TINGKAT KONSUMSI PADA DUA POPULASI KEONG MURBEI (Pomacea canaliculata) SEBAGAI ALTERNATIF PENANGANAN GULMA AIR

Teks penuh

(1)

TINGKAT KONSUMSI PADA DUA POPULASI

KEONG MURBEI (Pomacea canaliculata)

SEBAGAI ALTERNATIF PENANGANAN GULMA AIR

PUNGKY KUMALADEWI

SKRIPSI

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI

DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul:

Tingkat Konsumsi Pada Dua Populasi Keong Murbei (Pomacea canaliculata) sebagai Alternatif Penanganan Gulma Air

adalah benar merupakan hasil karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, September 2009

Pungky Kumaladewi C24050041

(3)

RINGKASAN

Pungky Kumaladewi. C24050041. Tingkat Konsumsi Pada Dua Populasi Keong Murbei (Pomacea canaliculata) sebagai Alternatif Penanganan Gulma Air. Dibawah bimbingan Niken T. M. Pratiwi dan Ristiyanti M. Marwoto.

Keong murbei (Pomacea canaliculata) merupakan spesies yang diintroduksi di Indonesia sekitar tahun 1986. Spesies ini memiliki distribusi yang luas dikarenakan sifatnya yang cepat beradaptasi terhadap lingkungan baru. Keong murbei ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Pada tahun-tahun terakhir, keong ini menjadi salah satu hama serius yang perlu diperhitungkan. Salah satu sifat keong murbei adalah tingkat konsumsi yang tinggi terhadap beberapa jenis tumbuhan air. Hal ini dapat memberikan manfaat positif bagi keseimbangan ekosistem perairan yang ditumbuhi gulma air, jika dilakukan pengelolaan yang tepat.

Keong murbei merupakan spesies yang memiliki variasi cangkang yang luas. Perbedaan yang tampak adalah pada warna cangkang, ukuran dan bentuk ulir, dan juga body whorl. Selama ini belum diketahui ada atau tidaknya perbedaan tingkat konsumsi pada variasi cangkang yang berbeda. Diduga perbedaan variasi cangkang akan mempengaruhi tingkat konsumsi keong murbei terhadap gulma air.

Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari tingkat konsumsi dua populasi keong murbei (P. canaliculata) yang memiliki variasi cangkang berbeda terhadap gulma air Vallisneria spiralis. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi potensi keong murbei sebagai pengendali gulma air. Penelitian di laboratorium dengan rancangan acak faktorial dilaksanakan pada 17-29 Maret 2009. Perlakuan yang diberikan dalam percobaan adalah dua populasi keong murbei yang memiliki variasi cangkang berbeda, yaitu keong murbei cangkang kuning dan keong murbei cangkang coklat. Jenis Gulma air yang digunakan dalam penelitian adalah gulma air tenggelam, yaitu Vallisneria spiralis. Tingkat konsumsi rata-rata dan total kedua jenis keong murbei diketahui dengan menghitung selisih berat pakan awal dengan berat akhir setiap tiga hari sekali. Kedua jenis keong murbei yang digunakan dikelompokkan dalam tiga kelompok ukuran, yaitu ukuran kecil, sedang, dan besar.

Nilai tingkat konsumsi tiap individu keong murbei terhadap V. spiralis menunjukkan adanya fluktuasi, baik pada keong murbei cangkang kuning atau pun keong murbei cangkang coklat. Tingkat konsumsi terbesar untuk keong murbei cangkang kuning adalah 3,9614 gram/hari pada ukuran 3,45 cm, sedangkan konsumsi terendah adalah 0,8776 gram/hari pada ukuran 2,25 cm. Jumlah konsumsi tertinggi pada populasi keong murbei cangkang coklat adalah 3,6583 gram/hari pada ukuran 3,85 cm, sedangkan konsumsi terendah adalah 0,6048 gram/hari pada ukuran 2,12 cm.

Tingkat konsumsi rata-rata berdasarkan kelompok ukuran menunjukkan peningkatan seiring dengan bertambahnya ukuran. Nilai konsumsi rata-rata untuk keong murbei cangkang kuning kelompok ukuran kecil, sedang, dan besar, masing-masing sebesar 1,9411 gram/hari; 2,2553 gram/hari; dan 3,2485 gram/hari.

(4)

Kelompok ukuran kecil, sedang, dan besar pada keong murbei cangkang coklat memiliki tingkat konsumsi masing-masing sebesar 1,7577 gram/hari; 2,1342 gram/hari; dan 3,3370 gram/hari. Hasil analisis statistik tingkat konsumsi rata-rata dengan menggunakan Anova: Two-Factor with Replication menunjukkan bahwa variasi cangkang tidak mempengaruhi tingkat konsumsi keong murbei terhadap V. spiralis (p≥0,05). Tingkat konsumsi keong murbei dipengaruhi oleh kelompok ukuran yang digunakan (p<0,05). Uji lanjut yang digunakan adalah beda nyata terkecil yang menunjukkan bahwa tiap kelompok ukuran memiliki tingkat konsumsi yang berbeda nyata pada taraf α 0,05. Berdasarkan hasil penelitian ini juga diketahui bahwa kelompok ukuran sedang (2,99-3,22 cm) lebih berpotensi dalam penanganan gulma air Vallisneria spiralis.

(5)

TINGKAT KONSUMSI PADA DUA POPULASI

KEONG MURBEI (Pomacea canaliculata)

SEBAGAI ALTERNATIF PENANGANAN GULMA AIR

PUNGKY KUMALADEWI C24050041

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(6)

PENGESAHAN SKRIPSI

Judul Skripsi : Tingkat Konsumsi Pada Dua Populasi Keong Murbei (Pomacea canaliculata) sebagai Alternatif Penanganan Gulma Air

Nama : Pungky Kumaladewi

N I M : C24050041

Program Studi : Manajemen Sumberdaya Perairan

Menyetujui:

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dr. Ir. Niken T.M. Pratiwi, M.Si. Ir. Ristiyanti M. Marwoto, M.Si. NIP. 19680111 199203 2 002 NIP. 19560104 198203 2 003

Mengetahui:

Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan,

Dr. Ir. Yusli Wardiatno, M.Sc NIP 19660728 199103 1 002

(7)

PRAKATA

Puji Syukur Alhamdulillah atas kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini berjudul Tingkat Konsumsi Pada Dua Populasi Keong Murbei (Pomacea

canaliculata) sebagai Alternatif Penanganan Gulma Air. Skripsi ini disusun

berdasarkan hasil penelitian pada bulan Maret 2009 dan merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Penulis menyadari skripsi ini jauh dari sempurna, dikarenakan keterbatasan pengetahuan penulis. Namun demikian penulis mengharapkan bahwa hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk berbagai pihak.

Bogor, September 2009

(8)

UCAPAN TERIMAKASIH

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Dr. Ir. Niken T.M. Pratiwi, M.Si. dan Ir. Ristiyanti M. Marwoto, M.Si. selaku pembimbing I dan pembimbing II atas kesabaran, bimbingan, masukan serta nasehat yang berarti bagi penulis.

2. Ayah dan Ibu tercinta, Bapak Agus Purwanto dan Ibu Suherlin, atas semua doa, dukungan, dan kasih sayang yang tidak pernah terputus kepada penulis.

3. Majariana Krisanti, S. Pi, M.Si. selaku dosen penguji tamu dan Ir. Zairion, M.Sc. sebagai dosen penguji departemen yang telah memberikan saran dan masukan yang sangat berarti bagi penulis.

4. Dr. Ir. Luky Adrianto, M.Sc. dan (Alm) Dr. Ir. Unggul Aktani, M.Sc. selaku pembimbing akademik atas bimbingan kepada penulis.

5. Adekku tersayang, Erwan dan Nia atas keceriaan, dukungan dan kasih sayang. 6. Ibu Siti Nursiyamah selaku staf Laboraturium Bio Mikro I (BIMI I) yang telah

banyak membantu penulis selama penelitian.

7. Staf Tata Usaha MSP yang saya banggakan, khususnya Mbak Widar.

8. Teman-teman MSP 42 (Puput, Endah, Silfi, Lenggo, Erys, Eka, Agus, Puni, Shiro, Pipit, Naila, Avi, Ebit, Irma, Lenny dan semua yang tidak bisa disebutkan satu persatu) atas bantuan dan kebersamaan yang tak terlupakan.

9. Keluarga besar Harmony I, khususnya Mbak Gita, Nisa, Niken, Resty, Mbak Widya, Mbak Mita dan Mbak Ine atas keceriaan dan canda tawa.

10. Bayu atas bantuan, doa, motivasi, dan kasih sayang pada penulis.

11. Teman-teman Asisten Iktiologi 2007/2008 dan Iktiologi 2008/2009, FHA 2007/2008 dan FHA 2008/2009 atas semangat, keceriaan dan kebersamaan. 12. MSP 43 dan 44 atas keceriaan yang mewarnai hari-hari di kampus.

(9)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Magetan, pada tanggal 17 September 1987 dari pasangan Bapak Agus Purwanto dan Ibu Suherlin Setyo Rahayu. Penulis merupakan putri pertama dari tiga bersaudara. Pendidikan formal ditempuh di SDN Klegen 02 Madiun (1999), SLTPN 1 Madiun (2002) dan SMAN 2 Madiun (2005).

Pada tahun 2005, Penulis lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI dan diterima di Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Selama mengikuti perkuliahan penulis berkesempatan menjadi Asisten luar biasa mata kuliah Iktiologi (2007/2008 dan 2008/2009) dan Fisiologi Hewan Air (2007/2008 dan 2008/2009) serta aktif sebagai Anggota Divisi Infokom pada tahun 2007/2008, Sekretaris II Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan (HIMASPER) pada tahun 2008/2009, serta anggota Organisasi Mahasiswa Daerah PASMAD (Paguyuban Sedulur Madiun) pada tahun 2007-2008. Penulis pernah mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa di bidang Penelitian dan berhasil didanai DIKTI pada tahun 2006 yang berjudul “Penggunaan Lendir Ikan lele (Clarias

batrachus) sebagai Obat Alternatif Hipertensi”

Untuk menyelesaikan studi di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, penulis melaksanakan penelitian yang berjudul “Tingkat Konsumsi pada Dua populasi Keong Murbei (Pomacea canaliculata) sebagai Alternatif Pengendalian Gulma Air “. Penulis dinyatakan lulus pada tanggal 3 September 2009.

(10)

PRAKATA

Puji Syukur Alhamdulillah atas kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini berjudul Tingkat Konsumsi Pada Dua Populasi Keong Murbei (Pomacea

canaliculata) sebagai Alternatif Penanganan Gulma Air. Skripsi ini disusun

berdasarkan hasil penelitian pada bulan Maret 2009 dan merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Penulis menyadari skripsi ini jauh dari sempurna, dikarenakan keterbatasan pengetahuan penulis. Namun demikian penulis mengharapkan bahwa hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk berbagai pihak.

Bogor, September 2009

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 2

1.3. Tujuan Penelitian ... 3

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Keong Murbei (Pomacea canaliculata) ... 4

2.1.1. Klasifikasi keong murbei (P. canaliculata) ... 4

2.1.2. Morfologi ... 5

2.1.3. Variasi morfologi ... 7

2.1.4. Sistem pencernaan dan makanan ... 7

2.1.5. Pertumbuhan dan reproduksi ... 9

2.1.6. Habitat dan distribusi ... 11

2.2. Gulma Air ... 13 2.3. Kualitas Air ... 15 2.3.1. Suhu ... 15 2.3.2. pH ... 16 2.3.3. DO (Dissolved Oxygen) ... 16 3. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat ... 17

3.2. Alat dan Bahan ... 17

3.3. Metode ... 17

3.3.1. Observasi awal ... 18

3.3.2. Tahap persiapan ... 19

3.3.2.1. Persiapan biota uji ... 19

3.3.2.2. Persiapan gulma air (Vallisneria spiralis) ... 21

3.3.2.3. Persiapan media ... 22 3.3.3. Pelaksanaan ... 23 3.3.3.1. Pemeliharaan ... 23 3.3.3.2. Pengukuran ... 23 3.3.3.3. Pengumpulan data ... 23 3.4. Analisis data 3.4.1. Pengujian hipotesis ... 24

3.4.2. Rancangan acak faktorial (RAF)... 24

(12)

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil ... 27 4.2. Pembahasan ... 35 5. KESIMPULAN ... 41 DAFTAR PUSTAKA ... 42 LAMPIRAN ... 45

(13)

DAFTAR TABEL

Halaman 1. Analisis sidik ragam rancangan acak faktorial (RAF) ... 25 2. Tingkat konsumsi tiap individu keong murbei cangkang kuning dan

coklat terhadap V. spiralis ... 28 3. Tingkat konsumsi keong murbei terhadap V. spiralis dengan variasi

kelompok ukuran dan cangkang berbeda ... 30 4. Pertambahan ukuran tinggi cangkang pada konsumsi V. spiralis ... 33 5. Suhu rata-rata harian pada media uji ... 34

(14)

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1. Skema pendekatan masalah tingkat konsumsi pada dua populasi

keong murbei (P. canaliculata) sebagai alternatif penanganan gulma air 3

2. Keong Murbei (Pomacea canaliculata) ... 5

3. Bagian tubuh keong murbei (Ghesquiere 1999) ... 5

4. Sistem pencernaan keong murbei (Ghesquiere 1999)... 8

5. Radula keong murbei (Martin 2002) ... 8

6. Grafik pertumbuhan keong murbei (Estebenet & Martin 2002) ... 10

7. P. canaliculata dengan sifon menjulur (Ghesquiere 1999) ... 12

8. Vallisneria spiralis ... 14

9. Distribusi V. spiralis di seluruh dunia yang dilaporkan sebagai gulma (Leroy et al 1997) ... 15

10. Keong murbei (cangkang kuning dan cangkang coklat) ... 19

11. Cara pengukuran tinggi cangkang... 20

12. Variasi ukuran tinggi cangkang keong murbei kuning ... 21

13. Variasi ukuran tinggi cangkang keong murbei coklat ... 21

14. Langkah penghitungan berat basah V. spiralis ... 22

15. Keong murbei yang diuji... 27

16. Grafik tingkat konsumsi rata-rata individu cangkang kuning ... 29

17. Grafik tingkat konsumsi rata-rata individu cangkang coklat ... 29

18. Tingkat konsumsi keong murbei rata-rata per hari ... 31

19. Tingkat konsumsi keong murbei total per hari ... 32

20. Grafik pertambahan tinggi cangkang keong murbei cangkang kuning .... 34

21. Grafik pertambahan tinggi cangkang keong murbei cangkang coklat ... 34

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1. Alat yang digunakan dalam penelitian ... 46 2. Data mentah tingkat konsumsi keong murbei (P. canaliculata)

terhadap V. spiralis ... 48 3. Hasil analisis ststistik sisa pakan dengan rancangan acak

faktorial ... 50 4. Uji lanjut beda nyata terkecil (BNT) ... 51 5. Pertambahan tinggi keong murbei (P.canaliculata) ... 52 6. Hasil analisis statistik tinggi cangkang dengan rancangan acak

faktorial ... 53

(16)

1.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Keong murbei (Pomacea canaliculata), dari famili Ampullariidae, diintroduksi ke Asia pada tahun 1979-1980 (Hendarsih-Suharto et al. 2006). Spesies ini memiliki distribusi yang luas karena cepat beradaptasi dengan lingkungan baru dan ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Pada awalnya, keong murbei merupakan salah satu hama pertanian yang kurang diperhatikan oleh petani. Tetapi pada tahun-tahun terakhir, keong ini menjadi salah satu hama serius yang perlu diperhitungkan. Tingkat reproduksi yang tinggi dan tingkat mortalitas yang rendah menjadi faktor dominan yang berpengaruh pada kelimpahan keong murbei di alam. Keberadaan yang sangat melimpah menjadi suatu masalah baru dalam bidang pertanian karena keong ini dapat menjadi pemangsa tanaman pertanian yang sangat hebat.

Keong murbei memakan tumbuhan air tertentu, terutama tumbuhan air tipe tenggelam, mengapung, serta beberapa jenis tanaman berdaun lunak. Selain itu, keong murbei juga memiliki toleransi makanan yang luas dan bahkan cenderung tidak memilih-milih makanan. Makanan keong murbei di China meliputi alang-alang (Cyperus monophyllus), Eichhornia sp., gelagah (Juncus decipiens), duckweed (Lemna sp.), lotus (Nelumbo nucifera), watercress (Oenanthe stolonifera), padi (Oryza sativa), water lettuce (Pistia sp.), scirpus (Scirpus californicus), water chesnut (Trapa bicornis), Vallisnera sp., padi liar (Zizania latifolia), dan kangkung (Ipomea aquatica) (Purchon 1977, Halwart 1994 in Min & Yan 2006). Jenis gulma air yang digunakan dalam penelitian ini adalah Vallisneria spiralis. Jenis ini dipilih karena morfologi dan tekstur daun yang sangat disukai oleh keong murbei. Di samping itu, hal ini berkaitan dengan sifat hidup keong murbei sebagai organisme yang banyak beraktifitas di dasar perairan.

Salah satu sifat keong murbei adalah tingkat konsumsi yang tinggi terhadap beberapa jenis tumbuhan air. Hal ini dapat memberikan manfaat positif bagi keseimbangan ekosistem perairan yang ditumbuhi gulma air, jika dilakukan pengelolaan yang tepat. Porte et al. (2006) juga menyatakan bahwa kebiasaan ini dapat dimanfaatkan sebagai pengendali gulma di sawah secara biologi.

(17)

Keong murbei memiliki ukuran, bentuk dan ukuran menara (spire), jumlah seluk, bentuk seluk (body whorl), dan sculpture, serta warna cangkang yang bervariasi (Hendarsih-Suharto et al. 2006). Variasi bentuk cangkang terkait dengan morfologi yang bersifat mantap. Morfologi tidak dipengaruhi oleh umur (Marwoto, 20 Desember 2008, komunikasi pribadi). Di alam terdapat jenis keong murbei dengan variasi cangkang yang berbeda. Perbedaan yang tampak adalah pada warna cangkang, ukuran dan bentuk menara, dan juga body whorl. Selama ini belum diketahui ada atau tidaknya perbedaan tingkat konsumsi pada variasi cangkang yang berbeda.

Dengan demikian, perlu dilakukan penelitian mengenai tingkat konsumsi pada populasi P. canaliculata yang berbeda. Hasil dari tingkat konsumsi tersebut diharapkan dapat memberikan informasi potensi keong murbei sebagai alternatif penanganan gulma air secara biologi.

1.2. Pendekatan Masalah

Keong murbei memiliki tingkat konsumsi yang tinggi terhadap tumbuhan air, khususnya adalah tumbuhan air mengapung dan tenggelam. Variasi cangkang yang beragam dari jenis P. canaliculata diduga akan memberikan suatu respon yang berbeda terhadap pemangsaan gulma air (Vallisneria spiralis). Dua populasi keong murbei yang berbeda cangkang akan dibandingkan tingkat konsumsinya.

Beberapa tumbuhan air diketahui sangat berpotensi menjadi gulma air. Keberadaan gulma air dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan dan mempercepat proses sedimentasi. V. spiralis merupakan salah satu jenis tumbuhan air yang sangat berpotensi sebagai gulma air dan dapat digunakan untuk mengetahui tingkat konsumsi keong murbei terhadap gulma air tenggelam.

Hasil yang diharapkan adalah informasi ada atau tidaknya perbedaan tingkat konsumsi pada dua populasi keong murbei yang berbeda terhadap konsumsi gulma air (V. spiralis). Uraian mengenai pendekatan masalah tersebut disajikan secara skematis pada Gambar 1.

(18)

Tingkat Konsumsi Potensi penanggulangan gulma air Pemanfaatan V. spiralis 1.3. Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tingkat konsumsi dua populasi keong murbei (P. canaliculata) yang memiliki variasi cangkang berbeda terhadap gulma air V. spiralis. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi mengenai potensi keong murbei sebagai pengendali gulma air.

Gambar 1. Skema Pendekatan Masalah Tingkat Konsumsi pada Dua Populasi Keong Murbei (P. canaliculata) sebagai Alternatif Penanganan Gulma Air Populasi Keong murbei cangkang yang berbeda Tanaman air berpotensi gulma Lingkungan (Kualitas air)

(19)

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Keong Murbei (Pomacea canaliculata)

Keong murbei (P. canaliculata) merupakan keong air tawar spesies asli di wilayah tropis dan subtropis Amerika Selatan (Halwart 1994c in Ranamukhaarachchi & Wickramasinghe 2006). Keong tersebut diintroduksikan dari Amerika Selatan ke Taiwan pada 1980 untuk keperluan akuakultur sebagai bahan makanan lokal dan ekspor (Naylor 1996 in Ranamukhaarachchi & Wickramasinghe 2006). Pada tahun 1986, keong murbei sudah banyak ditemukan di Indonesia. Saat ini keong murbei dilaporkan berada dalam jumlah yang berlimpah di beberapa habitat seperti sungai, kolam, rawa, danau, dan saluran irigasi (Hendarsih-Suharto et al.2006). Dilaporkan pula bahwa keong ini merupakan hama utama padi dan palawija. Selain memberikan dampak yang merugikan, keong murbei memiliki beberapa manfaat, yaitu sebagai sumber makanan, dekorasi akuarium, sebagai pengendali gulma secara biologi, serta sebagai pakan dan pupuk (Ranamukhaarachchi & Wickramasinghe 2006). Beberapa aspek biologi dan ekologi Pomacea canaliculata diuraikan sebagai berikut.

2.1.1. Klasifikasi keong murbei (Pomacea canaliculata)

Keong murbei (Gambar 2) merupakan siput air tawar yang termasuk ke dalam Famili Ampulariidae. Menurut Cowie et al. (2006), spesies ini tersebar di wilayah tropis dan subtropis yang lembab di Afrika, Amerika, serta Asia. Klasifikasi Ampulariidae menurut TROPMED Technical Group (1986) in Baoanan dan Pagulayan (2006); Lamarck (1822) in Baoanan dan Pagulayan (2006) adalah sebagai berikut.

Kingdom : Animalia Filum : Mollusca Kelas : Gastropoda Sub Kelas : Prosobranchia Ordo : Mesogastropoda Super Famili : Viviparoidea Famili : Ampullariidae Genus : Pomacea

(20)

a b

Gambar 2. Keong Murbei (P. canaliculata) ( = 1 cm)

2.1.2. Morfologi

Secara morfologi, Pomacea (Golden Apple Snail) yang biasa dikenal sebagai keong mas atau siput murbei memiliki kemiripan dengan siput lokal Pila. Bentuk dan ukuran cangkang serta warna dari kapsul telur dapat menjadi karakteristik yang baik untuk membedakan antara Pomacea dengan Pila. Bagian tubuh dari keong murbei dijelaskan pada Gambar 3.

Gambar 3. Bagian tubuh keong murbei (Ghesquiere 1999)

Suwignyo et al. (2005) menyatakan bahwa cangkang gastropoda terdiri atas empat lapisan. Paling luar adalah periostrakum, yang merupakan lapisan tipis terdiri dari bahan protein seperti zat tanduk. Periostrakum berfungsi untuk melindungi lapisan di bawahnya yang terdiri dari kalsium karbonat. Lapisan kalsium karbonat

spire apex

(21)

terdiri atas tiga lapisan atau lebih, yang terluar adalah prismatik atau palisade, lapisan tengah atau lamella dan yang paling dalam adalah nacre atau hypostracum.

Keong murbei memiliki cangkang yang besar, tebal, lebar dengan puncak pendek (Gambar 3). Memiliki 4-5 seluk dan seluk akhir (body whorl) tebal. Umbilikusnya terbuka, memiliki kanal yang dalam, cangkangnya halus berwarna coklat terang atau kuning kehijauan, tanpa pita-pita spiral (spiral bands) coklat (Gambar 2a). Aperture (bukaan cangkang) melebar berbentuk oval, bibir luar (outer lips) agak sedikit tebal berwarna oranye atau kuning gelap, operkulum (tutup cangkang) agak sedikit tebal (Gambar 3). Tinggi total cangkang 45-65 mm, lebar 40-55 mm, tinggi aperture sekitar ¾ dari total tinggi cangkang (Hendarsih-Suharto et al. 2006).

Cowie et al. (2006) menyatakan bahwa spesies dari grup Pomacea memiliki cangkang yang membundar, sering ditandai dengan pita-pita spiral (spiral bands) berwarna gelap. Sedikit berbeda dengan Hendarsih-Suharto et al. (2006), Cowie et al. (2006) mendeskripsikan bahwa cangkang P. canaliculata berbentuk membulat, umumnya berat, dengan periostrakum berwarna kehijauan atau berwarna tanduk dan sering dengan pita spiral (spiral bands) gelap (Gambar 2b). Cangkang keong dewasa memiliki 5-6 seluk (ukuran bertambah agak cepat dan terpisah oleh saluran suture yang dalam). Puncak cangkang (apex) agak landai, tetapi karakter ini cukup bervariasi. Aperture besar dan membundar agak memanjang, bibir cangkang atau peristome kadang berwarna kemerahan. Umbilikus luas dan dalam. Operkulum berbentuk corneus, keseluruhan menutupi aperture. Cangkang dewasa biasanya mencapai ukuran medium, hingga 50 mm, tetapi sangat bervariasi dalam populasi, dan beberapa individu mungkin berukuran lebih besar.

Menurut Hendarsih-Suharto et al. (2006), variasi cangkang yang dimiliki oleh keong murbei sangat beragam dan cenderung berbeda pada setiap daerah di Indonesia. Variasi tersebut meliputi ukuran, bentuk, dan ukuran ulir (spire), jumlah seluk, seluk akhir (body

whorl), dan warna cangkang. Pendapat ini juga didukung oleh Bronson (2002) yang menyatakan bahwa keong ini juga memiliki cangkang dan warna tubuh yang berbeda-beda. Meskipun banyak perbedaan cangkang dalam satu spesies, tetapi semua diidentifikasi sebagai P. canaliculata.

(22)

2.1.3. Variasi morfologi

Cazzaniga (2006) menyatakan bahwa keong murbei adalah spesies yang sangat bervariasi. Analisis kuantitatif keragaman dari interpopulasi atau intrapopulasi P. canaliculata berbeda pada skala geografik. Variasi bentuk cangkang berbeda ditunjukkan pada populasi dari habitat yang berbeda. Secara signifikan, perbedaan bentuk cangkang di antara beberapa keong terjadi karena perbedaan kondisi lingkungan yang sangat besar. Bentuk cangkang betina atau jantan sangat berbeda pada ekosistem mengalir dan menggenang. Secara signifikan, perbedaan tersebut dideteksi di danau dan waduk dengan dasar yang keras, dan sangat berlawanan dengan sungai yang memiliki dasar berpasir. Perbedaan cangkang keong murbei pada kedua habitat tersebut berkaitan dengan proses adaptasi individu pada lingkungan sekitar. Estebenet (2006) in Cazzaniga (2006) mendukung pendapat tersebut dan menyatakan bahwa perbedaan bentuk cangkang dapat muncul sebagai hasil perbedaan tingkah laku reproduksi secara genetik.

Pada variasi ukuran tubuh, Cazzaniga (2006) berpendapat bahwa hal tersebut tergantung pada ukuran habitat dan sistem hidrologis. Individu yang berkoloni di tepi saluran air dan terkena hempasan atau aliran air yang kecil, tidak akan mencapai ukuran yang besar di habitat hidupnya (Estebenet (2000) in Cazzaniga (2006)).

Menurut Yusa (2004) in Cazzaniga (2006), pola pita dari cangkang sangat bervariasi di antara keong murbei dalam populasi yang sama. Variasi ini tampak pada warna, intensitas, jumlah, dan lebar dari pita. Pita tersebut tidak nampak pada P. canaliculata albino (berwarna kuning), yang kekurangan pigmen warna gelap pada mantel, mata, dan cangkang.

2.1.4. Sistem pencernaan dan makanan

Sistem pencernaan keong murbei merupakan salah satu cara adaptasi terhadap jenis makanannya, yaitu tanaman air. Secara garis besar, saluran pencernaan pada keong murbei dapat digolongkan menjadi lima bagian, yaitu saluran masuk (yang terdiri dari mulut dan rongga mulut dengan radula dan rahang), saluran sebelum pencernaan (esophagus dengan kelenjar saliva, kantung lateral, dan tembolok), saluran pencernaan (tiga ruang perut dengan kelenjar pencernaan yang

(23)

menyatu), saluran penyerapan (usus), dan saluran pengeluaran (rektum dan anus) (The Applesnail Website 2008). Sistem pencernaan pada keong murbei ditunjukkan pada Gambar 4.

Gambar 4. Sistem pencernaan keong murbei (Ghesquiere 1999)

Radula sangat membantu pencernaan makanan pada keong murbei (Gambar 5). Pada saat radula berada di bagian depan, gigi radula akan membengkok satu sama lain untuk mengikat makanan. Setelah makanan terpotong, makanan tersebut akan dibawa ke esofagus untuk proses pencernaan selanjutnya (The Applesnail Website 2008).

Gambar 5. Radula keong murbei (Martin 2005)

Keong murbei memiliki kisaran makanan yang luas. Menurut Ping et al. (2006), keong murbei adalah pemangsa yang sangat rakus. Sebenarnya, keong murbei hanya memakan tanaman air yang mengapung atau tenggelam (Yin et al.

(24)

2000 in Min & Yan 2006). Keong murbei memulai memakan tumbuhan tingkat tinggi ketika tinggi cangkangnya mencapai 15 mm (Estebenet & Martin 2002).

Keong murbei menjadi salah satu hama pertanian yang paling berbahaya di dunia karena persebarannya yang cepat dan menimbulkan kerusakan yang serius (Chapin et al. 2000 in Min & Yan 2006). Di Filipina, keong murbei menjadi hama utama tanaman padi karena memakan semai padi. Porte et al. (2006) dalam penelitiannya mencoba memanfaatkan keong murbei untuk mengontrol gulma-gulma di berbagai sawah karena keong murbei suka memakan tunas-tunas muda dari famili rerumputan. Penelitian tersebut juga didukung oleh pendapat Okuma et al. (1994); Wada (2004) in Ranamukhaarachchi dan Wickramasinghe 2006 yang menyatakan bahwa di Jepang introduksi P. canaliculata telah dilaporkan sebagai agen yang berpotensi sebagai pengendali gulma. Inderjit (2003) juga menyatakan bahwa keong murbei adalah pemakan tumbuhan air yang sangat rakus, dan telah diakui penggunaannya dalam program biocontrol.

2.1.5. Pertumbuhan dan reproduksi

Siklus hidup keong murbei ditentukan oleh ketersediaan pakan dan suhu air. Pada suhu yang tinggi dan pakan yang melimpah, keong murbei memiliki siklus hidup yang singkat, kurang dari tiga bulan, dan akan bereproduksi sepanjang tahun. Pada kondisi sebaliknya, ketika dihadapkan pada kekurangan pakan atau pada periode kekeringan, keong murbei akan memiliki siklus hidup yang lebih panjang dan hanya bereproduksi sekali pada musim semi atau awal musim panas. Tidak hanya faktor lingkungan, seperti pakan dan suhu, melainkan periode estivasi, juga berpengaruh pada siklus hidup keong murbei (The Applesnail Website 2008).

Keong murbei yang baru menetas akan tumbuh cepat pada awal bulan, kemudian laju pertumbuhan berkurang dan menjadi akan berhenti pada saat dewasa. Pada saat dewasa, keong akan menjadi aktif secara seksual dan akan bertelur. Setelah memijah sekali atau lebih, keong akan tumbuh kembali dengan laju yang tinggi hingga periode reproduksi mulai. Menurut Cazzaniga (2006) ukuran keong murbei berdasarkan tinggi cangkang dapat dibedakan menjadi pre adult dengan ukuran lebih besar dari 1,5 cm, young 2-3 cm, dan dewasa lebih besar dari 3 cm.

(25)

Grafik pertumbuhan keong murbei ditunjukkan pada Gambar 6 (The Applesnail Website 2008).

Gambar 6. Grafik Pertumbuhan Keong murbei (Estebenet & Martin 2002)

Chiu et al. (2002) in Min dan Yan (2006) menyatakan adanya perbedaan karakteristik yang nyata pada keong murbei jantan dan betina. Oleh karena itu, keong murbei (golden apple snail) tergolong hewan dioecious (berumah dua). Keong jantan yang telah matang memiliki operkulum yang cekung di tengahnya. Penis seperti cambuk dengan sarung penis agak melebar pada pangkalnya (Cowie et al. 2006). Hal tersebut merupakan pembeda dari betina dewasa. Dalam penelitian Halwart (1994) in Min dan Yan (2006) disebutkan bahwa jumlah betina melebihi pejantannya, dan di Filipina perbandingan tersebut adalah 2,1:1.

Yin et al. 2000c in Min dan Yan 2006 berpendapat bahwa pada kondisi lingkungan yang baik, keong betina mencapai kematangan seksual saat berumur 60-85 hari. Pada ukuran tinggi 2,5 cm keong murbei sudah mampu bereproduksi (The Applesnail Website). Suhu yang tepat untuk kopulasi dan pemijahan adalah 25-26oC. Setelah kopulasi dan fertilisasi in vivo, keong murbei biasanya memijah di malam hari di atas permukaan air. Telur-telur tersebut diletakkan dan dikumpulkan 10-34 cm di atas permukaan air. Telur-telur dapat menetas di udara bebas dengan kelembaban yang diperlukan dan diatur oleh mukus. Penetasan terjadi pada 15-28 hari pada suhu 20-24oC atau 8-15 hari pada suhu 28-32oC. Pendapat ini juga didukung oleh Halwart (1994) in Min dan Yan (2006) yang menyatakan bahwa di

(26)

Filipina telur-telur keong murbei menetas pada 10-15 hari dan di Jepang penetasan memerlukan waktu 3 minggu. Pada tahap aktif, keong murbei berkopulasi dan memijah secara teratur. Suhu air yang rendah akan menurunkan aktivitas keong dan tertundanya masa kopulasi (Albrecht et al. 1999 in Min & Yan 2006).

2.1.6. Habitat dan distribusi

Habitat keong murbei biasanya berupa parit, kolam dangkal, sawah, dan jenis perairan lainnya dengan arus yang tenang atau lambat, dengan dasar yang berlumpur. Keong murbei tidak dapat bertahan di perairan payau yang ekstrim, atau pada perairan deras (Lach 1999 in Min & Yan 2006). Sedikit berbeda dengan pernyataan tersebut, Halwart (1994) in Min dan Yan (2006) menyatakan bahwa perairan mengalir membantu penyebaran keong murbei.

Menurut Min dan Yan (2006), keong murbei memiliki ketahanan terhadap perairan tercemar, yaitu pada kisaran pH 8,5-9,0 dengan suhu 23-25oC. Keong murbei lebih memilih perairan yang tidak tercemar, tetapi memiliki toleransi tinggi terhadap kondisi tercemar. The Applesnail Website (2008) menyatakan bahwa keong murbei merupakan hewan nokturnal yang mampu bertahan pada kisaran suhu 18-28oC dan merupakan hewan berdarah dingin yang aktif pada suhu tinggi.

Keong murbei memiliki sifon yang membantunya bernafas di udara bebas. Sifon adalah organ yang terdiri dari sebuah lipatan rongga mantel (nuchal lobe) pada bagian kiri leher (Ghesquiere 1999). Hal inilah yang membuat keong murbei toleran terhadap kandungan oksigen terlarut (DO) yang rendah. Pada kondisi demikian, keong murbei merenggangkan tubuhnya untuk meningkatkan luas area pertukaran udara dan menjulurkan sifonnya (Gambar 7). Menurut Yin et al. 2000c in Min dan Yan 2006 menyatakan bahwa ketika konsentrasi DO mencapai 0,23-0,45 mg/l, operkulum keong murbei menutup. Keong murbei akan menutup operkulum dan mensekresikan mukus untuk beradaptasi terhadap lingkungan yang tidak mendukung, termasuk pH tinggi. Keong murbei lebih memilih kondisi basa (pH 7-8,5). Ketika pH lebih dari 10, dengan kondisi operkulum tertutup dan tanpa atau sedikit mensekresikan mukus, keong menjadi inaktif sampai akhirnya mati.

(27)

Gambar 7. P. canaliculata dengan sifon menjulur (Ghesquiere 1999)

Penelitian Halwart (1994) in Min dan Yan (2006) menyebutkan bahwa ketika perairan mengalami penyusutan dan menuju kekeringan, keong murbei akan berpindah menuju tempat yang tergenang air. Ketika air permukaan lebih rendah daripada tinggi cangkang, keong murbei tidak akan mengambil makanan atau pun berkopulasi. Sebelum perairan menjadi kering, keong dapat menggali dan membenamkan dirinya ke dalam lumpur selama beberapa bulan. Keong murbei akan aktif kembali setelah perairan terisi kembali. Keong murbei dapat hidup beberapa waktu tanpa air. Hal tersebut didukung oleh pendapat Feng (1994) in Min dan Yan (2006) yang menyatakan pada suhu 22-27oC dan 82-85% kelembaban relatif, pada kondisi tanpa air, rasio bertahan hidup bagi keong dewasa adalah 100% selama 40 hari.

Sebagai spesies yang tersebar di daerah tropis dan subtropis, keong murbei ditemukan di Argentina, Bolivia, Brazil, Paraguay, Suriname, dan Uruguay (Ponce de Leon & Carpo 1994 in Min & Yan 2006). Di Asia, keong murbei dapat ditemukan di China, Indonesia, Jepang, Korea, Laos, Malaysia, Papua, Filipina, Thailand, dan Vietnam (Halwart 1994 in Min & Yan 2006). Di Amerika, keong ini tersebar di beberapa negara bagian Amerika Serikat (AS) bagian utara, sedangkan di Afrika dapat ditemukan di Mesir. Hingga saat ini belum diketahui penyebaran keong murbei di Eropa (Min & Yan 2006).

Suharto (2003) in Min dan Yan (2006) menyatakan bahwa pada tahun 1981 keong murbei sudah mulai diintroduksi ke Indonesia. Keong murbei ditemukan di banyak tempat di Sumatra (Bengkulu, Jambi, Lampung, Pariaman, dan Riau), Papua (Biak dan Wamena), Sulawesi (Buton, Bone, Makassar, Manado, Maros, Palu, dan

(28)

Pangkep), Kalimantan (Balikpapan dan Samarinda), Jawa, Bali, dan Lombok. Sejak tahun 1985-1987 keong murbei dianggap menjadi spesies lokal yang populer.

2.2. Gulma Air

Gulma merupakan tumbuhan yang tumbuh pada waktu, tempat, dan kondisi yang tidak diinginkan manusia (Sukman & Yakup 2002). Definisi gulma menurut Mangoensoekarjo (1983) in Sukman & Yakup (2002) adalah tumbuhan yang mempunyai nilai negatif (merugikan kepentingan manusia baik langsung maupun tidak langsung) melebihi nilai positif (data-gunanya bagi manusia).

Gulma air diklasifikasikan menjadi marginal (tepian), emergent (gabungan antara tenggelam dan terapung), submerged (tenggelam), anchored with floating leaves, free floating (mengapung), dan plankton/algae (Sukman & Yakup 2002). Hal serupa juga dijelaskan oleh Islam (2008) bahwa gulma air adalah spesies tumbuhan yang sebagian atau seluruh bagian tubuhnya tumbuh di kolom perairan, dan memiliki pengaruh yang merugikan secara fisika, kimia, atau biologi terhadap ekosistem akuatik.

Menurut Jacob dan Sainty (1988), definisi dari tumbuhan air tenggelam meliputi tanaman yang seluruh akarnya tertanam pada substrat dan seluruh daunnya tenggelam. Tumbuhan ini menghasilkan bunga yang muncul di permukaan atau di bawah permukaan air. Kebanyakan jenis gulma air tenggelam dan mengapung menyebabkan turunnya partikel tanah atau lumpur yang dibawa oleh arus air, yang akan mempercepat proses sedimentasi.

Beberapa jenis gulma air pertanian lain adalah Hygroryza aristata, Eragrostis spp., Eleocharis spp., Oryza rufipogon, Digitaria spp., Cyperus diffusus, C. distans, C. pilosus, Fimbristylis dichotoma, Najas indica, Monochoria spp., Vallisneria spiralis. Jenis gulma air yang digunakan dalam penelitian ini adalah Vallisneria spiralis (Gambar 8).

Vallisneria spiralis yang juga dikenal sebagai Straight Vallisneria, Tape grass, atau Eel grass merupakan tumbuhan air yang memerlukan kondisi cahaya yang baik dan substrat yang kaya nutrien. Dalam kehidupan liar, tumbuhan ini dapat ditemukan di wilayah bagian tropis dan subtropis. Klasifikasi V. spiralis (Zipcodezoo 2009) adalah sebagai berikut.

(29)

Kingdom : Plantae Filum : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Subkelas : Alismatidae Ordo : Alismatales Famili : Hydrocharitaceae Genus : Vallisneria

Species : Vallisneria spiralis (Erasmus Darwin 1789)

Gambar 8. Vallisneria spiralis

HEAR (2005) mendeskripsikan bahwa tumbuhan ini tenggelam di perairan, berumah dua, dan bersifat tahunan atau ada sepanjang tahun. V. spiralis memiliki daun linear yang sempit dan memiliki kisaran warna dari hijau pucat hingga kemerahan. Daun berbentuk seperti pita dengan panjang dapat mencapai 3 feet (1 m) dan lebar mencapai 2 cm. Di samping itu terdapat stolon, dengan akar serabut yang tersusun di tiap segmen. Lebar stolon 1-7 cm dan panjang mencapai 1-6 m.

Pada umumnya V. spiralis ditemukan di kedalaman 0,5-3m. Perkembangbiakan Vallisneria sp melalui biji, bunga yang tersebar oleh angin, dan pemisahan dari akar. Hal ini tergantung pada lokasi, musim, dan wilayah. Salah satu atau lebih cara pembiakan tersebut mungkin akan sangat berperan dalam memperluas distribusi gulma ini. Leroy et al. (1997) berpendapat bahwa tumbuhan ini dapat tumbuh subur di perairan berarus lambat, tetapi sangat jarang di perairan deras. Gulma ini ditemukan di beberapa lahan palawija, saluran irigasi, dan saluran air, sehingga menghalangi aliran air. V. spiralis berpotensi sebagai gulma karena memiliki daya adaptasi yang tinggi, sehingga persebarannya sangat mudah. V.

(30)

spiralis adalah salah satu jenis gulma yang tersebar luas di lebih dari 50 negara di semua benua, termasuk di Indonesia (Leroy et al.1997) (Gambar 9).

Gambar 9. Distribusi gulma Vallisneria spiralis di seluruh dunia (Leroy et al.1997)

Di Kepulauan Chatham, Selandia Baru, V. spiralis dilaporkan sebagai gulma seperti halnya Egeria densa dan Hydrilla verticilata. Kemampuan adaptasinya yang luar biasa bahkan mampu bersaing dengan H. verticilata (ECAN 2008). Pendapat serupa juga disampaikan oleh Van et al. (1999) yang menyatakan bahwa dalam kondisi nutrien yang terbatas, ternyata V. spirallis mampu menekan dan mengalahkan dominansi pertumbuhan H. verticilata.

2.3. Kualitas Air

Terdapat beberapa parameter kualitas air yang menjadi kriteria kondisi lingkungan yang mendukung kelangsungan hidup P. canaliculata. Parameter kualitas air tersebut antara lain adalah, suhu, pH, dan DO (Dissolved Oxygen).

2.3.1. Suhu

Suhu adalah faktor paling kritis yang mempengaruhi respirasi. Invertebrata dan ikan adalah hewan berdarah dingin dan proses metabolismenya menyesuaikan pada suhu saat aklimatisasi (Spotte 1970). Peningkatan suhu juga menyebabkan

(31)

penurunan kelarutan gas dalam air, misalnya gas O2, CO2, N2, CH4, dan sebagainya

(Haslam 1995 in Effendi 2003). Laju respirasi sebagian besar organisme akuatik bertambah seiring dengan bertambahnya suhu (Spotte 1970). Selain itu, peningkatan suhu juga menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme dan respirasi organisme air, dan selanjutnya mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen.

2.3.1. pH

pH menggambarkan konsentrasi ion hidrogen. Semakin tinggi nilai pH, semakin tinggi pula nilai alkalinitas, dan semakin rendah kadar karbondioksida bebas. Perairan alami bisanya memiliki nilai pH 6-6,5. Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 7-8,5 (Tebbut 1992 in Effendi 2003). Nilai pH yang biasa digunakan pada budidaya air tawar berkisar antara 7-9 (Spotte 1970).

2.3.2. DO (Dissolved Oxygen)

Kandungan oksigen terlarut (DO) pada lingkungan merupakan salah satu faktor penting dari kualitas air. Biota akan mengalami penurunan konsumsi pakan pada periode tertentu setelah terjadi deplesi oksigen (Sticney 1979). Ikan dan organisme lain membutuhkan oksigen terlarut dengan jumlah cukup. Kebutuhan oksigen sangat dipengaruhi oleh suhu, dan bervariasi antar-organisme (Effendi 2003). Brown (1987) in Effendi (2003) berpendapat bahwa peningkatan suhu sebesar 1oC akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10%.

(32)

3. METODE PENELITIAN

3.1. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 17-29 Maret 2009. Kegiatan penelitian bertempat di Laboratorium Riset Tumbuhan Air Bagian Produktivitas dan Lingkungan Perairan, Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Observasi awal dilakukan pada bulan Juli-Oktober 2008.

3.2 . Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan selama penelitian meliputi alat untuk percobaan dan alat analisis kualitas air. Alat yang digunakan untuk eksperimen meliputi kendil, kain kasa, jangka sorong, gelas plastik, tisu, serta timbangan digital (Lampiran 1). Alat yang digunakan untuk analisis kualitas air adalah DO meter, pH meter, dan termometer (Lampiran 1). Dalam penelitian ini, bahan uji yang digunakan adalah keong murbei (Pomacea canaliculata), dan gulma air tenggelam yaitu Vallisneria spiralis.

3.3 . Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian meliputi observasi awal, tahap persiapan, dan tahap pelaksanaan. Tahapan yang dilakukan akan diuraikan sebagai berikut.

A. Observasi awal

Kegiatan observasi awal bertujuan untuk mempersiapkan biota uji serta mempelajari cara hidup dan jenis makanan yang disukai keong murbei.

B. Tahap persiapan

1. Persiapan keong murbei.

Organisme yang diujikan adalah keong murbei. Persiapan yang dilakukan meliputi identifikasi variasi cangkang pada dua populasi serta pengukuran tinggi cangkang pada kedua populasi tersebut.

(33)

Gulma air yang akan digunakan untuk melihat tingkat konsumsi keong murbei adalah V. spiralis.

2. Persiapan media uji

Media untuk percobaan dipersiapkan dan diupayakan mendekati keadaan habitat asli keong murbei.

C. Tahap pelaksanaan 1. Pemeliharaan

Pemeliharaan dilakukan untuk keong murbei dengan pemberian pakan V. spiralis.

2. Pengukuran

Pengukuran yang dilakukan adalah penimbangan berat basah (V. spiralis), sisa pakan, tinggi cangkang serta pengukuran suhu.

3. Pengumpulan data

Data yang akan diperoleh adalah jumlah pakan yang dikonsumsi, tinggi cangkang, serta suhu air.

3.3.1. Observasi awal

Observasi awal meliputi beberapa tahap, yaitu: 1. Pemilihan lokasi pengambilan biota uji

Lokasi yang dipilih adalah lokasi yang di dalamnya terdapat dua populasi dengan variasi morfologi berbeda. Asumsi yang digunakan adalah bahwa biota yang diambil berasal dari satu induk dan lokasi yang sama sehingga kemampuan adaptasi kedua populasi tersebut relatif sama.

2. Pengujian jenis makanan yang disuka

Jenis tanaman yang akan digunakan terlebih dahulu dicobakan pada biota uji, sehingga akan diketahui jenis makanan yang disukai. Jenis tanaman air yang dicobakan adalah Lemna sp., Pistia stratiotes, daun pepaya, daun talas, dan Vallisneria spiralis.

Hasil percobaan menunjukkan bahwa keong murbei menyukai semua jenis makanan tersebut, akan tetapi jenis makanan yang paling disukai oleh keong murbei adalah tanaman air tenggelam V. spiralis. Oleh karena itu, pada

(34)

saat penelitian utama, jenis tanaman yang digunakan untuk menduga tingkat konsumsi keong murbei adalah V. spiralis.

3.3.2. Tahap persiapan

Tahap persiapan dilakukan sebelum tahap pelaksanaan untuk mempersiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan. Tahap ini meliputi persiapan biota uji P. canaliculata (keong murbei), persiapan gulma V. spiralis, dan persiapan media uji.

3.3.2.1. Persiapan biota uji

Pengambilan biota uji didasarkan pada variasi cangkang. Keong murbei yang digunakan dalam pengujian tingkat konsumsi diambil langsung dari alam. Pengambilan biota uji dilakukan di desa Tempursari Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Populasi kuning adalah populasi keong murbei yang memiliki variasi cangkang warna kuning polos, sedangkan populasi coklat adalah populasi keong murbei yang memiliki spiral bands berwarna coklat (Gambar 10). Pengambilan biota uji didasarkan pada kelimpahan yang ada di lokasi pengambilan biota uji. Keong murbei cangkang kuning dan coklat cukup melimpah di lokasi tersebut, sehingga variasi ukuran yang dibutuhkan mudah didapatkan.

Terhadap masing-masing populasi diambil beberapa ukuran yang berbeda. Dimensi yang digunakan adalah ukuran tinggi cangkang. Pengukuran tinggi cangkang dilakukan menggunakan jangka sorong. Ukuran tinggi diambil secara tegak lurus (Gambar 11).

a b

Gambar 10. Keong murbei (a. Cangkang kuning, b. Cangkang coklat)

(35)

Gambar 11. Cara pengukuran tinggi cangkang keong murbei

Ukuran yang diambil dari dua populasi yang berbeda memiliki kisaran yang hampir sama yaitu pada kisaran ukuran 1,99-3,85 cm. Masing-masing populasi diambil 12 ukuran (Gambar 12 dan 13), kemudian dibedakan menjadi tiga kelompok, yakni kecil, sedang, dan besar. Kelompok kecil memiliki ukuran 1,99-2,77 cm, kelompok sedang berukuran 2,99-3,22 cm, dan kelompok besar berukuran 3,33-3,85 cm. Penentuan ukuran terkecil didasarkan pada kemampuan mencerna gulma air, sedangkan penentuan ukuran terbesar didasarkan pada ukuran yang biasa dipanen untuk konsumsi. Setiap kelompok ukuran terdiri atas 4 biota uji.

Penentuan kelompok ukuran bertujuan untuk membandingkan tingkat konsumsi dari masing-masing populasi dalam kelompok ukuran tertentu. Perbandingan tingkat konsumsi dilakukan tidak hanya berdasarkan warna cangkang tetapi juga berdasarkan variasi ukuran.

Keong yang akan diuji diambil dari kondisi lingkungan yang sama (dari satu lokasi yang sama). Sebelum dilakukan pengujian terlebih dahulu dilakukan aklimatisasi. Aklimatisasi dilakukan selama satu minggu sebelum tahap pelaksanaan. Hal ini bertujuan untuk menciptakan kondisi dan adaptasi yang homogen dari tiap individu tersebut sebelum diuji tingkat konsumsinya terhadap gulma air V. spiralis.

(36)

Gambar 12. Variasi ukuran cangkang keong murbei kuning ( = 1 cm)

Gambar 13. Variasi ukuran cangkang keong murbei coklat ( =1 cm)

3.3.2.2. Persiapan gulma air (V. spiralis)

Persediaan gulma air V. spiralis diperoleh dari pedagang ikan hias atau petani tanaman air. V. spiralis yang digunakan memiliki panjang 10-13 cm dengan lebar daun 0,4-0,6 cm yang kemudian dihitung berat basahnya. Langkah penghitungan berat basah disajikan pada Gambar 14. (a) V. spiralis yang akan ditimbang diletakkan di atas karton yang sudah dilapisi tisu. (b) V. spiralis ditutup dengan tisu. (c) Tanaman ditekan perlahan selama kurang lebih 2 menit untuk menghilangkan air eksternal. (d) Tanaman air kemudian diletakkan ke dalam gelas plastik yang telah diberi label. (e) Tanaman ditimbang dengan timbangan digital. (f) Setelah penimbangan, tanaman dimasukkan kembali ke dalam dalam pot. Langkah ini juga dilakukan dalam penimbangan berat sisa pakan. Metode

(37)

penghitungan berat basah V. spiralis ini dilakukan secara konsisten dari awal pengamatan hingga akhir pengamatan.

Gambar 14. Langkah penghitungan berat basah V. spiralis

3.3.2.3. Persiapan media

Media yang digunakan adalah 24 wadah uji (kendil) dengan diameter rata-rata 9,6 cm untuk biota keong murbei dengan variasi cangkang kuning dan coklat. Wadah uji yang akan digunakan terlebih dahulu dilapisi cat anti air. Hal ini bertujuan untuk meminimalkan air yang keluar dari pori-pori wadah uji. Air yang diisikan ke dalam wadah uji sebanyak 600 ml. Masing-masing wadah uji diisi dengan satu organisme P. canaliculata. Kondisi lingkungan diusahakan mendekati keadaan di alam dengan intensitas udara yang cukup dan sirkulasi udara yang baik. Kondisi tersebut diharapkan cukup nyaman bagi kelangsungan hidup keong murbei. Kualitas air selama percobaan diharapkan sesuai dengan kualitas air yang baik bagi kelangsungan hidup keong murbei. Kualitas air yang diukur adalah pH, DO, dan suhu air. Pengukuran pH dilakukan menggunakan waterproof pH tester 30 Eutech instrument dan pengukuran suhu menggunakan termometer.

(38)

3.3.3. Pelaksanaan

Biota uji dibagi ke dalam tiga kelompok ukuran pada masing-masing populasi keong murbei cangkang kuning dan coklat. Setiap kelompok ukuran terdiri dari empat biota uji. Terhadap setiap biota uji diberikan perlakuan yang sama.

3.3.3.1. Pemeliharaan

Pemeliharaan terdiri dari dua kegiatan utama, yaitu pemberian pakan dan pergantian air. Setiap wadah uji diisi satu organisme uji dengan pemberian jenis dan jumlah makanan yang sama. Pemberian pakan dan pergantian air dilakukan setiap tiga hari. Pengamatan banyaknya pakan yang dihabiskan oleh biota uji dilakukan setiap tiga hari selama 15 hari (2 minggu). Selama pengamatan, media uji ditutup dengan kain kasa agar biota uji tidak keluar dari media pemeliharaan tersebut.

3.3.3.2. Pengukuran

Pengukuran yang dilakukan meliputi penentuan berat tanaman air dan pengukuran parameter kualitas air. Penghitungan berat akhir tanaman (sisa pakan) dilakukan setiap tiga hari untuk meminimalkan terjadinya gangguan terhadap biota uji. Parameter kualitas air yang diukur adalah pH, DO, dan suhu. Pengukuran pH dan DO dilakukan pada awal pengamatan, sedangkan pengukuran suhu dilakukan tiga kali sehari.

3.3.3.3. Pengumpulan data

Pada penelitian ini dilakukan penentuan tingkat konsumsi keong murbei dengan pendekatan berat basah tanaman air yang hilang. Penimbangan sisa berat basah tanaman air dilakukan sebagaimana penghitungan berat basah tanaman air sebelum dimasukkan ke dalam media. Selisih berat basah gulma dari T1i-T3i adalah

banyaknya gulma yang dimakan per tiga harinya. Pengamatan dilakukan setiap tiga hari sekali selama dua minggu, sehingga total pengamatan tingkat konsumsi P. canaliculata adalah lima kali. Pengamatan dilakukan setiap 3 hari untuk meminimalkan kondisi stres dari biota uji. Konsumsi per hari dihitung berdasarkan rata-rata berat tumbuhan yang dimakan selama tiga hari tersebut. Tingkat konsumsi dapat ditulis sebagai banyaknya gulma yang dimakan (gram/hari). Hasil

(39)

penghitungan yang didapatkan merupakan nilai tingkat konsumsi rata-rata setiap kelompok ukuran dan tingkat konsumsi total pada selama pengamatan.

3.4. Analisis Data

Data yang digunakan adalah hasil selisih berat pakan w1i-w3i pada lima

pengamatan. Analisis data dilakukan secara statistik, sehingga akan diperoleh kesimpulan dari pengujian tingkat konsumsi terhadap dua populasi keong murbei. Langkah-langkah analisis data tersebut adalah sebagai berikut.

3.4.1. Pengujian hipotesis

Hipotesis adalah dugaan (penaksiran) sementara mengenai suatu hal, melalui sekelompok sampel yang terukur, untuk menjelaskan populasinya, tetapi kebenarannya belum teruji (Siregar 2004). Untuk menguji kebenaran sebuah hipotesis digunakan pengujian yang disebut pengujian hipotesis atau pengetesan hipotesis (testing hypothesis). Pengujian hipotesis akan membawa pada kesimpulan untuk menolak atau menerima hipotesis, dengan demikian akan dihadapkan pada dua pilihan. Diperlukan hipotesis alternatif yang selanjutnya disingkat Ha dan

hipotesis nol (null) yang selanjutnya disingkat H0 (Usman & Akbar 1995).

Hipotesis yang digunakan dalam rancangan ini ada tiga, yaitu 1) pengaruh variasi cangkang terhadap tingkat konsumsi, 2) pengaruh ukuran terhadap tingkat konsumsi, dan 3) pengaruh (sederhana) interaksi faktor variasi cangkang dan ukuran.

3.4.2. Rancangan acak faktorial (RAF)

Percobaan faktorial dicirikan oleh perlakuan yang merupakan komposisi dari semua kemungkinan kombinasi taraf-taraf dua faktor atau lebih. Keuntungan dari percobaan ini adalah mampu mendeteksi respon dari taraf masing-masing faktor (pengaruh utama) serta interaksi antar dua faktor (pengaruh sederhana). Model linier aditif dari rancangan faktorial dituliskan sebagai berikut (Matjik & Sumertajaya 2000).

(40)

Keterangan:

Yijk = pengamatan pada faktor A taraf ke-i, faktor B taraf ke-j dan kelompok ke-k

i = perlakuan (i=1,2,3,...) j = kelompok waktu (j=1,2,3,...)

k = kelompok ukuran (k= kecil, sedang, besar) µ = rataan umum

αi = pengaruh perlakuan ke-i

βj = pengaruh kelompok waktu ke-j

(αβ)ij = komponen interaksi dari faktor A dan faktor B

εijk = pengaruh acak yang menyebar

Data tingkat konsumsi akan diuji secara statistik. Berdasarkan rancangan percobaan tersebut dibuat tabel sidik ragam (TSR) yang dikenal dengan sebutan tabel anova (Tabel 1). Hipotesis diuji dari rancangan yang dipersiapkan adalah ada atau tidaknya perbedaan tingkat konsumsi keong murbei (P. canaliculata) berdasarkan perbedaan variasi cangkang dan kelompok ukuran terhadap jenis gulma V. spiralis.

Tabel 1. TSR Rancangan Acak Faktorial (RAF)

Sumber Keragaman Derajat Bebas (DB) Jumlah Kuadrat (JK) Kuadrat tengah (KT) F hitung F tabel p A ab-1 t-1 JKP JKA KTP

KTA KTA/KTS F(0,05;DbA;DBS) B AB r-1 (a-1)(b-1) JKB JKAB KTK KTAB KTB/KTS KTAB/KTS F(0,05;DbB;DBS) F(0,05;DbAB;DBS) Sisa ab(r-1) JKS KTS Total abr-1 JKT

3.4.3. Uji Beda nyata terkecil (BNT)

Beberapa persyaratan diperlukan dalam menerapkan uji ini, diantaranya adalah hanya dapat digunakan jika Fhit yang diperoleh berdasarkan tabel sidik ragam

(TSR) nyata dan tidak dianjurkan untuk melakukan pembandingan semua pasangan perlakuan yang mungkin. Kriteria ujii BNT adalah sebagai berikut (Matjik & Sumertajaya 2000).

(41)

Selanjutnya, yi. merupakan rataan perlakuan ke-i dan yj. merupakan rataan

perlakuan ke-j. Kaidah keputusan yang harus diambil adalah sebagai berikut.

BNT= t

(α/2)

x √2KTS

n

Keterangan:

BNT = beda nyata terkecil

tα/2 = nilai t tabel pada selang kepercayaan α/2 (α = 0,05) KTS = Kuadrat Tengah Sisa

n = jumlah ulangan

Jika nilai d ≤ BNTa maka gagal tolak H0, akan tetapi jika nilai d > BNTa

maka tolak H0. Jika hasil yang diperoleh tolak H0 maka dapat disimpulkan bahwa kedua perlakuan tersebut berbeda nyata pada taraf α.

(42)

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Biota uji yang digunakan adalah keong murbei (Pomacea canaliculata) dengan warna cangkang kuning (Gambar 15a) dan coklat (Gambar 15b). Klasifikasi menurut TROPMED Technical Group (1986) in Baoanan dan Pagulayan (2006); Lamarck (1822) in Baoanan dan Pagulayan (2006) untuk keduanya adalah sebagai berikut.

Kingdom : Animalia Filum : Mollusca Kelas : Gastropoda Sub Kelas : Prosobranchia Ordo : Mesogastropoda Super Famili : Viviparoidea Famili : Ampullariidae Genus : Pomacea

Spesies : Pomacea canaliculata (Lamarck 1822)

Gambar 15. Keong murbei yang diuji (a. Keong murbei cangkang kuning b. Keong murbei cangkang coklat) ( = 1 cm)

Biota uji dalam penelitian ini memiliki karakter cangkang yang berbeda antar populasi. Populasi pertama adalah keong murbei yang berwarna kuning polos tanpa pita spiral (spiral bands) dengan menara (spire) yang tinggi, dengan body whorl runcing dan memanjang (Gambar 15a). Populasi ini selanjutnya disebut keong murbei cangkang kuning.

(43)

Populasi kedua memiliki cangkang coklat dengan pita spiral (spiral bands) berwarna hitam (Gambar 15b), menara (spire) lebih rendah, body whorl lebih membundar dan lebar. Populasi ini selanjutnya disebut keong murbei cangkang coklat. Perbedaan yang sangat tampak di antara kedua populasi adalah warna cangkang dan menara (spire).

Pengujian tingkat konsumsi terhadap gulma air Vallisneria spiralis pada kedua populasi dilakukan selama 15 hari. Hasil pengujian tingkat konsumsi selama 15 hari pada kedua populasi keong murbei tercantum pada Tabel 2.

Tabel 2. Tingkat konsumsi tiap individu keong murbei cangkang kuning dan coklat terhadap V. spiralis

No Rata-rata pakan (gram/hari) Pakan total (gram/15 hari) Kuning Coklat Kuning Coklat

1 0,9607 0,6048 14,4102 9,0727 2 0,8776 1,5101 13,1642 22,6510 3 1,2475 2,4808 18,7129 37,2125 4 1,7668 2,4352 26,5023 36,5282 5 1,1594 2,3217 17,3905 34,8250 6 2,7483 1,6288 41,2247 24,4321 7 2,7020 2,5600 40,5304 38,4003 8 2,4114 2,0262 36,1708 30,3936 9 1,9885 3,0341 29,8282 45,5119 10 3,9614 3,0654 59,4203 45,9810 11 3,4016 3,5904 51,0237 53,8558 12 3,6424 3,6583 54,6357 54,8741 Pakan total populasi 403,0139 433,7382

Tabel 2 tersebut menunjukkan jumlah konsumsi rata-rata per hari dan konsumsi total masing-masing individu keong murbei cangkang kuning dan coklat selama 15 hari pengamatan (Lampiran 2). Hasil yang ditunjukkan sangat bervariasi secara individu. Berat V. spiralis total yang dihabiskan selama 15 hari pengamatan oleh keong murbei cangkang kuning adalah sebesar 403,0139 gram, sedangkan pada keong murbei cangkang coklat adalah 433,7382 gram (Gambar 16 dan Gambar 17).

Gambar 16 menunjukkan bahwa tingkat konsumsi terhadap gulma air setiap individu keong murbei cangkang kuning bervariasi dan berfluktuasi pada ukuran yang berbeda-beda. Secara umum terlihat kecenderungan tingkat konsumsi yang

(44)

meningkat pada ukuran yang semakin besar. Konsumsi tertinggi adalah 3,9614 gram/hari pada ukuran 3,45 cm, sedangkan konsumsi terendah adalah 0,8776 gram/hari pada ukuran 2,25 cm.

Gambar 16. Grafik tingkat konsumsi rata-rata individu cangkang kuning

Gambar 17. Grafik tingkat konsumsi rata-rata individu cangkang coklat

Pada keong murbei cangkang coklat, terdapat variasi tingkat konsumsi pada tiap ukuran yang berbeda dan juga fluktuasi tingkat konsumsi. Grafik secara umum menunjukkan peningkatan tingkat konsumsi pada ukuran yang semakin besar. Jumlah konsumsi tertinggi pada populasi keong murbei cangkang coklat adalah 3,6583 gram/hari pada ukuran 3,85 cm, sedangkan konsumsi terendah adalah 0,6048 gram/hari pada ukuran 2,12 cm.

(45)

Tingkat konsumsi juga dibedakan atas kelompok kecil, sedang dan besar pada masing-masing populasi cangkang kuning dan coklat. Hasil pengamatan selama 15 hari disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Tingkat konsumsi keong murbei terhadap V. spiralis dengan variasi kelompok ukuran dan cangkang berbeda

Ukuran Pengamatan

Konsumsi rata-rata (gram)

Konsumsi total (gram) Kuning Coklat Kuning Coklat

Kecil 1 1,6069 1,6451 3,0129 4,9354 2 1,9115 1,6226 3,5840 4,8679 3 1,7149 1,9351 3,2155 5,8054 4 1,7473 2,0442 3,2762 6,1327 5 2,7247 1,5416 5,1088 4,6247 Sedang 1 1,1897 1,5037 3,5691 4,5111 2 2,0585 2,3921 6,1755 7,1762 3 2,8356 2,0784 8,5069 6,2353 4 2,5873 3,2503 7,7620 9,7510 5 2,6052 1,4464 7,8157 4,3393 Besar 1 2,8724 2,7882 8,6171 8,3647 2 3,6162 3,5209 10,8486 10,5628 3 3,7704 3,9394 11,3113 11,8181 4 3,1826 3,4099 9,5477 10,2297 5 2,8008 3,0268 8,4023 9,0805

Tabel 3 menunjukkan jumlah konsumsi rata-rata per hari dan konsumsi total selama 15 hari pengamatan berdasarkan warna dan ukuran cangkang. Dalam tabel terlihat rata-rata dan total konsumsi per hari keong murbei ukuran kecil, sedang, dan besar pada dua populasi yang diuji.

Hasil analisis statistika tingkat konsumsi rata-rata (Lampiran 3) menunjukkan bahwa faktor variasi cangkang tidak berpengaruh terhadap tingkat konsumsi pakan (p≥0,05), sedangkan ukuran tinggi cangkang mempengaruhi tingkat konsumsi keong murbei (p<0,05). Uji lanjut BNT menunjukkan bahwa setiap kelompok ukuran memiliki tingkat konsumsi yang berbeda nyata (Lampiran 4). Perbedaan tingkat konsumsi rata-rata pada setiap kelompok ukuran disajikan pada histogram pada Gambar 18.

(46)

Gambar 18. Tingkat konsumsi rata-rata keong murbei per hari ( kuning coklat)

Gambar 18 menunjukkan perbandingan tingkat konsumsi rata-rata keong murbei cangkang kuning dan coklat pada kelompok ukuran kecil, sedang, dan besar. Tampak adanya kecenderungan peningkatan tingkat konsumsi antara kelompok ukuran kecil, sedang, dan besar. Terlihat adanya perbedaan tingkat konsumsi antara keong murbei cangkang kuning dan coklat, yakni bahwa keong murbei cangkang coklat memiliki tingkat konsumsi yang lebih besar dibandingkan keong murbei cangkang kuning pada kelompok ukuran besar. Keong murbei cangkang coklat mengkonsumsi sebesar 3,3370 gram/hari dan keong murbei cangkang kuning sebesar 3,2485 gram/hari. Kelompok ukuran kecil dan sedang pada keong murbei cangkang kuning memiliki tingkat konsumsi yang lebih besar jika dibandingkan dengan keong bercangkang coklat. Pada kelompok ukuran sedang, tingkat konsumsi keong murbei cangkang kuning sebesar 2,2553 gram/hari dan cangkang coklat 2,1342 gram/hari. Tingkat konsumsi untuk kelompok ukuran kecil pada keong murbei cangkang kuning dan coklat masing-masing sebesar 1,9411 gram/hari dan 1,7577 gram/hari.

Tingkat konsumsi total tiap hari memiliki kecenderungan meningkat sebagaimana kelompok ukurannya (Gambar 19). Pada kelompok ukuran kecil dan besar, tingkat konsumsi keong murbei bercangkang coklat lebih besar dibandingkan dengan yang bercangkang kuning. Tingkat konsumsi keong murbei cangkang coklat pada kelompok ukuran kecil adalah 35,1548 gram/ hari, sedangkan keong cangkang kuning hanya sebesar 24,2632 gram/ hari. Pada kelompok ukuran besar, keong

(47)

murbei cangkang coklat juga memiliki tingkat konsumsi yang lebih besar dibandingkan dengan cangkang kuning. Tingkat konsumsi total untuk keong bercangkang coklat adalah 66,7409 gram/hari, dan untuk cangkang kuning adalah 64,9693 gram/hari. Berbeda halnya dengan kelompok ukuran sedang, keong murbei cangkang kuning memiliki tingkat konsumsi yang lebih besar dibandingkan dengan cangkang coklat, yakni berturut-turut sebesar 45,1055 dan 42,6837 gram/hari.

Gambar 19. Tingkat konsumsi total keong murbei per hari ( kuning coklat)

Tingkat konsumsi total populasi keong murbei cangkang coklat lebih besar dibandingkan dengan cangkang kuning. Jumlah konsumsi untuk keong murbei cangkang coklat sebesar 433,7382 gram/15 hari sedangkan untuk cangkang kuning hanya sebesar 403,0139 gram/15 hari. Keterbatasan jumlah biota uji yang digunakan tidak memungkinkan dilakukan analisis secara statistik nilai tingkat konsumsi populasi keong murbei cangkang kuning dan keong murbei cangkang coklat. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama 15 hari terlihat bahwa pakan V. spiralis dapat menambah tinggi cangkang keong murbei (Tabel 4).

Berdasarkan Tabel 4, seluruh kelompok ukuran mengalami pertambahan tinggi cangkang dalam setiap pengamatan. Tampak bahwa laju pertambahan tinggi cangkang pada kelompok ukuran kecil lebih cepat jika dibandingkan dengan kelompok sedang dan besar pada setiap pengamatan (Lampiran 5). Berdasarkan hasil uji statistik (Lampiran 6), pada hipotesis pertama diketahui bahwa kelompok ukuran mempengaruhi pertambahan tinggi pada konsumsi V. spiralis (p<0,05),

(48)

sedangkan untuk hipotesis kedua diketahui bahwa variasi morfologi juga mempengaruhi pertambahan tinggi cangkang pada konsumsi V. spiralis (p<0,05). Perbedaan perbandingan pertambahan tinggi cangkang pada ketiga kelompok ukuran ditunjukkan dengan grafik pada Gambar 20 dan Gambar 21.

Tabel 4. Pertambahan ukuran tinggi cangkang pada konsumsi V. spiralis

Ukuran Pengamatan Tinggi (cm) Kuning Coklat Kecil 1 2,42 2,46 2 2,43 2,60 3 2,47 2,70 4 2,55 2,71 5 2,63 2,81 Sedang 1 3,05 3,13 2 3,07 3,20 3 3,09 3,22 4 3,11 3,24 5 3,15 3,35 Besar 1 3,58 3,64 2 3,63 3,67 3 3,64 3,70 4 3,69 3,78 5 3,73 3,86

Gambar 20 menunjukkan pertambahan tinggi cangkang semua kelompok ukuran keong murbei cangkang kuning terhadap konsumsi V. spiralis. Grafik mengindikasikan adanya peningkatan selama pengamatan.

Pertambahan tinggi cangkang setiap biota uji sangat bervariasi pada setiap kelompok ukuran keong murbei cangkang coklat (Gambar 21). Akan tetapi, secara umum pertambahan tinggi cangkang terjadi pada semua kelompok ukuran. Selama penelitian dilakukan pengukuran suhu air pada kedua media uji. Rata-rata suhu pada kedua media uji disajikan pada Tabel 5.

Hasil pengukuran suhu pada media uji keong murbei cangkang kuning menunjukkan bahwa kisaran suhu rata-rata pada media uji adalah 24-26,83oC. Suhu tertinggi terjadi pada siang hari, yaitu sebesar 26,83o C dan suhu terendah terjadi

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :