Naskah Publikasi
ANALISIS INFECTION CONTROL RISK ASSESMENT DAN STRATEGI
PENURUNAN HEALTH-CARE ASSOCIATED INFECTIONS DI RS PKU MUHAMMADIYAH GAMPING YOGYAKARTA
NURMALITA SARI 20141030098
PROGRAM STUDI MANAJEMEN RUMAH SAKIT PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2016
LEMBAR PERSETUJUAN Naskah Publikasi
ANALISIS INFECTION CONTROL RISK ASSESMENT DAN STRATEGI
PENURUNAN HEALTH-CARE ASSOCIATED INFECTIONS DI RS PKU MUHAMMADIYAH GAMPING YOGYAKARTA
Diajukan Oleh : NURMALITA SARI
20141030098
Pembimbing
LEMBAR PERSETUJUAN Naskah Publikasi
ANALISIS INFECTION CONTROL RISK ASSESMENT DAN STRATEGI
PENURUNAN HEALTH-CARE ASSOCIATED INFECTIONS DI RS PKU MUHAMMADIYAH GAMPING YOGYAKARTA
Diajukan Oleh : NURMALITA SARI
20141030098
Disetujui oleh
Yogyakarta, September 2016 Ketua Dewan Jurnal Medicoeticolegal
Manajemen Rumah Sakit
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai civitas akademik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Nurmalita Sari NIM : 20141030098
Program Studi : Magister Manajemen Rumah Sakit Jenis Karya : Tesis
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Hak Bebas Royalti Non Ekslusif (Non-exclusive Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :
ANALISIS INFECTION CONTROL RISK ASSESMENT DAN STRATEGI PENURUNAN HEALTH-CARE ASSOCIATED INFECTIONS DI RS PKU MUHAMMADIYAH GAMPING YOGYAKARTA
Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Non Ekslusif ini, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta berhak menyimpan, mengalihmediakan dan mengalihformatkan, mengolah dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencatumkan nama saya (dengan atau tanpa nama pembimbing tesis) sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik hak cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Di buat di : Yogyakarta
Pada Tanggal : 15 September 2016
Yang menyatakan,
INTISARI
ANALISIS INFECTION CONTROL RISK ASSESMENT DAN STRATEGI
PENURUNAN HEALTH-CARE ASSOCIATED INFECTIONS DI RS PKU MUHAMMADIYAH GAMPING YOGYAKARTA
Nurmalita Sari, Elsye Maria Rossa
Program Studi Manajemen Rumah sakit, Program Pascasarjana, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Latarbelakang: HAIs (Hospital-Acquired Infections) merupakan komplikasi paling sering terjadi di pelayanan kesehatan. Mengidentifikasi masalah infeksi perlu dianalisis managemen risiko. Salah satu alat untuk mengelola risiko HAIs dengan menggunakan ICRA (Infection Control Risk Assessment). Menyusun penilaian risiko kontrol infeksi di rumah sakit dinilai penting sebagai upaya untuk mencegah potensi kejadian infeksi yang tidak diharapkan.
Tujuan : untuk menganalisis Infection Control Risk Assesment dan strategi penurunan Health-Care Associated Infections di RS PKU Muhammadiyah Gamping Yogyakarta.
Metode : jenis penelitian adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian menggunakan informan yaitu yang terlibat dalam pelaksanaan PPI. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam dan telaah dokumen.
Hasil dan pembahasan : proses manajemen risiko, temuan identifikasi risiko (1) penularan penyakit menular, mikroorganisme melalui kontak langsung dan tidak langsung,(2) infeksi,(3)lama perawatan, tertundanya kepulangan, kecacatan,(4)petugas kesehatan, pasien, pengunjung dan lingkungan rumah sakit. Penilaian risiko tertinggi yaitu Infeksi Daerah Operasi. Strategi penurunan HAIs yaitu pemutusan rantai infeksi, mengidentifikasi bakteri HAIs, penggunaan antibiotik rasional, mengoptimalkan kegiatan surveilans HAIs, pelaksanaan pertemuan rutin dan berkala, pelaporan, kerjasama, evaluasi, sosialisasi dan monitoring serta pencegahannya, penyegaran kembali SPO untuk jenis HAIs.
Saran : Pihak manajemen RS PKU Muhammadiyah Gamping perlu lebih memperhatikan proses pelaksanaan PPI.
Kata kunci: manajemen risiko, ICRA, strategi, HAIs, pencegahan dan pengendalian infeksi
Abstract
AN ANALYS INFECTION CONTROL RISK ASSESSMENT AND
STRATEGIC TO REDUCE HEALTH-CARE ASSOCIATED INFECTIONS IN PKU MUHAMMADIYAH GAMPING HOSPITAL YOGYAKARTA
Nurmalita Sari, Elsye Maria Rossa
Departement of Hospital Management, Master Program, Muhammadiyah Yogyakarta University.
Background HAIs (Hospital-Acquired Infections) is the most frequent complication in the health service. Identifying problem of infection is need to analyzed management risk. One of the tools to manage risk of HAIs is using ICRA (Infection Control Risk Assessment). Arranged a risk assessment of infection control is important in order to prevent potential incidence of infection that’s not expected.
Purpose: to analyze the Infection Control Risk Assessment and reduction strategies Health-Care Associated Infections at PKU Muhammadiyah Gamping Hospital Yogyakarta.
Methods: The type of research was descriptive qualitative with case study approach. Research using informants who are involved in the implementation of the Prevention and infection control. Collecting data with depth interviews and review documents
Results and Study: risk management process, the findings of risk identification (1) the transmission of infectious diseases, microorganisms through direct contact and indirect, (2) infection, (3) the duration of treatment, delayed homecoming, disability, (4) health care workers, patients, visitors and hospital environments. The highest risk assessment is surgical site infection. HAIs reduction strategies are breaking the chain of infection, bacterial identification HAIs, rational antibiotic usage, optimizing surveillance HAIs, implementation and periodic regular meetings, reporting, cooperation, evaluation, socialization, monitoring and prevention, the reinvigoration of the SOP for the type of HAIs.
Advice: The management of PKU Muhammadiyah Gamping Hospital needs to be more noticed of the implementation process of the prevention and infection control.
Key words: Management risk, ICRA, Strategy, HAIs, Prevention and infection control
A. Pendahuluan
HAIs (Health-care Associated Infections) ini dikenal sebagai Infeksi Nosokomial atau disebut juga sebagai infeksi di rumah sakit yang merupakan komplikasi paling sering terjadi di pelayanan kesehatan. HAIs juga berdampak pada pasien dan keluarga akan kehilangan pendapatan, bahaya, cacat atau kematian, peningkatan lama perawatan, pengeluaran tambahan bagi rumah sakit dan dapat menurunkan citra rumah sakit1.
Mutu asuhan pelayanan rumah sakit dapat dikaji dengan tingkat pemanfaatan sarana pelayanan oleh masyarakat, mutu pelayanan dan tingkat efisiensi rumah sakit2. Salah satu indikator keberhasilan dalam pelayanan rumah sakit yaitu rendahnya angka infeksi nosokomial (HAIs) di rumah sakit. Standar baku dalam sistem akreditasi rumah sakit versi tahun 2012 menekankan pada keamanan dan keselamatan pasien serta terhindar dari infeksi selama dirawat di rumah sakit.
Pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit merupakan program yang perlu di dukung oleh rumah sakit. Dalam mengidentifikasi masalah infeksi perlu dianalisis managemen risiko berkaitan dengan infeksi di rumah sakit terlebih dahulu. Manajemen risiko adalah dasar untuk mencegah dan mengurangi bahaya yang timbul dari Health-care Associated Infections3. Manajemen risiko didefinisikan sebagai suatu pendekatan yang komprehensif untuk menangani semua kejadian yang menimbulkan kerugian4. Perlunya managemen risiko dalam rumah sakit adalah sebagai antisipasi kejadian buruk yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Menurut The Joint Commission On Acreditation Of Healthcare Organizations, membuat ICRA merupakan salah satu program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) dari standar akreditasi rumah sakit. Menyusun penilaian risiko kontrol infeksi di rumah sakit di nilai penting sebagai upaya untuk mencegah potensi kejadian infeksi yang tidak diharapkan. ICRA (Infection Control Risk Assessment) merupakan kelengkapan penting dalam menyusun perencanaan, pengembangan, pemantauan, evaluasi, dan upaya membuat pertimbangan dari berbagai tahap dan tingkatan risiko infeksi, yakni VAP (Ventilator-Associated Pneumonia, IADP (Infeksi Aliran Darah Primer), Cathether Urinary Tract Infection (CAUTI), dan IDO (Infeksi Daerah Operasi) di setiap area pelayanan5.
A. Metode Penelitian
Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian menggunakan informan yaitu menggunakan informan
yang dianggap kompeten dalam memberikan informasi dari rumah sakit yaitu ketua tim PPIRS (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit), IPCN (Infection Preventive Control Nursing), kepala ruang rawat inap, dan IPCLN (Infection Preventive Control Link Nursing), petugas rawat inap yang terlibat dalam pelaksanaan PPI. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam dan telaah dokumen.
B. Hasil Penelitian
1. Pelaksanaan manajemen risiko HAIs di RS PKU Gamping Yogyakarta Tinjauan Sistem
manajemen risiko infeksi
Proses sistem manajemen risiko infeksi Evaluasi proses sistem manajemen risiko infeksi Program pelaksanaan PPI yang sudah dilakukan Pelaksanaan :
1. Baru berjalan 1 tahun dan sudah berjalan cukup baik
2. Program belum disosialisasikan secara menyeluruh
Tujuan :
3. Upaya pencegahan dan penularan HAIs Dukungan :
4. Dari pihak manajemen 5. Pelatihan
6. Keterlibatan IPCLN
7. Penyediaan sarana dan prasarana 8. Kegiatan cuci tangan
Program pelaksanaan PPI belum berjalan optimal
Ada dukungan manajemen dalam program PPI
Keterlibatan petugas
Partisipasi petugas:
1. Ikut berpartisipasi sesuai standar operasional, tindakan sesuai prosedur Peranan kepala ruang, IPCN, IPCLN: 2. Mengawasi, memantau, mengingatkan
terkait penggunaan APD, pelaksanaan cuci tangan, pelaksanaan 5 moment 3. Melaporkan kegiatan surveilans melalui
SIM
Adanya keterlibatan dan partisipasi petugas kesehatan dalam memantau pelaksanaan penurunan HAIs di unit
Komunikasi dan informasi
Penyebaran informasi :
1. Komunikasi dan informasi didapatkan dengan mudah dapat diakses melalui komputer di masing-masing unit
2. Informasi terbaru didapatkan melalui diskusi, pertemuan rapat, pelatihan, pelaporan, media poster/leafleat
3. IPCLN menyampaikan informasi ke unit tugas masing-masing
Kemudahan yang dirasakan dalam transfer informasi daro PPI ke petugas kesehatan di unit
Pengaruh pimpinan
Peranan pimpinan :
1. Memiliki kontribusi yang besar
2. Pimpinan sangat mendukung program PPI
Kekurangan peran pimpinan yang
Pentingnya keterlibatan, dukungan penuh, peranan pimpinan yang proaktif dalam pelaksanaan
dirasakan :
1. Kurang adanya peran langsung dari pimpinan
2. Tidak ada evaluasi atau umpan balik untuk perbaikan
3. Belum adanya reward-punishment Budaya sadar
risiko HAIs
Budaya sadar risiko :
Semua sudah sadar risiko infeksi
Kegiatan yang dapat menurunkan dan mencegah infeksi :
1. Cuci tangan
2. Menggunakan APD
Perilaku budaya sadar risiko :
1. Pelaksanaan kadang untuk pemakaian APD ada yang masih belum sesuai 2. Kepatuhan cuci tangan belum optimal 3. Kadang masih lupa 6 langkah cuci
tangan dan melewatkan pelaksanaan 5 moment
Sudah tertanam budaya sadar risiko HAIs di ranap, ralan, OK
Pelaksanaan perilaku budaya sadar risiko masih belum optimal
Kepatuhan cuci tangan belum optimal
Kepatuhan pelaksanaan 5 moment dinilai belum optimal
Hambatan pelaksanaan
Kendala pelaksanaan program :
1. Kelengkapan pengadaan sarana prasarana di unit
2. Kesulitan pelaksanaan pencegahan seperti kelupaan cuci tangan, kelupaan 5 moment
3. Kesulitan mengubah kebiasaan 4. Sumber daya yang kurang memadai 5. Setiap petugas memiliki karakteristik
yang unik
Kendala bersumber dari sumber daya manusia yang kurang memadai dan kesulitan mengubah kebiasaan
Kerjasama Kerjasama antar tim PPI ke setiap unit : 1. Sudah berjalan cukup baik, komunikasi
terjalin baik
2. Pelaksanaan kerjasama dirasakan masih kurang maksimal di ruang OK
Kerjasama OK dan CSSD terkendala SDM CSSD
Pelaksanaan kerjasama dirasa masih kurang maksimal di ranap, ralan, dan OK
Harapan petugas Harapan perubahan, dukungan, dan perbaikan :
1. Meningkatkan kepatuhan cuci tangan 2. Berperilaku yang baik untuk menjaga
HAIs
3. Ada pengontrolan, evaluasi yang rutin dan berkala
4. Adanya reward-punishment 5. Adanya feedback
6. Sikap profesional, perbaikan sikap dari individu yang sesuai standar
Dukungan yang proaktif dari petugas
2. Identifikasi HAIs
Identifikasi HAIs berdasarkan kegiatan atau tindakan yang dilakukan di rumah sakit yang dapat memicu kejadian HAIs, siapa yang beresiko sumber risiko, dan cara transmisi infeksi tersebut. Identifikasi risiko HAIs memiliki yang risiko untuk mendapatkan infeksi dari rumah sakit adalah petugas kesehatan, pasien, pengunjung dan area perawatan atau lingkungan rumah sakit.
Risiko-risiko yang ditemukan dan di analisis antara lain yaitu (1) penularan penyakit menular melalui kontak langsung dan tidak langsung, (2) perpindahan, masuk dan berkembangnya mikroorganisme, (3) Masuknya virus/bakteri yang ada di dalam udara (gangguan pernafasan TB, influenza), (4) terjadinya infeksi (IDO, VAP, ISK, IADP, plebitis dan dekubitus), (5) lama perawatan, tertundanya, kepulangan, kecacatan atau bahkan kematian.
3. Program Infection Control Risk Assesment HAIs
N O POTENSI AL RISK/MAS ALAH PROBABILITY RISK/IMPACT (HEALTH,FINACIAL,LEGAL,REGULATO RY) Current systems/prepared ness Sco re EXPEC I T LI KEL Y MAY B E R ATE NEV ER Catast ropic Loss (life/li mb/ functi on/fin ancial Serious Loss (Functio n/financi al/legal Pro lon ged len gth of sta y Mode rate clinic al/fin ancial Mi ni ma l cil ini cal fin an cia l
None poor Fair Good Soli
d 5 4 3 2 1 5 4 3 2 1 5 4 3 2 1 Healthcare Acquired Infection a IDO 4 3 3 24 b VAP 1 3 1 4 c IADP 1 3 4 7 d ISK 4 3 1 16 e Phlebitis 5 3 1 20 f Dekubitus 5 3 1 20
4. Penilaian risiko
: risiko rendah : risiko sedang
: risiko tinggi : risiko sangat tinggi
5. Evaluasi risiko
Risiko IDO Deskripsi Risiko Evaluasi Risiko
Identifikasi IDO Pelaporan identifikasi dan kontrol Infeksi Daerah Operasi
Pelaporan terkait IDO masih kurang mendalam seperti mengidentifikasi kontrol IDO, pengklasifikasian infeksi dari operasi bersih atau kotor, kapan terjadinya, lamanya infeksi, perawatan luka yang dilakukan, pengontrolan IDO mulai dari prosedur tindakan operasi, perawatan di bangsal, dan kontrol luka post operasi di poliklinik yang belum terlaksana secara optimal.
Pelaksanaan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi
Di ruang rawat inap dan rawat jalan a. Menjaga kebersihan tangan, kepatuhan cuci tangan sebelum dan setelah melakukan perawatan luka operasi, dan penggunaan APD sebelum melakukan tindakan
b. Penggunaan alat yang digunakan untuk perawatan luka operasi
c. Pelaksanaan yang dilakukan jika
Sudah dilakukan pelaksanaan cuci tangan sebelum dan setelah ke pasien namun kadang petugas kesehatan lupa dalam pelaksanaan 5 moment. Penggunaan APD seperti sarung tangan saat melakukan perawatan luka operasi sudah dilakukan oleh petugas kesehatan.
Alat-alat yang digunakan untuk tindakan perawatan luka dengan menggunakan set medikasi yang steril. Setelah digunakan alat atau set medikasi tersebut di rendam oeh cairan enzimatik sebelum diserahkan ke CSSD. Kemungkinan Dampak Insignificant 1 Minor 2 Modarete 3 Mayor 4 Calastrofic 5 Sering sekali 5 Phlebitis, dekubitus Sering 4 IDO Mungkin 3 ISK Jarang 2 Tidak pernah 1 VAP IADP
terpercik darah atau cairan tubuh ketika melakukan perawatan luka
Membasuh dengan alkohol dan segera cuci tangan Sumber daya manusia Pengetahuan perawat terkait
tanda-tanda Infeksi Daerah Operasi Budaya sadar risiko infeksi
Tanda-tanda infeksi luka seperti edema, kemerahan, ada nanah.
1. Sikap dari petugas kesehatan sudah tertanam budaya sadar akan risiko infeksi di ranap, ralan, dan OK
2. Pelaksanaan perilaku budaya sadar risiko masih belum optimal. 3. Kepatuhan pelaksanaan 5 moment dinilai belum optimal,
4. Sudah menggunakan APD, memutuskan rantai transmisi agen infeksi dengan menjaga kebersihan tangan namun untuk kepatuhannya belum berjalan optimal
Dikamar operasi sangat berpotensi terjadi infeksi, semua tim sudah sadar risiko sesuai dengan prosedur (pengelolaan alat, menangani limbah, membersihkan, menyetrilkan ulang alat habis pakai)
Manajemen risiko IDO
Pelaksanaan manajemen risiko IDO di ruang rawat inap
Pelaksanaan manajemen risiko IDO di kamar operasi
Penggunaan antibiotik profilaksis
Manajemen risiko dengan cuci tangan, penggunaan APD seperti sarung tangan, menggunakan peralatan untuk perawatan luka yang steril dan menggunakan teknik steril ketika melakukan tindakan.
Kepatuhan menjaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan sebelum melakukan operasi sudah dilakukan, penggunaan peralatan steril dan pelaksanaan antiseptic kulit ketika melakukan tindakan operasi. Adanya keterlibatan CSSD dalam penyetrilan instrumen operasi dan sterilisasi ruangan operasi secara rutin dan berkala.
Diberikan sebelum operasi, lama penggunaan tergantung jenis operasi yaitu 3-4 kali setelah tindakan operasi diruang perawatan
Dukungan manajemen Dukungan manajemen dalam penurunan risiko IDO
1. Adanya pengawasan yang dilakukan oleh komite PPIRS melalui IPCN ke IPCLN yang kemudian melaporkan kegiatan pelaksanaan surveilans HAIs melalui SIMRS (Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit).
2. Kelengkapan pelaporan surveilans HAI melalui SIM belum ada pengawasan
3. Pelaporan surveilans IDO belum terlaporkan secara efisien
4. Terkait mentoring dan sosialisasi dirasakan masih kurang oleh petugas kesehatan, evaluasi secara berkala belum terlaksana dengan baik.
terlaksana dengan optimal
6. Kegiatan surveilans IDO belum berjalan maksimal 7. Sarana prasana sudah cukup memadai
8. Peranan pimpinan diperlukan dalam mendukung program penurunan HAIs
6. Tindak lanjut risiko dan strategi penurunan HAIs HAIs Skor Tingkatan
risiko
Tujuan umum
Tujuan khusus
Strategi Evaluasi risiko Analisa tindak lanjut IDO 24 Sangat tinggi Mengura ngi angka kejadian IDO Angka kejadian IDO menurun
Diklat pelayanan PPI, pengadaan fasilitas hand hygiene (wastafel dan hand-rub), bahan edukasi dan leaflet yan PPI (hand hygiene), refresing penatalaksanaan pre operasi, durante operasi, post operasi, penyegaran penatalaksanaan perawatan luka, membuat format surveilans IDO dan sosialisasi cara pengisiannya.
Sudah dilakukan diklat yan PPI, kepatuhan petugas dalam hand hygiene masih kurang, belum dilakukan refresing pasien dengan pembedahan, sudah dibuatkan surveilans IDO
tetapi belum
disosialisasikan.
Membutuhkan tindakan segera, perhatian sampai ke direktur RS, perlu pengkajian yang sangat mendalam, Audit SPO Hand hygiene, monitoring kepatuhan hand hygiene, lakukan penyegaran pasien dengan pembedahan dan lakukan sosialisasi surveilans IDO, identifikasi dan pengontrolan luka operasi yang mendetail VAP 4 Rendah Mengura
ngi angka kejadian VAP Angka kejadian VAP menurun.
Diklat yan PPI, pengadaan fasilitas hand hygiene (wastafel dan hand-rub), bahan edukasi dan leaflet yan PPI (hand hygiene), refresing askep pasien dengan pemasangan ventilator, membuat format surveilans VAP dan pencegahannya serta sosialisasi
Sudah dilakukan diklat yan PPI, fasilitas sarana dan prasarana hand hygiene masih kurang, sudah dilakukan presentasi askep perawatan pasien dengan pemasangan ventilator, sudah dibuatkan format surveilans dan pencegahan
Melakukan investigasi sederhana dengan prosedur rutin,
Audit SPO Hand hygiene, monitoring kepatuhan hand hygiene, lakukan sosialisasi surveilans dan pencegahan VAP secara
cara pengisiannya. VAP. terus menerus IADP 7 Sedang Mengura
ngi angka kejadian IADP Tidak ada kejadian IADP
Diklat yan PPI, pengadaan fasilitas hand hygiene (wastafel dan hand-rub), bahan edukasi dan leaflet yan PPI (hand hygiene), refresing persiapan dan perawatan pemasangan intra vena sentral, pengisian surveilan IADP
Kepatuhan petugas dalam hand hygiene masih kurang, belum dilakukan resfresing persiapan dan perawatan CVC, sudah dibuatkan format surveilans dan pencegahan IADP tetapi belum dilakukan sosialisasi.
Melakukan monitoring atau audit secara khusus, mengelola risiko, Audit SPO hand hygiene, monitoring kepatuhan hand hygiene, lakukan refresing persiapan dan perawatan CVC dan lakukan sosialisasi surveilans dan pencegahan IADP. ISK 16 Tinggi Mengura
ngi angka kejadian ISK Angka kejadian ISK menurun.
Diklat yan PPI, pengadaan fasilitas hand hygiene (wastafel dan hand-rub), bahan edukasi dan leaflet yan PPI (hand hygiene), refresing SPO pemasangan dan perawatan kateter urin, membuat format surveilans dan pencegahan ISK serta sosialisasi pengisiannya.
Kepatuhan petugas dalam hand hygiene masih kurang, belum dilakukan resfresing SPO pemasangan dan perawatan kateter urin, sudah dibuatkan format surveilans dan pencegahan ISK tetapi belum dilakukan sosialisasi.
Mengkaji secara mendetail, perlu adanya tindakan segera, melibatkan pihak manajemen, Audit SPO hand hygiene, melakukan bed site teaching hand hygiene, monitoring kepatuhan Hand hygiene, lakukan refresing pemasangan dan perawatan kateter urin dan lakukan sosialisasi surveilans dan pencegahan ISK. Infeksi lain ( Phlebit is ) 20 Tinggi Mengura ngi angka kejadian phlebitis Angka kejadian phlebitis menurun.
Diklat yan PPI, pengadaan fasilitas hand hygiene (wastafel dan hand-rub), bahan edukasi dan leaflet yan PPI (hand hygiene), refresing SPO pemasangan infus dan perawatan infus.
Kepatuhan petugas dalam hand hygiene masih kurang, belum dilakukan resfresing SPO pemasangan dan perawatan infus.
Mengkaji secara mendetail, perlu adanya tindakan segera, melibatkan pihak manajemen, Audit SPO Hand hygiene, monitoring kepatuhan
Hand hygiene, lakukan refresing pemasangan dan perawatan infus.
Infeksi lain (dekubi tus) 20 Tinggi Mengura ngi angka kejadian dekubitus Angka kejadian dekubitu s menurun.
Diklat yan PPI, pengadan fasilitas hand hygiene (wastafel dan hand-rub), bahan edukasi dan leaflet yan PPI (hand hygiene), pengadaan matras dekubitus, refresing askep dekubitus.
kepatuhan petugas dalam hand hygiene masih kurang, sudah ada pengadaan matras dekubitus, belum dilakukan refresing askep dengan dekubitus.
Mengkaji secara mendetail, perlu adanya tindakan segera, melibatkan pihak manajemen, Audit SPO hand hygiene, monitoring kepatuhan hand hygiene, lakukan refresing perawatan pasien dengan dekubitus. C. Pembahasan
Memutuskan rantai penularan HAIs di rumah sakit dengan pencegahan HAIs dengan menggunakan alat pelindung diri dan kegiatan menjaga kebersihan tangan petugas. Berdasarkan wawancara informan menyebutkan bahwa mereka sangat sadar untuk menjaga kebersihan tangan dengan cuci tangan, namun terkadang mereka suka lupa. Menjaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan merupakan menjadi salah satu hal penting untuk dilakukan agar dapat mengurangi adanya penularan mikroorganisme dan mencegah terjadinya infeksi6. Apabila hal tersebut dilakukan dengan baik dan benar, maka dapat mencegah penularan mikroorganisme dan menurunkan dari angka kejadian HAIs.
Berdasarkan hasil penilaian risiko yang dijabarkan dalam penelitian ini bahwa jenis HAIs yang memiliki risiko sangat tinggi adalah IDO. Infeksi Daerah Operasi ini telah dilaporkan menjadi salah satu penyebab paling umum dari HAIs, 20-25% dari semua HAIs di seluruh dunia. IDO bertanggungjawab terhadap adanya peningkatan biaya, morbidilitas, dan mortalitas yang berkaitan dengan pembedahan dan tetap menjadi salah satu masalah yang besar besar diseluruh dunia7.
Strategi penurunan HAIs
Cara yang pertama dengan cara meningkatkan daya tahan dari penjamu melalui pemberian imunisasi aktif maupun imunisasi pasif dengan cara promosi kesehatan. Cara kedua dengan mematikan atau menginaktivasikan agen penyebab infeksi melalui metode fisik seperti pemanasan (pasteurisasi atau sterilisasi) dan memasak makanan seperlunya serta melalui metode kimiawi seperti klorinasi air, desinfeksi. Cara yang ketiga dengan memutus mata rantai penularan. Tindakan ini adalah hal yang paling mudah tetapi hasilnya tergantung dari ketaatan petugas dalam pelaksanaan prosedur yang telah ditetapkan. Dalam tindakan pencegahan ini sudah disusun dalam “isolation precaution” (kewaspadaan Isolasi) yang terdiri dari standar precaution “(kewaspadaan standar) dan “transmission-based precaution” (kewaspadaan berdasarkan cara penularan). Kemudian yang keempat adalah antisipasi tindakan pencegahan paska pajanan seperti penularan melalui darah dan cairan tubuh lainnya akibat tertusuk jarum bekas pakai atau terpapar hal lainnya8.
Penggunaan antibiotik profilaksis pada saat pre operasi bertujuan untuk mengendalikan risiko infeksi agar mencegah terjadinya risiko pasca bedah dengan serendah mungkin9. Keberhasilan pengobatan antibiotik dipengaruhi beberapa aspek yaitu jenis antibiotik, spektrum antimikroba, aspek farmakologis, aspek mikrologi kuman, aspek penderita, dan pola pemberian antimikroba10. Perlu adanya pemantauan kembali terkait penggunaan antibiotik profilaksis dalam pembedahan seperti pola penggunaan antibiotik, kesesuaian terapi antibiotik dengan standar dan kerasionalan penggunaan antibiotik yang meliputi tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, tepat
strategi penurunan
HAIs memutuskan rantai
penularan dengan menjaga kebersihan tangan, penggunaan APD, menjaga sterilitas peralatan medis mengidentifikasi bakteri penyebab HAIs penggunakan antibiotik profilaksis yang rasional monitoring , sosialisasi dan evaluasi berkala pada petugas/staff kerjasama dam dukungan manajemen pelaksanaan pertemuan rutin dan
berkala
mengoptimalkan pelaporan surveilans
HAIs
pelatihan staff terkait pencegahan dan pengendalian infeksi
penderita, waspada efek samping obat, waspada interaksi obat di RS PKU Muhammadiyah Gamping.
Rumah sakit dapat melakukan pengidentifikasian bakteri dari Infeksi Daerah Operasi dan jenis HAIs lainnya dengan pemeriksaan mikrobiologi sehingga dapat menggunakan hasil identifikasi bakteri tersebut sebagai dasar untuk melakukan tindakan atau terapi terhadap bakteri penyebab HAIs. Penelitian yang telah dilakukan menjelaskan bakteri penyebab Infeksi Daerah Operasi yang terbanyak adalah bakteri Gram negatip batang yang merupakan flora normal dari usus (Pseudomonas sp,. Escherichia coli dan Klebsiella sp.) selain flora normal dari kulit yaitu bakteri Gram positif kokus (Staphylococcus epidermidis) di RSAM yang dilakukan dengan melakukan kultur, pewarnaan Gram dan uji biokimiawi11.
Para staff rumah sakit memerlukan pelatihan untuk dapat meningkatkan pengetahuan mereka. Tujuan pendidikan dan pelatihan bagi karyawan adalah: (1) untuk mengembangkan keterampilan hal ini menjadikan pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan lebih efektif, (2) sebagai peningkatan pengetahuan agar pekerjaan dapat terselesaikan secara rasional, (3) untuk mengembangkan sikap, sehingga akan memunculkan kemauan kerjasama dengan sesama pegawai dan pimpinan12. Pelaksanaan pelatihan dari program PPI diharapkan dapat menjadi penyegaran ilmu, menambah pengetahuan, meningkatkan motivasi, dan meningkatkan kinerja petugas/staff.
Mentoring dan sosialisasi, serta evaluasi yang rutin dan berkala terhadap para staff yang dilakukan efektif dan efisien diharapkan dapat menjadikan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas dan upaya perbaikan. Keuntungan pelaksanaan kontrol yang baik, apabila sistem pengawasan berjalan baik maka akan diperoleh bebagai keuntungan13.
D. Kesimpulan
1. Identifikasi HAIs di RS PKU Muhammadiyah Gamping bahwa risiko-risiko yang ditemukan dan di analisis antara lain (1) penularan penyakit menular mkroorganisme melalui kontak langsung dan tidak langsung, (2) infeksi (IDO, VAP, ISK, IADP, plebitis dan dekubitus), (3) lama perawatan, tertundanya kepulangan, kecacatan . Peugas kesehatan, pasien, pengunjung dan area perawatan atau lingkungan rumah sakit
2. Analisis dan penilaian risiko HAIs yaitu risiko tertinggi dari jenis HAIs yaitu IDO
3. Evaluasi dan tindak lanjut risiko HAIs adalah ketidakpatuhan cuci tangan yang masih kurang pada petugas kesehatan, belum optimalnya pelaksanaan kontrol luka operasi, dukungan manajemen yang dirasa belum optimal
4. Strategi penurunan infeksi yaitu dengan pemutusan rantai infeksi (melalui menjaga kebersihan tangan, penggunaan APD, menjaga sterilitas alat medis), mengidentifikasi bakteri HAIs, penggunaan antibiotik yang rasional, mengoptimalkan kegiatan surveilans HAIs, pelaksanaan pertemuan rutin dan berkala untuk membahas terkait HAIs, pelaporan, kerjasama, evaluasi, sosialisasi dan monitoring terkait HAIs serta pencegahannya, penyegaran kembali SPO untuk jenis HAIs
E. Saran
Pihak manajemen RS PKU Muhammadiyah Gamping perlu lebih memperhatikan proses pelaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi
F. Rujukan
1. Weston, Debbie . (2013). Fundamentals of Infection Prevention and Control: Theory and Practice 2nd Edition. Wiley-Blackwell. Hal. 6
2. Muninjaya, A.A. Gde. (2004). Manajemen Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
3. National Health and Medical Research Council. (2010). Australian Guidelines for the Prevention and Control of Infection in Health care, HEALTHCARE ASSOCIATED INFECTION RISK MANAGEMENT AND PATIENT SAFETY STANDARDS : Categorised guidance on recommended practice and legal and professional standards in Infection Control. Australian goverment. NHMRC— ICG Project Team, Canberra. Diakses pada 5 Januari 2016 di
http://www.nhmrc.gov.au/_files_nhmrc/publications/attachments/cd33_infection_ control_healthcare.pdf
4. Anonim. Asesmen manajemen risiko berbasis ISO 31000: 2009. Di akses tanggal 25 Januari 2015 pada http://latarmarif.weblog.esaunggul.ac.id/wp-content/uploads/sites/1079/2015/04/Manajemen-Resiko-ISO-3001-2009.pdf
5. Lardo S., Prasetyo B., Purwaamidjaja D.B. (2016). Infection Control Risk Assessement (ICRA). CDK-238 Vol 43 no. 3 th 2016. Diakses tanggal 4 Maret 2016 pada http://www.kalbemed.com/Portals/6/19_238Analisis-Infection%20Control%20Risk%20Assessment-ICRA.pdf
6. Ernawati, E., Tri. A.R., Wiyanto. S. (2014).Penerapan Hand hygiene Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit. Jurnal Kedokteran Brawijaya. Diakses 1
Agustus 2016 pada
Http://kb.ub.ac.id___/idex.php___/jkb/artcle/_view.file/523/409.
7. Mawalla, brian dkk. (2011). Predictors of surgical site unfections among patients undergoing major surgery at Bugando Medical Centre in Northwestern Tanzania. BMC Surgery 11:21.
8. Darmadi. (2008). Infeksi Nosokomial : Problematika dan pengendaliannya. Jakarta : Penerbit Salemba Medika.
9. Amin, L.Z (2014). Pemilihan antibioik yang raisional. Vol 27 di akses pada 18
Agustus 2016 pada
http://cme.medicinus.co/file.php/1/MEDICAL_REVIEW_Pemilihan_Antibiotik_ yang_Rasional.pdf
10. Bratzler,D.W., Dellinger, E.P., Olsen, K.M. (2013). ASHP clinical practice guidelines for antimicrobial prophylaxis in surgery. ClinPharm. ASHP Commission on Therapeutics.Di akses 19 Agustus 2016 pada
https://www.idsociety.org/uploadedFiles/IDSA/Guidelines-Patient_Care/PDF_Library/2013%20Surgical%20Prophylaxis%20ASHP,%20ID SA,%20SHEA,%20SIS%281%29.pdf
11. Warganegara E, Apriliana E, Ardiyansyah R. (2012). Identifikasi Bakteri Penyebab Infeksi Luka Operasi (ILO) Nosokomial Pada Ruang Rawat Inap Bedah Dan Kebidanan Rsam Di Bandar Lampung . ISBN No. 978-602-98559-1-3 12. Usman, H. (2006). Manajemen Teori, Praktik, Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi