• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skripsi OLEH: AHMAD ARYA SAWRAJA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Skripsi OLEH: AHMAD ARYA SAWRAJA"

Copied!
188
0
0

Teks penuh

(1)

PENYANDANG DISABILITAS MENGGUNAKAN

METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

Skripsi

OLEH:

AHMAD ARYA SAWRAJA

1113091000057

PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

PENYANDANG DISABILITAS MENGGUNAKAN

METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk

Memperoleh Gelar Sarjana Komputer (S.Kom)

Oleh:

AHMAD ARYA SAWRAJA

1113091000057

PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(3)
(4)
(5)
(6)

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI SKRIPSI

Sebagai civitas akademik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Ahmad Arya Sawraja

NIM : 1113091000057

Program Studi : Teknik Informatika Fakultas : Sains dan Teknologi Jenis Karya : Skripsi

demi pembuatan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalti Free Right) atas karya ilmiah yang berjudul:

PENGEMBANGAN APLIKASI SISTEM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMETAAN PELATIHAN TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK

PENYANDANG DISABILITAS MENGGUNAKAN METODE

ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berhak menyimpan, mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Jakarta, 30 Oktober 2018 Yang menyatakan,

(7)

vi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Disabilitas Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP)

ABSTRAK

Pada undang-undang nomor 8 tahun 2016 dimana disabilitas merupakan bagian dari negara republik indonesia yang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Oleh karena itu perlunya untuk peningkatan kesejateraan sosial bagi penyandang disabilitas, salah satu cara meningkatannya dengan memberikan pelatihan teknologi informasi. Untuk mendukung pelatihan teknologi informasi ini diperlukan pemetaan dalam pelatihan yang sesuai untuk para penyandang disabilitas. Pada penelitian ini dilakukan perengkingan pada setiap pelatihan teknologi informasi berdasarkan kriteria kemampuan para disabilitas. Pemeringkatan pelatihan teknologi informasi di analisa menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dan untuk pengembangan sistem menggunakan Rapid Application Development (RAD). Pada penelitian ini membahas tentang disabilitas tuna rungu hard of hearing, tuna netra buta total, tuna daksa amputasi tangan. dimana pelathan teknologi informasi yang dijadikan altribut sebagai berikut microsoft word, microsoft excel, power point, photoshop, Scratch Programming, adob illustration, e-marketing, browsing internet, dan sosial media. Hasil ahir menunjukan perengkingan pelatihan teknologi yang sesuai dengan para penyandang disabilitas.

Kata kunci : Disabilitas, Pelatihan Teknologi Informasi, Analytical Hierarchy Process (AHP), Rapid Application Development (RAD)

Jumlah Pustaka : 11 buku, 18 jurnal, 9 artikel. Jumlah Halaman : XVII + 162 Halaman

(8)

Name : Ahmad Arya Sawraja Study Program : Informatic Engineering

Title : Application Development of Decision Making System Mapping Information Technology Training for Persons with Disabilities Using the Analytical Hierarchy Process (AHP) Method

ABSTRACT

In law number 8 of 2016 where disability is part of the Indonesian republic which has the same rights and obligations. Therefore, the need to improve social welfare for people with disabilities is one way to improve it by providing information technology training. To support information technology training, mapping in training is appropriate for people with disabilities. In this study, there was a clash in every information technology training based on the ability criteria of the disability. The ranking of information technology training was analyzed using the Analytical Hierarchy Process (AHP) method. In this study discusses the disability of the deaf, totally blind, blind, amputated hands. where information technology training is used as the following attributes Microsoft Word, Microsoft Excel, Power Point, Photoshop, Scratch Programming, Adob illustration, e-marketing, internet browsing, and social media. The end result shows the dispute in technology training that is suitable for people with disabilities.

Keywords : Disability, Information Technology Training, Analytical Hierarchy Process (AHP).

(9)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya kepada penulis. Berkat ridho-Nyalah skripsi yang berjudul “Pengembangan Aplikasi Sistem Pengambilan Keputusan Pemetaan Pelatihan Teknologi Informasi untuk Penyandang Disabilitas Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP)” dapat terselesaikan dengan baik. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan program S1 pada Program Studi Teknik Informatika di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis mendapatkan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada:

Orang tua, adik tercinta, dan seluruh keluarga yang tak pernah lelah memberikan doa, dukungan, dan kasih sayang yang selalu mengiringi setiap langkah penulis.

Bapak Dr. Agus Salim, M.Si., selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi. Ibu Arini, MT., selaku ketua Program Studi Teknik Informatika, serta Bapak Feri Fahrianto, M.Sc., selaku sekretaris Program Studi Teknik Informatika.

Bapak Imam Marzuki Shofi, M.T, selaku dosen pembimbing I serta Ibu Siti Ummi Masruroh, M.Sc, selaku dosen pembimbing II yang secara koopertatif telah meluangkan waktu dan memberikan bimbingan, bantuan, semangat, dan motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Bapak Eka Setiawan S.Pd, Ibu Yuni Haryati, dan Ibu Purwati, selaku narasumber untuk Tuna Netra yang talah selaku pembimbing di tempat penelitian, yang membantu kelancaran dan kesuksesan penelitian ini. Ibu Tiwi sebagai ketua Wisma Cheshire, Barbara speirs, dan Echi Pramitasari, selaku narasumber untuk Tuna Daksa yang telah membimbing di tempat penelitian, yang membantu kelancaran dan kesuksesan penelitian ini.

(10)

Seluruh dosen, staff Karyawan Fakultas Sains dan Teknologi yang telah memberikan bantuan dan kerjasama yang telah terjalin dari awal perkuliahan.

Teman–teman seperjuangan Teknik Informatika angkatan 2013 khususnya TI–A, TI–B, juga TI–C. Terimakasih buat semua kenangan dan kebersamaan selama ini.

Teman–teman dekat selama menimba ilmu, Kiki, Zhella, Ubet, Angga, Dodi, dan Yusi yang sudah memberikan semangat saya.

Komfast 2013, teman seperjuangan bersenang–senang dan berduka bersama, suka nyebarin gossip ama suka ‘saling bullying’ temen kalo lagi seneng, yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Sarah, Abdur, dan Wanti yang sudah membantu dalam penulisan skripsi ini.

Teman seperjuangan atau sahabat, dari kecil sampai besar, walaupun beda kampus tetap mensupport saya siapa lagi kalau bukan Muhammad Agustiar dan Alghy Fahrin.

PMII Cabang Ciputat, yang telah mendidik saya sehingga saya berkembang lebih dari yang saya inginkan.

Sofi, Faiq, dan Rani. Gang anak Man 4 yang telah memberikan suport yang berarti untuk kuliah saya.

Sahabat dan teman yang selalu berbagi cerita dan motivasi serta saling bertukar mimpi serta saling mendukung, sehingga akhirnya saya dapat menyelesaikan skripsi ini, Neng Nadiyya Syaima.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran sangat diharapkan dengan berkomunikasi melalui email ke [email protected] Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Jakarta, 30 Oktober 2018 Ahmad Arya Sawraja

(11)

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

PERNYATAAN ORISINALITAS ... iv

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI SKRIPSI ... v

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR TABEL ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Tujuan ... 2

1.3. Manfaat ... 3

1.3.1. Manfaat Bagi Penulis ... 3

1.3.2. Manfaat Bagi Universitas ... 3

1.3.3. Manfaat Bagi Pengguna ... 3

1.4. Rumusan Masalah ... 3

1.5. Batasan Masalah ... 4

1.6. Metode Penelitian ... 4

1.6.1. Metode Pengumpulan Data ... 4

1.6.2. Metode Perancangan ... 5

1.7. Sistematika Penulisan ... 5

BAB II LANDASAN TEORI ... 7

2.1. Konsep Dasar Sistem ... 7

2.1.1. Pengertian Sistem ... 7

2.1.2. Elemen Sistem ... 7

2.2. Konsep Keputusan ... 8

2.2.1. Keputusan ... 8

2.2.2. Pengambilan Keputusan. ... 8

2.3. Sistem Pendukung Keputusan ... 9

2.3.1. Definisi Sistem Pendukung Keputusan ... 9

2.3.2. Tujuan Sistem Pengambilan Keputusan ... 10

2.3.3. Karakteristik Sistem Pendukung Keputusan ... 11

(12)

2.4. Analyitical Hierarchy Prosces (AHP) ... 13

2.4.1. Pengertian Analytical Hierarchy Prosces (AHP) ... 13

2.4.2. Konsep Dasar Analytical Hierarchy Process (AHP) ... 13

2.4.3. Perhitungan Analytic Hierarchy Process (AHP) ... 14

2.4.4. Kelebihan Analytic Hierarchy Process (AHP) ... 17

2.4.5. Kelemahan Analytic Hierarchy Process (AHP) ... 17

2.5. Rapid Application Development (RAD) ... 18

2.5.1. Tahap-Tahap Pengembangan RAD ... 18

2.6. Konsep Dasar UML (Unified Modelling Language)... 19

2.6.1. Pengertian UML ... 19

2.6.2. Tujuan UML ... 19

2.6.3. Tahap Pembuatan UML ... 20

2.6.4. Diagram-diagram UML ... 21

2.6.5. Use Case Diagram ... 23

2.6.6. Class Diagram ... 24

2.6.7. Activity Diagram ... 25

2.6.8. Sequence Diagram ... 27

2.7. CSS (Cascading Style Sheet) ... 28

2.8. HTML (Hypertext Markup Language) ... 28

2.9. Database Management System (DBMS) ... 29

2.10. XAMPP ... 29

2.11. Hypertext Preprocessor (PHP) ... 29

2.12. JavaScript ... 30

2.13. Testing (Pengujian) Sistem ... 30

2.13.1. Pengertian Testing (Pengujian)... 30

2.13.2. Pengertian White Box Testing (Pengujian Kotak Putih) ... 30

2.13.3. Pengertian Black Box Testing (Pengujian Kotak Hitam) ... 31

2.14. Penyandang Disabilitas ... 31

2.14.1. Pengertian Disabilitas ... 31

2.14.2. Klasifikasi Penyandang Disabilitas ... 32

2.15. Tuna Rungu ... 33

2.15.1. Definisi Tuna Rungu ... 33

2.15.2. Klasifikasi Tuna Rungu ... 33

(13)

2.16.1. Definisi Tuna Netra ... 34

2.16.2. Klasifikasi Tuna Netra ... 35

2.17. Tuna Daksa ... 35

2.17.1. Definisi Tuna Daksa ... 35

2.17.2. Klasifikasi Tuna Daksa ... 36

2.18. Studi Literatur ... 36

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 38

3.1. Metode Pengumpulan Data ... 38

3.1.1. Wawancara ... 38

3.1.2. Kuesioner ... 38

3.1.3. Studi Pustaka ... 38

3.2. Metode Pengembangan Sistem ... 39

3.2.1. Rencana Kebutuhan (Requirement Planning) ... 39

3.2.2. Proses Desain Sistem (Design System) ... 39

3.2.3. Implementasi (Implementation) ... 40

3.3. Kerangka Penelitian ... 40

BAB IV ANALISIS, PERANCANGAN SISTEM, IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN SISTEM ... 42

4.1. Tahap Perencanaan Syarat-Syarat (Requirements Planning) ... 42

4.1.1. Analisis Kebutuhan Masalah ... 42

4.1.1.1. Mendefinisikan Masalah ... 42

4.1.1.2. Tujuan Informasi... 43

4.1.2. Identifikasi Alternatif dan Kriteria ... 43

4.1.2.1. Identifikasi Alternatif ... 43

4.1.2.2. Identifikasi Kriteria ... 44

4.2. Tahap Workshop Desain (Design Workshop) ... 45

4.2.1. Tahap Perancangan Sistem ... 45

4.2.1.1. Perancangan UML ... 45

4.2.1.2. Tahap Perancangan Database ... 70

4.2.1.3. Tahap Perancangan Interface... 72

4.2.2. Tahap Pembuatan Sistem (Build System) ... 78

4.2.2.1. Tahapan Pembobotan Metode AHP ... 78

4.2.2.2. Penilaian Kuesioner ... 79

(14)

4.2.2.4. Perhitungan Bobot Kriteria Untuk Tuna Rungu Hard of Hearing 80

4.2.2.5. Pembobotan Kriteria Tuna Netra Buta Total ... 95

4.2.2.6. Pembobotan Kriteria Tuna Darsa Amputasi Tangan ... 110

4.3. Tahap Implementasi (Implementation Phase) ... 125

4.3.1. Perangkat Keras (Hardware) ... 125

4.3.2. Perangkat Lunak (Software) ... 125

4.3.3. Pengujian Sistem ... 125

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ... 130

5.1. Hasil Tampilan Antarmuka dan Pembahasan ... 130

5.2. Hasil Uji Coba dan Pembahasan ... 136

BAB VI PENUTUP ... 141

6.1. Kesimpulan ... 141

6.2. Saran ... 141

DAFTAR PUSTAKA ... 143

LAMPIRAN ... 146

Lampiran 1 Surat Permohonan Data Riset ... 146

Lampiran 2 Kuesioner ... 149

(15)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Komponen DSS ... 12

Gambar 2. 2 Tahap RAD ... 19

Gambar 2. 3 Diagram UML ... 22

Gambar 3. 1 Kerangka Berpikir ... 41

Gambar 4. 1 Use Case Diagram Admin ... 47

Gambar 4. 2 Use Case Diagram user ... 48

Gambar 4. 3 Activity Diagram Login ... 49

Gambar 4. 4 Activity Diagram Register ... 50

Gambar 4. 5 Activity Diagram Edit Data Nilai ... 51

Gambar 4. 6 Activity Diagram Edit Data Kriteria ... 52

Gambar 4. 7 Activity Diagram Hapus Data Kriteria ... 53

Gambar 4. 8 Activity Diagram Edit Data Kriteria ... 54

Gambar 4. 9 Activity Diagram Hapus Data Kriteria ... 55

Gambar 4. 10 Activity Diagram Analisa Kriteria ... 56

Gambar 4. 11 Activity Diagram Analisa Kriteria ... 57

Gambar 4. 12 Activity Diagram rangking ... 58

Gambar 4. 13 Activity Diagram Laporan ... 58

Gambar 4. 14 Activity Diagram edit profile ... 59

Gambar 4. 15 Activity Diagram Logout ... 60

Gambar 4. 16 Sequence Diagram Login ... 61

Gambar 4. 17 Sequence Diagram Login ... 61

Gambar 4. 18 Sequence Diagram Ubah Data Nilai ... 62

Gambar 4. 19 Sequence Diagram Tambah Data Nilai ... 62

Gambar 4. 20 Sequence Diagram Hapus Data Nilai ... 63

Gambar 4. 21 Sequence Diagram Ubah Data Nilai ... 63

Gambar 4. 22 Sequence Diagram Tambah Data Nilai ... 64

Gambar 4. 23 Sequence Diagram Hapus Data Kriteria ... 64

Gambar 4. 24 Sequence Diagram Ubah Data Alternatif ... 65

Gambar 4. 25 Sequence Diagram Tambah Data Alternatif ... 65

Gambar 4. 26 Sequence Diagram Hapus Data Alternatif ... 66

Gambar 4. 27 Sequence Diagram Analisa Data Kriteria ... 66

Gambar 4. 28 Sequence Diagram Analisa Data Alternatif ... 67

Gambar 4. 29 Sequence Diagram Rangking ... 67

Gambar 4. 30 Sequence Diagram Laporan ... 68

Gambar 4. 31 Sequence Diagram Ubah Profil ... 68

Gambar 4. 32 Sequence Diagram Logout ... 69

Gambar 4. 33 Class Diagram ... 69

Gambar 4. 34 Antarmuka login ... 72

Gambar 4. 35 Antarmuka Halaman Utama ... 73

Gambar 4. 36 Antarmuka Data Nilai ... 73

Gambar 4. 37 Antarmuka Data Kriteria ... 74

Gambar 4. 38 Antarmuka Data Alternatif ... 74

Gambar 4. 39 Antarmuka Analisa Kriteria ... 75

(16)

Gambar 4. 41 Antarmuka Rangking ... 76

Gambar 4. 42 Antarmuka Laporan... 76

Gambar 4. 43 Antarmuka profil ... 77

Gambar 4. 44 Antarmuka Logout ... 77

Gambar 4. 45 Tahap Analytical Hierarchy Process ... 78

Gambar 5. 1 Hasil perangkingan tuna rungu ... 136

Gambar 5. 2 Grafik Perangkingan tuna rungu ... 137

Gambar 5. 3 Hasil perangkingan tuna buta total ... 138

Gambar 5. 4 Grafik Perangkingan tuna netra butal total ... 138

Gambar 5. 5 Hasil perangkingan tuna darsa amputasi tanggan ... 139

Gambar 5. 6 Grafik Perangkingan tuna daksa amputasi tangan ... 139

Gambar 5. 7 Tampilan Antarmuka Login ... 130

Gambar 5. 8 Tampilan Antarmuka Register ... 131

Gambar 5. 9 Tampilan Antarmuka Beranda ... 131

Gambar 5. 10 Tampilan Antarmuka Data Nilai ... 132

Gambar 5. 11 Tampilan Antarmuka Data Kriteria... 132

Gambar 5. 12 Tampilan Antarmuka Data ALternatif ... 133

Gambar 5. 13 Tampilan Antarmuka Analisa Kriteria ... 133

Gambar 5. 14 Tampilan Antarmuka Tabel Analisa Kriteria ... 134

Gambar 5. 15 Tampilan Antarmuka Analisa Alternatif ... 134

Gambar 5. 16 Tampilan Antarmuka Tabel Analisa Alternatif ... 135

Gambar 5. 17 Tampilan Antarmuka Ranking ... 135

(17)

DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Skala Penilaian Perbandingan Berpasangan (Saaty, 2004) ... 13

Tabel 2. 2 Skala Penilaian Random Indeks (Saaty, 2004) ... 16

Tabel 2. 3 Daftar Simbol Use Case Diagram ... 23

Tabel 2. 4 Class Diagram ... 25

Tabel 2. 5 Daftar Simbol Activity Diagram ... 26

Tabel 2. 6 Daftar Simbol Sequence Diagram ... 27

Tabel 2. 7 Perbandingan Studi Literatur Sejenis ... 37

Tabel 4. 1 Identifikasi Aktor ... 45

Tabel 4. 2 Identifikasi Aktor ... 45

Tabel 4. 3 Database User ... 70

Tabel 4. 4 Database Data Kriteria ... 70

Tabel 4. 5 Database data alternatif ... 70

Tabel 4. 6 Database Analisa Kriteria ... 70

Tabel 4. 7 Database Analisa Alternatif ... 71

Tabel 4. 8 Database Kriteria dan Alternatif ... 71

Tabel 4. 9 Database Nilai ... 71

Tabel 4. 10 Database Rangking ... 71

Tabel 4. 11 Penilaian Kuesioner dengan Skala Likert ... 79

Tabel 4. 12 Data Penilaian Decision Maker utuk Kriteria ... 80

Tabel 4. 13 Penilaian antar Kriteria Tuna Rungu ... 81

Tabel 4. 14 Normalisasi Matrix Perbandingan Berpasangan Kriteria Tuna Rungu ... 81

Tabel 4. 15 Uji Konsistensi Matrix Kriteria... 82

Tabel 4. 16 Data Penilaian Decision Maker untuk Alternatif pada Kriteria Penglihatan ... 83

Tabel 4. 17 Matriks Perbandingan Berpasangan untuk Alternatif pada Kriteria Penglihatan Tuna Rungu ... 84

Tabel 4. 18 Matriks Normalisasi dari Matriks Berpasangan untuk Alternatif Penglihatan pada Tuna Rungu ... 84

Tabel 4. 19 Uji konsistensi Matrix Alternatif pada Kriteria Penglihatan ... 85

Tabel 4. 20 Data penilaian Decision Maker untuk Alternatif pada Kriteria Pendengaran ... 86

Tabel 4. 21 Matriks perbandingan berpasangan untuk alternatif pendengaran pada tuna rungu ... 88

Tabel 4. 22 Matriks Normalisasi dari Matriks Berpasangan untuk Alternatif Pendengaran pada tuna rungu ... 88

Tabel 4. 23 Uji Konsistensi Matrix Alternatif pada Kriteria Pendengaran ... 89

Tabel 4. 24 Data penilaian Decision Maker untuk Alternatif pada Kriteria Fisik 90 Tabel 4. 25 Matriks Perbandingan Berpasangan untuk Alternatif pada kriteria Fisik pada Tuna Rungu ... 92

Tabel 4. 26 Matriks Normalisasi dari Matriks berpasangan untuk Alternatif Pendengaran pada tuna rungu ... 92

(18)

Tabel 4. 28 Nilai akhir Kreiteria dan Alternatif untuk Tuna Rungu ... 94

Tabel 4. 29 Hasil Perengkingan pelatihan teknologi untuk Tuna Rungu ... 95

Tabel 4. 30 Data penilaian Decision Maker utuk kriteria ... 95

Tabel 4. 31 Penilaian antar Kriteria Tuna Netra Buta Total ... 96

Tabel 4. 32 Normalisasi Matrix Perbandingan Berpasangan Antara Kriteria Tuna Netra Buta Total ... 97

Tabel 4. 33 Uji Konsistensi Matrix Kriteria... 97

Tabel 4. 34 Data penilaian Decision maker untuk Alternatif pada Kriteria Penglihatan ... 98

Tabel 4. 35 Matriks perbandingan Berpasangan untuk alternatif penglihatan pada tuna netra blind ... 99

Tabel 4. 36 Matriks Normalisasi dari Matriks berpasangan untuk Alternatif pada Alternatif Penglihatan pada Tuna Netra Total Buta ... 100

Tabel 4. 37 Uji konsistensi matrix Alternatif pada Kriteria penglihatan ... 100

Tabel 4. 38 Data penilaian Decision Maker untuk alternatif pada Kriteria Pendengaran ... 102

Tabel 4. 39 Matriks perbandingan Berpasangan untuk Alternatif pada Kriteria Penglihatan pada tuna netra buta total ... 103

Tabel 4. 40 Matriks normalisasi dari matriks berpasangan untuk alternatif pada Kriteria pendengaran pada tuna netra buta total ... 103

Tabel 4. 41 Uji konsistensi matrix Alternatif pada Kriteria Pendengaran ... 104

Tabel 4. 42 Data penilaian Decision Maker untuk alternatif pada Kriteria Fisik 105 Tabel 4. 43 Matriks perbandingan Berpasangan untuk Alternatif pada Kriteria Penglihatan pada tuna netra buta total ... 107

Tabel 4. 44 Matriks normalisasi dari matriks berpasangan untuk alternatif pada kriteria fisik pada tuna netra buta total ... 107

Tabel 4. 45 Uji konsistensi Matrix Alternatif pada Kriteria Fisik ... 108

Tabel 4. 46 Nilai akhir Kreiteria dan Alternatif untuk Tuna Netra Buta Total ... 109

Tabel 4. 47 Hasil perengkingan pelatihan teknologi untuk Tuna Netra Buta Total ... 109

Tabel 4. 48 Data penilaian Decision Maker utuk Kriteria ... 110

Tabel 4. 49 Penilaian antar Kriteria Tuna Darsa Amputasi Tangan ... 111

Tabel 4. 50 Normalisasi Matrix Perbandingan Berpasangan Antara Kriteria Tuna Darsa amputasi tangan ... 111

Tabel 4. 51 Uji Konsistensi Matrix Kriteria... 112

Tabel 4. 52 Data Penilaian Decision Maker untuk Alternatif pada Kriteria Penglihatan ... 113

Tabel 4. 53 Matriks Perbandingan Berpasangan untuk Alternatif pada Kriteria Penglihatan Tuna Darsa Amputasi Tangan ... 114

Tabel 4. 54 Matriks normalisasi dari matriks berpasangan untuk alternatif penglihatan pada tuna darsa amputasi tangan ... 115

Tabel 4. 55 Uji konsistensi Matrix Alternatif pada Kreiteria Penglihatan ... 115

Tabel 4. 56 Data penilaian Decision Maker untuk Alternatif pada Kriteria Pendengaran ... 117

Tabel 4. 57 Matriks perbandingan Berpasangan untuk alternatif penglihatan pada Tuna Darsa Amputasi Tangan ... 118

(19)

Tabel 4. 58 Matriks normalisasi dari matriks berpasangan untuk alternatif pendengaran pada tuna darsa amputasi tangan ... 118 Tabel 4. 59 Uji konsistensi Matrix Alternatif pada Kreiteria Pendengaran ... 119 Tabel 4. 60 Data penilaian Decision Maker untuk Alternatif pada Kriteria Fisik ... 120 Tabel 4. 61 Matriks normalisasi dari matriks berpasangan untuk alternatif fisk pada tuna darsa amputasi tangan ... 121 Tabel 4. 62 Matriks normalisasi dari matriks berpasangan untuk alternatif pada kriteria fisik pada tuna darsa amputasi tangan ... 122 Tabel 4. 63 Uji konsistensi matrix alternatif pada kriteria fisik ... 122 Tabel 4. 64 Nilai akhir kreiteria dan alternatif untuk tuna darsa amputasi tangan ... 124 Tabel 4. 65 Hasil perengkingan pelatihan teknologi untuk tuna darsa amutasi tangan ... 124 Tabel 4. 66 Perangkat Lunak ... 125 Tabel 4. 67 Pengujian Sistem ... 126

(20)

1.1. Latar Belakang

Word Report on Disablilty yang diliris oleh The World Health Organization (Who, 2011) atau Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan sekitar 15% dari populasi dunia (7 miliar orang) hidup dengan beberapa bentuk keterbatasan fisik, dimana 2-4% diantaranya mengalami kesulitan dalam melakukan kegiatannya sehari-hari. Perkiraan jumlah penyandang disabilitas di seluruh dunia ini meningkat karena menuanya populasi dunia dan penyebaran penyakit kronis yang cukup cepat, serta peningkatan dalam metodologi yang digunakan untuk mengukur derajat ketidakmampuan fisik.

Penelitian lembaga penyelidik Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) yang dikeluarkan badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2016, dijelaskan bahwa estimasi jumlah penyandang disabilitas di Indonesia sebesar 12,15% dengan penyandang kategori sedang sebanyak 10,29% dan kategori berat sebanyak 1,87% (Republika,2016).

Adapun data Berdasarkan hasil pendataan PT Surveyor Indonesia (Surveyor, 2009), jumlah penyadang disabilitas di 9 provinsi di indonesia sebanyak 299.203 jiwa, sekitar 67,33% disabilitas tidak memiliki keterampilan dan perkerjaan. Dari data tersebut menjelaskan disabilitas tidak memeliki peluang dalam pekerjaan, dalam hal ini secara tidak langsung para disabilitas kehilangan haknya dalam bernegara.

Dalam konferensi indonesia ikut mengesahkan mengenai hak-hak penyandang disabilitas (Convention On The Rights Of Persons With Disabilities) melalui undang-undang 19 tahun 2011. Hal tersebut berdasarkan tujuan Indonesia agar para penyandang cacat/disabilitas tersebut memperoleh pemenuhan hak-haknya pemberdayaan untuk kalangan disabilitas.

Mengacu pada Undang-Undang Nomor 8 pada Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, merupakan bagian dari negara Republik Indonesia, memiliki hak dan kewajiban yang sama, Hal tersebutlah perlunya untuk

(21)

peningkatan kesejateraan sosial bagi penyandang disabilitas, baik dengan memberdayakan melalui pengejaran maupun pelatihan bagi para penyandang disabilitas.

Berkaitan dengan masalah tersebut, peran teknologi dimasa gobalisasi sangatlah penting oleh karena itu manusia di tuntut untuk mengembangkan, serta memanfaatkan teknologi untuk dapat beradaptasi dalam keberlangsungan hidupnya. Perkembangan teknologi informasi ditandai dengan adanya pengolahan bidang pekerjaan yang awalnya dikelola dengan menggunakan cara manual dan sangat menyita waktu, maka saat ini sudah dikelola dengan hasil teknologi yang efektif dan efisien.

Oleh karena itu perlu adanya pelatihan khusus dalam bidang teknologi agar para penyadang disabilitas untuk mendorong, mengali, dan mengoptimalkan potensi dan kreatifitas disabilitas untuk dapat mengikuti pengembangan teknologi informasi. Dengan adanya pelatihan teknologi untuk disabilitas diharapkan mengubah status sosial mereka menjadi lebih baik dengan cara memandirikan kehidupan.

Pada saat ini pelatihan teknologi informasi Pustiknas (Pusat TIK Nasional kementrian komunikasi dan Informatika) untuk disabilitas sudah berjalan, namun hingga saat ini belum ada sistem yang dapat memberikan informasi dan rekomendasi pelatihan yang tepat untuk para disabilitas. oleh karena itu perlu adanya sistem pengambilan keputusan untuk mempermudah pustiknas ataupun badan latihan kerja (BLK) lainnya untuk memetakan pelatihan teknologi informasi untuk penyandang disabilitas.

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis akan melakukan penelitian dengan judul “Pengembangan Aplikasi Sistem Pendukung Keputusan Pemetaan Pelatihan Teknologi Informasi Untuk Penyandang Disabilitas Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP)”.

1.2. Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai oleh penulis dalam penelitian ini adalah untuk dapat merancang suatu aplikasi pendukung keputusan yang dapat memberikan

(22)

informasi dan rekomendasi pemetaan pelatihan teknologi informasi bagi penyandang disabilitas dengan menerapkan metode Analytical Hierarchy Process (AHP).

1.3. Manfaat

1.3.1. Manfaat Bagi Penulis

Manfaat penelitian ini bagi penulis adalah menerapkan ilmu dan pengetahuan selama kuliah.

1.3.2. Manfaat Bagi Universitas

1. Sebagai referensi untuk melakukan penelitian lebih lanjut dan lebih mendalam dari universitas.

2. Mengetahui kemampuan mahasiswa dalam menerapkan ilmunya dan sebagai bahan evaluasi.

1.3.3. Manfaat Bagi Pengguna

Manfaat penelitian ini bagi penguna antara lain:

1. Mempermudah pengguna dalam pemetaan pelatihan teknologi untuk penyandang disablitas.

2. Memberikan informasi dalam bentuk perangkingan untuk setiap penyandang distabilitas dengan kemampun dan potensi yang dimiliki. 3. Memberikan gambaran mengenai sistem pendukung keputusan dengan

metode analytical hierarchy process (AHP).

1.4. Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan yang ada, maka penulis merumuskan suatu masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana memetakan pelatihan teknologi dengan Pengembangan Aplikasi Sistem Pengambilan Keputusan Pemetaan Pelatihan Teknologi Informasi untuk penyandang disabilitas menggunakan metode analytical hierarchy process(AHP)?

(23)

1.5. Batasan Masalah

Pada skripsi ini penulis memberikan beberapa batasan masalah agar penyusunannya tidak keluar dari pokok permasalahan yang dirumuskan. Ruang lingkup yang dibatasi yaitu:

Peneliti hanya meneliti untuk penyandang disabilitas tuna rungu hard of hearing, tuna netra buta total, tuna daksa amputasi tangan.

Hanya menggunakan 5 alternarif dalam penelitian, dan penilaian dilakukan oleh para expert sesuai disabilitas.

Menggunakan metode Analytical Hierarchy Process. Adapun, metode pengembangan sistem yang digunakan Rapid Application Development (RAD), yang terdiri dari 3 tahapan yaitu: Perencanaan Syarat (Requirement

Planning), Desain Workshop (Design Workshop), dan Implementasi

(Implementation Phase). Dalam pengujiannya menggunakan metode black

box.

1.6. Metode Penelitian

Pada penyusunan penelitian “Pengembangan Aplikasi Sistem Pengambilan Keputusan Pemetaan Teknologi untuk Penyandang Disabilitas Menggunakan Metode AHP (Analytical Hierarchy Process)”, penulis melakukan pengumpulan data dan proses perancangan dengan metode:

1.6.1. Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan penulis untuk melakukan pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu:

Wawancara Kuesioner Studi Pustaka

(24)

1.6.2. Metode Perancangan

Metode yang digunakan penulis untuk melakukan pemeringkatan software dalam penelitian ini adalah metode Analytical Hierarchy Proses (AHP) dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Membentuk tim pengambilan keputusan Menentukan kriteria

Menentukan alternatif

Menghitung matriks pairwise comparison Matriks dinormalisasikan

Menghitung principai eigen value

Mencari nilai Consistency Index (CI) dan Consistency Ratio (CR)

Menyusun matriks perkalian weight matriks alternatif dangan weight matriks kriteria

Menentukan pemeringkatan Evaluasi hasil

1.7. Sistematika Penulisan

Dalam penulisan laporan penelitian ini, penulis membagi 6 (enam) BAB sebagai berikut.

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini, menerangkan latar belakang, perumusan masalah tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI

Pada bab ini berisi tentang konsep dari teori-teori dari berbagai istilah, tools, bahasa pemrograman, dan lain sebagainya yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Pada bab ini menguraikan secara rinci metode penelitian yang digunakan. Metode tersebut meliputi metode pengumpulan data dan metode pengembangan sistem. Disini dijelaskan alasan mengapa memilih metode penelitian tersebut.

(25)

BAB IV ANALISIS, PERANCANGAN SISTEM, IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN SISTEM

Pada bab ini berisi analisis terhadap kebutuhan user, perancangan sistem yang direpresentasikan dalam beberapa diagram dalam UML, implementasi pengembangannya, dan hasil pengujiannya secara konkrit.

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi hasil dan pembahasan yang didapat dari penelitian yang dilakukan penulis.

BAB VI PENUTUP

Pada bab ini akan memaparkan kesimpulan dari pembahasan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya dan memberikan saran untuk pengembangan penelitian yang lebih baik ke depannya.

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(26)

2.1. Konsep Dasar Sistem 2.1.1. Pengertian Sistem

Menurut (Kadir,2014:61) dalam bukunya yang berjudul pengenalan sistem informasi, Sistem adalah sekumpulan elemen yang saling terkait atau terpadu yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan. Sebagai gambaran, jika dalam sebuah sistem terdapat elemen yang tidak memberikan manfaat dalam mencapai tujuan yang sama, maka elemen tersebut dapat dipastikan bukanlah bagian dari sistem.

2.1.2. Elemen Sistem

Ada beberapa elemen yang membentuk sebuah sistem yaitu: 1. Tujuan

Setiap sistem memiliki tujuan (goal), entah hanya satu atau mungkin banyak. Tujuan inilah yang menjadi pemotivasi yang mengarahkan sistem. Tanpa tujuan, sistem menjadi tidak terarah dan tidak terkendali. Tentu saja, tujuan antara satu sistem dengan sistem lain berbeda-beda. Begitu pula yang berlaku pada sistem informasi, setiap sistem informasi memiliki suatu tujuan, tetapi dengan tujuan yang berbeda-beda.(Kadir,2014:62). Walaupun begitu, tujuan utama yang umum ada tiga macam, yaitu:

a. Untuk mendukung fungsi kepengurusan manajemen b. Untuk mendukung pengambilan keputusan manajemen c. Untuk mendukung kegiatan operasi perusahaan

2. Masukan

Masukan (input) sistem adalah segala sesuatu yang masuk kedalam sistem dan selanjutnya menjadi bahan untuk diproses. Masukan dapat berupa hal-hal berwujud (tampak secara fisik) maupun yang tidak tampak. Contoh masukan yang berwujud adalah bahan mentah, sedangkan contoh yang tidak berwujud adalah informasi (misalnya permintaan jasa dari pelanggan). Pada sistem

(27)

informasi, masukan dapat berupa data transaksi, dan data non-transaksi (misalnya, surat pemberitahuan), serta intruksi (Kadir, 2014:63).

3. Proses

Proses merupakan bagian yang melakukan perubahan atau transformasi dari masukan menjadi keluaran yang berguna, misalnya berupa informasi dan produk, tetapi juga bisa berupa hal-hal yang tidak berguna, misalnya saja sisa pembuangan atau limbah. Pada pabrik kimia, proses dapat berupa pemanasan bahan mentah. Pada rumah sakit, proses dapat berupa aktivitas pembedahan pasien. Pada sistem informasi, proses dapat berupa suatu tindakan yang bermacam-macam. Meringkas data, melakukan perhitungan, dan mengurutkan data merupakan beberapa contoh proses (Kadir, 2014:63).

4. Keluaran

Keluaran (output) merupakan hasil dari pemrosesan. Pada sistem informasi, keluaran bisa berupa suatu informasi, saran, cetakan laporan, dan sebagainya (Kadir, 2014:63).

2.2. Konsep Keputusan 2.2.1. Keputusan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, keputusan adalah perihal yg berkaitan dengan segala putusan yang telah ditetapkan (sesudah dipertimbangkan, dipikirkan, dsb.). Keputusan yang baik adalah keputusan yang dibuat melalui proses perhitungan akurat dan melibatkan berbagai macam kriteria keputusan tersebut, sehingga keputusan tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara saintis, logis, dan objektif (Utama, 2017).

2.2.2. Pengambilan Keputusan.

Pengambilan keputusan merupakan hal yang pokok bagi pemegang jabatan manager karena keputusan merupakan rangkaian tindakan yang perlu diikuti dalam memecahkan masalah untuk menghindari atau mengurangi dampak

(28)

negatif atau untuk memanfaatkan kesempatan didalam perusahan. Model sistem yang dipergunakan untuk mengambil mengambil keputusan dapat bersifat tertutup dan terbuka. Sistem pengambilan keputusan tertutup mengangap bahwa keputusan dipisahkan dari masukan-masukan yang tidak diketahui dari lingkungannya. Dalam sistem ini pengambilan keputusan dianggap:

a. Mengetahui semua alternatif dan akibat atau hasil dari masing-masing alternatif.

b. Mempunyai suatu metode (aturan, hubungan, dan sebagainya) yang memungkinkan ia membuat urutan alternatif yang lebih disukainya; c. Memilih alternatif yang memaksimalkan sesuatu seperti keuntungan,

volume penjualan atau kegunaan.

Faham pengambilan keputusan yang tertutup jelas mengangap bahwa orang yang rasional secara logis menguji semua alternatif, membuat urutan berdasarkan hasil yang lebih disukai, dan memelih alternatif yang mendatangkan hasil terbaik.

Sistem pengambilan keputusan terbuka adalah keputusan yang di pengaruhi oleh lingkungan dan proses pengambilan keputusan selanjutnya juga mempengaruhi lingkungan tersebut. Pengambilan diangap tidak harus logis dan sepenuhnya rasional, tetapi lebih banyak menunjukkan rasional hanya dalam batas-batas yang ditentukan oleh latar belakang, penglihatan alternatif-alternatif, kemampuan untuk menangani model keputusan dan sebagainnya (Victor dan Aini, 2013).

2.3. Sistem Pendukung Keputusan 2.3.1. Definisi Sistem Pendukung Keputusan

Sistem pendukung keputusan atau Decision Support Systems (DSS) adalah sistem informasi interaktif yang menyediakan informasi, pemodelan, dan pemanipulasian data yang digunakan untuk membantu pengambilan keputusan pada situasi yang semi terstruktur dan situasi yang tidak terstruktur di mana tak seorang pun tahu secara pasti bagaimana keputusan seharusnya dibuat (Kadir, 2014).

(29)

Menurut (Viktor dan Aini , 2013 : 382) Beberapa sistem pendukung keputusan (Decision Support System) yang dikutip menurut para ahli adalah sebagai berikut:

1. Menurut Mann dan watson, Sistem penunjang keputusan atau DSS adalah sistem yang interaktif, membantu pengambilan keputusan melalui penggunaan data dan model-model keputusan untuk memecahkan masalah-masalah yang sifatnya semi struktur dan tidak struktur.

2. Menurut maryam alavi dan H. Albert Napier, Sistem penunjang keputusan atau DSS adalah suatu kumpulan prosedur pemrosesan data dan informasi yang berorentasi pada pengunaan model untuk menghasilkan berbagai jawaban yang dapat membantu manajemen dalam pengambilan keputusan. 3. Menurut Litle, Sistem penunjang keputusan atau DSS adalah suatu sistem

informasi berbasis komputer yang menghasilkan berbagai alternatif keputusan untuk membantu manajemen dalam menangi berbagai permasalah yang terstruktur ataupun tidak struktur dengan menggunakan data dan model. 4. Menurut Raymond Mc Leod, Sistem Penunjang Keputusan atau DSS adalah sistem penghasil informasi spesifik yang ditunjukan untuk memecahakan suatu masalah tertentu harus dipecahakan oleh manager pada berbagai tingkatan.

2.3.2. Tujuan Sistem Pengambilan Keputusan

Menurut Holsapple dan Winston, 1996 tujuan dari Sistem Pendukung Keputusan DSS adalah sebagai berikut.(Viktor dan Aini, 2013)

1. DSS membantu pengambil keputusan dalam mengenali masalah dan kemudian memformulasikan data pendukung untuk keperluan analisis dan pengambilan tindakan.

2. DSS memfasilitasi salah satu atau semua fase pengambilan keputusan agar prosesnya berjalan secara lancar dan cepat (efektif dan efisien). Fase pengambilan keputusan itu sendiri menurut Herbert A. Simon yang ditulis oleh Mc Leod (2001) adalah:

(30)

Intellegence Activity yaitu poses pencarian informasi dan data dari lingkungan yang berguna bagi pemecahan masalah,

Design Activity yaitu menemukan, mengembangkan dan menganalisa kemungkinan dari tindakan yang akan dijadikan solusi

Choice Activity yaitu memilih salah satu tindakan yang telah dianalisis pada fase sebelumnya yang kemudian di jadikan sebagai alternatif solusi.

Review Activity yaitu mengimplemntasikan solusi.

3. DSS menjadi bantuan untuk memecahkan masalah yang semi terstruktur atau yang tidak terstruktur.

4. DSS membantu dalam menajemen informasi atau pengetahuan. Hal ini dimungkinkan karena DSS dapat memiliki kemampuan untuk menerima, menyimpan, menggunakan, menurunkan dan mempresentasikan informasi/pengetahuan yang sesuai dengan keputusan yang akan diambil. 5. DSS mendukung penilaian manager tanpa bermaksud menggantikannya.

2.3.3. Karakteristik Sistem Pendukung Keputusan

Menurut (Viktor dan Aini, 2013) Sistem Pendukung Keputusan mempunyai Karakteristik tersendiri, antara lain:

1. DSS dirancang untuk membantu pengambil keputusan dalam memecahkan masalah bersifat semi tertstruktur ataupun tidak terstruktur.

2. Dalam proses pengelolahan, DSS mengkombinasikan penggunaan model-model/teknik-teknik analisis dalam teknik pemasukan data konvensional serta fungsi-fungsi pencarian/introgasi informasi.

3. DSS dirancang sedemikian rupa, sehingga dapat digunakan dengan mudah oleh orang yang tidak memiliki dasar kemampuan pengoperasian komputer yang tinggi.

4. DSS dirancang dengan menekankan pada aspek fleksibelitas serta kemampuan adaptasi yang tinggi, sehingga mudah disesuaikan dengan kebutuhan pemakai.

(31)

2.3.4. Komponen Sistem Pendukung Keputusan

Komponen Yang terdapat dalam DSS adalah (Viktor dan Aini, 2013: 397):

Gambar 2. 1 Komponen DSS Sumber: (Viktor dan Aini, 2013) 1. Data Management

Termasuk database, yang mengandung data yang relevan untuk berbagai situasi dan diatur oleh sofware yang disebut Database Management system (DBMS).

2. Model Managemen

Melibatkan model finansial, statistik, management sciencer atau berbagai model kualitatif lainnya, sehingga dapat memberikan kesistem suatu kemampuan analitis, dan manajemen sofware yang dibutuhkan.

3. Communication

User dapat berkomunikasi dan memberikan perintah pada DSS melalui subsistem ini. Ini berarti menyediakan antarmuka.

4. Knowledge management

Subsistem option ini dapat mengandung subsistem lan atau bertindak sebagai komponen yang berdiri sendiri

(32)

2.4. Analyitical Hierarchy Prosces (AHP)

2.4.1. Pengertian Analytical Hierarchy Prosces (AHP)

Analytical Hierarcy Process (AHP) adalah suatu metode analisis dan sintesis yang dapat membantu proses Pengambilan Keputusan. AHP merupakan alat pengambil keputusan yang powerfull dan fleksibel, yang dapat membantu dalam menetapkan prioritas-prioritas dan membuat keputusan di mana aspek-aspek kualitatif dan kuantitatif terlibat dan keduanya harus dipertimbangkan. Dengan mereduksi faktor-faktor yang kompleks menjadi rangkaian “one on one comparisons” dan kemudian mensintesa hasil-hasilnya, maka AHP tidak hanya membantu orang dalam memilih keputusan yang tepat, tetapi juga dapat memberikan pemikiran/alasan yang jelas dan tepat. (Tuban, 2011).

2.4.2. Konsep Dasar Analytical Hierarchy Process (AHP)

Dalam menyelesaikan masalah dengan AHP ada beberapa prinsip yang harus dipahami, diantaranya adalah (Kusrini, 2007)

1. Membuat hierarki

Sistem yang kompleks dapat dipahami dengan memecahnya menjadi elemen- elemen pendukung, menyusun elemen secara hierarki, dan menggabungkannnya atau mensintesisnya

2. Penilaian Kriteria dan alternatif

Kriteria dan alternatif dilakukan dengan perbandingan berpasangan. Menurut Saaty (1998) dalam bukunya, untuk berbagi persoalan, skala 1 sampai 9 adalah skala terbaik untuk mengekspresikan pendapat, Nilai dan definisi pendapat kualitatif dari skala perbandingan Saaty dapat diukur menggunakan tabel analisis sebagi berikut.

Tabel 2. 1 Skala Penilaian Perbandingan Berpasangan (Saaty, 2004)

Tingkat Kepentingan Definisi

1 Kedua elemen sangat penting

3 Elemen yang satu sedikit lebih penting dibanding elemen yang lain

5 Elemen yang satu esensial atau sangat penting dibanding elemen yang lainnya

(33)

7 Elemen yang satu benar-benar lebih penting dari yang lain

9 Elemen yang satu mutlak lebih penting dibanding elemen yang lain

2, 4, 6, 8 Nilai tengah diantara dua penilaian berurutan Kebalikan Jika aktivitas I mendapat satu angka

dibandingkan dengan aktivitas j, maka j memiliki nilai kebalikannya dibandingkan dengan i

3. Menentukan prioritas (Synthesis of priority)

Untuk setiap kriteria dan alternatif perlu dilakukan perbandingan berpasangan (pairwise comparisons). Nilai-nilai perbandingan relatif dari seluruh alternatif kriteria bisa disesuiakan dengan judgement yang telah ditentukan untuk menghasilkan bobot dan prioritas. Bobot dan prioritas dihitung dengan memanipulasi matriks atau melalui penyelesaian persamaan matematika.

4. Konsistensi logis (Logical Consistency) Arti konsistensi yaitu:

a. Objek-objek yang serupa bisa dikelompokkan sesuai dengan keseragaman dan relevansi.

b. Menyangkut tingkat hubungan antar objek yang didasarkan pada kriteria tertentu.

2.4.3. Perhitungan Analytic Hierarchy Process (AHP)

Pada dasarnya prosedur atau langkah-langkah dalam melaksanakan perhitungan model AHP meliputi (Kusrini, 2007):

1. Mendefinisikan Masalah

Mendefinisikan masalah yang ada, kemudian menentukan solusi yang diinginkan, lalu menyusun hierarki dari permaslahan yang dihadapi. Penyusunan hierarki adalah dengan menetapkan tujuan yang menjadi sasaran sistem secara keseluruhan pada level teratas.

2. Menentukan Kriteria

Untuk mendukung sasaran sistem, maka decision maker perlu menentukan kriteria apa saja yang akan dijadikan acuan dalam penelitian. Kriteria ini

(34)

harus mengacu pada tingkat kebutuhan dan kepuasan konsumen. Banyak yang dapat dijadikan landasan untuk menentukan kriteria yang akan digunakan sebagai parameter, contohnya seperti berbagai macam ISO dan proses-proses tertentu yang mempengaruhi kepuasan konsumen

3. Menentukan prioritas elemen

• Membuat perbandingan berpasangan, yaitu membandingkan elemen secara berpasangan sesuai kriteria yang diberikan.

• Matrik perbandingan berpasangan diisi menggunakan bilangan untuk mempresentasikan kepentingan relatif dari suatu elemen terhadap elemen yang lainnya.

4. Sintesis

Pertimbangan-pertimbangan terhadap perbandingan berpasangan disintesis untuk memperoleh keseluruhan prioritas. Hal-hal yang dilakukan dalam langkah ini adalah:

• Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap kolom matrik

• Membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan untuk memperoleh normalisasi matrik.

• Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap baris dan memb ginya dengan jumlah elemen untuk mendapat nilai ratarata.

5. Mengukur Konsistensi

Dalam pembuatan keputusan, perlu diketahui seberapa baik konsistensi yang akan ada, karena tidak diinginkan keputusan berdasarkan kepentingan dengan konsistensi yang rendah. Beberapa hal yang harus dilakukan dalam langkah ini yaitu:

• Kalikan nilai pada kolom pertama dengan prioritas relatif elemen pertama, nilai pada kolom keduadengan prioritas relatif elemen kedua, dan seterusnya.

• Jumlahkan setiap baris

• Hasil dari penjumlahan baris dibagi dengan elemen prioritas relatif yang bersangkutan

(35)

• Menjumlahkan hasil bagi tersebut dengan banyaknya elemen yang ada, hasilnya disebut dengan λ maks.

6. Hitung Consistency Index (CI) dengan rumus:

Pengukuran ini dimaksudkan untuk mengetahui konsistensi jawaban yang berpengaruh kepada kesahihan hasil. Rumusnya sebagai berikut:

1 max − − = n n CI  Keterangan: CI = Indeks konsistensi λ = Nlai eigen n= banyaknya elemen

7. Menghitung Rasio Konsistensi / Consistency Ratio (CR) dengan rumus sebagai berikut:

Untuk mengetahui aapakah CI dengan besaran tertentu cukup baik atau tidak, perlu diketahui rasio yang dianggap baik, yaitu apabila CR < 0.1.

RI CI CR =

Keterangan :

CR: Konsistensi Rasio (Consistency Ratio) CI : Indeks Konsistensi (Consistensi Indeks) RI : Indeks Random

Nilai RI merupakan nilai random indeks yang yang berupa tabel berikut ini random indeks yang dikeluarkan oleh oarkridge laboratory yang berupa tabel berikut ini :

Tabel 2. 2 Skala Penilaian Random Indeks (Saaty, 2004) Ukuran Matriks (n) Indeks Konsistensi Acak (RI)

1 0 2 0 3 0,52 4 0,89 5 1,12 6 1,24 7 1,32

(36)

8 1,41

9 1,45

10 1,49

8. Memeriksa Konsistensi Hierarki. Jika nilainya lebih dari Consistency Ratio (CR) ≤ 0.1 (10%). maka penilaian data judgement tersebut harus diulang. Jika nilainya berkisar antara 0-0.1 maka penilaian data judgement tersebut konsisten.

2.4.4. Kelebihan Analytic Hierarchy Process (AHP)

Layaknya sebuah metode analisis, AHP memiliki kelebihan dan kelemahan dalam sistem analisisnya, Berikut beberapa keuntungan penerapan AHP antara lain (Saaty, 2008):

1. Sifatnya yang fleksibel, menyebabkan penambahan dan pengurangan kriteria pada suatu hierarki dapat dilakukan dengan mudah dan tidak mengacaukan atau merusak hierarki.

2. Dapat memasukkan preferensi pribadi sekaligus mengakomodasi berbagai kepentingan pihak lain sehingga diperoleh penilaian yang objektif dan tidak sektoral.

3. Proses perhitungannya relative mudah karena hanya membutuhkan operasi dan logika sederhana.

4. Dengan cepat dapat menunjukkan prioritas, dominasi, tingkat kepentingan, ataupun pengaruh dari setiap elemen terhadap elemen lainnya.

2.4.5. Kelemahan Analytic Hierarchy Process (AHP)

Berikut juga beberapa kelemahan yang dimiliki AHP antara lain (Saaty, 2008):

1. Partisipan yang dipilih harus memiliki kompetensi pengetahuan dan pengalaman mendalam terhadap segenap aspek permasalahan serta mengenai metode AHP itu sendiri.

2. Bila ada partisipan yang kuat maka akan mempengaruhi partisipan yang lainnya.

(37)

3. Penilaian cenderung subjektif karena sangat dipengaruhi oleh situasi serta preferensi. Persepsi, konsep dasar dan sudut pandang partisipan.

4. Jawaban atau penilaian responden yang konisten tidak selalu logis dalam arti sesuai permasalahan yang ada

2.5. Rapid Application Development (RAD)

Rapid Aplication Development (RAD) adalah sebuah proses perkembangan perangkat lunak sekuensial linier yang menekankan siklus perkembangan dalam waktu yang singkat. RAD menggunakan metode iteratif (berulang) dalam mengembangkan sistem dimana working model (model bekerja) sistem dikonstruksikan di awal tahap pengembangan dengan tujuan menetapkan kebutuhan (requirement) pengguna dan selanjutnya disingkirkan. (Aswati, 2016) 2.5.1. Tahap-Tahap Pengembangan RAD

Menurut Kenneth E. Kendall dan Julie E (2011), terdapat 3 tahap dalam RAD yang melibatkan pengguna dan sistem analis dalam mengkaji,mendesain dan implementasi sistem.

1. Requirements Planning (Perencanaan Syarat-Syarat)

Pada tahap perencanaan syarat-syarat dilakukan mengeditifikasi masalah, mengidentifikasi kebutuhan yang dibutuhkan dalam merencang sistem, dan mengindenfikasi tujuan sistem atau apalikasi yang di rancang.

2. Tahap Workshop Desain (Design Workshop)

Pada tahap ini dilakukan proses desain sistem dan perbaikan apabila terdapat ketidaksesuaian desain antara pengguna dan perancang sistem. Pada tahap ini pula keaktifan pengguna yang terlibat sangat menentukan hasil akhir dari sistem. Ada dua tahap dari tahap ini, yakni:

a. Tahap desain sistem dan perancangan sistem

Pada tahap desain sistem ini dilakukan perancangan pemodelan sistem, desain database dan desain antarmuka pengguna.

(38)

Pada tahap perancangan sistem dilakukan perancangan sistem dengan melakukan pengkodean sesuai dengan perancangan desain sistem yang telah dibuat

3. Tahap Implementasi (Implementation Phase)

Pada tahap ini adalah implementasi sistem, sistem akan diuji kelayakan dan keberhasilan, apakah sesuai dengan kebutuhan pengguna atau masih terdapat fungsional yang tidak memenuhi. Kemudian sistem tersebut akan diperkenalkan secara umum ke pengguna.

Gambar 2. 2 Tahap RAD

(Sumber : System Analysis and Design, Kendall:2011)

2.6. Konsep Dasar UML (Unified Modelling Language) 2.6.1. Pengertian UML

Unified Modelling Language (UML) adalah suatu alat untuk memvisualisasikan dan mendokumentasikan hasil analisa dan desain yang berisi sintak dalam memodelkan sistem secara visual. Juga merupakan satu kumpulan konvensi pemodelan yang digunakan untuk menentukan atau menggambarkan sebuah sistem software yang terkait dengan objek. (Haviluddin, 2011)

2.6.2. Tujuan UML

Menurut Sugrue J dalam Haviluddin (2011) tujuan utama dalam desain UML adalah :

(39)

1. Menyediakan bagi pengguna (analisis dan desain sistem) suatu bahasa pemodelan visual yang ekspresif sehingga mereka dapat mengembangkan dan melakukan pertukaran model data yang bermakna.

2. Menyediakan mekanisme yang Karena merupakan bahasa pemodelan visual dalam proses pembangunannya maka UML bersifat independen terhadap bahasa pemrograman tertentu.

3. Memberikan dasar formal untuk pemahaman bahasa pemodelan spesialisasi untuk memperluas konsep inti.

4. Mendorong pertumbuhan pasar terhadap penggunaan alat desain sistem yang berorientasi objek (OO).

5. Mendukung konsep pembangunan tingkat yang lebih tinggi seperti kolaborasi, kerangka, pola dan komponen terhadap suatu sistem.

6. Memiliki integrasi praktik terbaik.

2.6.3. Tahap Pembuatan UML

Menurut Kendall (2011), Dalam membuat UML untuk pembangunan dan pengembangan sistem diperlukan suatu tahapan. Ada enam tahapan dalam membuat UML:

1. Mendefinisikan model Use case. Pada tahap ini, sistem analis mendefinisikan aktor dan case yang bisa dilakukan aktor. Biasanya sistem analis memulai membuat model Use case ini dengan menggambar diagram yang di dalamnya terdapat gambar aktor yang mewakili pelaku (user) sistem dan panah yang menunjukkan hubungan aktor. Diagram ini disebut Use case diagram dan diagram ini mewakili standar alur penggunaan sistem.

2. Selama fase analisis sistem, mulai dengan menggambar diagram UML pada tahap kedua ini termasuk ke dalam fase analisis sistem, sistem analis menggambar Activity Diagram yang mengilustrasikan semua aktifitas pada Use case. Sistem analis akan membuat satu atau lebih Sequence Diagram, yang mengilustrasikan urutan aktifitas dan waktunya. Tahap ini merupakan kesempatan untuk bisa meninjau kembali Use case dan mengubahnya apabila diperlukan.

(40)

3. Membuat class diagram. Kata dalam Use case adalah objek yang berpotensi dikelompokan ke dalam class. Sebagai contoh, setiap mobil adalah sebuah objek yang berbagi karakteristik dengan mobil lain. Mereka bersama-sama membuat sebuah kelas (class).

4. Menggambar diagram status. Menggambar diagram status ini merupakan fase kedua dari analisis sistem. Diagram kelas (class diagram) digunakan untuk mengambar diagram status (statechart diagram), yang bisa membantu memahami proses yang kompleks yang tidak bisa sepenuhnya digambarkan dalam sequence diagram.

5. Memulai mendesain sistem dengan memodifikasi diagram UML. Melengkapi spesifikasi sistem. Desain sistem berarti memodifikasi sistem yang ada dan menyiratkan diagram yang telah dimodifikasi pada tahap sebelumnya. Diagram ini dapat digunakan untuk memperoleh kelas, atribut, dan metode. Sistem analis membutukan spesifikasi kelas termasuk atribut, metode, dan deskripsinya pada setiap kelas.

6. Membangun dan mendokumentasikan sistem. UML adalah pemodelan bahasa. Seorang analis dapat membuat model yang bagus, tapi jika sistem tidak dikembangkan tidak ada banyak titik dalam membangun model. Dokumentasi kritis. Lebih lengkap informasi yang Anda berikan tim pengembangan melalui dokumentasi dan diagram UML, semakin cepat pengembangan lebih solid sistem produksi final.

2.6.4. Diagram-diagram UML

Menurut Rosa dan (2015), UML terdiri dari 13 macam diagram yang dikelompokkan ke dalam tiga kategori. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar berikut:

(41)

Gambar 2. 3 Diagram UML Sumber: Rosa dan Shalahuddin (2015)

Berikut penjelasan singkat dari pembagian kategori pada diagram di atas: 1. Structure diagram

Kumpulan diagram yang digunakan untuk menggambarkan suatu struktur statis dari sistem yang dimodelkan

2. Behavior diagrams

Kumpulan diagram yang digunakan untuk menggambarkan kelakuan sistem atau rangkaian perubahan yang terjadipada sebuah sistem

3. Interaction diagram

Yaitu kumpulan diagram yang digunakan untuk menggambarkan interaksi sistem dengan sistem lain maupun interaksi antar subsistem pada suatu sistem

(42)

2.6.5. Use Case Diagram

Use case atau diagram use case merupakan pemodelan untuk kelakuan (behavior) sistem informasi yang akan dibuat. (Rosa 2015:155) use case digunakan untuk mengetahui fungsi apa saja yang ada di dalam sebuah sistem informasi dan siapa saja yang berhak menggunakan fungsi-fungsi tersebut. Berikut simbol– simbol pada Use case diagram:

Tabel 2. 3 Daftar Simbol Use Case Diagram Sumber: Rosa A.S dan M. Shalahudin (2015:156)

NAMA SIMBOL DESKRIPSI

Use Case

Fungsionalitas yang disediakan sistem sebagai unit-unit yang saling bertukar pesan antar unit atau aktor, biasanya dinyatakan dengan menggunakan kata kerja diawal frase nama use case.

Aktor

Orang, proses, atau sistem lain yang berinteraksi dengan sistem informasi yang akan dibuat di luar sistem informasi yang akan dibuat itu sendiri, jadi walaupun simbol dari aktor adalah gambar orang, tapi aktor belum tentu merupakan orang, biasanya dinyatakan menggunakan kata benda di awal frase nama aktor.

Assosiasi/association

Komunikasi antara aktor dan usecase yang berpartisilpasi pada usecase atau usecase memiliki interaksi dengan aktor.

(43)

Exstensi/extend

Relasi use case tambahan ke sebuah use case dimana use case yang ditambahkan dapat berdiri sendiri walau tanpa use case tambahan itu; mirip dengan prinsip inheritance pada pemrograman berorientasi objek; biasanya use case tambahan memiliki nama depan yang sama dengan

use case yang

ditambahkan.

Generalisas/ Generalization

Hubungan generalisasi dan spesialisasi (umum khusus) antara dua buah use case dimana fungsi yang satu adalah fungsi yang lebih umum dari

lainnya.

Menggunakan / include / uses

Relasi use case tambahan ke sebuah use case dimana use case yang ditambahkan memerlukan use case ini untuk menjalankan fungsinya atau sebagai syarat dijalankan use case ini. Include berarti use case yang ditambahkan akan selalu dipanggil saat use case tambahan dijalankan. 2.6.6. Class Diagram

Menurut Rosa (2015:141), Diagram kelas atau class diagram menggambarkan struktur sistem dari segi pendefinisian kelas-kelas yang akan dibuat untuk membangun sistem. Kelas memiliki apa yang disebut atribut dan method atau operasi. Berikut penjelasan atribut dan method:

1. Atribut merupakan variable-variabel yang dimiliki oleh suatu kelas. 2. Operasi atau metode adalah fungsi-fungsi yang dimiliki oleh suatu kelas.

(44)

Tabel 2. 4 Class Diagram

NAMA SIMBOL DESKRIPSI

Kelas Kelas pada struktur sistem

Antarmuka / interface

Sama dengan konsep interface dalam pemrograman berorientasi objek

Asosiasi / association

Relasi antar kelas dengan makna umum, asosiasi biasanya juga disertai dengan multiplicity

Asosiasi berarah / directed Association

Relasi antar kelas dengan makna kelas yang satu digunakan oleh kelas yang lain, asosiasi biasanya juga disertai dengan multiplicity Generalisasi

Relasi antar kelas dengan makna generalisasi-spesialisasi (umum khusus) Kebergantungan /

Dependency

Relasi antarkelas dengan makna kebergantungan antarkelas.

Agregasi / aggregation

Relasi antar kelas dengan makna semua-bagian (whole-part)

2.6.7. Activity Diagram

Diagram aktivitas atau activity diagram menggambarkan workflow (aliran kerja) atau aktivitas dari sebuah sebuah sistem atau proses bisnis atau menu yang ada pada perangkat lunak. Yang perlu diperhatikan disini adalah bahwa diagram aktivitas menggambarkan aktivitas sistem bukan apa yang dilakukan aktor, jadi aktivitas yang dapat dilakukan oleh sistem. (Rosa, 2015:161)

(45)

Tabel 2. 5 Daftar Simbol Activity Diagram Sumber: Rosa A.S dan M. Shalahudin (2015:162)

NAMA SIMBOL DESKRIPSI

Status awal

Status awal aktivitas sistem, sebuah diagram aktivitas memiliki sebuah status awal. Aktivitas Aktivitas yang dilakukan sistem, aktivitas biasanya diawali dengan kata kerja.

Percabangan / decision

Asosiasi

percabangan dimana jika ada ada pilihan aktivitas lebih dari satu.

Penggabungan / join

Asosiasi penggabungan dimana lebih dari satu aktivitas digabungkan

menjadi satu.

Status akhir

Status akhir yang dilakukan oleh sistem, sebuah diagram aktivitas memiliki sebuah status akhir. Swimlane Memisahkan organisasi bisnis yang bertanggung jawab terhadap aktivitas yang terjadi.

(46)

2.6.8. Sequence Diagram

Sequnce Diagram menggambarkan kelakuan objek pada use case dengan mendeskripsikan waktu hidup objek dan message yang dikirmkan dan diterima antar objek. Beberapa simbol – simbol yang terdapat pada Sequence Diagram diantaranya (Rosa 2015:165)

Tabel 2. 6 Daftar Simbol Sequence Diagram Sumber: Rosa A.S dan M. Shalahudin (2015:165)

NAMA SIMBOL DESKRIPSI

Aktor

Orang, proses, atau sistem lain yang berinteraksi dengan sistem informasi yang akan dibuat diluar sistem informasi yang akan dibuat itu sendiri, jadi walaupun simbol dari aktor adalah gambar orang, tapi aktor belum tentu merupakan orang, biasanya

dinyatakan dalam

menggunakan kata benda diawal frase nama aktor.

Garis hidup/lifeline Menyatakan kehidupan

suatu objek.

Objek Menyatakan objek yang

berinteraksi Pesan.

Waktu aktif

Menyatakan objek dalam keadaan aktif dan berinteraksi, semua yang terhubung dengan waktu aktif ini adalah sebuah tahapan yang dilakukan di dalamnya.

Pesan tipe create

Menyatakan suatu objek membuat objek lain, arah panah mengarah pada objek yang dibuat.

Pesan tipe call Menyatakan suatu objek

(47)

metode yang ada pada objek lain atau dirinya sendiri.

Pesan tipe send

Menyatakan bahwa suatu objek mengirimkan data/masukkan/informasi ke objek lainnya, arah panah mengarah pada objek yang dikirim

Pesan tipe return

Menyatakan bahwa suatu objek yang telah menjalankan suatu operasi atau metode menghasilkan suatu kembalian ke objek tertentu, arah panah mengarah pada objek yang menerima kembalian.

Pesan tipe destroy

Menyatakan suatu objek mengakhiri hidup objek yang lain, arah panah mengarah pada objek yang diakhiri, sebaliknya jika ada create maka ada destroy

2.7. CSS (Cascading Style Sheet)

CSS atau Cascading Style Sheet adalah sekumpulan kode pemeograman web yang berfungsi untuk mengendalikan beberapa komponen didalam web sehinga menjadi tampak seragam, berstruktur dan teratur. CSS juga dapat diartikan sebagai kumpulan kode yang digunakan untuk mendefinisikan desain dari bahasa markup, salah satu bahasa markup adalah HTML. (Wahana Komputer, 2015)

2.8. HTML (Hypertext Markup Language)

Menurut (Hidayatullah, 2014), Hypertext Markup Language (HTML) adalah bahasa standard yang digunakan untuk menampilkan halaman web. Yang bisa dilakukan dengan HTML, yaitu:

• Mengatur tampilan dari halaman dan isinya. • Mengubah tebal dan halaman web.

(48)

• Membuat from yang bisa digunakan untuk menangani registrasi dan transaksi via web

• Menambahkan objek-objek seperti citra, audio, vidio, animasi, java applet dan halaman web.

• Menampilkan area gambar (canvas) di browser.

2.9. Database Management System (DBMS)

Menurut Hidayatullah (2014) Database Management System (DBMS) adalah aplikasi yang dipakai untuk mengelola basis data. DBMS biasanya menawarkan beberapa kemampuan yang terintegritas seperti:

• Membuat, menghapus, menambah, dan memodifikasi basis data. • Pada beberapa DBMS pengelolahannya berbasis windows ( berbentuk

jendela-jendela) sehinga lebih mudah digunakan.

• Tidak semua orang bisa mengakses basis data yang ada sehinga memberikan keamanan bagi data.

• Kemampuan berkomunikasi dengan program aplikasi yang lain, misalnya dimungknkan untuk mengakses basis data MySQL menggunakan aplikasi yang dibuat menggunakan PHP.

Kemampuan Pengaksesan mealalu komunikasi antara komputer (Client Server)

2.10. XAMPP

XAMPP merupakan sebuah aplikasi web server. Web server sendiri adalah sebuah aplikasi tempat anda menyimpan file-file maupun data-data untuk membuat website. Juga sering diartikann sebagai layanan data pada web browser. Fungi dari web server sebagai penerima permintaan berupa halaman client dan mengirimkan kembali hasi yang diminta dalam bentuk halam web (Wahana Komputer, 2012:5).

2.11. Hypertext Preprocessor (PHP)

PHP adalah salah satu bahasa pemrograman skrip yang direncanakan untuk membangun aplikasi web. Ketika dipanggil dari web browser, program yang

(49)

ditulis dengan PHP akan diparsing di dalam web server oleh interpreter PHP dan diterjemahkan kedalam dokumen HTML yang selanjutnya akan ditampilkan kembali ke web browser. Karena pemrosesan program PHP dilakukan di lingkungan web server, PHP dikatakan sebagai bahasa sisi server (server-side). Maka PHP tidak akan terlihat pada saat user memilh peritah “View Source” pada web browser yang di gunakan. (Raharjo, 2014:47)

2.12. JavaScript

JavaScript adalah bahasa script berdasarkan pada objek yang memperbolehkan pemakai untuk mengendalikan banyak aspek interkasi pemakai pada satu dokumen HTML. Objek tersebut dapat berupa suatu windows, frame, URL, dokumen, form, button, atau item yang lain. Terdapat dua piranti yang diperlukan dalam JavaSricpt yaitu browser dan texteditor. Text editor adalah sebuah pengolah kata (word processor) yang menghasilkan file dalam format ASCII murni.(Suryana, 2014)

2.13. Testing (Pengujian) Sistem

2.13.1. Pengertian Testing (Pengujian)

Testing atau pengujian merupakan sebuah metode untuk melakukan verifikasi dalam rangka mencari kesalahan sebuah aplikasi (Rizky, 2011)

2.13.2. Pengertian White Box Testing (Pengujian Kotak Putih)

White-box testing merupakan jenis testing yang lebih berkonsentrasi terhadap “isi” dari perangkat lunak itu sendiri. Jenis ini lebih banyak berkonsentrasi kepada source code dari perangkat lunak yang dibuat sehingga membutuhkan proses testing yag jauh lebih lama dan lebih mahal dikarenakan membutuhkan ketelitian dari para tester serta kemampuan teknis pemrograman bagi para testernya(Rizky, 2011).

Akibatnya, jenis testing tersebut hanya dapat dilakukan jika perangkat lunak telah dinyatakan selesai dan telah melewati tahapan analisa awal. Jenis testing ini juga membutuhkan inputan data yang dianggap cukup memenuhi syarat agar

Gambar

Diagram ini dapat digunakan untuk memperoleh kelas, atribut, dan metode.
Tabel 2. 3 Daftar Simbol Use Case Diagram  Sumber: Rosa A.S dan M. Shalahudin (2015:156)
Gambar 4. 2 Use Case Diagram user
Gambar 4. 11 Activity Diagram Analisa Kriteria
+7

Referensi

Dokumen terkait

4 Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam yaitu wawancara yang digunakan berupa pertanyaan mengenai kurikulum, perencanaan

Islamic banking tidak hanya menjadikan tingkat suku bunga sebagai rujukan dalam penentuan harga jual (pokok+margin) produk murabahah. Cara penetapan margin yang

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan

Disinilah letak masalah suatu perusahaan dimana ingin menyeimbangkan antara tingkat biaya modal yang besar oleh karena perusahaan yang semakin bertumbuh, bagaimana suatu

(1) Untuk mengetahui rencana tata bangunan dan lingkungan Kawasan Jalan Negara IV Angakat Candung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17, selain masyarakat mengetahui

Bagi calon mahasiswa yang lulus tahun 2015 dan kurang mampu, setelah dinyatakan lulus seleksi Jalur Undangan diberikan kesempatan untuk diseleksi memperoleh

Di Jurusan biologi FMIPA UNY, sudah banyak dilakukan penelitian pembuatan kompos dari berbagai bahan baku seperti kompos dari berbagai macam kotoran hewan

Faktor utama yang menyebabkan migrasi sirkuler penduduk pedesaan adalah faktor ekonomi antara lain: rendahnya upah yang mengarah ke rendahnya pendapatan rumahtangga sektor