Tarumanagara University
From the SelectedWorks of Wulan Purnama Sari
2020
Romantisme dan Komunikasi Bisnis
Wulan Purnama Sari, Tarumanagara University
dalam
Ekonomi
Kreatif
Digitalisasi
dan
Humanisme
Digitalisasi
dan
Humanisme
dalam
Ekonomi Kreatif
Editor:
Nigar Pandrianto, Roswita Oktavianti,
Wulan Purnama Sari
Penerbit
PT Gramedia Pustaka Utama Kompas Gramedia Building Blok I, Lt. 5 Jl. Palmerah Barat 29–37 Jakarta 10270 @bukugpu @bukugpu www.gpu.id Harga P. Jawa Rp135.000 SOCIAL SCIENCES 18+ xxx
Digitalisasi memicu transisi di berbagai bidang. Hal itu mengubah wajah kehidupan. Pola interaksi, gaya berkomunikasi, cara bertransaksi, hingga cara bersosialisasi, berubah secara signifikan. Mau tidak mau, jarak, waktu, bisnis, kreativitas, dan kemanusiaan, harus didefinisikan ulang.
Dari perspektif bisnis, dalam hal ini ekonomi kreatif, digitalisasi telah membuat para pelakunya mendapat berbagai kemudahan. Mereka lebih mudah menembus pasar yang besar, memperoleh sumber informasi luas, serta menemukan partner potensial untuk berkolaborasi. Namun, di saat bersamaan mereka juga berhadapan dengan kompetitor yang terus bermunculan. Persoalannya, apakah pelaku ekonomi kreatif dapat menjawab tantangan ini? Apakah digitalisasi dapat mendorong mereka untuk menghasilkan karya dan solusi-solusi untuk mempertahankan eksistensinya? Lalu, bagaimana dengan masa depan kemanusiaan? Fakta memperlihatkan kepada kita bahwa si satu sisi kehidupan manusia dipermudah oleh digitalisasi, tetapi di sisi lain kemanusiaan juga digerogoti. Relasi horizontal terpecah dan kebenaran semakin sulit ditemukan di tengah luapan informasi. Sikap apa yang paling tepat untuk menghadapi realitas ini?
Digitalisasi dan Humanisme dalam Ekonomi Kreatif berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tulisan-tulisan dalam buku ini tidak hanya mengetengahkan potret digitalisasi saat ini, tetapi juga buah-buah pikiran reflektif yang akan membantu kita menjawab masalah-masalah sosial, komunikasi, ekonomi kreatif dan kemanusiaan kontemporer.
Digitalisasi da
n Huma
nisme dalam E
konomi Krea
tif
Editor: Ni gar P andrian to, R oswita Okta vian ti, W ulan Pu rnama SariDigitalisasi dan Humanisme dalam Ekonomi Kreatif_C-1+.indd 2
Digitalisasi dan
Humanisme
dalam Ekonomi
Sanksi Pelanggaran Pasal 113 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014
Tentang Hak Cipta
(1). Setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf i untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
(2). Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin pencipta atau pemegang hak cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipta sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3). Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin pencipta atau pemegang hak melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipta sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan atau huruf g untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). (4). Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan dipidana dengan
Digitalisasi dan
Humanisme
dalam Ekonomi
Kreatif
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Editor:
Nigar Pandrianto, Roswita Oktavianti,
Wulan Purnama Sari
Digitalisasi Dan Humanisme Dalam ekonomi kreatif
Editor: Nigar Pandrianto, Roswita Oktavianti, Wulan Purnama Sari GM 621222001
© Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Gedung Gramedia Blok I, Lt. 5 Jl. Palmerah Barat 29–33, Jakarta 10270
Desain sampul: Suprianto Layout isi: Ryan Pradana Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
anggota IKAPI, Jakarta, 2020 www.gpu.id
Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit.
ISBN: 978-602-06-4981-8 ISBN Digital: 978-602-06-4982-5
Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta Isi di luar tanggung jawab Percetakan
v
Daftar isi
Sambutan vii
Kata Pengantar ix
BaB 1. kebudayaan, kemasyarakatan, dan Perubahan sosial 1
Gay Sebagai Identitas Seksual Baru dalam Webseries Tharntype 3 Etnisitas dan Kepemimpinan dalam Film “A Man Called Ahok” 11 Representasi Ilusi Semu Kesetaraan Gender dalam Iklan Grabcar
#Amanuntuksemua! 19 Pengaruh Sales Promotion Cashback Point di Tokopedia terhadap Perilaku
Impulse Buying Konsumen Milenial 27 Memberikan Suara pada Mereka yang Tak Dapat Bersuara; Sebuah Catatan dari
Ruang Play Therapy 40 Nilai-Nilai Budaya dalam Lagu Kebangsaan Afrika Selatan “Nkosi Sikelel ‘Iafrika”
dan “Indonesia Raya” 47
Persepsi Publik terhadap Program Penanganan Banjir dengan Sistem Polder di
Kabupaten Pekalongan 55
Program Kemitraan Masyarakat: Brand Recognition Fikom Untar 63 Membangun Industri Kreatif pada Masyarakat Adat, Sebuah Utopia? 71 Model Ruang Publik yang Digunakan dalam Konflik Ambon 79 Kantin Sastra: Terbit Kembali Bermodal Empati 86
Hallyu Rengkuh Pasar Indonesia: Soft Power Budaya Pop lewat Media Digital 92
BaB 2. komunikasi media Digital 99
Promosi Festival Budaya Bogor Melalui Instagram pada Akun @cgmbogor_fest 101 Komunikasi Digital Generasi Z dalam Membangun Industri Kreatif Tanah Air 109 Pemanfaatan Media Sosial sebagai Penyebaran Informasi Pemberian Izin
Tinggal Bagi WNA 116
Branding Digital Tanijoy dalam Meningkatkan Investasi Sektor Pertanian
Tahun 2019 126
Komunikasi Digital Selama Pandemi COVID-19 136
Digitalisasi Komunikasi dan Analog Zaman 144
Urgensi Media Digital untuk Edukasi dan Pemberdayaan Masyarakat UMKM
di Kota Bogor 148
Komunikasi Pemasaran Kawasan Wisata Budaya Betawi Setu Babakan 156
Instagram Live “Betta Society” sebagai Jaringan Komunikasi pada Kelompok Sociopreneur 163
vi
Digitalisasi dan Humanisme dalam Ekonomi Kreatif
Komunikasi Digital bagi Generasi Boomers 170
Interaksi Perusahaan Otobus dan Komunitas Bismania Melalui Media Sosial 179 Pengaruh Influencer dan Content Marketing terhadap Keputusan Pembelian 186 Konvergensi Media dan Partai Digital dalam Menciptakan Demokrasi
Komunikatif Berbasis Virtual 193
Pengaruh Customer Value, Customer Experience terhadap Purchase Intention
pada Pengguna MRT Jakarta 203
Arus Informasi dalam Ruang Bergema 211
Komunikasi Konflik Komunitas dan Jurnalisme Keberagaman di Kalimantan Barat 217
BaB 3. media Digital dalam Berbagai Perspektif 225
Kandungan Seksisme dalam Konten Pemberitaan Media Terkait Sepak bola
Putri di Indonesia 227
Penerapan Media Komunitas Berbasis Internet pada Komunitas Budaya 235 Aspek Konsumtif demi Pemenuhan Kebutuhan Aktualisasi Diri dalam
Konten Digital Video Game 242 Industrialisasi Kompetisi Olahraga melalui New Media di Masa Pandemi 249 Media Alternatif di Era Digital: Melawan Kapitalisme Media Baru 257
YouTube Anomali Industri Media 265
Deteksi BOT pada Akun Twitter 273
Dinamika Transformasi Konsumsi Media Khalayak di Era Digital 280 Potensi Komunikasi Digital Generasi Z dalam Masalah Perubahan Iklim 287
Romantisme dan Komunikasi Bisnis 295
Ekspresi Kebebasan Berpendapat di Media Sosial: Telaah Kritis Ruang
Publik Habermas 303
vii
sambutan
K
onferensi Nasional Komunikasi Humanis (KNKH) adalah konferensi tahunan yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara (Fikom Untar) sejak 2018, sebagai salah satu bentuk imple-mentasi dari nilai-nilai budaya yang dibangun di Fakultas Ilmu Komunika-si UniverKomunika-sitas Tarumanagara (Fikom Untar), yaitu budaya HEPI, yang me-rupakan singkatan dari Humanis, Entrepreneurship, Profesionalisme, dan Integritas.Tema KNKH tahun ini adalah “Digitalisasi dan Humanisme dalam Eko-nomi Kreatif”. Tema ini ditetapkan, mengingat bahwa perkembangan tek-nologi komunikasi saat ini semakin mengarah pada platform digital, yang sedikit banyak berdampak pada sisi humanis masyarakat, dan sekaligus menjadi salah satu pendorong menguatnya ekonomi kreatif.
