• Tidak ada hasil yang ditemukan

BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR

BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR

NUCLEAR ENERGY REGULATORY AGENCY

BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR

Jl. Gajah Mada 8, Jakarta-10120, Telp.021-638 582 69-70, Fax: 021-638 566 13

Jl. Gajah Mada 8, Jakarta-10120, Telp.021-638 582 69-70, Fax: 021-638 566 13

Homepage: www.bapeten.go.id E-mail: info@bapeten.go.id

(2)
(3)

• Latar Belakang

• Kerangka Legislasi dan Regulasi

• Lingkup Penegakan Hukum

• Program Penegakan Hukum

• Kasus Pelanggaran Hukum Ketenaganukliran

• Kendala Penegakan Hukum

(4)

4

• pemanfaatan tenaga nuklir di berbagai bidang

begitu pesat,

dikembangkan dan dimanfaatkan

bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat

• tenaga nuklir bermanfaat tetapi mempunyai

potensi bahaya radiasi

apabila

dalam

pemanfaatannya tidak memperhatikan

ketentuan-ketentuan tentang keselamatan nuklir

• oleh karena itu dilaksanakan pengawasan

pemanfaatan tenaganuklir secara ketat.

LATAR BELAKANG

(5)

5

•TUJUAN Pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir :

• terjaminnya kesejahteraan, keamanan, dan ketenteraman masyarakat;

• menjamin keselamatan dan kesehatan pekerja dan anggota masyarakat serta

perlindungan terhadap lingkungan hidup;

• memelihara tertib hukum dalam pelaksanaan pemanfaatan tenaga nuklir

;

• meningkatkan kesadaran hukum pengguna tenaga nuklir untuk menimbulkan

budaya keselamatan di bidang nuklir;

• mencegah terjadinya perubahan tujuan pemanfaatan bahan nuklir; dan

• menjamin terpeliharanya dan ditingkatkannya disiplin petugas dalam

pelaksanaan pemanfaatan tenaga nuklir.

Pasal 15 Undang-Undang No. 10 Tahun 1997

Pasal 15 Undang-Undang No. 10 Tahun 1997

LATAR BELAKANG

(6)

6

Ratifikasi Non

Proliferation Treaty

(NPT)

UU No. 8

Tahn 1978

Ketenaganukliran

UU No. 10

Tahun

1997

Ratifikasi Treaty on The

Southeast Asia Nuclear

Weapon Free Zone

(SEANWFZ)

UU No. 9

Tahun

1997

Perizinan Reaktor Nuklir PP No. 43

Tahun 2006

Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Sumber Radiasi

PP No. 33 Tahun 2007

Perizinan Pemanfaatan Tenaga Nuklir PP No. 64

Tahun 2000

Pengelolaan Limbah Radioaktif PP No. 27

Tahun 2002

Keselamatan Pengangkutan Radioaktif PP No. 26

Tahun 2002

Keselamatan dan Kesehatan terhadap Pemanfaatan Radiasi Pengion

PP No. 63 Tahun 2000

KERANGKA LEGISLASI dan REGULASI

KERANGKA LEGISLASI dan REGULASI

Ratifikasi Convention on Assistance in the Case of a Nuclear Accident or Radiological Emergency

Keppres No 82 Thn 1993

Ratifikasi Convention on Early Notification of a Nuclear Accident

Keppres No 81 Thn 1993

Ratifikasi Amendment of Article VI of The Statute of The International Atomic Energy Agency

Keppres No 80 Thn 1993

Ratifikasi Convention on The Physical Protection of Nuclear Materials

(7)

7

KESEHATAN

* Diagnostik

* Terapi

* Kedokteran Nuklir

INDUSTRI

* Radiografi

* Logging

* Gauging

* Analisa

* Fluoroskopi bagasi

dll

LAINNYA

* Irradiator

* Akselerator

* Produksi Radioisotop

* Pengelolaan Limbah

* Instalasi bahan nuklir

* Reaktor Nuklir

JENIS IZIN

(8)

8

IZIN PEMANFAATAN PASAL 17 UU NO.10 TAHUN 1977

IZIN PEMANFAATAN PASAL 17 UU NO.10 TAHUN 1977

1 SETIAP PEMANFAATAN TENAGA

NUKLIR WAJIB MEMILIKI IZIN,

KECUALI

DALAM HAL-HAL TERTENTU YANG

DIATUR LEBIH LANJUT DENGAN

PERATURAN PEMERINTAH

2 SYARAT-SYARAT DAN TATA CARA

PERIZINAN SEBAGAIMANA DIMAKSUD

PADA AYAT (1) DIATUR LEBIH LANJUT

DENGAN PERATURAN PEMERINTAH

(9)

IZIN (PASAL 2)

IZIN (PASAL 2)

• ORANG/ BADAN

YANG AKAN

MEMANFAATKAN TENAGA NUKLIR

(ZR/ SR) WAJIB MEMPUNYAI IZIN

• IZIN DIBERIKAN SETELAH

MEMENUHI

PERSYARATAN

YANG DITETAPKAN

• AKTIVITAS DAN PAPARAN SANGAT

RENDAH DIKECUALIKAN DARI IZIN

(KEP. BAPETEN NO.19 TAHUN 2000)

(10)

10

JENIS yang DIKECUALIKAN

JENIS yang DIKECUALIKAN

• ZAT RAD. DGN

AKTIVITAS/ KONSENTRASI

TERTENTU

• TABUNG KATODA

LAJU DOSIS PADA 10 cm

0,1 uSv/ jam

ATAU

BEDA POTENSIAL

 30 KV

• JAM YANG BERPENDAR

(KECUALI PABRIK)

• KAOS LAMPU

(11)

11

KETENTUAN PIDANA

KETENTUAN PIDANA

Reaktor nuklir tdk

ada izin

Ada kerugian nuklir

Tidak ada SIB

15 thn penjara

Denda 1 milliar

Seumur hidup/20 thn

Denda 1 milliar

2 thn penjara

Denda 50 Juta

(12)

12

• Non reaktor tidak ada izin : Denda 100 Juta

• LRTT tidak dikelola : 5 tahun penjara

Denda 300 Juta

• LRTR/S tidak dikelola : Denda 100 Juta

KETENTUAN PIDANA

(13)

13

KLASIFIKASI PELANGGARAN

KLASIFIKASI PELANGGARAN

PELANGGARAN PIDANA

PELANGGARAN TERHADAP PASAL-PASAL

YANG TERTULIS DALAM UNDANG-UNDANG

NO. 10 TAHUN 1997 DAN PERATURAN

PEMERINTAH

( DAPAT / TERMASUK KUHP DAN

PERATURAN PERUNDANGAN LAINNYA )

PELANGGARAN ADMINISTRASI

PELANGGARAN TERHADAP PASAL YANG

TERTULIS DALAM PERATURAN

(14)

14

Jenis Pelanggaran Pidana :

1. Sesuai dengan Undang-undang Ketenaganukliran :

a. Tidak ada

izin pemanfaatan

tenaga nuklir

b. Tidak ada

SIB

yang bersangkutan bertindak sebagai PPR

c. Tidak

mengelola limbah radioaktif

2.

2. Sesuai dengan hukum pidana pada umumnya

Sesuai dengan hukum pidana pada umumnya

:

:

a. Dalam pemanfaatan tenaga nuklir mengakibatkan hilangnya nyawa

a. Dalam pemanfaatan tenaga nuklir mengakibatkan hilangnya nyawa

orang lain

orang lain

b. Dalam pemanfaatan tenaga nuklir mengakibatkan luka parah

b. Dalam pemanfaatan tenaga nuklir mengakibatkan luka parah

c. Penipuan

c. Penipuan

d. Pemalsuan

d. Pemalsuan

e. Penggelapan

e. Penggelapan

3.

3. Sesuai dengan peraturan yang lain

Sesuai dengan peraturan yang lain

:

:

a. Terjadi pencemaran lingkungan

a. Terjadi pencemaran lingkungan

b. Penyelundupan

b. Penyelundupan

c. Kegiatan Terorisme

c. Kegiatan Terorisme

LINGKUP PENEGAKAN HUKUM

(15)

15

Jenis Pelanggaran Administrasi

1.

Pelanggaran Administrasi Berat

Pelanggaran terhadap hal yang dinyatakan dalam Peraturan Pemerintah

atau Peraturan Kepala BAPETEN terkait dengan aspek keselamatan dan

kesehatan serta keamanan sumber radioaktif.

2.

Pelanggaran Administrasi Ringan

Pelanggaran terhadap aspek-aspek keselamatan dan kesehatan

pemanfaatan radiasi pengion yang dianggap belum menimbulkan bahaya

terhadap keselamatan dan kesehatan pekerja, masyarakat dan atau

lingkungan atau terkait dengan tindakan administratif yang harus

dilakukan oleh pemegang izin.

LINGKUP PENEGAKAN HUKUM

(16)

16

SANKSI ADMINISTRATIF

PERINGATAN

TERTULIS 1,2,3

PENGHENTIAN

SEMENTARA

DISERTAI PENGHENTIAN

SEMENTARA

DICABUT

POLRI

Operasi

LINGKUP PENEGAKAN HUKUM

(17)

JENIS PELANGGARAN TAHUN 2006

JENIS PELANGGARAN TAHUN 2006

• Perizinan :

– Izin kadaluarsa,

– Pindah lokasi tanpa lapor,

• Sumber Radiasi :

– Belum ada izin ,

– Beda lokasi dengan izin

• Petugas Proteksi Radiasi :

– Surat Izin Bekerja kadaluarsa,

– Tidak mempunyai Petugas Proteksi

Radiasi lagi

(18)

• Pekerja Radiasi :

– Adanya penambahan dan pengurangan

Pekerja Radiasi tanpa pemberitahuan.

• Surveymeter :

– Kalibrasi Kadaluarsa

• Pelanggaran lainnya berupa :

– Kekurangan fasilitas pendukung

keselamatan

– Illicit traficking

– Impor ilegal

JENIS PELANGGARAN TAHUN 2006

(19)

19

Tentang Perizinan Pemanfaatan Tenaga Nuklir

Tentang Perizinan Pemanfaatan Tenaga Nuklir

Syarat memperoleh izin :

2. Mempunyai izin usaha atau izin lain dari instansi

terkait

3. Mempunyai fasilitas yang memenuhi syarat

keselamatan

4. Mempunyai petugas ahli yang memenuhi

kualifikasi untuk pemanfaatan tenaga nuklir

5. Mempunyai peralatan teknik dan peralatan

keselamatan radiasi yang diperlukan

6. Memiliki prosedur kerja yang aman bagi pekerja,

masyarakat dan lingkungan hidup

Pasal 3

PERATURAN PEMERINTAH NO. 64 TAHUN 2000

(20)

MENGAPA PERLU INSPEKSI ?

MENGAPA PERLU INSPEKSI ?

PEMANFAATAN DILAKUKAN SECARA

SELAMAT (SAFE) DAN AMAN (SECURE)

MEMASTIKAN BAHWA PEMEGANG IZIN:

MEMATUHI SEMUA PERATURAN

PERUNDANG-UNDANGAN YANG BERLAKU

TIDAK MELANGGAR “ DOKUMEN” LAPORAN

ANALISIS KESELAMATAN (LAK), PJK; AMDAL

DAN PROSEDUR KERJA (JUKLAK)

(21)

21

RUANG LINGKUP INSPEKSI

RUANG LINGKUP INSPEKSI

• KESELAMATAN

NUKLIR/RADIOLOGIS DAN

KEAMANAN SUMBER

• KESIAPSIAGAAN NUKLIR

(22)

22

METODE INSPEKSI

METODE INSPEKSI

AUDIT : MEMERIKSA KELENGKAPAN,

AUDIT

KEBENARAN/ KESESUAIAN DOKUMEN

DENGAN PERATURAN/

KETENTUAN/PERSYARATAN YANG TELAH

DITETAPKAN BAPETEN;

VERIFIKASI : MEMERIKSA KESESUAIAN

VERIFIKASI

PELAKSANAAN DI LAPANGAN DENGAN

DOKUMEN YANG ADA DAN PERATURAN

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN,

SPEKTEK/LAK/ AMDAL, PROSEDUR, DAN

PERSYARATAN/KONDISI IZIN.

(23)

23

DIAGRAM ALIR PENEGAKAN HUKUM (INSPEKSI FRZR)

DIAGRAM ALIR PENEGAKAN HUKUM (INSPEKSI FRZR)

temuan administratif Pidana Bukti cukup

Kepolisian

Minimal

Polres

SIDANG

Kejaksaan

Tidak INSPEKTUR ya Ringan Berat Teguran 1,2,3 Pencabutan Izin Pembekuan Izin Tindak Lanjut Masih operasi TUTUP TUTUP ya Tidak Tidak ya berat Bukti cukup Tidak ya BAPETEN BAPETEN

(24)

24

KLASIFIKASI PELANGGARAN ADMINISTRASI

KLASIFIKASI PELANGGARAN ADMINISTRASI

Pelanggaran Administrasi Berat

adalah pelanggaran terhadap hal yang dinyatakan dalam

Peraturan Pemerintah (PP) atau Peraturan Kepala

(PERKA) BAPETEN yang berpotensi terjadinya

kecelakaan radiasi yang dapat membahayakan pekerja,

pasien masyarakat dan lingkungan serta keamanan

sumber radioaktif

Pelanggaran Administrasi Ringan

pelanggaran terhadap aspek-aspek keselamatan dan

kesehatan pemanfaatan radiasi pengion yang dianggap

berdampak pada aspek keselamatan dan belum

menimbulkan bahaya radiasi terhadap keselamatan dan

kesehatan pekerja, masyarakat dan atau lingkungan

(25)

25

PELANGGARAN PIDANA (KETENAGANUKLIRAN)

PELANGGARAN PIDANA (KETENAGANUKLIRAN)

Pasal 17 ayat (1) UU 10/1997

Setiap pemanfaatan tenaga nuklir wajib memiliki izin

(Sanksi Ps 41, denda 100 jt / 1 tahun kurungan)

Pasal 19 ayat (1) UU 10/1997

Setiap petugas yang mengoperasikan reaktor nuklir dan

petugas tertentu di dalam instalasi nuklir lainnya dan di

dalam instalasi yang memanfaatkan sumber radiasi

pengion wajib memiliki izin.

(sanksi Pasal 42 denda 50 jt / 2 tahun kurungan)

Pasal 24 ayat (1) UU 10/1997

Penghasil limbah radioaktif tingkat rendah dan tingkat

sedang wajib mengumpulkan, mengelompokkan, atau

mengolah dan menyimpan sementara limbah tersebut

sebelum diserahkan kepada Badan Pelaksana.

(26)

26

PASAL 17 :

PASAL 17 :

TIDAK MEMILIKI IZIN PEMANFAATAN

TIDAK MEMILIKI IZIN PEMANFAATAN

• TIDAK ATAU BELUM MEMILIKI IZIN

– BELUM PERNAH MENGAJUKAN IZIN

– PENGAJUAN IZIN TIDAK MEMENUHI

SYARAT

• MEMILIKI IZIN TELAH DALUARSA

• MELAKUKAN PEMALSUAN IZIN

• IZIN DICABUT OLEH BAPETEN

– PELANGGARAN ADMINISTRASI

TIDAK DITINDAKLANJUTI

(27)

27

PASAL 19 :

PASAL 19 :

PETUGAS TERTENTU TIDAK MEMILIKI IZIN/ SIB

PETUGAS TERTENTU TIDAK MEMILIKI IZIN/ SIB

• PETUGAS TERTENTU : AR; PPR; OR;

DLL.

• TIDAK MEMILIKI SIB:

– BELUM MEMILIKI SIB

– SIB DALUARSA

– KETIDAKSESUAIAN SIB

– KOMPETENSI TIDAK SESUAI ATAU

LEBIH RENDAH

(28)

28

PASAL 24 :

PASAL 24 :

LIMBAH TIDAK DIKELOLA

LIMBAH TIDAK DIKELOLA

• LIMBAH RADIOAKTIF TIDAK DIKELOLA

• PELEPASAN LIMBAH RADIOAKTIF KE

LINGKUNGAN MELEBIHI NILAI BATAS

• TEMPAT PENYIMPANAN TIDAK

MEMADAI

Definisi Pengelolaan:

pengumpulan, pemilahan,….,pengolahan,

pelepasan …. sampai dengan

(29)

29

INFORMASI TAMBAHAN (LAMPIRAN)

INFORMASI TAMBAHAN (LAMPIRAN)

MAKSIMUM

PS.360-KUHP

KEALPAAN

MENGAKIBATKAN

LUKA

MAKSIMUM

PS.359-KUHP

KEALPAAN

MENGAKIBATKAN

MATI

MAKSIMUM

PS.263-KUHP

MEMBERIKAN SURAT

PALSU

PERIZINAN

MAKSIMUM

PS.242-KUHP

MEMBERIKAN

KETERANG- AN PALSU

PERIZINAN

PS.44 UU 10/97

PS.24 UU10/97

TIDAK DILAKUKAN

PENGELOLAAN

LIMBAH

PS.42 UU 10/97

PS.19 UU10/97

PETUGAS TIDAK

MEMILIKI IZIN/ SIB

PERIZINAN

PS.41 UU 10/97

PS.17 UU10/97

TIDAK MEMILIKI IZIN

PEMANFAATAN

PERIZINAN

SANKSI

PENGATURAN

YG DILANGGAR

JENIS KEJAHATAN

(30)

30

Psl 41 ayat (1)

Psl 41 ayat (2)

Psl 42 ayat (2)

Psl 43 ayat (1)

Psl 44 ayat (1)

Psl 41 ayat (2)

Negative

Wetelijke

Bewijs theori

Psl 183 KUHAP

a. Ket Saksi

b. Ket Ahli

c. Surat

d. Petunjuk

e. Ket tdw

Ps 184 (1)

KUHAP

UU NO 10 TH 1997

TENTANG

KETENAGANUKLIRAN

GAKKUM PIDANA dalam

GAKKUM PIDANA dalam

UU KETENAGANUKLIRAN

(31)

31

Dipatuhinya peraturan perundang-undangan

Dipatuhinya peraturan perundang-undangan

yang berlaku agar tercipta pemanfaatan tenaga

yang berlaku agar tercipta pemanfaatan tenaga

nuklir yang dapat menjamin keselamatan,

nuklir yang dapat menjamin keselamatan,

keamanan dan ketentraman masyarakat dengan

keamanan dan ketentraman masyarakat dengan

tetap memperhatikan pemanfaatan tenaga nuklir

tetap memperhatikan pemanfaatan tenaga nuklir

untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa.

untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa.

SISTEM PENEGAKAN HUKUM

SISTEM PENEGAKAN HUKUM

Tujuan Penegakan Hukum

Tujuan Penegakan Hukum

Ketenaganukliran

(32)

32

1.

1.

Pembinaan SDM Penegakan Hukum

Pembinaan SDM Penegakan Hukum

SDM Mitra (Penegak Hukum)

SDM Mitra (Penegak Hukum)

SDM BAPETEN

SDM BAPETEN

SISTEM PENEGAKAN HUKUM

SISTEM PENEGAKAN HUKUM

Capaian Strategis Penegakan Hukum Ketenaganukliran

Capaian Strategis Penegakan Hukum Ketenaganukliran

2.

2.

Instrumen Penegakan Hukum

Instrumen Penegakan Hukum

Peraturan Perundang-undangan

Peraturan Perundang-undangan

Pemanfaatan Ketenaganukliran

Pemanfaatan Ketenaganukliran

Peraturan Perundang-undangan Terkait

Peraturan Perundang-undangan Terkait

3.

3.

Pelayanan Masyarakat dan Pembinaan

Pelayanan Masyarakat dan Pembinaan

Pengguna

(33)

33

1.

1.

SDM Mitra

SDM Mitra

Sosialisasi dan Koordinasi

Sosialisasi dan Koordinasi

Pelatihan

Pelatihan

Disseminasi

Disseminasi

Kerjasama dengan Institusi Penegak Hukum

Kerjasama dengan Institusi Penegak Hukum

SISTEM PENEGAKAN HUKUM

SISTEM PENEGAKAN HUKUM

Rencana Tindak Pembinaan SDM Penegakan Hukum

Rencana Tindak Pembinaan SDM Penegakan Hukum

Ketenaganukliran

Ketenaganukliran

2.

2.

SDM BAPETEN

SDM BAPETEN

Pelatihan

Pelatihan

Kerjasama dengan Lembaga Sejenis di Dalam

Kerjasama dengan Lembaga Sejenis di Dalam

dan Luar Negeri

(34)

34

SISTEM PENEGAKAN HUKUM

SISTEM PENEGAKAN HUKUM

1.

1.

Peraturan Perundang-undangan Pemanfaatan

Peraturan Perundang-undangan Pemanfaatan

Ketenaganukliran

Ketenaganukliran

Kerjasama dengan institusi terkait

Kerjasama dengan institusi terkait

Amandemen dan Revisi perundang-undangan

Amandemen dan Revisi perundang-undangan

Ketenaganukliran

Ketenaganukliran

Rencana Tindak dalam rangka meningkatkan efektivitas

Rencana Tindak dalam rangka meningkatkan efektivitas

instrumen penegakan hukum

instrumen penegakan hukum

2.

2.

Peraturan Perundang-undangan Terkait

Peraturan Perundang-undangan Terkait

Koordinasi dengan institusi terkait

Koordinasi dengan institusi terkait

Pemahaman peraturan terkait oleh SDM

Pemahaman peraturan terkait oleh SDM

penegakan hukum.

(35)

35

SISTEM PENEGAKAN HUKUM

SISTEM PENEGAKAN HUKUM

1.

1.

Seminar / Sosialisasi kepada Stakeholder

Seminar / Sosialisasi kepada Stakeholder

2.

2.

Pelatihan kepada Pengguna

Pelatihan kepada Pengguna

3.

3.

Kerjasama dengan Asosiasi

Kerjasama dengan Asosiasi

4.

4.

Disseminasi lainnya (penyebaran informasi

Disseminasi lainnya (penyebaran informasi

melalui berbagai media)

melalui berbagai media)

Rencana Tindak dalam rangka meningkatkan pemahaman

Rencana Tindak dalam rangka meningkatkan pemahaman

pengguna dan masyarakat tentang ketenaganukliran

(36)

KASUS YANG PERNAH TERJADI :

Tgl. 21 Juni 1976, PN Palopo, Sulsel mengadili 2 perkara

sekaligus pelanggaran pemakaian zat radioaktif tanpa izin denda

Rp. 300 ribu dan Rp.400 ribu

Tgl. 28 Juni 1978, PN Jakarta Utara/Timur mengadili PT.TASUMA

– denda Rp.250 ribu

Tgl. 23 Juni 1988, PN Jakarta Utara mengadili perkara

penguasaan ZR tanpa izin denda Rp. 500 ribu.

Pemalsuan sertifikat kalibrasi (1989 ?)

Pemalsuan SIB pekerja radiografi (1994 ?)

Pemakaian ZR tanpa izin oleh PT.UIC (1994 ?)

Inspektur ditolak masuk ke instalasi PT. TOTAL (1987 ?)

Inspektur ditolak masuk ke instalasi PT Semen Cibinong (1989 ?)

Kasus pelanggaran perizinan lainnya (izin daluwarsa, tidak

melaksanakan pemeriksaan, tidak memakai monitor perorangan,

yang dilaksanakan oleh RS Pemerintah (Pusat, Daerah) 

Tegoran Lisan dan Tertulis

Pelaporan 2 (dua) RS di Jakarta tidak mempunyai izin

pemanfaatan kepada pihak Kepolisian (Tahun 2006).

KASUS PENEGAKAN HUKUM

(37)

37

• Personil BAPETEN bukan merupakan Penyidik Pegawai Negeri

Sipil (PPNS).

• Kelemahan dalam rumusan pasal pidana.

• Amandemen Undang-Undang memerlukan waktu dan dana.

• Kelemahan SDM.

• Rumah Sakit Pemerintah, baik pusat maupun daerah banyak yang

tidak memenuhi persyaratan.

KENDALA PENEGAKAN HUKUM

(38)
(39)
(40)

Emergency Respone and Preparedness for Nuclear

or Radiological Accident

(IAEA Tec. Doc 953)

PROGRAM

(41)

PENYEBAB TERJADI KECELAKAAN

FAKTOR UTAMA:

• FAKTOR MANUSIA

• FAKTOR INSTALASI/PERALATAN TEKNIS

• FAKTOR SARANA/LINGK.KERJA

KONDISI & TINDAKAN PENYEBAB:

• TINDAKAN OPERATOR

(42)

42

Ruang Lingkup Kesiapsiagaan Nuklir

Ruang Lingkup Kesiapsiagaan Nuklir

• RADIASI

• Racun

• Mudah

meledak

• KEMATIAN

• CACAT

• CIDERA

• SAKIT

• KERUSAKAN HARTA BENDA

• PENCEMARAN DAN

KERUSAKAN LINGKUNGAN

KERUGIAN NUKLIR

KEDARURATAN NUKLIR

(KEADAAN DARURAT)

KECELAKAAN

NUKLIR

Operasi Normal

(43)

43

Landasan Hukum

Landasan Hukum

Convention on Early Notification of a Nuclear Accident

(Kep. Presiden RI No. 81 tahun 1993)

Kewajiban memberitahukan kepada IAEA dan negara-negara yang

mungkin terkena dampak kecelakaan nuklir.

Convention on Assistance in the Case of a Nuclear

Accident or Radiological Emergency (KepPres RI No. 82

tahun 1993)

Mewajibkan segera membantu dalam hal terjadi kecelakaan nuklir

atau kedaruratan nuklir di negara lain.

(44)

PP No. 63/2000 tentang Keselamatan dan Kesehatan

thd pemanfaatan radiasi pengion

Kewajiban Memegang izin untuk menyiapkan sistem

penanggulangan kedaruratan dan melaporkan setiap kejadian

sesegera mungkin kepada BAPETEN .

Undang-undang No.10/1997 tentang Ketenaganukliran

:

Kewajiban Menjamin keselamatan, keamanan dan

ketentraman, kesehatan pekerja dan anggota masyarakat,

serta perlindungan terhadap lingkungan hidup.

(45)

45

Program Kesiapsiagaan Nuklir

Usaha

atau

tindakan

yang dilakukan secara terpadu

untuk

mencegah

atau

memperkecil

dampak

radiologi

yang ditimbulkan dari pemanfaatan tenaga nuklir

baik pada

kondisi normal ataupun darurat

Sistem Kesiapsiagaan Nuklir

Sistem Kesiapsiagaan Nuklir

Membentuk mekanisme yang terpadu antara

program

dan

pedoman

kesiapsiagaan nuklir di tingkat

nasional, daerah

dan fasilitas/kawasan

bersama dengan sistem

(46)

46

Pedoman Fasilitas/ Kawasan Sistem Nasional Program Daerah Pedoman Daerah Program Fasilitas/ Kawasan Program Nasional Pedoman Nasional

Konsep Sistem Kesiapsiagan Nuklir Nasional Terpadu

(47)

KOORDINATOR KESIAPSIAGAAN NUKLIR NASIONAL

PUSAT KOORDINISASI & PENGENDALIAN

OPERASI KESIAPSIAGAAN NUKLIR NASIONAL

ORGANISASI KESIAPSIAGAAN NUKLIR FASILITAS

(48)

PROGRAM

KESIAPSIAGAAN

NUKLIR

FUNGSI

TUJUAN

NORMAL

DARURAT

PERENCANAAN

PENTAHAPAN

(49)

49

Kajian Dasar Pentahapan

Kajian Dasar Pentahapan

•Sifat zat/bahan

•Resiko/dampak

JENIS

SUMBER

POTENSI

BAHAYA

KLASIFIKASI &

KARAKTERISTIK

KECELAKAAN

KATEGORI PROGRAM

(I-V)

PENTAHAPAN

(1-10)

(50)

50

Tingkat dan Kategori Program KN

Tingkat dan Kategori Program KN

Tingkat Program yang akan disusun

Fasilitas

Kategori berdasarkan Resiko Fasilitas

Kat. I : (Reaktor : > 100 MWt, Inv. Radioaktif >100 kl index A2 )

Kat. II : (Reaktor: 10 < Mwt < 100 , Inv Radioaktif >10 kl index A2)

Kat. III: (Reaktor : <10 Mwt, Fas Iradiator, Pabrik Bahan Bakar dll)

Kat. IV: (Radiografi/gauging, Kedok. Nuklir, Transportasi, hilang)

Kat. V: (Trans Bounday, Kontaminasi Makanan, dll)

Nasional

Kawasan

(51)

51

Pentahapan Perencanaan Program KN

Pentahapan Perencanaan Program KN

Nasional Koordinator

(BAPETEN)

Start

Kebijakan Nasional

Tingkat Nasional, Daerah, Fasilitas

Perencanaan Dasar Program

Penentuan Tanggungjawab

3

1 2

Pedoman Kesiapsiagaan Nuklir Nasional

Penyebarluasan Pedoman

Membentuk Organisasi

Perencanaan Detail Program

5 6 4 7 9 8

(52)

52

Alur Penyusunan Program KN

Alur Penyusunan Program KN

PROGRAM KESIAPSIAGAAN NUKLIR

Identifikasikan

Komponen

Infrastruktur

Identifikasikan

Komponen

Fungsi

Prosedur, Juklak dan juknis

Dokumen dokumen Pendukung

Sarana dan Prasarana

Uji berdasarkan skenario

kecelakaan postulasi

(Kategori & klasifikasi)

Organisasi

Koordinasi

Prosedur

Fasilitas, Perlatan dan sarana pendukung

Pelatihan dan ujicoba

Identifikasi kecelakaan awal

Pemberitahuan dan pengaktifan

Tindakan penanggulangan

Penerangan dan instruksi masyarakat

Perlindungan terhadap pekerja kedaruratan

Bantuan instansi terkait

Hubungan Media Massa

Pelatihan dan ujicoba

Evaluasi dan Review

Tidak

(53)

53

Tindakan Penanggulangan

Tindakan Penanggulangan

Tindakan penanggulangan:

Jenis

dan

karakteristik

tindakan

penanggulangan sangat tergantung dari skenario

kecelakaan terparah.

Program kesiapsiagaan nuklir yang terbentuk juga

akan tergantung dari jenis dan karakteristik

(54)

54

Skenario Kecelakaan

Skenario Kecelakaan

Skenario Kecelakaan

Postulasi kecelakaan terparah:

Reaktor riset

(mis. Lepasnya produk fisi dari bahan

bakar atau target iradiasi)

Over exposure

karena sumber terlepas dari

shieldingnya (radiografi, gauging, radioterapi, dll)

Over kontaminasi

ruangan atau udara oleh sumber

terbuka (kedokteran nuklir, lab. Kimia nuklir, tracer,

produk fisi, dll )

(55)

55

Klasifikasi Kecelakaan (1)

Klasifikasi Kecelakaan (1)

Daerah yang terkena dampak

Kelas 1 :

kecelakaan yang berakibat terbatas pada satu ruangan,

gedung atau laboratorium

Kelas 2 :

Kecelakaan yang berakibat sampai dengan daerah

kawasan

Kelas 3 :

Kecelakaan yang berakibat sampai pada daerah lepas

kawasan

Kelas 4 :

Kecelakaan yang berakibat luas hingga melewati batas

wilayah daerah atau negara (trans-boundary)

(56)

56

KESIMPULAN

KESIMPULAN

Adanya Landasan hukum sistem kesiapsiagaan nuklir nasional

Untuk menciptakan sistem kesiapsiagaan nuklir nasional :

1.

Adanya Pedoman Program kesiapsiagaan nuklir tk nasional, daerah

dan

fasilitas/ kawasan.

2.

Keterpaduan Program tingkat fasilitas/kawasan, daerah, nasional dan

selaras dengan sistem Kesiapsiagaan Nuklir Nasional

3.

Adanya organisasi dan infrastruktur yang memadai sesuai dengan

fungsi-fungsi Kesiapsiagaan Nuklir

4.

Berdasarkan fasilitas nuklir yang ada di Indonesia maka Program

Kesiapsiagaan Nuklir tingkat nasional adalah program kategori II.

(57)

Pasal 43

Pasal 43

(1) Barang siapa melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan

(1) Barang siapa melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan

sebagaimana dimaksud dalam

sebagaimana dimaksud dalam

Pasal

Pasal

17

17

ayat

ayat

(1)

(1)

dipidana dengan pidana

dipidana dengan pidana

denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

(2) Dalam hal tidak mampu membayar denda sebagaimana dimaksud pada

(2) Dalam hal tidak mampu membayar denda sebagaimana dimaksud pada

ayat (1), terpidana dipidana dengan kurungan paling lama 1 (satu)

ayat (1), terpidana dipidana dengan kurungan paling lama 1 (satu)

tahun

tahun

Pasal 41

(1) Barang siapa membangun, mengoperasikan, atau melakukan dekomisioning

reaktor nuklir tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 17 ayat (2)

dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan

denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

(2) Barang siapa melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

yang menimbulkan kerugian nuklir dipidana dengan pidana penjara

seumur hidup atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan

denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

(3) Dalam hal tidak mampu membayar denda sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) dan ayat (2), terpidana dipidana dengan kurungan paling lama 1 (satu)

tahun

(58)

Pasal 17

Pasal 17

(2) Pembangunan dan pengoperasian reaktor nuklir dan instalasi

(2) Pembangunan dan pengoperasian reaktor nuklir dan instalasi

nuklir lainnya serta dekomisioning reaktor nuklir wajib

nuklir lainnya serta dekomisioning reaktor nuklir wajib

memiliki izin.

memiliki izin.

(59)

Pasal 17

Pasal 17

(1) Setiap pemanfaatan tenaga nuklir wajib memiliki izin, kecuali

(1) Setiap pemanfaatan tenaga nuklir wajib memiliki izin, kecuali

dalam hal-hal tertentu yang diatur lebih lanjut dengan

dalam hal-hal tertentu yang diatur lebih lanjut dengan

Peraturan Pemerintah.

Peraturan Pemerintah.

(60)

Pasal 42

Pasal 42

(1) Barang siapa melakukan perbuatan yang bertentangan

(1) Barang siapa melakukan perbuatan yang bertentangan

dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam

dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam

Pasal

Pasal

19

19

ayat (1)

ayat (1)

dipidana dengan pidana penjara paling lama 2

dipidana dengan pidana penjara paling lama 2

(dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp

(dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp

50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

(2) Dalam hal tidak mampu membayar denda sebagaimana

(2) Dalam hal tidak mampu membayar denda sebagaimana

dimaksud pada ayat (1), terpidana dipidana dengan

dimaksud pada ayat (1), terpidana dipidana dengan

kurungan paling lama 6 (enam) bulan

kurungan paling lama 6 (enam) bulan

(61)

Pasal 19

Pasal 19

(1) Setiap petugas yang mengoperasikan reaktor nuklir dan

(1) Setiap petugas yang mengoperasikan reaktor nuklir dan

petugas tertentu di dalam instalasi nuklir lainnya dan di

petugas tertentu di dalam instalasi nuklir lainnya dan di

dalam instalasi yang memanfaatkan sumber radiasi

dalam instalasi yang memanfaatkan sumber radiasi

pengion wajib memiliki izin.

pengion wajib memiliki izin.

(2) Persyaratan untuk memperoleh izin sebagaimana

(2) Persyaratan untuk memperoleh izin sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) diatur oleh Badan Pengawas.

dimaksud pada ayat (1) diatur oleh Badan Pengawas.

(62)

Pasal 44

Pasal 44

(1) Barang siapa melakukan perbuatan yang bertentangan

(1) Barang siapa melakukan perbuatan yang bertentangan

dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam

dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam

Pasal

Pasal

24

24

ayat

ayat

(2)

(2)

untuk penghasil limbah radioaktif tingkat

untuk penghasil limbah radioaktif tingkat

tinggi dipidana dengan pidana penjara paling lama 5

tinggi dipidana dengan pidana penjara paling lama 5

(lima) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00

(lima) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00

(tiga ratus juta rupiah).

(tiga ratus juta rupiah).

(2) Barang siapa melakukan perbuatan yang bertentangan

(2) Barang siapa melakukan perbuatan yang bertentangan

dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam

dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam

Pasal

Pasal

24

24

ayat

ayat

(1)

(1)

untuk penghasil limbah radioaktif tingkat rendah

untuk penghasil limbah radioaktif tingkat rendah

dan tingkat sedang dipidana dengan pidana denda paling

dan tingkat sedang dipidana dengan pidana denda paling

banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

(3) Dalam hal tidak mampu membayar denda sebagaimana

(3) Dalam hal tidak mampu membayar denda sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), terpidana dipidana

dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), terpidana dipidana

dengan kurungan paling lama 1 (satu) tahun.

dengan kurungan paling lama 1 (satu) tahun.

(63)

Pasal 24

Pasal 24

(2) Penghasil limbah radioaktif tingkat tinggi wajib

(2) Penghasil limbah radioaktif tingkat tinggi wajib

menyimpan sementara limbah tersebut dalam waktu

menyimpan sementara limbah tersebut dalam waktu

sekurang-kurangnya selama masa operasi reaktor

sekurang-kurangnya selama masa operasi reaktor

nuklir.

nuklir.

(64)

Pasal 24

Pasal 24

(1) Penghasil limbah radioaktif tingkat

(1) Penghasil limbah radioaktif tingkat

rendah dan tingkat sedang wajib

rendah dan tingkat sedang wajib

mengumpulkan, mengelompokkan, atau

mengumpulkan, mengelompokkan, atau

mengolah dan menyimpan sementara

mengolah dan menyimpan sementara

limbah tersebut sebelum diserahkan

limbah tersebut sebelum diserahkan

kepada Badan Pelaksana, sebagaimana

kepada Badan Pelaksana, sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 23.

dimaksud dalam Pasal 23.

(65)

Hotline Perizinan :

Hotline Perizinan :

Telp: (021) 6385 8269 – 70 ext 3316 (industri)

(021) 6385 8269 – 70 ext 3320 (kesehatan)

(021) 6385 8269 – 70 ext 3123 (PPR)

(021) 6385 1028 (bahan nuklir)

Fax:

(021) 6385 6613 (zat radioaktif)

(021) 6385 5814 (bahan nuklir)

Email: izin-zrr@bapeten.go.id (zat radioaktif)

izin-pin@bapeten.go.id (bahan nuklir)

Informas Lain :

Informas Lain :

Pendidikan PPR : diklat@bapeten.go.id

Rekualifikasi PPR

: rekualifasi@bapeten.go.id

Kepegawaian

: kepegawaian@bapeten.go.id

Inspeksi

: inspeksi@bapeten.go.id

Hubungan masyarakat

: humas@bapeten.go.id

Informasi umum : info@bapeten.go.id

Alamat :

Alamat :

Jl. Gajah Mada No. 8

PO. Box 4005 Jakarta 10040 Indonesia

Telp. (021) 6385 8269 – 70

Fax. (021) 6385 8275

(66)

Gambar

DIAGRAM ALIR PENEGAKAN HUKUM (INSPEKSI FRZR) 23

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain: Perbandingan komposisi bahan yang tepat untuk menghasilkan

Kecamatan Tanjung Tiram merupakan salah satu Kecamatan yang terletak di Kabupaten Batu Bara, dengan luas wilayah sekitar 173,79 km² yang terdiri dari 19 desa yaitu,

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa figur orang tua di dalam keluarga besar memiliki pemaknaan bahwa pengasuhan anak, selain dari segi fisik seperi memberikan

Pola hubungan suami-istri yang mempengaruhi pola komunikasi diadik bergerak dari ujung yang satu komunikasi satu arah; otoriter pada satu pihak, penyingkapan diri yang

Mengkhusukan diri dalam memproduksi jenis produk atau fitur produk tertentu.. Strategi Kompetitif Perusahaan Nicher. 8)  

Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat interaksi antara faktor pupuk Sp-36 dan pupuk KCl terhadap hasil panen tanaman buncis, dengan menggunakan dua

(1) Belanja Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf b, meliputi semua pengeluaran dari rekening desa yang merupakan kewajiban desa dalam 1 (satu) tahun anggaran

bahwa dengan berlakunya Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa