• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Maksud dan Ruang Lingkup

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Maksud dan Ruang Lingkup"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A.Maksud dan Ruang Lingkup

Master Plan Badan Usaha Milik Negara Tahun 2005-2009 memuat

berbagai kebijakan Kementerian Negara BUMN dalam melaksanakan upaya reformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang sejalan dengan kebijakan sektoral, yang secara terus menerus disempurnakan untuk menyesuaikan dengan perkembangan lingkungan. Di dalam dokumen ini juga terdapat rumusan visi, misi dan sasaran serta strategi utama pengembangan BUMN ke depan serta pokok-pokok kebijakan sektoral dalam upaya reformasi BUMN.

Master Plan ini menjelaskan kebijakan Kementerian Negara BUMN dalam pembinaan BUMN dan perkembangan program reformasi BUMN yang dilakukan dalam kurun waktu 2005-2009, yang dilakukan untuk memperbaiki kinerja dan kondisi BUMN untuk meningkatkan peranannya dalam perekonomian dengan melepaskan diri dari ketergantungan pada Keuangan Negara. Melalui penerbitan dokumen ini, Kementerian Negara BUMN bermaksud memberikan penjelasan mengenai Kebijakan dan Program Reformasi BUMN kepada publik, pembuat kebijakan, manajemen / karyawan BUMN dan para pelaku ekonomi.

B. BUMN dan Peran Pemerintah

Selama beberapa dasawarsa BUMN telah berperan dalam perekonomian nasional, mendukung dan mendorong gerak pembangunan bangsa Indonesia. Sekedar meninjau ke belakang, tahun 1940-1950-an sektor korporasi masih kecil dan didominasi oleh perusahaan asing atau perusahaan dengan kepemilikan yang sangat terpusat. Peranan dan kekuatan Pemerintah pada waktu itu masih terbatas dan lembaga-lembaga yang dibutuhkan untuk membina sektor korporasi dalam perekonomian modern belum didirikan. Di sisi lain dana investasi swasta yang dibutuhkan belum dapat tersedia.

Pada tahun 1970-an beberapa sektor yang menyangkut hajat hidup orang banyak belum terkelola dengan baik. Pemerintah menyadari bahwa sektor korporasi yang handal dalam membangun perekonomian nasional dibutuhkan untuk menciptakan lapangan kerja, menghasilkan barang dan jasa untuk dalam negeri maupun ekspor, serta memberi layanan yang optimal bagi konsumen. Pemerintah mulai mengembangkan sektor korporasi (BUMN) yang sebagian berasal dari hasil nasionalisasi perusahaan eks Belanda. Sejak saat itu peranan Pemerintah sampai dengan awal 1970-an mendominasi kegiatan ekonomi, sementara sektor swasta belum menunjukkan kemajuan yang berarti.

(2)

Awal tahun 1980-an Pemerintah mulai menyadari bahwa untuk mendorong perekonomian nasional, tidak cukup diisi dengan peran Pemerintah saja. Peranan sektor korporasi swasta (termasuk usaha kecil dan menengah) dan koperasi perlu segera ditingkatkan. Peranan Pemerintah melalui kegiatan usaha BUMN harus segera dikurangi. Kebijakan-kebijakan pembangunan sejak era itu dikembangkan ke arah peningkatan peran sektor korporasi swasta, hal ini terbukti dengan menurunnya dominasi kontribusi BUMN terhadap Produk Domestik Bruto dari 70% di tahun 1970-an menjadi hanya 40% di tahun 2002.

Walaupun BUMN-BUMN telah mencapai tujuan awal sebagai agen pembangunan dan pendorong terciptanya sektor korporasi, namun tujuan tersebut dicapai dengan biaya yang relatif tinggi dan kinerja BUMN dinilai belum cukup memadai. Sebagai contoh, pengembalian atas modal (ROE) tahun 2000 dan 2001 hanya mencapai 5.15% dan 8.2% atau jauh lebih rendah dibandingkan dengan tingkat suku bunga di pasar. Sedangkan tahun 1992 – 1999 ROE rata-rata hanya sebesar 9.9%.

Pemerintah menyadari bahwa pengelolaan BUMN secara umum selama ini masih harus terus diikuti dengan implementasi praktek-praktek Good Corporate Governance (GCG) yang baik. Praktek-praktek kurang terpuji akibat belum adanya standar etika bisnis dan belum sempurnanya transparansi dalam pengelolaan perusahaan, dapat membuat situasi ekonomi semakin memburuk. Oleh karena itu, praktek-praktek bisnis dengan standar etika dan transparansi, independensi, akuntabilitas, responsibilitas dan fairness serta profesionalisme dalam pengelolaan perusahaan perlu terus di dorong agar perkembangan sektor korporasi baik swasta maupun BUMN senantiasa diikuti dengan perangkat praktek-praktek GCG yang memadai. Perhatian terhadap masalah-masalah yang menyebabkan belum optimalnya kinerja BUMN dan dorongan untuk meningkatkan praktek GCG perlu mendapatkan perhatian besar, sehingga upaya reformasi BUMN melalui restrukturisasi (revitalisasi) diikuti dengan profitisasi, kemudian privatisasi, perlu dilaksanakan.

Kebutuhan untuk mereformasi BUMN tidak terlepas dari perubahan iklim usaha yang sedemikian cepat dalam era globalisasi dimana kegiatan perusahaan tidak lagi dibatasi oleh batas-batas antar negara dan adanya saling ketergantungan antar bangsa, pasar dan perusahaan-perusahaan. Fokus pengelolaan BUMN perlu diarahkan pada peningkatan daya saing, pengembangan usaha dan penciptaan peluang-peluang baru melalui manajemen yang dinamis dan profesional untuk dapat memasuki dan berkompetisi dalam era globalisasi, serta keleluasaaan perusahaan dalam upaya mencapai tujuannya.

Dalam upaya mereformasi BUMN, langkah restrukturisasi, profitisasi dan privatisasi merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ketiganya juga merupakan komponen yang lekat dengan konsep reformasi BUMN. Profitisasi diartikan sebagai peningkatan efisiensi perusahaan sehingga mencapai profitabilitas dengan nilai perusahaan yang optimum, sehingga apabila dilakukan privatisasi, perusahaan sudah pada kondisi yang

(3)

optimal pula. Sedangkan restrukturisasi dilakukan dengan maksud menyehatkan BUMN agar dapat beroperasi secara efisien, transparan dan profesional. Restrukturisasi sebagian ataupun menyeluruh terhadap BUMN dibutuhkan untuk peningkatan kinerja dan nilai perusahaan sebelum divestasi dilakukan. Sedangkan pelaksanaan divestasi perlu memperhatikan waktu, situasi dan keadaan pasar yang tepat.

C. Perkembangan Lembaga Yang Menangani Pembinaan BUMN

1. Pada kurun waktu 1973-1993 pembinaan BUMN secara tehnis dilakukan oleh Departemen Tehnis, sedangkan pembinaan keuangan dilakukan oleh Departemen Keuangan (Menteri Keuangan sebagai Pemegang Saham), yang dilaksanakan oleh unit/lembaga setingkat Eselon II sebagai berikut : a. Direktorat Persero dan PKPN

b. Direktorat Persero dan BUN c. Direktorat Pembinaan BUMN

Adapun peraturan perundangan yang terkait meliputi : Undang-undang Nomor 19 tahun 1960 Tentang Perusahaan Negara, Undang-undang Nomor 9 tahun 1969 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 tahun 1969 (Lembaran Negara tahun 1969 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2890) Tentang Bentuk-bentuk Usaha Negara menjadi Undang-undang, Peraturan Pemerintah Nomor 3 tahun 1983 Tentang Tata Cara Pembinaan dan Pengawasan Perusahaan Jawatan (Perjan) Perusahaan Umum (Perum) Perusahaan Perseroan (Persero).

2. Mulai tahun 1993–1998 lembaga yang menangani pembinaan pada Departemen Keuangan berubah menjadi Tingkat Eselon I, yakni Direktorat Jenderal Pembinaan BUMN. Khusus pada tahun 1998, dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 12 tahun 1998 dan Peraturan Pemerintah Nomor 13 tahun 1998 masing-masing Tentang Perusahaan Perseroan (Persero) dan Tentang Perusahaan Umum (Perum), pembinaan tehnis maupun keuangan dilakukan oleh Departemen Keuangan c.q. Direktorat Jenderal Pembinaan BUMN. Sedangkan Departemen Tehnis berperan sebagai regulator. Hal ini pula yang menjadi spirit Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara.

3. Selanjutnya sejak tahun 1998 sampai sekarang lembaga yang menangani pembinaan BUMN adalah Kementerian Negara BUMN, kecuali pada tahun 2001, pembinaan kembali dilakukan oleh lembaga setingkat Eselon I pada Departemen Keuangan, yakni Direktorat Jenderal Pembinaan BUMN.

Dari penjelasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sejak tahun 1973 sampai sekarang lembaga yang menangani pembinaan BUMN adalah suatu lembaga pemerintah dengan struktur “birokrasi” sesuai dengan lembaga pemerintah pada umumnya.

(4)

D. Peraturan-peraturan Yang Terkait Dengan BUMN

1. Peraturan dan Ketentuan Terkait Tentang Nasionalisasi

Perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia

a. Undang-undang Nomor 86 tahun 1958 Tentang Nasionalisasi Perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia;

b. Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1959 Tentang Tugas Kewajiban Panitia Penetapan Ganti Kerugian Perusahaan-Perusahaan Milik Belanda Yang Dikenakan Nasionalisasi dan Cara Mengajukan Permintaan Ganti Kerugian;

c. Undang-undang Nomor 19 tahun 1960 Tentang Perusahaan Negara.

2. Peraturan dan Ketentuan Terkait Dengan Bentuk Usaha Negara

a. Instruksi Presiden Nomor 17 tahun 1967 Tentang Pengarahan dan Penyederhanaan Perusahaan Negara ke dalam Tiga Bentuk Usaha Negara;

b. Undang-undang Nomor 9 tahun 1969 Tentang Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 tahun 1969 (Lembaran Negara tahun 1969 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2890) Tentang Bentuk-bentuk Usaha Negara menjadi Undang-undang;

c. Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 Tentang Badan Usaha Milik Negara.

3. Peraturan dan Ketentuan Terkait Dengan Tingkat Kesehatan BUMN

a. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 740/KMK.00/1989 Tentang Peningkatan Efisiensi dan Produktifitas BUMN;

b. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 826/KMK.013/1992 Tentang Perubahan Penilaian Tingkat Kesehatan BUMN;

c. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 198/KMK.016/1998 Tentang Penilaian Tingkat Kesehatan BUMN;

d. Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan BUMN/Kepala Badan Pembinaan BUMN Nomor 215/M- BUMN/1999 Tentang Penilaian Tingkat Kesehatan/Penilaian Tingkat Kinerja BUMN;

e. Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP-100/MBU/2002 Tentang Penilaian Tingkat Kesehatan BUMN.

4. Peraturan dan Ketentuan Terkait Dengan Rencana Kerja dan Anggaran

Perusahaan (RKAP) & Rencana Jangka Panjang (RJP) BUMN

a. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 196/KMK.016/1998 Tentang RKAP BUMN;

b. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 197/KMK.016/1998 Tentang RJP BUMN;

c. Keputusan Menteri Negara PBUMN Nomor 169/M-PBUMN/1999 Tentang RJP BUMN;

d. Keputusan Menteri Negara PBUMN Nomor 210/M-PBUMN/1999 tentang RKAP BUMN;

(5)

e. Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP-101/MBU/2002 Tentang Penyusunan RKAP BUMN;

f. Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP-102/MBU/2002 Tentang Penyusunan RJP BUMN.

5. Peraturan dan Ketentuan Terkait Dengan Komite Audit BUMN

a. Keputusan Menteri Negara PBUMN Nomor 133/M-PBUMN/1999 tanggal 8 Maret 1999 Tentang Pembentukan Komite Audit bagi BUMN;

b. Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP-103/MBU/2002 Tentang Pembentukan Komite Audit bagi BUMN;

c. Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor PER-05/MBU/2006 Tentang Komite Audit BUMN.

6. Peraturan dan Ketentuan Terkait Dengan Pelepasan Aktiva Tetap

BUMN

a. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 89/KMK.013/1991 Tentang Pedoman Pemindahtanganan Aktiva Tetap Badan Usaha Milik Negara; b. Instruksi Menteri Negara BUMN Nomor 01-MBUMN/2002 Tentang

Pedoman Kebijakan Pelepasan Aktiva Tetap BUMN;

c. Instruksi Menteri BUMN Nomor 02/M.MBU/2002 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pemindahtanganan Aktiva Tetap Berupa Rumah Dinas BUMN.

7. Peraturan dan Ketentuan Terkait Dengan Privatisasi BUMN

a. Keputusan Presiden Nomor 103 tahun 1998 Tentang Tim Evaluasi Privatisasi BUMN;

b. Keputusan Menteri Koordinator Pengawasan Pembangunan/PAN Nomor 41/KEP/MK.WASPAN/9/1998 Tentang Tata Cara Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak Dari Hasil-Hasil Pengelolaan Kekayaan Negara Yang Dipisahkan;

c. Keputusan Presiden Nomor 24 tahun 2001 Tentang Tim Konsultasi Privatisasi BUMN;

d. Keputusan Presiden Nomor 122 tahun 2001 Tentang Tim Kebijakan Privatisasi BUMN jo Keputusan Presiden Nomor 7 tahun 2002 Tentang Tim Kebijakan Privatisasi BUMN;

e. Keputusan Menteri Negara BUMN Nomor KEP-35/M.BUMN/2001 tentang Prosedur Privatisasi BUMN;

f. Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2005 Tentang Tata Cara Privatisasi;

g. Keputusan Presiden Nomor 18 tahun 2006 Tentang Komite Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero).

8. Peraturan dan Ketentuan Terkait Dengan Sinergi BUMN

Instruksi Menteri BUMN Nomor 109/MBU/2002 Tentang Sinergi Antar BUMN.

9. Peraturan dan Ketentuan Terkait Dengan Kemitraan dengan Usaha

(6)

Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP-236/MBU/2003 Tentang Program Kemitraan BUMN Dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan.

10.Peraturan dan Ketentuan Terkait Dengan Restrukturisasi Hutang

Usaha Kecil dan Menengah

Keputusan Menteri BUMN Nomor 576/MBU/2002 Tentang Tindak Lanjut Keputusan Presiden Nomor 56 tahun 2002 Tentang Restrukturisasi Hutang Usaha Kecil dan Menengah.

11.Peraturan dan Ketentuan Terkait Dengan Penilaian Calon Anggota

Direksi BUMN

a. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 146/KMK.05/2001 tanggal 27 Maret 2001 Tentang Penilaian Calon Anggota Direksi BUMN;

b. Keputusan Menteri BUMN Nomor 104/MBU/2002 Tentang Penilaian Calon Direksi BUMN;

c. Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP-09A/MBU/2005 Tentang Penilaian Kelayakan dan Kepatutan (fit and proper test) Calon Anggota Direksi Badan Usaha Milik Negara;

d. Instruksi Presiden Nomor 8 tahun 2005 tanggal 3 Mei 2005 dan Instruksi Presiden Nomor 9 tahun 2005 tanggal 19 Mei 2005.

12.Peraturan dan Ketentuan Terkait Dengan Penenerapan GCG bagi

BUMN

Keputusan Menteri BUMN Nomor 117/M-MBU/2002 tentang Penerapan Praktek GCG Pada BUMN.

Isi pokok-pokok peraturan mengenai bentuk-bentuk BUMN maupun yang mengatur tentang pengelolaan BUMN terdapat pada lampiran.

E. Perkembangan Kinerja BUMN

1. Perkembangan Jumlah BUMN

BUMN di Indonesia pada tahun 2006 berjumlah 139 perusahaan dan beroperasi pada hampir seluruh sektor usaha, khususnya industri hulu. Perkembangan jumlah BUMN dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 1 : Perkembangan Jumlah BUMN di Indonesia

Periode tahun 2002 - 2006 2002 2003 2004 2005 2006 1 Persero Tbk 8 11 12 12 12 2 Persero 124 119 119 114 114 3 Perum 11 13 13 13 13 4 Perjan 15 14 14 0 0 Jumlah 158 157 158 139 139 21

● PT Telkom Tbk ● PT Bank BRI Tbk ● PT Semen Gresik Tbk

● PT Bank Mandiri Tbk ● PT Bank Kimia Farma Tbk ● PT Aneka Tambang Tbk

● PT Bank BNI Tbk ● PT Indofarma Tbk ● PT Timah Tbk

● PT TB Bukit AsamTbk ● PT PGN Tbk ● PT Adhi Karya Tbk BUMN Terbuka

Jumlah BUMN BUMN

No.

Jumlah perusahaan dengan

(7)

Pada tahun 2005 terjadi penurunan jumlah BUMN, hal ini disebabkan karena 13 BUMN Perjan Rumah Sakit, Perjan Radio Republik Indonesia (RRI) dan Perjan Televisi Republik Indonesia (TVRI) berubah status menjadi Badan Layanan Umum (BLU). Hal ini sejalan dengan perubahan paradigma pengelolaan BUMN, yang tidak mengenal lagi perpanjangan tangan pemerintah terhadap sektor usaha melalui BUMN yang berbentuk Perjan. Disamping itu pengurangan jumlah BUMN tersebut juga disebabkan karena adanya merger 4 BUMN Perikanan pada bulan Oktober 2005 dan likuidasi PT Asean Aceh Fertilizer (AAF) pada akhir tahun 2005 (namun likuidasi PT AAF ditunda sesuai dengan permintaan DPR RI).

2. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN

Upaya-upaya untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas dan profitabilitas BUMN yang telah dilakukan oleh Pemerintah sejak tahun 1988, dirasakan masih belum memberikan hasil yang optimal.

Data perkembangan ROA, ROE, Laba, Tingkat kesehatan dan Kontribusi BUMN dapat dilihat pada grafik-grafik dan tabel-tabel sebagai berikut :

a. Return on Asset (ROA).

Return on Asset (ROA) untuk BUMN dikelompokkan menjadi 5 bagian yaitu BUMN Jasa Keuangan, BUMN Non Jasa Keuangan, BUMN Pertamina, BUMN PSO/Subsidi dan BUMN Terbuka. Dimana rata-rata ROA per tahun untuk masing-masing kelompok tersebut adalah 2.45%, 4.82%, 13.92%, (1.32%), dan 4.89%. Gambaran perkembangan ROA tahun 2002-2006 dapat dilihat sebagai berikut:

Grafik 1: Perkembangan ROA

( 5.0 0 ) 0 .0 0 5.0 0 10 .0 0 15.0 0 2 0 .0 0 B UM N J a s a Ke ua nga n 2 .3 9 2.5 1 3 .0 3 1.8 8 2 .2 2 B UM N N o n J a s a Ke ua nga n 3 .5 1 3 .0 0 5 .2 2 7 .5 6 8 .4 5 P ert a m ina 12 .2 6 12 .0 8 17 .4 2 B UM N P S O / S ubs idi ( 2 .0 7 ) ( 2 .15 ) 0.8 1 ( 0 .2 6 ) 0 .17 B UM N T e rbuk a 4 .5 6 4 .5 3 5 .6 6 4 .8 2 4 .5 6 20 0 2 2 0 0 3 2 0 0 4 2 0 0 5 2 0 0 6

Catatan : Data tahun 2006 prognosa

b. Return on Equity (ROE).

Return on Equity (ROe) untuk BUMN juga dikelompokkan menjadi 5 bagian yaitu BUMN Jasa Keuangan, BUMN Non Jasa Keuangan, BUMN Pertamina, BUMN PSO/Subsidi dan BUMN Terbuka. Dimana rata-rata ROE per tahun untuk masing-masing kelompok tersebut adalah 26.42%, 18.66%, 20.51%, (1.03%), dan 36.62%. Gambaran perkembangan ROE tahun 2002-2006 dapat dilihat sebagai berikut:

(8)

Grafik 2: Perkembangan ROE ( 10 .0 0 ) 0 .0 0 10 .0 0 2 0 .0 0 3 0 .0 0 4 0 .0 0 50 .0 0 B UM N J a s a Ke ua nga n 3 3 .52 2 8 .3 6 2 9.4 1 2 0 .0 2 2 0 .8 1 B UM N N o n Ja s a Ke ua ngan 2 2 .98 18 .5 8 2 2 .9 5 13 .7 2 15.0 7 P e rt a mina 17 .8 2 19 .3 7 2 4 .3 3

B UM N P SO/ S ubs idi (3 .0 2 ) (3 .3 7 ) 1.2 9 ( 0.4 2 ) 0 .3 5 B UM N T e rbuk a 4 4 .59 3 6 .3 7 4 0 .0 3 3 4 .7 0 2 7 .4 1

2 0 0 2 2 0 0 3 2 0 0 4 2 0 0 5 2 00 6

Catatan : Data tahun 2006 prognosa

c. Perkembangan Total Aktiva, Ekuitas dan Hutang

Dilihat dari sisi jumlah aset, tampak terjadi pertumbuhan jumlah aset yang cukup signifikan dalam periode tahun 2002 – 2006. Namun pertumbuhan jumlah aset tersebut dirasakan belum proporsional dengan pertumbuhan modal perusahaan yang pertumbuhannya relatif minim. Hal ini disebabkan sebagian besar dibiayai dari dana eksternal/hutang (Grafik 3).

Grafik 3: Perkembangan Total Aktiva, Ekuitas dan Hutang

0 500 1000 1500

2002 2003 2004 2005 2006

Total Aktiva Total Ekuitas Total Hutang

Catatan : Data tahun 2006 prognosa

d. Perkembangan Jumlah Laba

Sama halnya dengan jumlah aset, jumlah laba yang diperoleh BUMN pada periode tahun 2002 - 2006 juga mengalami pertumbuhan yang signifikan, yaitu rata-rata 37.56%/tahun sebagai terlihat pada grafik 4.

Grafik 4: Perkembangan Jumlah Laba

0 10 20 30 40 50 60 2002 2003 2004 2005 2006

(9)

e. BUMN Laba dan BUMN Rugi Tahun 2002 – 2005

Meskipun jumlah BUMN yang memperoleh laba terus mengalami peningkatan, namun demikian masih terdapat BUMN yang masih mengalami kerugian. Setiap tahunnya terdapat rata-rata 25% dari jumlah BUMN yang ada mengalami kerugian, sebagaimana terlihat pada tabel 2.

Tabel 2: BUMN Laba dan BUMN Rugi tahun 2002 – 2006

2002 2003 2004 2005 2006

Audited Audited Audited Audited Prognosa

Jumlah BUMN 158 157 158 139 139 74 73 67 84 90 27 29 28 19 29 Total Laba 25.53 21.37 44.18 42.35 54.42

BUMN Memperoleh Laba 99 97 95 103 114

Total Kerugian (8.85) (8.80) (5.57) (6.48) (2.27)

BUMN Merugi 44 44 28 31 20

Uraian

Jumlah BUMN Penyumbang Dividen

Jumlah BUMN memperoleh Laba tapi masih akumulasi rugi dan laba shg tidak membagi laba

f. Tingkat Kesehatan BUMN

Perkembangan kinerja BUMN juga dapat dilihat dari berkurangnya jumlah BUMN yang tidak sehat, meskipun hal ini lebih banyak disebabkan shareholder action dari pada corporate action misalnya proses merger/regrouping (perbankan, perkebunan, perdagangan), holding (pupuk, semen, BPIS) dan likuidasi (PT Lokananta, PT Kerta Niaga, PT Perhotelan dan Perkantoran Indonesia serta pembubaran holding PT BPIS). Perkembangan jumlah BUMN sehat dan tidak sehat sebagaimana pada grafik 5.

Grafik 5: Tingkat Kesehatan BUMN

102 98 105 83 59 53 56 56 0 50 100 150 200 2002 2003 2004 2005

Sehat/Sehat Sekali Kurang/Tidak sehat

3. Perkembangan Kontribusi BUMN

Kontribusi BUMN terhadap penerimaan negara bersumber dari dividen BUMN, pajak yang disetorkan BUMN dan hasil privatisasi BUMN .

(10)

a. Kontribusi Dividen

Pada periode tahun 2002-2006 terjadi pertumbuhan kontribusi deviden rata-rata 13.34% per tahun. Pertumbuhan tersebut disamping karena perbaikan keuntungan BUMN, juga disebabkan karena kebijakan pemerintah untuk meningkatkan devidend pay out ratio dari rata-rata 20% sebelum krisis moneter 1997, menjadi sekitar 40% setelah krisis moneter, bahkan beberapa BUMN dikenakan lebih dari 50%. Gambaran kontribusi dividen BUMN sebagaimana pada grafik 6.

Grafik 6: Kontribusi Dividen BUMN

b. Kontribusi Pajak

Kontribusi BUMN lainnya yaitu pajak, pada periode tahun 2002-2006 juga mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu rata-rata 35.4% per tahun. Peningkatan kontribusi pajak BUMN antara lain disebabkan karena adanya perbaikan keuntungan BUMN. Gambaran kontribusi pajak sebagaimana pada grafik 7.

Grafik 7: Kontribusi Pajak

c. Kontribusi Privatisasi

Dari 15 BUMN yang telah diprivatisasi dari 1999 sampai 2006 (2005 tidak ada privatisasi) melalui metode IPO (12 BUMN) dan metode lain (3 BUMN), menghasilkan Rp 25.9 Triliun. Adapun gambaran hasil privatisasi 2002-2006 sebagaimana pada grafik 8.

23.4 26.6 39.7 42 45.3 0 10 20 30 40 50 2002 2003 2004 2005 2006 9 . 8 12 . 6 9 . 8 12 . 8 2 1.7 0 5 10 15 2 0 2 5 2 0 0 2 2 0 0 3 2 0 0 4 2 0 0 5 2 0 0 6

(11)

Grafik 8: Kontribusi Privatisasi

Peran 12 BUMN Tbk. dalam Pasar Modal cukup besar, hal ini dapat dilihat dari penguasaan kapitalisasi pasar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang mencapai 36.02% atau senilai Rp 456.5 Triliun dari total 342 Perusahaan Tbk. (data per 5 Januari 2007).

d. Kontribusi Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL)

Berdasarkan Undang-undang Nomor : 19 Tahun 2003 dan Keputusan Menteri Negara BUMN Nomor : Kep-236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003 Tentang Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan, BUMN turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah, koperasi dan masyarakat.

Adapun definisi Program Kemitraan adalah sebagai berikut :

Program Kemitraan BUMN adalah Program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN.

Sumber Dana Program Kemitraan dan Jumlah Unit Usaha Kecil dan Menengah sampai dengan Tahun 2006 (prognosa) adalah sebagai berikut :

Tabel 3 : Program Kemitraan s/d Tahun 2006 (prognosa)

No. Uraian Laba yang

diterima *) (Rp.juta) Penyaluran Pinjaman (Rp.juta) Jumlah UKM (Unit) Hibah UKM (Rp.juta) 1. Akumulasi s/d Tahun 2000 1.595.465 2.048.462 223.219 255.388 2. Tahun 2001 326.052 410.327 34.272 47.161 3. Tahun 2002 294.190 455.553 34.767 49.586 4. Tahun 2003 377.674 579.884 40.392 59.030 5. Tahun 2004 319.472 592.646 39.070 62.522 6. Tahun 2005 455.593 574.407 34.670 62.298 7. Prognosa 2006 427.868 676.027 32.167 68.707 Jumlah 3.796.315 5.337.306 438.558 604.691

*) Laba bersih BUMN sebesar 1% - 3% (Bagi BUMN Yang Laba) 7 .7 9 .9 3 .5 0 2 .1 0 2 4 6 8 10 12 2 0 0 2 2 0 0 3 2 0 0 4 2 0 0 5 2 0 0 6

(12)

Grafik 9 : Komposisi Penyaluran Dana Program Kemitraan

Per Sektor/Jenis Usaha s/d Tahun 2006 (prognosa)

Lainnya 11,00% Perkebunan & Pertanian 7,00% Industri 21.00% Jasa 20,00% Peternakan & Perikanan 5,00% Perdagangan 36,00%

Definisi Program Bina Lingkungan adalah Program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN di wilayah usaha BUMN tersebut melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN.

Dana Program Bina Lingkungan yang telah disalurkan kepada masyarakat sampai dengan tahun 2006 (prognosa), adalah sebagai berikut :

Tabel 4 : Penyaluran Dana Bantuan Program Bina Lingkungan

Dan Jenis/Bantuan s/d Tahun 2006 (prognosa) No. Uraian Penyaluran

Bantuan *) (Rp. Juta) Jenis Bantuan Nilai Rp/Juta % 1. Akumulasi s/d Tahun 2001 4.188 - Korban Bencana Alam 78.587 10.9 2. Tahun 2002 23.776 - Pendidikan &

Pelatihan Masyarakat

237.803 32.9

3. Tahun 2003 46.940 - Sarana Umum 210.750 29,1

4. Tahun 2004 193.078 - Sarana Ibadah 118.196 16,3

5. Tahun 2005 214.292 - Peningk. Kesehatan 69.005 9,5

6. Prognosa 2006 241.469 - Lainnya 9.402 1,3

Jumlah 723.742 723.742 100

*) Laba bersih BUMN sebesar maksimal 1% (Bagi BUMN Yang Laba)

(13)

Grafik 10 : Komposisi Penyaluran Bina Lingkungan Per Jenis/Bantuan s/d Tahun 2006 (prognosa)

Sarana Ibadah 16.3% Lainnya 1,3% Bencana Alam 10,9% Sarana Umum (29,1%) Peningkatan Kesehatan Masyarakat 9,5% Pendidikan & Pelatihan Masyarakarat (32,9%)

4. BUMN dengan Figur Keuangan Terbesar Tahun 2005

Dari 139 jumlah BUMN pada tahun 2005, sebagian besar merupakan perusahaan dengan kinerja dan skala usaha yang relatif kecil. Berdasarkan data per Desember 2005, terdapat 22 BUMN dari 139 BUMN tersebut yang merupakan BUMN dengan figur keuangan terbesar, yaitu yang memenuhi sekurangnya 3 dari 4 figur keuangan di bawah ini :

a. Jumlah Asset b. Jumlah Ekuitas c. Jumlah Penjualan d. Perolehan Laba Bersih

Penentuan ”posisi dominan” 22 besar BUMN tersebut dengan mengurutkan 139 BUMN yang ada berdasarkan ke 4 figur keuangan di atas (asset, ekuitas, penjualan dan laba bersih), sehingga diperoleh 22 BUMN dengan figur keuangan tersebar sebagaimana digambarkan berikut:

Tabel 5 : Daftar Peringkat Figur Keuangan 22 BUMN Terbesar 2005

NO Nama_lengkap

Peringkat Figur Keuangan

Status Lap. Keu.

Jumlah Figur Termasuk 22 Terbesar Aktiva Ekuitas Penjualan

Laba/ Rugi Bersih

1 PT Bank Mandiri, Tbk 1 4 4 11 Audited 4

2 PT Pertamina 3 2 1 1 Unaudited 4

3 PT Bank Negara Indonesia,

Tbk 4 6 7 4 Audited 4

4 PT Bank Rakyat Indonesia,

Tbk 5 5 5 3 Audited 4

5 PT Telekomunikasi Indonesia,

Tbk 6 3 3 2 Audited 4

6 PT Jaminan Sosial Tenaga

Kerja 7 21 13 10 Audited 4

7 PT Bank Tabungan Negara 8 24 17 14 Audited 4

8 PT Pupuk Sriwidjaja 9 7 6 7 Audited 4

9 PT Perusahaan Gas Negara,

Tbk 12 13 12 6 Audited 4

(14)

11 PT Semen Gresik, Tbk 17 11 11 5 Audited 4 12 PT Aneka Tambang, Tbk 18 18 16 8 Audited 4 13 PT Perusahaan Listrik Negara 2 1 2 134 Audited 3

14 PT Taspen 10 28 14 15 Audited 3

15 Perum Bulog 11 8 10 68 Prognosa 3

16 PT Jasa Marga 14 20 29 20 Audited 3

17 PT Bank Ekspor Indonesia 16 14 60 25 Audited 3

18 PT Angkasa Pura I 21 12 44 18 Audited 3

19 PT Pelabuhan Indonesia II 22 16 35 9 Audited 3 20 PT Kereta Api Indonesia 23 17 24 76 Audited 3 21 PT Angkasa Pura II 24 15 33 13 Audited 3 22 PT Tambang Batubara Bukit

Asam, Tbk 28 19 19 12 Audited 3

Secara keseluruhan, data-data dengan 4 figur keuangan dari 22 BUMN terbesar di atas adalah sebagai berikut :

Tabel 6 : Daftar Kinerja Keuangan Pokok 22 BUMN Terbesar Tahun 2005

Rp Juta

No Nama_lengkap Total Aktiva Total Ekuitas Penjualan Laba Bersih 1 PT Bank Mandiri, Tbk 263.383.348,00 23.214.722,00 24.634.199,00 603.369,00 2 PT Pertamina 196.755.265,00 122.656.805,00 315.484.637,00 16.456.842,00 3 PT Bank Negara Indonesia, Tbk (BNI) 147.812.206,00 11.894.914,00 15.204.636,00 1.414.739,00 4 PT Bank Rakyat Indonesia, Tbk (BRI) 122.775.579,00 13.352.982,00 18.519.200,00 3.808.587,00 5 PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (TELKOM) 62.171.044,00 23.292.401,00 41.807.184,00 7.993.566,00 6 PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK) 38.814.398,90 1.880.352,25 5.030.308,44 629.622,84 7 PT Bank Tabungan Negara (BTN) 29.083.149,00 1.480.885,00 3.244.674,00 436.698,00 8 PT Pupuk Sriwidjaja (PUSRI) 19.873.156,42 8.221.801,18 15.688.511,05 848.698,98 9 PT Perusahaan Gas Negara, Tbk (PGN) 12.574.760,56 4.198.300,71 5.433.739,71 862.013,48 10 PT Krakatau Steel (KS) 10.689.077,00 5.211.656,00 11.632.509,00 236.995,00 11 PT Semen Gresik, Tbk 7.296.963,64 4.487.178,40 7.532.208,19 1.022.568,49 12 PT Aneka Tambang, Tbk (ANTAM) 6.402.714,13 3.029.642,90 3.287.268,83 841.935,96 13 PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) 220.842.734,62 139.753.678,84 76.543.324,27 -4.920.594,15 14 PT Taspen 17.381.376,20 1.025.249,31 3.471.471,88 381.761,88 15 Perum Bulog 14.405.067,00 6.673.132,00 10.620.792,00 15.552,00 16 PT Jasa Marga 9.715.807,12 1.967.691,59 1.923.859,75 293.136,95 17 PT Bank Ekspor Indonesia (BEI) 7.535.121,58 3.837.169,00 600.050,00 200.511,00 18 PT Angkasa Pura I (AP I) 4.724.944,38 4.325.394,83 1.214.836,52 334.864,45 19 PT Pelabuhan Indonesia II (PELINDO II) 4.467.058,43 3.329.002,28 1.642.410,28 702.188,84 20 PT Kereta Api Indonesia (KAI) 4.260.568,67 3.094.862,48 2.616.533,84 6.907,97 21 PT Angkasa Pura II (AP II) 3.889.344,53 3.550.770,61 1.710.379,35 441.952,47 22 PT Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk (PTBA) 2.839.690,00 2.052.660,00 2.998.686,00 467.060,00 Jumlah 22 BUMN 1.207.693.374,18 392.531.251,38 570.841.419,12 37.999.571,31 Jumlah Seluruh BUMN 1.308.888.493,50 423.494.367,42 653.307.037,85 42.349.995,94

(15)

a. 10 BUMN Dengan Laba Terbesar Tahun 2005

Dari 22 BUMN dengan figur keuangan terbesar tersebut di atas, di dalamnya terdapat 10 BUMN dengan perolehan laba terbesar (data per Desember 2005) yang mencakup 81.65% dari total laba seluruh BUMN, sebagai berikut:

Tabel 7: 10 BUMN Dengan Laba Terbesar Tahun 2005

b. BUMN Dengan Rugi Terbesar Tahun 2005

Dari 139 BUMN terdapat 31 BUMN yang mengalami kerugian (data per Desember 2005) dengan total kerugian sebesar Rp 6,479.43 milyar. 10 BUMN dengan rugi terbesar tahun 2005 mencakup 96.3% dari total rugi seluruh BUMN. Adapun 10 BUMN dengan rugi terbesar tersebut adalah :

Tabel 8: 10 BUMN Dengan Rugi Terbesar Tahun 2005

Rp. Juta

No BUMN L/R bersih

1 PT Pertamina 16,456,842.00

2 PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (TELKOM) 7,993,566.00 3 PT Bank Rakyat Indonesia, Tbk (BRI) 3,808,587.00 4 PT Bank Negara Indonesia, Tbk (BNI) 1,414,739.00

5 PT Semen Gresik, Tbk 1,022,568.49

6 PT Perusahaan Gas Negara, Tbk (PGN) 862,013.48

7 PT Pupuk Sriwidjaja (PUSRI) 848,698.98

8 PT Aneka Tambang, Tbk (ANTAM) 841,935.96

9 PT Pelabuhan Indonesia II (PELINDO II) 702,188.84 10 PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK) 629,622.84

Jumlah 10 BUMN Laba 34,580,762.60

Jumlah Seluruh BUMN Laba 42,349,995.94

Rp. Juta

No BUMN Rugi_bersih

1 PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (4,920,594.15)

2 PT Garuda Indonesia (GIA) (688,466.44)

3 PT Danareksa (182,339.45)

4 PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) (127,821.52)

5 PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (74,868.98)

6 PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II) (68,325.21)

7 PT Pengerukan Indonesia (RUKINDO) (52,207.30)

8 PT Pos Indonesia (POSINDO) (51,409.40)

9 PT Istaka Karya (39,510.00)

10 PT Inhutani I (31,732.90)

Jumlah 10 BUMN Rugi (6,237,275.35)

(16)

c. BUMN Terbuka Dalam 22 BUMN Terbesar Tahun 2005

Coverage 22 BUMN dengan figur keuangan terbesar tahun 2005 yang didalamnya terdapat 8 BUMN terbuka dibandingkan dengan total seluruh BUMN dapat digambarkan sebagai berikut :

Tabel 9:

Kinerja Keuangan 8 BUMN Tbk dalam 22 BUMN Terbesar

BUMN Terbesar dan Proporsinya Terhadap total (Rp. Triliun) Σ % Σ % 42,3 653,3 423,5 1.308,9 Total 2005 17,0 119,4 85,5 625,3 40.17 18.28 20.19 47.77 8 Tbk 33,1 570,8 392,5 1.207,7 78.11 87.38 92.69 92.27 22 BUMN Laba bersih Penjualan Ekuitas Aset (Rp. triliun)

(17)

BAB II

ARAH KEBIJAKAN MASTER PLAN TAHUN 2005-2009

A. Visi dan Misi Presiden1

Secara umum visi Presiden dalam pembangunan ekonomi adalah sebagai berikut :

1. Pembangunan kesejahteraan rakyat melalui pembangunan ekonomi dengan pertumbuhan tinggi, berkualitas, resisten terhadap goncangan serta terdistribusi secara adil;

2. Pertumbuhan ekonomi ± 6.6% per tahun melalui sekuen pembangunan ekonomi yaitu pemenuhan prakondisi yang meliputi pemenuhan hak dasar, Polkam, Good Governance dan sebagainya, pemberian stimulus fiscal, peningkatan stabilitas makro serta penyehatan dan peningkatan efisiensi perbankan dan pasar modal;

3. Pengurangan pengangguran dan kemiskinan melalui akselerasi pergerakan sektor riil dengan penciptaan lapangan kerja baru yang dipriotaskan pada pembangunan di bidang infrastruktur yaitu pertanian, agroindustri, ekonomi pedesaan dan bidang Infrastruktur penunjang meliputi jalan, pasar jembatan, pelabuhan, energi, listrik, dan air.

Khusus mengenai pengelolaan BUMN, Presiden mempunyai visi2 sebagai berikut :

”BUMN merupakan pelaku bisnis strategis yang harus dikelola secara

profesional, sehingga mempunyai peranan yang penting dalam perekonomian nasional untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat”.

Untuk mencapai visi tersebut, misi yang diemban meliputi : 1. Membangun BUMN yang efisien;

2. Menjadikan BUMN sebagai salah satu sumber kesejahteraan rakyat dan; 3. Memisahkan fungsi BUMN sebagai unit usaha dengan fungsi lainnya.

Strategi dasar untuk pelaksanaan misi tersebut diatas adalah :

1. Mengelompokkan ulang dan mengevaluasi BUMN ke dalam BUMN yang menangani cabang-cabang produksi penting dan menguasai hajat hidup orang banyak, BUMN yang usahanya lebih bersifat komersial dan strategis serta BUMN yang kegiatan usahanya komersial secara umum;

2. Melaksanakan restrukturisasi yang berkelanjutan; 3. Melakukan sinergi BUMN dan aliansi strategis.

B. BUMN dan RPJM

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional tahun 2004 – 2009 ditetapkan sasaran pengelolaan BUMN 5 tahun yaitu meningkatnya kinerja dan daya saing BUMN dalam rangka memperbaiki

1

Raker Kementerian Negara BUMN Agustus 2005, Komisi IV 2 Raker Kementerian Negara BUMN Agustus 2005, Komisi I

(18)

pelayanannya kepada masyarakat dan memberikan sumbangan terhadap keuangan negara.

Adapun arah kebijakan pengelolaan BUMN yang tercakup dalam RPJM dimaksud adalah sebagai berikut :

1. Melakukan koordinasi dengan departemen/instansi terkait untuk penataan kebijakan industrial dan pasar BUMN terkait;

2. Memetakan BUMN yang ada ke dalam kelompok BUMN Public Service Obligation (PSO) dan kelompok BUMN komersial (business oriented); 3. Melanjutkan langkah-langkah restrukturisasi yang semakin terarah dan

efektif terhadap orientasi dan fungsi BUMN tersebut. Langkah restrukturisasi ini dapat meliputi restrukturisasi manajemen, organisasi, operasi dan sistem prosedur dan lain sebagainya;

4. Memantapkan penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG), yaitu transparansi, akuntabilitas, keadilan dan responsibilitas pada pengelolaan BUMN PSO maupun BUMN komersial;

5. Melakukan sinergi antar BUMN agar dapat meningkatkan daya saing dan memberikan multiplier effect kepada perekonomian Indonesia. Resource Based Sectors yang memberikan nilai tambah akan ditumbuh kembangkan.

C. Visi dan Misi Kementerian Negara BUMN3

Sejalan dengan visi dan misi Presiden serta searah dengan kebijakan pengelolaan BUMN pada RPJM, Kementerian Negara BUMN mempunyai visi:

”Menjadikan BUMN sebagai pelaku utama (“champion”) yang kompetitif di industrinya”.

Sedangkan misi Kementerian Negara BUMN adalah:

1. Reformasi BUMN sesuai dengan amanat Konstitusi dan Perundangan-undangan yang berlaku;

2. Memfokuskan restrukurisasi BUMN secara Sektoral & Korporasi (Organisasi, Legal, Operational & Financial);

3. Mencari sinergi antar-BUMN dan memperbaiki Private-Public Partnership untuk meningkatkan nilai;

4. Memaksimalkan nilai perusahaan melalui peningkatan efisiensi & produktivitas BUMN;

5. Peningkatan daya saing BUMN di dalam dan luar negeri berdasarkan capital market protocol.

Dilihat dengan visi dan misi Presiden tentang BUMN maka visi dan misi Kementerian Negara BUMN sejalan dengan visi dan misi Presiden serta searah dengan kebijakan pengelolaan BUMN pada RPJM.

(19)

D. Sasaran Pengembangan BUMN ke Depan

Sasaran umum BUMN di masa depan adalah terciptanya:

1. BUMN yang lebih efisien dan produktif, berdaya saing, nasional maupun regional dibidang-bidang :

a. natural resource based; b. financial based; c. energy based;

d. technology and knowledge based; e. logistics and infrastructure based.

2. BUMN dengan kontribusi yang optimal kepada Negara dan Stakeholders serta;

3. BUMN dengan struktur keuangan yang sehat dan kondisi operasional yang kuat dengan portfolio usaha yang well managed.

Saat ini, kondisi BUMN dirasakan belum optimal. Kegiatan operasional BUMN yang masih terfragmentasi dan budaya usaha yang birokratis menyebabkan BUMN kurang berorientasi pada pasar, kualitas dan kinerja usaha sehingga produktivitas dan utilitas aset juga sangat rendah. Sebagian BUMN masih memiliki sistem pemasaran dan distribusi kurang terkoordinir dengan baik, khususnya untuk produk ekspor yang terfokus pada komoditas atau industri primer. Disamping itu sumber daya alam dan tenaga kerja murah dijadikan sebagai keunggulan komparatif.

Sebagaimana diketahui, karakteristik BUMN yang berdaya saing dan berdaya cipta nilai tinggi dapat tercermin dari hal-hal sebagai berikut:

1. Berorientasi pada penciptaan nilai dengan kinerja finansial dan operasi sebanding dengan perusahaan swasta dunia dan pengembangan core competencies dalam usaha bernilai tambah tinggi;

2. Skala usaha ekonomis dalam ukuran global (baik pendapatan, produksi, pemasaran maupun pendanaan) sehingga usaha akan terfokus dan terintegrasi dalam suatu sektor tertentu;

3. Dipimpin oleh CEO kelas dunia dengan tim manajemen yang profesional, mandiri, dan bebas dari intervensi politik.

Dengan demikian BUMN diarahkan untuk menjadi BUMN yang tidak saja berskala nasional dan regional, namun juga berskala internasional, terfokus, memiliki core competence, well performed dan well managed serta beberapa di antaranya masuk dalam daftar perusahaan terkemuka di dunia.

E. BUMN dan Kebijakan Sektoral

1. Pokok-pokok Kebijakan Sektoral

Seluruh visi & misi serta kebijakan berbagai sektor secara umum diarahkan untuk mendukung hal-hal berikut:

(20)

a. Peningkatan efisiensi, produktivitas, dan nilai tambah serta peningkatan daya serap tenaga kerja;

b. Penerapan Good Governance;

c. Restrukturisasi sektor sesuai tuntutan zaman;

d. Pemenuhan kebutuhan dalam negeri baik untuk ketahanan pangan maupun industri;

e. Pengembangan sektor riil;

f. Peningkatan penerimaan negara, kesejahteraan rakyat dan kualitas pelayanan;

g. Pemerataan dan keseimbangan pembangunan antar daerah dan hasil-hasilnya.

2. Kebijakan Sektor Keuangan4

Pengelolaan sektor keuangan khususnya program stabilisasi ekonomi dan sektor keuangan ditujukan untuk :

a. Mengendalikan laju inflasi dan nilai tukar;

b. Meningkatkan kinerja dan kesehatan, lembaga jasa keuangan;

c. Meningkatkan mekanisme koordinasi kebijakan yang terpadu di bidang perekonomian.

Adapun langkah-langkah yang akan dilaksanakan adalah :

a. Mengaktifkan forum koordinasi kebijakan fiskal dan moneter secara berkala guna mengevaluasi sasaran-sasaran inflasi dan nilai tukar sesuai dengan perkembangan perekonomian;

b. Memperkuat struktur bank dan lembaga jasa keuangan lainnya melalui peningkatan pengawasan terhadap penerapan persyaratan modal minimum;

c. Meningkatkan fungsi pengawasan bank dan lembaga keuangan lainnya;

d. Meningkatkan kualitas pengaturan bank dan jasa perasuransian;

e. Meningkatkan kualitas manajemen dan operasi bank dan lembaga keuangan lainnya.

BUMN yang bergerak bidang keuangan terbagi atas 3 sektor yaitu sektor perbankan, sektor asuransi dan sektor pembiayaan. Rencana Strategis Kementerian Negara BUMN dalam upaya BUMN lebih berperan dalam stabilisasi ekonomi dan sektor keuangan adalah :

a. Untuk Sektor Perbankan, restrukturisasinya diarahkan untuk memenuhi Arsitektur Perbankan Indonesia (API). PT BNI dan PT BTN akan diprivatisasi dalam rangka memperkuat struktur permodalan dan pengembangan usaha. Di samping itu bersamaan dengan upaya-upaya mendorong bank-bank BUMN menjadi bank fokus nasional dan regional serta meningkatkan fungsi intermediasinya, sementara ini kebijakan mempertahankan posisi mayoritas masih akan dijalankan;

4 RPJM BAPPENAS Tahun 2004-2009

(21)

b. Sektor Asuransi, (PT Askes, PT Asabri, PT Jasa Raharja, PT Taspen dan PT Jamsostek) tetap stand alone sedangkan PT RUI, PT ASEI, PT Jasindo, PT Jiwasraya direncanakan didivestasi;

c. Sektor Pembiayaan, Perum Pegadaian, Perum SPU dan PT KBI tetap stand alone. PT Danareksa dan PT PANN MF akan direstrukturisasi dengan kemungkinan divestasi;

d. Diupayakan paling lambat pada tahun 2009, 4 BUMN Asuransi (PT Taspen, PT Jamsostek, PT ASKES, PT ASABRI) akan menjadi Lembaga Penyelenggara Sistem Jaminan Sosial Nasional (Undang - undang No. 40/2004) dan PT Bank Ekspor Indonesia akan menjadi Lembaga Penjaminan Ekspor. 5 BUMN tersebut statusnya menjadi Badan Layanan Umum (BLU).

3. Kebijakan Sektor Industri Nasional5

Struktur Sektor Industri Nasional saat ini hanya didominasi oleh beberapa cabang industri yang tahapan proses industrinya pendek dan memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor sehingga ekspor produk industri dikuasai oleh hanya beberapa cabang industri, pasar domestik terbatas. Kebijakan Sektor Industri tahun 2004-2009 meliputi : a. Tumbuhnya industri yang mampu menciptakan lapangan kerja yang

besar;

b. Selesainya program revitalisasi, konsolidasi dan restrukturisasi industri;

c. Teroptimalkannya pasar dalam negeri dalam rangka pembangunan industri komponen lokal dan industri;

d. Semakin meningkatnya daya saing industri berorientasi ekspor;

e. Tumbuhnya industri-industri potensial yang akan menjadi kekuatan penggerak pertumbuhan industri di masa depan;

f. Tumbuh kembangnya IKM, khususnya industri menengah tiga kali lebih cepat daripada industri kecil.

BUMN merupakan salah satu pelaku ekonomi nasional yang keberadaannya sangat diharapkan mampu menjadi penggerak sektor industri nasional. Oleh karenanya rencana strategi jangka panjang BUMN dapat diselaraskan dengan kerangka dasar strategi pembangunan industri nasional. Strategi pengembangan industri melalui pembentukan klaster industri dimaksudkan untuk tidak hanya membangun prasarana industrinya namun yang lebih utama adalah membangun daya saing sehingga penciptaan nilai perusahaan dapat dilakukan secara optimal.

Keberadaan BUMN di sektor industri meliputi sektor-sektor/ kelompok-kelompok Industri Berbasis Teknologi (eks PT BPIS), Baja dan Konstruksi (eks BPIS), Industri Pertahanan (eks BPIS), Semen, Sandang serta Aneka Industri. BUMN di sebagian besar sektor/kelompok tersebut

5

Dikutip Dari Pokok-pokok Kebijakan Pembangunan Industri Nasional, pada Website Resmi Dep. Perindustrian

(22)

memerlukan restrukturisasi usaha dan permodalan untuk meningkatkan kinerja dan prinsip-prinsip GCG.

BUMN yang terkait dengan industri pengolahan hasil laut yakni BUMN Perikanan telah dilakukan restukturisasi dengan penggabungan yang kedepan pengembangannya membutuhkan dukungan armada, modal kerja dan manajemen yang lebih handal. Restrukturisasi BUMN Perikanan perlu diarahkan untuk tidak hanya terfokus pada industri pendukung namun juga agar mengarah ke industri inti yang memiliki nilai tambah cukup tinggi. Di sektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT), 2 BUMN yang terkait dengan klaster ini yakni PT Industri Sandang dan PT Cambrics Primissima belum dapat melakukan pengembangan desain dan diversifikasi produk dan kurang didukung dengan kinerja keuangan yang baik untuk melakukan investasi. Untuk PT Cambrics Primissima telah diambil kebijakan untuk melepas saham Negara sebesar 52.79% kepada existing shareholder.

Terkait dengan klaster industri petrokimia dimana kebijakan peningkatan produksi amonia dalam rangka memenuhi pasar domestik telah ditentukan, maka upaya BUMN Pupuk saat ini sejalan dengan sasaran pengembangan yang telah ditentukan. Sasaran yang dapat dicapai antara lain pembentukan joint operation antara produsen bahan baku dengan industri petrokimia. Posisi holding BUMN Semen masih tetap dipertahankan dan restrukturisasi BUMN Semen yang dilakukan adalah sejalan dengan pengembangan industri semen nasional dan untuk mempercepat penciptaan nilai perusahaan. Sinergi antara BUMN Semen dengan BUMN Pertambangan juga dapat dipertimbangkan.

Sementara BUMN pendukung sektor perindustrian adalah BUMN yang bergerak di sektor kawasan. Di Sektor Kawasan terdapat 5 BUMN dimana Pemerintah Pusat bekerja sama dengan Pemerintah Propinsi/ Kabupaten di beberapa daerah yaitu PT KIM, KIMA, PT KIW, PT PDI Batam, dan PT KBN. Dari data yang dikutip dari beberapa sumber terdapat lebih dari 100 perusahaan di sektor ini dengan total areal kawasan industri hampir 25 juta Ha, namun yang telah dibangun baru sekitar 6 juta Ha dengan melibatkan ± 625.000 pekerja. Opsi di sektor ini antara lain pelepasan saham Pemerintah Pusat kepada existing shareholder (Pemprov/Pemkot) ataupun pada pihak ketiga, atau pembentukan holding kawasan.

4. Kebijakan Sektor Pertanian6

Sektor Pertanian memiliki visi yaitu: terwujudnya pertanian tangguh untuk kemantapan ketahanan pangan, peningkatan nilai tambah dan daya saing produk pertanian serta peningkatan kesejahteraan petani.

(23)

Sedangkan misi sektor pertanian antara lain sebagai berikut : mewujudkan birokrasi pertanian yang profesional, tangguh, berdaya saing, berwawasan lingkungan serta peningkatan kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional, dan mewujudkan ketahanan pangan melalui peningkatan produksi pertanian dan penganekaragaman konsumsi pangan, memfasilitasi pelaku usaha pertanian serta memperjuangkan kepentingan dan perlindungan petani.

Sasaran pembangunan sektor pertanian meliputi :

a. Mengembangkan usaha penunjang dan pengolahan hasil pertanian, serta organisasi dan kelembagaan pertanian;

b. Meningkatkan produksi pertanian rata-rata (anatara lain tanaman pangan 2%, perkebunan 5%);

c. Meningkatkan pendapatan riil petani 3.5% per tahun dan ekspor produk pertanian dari USD 3.7 Miliar (tahun 2004) menjadi USD 9 Miliar (tahun 2009) serta agro industri rata-rata 5% per tahun;

d. Meningkatkan kemandirian pangan (mengurangi impor bahan pangan rata-rata 10% per tahun).

Disamping penetapan visi, misi, tujuan dan sasaran kebijakan sektor pertanian, juga ditetapkan langkah revitalisasi sektor pertanian yang memiliki sasaran akhir yaitu tingkat pertumbuhan sektor pertanian rata-rata sebesar 3.25% per tahun dalam periode tahun 2004-2009 dan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.

Selanjutnya ditetapkan arah kebijakan untuk sasaran revitalisasi sektor pertanian ini antara lain :

a. Peningkatan kemampuan petani dan penguatan lembaga pendukungnya;

b. Pengamanan ketahanan pangan serta peningkatan produktivitas, produksi, daya saing dan nilai tambah produk pertanian dan perikanan serta;

c. Pemanfaatan hutan untuk diversifikasi usaha dan mendukung produksi pangan dengan tetap mempertahankan kesetaraan gender dan kepentingan pembangunan yang berkelanjutan.

Untuk Sektor Pertanian, BUMN bergerak/beroperasi di beberapa kelompok meliputi Perkebunan, Perikanan, Penunjang Pertanian dan industri yang terkait dengan Agro Industri, seperti Pupuk, Percetakan dan Kertas. Sektor Pupuk telah direstrukturisasi melalui pembentukan holding yang masih akan dipertajam untuk lebih fokus dan sinergis.

Di samping itu Sektor Pupuk juga mengemban PSO melalui produksi pupuk urea. Kemampuan produksi kemudian diversifikasi pupuk yang dilanjutkan dengan penguatan modal merupakan bagian yang penting pada sektor ini, mengingat terdapat beberapa pabrik pupuk yang dalam 2-3 tahun kedepan memerlukan pergantian mesin/pabrik serta membutuhkan dana yang besar.

(24)

Untuk Sektor Perkebunan telah dilakukan kajian independen mengenai opsi restrukturisasi yang akan diterapkan yaitu mengarah pada pembentukan invesment holding. Konsolidasi untuk sektor ini diperlukan dalam rangka penyatuan kegiatan-kegiatan strategis, meliputi investasi, pemasaran dan pengembangan lebih lanjut dengan tanpa meniadakan entitas yang ada sekarang ini (14 PT Perkebunan Nusantara dan PT Rajawali Nusantara Indonesia) yang juga merupakan bagian dari hasil restrukturisasi yang sebelumnya dari sekitar 40 perusahaan.

Untuk Sektor Perikanan telah dilakukan merger/konsolidasi 4 BUMN Perikanan menjadi satu BUMN yaitu PT Perikanan Nusantara sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1998. Pelaksanaan merger/konsolidasi ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja perusahaan serta memberikan konstribusi yang lebih baik bagi Industri Perikanan Nasional. Kedepan, dengan pembenahan manajemen, penguatan armada dan modal kerja BUMN ini akan dimasukkan dalam kriteria stand alone untuk selanjutnya didivestasi setelah mencapai kinerja yang lebih baik.

5. Kebijakan Sektor Kehutanan7

Visi pembangunan sektor kehutanan adalah terwujudnya penyelenggaraan kehutanan untuk menjamin kelestarian hutan dan peningkatan kemakmuran rakyat. Sedangkan misi pembangunan kehutanan adalah:

a. Menjamin keberadaan hutan dengan luasan yang cukup dan sebaran yang proporsional.

b. Mengoptimalkan aneka fungsi hutan dan ekosistem perairan yang meliputi fungsi konservasi, lindung dan produksi kayu, non kayu dan jasa lingkungan untuk mencapai manfaat lingkungan social, budaya dan ekonomi yang seimbang dan lestari

c. Meningkatkan daya dukung Daerah Aliran Sungai (DAS). d. Mendorong peran serta masyarakat.

e. Menjamin distribusi manfaat yang berkeadilan dan berkelanjutan f. Memantapkan koordinasi antara pusat dan daerah.

Kebijakan sektor kehutanan meliputi (1) pemberantasan pencurian kayu di hutan Negara dan perdagangan kayu illegal (2) revitalisasi sektor kehutanan khususnya industri kehutanan (3) rehabilitasi dan konservasi sumber daya hutan (4) pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan sekitar kawasan hutan dan (5) pemantapan kawasan hutan.

Terdapat 5 BUMN yang bergerak disektor kehutanan yaitu PT Inhutani I-IV dan Perum Perhutani. Rencana Strategis Kementerian Negara BUMN adalah melakukan restrukturisasi melalui merger/ konsolidasi PT Inhutani I-IV sedangkan Perum Perhutani adalah stand alone. Tujuannya adalah meningkatkan kinerja BUMN kehutanan, melalui peningkatan efisiensi dan fokus usaha dalam satu pengelolaan sehingga dapat lebih berperan dalam program sektor kehutanan.

(25)

6. Kebijakan Sektor Perhubungan8

Sektor Perhubungan memiliki visi yaitu terciptanya penyelenggaraan pelayanan perhubungan yang handal, berdaya saing dan memberikan nilai tambah. Sedangkan misi yang diemban meliputi antara lain mempertahankan tingkat jasa pelayanan sarana dan prasarana perhubungan, melaksanakan konsolidasi melalui restrukturisasi dan reformasi sarana dan prasarana perhubungan, meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan jasa perhubungan serta kualitas pelayanan.

Adapun arah kebijakan Sektor Perhubungan tahun 2005-2009 adalah :

a. Fungsi penunjang daerah berkembang/maju, sehingga dapat menjadi pendorong daerah terpencil;

b. Mendukung kebijakan otonomi daerah dimana kontribusi terhadap pemberdayaan daerah disesuaikan dengan kewenangannya;

c. Mendukung kelancaran mobilitas, distribusi, terutama pada sektor yang berbasis SDA dan sektor strategis lainnya;

d. Mengembangkan teknologi transportasi ramah lingkungan, hemat energi dan meningkatkan kinerja keselamatan dan pelayanan;

e. Melibatkan swasta dalam pembangunan sarana dan prasarana serta melakukan restrukturisasi segmen usaha sesuai semangat perdagangan bebas;

f. Pemetaan tarif jasa perhubungan dengan mempertimbangkan kepentingan operator, user dan regulator.

Untuk Sektor Perhubungan, BUMN-BUMN yang bergerak di sektor ini meliputi Angkutan Darat, Pelayaran (Angkutan Laut), Penerbangan, Prasarana Angkutan Darat, Pelabuhan dan Kebandarudaraan. Restrukturisasi BUMN-BUMN di sektor ini disamping untuk meningkatkan kinerja perusahaan juga dalam rangka untuk memperbaiki kualitas pelayanan kepada masyarakat terutama terkait dengan tingkat keamanan (safety), sehingga diharapkan tingkat kecelakaan semakin berkurang. Sektor Kebandarudaraan dan pelabuhan diarahkan untuk direstrukturisasi melalui konsolidasi dalam bentuk holding guna meningkatkan nilai tambah perusahaan.

7. Kebijakan Sektor Pekerjaan Umum9

Pada Sektor Pekerjaan Umum telah ditetapkan visi : tersedianya infrastruktur pekerjaan umum yang handal, bermanfaat dan berkelanjutan untuk mendukung terwujudnya Indonesia yang aman dan damai, adil dan demokratis, serta lebih sejahtera. Visi tersebut dilengkapi dengan misi

8

Dikutip dari Pokok-pokok Kebijakan Sektor Perhubungan melalui Website Resmi Departemen Perhubungan

9

Dikutip dari Pokok-pokok Kebijakan Sektor Pekerjaan Umum melalui Website Resmi Departemen PU

(26)

antara lain : menata ruang nusantara, memenuhi kebutuhan infrastruktur PU, mengembangkan infrastruktur PU serta teknologi ke-PU-an.

Tujuan kebijakan sektor pekerjaan umum antara lain memberikan akses sektor ke seluruh pelosok tanah air dan menangani tanggap darurat untuk memberikan pelayanan minimal kepada masyarakat. Selain itu kebijakan tersebut bertujuan membina penyelenggaraan infrastruktur secara transparan dan terbuka serta menyelenggarakan infrastruktur yang efisien, efektif dan produktif.

Kebijakan pembangunan sektor pekerjaan umum meliputi:

a. Pembangunan infrastruktur berbasis penataan ruang di kawasan perbatasan, daerah terisolir, daerah konflik, dan daerah bencana; b. Pembinaan penyelenggaraan infrastruktur untuk mendukung Otda dan

Good Governance;

c. Pembangunan infrastruktur berbasis penataan ruang untuk mendukung pusat-pusat produksi dan ketahanan pangan, keseimbangan pembangunan antar daerah dan kualitas lingkungan perumahan.

BUMN yang terlibat dalam sektor pekerjaan umum terbagi atas :

a. Sektor konstruksi (PT Pembangunan Perumahan, PT Adhi Karya, PT Wijaya Karya, PT Waskita Karya, PT Amarta Karya, PT Istaka Karya, PT Hutama Karya, PT Nindya Karya dan Brantas Abipraya); b. Sektor konsultan (PT Indra Karya, PT Indah Karya, PT Virama Karya,

PT Yodya Karya, PT Bina Karya, PT Sarana Karya).

Langkah-langkah strategis yang akan dilakukan Kementerian Negara BUMN yaitu konsolidasi BUMN per sektor sehingga peran BUMN dalam sektor pekerjaan umum dapat lebih ditingkatkan. Hasil kajian konsultan mengenai konsolidasi sektor konstruksi serta penataan sektor konsultan telah diselesaikan dimana secara umum 9 BUMN Konstruksi akan dikonsolidasikan menjadi 4 – 5 perusahaan. Untuk BUMN Konsultan akan diupayakan penyatuan dengan BUMN Konstruksi disamping opsi-opsi lain.

Upaya-upaya konsolidasi yang dilakukan didasari pula oleh kenyataan bahwa sektor konstruksi demikian sangat kompetitif yang berdasarkan data PEPINDO Tahun 2002 terdapat 90.000 perusahaan jasa konstruksi dengan 220-an perusahaan yang setaraf dengan BUMN Konstruksi.

8. Kebijakan Sektor Perumahan10

Sektor perumahan memiliki visi yaitu setiap keluarga Indonesia menghuni rumah yang layak, sedangkan sektor perumahan memiliki misi : a. Meningkatkan Iklim yang Kondusif dalam Pembangunan Perumahan

dan Permukiman; 10

Dikutip Dari Pokok-pokok Kebijakan Sektor Perumahan, pada Website Resmi Kementerian Negara Perumahan Rakyat

(27)

b. Meningkatkan Pemberdayaan Masyarakat, Kelembagaan dan Para Pelaku Pembangunan Perumahan dan Permukiman;

c. Meningkatkan Pendayagunaan Sumberdaya Perumahan dan Permukiman ;

d. Meningkatkan Pemenuhan Kebutuhan Rumah yang Layak Huni serta Meningkatkan Kualitas Lingkungan Perumahan dan Permukiman.

Kebijakan strategis Kementerian BUMN dalam meningkatkan peran BUMN yang bergerak pada sektor perumahan (Perum Perumnas) adalah dengan mendorong program pembangunan perumahan rakyat ± sejuta rumah dengan bekerja sama dengan pihak perbankan agar ikut serta dalam program tersebut. Perum Perumnas akan dipertahankan (stand alone) untuk fokus dan lebih berperan dalam program pembangunan perumahan. Dalam kaitan ini PT BTN juga akan terus didorong untuk fokus dan meningkatkan peranannya dalam menunjang program pembangunan perumahan tersebut.

9. Kebijakan Sektor Kebudayaan dan Pariwisata11

Sektor kebudayaan dan pariwisata mempunyai visi yaitu terwujudnya jatidiri bangsa, persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka multikultural, kesejahteraan rakyat dan persahabatan antara bangsa sedangkan misinya adalah (1) melakukan pelestarian dan pengembangan kebudayaan yang berlandaskan nilai luhur; (2) mendukung pengembangan destinasi dan pemasaran pariwisata yang berdaya saing global; (3) melakukan pengembangan sumber daya dan kebudayaan dan pariwisata; (4) menciptakan tata pemerintahan yang bersih, dan akuntabel.

Adapun sasaran sektor kebudayaan dan pariwisata antara lain: (1) terwujudnya pedoman, norma, kriteria, standar dan prosedur untuk mendukung pembangunan kebudayaan dan kepariwisataan; (2) meningkatnya kegiatan perintisan, bimbingan dan supervisi pembangunan kebudayaan dan kepariwisataan; (3) meningkatnya pemberian peluang kemudahan dan bantuan dalam mendorong pembangunan kebudayaan dan kepariwisataan; (4) meningkatnya kerjasama dalam dan luar negeri dibidang kebudayaan dan kepariwisataan; (5) meningkatnya kualitas, kuantitas dan manfaat penelitian dan pengembangan, sistem informasi serta dukungan ketersediaan sumber daya manusia, dan; (6) meningkatnya pengawasan, pengendalian, koordinasi dan kerjasama lintas sektor, wilayah dan lembaga.

BUMN yang bergerak dalam sektor ini adalah PT TWC Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko dan BUMN pendukung pariwisata yaitu PT Bali Tourism & DC dan PT Hotel Indonesia Natour. Rencana Kementerian Negara BUMN dalam upaya meningkatkan peran dan kontribusi pada sektor ini adalah restrukturisasi melalui merger/konsolidasi PT Hotel Indonesia Natour dan PT Bali Tourism &

11

Dikutip Dari Pokok-pokok Kebijakan Sektor Kebudayaan dan Pariwisata, pada Website Resmi Kementerian Negara Kebudayaan dan Pariwisata

(28)

DC sedangkan PT TWC Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko stand alone. Pengembangan BUMN-BUMN tersebut dapat dikaitkan dan diselaraskan dengan upaya-upaya pengembangan pariwisata nasional.

10.Kebijakan Sektor Perdagangan12

Sektor perdagangan memiliki visi yaitu: ”Terwujudnya sektor perdagangan sebagai penggerak utama peningkatan daya saing bangsa dan kesejahteraan rakyat Indonesia”. Sedangkan misi sektor perdangan antara lain sebagai berikut :

a. Meningkatkan kelancaran distribusi, penggunaan produk dalam negeri, perlindungan konsumen dan pengamanan perdagangan;

b. Memaksimumkan keuntungan daya saing bangsa Indonesia dari perdagangan global;

c. Mewujudkan pelayanan publik yang prima dan good governance; d. Meningkatkan peran penelitian dan pengembangan, dan proses

konsultasi publik dalam pengambilan keputusan di sektor perdagangan.

Sedangkan sasaran sektor perdagangan yang ingin dicapai meliputi antara lain :

a. Meningkatnya pelayanan prima kepada dunia usaha melalui penyederhanaan prosedur, transparansi kebijakan dan penerapan teknologi informasi serta meningkatnya peran lembaga, sarana dan instrumen perdagangan;

b. Meningkatnya daya saing berkelanjutan di pasar global melalui akses dan penetrasi pasar, kemitraan strategi global yang melibatkan perusahaan-perusahaan nasional dan penciptaan merek dagang yang dapat menerobos pasar global;

c. Terwujudnya sistem distribusi nasional yang efektif dan efisien melalui pembangunan sarana dan prasarana perdagangan;

d. Terwujudnya keamanan pasar dalam negeri yang menyangkut keselamatan, kesehatan, keamanan dan lingkungan serta kepentingan industri dalam negeri, meningkatnya tertib ukur dan terwujudnya pemberdayaan konsumen serta pemberdayaan produksi dalam negeri.

BUMN di sektor perdagangan meliputi PT PPI, PT Berdikari dan PT Sarinah. Kinerja ketiga BUMN tersebut dirasakan kurang optimal sehingga kedepannya akan dilakukan privatisasi/divestasi setelah kinerja ketiga BUMN tersebut membaik. Sementara BUMN pendukung sektor perdagangan adalah BUMN yang bergerak pada sektor pegudangan seperti PT BGR, PT Varuna Tirta Prakarsa.

Di samping tingkat kompetisi di sektor perdagangan dan masalah internal yang dihadapi BUMN Perdagangan, sebenarnya BUMN Perdagangan memiliki beberapa kelebihan berupa jaringan dan gerai pemasaran yang cukup luas, klien yang cukup banyak dan SDM yang

12

Dikutip Dari Pokok-pokok Kebijakan Sektor Perdagangan, pada Website Resmi Departemen Perdagangan.

(29)

cukup terlatih. Namun demikian restrukturisasi bisnis, organisasi dan keuangan serta pendayagunaan aset dan cabang-cabang merupakan suatu yang harus dilakukan untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Restrukturisasi bisnis yang tidak hanya berfokus pada komoditas produk konsumen ataupun perdagangan retail tetapi juga pada usaha logistik dalam arti luas akan melibatkan BUMN Sektor Kawasan.

11.Kebijakan Sektor Kesehatan13

Arah kebijakan pembangunan sektor kesehatan adalah peningkatan pemerataan pembangunan kesehatan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam era globalisasi.

BUMN yang bergerak dalam mendukung sektor kesehatan adalah PT Kimia Farma, PT Indofarma dan PT Bio Farma. Dalam hal ini rencana strategis Kementerian BUMN adalah merger/konsolidasi sektor farmasi (PT Kimia Farma dan PT Indo Farma) guna mendukung kebijakan sektor kesehatan dan bisa lebih berkompetisi di pasar global. Sedangkan PT Bio Farma diarahkan ke stand alone karena mengemban misi untuk memproduksi vaksin untuk masyarakat.

PT Kimia Farma dan PT Indo Farma telah merupakan public company. Disamping 2 BUMN di bidang usaha farmasi ini, terdapat pula anak perusahaan BUMN PT Rajawali Nusantara Indonesia, yaitu PT Phapros, yang juga bergerak di bidang yang sama. Konsolidasi sektor farmasi ini diharapkan dapat lebih cepat mendorong pengembangan dan kinerja perusahaan BUMN Farmasi maupun kinerja sahamnya di pasar modal. Konsolidasi BUMN Farmasi ini akan dilakukan dengan tidak mengenyampingkan kegiatan-kegiatan produksi obat generik untuk masyarakat yang selama ini justru menjadi kegiatan unggulan perusahaan. Konsolidasi sebaliknya justru akan lebih memperkuat sinergi di bidang produksi maupun distribusi.

12.Kebijakan Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral14

Pada sektor Energi dan Sumber Daya Mineral ditetapkan visi yaitu terciptanya sektor energi dan sumber daya mineral yang menghasilkan nilai tambah sebagai salah satu sumber kemakmuran rakyat melalui pembangunan berkelanjutan dan ramah lingkungan, adil, transaparan, bertanggung jawab, efisien, serta sesuai standar etika yang tinggi.

Sedangkan misinya adalah antara lain : meningkatkan kontribusi minyak, gas, batubara dan mineral bagi penerimaan negara, meningkatkan penyediaan tenaga listrik dalam jumlah yang cukup, mutu yang baik, harga

13

Dikutip Dari Pokok-pokok Kebijakan Sektor Kesehatan, pada Website Resmi Departemen Kesehatan

(30)

terjangkau dan ramah lingkungan, menjaga ketersediaan energi nasional secara berkesinambungan, memelihara dan menjamin tersedianya pasokan energi dan tenaga listrik serta meningkatkan kesadaran nasional untuk melakukan konservasi, optimalisasi dan diversifikasi mineral dan energi serta meningkatkan kinerja, efisiensi, dan produktivitas PT Pertamina dan PT PLN melalui langkah-langkah restrukturisasi.

Terdapat 5 (lima) pilar kebijakan sektor Energi dan Sumber Daya Mineral yaitu :

a. meningkatkan kinerja Departemen ESDM untuk menyelenggarakan Good Governance dan Clean Governance;

b. mendukung upaya pemulihan ekonomi dengan memaksimalkan penerimaan negara;

c. mengembangkan kebijakan dan restrukturisasi sektor untuk pengembangan dan efisiensi usaha energi dan sumber daya mineral; d. mendayagunakan dan meningkatkan pemanfaatan potensi sumber

energi dan sumber daya mineral secara berkelanjutan, dan; e. mendorong perwujudan otonomi daerah.

Dalam upaya meningkatkan peran BUMN sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (PT Pertamina, PT PLN, PT Antam, PT Timah, dan PT BA), Kedepan Kementerian Negara BUMN menerapkan strategi Integrated Resources Company untuk BUMN di Sektor Pertambangan (PT Antam, PT Timah & PT BA). Sementara PT Pertamina yang masih melakukan PSO akan terus dilakukan restrukturisasi dengan status sementara ini stand alone.

Khusus untuk PT PLN saat ini sedang dilakukan restrukturisasi penggunaan energi dengan peralihan ke energi batu bara sehingga kedepan PT PLN dapat lebih efisien. Pada saat ini penggunaan energi untuk pembangkit listrik PLN kurang efisien, sehingga untuk masa yang akan datang diupayakan penggantian sebagian sumber energi tersebut. Disamping itu PT PLN juga diarahkan untuk berkiprah dalam pembangunan energi listrik 10,000 MW.

Disadari bahwa Sektor Pertambangan merupakan industri yang sangat capital intensive dan technology driven. Disisi lain pertumbuhan industri ini dalam skala global ditandai dengan konsolidasi unorganic yang cenderung terdiversifikasi dalam berbagai komoditas, disamping pertumbuhan organic yang menjadi value driver. Saat ini sektor pertambangan yang kaya akan potensi dan cadangan masih berfokus komuditas homogen dan pada skala yang masih harus ditingkatkan. Keuntungan dari konsolidasi BUMN Pertambangan antara lain ukuran yang lebih besar dan portofolio yang terdiversifikasi yang akan memberikan platform yang kuat untuk pertumbuhan serta pengamanan terhadap risiko bisnis tiap komoditas.

Gambar

Grafik 1:  Perkembangan ROA
Grafik 2:  Perkembangan ROE   ( 10 .0 0 )0 .0 010 .0 02 0 .0 03 0 .0 04 0 .0 050 .0 0 B UM N  J a s a  Ke ua nga n 3 3 .52   2 8 .3 6   2 9.4 1  2 0 .0 2   2 0 .8 1  B UM N  N o n Ja s a  Ke ua ngan 2 2 .98   18 .5 8   2 2 .9 5   13 .7 2  15.0 7   P e rt a
Grafik 6:  Kontribusi Dividen BUMN
Tabel 3 :   Program Kemitraan s/d Tahun 2006 (prognosa)  No.  Uraian  Laba yang
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pelabuhan Indonesia III (Persero) dikaitkan dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara, sudah sesuai atau belum sesuai dengan

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha.

Pengertian Perusahaan Negara atau yang sekarang dikenal dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dapat dilihat dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003, yang

Dewan Komisaris bertugas melakukan pengawasan terhadap kebijakan pengurusan, jalannya pengurusan pada umumnya baik mengenai Perseroan maupun usaha Perseroan yang dilakukan

Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang

Dalam Republik Indonesia, Undang- Undang Nomor 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara, Bab I, Pasal 1 angka 11b. restrukturisasi sektoral yang pelaksanaannya disesuaikan

Penulisan Skripsi yang berjudul “Pelayanan Umum yang Dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Persero dalam Melaksanakan Maksud dan Tujuannya ditinjau dari Undang-Undang

1. Apabila dalam Anggaran Dasar ini tidak ditentukan lain, maka Rapat Umum Pemegang Saham dipimpin oleh Komisaris Utama, dalam hal Komisaris Utama tidak ada atau