• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab V Pengujian (Testing)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Bab V Pengujian (Testing)"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Bab V

Pengujian (Testing)

Pengujian (testing) SQL Server 2000 cluster dilakukan untuk melihat apakah proses clustering sudah dapat bekerja sebagaimana semestinya. Ada beberapa cara pengujian atau test yang dapat dilakukan untuk menguji clustering SQL Server, yaitu:

1. Pengujian Pertama : Moving Groups

Pengujian pertama dilakukan dengan tujuan untuk melihat apakah proses clustering SQL Server sudah berfungsi / bekerja dengan baik tanpa adanya pesan kesalahan (Error). Pengujian pertama dilakukan dengan memindahkan resources yang ada, dalam hal ini termasuk cluster group dan resources group SQL Server dari node cluster yang utama ke node cluster yang lain lalu kembali lagi ke node cluster pertama. Cara untuk menguji / melakukan pengujian untuk melihat apakah SQL Server clustering sudah berfungsi dengan baik sebagai berikut :

a. Mulai dengan Cluster Administrator.

Start > All Program > Administrative Tools > Cluster Administrator.

b. Pada Cluster Administrator buka folder group di dalamnya akan terlihat Cluster group dan group resourcesSQL Server.

c. Klik cluster group kemudian pada layar akan terlihat resources cluster yang akan membentuk group. Pemilik (owner) dari resources adalah nama dari node pertama.

d. Masing-masing group harus dipindahkan ke node lainnya. Pertama, klik kanan pada “Cluster Group”.

kemudian pilih “Move Group”.

Setelah hal itu dilakukan maka akan muncul “State”. Ubah dari “Online” menjadi “Offline Pending”.

(2)

Hal tersebut akan terjadi sangat cepat dan pada saat itu maka pemilik (owner) akan berubah dari node utama (primary) menjadi node kedua (secondary).

e. Lakukan pada resources group SQL Server yang sama.

f. Dengan asumsi tidak ada masalah, kedua group akan pindah ke node kedua (secondary) yang pada dasarnya akan menjadi node utama (primary). Setelah kedua node dipindahkan, lihat event viewer apakah ada pesan error yang dihasilkan. Jika semuanya bekerja dengan benar, seharusnya tidak ada pesan kesalahan.

Pengujian dalam sistem yang dibangun sebagai berikut :

 Memindahkan grup dari node server vofclsnodeA ke vofclsnodeB

(3)

Gambar 48. Perubahan Group Owner 1

(4)

2. Pengujian Kedua : Initiate Failure

Pengujian kedua dilakukan dengan tujuan untuk melihat serta mengetahui bahwa failover sudah berfungsi dengan baik tanpa adanya pesan kesalahan (error). Pengujian kedua ini hampir sama dengan pengujian yang pertama hanya saja pada pengujian kedua melakukan simulasi failover secara manual. Cara untuk menguji / melakukan pengujian tersebut yaitu :

a. Mulai dengan cluster Administrator. Start > All Program > Administrative Tools > Cluster Administrator.

b. Pada panel explorer di sisi kiri Cluster Administrator, buka folder “Group”. Di dalamnya akan terdapat “Cluster Group” dan “SQL Server Cluster resources Group”.

c. Klik “cluster group” kemudian pada layar akan terlihat resources cluster yang akan membentuk group. Pemilik (owner) dari resources adalah nama dari node pertama.

d. Klik kanan pada resources “Cluster IP Address” lalu pada kanan panel pilih “Initiate Failure”. Itu dilakukan untuk memberitahu Cluster Service bahwa IP address virtual telah gagal.

e. Setelah memilih opsi tersebut, maka akan terlihat beberapa aktifitas di bawah “State”, tetapi dengan cepat resources akan berubah status “Online” dan pemilik (owner) belum berubah. Sehingga failover belum terjadi, hal ini dikarenakan service cluster mencoba me-restart kembali resources fail sebanyak tiga kali. Jadi untuk benar-benar memulai failover harus mengulangi langkah yang keempat. Dan jika failover terjadi, maka resources pada “Group Cluster” akan mengalami failover.

Proses “Initial Failure” memiliki langkah yang sama dengan proses “Moving Groups”. Perbedaannya adalah pada “Initial failure”, node tidak secara langsung berubah ke node yang lain. Hal ini disebabkan adanya proses yang mengarahkan pengguna untuk melakukan langkah-langkah ini sebanyak 4 kali, kemudian mendapatkan proses failover dilakukan

(5)

3. Pengujian Ketiga : Turn Off Each Node

Pengujian pertama dan kedua dilakukan dari administrator cluster, maka pengujian ketiga dilakukan pada keadaan sebenarnya. Pengujian ketiga ini sangat baik untuk melihat apakah failover bekerja dengan melakukan aktifitas yang sebenarnya. Pada pengujian ini, yang perlu diperhatikan adalah memastikan bahwa semua group berada pada node utama, kemudian secara fisik dimatikan node pertama.

Dari administrator cluster, cluster group akan berada pada node kedua (secondary) jika node pertama (primary) mati maka akan terjadi failover dan semua resources secara otomatis gagal ke node kedua dan seterusnya. Periksa log event untuk setiap pesan kesalahan yang terjadi.

Berikut adalah penerapannya :

 Kondisi awal ke-3 server berjalan dengan baik.

 Server vofclsnodeA yang merupakan primary node di matikan (shutdown).

(6)

Secara otomatis maka server vofclsnodeB langsung mengambil alih peran dari vofclsnodeA (Perhatikan Gambar 50).

 Kemudian langkah selanjutnya, shutdown node vofclsnodeB. Maka secara langsung failover akan dijalankan dan mendukung server 3 menjadi primary node/server.

Gambar 51. Node 2 Shutdown, FailOver to Node 3

 Ketika akan mengembalikan primary node ke vofclsnodeA, pastikan node/server tersebut telah berjalan dengan baik. Ketika telah dipastikan, maka lakukan hal yang sama seperti diatas. Lakukan shutdown node vofclsnodeC. Dengan demikian maka node tersebut akan di failover menuju node vofclsnodeA.

(7)

 Memperhatikan hal diatas maka proses failover clustering service berjalan dengan baik dan tepat.

4. Pengujian Keempat : Break Network Connectivity

Konsep yang digunakan dalam pengujian ini sama dengan “Turn off each Node”. Kondisi yang ingin didapatkan adalah proses failover secara langsung dengan menggunakan isu network error.

Proses yang dilakukan adalah dengan meng-unplug kabel network. Hal ini mensimulasikan kesalahan pada primary node dan menginisiasi failover ke node berikutnya. Penerapannya sebagai berikut :

 Unplug kabel network di node pertama (primary node) yaitu vofclsnodeA (Gambar 53).

 Secara otomatis maka failover dilakukan ke secondary node yaitu vofclsnodeB. Sehingga saat ini vofclsnodeB menjadi primary node (Gambar 54).

 Unplug kabel network di node pertama (primary node) vofclsnodeB (Gambar 55)

 Secara otomatis maka failover dilakukan ke secondary node yaitu vofclsnodeC. Sehingga saat ini vofclsnodeC menjadi primary node (Gambar 56).

(8)

Gambar 53. Unplug Network Cable in Primary Node vofclsnodeA

(9)

Gambar 55. Unplug Network Cable in Primary Node vofclsnodeA

(10)

Bab VI

Penutup

Keberadaan teknologi informasi saat ini, memberikan kemampuan bagi setiap pihak didalamnya untuk melakukan pengembangan-pengembangan yang mendatangkan keuntungan baik secara financial maupun non financial. Kondisi ini didukung dengan semakin berkembang dan tersedianya resources bagi setiap pengembangan yang dilakukan. Demikian pula halnya dengan perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam financial sistem. Penerapan hal-hal baru agar tercipta suatu kondisi dan kemampuan sistem yang baik, sangat diharapkan keberadaannya.

Salah satu penerapan dan pengembangan yang dapat dilakukan adalah peningkatan performansi database sistem. Sehingga mampu menghasilkan data yang akurat dan mampu melayani kebutuhan sistem dalam pengolahan data secara tepat. Penerapan clustering basis data ditujukan agar sistem basis data mampu meningkatkan performansi, availability dan realibility bagi penggunanya. Hal ini dapat dilakukan dengan penerapan failover clustering. Failover clustering diterapkan dengan cara mengkomunikasikan beberapa server menjadi satu cluster. Hal ini menjadikan server-server tersebut berada dalam satu wilayah kerja dan saling memberikan support (dukungan). Penerapan failover clustering memperkecil isu koneksi yang rusak di sisi networking, server database yang down, dll, sehingga sistem basis data tetap mampu melayani kebutuhan sistem berupa pengolahan dan penyimpanan data.

Penerapan ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan akan database server yang lebih reliable, sehingga performansi sistem-sistem yang menggunakan media basis data sebagai media penyimpanan data tetap baik dan menghindari serta memperkecil peluang terjadinya kerusakan yang bersifat kritikal bagi pengguna sistem basis data.

(11)

Hasil yang diperoleh dari implementasi failover clustering baik segi kecepatan, kestabilan dan ketersediaan, yaitu :

 Kecepatan : Respon time ketika failover clustering melakukan aktifitasnya.  Kestabilan : Kemampuan server melayani kebutuhan request/permintaan

(data) dari user.

 Ketersediaan : Source database yang dimiliki, di-update secara bersamaan sehingga mampu melayani sistem secara realtime (data akurat).

6.1 Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan yang dapat diambil dari implementasi failover clustering adalah : a. Mengurangi downtime aplikasi terkait dengan kegagalan server dan perangkat

lunak dengan menghilangkan titik tunggal kegagalan di tingkat sistem dan aplikasi,

b. Memungkinkan untuk downtime sistem tanpa mempengaruhi ketersediaan, c. Dapat meningkatkan waktu respon karena meningkatnya beban pada server

atau kebutuhan untuk memperbaharui informasi pada atau dari beberapa server.

Saran yang perlu diperhatikan untuk mengembangkan penerapan implementasi failover clustering yaitu perlu adanya perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software) serta resources yang memadai dalam menerapkan implementasi failover clustering. Hal ini disarankan agar semua konfigurasi dapat berjalan dengan baik. Performansi dari implementasi failover clustering dipengaruhi oleh kecepatan bandwith. Hal ini perlu diperhatikan agar mendapatkan hasil yang maksimal (respon time saat failover dilakukan) dari implementasi failover clustering.

Gambar

Gambar 47. Langkah – langkah Move Group ke -1
Gambar 48. Perubahan Group Owner 1
Gambar 50. Node 1 Shutdown, FailOver to Node 2
Gambar 52. Node 3 Shutdown, FailOver to Node 1
+3

Referensi

Dokumen terkait

Suspensi pati yang telah diasamkan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam alat hidrolisis dan dihidrolisis dengan konsentrasi asam dan waktu hidrolisis yang bervariasi Tahap analisis

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut : “Apakah Pendekatan Saintifik Dengan Penggunaan Media

lansia yang depresi lebih banyak memperlihatkan kurangnya semangat dan minat serta lebih memilih untuk berdiam diri di dalam wisma atau panti daripada melakukan kegiatan dan

CCCTC-binding factor atau biasa disingkat dengan CTCF adalah protein yang memiliki banyak fungsi, di antaranya adalah sebagai insulator kromatin dan organisasi

Input analog atau analog pin adalah pin-pin yang berfungsi untuk menerima sinyal dari komponen atau rangkaian analog, contohnya potensiometer, sensor suhu, sensor cahaya,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motivasi petani dalam penerapan teknologi TABELA (Tanam Benih Langsung) dan untuk mengetahui hubungan motivasi petani terhadap

Hampir semua responden siswa dan guru yang memilih bertetangga dengan non muslim seperti Jimmy, Muallifah, Bayu, Zatun, Wahid, Bahit dan Afdan, dalam hal

Hasil dari penelitian ini adalah sebuah karya berupa aplikasi yang memuat konten-konten lokal dari Kotamobagu, dimana aplikasi ini memanfaatkan Firebase sebagai