BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Bahasa merupakan unsur penting dalam kehidupan manusia, yaitu sebagai alat komunikasi, baik komunikasi secara antar individu satu dengan yang lainnya maupun antar kelompok satu dengan yang lainnya. Interaksi dan segala macam kegiatan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat dapat terjadi melalui proses berbahasa (Yuliyanto, 2010: 1).
Bahasa dapat menyatukan sesama manusia satu dengan yang lainnya untuk bekerja sama dan berkomunikasi. Peranan penting bahasa selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga sebagai alat untuk mengekspresikan diri, integrasi dan adaptasi sosial antar manusia. Manusia menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri atau perasaan, Maksudnya dalam mengungkapkan ekspresi atau perasaanya manusia memakai suatu gaya bahasa agar lebih menarik.
Jika kita melihat gaya secara umum, kita dapat mengatakan bahwa gaya adalah cara mengungkapkan diri sendiri, entah melalui bahasa, tingkah laku, berpakaian dan sebagainya. Semakin baik gaya bahasanya, semakin baik pula penilaian orang terhadapnya, semakin buruk gaya bahasa seseorang, semakin buruk pula penilaian diberikan padanya (Keraf, 2010:113). Selain itu, gaya bahasa bisa ditemukan dalam terjemahan Al-Quran, Al-Quran merupakan kitab suci umat islam yang merupakan kumpulan firman-firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.
Tujuan utama diturunkan Al-Quran adalah untuk menjadi pedoman manusia dalam menata kehidupan supaya memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Selain itu, gaya bahasa bisa dilihat dalam terjemahan Al-Quran dengan memerhatikan diksi-diksi yang terdapat dalam sebuah teks arti atau terjemahan dari suatu teks atau kalimat yang bertuliskan Arab.
Bahasa yang digunakan dalam kitab suci umat islam ini adalah bahasa arab sesuai dengan orang yang terpilih sebagai penerima wahyu dari sang pencipta yaitu Nabi Muhammad saw. Masyarakat dimana Al-Quran diturunkan juga adalah masyarakat berbahasa arab, baik masyarakat Makkah maupun masyarakat Madinah adalah suku-suku yang menggunakan bahasa Arab untuk berkomunikasi sehari-harinya, tapi perlu diketahui bahasa arab Al-Quran tidak sama dengan bahasa arab yang digunakan orang arab dalam komunikasi dan sebagainya, perbedaan bahasa ini secara singkat yaitu bahasa arab yang dipakai orang arab untuk berkomunikasi masih bisa berubah, sedangkan bahaha arab yang tertulis di dalam Al-Quran adalah bahasa arab klasik yang sudah baku dan tidak pernah berubah, selain itu bahasa arab yang digunakan orang Arab merupakan gabungan dari dialek-dialek. Sebagaimana diketahui, Al-Quran diturunkan Allah melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad selama kurang lebih 23 tahun di Jazirah arab, 13 tahun di makkah, dan 10 tahun di madinah.
Karena Al-Quran atau kitab suci umat muslim ini berbahasa arab tentu saja tidak bisa dipahami oleh semua umat muslim yang ada di dunia ini sebab tidak semua umat muslim di dunia ini berbahasa Arab, oleh karenanya terjemahan Al-Quran di perlukan oleh semua umat muslim yang ada di dunia ini agar maksud dan tujuan yang terdapat
dalam kandungan surat-surat Al-Quran ini dapat tersampaikan dan dipahami oleh semua umat muslim yang ada di Dunia ini.
Salah satu terjemahan yang bisa kita temukan adalah terjemahan Al-Quran ke dalam bahasa Indonesia sehingga dengan terjemahan ini masyarakat yang mengunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk berkomunikasi dan bertukar informasi sehari-hari ini bisa memahami dan mengerti maksud dan tujuan yang ada pada Al-Quran.
Dalam terjemahan Al-Quran yang berbahasa Indonesia ini banyak kita jumpai diksi-diksi atau kalimat-kalmat yang tidak biasa dalam pemakaiannya, hal ini bisa kita jumpai dalam terjemahan Al-Quran yang umum dan yang beredar di Indonesia, dalam ilmu kebahasaan hal tersebut lebih dikenal dengan gaya bahasa.
Hans Bague Jassin yang merupakan seorang sastrawan, kritukus, dan penulis adalah salah satu orang yang telah menulis terjemahan Al-Quran dalam bahasa Indonesia dengan gayanya yang khas yaitu puitis, dalam menerjemahkan Al-Quran kedalam bahasa Indonesia, H.B. Jassin menitik beratkan diksi-diksi yang digunakan memiliki suatu keindahan yang lebih, hal ini diharapkan agar pembaca lebih mudah memaham isi yang terkandung dalam Al-Quran tersebut, harapan lainnya bisa menarik umat muslim untuk lebih tertarik membaca Al-Quran. Meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa akan menimbulkan salah pemahaman bagi orang-orang awam yang tidak tau maksud dari terjemahan yang di tulis oleh H.B. Jassin karena gaya penyampaianya yang berbeda, oleh karena itu dalam menganalis gaya bahasa
dan makna dalam terjemahan Al-Quran H.B. Jassin ini peneliti tetap menggunakan bantuan terjemahan Al-Quran terjemahan MUI dan tafsir Al-Quran, Salah satu contoh perbedaan gaya terjemahan Al-Quran H.B. Jassin dengan Al-Quran terjemahan MUI adalah pada terjemahan Al-Quran H.B. Jassin surah An-Naziat ayat pertama terdapat terjemahan ayat prtama yang bertuliskan “Demi bintang-bintang Yang lepas pesat”. Sedangkan pada Al-Quran terjemahan MUI, terdapat terjemahan yang bertuliskan “Demi malaikat yang mencabut nyawa dengan keras”. Dari salah satu contoh ini terlihat jelas perbedaan diksi yang menonjol yaitu pada diksi bintang dan malaikat, dari data ini kemudian akan digambarkan contoh analisis gaya bahasa dalam terjemahan Al-Quran H.B. Jassin sebagai berikut: Terjemahan H.B. Jassin pada ayat di atas menggunakan gaya bahasa metafora karena memakai kata-kata bukan arti yang sebenarnya melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan, perbandingan pada terjemahan ini bisa di lihat pada terjemahan Al- Quran MUI yang terjemahannya sebagai berikut :
Demi (Malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan Keras.
Terjemahan H.B. Jassin “Demi bintang-bintang yang lepas pesat" adalah perumpamaan yang digunakan untuk menggambrakan Malaikat yang mencabut nyawa dengan keras.
kata “bintang” yang terdapat dalam terjemahan H..B. Jassin pada ayat di atas merupakan gambaran untuk menggambarkan “malaikat”, sedangkan “lepas pesat” adalah perumpamaan yang dipakai untuk menggambarkan “dengan keras”, bintang
yang pada dasarnya selalu bercahaya digambarkan memeiliki persamaan dengan malaikat yang juga di ciptakan dari cahaya, selanjutnya “lepas pesat” yang bisa di artikan “bergerak dengan cepat” digunakan untuk menggambarkan “dengan keras” yang bisa di artikan tidak mengenal belas kasihan. Kedua terjemahan ini sama-sama memiliki penggambaran pencabutan nyawa orang-orang kafir yang keras dan tanpa belas kasihan.
Dengan adanya analogi inilah yang menjadikan terjemahan H.B. Jassin pada ayat ini termasuk kedalam gaya bahasa metafora. Hal ini sesuai dengan teori yang disampaikan oleh Poerwadarminta, metafora adalah pemakaian kata-kata bukan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan (Poerwadarminta, 1976: 648). Karena bintang (benda langit yang mampu memancarkan cahaya dan memproduksi energi sendiri) hanya sebagai perumpamaan dan bukan makna sesungguhnya yang dimaksudkan, maka terjemahan ayat ini memiliki makna konotasi. beranjak dari fenomena inilah, maka kemungkinan akan ditemukannya fenomena-fenomena lain lebih besar dalam terjemahan ayat-ayat lainnya.
Hal ini membuat penulis tertarik untuk menganalisis dan mengetahui gaya bahasa yang ada didalam terjemahan Al-quran H.B. Jassin cetakan ke 2 terutama pada surah An-Naziat, Dalam menganalisis gaya bahasa, yang sering dianalisis kebanyakaan orang adalah gaya bahasa pada data surat kabar, majalah, novel, cerpen, puisi ataupun pada lirik lagu. Dengan menjadikan terjemahan Al-Quran H.B. Jassin ini sebagai objek kajian maka penelitian ini berbeda dengan penelitian yang sudah ada.
Penelitian ini akan meneliti gaya bahasa yang terdapat pada terjemahan surat An-Naziat yang merupakan surah ke 79 dalam Al-Quran, surah ini terdiri dari 46 ayat dalam Al-Quran dan juga termasuk kedalam golongan surah-surah Makkiyah, diturunkan sesudah surah Quraisy.
An-Naziat yang berarti Malaikat-malaikat yang mencabut, singkatnya surah ini menceritakan tentang akhir perjalanan hidup manusia di bumi ini dan keniscayaan kebangkitan mereka pada hari kiamat, itu digambarkan melalui pencabutan nyawa melalui malikat-malaikat mulia serta uraian tentang firaun dan Nabi Musa as. Tujuan ini menjadi jelas jika diperhatikan nama dari surah ini yakni, An-Naziat (Pencabut).
Sudah menjadi sebuah pengetahuan yang umum dan kepercayaan kebanyakan orang bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati dan semuanya akan kembali kepada penciptanya, apalagi dalam keberlangsungan hidup ini telah banyak bukti-bukti yang bisa disaksikan pada fase kehidupan dan terus menerus terjadi didunia ini yaitu kematian.
Realitanya kematian tidak mengenal siapa dan dimana, penulis juga meyakini bahwa kematian juga pasti akan datang ketika sudah waktunya, selain terjemahan surah An-Naziat ini kaya akan gaya bahasa dalam diksi-diksinya maupun kalimat-kalimatnya terjemahan dalam Surah An-Naziat ini juga menceritakan suatu fenomena yang di yakini oleh kebanyakan masyarakat dan bukan merupakan suatu hal yang keos lagi, dimanapun mereka berada pasti akan terjadi suatu fenomena yaitu kematian, hal ini membuat penulis semakin tertarik untuk mempelajari Surah
An-Naziat ini terutama dari segi terjemahannya. Apalagi dalam terjemaham Al-Quran H.B. Jassin yang mengutamakan keindahan diksi-diksinya dibanding terjemahan Al-Quran lain pada umumnya, hal ini menjadi nilai lebih yang membuatnya semakin menarik dan semakin menguatkan alasan penulis untuk menelitinya.
Dari penjelasan di atas maka peneleliti memiliki beberapa ketertarikan dan alasan untuk meneliti gaya bahasa dalam terjemahan surah An-Naziat yang terdiri dari 46 ayat ini, adapun alasan pertama yaitu terjemahan dalam surah ini selain telah menjadi pengetahuan yang umum soal kematian, terjemahan surah ini juga menceritakan suatu fenomena yang telah terbuktikan dan terjadi di fase kehidupan ini, alasan yang kedua yaitu terjemahan Al-Quran H.B. Jassin ini berbeda dengan terjemahan Al-Quran pada umumnya yang ada di Indonesia dan hal ini peneliti anggap sebagai hal yang membuat lebih menarik untuk di teliti, alasan terakhir yaitu penelitian ini jarang bahkan belum ada khususnya di jurusan sastra Indonesia sendiri.
1.2. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan yang akan di teliti dalam penelitian ini adalah:
1. Gaya bahasa apa saja yang terdapat pada terjemahan Al- Quran Hans Bague Jassin pada surah An-Naziat?
2. Makna apa yang terdapat dalam terjemahan Al-Quran Hans Bague Jassin surah An-Naziat?
1.3. Tujuan penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan yang ingin dicapai penulis adalah sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan gaya bahasa yang terdapat dalam terjemahan Al-Quran Hans Bague Jassin pada surah An-Naziat cetakan kedua tahun 1982.
2. Mendeskripsikan makna gaya bahasa terjemahan Al-Quran Hans Bague Jassin pada surah An-Naziat cetakan kedua tahun 1982.
1.4. Manfaat penelitian
Manfaat penelitian yang ingin diperoleh penulis adalah sebagai berikut: 1.4.1. Manfaat Teoretis
1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan penjabaran tentang gaya bahasa yang terdapat pada terjemahan Al-Quran H.B. Jassin surah An-Naziat cetakan kedua tahun 1982 menggunakan kajian stilistika
2. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam memaknai gaya bahasa yang terdapat dalam terjemahan Al-Quran H.B. Jassin surah An-naziat cetakan kedua tahun 1982
3. penelitian ini diharapkan dapat menjadi sebuah referensi pada penelitian-penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan gaya bahasa dalam terjemahan Al-Quran H.B. Jassin surah An-Naziat cetakan kedua tahun 1982 serta menjadi bahan kajian lebih lanjut.
1.4.2. Manfaat Praktis
1. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menambah tingkat pemahaman kepada pembaca tentang gaya bahasa yang terdapat dalam terjemahan Al- Quran H.B. Jassin surah An-Naziat cetakan kedua tahun 1982.
2. Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan referensi atau bahan acuan untuk penelitian selanjutnya.
3. Hasil penelitian ini dapat digunkan untuk menambah wawasan serta pengalaman langsung tentang gaya bahasa terjemahan Al-Quran H.B. Jassin surah An-Naziat cetakan kedua tahun 1982.