Makalah struktur sosial kebudayaan dan p

16 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

STRUKTUR SOSIAL,

KEBUDAYAAN DAN

PENDIDIKAN

Diajukan Guna Melengkapi Tugas Mata Kuliah Sosio Antropologi Pendidikan

Disusun Oleh

1. Vena Melinda

(140210205013)

2. Nadhea Nirmala

(140210205041)

3. Rusdiyahwati

(140210205042)

4. Husnul Khotimah

(140210205047)

5. Riadhotul Badingah (140210205049)

6. Friska Apriyani

(140210205053)

PROGRAM STUDI PG PAUD JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JEMBER

2015

(2)

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul “STRUKTUR SOSIAL, KEBUDAYAAN DAN PENDIDIKAN” dengan sebaik – baiknya. Tidak lupa penulis sampaikan terimakasih kepada Dosen Matakuliah Sosio Antropologi Pendidikan yang telah memberikan tugas ini kepada penulis.

Makalah ini menyajikan informasi mengenai struktur sosial masyarakat, aneka ragam kebudayaan dan telaahnya, kaitan antara kebudayaan dan kepribadian serta pendidikan dalam kemajemukan budaya.

Penulis telah menyusun makalah ini dengan sebaik – baiknya. Penulis mengetahui bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini, maka Penulis menerima segala kritik dan saran dari pembaca untuk kesempurnaan makalah ini.

Makalah ini penulis susun untuk memenuhi tugas matakuliah Sosio Antropologi Pendidikan.

Sebelumnya penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan dan penyusunan makalah ini, karena penulis masih dalam proses belajar.

Jember, 08 September 2015

(3)

DAFTAR ISI

COVER... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Rumusan Masalah... 1 1.3. Tujuan dan Manfaat... 1

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Memahami Struktur Sosial Masyarakat... 2 2.2. Aneka Ragam Kebudayaan Dan Telaahnya... 3 2.3. Memahami Kaitan Antara Kebudayaan Dan Kepribadian... 7 2.4. Memikirkan Kembali Pendidikan Dalam Kemajemukan

Budaya... 7

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan... 8 3.2. Saran... 8

(4)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Suatu sistem sosial tidak hanya berupa kumpulan individu tetapi juga berupa hubungan-hubungan sosial dan sosialisasi yang membentuk nilai-nilai dan adat istiadat sehingga terjalin kesatuan hidup bersama yang teratur dan berkesinambungan.

Struktur sosial adalah cara bagaimana suatu masyarakat terorganisasi dalam hubungan-hubungan yang dapat diprediksikan melalui pola perilaku berulang antar individu dan antar kelompok dalam masyarakat tersebut. Struktur sosial dapat diartikan sebagai jalinan antara struktur-struktur sosial yang pokok yaitu kaidah-kaidah / norma-norma sosial, lembaga-lembaga sosial dan lapisan-lapisan sosial.

kebudayaan mencangkup sesuatu yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perilaku yang normatif, yang mencangkup segala cara-cara atau pola-pola berfikir, merasakan, dan bertindak. Kebudayaan tersebut dimiliki oleh setiap masyarakat, bedanya hanyalah bahwa kebudayaan masyarakat yang satu lebih sempurna daripada kebudayaan masyarakat yang lain dalam perkembangannya untuk memenuhi segala kebutuhan masyarakatnya.

Pendidikan berlangsung dalam keluarga, dalam lembaga pendidikan dan terutama di sekolah, dan dalam masyarakat.Meskipun peran keluarga dalam pendidikan amat kuat, namun peran sekolah dan masyarakat amat penting, terutama di masa kini dan mendatang.

(5)

1.2. RUMUSAN MASALAH.

1) Bagaimana memahami struktur sosial masyarakat ? 2) Bagaimana aneka ragam kebudayaan dan telaahnya ?

3) Bagaimana memahami kaitan antara kebudayaan dan kepribadian ?

4) Bagaimana memikirkan kembali pendidikan dalam kemajemukan budaya?

1.3. TUJUAN RUMUSAN MASALAH.

1) Untuk memahami struktur sosial masyarakat.

2) Untuk mengetahui aneka ragam kebudayaan dan telaahnya. 3) Untuk memahami kaitan antara kebudayaan dan kepribadian.

(6)

BAB II PEMBAHASAN

2.1. STRUKTUR SOSIAL MASYARAKAT 1. Definisi Struktur Sosial

Struktur bisa diartikan sebagai susunan atau bentuk.Struktur tidak harus dalam bentuk fisik, ada pula struktur yang berkaitan dengan sosial.Menurut ilmu sosiologi, struktur sosial adalah tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat.Susunannya bisa vertikal atau horizontal.

Para ahli sosiologi merumuskan definisi struktur sosial sebagai berikut: 1. George Simmel

Struktur sosial adalah kumpulan individu serta pola perilakunya. 2. George C. Homans

Struktur sosial merupakan hal yang memiliki hubungan erat dengan perilaku sosial dasar dalam kehidupan sehari-hari.

3. William Kornblum

Struktur sosial adalah susunan yang dapat terjadi karena adanya pengulangan pola perilaku undividu.

4. Soerjono Soekanto

Struktur sosial adalah hubungan timbal balik antara posisi-posisi dan peranan-peranan social.

5. Talcott Parsons

Berpendapat bahwa struktur sosial adalah keterkaitan antarmanusia. 6. Coleman

Melihat struktur sosial sebagai sebuah pola hubungan antarmanusia dan antarkelompok manusia.

7. Abdul Syani

(7)

2. Ciri-ciri Struktur Sosial

 Muncul pada kelompok masyarakat

Struktur sosial hanya bisa muncul pada individu-individu yang memiliki status dan peran.Status dan peranan masing-masing individu hanya bisa terbaca ketika mereka berada dalam suatu sebuah kelompok atau masyarakat.Pada setiap sistem sosial terdapat macam-macam status dan peran individu.Status yang berbeda-beda itu merupakan pencerminan hak dan kewajiban yang berbeda pula.

 Berkaitan erat dengan kebudayaan

Kelompok masyarakat lama kelamaan akan membentuk suatu kebudayaan. Setiap kebudayaan memiliki struktur sosialnya sendiri.Indonesia mempunyai banyak daerah dengan kebudayaan yang beraneka ragam.Hal ini menyebabkan beraneka ragam struktur sosial yang tumbuh dan berkembang di Indonesia. Hal-hal yang memengaruhi struktur sosial masyarakat Indonesia adalah sbb: a. Keadaan geografis

Kondisi geografis terdiri dari pulau-pulau yang terpisah. Masyarakatnya kemudian mengembangkan bahasa, perilaku, dan ikatan-ikatan kebudayaan yang berbeda satu sama lain.

b. Mata pencaharian

Masyarakat Indonesia memiliki mata pencaharian yang beragam, antara lain sebagai petani, nelayan, ataupun sektor industri.

c. Pembangunan

Pembangunan dapat memengaruhi struktur sosial masyarakat Indonesia.Misalnya pembangunan yang tidak merata antra daerah dapat menciptakan kelompok masyarakat kaya dan miskin.

 Dapat berubah dan berkembang

(8)

3. Fungsi Struktur Sosial

 Fungsi Identitas

Struktur sosial berfungsi sebagai penegas identitas yang dimiliki oleh sebuah kelompok. Kelompok yang anggotanya memiliki kesamaan dalam latar belakang ras, sosial, dan budaya akan mengembangkan struktur sosialnya sendiri sebagai pembeda dari kelompok lainnya.

 Fungsi Kontrol

Dalam kehidupan bermasyarakat, selalu muncul kecenderungan dalam diri individu untuk melanggar norma, nilai, atau peraturan lain yang berlaku dalam masyarakat. Bila individu tadi mengingat peranan dan status yang dimilikinya dalam struktur sosial, kemungkinan individu tersebut akan mengurungkan niatnya melanggar aturan. Pelanggaran aturan akan berpotensi menibulkan konsekuensi yang pahit.

 Fungsi Pembelajaran

Individu belajar dari struktur sosial yang ada dalam masyarakatnya.Hal ini dimungkinkan mengingat masyarakat merupakan salah satu tempat berinteraksi.Banyak hal yang bisa dipelajari dari sebuah struktur sosial masyarakat, mulai dari sikap, kebiasaan, kepercayaan dan kedisplinan.

4. Tiga bentuk masyarakat berdasarkan ciri-ciri struktur social

Berikut ini adalah tiga bentuk masyarakat berdasarkan ciri-ciri struktur sosial dan budayanya seperti yang dikemukukan oleh Selo Soermardjan.

A. Masyarakat sederhana,

Ciri-ciri struktur sosial dan budaya pada masyarakat sederhana adalah sebagai berikut:

1. Ikatan keluarga dan masyarakatnya sangat kuat. 2. Organisasi sosial berdasarkan tradisi turun-temurun. 3. Memiliki kepercayaan yang kuat terhadap kekuatan gaib.

4. Tidak memiliki lembaga-lembaga khusus, seperti lembaga pendidikan. 5. Hukum yang berlaku tidak tertulis.

6. Sebagain besar produksi hanya untuk keperluan keluarga sendiri atau untuk pasaran dalam skala kecil.

(9)

B. Masyarakata madya

Ciri-ciri struktur sosial dan budaya pada masyarakat madya adalah sebagai berikut:

1. Ikatan keluarga masih kuat, tetapi hubungan dengan masyarakat setempat sudah mengendor.

2. Adat istiadat masih dihormati, tetapi mulai terbuka dengan pengaruh luar. 3. Timbulnya rasionalitas dalam cara berpikir sehingga

kepercayaan-kepercayaan pada kekuasaan kekuatan gaib baru timbul apabila orang mulai kehabisan akal untuk menanggulangi suatu masalah.

4. Timbulnya lembaga-lembaga pendidikan formal sampai tingkat lanjutan. 5. Hukum tertulis mulai mendampingi hukum tidak tertulis.

6. Memberi kesempatan pada produksi pasar sehingga muncul diferensiasi dalam struktur masyarakat.

7. Gotong royong hanya untuk keperluan di kalangan tetangga dan kerabat, sedangkan kegiatam ekonomi dilakukan atas dasar uang.

C. Masyarakat modern

ciri-ciri struktur sosial dan budaya masyarakat modern adalah berikut: 1. Hubungan sosial didasarkan atas kepentingan pribadi.

2. Hubungan dengan masyarakat lainnya sudah terbuka dan saling mempengaruhi.

3. Kepercayaan terhadap ilmu kengatahuan dan teknologi sangat kuat. 4. Terdapat stratifikasi sosial atas dasar keahlian.

5. Tingkat pendidikan formal tinggi.

6. Hukum yang berlaku sudah hukum tertulis.

7. Ekonomi hampir seluruhnya merupakan ekonomi pasar yang didasarkan atas penggunaan uang dan alat pembayaran lain.

2.2. Aneka Ragam Kebudayaan Dan Telaahnya 1. Konsep Suku Bangsa

(10)

sifat kesatuan dari suatu suku bangsa bukan kelompok, melainkan golongan.Konsep yang mencangkup istilah suku bangsa adalah suatu golongan manusia yan terikat oleh suatu kesadaran dan jati diri mereka akan kesatuan dari kebudayaan tidak ditentukan oleh orang luar (misalnya oleh seorang ahli antropologi, ahli kebudayaan dsb, yang menggunakan metode-metode analis ilmiah), melainkan oleh warga kebudayaan yang bersangkutan itu sendiri, seperti misalnya dalam bahsa minangkabau atau ilmu hokum adat Indonesia. Deskripsi mengenai kebudayaan dari suatu suku bangsa biasanya merupakan isi dari suatu karangan etnografi.

Aneka Ragam kebudayaan suku Bangsa. Sebaiknya kesatuan masyarakat suku-suku bangsa diseluruh dunia dibedakan berdasarkan mata pencaharian dan system ekonominya, yaitu :

Suatu daerah kebudayaan adalah suatu daerah pada peta dunia yang oleh par aahli antropologi disatukan berdasarkan persamaan unsure-unsur atau ciri-ciri kebudayaan yang mencolok. Dengan pengolongan seperti itu, berbagai suku bangsa yang tersebar di suatu daerah di muka bumi diklasifikasikan berdasarkan unsur-unsur kebudayaan yang menunjukkan persamaaan, untuk memudahkan para ahli antropologi melakukan penelitian analisa komparatif.

(11)

3. Ras, Bahasa, Dan Kebudayaan

Perbedaan ras pada berbagai suku bangsa tidak mengindari kemungkinan penggunaan bahasa yang walaupun mungkin berbeda-beda, berasal dari keluarga bahasa yang sama.

2.3. Memahami Kaitan Antara Kebudayaan Dan Kepribadian

Kepribadian seorang individu disesuaikan dengan system norma yang berlaku dalam masyarakat Kesesuaian kepribadian dan nilai atau norma membutuhkan proses sosialisasi. Sifat kebudayaan yang dinamis juga memerlukan sosialisasi agar sesuai dengan kepribadian masyarakatnya.Saling keterkaitan antara kehidupan tersebut berlangsung terus dalam lingkaran kehidupan. Kebudayaan merupakan karakter masyarakat bukan karakter secara individual.Semua yang dipelajari dalam kehidupan sosial dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya merupakan kebudayaan.Kebudayaan selalu digunakan sebagai pedoman hidup artinya sebagai sarana untuk menyelenggarakan seluruh tata kehidupan warga masyarakat tersebut.Bagi generasi baru kebudayaan akan berfungsi membentuk atau mencetak pola-pola perilaku yang selanjutnya akan membentuk suatu kepribadian bagi warga generasi baru tersebut. Jelas bahwa dalam proses pembentukan kepribadian bagi seseorang, kebudayaan merupakan komponen yang akan menentukan bagaimana corak kepribadian dari warga masyarakat khususnya generasi baru.

Menurut Koentjaraningrat, suatu kebudayaan sering memancarkan suatu watak khas tertentu yang tampak dari luar. Watak inilah yang terlihat oleh orang asing. Watak khas itu sering tampak pada gaya tingkah laku masyarakatnya, kebiasaan-kebiasaannya, maupun dari hasil karya benda mereka.

Menurut Soerjono Soekanto (2001: 206) ada beberapa tipe kebudayaan khusus yang secara nyata dapat mempengaruhi bentuk kperibadian seorang individu.

1. Budaya khusus atas dasar faktor kedaerahan. 2. Budaya khusus masyarakat desa dan kota. 3. Budaya khusus kelas sosial.

(12)

2.4. Memikirkan Kembali Pendidikan Dalam Kemajemukan Budaya

Masyarkat majemuk seperti indonesia, bukan hanya secara horizontal beraneka ragam corak kesukubangsaan dan kebudayaan suku bangsanya, akan tetapi juga secara vertikal atau jenjang meurut kemajuan ekonomi, teknologi, dan organisasi sosial-politik yg terdapat didalamnya.

Pendidikan multikultural adalah proses penanaman cara hidup menghormati, tulus, dan toleran terhadap keanekaragaman budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat majemuk. Dengan pendidikan multikultural, diharapkan adanya kekuatan dan kelenturan mental bangsa menghadapi benturan konflik sosial, sehingga persatuan bangsa tidak mudah patah dan retak. Pendidikan multikultural menurut Lawrence J. Saha (1997), merpakan suatu proses atau strategi pendidikan yang diarahkan untuk mewujudkan kesadaran keberagaman, toleransi, pemahaman, dan pengetahuan yang mempertimbangkan perbedaan kultural dalam kesetaraan, dan juga perbedaan dan persamaan antar budaya dan kaitannya dengan cara pandang, konsep, nilai, keyakinan, dan sikap.

Untuk mewujudkan proses pendidikan berbasis multikultural, ada beberapa pendekatan yang harus dilakukan, yaitu:

Pertama, tidak lagi terbatas pada menyamakan pandangan pendidikan (education) dengan persekolahan (schooling) atan pendidikan multikultural dengan program-program sekolah formal.Pandangan yang lebih luas mengenai pendidikan sebagai transmisi kebudayaan membebaskan pendidik dari asumsi bahwa tanggung jawab primer menegmbangkan kompetensi kebudayaan di kalangan peserta didik semata-mata berada di tangan mereka dan justru semakin banyak pihak yang bertanggung jawab karena program-program sekolah seharusnya terkait dengan pembelajaran informal di luar sekolah.

(13)

stereotip menurut identitas etnik mereka dan akan meningkatkan eksplorasi pemahaman yang lebih besar mengenai kesamaan dan perbedaan di kalangan anak didik dari berbagai kelompok etnik.

Ketiga, karena pengembangan kompetensi dalam suatu “kebudayaan baru” biasanya membutuhkan interaksi inisiatif dengan orang-orang yang sudah memiliki kompetensi, bahkan dapat dilihat lebih jelas bahwa uapaya-upaya untuk mendukung sekolah-sekolah yang terpisah secara etnik adalah antitesis terhadap tujuan pendidikan multikultural. Mempertahankan dan memperluas solidarits kelompok adalah menghambat sosialisasi ke dalam kebudayaan baru.Pendidikan bagi pluralisme budaya dan pendidikan multikultural tidak dapat disamakan secara logis.

Keempat, pendidikan multikultural meningkatkan kompetensi dalam beberapa kebudayaan. Kebudayaan mana yang akan diadopsi ditentukan oleh situasi.

Kelima, kemungkinan bahwa pendidikan (baik dalam maupun luar sekolah) meningkatkan kesadaran tentang kompetensi dalam beberapa kebudayaan. Kesadaran seperti ini kemudian akan menjauhkan kita dari konsep dwi budaya atau dikhotomi antara pribumi dan non-pribumi. Dikotomi semacam ini bersifat membatasi individu untuk sepenuhnya mengekspresikan diversitas kebudayaan. Pendekatan ini meningkatkan kesadaran akan multikulturalisme sebagai pengalaman normal manusia. Kesadaran ini mengandung makna bahwa pendidikan multikultural berpotensi untuk menghindari dikotomi dan mengembangkan apresiasi yang lebih baik melalui kompetensi kebudayaan yang ada pada diri anak didik.

Secara operasional, pendidikan multikultural pada dasarnya adalah program pendidikan yang menyediakan sumber belajar yang jamak bagi pembelajar dan yang sesuai dengan kebutuhan akademik maupun sosial anak didik.Pendidikan multikultural sebagai pengganti dari pendidikan interkultural, diharapkan dapat menumbuhkan sikap peduli dan mau mengerti atau adanya politik pengakuan terhadap kebudayaan kelompok manusia seperti; toleransi, perbedaan etno-kultural dan agama, diskriminasi, HAM, demokrasi dan pluralitas, kemanusiaan universal serta subyek-seubyek lain yang relevan.

Dari harapan dan paradigma pendidikan multukultural yang telah diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan berbasis multikultural bertujuan untuk membantu peserta didik:

1. memahami latar belakang diri dan kelompok dalam masyarakat

(14)

3. menyelesaikan sikap-sikap yang terlalu etnosentris dan penuh purbasangka, 4. memahami faktor-faktor sosial, ekonomis, psikologis, dan historis yang

menyebabkan terjadinya polarisasi etnik ketimpangan dan keterasingan etnik 5. meningkatkan kemampuan menganalisis secara kritis masalah-masalah rutin dan

isu melalui proses demokratis melalui sebuah visi tentang masyarakat yang lebih baik, adil dan bebas

(15)

BAB III PENUTUP

3.1. KESIMPULAN

Dari pembahasan yang telah diuraikan, dapat ditarik kesimpulan bahwa struktur sosial memiliki keterkaitan antara status dan pola perilaku. Individu belajar dari struktur sosial yang ada dalam lingkungannya melaui proses interaksi sosial. Banyak hal yang bisa dipelajari dari sebuah struktur sosial dalam lingkungan sekolah maupun luar sekolah , mulai dari sikap, kebiasaan, dan kedisplinan.

3.2. SARAN

(16)

DAFTAR RUJUKAN

https://bestudy.wordpress.com/2012/11/25/struktur-sosial-masyarakat/

https://ayobelajarsosiologi.wordpress.com/sosiologi-sma-3/sosiologi-sma-xi/struktur-sosial/

http://ssbelajar.blogspot.com/2012/03/struktur-sosial.html

http://noviswan.blogspot.com/2013/01/peran-pendidikan-multikultural-dalam.html

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...