Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 87
PERSUASIF PADA TUTURAN NADIEM MAKARIM (MENTERI
PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN)
DALAM MENYAMPAIKAN KEBIJAKAN
(
PERSUASIVE SPEECH OF NADIEM MAKARIM
(MINISTER OF EDUCATION AND CULTURE)
IN DELIVERING POLICY)
Noranisa
Sekolah Tahfiz Amanah Umat Banjarmasin, Jl. A. Yani km. 10, Kabupaten Banjar, e-mail [email protected]
Abstract
Persuasive Speech of Nadiem Makarim (Minister of Education and Culture) in Delivering Policy.
This study aims to describe the persuasive speech forms and persuasive patterns in the speeches of the
Minister of Education and Culture in delivering policies. This research use a qualitative approach and
descriptive method. Data collected by documentation techniques. The data obtained from this study in the form of words or series of words referring to persuasive speech. Data sources are twenty videos of the Minister of Education and Culture. The results showed that the forms of persuasive speeches delivered by the Minister of Education and Culture when delivering policies, are: (a) persuasive speech when inviting; (b) persuasive speech when giving mandatory; (c) persuasive speech when persuading; (d) persuasive speech when convincing and (e) persuasive speech when suggesting to the audience. Based on these forms of speech, the forms of a persuasive speech for inviting and persuading are more frequently used by the Minister of Education and Culture. The patterns in persuasive speeches spoken by the Minister of Education and Culture include (a) patterns of problem-solving in relation to the policy of free learning; (b) the causal pattern in relation to the causes of Indonesia being unable to progress and to the plan of 100 days; (c) the pros and cons patterns in relation to the impact of technological development; and (e) the patterns of motived orders in relation to attracting and focusing the attention of youth, as well as satisfying the motivational needs of youth regarding success. Based on these persuasive speech patterns, patterns of problem-solving and those of the motived orders are widely used by the Minister of Education and Culture to convince the public when delivering their programs.
Keywords: speech forms, patterns, persuasifon
Abstrak
Persuasif pada Tuturan Nadiem Makarim (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) dalam Menyampaikan Kebijakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk tuturan
persuasif dan pola-pola persuasif pada tuturan menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam menyampaikan kebijakan.. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif. Data yang diperoleh dari penelitian ini berupa kata atau rangkaian kata yang menjadi tuturan persuasif.
88 ǀ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya
Sumber data diperoleh dari dua puluh video menteri pendidikan dan kebudayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk tuturan persuasif yang terdapat pada tuturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam menyampaikan kebijakan, yakni: (a) tuturan persuasif yang bersifat mengajak; (b) tuturan persuasif yang bersifat perintah; (c) tuturan persuasif yang bersifat bujukan; (d) tuturan persuasif yang bersifat meyakinkan serta (e) tuturan persuasif yang bersifat saran. Berdasarkan bentuk-bentuk tuturan tersebut, bentuk-bentuk tuturan yang lebih banyak digunakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan adalah bentuk tuturan persuasif yang bersifat mengajak dan membujuk. Pola-pola dalam pidato persuasif yang dituturkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan meliputi: (a) pola pemecahan masalah, berupa kebijakan merdeka belajar; (b) pola sebab-akibat berupa penyebab Indonesia tidak bisa maju dan rencana 100 hari; (c) pola pro-kontra berupa dampak perkembangan teknologi, serta (e) pola urutan bermotif berupa menarik dan memusatkan perhatian pemuda, serta pemuasan kebutuhan motivasional pemuda mengenai kesuksesan. Berdasarkan pola-pola pidato persuasif tersebut, pola persuasif yang banyak digunakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk meyakinkan masyarakat ketika menyampaikan program-programnya adalah pola pemecahan masalah dan pola urutan bermotif.
Kata-kata kunci: bentuk tuturan, pola, persuasif
PENDAHULUAN
Persuasif merupakan landasan penting dalam kegiatan menyampaikan kebijakan karena bersifat meyainkan, mengajak, menganjurkan atau mengimbau kepada masyarakat untuk melakukan hal yang bermanfaat atau perubahan bagi kehidupan. Persuasif memiliki makna sebagai seni bertutur dengan maksud untuk meyakinkan orang (pendengar) agar melakukan sesuatu yang dikehendaki pembicara pada waktu ini atau waktu yang akan datang (Keraf, 2007, hlm.118).
Dengan ditetapkannya presiden Joko Widodo dan wakil presiden Ma'ruf Amin oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai peraih suara terbanyak dalam pemilihan umum presiden 2019 maka presiden dan wakil presiden akan menjalankan pemerintahan serta kebijakan baru untuk lima tahun kedepan. Dalam menjalankan pemerintahan, presiden tentunya tidak bekerja sendiri tetapi dibantu oleh para menteri. Pada periode sebelumya, Jokowi sudah melakukan perombakan menteri-menteri (reshuffle) kabinet di tahun 2018 dan sebagai presiden di periode ke dua ini Jokowi mengganti para menteri kabinet dengan tujuan ingin perubahan dan kemajuan negara Indonesia.
Dalam situasi yang sangat terbuka seperti ini, tidak mudah bagi menteri baru untuk melakukan perubahan, mereka harus mampu menawarkan kebijakan yang dibawa dan harus mampu meyakinkan rakyat bahwa kebijakannya dapat membawa pada perubahan dan kesejahteraan. Jika menteri mampu mengemas pikirannya dan mampu mempersuasif rakyat dengan tuturannya, dia akan memiliki peluang besar dalam melakukan perubahan. Salah satu menteri Indonesia Maju yang namanya viral di media sosial karena tekadnya ingin melakukan perubahan adalah Nadiem Makarim. Nadiem Makarim adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan baru di Indonesia. Nadiem terkenal menuturkan kebijakannya melalui video-video di youtube yang tersebar di media lainnya. Tuturan-tuturan yang disampaikannya akan berhasil dan dapat mengubah persepsi rakyat apabila di dalam tuturan tersebut terdapat bentuk dan pola-pola persuasif. Tuturan persuasif tidak bisa dipisahkan dengan teori tindak tutur karena bentuk
Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 89 tuturan persuasif terbentuk berdasarkan tindak tutur direktif. Bentuk-bentuk tuturan persuasif meliputi tuturan persuasif yang bersifat ajakan, tuturan persuasif yang bersifat perintah, tuturan persuasif yang bersifat bujukan, tuturan persuasif yang bersifat meyakinkan, dan tuturan persuasif yang bersifat saran.Adapun tuturan persuasif yang terkait dengan pidato, Rakhmat (2006, hlm.118-121) menyampaikan pola-pola tertentu, pola-pola tersebut meliputi pola pemecahan masalah, pola sebab-akibat, pola pro-kontra dan pola urutan bermotif.
Adapun penelitian terkait persuasif yang dijadikan sumber referensi dalam menentukan ruang lingkup penelitian ini yakni pada penelitian yang pernah dilakukan oleh Sukarno (2013). Fokus pembahasan dalam jurnalnya adalah teknik-teknik retorika dalam menganalisis penggunaan persuasi khatib dalam khotbah Jumat. Kemudian, penelitian oleh Budiyanto (2014) yang mendeskripsikan aspek persuasif dari segi penyajian isi dan penyajian gaya isi pesan persuasif serta penelitian yang pernah dilakukan oleh Indrawati (2020) yang berfokus pada wujud persuasi dan respon kaum milenial di media sosial facebook pada pilpres 2019. Penelitian mengenai bentuk persuasif dan pola-pola persuasif dalam tuturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan belum pernah dilakukan sehingga menjadi daya tarik untuk melakukan penenlitian ini. Selain itu, untuk dapat meyakinkan, mempengaruhi atau membujuk orang lain atau pendengar diperlukan bentuk dan pola persuasif agar orang atau pendengar tersebut dapat melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh pembicara.
METODE
Metode yang digunakan untuk menelaah penelitian ini yaitu metode deskriptif karena metode deskriptif pada umumnya mendeskripsikan (menggambarkan) data atau objek dalam sebuah penelitian (Mulyana, 2005, hlm. 83). Pendekatan yang digunakan untuk menelaah penelitian ini adalah kualitatif karena pendekatan kualitatif menghasilkan data yang berupa kata-kata tertulis bukan angka yang dapat diamati. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah studi dokumentasi. Studi dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mempelajari dokumen untuk mendapatkan data atau informasi yang berhubungan dengan masalah yang diteliti (Sugiyono, 2010, hlm. 329). Studi dokumen dalam penelitian ini yaitu dengan mencari dan mengumpulkan data dari dokumen-dokumen rekaman tuturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di media sosial/media massa. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik simak bebas libat, yakni teknik analisis data yang didalamnya peneliti bertindak sebagai peneliti, dan tidak terlibat dalam percakapan (Mahsun, 2005, hlm. 91-92).
Penelitian ini termasuk jenis penelitian wacana bahasa yang berupa wacana lisan dari tuturan menteri pendidikan dan kebudayaan. Data berupa kata, rangkaian kata, atau kalimat yang menjadi persuasif sebuah wacana. Sumber data diperoleh dari dua puluh video pidato menteri pendidikan dan kebudayaan. yang merupakan ajang menawarkan kebijakan. Video yang akan diteliti adalah video-video kebijakan yang menjadi viral di media sosial seperti tuturan dalam bentuk pidato, presentasi, wawancara atau tanya jawab. Instrumen atau alat yang digunakan dalam penelitian berupa tabel klasifikasi data.
90 ǀ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Bentuk Tuturan Persuasif Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Menyampaikan Kebijakan
a. Tuturan Persuasif yang Bersifat Ajakan
Tuturan persuasif yang bersifat ajakan merupakan tuturan persuasif yang dilakukan pembicara untuk mengajak pendengar agar ikut bergabung atau berpartisipasi dengan topik yang disampaikanya. Berikut hasil analisis data yang memuat tuturan persuasif yang bersifat ajakan.
(3) Marilah kita menunjukkan bahwa Indonesia ini negara dengan azas
gotong royong. Marilah kita menyelamatkan nyawa masyarakat orang Indonesia dengan bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah dari rumah. Terima kasih. Selamat malam. (W10P3)
Pada penggalan teks (3) juga terdapat bentuk tuturan persuasif yang sifatnya mengajak, yakni terlihat pada penggunaan kata “marilah...” kutipan tersebut tampak bahwa adanya bentuk tuturan persuasif yang berupa adanya bentuk tuturan berdasarkan konsep tindak direkif yakni bersifat mengajak kepada para pendengar. Tuturan tersebut dituturkannya berdasarkan konteks ketika dia menyampaikan imbauan singkat melalui video terkait wabah corona. Di sinilah letak tuturan yang mengandung persuasif yang dimaksudkan untuk mengajak kepada para pendengar agar mengikuti apa yang dituturkan pembicara yaitu Pak Menteri Nadiem. Penggunaan kata marilah yang digunakan Pak Menteri Nadiem merupakan penanda kesantunan dalam tuturan imperatif dengan maksud mengajak. Kata mari lebih banyak digunakannya dalam menyampaikan kebijakan karena bentuk mari memiliki peringkat keformalan yang lebih tinggi dibandingkan kata ayo yang dapat digunakan dalam situasi yang tidak formal atau dalam tuturan sehari-hari. Di sini terlihat bahwa Pak Menteri Nadiem memiliki kesantunan berbahasa karena dalam mempersuasif diperlukan pemilihan kata atau diksi yang tepat agar orang yang mendengar mengikuti keinginan pembicara.
b. Tuturan Persuasif yang Bersifat Perintah
Tuturan persuasif yang bersifat perintah merupakan tuturan persuasif yang dilakukan pembicara untuk memerintah pendengar agar mau melakukan sesuatu yang diperintahkan dalam wacana atau topik yang disampaikannya. Berikut hasil analisis data yang memuat tuturan persuasif yang bersifat perintah.
(14) [...]untuk menyiapkan SDM yang unggul dan berkarakter. Untuk itu saya
mohon para pejabat yang baru dilantik untuk membuat satu terobosan dan lompat-lompatan besar untuk menjawab tantangan tersebut.
(W20P3)
Dari penggalan teks (14) di atas juga tampak bahwa adanya bentuk tuturan persuasif yang bersifat perintah untuk para pejabat yang baru dilantik yaitu untuk membuat satu
Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 91 terobosan dan lompat-lompatan besar untuk menjawab tantangan guna menyiapkan SDM yang unggul dan berkarakter. Hal ini terlihat pada tuturan yang bercetak tebal di atas. Penggalan kutipan tersebut tampak adanya bentuk tuturan persuasif yang berupa adanya bentuk tuturan berdasarkan konsep tindak tutur direkifyang ditandai dengan kata mohon. Tuturan tersebut dituturkannya berdasarkan konteks ketika dia menyampaikan pidato pada pelantikan pejabat Mendikbud. Di sinilah letak tuturan yang mengandung persuasif yang dimaksudkan untuk memerintah secara halus kepada para pendengar agar mengikuti apa yang dituturkan pembicara yaitu Pak Menteri Nadiem.
Berdasarkan data-data di atas terdapat penggunaan penggunaan kata mohon yang digunakan Pak Menteri Nadiem merupakan penanda kesantunan dalam tuturan dengan maksud permohonan atau memerintah secara halus. Kata mohon lebih banyak digunakannya dalam menyampaikan kebijakan karena bentuk mohon lazim digunakan dalam kesempatan formal atau seremonial. Di sini terlihat bahwa Pak Menteri Nadiem memiliki kesantunan berbahasa karena dalam mempersuasif diperlukan pemilihan kata atau diksi yang tepat agar orang yang mendengar mengikuti keinginan pembicara.
c. Tuturan Persuasif yang Bersifat Bujukan
Tuturan persuasif yang bersifat bujukan merupakan tuturan persuasif yang dilakukan oleh pembicara untuk membujuk pendengar agar tertarik dan mau mengikuti bujukan yang diminta oleh pembicara. Berikut hasil analisis data yang memuat tuturan persuasif yang bersifat bujukan.
(20) Masalah literasi ini sangat penting karena kita sedang mengalami krisis
literasi [...]di masing-masing kita di Kementerian baik di semua jenjang, sistem pendidikan kita dan juga yang terpenting especially untuk literasi adalah orang tua. Jangan lupa dampak literasi untuk cinta dengan belajar, cinta dengan membaca itu dampaknya orang tua bisa lebih besar lagi daripada guru. [...]. (W9P10)
Dari penggalan teks (20) di atas tampak bahwa adanya bentuk tuturan persuasif yang bersifat bujukan kepada para pendengar. Pak Menteri Nadiem membujuk para pendengar dengan memaparkan pentingnya masalah literasi ini karena kita saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami yang namanya krisis literasi. Pak Mentri juga memaparkan bahwa peran orang tua sangat berdampak pada gerakan literasi. Tuturan tersebut dituturkannya berdasarkan konteks ketika dia menyampaikan presentasi terkait studi PISA. Di sinilah letak tuturan yang mengandung persuasif yang dimaksudkan untuk membujuk agar pendengar mau mengikuti apa yang dituturkan pembicara. Pak Menteri Nadiem membujuk kepada orang tua (ibu dan bapak) agar melakukan gerakan literasi yaitu dengan menjadi pengajar di rumah untuk anak-anaknya masing-masing.
92 ǀ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya
d. Tuturan Persuasif yang Bersifat Meyakinkan
Tuturan persuasif yang bersifat meyakinkan merupakan tuturan persuasif yang dilakukan oleh pembicara untuk meyakinkan pendengar untuk mempercayai apa yang disampaikan oleh pembicara. Berikut hasil analisis data yang memuat tuturan persuasif yang bersifat meyakinkan.
(32) Saya tidak akan membuat janji-janji kosong kepada Anda, perubahan adalah hal yang sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan. Satu hal yang pasti. Saya akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia, tapi perubahan tidak bisa dimulai dari atas semuanya berawal dan berakhir dengan guru. [...] (W6P4)
Selain itu, dalam penggalan teks (32) di atas tampak juga adanya bentuk tuturan persuasif yang bersifat meyakinkan kepada para pendengar. Pak Menteri Nadiem meyakinkan para pendengar dengan menuturkan tuturan yang bercetak tebal di atas. Pada penggalan kutipan teks tersebut Pak Menteri Nadiem meyakinkan pendengar dengan menyatakan bahwa dia tidak membuat janji palsu. Tuturan tersebut dituturkannya berdasarkan konteks ketika dia menyampaikan pidato saat hari guru. Di sinilah letak tuturan yang mengandung persuasif yang dimaksudkan untuk meyakinkan pendengar agar mempercayai apa yang dituturkan pembicara.
e. Tuturan Persuasif yang Bersifat Saran
Tuturan persuasif yang bersifat saran merupakan tuturan persuasif yang dilakukan oleh pembicara untuk menyarankan atau memberikan solusi kepada pendengar agar mau mengikuti saran dari pembicara tersebut. Berikut hasil analisis data yang memuat tuturan persuasif yang bersifat saran.
(35) Inisiatif ketiga didedikasikan untuk para guru yang tadinya RPP ada
13 komponen yang begitu padat dan menjadi beban yang begitu berat bagi guru-guru kita akan merubahnya menjadi format yang jauh lebih sederhana. Cukup satu halaman saja untuk RPP. [...]. (W3P15)
Pada penggalan teks (35) di atas tampak adanya bentuk tuturan persuasif yang bersifat saran kepada para pendengar. Pada penggalan kutipan teks tersebut Pak Menteri Nadiem memberikan saran atau solusi kepada pendengar dengan merubah format RPP yang awalnya ada 13 komponen maka akan diganti menjadi satu halaman saja. Tuturan tersebut dituturkannya berdasarkan konteks ketika dia menyampaikan presentasi merdeka belajar 1. Di sinilah letak tuturan yang mengandung persuasif yang dimaksudkan untuk menyarankan atau memberi solusi agar pendengar mau mengikuti saran atau solusi dari kebijakan pembicara.
Berdasarkan temuan dari 38 data bentuk-bentuk tuturan persuasif, bentuk tuturan persuasif yang banyak digunakan Pak Menteri Nadiem untuk meyakinkan masyarakat ketika menyampaikan program-programnya adalah bentuk tuturan yang bersifat ajakan dan bentuk tuturan persuasif yang bersifat bujukan. Bentuk persuasif yang bersifat ajakan lebih banyak digunakan karena dalam setiap tuturan Pak Menteri Nadiem terdapat usaha–usaha untuk mengajak pendengarnya untuk melakukan perubahan dari pada memerintah melakukan
Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 93 perubahan. Di sini terlihat bahwa Pak Menteri Nadiem lebih memperhatikan diksi atau pilihan kata yang tepat untuk meyakinkan masyarakat dengan tuturannya tersebut. Begitu pun dengan penggunaan bentuk tuturan yang bersifat membujuk juga sering digunakan Pak Menteri Nadiem dalam menyampaikan kebijakannya. Nampak Pak Menteri Nadiem berusaha membujuk para pendengarnya (masyarakat) untuk mengikuti apa yang diinginkannya atau menjalankan kebijakan yang dituturkannya. Oleh karena itu, sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan baru, Nadiem Makarim terlihat sangat berusaha dan berhati-hati dalam bertutur kata agar dapat meyakinkan masyarakat terkait kebijakan yang dibawanya.
2. Pola-Pola Persuasif pada Tuturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Menyampaikan Kebijakan
Dalam tuturan persuasif yang terkait dengan pidato, Rakhmat (1992, hlm.118-121) menyampaikan pola-pola tertentu, seperti pola pemecahan masalah, pola sebab-akibat, pola pro-kontra, atau pola urutan bermotif. Berikut ini terdapat empat pidato dari dua puluh video
viral Nadiem Makarim yang akan dianalisis menggunakan pisau bedah pola-pola pidato
persuasifnya Rakhmat karena berdasarkan data yang sudah dicari dan dikumpulkan, data berjenis pidato hanya berjumlah empat sedangkan sisanya banyak berupa presentasi, wawancara atau tanya jawab dan imbauan singkat.
a. Pola Pemecahan Masalah
Pola pemecahan masalah merupakan pola pidato yang isinya menunjukkan pola seputar masalah-masalah psikologis yang terjadi pada saat ini di masyarakat dan berisi saran atau cara-cara pemecahan masalah tersebut. Pidato ini juga ditujukan untuk menyadarkan orang akan adanya masalah tersebut sehingga akan muncul alternatif pemecahan terbaik. Berikut hasil analisis data yang memuat pola pemecahan masalah.
(40) Saya tidak akan membuat janji-janji kosong kepada Anda, perubahan adalah hal yang sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan. Satu hal yang pasti. Saya akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia, tapi perubahan tidak bisa dimulai dari atas semuanya berawal dan berakhir dengan guru. Jangan Menunggu aba-aba. Jangan menunggu perintah. Ambillah langkah pertama, besok di manapun Anda berada. Lakukan perubahan kecil di kelas Anda, ajaklah kelas berdiskusi bukan hanya mendengar, berikan kesempatan murid untuk mengajar di kelas, cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas, temukan suatu bakat dalam murid yang kurang percaya diri, tawarkan bantuan kepada guru yang sedang kesulitan. Apapun perubahan kecil itu jika setiap guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak. selamat Hari Guru. Merdeka belajar. guru penggerak. (W6P4)
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menuturkan beberapa solusi atau pemecahan masalah yakni dengan menuturkan perintah secara tidak langsung kepada para pendengar (guru) untuk melakukan perubahan kecil di kelas, mengajak kelas berdiskusi bukan hanya
94 ǀ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya
mendengar, memberikan kesempatan murid untuk mengajar di kelas, mencetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas, menemukan bakat dalam murid yang kurang percaya diri, dan menawarkan bantuan kepada guru yang sedang kesulitan. Dengan demikian pola isi pidato persuasif secara keseluruhan adalah pola pemecahan masalah.
b. Pola Sebab-Akibat
Pola sebab-akibat merupakan pola pidato yang isinya menunjukkan pola seputar penyebab-penyebab dari masalah yang terjadi pada saat ini di masyarakat dan berisi ajakan untuk memahami penyebab masalah tersebut. Pidato ini juga melukiskan situasi yang sedang terjadi sehingga akan diketahui dampak, penyebab, faktor, dan akibat dari kasus tersebut. Berikut hasil analisis data yang memuat pola sebab-akibat.
(41) Assalamualaikumwarahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera. Om Swastiastu namo buddhaya salam kebajikan. Maaf masih kaku. [...] hari ini adalah ujung tombak terpenting untuk masa depan kita karena tanpa merubah
mindset atau generasi yang berikutnya Indonesia tidak akan bisa maju
semakin tinggi di panggung dunia. (W18P1)
Pada teks (41) di atas tampak bahwa Pak Menteri Nadiem sedikit menyinggung situasi yang saat ini sedang terjadi yaitu mengenai ketidakmajuan Indonesia disebabkan oleh pola pikir yang tidak diubah. Di sini Pak Menteri Nadiem sedikit menyadarkan pendengar akan adanya penyebab kenapa Indonesia tidak bisa maju.
(42) [...]. Kalau anda melihat semua masalah di negara kita itu sebenarnya bisa dipecahkan dengan peningkatan kualitas generasi muda kita tapi di masa depan. Jadi bagi saya kenapa Saya menerima jabatan ini, amanah ini yang begitu besar dan berat karena menurut saya cara paling efektif mentransformasi itu melalui pendidikian. (W18P2)
Kemudian, dilanjutkan dengan penggalan teks (42) Pak Menteri Nadiem menyadarkan kepada para pendengar bahwa dengan meningkatkan kualitas generasi muda maka permasalahan itu dapat dipecahkan. Kenapa dia menerima jabatan dari presiden padahal dia masih muda karena baginya cara berubah yang paling efektif itu adalah dengan pendidikan.
(43) [...].Rencana saya 100 hari adalah penutup duduk dan mendengar berbicara dengan pakar-pakar yang ada di depan saya ini [...].(W18P3)
Selanjutnya pada teks (43) tampak Pak Menteri Nadiem melukiskan penyebab tidak ada rencana 100 hari kedepan setelah dia di lantik karena dia ingin belajar dengan ahli yang sudah lama berkecimpung dan memiliki kualitas yang bagus pada pendidikan di Indonesia.
(44) [...] Saya mulai dari NOL di pendidikan dan saya akan belajar sebanyak-banyaknya selama ini [...]. (W18P4)
Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 95 (45) Walaupun saya bukan Latar belakang pendidikan tapi saya murid yang cukup
baik. Kalau ada satu tema yang akan saya gong kan selalu satu prinsip-prinsip gotong royong itu adalah satu hal yang benar-benar unik di Indonesia [...]. (W18P5)
(46) Semua asas gotong royong ini akan menjadi kata kunci di perjalanan kita bersama. [...]. (W18P6)
Terakhir, pada teks (44), (45), dan (46) Pak Menteri Nadiem menuturkan bahwa dia akan belajar selama 100 hari kedepan. Penyebab mentri mulai belajar dari nol karena dia bukan berlatar belakang dari pendidikan tetapi untuk meyakinkan pendengar, Pak Menteri Nadiem mengeluarkan satu prinsip gotong-royong. Di sinilah letak persuasif yang berusaha meyakinkan pendengar untuk mempercayai apa yang dituturkan.Dengan demikian, secara keseluruhan dari teks (41) sampai (46) isi pidato Pak Menteri Nadiem memiliki pola pidato persuasif yakni pola sebab-akibat.
c. Pola Pro-Kontra
Pola pro-kontra merupakan pola pidato yang isinya menunjukkan keuntungan-keuntungan (pandangan pro) dan kerugian-kerugian yang mungkin terjadi (pandangan kontra). Berikut hasil analisis data yang memuat pola pro-kontra.
(43) [...] Pesatnya perkembangan teknologi informasi ibarat dua mata pisau. Satu sisi ia memberikan jaminan kecepatan informasi sehingga memungkinkan para pemuda kita untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan dalam pengembangan sumber daya serta daya saing. Namun, pada sisi yang lain perkembangan ini mempunyai dampak negative, informasi-informasi yang bersifat destruktif mulai dari pornografi, narkoba, pergaulan bebas, hingga radikalisme, dan teroris juga masuk dalam mudahnya apabila pemuda tidak dapat membendung dengan filter ilmu pengetahuan dan karakter positif dalam berbangsa dan bernegara. (W8P2)
Pada teks (43) di atas tampak bahwa Pak Menteri Nadiem menunjukkan bahwa perkembangan teknologi dapat memberikan dampak. Dalam uraian di atas terdapat tuturan pertama berdampak positif yang merupakan pandangan pro sedangkan uraian kedua mengandung dampak negatif yang merupakan pandangan kontra. Inilah yang dinamakan pola pidato persuasif pro-kontra.
a. Pola Urutan Bermotif
Pola urutan bermotif merupakan pola pidato yang isinya menarik perhatian para pendengar, memusatkan perhatian pendengar, pemuasan kebutuhan pendengar, serta berisi pemaparan keuntungan bagi pendengar apabila kebutuhan itu terpenuhi. Berikut hasil analisis data yang memuat pola urutan bermotif.
96 ǀ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya
(48) Pemuda yang memiliki karakter yang tangguh adalah pemuda yang memiliki karakter moral dan karakter kinerja pemuda yang beriman dan bertakwa, berintegritas tinggi, jujur, santun, bertanggung jawab, disiplin, kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, dan tuntas. Pemuda juga harus memiliki kapasitas intelektual dan skill kepemimpinan, kewirausahaan, dan kepeloporan yang mumpuni serta Pemuda harus memiliki inovasi agar mampu berperan aktif dalam Kancah internasional. (W8P3)
(49) [...]. Pemuda untuk Indonesia maju adalah pemuda yang memiliki karakter, kapasitas, kemampuan inovasi, kreativitas yang tinggi, Mandiri, inspiratif, serta mampu bertahan dan unggul dalam menghadapi persaingan dunia. (W8P4)
Pada teks (48) di atas tampak bahwa Pak Menteri Nadiem menerangkan ciri pemuda yang memiliki karakter yang tangguh. Isi penggalan teks pidato tersebut ditujukan untuk menarik perhatian para pendengar khususnya para pemuda di Indonesia agar memiliki karakter seperti yang diutarakan Pak menteri. Selanjutnya pada teks (49) Pak Menteri Nadiem memberikan penekanan kepada para pemuda yang mendengar pidatonya bahwa pemuda harus memiliki karakter, kreativitas, berinovasi, unggul dan sebagainya.
Dilanjutkan dengan penggalan kutipan teks (50) berikut.
(50) Pada saat ini di belahan dunia telah lahir generasi muda yang memiliki pola pikir yang serba cepat, serba instan, lintas batas, cenderung individualistik dan gramatik canggihnya ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mudahnya akses terhadap sosial media, telah menjelma menjadi tempat favorit berkumpulnya anak-anak muda lintas Negara, lintas budaya, lintas agama, dan interaksi mereka di sosial media berjalan real-time 24 jam. Di sinilah diharapkan peran pemuda dapat bersaing dalam bentuk apapun tentunya dalam hal yang positif. Pemuda adalah masa depan bangsa dan Negara. Pemuda juga harapan bagi dunia Pemuda Indonesia harus maju dan berani menaklukan dunia. (W8P5)
Pada teks (50) di atas tampak bahwa Pak Menteri Nadiem menerangkan informasi pada saat ini mengenai kemajuan generasi muda saat ini. Tuturan tersebut tampak adanya pemuasan kebutuhan bagi pendengarnya. Disusul dengan harapan Pak Menteri Nadiem terhadap peran pemuda agar dapat bersaing karena pemuda merupakan masa depan bangsa Indonesia. Kemudian, di akhir-akhir pidatonya, Pak Menteri Nadiem tampak menarik dan memusatkan perhatian pendengar dalam tuturannya. Berikut ini adalah tuturan tersebut.
(51) [...] Saya ingin berbicara langsung kepada generasi muda negara ini.
Sebagai Menteri termuda di Kabinet Indonesia maju Saya berdiri disini mewakili generasi milenial kebawah. Kehadiran saya disini membuka berbagai macam kesempatan untuk generasi berikutnya. [...] Saya tidak berpikir dua kali, saya melangkah ke depan apapun resikonya. [...]
Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 97 (52) Saya yakin Pemuda Indonesia sadar di hatinya masing-masing. Kemana dia
ingin melangkah tetapi karena kebisingan tersebut kita meragukan diri kita. Kita takut dipermalukan. Kita takut dimusuhi. Kita takut gagal. Kawan-kawan Pemuda dengarkanlah saya, satu-satunya Kegagalan adalah kalau kita hanya diam di tempat, dan satu-satunya kesuksesan adalah kalau kita terus melangkah kedepan. Kita mungkin tersandung-sandung, kita mungkin jatuh, tetapi kita tidak akan tiba ditujuan hati kita, kalau kita tidak melangkah bersama. Kawan-kawan Pemuda Jangan Menunggu dunia berubah, dunia ini ada di tanganmu asal kita berani melangkah kita tak akan pernah kalah. Salam Pemuda. (W8P8)
Adapun pada penggalan teks pidato (51) di atas tampak Pak Menteri Nadiem menarik dan memusatkan perhatian para pendengar khususnya para pemuda di Indonesia yakni pada tuturan yang bercetak tebal di atas. Tuturan tersebut berusaha meyakinkan kepada generasi muda agar berani maju melangkah ke depan. Di susul dengan teks (52) di atas Pak Menteri Nadiem menuturkan “Saya yakin Pemuda Indonesia sadar ..., ... kita tidak akan pernah
kalah” tuturan tersebut berisi keyakinan Pak Menteri Nadiem kepada para pemuda dan berisi
pesan yang bertujuan untuk memotivasi pemuda agar mau mengubah perilaku mereka. Disinilah letak pemuasan kebutuhan motivasional para pendengar. Dengan demikian dari teks pidato (48) sampai (52) secara keseluruhan memiliki pola urutan bermotif karena isi pidato terdapat pola yang menarik perhatian para pendengar, memusatkan perhatian pendengar, serta pemuasan kebutuhan motivasional pendengar.
Berdasarkan pola-pola pidato persuasif tersebut, pola persuasif yang banyak digunakan Pak Menteri Nadiem untuk meyakinkan masyarakat ketika menyampaikan program-programnya adalah pola pemecahan masalah dan pola urutan bermotif. Pola pemecahan masalah sering digunakan karena Pak Menteri Nadiem lebih memerhatikan masalah-masalah terkait pendidikan salah satunya seperti beban guru dalam mengajar maka pemecahan masalahnya yaitu dengan mengeluarkan kebijakan merdeka belajar. Pola urutan bermotif, dari tuturan-tuturan Pak Menteri Nadiem sering juga terdapat bahasa yang bertujuan menarik dan memusatkan perhatian pendengar, salah satunya seperti menarik dan memusatkan perhatian pemuda terkait topik pemuda berkarakter. Selain itu, dalam tuturan Pak Menteri Nadiem juga terdapat pemuasan kebutuhan motivasional pendengar salah satunya memberikan motivasi kepada kaum pemuda mengenai kesuksesan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan pada penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya bentuk tuturan persuasif yang terdapat pada tuturan menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam menyampaikan kebijakan, yakni: (a) tuturan persuasif yang bersifat mengajak; (b) tuturan persuasif yang bersifat perintah; (c) tuturan persuasif yang bersifat bujukan; (d) tuturan persuasif yang bersifat meyakinkan serta (e) tuturan persuasif yang bersifat saran. Berdasarkan bentuk-bentuk tuturan tersebut, bentuk tuturan yang
98 ǀ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya
lebih banyak digunakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan adalah bentuk tuturan persuasif yang bersifat mengajak dan membujuk. Pola-pola dalam pidato persuasif yang dituturkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan meliputi: (a) pola pemecahan masalah, berupa kebijakan merdeka belajar; (b) pola sebab-akibat berupa penyebab Indonesia tidak bisa maju dan rencana 100 hari; (c) pola pro-kontra berupa dampak perkembangan teknologi, serta (e) pola urutan bermotif berupa menarik dan memusatkan perhatian pemuda, serta pemuasan kebutuhan motivasional pemuda mengenai kesuksesan. Berdasarkan pola-pola pidato persuasif tersebut, pola persuasif yang banyak digunakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk meyakinkan masyarakat ketika menyampaikan program-programnya adalah pola pemecahan masalah dan pola urutan bermotif.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar penelitian ini dijadikan sebagai sumber referensi dalam menentukan ruang lingkup penelitian. Selain itu, hasil hendaknya dapat digunakan oleh guru bahasa Indonesia sebagai bahan ajar, terutama terkait dengan materi pidato atau menulis.
DAFTAR RUJUKAN
Budiyanto, D. (2014). Aspek Persuasif dalam Bahasa Iklan Politik. Jurnal Litera. FBS UNY, 13(1), 41-52.
Indrawati. (2020). Wujud Persuasi dan Respon Kaum Milenial di Media Sosial Facebook pada Pilpres 2019. Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya (JBSP). Prodi Magister
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ULM, 20(2), 117-138.
Keraf, G. (2007). Argumentasi dan Narasi Komposisi Lanjutan III. Jakarta: PT. Gramedia. Mahsun. (2005). Metode Penelitian Bahasa: Tahapan, Strategi, dan Tekniknya. Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada.
Mulyana. (2005). Kajian Wacana: Teori, Metode, & Aplikasi Prinsip-Prinsip Analisis Wacana. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Rakhmat, J. (1992). Retorika Modern. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sukarno, (2013). Retoriks Persuasif Sebagai Upaya Memengaruhi Jamaah Pada Teks Khotbah Jumat. Jurnal Humaniora. Fakultas Sastra Universitas Jember, 25, 215-227.