BAB II KERANGKA TEORI. kerangka teori/tinjauan menurut para ahli yang berkkaitan dengan penelitian yang

14  14  Download (0)

Teks penuh

(1)

BAB II

KERANGKA TEORI

Supaya masalah dalam penelitian ini mudah dipahami, maka diperlukan kerangka teori/tinjauan menurut para ahli yang berkkaitan dengan penelitian yang diteliti, dapat dijelaskan sebagai berikut:

A. Pengertian Ma Ayun Bareh

Ma ayun bareh adalah sebuah ritual keagamaan yang dilaksanakan ketika ada masyarakat yang meninggal dunia. Ritual ini sudah menjadi sebuah tradisi bagi masyarakat petok. Dan tradisi ini sudah menjadi turun temurun bagi masyarakat Petok. Ma ayun bareh dilaksanakan ketika mayat masih disemayamkan di rumah. Akan tetapi, ma ayu bareh juga boleh dilaksanakan pada mendoa Hari Bilangan.

Tujuan dari ma ayun bareh adalah untuk membayar fidiah puasa dan fidiah sholat si mayat. Yang dimaksud dengan fidiah puasa dan fidiah sholat di sini adalah memperbaiki amalan puasa dan sholat si mayat. Agar si mayat membawa amalan yang cukup ketika dihisab di alam kubur.

Ma ayun bareh ini bertahan sejak dulu sampai sekarang. Bertahannya ma ayun bareh ini karena adanya fungsi yang sangat kuat yang tertanam pada diri masyarakat Petok. Fungsi itu adalah adaptasi dalam teori Talcon Person. Adaptasi menjadi media partisipai sehingga ma ayun bareh bisa bertahan sampai saat sekarang ini.

(2)

B. Tradisi

1. Pengertian Tradisi

Tradisi tidak bisa dilepaskan dari konteks kebudayaan. Setiap

kebudayan manusia pasti memiliki tradisi. Kebudayaan manusia memiliki transformasi nilai-nilai dari nenek moyang kepada cucunya yaitu dalam bentuk tradisi. Kebudayan adalah segala hal yang dimiliki oleh manusia, yang hanya diperolehnya dengan belajar dan menggunkan akalnya. Dengan demikian tidak ada masyarakat yang tidak memiliki kebudayan. Sebaliknya tidak ada kebudayaan tanpa masyarakat.1

Tradisi secara etimologi, tradisi berasal dari bahasa latin yaitu tradisio

yang berarti diteruskan atau kebiasaan. Dalam pengertian yang paling sederhana, dapat dipahami sebagai sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat biasanya dari suatu negara, kebudayaan, dan agama yang sama. Hal yang paling mendukung dari tradisi ini adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya, baik tertulis maupun lisan. Tradisi ini merupakan sarana untuk mengkaitkanmasa kini dengan masa depan yang berorientasi pada masa lalu dan waktunya berulang.2

Pengertian tradisi menurut Soekanto adalah suatu pola prilaku atau

kepercayaan yang telah menjadi bagian dari suatu budaya yang telah lama kenal sehingga menjadi adat istiadat dan kepercayaan yang secara turun

1 Reisisty Yenibra, Tradisi Serak Gulo Masyarakat Etnis India Kampung Keling Kota Padang,

Skripsi, (Padang: Perpustakaan Uin Imam Bonjol Padang), h.13

2 Damsar, Pengantar Sosiologi Ekonomi cet. Ke1 Ed Pertama,( Jakarta: Prenada Media Group, 2009), h.193

(3)

temurun. Tradisi pada hakikatnya adalah aktifitas kebudayaan yang bermaksud untuk memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah kebutuhan naluri manusia yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya.3

Manusia pada dasarnya memerlukan sesuatu bentuk kepercayaan kepada kekuatan ghaib. Kepercayaan itu akan melahirkan tata nilai guna menopang budaya hidupnya. Nilai-nilai itu kemudian terbentuk dalam sebuah tradisi yang diwariskan secara turun menurun dan sudah tertanam dalam sifat masyarakat. Oleh karena itu, tradisi sangatlah sulit berubahnya dan kalau berubah sangatlah lambat.4

