BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kecemasan Berbicara
1. Pengertian Kecemasan Berbicara
Kecemasan berbicara seringkali diartikan sebagai perasaan takut, gugup dan cemas ketika hendak berinteraksi dengan orang lain (McCroskey, 1989). Kecemasan adalah suatu keadaan emosional yang mempunyai ciri keterangsangan fisiologi, perasaan tegang yang tidak menyenangkan, dan perasaan aprehensif bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi (Nevid, 2005).
Thaher (2005) mendefinisikan kecemasan berbicara sebagai pola dari kecemasan yang bisa mempengaruhi komunikasi oral dan kesuksesan seorang mahasiswa. Bodie (2010) kecemasan berbicara merupakan subtipe spesifik dari kecemasan berbasis komunikasi dimana individu mengalami gairah fisiologi, kognisi diri yang negatif dan perilaku seiring dalam menanggapi presentasi yang diharapkan atau aktual.
Berdasarkan dari pengertian di atas, kecemasan berbicara adalah suatu pola dari kecemasan yang mempengaruhi komunikasi oral dan kondisi fisiologis seorang saat berinteraksi. Kecemasan berbicara menimbulkan perasaan aprehensif atau keadaan kekhawatiran tentang sesuatu yang buruk akan terjadi saat ia berbicara.
2. Aspek Kecemasan Berbicara
McCroskey (1984) mengungkapkan empat jenis kecemasan berbicara; Treatlike, Person Group, Situational dan Generalized context. Kecemasan berbicara di dalam kelas menurut McCroskey termasuk jenis generalized context tersebut, adapun aspek diantaranya:
1) Kecemasan berbicara di depan umum (about public speaking).
Kecemasan berbicara dapat terjadi saat individu melakukan komunikasi di depan khalayak ramai seperti saat berpidato atau memberikan presentasi pada suatu forum.
2) Kecemasan berbicara di dalam pertemuan (about speaking in meeting).
Kecemasan berbicara dapat terjadi saat individu berada dalam situasi formal seperti saat rapat.
3) Kecemasan berbicara dalam diskusi kelompok (speaking group discussion). Kecemasan berbiara dapat terjadi saat individu di dalam sebuah kelompok kecil. Saat berada dalam diskusi kelompok kecil individu memberikan argumen, respon, dan tanggapan dalam diskusi tersebut yang melibatkan penilaian dan atensi peserta diskusi.
4) Kecemasan berbicara saat interaksi dua arah (in dyadic interaction).
Bodie (2010) turut menjelaskan aspek-aspek berbicara di depan umum, adapun diantaranya yaitu:
1. Aspek kognitif yaitu respon kognitif dari kecemasan atau ketakutan yang meliputi negatif evaluasi, dan keyakinan yang tidak logis mempengaruhi kemampuan berpikir jernih, memecahkan masalah, atau mengatasi tuntutan lingkungan.
2. Aspek fisiologis yaitu sistem saraf pusat, otonom, dan somatic serta sistem seluler hormonal, semua yang mengatur tubuh manusia dan respon terhadap kecemasan meliputi tekanan darah menngkat, jantung berdegup kencang lebih cepat, berkeringat di telapak tangan dan wajah.
3. Aspek perilaku yaitu mengacu pada perilaku untuk menghindar. Misalnya gugup, tremor, berbicara cepat.
Aspek yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan aspek McCroskey (1984) yakni berbicara di depan umum, berbicara di suatu kelas, berbicara di kelompok kecil saat berdiskusi dan berbicara saat interaksi dua arah (diadik) karena peneliti ingin mengetahui kecemasan berbicara pada mahasiswa UII pada saat situasi tertentu seperti berbicara di depan umum dan diskusi di kelas perkuliahan.
Buss (dalam McCroskey, 1984) bahwa ada enam elemen dalam situasional yang diyakini sebagai penyebab meningkatnya kecemasan berbicara, yaitu:
1) Situasi baru
Individu secara tidak sengaja menjadi takut pada situasi tertentu. Misalnya seorang yang tidak pernah mengikuti wawancara akan melakukan wawancara perdananya. Maka individu ini akan berada dalam situasi dimana dalam situasi yang serba baru baginya individu tidak yakin pada apa yang akan dilakukan da nada kebingungan bagaimana harusnya bertingkah.
2) Situasi formal
Situasi formal disini cenderung diasosiasikan sebagai menentukan jenis perilaku yang layak pada situasi pada situasi tertentu. Kecemasan komunikasi akan muncul pada situasi formal karena pada situasi ini terjadi pembatasan yang sempit pada macam perilaku yang dapat diterima.
3) Status bawahan
Kecemasan komunikasi dapat muncul pada situasi interaksi dalam posisi subordinat. Dalam beberapa situasi, suatu perilaku akan diaggap layak atau tidak layak ditentukan oleh orang yang memegang kekuasaan tinggi.
4) Menjadi pusat perhatian
5) Unfamiliarity
Walaupun tidak semua orang akan menunjukkan reaksi yang sama pada orang yang tidak dikenal atau baru saja dikenalnya, tetapi kebanyakan orang akan merasa lebih nyaman pada saat berkomunikasi dengan orang yang dikenal daripada tidak dikenal.
6) Dissimilarity
Saat seorang individu berada dalam sebuah diskusi kelompok, tanggapan individu berbeda dengan orang kebanyakan maka kecemasan berbicara akan muncul.
7) Perhatian dari orang lain
Mendapatkan perhatian biasa-biasa saja dari orang lain adalah merupakan situasi paling nyaman. Namun jika mendapatkan perhatian berlebihan atau bahkan sebaliknya tidak diperhatikan atau diabaikan pada saat kita berkomunikasidapat meningkatkan level kecemasan berbicara secara tajam dan cepat.
Rogers (2012) bahwa ada tiga faktor yang menghambat perkembangan kemampuan berbicara diantaranya, yaitu:
Persepsi dari individu mengenai kemampuannya untuk terlibat dalam komunikasi efektif.
b) Outcome expectation
Suatu keyakinan bahwa terlibat dalam komunikasi yang efektif akan mendapatkan hasil yang diinginkan.
c) Communication apprehension
Tingkat ketakutan dan kecemasan individu yang nyata atau menghindari komunikasi dengan orang lain.
Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa efikasi diri berpengaruh pada kemampuan berkomunikasi. Individu yang memiliki efikasi diri rendah akan menghambat kemampuannya dalam melakukan komunikasi sehingga menyebabkan timbulnya kecemasan berbicara.
B. Efikasi Diri
1. Pengertian Efikasi Diri
Bandura (1997) mendefinisikan efikasi diri sebagai kepercayaan individu terhadap suatu kemampuan untuk mengatur dan melaksanakan sebuah tindakan untuk menghasilkan suatu pencapaian. Efikasi diri berperan untuk menurunkan kecemasan
dalam menghadapi berbagai tantangan dengan tingkat kesulitan berbeda di kehidupan sehari-hari (Bandura 1997). Alwisol (2009) berpendapat bahwa efikasi diri adalah penilaian diri apakah dapat melakukan tindakan baik atau buruk, tepat atau salah, bisa atau tidak bisa mengerjakan sesuai dengan yang di persyaratkan. Hal sependapat juga dikemukakan oleh Kurniawati (2016) efikasi diri sebagai keyakinan atau kepercayaan seseorang bahwa ia dapat melakukan suatu perilaku yang akan menghasilkan perilaku yang diinginkan dalam situasi khusus.
Patton (dalam Permana dkk., 2016) menjelaskan efikasi diri adalah keyakinan terhadap diri sendiri dengan penuh optimisme serta harapan untuk dapat memecahkan masalah tanpa rasa putus asa. Ketika individu dihadapkan pada stres yang akan timbul maka efikasi dirinya meyakinkan akan terjadinya reaksi terhadap suatu situasi antara reaksi emosi dan usahanya dlam mengahadapi kesukaran. Sharma (2014) efikasi diri akademik dikenal sebagai prediktor dari kinerja akademik. Sejalan dengan pendapat Sharma, Klomegah (dalam Dullas 2018) mengungkapkan bahwa di sekolah, efikasi diri bisa menjadi prediktor kuat dari performa akademik siswa.
Dari berbagai pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa efikasi diri merupakan penilaian diri sendiri tentang keyakinan diri terhadap segala situasi atau tantangan yang dihadapinya.
2. Dimensi Efikasi Diri
Efikasi diri menurut Bandura (1997) terdiri dari tiga dimensi penting yang dapat mengimplikasi suatu tindakan, yaitu:
a. Tingkatan Kesulitan (Level)
Level berkaitan dengan keyakinan individu dalam memilih suatu tugas berdasarkan tingkat kesukarannya maupun kemampuannya.
b. Keluasan (Generality)
Generality berkaitan dengan cakupan penguasaan individu terhadap bidang atau tugas pekerjaan. Generalisasi dapat bervariasi dalam berbagai bentuk yang berbeda, termasuk tingkat kesamaan aktivitas, modalitas dimana kemampuan diekspresikan (dalam bentuk tingkah laku, kognitif, dan afeksi). Individu akan menilai keyakinan dirinya dalam menyelesaikan tugas dalam berbagai bidang atau dalam bidang tertentu saja. Mampu atau tidak individu dalam menyelesaikan tugas dan konteks tertentu mengungkapkan gambaran umum tentang efikasi diri individu tersebut.
c. Ketahanan (Strength)
Strength merupakan tingkat kekuatan atau kemantapan individu terhadap keyakinannya. Individu yang memiliki keyakinan lemah sangat mudah untuk patah semangat, sedangkan yang memiliki keyakinan gigih akan
mempertahankan tugas dengan segenap usaha kemampuan mereka walau banyak rintangan dan kesusahan. Mereka tak akan kewalahan dengan segala kesulitan. Semakin kuat efikasi diri dan ketahanan, semakin tinggi kemungkinan kegiatan yang dipilih untuk dilakukan akan menjadi berhasil.
C. Hubungan antara Efikasi Diri dan Kecemasan Berbicara
Kecemasan berbicara di depan umum merupakan kecemasan yang sering kita temui. Mahasiswa memiliki tuntutan-tuntutan dalam perannya di akademik. Mahasiswa sudah selayaknya dituntut untuk mampu dalam memberikan gagasan dan pendapat baik dalam bentuk tulisan atau lisan. Lisan mengharuskan mahasiswa untuk mampu dalam presentasi, berargumen pendapat di diskusi dan lainnya. Tidak jarang banyak mahasiswa yang merasakan kecemasan untuk memenuhi tuntutan-tuntutan tersebut. Ketika individu mengalami situasi yang menekan, dalam hal ini berbicara depan umum, keyakinan individu terhadap kemampuan akan mempengaruhi cara individu dalam bereaksi menanggapi situasi tersebut (Bandura, 1997).
Untuk menghadapi stresor-stresor tersebut, dibutuhkan efikasi diri yang dapat membantu individu untuk melatih kemampuan dalam menghadapi situasi tersebut. Individu yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan ancaman akan mengalami kecemasan yang relatif rendah. Sebaliknya mereka yang tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan ancaman akan mengalami kecemasan yang relatif tinggi.
Rogers (2012) memasukkan efikasi diri menjadi salah satu faktor yang menentukan hambatan berbicara seorang individu.
Aspek magnitude/level pada efikasi diri atau bisa dikatakan tingkat kesulitan yang dihadapi mahasiswa dapat menjadi hambatan apabila mahasiswa tersebut tidak siap dengan segala kemungkinan yang terjadi saat tugas berlangsung. Tingkat kesulitan yang biasanya dialami mahasiswa adalah ketika topik perkuliahan yang akan didiskusikan di kelas sulit dipahami mahasiswa. Ketika mahasiswa mengalami kesulitan dalam mendalami materi atau sebuah topik yang akan didiskusikan, mahasiswa lebih memilih sedikit berbicara atau bahkan hanya diam pasif. Penelitian Thaher (2005) menyatakan bahwa mahasiswa bahasa di universitas An-Najah Palestina yang memiliki kesulitan berbicara bahasa Inggris atau Arab di depan kelas merasakan kecemasan saat mereka berpikir akan melakukan suatu kesalahan berbicara.
Pada aspek generality pada efikasi diri atau bisa dikatakan dalam keadaan umum yang berkaitan dengan penguasaan individu terhadap bidang atau tugas perkerjaan. Keadaan yang sering ditemui adalah takut mencoba hal baru yang jarang dilakukan. Perkuliahan dikelas sering memakai presentasi sebagai metode belajar-mengajar, tidak jarang dilakukan berkelompok. Banyak mahasiswa yang hanya ingin menjadi operator slide show dimana tugas yang melibatkan aktivitas lisan itu minim. Atau hanya mengambil tugas tanya jawab yang sesusai dengan bagian slide yang ia jelaskan.
Pada aspek strength atau bisa dikatakan tingkat kemantapan individu terhadap keyakinannya. Apabila mahasiswa memiliki kemantapan bahwa ia mampu melakukan tugas-tuga tersebut, maka itu akan menekan rasa kecemasannya karena ia memiliki kegigihan untuk mencapai suatu tujuan. Namun untuk mahasiswa yang selalu psimis terhadap kemampuannya sendiri, maka dia akan senantiasa berpikiran buruk terhadap hal yang belum terjadi.
Penelitian Pajares dan Kanz (dalam Zimmerman, 2000) meneliti terdapat adanya hubungan korelasi yang negatif antara efikasi diri dengan reaksi kecemasan mengenai matematika. Efikasi diri menjadi variabel yang berpengaruh pada individu dalam hal berbicara. Thaher (2005) mengungkapkan dari hasil penelitiannya dengan pengkategorisasian berdasarkan faktor psikologis salah satunya ketakutan akan melakukan kesalahan karena siswa berpikiran kurangnya kemampuan mereka dalam berbicara bahasa asing. Siswa lebih memilih untuk diam daripada harus berbicara yang nantinya akan melakukan kesalahan. Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bagaimana efikasi diri dapat mempengaruhi kecemasan berbicara. Adanya efikasi diri pada mahasiswa dapat menurunkan kecemasan serta merubah pola pikir yang tidak realistis menjadi sebuah pemikiran positif. Bandura (1997) mengungkapkan bahwa keyakinan efikasi diri yang dimiliki siswa akan menurunkan tingkat kecemasan dan stress.
D. Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian ini adalah ada hubungan negatif antara efikasi diri dengan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa Universitas Islam Indonesia. Semakin rendah efikasi diri maka semakin tinggi kecemasan berbicaranya.