• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN BU IKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN BU IKA"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG PENULISAN

Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tengah fokus terhadap pembangunan infrastruktur di kawasan timur Indonesia sebagai bentuk pemerataan pembangunan nasional. Minimnya infrastruktur di kawasan timur Indonesia membuat kawasan tersebut mengalami kesulitan untuk tumbuh dan berkembang.butuh dana mencapai Rp12,5 triliun hingga Rp15 triliun untuk membangun infrastruktur di perbatasan dan jalan, serta menyelesaikan trans Papua. Jalan trans Papua sepanjang 900 kilometer ditargetkan selesai pada tahun 2018 mendatang.

Ruas jalan trans Papua itu mulai dari Sorong-Manokwari-Nabire-Jayapura yang saat ini masih terputus-putus. Percepatan pembangunan infrastrktur ini sangat dibutuhkan agar dapat menjalankan roda perekonomian Papua dan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.

Keadaan geografis di Provinsi Papua merupakan penyebab utama terhambatnya perkembangan suatu daerah, dimana daerah tersebut menjadi sulit dijangkau.

Dalam rangka mempercepat pembangunan fisik di wilayah Provinsi Papua, Pemerintah Provinsi Papua Dinas Pekerjaan Umum bermaksud membangun/meningkatkan prasarana transportasi darat, khususnya jalan raya yang sangat berguna untuk menghubungkan suatu wilayah dengan wilayah lainnya dan membuka akses daerah yang terpencil terhadap pertumbuhan perekonomian regional antar wilayah dan antar kabupaten.

(2)

ataupun RENJA SKPD yang telah dibuat. Contohnya saja di Jalan Trans Papua Dari Suaga Kabupaten Intan Jaya – Enarotali Kabupaten Paniai Yang Dikerjakan PT. Lince Romauli Raya Menggunakan APBD Provinsi Papua 2014 Masih Terbengkalai Pembangunannya hingga tahun 2016 ini. Kalaupun pekerjaan mereka berakhir hingga Desember 2016, harusnya telah ada realisasi fisik 50 persen yang diselesaikan, tapi kenyataannya tidak ada. Ini baru satu daerah yang “diketahui” bagaimana dengan daerah lain yang “tersembunyi” keberadaannya. Akan menjadi kerugian Negara jika anggaran yang telah dikucurkan buat Papua untuk pembangunan infrastruktur malah diabaikan akan berapa banyak lagi kerugian yang diderita oleh warga setempat dalam keadaan terisolasi ini.

Harmonisasi RPJMN dan RPJMD merupakan Ruang Lingkup Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional Undang-Undang Nomor 25/2004. RPJM Daerah merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional memuat: 1. arah kebijakan keuangan Daerah, 2. strategi pembangunan Daerah, 3. kebijakan umum, dan 4. program SKPD, lintas SKPD, dan 5. program kewilayahan. Penyesuaian RPJMD dengan RPJMN 2015-2019 dilakukan melalui Bilateral Meeting Penyesuaian RPJMD dengan RPJMN 2015- 2019. Sumber: Pasal 14 Permen PPN 1/2014. Sehingga harmonisasi antara dokumen perencanaan di daerah maupun nasional harus dipertanggungjawabkan dan diterapkan. Tujuan Penyesuaian RPJM Daerah dengan RPJM Nasional 2015- 2019: 1. Menjaga konsistensi dan sinegitas sasaran dan arah kebijakan pembangunan yang tertuang dalam RPJMN 2015-2019 menjadi prioritas dalam RPJMD terkait. 2. Meningkatkan koordinasi dan kesepahaman dalam rangka mencapai sasaran pembangunan nasional

(3)

untuk harmonisasi terhadap RPJMD. Namun, menjadi perhatian saat ini bahwa urusan infrastruktur di papua pun menjadi perhatian pemerintah pusat sedangkan saat ini merupakan era desentrlisasi dimana daerah harus mampu mengurus daerahnya sendri. Dari contoh kasus di Suaga Kabupaten Intan Jaya tersebut menjadi bukti bahwa dokumen perencanaan hanya lembaran-lembaran kertas yang jauh dari realisasi yang diharapkan. Bukan menjadi keanehan jika perbaikan infrastruktur jalan menjadi perhatian kami untuk dibuat dalam makalah dengan judul “Merajut Bumi Mutiara Hitam”.

Dengan sejalannya RPJPD, RPJMD dan RENJA SKPD diharapkian pembangunan ruas jalan ini maka akan menambah dan mempercepat distribusi hasil-hasil pertanian, perkebunan, kehutanan serta kebutuhan bahan-bahan pokok pada masyarakat sekitar ruas jalan serta daerah di belakangnya yang akan berdampak pada peningkatan kehidupan warga Papua.

1.2. TUJUAN PENULISAN

Adapun ujuan dari penulisan ini adalah :

1. Mengetahui bagaimana harmonisasi dokumen perencanaan dari RPJPD Provinsi Papua, RPJMD Provinsi Papua hingga RKPD Dinas Pekerjaan Umum.

2. Mengetahui apa yang menjadi penghambat dan pendukung dalam pembangunan infrastruktur jalan di Papua.

3. Mengetahui upaya yang dilakukan pemerintah pusat maupun daerah dalam pembangunan infrastruktur jalan di Provinsi Papua.

1.3. MANFAAT PENULISAN

Adapun manfaat dari penulisan ini adalah:

(4)

2. Untuk mengetahui apa yang menjadi penghambat dan pendukung dalam pembangunan infrastruktur jalan di Papua.

(5)

BAB II STUDI PUSTAKA

2.1. TEORI PENULISAN 2.1.1 Teori Perencanaan

Uraian tentang pegertian perencanaan dapat ditemui pada banyak buu, baik yang membahas tentang manajemen maupun di bidang administrasi dan kepemimpinan. Dengan kata ain uraian tentang pengertian perencanaan berikut ini, dimaksudkan untuk memberikan dasar dalam menguraikan pengertian Perencanaan Kepegawaian.

Perencanaan adalah proses pemilihan dan penetapan tujuan, strategi, metode, anggaran, dan standar (tolak ukur) keberhasilan suatu kegiatan.” (Nawawi, H. 2003:29).

Pengertian ini menunjukkan bahwa perencanaan merupakan proses atau rangkaian beberapa kegiatan yang salig berhubungan dalam memilih salah satu di antara beberapa alternatif tentanng tujuan yang ingin dicapai oleh sebuah organisasi/perusahaan. Kemudian memilih strategi dan metode untu mencapai tujuan tersebut. Dilanjutkan pula dengan menetapkan anggaran unttuk melaksanaka strategi dan metode tersebut, diiringi dengan memillih dan menetapkan kriteria tolak ukur untuk menilai tingkat keberhasilann organisasi/perusahaan dalam pencapaian tujuannya dengan mengimplementasikan strategi dan metode yang telah dipilih sebelumnya.Pengertian lain mengatakan bahwa

Perencanaan adalah proses memilih sejumlah kegiatan untuk ditetapkan sebagai keputusan tentang suatu pekerjaan yang harus dilakukan, kapan, bagaimana dan siapa yang melakukannya.” (Nawawi, H. 2003:30).

(6)

bertolak belakang atau yang berbeda dengan pekerjaan yang telah ditetapkan sebagai keputusan tersebut. Kegiatan kedua dalam proses pembuatan keputusan adalah kegiatan menetapkan waktu pelaksanaannya, yang berarti memilih metode dan tidak akan menggunakan cara atau metode lain agar pelaksanaan pekerjaan tersebut berlangsung secara efektif dan efisien. akhirnya kegiatan keempat dalam proses pembuatan keputusan tersebut adalah menetapkan pegawai yang tepat atau yang memenuhi persyaratan untuk melaksanakannya, agar pekerjaantersebut dilaksanakan secara professional dalam rangka mewujudkan eksistensi organisasi yang sukses.

Pengertian berikutnya mengatakan bahwa

Perencanaan adalah penerapan pengetahuan tepat guna secara sistematik, untuk mengontrol dan mengarahkan kecenderungan pperwujudan masa depan yang diinginkan sebagai tujuan yang akan dicapai.” (Nawawi, H. 2003:31).

Pengertian di atas menekankan bahwa melalui perumusan perencanaan, kondisi bidang kehidupan tertentu di masa depan dapat dikontrol dan diarahkan sesuai dengan keinginan manusia. Kondisi itu dirumuskan sebagai tujuan yang akan dicapai di masa depan, melalui pembuatan perencanaan cara mencapainya menggunakan atau penerapan pengetahuan tepat guna dalam bidang kehidupan tersebut secara sistematik (teratur dan tertib). Penggunaan pengetahuan tepat guna berarti perencanaan tidak bersifat teoritis sehingga tidak dapat diimplementasikan dalam bidang/aspek-aspek yang dijelajahi suatu perencanaan. Dengan kata lain perencanaan harus bersifat realistic sesuai dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan organisasi yang akan melaksanakannya. Perencanaan bukan merumuskan suatu kondisi ideal di masa depan tanpan perhitungan kemampuan mencapainya, sehingga menjadi hayalan yang tidak dapat dicapai, karena tidak didasari pengetahuan tepat guna yang dapat diterapkan secara sistematik. Pengertian berikut mengatakan bahwa

Perencanaan adalah kegiatan persiapan dengan merumuskan dan

(7)

Perencanaaan adalah proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan fungsi-fungsi lain pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan tak akan dapat berjalan. Rencana dapat berupa rencana informal atau rencana formal. Rencana informal adalah rencana yang tidak tertulis dan bukan merupakan tujuan bersama anggota suatu organisasi. Sedangkan rencana formal adalah rencana tertulis yang harus dilaksanakan suatu organisasi dalam jangka waktu tertentu. Rencana formal merupakan rencana bersama anggota korporasi, artinya, setiap anggota harus mengetahui dan menjalankan rencana itu. Rencana formal dibuat untuk mengurangi ambiguitas dan menciptakan kesepahaman tentang apa yang harus dilakukan.

Perencanaan, adalah kegiatan-kegiatan pengambilan keputusan dari sejumlah pilihan mengenai sasaran dan cara-cara yang akan dilaksanakan di masa depan guna mencapai tujuan yang diinginkan, serta pemantauan dan penilaian atas perkembangan hasil pelaksanaannya, yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan

2.1.2 Teori Pembangunan

Hakekat pembangunan adalah proses perubahan yang terus menerus yang merupakan kemajuan dan perbaikan menuju ke arah yang ingin dicapai, selanjutnya untuk memberikan ini S.P. Siagian memberikan defenisi sebagai berikut :

Pembangunan adalah suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan berencana yang dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, Negara dan pemerintah menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa.” (Siagian: 13)

Pengertian tersebut menunjukkan bahwa dalam pembangunan itu sendiri terdapat inti pokok-pokok pengertian sebagai berikut :

- Pembangunan adalah merupakan suatu proses, berarti suatu keinginan yang terus menerus dilaksanakan.

- Pembangunan merupakan usaha sadar yang dilakukan.

(8)

- Pembangunan dilaksanakan secara berorientasi pada pertumbuhan dan Perubahan.

- Bahwa modernitas yang dicapai melalui pembangunan itu bersifat multidimensional.

- Bahwa kelima hal tersebut di atas ditunjukkan kepada usaha pembinaan bangsa (Nation Building) yang terus menerus harus silaksanakan dalam rangka pencapaian tujuan bangsa dan Negara yang telah ditentukan sebelumnya.

Selanjutnya dijelaskan oleh Bintoro Tjokroamidjojo Bahwa :

Pembangunan adalah suatu proses dinamis, kebijaksanaan harus memberi peluang kepada kenyataan tetapi harus mengandung kepastian dan kesinambungan bagi pelaksanaan yang fiktif menuju terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan pancasila dengan keridhoan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Pengertian pembangunan seperti yang telah di uraikan pada kutipan tersebut memberikan kejelasan bahwa pembangunan itu adalah proses kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat dengan memanfaatkan potensi yang di milik. Semua itu di maksudkan untuk dapat meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat, baik dari segi kesejahteraan Rohani maupun Jasmani.

Pembangunan sebagai upaya memperbaiki keadaan, dalam arti yang lebih buruk menjadi baik dikemukakan oleh Kirdi dipoyudo bahwa :

Pembangunan nasional adalah rangkaian usaha secara sadar berencana untuk memperbaiki keadaan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan yang meliputi program-program pembangunan yang dilaksanakan secara terus-menerus untuk mencapai tujuan pembangunan nasional.” (Bintoro Tjokrpamidjojo;3-4)

Selain dilihat sebagai upaya memperbaiki keadaan, pembangunan juga dapat dilihat sebagai salah satu jalan untuk mengetahui segala potensi kreatif yang dimiliki oleh masyarakat seperti yang dikemukakan oleh Jakob Oetama sebagai berikut :

(9)

Potensi yang dimiliki masyarakat seringkali terpendam dan untuk membangkitkan kembali harus melalui pembangunan. Potensi yang telah muncul melalui pembangunan tersebut sekaligus merupakan salah satu factor yang dapat memperlancar jalannya roda pembangunan. Potensi-potensi yang dimaksudkan berupa budaya, ekonomi, nilai dan sebagainya.

2.1.3 Teori Infrastruktur

Sampai saat ini belum ada kesepakatan mengenai definisi infrastruktur. Namun secara Bahasa, dalam kamus besar Bahasa Indonesia infrastruktur dapat diartikan sebagai sarana dan prasarana umum. Sarana secara umum di ketahui sebagai fasilitas public seperti rumah sakit, jalan, jembatan, sanitasi, telpon, dsb. Lebih jauh lagi, dalam ilmu ekonomi infrastruktur merupakan wujud dari public capital (modal public) yang di bentuk dari investasi yang di lakukan pemerintah. Infrastruktur dalam penelitian ini meliputi jalan, jembatan, dan sistem saluran pembangunan (Mankiw,2003 : 38). Familoni (2004 : 16) Menyebut infrastruktur sebagai basic essential dalam proses pembangunan.

Definisi lainnya mengenai infrastruktur, yaitu bahwa infrastruktur mengacu pada fasilitas capital fisik dan termasuk pula kerangka kerja organisasi, pengetahuan dan teknologi yang penting untuk organisasi masyarakat dan pembangunan ekonomi mereka. Infrastruktur meliputi undang-undang, sistem pendidikan dan kesehatan public; sistem distribusi dan perrawatan air ; pengumpulan sampah dan limbah, pengolahan dan pembuangannya ; sistem keselamatan public, seperti pemadam kebakaran dan keamanan ; sistem komunikasi, sistem transportasi dan utilitas publik (Tatom 1993 : 24).

(10)

meningkatkan level teknologi. Dengan dibangunna infrastruktur, tingkat produktivitas perusahaan dan sector pertanian akan meningkat. Salah satunya (yang paling nampak) adalah pembangunan jalan (Wyle, 1996 :72)

2.2. LANDASAN NORMATIF

Perencanaan pembangunan dapat diartikan sebagai Suatu proses perumusan alternatif-alternatif atau keputusan-keputusan yang didasarkan pada data-data dan fakta-fakta yang akan digunakan sebagai bahan untuk melaksanakan suatu rangkaian kegiatan/aktivitas kemasyarakatan, baik yang bersifat fisik (material) maupun nonfisik (mental dan spiritual) dalam rangka mencapai tujuan yang lebih baik. Berdasarkan hal tersebut dapat berpedoman pada beberapa peraturan di bawah ini :

Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah mengamanatkan kepada daerah untuk menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Dokumen RPJMD merupakan penjabaran visi, misi, dan program kepala daerah yang berpedoman kepada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) serta memperhatikan RPJM Nasional. Berdasarkan hal tersebut maka Pemerintah Provinsi Papua bersama para pemangku kepentingan sesuai peran dan kewenangan masing-masing menyusun RPJM Papua Tahun 2012-2016 yang merupakan dokumen perencanaan lima tahunan daerah; yang memuat strategi, arah kebijakan, dan program pembangunan daerah berdasarkan kondisi dan potensi daerah di Provinsi Papua.

Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4720);

(11)

2.3. TULISAN TERDAHULU

Penelitian tentang pelaksanaan program pembangunan infrastruktur pernah dilakukan sebelumnya. Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya ini diangkat oleh Arif Wahyu Kristianto, mahasiswa Institute Teknologi Sepuluh November dimana Arif mengangkat tesis yang berjudul “Peningkatan Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Infrastruktur Jalan (Studi Kasus Pelaksanaan Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan (PPIP) di Desa Campurejo Kecamatan Panceng Kabupaten Gresik tahun 2008)”. Penelitian yang dilakukan Arif mengemukakan masalah yang berkaitan dengan kapasitas masyarakat dalam berpartisipasi pada pelaksanaan program pembangunan infrastruktur pedesaan.

Penelitian kedua yang diangkat oleh Benjamin, salah satu staf pengajar jurusan Sosiologi Fisip Universitas Lampung. Judul penelitian Benjamin yang diangkat dalam bentuk jurnal ini yaitu “Revitalisasi Pembangunan Desa Melalui Program Rural Infrastruktur Support Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (RIS PNPM)”. Penelitian ini dilakukan di Provinsi Lampung Kabupaten Pesawaran Kecamatan Kedondong tepatnya di Kota Jawa pada tahun 2009, dalam penelitiannya Benjamin mengemukakan tentang penerapan prinsip-prinsip good governance dalam pelaksanaan program (RIS PNPM) seperti mengenai seberapa besar kapasitas masyarakat dalam berpartisipasi, penerapan transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran oleh OMS. selain itu penelitian ini juga menyoroti masalah keberlanjutan proyek yang dilaksanakan oleh kelompok penerima manfaat (KPP) dalam program (RIS PNPM).

(12)

perencanaan pembangunan daerah yang menyeluruh dan sekaligus selaras dengan perencanaan tata ruang dan wilayah. Tidak dipungkiri bahwa sebagai Daerah Otonom Baru (DOB) sejak tahun 2009, Intan Jaya masih menghadapi tantangan di hampir semua sektor. Terdapat lima persoalan utama yang harus segera diatasi oleh pemerintah daerah. Persoalan tersebut antara lain transportasi, air bersih, energi, pendidikan dan kesehatan.

BAB III

GAMBARAN UMUM LOKASI

3.1. KONDISI GEOGRAFIS PROVINSI PAPUA

Provinsi Papua secara geografis terletak antara garis koordinat 1000’ LU - 9030’ LS dan 1340 BT-141001’ BT, yang berbatasan dengan Samudra Pasifik (Sebelah Utara), Laut Arafura (Sebelah Selatan), Papua Barat (Sebelah Barat) dan Papua Nugini (Sebelah Timur). Provinsi Papua memiliki luas wilayah 317.062 km2 atau 20% dari luas daratan Indonesia. Daratan didominasi oleh pegunungan dan perbukitan dan juga memiliki pulau yang berjejer di sepanjang pesisirnya. Di bagian tengah Papua terdapat pegunungan tengah yang membelah pulau ini menjadi dua yaitu Papua bagian utara dan Papua bagian selatan. Secara Administratif Provinsi Papua terdiri dari 29 wilayah administratif yaitu 1 Kota Jayapura dan 28 kabupaten yaitu Merauke, Jayawijaya, Jayapura, Paniai, Puncak Jaya, Nabire, Mimika, Kepulauan Yapen, Biak Numfor, Boven Digoel, Mappi, Asmat, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Tolikara, Sarmi, Keerom, Waropen, Supiori, Mamberamo Raya, Nduga, Lani Jaya, Mamberamo Tengah, Yalimo, Puncak, Dogiyai, Deyiai, Intan Jaya. Di antara daerah tersebut sebanyak 14 kabupaten (setengahnya) terletak di daerah pegunungan dan 14 kabupaten lainnya terletak di daerah dataran rendah dan pesisir.

Table 3.1 Nama Kabupaten, Ibukota, Luas Wilayah, Jumlah Distrik Dan Kampung/Kelurahan Di Provinsi Papua

Nama Jumlah

Jumlah Luas

No

No Kabupaten/Kota Ibukota Distrik Kampung/ Berdasarkan

(13)

1 Merauke Merauke 20 168 47,406,90

2 Jayawijaya Wamena 11 117 2 331,19

3 Jayapura Sentani 19 142 14 390,16

4 Paniai Enarotali 10 70 20 686,54

5 Puncak Jaya Mulia 8 67 2 446,50

6 Nabire Nabire 14 81 4 549,75

7 Mimika Timika 12 85 2 300,37

8 Kepulauan Yapen Serui 12 111 4 936,37

9 Biak Numfor Biak 19 187 13 017,45

10 BovenDigoel Tanah Merah 20 108 24 665,98

11 Mappi Keppi 10 137 23 178,45

12 Asmat Agats 8 147 24 687,57

13 Yahukimo Dekai 51 518 15 057,90

14 PegununganBintang Oksibil 34 275 14 655,36

15 Tolikara Karubaga 35 514 6 149,67

16 Sarmi Sarmi 10 86 13 965,58

17 Keerom Arso 7 61 9 015,03

18 Waropen Botawa 10 69 5 381,47

19 Supiori Sorendiweri 5 38 634,24

20 Memberamo Raya Burmeso 8 58 28 034,86

(14)

22 Lanny Jaya Tiom 10 143 3 439,79

23 Memberamo Tengah Kobakma 5 59 3 384,14

24 Yalimo Elelim 5 27 3 658,76

25 Puncak Ilaga 8 80 5 618,84

26 Dogiyai Kigamani 10 79 4 522,15

27 Deyiai Tigi 5 30 2 325,88

28 Intan Jaya Sugapa 6 37 9 336,60

29 Kota Jayapura Jayapura 5 39 950,38

Papua 389 3,619 316 553,07

Sumber: BPS Provinsi Papua, 2014

Kondisi geografis Papua sangat unik dibandingkan dengan wilayah Indonesia lainnya, karena sebagian besar merupakan daerah pegunungan terjal dengan sarana transportasi yang masih terbatas, keadaan dan keterbatasan tersebut telah menyulitkan pengembangan perekonomian dan kegiatan masyarakat lainnya seperti pendidikan dan kesehatan.

(15)

(3%).

Namun, pendapatan Provinsi Papua yang besar dan pertumbuhan PDB yang mengesankan tidak diimbangi dengan kinerja yang memadai dalam memerangi kemiskinan dan meningkatkan pembangunan manusia. Pada tahun 2013, Provinsi Papua memiliki IPM terendah di Indonesia (66,25) dibandingkan dengan rata-rata nasional (72,7). Kebijakan nasional untuk memerangi kemiskinan, telah berhasil menurunkan persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan dengan persentase penduduk miskin saat ini 27,80% (BPS, 2014), tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap masyarakat Provinsi Papua yang tetap mencatat tingkat kemiskinan tertinggi, dengan 27,80% penduduk Provinsi Papua hidup di bawah rata-rata nasional (BPS 2014).

(16)

Gambar 3.1. Peta Administratif Provinsi Papua

3.1.1. JENIS KAWASAN DI PROVINSI PAPUAKawasan Terisolir

Provinsi Papua memiliki karakteristik geografis yang beraneka ragam, terdiri dari dataran rendah, rawa-rawa, pesisir, dan pegunungan. Kawasan Pegunungan Tengah merupakan daerah terisolir, karena secara umum hampir sebagian besar wilayah ini belum memiliki aksesibilitas terhadap sumber daya pembangunan, yang menyebabkan terkendalanya kinerja sektor pengembangan infrastruktur dasar, sektor transportasi, sektor pendidikan, dan sektor kesehatan; yang menyebabkan rendahnya pengembangan ekonomi kerakyatan, serta masih tingginya tingkat kemiskinan. Ada pun kabupaten-kabupaten yang berada di kawasan pegunungan tengah yang dikategorikan sebagai wilayah terisolir diantaranya: Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Yalimo, Kabupaten Nduga, Kabupaten Lani Jaya, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Puncak, Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Memberamo Tengah, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Puncak Jaya, dan Kabupaten Yahukimo. Kabupaten-kabupaten ini umumnya mempunyai kondisi topografi maupun geografi yang berbukit terjal, gunung-gunung serta lembah yang curam, juga dataran ngarai yang sulit ditembus melalui transportasi darat, sehingga masih sangat mengandalkan tranportasi udara.

Kawasan Pedesaan

(17)

tengah di Provinsi Papua merupakan daerah perdesaan yang hingga saat ini masih sangat sulit dijangkau dan sebagian besar mengandalkan moda transportasi udara dan sungai untuk mencapainya. Adapun kawasan perdesaan, melingkupi Kabupaten Keerom, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Sarmi, Kabupaten Waropen, Kabupaten Nabire, Kabupaten Merauke, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Asmat, Kabupaten Mappi, Kabupaten Mimika, Kabupaten Biak, Kabupaten Supiori, Kabupaten Kep. Yapen, Kabupaten Mamberamo Raya, Kabupaten Paniai, Kabupaten Dogiyai, dan Kabupaten Deiyai.

Kawasan Perkotaan

Gambaran umum kawasan Perkotaan di Provinsi Papua dengan topografi Provinsi Papua yang begitu beragam kawasan pantai, kawasan pegunungan dan lembah, mempunyai karakteristik tersendiri meliputi karakteristik geografis yang beraneka ragam, terdiri dari dataran rendah, rawa-rawa, pesisir, dan pegunungan. Adapun kawasan perkotaan di Provinsi Papua, meliputi 29 kabupaten/kota yang sekaligus menjadi ibukota kabupaten. Jika dipandang dari sisi kependudukan, komposisi penduduk di kawasan ini bersifat sangat heterogen dan dari sisi penghidupan, yang sudah lebih maju dipandang dari aspek sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan ketersediaan infrastruktur umum.

Kawasan Strategis

(18)

3.2. DOKUMEN PERENCANAAN (RPJPD PROVINSI PAPUA 2005-2025)

Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional menghasilkan RPJP, RPJM dan RKPD. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Papua merupakan hasil integrasi dari Perencanaan Pembangunan Nasional yang disusun secara sistematis, terarah, terpadu, menyeluruh, dan tanggap terhadap dinamika lingkungan, baik skala internasional, nasional, maupun regional. Keterkaitan antar dokumen perencanaan pembangunan dari tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota yang berada di wilayah Papua dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 3.2 Keterkaitan Antar Dokumen Perencaaan

(19)

RPJMD dan mengacu pada RKP, memuat rancangan kerangka ekonomi daerah, prioritas pembangunan daerah, rencana kerja, dan pendanaannya, baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Atas dokumen-dokumen perencanaan dimaksud, SKPD menyusun dokumen perencanaan jangka menengah dan tahunan dalam bentuk Renstra SKPD dan Renja SKPD.

Penyusunan RPJPD Provinsi Papua antara lain didasarkan pada kajian aspek tata ruang yang ada. Selanjutnya, visi dan misi pembangunan jangka panjang ikut menentukan perencanaan tata ruang wilayah provinsi. Sasaran dan arah pembangunan jangka panjang harus dapat diterjemahkan ke dalam perencanaan tata ruang. Berikut ini diagram alur yang memperlihatkan kedudukan RTRW Provinsi Papua dalam kerangka sistem perencanaan pembangunan nasional. Pada gambar di bawah tampak jelas bahwa peran RPJPD sangat penting dalam kaitannya dengan RTRW provinsi dan kedudukannya bagi perencanaan jangka panjang (RPJPD dan RTRW) kabupaten/kota di wilayah Provinsi Papua. Kedua dokumen tersebut menjadi salah satu rujukan utama penyusunan RPJMD.

Gambar 3.3 Hubungan RPJPD dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Papua dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional

(20)

RPJPD Provinsi Papua 2005-2025 ini merupakan merupakan hasil integrasi dari Perencanaan Pembangunan Nasional yang disusun secara sistematis, terarah, terpadu, menyeluruh, dan tanggap terhadap dinamika lingkungan, baik skala internasional, nasional, maupun regional.

Adapun visi, misi dan hal-hal penting yang terdapat dalam RPJPD Provinsi Papua 2005-2025 sebagai berikut

Visi dan Misi VISI

Berpijak pada kondisi Provinsi Papua saat ini, tantangan yang dihadapi dalam 20 tahun mendatang serta memperhitungkan modal dasar yang dimiliki oleh Provinsi Papua, maka Visi Pembangunan Daerah Tahun 2005-2025 adalah :

visi tersebut menekankan bahwa pada akhir periode RPJPD tahun 2025, ingin diwujudkan kemandirian secara sosial, kemandirian secara budaya, kemandirian secara ekonomi, dan kemandirian secara politik bagi Provinsi Papua dengan tetap mengedepankan prinsip-prinsip keberlanjutan. Untuk lebih mudahnya, wujud “Papua yang Mandiri” di tiap bidang dapat dilihat dalam gambar di bawah

Gambar 3.4 Keterhubungan 4 (Empat) Elemen Pokok Visi

Visi tersebut memberi pesan yang jelas bahwa berbagai permasalahan dan isu strategis pembangunan daerah di masa lalu dan masa datang akan terpecahkan manakala kemandirian secara sosial, budaya, ekonomi, dan politik dapat terwujud yang pada akhirnya akan menghantarkan pada kehidupan dan

PAPUA YANG MANDIRI

(21)

kesejahteraan masyarakat Papua yang lebih baik. Papua yang mandiri adalah masyarakat Papua yang mampu mewujudkan kualitas kehidupan yang lebih baik dengan mengandalkan kemampuan dan kekuatan sendiri, berbasis aset alam dan kearifan lokal setiap daerah.

MISI

Misi pembangunan jangka panjang adalah komitmen untuk menyelenggarakan serangkaian pembangunan yang memenuhi perspektif pemangku kepentingan pembangunan Provinsi Papua guna menjamin tercapainya visi pembangunan jangka panjang daerah.

Dalam mewujudkan visi pembangunan Provinsi Papua, ditempuh melalui 5 (lima) misi pembangunan daerah sebagai berikut:

Lima misi di atas dicetuskan sebagai panduan utama pengembangan arah kebijakan pembangunan jangka panjang untuk menjamin tercapainya visi daerah sebagaimana telah dijelaskan di sub-bab sebelumnya.

1. Mewujudkan Kemandirian Sosial adalah meningkatkan kualitas hidup Masyarakat Papua yang sehat, cerdas, berbahagia, dan berinovasi tinggi untuk penguasaan, pemanfaatan, pengembangan, dan penciptaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pembangunan yang adil dan merata . Tujuan penguasaan, pemanfaatan, dan penciptaan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah agar semua orang dapat mengembangkan diri dan berkontribusi sesuai minat dan bakatnya masing-masing, untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat.

2. Mewujudkan Kemandirian Budaya adalah pengembangan kelembagaan adat, agama, dan perempuan, terintegrasi ke dalam sistem formal; pengembangan jati diri masyarakat dan kebanggaan menjadi orang Papua; serta peningkatan budaya berprestasi dan inovatif.

1. Mewujudkan Kemandirian Sosial; 2. Mewujudkan Kemandirian Budaya;

3. Mewujudkan Kemandirian Ekonomi dan Pengembangan Wilayah; 4. Mewujudkan Kemandirian Politik;

(22)

3. Mewujudkan Kemandirian Ekonomi adalah peningkatan pemenuhan kecukupan kebutuhan dan kualitas hidup masyarakat Papua yang berbasis pada kekuatan lokal; peningkatan pembangunan infrastruktur yang membantu memenuhi kecukupan kebutuhan secara lokal; pemenuhan kebutuhan berbasis aset alam lokal secara berkelanjutan pengelolaan dan penataan ruang dan wilayah yang dirancang berdasarkan daya dukung serta peruntukan ruang yang telah disepakati bersama; tercapainya peningkatan dan pemerataan akses dan kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat; pengelolaan aset alam secara mandiri, berkelanjutan dan bertanggungjawab.

4. Mewujudkan Kemandirian Politik adalah peningkatan peran masyarakat yang demokratis; Peningkatan kualitas aparatur sebagai fasilitator/ mediator pembangunan; Peningkatan kesadaran dan komitmen masyarakat dalam menjaga keutuhan bangsa berdasarkan hukum; implementasi kelembagaan dan hukum adat ke dalam sistem formal.

(23)

berbasis budaya asli Papua dan sumberdaya lokal, sehingga mudah diterapkan oleh masyarakat asli Papua di kampung-kampung, serta merealisasikan kewenangan, peran dan tanggung jawab orang asli Papua dalam pengambilan keputusan untuk mengatur dan mengurus diri sendiri dalam kerangka NKRI.

RPJMD sebagai dokumen perencanaan lima tahunan merupakan penjabaran RPJPD yang memiliki kurun waktu 20 tahun. RPJMD selanjutnya dijabarkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) yang merupakan perencanaan tahunan dan menjadi pedoman dalam penyusunan Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD) Pemerintah Provinsi Papua

RPJMD Provinsi Papua 2013-2018 merupakan dokumen perencanaan pembangunan 5 (lima) tahun ke depan. Dengan demikian, substansi materi di dalamnya harus mengacu dan mengarah bagi terwujudnya tujuan pembangunan yang telah ditetapkan dan diselaraskan dengan tujuan dan arah pembangunan Provinsi Papua yang tertuang dalam dokumen perencanaan lainnya termasuk dalam kebijakan pemanfaatan ruang, baik kebijakan struktur ruang maupun pola ruang. Hubungan antar dokumen perencanaan dapat dilihat melalui gambar berikut :

(24)

Sesuai dengan yang tercantum dalam RPJPD Papua 2005-2025, RPJMD periode ketiga 2013-2018 penekanan pembangunannya ditujukan untuk lebih memantapkan pembangunan Provinsi Papua secara menyeluruh di berbagai bidang dengan menekankan pada upaya-upaya pencapaian daya saing yang tinggi dan kompetitif berlandaskan keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan ilmu dan teknologi yang terus meningkat.

Visi RPJM Daerah Papua 2013-2018 adalah ”PAPUA BANGKIT, MANDIRI, DAN SEJAHTERA DISELIMUTI DENGAN PRINSIP KASIH MENEMBUS PERBEDAAN.” Dalam mewujudkan visi tersebut, Provinsi Papua berfokus pada lima misi, yaitu:

1. Mewujudkan suasana aman, tentram, dan nyaman bagi seluruh masyarakat di papua dalam kedaulatan NKRI.

2. Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, bersih dan berwibawa serta penguatan otonomi khusus.

3. Mewujudkan sumberdaya manusia papua yang sehat, berprestasi dan berakhlak mulia.

4. Pengembangan dan peningkatan taraf ekonomi masyarakat yang berbasis potensi lokal.

5. Percepatan konektivitas pembangunan infrastruktur dan konektivitas antara kawasan dan antar daerah dengan mengedepankan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.

Berdasarkan poin misi ke-5, percepatan konektivitas infrastruktur antar daerah masih menjadi prioritas rencana pembangunan sehingga baik di RPJPD maupun RPJMD terdapat penekanan pada perbaikan infrastruktur jalan.

(25)

Berdasarkan kondisi dan situasi yang berkembang di Provinsi Papua hingga saat ini, tim penulis mengangat isu strategis terkait Permasalahan Pembangunan insfrastruktur jalan di Provinsi Papua,

Infrastruktur transportasi berupa jalan, jembatan, pelabuhan udara, pelabuhan laut/sungai merupakan kunci untuk membuka keterisolasian suatu wilayah untuk mendukung terjadinya pembangunan wilayah. Selain itu, infrastruktur pendukung seperti listrik, air bersih, dan telekomunikasi juga sangat diperlukan untuk mendukung kegiatan atau aktivitas masyarakat di berbagai bidang.

Permasalahan di bidang infrastruktur yang dihadapi oleh pemerintah maupun masyarakat Papua antara lain adalah:

1. Jaringan jalan masih terbatas dan belum menjangkau hingga ke pusat-pusat permukiman masyarakat.

2. Jaringan transportasi darat, udara, maupun laut/sungai belum mencukupi untuk mendorong kegiatan ekonomi lokal serta kebutuhan pelayanan pendidikan dan kesehatan.

3. Fasilitas listrik, air bersih, dan telekomunikasi belum menjangkau seluruh wilayah.

4. Panjang jalan dengan kondisi baik masih rendah.

5. Indeks kemahalan yang sangat tinggi untuk membangun infrastruktur karena sumber material masih harus didatangkan dari luar Papua.

 Program Kerja (Program Pekerjaan Umum;Infrastruktur Jalan) a) penyediaan 750.000 unit rumah rakyat sehat dan layak huni; b) pembangunan dan pengembangan infrastruktur makro; c) pembangunan irigasi dan pencetakan sawah;

d) peningkatan ketersediaan dan keterjangkauan air bersih di seluruh wilayah;

e) pembangunan dan peningkatan lapangan udara; f) peningkatan frekuensi penerbangan udara perintis;

(26)

i) pembangunan dan peningkatan pelabuhan laut; j) pembangunan pelabuhan perikanan;

k) penyediaan sumber energi alternatif terbarukan (PLTMH, PLTS); l) peningkatan jaringan distribusi PLN;

m) pembangunan PLTA Memberamo;

n) pembangunan PLTA Sungai Yawei di Urumuka;

o) pemanfaatan potensi sumberdaya mineral bagi kesejahteraan masyarakat p) peningkatan aksesibilitas komunikasi di wilayah

terisolir/terpencil/perbatasan negara;

q) peningkatan keterjangkauan informasi seluler melalui kerjasama operator seluler (swasta);

r) peningkatan pelayanan melalui pemberian izin kepada swasta di bidang penerbangan.

BAB IV ANALISIS 4.1. ASPEK TEORI

Perencanaan pembangunan merupakan tugas pokok dalam administrasi atau manajemen pembanguan. Perencanaan diperlukan karena kebutuhan pembangunan lebih besar daripada sumber daya yang tersedia. Melalui perencanaan ingin dirumuskan kegiatan pembangunan yang secara efisien dan efektif dapat memberi hasil yang optimal dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia dan mengembangkan potensi yang ada. Ginandjar Kartasasmita (1997 : 48).

UU RI No. 25 Tahun 2004 tentang SPPN mengatur tentang ruang lingkup perencanaan pembangunan terdiri dari :

a. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) untuk 20 tahun; b. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) untuk 5

tahun; dan

c. Rencana Kerja Pemerintah untuk 1 tahun.

(27)

pembangunan daerah adalah bagaimana melakukan proses pengelolaan sumberdaya atau potensi yang dimiliki dalam upaya pencapaian kemajuan perekonomian daerah. Pencapaian keadaan yang diharapkan ini tentunya akan dihadapkan pada berbagai permasalahan fundamental yang dihadapi dimana dalam mengatasinya sangat ditentukan oleh strategi dan kebijakan pembangunan yang dipilih. Disamping pengelolaan sumberdaya atau potensi yang dimiliki, analisis yang tepat berkaitan dengan sumberdaya dan potensi yang dimiliki dan menterjemahkannya kedalam rumusan strategi dan kebijakan yang tepat memungkinkan daerah untuk melakukan pembangunan sesuai dengan visi dan misi yang telah ditetapkan daerah kedepan. Kondisi ini membawa konsekuensi bagi pemerintah daerah melalui perannya dalam fungsi koordinasi, regulasi dan stimulasi pembangunan agar mampu merumuskan model pengembangan daerah yang tepat berdasarkan kondisi wilayahnya. Blakely (1989) dalam Kuncoro (2004:110).

Pembangunan infrastruktur merupakan suatu strategi dalam penyediaan sarana yang utama untuk itu seperti diungkapkan dalam Infrastruktur Indonesia (Kadin Indonesia-Jetro, 2006) yaitu Prinsip Dasar Penyediaan Infrastruktur Secara Keseluruhan antara lain:

Infrastruktur merupakan katalis bagi pembangunan. Ketersediaan infrastruktur dapat meningkatkan akses masyarakat terhadap sumberdaya sehingga dapat meningkatkan produktifitas dan efisiensi dan pada akhirnya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Hampir dalam semua aktifitas masyarakat dan pemerintah, keberadaan infrastruktur merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan sudah menjadi kebutuhan dasar.

(28)

dalam pengelolaan atau pemeliharaan serta memberi arahan dalam bentuk segulasi sebagai bentuk layanan publik dan (e) Dalam konteks privatisasi, investasi infrastruktur perlu mempertimbangkan minat investor, tujuan yang dikehendaki investor, syarat-syarat investasi dan insentif bagi investor

Perencanaan kebutuhan infrastruktur harus dilakukan melalui kombinasi antara perencanaan yang digagas pemerintah pusat dengan yang digagas pemerintah daerah. Seiring dengan diimplementasikannya desentralisasi fiskal dan diberikannya kewenangan yang lebih luas bagi daerah, setiap daerah diharapkan mampu lebih mengembangkan potensi daerahnya. Oleh karena itu pembangunan yang dilakukan di daerah harus didasarkan pada kebutuhan daerah masing-masing. Dalam hal ini, pembangunan infrastruktur yang sesuai dengan kebutuhan daerah diharapkan mampu meningkatkan perekonomian daerah tersebut dan daerah sekitarnya. Untuk itu perlu kerangka pembangunan yang digagas pemerintah daerah, disamping kerangka model yang digagas pemerintah pusat yang selama ini digunakan. Yang dimaksud dengan adanya perencanaan yang digagas pemerintah daerah adalah terdapat rencana indikasi kebutuhan infrastruktur secara lokal dan regional, sehingga perencanaan tersebut ditentukan oleh pemerintah daerah berdasarkan kebutuhan daerah

Keberhasilan kerjasama Pemerintah dan Swasta memerlukan kondisi yang harus dipenuhi, yaitu: (a) Stabilitas kerangka ekonomi makro; (b) Sektor keuangan yang efisien dan berkembang; (c) Kerangka kebijakan yang mantap; (d) Penerimaan proyek yang berkelanjutan; (e) Adanya mekanisme arbitrase atau penyelesaian penyelisihan yang jelas; (f) Undang-Undang perbankkan yang berkembang dengan baik dan (g) Adanya investasi pendamping dari pinjaman pemerintah/ekuitas/subsidi (Kewajiban Sektor publik).

(29)

Jadi, Infrastruktur sebagai sistem yang dikaitkan dengan unsur yang berada di dalam suatu sistem ruang dan kegiatan, memiliki peran penting terhadap perubahan kemakmuran wilayah dan kesejahteraan masyarakat. Peran infrastruktur terhadap perkembangan wilayah dan kota memiliki kontribusi yang sangat signifikan, baik pada aspek perekonomian, sosial-kemasyarakatan, maupun kelestarian lingkungan. Akan tetapi arah kebijakan pembangunan sistim infrastruktur yang berlangsung saat ini belum menunjukan hasil yang memadai untuk memerankan fungsinya sebagai pengarah dan pendorong pembangunan.

(30)

Maka sistem infrastruktur menjadi pendukung utama dalam sistem sosial dan sistem ekonominya oleh karena itu setiap perancangan masing-masing sistem infrastruktur maupun keseluruhannya harus dilakukan dalam konteks keterpaduan dan menyeluruh. Setiap kegiatan selalu terkait pada wilayah. Setiap kegiatan usaha selalu memanfaatkan (menempati dan bergerak) dalam ruang wilayah tertentu. Kesemuanya mungkin terjadi karena kesesuaian flora atau faunanya, mungkin karena kesesuaian tanahnya ataupun mineral yang terkandung didalamnya, atau mungkin untuk meletakkan sarana ataupun prasarana disuatu wilayah sebagai konsekuensi pemberian fungsi tertentu pada wilayah tersebut. (Adisasmita (2005:115)

4.2. ASPEK NORMATIF

(31)

infrastruktur. Pengembangan jaringan jalan hanya difokuskan untuk memenuhi kebutuhan aksesibilitas dari sentra-sentra produksi ke sentra-sentra distribusi.

Seiring dengan pelaksanaan UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua, aktivitas pembangunannya juga semakin berkembang. Olehnya itu terbatasnya ketersediaan pelayanan transportasi di Provinsi Papua merupakan kendala terbesar bagi pembangunan tersebut sehingga diperlukan suatu komitmen dan rencana pembangunan infrastruktur transportasi yang diharapkan mempercepat pengembangan wilayah tersebut secara terpadu.

Fenomena kesenjangan yang terjadi di dunia maupun wilayah Indonesia, juga terjadi di wilayah Provinsi Papua. Kesenjangan antar wilayah terutama dapat dilihat dengan tertinggalnya Wilayah Pegunungan Tengah Papua dengan wilayah lainnya, terutama dengan pesisir Pantai Utara Papua. Diidentifikasi masih terdapat 14 (empat belas) titik/kawasan terisolir, dimana pembangunan belum menyentuh sama sekali. Di samping itu masih terdapat kawasan perbatasan maupun pulau-pulau kecil dan terluar NKRI yang kondisinya masih sangat tertinggal.

Pemekaran wilayah provinsi dan kabupaten/kota di Provinsi Papua yang hingga kini telah mencapai 29 Kabupaten/Kota dengan rencana penambahan 3 (tiga) Kabupaten/Kota pada tahun 2010 ini berimplikasi terhadap pelaksanaan kebijakan pembangunan dimana terjadi pengembangan pusat-pusat kegiatan/perkotaan maupun jaringan prasarana yang cukup pesat di wilayah Provinsi Papua.

Permasalahan utama lain yang harus dihadapi ialah keterbatasan infrastruktur sehingga mengakibatkan rendahnya aksesibilitas wilayah dan keterisolasian wilayah. Salah satu kebijakan Pemerintah untuk mengatasi keterbatasan aksesibilitas dan keterisolasian adalah melalui pembangunan transportasi baik darat, laut, udara maupun transportasi alternatif lainnya seperti sungai dan angkutan penyeberangan.

(32)

fungsional serta interaksi antara kegiatan yang dilakukan terutama kebutuhan ruang akan pembangunan infrastruktur. Akan tetapi kebutuhan akan fasilitas infrastruktur seringkali dilakukan tanpa memperhatikan daya dukung ruang suatu wilayah.

Sebenarnya Pemerintah telah menyiapkan perangkat sistem perencanaan pembangunan sebagai pedoman dan instrumen perencanaan yang apabila dilaksanakan secara konsisten akan mendukung pengambilan keputusan bagi pelaksanaan pembangunan. Namun kenyataan tidaklah demikian. Dalam penyusunan perencanaan pembangunan di Provinsi Papua sering tidak mempertimbangkan intrumen kebijakan perencanaan pembangunan yang telah disusun.

Pembangunan infrastruktur yang lebih banyak memanfaatkan ruang dalam mengimplementasikan kegiatannya seringkali tidak memperhatikan arahan struktur ruang yang telah diatur dalam dokumen tata ruang yang seperti pembangunan jalan yang melintasi daerah hutan lindung, pembangunan pelabuhan dan bandara yang dilakukan dengan menebang hutan bakau yang mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan.

Aspek Normatif yang dibutuhkan adalah sebagai berikut: a. Dokumen Perencanaan, yaitu :

- RPJPN Nasional/RPJP Provinsi - RPJM Nasional/RPJMD Provinsi - RTRW Nasional/RTRW Provinsi - RTR Tanah Papua

- Renstra Dinas PU dan Dinas Perhubungan Provinsi b. Peraturan Perundangan

- UU RI No. 21 Tahun 2001 tentang Otsus bagi Provinsi Papua - UU RI No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah - UU RI No. 25 Tahun 2004 tentang SPPN

- UU RI No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

(33)

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Papua Tahun 2015 merupakan pelaksanaan tahap IV dari RPJMD Provinsi Papua Tahun 2013 – 2018 sebagai salah satu rangkaian tahapan pembangunan dalam upaya pencapaian visi Provinsi Papua yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Papua Tahun 2013 – 2018 yaitu : “Papua Bngkit, Mandiri dan Sejahtera diselimuti dengan Prinsip Kasih Menembus Perbedaan “.

Memperhatikan visi dan misi tersebut, maka tujuan, sasaran dan strategi pembangunan Provinsi Papua Tahun 2015 sebagaimana tercantum dalam RPJMD Provinsi Papua 2013 – 2018, maka di dalamnya menjabarkan tentang Meningkatnya pembangunan infrastruktur jalan yang hanya Sehubungan dengan visi dari Provinsi Papua maka pembangunan insfrastruktur jalan harus dilakukan secara optimal. Pembangunan insfrastruktur jalan merupakan program jangka panjang dan tidak lepas dari upaya pembangunan papua untuk mensejahterahkan masyarakat setempat.

Berdasarkan RPJPD Provinsi Papua tahun 2005-2025 pembangunan infrastruktur khususnya jalan raya masih dalam tahap pembangunan, apalagi dilihat dari berbagai kabupaten yang memiliki kontur wilayah yang berbeda-beda sehingga konsistensi penyelesaian pembangunan jalan pun berbeda-beda. Seperti daerah pesisir dan daerah pegunungan. Tahapan peyelesaian pembangunan jalan poros di daerah pesisir lebih cepat terselesaikan dibanding dengan daerah pegunungan (Papua Tengah) hal ini disebabkan karena sulitnya alat berat menuju lokasi pembangunan, serta bahan-bahan yang datang menuju daerah yang bersangkutan mengalami kesusahan akses. Waktu yang direncanakan penyelesaian pun tidak sesuai dengan yang diharapkan.

(34)

Visi RPJM Daerah Papua 2013-2018 adalah ”PAPUA BANGKIT, MANDIRI, DAN SEJAHTERA DISELIMUTI DENGAN PRINSIP KASIH MENEMBUS PERBEDAAN.” Dalam mewujudkan visi tersebut, Provinsi Papua berfokus pada lima misi, yaitu:

1. Mewujudkan suasana aman, tentram, dan nyaman bagi seluruh masyarakat di papua dalam kedaulatan NKRI.

2. Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, bersih dan berwibawa serta penguatan otonomi khusus.

3. Mewujudkan sumberdaya manusia papua yang sehat, berprestasi dan berakhlak mulia.

4. Pengembangan dan peningkatan taraf ekonomi masyarakat yang berbasis potensi lokal.

5. Percepatan konektivitas pembangunan infrastruktur dan konektivitas antara kawasan dan antar daerah dengan mengedepankan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.

Berdasarkan poin misi ke-5, percepatan konektivitas infrastruktur antar daerah masih menjadi prioritas rencana pembangunan sehingga baik di RPJPD maupun RPJMD terdapat penekanan pada perbaikan infrastruktur jalan.

Dalam kondisi Provinsi Papua saat ini, ada berbagai hal yang dapat menjadi dasar perencanaan pembangunan khususnya belajar dari kegagalan pembangunan di daerah lain dan dengan tekad untuk mencapai keberhasilan pembangunan jangka panjang yang tetap menjaga kelestarian lingkungan Papua.

Infrastruktur transportasi berupa jalan, jembatan, pelabuhan udara, pelabuhan laut/sungai merupakan kunci untuk membuka keterisolasian suatu wilayah untuk mendukung terjadinya pembangunan wilayah. Selain itu, infrastruktur pendukung seperti listrik, air bersih, dan telekomunikasi juga sangat diperlukan untuk mendukung kegiatan atau aktivitas masyarakat di berbagai bidang.

4.4. IMPLEMENTASI

(35)

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Dan Transmigrasi (PDT), masih terdapat sekitar 183 kabupaten yang dikategorikan Daerah Tertinggal di Indonesia. Daftar yang sudah dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 tersebut, sebagian besarnya, sekitar 70%, berada di kawasan Timur Indonesia.

Berpatokan dari Visi-Misi Nawacita yang merupakan Misi dari presiden terpilih Jokowi-JK sudah jelas mengenai pembangunan kawasan Timur Indonesia. Komitmen itu adalah untuk “melakukan pemerataan pembangunan antar wilayah: antara Jawa dengan luar Jawa, antara wilayah Indonesia Barat dengan wilayah Timur Indonesia, antara Kota dengan Desa.” Perimbangan pembangunan kawasan, dilakukan antara lain, dengan “meningkatkan pembangunan berbagai fasilitas produksi, pendidikan, kesehatan, pasar tradisional dan lain-lain di pedesaan, daerah terpencil dan tertinggal.”

Provinsi Papua kini tengah membangun. Kemajuan pembangunannya pun dapat dirasakan dari pesatnya perkembangan sektor swasta seperti mal-mal yang dibangun di Manokwari, Sorong, dan Jayapura, akan tetapi sektor penting seperti infrastruktur jalan seolah terlupakan. Membangun ibukota provinsi, namun kabupaten pedalaman seolah terlupakan. Tetapi hal ini juga tidak boleh disalahkan sebab akses menuju daerah pedalaman tersebut sulit untuk dijangkau, terlebih kontur tanah papua mudah goyang terlebih jika dilalui oleh alat berat seperti eskavator, bulldozer dan sejenisnya. Terlebih lagi, uang negara yang masuk ke wilayah ujung Indonesia ini pada tahun 2012-2013 mencapai Rp 41 triliun, hanya saja sudah menjadi rahasia umum bahwa cara pengelolaannya masih banyak yang kurang.

(36)

ketiga PT Lince Romauli Raya dalam menseriusi pelaksaan kerja di lapangan. Salah satu warga Distrik Wandai menjelaskan, hampir dua bulan berjalan pekerjaan jalan oleh PT Lince hanya sebatas melakukan pelebaran, pembersihan dan pembuatan parit di beberapa titik jalan di Distrik Wandai. “Dimana titik jalan tersebut, sedang ditangani oleh perusahan lain”. Dugaan overlap pekerjaan tersebut semakin menguat dengan adanya patok di titik jalan yang di bersihkan oleh pekerja proyek PT Lince Romauli Raya. Temuan itu, bertolak belakang dengan data LPSE Provinsi Papua. Setelah tender pekerjaan dimenangkan oleh PT Lince, tercatat penandatangan kontrak kerja tanggal 7 November 2014. Sementara data dilapangan PT Lince memulai pekerjaan sejak akhir September 2015 lalu. Kepala Kampung Bebasija Distrik Wandai, Timotius Holombau mengatakan, seharusnya PT Lince mulai menggarap pembukaan jalan dari ujung kampung Gepeloh menuju Erotali Kabupaten Paniai. Namun, alasan sulitnya menjangkau titik lokasi proyek untuk pengiriman alat berat, menyebabkan pelaksanaan kerja tertunda. Sehingga Pekerjanya masih tunggu alat berat, jadi sambil menunggu mereka bikin parit, pelebaran dan bersihkan jalan. Hanya saja, itu bukan menjadi alasan bagi kontraktor untuk tidak menuntaskan pekerjaan, apalagi ini sudah masuk semester kedua dan parahnya mereka kerja diatas pekerjaan PT lain. Terlapas dari informasi warga, Ketua DPRD Intan Jaya, Marthen Tipagao turut mempertanyakan kelanjutan proyek pembangunan jalan tersebut. Apalagi untuk proyek itu, kata Marthen pihak perusahan telah mendapat uang muka sebesar 15 persen. Dengan alokasi dana yang terbilang besar tersebut harusnya hingga Oktober 2015 telah ada hasil dari pekerjaan proyek itu, namun ternyata fisik dilapangan nihil alias belum ada satupun pembangunan infrastrukur jalan yang selesai di kerjakan. Ketua DPRD tersebut mengatakan

Memang ada perusahan baru di Distrik Wandai tapi saya tidak pernah lihat ada aktifitas, saya tidak lihat ada alat berat, lantas selama dua bulan ini mereka kerja apa.

(37)

Kalaupun pekerjaan mereka berakhir hingga Desember 2016, harusnya telah ada realisasi fisik 50 persen yang diselesaikan, tapi kenyataannya tidak ada. Untuk itu, Pemerintah harus segera mengambil sikap, jika perusahan itu tidak bisa kerja serahkan pekerjaan itu kepada perusahan lain yang bias bertanggung jawab

Sementara itu, pihak Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Papua belum berhasil dikonfirmasi. Dari Pihak PT Lince sendiri, hingga saat ini belum dapat dihubungi dikarenakan belum ada kejelasan alamat kantor cabang di Papua dan pihak yang bertanggung jawab dilapangan.

Kasus diatas semakin membuka tabir bahwa pembangunan jalan yang seharusnya mampu mensejahterahkan rakyat, malah hanya mensejahterahkan orang licik yang bermain diatas dokumen.

Tahun 2016 ini, keseriusan pemerintah dalam percepatan pembangunan infrastruktur di Papua merupakan perwujudan janji Nawacita Presiden Jokowi untuk membangun Indonesia dari pinggiran program pembuatan jalan di Papua sudah memasuki tahap pembukaan hutan. Sebagai realisasinya, pembangunan jalan trans papua yang sudah tersambung mencapai 3.498 km, dengan kondisi jalan aspal mencapai 2.075 km dan sisanya masih berupa tanah. Sedangkan jalan yang belum tersambung mencapai 827 km. Presiden Jokowi menargetkan infrastruktur Trans-Papua paling lambat sudah dapat tersambung sekitar empat tahun dari sekarang. (2019) kata Presiden Jokowi saat melakukan kunjungan kerja di Jayapura, Sabtu, 9 Mei 2015 yang lalu.

(38)

dan Papua Barat (Trans-Papua), diperkirakan mencapai Rp12,5 triliun. Pemerintah juga menganggarkan dana untuk pembangunan fasilitas Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 senilai Rp10 triliun. Selain itu, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2016, pemerintah telah menganggarkan dana otonomi khusus untuk Papua dan Papua Barat sebesar Rp7,7 triliun, ditambah dengan dana tambahan pembangunan infrastruktur sebesar Rp1,8 triliun. Dengan anggaran yang cukup besar dan maraknya pembangunan di Papua di berbagai bidang, maka dampak yang diharapkan pemerintah adalah berakhirnya kesenjangan antar kabupaten di Papua. Konektivitas yang tercipta tidak semata-mata akan menguntungkan secara ekonomi, tapi lebih dari itu pelayanan publik melalui berbagai program di bidang pendidikan dan kesehatan tentu akan lebih optimal.

Tugas pemerintah selanjutnya adalah memastikan masyarakat Papua turut berpartisipasi dan menjadi subyek dalam setiap pembangunan yang terjadi, termasuk dalam aliran arus investasi dan pembangunan industri di Papua. Sehingga nilai tambah yang tercipta dalam proses pembangunan di Papua akan dinikmati pertama-tama oleh masyarakat Papua sendiri.

(39)

Kabupaten Waropen dan juga terdapat lapangan terbang Bottawa yang telah diresmikan penggunaanya. Pembangunan jalan ini dapat mendorong percepatan pembangunan di sektor lainnya seperti kesehatan, pendidikan dan perekonomian masyarakat. Selain itu, pembangunan jalan ini juga bisa membantu pemerataan penduduk serta menyelamatkan lingkungan khususnya daerah pesisir pantai dari ancaman abrasi pantai. Diakuinya ancaman abrasi sudah ada di depan mata akibat maraknya pengambilan material pasir oleh warga di sepanjang pesisir pantai. Namun dengan adanya pembangunan jalan trans Waren-Bottawa ini, masyarakat tidak lagi mengambil pasir di daerah pesisir pantai tetapi pada lahan sudah disiapkan di sekitar jalan trans Bottawa untuk pengambilan material tersebut.

Tidak dioungkiri bahwa telah banyak daerah di provinsi Papua yang sementara melakukan perbaikan dan pembangunan, sehingga keselarasan dokumen penyelenggaraan pembangunan antara pusat, daerah provinsi, dan daerah kabupaten/kota dapat terwujud.

Tujuan Penyesuaian RPJM Daerah dengan RPJM Nasional 2015- 2019:

1. Menjaga konsistensi dan sinegitas sasaran dan arah kebijakan pembangunan yang tertuang dalam RPJMN 2015-2019 menjadi prioritas dalam RPJMD terkait.

2. Meningkatkan koordinasi dan kesepahaman dalam rangka mencapai sasaran pembangunan nasional

Rencana pembangunan Daerah dikoordinasikan, disinergikan, dan diharmonisasikan oleh Perangkat Daerah yang membidangi perencanaan pembangunan Daerah 18 Sumber: Pasal 260 UU 23/2014

RPJPD, RPJMD, dan RKPD dapat diubah apabila berdasarkan hasil pengendalian dan evaluasi tidak sesuai dengan perkembangan keadaan atau penyesuaian terhadap kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat Dasar Hukum Perubahan RPJMD untuk harmonisasi terhadap RPJMD

(40)

Namun, mau mengevaluasi apa jikalau kondisi riil di lapangan belum menunjukkan perubahan sesuai dokumen perencanaan yang dimaksud.

BAB V PENUTUP 5.1. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penulisan ini, maka kesimpulan yang diperoleh adalah  Terjalin harmonisasi dokumen perencanaan dari RPJPD Provinsi Papua,

RPJMD Provinsi Papua hingga RKPD Dinas Pekerjaan Umum dalam pembangunan infrastruktur jalan di Provinsi Papua, namn yang menjadi masalah adalah ketidakkonsistenan pemerintah daerah kabupaten/kota di Provinsi Papua untuk melaksanakan pembangunan yang tetap berfokus pada dokumen perencanaan

(41)

topografi wilayah papua yang berbukit dan sulit untuk dijangkau sehingga alat berat yang akan digunakan untuk membangun jalan sulit untuk didatangkan, selain itu jenis tanah di papua juga menjadi factor penghambat pembangunan infrastruktur jalan. Namun, yang menjadi masalah utama adalah proses pembayaran uang untuk pembukaan lahan trans papua masih menjadi tugas pemerintah daerah dalam menyeragamkan harga ditiap-tiap daerah

 Ada berbagai macam upaya yang dilakukan pemerintah pusat maupun daerah dalam pembangunan infrastruktur jalan di Provinsi Papua. Salah satunya adalah dengan mengucurkan dana untuk pembangunan jalan trans papua sehingga dengan usaha yang dilakukan akan memberikan dampak pada kehidupan masyarakat papua. Tiap-tiap pemerintah daerah memiliki APBD yang berbeda-beda sehingga kualitas pembangunan jalan di tiap-tiap daerah pun menjadi masalah.

5.2. REKOMENDASI

Pembangunan insfrastruktur di papua masih menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, ini terlihat dari besarnya kucuran dana yang menjadi dana perimbangan dari pusat ke daerah. Namun ini juga menjadi bukti bahwa pemerintah daerah Papua dirasa belum mampu mengatasi hal ini.

Diharapkan, dengan seriusnya perhatian pemerintah daerah dengan pembangunan jalan yang tercermin dalam RPJPD dan RPJMD menjadi sebuah platform bagi tiap-tiap kepala daerah untuk berlomba-lomba menjalankan perencanaan yang telah dibuat dalam dokumen perencaaan ini.

Gambar

Gambar 3.2 Keterkaitan Antar Dokumen Perencaaan
Gambar 3.3 Hubungan RPJPD dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi
Gambar 3.4 Keterhubungan 4 (Empat) Elemen Pokok Visi
Gambar 3.5 Hubungan Antar Dokumen RPJMD dengan Dokumen

Referensi

Dokumen terkait

Perihal : Pengadaan Langsung untuk Paket pekerjaan konstruksi Pembangunan Talang dan Bak Air pada Kantor Dinas Kependudukan, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Papua Barat..

penyediaan prasarana dan sarana air bersih;.. RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2013 - 2018 VII ‐ c) Infrastruktur Jalan dan Jembatan, dengan fokus pembangunan,.. peningkatan

Berdasarkan penelitian ini menunjukkan bahwa penyusunan perencanaan pembangunan desa (RPJMD dan RKPD) pada desa-desa di Kecamatan Siau Timur sudah dilakukan sesuai

Perencanaan dan Pembangunan Jaringan Irigasi merupakan salah satu program / kegiatan Dinas Pekerjaan Umum Bidang Sumber Daya Air Provinsi Kalimantan Timur untuk

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peranan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) dalam melakukan perencanaan pembangunan infrastruktur jalan

Pembangunan infrastruktur Pekerjaan Umum sesuai dengan RPJMD dan Renstra Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Karimun Tahun 2012 – 2016 memiliki tiga tujuan dan sasaran yang

sdg berjalan 1.01.03.1.03.1.14.04 Pembangunan /Rehabilitasi sarana Infrastruktur saluran Irigasi pada area perkebunan Tanaman Tembakau DBHCT kab.. sdg berjalan RKPD: DINAS PEKERJAAN

Penyusunan Sasaran dan Prioritas pembangunan daerah pada RKPD Semesta Berencana Provinsi Tahun 2021 disusun mengacu pada sasaran pada Perda RPJMD Semesta Berencana Provinsi Bali Tahun