Neurona Vol. 31 No. 1 Desember 2013
UJI VALIDITAS DAN REABILITAS
THE NEUROLOGICAL
DEPRESSION DISORDERS INVENTORY FOR EPILEPSY
(NDDI-E)
VERSI INDONESIA
Validity and Reliability test of The Neurological Depression Disorders Inventory
for Epilepsy (NDDI-E) In Indonesian version
Izati Rahmi*, Astri Budikayanti**, Diatri Nari Lastri**, Herqutanto***
ABSTRACT
Introduction: Depression is a common psychiatric disorder in epilepsy. It is a comorbid condition that adversely decrease patients health-related quality of life, and also potentially lead to the emergence of suicidal habits in people with epilepsy. So it required an instrument that is brief and accurate in Indonesian version, for detection of depression in people with epilepsy.
Aims: Determine the validity and reliability the NDDI-E in Indonesian version.
Methods: It was a cross-sectional study, which included 30 patients epilepsy in the outpatient clinic Ciptomangunkusumo Hospital Jakarta on June 2013. Transcultral validation based on WHO, and determination of the Pearson’s correlation and Crobanch alfa coeffisient for validity and reliability test.
Results: There were 30 patients invited to the study, man and woman are equal (50%). From the transcultural validation obtained the NDDI-E in Indonesian version. In validity test with the Pearson’s correlation, it obtained 6-items valid statements. The 1st statement had correlation
from the total value 0.898 (p<0.01), 2nd statement 0.580 (p<0.05), 3rd statement 0.716 (p=0.01), 4th statement 0.620 (p<0.05), 5th statement 0.681 (p<0.05), and 6th statement 0.888 (p<0.01). Estimation of the reliability with Pearson’s correlation was r=0.935 (p<0.001). It showed that the measurements were consistent from time to time (reliable). The reliability of the internal consistency with determination of crobanch alfa coefficient were: 1st statement 0.772>0.6, 2nd
statement 0.820>0.6, 3rd statement 0.795>0.6, 4th statement 0.814>0.6, 5th statement 0.803>0.6, and 6th statement 0.741>0.6. Crobanch alfa for all items of the NDDI-E were 0.823>0.6 which
means that all items of the NDDI-E statements are consistent and reliable.
Discussions: The NDDI-E in Indonesian version was valid and reliable in assessing depression of epilepsy patients.
Keywords: Depression, epilepsy, NDDI-E, vadility, and reliability.
ABSTRAK
Pendahuluan: Gangguan depresi merupakan kelainan yang sering terjadi pada pasien epilepsi. Hal ini merupakan kondisi komorbid yang dapat menurunkan kualitas hidup dan berpotensi menyebabkan timbulnya kebiasaan bunuh diri pada pasien epilepsi. Diperlukan suatu instrumen pemeriksaan akurat dan singkat dalam versi bahasa Indonesia untuk mendeteksi dini depresi pada pasien epilepsi.
Tujuan: Menentukan kesahihan (validitas) dan keandalan (reliabilitas) NDDI-E versi Indonesia.
Metode: Merupakan penelitian potong lintang dengan 30 orang sampel yang memenuhi kriteria inklusi di poli neurologi RSCM pada bulan Juni 2013. Validasi transkultural berdasarkan WHO dan menentukan nilai korelasi Pearson. Untuk reliabilitas dilakukan penentuan nilai korelasi Pearson dan koefisien alfa Crobanch.
Hasil: Subjek berjumlah 30 orang, terdiri dari 15 laki-laki dan 15 perempuan. Dari uji validitas transkultural didapatkan kuesioner NDDI-E versi Indonesia. Pada uji validitas dengan korelasi Pearson didapatkan 6-item pernyataan yang valid; pernyataan 1 mempunyai korelasi terhadap nilai total 0,898 (p<0,01), pernyataan 2: 0,580 (p<0,05), pernyataan 3: 0,716 (p=0,01), pernyataan 4: 0,620 (p<0,05), pernyataan 5: 0,681 (p<0,05), dan pernyataan 6: 0,888 (p<0,01). Estimasi reliabilitas dengan menggunakan korelasi Pearson adalah r=0,935 (p<0,01). Hal ini menunjukkan bahwa hasil pengukuran stabil dari waktu ke waktu (reliabel). Untuk reliabilitas
Neurona Vol. 31 No. 1 Desember 2013 konsistensi internal dengan menentukan koefisien alfa Crobanch, didapatkan pernyataan 1: 0,772>0.6, pernyataan 2: 0,820>0,6, pernyataan 3: 0,795>0,6, pernyataan 4: 0,814>0,6, pernyataan 5: 0,803>0,6, pernyataan 6: 0,741>0,6. Hasil alfa Crobanch untuk seluruh item NDDI-E adalah 0,823>0,6 yang berarti pernyataan pada setiap item NDDI-E konsisten/reliabel.
Diskusi: NDDI-E versi Indonesia cukup valid dan reliabel dalam menilai depresi pada pasien epilepsi.
Kata Kunci: Depresi pada epilepsi, NDDI-E, Uji validitas dan reliabilitas.
*Peserta Program Dokter Spesialis Departemen Neurologi FK Universitas Indonesia/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, **Staf Departemen Neurologi FK Universitas Indonesia/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, ***Staf Departemen Ilmu Kodekteran Komunitas FK Universitas Indonesia/ RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Korespondensi: [email protected]
PENDAHULUAN
Depresi merupakan salah satu gejala komorbid yang sering terjadi pada pasien epilepsi. Penelitian tentang gangguan psikiatri pada epilepsi telah banyak dilakukan. Di antaranya Gilliam (2006), melaporkan gangguan depresi terjadi lebih dari 30% pada komunitas epilepsi.1,2,3,4
Depresi tidak hanya memberikan efek negatif pada kesehatan pasien, tetapi juga berpotensi untuk menyebabkan hal-hal yang mengancam nyawa, seperti bunuh diri. Namun, deteksi depresi pada pasien epilepsi bukan merupakan pemeriksaan rutin pada klinik neurologi karena cukup sulit dilakukan pada poli rawat jalan, mengingat waktu yang diperlukan untuk pemeriksaan depresi cukup lama, sehingga pemeriksaan seringkali tidak dilakukan dan diagnosisnya jadi terlewatkan, karenanya diperlukan pemeriksaan lebih singkat dan sederhana. Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mendeteksi dan mengevaluasi depresi pada epilepsi adalah Neurological Disorders Depression Inventory for Epilepsy (NDDI-E). Instrumen ini terdiri dari 6-item kuesioner, dapat digunakan dengan cepat dan dapat diandalkan untuk mendeteksi depresi mayor pada klinik rawat jalan. NDDI-E sudah divalidasi di beberapa negara seperti Spanyol, Jerman, Korea, Jepang, Brazil, dan Italia.3,4
Deteksi depresi meningkat hampir 10 kali lipat dengan menggunakan instrumen NDDI-E ini. Meskipun NDDI-E tidak untuk menggantikan evaluasi definitif, pemeriksaan ini dapat membantu mendeteksi dini depresi pada pasien epilepsi di poli rawat jalan.4
Depresi adalah komplikasi psikiatri yang sering terjadi pada pasien dengan epilepsi kronik. Dengan angka prevalensi yang dilaporkan lebih dari 30% pada populasi pasien epilepsi, dan antara 20% sampai 55% pada pusat-pusat epilepsi. Hal ini merupakan kondisi komorbid yang akan mempengaruhi kualitas hidup pasien.4 Di Indonesia, dari penelitian Lazuardi (1994) di RSUPN Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta didapatkan bahwa pasien epilepsi 42% mengalami depresi.5,6
Menurut Kanner dkk dikatakan bahwa penelitian yang pernah dilakukan Victoroff dkk terhadap pasien dengan kejang parsial kompleks yang intraktabel, terdapat 58% pasien pernah didiagnosis depresi selama hidupnya.7Penelitian Garcia mengatakan dari kelompok pasien epilepsi lobus temporal (ELT), 22% pernah mengalami gangguan depresi mayor sepanjang hidupnya.8 Epilepsi kronis menyebabkan disregulasi dari aksis hipotalamus-hipofisis melalui beberapa mekanisme putatif, salah satunya adalah aktivasi menjadi IL-1β dalam hipokampus. Salah satu konsekuensi yang mungkin dari disregulasi aksis ini adalah peningkatan regulasi reseptor 5-HT1A somatodendritik di raphe dorsalis dan selanjutnya terjadi peningkatan autoinhibisi pelepasan serotonin dalam jalur raphe-hipokampus. Transmisi raphe-hippocampal serotonergic ini menyebabkan gejala perilaku depresi.9
Depresi berpotensi menyebabkan keadaaan yang mengancam nyawa, seperti bunuh diri. Kanner juga mengakatan berdasarkan penelitian Isometsa dkk (1994) di
Neurona Vol. 31 No. 1 Desember 2013 Finlandia dikatakan bahwa sebagian besar korban bunuh diri menderita depresi mayor mendapatkan pengobatan tidak adekuat atau tidak pernah mendapatkan pengobatan sama sekali.10,11 Penelitian lain, oleh Siregar di RSUD Haji Adam Malik Medan mengatakan bahwa tingkat gagasan bunuh diri pada depresi mayor berdasarkan skor BSIS (Beck Suicide Intent Scale) adalah 72,5%.11,12 Berdasarkan National Comorbidity Survey, probabilitas kumulatif transisi dari gagasan ke perencanaan bunuh diri sekitar 34%, dari perencanaan bunuh diri ke percobaan bunuh diri adalah 72%.10,11
Kanner dkk mengatakan bahwa Danish menyebutkan bahwa pasien epilepsi dengan depresi memiliki risiko bunuh diri sampai 3 kali lipat dibandingkan populasi umum.12Djibuti dkk (2003) mendapatkan kualitas hidup yang buruk berhubungan dengan kenaikan frekuensi serangan.2,13 Penelitian Herman dkk menunjukkan beratnya depresi akan menurunkan kualitas hidup pasien epilepsi.14,15
Terdapat hubungan bidireksional antara epilepsi dan depresi, namun hubungan bidireksional tidak berarti kausalitas, dikatakan bahwa mekanisme patogenesis umum berhubungan dengan kedua kondisi tersebut, di mana gangguan salah satunya akan memfasilitasi terjadinya keadaan lainnya.16
Penelitian terbaru Kanner menyatakan bahwa terdapat beberapa mekanisme patogenesis neurobiologi pada gangguan depresi. Terdapat empat kategori yang memliki dampak hipereksitabilitas di korteks dan proses epileptogenik, yaitu abnormalitas struktur dan fungsi kortikal, dan subkortikal; abnormalitas neurotransmitter; abnormalitas endokrin; dan abnormalitas immunologis.9,16-23 Terdapat pula faktor lain, seperti faktor psikososial,19 peran obat antiepilepsi (OAE), riwayat depresi,16 dan faktor genetik.17
Skala depresi mulai dikembangkan sekitar tahun 1960-an terutama untuk pengukuran objektif dan akurat yang akan mengubah tatalaksana psikofarmakologinya. Penilaian tingkat beratnya dibuat dengan angka dan intensitas dari gejala. Instrumen yang digunakan harus spesifik, valid, sensitif, dan reliabel. Terdapat dua macam skala penilaian: observer dan self reporting. Bentuk pertama yang lebih objektif, termasuk item perilaku yang diamati, di mana pasien sendiri mungkin tidak dapat menilai. Bentuk selanjutnya, lebih tepat untuk menilai pengalaman pasien dan persepsi pasien terhadap dirinya.
NDDI-E pertama kali dikembangkan pada tahun 2006 oleh Gilliam dkk di New York. NDDI-E dikembangkan dari 46 items gejala depresi yang terpisah dari gangguan kognitif atau efek samping dari OAE. Instrumen ini merupakan awal dari beberapa instrumen lain yang dapat diandalkan dan berlaku untuk diagnosis depresi berdasarkan kriteria DSM-IV.3
Beberapa penelitian dan validasi mengenai NDDI-E juga telah dilakukan di beberapa negara di dunia dengan hasil yang bervariasi sesuai dengan kultur di negara masing-masing. Di antaranya USA, Brazil, Italia, Spanyol, Jepang, Korea, dan terakhir di Jerman. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan validitas dan reliabilitas NDDI-E versi Indonesia pada pasien epilepsi.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang dengan menggunakan 30 orang sampel di Poli Saraf RSCM pada bulan Juni 2013. Kriteria inklusi adalah semua pasien yang berumur diatas 18 tahun, pendidikan minimal SMP, dan bersedia ikut penelitian. Kriteria eksklusi adalah gangguan penglihatan dan pendengaran berat. Pengambilan sampel dilakukan menurut metode non-random sampling jenis konsekutif. Sampel penelitian adalah subjek yang masuk kriteria inklusi. Semua calon sampel penelitian terlebih dahulu mendapat penjelasan secara lisan tentang tujuan, cara kerja, dan manfaat penelitian, bila memahami dan setuju untuk ikut penelitian kemudian mereka diminta menandatangani izin penelitian secara tertulis.
Dilakukan validasi dengan metode transkultural berdasarkan WHO. Selanjutnya, semua subjek yang memenuhi kriteria inklusi dilakukan anamnesis identifikasi,
Neurona Vol. 31 No. 1 Desember 2013 dilanjutkan dengan pemeriksaan NDDI-E, dengan cara pasien mengisi kuesioner sendiri tanpa bantuan. Pengisian kuesioner ini dilakukan dua kali oleh pemeriksa yang sama, dengan jarak waktu antara kedua pemeriksaan 7-10 hari.
Kedua hasil disimpulkan oleh peneliti. Hasil pengumpulan data penelitian diolah melalui proses editing dan coding. Data yang telah teruji keabsahannya diolah dan disusun dalam bentuk tabel distribusi maupun tabel silang sesuai tujuan penelitian menggunakan perangkat SPSS.
Validitas digunakan untuk mengukur valid tidaknya suatu butir pernyataan. Skala butir pernyataan dikatakan valid jika dapat mengukur yang seharusnya diukur. Secara sederhana, salah satu pengukuran validitas dapat dilakukan dengan menghitung koefisien korelasi antara masing-masing nilai pada nomor pernyataan dengan nilai total dari nomor pernyataan tersebut (korelasi Pearson). Sementara analisis reliabilitas test-retest dilakukan dengan uji korelasi Pearson dan untuk reliabilitas konsistensi internal dengan penghitungan koefisien alfa Crobanch.
HASIL
Dari hasil validasi transkultural yang menggunakan konsep validasi transkultural WHO didapatkan kuesioner NDDI-E dalam versi bahasa Indonesia (Tabel 1). Untuk uji reliabilitas dilakukan test-retest yang akan menguji keandalan instrumen, hasil pengukuran didapat dari pengukuran secara berulang. Estimasi reliabilitas dilakukan dengan cara mengorelasikan hasil pengukuran pertama dan kedua dengan menggunakan korelasi Pearson, bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara 2 hasil pengukuran NDDI-E pertama dan kedua dengan nilai (r=0,935; p=0,000<0,01). Hal ini menunjukkan bahwa hasil pengukuran sangat stabil dari waktu ke waktu (reliabel).
Tabel 1. NDDI-E Versi Indonesia
Selalu/ sering Kadang-kadang Jarang Tidak pernah
Semua persoalan sukar diatasi 4 3 2 1
Tidak satu-pun yang kukerjakan benar 4 3 2 1
Merasa bersalah 4 3 2 1
Lebih baik saya mati 4 3 2 1
Frustasi 4 3 2 1
Sulit menemukan kesenangan 4 3 2 1
Keterangan:
Untuk pertanyaan-pertanyaan yang ada pada tabel, pasien diminta untuk melingkari nomor yang paling cocok mendeskripsikan pernyataan-pernyataan tersebut selama 2 minggu terakhir, termasuk hari ketika penilaian dilakukan.
Tabel 2. Nilai Reliabilitas dengan Koefisien Alfa Crobanch Nilai alfa bila item
dihilangkan Item 1A 0,7724 Item 2A 0,8206 Item 3A 0,7952 Item 4A 0,8140 Item 5A 0,8027 Item 6A 0,7415 Keofisien reabilitas 6 item Alfa: 0,8231 Item alfa standar: 0,8291
Untuk reliabilitas konsistensi internal (Tabel 2), yaitu reliabilitas yang didapatkan dari pengujian konsistensi antar item NDDI-E, terdapat konsistensi respons subjek dalam satu alat ukur pada satu kali pengukuran dengan menentukan koefisien alfa Crobanch dengan hasil semua item NDDI-E bernilai >0,6, yang berarti bahwa semua item NDDI-E
Neurona Vol. 31 No. 1 Desember 2013 sangat stabil dari waktu ke waktu (reliabel). Selain itu, pada uji validitas dengan korelasi Pearson didapatkan hasil bahwa pernyataan 1 mempunyai korelasi terhadap nilai total 0,898 (p<0,01), pernyataan 2: 0,580 (p<0,05), pernyataan 3: 0,716 (p=0,01), pernyataan 4: 0,620 (p<0,05), pernyataan 5: 0,681 (p<0,05), dan pernyataan 6: 0,888 (p<0,01) yang berarti bahwa ke 6 item pernyataan NDDI-E adalah valid.
PEMBAHASAN
Saat ini, penilaian gangguan depresi mayor bukan merupakan pemeriksaan rutin pada klinik-klinik neurologi, dan fakta yang ada juga membuktikan bahwa sebagian pasien yang mengalami gangguan depersi mayor tidak terdeteksi sehingga akhirnya tidak terobati. Hal ini dikarenakan deteksi depresi pada pasien epilepsi cukup sulit dilakukan poli rawat jalan mengingat waktu yang diperlukan cukup lama. Oleh karena itulah diperlukan pemeriksaan yang singkat, sederhana namun dapat diandalkan untuk mendeteksi gangguan depresi mayor pada pasien epilpesi.
Pada penelitian ini dilakukan uji validitas dan reliabilitas NDDI-E. Terhadap NDDI-E dilakukan uji validitas trankultural berdasarkan WHO yang menghasilkan satu instrumen pemeriksaan NDDI-E dalam versi bahasa Indonesia.
Validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu butir pertanyaan. Skala butir pertanyaan disebut valid, jika dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Secara sederhana salah satunya dapat dilakukan dengan menghitung koefisien korelasi antara masing-masing nilai pada tiap-tiap nomor pernyataan terhadap nilai totalnya. Hasil dari penghitungan terhadap keenam pernyataan pada NDDI-E versi Indonesia memiliki nilai p<0,05 yang berarti semua pernyataan dalam instrumen pemeriksaan tersebut adalah valid.
Reabilitas disini menunjukkan tingkat konsistensi dan stabilitas dari data berupa skor hasil persepsi suatu variabel. Dengan demikian reabilitas meliputi stabilitas ukur dan konsistensi internal ukur. Reabilitas test-retest akan menguji kehandalan instrumen pengukuran/hasil pengukuran yang didapat dari pengukuran secara berulang. Estimasi reliabilitas ini dilakukan dengan cara mengkorelasikan hasil pengukuran pertama dan kedua, dengan menggunakan korelasi uji korelasi Pearson dengan hasil yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara 2 hasil pemeriksaan (r=0,916; p<0,01) yang berarti bahwa pengukuran sangat stabil dari waktu ke waktu.
Reabilitas konsistensi internal adalah reliabilitas yang didapatkan dari pengujian konsistensi antar item NDDI-E menunjukkan konsistensi respons subjek dalam satu alat ukur pada satu kali pengukuran dengan menggunakan koefisien alfa Crobanch. Dengan hasil >0,60 yang berarti bahwa pernyataan NDDI-E konsisten.
KESIMPULAN
NDDI-E merupakan instrumen pemeriksaan skrining depresi yang valid dan reliabeldalam menilai depresi pada pasien epilepsi di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
1. Kanner AM, Frey M. Treatment of common comorbid psychiatric disorder in epilepsy: a review of practical strategies. Dalam: Theraupetic Strategies in Epilepsy. England: Atlas medical publishing; 2009.
2. Rochmawati I. Bobot pengaruh tipe bangkitan terhadap kejadian depresi pada pasien epilepsi di poliklinik saraf RSUP dr. Sardjito. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. 2008.
3. Gilliam FG, Barry JJ, Herman BP, Meador KJ, Vahle V, Kanner AM. Rapid detection of major depression in epilepsy: a multi-centre study. Lancet Neurol. 2006;5(5):399-405. 4. Friedman DE, Kung HD, Laowattana S, Kass JS, Hrachovy RA, Levin HS. Identifying
depression in epilepsy in a busy clinical setting enhanced with systemic screening. Seizure. 2009;18(6):429-33.
Neurona Vol. 31 No. 1 Desember 2013 6. Marpaung V. Depresi pada pasien epilepsi umum dengan kejang tonik klonik dan epilepsi parsial sederhana. [Tesis]. Medan: Departemen Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Sumatera Utara; 2003.
7. Kanner A, Schacter SC. Psychiatric controversies in epilepsy. Edisi ke-1. Amsterdam: Elsevier; 2008.
8. Garcia CS. Depression in Temporal Lobe Epilepsy: A review of prevalence, clinical features and management consideration. Epilepsy Res Treat. 2012:Article ID 809843.
9. Pineda E, Shin D, Sankar R, Mazarati AM. Comorbidity between epilepsy and depression: Experimental evidence for the involvement of serotonergic, gluco-corticoid, and neuroinflammatory mechanism. Epilepsia. 2010;3:110-4.
10. Forster PL, Wu LH. Assesment and treatment of suicidal patients in an emergency setting. Dalam: Emergency Psychiatry. Review of Psychiatry. Washington DC, American Psychiatric Publishing; 2002.
11.Siregar TD. Gambaran Tingkat Risiko Gagasan Bunuh Diri pada Pasien Gangguan Depresif Mayor. [Tesis]. Medan: Departemen Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Sumatera Utara; 2012.
12. Kanner A. Suicidality and epilepsy: A complex relationship that remains misunderstood and underestimated. Epilepsy Curr. 2009;9(3):63-66.
13. Djibuti M, Shakarishvili R. Influence of clinical, demographic, and socioeconomic variables on quality of life in patient with epilepsy: findings from Georgian study. J Neurol Neurosurg Psychiatry. 2003;74:570-573.
14. Mula M, Schmitz B. Depression in Epilepsy: Mechanism and therapeutic approach. Ther Adv Neurol Disord. 2009;2(5):337-344.
15. Herman BP, Seidenberg M, Haltiner A, Wyler AR. Mood state in unilateral temporal lobe epilepsy. Biol Psychitry. 1991;30:1205-1218.
16. Kanner AM. Can Neurobiological pathogenic mechanisms of depression facilitate the development of seizure disorders? Lancet Neurol. 2012;11(12):1093-102.
17. Kanner A. Affective disorder. Dalam: Engel JJ PT. Epilepsy a comprehensive textbook. Edisi ke-2. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2008.
18. Amir N. Gangguan Mood. Dalam: Depresi: aspek neurobiologi diagnosis dan tata-laksana. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2005.
19. Bhagwagar ZB, Whale R, Cowen PJ. State and trait abnormalities in serotonin function in major depression. Br Journal Psychiatry. 2002;180:24-28.
20. Hesdorffer DC, Krishnamoorthy ES. Neuropsychiatric disorders in epilepsy: epidemiology and classification. Dalam: Trimble MR SB. The Neuropsychiatry of Epilepsy. Edisi ke-2. New York: Cambridge University; 2011.
21. Baehr M, Frotscher M. Sistem Limbik. Dalam: WJ S, editor. Diagnosis topik neurologi: anatomi, fisiologi, tanda dan gejala. Edisi ke-4. Jakarta: EGC; 2010.
22. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pharmaceutical care untuk pasien epilepsi. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2007.
23. Green AI, Mooney JJ, Ponsener JA, Schildraut JJ. Mood disorder: bio-chemical aspect. Dalam: Kaplan HI SB. Comprehensive textbook of Psychiatry. Maryland: Williams & Wilkins; 1995.
Neurona Vol. 31 No. 1 Desember 2013
Lampiran
Gambar 1. Mekanisme terjadinya depresi pada pasien epilepsi23
Epilepsi kronik Disregulasi aksisHPA peningkatan regulasi reseptor 5-‐HT1A peningkatan autoinhibition pelepasan serotonin dalam