f. Fase Menstruasi

Hari pertama haid dianggap sebagai permulaan dari siklus haid, 4 hari pertama

siklus didefinisikan sebagai fase haid sebagai fase haid, dalam fase ini terdapat

gangguan dan perontokankelenjar endometriun dan stroma, infiltrasi leukosit, dan

ekstravasasi sel darah merah.

3. Hubungan Stres dengan Pola Menstruasi

Stresor diketahui merupakan faktor etiologi dari banyak penyakit. Salah satunya

menyebabkan stres fisiologis yaitu gangguan pada menstruasi. Kebanyakan wanita

mengalami sejumlah perubahan dalam pola menstruasi selama masa reproduksi.

Dalam pengaruhnya terhadap pola menstruasi, stres melibatkan sistem

neuroendokrinologi sebagai sistem yang besar peranannya dalam reproduksi wanita

(Sriati;2008).

Insel & Roth 1998 dalam http://digilib.unsri.ac.id mengungkapkan bahwa

(26)

adanya fluktuasi hormonal selama siklus menstruasi. Beberapa penelitian

menunjukkan stresor seperti meninggalkan keluarga, masuk kuliah, bergabung

dengan militer, atau memulai kerja baru mungkin berhubungan dengan tidak

datangnya menstruasi. Stresor yang membuat satu tuntutan baru bagi suatu pekerjaan,

meningkatkan panjang siklus menstruasi, jadi menunda periode setiap bulannya.

Sebagai tambahan mengenai meninggalkan keluarga atau memulai satu pekerjaan

baru, beberapa penelitian menunjukkan satu hubungan baru meningkatkan

kemungkinan untuk mendapatkan siklus yang lebih panjang.

Gangguan pada pola menstruasi ini melibatkan mekanisme regulasi intergratif

yang mempengaruhi proses biokimia dan seluler seluruh tubuh termasuk otak dan

psikologis. Pengaruh otak dalam reaksi hormonal terjadi melalui jalur

hipotalamus-hipofisis-ovarium yang meliputi multiefek dan mekanisme kontrol umpan balik. Pada

keadaan stres terjadi aktivasi pada amygdala pada sistem limbik. Sistem ini akan

menstimulasi pelepasan hormon dari hipotalamus yaitu corticotropic releasing

hormone (CRH). Hormon ini secara langsung akan menghambat sekresi GnRH

hipotalamus dari tempat produksinya di nukleus arkuata. Proses ini kemungkinan

terjadi melalui penambahan sekresi opioid endogen. Peningkatan CRH akan

menstimulasi pelepasan endorfin dan adrenocorticotropic hormone (ACTH) ke dalam

darah. Endorfin sendiri diketahui merupakan opiat endogen yang peranannya terbukti

dapat mengurangi rasa nyeri. Peningkatan kadar ACTH akan menyebabkan

peningkatan pada kadar kortisol darah. Pada wanita dengan gejala amenore

hipotalamik menunjukkan keadaan hiperkortisolisme yang disebabkan adanya

(27)

langsung menyebabkan penurunan kadar GnRH, dimana melalui jalan ini maka stres

menyebabkan gangguan siklus menstruasi. Dari yang tadinya siklus menstruasinya

normal menjadi oligomenorea, polimenorea atau amenorea. Gejala klinis yang timbul

ini tergantung pada derajat penekanan pada GnRH. Gejala-gejala ini umumnya

bersifat sementara dan biasanya akan kembali normal apabila stres yang ada bisa

diatasi (http://digilib.unsri.ac.id; 2009).

Tubuh bereaksi saat mengalami stres. Faktor stres ini dapat menurunkan

ketahanan terhadap rasa nyeri. Tanda pertama yang menunjukan keadaan stres adalah

adanya reaksi yang muncul yaitu menegangnya otot tubuh individu dipenuhi oleh

hormon stres yang menyebabkan tekanan darah, detak jantung, suhu tubuh, dan

pernafasan meningkat. Disisi lain saat stres, tubuh akan memproduksi hormon

adrenalin, estrogen, progesteron serta prostaglandin yang berlebihan. Estrogen dapat

menyebabkan peningkatan kontraksi uterus secara berlebihan, sedangkan progesteron

bersifat menghambat kontraksi. Peningkatan kontraksi secara berlebihan ini

menyebabkan rasa nyeri. Selain itu hormon adrenalin juga meningkat sehingga

menyebabkan otot tubuh tegang termasuk otot rahim dan dapat menjadikan nyeri

(28)

B. Kerangka Teori

(29)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Kerangka Konsep

Variable bebas Variabel terikat

Keterangan :

: di teliti

: tidak di teliti

B. Hipotesis Penelitian

Riyanto (2011, h. 84) mengemukakan bahwa hipotesis merupakan pernyataan

sementara yang perlu diuji kebenarannya. Untuk menguji kebenaran hipotesis

digunakan pengujian hipotesis. Hipotesis di dalam penelitian berarti jawaban sementara

penelitian yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut, dikatakan

sementara karena jawaban yang diberikan baru berdasarkan pada teori dan belum

menggunakan fakta atau data. Setelah melalui pembuktian dari hasil penelitian maka Stress

Stress

Siklus Menstruasi

Faktor yang mempengaruhi ganguan menstruasi : 1. Cemas

2. Aktifitas fisik

3. Fungsi hormon terganggu 4. Kelainan sistemik

(30)

hipotesis dapat disimpulkan benar atau salah, diterima atau ditolak. Hipotesis pada

penelitian ini adalah :

H0 : Tidak terdapat hubungan antara tingkat stres dengan siklus menstruasi pada

siswi SMAN.

Ha : Terdapat hubungan antara tingkat stres dengan siklus menstruasi pada siswi

SMAN.

C. Variable Penelitian

Menurut Riyanto (2011, h. 68) variabel merupakan suatu sifat yang akan diukur

atau diamati yang nilainya bervariasi antara satu objek ke objek lainnya dan terukur.

Sedangkan menurut Sugiyono (2010, h. 3) variabel penelitian adalah segala sesuatu yang

berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh

informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.

1. Variabel Independent

Variabel independent merupakan variabel yang mempengaruhi variabel lain,

artinya apabila variabel independent berubah maka akan mengakibatkan perubahan

variabel lain (Riyanto 2011, h. 71). Variabel independent pada penelitian ini adalah

tingkat stres.

2. Variabel Dependent

Variabel dependent adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain, artinya

variabel dependent berubah akibat perubahan pada variabel bebas (Riyanto 2011, h.

72). Variabel dependent pada penelitian adalah siklus menstruasi pada siswi SMAN.

(31)

Tabel.3.1

Identifikasi Variabel, Definisi Operasional, dan Skala Pengukuran.

(32)

Desain penelitian merupakan rencana penelitian yang memuat tentang struktur dan

strategi penelitian untuk menjawab masalah penelitian. Penelitian ini menggunakan

desain penelitian obsevasional analitik dengan pendekatan cross sectional untuk

mempelajari hubungan antara stres dengan pola menstruasi. Penelitian cross sectional

disebut juga penelitian tranversal sebab variabel bebas (faktor risiko) dan variabel

tergantung (efek) diobservasi hanya sekali pada saat yang sama (Taufiqurrahman;2009).

F. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.19 Populasi dalam penelitian ini

adalah semua siswi Sekolah Menengah Atas Negeri.

2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah semua siswi Sekolah Menengah Atas Negeri

yang mengalami menstruasi, dengan tekhnik pengambilan sampel non probability

sampling yaitu dengan teknik purposive sampling adalah merupakan teknik sampling

dengan pertimbangan tertentu. Teknik ini tidak memberikan peluang yang sama dari

setiap anggota populasi, yang bertujuan tidak untuk generalisasi yang berasas pada

probabilitas yang tidak sama.18 Jumlah sampel pada penelitian ini dihitung dengan

menggunakan rumus Slovin

(33)

1. Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 19 februari sampai dengan tanggal 23

februari 2016.

2. Tempat Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas Negeri.

H. Etika Penelitian

Dalam melakukan penelitian, peneliti perlu membawa rekomendasi dari institusinya

untuk pihak lain dengan cara mengajukan permohonan izin kepada institusi/lembaga

tempat penelitian yang dituju oleh peneliti. Setelah mendapat persetujuan, barulah

peneliti melakukan penelitian dengan menekankan masalah etika yang meliputi :

1. Informed Consent (Lembar Persetujuan)

Lembar persetujuan ini diberikan kepada responden yang diteliti yang memenuhi

kriteria inklusi dan disertai judul penelitian dan manfaat penelitian. Bila subjek

menolak maka peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati hak-hak subjek.

2. Anonimity (Tanpa Nama)

Untuk menjaga kerahasiaan peneliti tidak mencantumkan nama responden, tetapi

lembar tersebut diberikan kode atau inisial.

3. Confendiality (Kerahasiaan)

Kerahasiaan informasi responden dijamin peneliti hanya kelompok data tertentu

yang dilaporkan sebagai hasil penelitian.

(34)

Alat dan bahan untuk penelitian ini merupakan data primer yang diambil melalui 2

kuisioner, yaitu :

1. Kuisioner siklus menstruasi

Kuisioner ini berisikan tentang pertanyaan mengenai siklus menstruasi. Pada

saat itu juga responden menjawab pertanyaan yang ada dalam kuisioner dan

dikembalikan hari itu juga.

2. Kuisioner Depression Anxiety Stress Scale 24 (DASS 24)

Kuisioner DASS adalah 24 butir ukuran kuantitatif untuk mengukur kondisi

emosional negatif depresi, kecemasan dan stres. Dalam penelitian ini peneliti hanya

memilih kuisioner yang mengukur tentang stres. Skala peringkat pada DASS 24

adalah sebagai berikut:

a. Tidak berlaku untuk saya sama sekali = 0.

b. Diterapkan pada saya untuk beberapa derajat, atau

beberapa waktu = 1.

c. Diterapkan kepada saya ke tingkat yang cukup, atau

bagian yang baik dari waktu = 2.

d. Diterapkan pada saya sangat banyak, atau sebagian

besar waktu = 3.

J. Teknik Analisis Data 1. Pengolahan Data

a. Editing

Setelah data terkumpul maka dilakukan pemeriksaan ulang kelengkapan format

(35)

b. Koding

Setiap jawaban dikonversi ke dalam angka-angka sesuai dengan format kode yang

telah disiapkan untuk mempermudah dalam pengolahan data berikutnya.

c. Tabulasi

Penyajian data dalam bentuk tabel yang diolah dengan menggunakan komputer.

2. Analisis Data

Data yang akan dikumpulkan terlebih dahulu diedit baik pada waktu dilapangan

maupun pada saat memasukkan data ke dalam komputer. Hal ini dimaksudkan untuk

menilai kebenaran data. Setelah itu dilakukan koding kemudian data dimasukkan

kedalam tabel sesuai dengan tujuan penelitian dan diolah secara elektronik dengan

menggunakan program komputer Microsoft Office Excel versi 2007. Kemudian data

dianalisa melalui persentase dan perhitungan jumlah dengan cara menggunakan

analisa univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian dengan

menggunakan tabel distribusi frekuensi sehingga menghasilkan distribusi dan

persentase dari tiap variable yang diteliti.

DAFTAR PUSTAKA

(36)

Sriati Aat. 2008. Tinjauan tentang stress. http://www.akademik.unsri.ac.id /.../TINJAUAN %20TENTANG%20STRES.pdf ... Di unduh pada tanggal 7 Desember 2009

Wiknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Hal:103-14, 204-05

Zulhita Ryanti. 2006. Hubungan Antara Tingkat Kecemasan Dengan Siklus Haid Pada Mahasiswi D IV Kebidanan di Universitas Sebelas Maret. Universitas Sebelas Maret Surakarta. Karya Tulis Ilmiah.

Referensi

Dokumen terkait

Manajer Investasi dapat membeli Efek yang diperdagangkan di Bursa Efek luar negeri yang informasinya dapat diakses dari Indonesia melalui media massa atau fasilitas internet

Sel kanker pada dasarnya memiliki daur sel yang sama dengan sel normal, dapat berada dalam tiga keadaan; sel yang sedang membelah atau dalam siklus proliferasi, sel dalam

Walau bagaimanapun, pengurusan strategik bukan sahaja menitikberatkan semua perkara yang telah dibincangkan dalam kursus dasar perniagaan tetapi juga menggabungkan faktor luaran

Konsep perilaku dari kepemimpinan transformasional terdiri dari 4 komponen yaitu idealized influence (karisma) yang berarti pemimpin dan karyawan saling percaya;

Maksud dari adanya konseptualusasi dari penelitian adalah untuk menghindari kontra-persepsi atau kesalahan pemahaman dalam memahami beberapa kota yang menjadi fokus dalam

Prosedur dari penelitian ini terdiri dari: Tahap persiapan adalah observasi tempat penelitia, menetapkan materi pelajaran yang akan digunakan dalam penelitian,

Pihak Event Organizer khususnya bagian Crowd Control (pihak keamanan internal) tidak dapat melihat dari berbagai sudut pada saat bersamaan, jika ada penumpukan

Persebaran ruang terbuka hijau di Kecamatan Martapura hampir merata di setiap Desa dan Kelurahan, walaupun masih ada beberapa wilayah yang belum mempunyai ruang