TINJAUAN YURIDIS PELAKSANAAN PERJANJIAN SEWA BELI BARANG ELEKTRONIK DAN FURNITURE DI PT. COLUMBUS CABANG SAMARINDA

13  Download (0)

Teks penuh

(1)

JURNAL BERAJA NITI ISSN : 2337-4608 Volume 3 Nomor 6 (2014)

http://e-journal.fhunmul.ac.id/index.php/beraja © Copyright 2014

TINJAUAN YURIDIS PELAKSANAAN PERJANJIAN SEWA BELI

BARANG ELEKTRONIK DAN FURNITURE

DI PT. COLUMBUS CABANG SAMARINDA

Daud Andrean1 (Daudandrean@gmail.com) Emilda Kuspraningrum2 (emilda@fhunmul.ac.id) Erna Susanti3 (r_nas77@rocketmail.com) Abstrak

Perkembangan perusahaan pengreditan barang kepada konsumen yang sangat pesat ikut pula meningkatkan perkembangan bisnis pengreditan, Dalam kenyataannyaperkembangan ini menimbulkan berbagai permasalahan yangmenyangkut pelaksanaan perjanjian yang dilakukan oleh perusahaan pengreditan barang dengan konsumen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan dan menganalisis keadaan nyata yang terjadi dalam pelaksanaan perjanjian yang dilakukan antara pihak perusahaan dengan konsumen,untuk mengetahui masalah apa saja yang timbul dan bagaimana penyelesaiannya dalam pelaksanaan perjanjian. Faktor yuridisnya adalah seperangkat aturan-aturan hukum perdata pada umumnya dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan bidang hukum perjanjian sebagai cabang ilmu hukum dan sangat berkaitan erat dengan materi penelitian ini, sedangkan faktor empirisnya adalah perusahaan pengreditan barang, yang dalam hal ini adalah Columbus cabang Samarinda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan perjanjian mempunyai prosedur yang sama dengan masing-masing perusahaan lainnya yang tunduk pada buku III KUHPerdata.

Adapun hubungan hukum yang terjadi dalam pelaksanaan perjanjian adalah hubungan hukum antara konsumen dengan perusahaan,Hasil penelitian juga menunjukkan masalah yang umumnya timbul dalam pelaksanaan perjanjian adalah karena tidak terbayarnya pembayaran angsuran dan biaya-biaya lain dengan tepat waktu dan penyelesaian masalahnya adalah ditempuh dengan jalan damai dengan solusi diskon pelunasan dan denda keterlambatan.

Kata kunci : Perjanjian Sewa Beli, Hukum

1 Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Mulawarman 2

Dosen Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Mulawarman 3 Dosen Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Mulawarman

(2)

Pendahuluan Latar belakang

Dengan cepatnya laju pertumbuhan penduduk dan tingginya tingkat permintaan konsumen tentu saja menyebabkan permintaan terhadap barang elektronik dan furniture menjadi meningkat, baik perabotan rumah seperti lemari maupun televisi. Dengan bertambahnya jumlah penduduk di kota samarinda berarti akan ada penambahan alat rumah tangga. Sehingga masyarakat menggunakan jasa kredit dari suatu perusahaan sewa beli barang seperti PT. Columbus, sewa beli barang itu sendiri merupakan suatu persetujuan dengan pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu barang, dan pihak yang lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan, sehingga konsumen dengan mudahnya memperoleh barang tersebut melalui pengkreditan barang kepada perusahaan seperti PT. Columbus. Berdasarkan permasalahan yang diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan perjanjian sewa beli kredit barang elektronik dan furniture yang dilakukan oleh pihak PT. Columbus dengan pihak konsumen dan mengetahui cara penyelesaian hukum karena adanya wanprestasi yang dilakukan oleh konsumen.

(3)

Pembahasan

Gambaran Umum PT. Columbus Cabang Samarinda

PT. Columbus Kota Samarinda Berdiri Pada 07 Juli 2001, Pertama dimulai dari sebuah Toko PT. Columbus di Jalan Letkol Iskandar Nomor 31D Palembang, yang menjadi tempat dan toko bersejarah bagi PT. Columbus , dengan berbekal budaya, visi dan misi serta 8 nilai-nilai perilaku, maka Columbus terus berkembang untuk merealisasikan apa yang telah dicita-citakan. Z. Harris Nasution yang menggagas berdirinya PT. Columbus Cash and Credit (CCC). Harris adalah mantan punggawa Columbia, bergabung dengan Columbia selama 13 tahun dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Cabang Palembang. Namun saat dipromosikan ke kantor pusat sarjana ekonomi dari Universitas Sriwijaya ini menolak dan memilih mundur. Alasannya, pendapatan yang akan diterimanya tidak sesuai dengan harapan. Sebulan berikutnya, Harris menggandeng dua rekannya Basuki Lidin dan Darmo Sihombing yang juga pernah bergabung dengan Columbia, Dengan investasi awal Rp 500 juta mereka bertiga memutuskan membuka usaha sejenis di bawah bendera CCC pada Juli 2001.

Dengan Harris sebagai pemegang saham terbesar, yaitu 45%, sedangkan Basuki 35% dan Darmo 20%. Selang dua tahun, melihat prospek bisnisnya bagus Yanto Santoso yang saat itu menjadi GM Akunting dan Teknologi Informasi Columbia memutuskan bergabung dengan PT. Columbus sebagai CEO. Seiiring dengan berjalannya waktu, Columbus terus tumbuh Dalam kurun enam bulan perusahaan yang ruang pajang pertamanya berada di Letkol Iskandar Palembang ini telah bekerja sama dengan Bank Sumsel untuk pembiayaan kredit Konsumen,

(4)

Beberapa produsen elektronik pun berhasil ditangkap, antara lain Sharp, Akari, Olympic dan Uniland dan beberapa tahun terakhir PT. Columbus menjadi salah satu pemain di bisnis ritel barang-barang elektronik dan furniture sistem cash and credit yang cukup diperhitungkan. 4

Pelaksanaan perjanjian sewa beli kredit barang

Menurut sistem terbuka yang mengenal adanya asas kebebasan berkontrak dalam kitab undang-undang KUHPerdata Buku Ketiga tentang Perikatan, maka bentuk perjanjian sewa beli pada dasarnya adalah bebas. Para pihak diberi kebebasan untuk memilih bentuk perjanjian yang mereka kehendaki, yaitu dapat secara lisan maupun tulisan. Perjajian secara tulisan dapat dibedakan yaitu dengan akta di bawah tangan atau dengan akta notaris. Namun di dalam prakteknya perjanjian sewa beli elektronik dan furniture, selalu dituangkan dalam bentuk tertulis dengan akta di bawah tangan, yaitu dalam bentuk standar. Di sini pihak yang menyewakan (kreditur) telah menyediakan formulir yang telah memuat isi perjanjian untuk para calon penyewa (debitur). Perjanjian sewa beli elektronik dan furniture biasanya dituangkan dalam bentuk standar maka proses pembuatannya juga mudah, yaitu apabila ada yang mengajukan permohonan perjanjian sewa beli untuk jenis barang tertentu, jika calon penyewa (debitur) tersebut setuju dengan isi dari surat perjanjian yang diberikan oleh pihak yang menyewakan (kreditur), maka perjanjian sewa beli elektronik dan furniture dapat berlangsung.

(5)

Didalam perjanjian sewa beli antara pihak kreditur dengan debitur tidak ada tanda tangan oleh kedua belah pihak, seharusnya didalam KUHPerdata buku ketiga tentang perikatan sudah di atur mengenai perjanjian, yaitu kesepakatan antara kedua belah pihak, namun dalam perjanjian yang dibuat oleh Columbus hanya pihak kedua yang sepakat untuk bertanda tangan dan tidak disertai materai. Dengan ditandatanganinya surat perjanjian oleh kedua pihak, maka terjadilah perjanjian sewa beli. Dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 1985 tentang Bea Materai disebutkan bahwa terhadap surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang dibuat dengan tujuan untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan, atau keadaan yang bersifat perdata maka dikenakan atas dokumen tersebut bea meterai. Dengan tiadanya meterai dalam suatu surat perjanjian (misalnya perjanjian sewa beli), tidak berarti perbuatan hukumnya (perjanjian sewa beli) tidak sah, melainkan hanya tidak memenuhi persyaratan sebagai alat pembuktian. Sedangkan perbuatan hukumnya sendiri tetap sah karena sah atau tidaknya suatu perjanjian itu bukan ada tidaknya meterai, tetapi di tentukan oleh Pasal 1320 KUH Perdata.

Denda dan biaya yang diajukan oleh pihak PT. columbus yaitu bila terjadi keterlambatan pembayaran angsuran sewa melebihi tanggal jatuh tempo sebagaimana yang diatur dalam perjanjian antara kedua belah pihak, denda yang dikenakan sebesar 0,5% (setengah persen) perhari dari nilai angsuran sewa yang tertunggak ditambah dengan biaya penagihan sebesar Rp.10.000,- (sepuluh ribu rupiah) setiap kali melakukan penagihan uang sewa.5

(6)

Sewa beli Merupakan gabungan sewa dan beli, Bila obyek tidak mampu dibayar maka barang dapat ditarik kembali. Namun bila angusuran dilunasi maka objek menjadi objek jual beli sehingga terjadi peralihan hak milik, suatu jual-beli yang dilakukan oleh penjual kepada pembeli, dimana selama sewa-beli tersebut masih berlangsung si penjual disebut dengan penjual sewa sedangkan si pembeli disebut dengan pembeli sewa, Dalam praktek pelaksanaannya di masyarakat Indonesia perjanjian sewa-beli ini sering diaplikasikan dalam suatu jual-beli barang/produk secara angsuran/cicilan, Selama angsuran belum dibayar lunas oleh pembeli sewa maka hak kepemilikan atas barang tersebut masih menjadi milik penjual sewa. Hukum perjanjian atau hukum perikatan dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata menganut sistem terbuka sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata : “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”. Maksudnya adalah orang dapat mengadakan perjanjian mengenai apa saja, baik yang sudah diatur maupun yang belum diatur sama sekali. Jadi diperbolehkan mengadakan perjanjian mengenai apapun juga. Ini dapat diartikan bahwahukum perjanjian menganut kebebasan berkontrak. Akan tetapi, terhadap kebebasan ini ada pembatasannya yang tercantum pada Pasal 1337 KUH Perdata : “Suatu sebab adalah terlarang, apabila dilarang oleh undang-undang, atau apabila berlawanan dengan kesusilaan baik atau ketertiban umum”. Perjanjian apa saja diperkenankan dibuat asal tidak dilarang oleh undang-undang, tidak bertentangan dengan asas kesusilaan dan ketertiban umum. Ketiga hal itu merupakan pembatasan terhadap asas kebebasan berkontrak itu. Sedangkan bentuknya

(7)

dikatakan bebas karena para pihak dapat membuat suatu perjanjian dengan memilih bentuk yang bebas, yaitu : Secara lisan; Secara tertulis, berupa : akta notaris atau akta otentik, akta di bawah tangan

Perjanjian beli sewa antara Pembeli Sewa (konsumen) dengan PT. Columbus Cabang Samarinda merupakan perjanjian yang timbul karena Kitab Undang-undang Hukum Perdata kita menganut sistem terbuka atau kebebasan berkontrak yang terdapat pada Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata. Itulah sebabnya, maka setiap orang diperkenankan membuat perjanjian terhadap apa saja, sekaligus diberikan kebebasan kepada mereka membuat bentuk perjanjian yang dilakukannya. Adapun masalah yang terjadi dalam pelaksanaan perjanjian sewa beli elektronik dan furniture sebagai berikut :

Kepemilikan atas barang

Mengenai status kepemilikan atas benda yang menjadi obyek perjanjian berbeda antar jual beli dengan angsuran dengan sewa beli, seperti ditegaskan dalam pengertian kedua lembaga tersebut dalam pasal 1 Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi No 34/KP/II/80, yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut:

Sewa beli (Hire Purchase)

adalah jual beli barang dimana penjual melaksanakan penjualan barang dengan cara memperhitungkan setiap pembayaran yang dilakukan oleh pembeli dengan pelunasan atas harga barang yang telah disepakati bersama dan yang diikat dalam suatu perjanjian, serta hak milik atas barang tersebut baru beralih dari penjual kepada pembeli setelah jumlah harganya dibayar lunas oleh pembeli

(8)

kepada penjual; Didalam perjanjian sewa beli poin kedua kepemilikan atas barang yaitu pihak pertama sewaktu-waktu dapat memeriksa dan/atau menginventarisir keberadaan barang yang berada di pihak kedua selama jangka waktu pembayaran angsuran sewa. Kekhawatiran pelaku usaha terhadap pihak pembeli akan berbuat sekehendak hati atas barang yang menjadi obyek perjanjian dalam jual beli dengan angsuran (seperti : menggadaikan atau memindah tangankan kepada pihak lain) tidak akan terjadi karena dalam jual beli barang dengan angsuran, penyerahan barang dengan pembayaran pertama tidak disertai dengan peralihan hak milik. Dalam perjanjian sewa beli status kepemilikan atas barang baru berpindah dari penjual sewa kepada pembeli sewa setelah seluruh jumlah harga barang di bayar lunas. Dalam perjanjian sewa beli tampak ada penundaan hak milik atas barang sampai sisa angsuran terakhir di bayar oleh pembeli sewa.

Masalah yang terjadi didalam perjanjian sewa beli barang elektronik dan furniture yaitu pada poin kedua atas kepemilikan barang, dimana disebutkan bahwa pihak pertama sewaktu-waktu dapat memeriksa dan/atau menginventarisir keberadaan barang yang berada di pihak kedua selama jangka waktu pembayaran angsuran sewa. Namun pada kenyataannya pihak pertama tidak pernah menginventarisir keberadaan barang yang ada pada konsumen. Sehingga bertolak belakang apa yang sudah ada didalam perjanjian sewa beli.6

6

Hasil Wawancara Penulis Dengan Ibu Nurul Herawati, Jabatan HRD, Pada Hari Senin, Tanggal 23 April 2014, Pukul 10.00

(9)

Angsuran bulanan

Angsuran sewa pertama sebagaimana ditentukan dalam perjanjian ini harus dilakukan pada saat debitur menerima pengiriman barang, setelah angsuran sewa pertama dibayar debitur harus membayar sisa angsuran sewa yang terhutang sesuai dengan yang disepakati dan ditentukan dalam perjanjian, sisa pembayaran angsuran sewa bulanan harus dibayarkan paling lambat pada tanggal jatuh tempo yang dicantumkan pada informasi tagihan sewa bulanan. Dalam hal ini debitur harus membayar uang muka sewa, maka sejumlah uang muka sewa tersebut harus dibayarkan kepada kreditur pada saat debitur menerima barang. Pembayaran angsuran sewa selanjutnya dilakukan melalui kasir di PT. Columbus, transfer melalui bank.

Jika tanggal angsuran sewa jatuh pada hari dimana kantor PT. Columbus libur, maka pembayaran angsuran sewa dibayarkan pada hari kerja sebelum hari libur tersebut. Didalam perjanjian sewa beli antara Columbus dengan konsumen pada poin keempat menyebutkan bahwa angsuran sewa pertama sebagaimana ditentukan dalam perjanjian ini harus dilakukan pada saat pihak kedua menerima pengiriman barang, setelah angsuran sewa pertama dibayar oleh pihak kedua harus membayar sisa angsuran sewa yang terhutang sesuai dengan yang disepakati dan ditentukan dalam perjanjian ini. Tetapi fakta dilapangan bahwa angsuran sewa pertama bukan pada saat pihak kedua menerima barang melainkan setelah sebulan pihak kedua menerima barang dari pihak pertama.7 Denda dan biaya penagihan

(10)

Jika terjadi keterlambatan pembayaran angsuran sewa melebihi tanggal jatuh tempo sebagaimana yang diatur dalam perjanjian ini, maka debitur dikenakan denda sebesar 0,5 % (setengah persen) perhari dari nilai angsuran sewa yang tertunggak yang ditambah dengan biaya penagihan sebesar Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah) setiap kali kreditur melakukan penagihan uang sewa. Pembayaran denda dan biaya penagihan maupun biaya administrasi yang dibebankan kepada debitur harus dibayarkan ditempat dan waktu sebagaimana yang telah diatur dalam perjanjian ini. Perlu dipahami bahwa dalam suatu perjanjian kredit sewa beli dalam bentuk apapun, berarti kedua belah pihak saling mengikatkan dirinya untuk melaksanakan sesuatu yang telah diperjanjikan (prestasi). Namun dalam kenyataan yang ada tidak menutup kemungkinan dapat terjadi bahwa salah satu pihak tidak melaksanakan apa yang telah diperjanjikan.

Dalam suatu perjanjian apabila salah satu pihak tidak melaksanakan kewajiban atau yang telah diperjanjikan, maka dapat dikaitkan telah malakukan wanprestasi. Dapat pula dikatakan bahwa penyewa telah lalai atau alfha atau ingkar janji atau bahkan telah melakukan sesuatu hal yang dilarang atau tidak boleh dilakukan. Dimuka telah dijelaskan, wanprestasi menurut pasal 1365 KUH Perdata, adalah tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian pada seorang lain, mewajibkan orang yang karena kesalahannya menerbitkan kerugian itu, menggantikan kerugian tersebut. Mengenai wanprestasi yang paling umum terjadi dalam praktek adalah masalah pembayaran angsuran dari konsumen. Jika konsumen tidak mau membayar angsuran elektronik dan furniture pada waktu jatuh tempo, maka sesuai pasal yang telah ditentukan dalam perjanjian yang

(11)

dibuat atas kesepakatan bersama yaitu antara pihak debitur (konsumen) dan pihak PT. Columbus, di jalan Dr. Soetomo No.67 Samarinda. Dengan calon debitur (konsumen), maka pihak yang menyewakan elektronik dan furniture di Columbus cabang Samarinda, jalan Dr. Soetomo No.67, kota Samarinda, atau kuasanya berhak datang untuk menagih kepada penyewa.

Penutup Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis sajikan pada BAB IV, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan dan saran-saran sebagai berikut: Masalah-masalah yang timbul didalam pelaksanaan perjanjian sewa-beli kredit barang elektronik dan furniture di Columbus cabang samarinda adalah keterlambatan maupun terjadinya penunggakan pembayaran angsuran yang dilakukan oleh pihak debitur (konsumen), terkadang pihak debitur (konsumen) tidak cermat pada saat membaca isi perjanjian pada saat melakukan kredit jual beli elektronik dan furniture. Untuk masalah penyelesian sengketa dalam perjanjian kredit sewa- beli elektronik dan furniture didalam prakteknya dapat ditempuh dengan dua cara yaitu melalui musyawarah mufakat dan melalui gugutan di pengadilan. Penyelesian perselisihan dengan cara melalui gugatan pengadilan adalah merupakan jalan terakhir yang ditempuh oleh pihak Columbus, apabila penyewa sudah benar-benar tidak mau bertanggung jawab atas semua kesalahannya, tapi pada prinsipnya setiap permasalahan yang diakibatkan oleh debitur (konsumen) diselesiakan secara kekeluargaan dan apa bila tidak bisa diserahkan ke pengadilan atau pihak yang berwajib

(12)

Saran

Berdasarkan pemaparan dan kesimpulan yang disampaikan di atas, maka terdapat beberapa hal yang disarankan oleh penulis : PT. Columbus,di jalan Dr Suetomo Nomor 67, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda, seharusnya lebih mudah dalam memberikan kredit elektronik dan furniture kepada debitur (konsumen), serta dalam hal pelaksanaan perjanjian kreditur (pelaku usaha) harus mempublikasikan isi perjanjian yang telah dibuat kepada debitur (konsumen). Apabila debitur (konsumen) melakukan penunggakan angsuran dalam perjanjian kredit sewa-beli elektronik dan furniture pihak debitur (konsumen) sudah malakukan pembayaran angsuran dari setengah harga yang sudah diperjanjikan, sebaiknya pihak penyewa tidak melakukan penarikan terhadap elektronik dan furniture yang debitur (konsumen) kredit.

Daftar Pustaka A. Buku

Abdul Kadir Muhammad,1992, Hukum Perikatan, Citra Adhitya, Bandung. , 2004, Hukum dan Penelitian Hukum, PT.

Citra AdityaBakti, Bandung.

Astiko, 1996, Manajemen Perkreditan, Andi Offset, Yogyakarta.

Manullang Muhammad dan Marihot AHM, 2008, Menejemen Personalia, Gadjah Mada Universitas Press, Yogyakarta.

Margono Suyud, 2004, ADR (Alternatif Dispute Resolution) dan Arbitrase : Proses Pelembagaan dan Aspek Hukum, Ghalia Indonesia, Bogor. Mertokusumo Sudikno, 1999, Mengenal Hukum: Suatu Pengantar, Liberty,

Yogyakarta.

Noone Michael, 1996, Mediation : Essensial Legal Skill, Cavendish Publishing : Great Britain.

Naja H.R. Daeng, 2009, Pengantar HukumBisnis Indonesia, Cetakan Pertama, PT. Buku Kita,

Purwahid patrik,1994,Dasar-Dasar Hukum Perikatan, Mandar Maju, Bandung. PT. Columbus, Perjanjian Jual Beli Kredit di PT. Columbus Cabang Dr Sutomo,

(13)

R. Subekti, 1976,Aspek-aspek Hukum Perikatan Nasional, Alumni, Bandung. Jakarta.

, 1995, Aneka Perjanjian, Citra AdityaBakti, Bandung.

, 1992, Arbitrase Perdagangan, Bina Cipta, Bandung.

Rechmad iUsman, 2003, Pilihan Penyelesaian Sengketa di Luar Penggadilan,

Citra AdityaBakti, Bandung.

B. Peraturan Perundang-Undang

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase Dan Alternatif Penyelesian Sengketa.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

Keputusan menteri perdagangan dan koperasi nomor : 34/KP/II/80 tentang perizinan kegiatan usaha sewa beli (hire purchase), jual beli dengan angsuran, dan sewa (renting).

C. Artikel Jurnal Ilmiah, Artikel Koran, Artikel Internet, dan Makalah Seminar

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/05/wanprestasi-dan-akibat-akibatnya/diakses tanggal 13 Oktober 2013 pukul 15.00 Wita.

http://www.scribd.com/doc/20976269/Definisi-Hukum-Perikatan diakses tanggal 13 Oktober 2013 pukul 15.00 Wita.

http://www.Negarahukum.com/Hukum/Syarat-sahnya-Perikatan.Html.Diakses tanggal 19 Oktober 2013 Pukul 16.30 Wita.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di