• Tidak ada hasil yang ditemukan

CARA BELAJAR ANAK USIA DINI (BELAJAR MELALUI BERMAIN) Oleh : HERLINA BAKARI SKB KAB.BONE BOLANGO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "CARA BELAJAR ANAK USIA DINI (BELAJAR MELALUI BERMAIN) Oleh : HERLINA BAKARI SKB KAB.BONE BOLANGO"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

CARA BELAJAR ANAK USIA DINI

(BELAJAR MELALUI BERMAIN)

Oleh :

HERLINA BAKARI

▸ Baca selengkapnya: cara bermain tepuk air

(2)

▸ Baca selengkapnya: cara bermain tabak

(3)

JIKA ANDA MAU

MEMBUAT SESUATU

ANDA AKAN CARI JALANNYA

TETAPI JIKA ANDA TIDAK MAU

MEMBUAT SESUATU

(4)

Peranan Pendidik

Menyiapkan media pembelajaran

yaitu berupa alat permainan yang

dapat digunakan sebagai sarana

untuk bermain yang mengandung

nilai pendidikan (edukatif) dan

dapat mengembangkan seluruh

kemampuan anak

(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

Apakah yang dimaksud dengan

bermain…?

Biasanya bersifat spontan

Penuh imaginatif

Dilakukan dengan segenap

perasaan

(10)
(11)

Cara Anak Usia Dini Belajar

Anak belajar melalui seluruh indera yang dimiliki dengan cara bermain dan kegiatan lain yang

menyenangkan untuk mengeksplorasi dan bereksperimen tentang lingkungannya.

Anak belajar dengan baik bila dalam suasana yang menyenangkan. Saat menyenangkan syaraf otak

terbuka dan siap untuk menerima hal-hal yang baru.Anak “belajar” dengan cara melakukan “sesuatu”.Anak belajar dengan lebih optimal bila

menggunakan seluruh panca inderanya.

Hasil belajar anak lebih optimal bila anak diberi kesempatan untuk melakukan secara berulang-ulang dan teratur.

(12)

Mengapa Bermain ?

Saat bermain semua indera anak bekerja aktif.

Semua informasi yang ditangkap indera anak,

disampaikan ke otak sebagai rangsangan,

sehingga sel-sel otak aktif berkembang

membentuk perkawatan.

Otak yang rimbun karena banyak perkawatan

memiliki kemampuan yang baik

(13)

Bermain bagi anak

membantu mereka

memahami dan

mempraktekkan,

kemampuan

pengembangan

rasa, intelektual,

sosial, dan

keterampilan

sosial.

(14)

Tiga Tahapan Perkembangan Bermain

Sensory motor play (usia 3-4 bulan-1 ½

tahun

Symbolic play (+ 2-7 tahun)

Social play games with rules (+ 8-11 tahun)

(Lev Vigotsky, Piaget, Sara Smilansky, Piaget)

(15)

Kegiatan anak sebelum usia 3-4 bulan belum dapat dikategorikan sebagai bermain.

Sejak usia 3-4 bulan, gerakan anak telah lebih terkoordinasi

Dari pengalamannya, anak belajar bahwa dengan menarik mainan yang tergantung di atas tempat tidurnya, mainan tersebut akan bergerak dan berbunyi

Kegiatan bermain sensori ini menekankan pada permainan yang berpusat pada gerak sensori motorik anak

(16)

Diwarnai dengan kegiatan bermain

khayal dan pura-pura.

Anak sudah mulai dan dapat

menggunakan berbagai benda sebagai

simbol atau representasi dari benda

lain.

(17)

Kegiatan bermain telah

menggunakan simbol yang lebih banyak dan dilatar belakangi

oleh penalaran, logika dan objektivitas.

(18)

Permainan yang paling baik ialah…

Permainan yang memberikan kontribusi pada anak dalam belajar konsep dan aktivitas yang nyata.

Permainan yang dapat mengajarkan pada anak kemampuan tertentu baik itu bersifat individual ataupun kelompok

Aktivitas yang diberikan adalah aktivitas yang dapat memberikan pemahaman pada anak tentang dunia nyata yang bermanfaat dalam kehidupannya sehari-hari.

(19)

Bermain mempunyai

peran langsung

terhadap

perkembangan kognitif

anak

(Vigotsky )

(20)

Jenis Kegiatan Bermain

Bermain Aktif

Pada kegiatan bermain aktif, anak melakukan aktivitas gerakan yang melibatkan seluruh indera dan anggota tubuhnya.

Bermain Pasif

Kegiatan bermain pasif tidak melibatkan banyak gerakan tubuh anak, tetapi hanya melibatkan sebagian indera saja terutama pendengaran dan penglihatan.

 Sering dilakukan anak 

receptive play.

Permainan dimana anak menerima kesan-kesan yang membuat jiwanya sendiri menjadi aktif (bukan fisik yang aktif) melalui

(21)

Bermain Aktif

Tactile Play/Bermain dengan Tangan

- Kegiatan bermain yang meningkatkan keterampilan jari jemari

- Membantu anak memahami dunia sekitarnya melalui alat perabaan dan penglihatannya.

Functional Play

Permainan yang mengutamakan gerakan motorik kasar/ otot besar.

Constructive Play/ Pembangunan

Anak menggunakan peralatan bermain untuk menciptakan sesuatu. Contoh: balok unit, lego, puzzle, kertas dan sebagainya.

(22)

Bermain Aktif

Creative Play/ Bermain Kreatif

Permainan yang memungkinkan anak menciptakan berbagai kreasi dari imajinasinya sendiri.

Symbolic/Dramatic Play/Bermain Simbolik

Permainan dimana anak memegang suatu peran tertentu. Anak merepresentasikan dunia nyata dalam kegiatan bermain

Play Games

Permainan yang dilakukan menurut aturan tertentu dan bersifat kompetisi/persaingan.

(23)

Unoccupied Play/ Perilaku Tidak Perduli

Terjadi ketika anak tidak

terlibat dalam permainan

seperti anak-anak lain atau

melakukan

gerakan-gerakan

acak

yang

nampaknya tidak memiliki

suatu tujuan

.

Mildred Parten

(24)

Solitary play/

Perilaku Main

Sendiri

Terjadi ketika anak

bermain sendirian dan

mandiri dari orang

lain.

(25)

Onlooker Play/

Perilaku Penonton

Anak memperhatikan anak lain saat bermain. Mereka mungkin

berhubungan secara lisan, tetapi tidak ikut main.

Azizah’06 D!4n4 09

(26)

Parallel Play/

Perilaku Main Berdampingan

Azizah’06

(27)

Assosiative

Play/Perilaku

Main Bersama

Anak bermain bersama dengan anak lain dalam satu kelompok.

Ia mungkin akan bertukar bahan dan bahasa, tetapi tidak ada tujuan yang

direncanakan untuk

(28)

Anak main dengan

anak lainnya

Mainnya memiliki

tujuan yang

direncanakan

Anak merencanakan

dan berperan

Azizah’06 D!4n4 09

(29)

Tiga Jenis Main

• Main Sensorimotor/Fungsional

• Main Peran

• Main Pembangunan

(30)

Main Sensorimotor

• Anak melakukan sesuatu berulangkali,

menikmati sesuatu yang baru dikuasai dan

menegaskan kepada dirinya sendiri

kemampuan yang baru diperoleh.

• Menangkap rangsangan melalui

penginderaan dan menghasilkan gerakan

sebagai reaksinya

(31)

• Utamanya dilakukan anak usia lahir – 2 tahun, namun

tetap penting sepanjang masa kanak-kanak.

• Kebutuhan akan main sensorimotor dipenuhi  bilamana

lingkungan bermain menyediakan kesempatan bagi anak

untuk berinteraksi dengan berbagai

tekstur, warna, bentuk,

ukuran

, dan jenis-jenis bahan main lainnya

(32)

Main Peran

 main simbolik, role play, pura-pura,

make-believe, fantasi, imajinasi, atau main drama

Main Peran Mikro

Main peran mikro  anak memainkan peran melalui tokoh yang diwakili oleh benda- benda berukuran kecil

Main Peran Makro

Main peran makro  anak bermain menjadi tokoh menggunakan alat berukuran besar yang digunakan anak untuk menciptakan dan memainkan peran-peran

(33)

• Terdapat suatu kontinum dari bahan-bahan main pembangunan  mulai sifat paling cair hingga ke paling terstruktur

• Bahan main pembangunan:

• Bahan main sifat cair/bahan alam  Bila

penggunaan dan bentuk dari bahan-bahan main ditentukan oleh anak  Contoh: krayon, cat air, pulpen, pensil.

• Bahan main pembangunan terstruktur 

penggunaan ditentukan oleh bahan-bahan main tersebut  Contoh: balok unit, lego, puzzle,

kertas dan sebagainya.

(34)

• Anak pertama kali mengenal bahan main pembangunan akan

memulainya dengan main sensorimotor.

• Mereka akan mengeksplorasi bahan-bahan main tersebut hingga

mengerti penggunaan dan bagaimana cara memainkannya.

• Anak awalnyamenggunakan cat dan melukis dengan mencoret-coretkan karyanya.

• Makin lama lukisan tersebut makin terlihat seperti apa yang

mereka gambarkan.

• Piaget menjelaskan bahwa bila hasil karya anak menjadi semakin

nyata maka secara kognisi anak bergerak mendekati pikiran operasional kongkrit (Piaget, 1962)

(35)

MANFAAT BERMAIN

a. Mendukung tumbuh kembang dan kesehatan anak

b. Mendukung perkembangan bahasa anak Komunikasi

Kosa kata baru

Persiapan membaca dan menulis

c. Mendukung perkembangan motorik kasar dan halus

d. Mendukung perkembangan sosial

Anak berlatih memanage lingkungan melalui kerjasama, tolong menolong, dan keberhasilan pemecahan masalah

d. Mendukung perkembangan aspek emosional Belajar mengontrol emosi

Ekspresi perasaan Sebagai katalisator

(36)

d. Mendukung bagi perkembangan kognitif anak

Memberikan kesempatan untuk mencoba hal baru Mengapaplikasikan kenyataan dalam representasi simbolis

Memberikan kesempatan untuk problem solving Mengembangkan kreativitas

e. Mendorong dan mengasah perkembangan alat penginderaan

f . Mengaktifkan dan mengembangkan otak anak

g. Mengembangkan kemandirian anak

h. Mengembangkan keterampilan olahraga dan seni.

(37)

i. Sebagai media terapi karena selama

bermain perilaku anak akan tampil

lebih bebas

j.

Sebagai media intervensi

Bermain dapat melatih konsentrasi

(pemusatan perhatian pada tugas

tertentu) seperti melatih konsep

dasar warna, bentuk, dan lain-lain.

(38)

8 KECERDASAN MENURUT PROF. HOWARD GARDNER • Kecerdasan Linguistic (cerdas bahasa)

• Kecerdasan Logic-Mathematics (cerdas logika dan angka)

• Kecerdasan Visual-spatial (cerdas gambar) • Kecerdasan Musical (cerdas musik)

• Kecerdasan Kinesthetic (cerdas gerak)

• Kecerdasan Interpersonal (cerdas bergaul) • Kecerdasan Intrapersonal (cerdas diri)

(39)

Pengelolaan Kegiatan Main

1. Pijakan Lingkungan Main

• Penataan lingkungan main harus dapat mengembangkan seluruh perkembangan anak

• Setiap sentra dapat membangun seluruh domain perkembangan anak

• Sentra dapat membangun tujuh kecerdasan dasar (multiple intelligent)

• Lingkungan main dapat di tata di dalam maupun di luar ruangan.

(40)

• Setiap sentra juga secara

terpadu membangun anak

dengan memberikan

kesempatan kepada anak

untuk melakukan tiga jenis

main

(41)

• Membuat lingkaran di tempat

yang telah disiapkan.

• Mengucapkan salam,

bernyanyi, tepuk tangan, untuk

menarik perhatian anak.

• Bacakan buku cerita dan

nyanyikan lagu-lagu sesuai

dengan tema dan minat anak.

• Mendiskusikan aturan main

untuk kelancaran dan

kenyamanan main

• Membuat aturan main

1. Pijakan Sebelum Main

(42)

• Mengamati anak, membuat

catatan perkembangan yang

ditampilkan anak, guru

memposisikan dirinya dapat

mengamati keseluruhan anak

tetapi ti dak mengganggu

dinamika gerak anak main.

• Mencatat kegiatan pertama

yang dilakukan anak merupakan

informasi bagi guru tentang

pemahaman anak melalui main

yang dipilihnya.

(43)

5 Langkah Pijakan Guru Saat Anak Bermain

1.

Looking (memperhatikan apa yang dilakukan

anak)

2.

Naming (menyebutkan apa yang terlihat)

3.

Questioning (menanyakan apa yang ingin

dilakukan anak)

4.

Commanding (memberi gagasan untuk dilakukan

anak)

5.

Acting (memberi kesempatan anak untuk berbuat,

jika anak belum dapat melakukannya dapat

memberikan modelling)

(44)

• Pengalaman langsung bagi anak untuk “bekerja tuntas” hingga semua alat kembali ke tempatnya semula.

• Pengalaman langsung belajar mengklasifikasikan alat main berdasarkan warna, bentuk, ukuran serta fungsi alat.

• Belajar tentang urutan dan menata lingkungan.

• Setiap tempat diberi nama dengan maksud untuk memudahkan bagi anak bersama-sama guru bekerja menyimpan alat main kembali ke tempat semula.

• Pemberian nama merupakan salah satu dukungan perkembangan keaksaraan anak.

• Guru juga bisa memberikan pijakan dengan pertanyaan

(45)

• Mengingat kembali kegiatan-kegiatan apa saja yang telah dilakukan.

• Kegiatan “recalling” merupakan saat guru mengetahui sejauh mana tujuan sentra dicapai oleh anak

• Menambah dan menguatkan pengetahuan

yang dimiliki anak sesuai rencana belajar yang telah dibuat.

(46)

Manfaat Recalling

• Mengingat kembali pengalaman mainnya dan menceritakannya.

• Mengembangkan kemampuan anak dalam membuat deskripsi dari apa yang telah dilakukan (termasuk

menceriterakan hasil karyanya). • Mendengarkan pengalaman main

teman, sehingg dapat menambah dan memperluas gagasan anak. • Membangun konsep-konsep yang

(47)

• Elemen pembeda yg penting  pendekatan sentra adalah pengajaran tidak langsung (nondirect teaching). • Guru tidak menyuruh, tidak melarang dan tidak boleh

marah pada anak.

• Apapun yang dilakukan oleh anak itu muncul dari anak sendiri

• Guru dapat membantu memberikan pijakan pada anak • Menekankan proses pembelajaran yang berpusat pada

anak

• Guru lebih berfungsi sebagai motivator dan fasilitator.

(48)

Variabel Mutu Penentu Mutu Bermain Anak

1. Densitas (ragam dan kedalaman kesempatan)

2. Intensitas (kesempatan sepanjang waktu)

3. Mendukung tiga jenis main

4. Mendukung perkembangan perilaku sosial anak

5. Memunculkan keaksaraan anak

6. Pijakan (scaffolding)

7. Ruang yang cukup (tidak penuh sesak, alat mudah dijangkau)

8. Tersedia alat-alat untuk mendukung kegiatan main

(49)

Ada 5 Skala Pendampingan

Guru Saat Anak Main

• Pengamatan (visually looking

on)

• Pernyataan tidak langsung

(non directive statement)

• Pertanyaan (question)

• Pernyataan langsung (directive

statement)

(50)

SAAT INI AKU

ANAK-ANAK, DAN TUGASKU

MEMANG BERMAIN

……..

(51)

Tugas Kelompok

1. Peserta dibagi menjadi 4 kelompok

2. Masing-masing kelompok menciptakan kegiatan bermain untuk

anak usia:

a. 3 – 4 thn b. 4 – 5 thn c. 5 – 6 thn

3. Memilih :

a. Bermain dengan aturan

b. Bermain dengan gerakan motorik kasar c. Bermain dengan membangun

d. Bermain kreatif

3. Ditambah dengan lagu yang terkait dengan

permainan tersebut

4. Tulis kemampuan yang dapat dikembangkan

(52)

Referensi

Dokumen terkait

Warisan budaya yang menjadi hak komunal yang diwariskan secara turun- temurun dikatakan memiliki nilai-nilai tinggi secara ekonomis karena merupakan budaya tradisional yang telah

154 1816041018 Agnessa Shalsabila Rizani Wanita Administrasi Negara Kota Alam Kotabumi Selatan Lampung Utara 155 1616021028 Riandika Ramanda Pria Ilmu Pemerintahan

[r]

[r]

• Apabila terdapat variabel lain yang memiliki nama yang sama dengan nama atribut di dalam objek, “this” dapat digunakan untuk merujuk ke atribut objek.. while loop adalah

Bagi siswa dapat disarankan: (1) sebaiknya siswa aktif dalam mengikuti penerapan model kooperatif tipe STAD dalam peningkatan hasil belajar Matematika melalui peragaan,

Terdapat perbedaan kadar kuersetin ekstrak daun dan akar tanaman sambung nyawa (Gynura procumbens [Lour.] Merr.) pada kultivasi hidroponik sistem DFT dan

Dengan demikian peneliti mengemukakan keberhasilan pembelajaran ekonomi pada materi perkoperasian dalam perekonomian di indonesia dengan menggunakan model pembelajaran