Perkembangan ini di satu sisi merupakan kabar baik yang menjanji-kan masa depan komunikasi manusia yang super canggih, tetapi di sisi lain juga muncul kekhawatiran bahwa digitalisasi, kecerdasan buatan, dan internet atas segala sesuatu justru mengancam keberadaan manusia. Dalam menghadapi tantangan ini sebagai manusia komunikasi kita perlu memastikan bahwa kita tidak akan kehilangan kemanusiaan kita, karena kemanusiaan kita tidak bisa digantikan oleh segala sesuatu yang bersifat artifisial.
Komunikasi digital hendaknya menjadi sarana bagi manusia untuk menemukan kembali jati diri kita sebagai makhluk sosial, di mana tekno-logi digital dijadikan alat memperkuat semangat hidup secara sosial, se-mangat untuk berinteraksi secara humanis, dan bukan malah sebaliknya. KNKH merupakan wadah kerja sama kampus dan dunia kerja serta profesional, sesuai kebijakan merdeka belajar kampus merdeka yang akan memperkaya wawasan kita. Buku ini adalah luaran dari kegiatan konferensi yang menghimpun buah pikir para pemakalah dengan harap-an dapat menjadi salah satu acuharap-an bagi studi komunikasi dharap-an bagi ma-syarakat luas.
Kami juga ingin mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada ber-bagai pihak atas dukungannya hingga terlaksananya KNKH 2020, yaitu
viii
Digitalisasi dan Humanisme dalam Ekonomi Kreatif
kepada Rektor dan jajaran pimpinan Untar, Ikatan Sarjana Ilmu Komuni-kasi Indonesia, kepada Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu KomuniKomuni-kasi, ke-pada Medcom.id, dan Enisis selaku media partner dan sponsor, keke-pada panitia di bawah koordinasi Ibu Lusia Savitry dan tentunya kepada para pemakalah.
Kami berharap agar buku ini dapat memberikan manfaat bagi kita se-mua. Terima kasih.
Dekan Fikom Universitas Tarumanagara Dr. Riris Loisa, M.Si.
ix
kata Pengantar
F
akultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara menerbitkan buku yang memuat kumpulan tulisan para peserta Konferensi Nasional Ko-munikasi Humanis (KNKH) 2020. Sesuai dengan tema yang diangkat, yakni “Digitalisasi dan Humanisme dalam Ekonomi Kreatif”, kami merasa bahwa tulisan-tulisan menarik yang dipublikasikan dapat menyumbang kontri-busi dalam menyebarkan pengetahuan.Penyelenggaraan KNKH 2020 telah memasuki tahun ketiga. Penye-lenggaraan sebelumnya secara berturut-turut dilakukan pada 2018 dan 2019. KNKH sendiri merupakan wadah diskusi ilmiah para akademisi dan praktisi terhadap topik-topik dalam ilmu komunikasi yang sedang ber-kembang pada masanya.
Topik-topik yang berkaitan dengan ilmu komunikasi pada era digital banyak memunculkan persoalan-persoalan menarik yang dapat menjadi bahan diskusi. Melalui buku ini, persoalan komunikasi ini dapat menjadi bahan refleksi untuk kemudian dapat dicari solusi bersama, terutama da-lam kaitannya dengan humanisme.
Akhir kata, perkenankanlah saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta KNKH 2020 atas partisipasinya, serta segenap panitia KNKH 2020, karyawan, dosen, dan pimpinan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara yang telah memungkinkan penerbitan buku KNKH 2020 ini.
295
romantisme dan komunikasi Bisnis
Wulan Purnama Sari
Universitas Tarumanagara
Jln. Letjen S Parman No.1, Jakarta, IndonesiaT
anggal 14 Februari diperingati sebagai hari Valentine atau hari Kasih Sayang. Pada hari itu, individu berusaha menunjukkan romantisme-nya kepada individu lain yang dianggap menjadi bagian dari diriromantisme-nya, yang sering kali dikaitkan dengan cokelat, bunga, dan lain-lain. Hari Valentine dirayakan oleh berbagai individu dalam lapisan masyarakat (Chopik, War-decker, & Edelstein, 2014; Lai & Huang, 2013; Rusiyawati & Nurhayati, 2017). Hubungan romantis didefinisikan sebagai hubungan antara individu yang menganggap bahwa mereka akan menjadi bagian utama dan berkelan-jutan dari kehidupan satu sama lain. Individu beranggapan bahwa dirinya bisa menjaga jarak dengan keluarga dan teman, tetapi tidak dengan mit-ra romantis. Romantisme selalu digambarkan sebagai hubungan positif, bahkan menjadi impian yang dicari-cari sebagian individu. (Wood, 2014)Romantisme di tempat kerja adalah hal biasa. Karyawan menghabis-kan hampir 50 jam seminggu di tempat kerja. Selama hubungan itu berja-lan dengan baik, mungkin tidak dirasakan dampak negatif dari romantis-me di tempat kerja. Namun, saat berakhir, romatisromantis-me dalam tempat kerja dapat berakibat pada banyak hal, mulai dari kasus pelecehan seksual, ki-nerja karyawan, atau hubungan antar-karyawan yang buruk (Boyd, 2010; Cowan & Horan, 2014; Malachowski, Chory, & Claus, 2012; McLaughlin, Uggen, & Blackstone, 2012; Salvaggio, Streich, Hopper, & Pierce, 2011). Hal ini menjadi alasan mengapa banyak pengusaha yang mengecilkan atau bahkan melarang hubungan seksual dan romantis antara karyawan.
Atas dasar tersebut, penulis bermaksud untuk melakukan sebuah analisis terhadap manfaat dari hubungan romantis dalam latar belakang bisnis yang terjadi antara dua entitas perusahaan yang berbeda, karena romantisme merupakan suatu hal yang digambarkan positif, tetapi perlu dianalisis di dalam kepentingan bisnis yang berbeda. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) menjelaskan
296
Digitalisasi dan Humanisme dalam Ekonomi Kreatif
hubungan romantis dalam bisnis; (2) menjelaskan peran perwakilan dari perusahaan dalam menjalin hubungan romantis dengan konteks bisnis; (3) menggambarkan manfaat hubungan romantis dalam menjalankan hu-bungan bisnis
tinjauan Pustaka
Pada penelitian ini, penulis menggunakan teori komunikasi sebagai dasar teori, sekaligus pembatasan atas pembahasan. Maka, pada makalah ini teks hubungan romantis akan dibahas dari sisi ilmu komunikasi. Dalam kon-teks komunikasi, hubungan romantis dapat dijelaskan dalam tiga dimensi utama, yaitu: keintiman, komitmen, dan gairah. Ketiga dimensi tersebut sa-ling tumpang tindih dan memiliki kaitan satu sama lain (Wood, 2014).
gambar 1: tiga Dimensi Hubungan romantis
Gairah/passion adalah apa yang pertama muncul dalam pikiran ketika kita berpikir tentang hubungan romantis. Gairah menggambarkan pera-saan yang sangat positif dan hasrat yang kuat untuk orang lain. Gairah ti-dak terbatas pada perasaan seksual atau sensual. Selain perasaan seksual, gairah melibatkan kegembiraan emosional, spiritual, dan intelektual yang kuat. Percikan dan emosi tinggi dalam cinta berasal dari gairah. Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa gairah kurang penting bagi peng-alaman cinta daripada dimensi keintiman dan komitmen. Ini masuk akal ketika kita menyadari bahwa gairah jarang dipertahankan pada tingkat tinggi yang mungkin menjadi bagian dari hubungan baru. Seperti pe-rasaan intens lainnya, itu surut dan mengalir. Karena gairah datang dan pergi dan sebagian besar di luar kemauan kita, itu bukan landasan yang
Wulan Purnama Sari
297
memadai untuk hubungan jangka panjang. Dengan kata lain, gairah da-pat membuat romantika terpisah dari hubungan lain, tetapi biasanya itu bukanlah perekat yang memegang hubungan romantis bersama. Untuk membangun hubungan abadi, kita membutuhkan sesuatu yang lebih ta-han lama (Wood, 2014).
Komitmen adalah niat untuk tetap terlibat dengan suatu hubungan. Meski sering dikaitkan dengan cinta, komitmen tidak sama dengan cinta. Cinta adalah perasaan berdasarkan imbalan dari keterlibatan dengan se-seorang. Komitmen, sebaliknya, adalah keputusan untuk tetap menjalin hubungan. Ada hubungan yang kuat antara komitmen dan investasi da-lam suatu hubungan. Semakin banyak kita berinvestasi dada-lam suatu hu-bungan, semakin besar komitmen kita. Menurut Previti & Amato, ada dua kategori besar alasan mengapa orang berkomitmen dalam hubungan. Pertama, kita dapat tetap menjalin hubungan karena kita merasa nyaman dan menyenangkan. Kedua, kita dapat tetap menjalin hubungan untuk menghindari konsekuensi negatif yang akan menyertainya (Wood, 2014).
Komitmen memberikan fondasi yang lebih kuat untuk hidup bersa-ma. Komitmen adalah tekad untuk tetap bersama meski ada masalah, kekecewaan, kegelisahan sporadis, dan ketenangan dalam gairah. Tanpa komitmen, hubungan romantis tunduk pada keinginan perasaan dan ke-adaan sementara. Komitmen melibatkan menerima tanggung jawab un-tuk mempertahankan hubungan (Swidler, 2019). Dengan demikian, tidak mengherankan bahwa komitmen berhubungan positif dengan keinginan berkorban untuk dan berinvestasi dalam suatu hubungan. (Baker, McNul-ty, & VanderDrift, 2017)
Dimensi ketiga dari hubungan romantis adalah keintiman: perasaan kedekatan, hubungan, dan kelembutan. Keintiman adalah kasih sayang dan perasaan hangat untuk orang lain. Itulah sebabnya para mitra merasa nyaman dengan satu sama lain dan menikmati kebersamaan bahkan ke-tika tidak ada kembang api. Keke-tika diminta untuk mengevaluasi berbagai fitur cinta, orang-orang secara konsisten menilai fitur pendamping seper-ti bergaul dan persahabatan sebagai yang paling penseper-ting. Menurut Has-serbrauck & Aaron meskipun perasaan bergairah juga penting, mereka kurang penting untuk persepsi cinta daripada peduli, jujur, hormat, per-sahabatan, dan kepercayaan. Tidak seperti gairah dan komitmen, yang merupakan dimensi romantisme yang berbeda, keintiman tampaknya mendasari gairah dan komitmen (Wood, 2014).
298
Digitalisasi dan Humanisme dalam Ekonomi Kreatif
analisis dan Diskusi
Pada penelitian ini, informan sebagai sumber data primer terdiri dari dua orang, yaitu J selaku Merchandiser Manager Category Electronic PT X dan H selaku Key Account Manager PT Y. Dengan itu penulis sudah memiliki dua sudut pandang yang digunakan untuk melakukan analisis deskriptif terhadap manfaat hubungan romantis dalam latar belakang bisnis. Hasil wawancara menunjukan bahwa dalam sebuah bisnis, orientasi hubung-an yhubung-ang terutama adalah untuk kepentinghubung-an bisnis, walaupun hubunghubung-an romantis kembali dimulai dari hubungan antara individu. Namun, dalam perjalanan bisnis hubungan romantis dapat memperlancar kepentingan bisnis karena dianggap lebih luwes dan saling mengerti keadaan dan pe-ran masing-masing. Maka dapat disimpulkan, hubungan romantis dapat membantu dalam pengembangan bisnis.
Dalam hubungan romantis berlatar belakang bisnis, visi yang sama merupakan landasan utama dalam kebersamaan yang romantis. Visi ini terkait kepentingan setiap perusahaan. Meski demikian, hubungan ro-mantis itu terikat atas dasar bisnis sehingga setiap individu tetap mengu-tamakan kepentingan bisnis. Visi yang sama juga membuat individu teri-kat satu sama lain, bilamana visi tidaklah sama lagi antara kedua individu hubungan romantis yang telah dijalin dengan berat haruslah diakhiri. Jadi, hubungan romantis dalam latar belakang bisnis tetap mengutama-kan kepentingan perusahaan.
Kepentingan perusahaan dalam bisnis sendiri sebenarnya sangat se-derhana, yakni bertujuan untuk mendapatkan keuntungan perusahaan. Pelaku bisnis yang menjalankan bagaimana berjalannya bisnis, apakah itu akan menjadi kaku atau luwes. Bisnis yang kaku biasanya sangatlah di-hindari setiap individu karena dianggap bisnis yang mementingkan ego sebuah perusahaan tidak memikirkan kepentingan perusahaan lainnya. Dalam kaitan dengan hubungan yang romantis, individu akan lebih luwes kepada pasangan atau lawan mainnya. Hal itu akan sangat membantu da-lam menjalankan bisnis karena bisnis yang bersifat dinamis.
Gairah dalam hubungan romantis berlatar belakang bisnis didapatkan dari pandangan pertama (first Impression) antara individu. Pandangan pertama ini yang akan memicu (trigger) hasrat positif dalam memulai hu-bungan bisnis. Gairah dalam latar belakang bisnis biasanya berhuhu-bungan erat dengan daya tarik fisik seorang individu. Jadi, semakin besar daya
Wulan Purnama Sari
299
tarik fisik seorang individu sebagai pelaku bisnis, semakin besar gairah rekan bisnis tersebut. Hasil analisis menunjukkan walaupun gairah memi-cu hubungan bisnis, tetapi gairah tidak memberikan jaminan hubungan yang lebih mendalam. Hal tersebut disebabkan gairah bukan menjadi yang utama untuk hubungan bisnis yang romantis, melainkan visi yang sama.
Komitmen adalah niat untuk tetap terlibat dengan suatu hubungan. Hubungan romantis adalah hubungan yang kuat antara komitmen dan investasi dalam suatu hubungan. Semakin banyak kita berinvestasi da-lam suatu hubungan, semakin besar komitmen kita (Wood , 2014 : 310). Dalam hubungan berlatar belakang bisnis, komitmen yang sangat terkait dengan konsistensi dalam menjalankan bisnis bersama sangatlah penting karena terkait dengan hubungan jangka panjang.
Terdapat dua kategori besar alasan mengapa orang berkomitmen un-tuk hubungan (Baker et al., 2017). Pertama, kita tetap menjalin hubungan karena kita merasa nyaman dan menyenangkan. Kita menghargai persa-habatan, dukungan emosional, bantuan keuangan, manfaat praktis, dan seterusnya. Kedua, kita tetap menjalin hubungan untuk menghindari konsekuensi negatif yang menyertainya. Hambatan-hambatan yang ada misalnya pelanggaran nilai-nilai agama, ketidaksetujuan keluarga, dan ke-sulitan keuangan.
Komitmen erat hubungannya dengan loyalitas individu walaupun hal tersebut dalam latar belakang hubungan bisnis. Loyalitas erat kaitannya dengan penerimaan individu tersebut terhadap keadaan rekan bisnisnya. Hubungan romantis dalam latar belakang bisnis merupakan hubungan dengan komitmen visi yang sama. Penting bagi setiap individu menjaga komitmen tersebut, tetapi karena kepentingan perusahaan sering kali ada intervensi manajemen perusahaan terhadap visi bisnis yang telah dise-pakati. Komitmen adalah tekad untuk tetap bersama meski ada masalah, kekecewaan, kegelisahan sporadis, dan ketenangan dalam gairah. Tanpa komitmen, hubungan romantis tunduk pada keinginan perasaan dan ke-adaan sementara. komitmen berhubungan positif dengan keinginan ber-korban untuk dan berinvestasi dalam suatu hubungan (Baker et al., 2017).
Pelanggaran komitmen dalam bisnis dapat terjadi. Jika hubungan ro-mantis dalam bisnis tersebut sudah tercipta, biasanya akan ada toleransi terhadap pelanggaran tersebut. Namun, toleransi yang diberikan akan bergantung kepada seberapa besar pelanggaran tersebut dan
sebera-300
Digitalisasi dan Humanisme dalam Ekonomi Kreatif
pa erat hubungan romantis tercipta. Salah satu alasannya adalah sering kali pelanggaran dalam bisnis tersebut tidak terjadi atas kehendak sang individu yang menjalin hubungan, tetapi merupakan tekanan dari pihak manajemen perusahaan. Pelanggaran komitmen yang tidak dapat ditole-ransi dapat menyebab putusnya kegiatan bisnis yang dijalankan.
Keintiman merupakan perasaan kedekatan, hubungan, dan kelembut-an. Keintiman erat kaitannya dengan kasih sayang dan perasaan hangat untuk orang lain. Itulah sebabnya para mitra merasa nyaman dengan satu sama lain dan menikmati kebersamaan, bahkan ketika tidak ada kembang api (Wood, 2014). Meskipun perasaan bergairah juga penting, tetap tidak sepenting persepsi cinta daripada peduli, jujur, hormat, persahabatan, dan kepercayaan. Tidak seperti gairah dan komitmen, yang merupakan dimensi romantisme yang berbeda, keintiman tampaknya mendasari gai-rah dan komitmen.
Keintiman dalam latar belakang bisnis tercipta karena intensitas komu-nikasi interpersonal yang dilakukan pelaku bisnis. Keintiman semakin da-lam seturut waktu yang diinvestasikan, tetapi dada-lam bisnis keintiman bu-kanlah dasar dari komitmen bisnis. Yang merupakan dasar dari hubungan romantis dalam latar belakang bisnis adalah komitmen.
Hubungan antara individu sangat penting dalam bisnis karena hu-bungan antara perusahaan juga diwakili oleh individu di setiap perusa-haan. Hubungan romantis dalam latar belakang bisnis positif dalam kegi-atan bisnis. Hubungan romantis memberikan manfaat terpenting dalam proses bisnis, yaitu pengembangan bisnis bersama. Visi menjadi ikatan yang sangat kuat terhadap hubungan romantis dalam latar belakang bis-nis, dan pelaku hubungan bisnis merupakan individu yang mengarahkan hubungan tersebut.
kesimpulan
Hubungan romantis dalam bisnis dimulai dengan komitmen bersama untuk menjalankan visi yang sama. Gairah individu pelaku bisnis dalam menjalin hubungan yang romantis dengan latar belakang bisnis meru-pakan pemicu hubungan yang lebih dalam. Hubungan romantis dengan latar belakang bisnis akan menciptakan toleransi yang bersifat timbal balik, karena setiap individu berusaha untuk saling mengerti peran ma-sing-masing dalam konteks kepentingan perusahaan. Hubungan
roman-Wulan Purnama Sari
301
tis dalam latar belakang bisnis dianggap sebagai hal positif dan langkah utama dalam menjalankan bisnis. Hal ini berimplikasi terhadap proses bisnis yang berujung kepada pengembangan bisnis bersama. Pentingnya hubungan romantis sendiri akan kembali kepada individu pelaku bisnis tersebut. Keintiman yang mendalam juga tercipta karena intensitas ko-munikasi yang dilakukan.
Daftar pustaka
Baker, L. R., McNulty, J. K., & VanderDrift, L. E. (2017). Expectations for future relations-hip satisfaction: Unique sources and critical implications for commitment.
Jour-nal of Experimental Psychology: General, 146 (5), 700–721. https://doi.org/10.1037/
xge0000299
Boyd, C. (2010). “The Debate Over the Prohibition of Romance in the Workplace”.
Jo-urnal of Business Ethics, 97 (2), 325–338. https://doi.org/10.1007/s10551-010-0512-3
Chopik, W. J., Wardecker, B. M., & Edelstein, R. S. (2014). “Be Mine: Attachment avoidance predicts perceptions of relationship functioning on Valentine’s Day”. Personality
and Individual Differences, 63, 47–52. https://doi.org/10.1016/j.paid.2014.01.035
Cowan, R. L., & Horan, S. M. (2014). “Love at the Office? Understanding Workplace Ro-mance Disclosures and Reactions from the Coworker Perspective”. Western Journal
of Communication, 78 (2), 238–253. https://doi.org/10.1080/10570314.2013.866688
Lai, Y. C., & Huang, L. C. (2013). The effect of relationship characteristics on buying fresh flowers as Romantic Valentine’s day gifts. HortTechnology, 23 (1), 28–37. htt-ps://doi.org/10.21273/horttech.23.1.28
Malachowski, C. C., Chory, R. M., & Claus, C. J. (2012). “Mixing Pleasure with Work: Em-ployee Perceptions of and Responses to Workplace Romance”. Western Journal
of Communication, 76 (4), 358–379. https://doi.org/10.1080/10570314.2012.656215
McLaughlin, H., Uggen, C., & Blackstone, A. (2012). “Sexual Harassment, Workplace Authority, And The Paradox Of Power”. American Sociological Review, 77 (4), 625– 647. https://doi.org/10.1177/0003122412451728
Rusiyawati, I., & Nurhayati, S. F. (2017). “Valentine’s Day bagi Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta dari Sudut Pandang Ekonomi, Sosial dan Religi”. Da-lam Proceeding 6th University Research Colloquium 2017 : Seri Humaniora, Sosial,
dan Agama (353–364). Universitas Muhammadiyah Magelang. Diakses dari http://
journal.ummgl.ac.id/index.php/urecol/article/view/1051
Salvaggio, A. N., Streich, M., Hopper, J. E., & Pierce, C. A. (2011). “Why Do Fools Fall in Love (at Work)? Factors Associated With the Incidence of Workplace Romance”.
Journal of Applied Social Psychology, 41 (4), 906–937.
https://doi.org/10.1111/j.1559-1816.2011.00741.x
Swidler, A. (2019). Talk of Love. https://doi.org/10.7208/chica-go/9780226230665.001.0001
Wood, J. T. (2014). Interpersonal Communication Everyday Encounters. Canada: Cenga-ge Learning.
302
Digitalisasi dan Humanisme dalam Ekonomi Kreatif
Biografi Penulis
Wulan Purnama sari merupakan dosen tetap Fakultas Ilmu Komunika-si, Universitas Tarumanagara. Penulis menyelesaikan pascasarjana dalam bidang ilmu komunikasi dari Universitas Indonesia. Pertanyaan dan saran dapat dikirimkan melalui e-mail ke [email protected].