• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEMOKRASI NEOLIBERALISME DAN KEPEMIMPINA (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "DEMOKRASI NEOLIBERALISME DAN KEPEMIMPINA (1)"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

DEMOKRASI, NEOLIBERALISME

DAN KEPEMIMPINAN NASIONAL INDONESIA

SUYATNO Ph.D School of Government

COLGIS – UNIVERSITI UTARA MALAYSIA

Email:

yatno.ladiqi @gmail.com

Pendahuluan

Demokrasi sudah menjadi pilihan sistem politik sejak berdirinya Negara Indonesia. Meski dengan berbagai ragam kualitas, tetap saja demokrasi menjadi sentra utama dalam mengatur kehidupan politik Indonesia sejak tahun 1945 hingga di masa sekarang, khususnya mengatur hubungan masyarakat dan negara. Hanya saja kepemimpinan yang mengelola bekerjanya sistem demokrasi memberikan bobot kualitas demokrasi yang berbeda-beda mulai dari kepemimpinan Soekarno, Soeharto hingga ke masa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara kepemimpinan dan demokrasi sangatlah erat karena kepemimpinan bisa menentukan derajat kualitas demokrasi yang diusung oleh sebuah negara, termasuk Indonesia.

Tentu semua itu tergantung kepada tantangan yang dihadapi oleh negara sehingga seorang pemimpin memerlukan jenis atau gaya kepemimpinan yang dirasa efektif untuk menggerakkan roda negara mencapai tujuan yang dicita-citakan. Tantangan yang dihadapi Soekarno tentunya berbeda dengan tantangan yang dihadapi oleh Soeharto, demikian juga dengan tantangan yang dihadapi oleh SBY. Namun begitu kepemimpinan yang efektif tentunya juga ditentukan oleh sejauh mana seorang pemimpin mampu meracik tantangan luar dan tuntutan dari dalam negara itu sendiri. Untuk itu seorang pemimpin akan memberikan tekanan yang berbeda ketika mencoba usaha racikan mengataso problema guna mencapai skala prioritas tujuan negara.

Soekarno barangkali lebih menitik beratkan kepada pembangunan bangsa (nation building) karena kemerdekaan Indonesia memerlukan pemantapan kebangsaan yang layak dipromosikan ke tatanan kehidupan internasional agar tidak saja dikenali tetapi juga bisa menggapai martabat berbangsa dunia. Soeharto barangkali lebih memikirkan pentingnya stabilitas ekonomi politik untuk mampu menggapai tujuan bersama yaitu pembangunan nasional di sektor ekonomi dan kestabilan politik yang efektif. Belajar dari berbagai kelemahan Soekarno yang abai terhadap pembangunan ekonomi dan politik yang stabil, titik berat rezim Soeharto menjadi berbeda secara drastis jika dibandingkan dengan rezim sebelumnya.

(2)

gagal merespon perubahan zaman akibat meruyaknya korupsi yang menggerogoti struktur ekonomi nasional. Kejatuhan Soeharto menandai era baru dimana demokrasi menjadi media penting untuk memberikan jalan kepada masyakarat agar terlibat dalam proses pengambilan keputusan politik karena partisipasinya bisa merepresentasikan tingkat tuntutan dari bawah secara efektif berbanding dengan model hubungan masyarakat dan negara di masa kepemimpinan Soeharto yang bersifat “top-down”. Hal ini dikarenakan globalisasi mendorong pemerintah untuk rela menggandeng masyarakat terlibat aktif memberikan masukan dalam proses pengambilan keputusan dalam rangkaian persoalan yang kian kompleks yang cukup berat bagi pemerintah dihadapi sendiri.

Di era yang serba terbuka pengaruh revolusi informasi, komunikasi dan teknologi, mendorong seorang pemimpin dituntut untuk senantiasa transparan, akuntabel dan partisipatif dalam memenuhi tuntutan dalam dan luar negara. Titik tekan ini sangatlah berbeda dialami oleh pemimpin nasional pada era sebelumnya. Tidak hanya lebih kompleks tetapi juga lebih massif dan memerlukan keterlibatan masyrakat secara intensif dalam menerjemahkan keperluan guna mencapai tujuan bersama.

Dengan argumen pendahulan diatas, makalah ini mau mencoba memetakan hubungan demokrasi dan kepemimpinan nasional yang bagaimana yang semestinya dikembangkan di Indonesia. Ini penting untuk menemukan kepemimpinan nasional yang mampu menjawab tuntutan masyarakat dan sekaligus sanggup merespon tantangan dunia luar yang mengintai sepanjang masa. Tantangan dunia luar tak lain adalah neoliberalime. Sejarah membuktikan kegagalan kepemimpinan nasional merespon neoliberalisme dengan baik maka membuahkan krisis nasional dan berimbas kepada kegagalan kepemimpinan nasional itu sendiri, yaitu jatuhnya rezim Soeharto tahun 1998. Untuk itu menguraikan tantangan neoliberalisme juga akan diketengahkan dalam tulisan ini. Kepemimpinan yang efektif sangat diperlukan tidak saja sebagai wujud pengelakkan kegagalan mencapai tujuan bersama tetapi juga memanfaatkan peluang yang ada baik dari potensi dalam negeri maupun luar negeri agar bersama-sama sukses menggapai cita-cita nasional, yaitu kesejahteraan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.

Demokrasi dan Kepemimpinan

(3)

Lebih jauh Mohtar Pabottingi menjelaskan hubungan demokrasi dan kepemimpinan dengan memberikan argument asas bahwasanya demokrasi diartikan sebagai pemerintahan yang: 1) berpatokan kepada kolektivitas politik bernama bangsa atau nasion, sebab memang ada simbiosis antara nasion dan demokrasi; 2) menekankan prinsip-prinsip kemerdekaan dan/atau kebebasan (independence, freedom, liberty), keadilan dan/atau kesetaraan (justice, equality, fairness); 3) menerapkan prinsip keabsahan cara /prosedur dan keabsahan tujuan/substansi di dalam segenap mekanisme atau penyelenggaraan kenegaraan; 4) menghormati keberagaman atau pluralitas dalam nasion; 5) menjunjung hak-hak perorangan dan komunitas/masyarakat di dalam keberagaman senasion(mengindahkan rangkaian hajat material dan hajat nilai setiap warga negara); 6) melaksanakan pemerintahan menurut ketentuan prinsip saling-imbang –saling control, yang dipergilirkan secara berkala melalui pemilihan umum; dan 7) bersandar sepenuhnya pada patokan-patokan konstitusi sebagai sebuah bangunan politik/hukum yang progresif dan komprehensif. Pada ketujuh persyaratan demokrasi di atas jelas terbaca komplementaritas kepemimpinan, yaitu dalam rangkaian membawa masyarakat sebangsa kea lam kemamuran dan kebahagaiaan (Prisma, 2013:7-8).

Argumen tersebut jelas menunjukkan betapa hubungan keduanya sangatlah erat sehingga perubahan yang terjadi tentu amat berbeda dengan masa sesudahnya. Indonesia sedari awal sudah menggunakan demokrasi sebagai sistem pemerintahan yang resmi, hanya derajat kualitas demokrasi yang diusung sangat dipengaruhi oleh corak kepemimpinan yang ada. Hal ini bisa dilihat bagaimana Soekarno di awal kemerdekaan memimpin Indonesia dengan begitu kuat mencorakkan warna demokrasi parlementer yang berbeda dengan negara lain maupun dengan rezim-rezim sesudahnya. Perkembangan wacana kepemimpinan Soekarno dan perkembangan demokrasi Indonesia itu sendiri mengalami proses saling mempengaruhi hingga membentuk demokrasi yang berbeda dan tuntutan kepemimpinan yang berbeda seperti sekarang ini. Tentu saja SBY tidak akan mudah menggalang rakyat dengan corak kepemimpinan a la Soekarno yang sentralistik dan otoriteristik karena perkembangan demokrasi Indonesia dewasa ini menuntut transparansi dan kemitraan yang kuat antara pemerintah dan masyarakat dalam proses berbangsa dan bernegara. Kepemimpinan dewasa ini juga dituntut untuk lebih memberikan ruang partisipasi masyarakat lebih luas ketimbang bersifat dari atas ke bawah (top-down approach) seperti dulu.

(4)

Ini yang menjelaskan kenapa dewasa ini banyak kisah sukses pengelolaan daerah yang dilakukan oleh pemimpin lokal di Indonesia menjadi ilham bagi pembuat keputusan di tingkat nasional. Kabupaten Jembrana, Solok, Tanah Datar, Kota Yogyakarta, Kota Surabaya dan lain lainnya sudah menunjukkan bagaimana hubungan demokrasi lokal dan kepemimpinan lokal memiliki hubungan yang besifat simbiotik mutualisma dimana interaksi demokrasi dan kempimpinan lokal mampu mewujudkan kebaikan bersama dengan berbagai kebijakan yang menguntungkan lapisan masyarakat. Perekembangan ini tentu akan jauh berbeda jika dibandingkan dengan masa sebelumnya, seperti masa Orde Baru.

Jika demokrasi sudah menjadi sistem yang disepakati sejak lama di Indonesia dan memiliki hubungan simbiotik mutualisma dengan kepemimpinan nasional, maka tantangan yang mutakhir dewasa ini yang tentu berbeda dengan tantangan yang harus dihadapi oleh pemimpin sebelumnya adalah tak lain berupa tantangan neoliberalisme. Untuk itu penjelasan dibawah bisa membantu pemahaman yang baik untuk menemukan hubungan kepemimpinan nasional dengan tuntutan ataupun tantangan neoliberalisme dewasa ini.

Tantangan Neoliberalisme

Fenomena neoliberalisme begitu menakjubkan dewasa ini karena tidak hanya merupakan fenomena yang menghasilkan perubahan drastik dunia tetapi juga sebuah fenomena yang dibincangkan sangat intens dengan semangat kebencian dan semangat kerinduan yang tumbuh menjadi satu. Dibenci karena dampak negatifnya sangat merugikan masyarakat, seperti ketimpangan ekonomi, kemiskinan dan sebagainya. Dirindui karena menjadi medium efektif untuk menggapai kemakmuran dalam masa singkat, seperti peningkatan pendapatan per kapita, penumpukan kapital dan pembangunan ekonomi yang tinggi. Semangat yang menggelora memuja ‘kekuatan pasar’ seolah meyakini tidak hanya produksi, distribusi dan konsumsi yang tunduk kepadanya tetapi juga seluruh kehidupan. Bukan hanya mekanisme pasar harus digunakan untuk mengatur ekonomi sebuah negara, tetapi juga untuk mengatur ekonomi global.

Friedrich Hayek bersama Milton Friedman, George Stigler, Karl Popper, Lionel Robbins, Wilhem Ropke, Ludwig von Mises, Michael Polanyi, Salvador di Madariga, Walter Euchen dan lain-lain adalah pakar-pakar yang memelopori neoliberalisme global. Dalam bukunya yang sangat terkenal The Road to Serfdom (1944), Hayek (dalam Deliarnov, 2002) mengatakan, “Dengan membiarkan jutaan individu melakukan reaksi terhadap harga pasar yang terbentuk secara bebas, akan terjadi optimalisasi alokasi modal, kreatifitas manusia dan tenaga kerja dengan cara yang tak mungkin ditiru oleh perencanaan terpusat, sehebat apapun perencanaan itu”. Sedangkan Friedman menambahkan bahwa optimalisasi itu sendiri hanya akan terjadi bila barang, jasa dan modal dimiliki sekaligus dikuasai oleh orang-perorangan yang akan digerakkan untuk memperoleh laba sebesar-besarnya. Ada satu, dan hanya satu, tanggung jawab sosial perusahaan atau bisnis, yaitu menggunakan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk mengumpulkan laba sebanyak-banyaknya (Friedman dalam Capitalism and Freedom, 1962).

(5)

independen dari semuanya ini adalah revolusi di bidang teknologi, komunikasi dan transportasi yang amat dahsyat selama 20 tahun terakhir ini. Dan keempat, bagaimana negara-negara kuat (umumnya negara-negara maju) memakai kekuatan yang dimilikinya untuk menaklukkan negara yang lebih lemah (umumnya negara-negara berkembang).

Sudah menjadi perbincangan yang jamak bahwa neoliberalisme menimbulkan implikasi negatif yang serius mengancam kehidupan masyarakat. Pakar seperti Noreena Hertz, Paul Krugman maupun Joseph Stiglitz mengkritisi bahwa dunia bukannya semakin makmur karena neoliberalisme, tetapi justru sebaliknya ketimpangan malahan menjadi realita baru yang tidak hanya dihadapi oleh negara-negara berkembang dan miskin, tetapi justru kini dihadapi oleh negara maju sekalipun, seperti Amerika Serikat. Kebijakan pemulihan krisis ekonomi di AS, baik kebijakan talangan (bail out) saat krisis kredit perumahan (subprime mortgage) 2009 maupun kebijakan pelonggaran moneter (quantitative easing) pada krisis kali ini, hanya dinikmati 1 persen penduduk dan 99 persen selebihnya tak mendapat faedah (Stiglitz, 2012).

Tantangan terberat yang harus dihadapi oleh pemimpin nasional adalah kenyataan bahwa neoliberalisme adalah sebuah keniscayaan. Fenomena yang tidak bisa dihindari karena akan dihadapi dan dijalani oleh semua negara di dunia karena keterikatannya dengan struktur internasional dalam sekotr ekonomi, politik dan social serta budaya. Hidup secara global tentunya menjadi konskuensi kehidupan modern dewasa ini. Kenyataan yang riil di depan mata adalah erosi terhadap peran negara dalam melindungi kepentingan masyarakat di level bawah.

Sinyalemen Fukuyama tentang pentingnya mengetengahkan peranan negara ditengah terpaan neoliberalisme sudah dikabarkan sejak lama. Dalam bukunya State-Building: Governance and World Order (2004), Fukuyama menyatakan bahwa kehadiran negara yang kuat sangat diperlukan terutama dalam membuat dan memberlakukan aturan dan menjaga efisiensi birokrasi untuk menghindari terjadinya penyuapan, korupsi, kolusi, dan sebagainya serta menjamin adanya transparansi dan akuntabilitas sektor publik maupun swasta.

(6)

Dengan begitu tantangan neoliberalisme menjadi penting untuk dihadapi oleh pemimpin nasional karena tidak saja ia memang sebuah keniscayaan kehidupan modern, melainkan juga berimplikasi serius terhadap perkembangan ekonomi dan stabilitas politik. Krisis moneter tahun 1997 sudah menjadi bukti sejarah ketika pemimpin nasional masa itu gagap merespon dampak neoliberaslisme, sehingga krisis ekonomi berbuntut delegitimasi politik sebagai harga yang harus dibayar. Kejatuhan Soeharto boleh disederhanakan karena implikasi negatif neoliberalisme yang merusak pembangunan nasional dan meruntuhkan legitimasi politik yang sudah dibangunnya selama 32 tahun lamanya.

Kepimimpinan Nasional Masa Kini

Demokrasi sudah menjadi pilihan bangsa Indonesia sejak merdeka, dan menjadi medium perkembangan kepemimpinan nasional yang beragam corak dan pengaruhnya. Suka atau tidak demokrasi adalah gagasan politik yang paling sukses pada abad 20 sebagaimana Freedom House melaporkan. Karena kini mayoritas negara di dunia mengamalkan demokrasi dengan berbagai kualitas yang beragam. Setidaknya pemilihan umum menjadi instrumen yang wajib dalam penyelenggaraan negara di dunia. Namun begitu berharap dengan demokrasi sepenuhnya akan menuai kekecewaan jika tidak disetai kepemimpinan nasional yang merawat dan menjaga sekaligus mengembangkan lebih baik. Sudah banyak contoh kasus betapa demokrasi dapat melahirkan pemimpin yang otoriter, sektarian, korup, atau inkompeten, yang pada gilirannya melemahkan sendi-sendi berbangsa dan bernegara (Karman, 2013), bahkan pemimpin fasis sekalipun. Hitler adalah salah satu pemimpin fasis yang dipilih melalui proses yang demokratis.

Kini perkembangan demokrasi dan kepemimpinan ditantang sepenuhnya untuk sukses berhadapan dengan implikasi neoliberalisme global. Fukuyama (2011) mengingatkan bahwa di masa sekarang demokrasi modern baru bisa tumbuh kalau mempunyai tiga unsur, yaitu negara kuat, rule of law, dan pemerintahan yang akuntabel. Sementara Hertz (2002) menyoratkan hal senada yaitu dibutuhkan pemimpin yang cerdas secara politik untuk menjinakkan kapitalisme agar manfaat demokrasi tidak diambil alih oleh para kapitalis. Rangkaian kritikan para pakar sebagaimana penulis jelaskan diatas, baik itu Stiglitz, Erppler, Fukyama mahupun Hertz menjadi penting untuk meletrakkan kepemimpinan nasional yang menyadari pentingnya menempatkan negara ke posisi “necessary” (sebatas diperlukan). Memang perlu kuat tetapi negara juga perlu menjalankan akuntabilitas yang tentunya memerlukan keterlibatan partisipasi masyarakatnya secara aktif yang diperlukan untuk mengawal demokrasi agar tidak dibajak oleh para kapitalis yang bergerak dengan perusahaan multinasionalnya. Terlebih penilaian rezim internasional terhadap Indonesia yang menggembirakan hati para pemimpin nasional bisa menjerumuskan ekonomi sekiranya tidak ditanggapi secara cerdas.

(7)

Jerman dan Inggris. PriceWaterhouseCooper (2013) mempunyai pandangan yang tak kalah positif dan memperkirakan bahwa pada tahun yang sama Indonesia akan menjadi negara ekonomi terbesar ke-8 dunia, dengan kekuatan ekonomi senilai US$ 6,3 Milyar (Indonesiasetara.org, 2014).

Statistik menunjukkan bahwa di sela-sela prestasi gemilang itu, ketimpangan ekonomi di Indonesia pun melebar dengan cepat. Sebagai gambaran, pada tahun 1990, 10% orang terkaya di Indonesia mempunyai pendapatan setara dengan 5,9 kali pendapatan 10% orang termiskin; pada tahun 2005 dan 2011, proporsi tersebut naik menjadi 7,8 kali dan 9,5 kali. Suatu fenomena yang kurang menggembirakan. Apabila diukur menggunakan penguasaan aset (wealth) dan penguasaan tanah, maka ketimpangan itu akan lebih mencolok lagi (Indonesiasetara.org, 2014).

Ketimpangan di Indonesia mengalami peningkatan pesat pada periode 2002–2013, seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Ada korelasi kuat antara pertumbuhan dan ketimpangan ekonomi. Trend tersebut mengindikasikan adanya keterkaitan sistemik antara keduanya. Terlepas dari perbaikan sederet indikator makro ekonomi, saat ini masih banyak rakyat yang hidup dalam kemiskinan. Mereka tidak mendapatkan fasilitas dasar untuk bisa sekedar hidup layak. Jika kita meluangkan waktu sejenak untuk melihat beberapa propinsi di Indonesia, fenomena itu sangat kasat mata. Jalan yang rusak, angkutan umum tak layak, jembatan yang membahayakan penyebrang, bangunan sekolah nyaris roboh, rumah sakit jauh dari memadai merupakan contoh konkret. Fenomena yang sama semakin mudah ditemui ketika kita berkunjung ke kawasan timur, atau di daerah terluar Indonesia.

Dengan realita demikian, kepemimpinan nasional Indonesia dituntut untuk melakukan beberapa hal penting yang harus dilakukan oleh pemimpin sebagai berikut; pertama, haruslah sosok yang bisa membuat perjalanan demokrasi di Indonesia berjalan mundur. Kasus demokrasi berjalan mundur sudah terjadi dewasa ini di Libya, Mesir, Venezuela, Irak, dan Ukraina. Demokrasi sudah terbuklti memberikan ruang yang memadai bagi keterlibatan masyarakat untuk terlibat secara partisipatif dalam proses pengambilan keputusan, dan itu sudah berjalan baik di Indonesia selama ini. Pemilu sudah terbukti berjalan damai dan lancar selama ini khususnya setelah tahun 2004. Keterlibatan masyarakat untuk mendukung kebijakan pemerintah sudah berjalan, baik dalam tingkat nasional maupun tingkat lokal. Ini berarti kepemimpinan nasional benar-benar dituntut untuk menjaga dan membangun demokrasi ke arah yang lebih baik.

(8)

Ketiga, ditengah gugatan peranan negara oleh neoliberalisme dimana keberadaannya dianggap mengganggu ‘hukum pasar’ maka dibutuhkan pemimpin yang mampu meracik tantangan ini dengan kebutuhan yang paling mendasar yang diamanhkan demokrasi, yaitu melindungi kepentingan rakyat. Peter Evans, Dietrich Rueschemeyer, dan Theda Skocpol mengedit sebuah karya fenomenal berjudul Bringing the State Back In (1985) yang menunjukkan peran penting negara dalam melakukan investasi sektor publik (infrastruktur, pendidikan, pelayanan publik, sumberdaya alam, dll.), distribusi kesejahteraan melalui sistem perpajakan, dan membuat dan mengimplementasikan kebijakan sosial (pelayananan kesehatan, tunjangan hari tua, jaminan sosial, dll.) dengan merujuk pada pengalaman berbagai negara Eropa, Asia dan Amerika Latin. Ini adalah peranan dasar negara yang tidak boleh digerus oleh neoliberalisme. Kecerdasan politik pemimpin untuk tidak tergiur memperkuat negara dengan kepemimpinan otoriter dan tidak lengah dan lemah akan tuntutan rakyat bawah yang anarkis menjadi taruhan penting kepemimpinan nasional yang sukses menggerakkan negara ke posisi “necessary” (sebatas diperlukan) atau akuntabel.

Keempat, diperlukan sosok pemimpin yang sukses membangun dan membentuk identitas nasional sehingga penduduk yang tinggal dalam suatu wilayah tertentu dan berada dalam suatu entitas bangsa menyadari bahwa mereka merupakan bagian dari komunitas negara-bangsa yang berdaulat. Ini selari dengan gagasan Eppler yang mengingatkan kekuatan neoliberalisme yang mampu menggerus identitas nasional dan melemahkan nasionalisme rakyat. Jika seorang pemimpin gagal membangun kekuatan ini bisa dipastikan dukungan rakyat akan melemah dan serbuan kapitalisme global menjadi mudah masuk karena hilangnya rasa nasionalisme dan kebangsaan yang digantikan oleh pengejaran keuntungan ekonomi semata, yang pada gilirannya meminggirkan posisi rakyat dalam menikmati kue pembangunan yang semestinya.

Penutup

Ini adalah konsekuensi logis jika menginginkan kempimpinan nasional yang kuat yang sukses membawa peranan negara memenuhi kebutuhan raykat, yaitu kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur. Juga merupakan konsekuensi logis dari hubungan antara demokrasi dan kepemimpinan nasional yang semestinya berlaku hubungan simbiosis mutualisma ditengah terpaan neloiberalisme sebagai sebuah keniscayaan kehidupan modern dewasa ini.

(9)

Daftar Pustaka

 Bob Sugeng Hadiwinata. (2009). “Refleksi Historis Kembalinya Peran ‘Negara’: Pengantar”. Erppler, Erhard. (2009). Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal. Friedrich-Ebert-Stiftung Kantor Perwakilan Indonesia. Jakarta.

 Deliarnov. (2002). Pengantar Ekonomi Makro. Jakarta: Penerbit UI Press. Jakarta

 Erppler, Erhard. (2009). Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal. Friedrich-Ebert-Stiftung Kantor Perwakilan Indonesia. Jakarta.

 Evans, Peter. Dietrich Rueschemeyer, dan Theda Skocpol. (1985). Bringing the State Back In (eds.). University Press. Cambridge.

 Fukuyama, Francis. (2004). State-Building: Governance and World Order. Cornell University Press. New York.

 Fukuyama, Francis. (2011). The Origins of Political Order: From Prehuman Times to the French Revolution. Farrar, Straus and Giroux.

 Hertz, Noreena. (2002). Silent Takeover and the Death of Democracy. William Heinemann. London.

 I. Wibowo. (2003). “Pendahuluan”. I. Wibowo dan Francis Wahono. (eds.). Neoliberalisme.

Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas.Yogyakarta.

 Indonesiasetara.org. (2014).”Pertumbuhan Ekonomi Untuk Siapa?”.

http://indonesiasetara.org/mengurangi-ketimpangan-meluruskan-esensi-pembangunan-i.html. Muat turun 10 Juli 2014.

 Matthew Trachman. (2000). “Historicizing Leadership/Democratizing Leadership Studies”. Paper delivered at the annual meeting of the International Leadership Association, Toronto, Canada, November 2000), 1, 3, 7

 Milton Friedman. (1962). Capitalism and Freedom. University Chicago Press. Chicago.

 Mohtar Pabottingi (2013). “Kepemimpinan dan Demokrasi Kita: Akar-akar Kebangkrutan Kepemimpinan di Era Reformasi dan Jalan Menuju Kebangkitan”. Prisma, Vol. 32, 2013.

 Stiglitz, Joseph E. (2012). The Price of Inequality. W.W. Norton & Company. New York.

Referensi

Dokumen terkait

Jika warna favorit kamu hijau, maka kamu adalah tipe yang sangat romantik, menyukai keindahan, menyenangi alam dengan udara yang sejuk.. Kamu adalah seseorang yang selalu

Kelompok kami juga setuju dengan pendapat tersebut karena pengimplemtasikan Pancasila terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi adalah suatu kesinambungan

Hasil Hasil analisis antara hubungan faktor jenis pasien dengan tingkat kepuasan pasien di instalasi radiologi Rumah Sakit Putri Hijau diperoleh dari 182 orang pasien BPJS

Makna netralitas tersebut di atas adalah bebasnya Pegawai Negeri Sipil dari pengaruh kepentingan partai politik tertentu atau tidak memihak untuk kepentingan partai tertentu atau

◦ Contoh: Seorang peneliti ingin mengetahui apakah terdapat perbedaan nilai statistik pada kelompok mahasiswa ilmu komunikasi (kelompok 1) dan mahasiswa psikologi..

Strategi defensif dalam tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh perusahaan terkait dengan penggunaan pendekatan legal atau jalur hukum untuk menghindarkan diri atau menolak

Sebuah katrol dari benda pejal dengan tali yang dililitkan pada sisi luarnya ditampilkan seperti gambar1. Gesekan

dengan syarat Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pengamat terhadap aktivitas guru pada siklus I diperoleh keterangan bahwa peneliti belum maksimal dalam