Briansyah Sujarwo Putro (105120400111044)
Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya Jalan Veteran, Malang, 65145, Indonesia
E-mail: [email protected]
Abstraksi
Kebijakan China yang meratifikasi kerjasama ECFA (Economic Cooperation Framework Agreement) bersama Taiwan pada tahun 2010 menjadi sebuah transformasi awal bagi terciptanya perbaikan hubungan lintas selat. Menariknya, didalam kerjasama ekonomi ECFA tersebut, pihak China justru tidak mendapatkan keuntungan yang bersifat resiprokal dibandingkan dengan apa yang Taiwan dapatkan. Didalam draft ECFA yang telah disepakati diantara pemerintah China dan Taiwan, dijelaskan bahwasanya pihak China telah bersedia menurunkan tarif impor 539 jenis barang yang berasal dari Taiwan dan sebaliknya, Taiwan melalui kesepakatannya hanya menurunkan tarif impor 267 jenis barang dari China. Meskipun kesepakatan ECFA tidak memberikan keuntungan yang bersifat resiprokal bagi China, namun secara politis, kerjasama ECFA merupakan sebuah strategi awal bagi China untuk dapat mencapai kepentingan nasionalnya di wilayah Taiwan melalui skema kerjasama integrasi ekonomi. Mengingat semenjak tahun 1949 Taiwan telah menjalin aliansi dengan Amerika Serikat melalui TRA (Taiwan Relations Act), maka penggunaan instrumen ekonomi sebagai alat untuk mencapai kepentingan politik luar negeri China di wilayah Taiwan merupakan salah satu langkah yang sangat strategis dibandingkan dengan menggunakan tindakan militerisasi untuk menekan Taiwan. Hal tersebut dikarenakan China tidak ingin mengambil resiko dengan menentang status quo diwilayah Taiwan secara langsung melalui tindakan ofensif, sehingga upaya perimbangan kepentingan China di wilayah Taiwan dilakukan melalui jalur-jalur secara damai, salah satunya melalui kerjasama ekonomi ECFA.
Kata kunci: Perimbangan kepentingan,integrasi ekonomi, ECFA, hubungan lintas selat
Abstract
foreign policy interests in Taiwan rather than using the military option to suppress Taiwan . Because China does not want to take a risk challenging the Taiwan region’s status quo through the offensive action directly, so that the efforts of balancing its interests in Taiwan is being done through the arbitration steps, one through ECFA.
Keywords : Balance of interests , economic integration , ECFA , cross-strait relations
1. Latar Belakang Masalah
Kebijakan China pada tanggal 29 Juni tahun 2010, yang menyetujui perjanjian kerangka kerjasama ekonomi ECFA (Economic Cooperation Framework Agreement) bersama Taiwan menjadikan peristiwa bersejarah bagi kemajuan hubungan lintas selat.1 Betapa tidak, hal ini dikarenakan secara historikal hubungan bilateral antara China dan Taiwan selama ini tidak pernah berjalan harmonis. Ketidak harmonisan ini dikarenakan melalui kebijakan “One China Policy”, China menganggap bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayah teritorialnya dan hanya
ada satu Cina yaitu Republik Rakyat Cina (RRC). Sedangkan bagi Taiwan, kebijakan satu China tersebut lebih dikonstruksikan dengan menganggap terdapat dua negara dalam satu bangsa, yang berarti Taiwan bukanlah bagian dari wilayah China dan secara substansi berarti Taiwan adalah negara yang merdeka dan tidak terikat oleh pemerintahan China.2 Namun melalui kesepakatan pembentukan kerangka kerjasama ekonomi ECFA yang disepakati pada tanggal 29 Juni tahun 2010 tersebut, seolah terjadi transformasi awal demi terciptanya perbaikan hubungan diantara kedua negara tersebut.
Menjadi menarik, lantaran dalam perjanjian kerangka kerjasama ekonomi yang disepakati China dan Taiwan melalui ECFA nyatanya tidak terjadi keseimbangan keuntungan disalah satu pihak yang terlibat. Didalam draft ECFA disepakati bahwasanya pemerintah China telah menyetujui untuk menurunkan tarif impor 539 jenis barang yang berasal dari Taiwan dan sebaliknya, Taiwan melalui kesepakatannya hanya menurunkan tarif impor 267 jenis barang dari China. Dengan adanya skema pengurangan tarif tersebut, Taiwan akan mendapatkan keuntungan melalui penghematan biaya ekspor ke China sebesar US$ 13,838 juta, sedangkan China hanya
1 Li and Fung Research Center.
Analysis of the Economic Cooperation Framework Agreement (ECFA) between the Chinese Mainland and Taiwan. http://www.funggroup.com/eng/knowledge/research/china_dis_issue67.pdf. Diakses pada tanggal 10 November 2013.
2
J. Bruce Jacoobs. OneChina, Diplomatic Isolation and A Separate Taiwan dalam Edward Friedman (ed.), China’s
akan mendapatkan keuntungan sebesar US$ 2,858 juta.3 Sehingga melalui skema tersebut, China tidak akan mendapatkan keuntungan resiprokal yang sesuai dengan apa yang Taiwan dapatkan dalam perjanjian ECFA tersebut. Menjadi sebuah pertanyaan besar jika China yang saat ini tampil sebagai negara yang memiliki kapabilitas ekonomi yang kuat, tidak seharusnya mudah menyetujui draft kerjasama yang secara perbandingan keuntungan cenderung merugikan China sendiri.
Kerjasama ECFA yang melibatkan China dan Taiwan ini bermula pada tanggal 29 Juni 2008. Pasca terpilihnya Ma Ying–jeou sebagai presiden Taiwan. Ketertarikan Presiden Taiwan, Ma Ying-jeou, untuk membuka hubungan dengan China dikarenakan saat ini China memiliki kapabilitas ekonomi yang kuat hingga mampu menjadi menjadi hemisfer ekonomi global pada abad ke-21. Melalui pencapaian peningkatan ekonomi tersebut, tak ayal States Statistical Bureau
menyatakan bahwa pencapaian pertumbuhan ekonomi China telah melampaui pertumbuhan ekonomi di negara Asia lainnya serta menjadikan China sebagai negara yang berkontribusi meningkatkan pertumbuhan ekonomi dunia lebih dari 10% dalam beberapa tahun terakhir. 4
Disadari oleh pemerintah China, dengan semakin berjayanya China dalam konstelasi ekonomi internasional, menjadikan instrumen ekonomi sebagai alat yang rasional bagi pemerintah China untuk mencapai kepentingan nasionalnya. Pertumbuhan ekonomi China yang semakin pesat inilah yang pada akhirnya banyak mengubah pola kebijakan pemerintah China, termasuk kebijakannya terhadap Taiwan. Semenjak tahun 2000, fokus politik luar negeri China terhadap Taiwan lebih banyak diubah dari hard power menjadi soft power melalui instrument ekonomi, dengan bukti ditandatanganinya kesepakatan ECFA pada tahun 2010.5
Perubahan kebijakan China ini, diakibatkan karena China mulai mengaggap bahwasanya kekuatan militer dengan strategi ofensif sudah tidak relevan untuk digunakan mengintervensi Taiwan agar tunduk dalam kebijakan China. Hal ini mengingat adanya peran AS (Amerika Serikat) di wilayah Taiwan yang berusaha membantu Taiwan menghadang perilaku agresif China yang berkeinginan untuk melakukan reunifikasi bersama Taiwan.6 Semenjak tanggal 10 April 1979, Taiwan telah melakukan kerjasama dengan AS melalui Taiwan Relations Act (TRA) yang didalam kesepakatan tersebut selain terdapat kesepakatan perdagangan, pertukaran
3 Tsai-Lung (Honigmann) Hong.
ECFA: A Pending Trade Agreement? Also a Comparison to CEPA. Hal.10
4
China FTA Network. http://fta.mofcom.gov.cn/english/index.shtml. Diakses pada tanggal 23 November 2013.
5
Lieutenant Colonel Douglas Frison. China’s less aggressive approach to Taiwan reunification: a change in strategy or tactics? Laporan Penelitian U.S. Army War College Carlisle Barrack, Pennsylvania,2004.
6
kebudayaan, juga terdapat kesepakatan penyediaan senjata oleh Amerika Serikat bagi pertahanan Taiwan apabila suatu saat kondisi kedaulatan Taiwan terancam. 7 Melalui kesepakatan yang dijalin tersebut, pada akhirnya menimbulkan hubungan struktural yang kuat diantara AS dan Taiwan. Hal tersebut tentu mengakibatkan ketergantungan Taiwan terhadap AS sangatlah tinggi, khususnya dalam sektor keamanan.
Keterlibatan AS dalam hubungan China-Taiwan pun pada akhirnya menimbulkan bipolar balance of power di wilayah Taiwan. Disatu sisi AS yang merupakan kekuatan tunggal hegemon pasca Perang Dingin berupaya mempertahankan posisinya sebagai negara adikuasa di wilayah Taiwan, salah satunya melalui upaya balancing dengan Taiwan, namun disatu sisi lainnya muncul China sebagai kekuatan baru di dalam dinamika sistem internasional yang berusaha menghadang laju AS di Taiwan. Namun pertentangan antara China dan AS di wilayah Taiwan tersebut tidak direspon secara koersif oleh kubu China. Pemerintah China dalam upaya pencapaian kepentingan nasionalnya di wilayah Taiwan menganggap penggunaan kapabilitas militer sudah sangat tidak relevan semenjak Taiwan mengadakan perjanjian TRA dengan AS.8
Mengingat tendensi hubungan bilateral kedua negara yang hingga saat ini masih belum dapat dikatakan harmonis sepenuhnya, dipandang perlu dan urgen untuk dilakukan penelitian tentang analisis kebijakan luar negeri China yang menyepakati Kerangka Kerjasama Ekonomi (ECFA) dengan Taiwan pada tahun 2010.
2. Rumusan Masalah
Melihat dalam draft perjanjian ECFA yang secara komparatif cenderung menguntungkan Taiwan (539 jenis barang dari Taiwan dapat melakukan perdagangan lintas negara dengan China melalui kesepakatan pengurangan tarif impor, sedangkan bagi China, hanya ada 267 jenis barang dari China yang disepakati untuk dikurangi tarif bea masuknya ke wilayah Taiwan), mengapa China pada akhirnya menyetujui Kerangka Kerjasama Ekonomi (ECFA) dengan Taiwan ?
3. Kerangka Teoritik
Tulisan ini menggunakan teori Balance of Interest (BoI) karya Randall L. Schweller. Menurut teori BoI yang dimunculkan oleh Randall L. Schweller sejatinya berupa landasan
7
Taiwan Relations Act, Public Law 96-8th Congress. www.ait.org.tw/en/taiwan-relations-act.html. Diakses pada tanggal 6 Desember 2013.
8
teoritis untuk menyangggah asumsi Kenneth Waltz mengenai teori Balance of Power (BoP) dan Stephen Walt dalam teori Balance of Threat (BoT). Dimana pada asumsi dasar Waltz dan Walt dinyatakan bahwasanya negara akan berusaha mencari keamanan dengan membentuk kekuatan tandingan melalui penciptaan aliansi, sehingga tatanan dunia akan berada pada stabilitas dibawah kondisi anarki. Melalui fenomena tersebut, Schweller selama ini hanya melihat bahwasanya didalam BoP maupun BoT, bentuk kerjasama yang dibangun oleh suatu negara dengan negara lain melalui aliansi untuk menyeimbangkan kekuatan dan menghindari ancaman (balancing) atau kerjasama yang dibangun oleh suatu negara dengan mendekatkan dirinya kepada negara hegemon yang menjadi sumber ancaman (bandwagoning), hanya sebagai upaya untuk pencapaian keamanan semata.9 Berbeda dengan asumsi Schweller, sebenarnya aliansi yang dibangun oleh suatu negara baik berupa balancing ataupun bandwagoning, bukan hanya perkara untuk mencari keamanan (achievement of security). Lebih dari itu, sebuah negara sebenarnya akan berusaha mendapatkan keuntungan (profit) melalui hubungan kerjasamanya dengan negara lain.10
Oleh karenanya, Schweller didalam teori BoI menjelaskan bahwasanya terdapat negara revisionis yaitu negara yang tidak puas dengan konstelasi dinamika sistem internasional dan berusaha untuk merevisi status quo melalui berbagai tindakan, diantaranya menentang secara langsung atau justru melalui kegiatan bandwagoning demi mendapatkan profit yang didambakannya. Upaya yang dilakukan oleh negara revisionis tersebut didasari kepada pertimbangan faktor eksternal, yaitu ketidakpuasan atas konstelasi didalam dinamika sistem internasional yang pada akhirnya memunculkan reaksi berupa tindakan menentang status quo. Pada akhirnya, Schweller membawa konsep negara revisionis tersebut dalam teori BoI agar mampu menjelaskan fenomena dan dinamika interaksi dalam hubungan internasional. Secara spesifik, teori BoI Schweller dapat dikaji melalui level unit dan level sistemik.11
Pada tingkatan analisa level unit, Schweller lebih menitikberatkan analisanya kepada tindakan dari sebuah negara yang berusaha mempertahankan dominasi kekuasaannya serta
9
M. Waltz, Stephen. Alliances: Balancing and Bandwagoning. http://www.ou.edu/uschina/texts/WaltAlliances.pdf. Diakses pada tanggal 19 April 2014.
10
Randall Schweller. Bandwagoning for Profit : Bringing the Revisionist State Back In.
http://graduateinstitute.ch/files/live/sites/iheid/files/sites/political_science/shared/political_science/_previous/2011_ Spring_Semester/Dynamics_of_Conflict_and_Cooperation/schweller%20bandwagoning%20for%20profit.pdf. Diakses pada tanggal 03 Desember 2013.
11
Thomas Gangale. Alliance Theory: Balancing, Bandwagoning, and Detente.
berusaha mencapai tujuan yang dikehendaki berdasarkan sifat negara dan biaya yang negara tersebut keluarkan. Disatu sisi, pada tingkatan level sistemik, Schweller menjelaskan bahwasanya didalam kondisi sistem internasional terdapat kekuatan relatif terhadap status quo. Dimana kekuatan relatif ini dimaknai sebagai negara-negara yang tidak puas akan kondisi konstelasi dinamika sistem internasional (negara revisionis), sehingga pada akhirnya negara tersebut berusaha untuk bangkit demi mencapai posisi yang negara tersebut inginkan dengan berusaha merubah status quo yang ada saat ini.12
Perubahan yang diinginkan oleh negara revisionis tersebut dikatakan berhasil manakala jika kapabilitas power negara revisionis nyatanya jauh lebih besar dibandingkan kapabilitas power dari negara-negara yang berada pada status quo. Sebaliknya, jika kapabilitas power negara revisionis terlampau lemah dan kurang mencukupi untuk merubah status quo, maka negara revisionis tidak akan mampu merubah konstelasi dinamika sistem internasional sesuai dengan kehendak dan keinginannya. Namun dalam penelitian ini akan lebih dispesifikkan penelitian yang mengarah pada analisis sistem unit. Hal ini berdasarkan pertimbangan faktor internal (tujuan dan sifat) suatu negara dalam mencapai kapabilitas powernya melalui aktivitasnya dalam tatanan internasional dengan melihat dinamika sistem internasional yang ada saat ini.13
3.1Analisa Level Unit dalam BoI
Menurut Schweller, timbulnya kepentingan dari suatu negara dikarenakan apa yang negara tersebut inginkan lebih dari apa yang negara tersebut miliki. Sehingga pada akhirnya negara tersebut akan berusaha untuk memenuhi kepentingannya.14 Pemenuhan kepentingan tersebut diantara satu negara dengan negara lainnya sangatlah bervariatif dan disesuaikan dengan kebutuhannya, seperti kepentingan untuk menumbuhkan stabilitas keamanan, peningkatan ekonomi, stabilitas politik dan integrasi budaya. Melalui analisis sistem unit ini, dapat dilihat bagaimana negara berusaha untuk dapat mencapai power dan mempertahankan powernya sebagai bentuk pencapaian kepentingannya dengan mempertimbangkan faktor eksternal, yaitu konstelasi didalam dinamika sistem internasional saat ini.
Didalam analisis sistem unit ini, negara dianalisis berdasarkan kapabilitas powernya dan kemampuannya sebagai subjek ataupun objek dalam berinteraksi dengan negara lain melalui
12
Op.Cit. Randall Schweller.
13
Ibid.
14
indikator sifat dan tujuan negara tersebut dalam mencapai kepentingannya dengan negara lain. Setiap negara memiliki sifat dan tujuan yang berbeda diantara satu dengan lainnya. Hal tersebut dikarenakan setiap negara memiliki sudut pandang yang berbeda dalam memandang dinamika sistem internasional saat ini. Bagi negara yang saat ini merasa posisinya telah terpuaskan dengan kondisi status quo di wilayah tertentu, maka tujuan dan sifat negara tersebut tentu akan berbeda dengan negara yang tidak terpuaskan oleh kondisi status quo dan begitupula sebaliknya. Lebih jauh, Schweller membagi pola perilaku interaksi negara di dalam dinamika sistem internasional melalui analogi perilaku hewan dalam hutan.
Dalam zoology yang diterangkan oleh Schweller, dijelaskan bahwa terdapat empat klasifikasi tipe Negara berdasarkan pola perilaku dan tujuannya dalam berinteraksi dengan Negara lain. Kalsifikasi yang pertama (1) adalah klasifikasi negara yang dianalogikan seperti
Lions. Dimana negara tersebut berada dalam posisi tawar yang tinggi sehingga memiliki tingkat kepuasan yang tinggi pula.15 Negara dengan tipe ini tidak terlalu menginginkan perubahan secara signifikan dalam dinamika sistem internasional karena kondisi kenyamanannya. Hanya saja fokus utama perhatiannya adalah bagaimana tetap mempertahankan kapabilitas powernya untuk tetap menjadi negara adidaya dengan posisi tawar yang tinggi. Upaya tersebut dijalankan dengan meningkatkan balancing-nya. Namun, peperangan dapat saja dilakukan oleh negara bertipe
Lions ini untuk menciptakan keamanan atas ancaman dari negara revisionis.
Kemudian yang kedua (2) adalah negara dengan tipe Lambs. Dimana negara yang dianalogikan negara bertipe Lambs ini adalah negara yang memiliki posisi tawar yang lemah dan negara ini dianggap hanya sebagai objek dalam dinamika sistem internasional.16 Lemahnya kapabilitas dalam beberapa aspek membuat negara ini hanya mampu bertindak bandwagoning
untuk berharap mendapatkan posisi yang lebih baik dalam sistem internasional. Bandwagoning
adalah upaya peningkatan kapabilitas power yang dilihat dari sudut pandang negara lemah. Peningkatan kapabilitas power ini dapat dilakukan dengan cara mengekor kepada negara bertipe
Lions agar mendapatkan perlindungan dan keamanan.
Tipe yang ketiga (3) adalah tipe Jackals. Dalam tipe ini, negara dipandang sebagai aktor yang oportunistik, yaitu negara yang berani untuk mengeluarkan biaya yang berlebih untuk mendapatkan apa yang negara terebut inginkan ketika ada kesempatan untuk mendapatkan
15
Ibid.
16
kepentingannya terhadap negara lain. Negara dengan tipe Jackals adalah negara yang merasa tidak puas dengan apa yang telah negara tersebut miliki, sehingga ketika ada kesempatan maka negara dengan tipe ini akan berusaha untuk melakukan jackal bandwagoning, yaitu usaha untuk mengharapkan imbalan ketika bekerjasama dengan negara bertipe Lions ataupun Wolves, tergantung mana yang dianggap lebih menguntungkan bagi negara bertipe Jackals tersebut.17
Sifat negara jackal yang memanfaatkan jackal bandwagoning ini dikarenakan negara jackal
tersebut memiliki tujuan yang terbatas (limited aims), yaitu hanya menginginkan pencapaian tujuan berupa peningkatan prestise didalam tatanan sistem internasional, sehingga tidak terlalu mengambil resiko dengan melawan status quo.18
Kemudian yang terakhir (4) adalah negara dengan tipe Wolves. Negara yang masuk dalam tipe ini adalah negara yang dikategorikan negara ambisius.19 Negara ini percaya bahwa kapabilitas power yang dimilikinya akan mampu membawa perubahan secara struktural. Hasil akhir yang ingin dicapai oleh negara bertipe Wolves tersebut adalah menggulingkan tatanan sistem internasional yang sudah terbentuk saat ini dan merevisi sebuah sistem tatanan yang baru sesuai dengan persepsi negara Wolves tersebut.
Melalui analogi zoology yang ditawarkan oleh Schweller ini, maka dalam dinamika sistem internasional dapat ditarik kesimpulan bahwasanya yang menjadi negara dengan tipe
Lions adalah Amerika Serikat (AS) dengan kapabilitas super powernya. Dimana AS saat ini sudah merasa bahwa tatanan sistem internasional telah memberikan kepuasan terhadap negaranya. Posisi tawar yang tinggi dan pengaruhnya yang besar di dalam dinamika sistem internasional semakin membuat AS berusaha untuk mempertahankan dominasi puncaknya. Peningkatan dominasi ini salah satunya dapat dilakukan melalui pengupayaan balancing. Namun fokus utama dari negara bertipe ini adalah mempertahankan status quo mereka sebagai bentuk kepuasan mereka dalam tataran sistem internasional saat ini.
Kemudian negara yang bertipe Lambs adalah Taiwan. Dimana secara internasional masih belum banyak negara yang mendukung secara de jure eksistensi Taiwan membuat lemahnya posisi tawar negara ini. Taiwan berupaya meningkatkan posisi tawarnya, salah satunya dengan menjalin bandwagoning bersama AS untuk berusaha meningkatkan posisinya terhadap
17
Lau, Olivia. Bandwagoning for Profit. http://www.olivialau.org/ir/archive/sch6.pdf. Diakses pada tanggal 11 April 2014.
18
Op.Cit. Randall Schweller.
19
ancaman yang dihadapinya. Negara Taiwan yang secara eskalasi memiliki wilayah kecil, pada akhirnya dengan sokongan bantuan AS memiliki cukup kapabilitas power untuk merepresentasikan national interest-nya melalui bantuan keamanan dari negara Lions.
Selanjutnya negara dengan tipe Jackals adalah China. Perlu untuk diketahui, bahwasanya China merupakan negara yang berbeda ideologi dengan AS dan menjadi kompetitor AS dalam upayanya menduduki dominsi puncak kekuasaan dalam tatanan internasional. Karena adanya pertimbangan rasionalitas, China yang tidak puas dengan pola tatanan AS berupaya tidak langsung melakukan serangan militer terhadap AS. China lebih banyak bersikap oportunis dengan pihak yang dianggap memberikan keuntungan bagi dirinya karena China sendiri menyadari sangatlah beresiko untuk melawan status quo yang ada saat ini secara langsung. Melalui kepentingannya untuk dapat menyatukan kembali wilayah Taiwan menjadi bagian dari provinsi China, maka China berupaya untuk membatasi peran AS di wilayah Taiwan dilakukan dengan menggunakan instrumen kerjasama ekonomi yaitu perjanjian ECFA.
Disinilah terlihat bahwa China berperilaku seperti negara yang bertipe Jackals. China berusaha membatasi peran Amerika Serikat di Taiwan sebagai bentuk ketidakpuasan China terhadap hegemoni AS di wilayah Taiwan melalui penggunaan instrumen ekonomi. Penggunaan instrumen ekonomi dipilih China karena negara tersebut tidak ingin hubungannya dengan Amerika Serikat memburuk akibat kepentingan China di wilayah Tawan. Selain itu, dipilihnya instrumen ekonomi juga mengindikasikan bahwasanya China ingin kebijakan luar negerinya di wilayah Taiwan seirama dengan apa yang dinginkan oleh AS seperti yang tertuang dalam TRA, yaitu penyelesaian konflik dan penentuan masa depan lintas selat harus dilakukan secara cara-cara damai.20 Sehingga, sangatlah terlihat jelas, bagaimana China yang saat ini sebagai lesser agresor berupaya menjadi negara soft-revisionis, membatasi peran negara hegemon, yaitu AS diwilayah Taiwan dengan menyepakati langkah penyelesaian konflik lintas selat seperti yang di inginkan oleh AS di dalam TRA. Berharap dengan menyepakati regulasi manajemen konflik yang seirama dengan AS, maka akan semakin mudah bagi China untuk dapat lebih mendekatkan dirinya ke wilayah Taiwan.
Dengan status Jackal yang limited aims, China tidak berupaya untuk menumbangkan kekuatan dominan yang telah ada, melainkan berusaha menandingi atau bahkan menyamai posisi dominan dari negara AS yang saat ini telah menjadi kekuatan dominan diwilayah Taiwan. Hal
20
tersebut dikarenakan negara yang memiliki tujuan limited aims hanya meninginkan peningkatan
prestise dan status negara didalam wilayah Taiwan, bukan malah sebaliknya, yaitu mengambil resiko dengan menentang status quo.21 Pada penelitian ini, karakteristik negara dengan tipe
Jackal akan lebih banyak dibahas. Hal ini dikarenakan karakteristik negara Jackal dinilai sangat relevan dengan sifat negara China yang menjadi pokok pembahasan dalam isu yang diteliti oleh penulis.
Kemudian contoh negara dengan tipe Wolves adalah Iran. Dengan segala kemampuan power yang dimilikinya, Iran berusaha menjadi negara revisionis total yang berupaya merubah tatanan sistem internasional karena ketidakpuasan akibat tatanan sistem internasional yang saat ini dikendalikan oleh AS. Permintaan perubahan ini dilakukan secara nyata berupa kecaman dan dapat berupa dalam bentuk tindakan secara militer (peperangan).
4. Penyajian Data dan Pembahasan
4.1 Kerjasama Amerika Serikat dan Taiwan melalui TRA
Kerjasama yang dibangun oleh AS dan juga Taiwan sejatinya merupakan hubungan yang tidak resmi. Hal tersebut dikarenakan semenjak AS menyetujui Joint Communique dengan China pada tanggal 1 Januari 1979, pemerintah AS hanya mengakui pemerintahan Beijing sebagai pemerintahan yang sah untuk mengatur seluruh wilayah China, termasuk didalamnya wilayah Taiwan. Namun kesepakatan Joint Communique yang telah disetujui oleh AS nyatanya tidak memutus upaya AS untuk tetap dapat bekerjasama dengan pemerintah Taiwan, meskipun secara tidak resmi melalui kerjasama dibidang budaya, ekonomi dan keamanan.22
Upaya pemerintah AS yang tetap berusaha menjalin hubungan tidak resmi dengan pemerintah Taiwan didasarkan bukan karena pemerintah AS menginginkan kemerdekaan bagi Taiwan. Lebih dari itu, upaya kerjasama yang dibangun AS bersama Taiwan sejatinya merupakan cara bagi AS untuk dapat menjaga stabilitas dan perdamaian di Kawasan Asia Timur, terlebih kepada hubungan lintas selat diantara China dan Taiwan.23 Kebijakan AS untuk
21
Ibid.
22
US Relations with Taiwan. http://www.state.gov/r/pa/ei/bgn/35855.htm. Diakses pada tanggal 21 April 2014.
23
tetap dapat membangun hubungan tidak resmi dengan Taiwan, semakin diperkuat dengan disepakatinya kerjasama Taiwan Relations Act (TRA) pada tanggal 10 April 1979.24
Didalam kerjasama TRA, selain terdapat kesepakatan perdagangan, pertukaran kebudayaan diantara AS dan Taiwan, juga terdapat kesepakatan penyediaan senjata oleh pemerintah AS bagi pertahanan Taiwan apabila suatu saat kondisi kedaulatan Taiwan terancam. Berasarkan kesepakatan TRA tersebut, maka pada akhirnya hubungan diantara AS dan Taiwan secara struktural semakin menguat dan hal tersebut tentu mengakibatkan ketergantungan Taiwan terhadap AS sangatlah tinggi, khususnya dalam sektor keamanan. Sebenarnya, jauh sebelum tercetusnya kerjasama TRA diantara AS dan Taiwan, pada tahun 1954, pemerintah AS dan Tawian telah menjalin aliansi perjanjian yang memasukkan wilayah Taiwan sebagai wilayah kemananan kolektif AS di Asia Timur (Mutual Defense Treaty). Namun kesepakatan tersebut harus diakhiri pada tahun 1980, setahun pasca disepakatinya TRA. Semenjak terjalinnya TRA pada tahun 1979, baik AS maupun Taiwan percaya bahwa ketegangan lintas selat yang terjadi diantara China dan Taiwan dapat diredakan dan dapat diselesaikan melalui jalur-jalur secara damai.25
4.2 Kerjasama China dan Taiwan melalui ECFA
Negosisasi dan dialog selama pembentukan perjanjian ECFA yang melibatkan China dan Taiwan dilakukan oleh badan resmi representasi pemerintah dari masing-masing negara. Dimana negosiator Taiwan diwakili oleh Chen Yunlin yang bertindak sebagai ketua dalam The Straits Exchange Foundation (SEF), sedangkan dari China diwakili oleh Chiang Pin Kung yang merupakan ketua dari Mainland’s Association for Relations Across the Taiwan Street (ARATS). SEF sendiri merupakan sebuah badan semi-resmi yang dibentuk oleh pemerintah Taiwan untuk menangani masalah teknis dan bisnis dengan pemerintah China. Disatu sisi ARATS yang merupakan badan semi-resmi pemerintah China juga memiliki tiugas dan fungsi yang sama dengan SEF, yaitu menangani masalah teknis dan kegiatan bisnis dengan pemerintah Taiwan.
Melalui dialog dan negosiasi yang secara intensif dilakukan oleh SEF dan ARATS tersebut, hingga pada akhirnya ECFA resmi disepakati dengan ketentuan didalamnya adalah pengurangan biaya tarif diantara masing-masing negara. Sebanyak lebih dari 800 jenis produk
24
Taiwan Relations Act, Public Law 96-8th Congress. www.ait.org.tw/en/taiwan-relations-act.html. Diakses pada tanggal 21 April 2014.
25
yang berasal dari kedua negara akan menikmati penurunan tarif impor secara berkala hingga menjadi nol. Penurunan tarif impor tersebut akan dilakukan secara berkala dalam tempo waktu selama dua tahun terhitung setelah diaktifkannya pelaksanaan perjanjian ECFA yang dimulai pada tanggal 1 Januari 2011.26 Kesepakat kedua negara untuk menyetujui kerangka kerjasama ekonomi ECFA, mengindikasikan bahwasanya kedua belah pihak saling optimis untuk membawa hubungan lintas selat kearah yang lebih baik melalui instrumen kerjasama ekonomi.
Didalam naskah perjanjian ECFA sendiri, berisikan lima bab yang meliputi bab pendahuluan, prinsip-priinsip umum, aturan perdagangan serta investasi, kerjasama ekonomi, dan yang terakhir yaitu mengenai kesepakatan pelaksanaan program “Early Harvest” dan daftar
barang yang tercantum didalamnya.27 Oleh karenanya, isi perjanjian ECFA tersebut secara garis besar berisi mengenai prinsip-prinsip umum dalam menjalin peningkatan kerjasama ekonomi melalui kegiatan perdagangan, dan investasi diantara China dan Taiwan. Untuk merealisasikan hal tersebut, maka didalam draft ECFA juga disepakati bahwasanya kedua negara akan bersedia untuk membuka jalur perdagangan secara langsung. Perlu diketahui, bahwasanya sebelum terjadi kesepakatan ECFA, baik China maupun Taiwan masing-masing tidak menyepakti untuk membuka jalur ekspor-impor secara langsung akibat masalah pertikaian politik. Hingga pada akhirnya kegiatan ekspor-impor diantara China dan Taiwan selama ini harus melewati pintu gerbang investasi, yaitu melawati daerah daratan Hongkong (special administrative region of China).28 ECFA sendiri dibentuk dan disepakati sebagai perjanjian yang berpegang pada prinsip-prinsip kesetaraan, resiprositas dan progresif dengan tujuan akhir adalah sebagai instrumen untuk memperkuat hubungan lintas selat melalui sektor perdagangan dan ekonomi.
Menariknya didalam kesepakatan pelaksanaan program “Early Harvest” dan daftar
barang yang tercantum didalamnya, China telah sepakat untuk menurunkan tarif impor bagi 539 jenis produk yang berasal dari Taiwan ( termasuk didalamnya 18 produk pertanian dan sejumlah industri jasa). 29 Melalui skema tersebut, total nilai penurunan tarif impor perdagangan barang dari Taiwan ke wilayah daratan China sebesar 16,14%. Sebaliknya, Taiwan telah sepakat untuk menurunkan tarif 267 jenis barang yang berasal dari daratan China dengan total nilai penurunan
26
Economic Cooperation Framework Agreement.http://www.customs.gov.hk/en/trade_facilitation/ecfa/ecfa/. Diakses pada tanggal 28 Januari 2014.
27
Naskah Pembukaan Cross-Straits Economic Cooperation Framework Agreement.
28
Tung, Chen-yuan. Trade Relations between Taiwan and China dalam In Jing Luo (ed.), China Today: An Encyclopedia of Life in the People’s Republic (Westport, CT: Greenwood Press, 2005). Hal. 625.
29
tarif sebesar 10,53%.30 Didalam kesepakatan tersebut, jika dikomparatifkan, maka keuntungan yang didapatkan oleh China tidaklah sebanding dengan apa yang akan didapatkan oleh Taiwan. China hanya akan mendapatakan keuntungan sebesar satu per enam dari total yang didapatkan oleh Taiwan.
Menurut Fan Liqing, juru bicara di Taiwan Affairs Office, kesepakatan preferensial ECFA yang diratifikasi pada tahun 2010 nyatanya telah banyak mempromosikan perdagangan di lintas selat.31 Menariknya, selama berjalannya program “Early Harest” selama tiga tahun
pertama, Taiwan lebih banyak mendapatkan keuntungan melalui keterbukaan akses ke pasar China. Perjanjian ECFA yang nyatanya memang ketika diratifikasi dan diimplementasikan tidak memiliki keuntungan yang bersifat resiprokal bagi China, seolah menandakan bahwasanya perjanjian tersebut merupakan perjanjian yang memanjakan Taiwan. ECFA menjadi sebuah perjanjian yang mengakomodir keinginan Taiwan untuk dapat terlibat dalam integrasi ekonomi dengan China melalui perdagangan bebas.
Kebangkitan China yang menduduki supremasi kebangkitan ekonomi secara global, nyatanya seolah tidak memiliki opsi tawar yang baik dalam kesepakatan ECFA. Padahal seharusnya performa kemajuan ekonomi China selama ini dapat dijadikan kekuatan bagi Chinauntuk meningkatkan posisinya di dalam kesepakatan ECFA agar mendapatkan keuntungan yang resiprokal. Hal tersebut dikarenakan performa ekonomi merupakan salah satu ukuran kekuatan nasional sebuah negara yang dapat dijadikan instrumen untuk mempengaruhi perilaku negara lain.32 Hingga pada akhirnya menjadi sebuah pertanyaan besar ketika China yang dalam implementasi ECFA tidak mendapatkan keuntungan yang seimbang masih bersedia menjalankan perjanjian tersebut. Ada sebuah motif tersendiri yang ingin diraih oleh China di dalam ECFA hingga sampai mempertahankan kesepakatan tersebut meskipun secara komparatif, keuntungan yang diperoleh China jau lebih rendah dari apa yang didapatkan oleh Taiwan.
5. Analisa
5.1 Sifat Jackal Bandwagoning China melalui Perjanjian ECFA
30
Opcit. Xinhua.
31
Op.Cit. Mainland, Taiwan exempt tariffs on 806 products.
32
Bagi China, upaya reunifikasi dengan menyatukan kembali wilayah Taiwan menjadi bagian dari salah satu provinsinya adalah suatu keharusan. Betapa tidak, jika China gagal mengupayakan hal tersebut, maka besar kemungkinan akan terjadi efek domino yang membahayakan kedaulatan China. Ketika China gagal mempertahankan Taiwan menjadi bagian dari wilayahnya, maka akan ada suatu angin segar bagi separatis di wilayah Tibet, Xinjiang dan beberapa tempat lainnya untuk berupaya melakukan hal yang sama dengan Taiwan, yaitu memisahkan diri dari China.33
Namun upaya China untuk menjalankan kepentingan politik luar negerinya diwilayah Taiwan semakin sulit dengan kehadiran AS. Melalui kesepakatan Taiwan Relations Act (ACT) pada tahun 1979, AS melihat bahwasanya wilayah Taiwan memiliki esensi penting yang harus diperjuangkan. Sebuah esensi kepentingan AS untuk menghadang laju paham komunis agar tidak semakin mengglobal membawa keterlibatan AS di wilayah Taiwan. Transformasi ideologi kearah demokratis di wilayah Taiwan sangatlah diupayakan oleh AS.
Peran penting AS sebagai negara hegemon di wilayah Taiwan tidak serta merta ditanggapi secara ofensif dan juga agresif oleh pemerintah China. Alih-alih menggunakan instrumen militer untuk menekan Taiwan dan menghadang laju AS di wilayah Taiwan, pemerintah China justru bersikap sebaliknya. China berusaha meningkatkaan mutual trust di bidang politik, ekonomi dan transportasi diantara China dan Taiwan.34Artinya, melalui kebijakan pemerintah China tersebut, China tidak akan mengejar hegemoni di wilayah Taiwan melalui penggunaan instrumen militer untuk menghentikan peran AS di wilayah Taiwan.
Ketika dielaborasikan kedalam fenomena sikap Jackal China didalam analogi zoology
yang dijelaskan oleh Schweller melalui teori BoI-nya, maka upaya China yang tidak
meng-counter peran AS secara ofensif didalam wilayah Taiwan sebenarnya bagian dari upaya mengharapkan imbalan ketika bekerjasama (jackal bandwagoning) dari negara Lions, yaitu AS. Tujuan dari upaya jackal bandwagoning adalah self-extension, yaitu mendapatkan nilai yang didambakan, sehingga negara yang menerapkan jackal bandwagoning berani mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk mencapai nilai yang didambakannya tersebut.35
33O’Hanlon, Michael.
The Risk of War Over Taiwan is Real.
http://www.brookings.edu/research/opinions/2005/05/01asia-ohanlon. Diakses pada tanggal 11 Februari 2014.
34Full Text; China’s National Deense in 2010.
http://news.xinhuanet.com/english2010/china/2011-03/31/c_13806851.htm. Diakses pada tanggal 12 Februari 2014.
35
China yang menyadari bahwasanya yang terlibat sebagai aliansi Taiwan adalah negara hegemoni, yaitu AS, sehingga atas dasar pertimbangan rasionalitas, China melihat strategi terbaik adalah berusaha dengan menyeimbangkan kepentingan dengan AS dari pada berusaha menentang posisi AS di Taiwan.36 Penyeimbangan kepentingan tersebut dilakukan pemerintah China dengan tidak menggunakan tindakan ofensif dalam menyikapi peran AS di wilayah Taiwan. Artinya, melalui kebijakan tersebut, secara tidak langsung mengindikasikan bahwasanya pemerintah China juga menyepakati langkah AS seperti yang tertuang didalam perjanjiaan TRA untuk menjaga stabilitas keamanan dan kedamaian di wilayah Taiwan melalui langkah-langkah secara damai.37
Ratifikasi perjanjian ECFA oleh pemerintah China yang merupakan kesepakatan kerjasama ekonomi diantara lintas selat, menjelaskan bahwasanya saat ini terdapat kemauan dari pemerintah China untuk membangun mutual trust di bidang ekonomi dengan pemerintah Taiwan. Namun sekali lagi, dikarenakan China merupakan aktor yang bersikap oportunis, maka China memiliki nilai yang didambakan didalam kesepakatan ECFA tersebut. Sebuah nilai keuntungan berupa terikatnya Taiwan oleh China pasca dilaksankannya perjanjian ECFA melalui unifikasi secara damai.38
5.2 Perjanjian ECFA sebagai Tujuan China yang Terbatas (Limited Aims)
Untuk mencegah lepasnya Taiwan menjadi negara yang merdeka, China lebih menggunakan pertimbangan rasionalitas. China merasa bahwasanya membangun mutual trust
dengan Taiwan melalui aspek perdagangan lebih ditekankan dari pada bertindak ekspansif dengan menggunakan kapabilitas militer. Pertimbangan tersebut diambil oleh China karena penggunaan instrumen militer sudah tidak lagi relevan dan tidak menguntungkan digunakan untuk mengintervensi Taiwan agar tunduk dalam kebijakan China. Hal tersebut dikarenakan semenjak disepakatinya perjanjian TRA yang dilakukan oleh AS dan juga Taiwan pada tahun 1979, pada akhirnya telah memposisikan AS untuk memberikan bantuan militerisasi kepada pemerintahan Taipei jika suatu saat Beijing berusaha mengintervensi Taiwan melalui tindakan-tindakan militerisasi.
36
Ibid.
37
Op.Cit. Taiwan Relations Act, Public Law 96-8th Congress.
38
Kien-tsu, Lin. The ECFA hoax and Chinese Swindlers.
AS sendiri melihat bahwasanya situasi status quo di Selat Taiwan harus dipertahankan untuk memelihara kedamaian. Namun disatu sisi, Beijing mengklaim bahwasanya dengan masih dipertahankannya kondisi status quo di wilayah Taiwan, mencerminkan ketidakstabilan sementara atas kondisi konflik yang sedang berlangsung.39 Artinya bagi Beijing, kondisi hubungan lintas selat saat ini meskipun bagi sebagian pihak menganggap telah terjadi gencatan senjata, namun tidak berarti telah menyelesaikan pokok dari konflik tersebut. Menyadari akan persepsi penanganan masalah di Taiwan yang berbeda dengan AS, pemerintah China pada akhirnya berusaha untuk mensinergikan kepentingannya agar sesuai dengan kondisi yang telah ditetapkan oleh AS didalam perjanjian TRA, yaitu membangun dan menentukan masa depan hubungan lintas selat secara damai.
Sejatinya semenjak tahun 2004, diera kepemimpinan presiden Hu Jintao, China telah berupaya untuk membangun hubungan kerjasama dengan seluruh negara, khusunya dengan negara di kawasan Asia Timur secara damai melalui slogan peaceful development.40 Peaceful development dijelaskan sebagai bagian dari upaya China yang berusaha untuk mengemabangkan dirinya dengan menjunjung tinggi asas perdamaian dunia melalui usahanya.
Oleh karenanya, tujuan utama diplomasi China diera globalisasi saat ini adalah berusaha menciptakan lingkungan internasional yang damai dan stabil melalui pembangunan. Bahkan, China menegaskan kepada dunia internasional, bahwa sikap China yang selama ini tidak perrnah terlibat didalam berbagai tindakan agresi dan tidak pernah mencari hegemoni, semakin mempertegas bahwasanya China merupakan salah satu negara yang gigih berjuang untuk menciptakan dan menegakkan perdamaian bagi stabilitas regional dan dunia.41
Perjanjian kerangka kerjasama ekonomi ECFA bersama Taiwan yang diratifikasi oleh China pada tahun 2010, merupakan salah satu bagian dari peaceful development yang seolah menandakan bahwasanya saat ini China berkeinginan untuk merangkul negara-negara yang pernah terlibat konflik atau sedang mengalami perselisihan dengan China, salah satunya Taiwan, diajak untuk menjadi rekan yang bersahabat melalui hubungan kerjasama yang saling bersinergi. Disinilah sebenarnya tujuan yang ingin dicapai China melalui ECFA. Dikarenakan sudah sangat
39 Chas W. Freeman,Jr. The Taiwan Problem and China’s Strategy for Resolving It. http://www.mepc.org/articles-commentary/speeches/taiwan-problem-and-chinas-strategy-resolving-it?print. Diakses pada tanggal 3 Maret 2014.
40
Sidabutar, Ruth. Tekanan Internasional dan Respon Kebijakan Luar Negeri: China’s Peaceful Development dalam Isu Lingkungan Global dan Pembangunan Ekonomi Negara . Hal.1
41
tidak relevan dan tidak rasional untuk menekan Taiwan dan menghadang laju AS di wilayah Taiwan dengan menggunakan instrumen militer, maka China merubah kebijakan luar negerinya terhadap Taiwan.
Melalui pencitraan dirinya yang memegang teguh perdamaian melalui slogal peaceful development, China sejatinya berusaha memposisikan kebijakan luar negerinya terhadap Taiwan agar sejalan dengan apa yang AS inginkan didalam perjanjian TRA, yaitu menginginkan penyelesaian konflik lintas selat dan penentuan masa depan Taiwan melalui jalur-jalur secara damai. Dengan berusaha menciptakan ritme yang seirama dengan AS, maka China tidak akan mendapatkan hambatan dalam upayanya mendekatkan dirinya kepada Taiwan melalui cara-cara yang damai. Oleh karenanya semenjak diratifikasinya ECFA, AS sendiri tidak berusaha menentang kebijakan China dan Taiwan yang menyepakati kerangka kerjasama ekonomi ECFA, meskipun banyak pihak yang berusaha meyakinkan bahwasnya kesepakatan tersebut secara politik hanyalah bagian dari upaya China untuk mengambil alih posisi ketergantungan Taiwan dari AS melalui sektor ekonomi.
Tujuan China saat ini bukanlah menumbangkan kekuatan dominan AS di wilayah Taiwan, namun hanya berusaha menandingi atau bahkan menyamai posisi dominan dari negara AS di wilayah Taiwan. Ketergantungan Taiwan akan posisi AS sangatlah tinggi, khususunya dari sektor keamanan. Namun China berharap dengan dirinya meratifikasi perjanjian ECFA yang meskipun dinilai tidak bersifat keuntungan resiprokal, dalam jangka panjang, Taiwan juga akan mengalami kondisi ketergantungan terhadap China, salah satunya melalui sektor ekonomi. Selain itu dengan diratifikasinya ECFA oleh China, maka akan semakin meningkatkan prestise citra China didalam wilayah Taiwan tanpa harus mengambil resiko dengan menentang status quo
melalui jalur-jalur ofensif.
v. Penutup
kepentingan politis China untuk mencapai kepentingannya di wilayah Taiwan. Sebuah kepentingan China akan pencapaian national interest-nya di wilayah Taiwan yang pada akhirnya membawa China bersedia untuk meratifikasi perjanjian ECFA.