SPESIES KUTU TANAMAN (Subordo: Sternorrhyncha)
PADA TANAMAN HIAS DI BOGOR DAN SEKITARNYA
FIQI SYARIPAH
DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
ABSTRAK
FIQI SYARIPAH. Spesies Kutu Tanaman (Subordo: Sternorrhyncha) pada Tanaman Hias di Bogor dan Sekitarnya. Dibimbing oleh DEWI SARTIAMI.
Kutu tanaman adalah salah satu kelompok serangga hama yang dapat menyerang tanaman hias. Kelompok serangga ini merupakan ordo Hemiptera, subordo Sternorrhyncha. Beberapa famili kutu tanaman banyak dijumpai menyerang tanaman hias antara lain adalah famili Aleyrodidae (kutu kebul), Aphididae (kutu daun), Diaspididae (kutu perisai), Coccidae (kutu tempurung), Pseudococcidae (kutu putih) dan Margarodidae (kutu kapuk). Kutu tanaman ini bersifat polifag. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengetahui keanekaragaman spesies kutu tanaman pada tanaman hias. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pengkoleksian kutu tanaman, pembuatan preparat mikroskop, identifikasi dan pemotretan. Pengkoleksian kutu tanaman dilakukan di tempat-tempat yang terdapat tanaman hias di Bogor dan sekitarnya. Hasil penelitian ditemukan 28 spesies kutu tanaman yang terdiri dari 7 famili kutu tanaman yang ditemukan pada 37 spesies tanaman hias. Famili kutu tanaman yang menyerang yaitu Ortheziidae, Margarodidae, Coccidae, Diaspididae, Pseudococcidae, Aleyrodidae dan Aphididae. Dari famili Pseudococcidae sebagai berikut: Dysmicoccus brevipes (Cockerell), Dysmicoccus neobrevipes Beardsley, Ferrisia virgata (Cockerell), Maconellicoccus hirsitus (Green), Phenacoccus solenopsis Tinsley, Planococcus minor (Maskell), Pseudococcus jackbeardsleyi Gimpel & Miller, Rastrococcus spinosus (Robinson) dan Rastrococcus sp.. Dari famili Diaspididae sebagai berikut: Acutaspis umbonifera Borchsenius, Aulacaspis rosarum Borchsenius, Aulacaspis yatsumatsui, Hemiberlesia palmae (Cockerell), Lepidosaphes tokionis (Kuwana), Parlatoria sp. dan Pinnaspis sp.. Dari famili Aphididae sebagai berikut: Aphis gossypii Glover, Cinara tujafilina (Del Guercio), dan Toxoptera aurantii (Boyer de Fonscolombe). Dari famili Aleyrodidae sebagai berikut: Aleurodicus dispersus (Russell), Aleurodicus diugesii (Cockerell), dan Orchamoplatus mammaeferus (Quaintance & Baker). Dari famili Coccidae sebagai berikut: Coccus celeatus De Lotto, Parasaissetia nigra (Neitner), Saissetia neglecta De lotto. Dari famili Margarodidae sebagai berikut Icerya aegyptica (Douglas) dan Icerya seychellarum (Westwood). Dari famili Ortheziidae yaitu Insignorthezia insignis Browne.
Kata kunci: Kutu tanaman, Sternorrhyncha, Pseudococcidae, Diaspididae, Tanaman hias.
SPESIES KUTU TANAMAN (Subordo: Sternorrhyncha)
PADA TANAMAN HIAS DI BOGOR DAN SEKITARNYA
FIQI SYARIPAH
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Pertanian pada Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
Judul Skripsi : Spesies Kutu Tanaman (Subordo: Sternorrhyncha) pada Tanaman Hias di Bogor dan Sekitarnya
Nama Mahasiswa : Fiqi Syaripah
NIM : A34080047
Disetujui, Dosen Pembimbing
Dra . Dewi Sartiami, Msi NIP.19641204199103 2 001
Diketahui, Ketua Departemen
Dr. Ir. Abdjad Asih Nawangsih, Msi NIP.19650621 198910 2 001
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Kota Bogor, Jawa Barat pada tanggal 25 September 1990 sebagai anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Deni Mulyadi dan Ibu Khadijah Fitriani.
Pada tahun 2008 penulis menyelesaikan pendidikan di SMA Muhammadiyah 2 Surabaya. Tahun 2008 penulis diterima sebagai mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas pertanian, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).
Selama menjalani pendidikan di Institut pertanian Bogor, penulis aktif di Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman (HIMASITA) pada divisi keprofesian. Penulis juga aktif mengikuti kepanitian seperti Panitia National Plant Protection (NPV 2010), Panitia Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB 2009), Panitia Olimpiade Mahasiswa IPB (OMI 2010).
PRAKATA
Segala puji dan syukur dipanjatkan ke hadirat Allah Subhanahuwata’ala, atas rahmat dan hidayah-Nya yang telah diberikan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas akhir yang berjudul “Spesies Kutu Tanaman (Hemiptera: Sternorrhyncha) pada Tanaman Hias”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2012 sampai Juni 2012.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:
1. Dra. Dewi Sartiami, MSi selaku dosen pembimbing yang telah memberi ilmu, bimbingan, arahan, fasilitas, bantuan, motivasi, kritik dan saran sejak persiapan penelitian hingga penulisan skripsi ini selesai.
2. Dr. Ir. Sri Hendrastuti Hidayat, Msc. selaku dosen pembimbing akademik dan dosen penguji tamu, yang telah memberi dukungan, motivasi dan saran. 3. Kedua orang tua dan adik-adik tercinta Deni Mulyadi, Khadijah Fitriani,
Miristika Fardiaz, Dilla Syauqi zein dan Salma Syahrazad Zein yang selalu memberikan dukungan, fasilitas dan motivasi.
4. Anggota Laboratorium Biosistematika serangga Ibu Aisyah, Ibu Atik dan Lia Nurulalia
5. Sahabat yang selalu memberikan motivasi Hada Syaairillah, Nabila, Shafiatul Gina dan Testa.
6. Temen-temen seperjuangan Proteksi Tanamaan angkatan 45 Rizkika Latania, Sagita Phinanthie, Nia Tri Kusuma, Keysia Disa, Bustanul, Romi, Ciptadi, Ariel, Rizky Irawan dan yang lainnya
7. Rasa terima kasih penulis sampaikan juga kepada kakak-Kakak kelas angkatan 44 dan mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman yang selalu memberikan semangat dan dukungannya.
Penulis menyadari bahwa dalam skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan untuk penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Bogor, September 2012
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix DAFTAR LAMPIRAN ... x PENDAHULUAN ... 1 Latar Belakang ... 1 Tujuan Penelitian ... 2 Manfaat Penelitian ... 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 3
Nilai Ekonomi Tanaman Hias ... 3
Kutu Tanaman ... 4
Ciri Superfamili Coccoidea ... 4
Famili Ortheziidae ... 5 Famili Margarodidae ... 5 Famili Coccidae ... 6 Famili Diaspididae ... 6 Famili Pseudococcidae ... 7 Famili Aleyrodidae ... 8 Famili Aphididae ... 9
BAHAN DAN METODE ... 10
Tempat dan Waktu ... 10
Pengkoleksian Kutu Tanaman ... 10
Pembuatan Preparat Kutu Tanaman ... 11
Pseudococcidae, Diaspididae, Coccidae, Ortheziidae, Margarodidae 11
Aphididae ... 12
Aleyrodidae ... 12
Identifikasi Kutu tanaman ... 13
Identifikasi Tanaman Inang ... 14
Pembuatan Foto Kutu Tanaman ... 14
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 15
Tanaman Inang ... 15
Kutu Tanaman yang Ditemukan ... 15
Spesies Kutu Tanaman dan Tanaman Inangnya ... 20
Famili Ortheziidae ... 20 Famili Margarodidae ... 20 Famili Coccidae ... 23 Famili Diaspididae ... 24 Famili Pseudococcidae ... 29 Famili Aleyrodidae ... 36 Famili Aphididae ... 38
Halaman
KESIMPULAN DAN SARAN ... 53
Kesimpulan ... 53
Saran ... 53
DAFTAR PUSTAKA ... 54
DAFTAR TABEL
Halaman 1. Famili dan spesies kutu tanaman yang ditemukan pada berbagai
famili tanaman... 17 2. Tanaman inang famili Ortheziidae Menurut Kalshoven (1981), Hasil
Penelitian sendiri, Williams & Watson (1988) dan Ditlin Hortikultura (2011) ... 44 3. Tanaman inang famili Margarodidae Menurut Kalshoven (1981),
Hasil Penelitian sendiri, Williams & Watson (1988) dan Ditlin
Hortikultura (2011) dan scalenet... 44 4. Tanaman inang famili Coccidae menurut Kalshoven (1981), hasil
penelitian sendiri, Williams & Watson (1988), Miller et al.(2001)
dan Scalenet ... 46 5. Tanaman inang famili Diaspididdae menurut Kalshoven (1981),
hasil penelitian sendiri, Williams & Watson (1988), Miller et al.
(2001) dan Scalenet ... 47 6. Tanaman inang famili Pseudococcidae menurut Miller et al. (2001),
hasil penelitian sendiri, Williams (2004), Ditlin Hortikultura (2011)
dan Scalenet ... 48 7. Tanaman inang famili Aleyrodidae menurut Kalshoven (1981), hasil
penelitian sendiri, Bintoro (2008) dan Evans (2006) ... 51 8. Tanaman inang Aphididae menurut Kalshoven (1981), hasil
penelitian sendiri, Blackman & Eastop (2000) dan Ditlin Hortikultura (2011) ... 52
DAFTAR GAMBAR
Halaman 1. Orthezia insignis imago, nimfa ... 20 2. Icerya aegyptica imago, imago pada batang puring, koloni imago
betina pada daun puring ... 21 3. Icerya seychellarum imago betina pada tanaman paku-pakuan,
koloni kutu kapuk pada tanaman belenceng, imago betina yang berasosiasi dengan semut pada tanaman palem kamedoria, imago betina pada tanaman Philodendron sp., imago betina pada tanaman
iris kuning, imago betina pada tanaman lili kucai panjang ... 22 4. Coccus celeatus koloni imago betina, imago betina ... 23 5. Parasaissetia nigra koloni imago betina, imago betina ... 23 6. Saissetia neglecta koloni imago betina pada batang, tangkai dan
daun, imago betina ... 24 7. Acutaspis umboniferus koloni imago betina, imago betina ... 25 8. Aulacaspis rosarum koloni imago betina pada tangkai, imago ... 25 9. Aulacaspis yasumatsui imago betina, koloni kutu pada permukaan
bawah daun, gejala tanaman terkena A. yasumatsui ... 26 10. Hemiberlesia palmae koloni kutu betina dibawah permukaan daun,
imago betina ... 27 11. Lepidosaphes tokionis koloni imago betina, imago betina ... 27 12. Parlatoria sp. bagian tanaman yang terserang, imago betina ... 28 13. Pinnaspis sp. koloni imago betina dan jantan, imago betina, gejala
serangan pada tanaman ... 29 14. Dysmicoccus brevipes koloni kutu, imago betina ... 29 15. Dysmicoccus neobrevipes koloni kutu pada tanaman pandan laut,
imago betina pada tanaman pandan laut, imago betina pada tanaman aglaonema, imago betina pada tanaman Agava sp., imago betina pada tanaman medinilla, tanaman aglaonema yang terserang D.
neobrevipes ... 30 16. Ferrisia virgata imago betina pada tanaman kamboja, imago betina
pada tanaman kuping gajah yang bercampur dengan Coccus celeatus,
imago betina pada tanaman puring, koloni kutu pada tanaman puring 31 17. Maconelicoccus hirsitus kumpulan telur, imago betina... 32 18. Phenacoccus solenopsis koloni imago betina, imago betina ... 33 19. Planococcus minor imago betina pada tanaman soka, koloni kutu
pada tanaman jodia yang berasosiasi dengan semut, imago betina pada tanaman kemuning, koloni kutu pada tanaman batavia, imago
betina pada tanaman puring, koloni kutu pada tanaman puring ... 34 20. Pseudococcus jackbeardsleyi koloni kutu pada tangkai tanaman,
imago betina, koloni kutu diantara tangkai tanaman, embun jelaga
pada daun ... 35 21. Imago betina Rastrococcus spinosus ... 35 22. Rastrococcus sp. imago betina, koloni kutu ... 36
Halaman 23. Aleurodicus dispersus bagian tanaman yang terserang, kantung pupa
dan imago kutu ... 37 24. Aleurodicus dugesii kumpulan pupa, pupa ... 37 25. Orchamoplatus mammaeferus koloni kantung pupa, kantung pupa .... 38 26. Aphis gossypii koloni kutu , imago kutu, koloni kutu pada tangkai
daun ... 39 27. Cinara tujafilina imago kutu, koloni kutu daun dan imago bersayap
pada tanaman... 39 28. Toxoptera aurantii imago bersayap dan tidak bersayap, bagian pucuk
tanaman yang terserang ... 40 29. Musuh alami yang ditemukan pada tanaman hias: predator larva
Scymnus sp., imago Scymnus sp., asosiasi Scymnus sp. dengan kutu putih, imago Curinus coeruleus, larva Cecidomyiidae, imago
Cecidomyiidae ... 42 30. Musuh alami yang ditemukan pada tanaman hias: parasitoid yang
ditemukan di dalam tubuh Planococcus minor pada tanaman adenium ... 43
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman 1. Tanaman inang yang diamati selama penelitian ... 58 2. Famili tanaman yang terserang berbagai spesies kutu tanaman ... 60 3. Foto tanaman inang yang diamati selama penelitian ... 62
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman hias merupakan komoditas hortikultura yang banyak diminati oleh masyarakat karena memiliki keindahan dan estetika. Selain itu tanaman hias merupakan karya seni dan teknologi yang kian hari didambakan oleh manusia (Arifin 2004). Kehadiran tanaman hias di dalam ruangan maupun di luar ruangan dapat memberikan nuansa asri tersendiri, adapun fungsi dari tanaman hias diantaranya sebagai penyejuk, peneduh, penyegar udara, penghijauan, kepentingan lanskap tanam, aksesoris dan memperindah ruangan (Rukmana 1997). Oleh sebab itu budidaya tanaman hias harus sangat diperhatikan mulai dari pembersihan area, penyiraman, pemupukan, pemangkasan, penyiangan, penyinaran, pengendalian hama dan penyakit serta rotasi tanaman.
Kendala yang dihadapi dalam budidaya tanaman hias salah satunya adalah adanya serangan hama sebagai organisme penggangu tanaman (OPT). Salah satu kelompok serangga hama yang dapat menyerang tanaman hias adalah kutu tanaman yang merupakan kelompok serangga ordo Hemiptera, subordo Sternorrhyncha dan superfamili Coccoidea, kelompok ini berperan sebagai serangga fitofag. Tiga famili terbesar dalam kelompok tersebut adalah famili Pseudocococcidae, Coccidae dan Diaspididae (Williams 1996). Beberapa famili kutu tanaman banyak dijumpai menyerang tanaman hias antara lain adalah famili Aleyrodidae (kutu kebul), Aphididae (kutu daun), Diaspididae (kutu perisai), Coccidae (kutu tempurung), Pseudococcidae (kutu putih) dan Margarodidae (kutu kapuk) (Sartiami et al. 2011). Kutu tanaman ini bersifat polifag dan dapat menyerang berbagai jenis tanaman penting seperti kelapa, tebu, kopi, kakao, karet, tanaman buah-buahan, tanaman hias dan lain-lain (Kalshoven 1981).
Keberadaan kutu tanaman pada tanaman hias dapat menyebabkan gangguan secara fisiologis pada tanaman, bahkan dengan serangan populasi tinggi dapat menyebabkan kematian tanaman. Hal ini disebabkan kutu tanaman menusukkan stilet pada jaringan tanaman dan menghisap cairan tanaman tersebut. Beberapa jenis kutu tanaman dapat berperan sebagi vektor virus dan dapat juga
2
menimbulkan klorosis (Williams dan Granara de Willink 1992). Kerugian lain yang diakibatkan oleh serangan kutu tanaman ialah timbulnya embun jelaga. Embun jelaga adalah massa cendawan yang tumbuh pada embun madu yang merupakan hasil ekskresi kutu tanaman, hal ini mengganggu proses fotosintesis karena embun jelaga akan menutupi permukaan daun dan dapat merusak keindahan dari tanaman hias (Sartiami et al. 2011).
Beberapa spesies kutu tanaman dapat menyerang pada lokasi dan tanaman inang yang sama. Kutu tanaman yang menyerang tidak hanya satu spesies kutu, melainkan dua atau lebih spesies kutu dari satu famili tanaman. Pengetahuan tentang keanekaragaman spesies kutu tanaman pada tanaman hias di Indonesia masih terbatas. Pengetahuan tentang spesies kutu tanaman yang menyerang tanaman hias ini diperlukan karena banyak tanaman hias yang terserang oleh kutu tanaman sehingga menimbulkan kerugian pada tanaman itu sendiri. Hal tersebutlah yang mendasari dilakukan identifikasi kutu tanaman pada tanaman hias.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengetahui berbagai jenis spesies kutu tanaman pada tanaman hias di Bogor dan sekitarnya.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan informasi mengenai berbagai jenis spesies kutu tanaman pada tanaman hias di Bogor dan sekitarnya.
TINJAUAN PUSTAKA
Nilai Ekonomi Tanaman Hias
Tanaman hias merupakan salah satu komoditas agribisnis yang cukup digemari di Indonesia. Selain mudah ditanam, beberapa tanaman hias memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Tanaman hias dapat dibagi sesuai daya tariknya dan penempatan atau pemanfaatannya. Berdasarkan daya tariknya, tanaman hias dikelompokkan menjadi tanaman hias bunga dan tanaman hias daun. Dari segi penempatan atau pemanfaatannya, dikelompokkan menjadi tanaman hias pot, tanaman hias taman, dan tanaman hias bunga potong. Saat ini perkembangan komoditas tanaman hias sangat pesat, dari mulai pinggir jalan sampai perusahaan besar. Hal ini sebagai dampak dari kesadaran masyarakat akan keindahan lingkungan, baik di luar maupun di dalam ruangan. Disamping itu, penjualan tanaman hias sangat menjanjikan keuntungan yang cukup besar (Tamam dan Soedjatmiko 2006).
Tanaman hias memerlukan perawatan yang spesifik dan teknik budidaya yang baik. Perawatan dan teknik budidaya tersebut meliputi pengolahan media tanam yang sesuai, pemilihan benih atau bibit yang sehat, pemberian air secara teratur, pemupukan seimbang sesuai dengan dosis, penyiangan gulma dan pemangkasan tanmaan secara teratur. Bila budidaya tanaman hias telah dilakukan dengan aturan tersebut di atas, maka gangguan hama atau penyakit akan berkurang sehingga pencinta tanaman hias dapan memiliki nilai estetika yang diinginkan dan bagi para penjual/petani tanaman hias dapat memperoleh keuntungan yang optimal (Rukmana dan Saputra 1997).
Tanaman hias memiliki banyak manfaat dalam kehidupan manusia baik dari segi estetika maupun ekonomi. Pada saat ini tanaman hias tidak hanya digunakan untuk mengungkapkan perasaan atau sebagai penghias taman tetapi dapat dijadikan sebagai bahan kecantikan (mawar), selain itu menurut Riskomar (2002) tanaman hias juga bisa dijadikan sebagai obat-obatan (lidah buaya dan lavender), sumber devisa negara (cemara udang dan krisan) dan beberapa tanaman hias seperti mawar, melati dan kenanga memiliki kandungan minyak atsiri yang dapat didestilasi dan bernilai tinggi.
4
Produksi produk-produk tanaman hias di Indonesia cenderung terus meningkat dari tahun 2009-2010 (Direktorat Budidaya dan Pascapanen Florikultura 2012). Hal ini mengindikasikan bahwa subsektor hortikultura merupakan subsektor yang mempunyai prospek baik dimasa mendatang sehingga dapat diandalkan untuk memajukan perekonomian Indonesia.
Kutu Tanaman
Ciri Superfamili Coccoidea
Kutu tanaman termasuk dalam kelompok serangga ordo Hemiptera, subordo Sternorrhyncha dan superfamili Coccoidea. Superfamili Coccoidea merupakan salah satu kelompok serangga fitofag yang banyak berperan sebagai hama dan merugikan tanaman seperti tanaman hortikultura. Superfamili Coccoidea terdiri dari 23 famili, 3 famili terbesar dalam kelompok tersebut antara lain Diaspididae Pseudococcidae dan Coccidae (Williams 1996). Famili Pseudococcidae biasanya disebut juga mealybugs atau dalam bahasa indonesia disebut kutu putih, sedangkan famili Coccidae disebut soft scales atau dalam bahasa Indonesia kutu tempurung. Famili Diaspididae disebut juga armoured scales atau kutu perisai (Sosromarsono et al. 2007)
Beberapa spesies memiliki tanaman inang yang spesifik dan ada yang polifag. Biasanya imago betina tidak aktif bergerak dan tidak memiliki ovipositor, tetapi memiliki vulva (Borror et al. 1996). Reproduksi famili ini bisa seksual dan partenogenetik. Instar pertama aktif bergerak dan mencari makan. Imago betina menghisap cairan dari jaringan floem dan menghasilkan embun madu yang berasosiasi dengan semut. Semut dapat melindungi kutu dari musuh alami dan membantu dalam penyebaran serangga tersebut. Serangga ini memiliki stilet yang panjang, stilet dapat menusuk jaringan tanaman dan menghisap cairan. Serangga-serangga ini selain dapat menurunkan ketahanan tanaman karena hisapan stiletnya, beberapa jenis dapat berperan sebagai vektor virus dan dapat juga menimbulkan klorosis karena air liurnya yang bersifat racun (Williams dan Granara de Willink 1992). Jika seluruh cairan tanaman dihisap maka dapat menyebabkan kerusakan yang berat pada tanaman. Permukaan tubuh ditutupi
dengan lapisan lilin yang dikeluarkan oleh porus melalui proses sekresi. Penyebaran dan jenis porus dapat digunakan untuk mengidentifikasi spesies imago betina (Borror et al. 1996; Williams dan Watson 1988).
Famili Ortheziidae
Famili Ortheziidae merupakan famili primitif dalam kelompok coccoidea karena mirip dengan famili Margarodidae, imago betina memiliki abdomen spirakel dan imago jantan memiliki mata majemuk (CSIRO 1991). Imago betina memiliki segmen yang jelas, berbentuk bulat memanjang beberapa anggota kelompok ini memiliki kantung telur pada ujung posterior yang berwarna putih (Borror et al. 1996). Imago betina memiliki kantung telur yang memanjang (William dan Watson 1990).
Famili ini memiliki 80 spesies yang termasuk ke dalam enam genus, genus terbanyak ialah Orthezia. Terdapat 60 spesies di dalam genus Orthezia dan hanya satu spesies yang diketahui berasal dari bagian selatan pasifik yaitu Insignorthezia insignis yang menyerang Latana camara (William dan Watson 1990). Peronti et al. (2001) menemukan Insignorthezia insignis menyerang 5 famili tanaman hias di Brazil antara lain Myrsinaceae, Amaranthaceae, Verbenaceae, Acanthaceae dan Labiatae.
Famili Margarodidae
Famili Margarodidae sering disebut kutu kapuk (Sosromarsono et al. 2007). Kelompok serangga ini termasuk famili primitife diantara kelompok superfamili Coccoidea (CSIRO 1991). Imago jantan kelompok serangga ini mempunyai sepasang mata majemuk (Compound eye) dan sayap yang berwarna gelap, sedangkan imago betina memiliki abdomen spirakel 2-7 pasang (William dan Watson 1990). Beberapa anggota kelompok serangga ini mempunyai panjang tubuh hampir 25mm (Borror et al. 1996), tubuh serangga ini ditutupi lilin yang berwarna putih atau kuning dengan antena dan tungkai yang berwarna hitam.
Kelompok serangga ini menjadi hama yang penting pada tanaman kehutanan dan tanaman buah, juga terdapat spesies yang hidup di bawah
6
permukaan tanah yang dapat menghancurkan tanaman tebu dan anggur (William dan Watson 1990). Di Indonesia kelompok serangga ini menyerang tanaman jeruk, kembang sepatu dan mawar di daerah pulau Jawa dan pulau Sumatra (Kalshoven 1981).
Famili Coccidae
Famili Coccidae sering disebut juga kutu tempurung (Sosromarsono et al. 2007). Famili ini merupakan famili terbesar setelah Diaspididae dan Pseudococcidae, kelompok serangga ini terdiri atas 1000 spesies yang menyerang tanaman hutan, hias dan buah (William dan Watson 1990).
Kutu ini memiliki tempurung sebagai pelindung tubuh dengan struktur keras dan tidak bisa dilepaskan dari tubuhnya. Tempurung terbentuk pada stadia pradewasa instar akhir. Imago betina selama hidupnya tetap dalam tempurungnya sedangkan imago jantan ada yang memiliki sepasang sayap yang aktif bergerak dan ada yang tidak memiliki sayap. Perkembangbiakan kutu ini bisa terjadi secara ovipar, ovovivivar dan vivipar (William dan Watson 1990). Pertumbuhan kelompok serangga ini dipengaruhi cuaca, populasi tertinggi pada musim kemarau. Koloni kutu lebih banyak di dataran rendah dibanding dataran tinggi (Kalshoven 1981) .
Umumnya kutu tempurung bersifat polifag, famili ini menjadi hama penting pada tanaman pertanian, hortikultura dan kehutanan (Hodgson 1994). Peronti et al. (2001) menemukan 8 spesies coccidae yang menyerang tanaman hias di Brazil antara lain Coccus hesperidum, Coccus viridis, Coccus sp., Parasaissetia nigra, Parasaissetia sp., Protopulvinaria pyriformis, Pulvinaria urbicola, dan Saissetia coffeae. Di Indonesia pertama kali ditemukan pada kopi dan tanaman hias kaca piring (Kalshoven 1981).
Famili Diaspididae
Famili Diaspididae sering disebut kutu perisai (Sosromarsono et al. 2007). Famili ini merupakan famili terbesar di antara Pseudococcidae dan Coccidae. Kelompok serangga ini memiliki perisai yang tebal dan kuat sehingga bisa hidup menempel pada tanaman inang. Perisai ini berfungsi sebagai pelindung dan bisa dipisahkan dari tubuhnya. Perisai ini melindungi telur dan nimfa yang baru menetas. Bentuk tubuh imago betina berbentuk oval atau bulat yang terlindungi
oleh perisai dan terdiri dari tiga instar, sedangkan imago jantan memiliki perisai yang lebih kecil atau ramping dibandingkan imago betina dan terdiri dari lima instar (William dan Watson 1988). Imago jantan memiliki sepasang sayap sehingga mampu aktif bergerak (Kalshoven 1981).
Serangga kelompok ini bersifat polifag. Kerusakan yang terlihat pada bagian tanaman yang terserang akan menguning, apabila terjadi serangan berat akan mengakibatkan tanaman berubah warna. Pertumbuhan tanaman akan terhambat, layu, rontok dan akhirnya tanaman mati (Kalshoven 1981). Peronti at el. (2001) menemukan 17 spesies diaspididae yang menyerang tanaman hias di Brazil antara lain Pinnaspis sp., Pinnaspis strachani, Pinnaspis aspidistrae, Pseudaonidia trilobitiformis, Pseudaulacaspis pentagona, Pseudischnaspis bowreyi, Selenaspidus articulates, Parlatoria proteus, ischnaspis longirostris, Howardia biclavis, Hemiberlesia rapax, Fiorinia fioriniae, Abgrallaspis cyanophylli, Acutaspis perseae, Chrysomphalus aonidum, Chrysomphalus dictyospermi, dan Diaspis boisduvalii.
Famili Pseudococcidae
Famili Pseudococcidae sering disebut kutu putih (Sosromarsono et al. 2007). Kelompok serangga ini merupakan famili terbesar ke-dua setelah Diaspididae (William 1985). Tubuh imago betina berbentuk bulat atau oval dan ditutupi lilin, lilin ini berfungsi sebagai pelindung tubuh, dikeluarkan oleh porus pada kutikula melalui proses sekresi. Lilin-lilin ini merupakan salah satu ciri morfologi untuk mengidentifikasi spesies imago betina. Imago betina kutu putih tidak memiliki sayap, tidak aktif bergerak dan berkembang setelah melalui proses ganti kulit (moulting) (Kalshoven 1981; Williams 2004), sedangkan imago jantan kutu putih mempunyai sayap sehingga lebih sering berpindah tempat. Ukuran imago jantan lebih kecil dibandingkan imago betina (Williams 1985). Imago betina kutu putih terdiri dari tiga instar nimfa dan imago jantan terdiri dari dua instra nimfa dan dua tahapan pupa (Cox 1989). Perkembangbiakan kutu putih bersifat partenogenetik dan atau seksual (Williams 1985). Kutu putih mengeluarkan cairan berupa embun madu sehingga kutu putih ini sering bersimbiosis dengan semut. Simbiosis antara kutu putih dengan semut bersifat mutualisme (Kalshoven 1981, Cox 1987, McKenzie 1967). Semut mendapatkan
8
pakan berupa embun madu dari kutu putih serta semut dapat membantu pemencaran kutu putih, perlindungan dari musuh alami dan pembuatan tempat perlindungan (McKenzie 1967).
Pada umumnya kutu ini memiliki kisaran inang yang luas sehingga bersifat polifag. di Indonesia tercatat ada 18 jenis tanaman yang tergolong dalam 14 famili buah buahan yang menjadi inang dari kutu putih (Sartiami 1999). CABI (2002) menyatakan bahwa D. brevipes memiliki inang lebih dari 100 genus yang berasal dari 53 famili tumbuhan. Peronti et al. (2001) menemukan 7 spesies kutu putih yang menyerang tanaman hias di Brazil antara lain Ferrisisa virgata, Nipaecoccus nipae, Phenacoccus medeiriensis, Planococcus sp., Planococcus citri, Pseudococcus longispinus dan Pseudococcus sp..
Famili Aleyrodidae
Famili Aleyrodidae disebut juga kutu kebul (Sosromarsono et al. 2007). Famili ini hingga saat ini berjumlah 1200 spesies. Kutu kebul dikelompokkan ke dalam tiga sub famili yaitu Aleurodicinae terdiri atas 18 genera dan 120 spesies terutama terdapat didaerah Neotropical, Aleyrodinae terdiri atas 112 genera dan 1080 spesies dan merupakan subfamili terbesar dan terdistribusi luas diseluruh dunia dan Udamoselinae terdiri atas satu genus , satu spesies yang tidak tergolong ke dalam hama (Watson 2007). Kutu kebul adalah hama penting terutama jika kutu ini menyerang tanaman bernilai tinggi seperti tanaman hias, hortikultura dan tanaman buah. Stadium imago dan stadium nimfa mempunyai struktur sangat khusus di sekitar anus yaitu Vasiform orifice, operculum dan lingula yang berperan dalam ekskresi embun madu.
Dalam siklus hidup kutu kebul hanya instar pertama yang memiliki tungkai untuk bergerak mencari tempat yang sesuai, selanjutnya tungkai tersebut tereduksi sehingga tidak dapat berpindah tempat, pada stadium akhir kutu kebul menghentikan aktivitas makannya dan membentuk semacam kubah perlindungan menuju stadium imago, biasa disebut puparium. Setelah melewati fase pupa kutu kebul menjadi imago. Kulit pupa tetap menempel pada permukaan daun untuk jangka waktu lama (Watson 2007).
Famili Aphididae
Kutudaun merupakan kelompok serangga hama yang bersifat polifag yang merusak tanaman dengan cara menghisap cairan daun sehingga tanaman menjadi layu dan kering, hama ini juga berperan sebagai vektor virus penyakit tanaman. Menurut Blackman dan Eastop (2000) terdapat 300 spesies kutu daun yang menjadi vektor virus penyakit tanaman. Kerugian yang disebabkan oleh kutudaun sebagai harna berkisar antara 6-25% dan sebagai vektor dapat rnencapai lebih dari 80%. Besar kecilnya angka kerugian itu erat kaitannya dengan umur dan varietas tanaman serta jenis virus dan sifat kutudaun (Kranz et al. 1978). Kutudaun juga memproduksi embun madu yang dapat menjadi media tumbuh cendawan.
Imago kutu daun terdiri dari dua bentuk yaitu imago bersayap dan imago tidak bersayap (Kalshoven 1981). Ciri khas dari kutudaun ini pada abdomen belakang terdapat sepasang kornikel, yang berperan dalam mengeluarkan cairan sebagai pertahanan (Borror et al. 1996). Imago bersayap biasanya muncul bila kepadatan populasi tinggi. Seranggga ini mempunyai tingkat kepiridian yang tinggi, dan di daerah tropis berkembang biak secara partenogenesis dan vivipar. Embrio dapat terbentuk tanpa melalui proses pembuahan dan telah berkembang di dalam tubuh induknya sehingga imago kutudaun tampak seperti melahirkan nimfa (Kalshoven 1981). Laju pertumbuhan kutudaun dipengaruhi oleh tingkat kelahiran, kematian faktor lingkungan, kepadatan populasi, dan perbandingan antara serangga yang tidak produktif dengan yang masih produktif (Dixon 1985).
Kutudaun memiliki inang yang spesifik namun ada beberapa spesies kutudaun yang dapat hidup pada banyak spesies inang (Blackman dan Eastop 2000). Keberadaan kutudaun pada suatu tempat dipengaruhi oleh inang dan faktor-faktor lingkungan seperti suhu dan curah hujan (Blackman dan Eastop 1994).
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian dilakukan dengan mengoleksi kutu putih dari berbagai tanaman hias di Bogor dan sekitarnya. Contoh diambil dari berbagai lokasi yaitu : Kelurahan Tanah baru (Kecamatan Bogor Utara), Kelurahan Pasir Kuda (Kecamatan Bogor Barat), Kelurahan Baranangsiang (Bogor Timur), Kelurahan Sempur (Bogor Tengah), Kelurahan Cibanteng (Kecamatan Ciampea), Kelurahan Babakan Raya (Kecamatan Dramaga) dan Kelurahan Cemplang (Kecamatan Cibungbulang), Kelurahan Cipayung (Kecamatan Jakarta Timur). Identifikasi dilakukan di Laboratorium Biosistematika Serangga, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dimulai dari Februari 2012 hingga Juni 2012.
Pengoleksian Kutu Tanaman
Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel kutu tanaman pada bagian pucuk tanaman, ketiak daun, bunga dan batang tanaman inang untuk diidentifikasi di laboratorium. Kutu tanaman yang ditemukan pada tanaman hias berupa imago betina yang diambil kemudian dimasukan kedalam kantung plastik yang digembungkan. Sampel kutu tanaman tersebut dibawa ke Laboratorium Biosistematika Serangga, Departemen Proteksi Tanaman IPB. Dengan bantuan mikroskop cahaya, imago-imago betina dari berbagai tanaman hias dipisahkan menurut jenis tanaman hias dan dimasukan ke dalam alkohol 70% untuk diawetkan dalam bentuk preparat mikroskop. Survei lokasi untuk pengambilan kutu tanaman beserta tanaman hias dilakukan di Bogor Jawa Barat, pada tempat ternaungi seperti koridor ruangan dan teras rumah, serta tempat tidak ternaungi seperti halaman rumah dan taman yang memiliki tanaman hias.
Pembuatan Preparat Kutu Tanaman
Pseudococcidae, Diaspididae, Coccidae, Ortheziidae dan Margarodidae
Spesimen kutu tanaman yang dipilih untuk diawetkan dalam preparat mikroskop sudah mencapai fase imago. Sebelum tahap pembuatan kutu tanaman dimasukan kedalam tabung eppendorf yang berisi alkohol 80%. Kemudian dilakukan tahapan pembuatan preparat mikroskop dengan metode Williams dan Granara de Willink (1992) yaitu dilakukan pemanasan kutu tanaman diatas penangas air dalam tabung reaksi yang berisi alkohol 95% selama 5 menit, kemudian kutu tanaman diletakan didalam cawan sirakus dan tubuh kutu dilubangi pada bagian toraks untuk mempermudah mengeluarakan cairan tubuh. Selanjutnya kutu dipanaskan dalam KOH 10% hingga trasparan. Kutu putih diletakkan dalam cawan sirakus dan isi tubuh dikeluarkan memalui toraks dengan menekan terus-menerus secara perlahan bagian lubang tusuk dorsal posterior spesimen hingga cairan tubuhnya keluar menggunakan jarum mikro. Larutan KOH 10% dibuang dengan pipet hingga tidak ada sisa. Selanjutnya aquades dimasukan untuk mencuci sisa larutan KOH 10% sebanyak dua kali. Setelah itu, cawan sirakus yang berisi kutu tanaman dimasukan acid alkohol 50% selama 5 menit, kemudian ditambahkan asam fuksin dan dibiarkan 1 malam. Proses selanjutnya dilakukan secara beturut-turut : kutu tanaman dimasukan ke dalam alkohol 80% selama 5 menit, alkohol 95% selama 10 menit, alkohol 100% selama 10 menit, carbol xylen selama 2 menit sampai lemak larut, alkohol 100% selama 10 menit dan minyak cengkeh selama 10 menit. Setelah itu kutu tanaman diletakan pada gelas objek dan sisa minyak cengkeh diserap menggunakan tisu, kemudian kutu tanman diatur posisinya sesuai dengan yang diinginkan. Dalam proses identifikasi ini posisi kutu tanaman terlentang atau tubuh bagian ventral berada diatas. Selanjutnya, diberi balsam kanada dan ditutup menggunakan gelas penutup.
12
Aphididae
Spesimen kutu tanaman yang dipilih untuk diawetkan dalam preparat mikroskop sudah mencapai fase imago. Sebelum tahap pembuatan kutu tanaman dimasukan kedalam tabung eppendorf yang berisi alkohol 80%. Kemudian dilakukan tahapan pembuatan preparat mikroskop menggunakan metode menurut Blackman dan Eastop (2000) yaitu : dilakukan pemanasan kutu tanaman di atas penangas air dalam tabung reaksi yang berisi alkohol 95% selama 5 menit, kemudian kutu tanaman diletakkan dalam cawan sirakus dan tubuh kutu dilubangi pada bagian toraks untuk mempermudah mengeluarakan cairan tubuh. Selanjutnya kutu dipanaskan dalam KOH 10% hingga trasparan. Kutu diletakkan dalam cawan sirakus dan isi tubuh dikeluarkan memalui toraks dengan menekan terus-menerus secara perlahan bagian lubang tusuk dorsal posterior spesimen hingga cairan tubuhnya keluar menggunakan jarum mikro. Larutan KOH 10% dibuang dengan pipet hingga tidak ada sisa. Selanjutnya aquades dimasukan untuk mencuci sisa larutan KOH 10% sebanyak dua kali. Proses selanjutnya dilakukan secara beturut-turut : kutu tanaman dimasukan ke dalam alkohol 80% selama 5 menit, alkohol 95% selama 10 menit, alkohol 100% selama 10 menit dan minyak cengkeh selama 10 menit. Setelah itu kutu tanmaan diletakan pada gelas objek dan sisa minyak cengkeh diserap menggunakn tisu, kemudian kutu tanaman diatur posisinya sesuai dengan yang diinginkan. Dalam proses identifikasi ini posisi kutu tanaman terlentang atau tubuh bagian ventral berada diatas. Selanjutnya, diberi balsam kanada dan ditutup menggunakan gelas penutup.
Aleyrodidae
Terdapat dua cara didalam pembuatan spesimen kutu tanaman famili aleyrodidae yaitu tanpa pemanasan untuk kantung pupa dan dengan pemanasan untuk pupa (Hidayat dan Bintoro 2009). Tanpa pemanasan, kantung pupa yang didapat dimasukan kedalam cawan sirakus yang berisi larutan alkohol 95% selama 10 menit. Lalu larutan alkohol 95% dibuang dan diganti dengan asam asetat glasial yang diteteskan sebanyak 2 tetes selama 10 menit. Asam asetat glasial dibuang dan dicuci dengan aquades sebanyak satu kali. Carbol xylene diteteskan selama satu menit dan selanjutnya kembali dicuci dengan aquades
sebanyak satu kali. Selanjutnya dimasukan asam asetat glasial dengan asam fuchsin selama satu jam atau satu malam. Proses selanjutnya dilakukan secara beturut-turut : kutu tanaman dimasukan ke dalam alkohol 80% selama 5 menit, alkohol 100% selama 10 menit dan minyak cengkeh selama 10 menit Setelah itu kutu tanmaan diletakan pada gelas objek dan sisa minyak cengkeh diserap menggunakan tisu, kemudian kutu tanaman diatur posisinya sesuai dengan yang diinginkan. Dalam proses identifikasi ini posisi kantung pupa terlentang atau tubuh bagian ventral berada di atas. Selanjutnya, diberi balsam kanada dan di tutup menggunakan gelas penutup.
Pembuatan dengan pemanasan pupa dilakukan pemanasan pupa di atas penangas air dalam tabung reaksi yang berisi alkohol 95% selama 5 menit, kemudian pupa diletakan didalam cawan sirakus dan tubuh dilubangi pada bagian toraks untuk mempermudah mengeluarakan cairan tubuh. Selanjutnya kutu dipanaskan dalam KOH 10% hingga transparan. Pupa diletakan dalam cawan sirakus dan isi tubuh dikeluarkan memalui toraks dengan menekan terus-menerus secara perlahan bagian lubang tusuk dorsal posterior spesimen hingga cairan tubuhnya keluar menggunakan jarum mikro. Larutan KOH 10% dibuang dengan pipet hingga tidak ada sisa. Selanjutnya aquades dimasukan untuk mencuci sisa larutan KOH 10% sebanyak dua kali. Proses selanjutnya dilakukan secara beturut-turut yaitu : kutu tanaman dimasukan ke dalam alkohol 80% selama 5 menit, alkohol 95% selama 10 menit, alkohol 100% selama 10 menit dan minyak cengkeh selama 10 menit. Setelah itu kutu tanmaan diletakan pada gelas objek dan sisa minyak cengkeh diserap menggunakn tisu, kemudian kutu tanaman diatur posisinya sesuai dengan yang diinginkan. Dalam proses identifikasi ini posisi kutu tanaman terlentang.
Identifikasi Kutu Tanaman
Pengamatan morfologi dan identifiksi kutu tanaman dilakukan di bawah mikroskop cahaya dengan perbesaran 4x10, 10x10 dan 40x10. Kunci identifikasi yang digunakan untuk membantu dalam identifikasi spesies kutu tanaman yaitu menurut Williams dan Watson (1988, 1990), Williams dan Granara de Willink (1992), Gillian W.Watson (2007), Blackman dan Eastop (1994, 2000), Cox (1989), Hodgson (1994), Hodgson et al. (2008) dan Miller et al. (2009).
14
Identifikasi Tanaman Inang
Identifikasi tanaman inang dilakukan dengan buku panduan 1001 Garden Plants in Singapore (Min et al. 2003) dan buku panduan Tanaman Hias Indonesia (Soerotaroeno 2009).
Pembuatan Foto Kutu Tanaman
Pembuatan foto dilakukan dengan menggunakan kamera digital 16 megapixel. Foto ini digunakan untuk memperjelas karakter yang dimiliki masing-masing spesies kutu tanaman.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tanaman Inang
Selama penelitian jumlah tanaman inang yang diamati sebanyak 37 spesies tanaman hias yang termasuk kedalam 22 famili tanaman (Lampiran 1). Setiap famili tanaman terdiri dari satu spesies tanaman, tetapi famili Euphorbiaceae, Apocynaceae, Rubiaceae, Palmae, Rutaceae, Araceae, Agavaceae dan Acanthaceae terdiri lebih dari satu spesies tanaman. Pada setiap famili tanaman umumnya dijumpai satu famili kutu tanaman, namun ada beberapa famili tanaman seperti Euphorbiaceae, Apocynaceae, Rubiaceae, Palmae, Araceae, Agavaceae dan Acanthaceae yang terserang lebih dari satu famili kutu tanaman, dan pada satu spesies tanaman juga bisa di temukan lebih dari satu famili kutu yang menyerang (Lampiran 2).
Kutu Tanaman yang Ditemukan
Ditemukan 28 spesies kutu tanaman yang termasuk dalam 7 famili kutu tanaman yang menyerang berbagai jenis tanaman hias (Tabel 1). Famili kutu tanaman yang menyerang yaitu Ortheziidae, Margarodidae, Coccidae, Diaspididae, Pseudococcidae, Aleyrodidae dan Aphididae. Famili kutu tanaman yang paling banyak menyerang adalah Pseudococcidae yang terdiri dari 9 spesies yaitu Dysmicoccus brevipes (Cockerell), Dysmicoccus neobrevipes Beardsley, Ferrisia virgata (Cockerell), Maconellicoccus hirsitus (Green), Phenacoccus solenopsis Tinsley, Planococcus minor (Maskell), Pseudococcus jackbeardsleyi Gimpel & Miller, Rastrococcus spinosus (Robinson) dan Rastrococcus sp.; Diaspididae 7 spesies yaitu Acutaspis umbonifera Borchsenius, Aulacaspis rosarum Borchsenius, Aulacaspis yatsumatsui, Hemiberlesia palmae (Cockerell), Lepidosaphes tokionis (Kuwana), Parlatoria sp. dan Pinnaspis sp.; Aphididae 3 spesies yaitu Aphis gossypii Glover, Cinara tujafilina (Del Guercio), dan Toxoptera aurantii (Boyer de Fonscolombe); Aleyrodidae 3 spesies yaitu Aleurodicus dispersus (Russell), Aleurodicus diugesii (Cockerell), dan Orchamoplatus mammaeferus (Quaintance & Baker), Coccidae 3 spesies yaitu Coccus celeatus De Lotto, Parasaissetia nigra (Neitner), Saissetia neglecta
16
Delotto; Margarodidae 2 spesies yaitu Icerya aegyptica (Douglas) dan Icerya seychellarum (Westwood); Ortheziidae 1 spesies yaitu Insignorthezia insignis Browne.
Spesies yang paling banyak ditemukan adalah dari famili Margarodidae spesies Icerya seychellarum; Kutu ini dijumpai pada 9 tanaman inang, yaitu Paku-pakuan (F: Oleandraceae), Philodendron (F: Araceae), Gelombang cinta (F: Araceae), Belanceng (F: Araceae), Kariota rumpun (F: Palmae), Palem kamedoria (F: Palmae), Palem kuning besar (F: Palmae), Iris kuning (F: Iridaceae), dan Lili kucai panjang (F: Liliaceae). Spesies kedua yang paling banyak ditemukan dari Famili Pseudococcidae yaitu Planococcus minor; Kutu ini dijumpai pada 7 tanaman inang. Spesies kutu tanaman lain yang ditemukan pada empat jenis tanaman inang saja, yaitu Ferrisia virgata dan Dysmicoccus neobrevipes (F: Pseudococcidae). Spesies lain hanya ditemukan pada satu jenis tanaman inang antara lain Insignorthezia insignis (F: Ortheziidae); Icerya aegyptica (F: Margarodidae); Coccus celeatus, Parasaissetia nigra, Saissetia neglecta (F: Coccidae); Acutaspis umbonifera, Aulacaspis rosarum, Aulacaspis yatsumatsui, Hemiberlesia palmae, Lepidosaphes tokionis, Parlatoria sp. dan Pinnaspis sp. (F: Diaspididae); Dysmicoccus brevipes, Maconellicoccus hirsitus, Phenacoccus solenopsis, Pseudococcus jackbeardsleyi, Rastrococcus spinosus dan Rastrococcus sp. (F: Pseudococcidae); Aleurodicus dispersus, Aleurodicus diugesii dan Orchamoplatus mammaeferus (F: Aleyrodidae); Aphis gossypii, Cinara tujafilina dan Toxoptera aurantii (F: Aphididae).
Bila dilihat dari famili tanaman inangnya, Famili Araceae dihuni oleh empat famili kutu dan enam spesies, Famili Euphorbiaceae empat famili kutu dan lima spesies, Famili Apocynaceae dua famili kutu dan empat spesies, Famili rubiaceae, palmae, Agavaceae, Acanthaceae masing- masing dua famili kutu dan dua spesies. Untuk Malvaceae dihuni satu famili dan dua spesies dan famili yang dihuni satu famili dan satu spesies adalah: Rutaceae, Araliaceae, Melastomataceae, Pandanaceae, Heliconiaceae, Bromeliaceae, Rosaceae, Bombacaceae, Oleandraceae, Iridaceae, Liliaceae, Cycadaceae, Cupressaceae dan Dracaenaceae .
Tabel 1 Famili dan spesies kutu tanaman yang ditemukan pada berbagai famili tanaman di Bogor dan sekitarnya
No. Famili Kutu Tanaman Spesies Kutu Tanaman Famili Tanaman Spesies Tanaman Nama Umum Tanaman 1 Ortheziidae Insignorthezia insignis Acanthaceae Pachystachys lutea Lilin mas 2 Margarodidae Icerya aegyptica Euphorbiaceae Codiaeum variegatum Puring Icerya seychellarum Oleandraceae Nephrolepis biserrata Paku-pakuan
Araceae Philodendron sp. Philodendron
Araceae Anthurium sp. Gelombang cinta
Araceae Dieffenbachia amoena Belenceng
Palmae Caryota mitis Kariota rumpun
Palmae Chamaedorea seifreizii Palem kamedoria
Palmae Chrysallidocarpus
lucubensis Palem kuning besar
Iridaceae Neomarica longifolia Iris kuning
Liliaceae Ophiopogon
intermedias Lili kucai panjang
3 Coccidae Coccus celeatus Araceae Anthurium
crystallinum Kuping gajah
Parasaissetia nigra Araceae Anthurium sp.
Saissetia neglecta Acanthaceae Graptophyllum pictum Daun Wungu
4 Diaspididae Acutaspis umbonifera Bromeliaceae Neoregelia sp. Neoregelia
Aulacaspis rosarum Rosaceae Rosa sinensis Mawar
Aulacaspis yasumatsui Cycadaceae Cycas revoluta Sikas
No. Famili Kutu Tanaman Spesies Kutu Tanaman Famili Tanaman Spesies Tanaman Nama Umum Tanaman Lepidosaphes tokionis Euphorbiaceae Codiaeum variegatum Puring
Parlatoria sp. Agavaceae Dracaena sp. Drasaena
Pinnaspis sp. Dracaenaceae Sansevieria sp. Lidah mertua
5 Pseudococcidae Dysmicoccus brevipes Heliconiaceae Heliconia psittocorum Pisang-pisangan
Dysmicoccus neobrevipes Araceae Aglaonema sp. Aglaonema putih
Agavaceae Agave sp. Agava
Pandanaceae Pandanus utilis Pandan laut
Melastomataceae Medinilla magnifica Medinilla
Ferrisia virgata Euphorbiaceae Jatropha integerima Batavia
Euphorbiaceae Codiaeum variegatum Puring
Araceae Anthurium crystallinum Kuping gajah
Apocynaceae Plumeria sp. Kamboja
Maconellicoccus hirsitus Malvaceae Hibiscus rosa sinensis Kembang sepatu Phenacoccus solenopsis Malvaceae Hibiscus rosa sinensis Kembang sepatu
Planococcus minor Euphorbiaceae Codiaeum variegatum Puring
Euphorbiaceae Jatropha integerima Batavia
Apocynaceae Adenium sp. Adenium
Rubiaceae Ixora sp. Soka
Rubiaceae Mussaenda philipica Nusa Indah
Rutaceae Euodia ridleyi Jodia
Rutaceae Murraya paniculata Kemuning
Tabel 1 lanjutan
No. Famili Kutu Tanaman Spesies Kutu Tanaman Famili Tanaman Spesies Tanaman Nama Umum Tanaman Pseudococcus jackbeardsleyi Araceae Aglaonema sp. Aglaonema hijau
Rastrococcus spinosus Apocynaceae Plumeria sp. Kamboja
Rastrococcus sp. Araliaceae Schefflera sp. Walisongo
6 Aleyrodidae Aleurodicus dispersus Euphorbiaceae Euphorbia pulcherrima Kastuba
Aleurodicus dugesii Apocynaceae Plumeria sp. Kamboja
Orchamoplatus mammaeferus
Euphorbiaceae Codiaeum variegatum Puring
7 Aphididae Aphis gossypii Rubiaceae Ixora sp. Soka
Cinara tujafilina Cupressaceae Thuja accidentalis Cemara kipas
Toxoptera aurantii Araceae Dieffenbachia amoena Belenceng
Tabel 1 lanjutan
20
Spesies Kutu Tanaman dan Tanaman Inangnya
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa banyak jenis kutu tanaman yang belum pernah ditemukan dan belum disebutkan oleh Kalshoven (1981). Kalshoven dijadikan acuan untuk penambahan data spesies kutu tanaman, serta adanya tanaman hias sebagai inang kutu tersebut.
Famili Ortheziidae
Insignorthezia insignis. Pada penelitian ini O. Insignis ditemukan pada tanaman lilin mas famili Acanthaceae (Tabel 2). Di Indonesia belum banyak yang melaporkan spesies kutu ini. Kalshoven (1981) pada bukunya belum menemukan spesies kutu ini, laporan Sartiami et al. (2011) tidak mencatat hama ini menyerang tanaman hias namun Mardiningsih et al. (2012) mencatat hama ini menyerang tanaman daun wungu famili Acanthaceae di daerah Jawa Barat. Kutu ini termasuk kedalam famili Ortheziidae, menurut Williams dan Watson (1988) spesies ini yang paling umum ditemukan dibandingkan anggota familinya. Kutu ini sering disebut kutu lantana, karena menurut catatan Williams dan Watson (1988) tanaman Lantanan camara dan Viburnum sp. menjadi inang spesies ini. Kutu ini bewarna hijau tua dan memiliki kantung telur berupa lilin yang panjang melebihi ukuran tubuhnya (Gambar 1).
Gambar 1 Orthezia insignis (a) imago, (b) nimfa (tanda panah) Famili Margarodidae
Icerya aegyptica. Dalam penelitian ini I. aegyptica ditemukan pada tanaman puring (Tabel 3). Williams dan Watson (1988) dan Sartiami et al. (2011) menyebutkan juga bahwa tanaman puring sebagai salah satu inang dari kutu kapuk I. aegyptica. Dalam Miller et al. (2009) I. aegyptica dapat menyerang
a b
tanaman puring, akasia, beringin, dan mawar. Kalshoven (1981) tidak menyebut spesies kutu ini dalam temuannya mengenai famili Margarodidae. Imago betina kutu ini berwarna orange kemerahan ditutupi lilin berwarna putih, antena dan kaki bewarna hitam (Gambar 2). Pada penelitian ini ditemukan kutu ini pada bagian batang dan daun tanaman.
Gambar 2 Icerya aegyptica (a) imago, (b) imago pada batang puring, (c) koloni imago betina pada daun puring
Icerya seychellarum. Pada penelitian ini I. seychellarum ditemukan menyerang tanaman paku-pakuan, philodendron, gelombang cinta, belenceng, kariota rumpun, palem kamedoria, palem kuning besar, iris kuning dan lili kucai panjang. Menurut penemuan Kalshoven (1981) di Pulau jawa dan Sumatra, kutu ini menyerang tanaman kembang sepatu, mawar dan cemara. Sartiami et al. (2011) menemukan tanaman inang kutu kapuk ini yakni, palem Veitchia sp. dan palem Areca sp. Menurut Williams dan Watson (1988) hama ini bersifat polifag dan dalam temuannya disebutkan beberapa tanaman hias yang menjadi inang ini diantaranya kembang sepatu, kamboja, akasia, akalipa. Di dalam Miller et al. (2009) juga mencatat daftar tanaman inang yang tidak jauh berbeda dengan
a b
c 1 mm
22
temuan Williams dan Watson (1988). Dari penelitian ini ternyata I. seychellarum merupakan kutu kapuk yang memiliki kisaran inang yang lebar (Tabel 3). Jenis-jenis tanaman inang kutu kapuk yang ditemukan dalam penelitian ini menambah daftar tanaman inang yang telah diketahui sebelumnya. Tubuh Imago betina berwarna orange kemerahan dan ditutupi lilin berbentuk granular bewarna putih atau kekuningan (Gambar 3). Mata, antena dan tungkai kutu ini bewarna hitam.
Gambar 3 Icerya seychellarum (a) imago betina pada tanaman paku-pakuan, (b) koloni kutu kapuk pada tanaman belenceng, (c) imago betina yang berasosiasi dengan semut pada tanaman palem kamedoria (tanda panah), (d) imago betina pada tanaman Philodendron sp., (e) imago betina pada tanaman iris kuning, (f) imago betina pada tanaman lili kucai panjang a b c d h e 1 mm 1 mm
Famili Coccidae
Coccus celeatus. Pada penelitian ini C. celeatus ditemukan menyerang tanaman kuping gajah yang termasuk famili Araceae dan Sartiami et al. (2011) juga mencatat hama ini menyerang tanaman kuping gajah. Williams dan Watson (1988) menemukan spesies ini pada tanaman soka famili Rubiaceae (Tabel 4). Miller et al. (2009) juga mencatat bahwa kutu tempurung ini menyerang tanaman di Indonesia dan menyebutkan beberapa inang dari kutu tempurung ini diantaranya dari famili Rubiaceae, Euphorbiaceae dan Apocynaceae. Kalshoven (1981) dan Peronti et al. (2001) tidak menyebutkan spesies kutu tempurung ini. Pada penelitian ini kutu tempurung ditemukan di atas permukaan daun kuping gajah, imago kutu ini bewarna hijau (Gambar 4).
Gambar 4 Coccus celeatus (a) koloni imago betina (b) imago betina
Parasaissetia nigra. Pada penelitian ini ditemukan P. nigra pada tanaman Anthurium sp famili Araceae. Williams dan Watson (1988) mencatat banyak inang kutu tempurung ini di antaranya Anthurium sp., kana, kamboja, kastuba. Peronti et al. (2001) menemukan spesies ini pada tanaman hias famili Euphorbiaceae dan Anacardiaceae. Kalshoven (1981) tidak menyebut kutu tempurung ini dalam temuannya di Indonesia, sedangkan Miller et al. (2009) mencatat bahwa kutu tempurung ini pernah ditemukan di Indonesia dan mencatat beberapa inang tanaman spesies ini (Tabel 4). Kutu tempurung ini berwarna coklat tua dan keras (Gambar 5). Menurut Hodgson (1994) bentuk dan warna tubuh kutu tempurung bervariasi sesuai dengan jenis dan lokasi tanaman inang.
a b
24
Gambar 5 Parasaissetia nigra (a) koloni imago betina (b) imago betina Saissetia neglecta. Dalam penelitian ini S. neglecta ditemukan pada tanaman daun wungu dari famili Acanthaceae dan Khumaida (2008) juga menemukan hama ini menyerang tanaman daun wungu di daerah Jawa Barat, Ambon dan Jayapura. Williams dan Watson (1988) menemukan spesies kutu ini pada tanaman kastuba dan bugenvil (Tabel 4), sedangkan Miller et al. (2009) mencatat tanaman inang kutu tempurung ini yaitu Belenceng, kastuba dan beringin. Kalshoven (1981) dan Peronti et al. (2001) belum menemukan spesies kutu tempurung ini menyerang tanaman hias, tetapi Pada penelitian ini ditemukan kutu tempurung ini pada bagian daun, tangkai dan batang tanaman daun wungu (Gambar 6).
Gambar 6 Saissetia neglecta (a) koloni imago betina pada batang, tangkai dan daun (b) imago betina
Famili Diaspididae
Acutaspis umbonifera. Pada penelitian ini ditemukan A. umbonifera pada tanaman Neoregelia sp. dari famili Bromeliaceae (Tabel 5). Kalshoven (1981) dan Williams dan Watson (1988) tidak menyebut kutu perisai ini didalam bukunya.
a b
a b
1 mm
Diduga kutu perisai ini merupakan spesies baru yang masuk ke indonesia. Miller et al. (2009) tidak mencatat kutu perisai ini didalam temuannya di Indonesia, tetapi menyebutkan beberapa inang kutu ini diantaranya Anthurium dan pisang-pisangan. Kutu perisai ini memiliki sisik yang berwarna coklat muda (Gambar 7).
Gambar 7 Acutaspis umboniferus (a) koloni imago betina (b) imago betina Aulacaspis rosarum. Tanaman inang A. rosarum yang ditemukan pada penelitian ini tampaknya sama dengan daftar tanaman inang yang disebut oleh Williams & Watson (1988) yakni mawar (Tabel 5). Miller et al. (2009) mencatat inang dari kutu perisai ini diantaranya mawar, beringin dan Euphorbiaceae tetapi belum pernah dilaporkan kutu perisai ini di Indonesia, Kalshoven (1981) juga belum menemukan spesies kutu perisai ini. Menurut Williams dan watson (1988) A. rosarum berasal dari China, kutu perisai ini tumbuh secara baik dan menjadi inang famili rosaceae khususnya mawar. Kutu perisai ini memiliki perisai berwana putih (Gambar 8).
Gambar 8 Aulacaspis rosarum (a) koloni imago betina pada tangkai (b) imago betina
a b
a b
1 mm
26
Aulacaspis yasumatsui. Pada penelitian ini A. yasumatsui ditemukan pada tanaman sikas (Tabel 5). Spesies A. yasumatsui belum pernah ditemukan di Indonesia (Kalshoven 1981; Miller et al. 2011). Diduga hama ini menjadi hama baru di Indonesia dan belum pernah dilaporkan (Rauf 2012 Mei 16, komunikasi pribadi). Miller et al. (2009) mencatat Hongkong, Singapura, Thailand dan Australia pernah melaporkan kutu perisai ini. Williams dan Watson (1988) dan Peronti et al. (2001) tidak mencatat spesies ini dalam temuannya mengenai kutu perisai. Menurut Howard et al. (1999) A. yasumatsui berasal dari Asia Tenggara. Tanaman inang kutu perisai ini selalu sikas. Pada tanaman sikas hama ini bisa menyerang bagian batang dan akar. Dalam penelitian in terlihat gejala berupa perubahan warna daun dan batang di bagian yang terdapat kutu perisai ini, kutu perisai ditemukan di atas dan di bawah permukaan daun (Gambar 9).
Gambar 9 Aulacaspis yasumatsui (a) imago betina, (b) koloni kutu pada permukaan bawah daun, (c) gejala tanaman terkena A. yasumatsui Hemiberlesia palmae. Dalam penelitian ini H. palmae ditemukan pada tanaman Pacira famili Bombaceae, tanaman ini merupakan inang baru yang belum disebutkan oleh penelitian sebelumnya. Williams dan Watson (1988) menemukan kutu perisai ini pada tanaman kamboja, hibiskus dan pisang-pisangan, Miller et al.
a b
c 1 mm
(2009) juga mencatat beberapa tanaman inang kutu perisai ini diantaranya kamboja, colocasia, famili Bromeliaceae dan Acanthaceae (Tabel 5). Miller et al. (2009) mencatat spesies ini terdapat di Indonesia daerah Jawa dan Sumatra, sedangkan Kashoven (1981) tidak menyebut spesies kutu perisai ini. Pada penelitian ini kutu perisai ini ditemukan pada permukaan daun dengan jumlah populasi yang cukup banyak. Kutu perisai ini memiliki perisai berwarna putih (Gambar 10).
Gambar 10 Hemiberlesia palmae (a) koloni kutu betina dibawah permukaan daun, (b) imago betina (tanda panah)
Lepidosaphes tokionis. Dalam penelitian ini L. tokionis ditemukan pada tanaman puring (Tabel 5). Sartiami et al. (2011) dan Williams dan Watson (1988) juga mencatat hama ini menyerang tanaman puring, sedangkan Kalshoven (1981) dan Peronti et al. (2001) belum menemukan spesies kutu perisai ini. Tanaman ini telah tercatat dalam Miller et al. (2009) sebagai salah satu tanaman inang dari kutu perisai ini. Pada penelitian ditemukan L. tokionis dalam populasi yang cukup banyak (Gambar 11). Perisai dari kutu ini berwarna coklat.
Gambar 11 Lepidosaphes tokionis (a) koloni imago betina, (b) imago betina
a b
a b
1 mm
28
Parlatoria sp. Spesies ini dikelompokan dalam kelompok Parlatoria. Pada penelitian ini ditemukan spesies ini pada tanaman inang Drasaena (Tabel 5). Sartiami et al. (2011) mencatat kutu ini menyerang tanaman lidah mertua famili Dracaenaceae. Populasi kutu ini cukup banyak pada daun bagian bawah tanaman. Perisai kutu ini berwarna coklat dan berbentuk oval (Gambar 12).
Gambar 12 Parlatoria sp. (a) bagian tanaman yang terserang (b) imago betina Pinnaspis sp. Pada penelitian ini ditemukan tanaman inang kutu perisai ini yaitu Sansevieria trifasciata (Tabel 5). Setelah diidentifikasi spesies ini dikelompokkan dalam kelompok Pinnaspis sp. Identifikasi hanya dilakukan sampai tahap genus, karena dibutuhkan kunci identifikasi yang lebih rinci untuk menemukan nama spesies kutu ini. Dalam penelitian ini ditemukan kutu ini dalam populasi yang cukup banyak, banyak ditemukan pada bagian bawah tanaman. perisai kutu ini berwarna putih berbentuk bulat (Gambar 13).
a b
a b
1 mm
Gambar 13 Pinnaspis sp. (a) koloni imago betina dan jantan, (b) imago betina, (c) gejala serangan pada tanaman
Famili Pseudococcidae
Dysmicoccus brevipes. Pada penelitian ini hanya diperoleh satu tanaman inang D. brevipes, yaitu tanaman pisang-pisangan yang belum pernah disebut baik oleh Williams (2004) dan Peronti et al. (2001), sedangkan Sartiami et al. (2011) menemukan kutu putih ini pada tanaman famili Agavaceae. Miller et al. (2009) menambahkan inang dari D. brevipes diantaranya tanaman colocasia, ubi hias, kembang sepatu, kalatea, Euphorbiaceae, dan Heliconiaceae (Tabel 6).
Kalshoven (1981) menyatakan bahwa D. brevipes merupakan hama minor, bentuk tubuh kutu putih D. brevipes bulat dan oval (Gambar 14). Tubuhnya ramping, berwarna merah jambu, dengan lilin dipermukaan tubuhnya. Aktivitas makan kutu putih ini dapat menyebabkan layu pada tanaman nanas dan dapat menularkan penyakit Pineapple Mealybug Wilt-associated (PMWaV).
Gambar 14 Dysmicoccus brevipes (a) koloni kutu, (b) imago betina
a b
c
30
Dysmicoccus neobrevipes. Pada penelitian ini ditemukan D. neobrevipes menyerang tanaman Aglaonema, Agava, Medinilla dan Pandan laut (Tabel 6). Saumiati (1996) melaporkan kutu ini menyerang tanaman palem hias di daerah Bogor. Sartiami et al. (2011) menemukan D. neobrevipes menyerang kamboja dan Yucca sp, sedangkan Williams (2004) tidak menyebutkan D. neobrevipes menyerang tanaman di Indonesia, tetapi di Malaysia kutu putih ini ditemukan pada tanaman nanas. Kutu ini memiliki warna tubuh abu-abu dan filamen pendek terletak pada lapisan lilin di sekitar tepi seluruh tubuh (Gambar 15).
Gambar 15 Dysmicoccus neobrevipes (a) koloni kutu pada tanaman pandan laut, (b) imago betina pada pandan laut, (c) imago betina pada aglaonema, (d) imago betina pada Agava sp., (e) imago betina pada tanaman medinilla, (f) tanaman aglaonema yang terserang D. neobrevipes (tanda panah). a b c d f e 1 mm 1 mm 1 mm
Ferrisia virgata. Dalam penelitian ini ditemukan empat tanaman inang yang dihuni kutu putih ini, di antaranya tercatat di dalam Miller et al. (2009) yaitu batavia, puring, kuping gajah dan kamboja (Tabel 6). Menurut Williams (2004) Kutu putih ini terdapat di Indonesia, tanaman yang menjadi inang di antaranya beringin. Peronti et al. (2001) mencatat kutu putih ini menyerang tanaman puring. Sartiami et al. (2011) mencatat kutu putih ini menyerang tanaman hias kuping gajah, kamboja, puring, sirih merah dan anthurium. Kalshoven (1981) menyatakan kutu putih ini bersifat polifag dan dikenal dengan nama kutu lamtoro, karena tanaman lamtoro (Leucaena glauca) merupakan inang utamanya. Pada tanaman puring ditemukan kutu putih ini dengan populasi yang tinggi dan pada tanaman kuping gajah kutu putih ini di temukan tidak dalam populasi tunggal tetapi bercampur dengan Coccus celeatus yang merupakan famili Coccidae (Gambar 16).
Gambar 16 Ferrisia virgata (a) imago betina pada tanaman kamboja, (b) imago
betina pada tanaman kuping gajah yang bercampur dengan Coccus celeatus (tanda panah), (c) imago betina pada tanaman puring, (d) koloni kutu pada tanaman puring
a b
c d
32
Maconellicoccus hirsitus. Dari hasil penelitian ini, M. hirsitus hanya dijumpai pada satu tanaman inang yakni kembang sepatu. Kalshoven (1981) menyebutkan bahwa inang utama dari kutu putih ini ialah kembang sepatu. Williams (2004) mencatat M. hirsitus ini pernah ditemukan menyerang tanaman kembang sepatu di daerah Jawa. Dalam Miller et al. (2009) tercatat beberapa inang kutu putih ini diantaranya kembang sepatu, alamanda, aglaonema, dahlia, puring, kastuba (Tabel 6). Peronti et al. (2001) dan Sartiami et al. (2011) tidak menyebut spesies kutu putih. Permukaan tubuh M. hirsitus dilapisi lilin tipis dan warna tubuh kutu putih ini merah kecoklatan dan telur kutu putih ini berwarna orange (Gambar 17).
Gambar 17 Maconellicoccus hirsitus (a) kumpulan telur, (b) imago betina Phenacoccus solenopsis. Dalam penelitian ini P. solenopsis ditemukan pada satu jenis tanaman hias, satu jenis tanaman hias itu sama dengan yang tercatat dalam Miller et al. (2009) yaitu kembang sepatu (Tabel 6). Hodgson et al. (2008) menyebutkan kembang sepatu sebagai salah satu inang dari kutu putih ini tetapi tidak ditemukan di Indonesia melainkan di India. William (2004) tidak menyebut kutu putih ini dalam temuannya mengenai kutu putih di Asia tenggara. Peronti et al. (2001) dan Sartiami et al. (2011) juga tidak menemukan kutu ini menyerang tanaman hias. Kutu putih ini memiliki warna tubuh kekuningan dan dilapisi lilin berwarna putih (Gambar 18). Pada penelitian ini P. solenopsis ditemukan dalam populasi yang tinggi.
a b
Gambar 18 Phenacoccus solenopsis (a) koloni imago betina, (b) imago betina Planococcus minor. Dalam penelitian ini ditemukan tujuh tanaman inang, satu diantaranya telah dicantumkan di dalam Miller et al. (2009) yaitu puring dan enam inang lainnya belum yaitu batavia, adenium, soka, nusa indah, jodia dan kemuning (Tabel 6). Williams (2004) telah menemukan spesies ini tetapi bukan pada tanaman hias yaitu pada tanaman lada dan beberapa jenis tanaman lain di daerah jawa, sedangkan Sartiami et al. (2011) menyebutkan tanaman puring sebagai inang kutu putih ini begitupun Cox (1989) menyebutkan puring sebagai salah satu tanaman inang kutu putih tersebut. Miller et al. (2009) mencatat cukup banyak inang kutu putih ini. Kutu putih ini ditemukan pada bagian batang dan daun tanaman (Gambar 19).
a b a b 1 mm 1 mm
34
Gambar 19 Planococcus minor: (a) imago betina pada tanaman soka, (b) koloni kutu pada tanaman jodia yang berasosiasi dengan semut (tanda panah), (c) imago betina pada tanaman kemuning, (d) koloni kutu pada tanaman batavia, (e) imago betina pada tanaman puring, (f) koloni kutu pada tanaman puring
Pseudococcus jackbeardsleyi. Dalam penelitian ini ditemukan tanaman inang P. jackbeardsleyi yaitu aglaonema hijau (Tabel 6). Williams (2004) mencatat kutu putih ini menyerang tanaman famili Euphorbiaceae di Indonesia. Peronti et al. (2001) tidak menyebutkan P. jackbeardsleyi menyerang tanaman hias, sedangkan Sartiami et al. (2011) mencatat aglaonema dan puring sebagai inang kutu putih ini. Miller et al. (2009) menyebutkan cukup banyak ianag P. jackbeardsleyi yaitu kamboja, aglaonema, anthurium, puring. Kutu putih ini ditemukan di atas permukaan daun, ditangkai daun dan di antara tangkai tanaman aglaonema (Gambar 20). c f e d 1 mm
Gambar 20 Pseudococcus jackbeardsleyi (a) koloni kutu pada tangkai tanaman, (b) imago betina, (c) koloni kutu diantara tangkai tanaman, (d) embun jelaga pada daun (tanda panah)
Rastrococcus spinosus. Tanaman inang R. spinosus yang ditemukan dalam penelitian ini tampaknya tidak jauh berbeda dengan tanaman inang yang terdapat dalam Miller et al. (2009) yaitu kamboja (Tabel 6). Williams (2004) menyatakan R. spinosus telah ditemukan pada tanaman Ficus ampelas famili Moraceae di Bogor pada tahun 1928. Peronti et al. (2001) dan Sartiami et al. (2011) tidak menyebutkan spesies kutu putih ini menyerang tanaman hias. Imago betina kutu putih ini berbentuk oval dan pipih dan ditutupi lilin yang tebal dan panjang (Gambar 21).
Gambar 21 Imago betina Rastrococcus spinosus
a b
c d
1 mm
36
Rastrococcus sp. Pada penelitian ini ditemukan tanaman inang kutu perisai ini yaitu Schefflera sp. (Tabel 6). Kutu ini dikelompokkan dalam genus Rastrococcus. Kutu putih ini belum dapat diidentifikasi lebih lanjut sehingga belum ada laporan tentang tanaman inangnya. Dalam penelitian ini ditemukan populasi kutu pada permukaan bawah daun. Kutu ini memiliki lilin yang panjang dan menempel pada bagian posterior (Gambar 22)
Gambar 22 Rastrococcus sp. (a) imago betina, (b) koloni kutu pada bagian bawah daun
Famili Aleyrodidae
Aleurodicus dispersus. Pada penelitian ini ditemukan imago dan kantung pupa di bawah permukaaan daun kastuba (Gambar 23). Kantung pupa ini ditemukan berkelompok. Mani (2010) telah mencatat lebih dari 50 famili tanaman yang menjadi inang kutu kebul ini di India, tampaknya serangga ini bersifat polifag. Menurut Watson (2007) hama ini terdapat di daerah Indonesia, Amerika Utara dan selatan, Kepulauan karibia, Florida, Guam, Fiji pulau Cook, Philipina dan Serawak. Menurut Evans (2007) Kutu ini pernah menyerang pertanaman di Indonesia, sedangkan Kalshoven (1981) tidak mencantumkan kutu kebul ini dalam bukunya. Hidayat dan Bintoro (2009) melaporkan ada 12 inang dari 10 famili tanaman yang menjadi inang kutu kebul ini. Evans (2007) mencatat bahwa kastuba (Euphorbia pulcherrima) merupakan salah satu dari inang kutu kebul ini (Tabel 7). Hidayat dan Bintoro(2009) tidak menyebutkan spesies kutu kebul ini menyerang pertanaman kastuba di Indonesia, sehingga penemuan inang baru dalam penelitian ini menambah daftar tanaman inang yang telah diketahui.
a b
Gambar 23 Aleurodicus dispersus (a) bagian tanaman yang terserang, (b) kantung pupa dan imago kutu (tanda panah)
Aleurodicus dugesii. Pada penelitian ini ditemukan pupa A. dugesii di bawah permukaan daun kamboja (Gambar 24). Pupa kutu kebul ini berwarna transparan dan tubuh pupa dikelilingi oleh lilin. Evans (2007) mencatat lebih dari 20 famili tanaman yang menjadi inang kutu kebul ini tetapi tidak pernah dilaporkan pernah menyerang pertanaman di Indonesia, begitu pun Kalshoven (1981) tidak mencantumkan kutu kebul ini dalam bukunya, sedangkan Hidayat dan Bintoro (2009) mencatat ada 9 inang dalam 7 famili tanaman yang menjadi inang kutu kebul ini. Menurut Murgianto (2010) kutu kebul ini menyerang 47 inang dalam 27 famili.
Evans (2007) mencatat bahwa kamboja (Plumeria sp.) merupakan salah satu dari inang kutu kebul ini (Tabel 7). Dengan daftar tanaman inang dari hasil penelitian Hidayat dan Bintoro (2009), tidak tertutup kemungkinan jenis tanaman inang kutu ini akan bertambah , khususnya pada tanaman hias di Indonesia, jika dilakukan pengamatan pada daerah yang lebih luas.
Gambar 24 Aleurodicus dugesii (a) kumpulan pupa, (b) pupa
a b
a b
1 mm