BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR. Dalam bab ini, peneliti menjelaskan berbagai teori yang terkait dengan masalah yang

Teks penuh

(1)

11

Dalam bab ini, peneliti menjelaskan berbagai teori yang terkait dengan masalah yang dikaji, antara lain teori mengenai penerjemahan, subtitling dan istilah tabu. Selain itu, peneliti juga menjabarkan kerangka pikir yang akan memudahkan pembaca dalam memahami mekanisme analisis dalam penelitian ini.

A. Kajian Teori 1. Penerjemahan

a. Pengertian Penerjemahan

Banyak acuan yang dapat digunakan ketika kita ingin mengetahui arti dari penerjemahan. Secara umum, penerjemahan dapat diartikan sebagai proses pengalihan pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Menurut Larson (1998:3), penerjemahan didefinisikan sebagai suatu aktivitas pengalihan bahasa sumber ke bahasa sasaran.

Sementara itu, Newmark mengemukan bahwa “translation is rendering the meaning of a text into another language in the way that the author intended the text” (1988:5). Newmark memberikan pemahaman mengenai pengalihan pesan dalam kegiatan penerjemahan. Dalam kegiatan penerjemahan, seorang penerjemah harus mengetahui maksud penulis dari teks asli (teks BSu). Senada dengan penyataan tersebut, Brislin (1976:1) memaparkan penerjemahan sebagai:

“The general term referring to the transfer of thoughts and ideas from one language (source) to another (target) whether the languages are in written or oral

(2)

form, whether the languages have established orthographies or not; or whether one or both languages is based on signs, as with signs of the deaf.”

Dengan kata lain, penerjemahan bukan hanya suatu proses pengalihan bahasa saja tetapi juga merupakan proses pengalihan ide, pikiran atau gagasan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran, baik secara tertulis maupun lisan.

Kemudian, Nida dan Taber (1982: 12) mengungkapkan bahwa “translation consists of reproducing in the receptor language the closest natural equivalence of the source language message, first in terms of meaning and secondly in terms of style.” Dari definisi tersebut, Nida dan Taber memaparkan bahwa penerjemahan merupakan kegiatan menghasilkan kembali di dalam bahasa sasaran, pesan yang sedekat-dekatnya dan sewajarnya, sepadan dengan pesan dalam bahasa sumber, pertama menyangkut maknanya dan kedua menyangkut gaya. Nida dan Taber menyebutkan bahwa gaya juga menjadi aspek penting dalam penerjemahan. Yang dimaksud dengan gaya disini adalah gaya bahasa. Sehubungan dengan pernyataan yang dikemukan oleh Nida dan Taber, pendapat tersebut diperkuat oleh Nababan (2003: 20) bahwa konsep dalam penerjemahan meliputi:

Pertama, suatu konsep dapat diungkapkan dalam dua bahasa yang berbeda. Kedua, setiap pesan yang dialihkan pasti diungkapkan atau diwujudkan dalam bentuk bahasa baik secara lisan dan tertulis. Ketiga, gaya bahasa terjemahan merupakan salah satu aspek penting yang perlu dipertimbangkan dalam setiap kegiatan menerjemahkan.

Nababan (2003: 21) menambahkan bahwa gaya bahasa yang dimaksud dalam konteks penerjemahan lebih ditekankan pada tataran makro. Walaupun gaya bahasa

(3)

menjadi salah satu aspek penting, kesepadanan makna tetap menjadi prioritas yang harus didahulukan dalam kegiatan penerjemahan.

Dari beberapa pendapat yang diungkapkan oleh para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa penerjemahan adalah suatu proses pengalihan pesan dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran dengan memperhatikan kesepadanan makna.

b. Teknik Penerjemahan

Dalam menerjemahkan suatu teks, seorang penerjemah sering menghadapi kesulitan yang berhubungan dengan perbedaan linguistik dan budaya yang terdapat dalam bahasa sumber dan bahasa sasaran. Kesulitan tersebut dapat diatasi dengan menggunakan strategi penerjemahan. Hurtado Albir (dalam Molina & Albir, 2002: 508) menyatakan bahwa:

“Strategies are the procedures (conscious or unconscious, verbal or non-verbal) used by translator to solve the problems that emerge when carrying out the translation process with a particular objective in mind. Translator uses strategy for comprehension (e.g. distinguish main and secondary ideas, establish conceptual relationship, search for information) and reformulation (e.g. paraphrase, retranslate, say out loud, avoid words that are close to the original).”

Dengan kata lain, strategi dapat digunakan oleh seorang penerjemah untuk mengatasi kesulitan yang ia hadapi dalam menerjemahkan suatu teks. Strategi diterapkan sebagai bagian dari proses penerjemahan yang menghasilkan produk terjemahan. Sementara itu, teknik penerjemahan merupakan suatu realisasi dari penerapan strategi penerjemahan yang dapat diamati melalui produk terjemahan.

(4)

Molina dan Albir (2002: 499) menjelaskan bahwa teknik penerjemahan dapat membantu menemukan dan mendeskripsikan prosedur atau cara yang digunakan oleh seorang penerjemah dalam tataran mikro suatu teks. Tataran mikro yang dimaksud adalah kata, frasa, klausa dan kalimat. Terdapat lima karakteristik di dalam teknik penerjemahan, sebagai berikut:

1) Berpengaruh terhadap hasil terjemahan.

2) Dikategorikan dengan melakukan perbandingan antara teks bahasa sumber dengan teks bahasa sasaran.

3) Berpengaruh terhadap tataran mikro dalam teks. 4) Bersifat diskursif dan kontekstual.

5) Bersifat fungsional.

Dalam artikel yang berjudul Translation Technique Revised: A Dynamic and Functionalist Approach, Molina dan Albir (2002) mengemukakan beberapa teknik penerjemahan, yaitu:

1) Adapatasi (Adaptation)

Adaptasi adalah teknik penerjemahan yang dilakukan dengan mengganti istilah-istilah budaya dalam bahasa sumber menjadi istilah-istilah yang lebih familiar dalam bahasa sasaran. Istilah yang ada pada bahasa sumber dan bahasa sasaran ini haruslah memiliki konsep yang sama sehingga tidak menghilangkan makna yang dimaksud penulis. Contoh penggunaan teknik adaptasi sebagai berikut:

BSu : Timlo goreng ini sangat enak.

(5)

Penerjemah memilih menerjemahkan timlo menjadi springroll karena lebih dikenal dalam budaya pembaca dan konsepnya mirip dengan bahasa sumber.

2) Amplifikasi (Amplification)

Teknik amplifikasi dilakukan dengan memparafrase atau mengeksplisitkan informasi yang implisit dalam bahasa sumber. Teknik ini menghasilkan suatu terjemahan yang dapat dipahami oleh pembaca sasaran karena informasi yang implisit di dalam bahasa sumber dapat diberikan penjelasan yang lebih lengkap. Contoh teknik amplifikasi:

BSu : Mereka sedang membaca Al-Quran BSa : They are reading Muslim’s holy book 3) Peminjaman (Borrowing)

Teknik peminjaman dilakukan dengan menggunakan istilah asing yang ada pada bahasa sumber. Teknik ini terdiri dari dua macam, yakni peminjaman murni (pure borrowing) dan peminjaman yang sudah dinaturalisasi (naturalized borrowing)

Peminjaman murni dilakukan apabila tidak ada padanan yang sesuai di bahasa sasaran dan istilah asing tersebut sudah banyak dikenal oleh pembaca sasaran. Tidak ada perubahan apapun terhadap istilah yang dipinjam. Contoh:

BSu : They really love eating “Supreme Family” pizza in the Pizza Hut BSa : Mereka sangat gemar makan pizza “Supreme Family” di Pizza Hut

Dalam menerjemahkan kata pizza, penerjemah meminjam kata tersebut dengan menerapkan teknik peminjaman murni. Sementara itu, peminjaman yang sudah dinaturalisasi dilakukan dengan menyesuaikan ejaan istilah asing yang dipinjam dengan

(6)

ejaan bahasa sasaran. Contoh peminjaman yang sudah dinaturalisasi adalah sebagai berikut:

BSu : Rain has become a popular celebrity recently. BSa : Baru-baru ini Rain menjadi selebriti terkenal. 4) Kalke (Calque)

Kalke adalah teknik penerjemahan kata atau frasa secara literal. Contoh teknik kalke adalah sebagai berikut:

BSu : Prime Minister BSa : Perdana Menteri

5) Kompensasi (Compensation)

Teknik kompensasi dilakukan untuk mengalihkan pesan dalam bahasa sumber yang mengandung unsur-unsur stilistika. Teknik ini biasanya digunakan untuk menerjemahkan karya-karya sastra. Contoh teknik ini adalah sebagai berikut:

BSu : enter, stanger, but take heed of what awaits the sin of greed

BSa :masuklah, orang asing, tetapi berhati-hatilah terhadap dia yang harus ditanggung orang serakah

(Novalinda, 2009:34)

6) Deskripsi (Description)

Teknik penerjemahan ini digunakan untuk menerjemahkan istilah asing dalam bahasa sumber dengan memberikan penjelasan mengenai bentuk dan fungsi dari istilah tersebut.

Contoh 1:

BSu : Long time ago, papyrus is a well known media to write a vital manuscript BSa : Dahulu kala, papyrus (sejenis kertas yang digunakan di zaman Mesir

(7)

Contoh 2:

BSu : I eat kebab

BSa :Saya makan makanan khas Korea yang terbuat dari nasi yang di campur dengan berbagai bumbu dan digulung dengan rumput laut.

Dalam contoh di atas, kata papyrus diterjemahkan menjadi papyrus (sejenis kertas yang digunakan di zaman Mesir Kuno) dan kebab diterjemahkan menjadi makanan khas Korea yang terbuat dari nasi yang dicampur dengan berbagai bumbu dan digulung dengan rumput laut. Teknik ini diterapkan dengan membubuhkan penjelasan mengenai deskripsi dari papyrus dan kebab.

7) Kreasi Diskursif (Discursive Creation)

Teknik ini menunjukkan pengaplikasian teknik dengan pemadanan yang tak terduga dan bahkan lepas konteks. Teknik kreasi diskursif biasa dipakai untuk menerjemahkan judul buku atau film. Contoh:

BSu : Crunching Munching Caterpillar BSa : Ulat Yang Suka Makan

8) Padanan Lazim (Established Equivalent)

Teknik ini digunakan dengan menyertakan istilah yang lazim digunakan sehari-hari yang ada di dalam kamus bahasa sasaran. Contoh:

BSu : Pemimpin Perjalanan K.A BSa : Train Dispatcher

(8)

9) Generalisasi (Generalization)

Teknik generalisasi digunakan dengan mengganti istilah-istilah yang sulit dipahami dengan istilah-istilah yang lebih umum. Contoh penggunaan teknik ini adalah sebagai berikut:

BSu : PAM Polsuska BSa : Security

10) Amplifikasi Linguistik (Linguistic Amplification)

Amplifikasi linguistik menambahkan unsur-unsur linguistik ke dalam bahasa sasaran. Teknik ini banyak diterapkan pada sulih suara (dubbing) dan penerjemahan lisan model konsekutif (consecutive interpreting).

BSu : Yes, I do

BSa : Ya. Saya menyukai keduanya.

11) Kompresi Linguistik (Linguistic Compression)

Teknik ini digunakan untuk memampatkan unsur linguistik yang ada pada bahasa sumber sehingga terjemahan menjadi lebih ringkas tetapi tetap mampu mengakomodir makna yang diinginkan penulis. Biasa diterapkan pada subtitling dan penerjemahan lisan model simultan.

BSu : Could you repeat your statement? BSa : Mohon diulang.

12) Penerjemahan Literal (Literal Translation)

Teknik penerjemahan literal adalah teknik penerjemahan kata demi kata. BSu : I eat bread in the dining room

(9)

13) Modulasi (Modulation)

Modulasi merupakan perubahan sudut pandang, fokus, maupun kategori kognitif teks bahasa sumber. Perubahan terjadi pada tataran leksikal maupun struktural. Contoh modulasi adalah sebagai berikut:

BSu : I let my hair cut in Rudy Hadisuwarno saloon, yesterday. BSa :Saya potong rambut di salon Rudy Hadisuwarno, kemarin. 14) Partikularisasi (Particularization)

Teknik partikularisasi merupakan kebalikan dari teknik generalisasi. Istilah-istilah yang umum yang ada di dalam bahasa sumber digantikan dengan Istilah-istilah yang lebih konkret. Contoh:

BSu : Dibawah tinggi min. wajib didampingi BSa : Under 90 cm must be accompanied 15) Reduksi (Reduction)

Teknik ini bertujuan memadatkan informasi yang ada di dalam bahasa sumber dengan cara mengimplisitkan informasi tersebut, maupun menghilangkan informasi yang ada secara keseluruhan. Contoh:

BSu : Batik dengan mansa cerah merupakan salah satu cirri khas batik Kota Pekalongan

BSa : A bright-colored batik is one of the characteristics of batik from Pekalongan 16) Substitusi (Substitution)

Teknik ini digunakan dengan cara mengubah unsur linguistik atau paralinguistik (intonasi, gerak tubuh) dan sebaliknya. Contoh penerapan teknik ini dapat digunakan dalam penerjemahan lisan (interpreting), ketika pembicara asal meletakkan tangannya

(10)

di dadanya maka interpreter menerjemahkan gerakan tersebut dengan ucapan “terima kasih”.

17) Transposisi (Transposition)

Transposisi merupakan teknik penerjemahan dengan mengubah susunan kalimat atau menggeser kelas kata atau satuan lingual. Pengubahan susunan kata harus dilakukan oleh penerjemah dikarenakan struktur bahasa yang berbeda antara bahasa sumber dan bahasa sasaran. Sementara itu, penggeseran kategori dilakukan jika perlu dilakukan. Contoh dari transposisi:

Contoh 1:

BSu : Orang dewasa harus didampingi oleh anak-anak/pemain BSa : Adult must be accompanied by a child/player

Ada perubahan bentuk dari jamak menjadi tunggal. Hal tersebut dapat terlihat dari kata anak-anak yang bentuknya jamak diterjemahkan menjadi child.

Contoh 2: BSu : Loket

BSa : Ticket counter

Ada perubahan rank unit dari kata menjadi frasa. Loket yang merupakan kata diterjemahkan menjadi ticket counter yang merupakan sebuah frasa.

18) Variasi (Variation)

Teknik variasi dilakukan dengan mengubah unsur linguistik atau paralinguistik dengan yang mempengaruhi variasi bahasa. Biasa diterapkan pada penerjemahan teks drama. Contoh:

(11)

BSu : I do not care about you. BSa : Gue nggak peduli sama lu

c. Kualitas Terjemahan

Para penerjemah diharapkan dapat memberikan suatu teks terjemahan yang baik untuk kalangan pembaca sasaran. Aspek-aspek yang menjadi prioritas utama bagi para penerjemah dalam menghasilkan terjemahan yang baik adalah keakuratan, keberterimaan dan keterbacaan. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Nababan dkk (2012: 41) bahwa terjemahan dapat dikatakan baik jika: 1) teks terjemahan akurat dari isinya (pesan yang terkandung dalam terjemahan harus sesuai dengan pesan dalam teks sumber), 2) teks terjemahan diungkapkan sesuai dengan kaidah, norma dan budaya yang berlaku dalam bahasa sasaran, dan 3) teks terjemahan mudah dipahami oleh pembaca sasaran. Akan tetapi, tidak jarang para penerjemah berada dalam suatu situasi yang mengharuskan mereka lebih mengutamakan salah satu dari ketiga aspek tersebut dan mengorbankan aspek yang lainnya.

1) Keakuratan (Accuracy)

Penerjemahan merupakan kegiatan pengalihan pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Yang memegang peranan penting dalam kegiatan tersebut adalah penerjemah. Seorang penerjemah harus mengalihkan keseluruhan pesan yang ada di dalam bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran agar dapat menghasilkan terjemahan yang akurat. Hasil terjemahan harus dapat mengakomodir ide dan pemikiran penulis sehingga pesan yang disampaikan penulis dapat tersampaikan oleh penerjemah.

(12)

Keakuratan merupakan suatu istilah dalam penilaian kualitas terjemahan yang merujuk pada kesepadanan antara pesan bahasa sumber dengan pesan dalam bahasa sasaran (Shuttleworth & Cowie, 1997: 3). Oleh karena itu kesepadanan makna merupakan hal yang utama. Bentuk kebahasaan dapat berbeda tetapi makna yang terkandung di dalam bahasa sumber harus tetap dipertahankan.

2) Keberterimaan (Acceptability)

Keberterimaan suatu terjemahan berkaitan erat dengan kaidah dan norma budaya sasaran. Nababan dkk (2012: 44) menjelaskan bahwa “istilah keberterimaan merujuk pada apakah suatu terjemahan sudah diungkapkan sesuai dengan kaidah-kaidah, norma dan budaya yang berlaku dalam bahasa sasaran atau belum, baik pada tataran mikro maupun pada tataran makro”. Hasil terjemahan harus natural dan sesuai dengan budaya dan norma yang ada di dalam bahasa sasaran.

Finlay (1971: 2) mengatakan bahwa “ideally the translation should give sense of original in such way that the reader unware that he is reading a translation. Dengan kata lain, produk terjemahan dapat dikategorikan sebagai terjemahan yang berterima apabila sebuah terjemahan menghasilkan produk terjemahan yang terasa alami (tidak terasa seperti terjemahan) untuk pembaca sasaran.

3) Keterbacaan (Readability)

Keterbacaan merupakan aspek kualitas terjemahan yang ketiga. Terjemahan yang baik adalah terjemahan yang mudah dipahami oleh pembaca sasaran karena pada

(13)

akhirnya teks terjemahan akan dibaca oleh pembaca sasaran. Hal tersebut dikarenakan pembaca sasaran ialah orang-orang yang tidak dapat memahami bahasa sumber.

Ricard, dkk (dalam Nababan, 2003: 62) mengungkapkan bahwa “readability is how easily written materials can be read and understood”. Keterbacaan tidak bisa dilepaskan dari aktivitas membaca (Nababan, 2003: 61). Nababan juga menjelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi keterbacaan suatu terjemahan. Faktor-faktor itu adalah pemilihan diksi, penggunaan kata-kata asing dan penggunaan kata taksa. Faktor lainnya adalah kelengkapan suatu kalimat. Kompetensi yang dimiliki penerjemah juga mempengaruhi kualitas terjemahan dalam aspek keterbacaan (2003: 64-78).

Ketiga aspek yang telah dipaparkan di atas memiliki bobot nilai yang berbeda. Nababan dkk (2012: 52) mengatakan bahwa aspek keakuratan memiliki bobot yang paling besar (bobot nilai 3). Hal tersebut karena keakuratan merupakan unsur yang paling utama dan dapat didasarkan pada konsep dasar penerjemahan adalah proses pengalihan pesan di dalam bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Walaupun keakuratan merupakan unsur yang paling utama, keberterimaan juga tidak kalah pentingnya. Oleh karena itu, keberterimaan berada dibawah keakuratan dengan bobot nilai 2. Terjemahan yang dihasilkan harus sesuai dengan kaidah dan norma budaya bahasa sasaran. Hal tersebut dilakukan agar terjemahan terdengar alamiah dan tidak kaku. Dalam beberapa kasus tertentu dapat dikatakan bahwa terjemahan yang kurang berterima juga tergolong sebagai terjemahan yang kurang akurat karena aspek keberterimaan berpengaruh pada aspek keakuratan. Bobot terendah dengan nilai 1 ditempati oleh aspek keterbacaan. Aspek ini memiliki bobot terendah karena

(14)

penerjemahan tidak berhubungan langsung dengan tingkat pemahaman pembaca sasaran. Namun demikian, pembaca sasaran tidak memiliki akses ke bahasa sumber, diharapkan penerjemah dapat menjadi mediator yang mampu menghasilkan terjemahan yang mudah dipahami oleh pembaca sasaran.

2. Subtitling

Shuttleworth dan Cowie (1997: 161) mendefinisikan subtitling sebagai “process of providing synchronized captions for film and televisions dialogue (and more recently for live opera).” O’ Connel (2007: 167) menjelaskan bahwa “subtitling is defined as supplementing the original voice soundtrack by adding written text”. Sementara itu, Cintas dan Anderman mengungkapkan bahwa subtitling merupakan penerjemahan audiovisual yang menghasilkan terjemahan tertulis yang biasa diletakkan di bagian bawah tengah layar dengan tujuan menyampaikan dialog behasa sumber (2009: 5). Dari ketiga pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa subtitling merupakan penerjemahan audiovisual yang berwujud written translation, yang muncul secara sinkron dengan bahasa sumber berupa dialog yang diucapkan.

Subtitling memiliki beberapa keterbatasan, yaitu ruang dan waktu. Adanya beberapa keterbatasan tersebut, Karamitroglou (1998) menentukan beberapa standarisasi sehingga tidak ada kerancuan dalam memahami terjemahan yang berbentuk subtitle. Standarisasi tersebut terdiri dari:

(15)

a. Layout

Posisi subtitle berada di bagian tengah bawah layar. Standarisasi yang banyak dipakai mewajibkan subtitle maksimal terdiri dari dua baris saja dengan karakter per baris tidak boleh melebihi 35 karakter. Warna font putih atau kuning muda.

b. Waktu

Berkaitan dengan ini, waktu kemunculan subtitle juga harus diperhitungkan. Karamitroglou (1998) menjelaskan bahwa subtitle bagi penonton dengan usia 14-65 tahun setidaknya tayang 5,5 detik untuk teks dua baris yang terdiri dari 14-16 kata. Untuk satu baris yang terdiri dari 7-8 kata tayang 3,5 detik.

c. Tanda baca dan abjad

Awal percakapan ditandai dengan penggunaan huruf kapital. Selain itu, standarisasi tanda baca juga penting untuk memudahkan penonton dalam memahami terjemahan yang dihasilkan. Tanda tiga titik (…) untuk percakapan panjang yang disertakan pada teks lanjutan pada percakapan selanjutnya. Tanda titik (.) menandakan percakapan sudah berakhir. Dalam pergantian dialog, subtitler dapat menggunakan tanda dash (-) atau garis miring (/). Kemudian, tanda tanya (?) untuk kalimat tanya dan tanda seru (!) untuk kalimat perintah.

d. Suntingan teks sasaran

Dalam menyunting teks sasaran, terdapat beberapa aspek yang diharapkan diikuti oleh subtitler, yaitu sebagai berikut:

1) Penataan teks dua baris panjang baris pertama dan kedua harus sama atau selaras.

(16)

2) Kemunculan subtitle dan dialog yang diucapkan oleh karakter dalam film harus muncul bersamaan.

3) Keterbatasan karakter tulisan mengharuskan subtitler mengubah teks yang berbentuk klausa atau kalimat menjadi lebih singkat.

4) Untuk menghemat ruang, penggunaan akronim, apostrof, numerik dan simbol dapat diaplikasikan.

Secara teknis, subtitle dapat dibagi menjadi dua jenis (O’Connell, 2007: 125-126) sebagai berikut:

a. Closed Subtitle

Subtitle bersifat opsional yang dapat dimunculkan dan dihilangkan sesuai keinginan penonton. Subtitle ini digunakan untuk memfasilitasi para penyandang tuna rungu dalam memperoleh informasi.

b. Opened Subtitle

Penerjemahan yang tidak dapat dihilangkan karena sudah menjadi satu dengan tayangan yang bersangkutan.

Sementara itu, Gottlieb (2004) mengklasifikasikan subtitle menjadi dua jenis berdasarkan aspek linguistik, yaitu sebagai berikut:

a. Intralinguistik

Subtitle jenis ini dibuat sesuai dengan bahasa sumbernya dengan tujuan hanya untuk menuangkan informasi lisan dalam bentuk teks tertulis. Bahasa sumber tidak dialihkan ke dalam bahasa sasaran.

(17)

b. Interlinguistik

Subtitle disuguhkan dengan melibatkan dua bahasa, yaitu bahasa sumber dan bahasa sasaran. Tutur kata yang diucapkan oleh setiap karakter dialihkan ke dalam bahasa sasaran dengan bentuk teks tertulis.

Pada era sekarang ini, seiring berkembangnya teknologi, subtitle dapat diunduh dengan gratis di internet yang dihasilkan oleh para penerjemah amatir. Subtitle ini disebut dengan subtitle amatir. Munculnya subtitle amatir bermula dari fansub di tahun 1980-an (Bogucki, dalam Cintas & Anderman, 2009: 49-57). Jika dalam subtitle resmi terdapat standarisasi yang menjadi konvensi bagi para subtitler, penerjemah amatir tidak memiliki standarisasi tertentu. Pada dasarnya pembuatan subtitle resmi; subtitle yang ada pada VCD atau DVD resmi, televisi, dan bioskop; dan subtitle amatir memiliki tujuan yang sama yaitu membuat karya audiovisual yang diterjemahkan yang dapat membantu penonton sasaran untuk memahami arti dan isi cerita pada suatu film.

