GAYA, KEBIJAKAN, DAN IMPLIKASI KEPEMIMPINAN JAWARA PESISIR

11  Download (0)

Full text

(1)

GAYA, KEBIJAKAN, DAN IMPLIKASI KEPEMIMPINAN

JAWARA PESISIR

Pengantar

Gaya kepemimpinan dan kebijakan adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan dari konsepsi dan proses kepemimpinan. Sementara itu, kepemimpinan sangat ditentukan oleh kualitas kerja dan produktivitasnya dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, bab ini akan menjelaskan tentang kepemimpinan jawara di pedesaan pada era desentralisasi. Sub bagian yang akan dijelaskan ialah: (1) gaya kepemimpinan dan kebijakan; (2) persepsi masyarakat pesisir; dan (3) implikasi kepemimpinan jawara ”kepala desa” di pesisir Teluk Naga, Tangerang.

Gaya Kepemimpinan dan Kebijakan Jawara Pesisir

Legitimasi mitos dan magic, beladiri/org. silat, uang dan akses ekonomi lainnya menjadi sumber kekuasaan jawara. Para jawara pesisir Teluk Naga dan keturunannya yang menjadi kepala desa berafiliasi dengan elit ekonomi (pengusaha keturunan Tionghoa) dan elit pedesaan lainnya yang menjadi klienya dalam melaksanakan program kebijakan pembangunan. Dalam melaksanakan kepemimpinannya di ranah mikro (pedesaan) para elit jawara memiliki gaya masing-masing. Rsd, Kepala Desa Tanjung Burung cenderung menampilkan gaya otoritatif. Gnwn, Kepala Desa Tanjung Pasir berada pada persinggungan gaya eksploitatif-otoritatif. Sementara itu, Spr memiliki gaya kepemimpinan otoritatif-konsultatif. Gaya kepemimpinan yang ditampilkan para jawara desa ini memiliki implikasi terhadap program kebijakannya. Ketiganya pro dan terbuka terhadap pemodal.

Tabel 7.1

Penguasaan Aset Pesisir oleh Pemodal dalam Kuasa Kepemimpinan Jawara

Jenis Aset Hak Kuasa Dominan Wilayah

Tanjung Burung

Tanjung Pasir

Muara

Agraria/Tanah Pengusaha Cina Kota Tangerang dan Jakarta

√ √ √

Tambak Pengusaha Cina Kota Tangerang dan Jakarta

√ √ √

Minyak Bumi PT. Pertamina (Negara) - - √

Tambang Pasir Pengusaha Cina Jakarta √ √ √

Industri Berat (TUM dan Galangan Kapal)

Pengusaha Cina Kota Tangerang dan Jakarta

√ - -

(2)

Parisiwisata (Resort Tanjung Pasir dan Pantai Tanjung Pasir)

TNI AL

Perikanan Pengusaha Cina Kota Tangerang, Jakarta, dan Pedagang Besar dari Kamal Muara

√ √ √

Sumber: Diolah dari data lapangan, 2010-2012.

Selain pro dan terbuka terhadap pemodal, kebijakan public lainnya yang dilahirkan oleh elit jawara di Teluk Naga adalah mengakomodir dan memberikan pekerjaan kepada “jawara-jawara jalanan” untuk turut andil dalam pembangunan. Elit jawara mengisi pos-pos penting di ruang publik, dari sekedar security informal sampai tingkat birokrasi. Oleh karena itu, birokrasinya pun melekat dengan istilah birokratisasi jawara. cirinya “kalau mudah ngapain dipersulit”. Akan tetapi mudahnya di sini sangat kentara warna nepotisme antara sesama jawara dan keluarga jawara. Di bawah ini beberapa kebijakan dari birokratisasi jawara di Teluk Naga.

Tabel 7.2 Kebijakan Kepemimpinan Jawara di Teluk Naga

Komponen Pembangunan Infrastruktur Pengelolaan dan Pemanfaatan SDA Keamanan Aktor/Pelaku yang Dominan

Jawara-Pemilik modal Jawara-Pemilik modal Jawara

Keberpihakan Masyarakat umum Elit Jawara dan pemilik modal

Masyarakat umum Kebermanfaatan Minim Minim Ada Kontrol Minim Minim Ada Evaluasi Minim Minim Ada

Sumber: Diolah dari data lapangan, 2010-2012

Persepsi Masyarakat

Menurut pandangan beberapa tokoh masyarakat pesisir Teluk Naga, kemampuan Rsd, Gnwn, Spr dalam memimpin desa belum nampak dan membangkitkan roda perekonomian warga, padahal sudah memasuki 3 tahun masa kepemimpinannya. Hal ini terbukti dari banyaknya keluhan masyarakat mengenai kepemimpinannya. Mereka dianggap tidak memiliki dasar pengetahuan dan pengalaman sebagai seorang pemimpin. Masyarakat yang semula menyimpan harapan besar kepada ketiganya untuk memimpin desa Tanjung Burung, Tanjung Pasir, dan Muara yang lebih maju dan baik ternyata hanya memperoleh hasil yang nihil. Harapan itu belum terwujud. Hal ini dapat dilihat dari persepsi stakeholders masyarakat pesisir Teluk Naga terhadap kepemimpinan elit jawara di bawah ini.

Tabel 7.3 Persepsi Stakeholders Pesisir Terhadap Kepemimpinan Elit Jawara

Stakeholders Persepsi Terhadap Kepemimpinan Elit Jawara

Nelayan “……kami nelayan di sini sangat prihatin dalam hidup. Harus bekerja

dengan sekeras-kerasnya untuk mencari ikan dan udang. Kerja keras kita berbeda dengan dulu, saat ini harus lebih kerja keras lagi karena sumber

(3)

ikan dan udang telah sulit dicari. Limbah pabrik, polusi dari pembuangan bahan kimia pabrik, sampah yang terus menerus bertambah membuat kita harus bekerja lebih keras lagi.” Wawancara dengan Jafar, 20 April 2012 “Nelayan kian terhimpit, solar mahal dan biaya hidup sulit. Belum pernah nerima bantuan dari pihak pemerintah, kepala desa hanya datang saat-saat kampanye saja. Kepala desanya anak muda, beda dengan bapaknya. Ia tdk bisa bergaul. Kalau kata orang mah “mau minta tolong, minta tolong sama siapa” kalau kata ibarat pribahasa anak ayam ga ada induknya. Itu nasib nelayan sekarang pak….. Terserah bapak mau nembak saya juga, saya ngomong apa adanya. Si lurahnya aja begitu hah….. ga mau datangin rakyat….. nelayan mah ga diliat. Yang didatengin orang-orang gedean. Liat nelayan pak…..nyungsep.” Wawancara dengan Yunus (60 th), 24 Maret 2012

Petambak “aduh dek, kalo seluruh air Cisadane terkena limbah dan tambak di sekitar sini tercemar semua orang yang ada di sini tinggal tunggu matinya aja. Pemerintah boro-boro mikirin”, wawancara dengan Dawi (50 th), 23 Maret 2012.

“Kehidupan keluarga buruh tambak sangat jauh dari kata sejahtera. Dengan gaji Rp.500.000,00 per bulan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Untuk menutup kekurangan yang ada, ya dengan meminjam uang kepada saudara, tetangga, atau berhutang kepada pemilik tambak dengan sistem cashbon. Tidak ada bantuan dari pemerintah desa.” Wawancara dengan Suramin (52 th), 22 April 2012

Pemuda/aktifis lingkungan

“Kehidupan masyarakat di wilayah pesisir utara Tangerang dan Banten belum mendapatkan perhatian optimal.” Wawancara dengan M. Yusuf, 20 Maret 2012.

“Eksplotasi pasir laut dan pencemaran laut merupakan masalah yang harus segera dituntaskan oleh pemerintah. Jangan biarkan nasib rakyat terutama nelayan tradisional semakin termarginalkan. Sampai saat ini, kita belum melihat ada upaya kongkrit dari pemerintah untuk mengatasi persoalan ini. Usaha memulihkan kerusakan tidak ada, usaha menghentikan sumber pencemar pun tidak dilakukan,…. orang-orang atas (elit desa) yang dapet hasilnya. Tapi, kita gak dapet apa-apa.” Mohamad Guntur, wawancara, tanggal 20 April 2012, pukul 23.45-24.35.

Tokoh Masyarakat

“Awalnya kami berharap Rsd dapat memimpin desa seperti alm.

bapaknya. Ternyata dia tidak punya pengalaman dan kemampuan. Sudah beberapa tahun dia memimpin tapi belum ada perubahan.” Wawancara dengan ust. Sarnubi, 22 April 2012).”

“Masalah utama nelayan garapan adalah pendangkalan sungai, pendidikan, dan air bersih, termasuk akses jalan. Adanya resort milik Tomy CS mematikan akses jalan utama masyarakat garapan.” Wawancara dengan RT. Dawih, 18 Maret 2012.

“Nelayan sekarang ini agak sulit, ada kemunduran karena adanya limbah dari anak kali cisadane dan limbah dari teluk Jakarta.” Wawancara dengan Buang, 12 Februari 2012.

Perempuan “Pak Rsd itu orangnya baik mas kayanya jadi saya milih dia, ya meskipun dia juga ngelakuin serangan fajar itu. Tapi sebelum jadi Kades dia banyak ngebantuin warga kok ya meskipun setelah jadi Kades belum terasa apa manfaatnya dia.” Wawancara denga Ibu Isah, 22 April 2012.

(4)

Pandangan stakeholders pesisir di atas, sejalan dengan persepsi sebagian besar masyarakat, bahwa kepemimpinan elit jawara dalam pembangunan pedesaan pesisir belum membawa kesejahteraan hajat hidup mereka. Lihat tabel 7.4 berikut.

Tabel 7.4

Persepsi Masyarakat Pesisir Terhadap Kepemimpinan Jawara (Kepala Desa)

No. Persepsi Kategori

S TS Total

Jmlh % Jmlh % Jmlh % 1. Program kebijakan kepala desa (elit jawara)

belum berimbas pada kesejahteraan masyarakat pesisir

113 88.98 14 11.02 127 100

2. Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya pesisir belum dirasakan secara merata oleh masyarakat

117 92.13 10 7.87 127 100

3. Pembangunan Inprastruktur desa belum optimal

108 85.04 19 14.96 127 100 4. Pelayanan administrasi publik lemah 96 75.59 31 24.41 127 100 5. Partisipasi dan pelibatan warga dalam

pembangunan masih minim

115 90.55 12 9.45 127 100 6. Prioritas kebutuhan nelayan dan petambak

belum diperhatikan

104 81.89 23 18.11 127 100 7. Sarana dan prasarana pendidikan masih

terbatas

109 85.83 18 14.17 127 100 8. Partisipasi perempuan dalam kegiatan PKK

minim

107 84.25 20 15.75 127 100

Keterangan: T = Setuju; TS = Tidak Setuju Sumber: Diolah dari data lapangan, 2010-2012

Implikasi Kepemimpinan Jawara

Pandangan masyarakat di atas mengisyaratkan bahwa kepemimpinan jawara membawa banyak implikasi dalam kehidupan masyarakat pesisir Teluk Naga. Kebijakannya yang terkesan instan dan kurang perencanaan yang matang menyebabkan munculnya reaksi dari beberapa kalangan cendikia dan masyarakat pesisir pada umumnya. Selain itu, kedekatannya kepada pemilik modal menjadikan kebijakan mereka lebih pro kepada pasar/pemodal. Konsekuensinya, terjadinya eksploitasi sumberdaya alam pesisir oleh para investor pemilik modal menjadikan sumberdaya alam yang seharusnya dimanfaatkan sebagai sebesar-besarnya kemakmuran rakyat menjadi jatuh ke tangan sebagian orang. Pada konteks ini masyarakat pesisir Teluk Naga, Tangerang yang pada umumnya sudah tak berdaya menjadi semakin terpuruk dan termarginalisasikan.

Beberapa contoh terjadinya marginalisasi masyarakat di Desa Tanjung Burung, Desa Tanjung. Pasir, dan Desa Muara sebagai implikasi kepemimpinan yang pro kapital yaitu: marginalisasi nelayan, kapitalisasi lahan tambak dan kemiskinan dan marginalisasi sektor pendidikan. Berikut ini penjelasan masing-masing berbagai implikasi dari kepemimpinan jawara di pesisir Teluk Naga, Tangerang.

(5)

Gambar 7.1 Potret Marginalisasi Masyarakat Pesisir Teluk Naga

Potret Lokasi Desa Muara Potret Lokasi Desa Tanjung Burung

Potret Pesisir Tanjung Pasir Potret Rumah di Desa Tj. Burung

Sumber: Dokumentasi Lapangan, 2012.

Marginalisasi Nelayan Pesisir Teluk Naga

Kehidupan nelayan di pesisir Teluk Naga sangat memprihatinkan. Mereka terlihat sederhana, tak nampak kemewahan yang tercipta. Hanya gubuk dari bilik bambu yang telah menua. Pencahayaan dari lampu bohlam yang remang-remang terpancarkan, serta televisi kecil yang setia untuk menghibur mereka. Kesan nelayan hidup termarginalkan itu memang riil adanya, kesan hidup apa adanya itu bukan sebuah penipuan tapi memang sebuah kenyataan.

Dewasa ini mereka harus bekerja lebih keras lagi karena sumber ikan dan udang telah sulit dicari. Limbah pabrik, polusi dari pembuangan bahan kimia pabrik, sampah yang terus menerus bertambah membuat mereka harus bekerja lebih keras lagi. Boeke (dalam Sayogyo dan Pudjiwati Sayogyo, 2002: 24) mengatakan “desa itu bukan tempat untuk bekerja, tetapi tempat ketentraman. Ketentraman itu adalah pada hakekatnya hidup yang sebenarnya bagi orang timur”. Namun pernyataan dari Boeke tidak dapat digunakan ketika studi kasusnya adalah pesisir Teluk Naga, di sini para nelayan bekerja keras dengan giatnya, ketentraman memang ada tapi tak mutlak mereka cicipi. Konsep yang mereka gunakan adalah ketentraman hadir setelah kerja keras telah mereka jalani.

Dibalik para nelayan tetap teguh dan tidak mengeluh dalam menerima cobaan seperti itu. Sementara mengharap bantuan dari pemerintah, seakan menunggu hujan uang dari indahnya pelangi. Entah bagaimana nasib nelayan nantinya. Keberanian mereka memang takkan pernah hilang, laut yang tak jelas kondisinya tetap akan mereka terjang demi peruntungan hidup.

(6)

Kapitalisasi Lahan Tambak dan Kemiskinan

Status pemilikan lahan tambak dan pengontrak yang sebagian besar dipegang oleh pengusaha Tionghoa, pengusaha militer asal Kota Tangerang dan Jakarta menjadi penanda terjadinya kapitalisasi di area tambak. Contoh: lahan tambak yang dikelola oleh Nadawi, pemiliknya adalah pengusaha asal BSD (Bumi serpong damai). Tambak yang dikelola Kuncang, juga milik pendatang. Ada juga Pak Pai, pemilik asal Kampung Melayu. Tambak Pak Pai dikelola oleh Jumadi yang merupakan seorang buruh tambak asli desa Tanjung Burung. Terakhir, tambak yang dimiliki oleh Lurah Belimbing, Kosambi Tangerang.

Dari keempat pemilik tambak tersebut luas tambak mereka masing-masing 5-6 hektar. Sekali panen pemilik tambak (yang sekaligus pembudidaya – tidak dikontrakkan) mendapatkan 6 ton sekali panennya, dari rata-rata 3000 ekor bibit bandeng yang ditebarkan.

Gambar 7.2

Kapitalisasi Lahan Tambak

Sumber: Dokumentasi lapangan, 2012.

Kenyataan tersebut membuat pemilik tambak memperoleh keuntungan yang besar dari hasil budidaya tambak. Sedangkan buruh tambak, memperoleh penghasilan yang kecil sehingga tidak mampu mengangkat dirinya dari kemiskinan. Potret ini menjadi penanda bahwa kekayaan alam pesisir Teluk Naga hanya dapat dimanfaatkan dan menyejahterakan para pemilik modal. Sementara, buruh tambak malah sebaliknya. Mereka selalu terjerat hutang dengan para pemilik tambak, karena mereka tidak mampu membayar hutang-hutang tersebut. Akibatnya adalah gaji mereka tiap bulan dipotong untuk membayar hutang. Bahkan, ada pemilik tambak yang tidak membayarkan gaji buruh tambak satu rupiah pun untuk melunasi hutang mereka. Hal itulah yang menyebabkan para buruh tambak terikat dengan pamilik tambak (patron).

Penambangan Pasir Laut dan Kerusakan Ekosistem

Potensi sumber daya alam pesisir Tanjung Burung jika dapat dikelola tentu menjanjikan keuntungan berlimpah. Pantai, hutan bakau, DAS Muara Cisadane yang eksotis, hamparan tambak, dan tambang pasir menjadi potensi utama Desa. Terkait penambangan pasir sejak tahun 80-an – sekarang eksplorasi terus berlangsung. Realitas ini memunculkan berbagai spekulasi dan kontroversi. Benturan-benturan kepentingan seringkali terjadi dan menjadi alasan utama

(7)

munculnya kontroversi tersebut. Kepentingan ekonomi, keberlangsungan ekologi, maupun politik menjadi beberapa aspek penanda. Kontroversi yang terjadi tentu tak luput dari perhatian masyarakat desa. Disadari atau tidak, masyarakat tentu dapat merasakan dampak negatif dari penambangan pasir yang ada di sepanjang DAS Muara Cisadane.

Penambangan pasir di pesisir Teluk Naga hadir seiring hilangnya mata pencaharian penduduk sebagai pembudidaya udang windu. Ia juga massif lantaran semakin menguatnya bisnis properti di wilayah Tangerang. Para penambang menjual pasir yang merupakan hasil pengerukan tambak ke orang yang membutuhkan pasir untuk membangun gedung/rumah. Kegiatan penambangan pasir ini melanggar ketentuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), karena terlalu banyak pasir yang diambil di tepian sungai dan laut. Hal ini dapat berakibat pada intrusi air laut (asin) dan air payau ke dalam tanah. Di sisi lain, penambangan pasir dapat berdampak pada melebarnya tepian sungai Cisadane di sepanjang jalan desa Tanjung Burung, meningkatnya tingkat kerusakan akibat abrasi di bagian utara desa Muara dan Tanjung Pasir. Dalam arti lain, tiap tahunnya, 3 desa penelitian ini mengalami penyempitan wilayah daratan, dan terancam longsor pada daerah-daerah di sepanjang tepian sungai dan laut.

Penambangan pasir ini, tidaklah terlepas dari pengaruh kebijakan para elit pemerintah desa. Keterlibatan elit desa menjadi faktor yang menyebabkan kegiatan penambangan terus berlangsung. Besarnya “royalty” yang diterima dapat memback-up dan meredam gelombang penolakkan dari warga maupun dari aktivis lingkungan yang ada. Royalti per bulan yang diberikan pemilik tambang kepada elit desa, disinyalir sebagai bukti yang kuat dan jadi penyebab utama dari tumpulnya mata pisau pemerintah saat berhadapan dengan ilegalisasi pasir yang terjadi di desa-desa pesisir Teluk Naga. Padahal nominal yang diterima para elit pun hanya berkisar puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah saja. Sebuah nominal yang tentu saja tak sebanding dengan keuntungan yang diterima pemilik tambang serta kerusakan alam yang terjadi akibat penambangan tersebut. Alhasil kondisi ini membuat masyarakat pesisir Teluk Naga kian terjerembab dalam pusara kemiskinan.

Marginalisasi Pendidikan

Selain mengalami marginalisasi sumberdaya alama, masyarakat pesisir Teluk Naga juga mengalami marginalisasi di bidang pendidikan. Di sini masih terdapat keluarga miskin yang masih belum mendapatkan dan mengakses pendidikan untuk anak-anak mereka. Ada dua faktor yang menjadi penghambat pendidikan anak keluarga miskin, yaitu faktor intern dan ekstern. Faktor intern yang mempengaruhi marjinalisasi pendidikan anak pada keluarga miskin, antara lain:

a) Pandangam atau pola pikir dari keluarga miskin

Pandangan atau pola pikir orang tua terhadap pentingnya pendidikan. Pandangan keluarga yang menganggap pendidikan itu penting, bisa meningkatkan status sosial keluarga, seperti menurut pandangan ibu Sumrah dan ibu Kartini. Namun ada juga keluarga yang berpandagan bahwa pendidikan itu tidak begitu penting, yaitu

(8)

keluarga ibu Rohani, karena hanya membuang-buang uang saja, jadi lebih baik bekerja, karena nantinya semua orang pasti akan bekerja.

b) Kemauan si anak untuk bersekolah atau mendapatkan pendidikan

Kemauan anak, maksudnya adalah seperti pada kasus keluarga ibu Kartini, beliau menganggap pendidikan itu penting. Namun sayangnya anaknya tidak mau melanjutkan sekolahnya setelah dia tamat SD, karena anak tersebut berpikiran bahwa sekolah itu terlaau berat dan pelajarannya semakin banyak dan susah. c) Penghasilan orang tua

Penghasilan orang tua juga berperan penting dalam mempengaruhi marjinalisasi pendidikan anak. Seperti halnya keluarga ibu Sumrah yang harus rela berhutang pada tetangganya demi membiayai sekolah anaknya hingga tingkat SMA (Sekolah Menengah Atas). Ini juga terjadi pada keluarga ibu Kartini, suaminya yang hanya bekerja sebagai buruh di Cengkareng, bekerja keras demi memenuhi kebutuhan keperluan sekolah anaknya di SD. Namun karena penghasilan orang tua yang rendah ini juga yang mengakibatkan keluarga ibu Rohani lebih memilih mementingkan bekerja dan membantu orang tua, dibandingkan dengan bersekolah. Berikut ini terdapat data mengenai rumah tangga miskin yang diperoleh melalui balai desa Tanjung Burung.

d) Pendidikan orang tua

Pendidikan orang tua juga mempengaruhi, dua keluarga, yaitu keluarga ibu Sumrah dan ibu Kartini merupakan keluarga yang berpendidikan rendah, namun mereka berpikiran bahwa pendidikan itu penting. Mereka juga berharap anak-anak mereka dapat meneruskan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi dan memperbaiki status sosial mereka. Namun hal ini berbeda dengan pemikiran ibu Rohani yang juga berasal dari keluarga berpendidikan rendah, namun seperti yang sudah di jelsakan sebelumnya bahwa keluarga ini tidak mementingkan pendidikan.

Sementara itu, faktor ekstern yang mempengaruhi marjinalisasi pendidikan anak pada keluarga miskin, yaitu

a) Biaya dan keperluan sekolah

Biaya dan keperluan sekolah yang semakin meningkat, menjadi salah satu faktor ekstern yang mempengaruhi marjinalisasi pendidikan anak pada keluarga miskin. Apalagi ditambah penghasilan orang tua yang tidak mencukupi. Walaupun di tingkat SD biaya sekolah itu gratis, namun tetap saja untuk keperluan anak selama sekolah juga tetap tidak gratis. Hal ini juga yang dialami oleh ibu Sumrah yang rela berhutang demi anaknya.

b) Jarak yang ditempuh untuk mendapatkan pendidikan

Jarak yang di tempuh untuk mendapatkan pendidikan juga menjadi pertimbangan bagi keluarga-keluarga miskin di desa Tanjung Burung. Namun untuk keluarga ibu Sumrah hal tersebut tidak menjadi halangan dan rintangan, anaknya yang memiliki keinginan untuk bersekolah tetap memiliki semangat walaupun jarak yang di tempuh sangat jauh.

c) Faktor lingkungan

Faktor lingkungan sangat berpengaruh dalam marjinalisasi pendidikan anak keluarga miskin di desa Tanjung Burung. Seorang anak biasanya akan terpengaruh oleh lingkungan atau teman sebayanya dalam hal bersekolah. Seperti halnya

(9)

keluarga ibu Rohani yang mayoritas tetangganya atau lingkungan sekitarnya tidak bersekolah dan lebih memilih bekerja dan membantu orang tuanya seperti menggembala kerbau. Juga dengan keluarga ibu Kartini, di mana anaknya lebih memilih untuk tidak melanjutkan sekolahnya nanti, karena teman-temannya juga berpikiran yang sama, yaitu pelajaran di sekolah itu nantinya akan bertambah banyak dan sulit.

d) Faktor geografis

Faktor geografis di sini adalah, faktor letak. Di mana letak desa Tanjung Burung itu sendiri berada di wilayah pesisir pantai. Di mana masyarakat desa tersebut lebih banyak yang bekerja sebagai nelayan dan petambak. Hal inilah yang kadang membuat orang berpikiran bahwa untuk menjadi seorang nelayan atau petambak tidaklah diperlukan pendidikan yang tinggi.

Tabel 7.5

Pandangan Keluarga Miskin Tentang Pendidikan dan Faktor-Faktor Penghambatnya Tipologi Pandangan terhadap pendidikan Faktor penghambat internal

Faktor penghambat eksternal

Keluarga I Pendidikan tidak penting

 Pola pikir dari keluarga miskin  Penghasilan orang

tua

 Pendidikan orang tua

 Biaya dan keperluan sekolah  Faktor lingkungan Keluarga II Pendidikan penting  Kemauan anak untuk bersekolah  Penghasilan orang tua  Pendidikan orang tua

 Biaya dan keperluan sekolah  Faktor lingkungan Keluarga III Pendidikan sangat penting  Penghasilan orang tua

 Biaya dan keperluan sekolah  Jarak yang ditempuh untuk ke

sekolah

Sumber: Diolah dari data lapangan 2011.

Sejauh ini menurut penuturan ketiga keluarga miskin tersebut, mereka semua mengaku bahwa tidak ada lagi usaha pemerintah untuk meminimalisasi rendahnya pendidikan yang dialami oleh anak-anak mereka dan keluarga miskin di pesisir Teluk Naga. Sosialisasi pemerintah desa setempat mengenai pentingnya pendidikan terhadap keluarga-keluarga nelayan dan petambak tidak menyentuh masyarakat sasaran utama. Hal ini diperkuat dengan pernyataan ibu Kartini dan Ibu Sumrah sebagai berikut:

“Kalo sosialisasi dari pemerintah sini sih gak ada, neng… soalnya kan baru empat taun juga di sini, tapi gak tau sih kalau warga-warga yang lain mah…. (Wawancara dengan Ibu Kartini, 20 April 2012) ”

“Nggak, gak ada tuh sosialisasi pendidikan dari pemerintah di sini….(Wawancara dengan Ibu Sumrah, 20 April 2012)”

(10)

Sementara itu, institusi pendidikan menengah pertama yang terdapat di 3 wilayah penelitian nampak tidak memadai dan jauh dari layak.

Gambar 7.3

Potret SMP BKP Tanjung Burung (Salah Satu Wilayah Penelitian)

Potret lain dari persoalan pendidikan di pesisir Teluk Naga adalah tingginya angka kredensialisme (jual-beli ijazah) pendidikan. Dalam konteks ini pendidikan dimaknai instan dan dijadikan sebagai komoditi pasar. Lihat tabel 7.6 di bawah ini.

Tabel 7.6 Kredensialisme Pendidikan Per Tahun

Desa Paket B Paket C Ijasah S1

Tanjung Burung 5 – 10 15 – 20 2

Tanjung Pasir 10 – 20 50 > 3

Muara 15 – 20 15 3

Sumber: Diolah dari data lapangan, 2010-2012

Keterangan: lembaga paket dibuat oleh elit desa (wawancara dengan U, 2011)

Ikhtisar

Sumberdaya alam pesisir Teluk Naga yang potensial sudah seharusnya dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakatnya. Laut, pantai, hamparan tambak, dan segenap potensi yang dimiliki harus diupayakan agar mendatangkan hasil keuntungan semaksimal mungkin. Tentunya, dibarengi dengan tindakan pencegahan limbah pabrik dan pelarangan penambangan pasir. Namun, realitas kepemimpinan elit desa (kepala desa) yang berkolaborasi dengan pemodal swasta dan mileter berdampak pada marginalisasi masyarakat pesisir. Potret ini merupakan pekerjaan rumah yang harus dicarikan solusinya.

Dari gambar 1 dan 2, nampak bangunan sekolah yang memprihatinkan. Langit-langit yang rusak dan bangunan jauh dari

(11)

Pada sisi ini sebenarnya esensi elit jawara harusnya disegarkan dengan upaya memberikan pemahaman nilai-nilai kewargaan universal. Hal ini hanya bisa dilakukan jika para elit jawara berkolaborasi dengan elit cendikia dan ulama. Ruang civil society dibuka dan pendidikan dijadikan parameter untuk menentukan arah kemajuan masyarakat, bukan sekedar komoditi pasar. Singkatnya, jawara harus melakukan transformasi diri meninggalkan sebagian tradisi buruknya, sehingga tercipta elit jawara yang visioner, terdidik, dan santun. Itulah khittah jawara pada awalnya, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari keberadaan ulama dan cendikia di tanah Banten umumnya, dan pesisir Teluk Naga Tangerang pada khususnya.

Figure

Tabel 7.2 Kebijakan Kepemimpinan Jawara di Teluk Naga

Tabel 7.2

Kebijakan Kepemimpinan Jawara di Teluk Naga p.2
Gambar 7.1 Potret Marginalisasi Masyarakat Pesisir Teluk Naga

Gambar 7.1

Potret Marginalisasi Masyarakat Pesisir Teluk Naga p.5

References

Related subjects : Implikasi Ekonomi dan Kebijakan

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in