PENYUSUNAN INDEK PEMBANGUNAN MANUSIA KABUPATEN JOMBANG TAHUN

145  Download (0)

Teks penuh

(1)

Laporan Akhir

PENYUSUNAN INDEK PEMBANGUNAN MANUSIA

KABUPATEN JOMBANG

TAHUN 2011

Bekerjasama

dengan

(2)

uji syukur kehadirat Allah Tuhan Yang Maha Esa.

Penyusunan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Jombang Tahun 2011 merupakan kebijakan yang ditempuh Pemerintah Kabupaten Jombang untuk melaksanakan program pembangunan yang berkesinambungan. Hal ini bertujuan untuk mencapai tujuan pembangunan masyarakat berkemakmuran dengan menerapkan kebijakan-kebijakan yang tepat sasaran yang menyentuh tiap lapisan masyarakat.

Laporan Akhir Penyusunan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Jombang Tahun 2011 merupakan laporan penutup kegiatan yang berisikan seluruh hasil kegiatan Penyusunan IPM Jombang 2011 hingga keluar nilai IPM yang didapatkan beserta analisa-analisanya. Disampaikan terimakasih kepada semua pihak yang memberikan masukan bagi tercapainya penyusunan dokumen Indeks Pembangunan Manusia yang berkualitas dan dapat memberi manfaat seluas-luasnya untuk pembangunan Jombang ke depan.

Jombang, November 2011

Tim Penyusun

P

(3)

Kata Pengantar ... i

Daftar Isi ... ii

Daftar Tabel...v

Daftar Gambar……….vii

Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan masalah ... 3

1.3 Maksud dan Tujuan ... 4

1.4 Lingkup Kegiatan ... 4

Bab II Tinjauan Pustaka 2.1 Kajian Ilmiah ... 7

2.2 Konsep dan Pengukuran Komponen Penentu IPM ... 7

2.2.1 Usia Hidup ... 8

2.2.2 Pengetahuan ... 10

2.2.3 Standar Hidup Layak ... 12

2.2.4 Penghitungan IPM ... 14

2.2.5 Kategori Peringkat Pembangunan Manusia ... 15

2.3 Konsep dan Penghitungan Indek Pembangunan Gender ... 16

(4)

Bab III Metodologi

3.1 Metode Pengumpulan Data ... 20

3.1.1. Survey Primer ... 21

3.1.2. Survey Sekunder ... 22

3.2 Tahap Pengolahan Data ... 23

3.3 Tahap Analisa Data ... 23

Bab IV Pembahasan 4.1 Hakikat Pembangunan Manusia ... 26

4.1.1. Tujuan Penghitungan Indeks Pembangunan manusia (IPM) .... 30

4.1.2. Keterbatasan IPM ... 31

4.2 Sekilas kabupaten Jombang ... 34

4.3 Status Pembangunan Manusia ... 42

4.4 Status Pembangunan Manusia Kecamatan ... 44

4.5 Status Pembangunan Gender ... 47

Bab V Pembangunan Bidang Kesehatan 5.1 Status Kesehatan di Kabupaten Jombang ... 51

5.2 Aksesibilitas dan Pelayanan Kesehatan di Kabupaten Jombang ... 65

5.3 Tenaga Kesehatan ... 68

(5)

Bab VI Pembangunan Bidang Pendidikan

6.1 Taraf Pendidikan dan Literasi... 79 6.2 Akses dan Pemerataan Pendidikan ... 84 6.3 Kualitas Pendidikan ... 92

Bab VII Pembangunan Bidang Ekonomi

7.1 Tinjauan Perkembangan Standar Kehidupan di Kabupaten Jombang ... 107 7.2 Tinjauan Pengembangan Kesempatan Kerja ... 112

Bab VIII Sebaran IPM

8.1 Sebaran Indeks Harapan Hidup ... 120 8.2 Sebaran Indeks Pendidikan ... 123 8.3 Sebaran Indeks Daya Beli ... 126

Bab IX Kesimpulan dan Rekomendasi

9.1 Kesimpulan... 131 9.2 Rekomendasi ... 132

(6)

Tabel 3.1 Nama Desa Pengambilan Sample dan Jumlah Sample ... 22

Tabel 4.1 Persinggungan Antara Pembangunan Manusia dan Tujuan Pembangunan ... 30

Tabel 4.2 PDRB Kabupaten Jombang 2009-2010 ... 37

Tabel 4.4 Perbandingan IPM Kabupaten Jombang 2009-2011 ... 42

Tabel 4.5 Perbandingan IPM Kecamatan di Kabupaten Jombang 2009 – 2011 ... .45

Tabel 4.6 Perbandingan Kompnen IPM Kecamatan di Kabupaten Jombang 2011 ... 46

Tabel 4.7 IPG di Kabupaten Jombang Tahun 2011 ... 48

Tabel 5.1 Jumlah Rumah Sakit, Puskesmas, dan Puskemas Pembantu Kabupaten Jombang 2010 ... 53

Tabel 5.3 Perkembangan Angka Harapan Hidup Kab. Jombang... 55

Tabel 5.4 Jumlah Rumah Sakit, Puskesmas, dan Puskemas Pembantu Kabupaten Jombang ... 66

Tabel 5.5 Posyandu, Poskesdes, Polindes, Rumah Bersalin, dan Balai Pengobatan di Kabupaten Jombang ... 67

Tabel 5.6 Tenaga Kesehatan di Kabupaten Jombang ... 69

Tabel 6.1 Rata-Rata Lama Sekolah Kabupaten Jombang 2011 ... 76

Tabel 6.2 Angka Melek Huruf Kabupaten Jombang 2011... 82

Tabel 6.3 Indikator Pendidikan di Kabupaten Jombang 2010/2011 ... 85

Tabel 6.4 Jumlah SMA di Kabupaten Jombang 2010 ... 86

Tabel 7.1 Perkembangan PDRB, PDRB Perkapita, dan Pendapatan Regional Kab. Jombang 2009-2010 ... 108

(7)

Tabel 7.2 Prosentase Jumlah Masyarakat Miskin Kabupaten Jombang 2006 - 2009 ... 109

(8)

Gambar 1.1 Konsep Perhitungan Indeks Pembangunan Gender ... 17

Gambar 4.1 Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Jombang 2001-2010 ... 39

Gambar 4.2 4 Sektor Dominan Ekonomi Kabupaten Jombang 2010 ... 40

Gambar 5.1 Perkembangan Angka Kematian Bayi Kab. Jombang ... 57

Gambar 5.2 Perkembangan Angka Kematian Ibu Kab. Jombang ... 59

Gambar 6.1 Tingkat Pendidikan Penduduk Kab Jombang 2009... 83

Gambar 7.1 Diagram Peluang Kerja Sektor Pertanian ... 114

Gambar 7.2 Diagram Peluang Kerja Kawasan Agropolitan ... 114

Gambar 7.3 Kesempatan Kerja Oleh Pemerintah ... 115

Gambar 7.4 Diagram Keinginan Melakukan Kegiatan Usaha ... 116

Gambar 8.1 Sebaran IPM Kabupaten Jombang 2010-2011 ... 119

Gambar 8.2 Sebaran Indeks harapan Hidup Kabupaten Jombang 2010 -2011 ... 122

Gambar 8.3 Sebaran IMH dan MYS Kabupaten Jombang ... 125

Gambar 8.4 Sebaran Indeks Daya Beli Kabupaten Jombang 2010-2011 ... 130

(9)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Untuk mengetahui dan memetakan kualitas pembangunan manusia atau tingkat kesejahteraan rakyat di Kabupaten Jombang salah satunya dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Data IPM tersebut dibutuhkan bukan saja untuk mengetahui sejauh mana pencapaian hasil-hasil pembangunan kesejahteraan rakyat yang telah dilakukan, namun juga sekaligus sebagai bahan masukan guna merumuskan kebijakan dan program intervensi di tahun-tahun mendatang agar lebih efektif dan efisien.

IPM merupakan suatu indeks komposit yang terdiri dari tiga komponen yang sangat esensial, yaitu Indeks Harapan Hidup (Life Expectancy at Age) yang merupakan gambaran tingkat kesehatan masyarakat,

(10)

Angka Melek Huruf (Adult Literacy Rate) dan Rata-rata Lama Sekolah (Mean Years of Schooling) yang dapat mengindikasikan tingkat pendidikan atau kemampuan akademik dan ketrampilan, serta Indeks Kemampuan Daya Beli yang merupakan ukuran pendapatan per kapita yang telah disesuaikan menjadi paritas daya beli

(Purchasing Power Parity).

Untuk mengetahui angka IPM Kabupaten Jombang pada tahun 2011 tentu perlu dilakukan penghitungan. Bagi Kabupaten Jombang, pengukuran IPM ini penting dilakukan sekurang-kurangnya karena empat alasan, antara lain :

1. IPM akan dapat dijadikan sebagai acuan untuk melihat tingkat keberhasilan program pembangunan kesejahteraan sosial yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Jombang.

2. IPM akan dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu perencanaan pembangunan daerah (planning tool), yang lebih mengakomodasikan dimensi pembangunan sosial menuju peningkatan kualitas hidup manusia.

3. Data IPM diyakini bermanfaat dan menjanjikan keunggulan sebagai alat evaluasi (review method)

(11)

4. IPM sebagai salah satu alat analisa yang menjanjikan sejumlah keunggulan karena lebih menggambarkan pemerataan hasil pembangunan dan langsung menyentuh hasil pembangunan manusia dengan indikator kesejahteraan sosialnya (tingkat kesehatan, kualitas pendidikan dan akses terhadap sumber daya ekonomi).

Pada kegiatan ini juga dilakukan penghitungan Indeks Pembangunan Gender (IPG) yaitu suatu indeks untuk mengukur pencapaian dalam dimensi yang sama dan menggunakan indikator yang juga sama dengan IPM, namun lebih diarahkan untuk mengungkapkan ketimpangan antara perempuan dan laki-laki. IPG secara sederhana merupakan IPM yang disesuaikan guna menggambarkan ketimpangan gender. Semakin besar ketimpangan gender dalam pembangunan dasar manusia, semakin rendah IPG suatu wilayah relative terhadap IPM-nya.

1.2. Perumusan Masalah

1. Bagaimana besaran IPM dan faktor pembentuknya di tingkat Kabupaten Jombang, kemudian dibandingkan dengan tingkat kecamatan, dan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

(12)

2. Bagaimana peta sebaran (mapping) yang berisi kecamatan-kecamatan yang masih relatif tertinggal dalam bidang pembangunan manusia.

3. Bagaimana deskripsi tentang sebab-sebab kecamatan yang masih relatif tertinggal di bidang IPM dan solusinya dalam perencanaan

1.3. Maksud dan Tujuan

1. Menghitung besaran IPM dan faktor pembentuknya di tingkat Kabupaten, kemudian dibandingkan dengan daerah lain, dan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

2. Menghasilkan sebuah peta sebaran (mapping) yang berisi kecamatan-kecamatan yang masih relatif tertinggal dalam bidang pembangunan manusia.

3. Mendeskripsikan tentang sebab-sebab kecamatan yang masih relatif tertinggal di bidang IPM dan solusinya dalam perencanaan.

1.4. Lingkup kegiatan

Penghitungan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meliputi 3 (tiga) komponen yaitu:

1. Angka Harapan Hidup (Life Expectation of Age), yakni jumlah rata-rata tahun (umur) yang

(13)

diharapkan oleh seseorang yang baru lahir untuk dijalani sampai meninggal kelak.

2. Angka Melek Huruf penduduk dewasa (Adult

Literacy Rate) dan rata-rata lama sekolah (Mean

Years of Schooling/MYS) yakni mengukur

pengetahuan (knowledge) dan ketrampilan (skill).

3. Paritas daya beli (Purchasing Power Parity)

merupakan ukuran pendapatan yang sudah disesuaikan dengan paritas daya beli.

(14)
(15)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam melaksanakan kegiatan Penyusunan Indeks Pembangunan Manusia, dibutuhkan kerangka pemikiran yang disusun secara metodologis dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:

2.1. Kajian Ilmiah

Langkah awal dalam pengerjaan Penyusunan Indeks Pembangunan Manusia adalah melakukan kajian ilmiah. Kajian ilmiah ini dilakukan dengan melakukan review terhadap hasil penyusunan IPM Kabupaten Jombang pada tahun-tahun sebelumnya. Review ini penting dilakukan untuk mengetahui bagimana kondisi IPM Kabupaten Jombang di tahun sebelumnya dan bagaimana perkembangannya dari tahun ke tahun.

2.2. Konsep dan Pengukuran Komponen Penentu IPM Indeks Pembangunan Manusia sebagai nilai komposit dapat menunjukkan seberapa besar tingkatan

(16)

pembangunan manusia dapat dicapai. Namun demikian, IPM juga bisa digunakan sebagai dasar pertimbangan bagi perencanaan pengembangan peningkatan sumber daya manusia. Untuk itu, pendekatan yang dipakai adalah bersifat sangat spesifik, yaitu menyangkut pada aspek-aspek yang terkait dengan indikator-indikator IPM dalam kerangka pengembangan sumber daya manusia sesuai dengan tujuan dan sasaran yang diterapkannya. Pendekatan yang dimaksud adalah yang menyangkut dimensi kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan.

IPM merupakan suatu indeks komposit yang mencakup tiga bidang pembangunan manusia yang dianggap sangat mendasar, yaitu usia hidup

(Longetivity), pengetahuan (Knowledge), dan standar

hidup layak (Decent Living).Pembangunan manusia harus terlebih dahulu mengupayakan agar penduduk dapat mencapai usia hidup yang panjang dan sehat.

2.2.1. Usia Hidup

Pembangunan manusia harus lebih mengupayakan agar penduduk dapat mencapai “usia hidup” yang panjang dan sehat. Sebenarnya banyak indikator yang dapat digunakan untuk mengukur usia hidup tetapi

(17)

dengan mempertimbangkan ketersediaan data secara global UNDP memilih indikator angka harapan hidup waktu lahir (life expectacy at birth ) yang biasa dinotasikan dengan eo. Angka kematian bayi (IMR) tidak digunakan untuk keperluan itu karena indikator itu dinilai tidak peka bagi negara-negara industri yang telah maju. Seperti halnya IMR, eo sebenarnya merefleksikan keseluruhan tingkat pembangunan dan bukan hanya bidang kesehatan. Di Indonesia, eo dihitung dengan metode tidak langsung. Metode ini menggunakan dua macam data dasar yaitu rata-rata anak yang dilahirkan hidup dan rata-rata anak yang masih hidup. Prosedur penghitungan eo yang diperoleh dengan metode tidak langsung merujuk pada keadaan 3-4 tahun dari tahun survey

Formula penghitungan Angka Harapan Hidup (eo) adalah sebagai berikut (BPS, Bappenas dan UNDP 2001): ) ( ) ( x x o I T x e =

eox = rata-rata umur (tahun hidup) yang mungkin dicapai oleh suatu kohor penduduk hingga ulang tahun ke-1

(18)

T(x) = jumlah orang yang berhasil mencapai umur tepat 1 tahun

I(x) = total tahun orang yang hidup setelah umur tepat 1 tahun

2.2.2. Pengetahuan

Selain usia hidup, pengetahun juga diakui secaraluas sebagai unsur mendasar dari pembangunanmanusia. Dengan pertimbangan ketersediaandata, pengetahuan diukur dengan dua indikator yaitu angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah. Sebagai catatan UNDP dalam publikasi tahunan HDR sejak tahun 1995 mengganti rata-rata lama sekolah dengan partisipasi sekolah dasar, menengah dan tinggi sekalipun diakui bahwa indikator yang kedua kurang sesuai sebagai indikator dampak. Penggantian dilakukansemata-mata karena sulitnya memperoleh data rata-rata lama sekolah secara global, suatu kesulitan yang bagi keperluan internal Indonesia dapat diatasi dengan tersedianya data SusenasKor atau data Instansi

Indikator angka melek huruf dapat diolah dari variabel kemampuan membaca dan menulis.Pengolahannya dapat dilakukan dengan menjumlahkan kasus berkode 1 (dapat membaca dan menulis) dan berkode 2 (dapat

(19)

membaca dan menulis huruf lainnya). Kemudian membandingkannya dengan jumlah seluruh kasus. Seperti halnya angka melek huruf, rata-rata lama sekolah dihitung dengan pengolahan tabulasi data. Penghitungan dilakukan dengan menggunakan dua variabel secara simultan, yaitu: tingkat/kelas yang sedang/pernah dijalani, dan jenjang pendidikan tertinggi yang ditamatkan.

Dari penghitungan dengan menggunakan hubungan antar variabel tersebut diperoleh data lama sekolah masing-masing individu yang kemudian digunakan sub program MEANS dalam paket SPSS untuk menghitung rata-rata lama sekolah agregat

Adapun formula AMH adalah sebagai berikut (BPS, Bappenas dan UNDP 2001):

.

15

.

.

.

.

15

.

th

penddk

Jmlh

huruf

melek

yg

th

penddk

Jmlh

AMH

>

>

=

Sedangkan rata-rata lama sekolah didefinisikan sebagai rata-rata lama pendidikan formal penduduk berusia 15 tahun ketas. Perhitungannya melalui tahun konversi yang ditinjau dari pendidikan tertinggi yang

(20)

ditamatkan seperti tabel dibawah ini : Pendidikan tertinggi yang

ditamatkan

Tahun Konversi 1. Tidak pernah sekolah 0

2. Sekolah Dasar 6 3. SLTP 9 4. SLTA/SMU 12 5. Diploma I 13 6. Diploma II 14 7. Akademi/Diploma III 15 8. Diploma IV/Sarjana 16 9. Magister (S2) 18 10. Doktor (S3) 21

2.2.3. Standar Hidup Layak

Selain usia hidup, dan pengetahuan unsur dasarpembangunan manusia yang diakui secara luasadalah standar hidup layak. Banyak indikator alternatif yang dapat digunakan untuk mengukur unsur ini. Dengan mempertimbangkan ketersediaan data secara internasional UNDP,memilih PDB per kapita riil yang telah disesuaikan (adjusted real GDP per capita)

sebagai indikator hidup layak. Berbeda dengan indikator untuk kedua unsur IPM lainnya, indikator

(21)

standar hidup layak diakui sebagai indikator input, bukan indikator dampak,sehingga sebenarnya kurang sesuai sebagai unsur IPM. Walaupun demikian UNDP tetap mempertahankannya karena indikator lain yang sesuai tidak tersedia secara global. Selain itu, dipertahankannya indikator input juga merupakan argumen bahwa selain usia hidup dan pengetahuan masih banyak variabel input yang pantas diperhitungkan dalam perhitungan IPM. Dilemanya, memasukkan banyak variabel atau indikator akan menyebabkan indikator komposit menjadi tidak sederhana. Dengan alasan itu maka GDP riil perkapita yang telah disesuaikan dianggap mewakili indikator input IPM lainnya.

Untuk keperluan perhitungan IPM data dasar PDRB perkapita tidak dapat digunakan untuk mengukur standar hidup layak karena bukan ukuran yang peka untuk mengukur daya beli penduduk (yang merupakan fokus IPM). Sebagai penggantinya digunakan konsumsi perkapita riil yang telah disesuaikan untuk keperluan yang sama.Untuk menghitung konsumsi perkapita riil yang disesuaikan pertama dihitung terlebih dahulu daya beli untuk tiap unit barang atau

(22)

Perhitungan konsumsi perkapita riil dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut (BPS, Bappenas dan UNDP 2001): :

a. Menghitung pengeluaran konsumsi perkapita b. Melakukan penyesuaian butir a dari data

Susenas Modul

c. Mencari IHK (Indeks Harga Konsumen) dengan membandingkan pola konsumsi data modul Susenas dengan data Survey Biaya Hidup d. Mendeflasikan pengeluaran konsumsi perkapita

yang disesuaikan (menggunakan IHK Kabupaten)

e. Menghitung daya beli per unit (PPP/unit)

2.2.4. Penghitungan IPM

Penghitungan IPM yang telah disesuaikan didasarkan atas empat komponen, yakni angka harapan hidup, angka melek huruf, rata-rata lama sakolah dan kemampuan konsumsi penduduk, maka rumus yang akan digunakan adalah :

) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) , ( ) , ( i i i j i j i MinX MaxX MinX X I − − =

(23)

= 1 3 ) , ( ) (j I ij IPM dengan, i = 1,2,3 j = Kab/Kota 1,2,…37 Keterangan :

I (i,j) = Indeks Komponen IPM ke-i X (i,j) = Nilai Komponen IPM ke-i

Max.X (i) = Nilai Komponen IPM ke-i tertinggi Min.X (i) = Nilai Komponen IPM ke-i terendah IPM (j) = Indeks Pembangunan Manusia

Atau secara lebih sederhana, perhitungan IPM diformulasikan sebagai berikut :

3

)

(

IMH

ILS

IDB

x

Ie

IPM

o

+

+

+

=

dengan,

I eox = Indeks harapan hidup penduduk pada usia 1 tahun

IMH + ILS = Indeks melek huruf dan lama sekolah penduduk 15 th keatas

IDB = Indeks paritas daya beli masyarakat setempat

(24)

Konsep Pembangunan Manusia yang dikembangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menetapkan peringkat kinerja pembangunan manusia pada skala 0.00 - 100.00 dengan kategorisebagai berikut :

Tinggi : IPM lebih dari 80.00 Menengah Atas : IPM antara 66.00 - 79.99 Menengah Bawah : IPM antara 50.00 – 65.99 Rendah : IPM kurang dari 50.00

2.3. Konsep dan penghitungan Indeks Pembangunan Gender

Sedangkan Indeks Pembangunan Gender (IPG) digunakan untuk mengukur pencapaian dalam dimensi dan variabel yang sama dengan IPM tetapi dengan memperhitungkan kesenjangan pencapaian antara perempuan dan laki-laki. IPG adalah IPM yang disesuaikan (dikurangi) oleh adanya ketimpangan gender. Makin besar kesenjangan antar gender dalam pembangunan manusia, makin rendah nilai IPG suatu negara dibandingkan dengan nilai IPM-nya. Adapun perhitungan IPG menggunakan formula berikut ini :

IPG = 1/3 [ X ede(1) + X ede(2) + I inc-dis ]

Dimana :

X ede(1) : X ede untuk harapan hidup

(25)

I inc-dis : Indeks distribusi pendapatan

Gambar 2.1

Konsep Penghitungan Indeks Pembangunan Gender

(26)
(27)

BAB 3

METODOLOGI

Studi Penyusunan IPM adalah kegiatan ilmiah yang bersistem, terarah, dan bertujuan. Jadi disini bukan hanya pengumpulan data secara kebetulan saja, tetapi menghimpun data dan informasi yang relevan (bertalian, berkaitan, mengena dan tepat). Dalam kegiatan pengumpulan data, perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut :

1. Jenis data

2. Tempat diperolehnya 3. Cara memperolehnya

4. Jumlah data yang harus dikumpulkan agar diperoleh jumlah yang memadai (cukup, seimbang, dan tepat).

Sumber data yang akan digali dalam kegiatan ini meliputi data sekunder dan data primer

a. Data Sekunder

(28)

mengumpulkan data dari Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dinas Pendidikan, serta Badan Pusat Statistik Kabupaten Jombang.

b. Data Primer

Pengumpulan data primer diperoleh langsung dari masyarakat. Unit analisis kegiatan pengumpulan data primer adalah keluarga sebagai unit terkecil warga masyarakat. Hal ini ditentukan dengan dasar pemikiran bahwa persoalan kualitas manusia dalam banyak hal dipengaruhi oleh status, kondisi, dan peran keluarga. Data primer yang dibutuhkan dalam penelitian ini, selain melalui wawancara langsung dengan dipandu perangkat kuesioner yang terstruktur yang sudah dipersiapkan sebelumnya, juga diteliti lebih jauh melalui wawancara mendalam (indepth interview).

3.1. Metode Pengumpulan Data

Tahapan ini meliputi kegiatan-kegiatan berikut :

1. Survey data instansional, berupa pengumpulan dan atau perekaman data dari instansi-instansi terkait, 2. Survey primer, berupa penyebaran kuesioner dan

atau wawancara untuk mendapatkan data dan informasi yang tidak dapat diperoleh melalui survey instansional.

(29)

3.1.1. Survey Primer

Survey ini dengan mempertimbangkan bidang penelitian, tingkat homogenitas populasi serta tingkat presisi data maka teknik yang digunakan untuk pengambilan sampling adalah menggunakan pendekatan acak klaster (cluster random sampling).

Jumlah sample untuk pengumpulan data primer (survey) dalam kegiatan penelitian ini adalah sejumlah 1260 responden rumah tangga yang tersebar pada 63 (enam puluh tiga ) desa di 21 (dua puluh satu) kecamatan yang ada di Kabupaten Jombang.

Dari masing-masing kecamatan diambil secara acak klaster desa yang berkategori desa-desa dan desa yang berkategori desa-kota dengan mempertimbangkan keterwakilan seluruh populasi. Kemudian pada setiap desa diambil 20 rumah tangga sebagai responden. Penentuan responden dilakukan secara acak dengan memperhatikan klaster pekerjaan responden menurut Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KLUI) 2005 dan Klasifikasi Baku Jenis Pekerjaan Indonesia 2002 yang diterbitkan oleh Sub Direktorat Statistik Ketenaga Kerjaaan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk kegiatan SAKERNAS 2009.

(30)

NO KECAMATAN JUMLAH

DESA DESA SAMPEL

JML. SAMPLE

1 Jombang 20 Jombang Sumberjo Tunggorono 60 2 Peterongan 14 Peterongan Bongkot Ngrandu Lor 60 3 Diwek 20 Diwek Watugaluh Pandanwangi 60 4 Jogoroto 11 Jogoroto Sumbermulyo Ngumpul 60 5 Sumobito 21 Sumobito Bakalan Mentoro 60 6 Mojoagung 18 Gambiran Murukan Seketi 60 7 Mojowarno 19 Mojowarno Latsari Latsari 60 8 Bareng 13 Banjar

Agung

Pulosari Bareng 60 9 Wonosalam 9 Wonosalam Wonomerto Panglungan 60 10 Ngoro 13 Ngoro Sugihwaras Jombok 60 11 Gudo 18 Gudo Godong Mejoyolosari 60 12 Perak 13 Perak Kepuhkajang Glagahan 60 13 Bandar Kedung Mulyo 11 Bandar Kedung Mulyo Banjarsari Tinggar 60

14 Tembelang 15 Pesantren Kepuhdoko Tembelang 60 15 Kesamben 14 Kesamben Kedungbetik Watudakon 60 16 Megaluh 13 Megaluh Ngogri Sumberagung 60 17 Ploso 13 Ploso Kebon Agung Jatibanjar 60 18 Kabuh 16 Kabuh Marmoyo Kauman 60 19 Kudu 16 Kudu

Banjar

Made Kepuhrejo 60 20 Ngusikan 11 Ngusikan Asemgede Kromong 60 21 Plandaan 13 Plandaan Klitih Gebang Bunder 60

Jumlah 1260

3.1.2. Survey Sekunder

Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara pengumpulan data dari Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dinas Pendidikan, serta Badan Pusat Statistik Kabupaten Jombang. Data

Nama Desa Lokasi Pengambilan Sampel dan Jumlah Sample

(31)

yang dibutuhkan untuk penelitian ini mencakup antara lain angka patisipasi sekolah, angka mengulang dan sebagainya dari Dinas pendidikan, data pencari kerja, pengangguran dan data ketenagakerjaan yang diperoleh di Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi, data fasilitas dan layanan kesehatan, kesehatan ibu dan anak, kematian ibu dan anak dan berbagai data lainnya yang berkait dengan bidang kesehatan dari Dinas Kesehatan, sedangkan dari BPS dibutuhkan berbagai kompilasi data yang menunjang penelitian ini.

3.2. Tahap Pengolahan Data

Pokok-pokok pekerjaan pada kegiatan pengolahan/kompilasi data antara lain adalah sebagai berikut :

a. Mentabulasi dan mensistemasi fakta dan informasi sesuai dengan keperluan, sehingga mudah dibaca dan dimengerti serta siap untuk dianalisis

b. Menyusun data dan informasi sesuai dengan pokok bahasannya.

(32)

Kegiatan analisa merupakan kegiatan penilaian terhadap berbagai keadaan yang dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip, pendekatan, dan metoda serta teknik analisa yang dapat dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah maupun secara praktis.

(33)

BAB 4

PEMBAHASAN

Bab ini membahas status pembangunan manusia di Kabupaten Jombang dan menyajikan secara ringkas capaian-capaian pembangunan di bidang kesehatan, pendidikan, serta standar hidup yang layak. Indikator capaian pembangunan manusia, sebagaimana diukur menggunakan indeks pembangunan manusia (IPM), akan dibahas dalam konteks komparatif dengan harapan dapat memberikan pemaknaan yang multidimensi terhadap angka-angka dan capaian pembangunan manusia di Kabupaten Jombang.

Pembangunan manusia (human development)

dirumuskan sebagai perluasan pilihan bagi penduduk

(enlarging the choice of people), yang dapat dilihat

sebagai proses upaya ke arah “perluasan pilihan” dan sekaligus sebagai taraf yang dicapai dari upaya tersebut (UNDP, 1990). Di antara berbagai pilihan

(34)

panjang dan sehat, untuk berilmu pengetahuan dan untuk mempunyai akses terhadap sumber daya yang dibutuhkan agar dapat hidup secara layak. Di antara pilihan lain yang tak kalah pentingnya adalah kebebasan politik, jaminan atas hak asasi manusia dan harga diri. Dengan demikian, pembangunan manusia tidak hanya memperhatikan peningkatan kemampuan manusia, seperti meningkatkan kesehatan dan pendidikan. Pembangunan manusia juga mementingkan apa yang bisa dilakukan oleh manusia dengan kemampuan yang dimilikinya, untuk menikmati kehidupan, melakukan kegiatan produktif, atau ikut serta dalam berbagai kegiatan budaya, dan sosial politik. Pembangunan manusia harus menyeimbangkan berbagai aspek tersebut.

4.1. Hakikat Pembangunan Manusia

Proses pembangunan merupakan proses berkelanjutan untuk dapat merealisasikan harapan-harapan masyarakat tentang kemakmuran dan kesejahteraan. Pembangunan haruslah berfokus pada manusia sebagai subyek dan sekaligus obyek pembangunan. Fokus pada manusia inilah yang melandasi konsep pembangunan manusia. Menurut konsep ini pembangunan harus seimbang, yaitu antara

(35)

membangun kemampuan dengan memanfaatkan kemampuan. Proses pembangunan setidak-tidaknya harus menciptakan lingkungan untuk manusia, baik sebagai individu, keluarga, maupun masyarakat, mengembangkan kemampuannya secara optimal dan mempunyai cukup kesempatan (memanfaatkan kemampuannya) untuk dapat hidup yang produktif dan kreatif sesuai kebutuhan dan minatnya. Dengan kata lain, pembangunan manusia tidak melulu peduli dengan pembentukan kemampuan manusia seperti kesehatan yang lebih baik serta pengetahuan dan ketrampilan. Tetapi proses pembangunan manusia juga peduli dengan pemanfaatan kemampuan tersebut, baik untuk bekerja, berlibur, serta kegiatan sosial politik lainnya. Dua sisi pembangunan tersebut harus berkembang secara seimbang. Ketimpangan akan berakibat pemborosan potensi manusia.

Konsep pembangunan yang komprehensif ini kemudian mengalami banyak penyederhaan. Misalnya dalam paradigma pembangunan ekonomi tujuan pembangunan disederhanakan menjadi pertumbuhan ekonomi/ peningkatan pendapatan per kapita saja. Seringkali dinyatakan bahwa pendapatan dapat mewakili dengan baik pilihan-pilihan lainnya. Tetapi

(36)

sesungguhnya pernyataan tersebut di atas hanya sebagian saja dari kebenaran. Pendapatan memang dapat dipergunakan untuk memperluas pengetahuan dan ketrampilan, menjaga/ meningkatkan kesehatan, tetapi pendapatan juga dapat dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan tujuan pembangunan manusia.

Konsep pembangunan manusia seperti diuraikan tersebut di atas berbeda dari konsep/ paradigma pembangunan yang berkembang selama setengah abad terakhir. Beberapa yang terpenting diantaranya adalah: pembangunan ekonomi, kesejahteraan manusia, kebutuhan dasar manusia, dan pembangunan sumber daya manusia. Perbedaan-perbedaan tersebut secara garis besar adalah sebagai berikut. Dalam paradigma pembangunan ekonomi, pertumbuhan ekonomi memang penting. Tetapi bukti empiris menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak menjamin pembangunan manusia. Pendekatan kesejahteraan manusia melihat manusia hanya sebagai pihak yang berhak memperoleh manfaat pembangunan, bukan sebagai peserta aktif pembangunan. Pendekatan kebutuhan dasar memfokuskan diri pada sejumlah barang dan jasa

(37)

untuk memenuhi kebutuhan dasar anggota masyarakat yang kurang beruntung, dan bukannya pilihan-pilihan yang lebih luas bagi masyarakat. Konsep pembangunan sumber daya manusia berfokus pada meningkatkan kemampuan atau memberdayakan manusia, bukan pemanfaatan kemampuan tersebut. Sementara itu pendekatan pembangunan manusia mencakup keseluruhan aspek tersebut di atas. Dengan demikian konsep ini mampu mencakup lebih baik berbagai segi dan kompleksitas kehidupan manusia.

Konsep Pembangunan Manusia mempunyai singgungan yang sangat besar dengan Tujuan Pembangunan Milenium (MDG-Millenium Development

Goals). Dua-duanya menempatkan manusia sebagai

titik sentral pembangunan. Seperti diketahui, MDG merupakan road map dari Deklarasi Milenium (yang disepakati oleh 189 kepala negara pada bulan September 2000). Road map tersebut terdiri dari 8 tujuan, 18 sasaran, dan 48 indikator. Singgungan antara pembangunan manusia dan tujuan pembangunan milenium adalah sebagai berikut:

(38)

Pembangunan Manusia Tujuan Pembangunan Milenium

Hidup yang sehat dan berusia panjang

Tujuan 4,5, dan 6: Menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, dan memberantas wabah penyakit

Terdidik Tujuan 2 dan 3: Pendidikan dasar bagi semua, keseteraaan jender, dan pemberdayaan perempuan

Tingkat hidup yang layak Tujuan 1. Menurunkan kemiskinan dan kelaparan Kebebasan berpolitik dan

kegiatan sosial

Tidak masuk dalam tujuan pembangunan tetapi merupakan unsur penting dalam Deklarasi Milenium

Prasarat lainnya:

Kelestarian Lingkungan Tujuan 7. Menjamin kelestarian lingkungan

Keadilan, utamanya jender Tujuan 3. Kesetaraan jender dan memberdayakan perempuan Lingkungan ekonomi global yang

mendukung

Tujuan 8. Memperkuat kemitraan antara negara maju dan berkembang

Sumber: Wirokartono, 2008

Seperti halnya dengan pendekatan pembangunan ekonomi, konsep pembangunan manusia ini juga terukur. Berdasarkan perspektif pembangunan seperti telah diuraikan di atas, pembangunan manusia tidak diukur dari pendapatan semata, tetapi dari indeks komposit yang disebut dengan indeks pembangunan manusia (IPM).

4.1.1. Tujuan Penghitungan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Ukuran pembangunan yang digunakan selama ini, Persinggungan antara Pembangunan Manusia dan Tujuan Pembangunan Milenium

(39)

yaitu PDB-dalam konteks nasional dan PDRB-dalam konteks regional, hanya mampu memotret pembangunan ekonomi saja. Untuk itu dibutuhkan suatu indikator yang lebih komprehensif, yang mampu menangkap tidak saja perkembangan ekonomi akan tetapi juga perkembangan aspek sosial dan kesejahteraan manusia. Pembangunan manusia memiliki banyak dimensi. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan ukuran agregat dari dimensi dasar pembangunan manusia dengan melihat perkembangannya.

Penghitungan IPM sebagai indikator pembangunan manusia memiliki tujuan penting, diantaranya:

1. Membangun indikator yang mengukur dimensi dasar pembangunan manusia dan perluasan kebebasan memilih. Memanfaatkan sejumlah indikator untuk menjaga ukuran tersebut sederhana.

2. Membentuk satu indeks komposit daripada menggunakan sejumlah indeks dasar.

3. Menciptakan suatu ukuran yang mencakup aspek sosial dan ekonomi.

(40)

Seperti indeks komposit lainnya, IPM memiliki beberapa keterbatasan. Hal tersebut perlu dipahami untuk menghindari kesalahan pada penggunaan indeks tersebut. Lebih lanjut, dengan memahami keterbatasan tersebut, diharapkan menjadi bahan masukan untuk pengembangan ketersediaan dan reliabilitas data, serta untuk melakukan monitoring perkembangan pembangunan manusia. Keterbatasan tersebut meliputi:

Indeks tersebut bukan merupakan suatu ukuran yang komprehensif mengenai pembangunan manusia. Indeks tersebut hanya mencakup tiga aspek dari pembangunan manusia, tidak termasuk aspek penghargaan diri, kebebasan politik dan masalah lingkungan.

Indeks tersebut tidak dapat menilai perkembangan pembangunan manusia dalam jangka pendek, karena dua komponennya, yaitu angka melek huruf dan angka harapan hidup, tidak responsif terhadap perubahan kebijakan dalam jangka pendek.

IPM memasukkan variasi pembangunan manusia dalam suatu wilayah. Ini berarti bahwa IPM yang sama dari dua wilayah tidak mengindikasikan bahwa kedua wilayah tersebut memiliki pembangunan manusia yang identik. Dengan kata

(41)

lain, mungkin terdapat perbedaan bagaimana pembangunan manusia didistribusikan antar sub wilayah atau antar kelompok sosial.

Dalam perjalanannya, IPM terus diteliti dan mengalami penyempurnaan. Oleh karena itu, indeks tersebut diterima secara luas sebagai indikator yang baik dalam melihat tingkat pembangunan manusia. Beberapa alasan mengapa IPM merupakan indikator yang cukup baik sebagai ukuran pembangunan manusia, adalah:

IPM menterjemahkan secara sederhana konsep yang cukup kompleks kedalam tiga dimensi dasar yang terukur. IPM membantu dalam pergeseran paradigma pembangunan dari pembangunan yang hanya terfokus pada ekonomi menjadi berfokus pada manusia.

IPM berfokus pada kapabilitas yang releven, baik untuk negara maju dan berkembang, sehingga menjadikan indeks tersebut sebagai alat yang universal.

IPM menstimulasi diskusi mengenai pembangunan manusia. IPM memberikan motivasi bagi pemerintah untuk berkompetisi secara sehat dengan negara/wilayah lain melalui keterbandingan angka IPM.

(42)

4.2. Sekilas Kabupaten Jombang

Kabupaten Jombang terletak di perlintasan jalur selatan jaringan jalan Jakarta-Surabaya yang secara geografis terletak antara 112° 03’ 46,57’’ – 112° 27’ 21,26’’ Bujur Timur dan antara 7° 20’ 48,60’’ – 7° 46’ 41,26’’ Lintang Selatan

. dengan luas wilayah 1.159,50 Km2. Ibukota Kabupaten Jombang terletak pada ketinggian ± 44 m.d.p.l. Kabupaten Jombang terbagi menjadi 21 kecamatan yang terdiri dari 302 desa dan 4 Kelurahan serta 1.258 dusun. Apabila ditinjau dari komposisi jumlah desa/kelurahan maka Kecamatan Sumobito memiliki jumlah desa terbanyak yaitu 21 buah. Menurut Hasil Sensus tahun 2010 penduduk kabupaten Jombang adalah 1.201.557 jiwa terdiri dari 597.219 Laki-laki dan 604.338 Perempuan.

Kabupaten Jombang memiliki iklim tropis, dengan suhu rata-rata 20o-34o C. Menurut klasifikasi Schmidt-Ferguson, Kabupaten Jombang termasuk tipe iklim B (basah). Curah hujan rata-rata per tahun adalah 1.800 mm. Berdasarkan peluang curah hujan tahunan, wilayah Kabupaten Jombang tergolong beriklim sedang sampai basah. Di bagian tenggara dan timur,

(43)

curah hujan sedikit lebih besar. Sebagian besar wilayah Kabupaten Jombang merupakan wilayah datar hingga bergelombang. Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Kecamatan Perak Kecamatan Gudo, Kecamatan Diwek, Kecamatan Ngoro, Kecamatan Jodoroto, Kecamatan Peterongan, Kecamatan Megaluh, Kecamatan Tembelang, Kecamatan Kesamben, dan Kecamatan Ploso berada pada kemiringan lahan 0 - 2%. Kecamatan Mojowarno dan Kecamatan Jombang berada pada kemiringan 0-5%. Kecamatan Kecamatan Kabuh berada pada kemiringan 0 - 40%. Kecamatan Bareng, Kecamatan Mojoagung dan Kecamatan Plandaan merupakan kecamatan yang mempunyai kemiringan bervariasi dari datar hingga terjal 0 - >40%. Kecamatan Wonosalam, Kecamatan Kudu dan Kecamatan Ngusikan merupakan wilayah yang berada pada kategori bergelombang hingga terjal.

Pertumbuhan ekonomi daerah diukur berdasarkan pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB sendiri diukur berdasarkan perhitungan nilai tambah barang dan jasa pada sembilan sektor usaha yang dominan di masyarakat, yaitu sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian,

(44)

sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor bangunan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor angkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, dan sektor jasa-jasa.

PDRB menurut lapangan usaha atau menurut sektor produksi merupakan jumlah dari nilai tambah bruto yang dihasilkan oleh unit kegiatan ekonomi yang beroperasi di suatu wilayah dalam periode waktu tertentu. Dengan demikian data PDRB dapat pula menggambarkan kemampuan suatu wilayah atau daerah mengelola sumber daya alam serta faktor produksi lainnya. PDRB disajikan dengan dua cara. Pertama, PDRB atas dasar harga berlaku, sedang yang kedua yaitu PDRB atas dasar harga konstan 2000 yang berguna untuk melihat trend atau membandingkan besaran-besaran PDRB antar tahun. Secara rinci perkembangan PDRB dan Pendapatan regional adalah sebagai berikut:

(45)

Rincian 2009*) 2010**)

I. ATAS DASAR HARGA BERLAKU

1. PDRB ( Juta Rp.) 12.451.498,62 14.060.872,14

2. PDRB Perkapita (Rp.) 10.411.474 11.693.937

3. Pendapatan Regional ( Juta Rp.) 11.977.454 13.538.585

4. Pendapatan Regional Perkapita (Rp.) 10.015.096 11.259.569

5. Jumlah Penduduk Pertengahan Tahun ( Jiwa )

1.195.940 1.202.407

II. ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000

1. PDRB ( Juta Rp.) 5.972.302,39 6.327.278,13

2. PDRB Perkapita (Rp.) 4.993.814 5.262.177

3. Pendapatan Regional ( Juta Rp.) 5.850.083,60 6.200.954,08

4. Pendapatan Regional Perkapita (Rp.) 4.891.620 5.157.117

5. Jumlah Penduduk Pertengahan Tahun ( Jiwa )

1.195.940 1.202.407

Sumber : Jombang dalam Angka 2011, BPS * angka sementara

** angka sangat sementara

Laju pertumbuhan ekonomi daerah tahun 2009 apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya mengalami sedikit penurunan, yaitu dari sebesar 5,78% pada

Perkembangan PDRB, PDRB Perkapita, dan Pendapatan Regional Kab. Jombang 2009-2010

(46)

tahun 2008 menjadi sebesar 5,28% pada tahun 2009. Hal ini terjadi diduga sebagai akibat dari adanya pengaruh krisis global sehingga mengakibatkan terjadinya perlambatan pertumbuhan di beberapa bidang. Faktor lainnya diduga adalah akibat pergeseran kondisi iklim dan cuaca yang tidak menentu yang menyebabkan penurunan hasil panen pertanian. Namun demikian secara umum kondisi perekonomian makro Kabupaten Jombang masih cukup baik, karena masih mampu memberikan pertumbuhan yang positif selama tahun 2009 bahkan perekonomian wilayah Kabupaten Jombang tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi wilayah Provinsi Jawa Timur.

Perkembangan laju pertumbuhan ekonomi per tahun Kabupaten Jombang tahun 2001- 2010 dapat digambarkan secara rinci pada tabel berikut ini.

(47)

Sumber : Jombang dalam Angka 2011, BPS

Sedangkan struktur ekonomi Kabupaten Jombang bertumpu pada empat sektor utama yang secara tradisional menyangga ekonomi kita sebagai penyerap tenaga kerja terbesar. Namun kalau kita lihat lebih jauh

Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Jombang Tahun 2001-2010 Grafik 4.1. 3 3,5 4 4,5 5 5,5 6 6,5 Th 2001 Th 2002 Th 2003 Th 2004 Th 2005 Th 2006 Th 2007 Th 2008 Th 2009 Th 2010

(48)

peranan keempat sektor tersebut secara alamiah mengikuti trend bahwa sektor pertanian akan terus mengecil peranannya sedang kedua sektor yang lain, yaitu sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel dan restoran akan selalu merupakan kebalikannya..merupakan tumpuan nafkah sebagian besar penduduk.

Empat Sektor Dominan dalam Struktur Ekonomi Kabupaten Jombang 2010 Grafik 4.2. JASA-JASA; 11,96 PERDAG. HOTEL DAN RESTO; 34,60 INDUSTRI PENGOLAHAN; 10,97 PERTANIAN; 29,31

(49)

Sumber : Jombang dalam Angka 2011, BPS

Selebihnya, sektor jasa-jasa berfluktuasi tanpa kaitan langsung dengan trend tersebut. Walaupun demikian sebagai sikap pemulihan banyak orang menaruh harapan besar pada agribisnis dan agroindustri sebagai pengembangan sektor pertanian, karena sudah tidak tertarik lagi pada konsep pergeseran struktural dan "trickle down effects" seperti yang sudah-sudah.

Menurunnya andil sektor pertanian bukan berarti sektor ini tidak tumbuh, melainkan karena tingkat kecepatan tumbuhnya kalah cepat dengan sektor lain, misalnya sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran Namun demikian pada tahun ini pertumbuhan sektor pertanian meningkat, padahal tiga sektor raksasa lain justru melambat. Hampir semua subsektornya menunjukkan gairah. Dengan demikian momentum revitalisasi pertanian dapat dilanjutkan. Selanjutnya Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran selalu tumbuh subur walaupun kali ini tampak memperlambat langkahnya, sehingga tetap dapat dikatakan sebagai sektor yang paling luwes sekaligus cepat berubah, terutama untuk

(50)

yang kecil dan informal. Mudah sekali orang masuk pasar sektor ini, sehingga banyak pakar yang memuji perdagangan kecil informal merupakan bumper ketika terjadi krisis ekonomi yang baru lalu karena keluwesannya menyerap pengangguran dan tenaga kerja tak terdidik.

4.3 Status Pembangunan Manusia

Status pembangunan manusia di Kabupaten Jombang, secara umum lebih baik. . Dibanding IPM tahun 2010 yang berada pada indeks 72,86, pada tahun 2011 ini meningkat menjadi 73,74.

Indikator

Tahun

2009 2010 2011

Indeks Harapan Hidup 77,04 76,96 77,16

Indeks Melek Huruf 92,86 92,89 92,92

Indeks Lama Sekolah 49,29 49,31 49,34

Indeks PPP 61,59 63,25 65,68

IPM 72,32 72,86 73,74

Sumber: Tahun 2011 Data primer diolah

Tahun 2009 dan 2010, Laporan IPM Kabupaten Jombang 2010

Perbandingan IPM Kabupaten Jombang

Tahun 2009, 2010, dan 2011 Tabel 4.4.

(51)

Melihat percepatan relatif peningkatan IPM ini nampaknya pemerintah kabupaten Jombang berhasil memperpendek jalur kendali manajemen dan fokus yang lebih baik, yang memungkinkan pengelolaan pembangunan khususnya yang berorientasi pada pembangunan manusia lebih terkelola dengan baik.

Berdasarkan capaian itu, Kabupaten Jombang berada pada tingkatan menengah atas berdasarkan pemeringkatan UNDP. Tabel 4.7 menunjukkan pencapaian berbagai dimensi pembangunan manusia Kabupaten Jombang. Pencapaian usia hidup baru mencapai 71,29 tahun dari batas atas 85 tahun. Pencapaian menuju kualitas sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan untuk mengecap pengetahuan baru mencapai 7,4 tahun yang dicerminkan dengan rata-rata lama sekolah. Dari sisi pendapatan mengungkapkan tingkat kemampuan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari baru mencapai sebesar Rp. 644.222,47.

(52)

direvisi menjadi Undang-undang 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah meletakkan titik berat desentralisasi dan otonomi daerah pada tingkat kabupaten/ kota. Bidang-bidang pembangunan dan layanan publik yang erat terkait dan merupakan variabel kunci penentu indeks pembangunan manusia, termasuk kesehatan dan pendidikan kini merupakan urusan wajib pemerintah kabupaten/ kota. Perluasan cakupan layanan, pemerataan, dan juga kualitas layanan akan sangat bergantung pada kinerja pemerintah pada tingkat kabupaten/ kota. Upaya mencapai indeks pembangunan manusia yang lebih tinggi, dengan demikian, akan sangat bergantung komitmen politik dan anggaran serta kinerja sistem pada tingkat ini.

4.4 Status Pembangunan Manusia Kecamatan

Status pembangunan manusia kecamatan di seluruh Kabupaten Jombang secara umum, pada tahun 2011, digolongkan pada tingkatan menengah. Dari 21 kecamatan, seluruhn kecamatan yang tergolong memiliki indeks menengah atas.

(53)

No Kecamatan IPM 2009 2010 2011 1 Jombang 76,71 77,10 77,69 2 Gudo 75,28 75,79 76,58 3 Peterongan 74,25 74,42 74,57 4 Jogoroto 72,42 73,03 73,95 5 Sumobito 70,44 71,57 73,29 6 Kesamben 71,34 71,91 72,80 7 Perak 72,93 72,81 72,74 8 Mojowarno 71,31 71,81 72,61 9 Diwek 71,20 71,73 72,55 10 Ngoro 70,73 71,32 72,21 11 Plandaan 69,98 70,90 72,30

12 Bandar Kedung Mulyo 70,49 70,96 71,75

13 Tembelang 69,80 70,47 71,48 14 Mojoagung 71,65 71,43 71,14 15 Bareng 69,34 69,92 70,82 16 Kudu 69,57 70,03 70,75 17 Ngusikan 67,26 68,55 70,46 18 Megaluh 67,23 68,41 70,22 19 Ploso 69,58 69,66 69,78 20 Kabuh 64,65 65,18 66,71 21 Wonosalam 65,29 65,81 66,59 KABUPATEN 72,32 72,86 73,74

Sumber: Tahun 2011 Data primer diolah

Tahun 2009 dan 2010, Laporan IPM Kabupaten Jombang 2010

Perbandingan IPM Kecamatan di Kabupaten Jombang

Tahun 2009, 2010, dan 2011 Tabel 4.5.

(54)

Dengan melihat variasi yang sangat kontras antar berbagai kecamatan maka dapat dikatakan kesenjangan pembangunan manusia antar kecamatan juga tinggi. Seperti terlihat dalam Tabel 4.5 antara Kecamatan Jombang dengan Kecamatan Kabuh selisih nilai IPMnya mencapai 11,73 poin.

No Kecamatan Indeks Eo Indeks AMH Indeks MYS Indeks PPP IPM 1 Jombang 79,04 97,55 68,41 66,19 77,69 2 Gudo 78,87 97,90 59,01 65,93 76,58 3 Peterongan 77,55 96,95 53,94 63,55 74,57 4 Jogoroto 76,54 95,62 51,67 64,34 73,95 5 Sumobito 71,56 94,95 47,80 69,06 73,29 6 Perak 71,75 97,02 58,21 62,38 72,74 7 Kesamben 75,28 95,02 42,08 65,76 72,80 8 Mojowarno 73,50 93,11 49,34 65,81 72,61 9 Diwek 71,10 94,36 51,34 66,53 72,55 10 Ngoro 75,81 91,00 42,41 66,00 72,21 11 Plandaan 75,79 89,80 40,14 67,86 72,30 12 Bandar Kedung Mulyo 75,95 86,91 45,07 66,35 71,75 13 Mojoagung 77,25 87,73 48,81 61,42 71,14 14 Tembelang 69,94 93,29 43,14 67,93 71,48 15 Bareng 68,55 94,55 43,87 66,25 70,82 16 Kudu 74,45 89,55 37,07 65,76 70,75 17 Ngusikan 70,14 84,50 44,07 70,22 70,46 18 Ploso 74,03 86,28 44,74 62,88 69,78 19 Megaluh 67,96 85,55 47,68 69,77 70,22 20 Wonosalam 62,02 88,14 36,47 66,83 66,59 21 Kabuh 67,25 81,75 37,07 66,03 65,91

Perbandingan Komponen IPM Kecamatan di Kabupaten Jombang Tahun 2011 Tabel 4.6.

(55)

KABUPATEN 77,16 92,92 49,34 65,68 73,74

Sumber : data primer diolah

Apabila dilihat masing-masing kecamatan pada 10 kecamatan dengan IPM terendah maka hanya terdapat 1 kecamatan yang nilainya melebihi nilai indeks pada level kabupaten pada indeks harapan hidup dan tidak ada yang melebihi indeks kabupaten dari sisi pendidikan. Hal ini menandakan masalah utama terbesar pada kecamatan-kecamatan tersebut yakni pada bidang pendidikan maupun harapan hidup yang diantaranya berkait erat dengan bidang kesehatan. Di antara 10 kecamatan tersebut juga terdapat indeks longevity terendah berada di Kecamatan Wonosalam dan tertinggi yakni Kecamatan Mojoagung. Dengan data dan informasi pada level kecamatan diatas maka akan semakin memudahkan bagi pelaksana pembangunan untuk mengetahui benar kondisi masyarakatnya. Semakin detail informasi tersebut diperoleh maka rencana-rencana pembangunan akan semakin mendekati sasarannya.

4.5 Status Pembangunan Gender

Pada pengukuran IPM tahun 2011 juga dilakukan penghitungan IPM terpilah gender atau yang biasa

(56)

disebut dengan Indeks Pembangunan Gender (IPG). IPG yang dikemukakan pada tahun ini diharapkan dapat digunakan sebagai gambaran awal mengingat bahwa penghitungan IPG merupakan perhitungan yang komplek. Secara umum capaian pembangunan lebih baik untuk laki-laki dibanding perempuan. Untuk nilai IPG di tingkat kabupaten adalah sebesar 65,22 lebih rendah dibandingkan dengan nilai IPM sebesar 73,74. Hal ini mengindikasikan masih adanya ketimpangan dalam pembangunan gender dimana laki-laki ”lebih maju” dibanding perempuan. Dari hasil penghitungan IPG menunjukkan bahwa capaian pada dimensi panjang umur, pendidikan dan kesejahteraan lebih tinggi pada penduduk laki-laki. Fenomena ini memang jamak terjadi utamanya pada negara sedang berkembang dan negara-negara yang secara tradisional isu gender masih kental.

Keterangan

Perempuan Laki-laki Angka Indeks Angka Indeks

Harapan Hidup 70,94 72,41 71,64 81,89

Melek Huruf 92,47 92,47 93,37 93,37

Rata-rata Lama Sekolah 7,36 49,10 7,44 49,58

PPP 213.741,61 78,82 215.830,51 80,27

Indeks Pembangunan Gender di Kabupaten JombangTahun 2011 Tabel 4.7.

(57)

IPG 65,22

Sumber : hasil perhitungan

Pengarusutamaan gender menjadi isu penting dalam kaitannya dengan pemberdayaan peran kaum wanita. Dalam Instruksi Presiden no 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dengan jelas diinstruksikan agar berbagai kebijakan pembangunan haruslah berperspektif gender.

(58)
(59)

BAB 5

PEMBANGUNAN BIDANG

KESEHATAN

Bab ini membahas aspek kesehatan terkait dengan permasalahan dan isu strategis untuk Kabupaten Jombang, khususnya dalam konteks kontribusi kesehatan terhadap capaian pembangunan manusia yang diukur dengan indeks pembangunan manusia (IPM). Meskipun IPM untuk kesehatan hanya diukur dari Angka Harapan Hidup, karena indikator kesehatan lain lebih sulit untuk diperoleh datanya, namun perlu membahas indikator status kesehatan lainnya dalam rangka meningkatkan Angka Harapan Hidup.

5.1. Status Kesehatan di Kabupaten Jombang

Kesehatan merupakan faktor penting pembangunan manusia dan menjadi dasar bagi pembangunan bidang lainnya. Manusia yang sehat merupakan prasyarat untuk mewujudkan people centered development.

(60)

yang ada baik menyangkut pendanaan dan sumberdaya yang tersedia. Dengan kondisi seperti itu, maka prioritas program dan kegiatan perlu dilakukan. Selain itu, penanganan masalah kesehatan bukan hanya tanggung jawab dari sektor kesehatan saja, namun merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Upaya peningkatan kesehatan bukan semata membangun fasilitas kesehatan, namun perlu diiringi dengan kualitas pelayanan kesehatan yang baik.

(61)

Kecamatan Rumah Sakit Puskesmas Puskesmas Pembantu Pemerintah Swasta 010. Bandar Kd. Mulyo - - 1 2 020. P e r a k - - 1 2 030. G u d o - - 2 3 040. D i w e k - 1 2 4 050. N g o r o - - 2 4 060. Mojowarno - 1 2 4 070. Bareng - - 1 3 080. Wonosalam - - 1 4 090. Mojoagung - 1 2 4 100. Sumobito - - 2 4 110. Jogoroto - 1 2 2 120. Peterongan - - 2 4 130. Jombang 1 5 4 8 140. Megaluh - - 1 3 150. Tembelang - - 2 4 160. Kesamben - - 2 2 170. K u d u - - 1 2 171. Ngusikan - - 1 3 180. P l o s o - - 1 3 190. K a b u h - - 1 3 200. Plandaan - - 1 5 Jumlah 1 9 34 73 2009 1 9 34 73 2008 1 8 34 72 2006 1 8 34 72 2005 1 5 34 72 2004 1 6 34 73

Jumlah Rumah Sakit, Puskesmas dan Puskesmas Pembantu Kab. Jombang Tahun 2010

(62)

Kualitas kesehatan yang baik tidak hanya ditunjang oleh ketersediaan pendanaan yang memadai, namun juga oleh ketersediaan sumberdaya tenaga kesehatan yang berkualitas.

Indikator yang sering digunakan untuk mencerminkan status kesehatan adalah mortalitas, status gizi dan morbiditas. Namun sampai saat ini data untuk mengukur status kesehatan tersebut sulit diperoleh, karena sifat kejadian insidentil dan tersebar di masyarakat, sistem registrasi belum berjalan dengan baik, dan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelaporan setiap kejadian tersebut juga masih rendah. Oleh karena itu, indikator yang digunakan untuk mencerminkan status kesehatan dalam pencapaian Indeks Pembangunan Manusia adalah Angka Harapan Hidup. Angka ini mencerminkan rata-rata tahun hidup yang masih akan dijalani oleh seseorang sejak lahir. Angka harapan hidup tinggi akan dicapai jika penduduk mempunyai status kesehatan yang baik.

(63)

No Kecamatan AHH 2010 2011 1 Jombang 72,38 72,42 2 Gudo 72,28 72,32 3 Peterongan 71,47 71,53 4 Jogoroto 70,88 70,92 5 Sumobito 67,87 67,94 6 Perak 68,01 68,05 7 Kesamben 70,10 70,17 8 Mojowarno 69,03 69,10 9 Diwek 67,62 67,66 10 Ngoro 70,46 70,49 11 Plandaan 70,43 70,47

12 Bandar Kedung Mulyo 70,47 70,57

13 Mojoagung 71,31 71,35 14 Tembelang 66,94 66,97 15 Bareng 66,08 66,13 16 Kudu 69,60 69,67 17 Ngusikan 67,07 67,08 18 Ploso 69,39 69,42 19 Megaluh 65,70 65,78 20 Wonosalam 62,19 62,21 21 Kabuh 65,27 65,35 KABUPATEN 71,18 71,29

Perkembangan Angka Harapan Hidup Kabupaten Jombang

(64)

Secara umum, status kesehatan dengan indikator Angka Harapan Hidup di Kabupaten Jombang pada tahun 2011 meningkat dibandingkan tahun 2010. Dalam hal Angka Harapan Hidup, Kecamatan Jombang mempunyai nilai tertinggi yaitu 72,42 tahun dan kecamatan Kabuh terendah dengan 65,35 tahun. Variasi angka harapan hidup di tingkat kecamatan di Kabupaten Jombang tertinggi dan terendah memiliki rentang sebesar 7,07 tahun.

Kondisi seperti ini mengindikasikan bahwa status kesehatan penduduk antar kecamatan masih relatif tidak merata. Hal ini bisa ditimbulkan oleh banyak hal termasuk tersedianya sarana dan prasarana kesehatan, tenaga kesehatan termasuk kesadaran penduduk akan hidup sehat.

Kenaikan Angka Harapan Hidup di tingkat kabupaten antara lain terkait dengan faktor Angka Kematian Bayi. Pada tahun 2010 tercatat kematian bayi adalah 10,3 per 1000 kelahiran hidup. Artinya di kabupaten Jombang diantara 1000 kelahiran ada 10 bayi yang meninggal sebelum usia tepat 1 tahun. Menurunnya Angka kematian bayi ini memberi gambaran adanya peningkatan dalam kualitas hidup dan layanan

(65)

kesehatan masyarakat. Angka Kematian Bayi kabupaten Jombang ini lebih rendah dibanding Angka Kematian Bayi Propinsi Jawa Timur sebesar 28,2 per 1000 kelahiran hidup dan dibawah angka nasional sebesar 25,7 per 1000 kelahiran hidup. Dalam upaya pencapaian MDGs, Angka Kematian Bayi kabupaten Jombang telah berada dibawah toleransi yang ditetapkan yaitu 19 per 1000 kelahiran hidup.

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten Jombang Tahun 2010

Selain permasalahan kematian bayi, isu kesehatan reproduksi juga diukur melalui Angka Kematian Ibu. Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat

Perkembangan Angka Kematian Bayi Kabupaten Jombang tahun 2005-2010 Gambar 5.1. 10,0 10,0 12,9 11,4 10,4 10,3 8,0 9,0 10,0 11,0 12,0 13,0 14,0 2005 2006 2007 2008 2009 2010

(66)

hamil atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dan lain-lain (Budi, Utomo, 1985)

Pada tahun 2010 jumlah kematian ibu yang tercatat sebesar 17 kasus, terdiri dari 2 kematian ibu hamil, 1 kematian ibu bersalin dan 14 kamtian nifas dari 21.426 kelahiran hidup. Penyebab kematian tersebut adalah terbanyak karena penyakit penyerta sebanyak 9 orang. Adapun menurut tempat meninggalnya adalah 9 orang di RSU, 4 orang meninggal di RS swasta, 1 orang di perjalanan, 1 orang di RSU Dr. Soetomo Surabaya, 1 orang di rumah klen dan 1 orang di Rumah Bersalin.

(67)

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten Jombang Tahun 2010

Jumlah kematian ibu paling tinggi belum tentu menunjukkan kejadian kematian ibu paling tinggi dibanding kabupaten lain. Bisa terjadi angka yang tinggi semata-mata hanya karena cakupan pelaporan sudah lebih baik dari kabupaten lain. Sebaliknya, angka kematian ibu rendah belum tentu kejadiannya lebih rendah dibanding kabupaten lain, tetapi bisa jadi

Perkembangan Jumlah Kematian Ibu Kabupaten Jombang tahun 2006-2010 Gambar 5.2. 14 18 16 14 17 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 2006 2007 2008 2009 2010

(68)

karena cakupan pelaporan masih rendah. Seperti halnya kecamatan Kabuh, Angka Harapan Hidupnya paling rendah, tetapi tidak terdapat pelaporan jumlah kematian ibu. Oleh karena itu memperhatikan indikator kesehatan lainnya, seperti cakupan pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan profesional serta status gizi bisa memberikan gambaran yang lebih lengkap. Perlu upaya yang terintegrasi untuk menurunkan Angka Kematian Ibu, melalui peningkatan taraf pengetahuan perempuan mengenai kesehatan dan kesehatan reproduksi. Serta upaya peningkatan status sosial ekonomi, peningkatan peran ibu dalam keluarga, serta peningkatan ketersediaan pelayanan kesehatan reproduksi dan keluarga berencana (KB).

Masalah kesehatan ibu perlu mendapat perhatian yang tidak kalah penting. Kematian seorang ibu sangatlah berpengaruh terhadap kesehatan dan kehidupan anak-anak yang ditinggalkannya. Jika seorang ibu meninggal, maka anak-anak yang ditinggalkannya mempunyai kemungkinan tiga hingga sepuluh kali lebih besar untuk meninggal dalam waktu dua tahun, bila dibandingkan dengan mereka yang masih mempunyai kedua orangtua. Di samping itu, anak-anak yang

(69)

ditinggalkan ibunya seringkali tidak mendapatkan pemeliharaan kesehatan serta pendidikan yang memadai seiring pertumbuhannya. Kematian seorang ibu mempunyai dampak yang lebih luas sampai di luar lingkungan keluarganya: seorang ibu adalah pekerja produktif yang hilang, yang memelihara dan membimbing generasi penerus, merawat para lanjut usia dan menyumbangkan stabilitas di masyarakat (Barbara, 1997 dalam Wirokartono, Sukarno, 2008).

Kematian ibu berpengaruh terhadap kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Ketika seorang ibu meninggal, permasalahan tidak berhenti disitu, karena satu atau lebih anak menjadi piatu, dengan implikasi sosial dan ekonomi yang bermakna. Penghasilan keluargapun berkurang atau hilang sama sekali. Saat ini jumlah perempuan yang bekerja semakin banyak sehingga kontribusi mereka terhadap kesejahteraan keluargapun mengalami peningkatan. Penelitian menunjukkan bahwa perempuan cenderung membelanjakan penghasilan mereka untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dengan cara membeli makanan tambahan, perawatan kesehatan, peralatan sekolah, dan pakaian untuk anak-anaknya

(70)

Vital Social and Economic Investment).

Faktor lain yang juga penting untuk meningkatkan status kesehatan ibu dan bayi atau balita adalah status gizi. Ibu, bayi atau balita yang mengalami gizi kurang atau buruk dapat berdampak pada kematian. Gizi buruk merupakan suatu keadaan kurang gizi tingkat berat yang dapat disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dari makanan sehari-hari, dan terjadi dalam waktu yang cukup lama. Status gizi kurang dan gizi buruk pada tingkat kecamatan cukup beragam. Dari 21 Kecamatan terdapat tiga kecamatan rawan gizi yaitu Kabuh, Kesamben dan Sumobito.

Faktor lain yang juga mempengaruhi rendahnya status gizi di Kabupaten Jombang dan perlu mendapat perhatian dalam rangka peningkatannya adalah tingkat kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan dan gizi termasuk cara pemberian makanan bergizi. Cara pemberian makan dan pola asuh anak balita yang baik, serta perilaku hidup sehat perlu disosialisasilan sebagai bagian dari upaya menyeluruh untuk meningkatkan status gizi. Upaya penanggulangan gizi kurang dilakukan di rumah tangga, sementara gizi buruk dirujuk ke pusat

(71)

pemulihan gizi. Sebagai contoh di kecamatan Mojoagung dan Tembelang terdapat Therapeutic

Feeding Center (TFC) Tempat tersebut berfungsi

sebagai tempat perawatan dan pengobatan anak gizi buruk di suatu tempat/ ruangan khusus, dimana ibunya ikut serta merawat anak secara intensif. Anak gizi buruk ditangani dengan memberikan intervensi secara integratif berdasarkan panduan tata laksana gizi buruk. Pelaksanaan kegiatan meliputi pelayanan medis, keperawatan, konseling gizi, stimulasi pertumbuhan, pencatatan dan pelaporan, serta monitoring dan evaluasi. Jumlah gizi buruh tahun 2010 tercatat 38 balita dan semuanya telah mendapatkan perawatan. Jumlah ini menurun dibandingan tahun 2009 yang terdapat 70 balita gizi buruk. Balita gizi buruk ditemukan di 24 wilayah kerja puskesmas dengan 1-2 balita per puskesmas.

Status gizi buruk terutama diindikasikan oleh permasalahan institusi, pemberdayaan masyarakat, intervensi yang tidak tepat dan tidak cost effective, penanganan gizi masih tidak terintegrasi lintas sektor,dan surveilans gizi lemah. Banyak bayi yang tidak mendapatkan imunisasi, drop out rate, dan ketepatan waktu imunisasi rendah. Pelayanan gizi

(72)

belum difokuskan pada kelompok sasaran yang paling tepat (ibu hamil dan anak 0-2 tahun). Sayangnya, gizi sering tidak menjadi prioritas bagi pemerintah karena tingkat permintaan pelayanan gizi dari masyarakat rendah. Hal ini dipicu oleh ketidakpahaman disebabkan masyarakat dan sebagian besar terjadi pada penduduk miskin yang tidak mampu bersuara. Selain itu, adanya keterlambatan dalam mengenali manfaat ekonomis dari gizi, perannya dalam MDGs, dan pilihan intervensi yang mempunyai nilai cost effective. Serta, ada banyak organisasi atau stakeholder yang menangani bidang gizi, sehingga tanggung jawabnya "ada di mana-mana" dan "tidak di mana-mana". Mengakibatkan bidang gizi menjadi tanggung jawab parsial setiap lembaga berdampak pada penganggaran yang berdasarkan sektoral dan tidak adanya leading sektor (The World Bank: Nutrition as Central to Development).

Upaya kesehatan lain yang berhubungan dengan perbaikan status kesehatan masyarakat adalah program imunisasi balita, yang merupakan fokus utama untuk menurunkan angka kematian bayi dan balita. Hal ini karena imunisasi adalah suatu prosedur rutin untuk memberi perlindungan menyeluruh terhadap penyakit-penyakit yang berbahaya, dan

(73)

sering terjadi pada tahun-tahun awal kehidupan seorang anak. Cakupan pelayanan imunisasi bayi di kabupaten Jombang tahun 2010 adalah: HBO sebesar 91,22%, BCG sebesar 100,87%, DPT 1-HB sebesar 100,51%, DPT 3-HB sebesar 99,4%, Polio 4 sebesar 99%, campak sebesar 97,3%. Sedangkan desa/kelurahan yang telah mencapai UCI pada tahun 2010 sebanyak 95 desa/kelurahan (63,7%) dari 306 desa/kelurahan yang ada. Bila dibandingkan tahun 2009 jumlah desa UCI mengalami kenaikan 47 desa/kelurahan. Namun demikian angka ini masih dibawah angka target nasional yaitu 85 persen. Terdapat 6 puskesmas dengan pencapaian UCI sebesar 100 persen yaitu Pusekesmas Mojoagung, Cukir, Tembelang, Pulo Lor, Japanan dan Mayangan.

5.2. Aksesibilitas dan Pelayanan Kesehatan di Kabupaten Jombang

Pemanfaatan fasilitas kesehatan tersebut tergantung juga pada akses penduduk terhadap fasilitas kesehatan tersebut. Aksesibilitas tidak hanya dilihat dari rasio fasilitas kesehatan terhadap penduduk, namun juga dari jarak tempat tinggal penduduk dengan fasilitas kesehatan tersebut. Berbagai fasilitas kesehatan seperti puskemas dan rumah sakit juga

(74)

mengindikasikan tingkat pembangunan kesehatan di satu daerah dalam hal ketersediaan fasilitas yang mendukung.

Kecamatan Rumah Sakit Puskesmas Puskesmas Pemerintah Swasta Pembantu 010. Bandar Kd. Mulyo - - 1 2 020. P e r a k - - 1 2 030. G u d o - - 2 3 040. D i w e k - 1 2 4 050. N g o r o - - 2 4 060. Mojowarno - 1 2 4 070. Bareng - - 1 3 080. Wonosalam - - 1 4 090. Mojoagung - 1 2 4 100. Sumobito - - 2 4 110. Jogoroto - 1 2 2 120. Peterongan - - 2 4 130. Jombang 1 5 4 8 140. Megaluh - - 1 3 150. Tembelang - - 2 4 160. Kesamben - - 2 2 170. K u d u - - 1 2 171. Ngusikan - - 1 3 180. P l o s o - - 1 3 190. K a b u h - - 1 3 200. Plandaan - - 1 5 Jumlah 1 9 34 73

Jumlah Rumah Sakit, Puskesmas dan

Puskesmas Pembantu di Kabupaten Jombang Tabel 5.4.

Figur

Grafik Tingkat Pendidikan Penduduk  Kab. Jombang tahun 2009

Grafik Tingkat

Pendidikan Penduduk Kab. Jombang tahun 2009 p.91
Diagram Peluang Kerja Kawasan  AgropolitanGambar 7.2. 2017 tdk  menjwbbesarDiagram Peluang Kerja Sektor

Diagram Peluang

Kerja Kawasan AgropolitanGambar 7.2. 2017 tdk menjwbbesarDiagram Peluang Kerja Sektor p.122

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :