HIPERTENSI
INTRADIALITIK
INTRADIALITIK
EPIDEMIOLOGI
Penderita GGK semakin meningkat jumlahnya, di Amerika (2009) 116395 orang penderita GGK
yang baru (total : 571414). Lebih dari 380000 penderita GGK menjalani hemodialisis reguler.1
Riskesdas (2013 ) prevalensi penyakit ginjal kronis di Indonesia
sebesar 0.2%.
Indonesian Renal Registry (IRR)(2012) 15353 19621
Definisi
Definisi pasti dari hipertensi intradialitik belum disepakati secara umum
Amerling dkk.
• Peningkatan MAP > 15 mmHg berdasarkan tekanan darah • Peningkatan MAP > 15 mmHg berdasarkan tekanan darah
awal dan akhir sesi hemodialisis
Cirit dkk.
• Tekanan darah lebih tinggi pada akhir sesi dialisis dibanding awal hemodialisis selama lebih dari 50% sesi hemodialisis.
Gunal dkk.
• Tekanan darah meningkat selama proses hemodialisis pada empat sesi dialisis berturut-turut
Definisi
Chou dkk.
• Tekanan darah normal atau tinggi saat awal hemodialisis, diikuti peningkatan MAP 15 mmHg selama lebih 2/3 dari 12 sesi hemodialisis terakhir.
Chen dkk.
• Hipertensi yang muncul dan resisten terhadap ultrafiltrasi yang terjadi selama • Hipertensi yang muncul dan resisten terhadap ultrafiltrasi yang terjadi selama • Hipertensi yang muncul dan resisten terhadap ultrafiltrasi yang terjadi selama
hemodialisis atau segera setelah hemodialisis.
• Hipertensi yang muncul dan resisten terhadap ultrafiltrasi yang terjadi selama hemodialisis atau segera setelah hemodialisis.
Inrig dkk.
• Peningkatan tekanan darah sistolik pascadialisis dengan tekanan darah sistolik pascadialisis – tekanan darah sistolik predialisis ≥ 10 mmHg • Peningkatan tekanan darah sistolik pascadialisis dengan tekanan darah
sistolik pascadialisis – tekanan darah sistolik predialisis ≥ 10 mmHg
KDOQI (2006)
• Peningkatan tekanan darah selama atau segera setelah hemodialisis dan menyebabkan hipertensi post hemodialisis (post HD > 130/80 mmHg) • Peningkatan tekanan darah selama atau segera setelah hemodialisis dan
Prevalensi
Prevalensi hipertensi intradialitik pada penderita PGK dengan
hemodialisis rutin sebesar 5-15%1
Van Buren dkk. 21.3%
CLIMB study 13.2% Morbidity and Mortality Wave IIUS Renal Data System Dialysis study 12%.
Hipertensi Intradialitik
Inrig dkk 12,2%. Amerling, dkk 8%
1. Charles Chazot GJ. Intradialytic hypertension: It is time to act. Nephron Clin Pract. 2010;115:182 - 8 1. Charles Chazot GJ. Intradialytic hypertension: It is time to act. Nephron Clin Pract. 2010;115:182 - 8
Prevalensi
Indonesian Renal Registry (IRR) 2012
Zager dkk: TDs paskadialisis >180 mmHg atau TDd pascadialisis > 90 mmHg ↑ risiko (RR) mortalitas kardiovaskuler sebesar 1,96 dan 1,73
Inrig dkk: TD dari 3 sesi HD berturut – turut setiap
peningkatan TDs sebesar 10 mmHg selama hemodialisis berhubungan dengan penurunan angka ketahanan
hidup selama 2 tahun.
EPIDEMIOLOGI
sebesar 1,96 dan 1,73
Yang dkk: TDs > 5 mmHg ↑ risiko kematian 2.9 kali
lebih tinggi dibandingkan pasien yang tidak meningkat
CLIMB trial: ↑ hospitalisasi +
mortalitas setelah 6 bulan pada kelompok hipertensi intradialitik (OR 2.17; 95% CI: 1.13 – 4.15), &
setiap ↑ 1 mmHg TD
meningkatkan 2% OR berhubungan dengan hospitalisasi + mortalitas (OR: 1.02, 95% CI: 1.01 – 1.03)
Etiologi dan patofisiologi
HIPERTENSI INTRADIALITIK
Kelebihan volume Aktivasi RAAS
Overaktivitas sistem saraf simpatis Faktor spesifik hemodialisis
Obat - obatan
Arterial StiffnessDisfungsi endotel
Charles Chazot GJ. Intradialytic hypertension: It is time to act. Nephron Clin
Pract. 2010;115:182 - 8.
Charles Chazot GJ. Intradialytic hypertension: It is time to act. Nephron Clin
PATOFISIOLOGI
Asupan sodium ↑ Jumlah nephron ↓ Stress
Retensi sodium renal Filtrasi ginjal ↓ Overaktivitas
simpatis Overaktivitas
simpatis RAAS
Volume cairan ↑ Konstriksi vena
Preload ↑ Kontraktilitas ↑ LVH HIPERTENSI CO ↑ RESISTENSI PERIFER ↑ Dan / atau Dan / atau
Kelebihan volume
Cairan ekstrasel yang berlebihan CO ↑ TD ↑
Overhidrasi dan dilatasi
jantung CO ↑ TD ↑
Cirit dkk.
jantung CO ↑ TD ↑ paradoksal saat UF
Ultrafiltrasi yang intensif
Cirit dkk.
Gunal dkk.
Kelebihan volume
• Definisi berat badan kering menurut Argawal adalah berat badan setelah dialisis yang terendah yang dapat ditoleransi oleh pasien yang dicapai dengan perubahan secara bertahap BB setelah dialisis, dan terdapat gejala yang minimal dari hipovolemia atau hipervolemia
yang minimal dari hipovolemia atau hipervolemia • Penentuan BB kering multiple frequency
bioimpedance spectroscopy.
• Penentuan BB kering secara klinis : evaluasi tekanan darah, tanda-tanda overload cairan dan toleransi pasien terhadap UF saat HD untuk mencapai target BB
The effect of dry weight reduction on interdialytic ambulatory systolic and diastolic BP in hypertensive hemodialysis pts.
Kelebihan volume
• Dry weight reduction in hypertensive
hemodialysis patients (DRIP) study :
menurunkan estimasi berat badan kering
selama beberapa minggu akan menurunkan selama beberapa minggu akan menurunkan tekanan darah interdialitik dan intradialitik,
walaupun sebelumnya sudah memiliki riwayat hipertensi intradialitik
Kelebihan volume
• Guideline K/DOQI 2006 menyatakan bahwa kenaikan BB interdialitik sebaiknya tidak
melebihi dari 4,8% BB kering
• Flyte dkk. : UF yang lebih cepat pada pasien • Flyte dkk. : UF yang lebih cepat pada pasien
HD berhubungan dengan risiko yang lebih besar terhadap berbagai sebab kematian dan kematian karena CVD
Aktivasi sistem renin angiotensin
aldosteron (RAAS)
• Aktivasi dari RAAS dan oversekresi renin dan angiotensin II menyebabkan peningkatan yang tiba-tiba dari resistensi vaskular dan TD ↑
• Vertes dkk. (1969) hipertensi intradialitik jarang ditemukan pada pasien yang sudah jarang ditemukan pada pasien yang sudah dilakukan nefrektomi bilateral
• Bazzato dkk. 6 pasien dengan hipertensi intradialitik, diberikan captopril 50 mg sesaat sebelum dilakukan dialisis dapat mencegah terjadinya hipertensi intradialitik
Aktivasi sistem renin angiotensin
aldosteron (RAAS)
• Chou dkk., Tidak ada perbedaan yang
signifikan diantara 2 kelompok, kecuali MAP yang lebih tinggi pada kelompok hipertensi intradialitik.
intradialitik.
Aktivasi RAAS bukan merupakan
Overaktivitas sistem saraf simpatis
• Pasien dengan PGK umumnya sudah terjadisympathetic overactivity, ditandai dengan
peningkatan konsentrasi katekolamin plasma
• Hal ini disebabkan oleh menurunnya kliren renal terhadap katekolamin dan efek langsung oleh
terhadap katekolamin dan efek langsung oleh karena aktivitas saraf simpatis.
• Sympathetic overactivity pada PGK menjadi normal setelah dilakukan nefrektomi, hal ini diduga karena signal dari ginjal yang sakit berperan dalam aktivasi simpatis.
Overaktivitas sistem saraf simpatis
• Rubinger dkk aktivitas sistem saraf simpatis ↑pada 2/3 subjek dengan hipertensi intradialitik prediktor hipertensi intradialitik (OR: 1.455; 95% CI: 1.130 – 1.875; p = 0.004).
CI: 1.130 – 1.875; p = 0.004).
• Chou dkk. : kadar norepinefrin ↑ secara
signifikan setelah hemodialisis pada kelompok tanpa hipertensi intradialitik tidak
ditemukan perubahan aktivitas sistem saraf
Faktor spesifik hemodialisis
• Kadar elektrolit pasien seperti sodium saat HD sangat penting sebab erat hubungannya dengan kontraktilitas jantung, resistensi vaskular
perifer dan kontrol TD
• Penarikan sodium yang adekuat : memilih
kecepatan ultrafiltrasi dan konsentrasi sodium dialisat yang tepat.
• Pembatasan konsumsi garam & penurunan volume cairan ekstrasel menormalkan TD saat HD pada pasien dengan hipertensi
Obat - obatan
Obat antihipertensi Eliminasi selama dialisis (%)
Penghambat ACE Benazepril Enalapril Fosinopril Lisinopril Ramipril Ya 35 2 50 Ya
Calcium Channel Blocker
Amlodipin Diltiazem Nifedipin Nicardipine Felodipin Verapamil ? ? Rendah ? ? Rendah Verapamil Rendah β – Blocker Atenolol Alebutolol Carvedilol Labetalol Metoprolol 75 70 Tidak < 1 Tinggi Obat antiadrenergik Klonidin Guanabenz Metildopa 5 Tidak 50 Vasodilator Hidralazin Minoksidil Tidak Ya
Angiotensin Receptor Blocker
Losartan Candesartan Eprosartan Telmisartan Valsartan Irbesartan Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak
Pharmacokinetic properties of ARB’s in ESRD T1/2(h) normal T1/2(h) ESRD Initial dose in HD Maintenance dose in HD Removal during HD Candesartan 9 ? 4 q24h 8-32 q24h No Irbesartan 11-15 11-15 75-150 q24h 150-300 q24h No Losartan 2 4 50 q24h 50-100 q24h No Losartan 2 4 50 q24h 50-100 q24h No Telmisartan 24 ? 40 q24h 20-80 q24h No Valsartan 6 ? 80 q24h 80-160 q24h No
Obat - obatan
• Mekanisme ESA dapat menyebabkan hipertensi masih belum diketahui.
• Peningkatan dari hematokrit, viskositas darah, konsentrasi endotelin-1 (ET-1), dan resistensi konsentrasi endotelin-1 (ET-1), dan resistensi
vaskular perifer mungkin berperan dalam kondisi ini • Besarab dkk. 618 pasien HD dilakukan random
untuk mendapatkan target hematokrit 42% dan 30%. Setelah 29 bulan didapatkan risiko kematian lebih
tinggi pada kelompok hematokrit 42% (RR: 1.3; 95% CI: 0.9 – 1.9)
Obat - obatan
Takahasi dkk., menunjukkan bahwa peningkatan kadar ET-1 dalam plasma pada pasien
kadar ET-1 dalam plasma pada pasien
hemodialisis hanya terjadi pada pasien hipertensi intradialitik setelah 8 minggu pemberian ESA
Arterial stiffness
• Dubin dkk. 30 pasien gagal ginjal terminal
yang dilakukan HD rutin, arterial stiffness
diperiksa dengan mengukur carotid femoral
pulse wave velocity (PWV) arterial stiffness pulse wave velocity (PWV) arterial stiffness
berhubungan dengan hipertensi intradialitik (p = 0.04). Setiap peningkatan 1 m/s PWV
berhubungan dengan peningkatan 1.5 mmHg TD sistolik selama dialisis
Disfungsi endotel
• Disfungsi endotel/Endothelial cell dysfunction (ECD): ketidakmampuan dari sel endotel untuk mengatur beberapa atau semua fungsinya
• Pada pasien PGK terjadi disfungsi endotel tetapi mekanismenya belum jelas.
mekanismenya belum jelas.
• Ada tiga mekanisme potensial yang berkontribusi terhadap terjadinya disfungsi endotel yaitu :
- stres oksidatif
- defisiensi L-arginin - ADMA
Disfungsi endotel
• Chou dkk. : pada hipertensi intradialitik terdapat ET-1 ↑ dan rasio NO/ET-1 ↓ dibandingkan
dengan pasien kontrol
• Inrig dkk.: carvedilol 50 mg diberikan dua kali • Inrig dkk.: carvedilol 50 mg diberikan dua kali
sehari pada penderita HD hubungan yang
signifikan terhadap perbaikan fungsi sel endotel. Selain itu didapatkan juga TD intradialitik ↓,
dengan tekanan darah ambulatory ↓ dan frekwensi intradialitik ↓
Penanganan Hipertensi Intradialitik
• Berdasarkan The European Best Practice for Hemodialysis, tidak ada rekomendasi untuk penanganan hipertensi intradialitik
• Locatelli dkk.: keseimbangan positif sodium • Locatelli dkk.: keseimbangan positif sodium
berperan penting pada kejadian hipertensi intradialitik, sehingga usaha untuk
menormalkan kembali sodium dan kelebihan volume sebaiknya merupakan langkah pertama dalam penanganan hipertensi intradialiatik
HIPERTENSI KRISIS
(EMERGENSI) PADA PASIEN
HEMODIALISIS
DEFINISI UMUM
Krisis hipertensi : TDD > 120 mm Hg
Termasuk : Hipertensi Emergensi
Termasuk : Hipertensi Emergensi
Hipertensi Urgensi
Hipertensi Berat
DEFINISI
Hipertensi Emergensi :
• Hipertensi berat dengan TDD > 120 mm Hg • Terdapat KOT AKUT (otak, jantung, Ginjal) • Terdapat KOT AKUT (otak, jantung, Ginjal)
• Menurunkan TD dalam menit – jam menggunakan
obat intravena
NICARDIPINE
Second generation dihydropyridine calcium channel blocker
Longer duration of action, no excess hypotension Longer duration of action, no excess hypotension
compared with SNP
Used safely in hypertensive encephalopathy, cerebral vascular accidents and post/peri-operative