• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (STRATA 1) Disusun oleh : YANA MULYANTI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (STRATA 1) Disusun oleh : YANA MULYANTI"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh

Gelar Sarjana Pendidikan (STRATA 1)

Disusun oleh :

YANA MULYANTI

12090271

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDDIKAN

(STKIP PGRI) SUMATERA BARAT

PADANG

2017

(2)
(3)

Pengaruh Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Profesional Guru, Disiplin

Belajar, Dukungan Orang Tua Terhadap Motivasi Belajar

Ekonomi Siswa Kelas XI IPS di SMA Negeri 2

Lintau Buo Kabupaten Tanah Datar

Oleh

1

Yana Mulyanti, 2 Sri Wahyuni, M.Pd, 3 Lovelly Dwinda Dahen, ME 1

Mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi STKIP PGRI Sumatera Barat

2

Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat

ABSTRACT

This research aims to analyze; 1) Effect of pedagogic competence toward learning motivation. 2) Effect of professional competence toward learning motivation. 3) Effect of student’s dicipline toward learning motivation. 4) Effect of parent’s support toward learning motivation. 5) Effect of pedagogic competence, professional competence, parent’s support, and student’s dicipline toward learning motivation simultaneous. Based on result of analyze data got 1) Had positive and significan effect between pedagogic competence toward learning motivation, caused tcalculated (3,800) > ttabel (1,662); 2) Had positive and significan effect between professional

competence toward learning motivation, caused tcalculated (3,049) > ttabel (1,662); 3) Had positive

and significan effect between student’s dicipline toward learning motivation, caused tcalculated

(4,438) > ttabel (1,662); (4) Had positive and significan effect between parent’s support toward

learning motivation, caused tcalculated (3,612) > ttabel (1,662); 5) Had significan effect between

pedagogic competence, professional competence, parent’s support, and student’s dicipline toward learning motivation simultaneous, with Fcalculated (82,665) > Ftabel (2,70)

Keywords : pedagogic competence, professional competence, parent’s support, and student’s dicipline and learning motivation

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: 1) pengaruh kompetensi pedagogik terhadap motivasi belajar. 2) kompetensi profesional guru terhadap motivasi belajar. 3) pengaruh disiplin siswa terhadap motivasi belajar. 4) pengaruh dukungan oranag tua terhadap motivasi belajar. 5) pengaruh kompetensi pedagogik guru, kompetensi profesional, disiplin siswa dan dukungan orang tua secara bersama-sama terhadap motivasi belajar. Hasil analisa data menunjukkan bahwa (1) Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara kompetensi pedagogik terhdap motivasi belajar, karena thitung (3,800) > ttabel (1,662); (2) Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara kompetensi profesional terhadap motivasi belajar, karena thitung (3,049) > ttabel (1,662); (3) Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara disiplin siswa terhadap motivasi belajar, karena nilai thitung (4,438) > ttabel (1,662); (4) Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara dukungan orang tua terhadap motivasi belajar, karena nilai thitung (3,612) > ttabel (1,662); (5) kompetensi pedagogik guru, kompetensi proesional, disiplin siswa, dan dukungan orang tua secara bersam-sama berpengaruh signifikan terhadap motivasi belajar, karena nilai Fhitung (82,665) > dari Ftabel (2,709).

Kata kunci : motivasi belajar, kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, disiplin belajar, dan dukungan orang tua

(4)

PENDAHULUAN

Guru memiliki peranan penting dalam dunia pendidikan, karena guru memegang kunci dalam pendidikan dan pengajaran disekolah. Guru adalah pihak yang paling dekat berhubungan dengan siswa dalam pelaksanaan pendidikan sehari-hari, dan guru merupakan pihak yang paling besar peranannya dalam menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pendidikan. Oleh karena itu, pembinaan dan pengembangan terhadap guru merupakan hal mendasar dalam proses pendidikan. Upaya perbaikan apapun yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak akan memberikan sumbangan yang signifikan tanpa didukung oleh guru yang profesional dan berkualitas. Dengan kata lain perbaikan kualitas pendidikan harus berpangkal dari guru dan berujung pada guru pula.

Dunia pendidikan merupakan wadah melahirkan manusia – manusia handal dan potensial, siap menghadapi tantangan dan siap mencari solusi dari permasalahan yang ada pada saat sekarang, hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang terdapat pada undang – undang No 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 1 tentang pendidikan nasional yaitu :

Pendidikan adalah usaha secara sadar dan terencana untuk mengujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peseta didik secara aktif mengembangkan potensinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan , pengendalian diri, kebiasaan, kecerdasan, keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Pendidikan memegang peran penting dalam pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia, salah satu usaha untuk membentuk sumber daya manusia yang berkualitas dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas pendidikan tersebut. Pendidikan pada dasarnya adalah upaya mengembangkan kemampuan atau potensi atau individu sehingga bisa hidup optimal, baik pribadi maupun sebagai masyarakat, serta memiliki nilai - nilai moral, sosial sebagai pedoman hidupnya.

Sardiman (2011:75) mengemukakan dalam kegiatan belajar “motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang

menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang menberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai”.

Salah satu wujud dari siswa yang memiliki motivasi dalam belajar adalah hasil belajar yang diperoleh. Berikut disajikan data tentang nilai UN SMA yang berada dikecamatan Lintau Buo.

Tabel 1. Data UN SMA diKecamatan Lintau Buo Pada Tahun 2014-2015

Sumber :www.Referensi.Datakemdikbud.go.id

Tabel 1 menunjukkan bahwa masih banyak siswa SMA Negeri di Kecamatan Lintau Buo pada tahun 2014 dan 2015 yang mendapatkan nilai hasil ujian nasional (UN) dibawah rata-rata standar kelulusan UN yakni sebesar 46. SMA N 1 memiliki persentase siswa yang lebih besar memperoleh nilai UN tertinggi dibandingan siswa di SMA N 2. Hal yang sama juga terjadi pada UN tahu 2015. Dapat disimpulkan bahwa siswa SMA N 1 memiliki nilai rata-rata UN yang lebih baik dari pada siswa SMA N 2.

Permasalahan rendahnya nilai UN di SMA N 2 Lintau Buo salah satunya diduga karena masih rendahnya motivasi belajar siswa. Berdasarkan observasi yang dilakukan ketika Program Pengalaman Lapangan pada saat mengajar Ekonomi, terlihat bahwa siswa kurang bergairah dalam belajar dan siswa masih kurang aktif. Hal ini ditunjukkan tidak adanya inisiatif siswa bertanya kepada guru saat proses pembelajaran di kelas. Ketika guru sedang menyajikan materi sebagian murid juga terlihat cepat bosan dengan pelajaran

(5)

yang disajikan. Dimana terlihat siswa lebih yang sering bermain atau bercerita dengan temannya. Kurangnya perhatian siswa terhadap materi pelajaran yang disampaikan oleh guru, juga dapat terlihat dari adanya siswa yang keluar masuknya ketika guru menerangkan pelajaran.

Observasi awal yang dilakukan di SMA Negeri 2 Lintau Buo terlihat saat guru memberikan tugas atau latihan kepada siswa, masih ada beberapa siswa kurang semangat untuk mengerjakan tugas secara mandiri. Kecenderungan siswa lebih senang mencontek tugas temannya. Hal tersebut dapat dipertegas dengan data berikut.

Tabel 2. Data Siswa Kelas XI IPS SMA N 2 Lintau Buo dalam Mengerjakan Tugas

Semester Ganjil Tahun Pembelajaran 2015/2016

Sumber : Guru Mata Pelajaran Ekonomi SMAN 2 Lintau Buo Tahun 2016

Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat dari seluruh siswa kelas XI IPS di SMAN 2 Lintau Buo tahun pembelajaran 2015/2016 rata-rata terdapat 30% siswa yang jarang membuat tugas. Pada setiap kelas selalu ditemukan siswa yang pemalas atau jarang dalam membuat tugas yang diberikan guru. Bahkan kelas XI IPS 3 menjadi kelas dengan persentase siswa yang jarang membuat tugas terbanyak dari pada kelas lainnya, yakni dengan persentase sebesar 37%. Hal ini menunjukkan bahwa siswa kelas XI IPS masih kurang termotivasi dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

Menurut Uno (2014:10) faktor yang mempengaruhi motivasi blajar dapat digolongkan menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Dimyati dan Mudjiono

(2013:97) menyatakan faktor internal yang mempengaruhi motivasi belajar yaitu kondisi siswa, yang terdiri dari fisiologis. Dan psikologis. Faktor psikologis terdiri dari; minat, kecerdasan, bakat, disiplin, kebiasaan, dan lain-lain. Sedangkan, faktor eksternal adalah dorongan yang timbul dari luar diri seseorang untuk mengadakan perubahan tingkah laku. Faktor eksternal yang mempengaruhi motivasi belajar adalah kondisi lingkungan terbagi atas tiga, yaitu: lingkungan keluarga, yang terdiri dari;sosial ekonomi keluarga, pendidikan orang tua, dukungan orang tua, dan suasana hubungan antara angota keluarga, lingkungan sekolah, yang terdiri dari; sarana dan prasarana , kompetensi guru, kurikulum dan metode mengajar guru, serta lingkungan masyaraka.

Penulis menduga rendahnya motivasi belajar kelas XI IPS SMAN 2 Lintau Buo disebabkan kurangnya kompetensi pedagogik yang di miliki oleh guru, kompetensi pedagogikmenyangkut kemampuan seorang guru dalam memahami karakteristik atau kemampuan yang dimiliki oleh murid melalui berbagai cara. Kompetensi pedagogik adalah pemahaman guru terhadap anak didik, perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, evalusi hasil belajar, dan penegmbangan anak didik untuk mengaktualisasikan sebagai potensi yang dimilkinya (Wibowo 2012:110).

Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di SMAN 2 Lintau Buo diketahui kecenderungan guru yang mengajar masih menggunakan media satu arah seperti papan tulis. Sedangkan penggunaan media interatktif seperti menggunakan komputer, infokus, dan media lainnya masih terlihat minim. Kurangnya penggunaan media pembelajaran yang interaktif bisa membuat siswa cepat merasa bosan dalam mengikuti proses pembelajaran.

Hal ini penulis lihat dari fenomena yang ada dilapangan tentang kompetensi pedagogik guru saat peoses belajar mengajar, salah satunya dapat dilihat dari guru yang menggunakan perangkat pembelajaran oleh guru SMA Negeri 2 Lintau Buo untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada tabel dibawah ini:

(6)

Tabel 3. Data Guru yang Membuat RPP Sebelum Mengajar di Kelas Semester Genap Tahun Ajaran 2015/2016 SMAN 2

Lintau Buo No Keterangan Frekuensi (Orang) Persentase (%) 1 Guru yang membuat RPP sebelum mengajar 55 91,67 2 Guru yang tidak membuat RPP sebelum menngajar 5 8,33 Jumlah 60

Sumber Data : Tata Usaha SMAN 2 Lintau Buo pada tahun 2016

Tabel 3 menunjukkan belum semua guru di SMAN 2 Lintau Buo yang membuat RPP sebelum mengajar. 5 dari 60 orang guru masih belum membuat RPP sebelum mengajar. Tidak adanya RPP dalam menjalankan proses pembelajaran akan menyulitkan bagi guru dalam mengajar. Dalam menjalankan proses pembelajarn guru yang tidak memiliki RPP, terlihat menerapkan strategi pembelajaran yang tidak cocok dengan karakteristik siswa dan materi yang diajarkan. Kondisi ini membuat proses pembelajaran menjadi pasif. Selain itu, proses pembelajaran kadang berjalan tidak kondusif, sehingga tidak tercapinya tujuan pembelajarn yang seharusnya.

Membahas tentang kompetensi guru tidak lepas dari motivasi belajar siswa hal ini dikarenakan kompetensi guru bisa sangat mempengaruhi motivasi belajar siswa. Pentinya peranan guru dalam proses pembelajaran mengharuskan guru mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan dalam untuk mengelola proses pembelajaran. Kompetensi profesional guru sebagai kompetensi yang lebih menjurus kepada penguasan keilmuan guru juga dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa.Wibowo (2012:118) menyatakan bahwa “kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam, serta metode dan teknik mengajar sesuai yang dipahami oleh murid, mudah

ditangkap, tidak menimbulkan kesulitan dan keraguan”.

Berdasarkan observasi yang dilakukan diperoleh gambaran bahwa masih ada guru diSMA Negeri 2 Lintau Buo yang pemahamannya kurang terhadap materi pembelajaran. Kecenderungan guru mengajar masih menjelaskan materi pelajaran yang hanya ada di buku teks pelajaran. Penjabaran sebagai guru dalam mengajar terlihat belum disertai dengan pemberian contoh-contoh yang menyangkut tentang materi pelajaran pada kehidupan sehari-hari.

Pengaiktan materi pelajarn satu dengan yang lain juga jarang dilakukan oleh kebanyakan guru. Kecenderungan guru hanya memfokuskan siswa menguasai materi pelajaran yang diajarnya, tanpa mengarahkan ke siswa tentang keterkaitan materi satu dengan materi lain atau yang berbeda mata pelajaran.

Kurangnya penguasaan kompetensi professional guru di SMA N 2 Lintau Buo dikarenakan masih kurangnya pembaharuan penguasaan subtansi keilmuan yang terkait mata pelajaran dan struktur serta metode keilmua. Hal ini dapat dilihat dari data sertifikasi guru, seperti pada tabel berikut.

Tabel 4. Data Sertifikaasi Guru SMA Negeri 2 Lintau Buo Tahun 2016

No Status Guru Frekuensi (Orang) Persentase (%) 1 Setifikasi 35 58,33 2 Belum Sertifikasi 25 41,67 Jumlah guru 60 100

Sumber Data : Tata Usaha SMAN 2 Lintau Buo

Tabel 4 memperlihatkan bahwa jumlah guru yang belum sertifikasi di SMAN 2 Lintau Buo sebesar 41,67%. Artinya, hampir sebagian guru di SMA N 2 Lintau Buo belum sertifikasi. Masih besarnya jumlah guru yang belum di sertifikasi mengindikasikan bahwa hanya sebagian guru di SMA N 2 Lintau Buo yang telah menerima pembaharuan pengetahuan keilmuan dan struktur serta metode keilmuan. Namun, walapun persentase guru yang telah disertifikasi sudah lebih dari guru yang belum disertifikasi, kemampuan guru yang sertifikasi dalam menerapkan ilmu pengetahuan ynag baru masih minim. Bahkan, kecenderungan guru

(7)

f % f % f % f % f % 1 XI IPS 1 25 20 10 2 30 6 15 3 10 2 65 13 2 XI IPS 2 23 20 14 3 27 5.87 18 3.91 12 2.61 71 15.43 3 XI IPS 3 24 20 13 2.7 20 4.17 20 4.17 14 2.92 67 13.96 4 XI IPS 4 23 20 11 2.4 26 5.65 19 4.13 13 2.83 69 15 5 XI IPS 5 25 20 18 3.6 20 4 14 2.8 11 2.2 63 12.6 2.8 5.14 3.6 2.51 14 Rata-Rata

No Kelas Total Siswa Jumlah Pertemuan

Ketidak Hadiran

S/I T A C Total

yang telah disertifikasi ketika mengajar masih sama dengan guru yang belum disertifikasi.

Uji kompetensi guru merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan untuk mengukur kualitas kompetensi yang dimiliki guru. Hasil uji komptensi guru biasanya menjadi rujukan untuk memberikan pelatihan lanjutan atau ulangan untuk peningkatan komptensi bagi guru. Berdasarkan data yang diperoleh diketahui hasil uji kompetensi guru di SMA N 2 Lintau Buo seperti berikut ini.

Tabel 5. Hasil Uji Kompetensi Guru di SMA N 2 Lintau Buo

No Jumlah Guru (Orang) Kategori Hasil UKG Jumlah Guru (Orang) Persentase (%) 1 60 Grade 8 – 10 37 61,66 2 Grade 4 -7 23 38,33 3 Grade – 3 0 0 Total 60 100

Sumber: Tata Usaha SMA N 2 Lintau Buo Tahun 2016

Tabel diatas menunjukkan bahwa terdapat sebesar 62,75% guru SMA N 2 Lintau Buo yang memperoleh nilai UKG dengan grade nilai antara 8 – 10. Nilai antara grade 8 – 10 dinyatakan sudah lulus uji kompetensi. Sedangkan, bagi 37,25% guru memperoleh nilai grade antara 4 – 7. Nilai grade 4-7 dinyatakan guru yang bersangkutan perlu diberi pembinaan kompetensi professional dan pedagogik. Hasil tersebut menunjukkan bahwa asebagai guru yang mengajar di SMA N 2 Lintau buo masih memiliki kompetensi professional dan pedagogik yang kurang, sehingga memperlukan pembinaan

Rendahnya motivasi siswa juga bisa dipengaruhi oleh disiplin belajar siswa. Menurut Soedijarto (2000:164) Disiplin pada hakikatnya adalah kemampuan untuk mengendalikan diri dalam bentuk tindak melakukan sesuatu tindakan yang tidak sesuai dan bertentangan dengan sesuatu yang telah ditetapkan dan melakukan sesuatu yang mendukung dan melindungi sesuatu yang telah ditetapkan.Jika siswa tidak disiplin dalam belajar, maka kemungkinan siswa tersebut tidak akan termotivasi untuk mengikuti pelajaran disekolah. Siswa yang tidak mengikuti proses pembelajaran di kelas akan menyebabkan siswa akan cenderung

untuk melakukan pelanggaran aturan disekolah.

Berdasarkan obsevasi awal yang dilakukan terlihat bahwa kedisiplinan siswa terhadap peraturan sekolah masih kurang masih kurang. Dari segi kelengkapan atribut sekolah, kelihatan masih ada siswa yang baju sekolahnya tidak memiliki atribut sekolah yang lengkap. Ketidakdisiplinan yang paling sering terjadi adalah disiplin waktu. Hal ini terlihat dari pegamatan selama PPLK, bahwa tiap hari selalu ada siswa siswa yang baru datang ke sekolah setelah jam pelajaran dimulai. Lebih jelas data disiplin kehadiran siswa kelas XIIPS SMA N 2 Lintau Buo dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 6. Rekapitulasi Kehadiran Siswa Kelas XI IPS SMA N 2 Lintau Buo pada

Mata Pelajaran Ekonomi Genap Tahun Ajaran 2015/2016

Sumber : Guru Mata Pelajaran Ekonomi Pada Tahun Ajaran 2015/2016

Berdasarkan rekapitulasi absen seluruh siswa kelas XI IPSSMA N 2 Lintau Buodi atas, kelihatan kalau ketidak hadiran siswa dalam proses pembelajaran disebakan oleh tiga hal yaitu; sakit (S) /izin (I), alfa (A),cabut (C) atau terlambat (T). Berdasarkan kriteria ketidakhadiran di pada semestergenap tahun pembelajaran 2015/2016 diketahui sebesar 2,75% jumlah rata-rata ketidak hadiran siswa pada saat pelajaran Ekonomi karena sakit, 3,6% ketidak hadiran siswa dikarenakan alpha, dan 2,51% ketidakhadiran siswa dikarenakan cabut. Dapat disimpulkan bahwa ketidak hariran siswa XI IPSSMA N 2Lintau Buo pada semester genap tahun pembelajaran 2015/2016 saat mata pelajaran Ekonomi lebih dominan tanpa keteranagan atau alpha. Selain itu, frekuensi keterlambatan siswa juga cukup besar. Dimana 5,14% siswa pernah terlambat masuk kelas saat mengikuti pelajaran Ekonomi.

(8)

Berdasarkan wawancara dengan guru mata pelajaran diketahui disiplin siswa dalam belajar terlihat masih kurang. Menurut guru mata pelajaran siswa juga kurang disiplin dalam menyelesaikan tugas yang diberikan, karena masih terdapat beberapa siswa yang mengumpulkan tugas tidak tepat waktu, tidak menyelesaikan tugas sampai tuntas, atau membuat tugas asal jadi.

Berdasarkan observasi, juga terlihat ketika proses pembelajaran berlangsung masih terdapat siswa yang keluar masuk kelas, bahkan ada siswa yang keluar kelas tanpa izin terlebih dahulu kepada guru yang mengajar. Tingkah laku sebagain siswa ketika proses dikatakan juga belum sepenuhnya disiplin karena masih terdapat siswa yang membuat keributan atau mengajak mengobrol temanya yang sedang belajar.

Dukungan orang tua juga dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa. Permasalahan pada segi ini timbul daricara orang tua memperhatikan anaknya. Orang tua merupakan harus bisa memerankan contoh atau model yang baik untuk anaknya, sebagai pembimbing dan memberi arahan pada anaknya, keluarga memberikan tim kerja sama antar anggota keluarga dalam menyelesaikan tugas-tugas atau memenuhi kebutuhan keluarga, serta orang tua berperan sebagai guru bagi anak-anaknya (Yusuf, 2009:43). Hasbullah (2001:39) menyatakan orang tua adalah orang yang pertama dan utama yang bertangguang jawab kelangsungan hidup dan pendidikan anaknya. Dukungan orang tua adalah bantuan yang diberikan orang tua sebagai orang yang bertangung jawab terhadap pendidikan dan kelangsungan anaknya.

Berdasarkan observasi awal di SMA Negeri 2 Lintau Buo, Dukungan orang tua terlihat dari dukunagan moral yang berupa perhatian, dimana terlihat perhatian orang tua saat pengambilan rapor siswa, ini dibuktikan saat pengambilan rapor masih banyak orang tua yang tidak hadir dan banyak yang mengawakilkan kepada saudaranya, bahkan tidak menjemput rapor anaknya sama sekali.

Berikut disajikan data fenomena dari hasil observasi tentang dukungan orang tua siswa kelas XI IPS di SMA N 2 Lintau Buo dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 7. Jumlah Orang Tua yang Menjemput Rapor Siswa Kelas XIIPS

SMA N 2Lintau Buo

Sumber : Guru Bimbingan dan Konsling SMAN 2 Lintau Buo Tahun 2016

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa tidak semua orang tua yang hadir dalam pengambilan rapor siswa kelas XI IPS. Dimana secara keseluruhan kelas, terdapat 36,79% siswa yang orang tuanya tidak datang mengambil rapor anaknya. Bahkan terdapat dua kelas yang orang tuanya hampir sebagian tidak datang, yaitu orang tua siswa kelas XI IPS 3 dan XI IPS 4. Satu-satunya kelas yang persentase orang tuanya hadir sampai sebesar 72% hanya orang tua dari kelas XI IPS 1. Hal ini memperlihatkan bahwa sebagian orang tua siswa kelas XI IPS di SMA N 2 Lintau Buo masih kurang dalam memberikan dukungan dalam bentuk pengakuan terhadap anak.

Dalam proses pembelajaran, sebaiknya guru harus meningkatkan kompetensinya dalam mengajar, meningkatkan kedisiplinan siswa dalam belajar dan dukungan orang tua siswa sehingga akan menyebabkan motivasi belajar siswa juga meningkat. Berdasarkan fenomena diatas maka peneliti tertarik untukmelakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Profesional Guru, Disiplin Belajar Siswa, Dukungan Orang Tua Orang Tua terhadap Motivasi Belajar Ekonomi Siswa Kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Lintau Buo”.

METODOLOGI PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan asosiatif. Menurut Iskandar (2009:61) penelitian deskriptif adalah

(9)

penelitian untuk memberi uraian mengenai fenomena atau gejala sosial yang diteliti dengan mendeskripsikan tentang nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih berdasarkan indikator-indikator dari variabel yang diteliti tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan antara veriabel yang diteliti sedangkan penelitian asosiatif menurut Arikunto (2002:239) adalah penelitian yang menguji ada tidaknya hubungan atau pengaruh antara suatu variabel dengan variabel lain.

Penelitian dilaksanakan di SMANegeri 2 Lintau Buo, yang beralamat di Jalan Raya Sitangkai – Balai Tangah Km 2, Kecamatan Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2016. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPS SMAN 2 Lintau Buo yang berjumlah sebanyak 120 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah cluster random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 92 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup. Kuesioner terdiri dari sejumlah pertanyaan tertutup yang menggunakan skala likert dengan 5 alternatif jawaban Item peryataan disusun berdasarkan kisi-kisi dari variabel kompetensi pedagogik, kompetensi profesional guru, disiplin belajar siswa, dukungan orang tua orang tua, dan motivasi belajar.

Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis induktif. Analisis deskriptif bertujuan untuk melihat kecendrungan penyebaran pada masing-masing indikator dan untuk melihat secara umum penyebaran pada setiap variabel dalam bentuk penyajian data kedalam tabel distribusi frekuensi. Tujuan umum dari analisis induktif adalah untuk mengetahui signifikansi pengaruh kompetensi pedagogik, kompetensi profesional guru, disiplin belajar siswa, dukungan orang tua orang tuaterhadap motivasi belajar.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil analisis deskriptif, diperoleh keterangan tingkat capaian responden terhadap kuesioner penelitian untuk masing-masing variabel.

1. Hasil Analisa Deskriptif

Rata-rata skor jawaban responden untuk variabel motivasibelajar adalah 3,97

dengan tingkat capaian responden sebesar 79,46% dan termasuk kategori cukup baik. Hal ini dapat dimaknai bahwa siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Lintau Buosudah menunjukkan motivasi yang cukup baik dalam mengikuti proses pembelajaran pada mata pelajaran Ekonomi.

Rata-rata skor jawaban responden untuk variabel kompetensi pedagogik guru adalah 3,99 dengan tingkat capaian responden sebesar 79,80% dan termasuk kategori baik. Hal ini dapat dimaknai bahwa guru di SMA Negeri 2 Lintau Buosudahmemiliki kompetensi pedagogik yang cukup baik sebagai seorang guru.

Rata-rata skor jawaban responden untuk variabel kompetensi profesional guru adalah 4,02 dengan tingkat capaian responden sebesar 80,36% dan termasuk kategoribaik. Hal ini dapat dimaknai bahwa guru di SMA Negeri 2 Lintau Buosudahmemiliki kompetensi profesional yang baik sebagai seorang guru.

Rata-rata skorjawaban respondenuntuk variabel disiplin belajar adalah 3,91 dengan tingkat capaian responden sebesar 78,16% dantermasuk kategoricukup baik. Dapat dikatakan bahwa siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Lintau Buosudah menunjukkan disiplin belajar yang cukup baik dalam mengikuti kegiatan proses pembelajaran.

Rata-rata skorjawaban respondenuntuk variabel dukungan orang tua adalah 3,95 dengan tingkat capaian responden sebesar 79,09% dantermasuk kategori cukup baik. Dapat dikatakan bahwa siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Lintau Buodidukung orang tuanya dengan cukup baik agar bisa berhasil dalam proses pembelajarannya.

2. Hasil Analisa Induktif

Setelah dilakukan analisa deskriptif kemudian dilakukan analisa induktif, untuk mengetahui signifikansi pengaruh kompetensi pedagogik, kompetensi profesional guru, disiplin belajar siswa, dukungan orang tua orang tuaterhadap motivasi belajar, baik secara parsial atau simultan. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji t. Sebelum dilakukan uji hipotesis terlebih dahulu dilakukan aumsi klasik. Setelah semua persyaratan analisis terpenuhi, maka dilanjutkan dengan uji hipotesisi.

Berdasarkan hasil analisi uji hipotesis dieroleh hasil sebagai berikut;

(10)

1) Untuk variabel kompetensi pedagogik diperoleh nilai koefisiennya sebesar 0.325 dengan nilai thitung sebesar 3.800 > ttabel sebesar 1.662 dengan nilai signifikan 0,000 < 0,05, berarti Ha diterima dan H0 ditolak dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara kompetensi pedagogik guru terhadap motivasi belajar ekonomi siswa kelas XI IPS di SMAN 2 Lintau Buo. Berarti hal ini menunjukkan semakin tinggi kompetensi pedagogik guru maka semakin tinggi pula motivasi belajar. Begitu sebaliknya semakin rendah kompetensi pedagogik guru maka semakin rendah.

2) Untuk variabel kompetensi professional diperoleh nilai koeisiennya sebesar 0,652 dan nilai thitung sebesar 3.049 > ttabelsebesar 1.662 dengan nilai signifikan 0,003 < 0,05, berarti Ha diterima dan H0 ditolak dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara kompetensi profesional terhadap motivasi belajarekonomi siswa kelas XI IPS di SMAN 2 Lintau Buo.Berarti hal ini menunjukkan semakin tinggi kompetensi profesional maka semakin tinggi pulamotivasi belajar. Begitu sebaliknya semakin rendah kompetensi professional maka semakin rendah pula motivasi belajar.

3) Untuk variabel disiplin belajar diperoleh nilai koeisien 0,267 dan nilai thitung sebesar 4.438 > ttabel sebesar 1.662 dengan nilai signifikan 0,000 < 0,05, berarti Ha diterima dan H0 ditolak dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh positif antara disiplin belajar terhadap motivasi belajar ekonomi siswa kelas XI IPS di SMAN 2 Lintau Buo. Berarti hal ini menunjukkan semakin tinngi disiplin belajar maka semakin tinggimotivasi belajar. Begitu sebaliknya semakin rendah disiplin belajar maka semakin rendah pula motivasi belajar.

4) Untuk variabel dukungan orang tua diperoleh nilai koeisiennya sebesar 0,418 dan nilai thitung sebesar 3.612 > ttabel sebesar 1.662 dengan nilai signifikan 0,001 < 0,05, berarti Ha diterima dan H0 ditolak dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara dukungan orang tua terhadap motivasi belajar ekonomi siswa kelas XI

IPS di SMAN 2 Lintau Buo. Berarti hal ini menunjukkan semakin tinggi dukungan orang tua maka semakin tinggi pulamotivasi belajar. Begitu sebaliknya semakin rendah dukungan orang tua maka semakin rendah pula motivasi belajar. 5) kompetensi pedagogik,kompetensi

profesional, disiplin belajar, dan dukungan orang tuaberpengaruh secara simultan terhadap motivasi belajar ekonomi siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Lintau Buo. Hal ini dikarenakan Fhitung (82,665) > dari Ftabel (2,70) artinya hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif diterima. 79,2%motivasi belajar ekonomi siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Lintau Buodipengaruhi variabel kompetensi pedagogik,kompetensi profesional, disiplin belajar, dan dukungan orang tuasedangkan sisanya 20,8% dijelas oleh sebab-sebab lain yang ada di luar penelitian.

Analisis Regresi Berganda

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa model persamaan linear berganda dalam penelitian ini adalah:

y = 2,750 + 0,325X1 + 0,652X2 + 0,267X3+ 0,418X4 + e

Dari model persamaan regresi linear berganda di atas dapatdiketahui bahwa: 1) Nilai konstanta sebesar 2,750 berarti

tanpa adanya pengaruh dari variabel bebas maka nilai variabel terikat nilainya hanya sebesar 2,750. Hal ini berarti bahwa apabila variabel bebas (Kompetensi pedagogik, kompetensi profesional guru, disiplin belajar, dan dukunagan orang tua) nilainya konstan maka nilai variabel motivasi belajar ekonomi siswa kelas XI IPS di SMAN 2 Lintau Buo sebesar 2,750 satuan. 2) Koefisien regresi variabel kompetensi

pedagogik guru(X1) sebesar 0,325 yang bertanda positif. Hal ini berarti adanya No Model Unstandardize d Coefficients t Sig. B Std. Erro r 1 (Constant) 2.750 4.43 1 .621 .536 2 Kompetensi Pedagogik .325 .086 3.800 .000 3 Kompetensi Profesional .652 .214 3.049 .003 4 Disiplin Belajar .267 .060 4.438 .000 5 Dukungan Orang Tua .418 .116 3.612 .001

(11)

pengaruh positif variabel kompetensi pedagogik guru, apabila nilai variabel kompetensi pedagogik meningkat sebesar satu satuan maka akan meningkatkan motivasi belajar ekonomi siswa kelas XI IPS di SMAN 2 Lintau Buo sebesar 0,325 dalam setiap satuannya. Dengan asumsi variabel lain tidak mengalami perubahan atau konstan.

3) Koefisien regresi variabel kompetensi profesional guru (X2) sebesar 0,652 yang bertanda positif. Hal ini berarti adanya pengaruh positif variabel profesional guru, apabila nilai variabel profesional guru meningkat sebesar satu satuan maka akan meningkatkan motivasi belajar ekonomi siswa kelas XI IPS di SMAN 2 Lintau Buo sebesar 0,652 dalam setiap satuannya. Dengan asumsi variabel lain tidak mengalami perubahan atau konstan.

4) Koefisien regresi variabel disiplin belajar (X3) sebesar 0,267 yang bertanda positif. Hal ini berarti adanya pengaruh positif variabel disiplin belajar, apabila nilai variabel disiplin belajar meningkat sebesar satu satuan maka akan meningkatkan motivasi belajar ekonomi siswa kelas XI IPS di SMAN 2 Lintau Buo sebesar 0,267 dalam setiap satuannya. Dengan asumsi variabel lain tidak mengalami perubahan atau konstan.

5) Koefisien regresi variabeldukungan orang tua (X4) sebesar 0,418yang bertanda positif. Hal ini berarti adanya pengaruh positif variabel dukungan orang tua, apabila nilai variabeldukungan orang tua meningkat sebesar satu satuan maka akan meningkatkan motivasi belajar ekonomi siswa kelas XI IPS di SMAN 2 Lintau Buo sebesar 0,418dalam setiap satuannya. Dengan asumsi variabel lain tidak mengalami perubahan atau konstan

.

PENUTUP

Berdasarkan hasil analisis data yang telah dibahas maka dapat diambil kesimpulan bahwa

1. Kompetensi pedagogik berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi

belajar ekonomi siswa kelas XI IPS di SMAN 2 Lintau Buo.

2. Kompetensi professional guru berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi belajar ekonomi siswa kelas XI IPS di SMAN 2 Lintau Buo. 3. Disiplin belajar berpengaruh positif dan

signifikan terhadap motivasi belajar ekonomi siswa kelas XI IPS di SMAN 2 Lintau Buo.

4. Dukungan orang tua berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi belajar ekonomi siswa kelas XI IPS di SMAN 2 Lintau Buo.

5. Kompetensi pedagogik, kompetensi profesional guru, disiplin belajar, dan dukungan orang tua berpengaruh secara simultan terhadap motivasi belajar ekonomi siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Lintau Buo.

Berkenaan dengan temuan penelitian, maka penulis mengemukakan beberapa saran yaitu:

1. Pada variabel motivasi belajar TCR terendah terdapat pada indikator senang memecahkan soal-soal. di saran pada guru untuk mendorong motivasi belajar siswa dengan cara memberikan siswa tugas-tugas yang lebih menantang agar siswa bisa lebih senang dalam mencari dan memecahkan masalah soal-soal pembelajaran ekonomi, sehingga bisa lebih menguasai materi pembelajaran yang diberikan. Selai nitu, guru juga diharapkan mendorong siswa untuk berusaha tepat waktu untuk hadir dalam proses pembelajaran. Selain itu, pada variabel disiplin belajar yang terendah pada indicator ini adalah tidak suka berbohong, selama proses pembelajaran siswa diharapkan menunjukkan tingkahlaku menyenangkan, mencakup tidak mencontek, tidak membuat keributan, dan tidak mengganggu orang lain yang sedang belajar.

2. Pada variabel kompetensi pedagogik dan kompetensi professional TCR terendah

terdapat pada indicator

mengaktualisasikan berbagai potensinya dan Mendorong guru untuk menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi, agar penyampain materi pembelajaran bisa lebih kondusif diharapkan guru-guru mata pelajaran ekonomi untuk meningkatkan dan

(12)

mengembangkan rangcanagan pembelajaran.

3.

Pada variabel dukungan orang tua TCR terendah terdapat pada indicator mentoring. Di sarankan bagi orang tua untuk bisa memberikan modeling yang lebih baik pada siswa, melakukan mentoring yang lebih baik bagi anaknya, dan mengajarkan perilaku-perilaku yang penting bagianaknya agar berhasil serta berprestasi dalam belajar.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Pendekatan Suatu Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.

Dimyati Dan Mudjiono. (2013). Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta: Rhineka Cipta. Hasbullah. (2001). Dasar-Dasar Ilmu

Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Iskandar. (2009). Psikologi Pendidikan. Ciputat: Gaung Persada Press.

Sadirman, A.M. (2011). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Granfindo Persada.

Soedijarto. (2000). Pendidikan Nasional Sebagai Wahana Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan Membangun Peradaban Negara Dan Bangsa. Jakarta: Cinapas.

Uno, Hamzah B. (2014). Teori Motivasi Dan Pengukurannya Analisis Dibidang Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Akasara. Yusuf, Syamsu. (2009). Psikologi

Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Wibowo, Agus. (2012). Menjadi Guru

Berkarakter. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Gambar

Tabel 1. Data UN SMA diKecamatan  Lintau Buo Pada Tahun 2014-2015
Tabel 2. Data Siswa Kelas XI IPS SMA N 2  Lintau Buo dalam Mengerjakan Tugas
Tabel 3. Data  Guru yang Membuat RPP  Sebelum Mengajar di Kelas Semester  Genap Tahun Ajaran 2015/2016 SMAN 2
Tabel 5. Hasil Uji Kompetensi Guru di  SMA N 2 Lintau Buo
+2

Referensi

Dokumen terkait

Pendekatan yang digunakan dalam proses perencanaan dan perancangan Pusat Kebudayaan Yogyakarta di Kawasan Wisata Malioboro, Yogyakarta adalah pendekatan Arsitektur

Pada dasarnya peran strategi, model, media dan teknologi pembelajaran di sekolah dasar dalam pembelajaran khususnya di Sekolah Dasar sangatlah berperan penting, kerena

Hasil analisis data dalam penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa antara kelas yang memanfaatkan video pembelajaran dengan kelas

e. Apabila Nilai Prestasi Kerja PNS berada pada range ≤ 50 maka Nilai Kinerja PNS adalah.. Nilai Kinerja PNS periode Juli s.d. Desember) dihitung berdasarkan ketentuan Peraturan

1) Kelayakan Teknik (Technical Feasibility) menunjukkan apakah sistem yang diusulkan dapat dikembangkan dan diterapkan dengan menggunakan teknologi yang ada atau dibutuhkan

Penyelamatan kedit bermasalah merupakan cara damai yang dapat dilakukan terhadap debitur yang beritikad baik untuk menyelesaikan kreditnya dan cara yang ditempuh dalam

Menurut Sugiri (1998) manajemen laba atau earning management dapat dibagi menjadi dua definisi yaitu (1) definisi sempit, earning management erat kaitannya dengan pemilihan

Tentunya setiap individu memiliki jenis handphone yang berbeda-beda, namun hal ini tidak menjadi batasan dalam proses penelitian karena terbukti pada pengambilan