RENCANA TINDAK ANTI KORUPSI (RTAK)
LAPORAN PEMANTAUAN TAHAP I
Oleh:
THIRD PARTY MONITORING (TPM)
Paket
: 03, Manggopoh – Padang Sawah
DAFTAR ISI
BAGIAN Halaman
I LATAR BELAKANG 1
II TUJUAN DAN SASARAN 2
III PELAKSANAAN PEMANTAUAN LAPANGAN 4
IV HASIL OBSERVASI DAN PEMANTAUAN 5
1. Ruang Lingkup Pemantauan 5
2. Pemantauan Aspek Lingkungan dan Sosial 5
3. Pemantauan Aspek Teknis 9
4. Pemantauan Aspek Manajemen 13
V PENUTUP 19
LAMPIRAN
1 Surat Keputusan Pembentukan TPM dari Ketua PMU
I. PENDAHULUAN
Pemerintah Indonesia dengan Bank Dunia telah menandatangani Naskah Perjanjian Pinjaman (Loan Agreement) untuk Western Indonesia National Roads Improvement Project (WINRIP) IBRD Loan No. 8043-ID senilai USD 250 juta pada tanggal 14 Desember 2011. Porsi Loan IBRD dan Government of Indonesia (GOI) adalah 70 : 30 sehingga total nilai proyek adalah USD 350 juta. Pinjaman tersebut digunakan untuk mendukung penguatan pembangunan berkelanjutan Sistem Jaringan Jalan Nasional Koridor Strategis di Pantai Barat Pulau Sumatera, yaitu penanganan peningkatan kapasitas konstruksi pada 21 paket Jalan dan Jembatan.
Sesuai dengan Schedule 2 Section IC Naskah Perjanjian Pinjaman atau Loan Agreementtersebut di atas, dan Bab 11Project Management Manual (PMM) WINRIP, Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia menyepakati pelaksanaan Anti-Corruption Action Plan (ACAP) atau Rencana Tindak Anti Korupsi (RTAK) dalam pelaksanaan proyek.
Ruang Lingkup pelaksanaan Anti-Corruption Action Plan (ACAP) atau Rencana Tindak Anti Korupsi (RTAK) meliputi komponen-komponen berikut:
1. Pelibatan Wakil Pengamat dari Masyarakat (WPM)/Community Representative Observers (CROs) dalam mengamati Proses pengadaan(Procurement).
2. Pelibatan Pemantau Pihak Ketiga /Third Party Monitoring(TPM) pada pemantauan pelaksanaan tahap konstruksi.
3. Penyebarluasan informasi kepada public/Public Disclosure
4. Penanganan Pengaduan dari Masyarakat dan Pengelolaannya/Complaint Handling System(CHS).
II. TUJUAN DAN SASARAN
Dalam rangka program pengembanga kapasitas prasarana jalan khususnya memperlancar arus transportasi di Koridor Pantai Barat Sumatera oleh Pemerintah Republik Indonesia (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) termasuk di dalamnya Wilayah Provinsi Sumatera Barat, Sumatera Utara, Bengkulu dan Lampung maka kegiatan pembangunan dan pengembangan jalan perlu dilakukan. Khusus untuk untuk Provinsi Sumatera Barat program WINRIP mencakup tujuh (7) paket, salah satu diantaranya adalah Paket 03: Manggopoh-Padang Sawah.
Secara ringkas dapat diuraikan tentang Paket 03: Manggopoh-Padang Sawah yang dipantau oleh Tim TPM dari Universitas Bung Hatta, dengan dilengkapi informasi antara lain:
1. Diskripsi Proyek yang dipantau
a. Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I, Provinsi Sumatera Barat. dengan Kepala Satuan Kerja: Ir. Dahler, M.Sc
b. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 10: Ir. Agung Setiawan, M.T
c. No. Paket : WINRIP 03
d. Nama Paket : Manggopoh Padang Sawah PKP 1068
e. Latter of Acceptance(SPPJ) : 03 Desember 2013
f. Kontrak Nomor : 40-06/02-WINRIP-WPI/CE/A/8043-ID/12-13
g. Tanggal Kontrak : 06 Desember 2013
h. Nomor SPL : 08-06/03-WINRIP-WPI/CE/A8043-ID-1-14
i. Tanggal SPL : 06 Januari 2014
j. Nomor SPMK : 07-06/03-WINRIP-WPI/CE/A8043-ID-1-14
b) RMP : Rp.