Berbicara tentang tradisi, hubungan antara masa lalu dan masa kini haruslah lebih dekat. Tradisi mencakup kelangsungan masa lalu ke masa kini ketimbang sekedar menunjukkan fakta bahwa masa kini berasal dari masa lalu. Kelangsungan masa kini mempunyai dua bentuk yaitu material dan gagasan, atau objektif dan subjektif. Tradisi adalah kesamaan benda material dan gagasan yang berasal dari masa lalu namun benar-benar masih ada sampai saat ini, belum dihancurkan, dirusak, dibuang, atau dilupakan.5

Lebih khusus tradisi yang dapat melahirkan kebudayaan masyarakat

dapat diketahui dari wujud tradisi itu sendiri. Menurut koentjaraningrat, kebudayaan itu mempunyai paling sedikit tiga wujud, yaitu:

a. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya. Wujud tersebut

3 Dadang Supardan, Pengantar Ilmu sosiologi: sebuah kajian pendekatan struktural, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), h.207

4 Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia, (Jakarta: Rajawali Pres, 2007), h.55

(4)

menunjukkan wujud ide dari kebudayaan, sifatnya abstrak, tak dapat diraba, dipegang, ataupun difoto, dan tempatnya ada di alam pikiran warga masyarakat di mana kebudayaan yang bersangkutan hidup. kebudayaan ideal ini dapat disebut adat atau adat istiadat, yang tersimpan dalam tape, arsip dan komputer.

b. Wujud kebudayaan sebagai kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat. Wujud tersebut dinamakan sistem sosial, karena menyangkut tindakan dan kelakuan berpola dari manusia itu sendiri. Wujud ini bisa diobservasi, difoto, dan didokumentasikan karena dalam sistem sosial initerdapat aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi dan berhubungan serta bergaul satu dengan lainnya dalam masyarakat.

c. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Wujud kebudayaan yang terakhir adalah kebudayaan fisik. Kebudayaan fisik ini merupakan perwujudan kebudayaan yang bersifat konkret, dalam bentuk materi/artefak.6

2. Tujuan Tradisi

Adapun tujuan tradisi dalam masyarakat yaitu:

a. Menjadikan hidup manusia akan budaya dan nilai-nilai bersejarah. b. Menciptakan kehidupan yang harmonis.

6 Elly M. Setiadi dkk , Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Petmasalahan

(5)

Kedua tujuan tersebut akan terwujud apabila manusia menghargai, menghormati dan menjalankan suatu tradisi dengan baik dan benar sesuai dengan aturan.7

C. Fungsi

Menurut Rocher, fungsi adalah kumpulan kegiatan yang ditujukan

kepada pemenuhan kebutuhan tertentu atau kebutuhan sistem.8 Teori fungsionalis digagas oleh Talcont Person, yang asumsi dasar dari teori fungsional adalah segala sesuatu tercipta secara teratur. Pandangan teori fungsionalis berakar kuat kepada sosiologi keteraturan dengan pendekatan objektif. Penganut aliran ini, mengatakan bahwa masyarakat adalah suatu sistem yang terdiri atas bagian dan saling berkaitan (agama, pendidikan, struktur politik, sampai keluarga). Teori ini berkembang untuk menganalisis tentang struktur sosial masyarakat yang terdiri dari berbagai elemen yang saling terkait meskipun memiliki fungsi yang berbeda. Suatu prinsip utama dalam teori parson bahwa tindakan sosial itu diarahkan pada tujuannnya yang normatif.9

Menurut Talcot Parson, sistem sosial merupakan hubungan timbal balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok, yang bekerja sama dan menyatu untuk membentuk sebuah keseimbangan.10

7 Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi I, (Jakarta: UI-Press, 1981) cet.ke-2, h.190 8 Geogrge Ritzer dkk, Teori Sosiologi Modern, (Jakarta: kencana, 2008), h.121 9 Dadang Supardan, Op.Cit , h.125

10 Nanang Martono, Sosiologi Perubahan Sosial: Perspektif Klasik, Modern, Posmodern, dan

(6)

Talcot Parson memperkenalkan teori AGIL yaitu: Adaptation atau adaptasi (A), goal attainment atau pencapaian tujuan (G), integration atau integrasi (I) dan latent pattern maintenance atau pemeliharaan pola-pola (L)11, lebih lanjut akan diuraikan sebagai berikut:

1. Adaptation

Adaptation (Adaptasi) merupakan sistem sosial yang menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan menyesuaikan lingkungannya untuk kebutuhan. Sistem sosial ini harus aktif menyesuaikan diri dengan lingkungan luar, agar sistem sosial bisa berubah.12

2. Goal Attainment

Goal attainment (Pencapaian Tujuan) merupakan persyaratan fungsional yang diarahkan pada tujuan bersama di dalam suatu sistem sosial.13 Fungsi ini sangat penting, yaitu sistem harus memiliki, mendefinisikan, dan mencapai tujuan utama. Fungsi ini merupakan fungsi kepribadian.14 Fungsi ini mengatur hubungan antara masyarakat sebagai sistem sosial dan sub-sistem. Fungsi ini dilakukan oleh individu yang merupakan sumber daya dan tenaga untuk mencapai tujuan yang sama.15 3. Integration (Integrasi)

11 Geogrge Ritzer dkk, Op.Cit h.121 12 Dadang Supardan, Op.Cit, h. 154 13 Ibid, h.154

12

Abdulsyani, sosiologi Skematika Teori dan Terapan, ( Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2002), h. 131

13

Elly M.Setiadi, Op.Cit, h.31 14 Nanang Martono, Op.Cit, h.59 15 Abdulsyani,Op.Cit, h.132

(7)

Integration merupakan sebuah sistem harus mengatur dan menjaga hubungan antara satu dengan yang lain di dalam komponennya. Fungsi integrasi ini dijalankan oleh sistem sosial dengan mengendalikan bagian-bagian yang menjadi kompenennya. Menurut Talcot Parson, masyarakat merupakan sebuah sistem sosial yang saling bekerja sama, ketergantungan, mempengaruhi antar bagian yang menyatu dalam membentuk keteraturan dan keseimbangan. Jika salah satu bagian tidak berjalan sesuai dengan fungsinya, maka yang lain tidak berjalan.16

Menurut Alvin L Betrand , dalam buku sosiolgi skematika, teori, dan terapan, terdapat sepuluh unsur yang terkandung dalam sistem sosial yaitu sebagai berikut:

a. Keyakinan (Pengetahuan)

Keyakinan merupakan unsur sistem sosial yang dianggap sebagai pedoman dalam penerimaan pengetahuan pada masyarakat. Keyakinan ini secara praktis biasanya digunakan bagi kelompok masyarakat yang terbelakang pengetahuannya, sehingga dalam menilai suatu kebenaran dirumuskan melalui keyakinan bersama.17

b. Perasaan (Sentiment)

Perasaan menurut Alvin menunjuk bagaimana perasaan bagi anggota kelompok (sistem sosial) tentang hal-hal, peristiwa-peristiwa, serta tempat tertentu. Unsur-unsur perasaan sangat membantu pola tingkah laku seseorang, jika tidak bisa dijelaskan dengan cara-cara lain. Suatu

16 Nanang Martono Op.Cit, h.59 17 Abdulsyani, Op.Cit, h.126

(8)

keberhasilan seseorang ditentukan kepada unsur perasaan terhadap masing-masing anggota, karena jika di dalam anggota mempunyai dendam, maka tidak bisa bekerja sama antara satu dengan yang lain.18 c. Tujuan, Sasaran, atau Cita-cita

Tujuan, cita-cita atau sasaran merupakan pedoman bertindak agar program kerja yang telah ditetapkan dan disepakati bersama, dapat tercapai secara efektif.19

d. Norma

Norma sosial merupakan komponen sistem sosial yang dapat dianggap kritis untuk memahami tindakan manusia. Norma-norma mengambarkan aturan-aturan yang dapat memberikan petunjuk kepada pola tingkah laku. Misalnya, tentang kejujuran, tata tertib hukum, dan lain sebagainya. Alvin mengambarkan jika individu atau kelompok berpegang pada norma (aturan), maka interaksi dalam kelompok berlangsung dengan lancar sesuai ketetapan-ketetapan bersama.20

e. Status dan Peran

Status merupakan serangkaian tanggung jawab, kewajiban serta hak-hak yang sudah ditentukan dalam suatu masyarakat. Sedangkan pola tingkah laku yang diharapkan orang-orang pemangku status dinamakan peranan. Peranan sosial bekerja sama dengan status, sehingga saling

18 Ibid, h.126

19 Ibid, h.127 20Ibid, h.127

(9)

tunjang menunjang secara timbal balik dalam hal yang menyangkut tugas, hak dan kewajiban.21

f. Tingkatan atau Pangkat (Rank)

Tingkatan atau pangkat merupakan sistem sosial yang berfungsi menilai prilaku anggota kelompok. Maksudnya untuk memberikan kepangkatan (status) tertentu yang dianggap sesuai dengan prestasi-prestasi yang telah dicapai. Orang yang berhasil dalam melaksanakan tugasnya, bisa dinaikkan ke jenjang yang lebih tinggi, sehingga berbagai aktivitasnya nampak saling bergantungan antar mereka.22

g. Kekuasaan atau Pengaruh (Power)

Kekuasaan menunjuk pada kapasitas penguasaan seseorang terhadap anggota kelompok. Kekuasaan seseorang dalam mengawasi anggota kelompok bisa dilihat dari stastus yang dimiliki. Pengaruhnya sangat besar dalam pengambilan suatu keputusan, biasanya pemegang kekuasaan adalah orang yang bisa mempengaruhi anggota kelompoknya. Dalam analisis sistem sosial, suatu kekuasaan merupakan patokan bagi para anggota suatu kelompok dalam menerima berbagai tugas dan perintah.23 h. Sanksi 21Ibid, h. 127 22Ibid, h.128 23 Ibid, h.128

(10)

Sanksi merupakan ancaman hukum yang biasanya ditetapkan oleh masyarakat terhadap para anggota yang melanggar norma-norma sosial kemasyarakatan agar mereka bisa mematuhi norma-norma yang berlaku.24 i. Sarana atau Fasilitas.

Secara umum sarana dimaksudkan sebagai cara yang digunakan untuk mencapai tujuan dari sistem sosial. Yang paling penting dari unsur sarana adalah terletak dari kegunaannya bagi suatu sistem sosial. Dalam analisis sistem sosial pada prinsipnya mengutamakan fungsi dari suatu sarana agar dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.25

j. Tegangan Ketegangan (Strees-Strain)

Dalam sistem sosial senantiasa terjadi ketegangan, sebab dalam kehidupan masyarakat tidak ada satupun anggotanya yang mempunyai penafsiran yang sama dalam menghadapi suatu masalah. Ketegangan itu terjadi karena adanya konflik dalam peranan sebagai akibat dari proses sosial yang tidak merata. Jika dalam suatu sistem sosial dapat tumbuh dan berkembang dengan langgeng, itu karena tingkat toleransi di antara anggota relatif tinggi, karena pencapaian tujuan dari kelompok-kelompok tersebut.26

Secara garis besar, unsur-unsur sistem sosial pada masyarakat merupakan ketergantungan antara satu dengan yang lain dalam suatu keseluruhan. Dalam ketergantungan itu, masyarakat bersatu yang bersifat lebih kekal dan stabil. Selama masing-masing individu dalam kelompok

24 Ibid, h.128 25 Ibid, h.128 26 Ibid, h.129

(11)

saling ketergantungan antara satu dengan yang lain, maka selama itu pula unsur-unsur sistem sosial menjalankan fungsinya. Secara lebih rinci bahwa unsur-unsur sistem sosial dalam masyarakat adalah status, peranan, dan perbedaan sosial yang saling berhubungan dalam suatu struktur sosial.

Status sangat erat hubungannya dengan peranan. Peranan seseorang dilakukan sebesar hak dan kewajibannya yang diatur dalam status. Pelaksanaan hak dan kewajiban itu berdasarkan norma-norma sosial yang dianggap sebagai pengawal perikelakuan individu-individu agar sesuai dengan status yang dimiliki.27

4. Laten Pattern Maintenance (Pemeliharaan Pola-pola)

Sasaran akhir dari sebuah sistem adalah terpeliharanya model-model dan norma-norma. Laten pattern dijalankan oleh sistem kultur dengan menyediakan aktor seperangkat norma dan nilai yang menjadi motivasi dalam bertindak. Nilai dihubungkan dengan apa yang diinginkan manusia sehingga membentuk pola tingkah laku manusia, sedangkan norma diciptakan dalam rangka mempertahankan suatu nilai tertentu.

Parson membayangkan kultur sebagai kekuatan utama yang mengikat berbagai unsur dunia sosial. Menurut istilahnya sendiri, kultur merupakan kekuatan utama, yang mengikat sistem tindakan. Kultur menengahi interaksi antar aktor, menginteraksikan kepribadian, dan menyatukan sistem sosial. Di dalam sistem sosial, sistem diwujudkan dengan norma, nilai, sedangkan sistem kepribadian dimasukkan budaya

27Ibid, h.130

(12)

melalui aktor sehingga masyarakat terpengaruh. Namun sistem kultural tak semata-mata menjadi bagian sistem yang lain, ia juga mempunyai keberadaan yang terpisah dalam bentuk pengetahuan, simbol-simbol dan gagasan.28

D. Tokoh

Dalam membahas tentang sejarah maka akan berbicara tentang kapan

terjadinya, di mana terjadinya, siapa tokohnya, bagaimana proses terjadinya, apa yang terjadi, dan kenapa bisa terjadi. Dalam setiap penyebaran agama pasti memiliki yang namanya tokoh yang menyebarkan agama tersebut.

Bila berbicara mengenai teori aktor, kita tidak asing lagi dengan

Anthony Giddens “ human agents or actor I use term interchangeably-haave, as inherent of what they do, the capacity to understand what they do while they do while they do it. The reflexife of human actor are characteristically inloved in continuous manner whith the flow of day conduct in the contexts of sosial activity.29

Menurut Anthonay Giddens, agen atau aktor memiliki aspek inheren,

tentang apa yang mereka lakukan dan kapasitas untuk memahami apa yang mereka lakukan sambil mereka melakukan sesuatu. Menurutnya makna agen hampir sama dengan individu, tetapi agen lebih menunjuk pada watak individu aktif. Setiap manusia merupakan agen yang memiliki tujuan, karena sebagai individu ia memiliki dua kecenderungan yaitu memiliki tujuan dan

28 George Ritzet dan Dauglas, J. Goodman, Op.Cit, h.130

29 Novi S. Nur, “Tradisi Perayaan Muluik Nabi Muhammad SAW di Korong Kampung Bendang Nagari Sungai Sariak Kabupaten Padang Pariaman, skripsi, (Padang: perpustakaan UIN IB, 2015), h. 14

(13)

alasan terhadap tindakannya. Kemudian menggabungkan alasan ini secara terus menerus serta bertindak sesuai dengan tujuannya.30

Agen terus menerus memonitor pemikiran dan aktivitas mereka sendiri

serta aktivitas orang lain dan mengharapkan pihak lain bertindak seperti dirinya, mereka juga rajin memonitor aspek-aspek fisik dan sosial dari konteks tempat mereka bergerak. Hal ini dilakukan dalam rangka mencari perasaan aman, dengan usaha merasionalkan tindakan secara rutin dan berlaku tanpa tumpang tindih sehingga tujuan mereka yang dianggap rasional dapat tercapai.

Berdasarkan uraian di atas, yang disebut dengan aktor adalah individu

yang melakukan tindakan atau aktivitas untuk mengusai bidang tertentu dalam masyarakat sehingga dia mendapat posisi dan memiliki pengaruh dan kekuasaan. Hal ini dilakukan secara berulang-ulang dengan tujuan untuk menciptakan struktur sosial sesuai dengan keinginan mereka, serta memaksakan pihak lain agar mengikuti aktivitasnya, secara sadar dan masuk akal, serta menyatakan eksistensi dirinya.

Dari aktivitas yang dilakukan oleh aktor dalam menjalankan peran dan

fungsinya, penulis menganalisa melalui teori fungsionalisme oleh Robert K. Mertoon, yaitu cara yang dapat dipergunakan dalam menghubungkan makna kepada sesuatu menurut akibat yang dihasilkannya, dengan cara menitikberatkan perhatian untuk mengeksplorasi prilaku, relasi dan aktivitas dari sebuah struktur dibandingkan dengan subtansi atau

30 Ibid, h.14

(14)

perlengkapan subtansi tersebut. Teori ini lebih terfokus untuk melihat tubuh atau struktur sosial yang merupakan perangkat dari sebuah sistem hanya bisa dipahami dalam hubungannya dengan peristiwa atau relasi lainnya.31

Artinya setiap tindakan yang dilakuan aktor meskipun tidak dapat dilihat secara jelas tujuannya, maka fungsinya dapat dilihat dan dianalisa.

31 Ibid, h.16

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :