METODE KOMPUTASI POTENSI KETERLAMBATAN PROYEK KONSTRUKSI DAN
KONTRIBUSI KETERLAMBATAN AKTIVITAS
Andreas Wibowo1
1Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman Kementerian Pekerjaan Umum
Jl. Panyawungan Cileunyi Wetan 40393 Bandung
Email: [email protected]; [email protected]
ABSTRAK
Berbagai studi empirik menunjukkan keterlambatan merupakan risiko rutin yang dihadapi dalam setiap proyek konstruksi dan industri konstruksi dikenal dengan kinerjanya yang buruk dalam hal jadual. Keterlambatan proyek dapat disebabkan pengguna jasa, penyedia jasa, atau bukan oleh keduanya. Situasi yang pelik terjadi saat ada lebih dari satu pihak yang harus bertanggung jawab atas keterlambatan. Yang menjadi masalah adalah analisis keterlambatan untuk mengalokasikan tanggung jawab bukanlah perkara mudah. Banyak literatur yang menawarkan berbagai teknik dan pendekatan meski tetap tidak berkonvergen pada konsensus yang dapat diterima semua pihak. Tulisan ini menawarkan model komputasi potensi keterlambatan dan kontribusi keterlambatan aktivitas. Bila kontribusi aktivitas terhadap keterlambatan dan pihak yang harus bertanggung jawab diidentifikasi, penanganan dalam menyikapi potensi terjadinya keterlambatan dapat ditentukan, apakah menyatakan kontrak sebagai kontrak kritis atau memberikan hak bagi penyedia jasa untuk mengajukan klaim perpanjangan waktu. Konsep yang ditawarkan juga mengoreksi definisi kontrak kritis sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 43/PRT/M/2007 yang lebih ditekankan pada bobot aktivitas tanpa melihat kekritisan aktivitas dalam penjadualan, termasuk memberikan rekomendasi untuk lebih berhati-hati terhadap penggunaan schedule performance index atau schedule variance dalam konteks analisis earned value sebagai ukuran untuk menentukan kinerja waktu proyek.
Kata kunci: keterlambatan, model Shi et al., kontribusi aktivitas, kritis, kinerja waktu
1.
PENDAHULUAN
Industri konstruksi dikenal mempunyai reputasi buruk dalam hal kinerja baik dari aspek waktu dan biaya (Baloi dan Price, 2003; Chang, 2002). Banyak studi empirik menegaskan keterlambatan konstruksi merupakan hal yang lumrah (Hegazy dan Menesi, 2008; Ndekugri et al., 2008). Bila keterlambatan terjadi, konsekuensi yang harus dihadapi adalah kenaikan biaya, turunnya kualitas dan pekerjaan ulang (Tse and Love, 2003). Karena frekuensi terjadi dan dampaknya, keterlambatan menjadi salah satu isu penting dalam manajemen konstruksi (Kim et al., 2006).
Berdasarkan pihak yang bertanggung jawab, keterlambatan bisa diklasifikasikan menjadi tipe E atau pengguna jasa yang bertanggung jawab, tipe C yaitu penyedia jasa yang harus bertanggung jawab dan tipe N di mana tidak ada pihak yang harus bertanggung jawab (Scott, 1997). Namun, situasi keterlambatan biasanya merupakan sesuatu yang kompleks; keterlambatan suatu aktivitas tidak selalu berakibat pada keterlambatan proyek dalam jumlah yang sama dan keterlambatan oleh satu pihak mungkin memiliki konsekuensi terhadap waktu penyelesaian proyek dan mungkin dapat menyebabkan kerugian bagi pihak lain (Arditi dan Pattanakitchamroon, 2008).
Ada kalanya keterlambatan proyek terjadi disebabkan lebih dari satu aktivitas yang tidak harus terjadi pada waktu bersamaan atau concurrent delay (Callahan et al., 1992). Al-Gahtani dan Mohan (2007) memiliki definisi yang hampir sama namun membatasi bahwa terjadinya concurrent delay terjadi pada waktu yang bersamaan. Kejadian
concurrent delay menuntut adanya pembagian (apportioning) pada kasus lebih dari satu pihak bertanggung jawab
atas keterlambatan proyek. Terkait dengan hal tersebut analisis dampak keterlambatan bukanlah perkara mudah (Nguyen dan Ibbs, 2008). Beberapa studi telah dihasilkan untuk mengatasi permasalahan terkait dengan concurrent
delay apportionment namun toh tetap saja tidak ada konsensus yang diterima oleh semua pihak.
Meski secara spesifik tidak digunakan untuk menyelesaikan masalah apportionment, metoda yang ditawarkan Shi et al. (2001) sangat menarik untuk dikaji dan dikembangkan lebih lanjut. Metoda ini secara sistematis dapat menentukan kontribusi masing-masing aktivitas terhadap keterlambatan proyek secara keseluruhan. Per teori, bila pihak yang bertanggung jawab atas keterlambatan aktivitas yang berkontribusi terhadap keterlambatan dapat teridentifikasi, masalah apportionment setidaknya relatif lebih mudah diselesaikan. Namun metoda Shi et al. (2001) diterapkan saat proyek sudah diselesaikan dan dinyatakan mengalami keterlambatan.
Tulisan ini mengembangkan lebih lanjut pendekatan Shi et al. (2001) untuk memprediksi kinerja waktu proyek saat proyek sedang dalam tahap penyelesaian (in progress). Dengan mengetahui potensi keterlambatan, tindakan-tindakan antisipatif dapat dilakukan untuk menghindarkan proyek dari risiko ini. Hasil pengembangan ini sangat relevan terutama bila dikaitkan dengan definisi kontrak kritis sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 43/PRT/M/2007. Dalam peraturan ini kontrak kritis ditetapkan semata-mata didasarkan pada progres fisik tanpa melihat apakah terjadi kekritisan skedul atau tidak.
2.
ANALISIS KETERLAMBATAN PROYEK KONSTRUKSI
Teknik analisis keterlambatan dan penanganan terhadap masalah concurrent delay dalam proyek konstruksi telah menarik perhatian banyak akademisi dan praktisi. Yang menarik adalah definisi concurrent delay juga ternyata tidak seragam untuk masing-masing teknik (Mohan dan Al-Gahtani 2006). Beberapa teknik yang biasa digunakan adalah
global impact technique, net impact technique, adjusted as-built CPM technique, snapshot technique, time impact
technique, etc (Mohan dan Al-Gahtani, 2006). Arditi dan Pattanakitchamroon (2008) mengkompilasi keunggulan
dan kelemahan masing-masing metoda analisis keterlambatan dan mengekstraksi serta menganalisis kasus-kasus klaim terkait dengan perselisihan waktu pada proyek-proyek pemerintah antara tahun 1992-2005.
Hallock dan Mehta (2007) mendiskusikan secara mendetil kelemahan dan keunggulan time impact analysis (TIA) dan windows analysis. Mereka kemudian sampai pada kesimpulan bahwa untuk proyek-proyek tipikal windows
analysis memberikan presentasi kejadian dan alokasi tanggung jawab yang lebih akurat, dapat didukung
(supportable) dan lebih mudah dimengerti. Sementara itu Livengood (2007) membahas beberapa kelemahan mendasar pada TIA yang justru menjadi kekuatan teknik as-planned vs. as-built (APAB).
Al-Gahtani dan Mohan (2007) berargumen ada suatu tradeoff antara akurasi dan biaya. Penggunaan teknik analisis keterlambatan impacted-as-planned yang relatif tidak mahal cenderung tidak akurat dibandingkan windows analysis. Al-Gahtani dan Mohan menawarkan konsep total float management untuk membuat teknik windows analysis lebih murah dan tetap akurat. Prinsipnya adalah dengan membagi (apportion) float kepada partisipan proyek. Prinsip yang hampir sama juga diadopsi de la Garza et al. (2007) melalui prealokasi total float untuk skedul berbasis critical path
method (CPM) kepada pihak pengguna jasa (pemilik) dan penyedia jasa (kontraktor). Rentang prealokasi dapat
bervariasi antara 100/0 dan 0/100.
Al-Gahtani (2009) menginisiasi penggunaan konsep total risk approach yang mengintegrasikan beberapa pendekatan alokasi float di antara peserta proyek. Prinsip yang digunakan adalah bahwa pihak yang mempunyai risiko yang paling besar seharusnya berhak atas kepemilikan float dan mendapatkan kompensasi dari pihak lain yang meningkatkan risiko melalui konsumsi float. Sementara itu Nguyen dan Ibbs (2008) memperkenalkan FLORA sebagai teknik analisis penjadualan yang secara simultan mengkover isu-isu tentang kedinamisan float, logika, dan alokasi sumber daya, mengikuti 10 (sepuluh) prinsip dasar yang fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Shi et al. (2001) memberikan teknik perhitungan yang sangat sistematis untuk menentukan kontribusi keterlambatan suatu aktivitas terhadap waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan. Teknik yang ditawarkan berbeda dengan APAB dan tidak berdasarkan analisis jalur kritis dan bahkan tidak membutuhkan kalkulasi atau pemutakhiran
(up-dating) jalur kritis. Teknik ini memberikan baseline yang objektif untuk menentukan tanggung jawab atas
keterlambatan yang terjadi. Sebagaimana diutarakan sebelumnya, tulisan ini mengembangkan lebih lanjut teknik Shi et al ini untuk menentukan potensi terjadinya keterlambatan berdasarkan kinerja aktivitas pada waktu peninjauan.
3.
MODEL KOMPUTASI POTENSI KETERLAMBATAN
Keterlambatan merupakan risiko yang bisa dicegah sejak dini melalui tindakan-tindakan antisipatif. Konsep pengendalian earned value (Harrison, 1985) yang mengintegrasikan waktu dan biaya sebenarnya telah menyediakan
schedule perfomance index (SPI) atau schedule variance (SV) sesaat untuk mengukur kinerja waktu yang dapat juga
digunakan untuk memprediksi kinerja proyek secara keseluruhan. SPI dan SV ditentukan berdasarkan budgeted cost
of work performed (BCWP) dan budgeted cost of work scheduled (BCWS). Namun, masalah utama dalam
pengaplikasiannya -tidak banyak disinggung di beberapa literatur- adalah ekstrapolasi didasarkan pada asumsi linearitas yang sebenarnya tidak tepat karena proyek terdiri dari aktivitas-aktivitas yang karakteristiknya sangat mungkin berbeda antara satu dengan yang lainnya. Penulis berargumentsi teknik ekstrapolasi yang diadopsi earned
value bisa diterima sepanjang diterapkan untuk aktivitas bukan proyek. Dalam tulisan ini, untuk aktivitas yang
100% %selesai
T t
d = ×d (1)
dengan dT=perkiraan durasi total, dt=durasi pada waktu ke-t. Persamaan (1) dibentuk dengan asumsi tidak terjadi
perubahan produktivitas aktivitas. Gambar 1 memperlihatkan contoh perkiraan durasi total aktivitas berdasarkan informasi earned value yang tersedia saat aktivitas sedang dalam tahap penyelesaian.
Gambar 1. Proyeksi penyelesaian aktivitas
Untuk menyatakan kemajuan proyek secara keseluruhan digunakan rumusan sederhana sebagai berikut:
100% t t p t D PSP D = × (2)
dengan PSPt=prestasi proyek (dinyatakan dalam persen) dari sisi waktu yang dievaluasi pada waktu ke-t, Dt=durasi
saat evaluasi pada waktu ke-t, Dp|t=proyeksi waktu penyelesaian proyek saat evaluasi dilakukan pada waktu ke-t. Sementara itu indeks kinerja waktu (SPI) dihitung saat evaluasi waktu ke-t sebagai:
t p t s t t s p t D D D SPI D D D = = (3)
dengan Ds=durasi proyek rencana. Persamaan (2) dan (3) memperlihatkan bahwa kinerja skedul proyek sama sekali
tidak berhubungan dengan bobot aktivitas dan hanya ditentukan oleh durasi aktivitas. Bila semua durasi perkiraan dan durasi aktual semua aktivitas sudah teridentifikasi, perhitungan analisis keterlambatan mengikuti model Shi et al (2001). Model Shi et al mendefinisikan terlebih dahulu aktivitas terminal dan aktivitas antara. Aktivitas terminal adalah aktivitas yang tidak memiliki aktivitas(-aktivitas) suksesor. Untuk tidak mereplikasi studi yang sudah ada, tulisan ini hanya menyajikan beberapa persamaan dasar untuk perhitungan analisis keterlambatan. Pembaca direkomendasikan mengacu pada Shi et al. (2001) untuk detil penjelasannya.
Menurut model Shi et al. (2001), variasi waktu mulai yang diakibatkan oleh aktivitas bersangkutan (VSS) didefinisikan sebagai selisih antara waktu mulai aktual dan waktu aktivitas dapat dimulai atau:
VSS = waktu_mulai_aktual – waktu_dapat_mulai (4)
Waktu aktivitas dapat dimulai tergantung pada hubungan logis antara aktivitas yang bersangkutan dan aktivitas (-aktivitas) predesesornya. Variasi aktivitas (VA) merupakan penjumlahan antara VSS dan variasi durasi (VD) atau:
VA = VSS + VD (5)
Kontribusi keterlambatan (PDA) yang berasal dari aktivitas terminal dihitung sebagai:
PDA = min{VA, PDAC} (6)
dengan PDAC=waktu_selesai_aktual_aktivitas_terminal – waktu_rencana_proyek_selesai. Jika PDAC negatif, proyek tidak mengalami keterlambatan. Bila PDAC aktivitas terminal diketahui, perhitungan selanjutnya dilakukan secara mundur (backward calculation) untuk aktivitas-aktivitas antara. Selanjutnya dilakukan perhitungan keterlambatan mulai aktivitas antara yang disebabkan aktivitas suksesor, VSPij:
VSPij=selesai_aktuali – mulai_rencanaj (7)
Persamaan (7) menunjukkan bahwa aktivitas j hanya dapat dimulai setelah aktivitas i selesai. Bila aktivitas i lebih lambat dari yang seharusnya, waktu mulai aktivitas i akan mengalami keterlambatan. Namun ada kemungkinan aktivitas i selesai lebih cepat sehingga aktivitas j dapat dimulai lebih awal. Keterlambatan kumulatif yang ditransfer dari aktivitas i ke aktivitas j, PDACij, dihitung sebagai berikut:
PDACij=min{VSPij, PDACj} (8)
Selanjutnya, kontribusi keterlambatan kumulatif sampai aktivitas i merupakan nilai maksimum PDACijuntuk semua
aktivitas suksesor langsung j:
max{ ij}
j
PDAC= PDAC (9)
Kontribusi keterlambatan dari setiap aktivitas antara dihitung menggunakan Persamaan (6). Gambar 2 memperlihatkan contoh perhitungan sederhana untuk analisis keterlambatan.
Gambar 2. Contoh perhitungan analisis keterlambatan
Redefinisi Kontrak Kritis
Kontrak kritis menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 43/PRT/M/2007 terjadi bila dalam periode I (rencana fisik pelaksanaan 0%-70%) realisasi fisik pelaksanaan terlambat lebih besar 10% dari rencana, atau dalam periode II (rencana fisik pelaksanaan 70%-100%) realisasi fisik pelaksanaan terlambat lebih besar 5% dari rencana atau rencana fisik pelaksanaan 70%-100% realisasi fisik pelaksanaan terlambat kurang dari 5% dan akan melampaui tahun anggaran berjalan. Kontrak kritis dapat berujung pada pemutusan kontrak bila beberapa persyaratan telah terpenuhi. Dikombinasikan dengan teknik Shi et al. (2001) dan konsep ekstrapolasi berbasis kinerja sesaat kontribusi ini dapat dihitung melalui PDA masing-masing aktivitas.
Tulisan ini menggunakan konsep yang sama sekali berbeda dengan definisi kontrak kritis yang ada. Kontrak kritis dalam tulisan ini terjadi bila suatu akvititas mengalami keterlambatan yang berakibat proyek berpotensi mengalami keterlambatan. Sebagai konsekuensinya, meski secara keseluruhan realisasi fisik, yang tentunya diukur dari BCWP keseluruhan aktivitas, lebih besar daripada BCWS, namun bila ada satu aktivitas saja yang terlambat dan keterlambatan berpotensi menyebabkan proyek selesai lebih lambat, kontrak tetap dinyatakan kritis walau aktivitas tersebut mempunyai bobot pekerjaan sangat kecil. Kekritisan itu sendiri bisa dikategorikan sebagai rendah, sedang, tinggi tergantung pada persentase keterlambatan atau persentase keterlambatan relatif terhadap selesainya tahun anggaran.
4.
CONTOH PERHITUNGAN
Gambar 3 memperlihatkan diagram jaringan kerja as-planned (diagram polos) dan as-built (diagram gelap) yang berasal contoh kasus dalam Shi et al. (2001) yang telah dimodifikasi. Menurut skedul, proyek akan diselesaikan pada minggu ke-16. Aktivitas G dan H adalah aktivitas terminal sementara aktivitas lainnya menjadi aktivitas antara. Misal, evaluasi dilakukan pada minggu ke-10 dan saat itu aktivitas yang sedang dalam tahap penyelesaian hanya E (A, B, C, dan D sudah diselesaikan) sementara F,G, dan H belum dimulai. Durasi rencana E adalah 5 minggu dengan earned value selama tiga minggu 37,5%. Menggunakan Persamaan (1), E diperkirakan selesai 8
minggu. Evaluasi kinerja pada akhir minggu ke-10 menghasilkan informasi bahwa proyek diproyeksikan dapat diselesaikan pada minggu ke-20 atau akan terlambat 4 minggu dari yang direncanakan. Prestasi kerja sampai minggu ke-10 menurut Persamaan (2) adalah 50% (=10/20) sementara menurut rencana prestasi sampai waktu yang sama adalah 62,5% (=10/16) atau SPI adalah 0,80. Berdasarkan informasi ini, PDA masing-masing aktivitas dihitung menggunakan Persamaan (4) sampai (9) dengan hasil disajikan dalam Tabel 1.
Gambar 3. Contoh as-planned vs as-built schedule berdasarkan evaluasi minggu ke-10
Tabel 1 memperlihatkan bahwa kontribusi potensi keterlambatan terbesar disumbangkan oleh aktivitas E (15%) diikuti A dan C. Aktivitas A meski mengalami terlambat 3 minggu ternyata hanya bertanggung jawab atas potensi keterlambatan yang terjadi selama 1 minggu. Aktivitas D tidak berkontribusi sama sekali terhadap potensi keterlambatan meski durasi memanjang 1 minggu karena aktivitas B lebih cepat dari yang direncanakan sehingga D bisa dimulai lebih cepat. Selain itu D memiliki float 5 minggu sehingga mempunyai cukup waktu untuk pengunduran tanpa harus menyebabkan proyek mengalami keterlambatan.
Tabel 1. Kontribusi keterlambatan aktivitas
Variasi Aktivitas Kontribusi Keterlambatan Aktivitas %selesai VD VSS VA PDAC PDA A 100,0 2 1 3 1 1 B 100,0 –1 0 –1 –1 –1 C 100,0 1 1 2 1 1 D 37,5 1 0 1 –5 –5 E 0,0 3 0 3 3 3 F 0,0 0 0 0 4 0 G 0,0 0 0 0 4 0 H 0,0 0 0 0 3 0 A 100,0 2 1 3 1 1
PDA dapat diintepretasikan sebagai berikut. Bila diasumsikan aktivitas lainnya tidak mengalami keterlambatan, proyek akan tetap terlambat 1 minggu akibat keterlambatan A. Sama halnya, bila aktivitas lainnya diasumsikan sesuai dengan rencana, proyek akan mengalami keterlambatan 1 minggu karena keterlambatan C. Pengertian ini dapat digunakan untuk menghitung net impact bila penanggung jawab keterlambatan diketahui. Misal, bila seluruh keterlambatan aktivitas A, C, dan E disebabkan pengguna jasa (tipe E), penyedia jasa dapat mengajukan klaim perpanjangan waktu. Namun, jumlah perpanjangan waktu tidak sama dengan penjumlahan sederhana dari masing-masing PDA (5 minggu) karena A dan C tidak seri dalam satu jalur. Bila A dan C disebabkan penyedia jasa (tipe C) dan E pengguna jasa, net impact untuk jalur yang dilewati A dan E adalah 2 minggu (=3 – 1) untuk penyedia jasa dan net impact untuk jalur C dan E adalah 2 minggu (=3 – 1) untuk penyedia jasa juga. Artinya, penyedia jasa bisa mengajukan klaim perpanjangan waktu sebesar 2 minggu. Sebaliknya, bila A dan C disebabkan pengguna jasa dan E oleh penyedia jasa, kontrak dapat dinyatakan kritis. Untuk itu penyedia jasa dapat diberi peringatan dini untuk mengakselerasi pekerjaan untuk menghindari proyek terlambat dari jadual yang telah disepakati.
Gambar 4. Potensi keterlambatan proyek berdasarkan evaluasi minggu ke-10
Bobot Pekerjaan dalam Analisis Keterlambatan
Gambar 5 memperlihatkan skenario yang berbeda di mana evaluasi dilakukan pada akhir minggu ke-5 dengan
earned value untuk aktivitas A sebesar 44,4%, B=100%, C=50%, dan D=100% dan sisanya 0% karena belum
dimulai. Tabel 2 menyajikan BCWS dan BCWP berdasarkan bobot aktivitas masing-masing. BCWS dihitung dengan asumsi prestasi kerja seragam per satu satuan waktu, sebagaimana biasa dijumpai dalam praktik. Berdasarkan nilai
BCWS dan BCWP, SPI dengan metoda konvensional adalah 1,2 (39,2/32,0) yang artinya proyek tidak mengalami masalah sama sekali dengan jadual dan bahkan ahead of schedule. Informasi ini cukup menyesatkan dan tidak menggambarkan risiko keterlambatan yang sebenarnya karena besarnya BCWP disumbangkan oleh aktivitas D yang berbobot besar namun tidak kritis dari segi waktu. Konsep sederhana yang ditawarkan dalam tulisan ini mengoreksi kesalahan ini. Bila produktivitas A tidak berubah, A berpotensi mengalami keterlambatan dan harus selesai pada akhir minggu ke-10 yang mengakibatkan proyek akan terlambat 4 minggu dari yang direncanakan. Prestasi kerja terhitung adalah 25% (=5/20) sementara prestasi menurut jadual seharusnya 31,25% (=5/16) atau SPI proyek adalah 0,8 yang ekuivalen dengan SV=–6,25%. Indeks ini lebih merefleksikan kondisi yang sebenarnya. Sementara itu kontribusi keterlambatan aktivitas dapat dihitung dengan algoritma yang telah disajikan sebelumnya.
Tabel 2. Earned value analysis pada akhir minggu ke-5
Schedule Earned value
Aktivitas Bobot BCWS %selesai BCWP % selesai A 5 100% 5,0 44,4% 2,2 B 7 100% 7,0 100,0% 7,0 C 10 75% 7,5 50,0% 5,0 D 25 50% 12,5 100,0% 25,0 E 10 0% 0,0 0,0% 0,0 F 15 0% 0,0 0,0% 0,0 G 12 0% 0,0 0,0% 0,0 H 16 0% 0,0 0,0% 0,0 Total 100 32,0 39,2
5.
KESIMPULAN DAN SARAN
Keterlambatan merupakan salah satu risiko rutin yang dihadapi dalam setiap proyek konstruksi. Oleh karenanya perlu dilakukan tindakan antisipatif untuk mencegah proyek terlambat dari jadual yang telah direncanakan. Berdasarkan pihak yang bertanggung jawab, keterlambatan bisa diklasifikasikan ke dalam tipe C, E, dan N. Dalam praktik, situasi terkadang menjadi lebih kompleks dikarenakan pihak yang bertanggung jawab lebih dari satu atau dikenal dengan concurrent delay. Di sisi lain analisis keterlambatan merupakan masalah yang pelik. Dalam literatur telah banyak dikembangkan berbagai teknik analisis meski tidak ada yang mendapatkan kesepakatan umum.
Tulisan ini menawarkan analisis keterlambatan yang dikembangkan Shi et al. (2001) yang dikombinasikan dengan konsep ekstrapolasi sederhana untuk menentukan potensi terjadinya keterlambatan pada suatu proyek konstruksi sekaligus menentukan kontribusi keterlambatan setiap aktivitas. Dengan mengetahui kontribusi ini dan bila pihak yang bertanggung jawab dapat diidentifikasi, penanganan terhadap potensi keterlambatan dapat segera dilakukan, apakah penyedia jasa harus mengajukan klaim perpanjangan waktu atau penyedia jasa harus diberikan peringatan dini untuk mengakselerasi pekerjaan karena proyek berpotensi mengalami keterlambatan. Tulisan ini juga menawarkan redefinisi kontrak kritis sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 43/PRT/M/2007 karena definisi yang ada lebih menitikberatkan pada prestasi berdasarkan bobot pekerjaan. Pendekatan ini kurang tepat dan tidak merefleksikan kondisi yang sebenarnya.
REFERENSI
Al-Gahtani K.S. dan Mohan, S.B. (2007).”Total float management for delay analysis”. Cost Eng., Vol. 49, No.2, 32-37.
Al-Gahtani, K.S. (2009).”Float allocation using the total risk approach”. J. Constr. Eng., Mgmt., Vol. 135, No.2, 88-95.
Arditi, D. dan Pattanakitchamroon, T. (2008).”Analysis methods in time-base claims”. J. Constr. Eng., Mgmt., Vol. 134, No. 4, 242-252.
Baloi, D. and Price, A.D.F. (2003). “Modeling global risk factors affecting construction cost”. Int. J. of Project
Mgmt., Vol. 21, 261-269.
Callahan, M. et al. (1992). Construction project scheduling, 2nd. Ed., McGraw-Hill, New York.
Chang, A.S.T. (2002). “Reasons for cost and schedule increase for engineering design projects”. J. of Mgmt. in
Eng., Vol. 18, No. 1, 29-36.
de la Garza, J.M. et al. (2007). “Preallocation of total float in the application of a critical path method based construction contract”. J. Constr. Eng. Mgmt., Vol. 133, No. 11, 836-845.
Hallock, B.E., dan Mehta, P.M. (2007).”The great debate-TIA vs WINDOWS: a better path for retrospective delay analysis?”. AACE International Transaction, CDR.04.01-CDR.04.25.
Harrison, F.L. (1985). Advanced project management, 2nd. Ed., Gower PublishingCompany Limited, Hants. Hegaz, T. dan Menesi, W. (2008).“Delay analysis under multiple baseline updates“, J. Constr. Eng., Mgmt.. Vol.
134, No. 8, 575-582.
Kim, J. (2006).”Activity Vulnerability index for delay risk forecasting”. Can. J. Civil Eng. Vol. 33, 1261-1270. Livengood, J.C. (2007).”Retrospective TIAs: time to lay them to rest”. AACE International Transaction,
CDR.08.1-CDR.08.9.
Mohan, S.B. dan Al-Gahtani, K.S. (2006). ”Current delay analysis techniques and improvement”. Cost Eng., Vol. 48, No. 9, 12-21.
Nguyen, L.D. dan Ibbs, W. (2008).“FLORA: new forensic schedule analysis technique“. J. Constr. Eng., Mgmt., Vol. 134, No. 7, 483-491.
Scott, S. (1997). ”Delay claims in U.K. contracts”. J. Constr. Eng., Mgmt, Vol. 123, No. 3, 238-244.
Shi, J.J. et al. (2001).”Construction delay computation method”. J. Constr. Eng. Mgmt., Vol. 127, No. 1, 60-65. Tse, R.Y.C. and Love, P.E.D. (2003).”An economic analysis of the effect of delays on project costs”. J. Constr.