37.986.287.560,-o. Masa Pelaksanaan : 730 Hari Kalender
p. Rencana PHO : 05 Januari 2016
q. Masa Pemeliharaan : 730 Hari Kalender
r. Rencana FHO : 05 Januari 2018
2. Penyedia Jasa Pelaksana Pekerjaan (Kontraktor)
a. Kontraktor : PT. Jaya Konstruksi Manggala Pratama. Tbk
b. Alamat : Jorong Padang Sawah Nagari Binjai Kecamatan Tigo Nagari Kabupaten Pasaman.
c. Kepala Proyek (GS) : Ir. Haryadi.
3. Konsultan Supervisi (Field Team DSC)
a. Konsultan : A Joint Venture of Renardet S.A, PT. Cipta Strada, PT. Daya Creasi Mitrayasa, PT. Seecoons and PT. Yodya Karya (Persero).
b. Pimpinan : Ir. Sudjarwo, sebagai Site Supervison Engineer (SSE) Ir. Yasril, MT, sebagai Quality Engineer (QE)
III. PELAKSANAAN PEMANTAUAN LAPANGAN
1. Realisasi Pelaksanaan Pemantauan
Pemantauan dilakukan oleh Tim TPM dari Pasca Sarjana Universitas Bung Hatta Padang (UBH) pada Paket 03: Manggopoh Padang Sawah, Provinsi Sumatera Barat.
No Nama TPM Pemantau Waktu Pemantauan Lama /Dursi Phase Aspek Pemantauan 1 Ir. Drs. Heldi, M.Si 1 4 Juni 2015 4 hari I Aspek Lingkungandan Sosial 2 Ir. Alzahri, MT 15 18 Juni 2015 4 hari I Aspek Teknis 3 M. Nursyaifi Yulius, MT (Mgt) 28 Juni 1 Juli 2015 4 hari I Aspek Manajemen
2. Subjek yang dipantau.
a. Aspek Manajemen Pelaksanaan Proyek. b. Aspek Teknis/ Jenis pekerjaan yang dipantau
1) Pekerjaan Umum :
• Base Camp dan kelengkapannya (AMP, Laboratorium, Batching Plan, Stone Crusher, dll)
• Rincian pekerjaan
• Jadwal pelaksanaan.
2) Pekerjaan Drainase
3) Pekerjaan Tanah (galian dan timbunan) 4) Pekerjaan Pelebaran Jalan dan Bahu Jalan 5) Pekerjaan Berbutir (Base A dan B)
6) Pekerjaan Aspal
IV. HASIL OBSERVASI DAN PEMANTAUAN
1. Ruang Lingkup Pemantauan
Kegiatan monitoring dimulai pada tanggal 1 Juni 2015 dengan agenda perkenalan tim TPM dan berkoordinasi dengan PPK 10 yang baru yaitu bapak Ir. Agung Setiawan, M.T, serta staf PPK 10, terkait dengan tugas dan fungsi serta ruang lingkup pengawasan oleh tim TPM dan hubungannya dengan unsur pengelola, pengawasan, pelaksana proyek dan prosedur pemantauan pada aspek manajemen, aspek teknik dan aspek pengelolaan lingkungan hidup (RKPPL).
Tim TPM juga menginformasikan tentang dokumen yang dibutuhkan dalam pelaksanaan tugas dilapangan pada prtoyek Paket 03: Manggopoh Padang Sawah Provinsi Sumatra Barat.
Pada kunjungan/pertemuan pertama tersebut PPK 10 memberikan data-data dan informasi umum tentang proyek serta Dokumen Spesifikasi Umum Proyek. Berdasarkan data yang diperoleh yaitu: Pelebaran ruas jalan manggopoh Padang Sawah sepanjang 32 Km, dimulai dari STA Awal pada Km. 102+000 sampai dengan STA Akhir pada Km. 134+200.
Rencana Penanganan: Pelebaran Rumija menjadi 13 Meter, yaitu lebar badan jalan = 7 meter , Bahu jalan = 2 meter dan DMJ = 1 meter. Atau 1+2+7+2+1 = 13 meter.
2. Pemantauan Aspek Lingkungan dan Sosial Masyarakat
Pelaksanaan pemantaun phase pertama pada aspek Lingkungan dan Sosial Masyarakat dilakukan pada tanggal 1 4 Juni 2015 oleh anggota TPM yaitu Ir. Drs. Heldi, M.Si. Kunjungan tinjauan lapangan / pemantauan pada aspek lingkungan dan sosial masyarakat dilakukan dengan menyusuri kelokasi diawali dari Starting Project
pada STA. 0+000 = KM.102 +000 di Manggopoh dan diakhiriEnding Projectpada STA 32+000 = KM.134 +000 di Padang Sawah.
terganggunya permukiman akibat pekerjaan jalan misalnya galian dan akses masyarakat menuju jalan umum, banjir, atau pekerjaan yang dapat mencelakakan, serta konflik akibat pembebasan lahan dan hak milik masyarakat.
Hasil pemantauan pada aspek lingkungan dan social yang terekam pada monitoring phase I ini adalah sebagai berikut:
No Uraian Survei Monitoring TPM Foto Dokumentasi
1. Penambahan pada bahu jalan, berdampak terhadap hilangnya ruang, dan halaman dari perumahan penduduk, hanya berjarak 1-1,5 meter dari jalan , dapat menimbulkan resiko bagi lingkungan, keamanan dan kenyamanan masyarakat
Jarak Proyek terhadap lokasi perumahan masyarakat yang terlalu dekat, rentan terhadap volusi debu dan kebisingan.
2 Pekerjaan pemasangan drainase pada bagian pinggir bahu jalan, terlihat penumpukan material dipinggir jalan, pihak pelaksana perlu memperhatikan hal ini, dapat menimbulkan kemacetan atau kecelakaan bagi pengendara / pengguna jalan, terutama pada malam hari, tanpa rambu-rambu pengamanan.
Penumpukan material pada bahu jalan, tanpa rambu-rambu pengamanan
No Uraian Survei Monitoring TPM Foto Dokumentasi
4. Penumpukan material dipinggir jalan tanpa rambu-rambu pengamanan pada STA 12+25, dapat menimbulkan kemacetan arus lalu lintas atau kecelakaan bagi pengendara /pengguna jalan, terutama pada malam hari, pihak pelaksana perlu memperhatikan hal ini
Penumpukan material di bahu jalan
5. Pekerjaan yang terbengkalai berdampak terhadap lingkungan rumah tinggal
masyarakat sekitarnya. Terganggunya akses masyarakat terhadap jalan raya dan dapat membahayakan keselamatan, keamanan dan kenyamanan warga.
Banjir dan genangan air pada lingkungan
6. Sehubungan dengan belum terlaksananya pembangunan drainase saluran tepi dan gorong-gorong, apabila turun hujan terjadi banjir yang mengakibat material hanyut menyebar ke badan jalan dan ke
pemukiman warga sekitar jalan.
Dampak banjir material sampai ke badan jalan
7. Suasana pekerjaan pembesian saluran U Ditch, terlihat para pekerja tidak memiliki pengaman K3. Dalam upaya keselamatan kerja.
No Uraian Survei Monitoring TPM Foto Dokumentasi
8. Pengamanan terhadap tumpukan material, belum memiliki tanda atau rambu-rambu keamanan pekerjaan.
Rambu-rambu dan system pengaturan lalu lintas belum terlihat
9. Pengamanan terhadap alat bulldozer dan mesin gilas pemadatan, tanpa ada yang mengawasi di ruas jalan serta rambu-rambu pengamanan bahwa ada pekerjaan/alat berat. Dapat menimbulkan kecelakaan.
Rambu-rambu dan system pengaturan lalu lintas belum terlihat, pada alat berat.
10. Lokasi bangunan rumah penduduk yang jauh dibawah badan jalan, timbul banjir dan longsor pada urugan pada bahu jalan, perlu pengamanan tebing atau turap penahan longsor di bahu jalan.
No Uraian Survei Monitoring TPM Foto Dokumentasi
11. Para pekerja tanpa menghiraukan dampak emisi, debu dan kebisingan lingkungan akibat AMP, dilingkungan kerja.
Kontraktor perlu melakukan uji baku mutu udara yang ditimbulkan peralatan AMP, Stone Chruser, dll.
Rambu-rambu dan system pengaturan K3 Belum terlihat
12. Pekerja tanpa pengamanan dengan alat manual, tidak ada parameter untuk
mengukur standar mutu beton pembuatan saluran U Ditch.
K3 dan Rambu-rambu dan system operasional belum terlihat
13. Suasana kendaraan yang keluar, masuk dilingkungan / lokasi AMP, tanpa ada pengamanan dan rambu-rambu pekerjaan.
Rambu-rambu dan system K3 belum terlihat di lokasi AMP dan Bascam Kontraktor.
3. Pemantauan Aspek Teknis.
STA. 0+000 = KM.102 +000 di Manggopoh menuju titik akhir / Ending Project pada STA 32+000 = KM.134 +000 di Padang Sawah.
Pemantauan dilakukan dengan mengamati setiap pekerjaan konstruksi yang dilakukan oleh Kontraktor, mencatat hal-hal yang dianggap tidak sesuai atau adanya kejanggalan dengan selingan berbincangan dengan unsur Kontraktor dan atau Konsultan Supervisi ataupun unsur masyarakat untuk mendapatkan klarifikasi tentang teknis pekerjaan tanpa mempengaruhi, menyalahi, menyarankan, ataupun menghentikan pekerjaan.
Pada hari ketiga kunjungan melakukan survey ulang dari titik akhir / Ending Project pada STA 32+000 = KM.134 +000 di Padang Sawah, menyusuri kelokasi menuju titik awal/Starting Project STA. 0+000 = KM.102 +000 di Manggopoh. Hasil pengamatan dicatat dan dilaporkan pada Laporan ini, sebagai berikut:
No Uraian Survei Monitoring TPM Foto Dokumentasi
1. Kebutuhan akan prasarana jalan yang baik
merupakan faktor penunjang lancarnya perekonomian.
Kondisi sarana jalan yang ada saat ini pada
lokasi Manggopoh-Padang Sawah, banyak kerusakan baik yang diakibatkan oleh faktor alam maupun faktor manusia dalam hal ini kendaraan, sehingga perlu diadakan perbaikan dan peningkatan guna memenuhi kebutuhan lalu lintas yang lebih baik.
Dalam proses perencanaan, sebagai dasar
untuk pelaksanaannya perlu diperhatikan faktor kenyamanan, keamanan lingkungan serta faktor lain yang mendukung rencana detail yang mantap demi kelancaran arus transportasi di Provinsi Sumatera Barat.
No Uraian Survei Monitoring TPM Foto Dokumentasi
2. Hasil test DCP (Dynamic Cone Penetration)
keadaan CBR tanah pada umumnya mendukung (>6)
Jalan lama (existing) umumnya belum ada
drainase, dengan gorong-gorong yang terbatas.
Keadaan Alam dan Lingkungan disekitar
lokasi umumnya merupakan daerah permukiman, perbukitan dan aliran sungai, hutan dan perkebunan dimana lingkungan alamnya masih terjaga.
Berdasarkan design yang ada, di beberapa
lokasi kemiringan lerengnya terlalu curam, diprediksi berpotensi terjadi longsor /landslide.
Perlu review design dengan melandaikan
kemiringan lereng (check sudut geser tanah setempat) untuk mendapatkan kemiringan ideal, konsekwensinya adalah pelebaran pembebasan lahan.
Keadaan tanah dan alam lingkungan Proyek Paket 03 Manggopoh-Padang Sawah
3. Pada titik awal (STA 0+000), berada di
simpang Manggopoh, merupakan lokasi pemukiman/perumahan warga yang cukup padat, yang mengalami penggusuran akibat dampak pelebaran pembangunan bahu jalan, ada yang telah mendapatkan ganti-rugi lahan tetapi hanya terbatas dan belum memuaskan masyarakat pada umumnya,
Pada STA 0+075, ada sebagian belum
transaksi sehubungan dengan surat menyurat yang dilakukan pihak warga dengan pemerintah yang terkait.
Tampak Kontraktor mengalami kendala
dalam melaksanakan pekerjan pada lokasi tersebut dikarenakan complain penduduk yang belum puas akan ganti rugi.
Lokasi pada perumahan penduduk pada STA 0+125
4. Tahap awal pihak kontraktor sudah mulai
melaksanakan pekerjaan lapisan 1 pada titik awal STA 0+00 simpang manggopoh, tetapi belum terlihat dalam mengerjakan pekerjaan saluran drainase atau gorong-gorong.
No Uraian Survei Monitoring TPM Foto Dokumentasi
5. Di beberapa titik misalnya pada STA
0+075, lokasi pemukiman/rumah dan pekarangan masyarakat digenangi air yang tidak dapat mengalir karena belum adanya saluran drainase samping dan gorong-gorong, karena kontraktor belum fokus pada pekerjaan saluran sehingga berdampak terhadap pencemaran lingkungan dan timbulnya jentik-jentik nyamuk, yang membahayakan kesehatan masyarakat serta tidak sedap dipandang.
Pada lokasi pemukiman warga, sebaiknya
kontraktor mengerjakan saluran dan gorong-gorong pembuangan terlebih dahulu supaya air hujan dapat cepat mengalir.
Terdapat genangan air pada bahu jalan
6. Dilain pihak sebagian warga menolak
pengerjaan bahu dan saluran didepan rumahnya dikarenakan persoalan ganti rugi lahan.
Beberapa buah saluran gorong-gorong
yang dibiarkan terlantar, belum dipasang pada ruas jalan pada STA 0+125.
Kontraktor lebih focus / memprioritaskan
pelapisan aspal tahap pertama, TPM tidak dapat akses informasi tentang hasil pengujian/test tentang Base B dan Base A, sebelum penghamparan asphalt.
Penumpukan gorong-gorong, belum terpasang
7. Terdapat penyumbatan aliran air dibawah
4. Pemantauan Aspek Manajemen
Dalam proses penyelesaian proyek pembangunan jalan pada paket 03 Manggopoh- Padang Sawah Provinsi Sumatera Barat ini ada hal yang sangat penting dari awal sampai akhir yang menjadi tanggung jawab baik owner sebagai pemilik, konsultan perencana dan konsultan pegawas maupun kontraktor pelaksana dalam hal ini adalah PT. Jaya Konstruksi, maka dipilih suatu cara yang tepat yaitu sistem manajemen proyek guna memecahkan masalah-masalah yang terjadi dilapangan, diperlukannya suatu cara/suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu organisasi kelompok orang-orang kearah capaian tujuan proyek. Manajemen merupakan suatu kekuatan yang mempunyai fungsi sebagai alat pemersatu, penggerak dan pengkoordinir faktor alam, tenaga dan dana yang diperlukan pada proyek konstruksi paket 03 Manggopoh- Padang Sawah.
Proyek konstruksi adalah suatu rangkaian kegiatan yang memiliki jangka waktu yang biasanya terdapat suatu proses yang berfungsi untuk mengolah sumber daya proyek sehingga dapat menjadi suatu hasil kegiatan yang menghasilkan sebuah bangunan konstruksi seperti jalan. Adapun proses yang terjadi dalam rangkaian kegiatan tersebut tentunya melibatkan pihak-pihak yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan terlibatnya banyak pihak dalam sebuah proyek konstruksi maka hal ini akan dapat menyebabkan potensi terjadinya konflik juga sangat besar sehingga dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa proyek konstruksi sebenarnya mengandung konflik yang cukup tinggi juga.
Manajemen Konstruksi pada umumnya akan meliputi mutu fisik konstruksi, biaya dan waktu, manajemen material serta manjemen tenaga kerja. Pada prinsipnya dalam manajemen konstruksi, manajemen tenaga kerja merupakan salah satu hal yang lebih ditekankan. Hal ini disebabkan manajemen perencanaan hanya berperan sekitar 20% dari rencana kerja proyek. Sisanya manajemen pelaksanaan termasuk didalamnya pengendalian biaya dan waktu proyek. Adapun fungsi dari manajemen konstruksi yaitu:
1) Sebagai Quality Control sehingga dapat menjaga kesesuaian antara perencanaan, pengawasan dan pelaksanaan proyek.
3) Memantau prestasi dan kemajuan proyek yang telah dicapai. Hal itu dilakukan dengan opname (laporan) harian, mingguan dan bulanan.
4) Hasil evaluasi dapat dijadikan tindakan dalam pengambilan keputusan terhadap masalah-masalah yang terjadi di lapangan.
5) Fungsi manajerial dari manajemen merupakan sebuah sistem informasi yang baik yang dapat digunakan untuk menganalisis performa dilapangan
Dipergunakannya manajemen sebab manajemen adalah sebagai ilmu dan seni yang merupakan bentuk kerja, berfungsi penting sebagai pedoman kegiatan, standar pelaksanaan, sumber motivasi maupun sebagai dasar rasional pengorganisasian agar pelaksanaan kegiatan-kegiatan dapat mencapai suatu tujuan yang berhasil dan berdaya guna secara cepat, efektif dan efisien. Terdapat beberapa peranan dan fungsi pada manajemen proyek yaitu: POMC (Planning, Organizing and Staffing, Motivating, Controlling).
1) Perencanaan(Planning): mempunyai tiga arti, yaitu : a) Pengambilan keputusan (decision making) b) Memikirkan secara mendalam untuk memutuskan apa yang harus diperbuat c) Menetapkan sasaran dan menjabarkan cara mencapai sasaran-sasaran tersebut. Tujuan perencanaan adalah menemukan kesempatan-kesempatan di masa mendatang dan membuat rencana-rencana untuk memanfaatkannya. Rencana yang paling efektif adalah memanfaatkan kesempatan dan menghilangkan halangan atas dasar kekuatan dan kelemahan dari organisasi.
• Tugas disertai pemberian wewenang yang berimbang dengan tanggung jawab (responsibility) yang dipikulnya. Tanggung gugat (accountibility)
terhadap atasan juga harus ada.
• Uraian tugas pekerjaan untuk staff dan pimpinan perlu dijabarkan dengan jelas dan konkrit (job discription).
• Makin tinggi jenjang manajerial makin sedikit bawahannya, dan sebaliknya makin ke bawah makin banyak orang yang dibawahinya (struktur piramida). 3) Menggerakkan (Motivating) adalah kemampuan dari seorang manager proyek untuk memberikan alasan kepada bawahannya untuk pengembangan sumber daya manusia dan bimbingan kerja (yang berperan disini adalah Faktor Leadership/Jiwa kepemimpinan). Pemimpin proyek selalu berusaha agar para bawahannya menjadi ahli dalam bidang pekerjaannya dan terampil dalam bidang manajemennya. Faktor Motivasi yang perlu diciptakan oleh seorang manager proyek, meliputi:
• Komunikasi timbal balik antara atasan dan bawahan, sehingga tercipta iklim kerja yang berkesinambungan.
• Diciptakan unsur partisipasi dalam memecahkan masalah & pengambilan keputusan.
• Metoda, program kerja yang mantap dan jelas. • Berorientasi kepada hasil pekerjaan
• Delegasi pekerjaan harus disertai tanggung jawab yang jelas, limitasi
wewenang untuk dapat mengambil keputusan serta kriteria tentang hasil pekerjaan.
• Menghargai bawahan yang berprestasi dan ciptakan disiplin yang tegas. • Menciptakan suasana agar bawahan memiliki kemampuan dan kemauan
untuk bekerja sama secara kelompok (team work).
rencana yang dimaksud adalah kegiatan proyek dapat dimulai, dilaksanakan dan diselesaikan menurut jadwal yang telah ditentukan, budget yang disediakan, mutu pekerjaan yang ditetapkan dan sumber daya alam serta sumber daya manusia yang tersedia.
5) Langkah dalam melakukan fungsi kontrol : a) Adanya prestasi standard sebagai tolak ukur. b) Mengukur hasil prestasi pekerjaan. c) Membandingkan & mengevaluasi hasil prestasi aktual dengan standard prestasi yang diharapkan. d) Melakukan tindakan koreksi, bilamana standard prestasi tidak tercapai. Secara spesifik konsep manajemen adalah merupakan suatu proses, dimana di dalamnya diberikan input dan diharapkan manajemen dapat menghasilkan output sesuai sasaran sebagaimana yang ditetapkan. Input dalam proses manajemen terdiri dari bermacam-macam sumber daya (resources), seperti:
• Sumber Daya Manusia (tenaga kerja) • Sumber Daya Alam / Material (bahan)
• Sumber Modal (dana)
• Mesin Peralatan (alat) • Metode Kerja
Organisasi Pelaksanaan Proyek Pada Paket 03
Pelaksanaan suatu kegiatan proyek perlu pengorganisasian yang terkoordinasi secara efektif dan sistematis. Organisasi kegiatan ini dibutuhkan untuk mempelancar pelaksanaan dan keberhasilan proyek sehingga hasil yang diperlukan lebih maksimal dan sesuai dengan rencana.
Struktur Organisasi Pelaksanaan Proyek Berdasarkan FIDIC
Untuk menjamin pelaksanaan kegiatan agar sesuai dengan segala ketentuan dan tepat pada waktunya, maka dibentuklah badan-badan hukum dan susunan struktur organisasi pembangunan infrastruktur jalan paket 03 manggopoh-padang sawah Provinsi Sumatera Barat, dimana unsur-unsur yang terlibat langsung dalam menangani kegiatan tersebut adalah:
1) Employer/ Owner(Pengguna Jasa);PPK 10: Ir. Agung Setiawan, M.T
2) Enjinir/Design and Supervision Consultants (DSC); Joint Venture of Renardet S.A, PT. Cipta Strada, PT. Daya Creasi Mitrayasa, PT. Seecoons and PT. Yodya Karya (Persero).
3) Penyedia Jasa(Kontraktor); PT. Jaya Konstruksi Manggala Pratama. Tbk
Dalam pelaksanaan FIDIC menerapkan sistem garis lurus, dimana Employer/ Owner (Pengguna Jasa); PPK 10 dalam pengendalian pelaksanaan konstruksi tidak dapat langsung berhubungan dengan Kontraktor sebagai Penyedia Jasa (PT. Jaya Konstruksi Manggala Pratama. Tbk). Employer /PPK mendelegasikan sebagian besar wewenangnya terutama pada bidang pengawasan teknis proyek kepada Enjinir
(Team-Leader DSC), kecuali kewenangan melakukan Amendment Contract, pembebas-tugaskan Penyedia Jasa atas tugas dan kewajiban yang ada dalam kontrak. Kewenangan yang dilimpahkan pada Injinir yang perlu persetujuan Employer/PPK
tak terduga; 2) menginstruksikan atau menyetujui Variasi; 3) menentukan jumlah pembayaran dalam mata uang yang dapat dipakai; 4) menyetujui perpanjangan waktu pelaksanaan; 5) konsekuensi atas resiko Pengguna Jasa; 6) penyesuaian akibat perubahan peraturan; dan 7) penyesuaian akibat perubahan biaya.
Hubungan antara Employer/Pengguna Jasa dengan Penyedia Jasa (Kontraktor) terikat dengan Perjanjian Kontrak. Injinir bertindak atas nama Employer/Pengguna Jasa sesuai wewenang yang didelegasikan untuk mengawasi pelaksanaan pekerjaan oleh Kontraktor. Sedangkan hubungan Injinir terhadap Employer/Pengguna Jasa adalah: 1) Keterikatan atas Layanan Profesional; 2) Bertindak sebagai Employer/Pengguna Jasa sesuai kewenangannya; 3) Bertindak untuk kepentingan Employer/Pengguna Jasa.
Beberapa Catatan Tentang Pelaksanaan Manajemen Proyek Pada Paket 03
1. Progress pelaksanaan fisik pada bulan Juni 2015 sekitar 40 % dari target sekitar 70%, ada keterlambatan sekitar 30 %.
2. Menurut informasi dari Kontraktor, penyebab dari keterlambatan tersebut dikarenakan AMP sering terjadi kerusakan.
3. Ada kesan bahwa Konsultan Supervisi (Field Team DSC) kekurangan tenaga, sehingga kurang malsimal dalam pengawasan.
4. Peran PPK dalam mengelola manajemen proyek sangat diperlukan terutama dalam koordinasi dengan instansi lain misalnya PLN untuk pemindahan tiang listrik, PT. Telkom untuk pemindahan utilitas tiang dan kabel telepon, dengan PAM untuk utilitas pipa air minum, dan koordinasi antar lembaga pemerintah lainnya. Selain itu dalam hal komunikasi dan sosialisasi dengan masyarakat sekitar proyek, terutama mereka yang terkena dampak langsung proyek.
V. PENUTUP
Pada aspek manajemen perlu koordinasi secara berkelanjutan baik mingguan, dan pertemuan bulanan bagi ketigat organisasi yang terlibat dilapangan (Owner, konsultan, dan kontraktor) secara maksimal dalm upaya mencapai target dan tujuan pembangunan proyek pada paket 03 Manggopoh Padang Sawah.
Pada aspek teknis, kontraktor pelu meningkatkan mutu, kwalitas kinerja capaian proyek sesuai dengan spesifikasi, schedule pelaksanaan yang telah dirancang diupayakan untuk ditaati dalam mencapai bobot pekerjaan yang mengalami terlambatan dari sisi waktu pelaksanaan, disamping jumlah tenaga kerja perlu disesuaikan kebutuhan. Keterlambatan >10 % pada kondisi rencana pekerjaan fisik 0 70 % sudah perlu diadakan Show Cause Meeting (SCM).
Dari sisi Injinir, (konsultan Pengawas) DSC/Field Team kurang efektif membantu memberikan arahan dikarenakan kekurangan personil. Dan selama ini permasalahan di lapangan diselesaikan langsung pihak owner.
Pada aspek lingkungan pihak proyek owner dan kontraktor perlu berkonsultasi dengan pihak masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup, mengatasi situasi kondisi lingkungan disekitar pemukiman masyarakat.
Pihak kontraktor perlu menyesuaikan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup (RKPPL) diantaranya, Kualitas udara/penyiraman, kebisingan, kualitas air, sanitasi lingkungan, kesempatan kerja dan berusaha terhadap masyarakat, keamanan dan ketertiban masyarakat, kesehatan dan keselamatan kerja.