• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Praktik Lapangan PT KML

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan Praktik Lapangan PT KML"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIK LAPANGAN LAPORAN PRAKTIK LAPANGAN

EVALUASI KINERJA PEMASOK BAHAN BAKU UDANG

EVALUASI KINERJA PEMASOK BAHAN BAKU UDANG

VANNAMEI (

VANNAMEI (

L

Liitop

topenae

enaeus vanname

us vannamei i 

) DENGAN METODE

) DENGAN METODE

 A

 ANA

NA L

LY

YTI

TI C

CA

AL H

L HII E

E R

RA

AR

RC

CH

HY PR

Y PR OCE

OCE SS

SS

(AHP)

(AHP)

DI PT. KELOLA MINA LAUT, GRESIK

DI PT. KELOLA MINA LAUT, GRESIK

Oleh : Oleh :

AUDY FATHIA INDRAMULYA

AUDY FATHIA INDRAMULYA

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR BOGOR

2016 2016

(2)

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR INSTITUT PERTANIAN BOGOR

LEMBAR PENGESAHAN LEMBAR PENGESAHAN

Draf Laporan Praktik Lapangan Draf Laporan Praktik Lapangan Judul

Judul Laporan Laporan : : Evaluasi Evaluasi Kinerja Kinerja Pemasok Pemasok Bahan Bahan Baku Baku UdangUdang Vannamei (

Vannamei ( Litopenaeus vannamei Litopenaeus vannamei) dengan Metode) dengan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) di PT. Kelola Mina Analytical Hierarchy Process (AHP) di PT. Kelola Mina Laut, Gresik

Laut, Gresik  Nama

 Nama : Audy Fathia Indramulya: Audy Fathia Indramulya  NIM

 NIM : F34130080: F34130080

Pembimbing

Pembimbing Lapangan Lapangan : : Dwi Dwi Putra Putra AryantoAryanto

Disetujui oleh Disetujui oleh

Pembimbing Lapangan Pembimbing Lapangan

Dwi Putra Aryanto Dwi Putra Aryanto

Tanggal Pengesahan : 27 Agustus 2016 Tanggal Pengesahan : 27 Agustus 2016

(3)

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR INSTITUT PERTANIAN BOGOR

LEMBAR PENGESAHAN LEMBAR PENGESAHAN

Draf Laporan Praktik Lapangan Draf Laporan Praktik Lapangan Judul

Judul Laporan Laporan : : Evaluasi Evaluasi Kinerja Kinerja Pemasok Pemasok Bahan Bahan Baku Baku UdangUdang Vannamei (

Vannamei ( Litopenaeus vannamei Litopenaeus vannamei) dengan Metode) dengan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) di PT. Kelola Mina Analytical Hierarchy Process (AHP) di PT. Kelola Mina Laut, Gresik

Laut, Gresik  Nama

 Nama : Audy Fathia Indramulya: Audy Fathia Indramulya  NIM

 NIM : F34130080: F34130080

Pembimbing

Pembimbing Lapangan Lapangan : : Dwi Dwi Putra Putra AryantoAryanto

Disetujui oleh Disetujui oleh

Pembimbing Lapangan Pembimbing Lapangan

Dwi Putra Aryanto Dwi Putra Aryanto

Tanggal Pengesahan : 27 Agustus 2016 Tanggal Pengesahan : 27 Agustus 2016

(4)

Judul

Judul Laporan Laporan : : Evaluasi Evaluasi Kinerja Kinerja Pemasok Pemasok Bahan Bahan Baku Baku Udang Udang VannameiVannamei (( Litopenaeus vannamei Litopenaeus vannamei) Dengan Metode Analytical Hierarchy) Dengan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) di PT. Kelola Mina Laut, Gresik

Process (AHP) di PT. Kelola Mina Laut, Gresik  Nama

 Nama : Audy Fathia Indramulya: Audy Fathia Indramulya  NIM

 NIM : F34130080: F34130080

Pembimbing

Pembimbing Lapang Lapang : : Dwi Dwi Putra Putra AryantoAryanto

Disetujui oleh Disetujui oleh

P

Pe

em

mb

biim

mb

biing

ng A

Akad

kade

em

miikk

Pro

Prof. Dr

f. Dr . I

. I r. M

r. M a

ari

rim

min, M.Sc

in, M.Sc..

NIP. 19610951986091001 NIP. 19610951986091001

Tanggal Ujian: Tanggal Ujian:

(5)

KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan kuasa-Nya penulis Puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan kuasa-Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktik Lapangan berjudul

dapat menyelesaikan Laporan Praktik Lapangan berjudul ““Evaluasi Kinerja PemasokEvaluasi Kinerja Pemasok Bahan

Bahan Baku Baku Udang Udang Vannamei Vannamei (( Litopenaeus  Litopenaeus vannameivannamei) dengan Metode Analytical) dengan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) di PT. Kelola Mina Laut, Gresik 

Hierarchy Process (AHP) di PT. Kelola Mina Laut, Gresik ”. Dalam”. Dalam  kesempatan ini  kesempatan ini  penulis

 penulis menyampaikan menyampaikan ucapan ucapan terima terima kasih kasih atas atas bimbingan, bimbingan, bantuan, bantuan, dan dan dukungandukungan dalam pelaksanaan hingga penulisan laporan Praktik Lapangan ini kepada:

dalam pelaksanaan hingga penulisan laporan Praktik Lapangan ini kepada: 1.

1. Prof. Dr. Ir. Marimin, M.Sc., selaku dosen pembimbing akademik atas arahanProf. Dr. Ir. Marimin, M.Sc., selaku dosen pembimbing akademik atas arahan dan bimbingannya.

dan bimbingannya. 2.

2. Dr. Ir. I Wayan Astika, M.Si., selaku koordinator Panitia Praktik LapanganDr. Ir. I Wayan Astika, M.Si., selaku koordinator Panitia Praktik Lapangan  beserta

 beserta Panitia Panitia Praktik Praktik Lapangan Lapangan Fakultas Fakultas Teknologi Teknologi Pertanian Pertanian dan dan juga juga stafstaf  pengajar

 pengajar Departemen Departemen Teknologi Teknologi Industri Industri Pertanian, Pertanian, Fakultas Fakultas TeknologiTeknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Pertanian, Institut Pertanian Bogor. 3.

3. Bapak Dwi Putra Aryanto selakuBapak Dwi Putra Aryanto selaku Plant  Plant Manager Manager  unit udang dan Pembimbing unit udang dan Pembimbing Lapang atas kesempatan dan bimbingan selama kegiatan Praktik Lapangan. Lapang atas kesempatan dan bimbingan selama kegiatan Praktik Lapangan. 4.

4. Ibu Ziyadatul Ilmiyah selakuIbu Ziyadatul Ilmiyah selaku Quality Control ManagerQuality Control Manager unit udang atasunit udang atas  bimbingannya selama kegiatan Praktik Lapangan.

 bimbingannya selama kegiatan Praktik Lapangan. 5.

5. Seluruh karyawan PT. Kelola Mina Seluruh karyawan PT. Kelola Mina Laut yang tidak dapat penulis sebutkan satuLaut yang tidak dapat penulis sebutkan satu  persatu

 persatu atas atas kerjasama kerjasama dan dan bantuan bantuan yang yang diberikan diberikan selama selama penulispenulis melaksanakan Praktik Lapangan.

melaksanakan Praktik Lapangan.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan Laporan Praktik Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan Laporan Praktik Lapangan ini, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi Lapangan ini, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi  perbaikan

 perbaikan dan dan penyempurnaanya. penyempurnaanya. Semoga Semoga Laporan Laporan Praktik Praktik Lapangan Lapangan ini ini dapatdapat memberikan manfaat dan ilmu pengetahuan bagi siapapun yang membacanya.

memberikan manfaat dan ilmu pengetahuan bagi siapapun yang membacanya. Bogor, Agustus 2016 Bogor, Agustus 2016

Penyusun, Penyusun,

Audy Fathia Indramulya Audy Fathia Indramulya

 NIM. F34130080  NIM. F34130080

(6)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...

KATA PENGANTAR ... ... 11 DAFTAR

DAFTAR ISI ISI ... ... ... 22 DAFTAR

DAFTAR TABEL TABEL ... ... ... 33 DAFTAR GAMBAR ...

DAFTAR GAMBAR ... ... ... 44 DAFTAR

DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN ... 5... 5 PENDAHULUAN ...

PENDAHULUAN ... ... ... 66 Latar Belakang ...

Latar Belakang ... ... 66 Tujuan Praktik Lapangan ...

Tujuan Praktik Lapangan ... ... 66 Tempat

Tempat dan dan Waktu Waktu Pelaksanaan Pelaksanaan ... ... ... 77 METODE PELAKSANAAN ...

METODE PELAKSANAAN ... ... 88 KEADAAN UMUM

KEADAAN UMUM LOKASI PRAKTIK LOKASI PRAKTIK LAPANGAN LAPANGAN ... ... 1010 Sejarah

Sejarah Perusahaan Perusahaan ... 10... 10 Visi dan

Visi dan Misi Perusahaan ...Misi Perusahaan ... ... ... 1111 Lokasi dan

Lokasi dan Tata Letak Tata Letak Pabrik Pabrik ... ... ... 1111 Luas Area, Sarana,

Luas Area, Sarana, dan Prasarana dan Prasarana Perusahaan Perusahaan ... ... ... 1212 Struktur Organisasi dan

Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan ... Ketenagakerjaan ... 1212 Produk dan Pemasaran ...

Produk dan Pemasaran ... ... 1717 RANTAI PASOK ...

RANTAI PASOK ... ... 1919 Mekanisme Rantai Pasok

Mekanisme Rantai Pasok ... ... 1919 Entitas Rantai

Entitas Rantai Pasok Pasok ... ... 2323 Kemitraan ...

Kemitraan ... ... 25... 25 Pengadaan Bah

Pengadaan Bahan Baku ...an Baku ... ... ... 2626 Penerimaan Bahan Baku

Penerimaan Bahan Baku ... ... 2727 Penyimpanan dan Penanganan

Penyimpanan dan Penanganan Bahan Baku...Bahan Baku... ... ... 2828 ASPEK

ASPEK PRODUKSI ...PRODUKSI ... ... ... 3030 Perencanaan

Perencanaan Produksi Produksi ... ... 30... 30 Proses Produksi

Proses Produksi dan dan Pengemasan Pengemasan ... ... ... 3030 Pengolahan

(7)

PEMBAHASAN ... ... 34

Manajemen Rantai Pasok ... ... 34

Evaluasi Kinerja Pemasok ... ... 34

Analisis Sensitivitas ... ... 42

Permasalahan Pemenuhan Pasokan ... ... 44

Analisis Risiko ... ... 45 Implikasi Manajerial ... 46 PENUTUP 48 Simpulan ... ... 48 Saran ... ... 48 DAFTAR PUSTAKA ... ... 49 LAMPIRAN ... ... 51

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Jenis pabrik pengolahan di PT. Kelola Mina Laut ... 10

Tabel 2 Deskripsi pekerjaan dari struktur organisasi PT. Kelola Mina Laut. ... 13

Tabel 3 Jumlah tenaga kerja di PT. Kelola Mina Laut ... 14

Tabel 4 Jadwal jam istirahat karyawan PT Kelola Mina Laut ... 15

Tabel 5 Pembagian jenis petambak udang ... 20

Tabel 6 Anggota rantai pasokan komoditi dan produk olahan udang ... 22

Tabel 7 Produk-produk hasil olahan udang PT. Kelola Mina Laut ... 23

Tabel 8 Produk olahan hasil samping udang ... 24

Tabel 9 Kandidat best supplier  ... 36

Tabel 10 Perbandingan berpasangan antar kriteria ... 37

Tabel 11 Perbandingan berpasangan antar subkriteria dalam kriteria pengiriman ... 38

Tabel 12 Perbandingan berpasangan antar sub kriteria dalam kriteria kualitas ... 38

Tabel 13 Perbandingan berpasangan antar sub kriteria dalam kriteria biaya ... 39

(8)

Tabel 15 Bobot prioritas lokal dan global untuk setiap subkriteria ... 40

Tabel 16 Urutan peringkat kepentingan sub kriteria ... 41

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Logo PT. Kelola Mina Laut. ... 11

Gambar 2 APAR, cara penggunaan APAR, dan peta jalur evakuasi ... 16

Gambar 3 Logo produk-produk PT. Kelola Mina Laut. ... 17

Gambar 4 Logo beberapa sertifikat jaminan mutu yang didapatkan PT. KML ... 17

Gambar 5 Model rantai pasok udang ... 20

Gambar 6 Negara-negara tujuan penjualan PT. Kelola Mina Laut ... 25

Gambar 7 Mekanisme pengadaan bahan baku ... 26

Gambar 8. Mekanisme penerimaan bahan baku udang ... 28

Gambar 9 Penerimaan bahan baku udang ... ... 28

Gambar 10 Pallet kayu dan pallet plastik ... ... 29

Gambar 11 Handlift ... 29

Gambar 12 Mekanisme perencanaan produksi ... 30

Gambar 13 Mesin Contact Plate Freezer  ... 32

Gambar 14 Proses pembekuan udang dengan mesin Individual Quick Frozen ... 33

Gambar 15 Hierarki penentuan best supplier  ... 36

Gambar 16 Grafik hasil kombinasi perbandingan berpasangan antar kriteria ... 37

Gambar 17 Grafik hasil kombinasi urutan prioritas sub kriteria berdasarkan kriteria  pengiriman ... 38

Gambar 18 Grafik hasil kombinasi urutan prioritas sub kriteria dalam kriteria ketepatan kualitas ... ... 39

Gambar 19 Grafik hasil kombinasi urutan prioritas sub kriteria dalam kriteria biaya... 39

Gambar 20 Grafik hasil kombinasi urutan prioritas sub kriteria dalam kriteria pelayanan dan manajemen organisasi ... 40

Gambar 21 Grafik hasil kombinasi urutan prioritas alternatif berdasarkan kriteria dan sub kriteria keseluruhan ... ... 41

(9)

Gambar 22 Analisis sensitivitas kinerja pemasok pada setiap kriteria (kondisi awal) ... 42

Gambar 23 Analisis sensitivitas kinerja pemasok setelah perubahan tingkat kepentingan pengiriman ... ... 43

Gambar 24 Klasifikasi peringkat pemasok berdasarkan selang tingkat sensitivitas gradien pengiriman ... ... 43

Gambar 25 Diagram fishbone permasalahan pemenuhan pasokan ... 45

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Denah Tata Letak Proses Produksi Unit Udang ... 51

Lampiran 2 Struktur Organisasi ... 52

Lampiran 3 Produk-produk PT. Kelola Mina Laut ... 53

(10)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Industri seafood merupakan industri pengolahan hasil perairan yang memiliki  potensi berkembang sangat baik di masa depan. Setiap tahun permintaan komoditi  perikanan dari dalam maupun luar negeri menunjukkan peningkatan. Industri seafood  terkhususnya udang merupakan salah satu industri yang sudah berkembang di Indonesia. Komoditas ataupun produk udang memiliki nilai jual tinggi yang diperdagangkan di seluruh dunia (FAO 2010). Saat ini Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor udang dengan pasar meliputi Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara di Eropa.

Sebagai salah satu negara penghasil komoditi perikanan yang mampu bersaing di  pasar global, berpeluang untuk meraih pasar lebih banyak. Keberhasilan dalam  pengelolaan permintaan akan bergantung pada bagaimana sistem dan lembaga terkait saling bekerja dengan harmonis membentuk aliran distribusi yang efisien dan memenuhi kepuasan konsumen. Pemasok dapat membangun atau menghancurkan perusahaan melalui penyediaan barang dan jasa. Komoditi yang memiliki kualitas rendah, dapat membuat operasional perusahaan pemesan berhenti total. Banyak perusahaan melakukan outsourcing komoditi-komoditi tertentu sehingga perusahaan tersebut dapat fokus dalam mengoptimalkan kompetensinya mengolah komoditi yang dipesannya tersebut. Hasilnya,  perusahaan dapat memenuhi kepuasan konsumen (Monczka et al. 2002).

PT. Kelola Mina Laut merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan komoditas perikanan, salah satunya udang. PT. Kelola Mina Laut adalah perusahaan besar dengan kuantitas ekspor yang tinggi. Ketersediaan bahan baku yang tak menentu (musiman) akan sangat mempengaruhi proses produksi apabila tidak ditangani dengan  baik. Oleh karena itu, pengukuran dan evaluasi kinerja rantai pasok pada bagian  pembelian perlu dilakukan. Hal ini dimaksudkan agar sistem di dalam rantai yang menghubungkan perusahaan dengan pemasok mampu bekerja dengan optimal dan tujuan  perusahaan dapat tercapai. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menganalisis

kinerja dari pemasok adalah Analytical Hierarchy Process (AHP).

Tujuan Praktik Lapangan

Dalam Program Praktik Lapangan ini, secara umum tujuan pelaksanaannya dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu tujuan instruksional dan tujuan institusional. Perincian dari kedua kategori tujuan tersebut adalah sebagai berikut.

(11)

1. Tujuan Instruksional

Tujuan instruksional dalam program Praktik Lapangan ini ialah untuk:

a. Meningkatkan pengetahuan, sikap, serta keterampilan mahasiswa melalui  pelatihan kerja nyata dan aplikasi ilmu yang telah diperoleh sesuai dengan  bidang keahliannya.

 b. Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi,

merumuskan, dan memecahkan permasalahan sesuai dengan bidang keahliannya di lapangan secara sistematis dan interdisiplin.

2. Tujuan Institusional

Memperkenalkan dan mendekatkan IPB, khususnya Fakultas Teknologi Pertanian dengan masyarakat, dan mendapatkan masukan bagi penyusunan kurikulum dan peningkatan kualitas pendidikan yang sesuai dengan kemajuan IPTEK dan kebutuhan masyarakat pengguna.

Secara khusus tujuan pelaksanaan kegiatan Praktik Lapangan ini adalah sebagai  berikut:

1. Memahami aspek pemenuhan pasokan dalam manajemen rantai pasok di PT. Kelola Mina Laut

2. Menganalisis permasalahan dalam proses pemenuhan pasokan di PT. Kelola Mina Laut serta mampu menghasilkan solusi dari permasalahan di lapangan berdasarkan ilmu yang telah dipelajari.

3. Memperkuat hubungan kerjasama antara Fakultas Teknologi Pertanian IPB dan PT. Kelola Mina Laut.

4. Memperoleh pengalaman bekerja sesuai dengan bidang profesi dan menambah kemampuan beradaptasi dengan lingkungan kerja pada suatu wilayah industri.

Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Praktik Lapangan ini akan dilaksanakan di PT. Kelola Mina Laut, Jalan KIG Raya Selatan Kavling C-5, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, dengan waktu Praktik Lapangan selama 40 hari kerja efektif dimulai dari tanggal 12 Juli 2016 –  27 Agustus 2016.

(12)

METODE PELAKSANAAN

Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa metode yang akan dilakukan selama rangkaian Praktik Lapangan, di antaranya adalah:

1. Penjelasan Singkat

Penjelasan singkat dari pembimbing lapangan atau wakil dari perusahaan. hal ini  bertujuan untuk memberikan pengetahuan awal mengenai perusahaan

2. Observasi dan Sosialisasi

Observasi berupa pengamatan langsung di PT. Kelola Mina Laut. Observasi ini termasuk sosialisasi berupa wawancara, diskusi dengan karyawan yang bekerja di  perusahaan serta pihak-pihak yang terkait dengan aspek rantai pasokan di PT. Kelola Mina Laut. Sosialisasi dilakukan sebagai kegiatan kontributif dalam upa ya menemukan dan menganalisis permasalahan.

3. Aplikasi Kerja Industri

Kerja industri dilakukan untuk merasakan secara langsung bekerja pada aspek yang sedang dikaji, yaitu pada manajemen rantai pasokan di PT. Kelola Mina Laut. Dengan bekerja secara langsung, analisis dapat dilakukan lebih efektif dan dapat menemukan akar permasalahan secara langsung.

4. Pengambilan dan Agregasi Data

Pengambilan data dapat dilakukan dengan cara pengamatan langsung, wawancara dengan pihak perusahaan serta stakeholder  lain yang terlibat dalam manajemen rantai  pasokan di PT .Kelola Mina Laut untuk mendapatkan data primer. Sedangkan untuk

mendapatkan data sekunder diperoleh dari dokumen atau laporan perusahaan yang relevan. Data sekunder yang akan diambil meliputi :

1. Gambaran umum perusahaan, meliputi sejarah perusahaan, struktur organisasi, visi-misi, sarana dan prasarana, dan keadaan umum perusahaan.

2. Data terkait manajemen rantai pasok yang ada pada PT Kelola Mina Laut.

3. Data yang diperlukan untuk menganalisa penerimaan pasokan di PT Kelola Mina Laut.

Agregasi data dilakukan untuk memilih data yang akan dijadikan input agar output yang dihasilkan sesuai aspek yang sedang dikaji.

5. Metode Pengolahan Data

Data yang diperoleh akan dianalisis dan diolah lebih lanjut secara deskriptif dan kuantitatif. Analisa kuantitatif akan dilakukan menggunakan AHP ( Analytical  Hierarchy Process) terhadap evaluasi kinerja pemasok di PT Kelola Mina Laut, sedangkan analisa deskriptif terhadap permasalahan pemenuhan pasokan akan dilakukan dengan fishbone diagram. Fishbone diagram digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap masalah sistem pemenuhan pasokan di PT Kelola Mina Laut. Masalah yang terjadi dianggap sebagai kepala ikan sedangkan

(13)

 penyebab masalah dilambangkan dengan tulang-tulang ikan yang dihubungkan menuju kepala ikan. Sedangkan AHP digunakan untuk melakukan pembobotan terhadap faktor  pemilihan pemasok untuk menentukan tingkat kepentingan tiap faktor serta menentukan pemasok sebagai alternatif yang diambil untuk memilih pemasok terbaik (best supplier ). Prinsip kerja AHP adalah penyederhanaan suatu persoalan kompleks yang tidak terstruktur, strategik, dan dinamik menjadi sebuah bagian-bagian yang tertata dalam suatu hierarki (Marimin dan Maghfiroh 2011).

6. Penyusunan Laporan

Laporan dibuat dengan menganalisis data dan informasi yang diperoleh dan dituangkan secara sistematis dan jelas dalam bentuk laporan Praktik Lapangan.

(14)

KEADAAN UMUM LOKASI PRAKTIK LAPANGAN

Sejarah Perusahaan

PT. Kelola Mina Laut merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pen golahan hasil perikanan yang berdiri sejak tahun 1994 oleh Ir. Muhammad Nadjikh di Tuban dengan produk pertama yaitu teri nasi. Hasil perikanan yang diolah meliputi pengolahan ikan air tawar dan ikan air lau. Beberapa unit hasil pengolahan yang dihasilkan PT. Kelola Mina Laut antara lain unit pengolahan ikan ( fish), udang ( shrimp), rajungan (crab), teri nasi (chirimen), seafood  olahan (value added ), surimi, dan bakso seafood  ( fish ball ).

Produksi teri nasi yang didirikan pertama kali oleh PT. Kelola Mina Laut menjadikan perusahaan ini sebagai pasar ekspor terbesar di dun ia, yakni sebesar 80%. PT. Kelola Mina Laut Group berhasil mengembangkan bisnis seafood   hingga memiliki 10  pabrik pengolahan. Pada tahun 1999 kemudian berkembang menjadi 27 unit termasuk unit  pengolahan ikan ( fish) dan cephalopoda yang berpusat di Gresik, Jawa Timur. Pada tahun

2001 terdapat pembangunan baru dengan sasaran komoditas udang yang didirikan di unit  pengolahan udang ( shrimp) di Gresik, Jawa Timur. Selanjutnya pada tahun 2002 didirikan  pabrik pengolahan ikan di Makassar dan tahun 2003 dibangun unit pengolahan rajungan

(crab) di Gresik serta pada tahun 2005 didirikan pula unit pengolahan seafood   olahan (value added ). Value added merupakan produk seafood  olahan yang memiliki nilai gizi lebih yang diproduksi dengan tangan atau mesin menggunakan bahan-bahan makanan laut segar dan rempah-rempah yang dicampur dengan resep sesuai selera konsumen.

Unit pengolahan terus dikembangan hingga pada saat ini, PT. Kelola Mina Laut telah mempunyai 46 jenis pabrik pengolahan dan menjadi salah satu perusahaan  pengolahan makanan terlengkap dan terbesar di Indonesia. 46 jenis pabrik pengolahan

tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Jenis pabrik pengolahan di PT. Kelola Mina Laut

No Jenis Pabrik Pengolahan Jumlah

1. Ikan dan Cephalopoda 7

2. Udang 2

3.  Dried Seafood 27

4. Crab Meat 2

5. Value Added 2

6.  Frozen Block Surimi 3

7. Surimi Based Products 1

8.  Frozen Vegetables 2

(15)

Visi dan Misi Perusahaan

PT. Kelola Mina Laut berpedoman pada ketiga visinya, yaitu:

1. Menjadikan KML Food sebagai perusahaan makanan terpadu di Indonesia yang paling kompetitif

2. Pada tahun 2020 KML Food sebagai Kitchen of Indonesia 3. Pada tahun 2030 KML Food menjadi Global Food Company

Untuk mencapai visi tersebut, tentunya PT. Kelola Mina Laut memiliki misi sebagai berikut, yaitu:

1. Manajemen usaha yang profesional

2. Berorientasi pada efisiensi, efekstifitas, dan produk tifitas usaha 3. Berorientasi pada produk Value Added 

4. Menjalin Kemitraan ( Partnership) dengan Stakeholder 5. Menjunjung tinggi kualitas di atas segalanya

6. Memberikan pelayanan terbaik dalam upaya memuaskan pelanggan 7. Pencapaian kinerja di atas rata-rata pelaku bisnis food yang didasari

fundamental bisnis yang kuat

Gambar 1 Logo PT. Kelola Mina Laut.

Lokasi dan Tata Letak Pabrik

PT. Kelola Mina Laut memilki kantor pusat di Jl. KIG Raya Selatan, Kavling C-5, Kawasan Industri Gresik 61121 –  Jawa Timur. Kawasan Industri Gresik merupakan kawasan yang dikelola dan dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Gresik sebagai kawasan perindustrian. Berikut adalah batas-batas PT. Kelola Mina Laut:

a. Utara : Jalan KIG Raya Selatan

 b. Barat : PT. Madsumaya Indo Seafood

(16)

d. Selatan : Perumahan KIG

Faktor-faktor yang menjadikan Gresik sebagai pusat dan pendirian pabrik ini dikarenakan:

a. Tersedianya sarana dan prasarna transportasi yang memadai, karena lokasi  perusahaan dekat dengan jalan raya yang mudah dilalui dan berada di lokasi yang

mudah dijangkau. Hal ini memudahkan  supplier   ataupun pihak lain yang  berkepentingan dengan perusahaan

 b. Lebih dekat dengan wilayah supplier  bahan baku sehingga memudahkan pasokan  bahan baku. Bahan baku udang diperoleh dari Gresik, Lamongan, dan Sidoarjo. c. Kemudahan dalam mendapatkan pasokan tenaga listrik yang cukup besar karena

 berada pada Kawasan Industri Gresik yang merupakan salah satu kawasan yang mendapatkan prioritas pasokan dari PLN Gresik.

d. Kemudahan mendapatkan pasokan air dikarenakan keter

e. sediaan air yang dengan mudah didapat dari PDAM serta air yang didapat dari  supplier  yang telah teruji kualitasnya.

f. Dekat dengan pelabuhan Tanjung Perak sehungga mendukung untuk proses transportasi bahan baku maupun produk akhir untuk diekspor ke Jepang, Amerika, Erpoa, dll.

Tata letak untuk proses produksi pada unit udang dapat dilihat pada Lampiran 1.

Luas Area, Sarana, dan Prasarana Perusahaan

PT. Kelola Mina Laut didirikan di atas lahan seluas ± 30.000 m2  dengan  penggunaan luas tanah untuk pabrik seluas 58,73% yang terdiri dari gedung kantor pusat,

gedung sarna produksi yang meliputi gedung proses produksi ikan, gedung proses  produksi udang, gedung proses produksi rajungan, instalasi pengolahan limbah, dan  Loading area. Serta sebesar 33,93% digunakan untuk halaman, lahan parkir, ruang terbuka hijau, pos satpam, dan klinik. 7,34% merupakan lahan cadangan untuk area  pengembangan.

Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan

Struktur organisasi perusahaan berfungsi untuk menjelaskan fungsi, tugas dan wewenang suatu bagian di perusahaan. Pada PT. Kelola Mina Laut struktur organisasinya secara umum terbgi menjadi dua, yaitu bagian corporate dan di bagian divisi-divisi kerja atau unit bagian di bawah struktur naungan kantor pusat. Struktur yang terdapat pada  bagaian corporate  adalah struktur organisasi lini dan  staff , dimana pimpinan tertinggi

(17)

diduduki oleh Presiden Direktur yang merupakan pemilik dari PT. Kelola Mina Laut. Struktur organisasi PT. Kelola Mina Laut dapat dilihat pada Lampiran 2.

Struktur organisasi lini dan  staff   adalah struktur organisasi yang digunakan  perusahaan dengan skala besar dan memiliki jumlah karyawan yang besar pula. Pada

struktur organisasi ini memiliki kelebihan yaitu pembagian tugas kerja yang jelas pada setiap pegawai dan kedisiplinan yang cukup tinggi. Pembagian kerja di PT. Kelola Mina Laut dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Deskripsi pekerjaan dari struktur organisasi PT. Kelola Mina Laut.

Jenis Pekerjaan Deskripsi

 President Director

Pimpinan tertinggi di PT. Kelola Mina Laut yang  bertugas memiliki kewenangan untuk mengambil kebijakan-kebijakan strategis. Selain itu juga  berperan untuk mengatur, mengarahkan, dan  bertanggung jawab terhadap semua kegiatan yang

dilaksanakan oleh karyawan dan staff.

Operation Director Bertugas untuk menangani usaha pengelolaan secara

keseluruhan.  Marketing & Business

 Development Director

Bertugas untuk memasarkan produk olahan PT. Kelola Mina Laut yang akan dijual ke pasar ekspor

Comercial Director Bertugas untuk memasarkan produk olahan PT.

Kelola Mina Laut yang akan dijual ke pasar lokal.

 Finance Director Bertugas untuk mengurus, mengawasi, dan mengatur

keuangan perusahaan.

QA –  RD Director

Bertugas untuk mengurus kualitas dan mutu produk hasil olahan PT. Kelola Mina Laut dan bertugas untuk membuat olahan makanan baru yang akan di keluarkan oleh PT. Kelola Mina Laut.

 Human Capital & General Affairs Director

Bertugas untuk mengadakan pelatihan karyawan, mengatr proses rekruitmen, demosi dan mutasi karyawan, dan mengelola kendaraan dinas serta mengurusi kegiatan operasional perusahaan.

 Internal Audit

Bertugas untuk mengontrol data-data yang telah dikerjakan oleh  financial audit, operational audit,

dan  special audit untuk mengurangi adanya

(18)

Corporate Secretay

Bertugas untuk membantu pimpinan perusahaan dalam melakukan tugas-tugas harian, baik yang rutin maupun yang khusus.

Jenis tenaga kerja yang terdapat di PT. Kelola Mina Laut dibagi menjadi dua, yaitu tenaga kerja tetap dan tenaga kerja tidak tetap. Tenaga kerja tetap adalah tenaga kerja yang sudah diangkat dengan surat tugas keputusan direksi perusahaan dan telah melalui masa  percobaan selama 3 bulan sampai 12 bulan. Sedangkan tenaga kerja tidak tetap adalah

karyawan yang diterima perusahaan pada periode waktu tertentu yang direkrut  berdasarkan perjanjian atau kesepakatan tertentu. Perekrutan tenaga kerja tidak tetap  berfungsi untuk membantu menyelesaikan kegiatan produksi ketika bahan baku yang datang melebihi kapasitas yang ada. Jumlah tenaga kerja pada PT. Kelola Mina Laut dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Jumlah tenaga kerja di PT. Kelola Mina Laut

 No. Klasifikasi Tenaga Kerja Jumlah tenaga kerja (orang)

1. Tenaga kerja tetap

- Laki-laki 344

- Perempuan 217

2. Tenaga kerja tidak tetap

- Laki-laki 332

- Perempuan 1610

Jumlah 2503

Sumber: PT. Kelola Mina Laut (2016)

Tenaga kerja tetap diantaranya meliputi jajaran direksi, manajer, staff  pada kantor  pusat dan kantor unit, sekretaris, satpam, karyawan bulanan tetap, dan karyawan harian

tetap. Sedangkan untuk tenaga kerja tidak tetap meliputi karyawan borongan, karyawan harian tetap, dan karyawan harian lepas.  Berikut penjelasan mengenai beberapa jenis tenaga kerja tidak tetap:

a. Karyawan borongan adalah tenaga kerja yang bekerja dengan upah yang dihasilkan atas dasar satuan hasil kerja atau upah yang diterima  berdasarkan barang yang dapat diselesaikannya.

 b. Karyawan harian tetap adalah karyawan yang bekerja dengan perjanjian kontrak tertentu yang telah disepakati antara perusahaan dengan pekerja. c. Karyawan harian lepas adalah jenis karyawan yang bersifat kontrak.

Tenaga kerja jenis ini mendapatkan gaji sesuai kerjanya atau waktu kerja mereka dan tidak mendapatkan jaminan sosial. Karena tenaga kerja harian

(19)

lepas bersifat kontrak maka ketika kontrak selesai, hubungan antara  pekerja dan perusahaan juga selesai

Pembagian jam kerja di masing-masing divisi pada PT Kelola Mina Laut didasarkan pada jumlah jam kerja dalam seminggu. Pekerja diharuskan melakukan 40 jam kerja dalam waktu satu minggu. Sistem tersebut mempergunakan penggiliran waktu libur, yaitu sistem dimana dalam seminggu pekerja diberikan waktu sehari untuk tidak masuk kerja. Selain sistem pembagian jam kerja PT Kelola Mina Laut juga menerapkan sistem yang dimana mengharuskan pegawainya melakukan aktivitas perusahaan. Sistem tersebut adalah sistem kerja umum dan sistem kerja bergilir. Pada hari Senin hingga Jum’at, sistem kerja umum dimulai dari pukul 08.00 sampai dengan pukul 16.00, sedangkan pada hari Sabtu jam kerja umum dimulai pukul 08.00 sampai pukul 14.00, sedangkan untuk hari Minggu disesuaikan dengan jadwal yang telah ditentukan oleh perusahaan.

Sistem kerja giliran hanya diberlakukan untuk bagian pengemasan produk ( Packing ) dan Security, dimana Shift  1 dimulai pada pukul 08.00 sampai dengan pukul 16.00, sedangkan Shift   2 dimulai dari pukul 16.00 hingga pukul 24.00. Khusus untuk  bagian keamanan pembagian Shift   dibagi menjadi dua, yaitu Shift   1 pada pukul 07.00

hingga pukul 19.00, sedangkan Shift  2 dari pukul 19.00 hingga pukul 07.00.

Waktu istirahat yang diberikan selama kegiatan operasional perusahaan kepada  pegawainya yaitu selama kurang lebih satu jam, khusus pada hari Jum’at istirahat diberikan selama kurang lebih dua jam, dari pukul 11.00 hingga pukul 13.00, hal ini  bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi karyawan yang menunaikan ibadah sholat  jum’at. Waktu istirahat berdasarkan unit divisi dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Jadwal jam istirahat karyawan PT Kelola Mina Laut

Unit Jam Istirahat

Udang 11.30 –  12.30

Ikan 11.30 –  12.30

Corporate 12.00 –  13.00

Sistem penggajian di PT. Kelola Mina Laut ditentukan berdasarkan golongan-golongan dan status karyawan sesuai dengan masa kerja serta jabatan dalam pekerjaan. Faktor-faktor lain dalam penentuan gaji diantaranya adalah keahlian, kecakapan, dan  prestasi. Gaji yang diberikan oleh PT. Kelola Mina Laut tidak kurang dari Upah Minimum

Regional (UMR) Kabupaten Gresik.

Selain gaji, karyawan juga mendapatkan insentif untuk kegiatan-kegiatan yang dilakukan diluar jam kerja, meliputi:

a. Tunjangan Jabatan, diberikan kepada Karyawan dikarenakan tugasnya menduduki jabatan yang sangat penting sehingga mendapat tunjangan  jabatan. Besarnya tunjangan jabatan ditentukan oleh perusahaan.

(20)

 b. Tunjangan Fungsional, diberikan kepada karyawan dikarenakan tugasnya memiliki fungsi khusus dan spesifik. Tunjangan jenis ini diberikan untuk karyawan teknik, supporting , dan QC.

c. Tunjangan Kesejahteraan, diberikan untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan, termasuk bantuan pembayaran premi BPJS Ketenagakerjaan untuk karyawan staf dan non-staf

d. Tunjangan Kesehatan, diberikan kepada karyawan sebagai tambahan biaya  berobat apabila sakit, seperti pendaftaran di BPJS Kesehatan serta  pelayanan ASKES KML Food khusus untuk karyawan staf

e. Tunjangan Hari Raya, diberikan oleh perusahaan kepada seluruh karyawan, dimana tunjangan ini diberikan selama satu tahun sekali saat Hari Raya Idul Fitri tiba

f. Tunjangan Dinas Luar, merupakan tunjangan yang diberikan kepada karyawan karena melakukan perjalanan dinas luar sesuai den gan tugas dan instruksi perusahaan. Biaya perjalanan dinas meliputi biaya transportasi,  penginapan, uang makan, dan uang saku. Biaya dinas luar kota dengan

asumsi harus diluar area GERBANG KERTOSUSILA (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan) dan dengan waktu perjalanan dinas lebih dari sepuluh jam.

Untuk menjaga proses produksi tetap berjalan lancar, PT. Kelola Mina Laut memberikan fasilitas K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) pada karyawan dengan mewajibkan karyawannya selalu menggunakan APD (Alat Perlindungan Diri) seperti masker, penutup kepala, sarung tangan, sepatu boot , apron, dan baju proses. Selain itu  pemasangan alat pendingin pada ruangan dan ventilasi udara yang memadai juga

merupakan fasilitas yang terdapat di perusahaan. Selain itu juga terdapat klinik untuk  pemeriksaan kondisi kesehatan, peta rute evakuasi dan lokasi keberadaan APAR (Alat

Pemadam Api Ringan) yang terpasang pada dinding kantor dan ruang proses produksi.

(21)

Produk dan Pemasaran

PT. Kelola Mina Laut memiliki berbagai macam olahan produk olahan yang kemudian secara umum dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu seafood, vegetable, beef & poultry. Daftar produk olahan dari PT. Kelola Mina Laut dapat dilihat pada Lampiran 3.  Brand   yang digunakan oleh PT. Kelola Mina Laut berbeda untuk setiap  produk dan target pasarnya (ekspor atau lokal). Brand  yang digunakan diantaranya adalah

Prima Star, Panorama, KML, Minaku, Foody, Daitsabu, MariBlue, BKL, M27, dll.

Gambar 3 Logo produk-produk PT. Kelola Mina Laut.

Produk-produk yang dihasilkan oleh PT. Kelola Mina Laut tentunya sudah dilengkapi oleh jaminan mutu pangan yang diperoleh dari beberapa proses audit dalam  bentuk serifikat. Beberapa jaminan mutu tersebut adalah sebagai berikut:

a. GMP (Good Manufacturing Process) dan HACCP ( Hazard Analysis and Critical Control Point) yang merupakan jaminan keamanan pangan saat  proses produksi

 b. ISO 22000:2005 mengenai sistem manajemen keamanan pangan terpadu c. BRC ( British Retail Consortium) Global Standard  yang menjamin standar

 produk retail global 

d. ACC ( Aquaculture Certification Council ) yakni sertifikat yang menjamin kualitas dan keamanan pangan mengenai prooduk budidaya perairan e. C-TPAT (Customs  –   Trade Partnership Against Terrorismi) yakni

keamanan rantai pasok perdagangan internasional dari tindakan kejahatan f. Sertifikat halal dari MUI dan sertifikat dari BPOM RI.

Jaminan mutu tersebut selalu ditampilkan dalam setiap kemasan produk olahan sehingga membuat konsumen semakin percaya untuk membeli produk-produk hasil olahan dari PT. Kelola Mina Laut.

HACCP

(22)

Jangkauan pemasaran yang dilakukan PT. Kelola Mina Laut umumnya ditujukan untuk memenuhi pasar ekspor. Secara keseluruhan semua produk yang diolah di PT. Kelola Mina Laut di ekspor ke Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Afrika, Jepang, Korea, Cina, Rusia, Inggris, Jerman, Italia, Perancis, Belanda, Swedia, Spanyol, Timur Tengah, Brasilia, dll.

Akan tetapi kini PT. Kelola Mina Laut telah menjual beberapa produknya di dalam negeri kepada retailer-retailer besar. Selain itu, PT. Kelola Mina Laut juga membukamini market yang bernama“Frozen Mart” . Untuk sementara, lokasi Frozen Mart hanya berada

(23)

RANTAI PASOK

Mekanisme Rantai Pasok

Rantai pasok merupakan sebuah mekanisme yang berguna untuk membantu  perusahaan dalam mencapai produktivitas yang tinggi. Menurut Indrajit dan Djokopranoto (2002) konsep rantai pasok merupakan mata rantai dari penyediaan bahan  baku sampai pada barang jadi. Maka dari itu, mekanisme rantai pasok yang ada di PT.

Kelola Mina Laut patut menjadi perhatian.

Bahan baku udang yang menjadi fokus utama dari pengamatan ini adalah udang vannamei ( Litopenaeus vannamei). Udang vannamei merupakan salah satu komoditas unggulan sektor perikanan. Berbagai kelebihan yang dimiliki mulai dari mudahnya membudidaya udang ini, produksi yang stabil dan relatif tahan terhadap penyakit menyebabkan sebagian besar petambak di Indonesia menggeluti usaha budidaya udang vannamei. Disamping itu, ada kelebihan lain udang vannamei, yaitu bersifat eurihalin. Udang ini mampu hidup pada perairan dengan salinitas sekitar 0,5 –  40 ppt (Bray et al. 1994 dalam Kaligis 2015). Kemampuan ini membuka peluang bagi petambak udang untuk mengembangkan budidaya vannamei di perairan darat (inland water ) bersalinitas rendah. Dengan budidaya udang vannamei di perairan bersalinitas rendah akan meningkatkan  produksi komoditas ini (Kaligis 2015).

Pemasok bahan baku udang terdiri dari banyak pemasok dikarenakan bahan baku yang dibutuhkan untuk memproduksi berbagai macam produk cukup banyak sedangkan kapasitas bahan baku yang dapat dihasilkan oleh p etambak terbatas dan beragam. Ditinjau dari aspek cara memperoleh bahan bakunya, udang diperoleh melalui budidaya tambak. Pada dasarnya udang memang tersedia bebas di alam (lautan) dan dapat langsung ditangkap, namun volumenya tidak akan banyak apabila dibandingkan dengan hasil  budidaya (tambak). Jenis petambak yang memasok bahan baku kepada perusahaan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu petambak intensif dan petambak tradisional. Petambak tradisional mengelola lahan tambaknya secara sederhana mengikuti musim yang ada, sehingga produksi tidak bisa dilakukan secara terus-menerus. Selain itu, biasanya dilakukan pengurasan serta pembalikan lahan pada bulan September hingga Desember. Hal ini dilakukan agar nutrisi yang ada dapat memenuhi kebutuhan pembiakan udang kedepannya.

Kelebihan sistem tradisional ini adalah biaya produksi yang digunakan murah dan sederhana. Namun udang yang dihasilkan dari tambak tradisional rawan penyakit dan  biasanya berukuran kecil. Lain halnya dengan sistem tambak intensif yang menghasilkan udang dengan ukuran besar dan sehat, serta dapat dipanen setiap saat. Kelemahan tambak

(24)

intensif adalah biaya pemeliharaannya yang cenderung tinggi. Untuk lebih jelasnya,  pembagian jenis petambak dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 5 Pembagian jenis petambak udang

Manajemen Kapasitas Produksi Tujuan penjualan

Tradisional Sederhana < 100 kg Pengumpul (Pemasok)

Intensif Profesional 3-5 ton Pengumpul (Pemasok)

Model dari sistem rantai pasok yang terdapat pada PT. Kelola Mina Laut dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5 Model rantai pasok udang

Pola rantai pasok di PT. Kelola Mina Laut dimulai dari para supplier  memasok  bahan baku ke perusahaan. Perusahaan mengolah bahan baku tersebut sehingga

menghasilkan produk yang diinginkan, yaitu beragam produk olahan udang. Produk- produk tersebut kemudian didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia dan beberapa negara di Asia dan Eropa serta Amerika. Struktur rantai pasok produk di PT. Kelola Mina Laut dibedakan menjadi tiga aliran berdasarkan pendistribusian produk, yaitu:

I. Struktur Rantai Pasokan 1

Petambak Tradisional / Petambak Intensif → Pengumpul → PT. KML → Importir → Retailer → Konsumen

Pada aliran ini PT. Kelola Mina Laut mendapatkan pasokan udang dari  petambak tradisional yang kapasitas panennya tidak terlalu tinggi sehingga  perlu dikumpulkan terlebih dahulu oleh pengumpul. Petambak intensif pun  juga turut menyalurkan udangnya kepada pemasok. Hal tersebut dikarenakan sistem yang pembayaran produk ekspor mendorong Petambak Tradisional Petambak Tradisional Petambak Intensif Petambak Tradisional Pengumpul PT KML Petambak Intensif Im ortir 1 Importir 2 Im ortir 3 Pengumpul Distributor Dalam Negri

 Factory Outlet Konsumen  Retailer  Retailer  Retailer  Retailer Konsumen Konsumen

(25)

melakukan penundaan pembayaran terhadap bahan baku yang dikirim oleh  pemasok. Produk ekspor yang dikirim perusahaan ke negara tujuan, biasanya

tiba di tempat setelah hampir satu bulan setelah waktu pengiriman. Setelah  produk sampai kepada pembeli, pembeli melakukan pengecekan terkait

spesifikasi serta mutu produk yang dikirim. Setelah itu pembeli membayar kepada perusahaan melalui bank. Namun rentan waktunya tidak mencapai  beberapa bulan, biasanya paling cepat dua pekan setelah perusahaan

menerima bahan baku. Kondisi tersebut tentunya membuat petambak atau  pemasok mengalami kesulitan apabila tidak memiliki kemampuan finansial yang cukup baik. Hal lain yang menjadi pertimbangan mengapa para  petambak tradisional dan beberapa petambak intensif menyalurkannya kepada  pengumpul.Kemudian PT. Kelola Mina Laut menyalurkannya kepada para

importir di negeri penerima yang kemudian mereka mendistribusikan kepada retailer untuk dijual kepada konsumen.

II. Struktur Rantai Pasokan 2

Petambak Tradisional / Petambak Intensif → Pengumpul → PT. KML → Distributor Dalam Negeri → Retailer → Konsumen

Pada struktur ini kurang lebih sama dengan struktur yang pertama, hanya saja produk disalurkan kepada distributor dalam negri untuk dipasok kepada retailer sehingga dapat diterima langsung oleh konsumen.

III. Struktur Rantai Pasokan 3

Petambak Tradisional / Petambak Intensif → Pengumpul → PT. KML →  Factory Outlet → Konsumen

Pada struktur ini kurang lebih sama seperti struktur rantai pasok pertama dan kedua, perbedaannya hanya setelah bahan baku diproses oleh PT. KML produk kemudian dipasarkan pada Factory Outlet  yang dimiliki oleh PT. KML sendiri yaitu “Frozen Mart” untuk kemudian dapat dibeli oleh

konsumen secara langsung.

Udang yang dipanen dari tambak tradisional kuantitasnya sedikit sehingga dikumpulkan terlebih dahulu oleh pengumpul (pemasok) sebelum dikirim ke perusahaan. Satu pengumpul dapat mengumpulkan udang dari puluhan bahkan ratusan tambak. Hal ini dikarenakan perusahaan menetapkan batas volume minimal dan kontinuitas  pengiriman bagi pemasok bahan baku. Pemasok mengumpulkan udang hasil panen

tambak tradisional yang berbeda-beda ukurannya. Pemasok biasanya kurang selektif melakukan pemisahan udang yang berbeda ukuran ini, sehingga terkadang diperoleh udang dengan size yang tidak sesuai permintaan.

Petambak tradisional yang bermitra dengan PT. Kelola Mina Laut sebagian besar  berasal dari daerah sekitar perusahaan, yaitu Gresik, Lamongan, dan Sidoarjo. Ada pula  petambak lain yang berasal dari daerah Lampung, Makassar, Lombok, daerah Jawa Timur

(26)

lain. Pengiriman dari daerah yang dekat biasanya menggunakan mobil bak terbuka, sedangkan pengiriman dari daerah yang cukup jauh menggunakan truk.

Setiap anggota rantai pasokan mempunyai peran yang berbeda satu sama lainnya. Peran masing-masing anggota tersebut dapat dilihat dalam Tabel 7.

Tabel 6 Anggota rantai pasokan komoditi dan produk olahan udang

Tingkatan Anggota Proses Aktivitas

Produsen Petambak (tradisionaldan intensif) - Budidaya- Penjualan

Melakukan budidaya

udang di tambak dan  penjualan hasil budidaya

udang kepada Supplier /tengkulak Distributor - Supplier  (pemasok) - Distributor dalam negeri

- Importir luar negeri

- Pembelian - Sortasi

- Penyimpanan - Penjualan

Melakukan pembelian

udang dari petambak;

melakukan proses sortasi udang ukuran ( size) sesuai

 permintaan perusahaan;

melakukan penyimpanan

untuk mempertahankan

kesegaran; dan menjual udang hasil sortasi ke  perusahaan

Manufaktur Perusahaan (PT.Kelola Mina Laut)

- Pembelian - Sortasi - Pengolahan - Penjualan

Melakukan pembelian

udang dari petambak;

sortasi berdasarkan ukuran,

tingkat kesegaran dan

kelengkapan organ tubuh,

serta uji kimiawi;

melakukan proses

 pengolahan udang; dan

menjual hasil olahan

kepada importir atau

retailer 

Ritel -  Factory Outlet 

- Supermarket

- Pembelian - Penyimpanan - Penjualan

Melakukan pembelian dari

 perusahaan dan

menjualnya lagi ke

konsumen

Konsumen Masyarakat umum Pembelian Melakukan pembelian

(27)

Entitas Rantai Pasok

1)

Produk

Udang merupakan komoditas perairan yang dapat diolah menjadi berbagai macam produk olahan. Udang sebagai komoditas perairan memiliki sifat yang mudah rusak, sehingga produk beku lebih diutamakan dalam perdagangan internasional. Produk-produk yang diproduksi PT. Kelola Mina Laut memiliki kualitas yang baik sehingga dapat memasuki pasar internasional. Produk-produk tersebut diproses secara higienis sehingga kualitasnya terjaga. PT. Kelola Mina Laut selalu memerhatikan mutu, oleh karena itu setiap bahan yang telah melewati satu tahap menuju tahap selanjutnya akan diperiksa. Jenis-jenis produk hasil olahan udang yang terdapat di PT. Kelola Mina Laut dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 7 Produk-produk hasil olahan udang PT. Kelola Mina Laut

Produk Keterangan

Cooked Peeled Tail On (CPTO)

Udang tanpa kepala yang dikupas kulitnya, diambil ususnya, lalu dimasak (dengan uap panas). Satu ruas kulit terakhir dan ekor masih utuh.

Cooked Peeled Undeveined (CPUD)

Udang tanpa kepala yang dikupas seluruh kulitnya dan dimasak (dengan uap panas). Cooked Peeled Deveined

(CPD)

Udang tanpa kepala yang dikupas seluruh kulitnya, diambil ususnya, dan dimasak (dengan uap panas).

 Peeled Deveined Tail On (PDTO)

Udang tanpa kepala yang dikupas kulitnya, diambil ususnya, tanpa dimasak. Satu ruas kulit terakhir dan ekor masih utuh.

 Peeled Deveined (P&D)

Udang tanpa kepala yang dikupas seluruh kulitnya dan diambil ususnya tanpa dimasak

 Peeled Undeveined (PUD) Udang tanpa kepala yang dikupas seluruh

kulitnya tanpa dimasak.  Easy Peel 

Udang tanpa kepala yang kulitnya utuh, hanya diambil ususnya, dan dibelah di  bagian punggung

(28)

 Head On Udang yang masih memiliki kepala, ditata rapi, lalu dibekukan.

 Head Less Udang tanpa kepala, ditata rapi, lalu

dibekukan.  Peeled Deveined Tail On

 Butterfly

Udang tanpa kepala yang dikupas kulitnya, diambil ususnya, tanpa dimasak. Satu ruas kulit terakhir dan ekor masih utuh. Daging dibelah kemudian dilebarkan  PDTO Skewer

(Peeled Deveined Tail On Skewer)

Udang tanpa kepala yang dikupas kulitnya, diambil ususnya, tanpa dimasak. Satu ruas kulit terakhir dan ekor masih utuh. Ditusuk seperti sate.

 PD Skewer

(Peeled Deveined Skewer)

Udang tanpa kepala yang dikupas seluruh kulitnya, diambil ususnya, tanpa dimasak. Ditusuk seperti sate.

Penjualan rata-rata produk-produk olahan udang mencapai 300 sampai 500 ton dalam satu bulan. Hasil samping seperti kulit udang dan kepala udang dapat digunakan untuk produk lokal atau dijual ke penadah yang selanjutnya dapat diolah menjadi pakan ternak, terasi, dan petis. Pemanfaatan hasil samping komoditi ikan kakap dan udang dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 8 Produk olahan hasil samping udang

Hasil Samping Hasil Olahan

Kepala Udang Pakan ternak, terasi, petis

Kulit Udang Pakan ternak, chitosan

2) Pasar

Sekitar 90% produk hasil olahan udang yang diproduksi PT. Kelola Mina Laut dijual ke pasar internasional. Tujuan utamanya adalah Amerika Serikat dan Jepang yang permintaan terhadap udang terbilang besar. Selain kedua negara tersebut, PT. Kelola Mina Laut mengirim produknya ke Korea, Cina, Eropa, Timur Tengah, Australia, Selandia Baru, dan negara-negara di Afrika. Sebagian besar dari importir-importir akan menjual komoditinya ke supermarket atau toko ritel. Konsumsi masyarakat di negara-negara tersebut terhadap produk perikanan terbilang tinggi, sehingga terkadang permintaan dari pembeli tidak dapat dipenuhi

(29)

oleh PT. Kelola Mina Laut. Negara-negara yang menjadi tujuan penjualan produk udang PT. Kelola Mina Laut dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6 Negara-negara tujuan penjualan PT. Kelola Mina Laut 3) Pemangku Kepentingan

Pihak-pihak yang terlibat dalm rantai pasok komoditi dan produk udan g atau  pemangku kepentingan pada dasarnya termasuk ke dalam anggota rantai pasokan  baik secara langsung ataupun secara tidak langsung. Pemangku kepentingan yang

terlibat dalam rantai pasok komoditi dan produk udang antara lain petambak, supplier,  perusahaan jasa transportasi, perusahaan pembuat es, perusahaan produsen kemasan,  perusahaan jasa kontainer, dan pemerintah. Pada sistem ini, pemerintah berwenang memberikan regulasi dan izin pelayaran bagi para nelayan dan izin ekspor untuk mengirimkan barang ke luar negeri

Kemitraan

Permintaan pasar terhadap produk olahan udang terbilang tinggi. Perusahaan yang menekuni bisnis produk olahan udang pun tidak h anya digeluti oleh PT. Kelola Mina Laut saja sehingga memunculkan persaingan bisnis. Salah satu faktor yang dapat membantu  perusahaan memenangkan persaingan tersebut adalah kemampuan memberi pasokan

kepada pembeli secara terus-menerus (konsisten). Ada beberapa kebijakan yang dapat ditempuh oleh PT. Kelola Mina Laut untuk membuat hal tersebut dapat dipenuhi. Seperti  bersaing dengan cara mematok harga tinggi kepada petambak atau supplier   sehingga

mereka akan memberikan udangnya kepada PT. Kelola Mina Laut. Cara ini memang  praktis dan sangat ampuh, namun apabila perusahaan menerapkan cara ini terus-menerus,

PT. Kelola Mina Laut akan jatuh pada efisiensi karena akan banyak uang yang dikeluarkan. Saat jumlah udang melimpah, maka petambak atau pemasok akan enggan

(30)

menurunkan harga terlalu jauh dari harga normal yang telah biasa dibayarkan, sehingga secara perlahan-lahan perusahaan akan kalah bersaing.

PT. Kelola Mina Laut menerapkan cara agar dapat menyediakan pasokan secara konsisten adalah penerapan pola kemitraan dengan baik sehingga membuat petambak atau  pemasok setia mengirimkan udang kepada perusahaan. Ketika udang sedang melimpah, PT. Kelola Mina Laut membeli semua udang yang dikumpulkan pemasok dengan harga yang wajar. Efeknya, ketika udang sedikit, petambak atau pemasok biasanya juga bersedia untuk tidak menaikkan harga terlalu tinggi. Kondisi ini akan menggiring kepada sebuah sistem dimana petambak atau pemasok hanya akan memasok udang atau ikan ke satu  perusahaan saja, yaitu PT. Kelola Mina Laut.

Pengadaan Bahan Baku

PT. Kelola Mina Laut dalam proses produksinya membutuhkan bahan baku utama yaitu udang. Ketersediaan bahan baku tersebut baik secara ketepatan waktu dan jumlah akan mempengaruhi kecepatan proses produksi. Untuk mencegah keterlambatan dan ketidaktersediaan bahan baku perlu diadakan perencanaan produksi sehingga dapat diketahui jumlah bahan baku yang akan dipesan berdasarkan jumlah produk yang akan dihasilkan atau diproduksi. Bahan baku tersebut diperoleh dari mitra perusahaan yang telah terpercaya. Proses pengadaan bahan baku didasarkan pada peramalan ( forecasting ) dan ketersediaan ( stock ) bahan baku yang terdapat di gudang penyimpanan. Mekanisme  perencanaan pengadaan bahan baku dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7 Mekanisme pengadaan bahan baku

Bagian  Marketing   melakukan kontrak penjualan dengan pembeli. Kemudian,  Marketing  memberikan data kepada bagian PPIC   untuk kemudian diolah menjadi data  perencanaan produksi terkait dengan perhitungan jumlah setiap jenis produknya. Perencanaan produksi dilakukan selama sebulan kedepan berdasarkan peramalan terhadap ketersediaan bahan baku udang di gudang maupun di tambak. Pasokan udang akan melimpah pada bulan Desember hingga April. Hal ini diakibatkan para petambak sedang melakukan panen raya sebelum akhirnya dilakukan pembalikan tambak untuk mengembalikan nutrisi. Hal tersebut yang membuat pasokan udang fluktuatif. PT. Kelola

 Forecasting  Bagian  PPIC  Supplier  Bagian  Purchasin Gudang Supplier  Bagian  Marketing  Kontrak Penjualan

(31)

Mina Laut sangat meminimalisir ketersediaan bahan baku udang untuk disimpan di dalam gudang, hal tersebut dikarenakan apabila bahan baku udang disimpan dalam bentuk beku akan mengurangi kualitasnya. Biasanya persediaan disimpan dalam bentuk hasil olahan namun hanya sekedar untuk buffer stock. Setelah mendapatkan jumlah kebutuhan, selanjutnya bagian PPIC akan menghubungi bagian  Purchasing   untuk memesan kebutuhan udang tersebut kepada para supplier .

Bagian Purchasing  bertanggung jawab untuk memenuhi bahan baku dengan cara mendapatkannya dari supplier yang terpilih. Pemilihan  supplier   didasarkan pada jenis udang, kapasitas panen tambak, dan track record  dari petambak tersebut apakah selama ini selalu datang tepat waktu dan tidak menggunakan antibiotik pada udang secara  berlebihan.

Penerimaan Bahan Baku

Bahan baku yang diantarkan oleh  supplier   diterima oleh tim receiving . Pada  bagian ini dilakukan sortasi udang secara kasar untuk memisahkan udang sesuai dengan

standarnya dan memisahkannya juga dari kotoran (kayu, rumput, hewan lain, dll). Sortasi tersebut dilakukan secara organoleptik (tampilan dan bau). Udang yang masih segar, dagingnya kenyal, dan tidak ada kerusakan serta kecacatan fisik maka udang tersebut dikategorikan ke dalam 1st grade.  Apabila terdapat kerusakan seperti mengalami gencetan, daging tidak kenyal, cacat fisik (kaki putus, badan hanya sebagian) dan kulit mulai memerah maka udang tersebut dikategorikan below standard . Untuk udang yang memiliki bau busuk tidak akan diterima oleh PT. Kelola Mina Laut dan akan dikembalikan kepada supplier . Selain itu pada lini ini juga dilakukan pengukuran global size dari udang tersebut, yaitu dengan melakukan sampling pada setiap sepuluh keranjang diambil udang dari masing-masing keranjang secukupnya untuk kemudian dihitung berapa bobotnya (dalam kilogram) dan dihitung berapa pieces udang yang terdapat di dalamnya. Global  size didapat dengan perbandingan jumlah udang per kilogram ( pcs/kg), panduan ukuran udang dapat dilihat pada Lampiran 4. Jumlah udang yang akan dibayarkan oleh PT. Kelola Mina Laut merupakan jumlah udang yang telah diterima dan telah melalui proses sortasi kasar (tidak termasuk reject ) dan dengan mempertimbangkan global size dari keseluruhan udang yang masuk. Pada lini ini juga dilakukan uji mikrobiologis yang dilakukan oleh tim Quality Control (QC) dan  staff   lab. Perusahaan pada umumnya melakukan pengujian mutu sebelum menerima barang tersebut, namun di PT. Kelola Mina Laut barang disortir sambil dilakukan uji oleh tim QC. Hal itu dilakukan dengan tujuan efisiensi waktu dikarenakan tim QC telah memiliki pemetaan terhadap supplier yang memiliki track record  kualitas mutu yang baik sehingga dapat langsung dilaksanakan bersamaan. Udang

(32)

yang telah disortir kemudian akan langsung memasuki lini Pemotongan Kepala (PK). Secara garis besar, proses penerimaan bahan baku dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8. Mekanisme penerimaan bahan baku udang

Gambar 9 Penerimaan bahan baku udang

Penyimpanan dan Penanganan Bahan Baku

Penyimpanan bahan baku di PT. Kelola Mina Laut dilakukan untuk menjaga  pasokan bahan baku udang agar dapat tersedia apabila suatu saat dibutuhkan. Bahan baku

udang disimpan dalam bentuk beku dan diletakkan di dalam cold storage dengan -25 oC. Kualitas bahan baku dipengaruhi oleh penanganan selama penerimaan dan penyimpanan. Penanganan bahan baku di PT. Kelola Mina Laut dilakukan menggunakan beberapa  peralatan penanganan bahan sebagai penunjang kegiatan transportasi dan penyimpanan  bahan baku.

a. Pallet

Pallet merupakan alat penanganan bahan yang digunakan untuk  pemindahan ataupun penyimpanan barang. Pallet berperan sebagai pondasi Supplier 

Sortasi kasar 

 Pengukuran Global Size dan

 penegecekan kualitas  Pemotongan  Kepala Tidak Ya

(33)

struktural beban unit yang memungkinkan penanganan bahan menjadi lebih mudah. Umumnya pallet mempunyai bentuk persegi dan terbuat dari kayu atau plastik. Kuantitas bahan yang diletakkan pada pallet berbeda-beda tergantung pada kapasitas penumpukan bahan dan pola penumpukkan. Pada  pemindahan bahan baku, biasanya digunakan pallet plastik. Penggunaan pallet  plastik digunakan untuk penanganan bahan baku yang dalam prosesnya  banyak menggunakan air. Sedangkan pallet kayu banyak digunakan untuk  pemindahan dan penyimpanan produk jadi.

Gambar 10 Pallet kayu dan pallet plastik Sumber: akflow.com dan ipac.com.my  b. Handlift

Handlift merupakan alat yang digunakan untuk memindahkan produk dalam jumlah tidak terlalu banyak, terbuat dari besi dengan dua garpu yang  berfungsi sebagai bantalan beban. Bagian yang memilik peran penting agar handlift dapat digunakan sesuai fungsinya terletak pada bagian pemompa. Bagian pemompa inilah yang mengendalikan sirkulasi aliran hidrolik untuk mengangkat beban. Penggunaan handlift di PT. Kelola Mina Laut untuk memindahkan bongkahan es, bak penampungan, dan produk jadi dari dalam cold storage ke area loading dock .

Gambar 11 Handlift Sumber: tradeboss.com c. Keranjang plastik

Keranjang berbahan plastik yang digunakan terdiri dari berbagai macam ukuran sesuai dengan kebutuhan. Keranjangan plastik digunakan untuk menemptkan udang setelah proses potong kepala, sortir, dan pencucian udang.

d. Bak penampungan

Bak penampungan digunakan untuk menyimpan udang yang belum sempat diproses dan untuk proses soaking .

(34)

ASPEK PRODUKSI

Perencanaan Produksi

Dalam proses produksi, dibutuhkan keseimbangan antara jumlah produk yang akan dihasilkan dengan ketersediaan bahan baku. Mekanisme perencanaan produk jadi dapat dilihat  pada Gambar 12.

Gambar 12 Mekanisme perencanaan produksi

Produk yang akan diproduksi harus mempertimbangkan permintaan pembeli dan ketersediaan pada gudang produk jadi. Perencanaan produksi dimulai dari bagian  Marketing   melakukan kontrak penjualan dengan pembeli. Kemudian,  Marketing 

memberikan data kepada bagian PPIC untuk kemudian diolah menjadi data perencanaan  produksi terkait dengan perhitungan jumlah setiap jenis produknya. Perencanaan  produksi dilakukan selama sebulan kedepan berdasarkan peramalan terhadap ketersediaan  bahan baku udang di gudang maupun di tambak. Perencanaan produksi juga turut

mempertimbangkan kapasitas sumber daya baik itu mesin atau pun tenaga kerja.

Proses Produksi dan Pengemasan

Proses produksi yang dilakukan di PT. Kelola Mina Lautterdiri daribeberapa proses utama yaitu pemotongan kepala (PK) , sortasi ukuran ( size), pengupasan kulit, pembekuan ( freezing ), dan pengemasan. Udang yang diterima oleh PT. Kelola Mina Laut dalam keadaan segar baik dalam kondisi head on maupun headless. PT. Kelola Mina Laut memproduksi udang beku dalam bentuk headless, sebelumnya udang yang berupa head on dilakukan  proses pemotongan kepalanya terlebih dahulu.

Pemotongan kepala dilakukan dengan tangan melalui penarikan terhadap kepala udang, kemudian diputar ke arah bawah selanjutnya mencabut kepala udang secara cepat dan hati-hati. Hal ini dimaksudkan agar udang tidak rusak, sehingga daging yang berada di dekat kepala tidak ikut terbawa saat kepala dicabut. Selama proses pemotongan

 Forecasting  Bagian  PPIC  Bagian Produksi Gudang Bagian  Marketing  Kontrak Penjualan

(35)

 berlangsung suhu udang dijaga agar tetap dingin dengan cara pemberian es sehingga kualitas udang dapat terjaga.

Setelah pemotongan kepala dilakukan, udang ditampung di dalam bak yang  berisikan air dingin lalu kemudian dicuci menggunakan klorin dengan kadar 50 ppm.

Udang yang sudah dicuci dimasukkan ke dalam keranjang untuk kemudian ditimbang. Penimbangan ini dilakukan untuk mengetahui bobot udang yang dihasilkan dan untuk menentukan bayaran dari karyawan borongan.

Proses selanjutnya adalah sortasi. Sortasi merupakan proses pemisahan udang  berdasarkan ukuran. Proses sortasi dilakukan dengan menggunakan mesin sortasi dan manual. Proses sortasi dengan mesin dilakukan dengan mengatur panel kontrol untuk menentukan ukuran yang diinginkan. Dari hasil tersebut akan didapatkan 5 jenis ukuran udang secara bersamaan, dimulai dari ukuran terkecil sampai terbesar, ukuran yang diinginkan biasanya keluar diantaranya. Proses sortasi manual dilakukan apabila kapasitas mesin tidak mencukupi untuk targetan produksi pada saat itu dan untuk memperkecil kemungkinan kesalahan ukuran pada proses selanjutnya. Ukuran yang lebih kecil akan keluar di bagian atas seterusnya semakin ke bawah yang keluar akan semakin besar. Selama proses sortasi, kondisi dingin selalu dijaga dengan pemberian es dan air dingin. Selanjutnya udang yang telah disortir diberikan label oleh tally yang menunjukkan size, lokasi asal tambak, hari saat udang diterima (sistem julian date), jenis produk yang akan dihasilkan, dan nama pembeli (buyer ).

Setelah proses sortasi, kemudian dilakukan proses pengupasan kulit. Proses ini menyesuaikan terhadap jenis produk yang menjadi permintaan. Ada pun proses yang dilakukan pada lini ini adalah pengupasan, pemotongan ekor, pemngambilan usus, dan  pembelahan daging udang, itu semua tergantung jenis produk yang sesuai pada label pada

keranjang tersebut. Setelah proses ini, dilakukan proses pembekuan.

Proses pembekuan udang olah menggunakan dua metode, yaitu  Block   dan  Individual Quick Frozen  (IQF). Pada metode  Block , setelah proses sortasi udang dilakukan pemisahan warna agar terlihat seragam, kemudian dilaukan penyusunan di dalam inner pan.  Inner pan ini kemudian disusun di dalam long pan yang dapat menampung 3 inner pan. Sebelum disusun tentunya udang harus dicuci terlebih dahulu dengan klorin 50 ppm dan air dingin. Sebelum dilakukan pembekuan, setiap inner pan ditambahkan air dingin yang berfungsi sebagai media pembeku, kemudian pan tersebut diangkut menuju tempat pembekuan. Proses pembekuan dilakukan dengan menggunakan mesin Contact Plate Freezer (CPF). PT. Kelola Mina Laut menggunakan empat mesin CPF dengan kapasitas 240 long pan/unit. Waktu pembekuan CPF adalah sekitar dua sampai tiga jam dengan suhu -35oC. Setelah proses pembekuan dilakukan proses glazing. Glazing merupakan proses yang bertujuan untuk mencegah terjadinya dehidrasi dengan membentuk lapisan es tambahan. Proses ini dilakukan dengan mencelupkan udang block  ke dalam air dingin (suhu antara 0oC sampai 5oC) selama 15 detik. Setelah proses glazing 

(36)

dilakukan, kemudian udang block  dimasukkan ke dalam plastik poli etilen. Selanjutnya dilakukan pendeteksian logam dengan menggunakan alatmetal detector . Pendeteksian ini dilakukan dengan melewatkan produk yang telah dikemas plastik ke atas conveyor mesin  pendeteksi logam. Apabila di dalamnya terdeteksi kandungan logam maka mesin seketika

akan berhenti dan alarm akan berbunyi. Produk yang tidak lolos dari akan dipisahkan dan dicairkan kembali untuk diperiksa dan diambil benda asing di dalamnya. Produk yang telah lolos dari metal detector kemudian dikemas dengan inner carton dan kemudian dimasukkan lagi ke dalam master carton. Setiap kemasan master carton di dalamnya terdapat enam inner carton.

Gambar 13 Mesin Contact Plate Freezer  Sumber: prefabmarket.com

Sedangkan pada metode IQF udang dibekukan per satuan. Sebelum pembekuan dilakukan, udang direndam dengan sodium tripolyphosphate (STPP) untuk perbaikan terkstur agar lebih kenyal dan agar rasa lebih natural selama kurang lebih 2 jam. STPP dapat menurunkan penyusutan makanan, meningkatkan daya mengikat air, dan bersifat sebagai anti oksidan (Sunarlim 1992 dalam Ulupi et al. 2005). Proses ini biasa disebut  juga dengan soaking. Pada proses pembekuan, udang disebarkan merata di atas conveyor dan dilewatkan pada mesin IQF yang menghembuskan udara dingin bersuhu -34 oC kemudian dilakukan proses glazing . Proses glazing dilakukan dengan cara mencelupkan udang ke dalam air dingin bersuhu antara 0 oC sampai 4 oC. Selanjutnya udang dimasukkan lagi ke dalam mesin pembeku. Udang yang telah beku selanjutnya dimasukkan ke dalam plastik poli etilen. Setelah dikemas dengan plastik, produk kemudian dilakukan pendeteksian logam seperti pada metode block. Setelah lolos, kemudian plastik-plastik kemasan tersebut dimasukkan kedalam kemasan karton yang didalamnya dapat menampung beberapa plastik sesuai dengan permintaan.

(37)

Gambar 14 Proses pembekuan udang dengan mesin Individual Quick Frozen Sumber: ramtechrefrigeration.com

Pengolahan Limbah

Limbah yang dihasilkan oleh PT. Kelola Mina Laut sebagian besar berasal dari  proses produksinya. Limbah tersebut dikategorikan menjadi dua yaitu limbah padat dan limbah cair. Limbah padat berupa hasil samping dari proses produksi seperti kulit udang, kepala udang, dan lain sebagainya. Limbah padat ini dijual untuk kemudian diolah lebih lenjut menjadi suatu produk yang lebih berguna seperti pakan ternak. Pengolahan limbah lebih ditekankan pada limbah cair. Hal tersebut dikarenakan limbah cair lebih banyak dihasilkan dari penggunaan air untuk proses produksi dan sanitasi. Pengolahan limbah cair perlu dilakukan sebelum dibuang ke lingkungan. PT. Kelola Mina Laut memiliki unit  pengolahan limbah yang terletak di bagian belakang pabrik. Air limbah dialirkan melalui saluran menuju Bak Penampungan 1 yang dilengkapi dengan penyaringan menggunakan ijuk. Dari Bak Penampungan 1 kemudian dialirkan menuju Bak Penampungan 2 yang  berperan sebagai penyaring menggunakan batu zeolit dan pasir. Selanjutnya, air limbah dialirkan menuju Bak Aerasi dengan disaring menggunakan batu zeolit dan arang aktif, kemudian dialirkan menuju bak pengendapan melalui dinding penyaring terlebih dahulu, dengan tujuan untuk mengurangi tingkat cemaran yang masih ada dalam limbah tersebut. Pada bak pengendapan pertama hanya terdapat batu z eolit saja lalu kemudian dialirkan ke  bak pengendapan kedua yang berfungsi menetralkan air limbah karena di dalamnya terdapat arang aktif. Selanjutnya dialirkan ke dalam bak pengendapan ketiga yang berisi ijuk untuk menyaring partikel-partikel halus. Setelah dari bak penampungan ketiga selanjutnya dialirkan ke bak penampungan keempat yang berisikan batu kerikil dan pasir,  bak ini juga berperan sebagai kontrol sebelum dialirkan ke lingkungan. Pada bak kontrol tersebut terdapat ikan-ikan yang menjadi indikator bahwa air yang berada di dalamnya aman untuk disalurkan ke lingkungan (sungai).

(38)

PEMBAHASAN

Manajemen Rantai Pasok

Menurut Marimin dan Maghfiroh (2011) manajemen rantai pasok merupak an satu kesatuan sistem pemasaran terpadu dalam menyediakan produk dari bahan baku hingga  produk jadi yang mencakup keterpaduan produk dan pelaku guna memberikan kepuasan

kepada konsumen. Supply Chain Management (SCM) mampu mengintegrasikan  pengelolaan berbagai fungsi manajemen dalam suatu hubungan antar-organisasi

membentuk satu sistem yang terpadu dan saling mendukung. Kunci bagi SCM efektif adalah menjadikan para  supplier sebagai mitra dalam strategi perusahaan untuk membentuk suatu sistem yang terpadu dan saling mendukung (Heizer dan Render 2005). PT. Kelola Mina Laut menerapkan strategi kemitraan ini dimana kepada para supplier. Ada tiga macam aliran yang harus dikelola dalam supply chain, diantaranya

a. Pertama, aliran barang yang mengalir dari hulu ke hilir (downstream)  b. Kedua, aliran uang dan sejenisnya yang mengalir dari hilir ke hulu

c. Ketiga, aliran informasi dan sejenisnya yang mengalir dari hilir ke hulu Dapat dikatakan semua kegiatan yang berkaitan dengan material, uang, dan informasi sepanjang rantai pasokan merupakan kegiatan-kegiatan yang menjadi cakupan SCM. (Pujawan 2010 dalam Kristiawan dan Tarigan 2014).

Evaluasi Kinerja Pemasok

Di dalam sistem rantai pasok, perusahaan harus dapat mengoptimalkan  penggunaan waktu, lokasi, dan kuantitas barang. Bagian purchasing   menghubungkan  pemasok ( supplier ) dan pembeli (buyer ) secara erat. Dari sudut pandang perusahaan atau  pelaku ekonomi yang lain di dalam rantai pasokan, terdapat persaingan dengan rantai  pasokan yang lain untuk menjamin pemasok dan pengiriman yang tepat. Persaingan ini mengharuskan perusahaan untuk cermat dalam memilih pemasok sebagai mitra. Perusahaan harus mempertimbangkan banyak kriteria untuk menyeleksi pemasok. Kriteria yang paling sering dipertimbangkan dan menjadi prioritas adalah kriteria harga, kualitas, dan pengiriman (Zang et al. 2003).

Pemilihan dan evaluasi terhadap pemasok mempunyai peranan yang sangat  penting di dalam suatu proses rantai pasokan yang tentunya juga akan menentukan kesuksesan perusahaan. Hal ini dikarenakan biaya dan kualitas barang dan j asa yang dijual kepada konsumen secara langsung akan berhubungan dengan biaya dan kualitas barang dan jasa yang dibeli dari pemasok (Sevkli et al . 2007). Hal penting di dalam permasalahan

Gambar

Tabel 1 Jenis pabrik pengolahan di PT. Kelola Mina Laut No  Jenis Pabrik Pengolahan  Jumlah
Tabel 2 Deskripsi pekerjaan dari struktur organisasi PT. Kelola Mina Laut.
Tabel 3 Jumlah tenaga kerja di PT. Kelola Mina Laut
Tabel 4 Jadwal jam istirahat karyawan PT Kelola Mina Laut Unit  Jam Istirahat
+7

Referensi

Dokumen terkait