3. Istilah Tabu

a. Pengertian Istilah Tabu

Bertaut dengan kata “tabu”, Allan dan Burridge (2009: 983) menyatakan bahwa kata tabu merupakan pinjaman kata yang berasal dari Tongan. Kata “tabu” masuk ke dalam bahasa Inggris sekitar pengujung abad ke-18. Dalam konteks itu, tabu merujuk pada perbuatan yang dilarang dan larangan menyebutkan nama binatang yang berbahaya, larangan atas makanan, larangan membicarakan kelompok masyarakat

(18)

tertentu dan larangan yang melibatkan kelahiran, kematian dan menstruasi. Dalam Oxford Dictionary (2005: 421), tabu adalah sesuatu yang dilarang dan hal tersebut melarang norma agama dan adat istiadat di dalam suatu masyarakat. Sejalan dengan pendapat yang diungkapkan oleh Trudgill (1983: 94), tabu adalah “something which is forbidden, because it’s against the religion or social custom”.

Berdasarkan definisi di atas, tabu mengacu pada sesuatu yang dilarang. Dalam konteks tersebut, Trudgill (dalam Rosidin, 2010: 18) menjelaskan bahwa tabu diyakini sebagai perilaku yang dilarang secara supranatural atau dipandang sebagai tindakan yang amoral. Sebagai sebuah konsep, tabu memiliki pengertian yang sangat luas. Berkenaan dengan keberadaan tabu dalam masyarakat, Akmajin (1998: 322) menyatakan bahwa tabu adalah kata-kata yang tidak pantas untuk diucapkan di dalam masyarakat, dan penggunaan kata tabu sebaiknya kita hindari di dalam pergaulan di masyarakat. Senada dengan Akmajin, Wardaugh (1986: 87) juga mengemukakan bahwa tabu adalah sebuah tindakan yang dikategorikan sebagai pelecehan atau penghinaan di dalam sebuah masyarakat. Allan dan Burridge menambahkan bahwa tabu merujuk pada sanksi sosial yang dianggap kasar dalam konteks tertentu (2006: 237).

Perilaku tabu dapat ditunjukkan tidak hanya melaui penggunaan kata-kata kasar, tetapi juga dapat ditunjukkan melalui perbuatan atau tindakan yang melanggar norma dan adat istiadat dalam suatu masyarakat. Oleh karena itu, tabu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) tabu perbuatan, sebagai contoh: larangan terhadap hubungan sedarah dan (2) tabu bahasa, sebagai contoh: penggunaan kata umpatan. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Karjalainen (2002: 16) yang menyatakan bahwa “there

(19)

are two kinds of taboos that are behavioral, for instance the prohibition against incestuous relation and linguistic, for instance of the use of swearwords”. Pernyataan serupa dikemukakan oleh Trudgill bahwa sebagai berikut:

Taboo can be characterized as being concerned with behavior which is believed to be supernaturally forbidden, or regarded as immoral or improper; it deals with behavior which is prohibited or inhibited in an apparently irrational manner. In language, taboo is associated with things which are not said, and in particular with words and expressions which are not used (1974: 29)

Dari definisi di atas, Trudgill menekankan bahwa tabu perbuatan mengacu pada tindakan yang dilarang untuk dilakukan karena dinilai tidak pantas dan diyakini terlarang secara supranatural atau dipandang amoral. Sedangkan, tabu bahasa mengacu pada kata-kata yang dilarang untuk diucapkan karena dianggap tidak sopan bahkan cenderung kasar. Tabu bahasa merupakan larangan menggunakan kata atau ungkapan tertentu karena dianggap dapat membahayakan jiwa atau mencemarkan nama baik seseorang.

Jay (dalam Rosidin, 2010: 31) menggunakan istilah kutukan untuk menggambarkan tabu bahasa dan membaginya menjadi makian, fitnah, kata-kata kotor, kecabulan, saling mengata-ngatai, agresi verbal, ujaran tabu, hinaan etnis yang bersifat rasial, kekasaran, ketidaksopanan dan skatologi. Dari penjelasan yang diungkapkan oleh Jay, salah satu perwujudan tabu bahasa adalah penggunaan istilah tabu. Istilah tabu hampir dapat ditemui di setiap budaya dan bahasa. Istilah tabu diartikan sebagai kata yang berhubungan dengan seks, religi, fungsi alat tubuh, kelompok etnis, kotoran dan kematian. Asher (dalam Kusumayani, 2013: 40) memberikan definisi istilah tabu secara lengkap, yaitu:

(20)

Object, actions, and phenomena which are considered taboo in many societies are words that refer to processes and states of human biological existence; birth; death; pregnancy; various illness and dieases, menstruation, sexual and excretory activities, feces, urine, blood and semen; deceased person; animals considered to have special powers, ancestors, and benevolent and malevolent supernatural, being and their activities.

Pernyataan di atas menyatakan bahwa hal-hal yang dianggap tabu di dalam masyarakat adalah kata-kata yang mengacu pada proses dan keadaan biologis manusia; seperti: kelahiran, kematian, kehamilan, berbagai penyakit, menstruasi, kegiatan seksual, fungsi alat pengeluaran; orang yang sudah meninggal dan hal-hal yang berhubungan dengan supranatural.

Istilah tabu yang sering kali digunakan dalam percakapan adalah fuck, shit, hell, damn, goddamn, Jesus Christ, ass, oh my god, bitch dan sucks (Jay, 2009: 156). Sementara itu, sebuah artikel yang diterbitkan oleh BBC pada tahun 2000 dengan judul Delete Expletive menunjukkan daftar istilah-istilah kotor berdasarkan derajat ketabuan: cunt, motherfucker, fuck, wanker, nigger, bastard, prick, bollocks, arsehole, paki, shag, whore, twat, piss off, spastic, slag, shit, dickhead, pissed off, arse, bugger, balls, Jew, sodding, Jesus Christ, crap, bloody, God.

Pakar lain, Hadley dan MacKay (2006: 88), melakukan penelitian tentang istilah tabu yang melibatkan para orang dewasa (umur 20-25 tahun) dan mahasiswa. Hasil dari penelitian tersebut didapatkan beberapa istilah tabu dengan frekuensi kelaziman penggunaan dan tingkat ketabuan, yaitu sebagai berikut:

(21)

Tabel 2.1 Daftar Istilah Tabu

No Istilah Tabu Tingkat Ketabuan

1 Ass 3.31 2 Balls 2.46 3 Bang 2.00 4 Barf 1.77 5 Bitch 3.88 6 Boobs 2.62 7 Chink 4.12 8 Clit 4.31 9 Cock 4.23 10 Crap 2.35 12 Cum 4.15 13 Cunt 4.15 14 Dick 3.85 15 Douche 3.19 16 Dyke 3.77 17 Fag 3.92 18 Fart 2.08 19 Fuck 4.54 20 Jizz 3.27 21 Piss 2.73 22 Porn 2.96 23 Prick 2.88 24 Puke 2.04 25 Queer 3.69 26 Rape 2.96 27 Shit 3.46 28 Slut 3.58 29 Snatch 2.08 30 Spic 2.77 31 Suck 2.27 32 Tit 3.58 33 Turd 2.48 34 Twat 2.58 35 Whore 3.73

(22)

Well (dalam Jay, 2009: 154) meminta para mahasiswa untuk membuat daftar istilah seksual yang mereka gunakan dalam konteks yang berbeda-beda. Hasilnya, istilah seksual banyak digunakan ketika mereka sedang bersama teman sesama jenis atau kekasih. Sementara, Mabry melakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana masyarakat menggunakan istilah seksual dalam percakapan.

Marby (dalam Jay, 2009: 154) menemukan lima bentuk istilah seksual yang biasa digunakan. Istilah cabul (cock, cunt) dan istilah yang merusak reputasi (bastard, bitch) merupakan bentuk istilah tabu. Sedangkan tiga bentuk lainnya; istilah teknis (penis, vagina), istilah seksual yang tersembunyi (behind, goose), dan euphemism (make love, go to bed); dapat digunakan dalam percakapan formal.

Suatu istilah dapat dianggap tabu atau tidak dan memiliki ketabuan tinggi atau rendah tidak hanya ditentukan oleh makna dari suatu kata tetapi juga makna dalam kaitannya dengan penutur dan masyarakat sosial. Faktor usia, ras, suku, hubungan kedekatan pertemanan dan lingkungan sosial juga mempengaruhi derajat ketabuhan (Jay, 2009: 6). Suatu istilah yang dianggap tabu dan memiliki tingkat ketabuan tinggi akan cenderung dihindari oleh masyarakat dalam penggunaan bahasa yang sopan. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari penggunaan kata-kata yang cenderung menyakitkan hati, membahayakan dan memalukan. Crystal (2003: 172-173) mendeskripsikan kata-kata yang dianggap berbahaya adalah kata-kata yang berhubungan dengan kematian, kepercayaan terhadap hal supranatural dan takhayul; sedangkan kata-kata tabu yang memalukan adalah kata-kata yang berkonotasi dengan perilaku dan penyimpangan seksual.

(23)

b. Fungsi Istilah Tabu

Terlepas dari sifat istilah tabu yang terlarang, istilah tabu tetap digunakan untuk beberapa alasan. Jay menyatakan bahwa istilah tabu dapat digunakan sebagai alat untuk mengekspresikan emosi (dalam Kusumayani, 2013: 52). Istilah tabu masih dan akan terus digunakan karena dirasa mampu mengekspresikan emosi yang tidak dapat disampaikan dengan menggunakan bahasa yang sopan.

Istilah tabu memiliki kekuatan untuk mengekspresikan emosi dan membebaskan diri dari depresi. Ekstrom (2008: 9) memberikan penjelasan sebagai berikut:

As emotional, sexual, and aggressive animals, human beings have the needs to exprees and relieve themselves of depression as well as establish an identity through his/her speech at the same time, and using taboo language is definitely an effective way to accomplish this aim, since language is major vehicle everyone can approach most frequently and conveniently.

Selain itu, istilah tabu juga dapat digunakan untuk tujuan makian. Trudgill (1974: 30) menyatakan bahwa “taboo words are frequently used as swear words, which in turn because they are powerful”. Dengan kata lain, istilah tabu sering dipakai sebagai kata makaian karena memiliki kekuatan magis. Meskipun demikian, tidak semua istilah tabu dapat digunakan sebagai kata makian (Veronica, 1997: 2). Ada tiga tahapan penggunaan istilah tabu sebagai makian. Pertama, ketika pembicara menggunakan istilah-istilah tabu. Kedua, pembicara menggunakan kata tabu sebagai kata makian yang ditujukan pada seseorang. Ketiga, ketika ada daya emosional yang cukup kuat yang disalurkan atau diekspresikan sehingga menjadi tindakan memaki.

Penggunaan istilah tabu sebagai ekspresi kemarahan diungkapkan oleh Wardhaugh (1986: 230) sebagai berikut:

(24)

Tabu adalah salah satu cara masyarakat mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap jenis perilaku tertentu yang diyakini menyakitkan bagi anggotanya, baik untuk alasan supranatural maupun disebabkan perilaku tersebut mengancam kode etik moral. Ini berarti bahwa ketika kita marah pada seseorang, kita akan mengejek dengan kata-kata tabu, seperti prick atau cock. Jika seseorang tidak memahami makna kata-kata itu, ia akan mengabaikannya saja. Namun, bila ia paham, kondisi akan lebih buruk. Kata-kata tersebut mengacu pada bagian anatomi laki-laki.

Ketika sedang dalam keadaan emosi yang berlebihan, seseorang cenderung mencari ungkapan yang sifatnya tidak baik supaya dapat melampiaskan luapan emosinya. Untuk maksud itu, orang memakai kata yang dianggap tabu untuk digunakan sebagai salah satu cara untuk meluapkan emosinya. Dengan cara itu, orang akan merasa puas dan lega. Pernyataan serupa diungkapkan oleh Estrich dan Sperber (1952: 39) bahwa penggunaan istilah tabu dijadikan sebagai sarana pelampiasan emosi. Jay menambahkan bahwa istilah tabu yang digunakan sebagai pelampiasan emosi dapat disampaikan dalam beberapa bentuk, yaitu bentuk epithet (penghinaan) maupun insult (caci maki). Ephitet adalah suatu hasil dari ledakan emosional yang diwujudkan dalam bentuk istilah untuk mengekspesikan kekecewaan, kemarahan, atau keterkejutan penutur. Sementara itu, insult terdiri dari sebutan atau panggilan kepada seseorang dan kutukan akan adanya marabahaya terhadap seseorang.

Beberapa fungsi istilah tabu di atas menunjukkan bahwa istilah tersebut digunakan untuk hal-hal yang berorientasi negatif. Namun demikian, selain berorientasi negatif, istilah tabu dapat digunakan untuk suatu hal yang positif. Dalam konteks itu, penggunaan istilah tabu yang berorientasi positif adalah penggunaan istilah tabu yang difungsikan sebagai media interaksi sosial. Apte (dalam Kusumayani, 2013: 54)

(25)

menyatakan bahwa istilah tabu pada umumnya digunakan untuk percakapan antar teman yang bersifat informal. Dalam hal ini penggunaan bahasa gaul atau bahasa prokem yang digunakan oleh kalangan tertentu mendorong penggunaan istilah tabu. Selain itu, istilah tabu dapat digunakan sebagai lelucon dan humor.

c. Klasifikasi Istilah Tabu

Klasifikasi mengenai jenis istilah tabu telah dikemukan oleh beberapa pakar. Setiap pakar mempunyai versi mereka sendiri dalam membuat klasifikasi istilah tabu. Salah satunya adalah Andersson dan Hirsch yang menyatakan bahwa masyarakat barat umumnya mengambil sumber kata-kata tabu dari kategori-kategori berikut: (a) organ seksual atau hubungan seksual, (b) agama atau gereja, (c) kotoran atau najis, (d) kematian, (e) cacat fisik dan mental, (f) pelacuran, dan (g) narkotik atau kriminal (1985: 79).

Adapun Battistella (2005: 38) yang mengkategorikan istilah tabu menjadi beberapa kategori, yaitu ephitets (julukan), profanity (makian), vulgarity (kekasaran) dan obscenity (kecabulan). Kemudian, Leach (dalam Andersson dan Trudgill, 1990: 15) membagi kata-kata tabu menjadi tiga kelompok, yaitu sebagai berikut:

1) kata-kata kotor yang berhubungan dengan aktivitas seks dan kotoran, seperti bugger (seks anal) dan shit (tai)

2) kata-kata yang berhubungan dengan agama Kristen, seperti Chirst (Kristen) dan Jesus (Yesus)

(26)

3) kata-kata yang berhubungan dengan binatang (dalam hal ini nama binatang digunakan untuk nama panggilan atau sebutan pada orang) seperti bitch (anjing betina) dan cow (sapi).

Sementara itu, Jay (2009: 5-6) mengemukakan klasifikasi jenis istilah tabu secara lebih mendetail yang dibedakan menjadi sembilan jenis istilah tabu, yaitu: (1) sexual references, (2) profane or blasphemous, (3) scatological referents and disgusting objects, (4) animal names, (5) ethnic-racial-gender slurs, (6) insulting references to perceived psychological, physical, or social deviations, (7) ancentral allusion, (8) substrandard vulgar terms, dan (9) offensive slang.

Sexual references adalah jenis istilah tabu yang merujuk pada istilah yang berhubungan dengan seks, seksualitas, dan organ seksual. Contoh: blowjob (seks oral) dan cunt (vagina).

Profane or blasphemous, keduanya merujuk pada istilah yang berhubungan dengan religi atau agama. Menurut Batistella, ciri yang paling jelas dari profane adalah bahwa “it involves the coarse use of what is taken to be sacred”(2005: 38). Perbedaan antara profane dan blasphemous adalah jika profane mengacu pada sesuatu yang bersifat supranatural, seperti Oh my God, blasphemous mengacu pada penggunaan istilah yang menjelekkan atau mengejek Tuhan atau agama, sebagai contoh: goddamn (astaga) dan Jesus Christ (Tuhanku).

Scatological referents and disgusting objects adalah jenis istilah tabu yang mengacu pada hal-hal yang berkaitan dengan fungsi pengeluaran tubuh. Contoh dari scatological referents and disgusting objects adalah shit (tahi) dan crap (tinja).

(27)

Animal names, jenis istilah tabu ini merujuk pada penggunaan kata-kata yang berhubungan dengan nama binatang, seperti: bitch (anjing betina), pig (babi), ass (kedelai) atau chicken (ayam).

Ethnic-racial-gender slurs adalah jenis istilah yang mengacu pada penggunaan kata-kata yang berkaitan dengan suku bangsa, ras dan jenis kelamin. Contoh: nigger (orang kulit hitam) atau dago (keturunan Italia, Portugis atau Spanyol).

Insulting references to perceived psychological, physical, or social deviations, penggunaan istilah tabu dengan jenis ini merujuk pada kata-kata penghinaan yang berkaitan dengan penyimpangan jiwa, fisik atau sosial. Contoh: retard (dungu), wimp (orang yang lemah) dan lard ass (orang yang gemuk).

Ancestral allusion adalah jenis istilah yang menggunakan kata-kata yang berhubungan dengan keturunan. Contoh: son of bitch (anak jalang) atau bastard (anak haram).

Substandard vulgar terms, jenis ini merujuk pada istilah yang cenderung tidak kasar. Contoh: fartface (berwajah jelek) atau on the rag (menstruasi).

Offensive Slang adalah jenis istilah tabu yang merujuk pada logat popular yang cenderung kasar. Sebagai contoh: cluster fuck (kacau, berantakan, situasi yang buruk).

4. Hubungan Sosiolinguistik dengan Istilah Tabu

Sosiolinguistik menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakainya di dalam masyarakat (Wijana dan Rohmadi, 2006: 7). Hal ini menandakan bahwa sosiolinguistik memandang bahasa sebagai sistem sosial dan sistem komunikasi,

(28)

serta merupakan bagian dari masyarakat dan kebudayaan tertentu. Oleh karena itu, bahasa dan penggunaan bahasa tidak dapat diamati secara terpisah tetapi selalu dihubungkan dengan kegiatannya di dalam masyarakat.

Holmes (2001: 1) menyatakan bahwa “sociolinguistics is concerned with the relationship between language and the context in which it is used”. Dari pernyataan tersebut, Holmes menitikberatkan sosiolinguistik pada hubungan bahasa dan masyarakat serta konteks dimana bahasa tersebut digunakan. Sosiolinguistik menelaah dan mencatat bahasa yang digunakan oleh seseorang ketika ia bertutur kata dengan kelompok, keluarga, dan juga dengan orang yang tidak ia kenal. Selain itu, sosiolinguistik juga menelaah bahasa yang digunakan seseorang dengan segala cara penyampaiannya, termasuk hal-hal kecil seperti kata-kata maupun isyarat yang menyatakan bahwa ia sedang mendengarkan dengan baik, setuju atau tidak setuju bahkan menyadari posisinya ketika berbicara dengan mitra tuturnya. Hal tersebut senada dengan pernyataan Fishman (dalam Wijana dan Rohmadi, 2006: 7) yang mengungkapkan bahwa sosiolinguistik menitikberatkan pada masalah “who speak, what language, to whom, when, and to what end”. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan gagasan tetapi juga berkaitan dengan siapa yang berbicara, siapa yang menjadi mitra tutur, kapan seseorang berbicara dan apa tujuan seseorang berbicara.

Wijana dan Rohmadi menambahkan bahwa sosiolinguistik bersifat interdisipliner yang menggarap masalah kebahasaan yang berhubungan dengan faktor situasional dan budaya (2006: 7). Sebagai bagian dari anggota masyarakat, dalam bertutur kata seseorang terikat dengan nilai atau kaidah kebudayaan yang harus dipatuhi. Dalam budaya barat,

(29)

masyarakat menganggap kata fuck, cunt, goddamn, dan lain sebagainya sebagai istilah tabu. Jika seseorang mengucapkannya dalam sebuah percakapan sehari-hari akan dianggap telah melanggar nilai budaya yang ada dalam masyarakat itu dan dapat menimbulkan reaksi yang buruk, seperti kemarahan atau penghinaan kepada seseorang. Contoh lain, di Indonesia, Indonesia yang merupakan negara dengan budaya timur akan merasa tidak baik atau tidak sopan apabila menyebutkan organ genital di dalam percakapan sehari-hari.

Sosiolinguistik memiliki kaitan erat dalam menentukan tabu atau tidaknya suatu istilah dengan melihat konteks sosial, makna, tujuan dan situasi penggunaannya. Sebuah istilah tabu di dalam masyarakat dapat diartikan sebagai kata yang melawan atau melanggar adat istiadat dalam sebuah kehidupan bermasyarakat. Di dalam percakapan sehari-hari, seseorang sebaiknya menghindari penggunaan istilah tabu karena dapat membawa dampak yang tidak baik bagi penutur maupun mitra tutur.

5. Film The Wolf of Wall Street

Film The Wolf of Wall Street diangkat dari sebuah novel biografi karya Jordan Belford. Film yang dirilis tahun 2013 ini dibintangi oleh Leonardo DiCaprio yang berperan sebagai Jordan Belford. The Wolf of Wall Street menggambarkan kehidupan neoliberalisme yang penuh hedonis liar dari sang pialang saham kaya dan sukses. Dalam perjalanan hidupnya, Belford memulai pekerjaannya sebagai pialang saham di perusahaan, L.F. Rothschild. Belford tidak mengetahui betapa gilanya dunia saham pada saat itu. Tak lama setelah ia bergabung dengan L.F. Rosthschild, perusahaan tersebut mengalami

(30)

kebangkrutan lantaran terkena bencana ekonomi Black Monday di tahun 1987. Pada akhirnya, Belford membuka perusahaan pialang saham sendiri yang bernama Stratton Oakmont. Pada prakteknya, perusahaan itu menipu banyak sekali orang dengan skema penjualan saham mereka yang licik. Uang yang dihasilkan memang luar biasa. Uang yang ia dapatkan hanya untuk bersenang-senang, membuat pesta liar dengan mengundang para wanita prostitusi, seks bebas, bahkan untuk membeli narkoba. Itulah akar masalah yang membuatnya diincar oleh FBI.

The Wolf of Wall Street adalah ajang penampilan sisi tergelap dan kelicikan kaum berpendidikan di Amerika Serikat dalam upaya menggapai american dream mereka, apapun resiko dan dampaknya. Film ini telah menarik antusias pecinta film untuk menontonnya dan berhasil mendapatkan sambutan positif dari pengemar di berbagai negara. Selain itu, film ini juga turut dinominasikan dalam sejumlah ajang bergengsi Tercatat beberapa ajang penghargaan yang menempatkan The Wolf of Wall Street sebagai nominasi dalam kategori yang berbeda-beda seperti 86th Academy Award Ceremony, American Film Institute, Critics’ Choice Awards, IGN’s Best of 2013 Awards dan 71st Golden Globe Award.

B. Kerangka Pikir

Kerangka pikir merupakan alur pemikiran dalam sebuah penelitian. Alur penelitian ini dimulai dengan mengidentifikasi istilah tabu dalam bahasa sumber dan menemukan terjemahannya dalam dua versi bahasa sasaran, yaitu subtitle VCD dan subtitle amatir dari

(31)

situs subscene. Selanjutnya, peneliti mengidentifikasi bentuk satuan gramatikal dan jenis istilah tabu yang ditemukan dalam bahasa sumber. Kemudian, penelitian dilanjutkan dengan menemukan teknik-teknik penerjemahan yang dipakai dalam menerjemahkan istilah tabu yang ada.

Tahap berikutnya adalah analisis mengenai kualitas terjemahan, meliputi aspek keakuratan dan keberterimaan dengan melibatkan pembaca ahli dalam memberi penilaian terhadap kualitas terjemahan. Alur penelitian disajikan dalam diagram berikut:

(32)

Gambar 2.1: Kerangka Pikir Penelitian Subtitle film The Wolf of

Wall Street (BSu)

Terjemahan istilah tabu pada subtitle VCD (BSa1)

Bentuk Satuan Gramatikal dan Jenis Istilah Tabu Istilah tabu (BSu)

Terjemahan istilah tabu pada subtitle amatir (BSa2)

Teknik Penerjemahan

Kualitas Terjemahan Teknik Penerjemahan

Kualitas Terjemahan

Keakuratan Keberterimaan Keakuratan Keberterimaan

Pembaca ahli (raters) Pembaca ahli (raters)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :