BAB II URAIAN TEORITIS KEPARIWISATAAN. Pengertian pariwisata adalah kegiatan wisata (tour) yaitu suatu aktifitas

Teks penuh

(1)

BAB II

URAIAN TEORITIS KEPARIWISATAAN

2.1 Pengertian Pariwisata

Pengertian pariwisata adalah kegiatan wisata (tour) yaitu suatu aktifitas perjalanan dari daerah asal ke daerah destinasi dengan alasan bersenang-senang, tidak menghasilkan upah atau biaya, waktunya tidak lama, dan selama di daerah destinasi mendapatkan jasa pelayanan dan kembali lagi ke daerah asal.

Menurut McIntosh, (1995:10) menyatakan bahwa pariwisata adalah “... a

composite of activities, services and industries that delivers a travel experience: transportation, accomodation, eating and drinking establishment, shops, entertainment, activity, and other hospitality service available for individuals or group that are away from home...”. (Dalam Muljadi 2009:8).

Kata “pariwisata” berasal dari dua suku kata, yaitu pari dan wisata. Pari berarti banyak, berkali-kali dan berputar-putar, sedangkan wisata berarti perjalanan atau berpergian. Jadi pariwisata berarti perjalanan atau berpergian yang dilakukan secara berkali-kali atau berkeliling. Secara etimologi, pariwisata berasal dari bahasa Sansekerta yaitu kata “pari” yang berarti halus maksudnya mempuyai tata krama tinggi dan “wisata” yang berarti kunjungan atau perjalanan untuk melihat, mendengar, menikmati dan mempelajari sesuatu. Jadi pariwisata berarti menyuguhkan suatu kunjungan secara bertatakrama dan berbudi.

Menurut Norval menyatakan bahwa pariwisata atau tourism adalah “...the

(2)

entry, stay and movement of foreigners inside and outside a certain country, city or region...”, (Dalam Muljadi, 2009:8).

Menurut Instruksi Presiden No. 19 Tahun 1969 kepariwisataan adalah merupakan kegiatan jasa yang memanfaatkan kekayaan alam dan lingkungan hidup yang khas, seperti hasil budaya, peninggalan sejarah, pemandangan alam yang indah dan iklim yang nyaman. Menurut Undang-Undang No. 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan, pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata termasuk pengelola atau penyelenggara serta pengusahaan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait di bidang ini sehingga orang/wisatawan datang untuk mengunjunginya. Sedangkan pengertian pariwisata menurut Undang-Undang No.10 Tahun 2009 adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah. Di lain sisi, WTO mendefinisikan pariwisata sebagai “...the

activities of persons travelling to and staying in places outside their usual environment for not more than one concecutive years for leisure, business, and other purposes...”, (Dalam Muljadi 2009:9).

Menurut Hornby mendefinisikan pariwisata adalah “...a journey in which

short stays are made at a number of places and the traveller finally returns to his or her own place...”.(Dalam Kesrul 2003:3). Hunziker dan Kraft (dalam Kesrul 2003:3)

mendefinisikan pariwisata sebagai “...The totality of relationship and phenomena

arising from travel and stay of strangers, provided the stay does not empty the establishment permanent residence and is not correct with a remunerated activity...”.

Menurut Kesrul (2003:4) bahwa pariwisata adalah perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, yang bersifat sementara, untuk menikmati objek dan atraksi di tempat tujuan. Artinya, wisata adalah kegiatan di luar kegiatan rutin sehari-hari, seperti bekerja atau sejenisnya. Menurut Fennel mendefinisikan pariwisata adalah “...tourism is defined as the interrelated system that includes tourist

and the associated services that are provided and utilised (facilities, attractions, transportation, and the accommodation) to aid in their movement...”, (Dalam Pitana

dan Surya Diarta, 2009:45).

Beberapa uraian pariwisata di atas, pariwisata adalah suatu perjalanan dari satu daerah ke daerah lain dengan tujuan untuk mendapatkan hiburan, pelayanan, dan kesenangan di mana perjalanan tersebut lebih dari 24 jam dan dan maksimum 6 bulan kembali lagi ke tempat asalnya.

(3)

2.2 Pengertian Wisatawan

Forum Internasional dilakukan pada 1937 oleh Komisi Ekonomi Liga Bangsa-Bangsa (Economic Commission of the League of Nations). Komisi merumuskan bahwa yang bisa dianggap wisatawan adalah:

1. Mereka yang mengadakan perjalanan untuk kesenangan karena alasan keluarga, kesehatan, dan lain-lain.

2. Mereka yang mengadakan perjalanan untuk keperluan pertemuan-pertemuan atau tugas-tugas tertentu (ilmu pengetahuan, tugas pemerintah diplomasi, agama, olahraga, dan lain-lain).

3. Mereka yang mengadakan perjalanan dengan tujuan usaha.

4. Mereka yang datang dalam rangka perjalanan dengan kapal laut walaupun berada di suatu negara kurang dari 24 jam.

Sedangkan, yang tidak bisa dikategorikan sebagai wisatawan adalah:

1. Mereka yang datang baik dengan maupun tanpa kontrak kerja, dengan tujuan mencari pekerjaan atau mengadakan kegiatan usaha di suatu negara.

2. Mereka yang datang untuk mengusahakan tempat tinggal tetap di suatu negara.

3. Penduduk di suatu tapal batas negara dan mereka bekerja di negara yang berdekatan.

4. Wisatawan-wisatawan yang melewati suatu negara tanpa tinggal, walaupun perjalanan tersebut berlangsung lebih dari 24 jam. (Dalam Muljadi 2009:10).

Pada perkembangan selanjutnya, dua lembaga internasional, yaitu Komisi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Komisi Fasilitas Internasional Civil Aviation

Organization (ICAO), tidak dapat menerima batasan pengertian dari Liga

Bangsa-Bangsa tersebut dan menyiapkan batasan arti sendiri. Batasan pengertian tourist yang diambil dalam konvensi PBB tahun 1954 dan diratifikasi oleh lebih dari 70 negara ialah “...setiap orang yang datang ke suatu negara karena alasan lain untuk bermigrasi dan yang tinggal paling sedikit 24 jam, serta paling lama 6 bulan dalam tahun yang sama...”. (Dalam Muljadi 2009:10).

(4)

Definisi pengunjung (visitor) menurut The Internasional Union of Office

Travel Organization (IUOTO) dan World Tourism Organization (WTO)

adalah:“...any person who travels to a country other than that in which she/he has

his/her usual residence but outside his/her usual environment for a period not exceeding 12 months and whose main purpose of visit is other than the the exercise of an activity renumerated from within the country visited...”. (Dalam Muljadi 2009:10).

Menurut Undang-Undang No. 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan, wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan wisata, sedangkan wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati objek dan daya tarik wisata.

Menurut Undang-Undang No.10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, pengertian wisatawan masih sama dengan pengertian pada undang-undang sebelumnya, sedangkan pengertian wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara, (Dalam Muljadi 2009:12).

Instruksi Presiden Republik Indonesia No.9 Tahun 1969 tertulis dalam Bab I pasal 1, bahwa “wisatawan (tourist) adalah setiap orang yang bepergian dari tempat tinggalnya untuk berkunjung ke tempat lain dengan menikmati perjalanan dan kunjungan itu. Defenisi ini sifatnya konseptual, tidak operasional. Ada kejanggalan bahwa juga disebutkan “dengan menikmati kunjungan dan perjalanan itu”, ( Dalam Soekadijo 1997:17).

(5)

Tidak semua wisatawan pulang dengan perasaan puas, karena keadaan di tempat yang dikunjungi tidak seperti yang diharapkan. Kecuali itu, dengan adanya kata-kata tersebut apa yang ada di lingkungan profesi kepariwisataan disebut wisatawan bisnis dan wisatawan konvensi itu harus dipandang sebagai bukan wisatawan.

Menurut Norval (Dalam Soekadijo 1997:13), mendefinisikan: ”...wisatawan adalah setiap orang yang datang dari suatu negara asing, yang alasannya bukan untuk menetap atau untuk bekerja di situ secara teratur, dan yang di negara di mana ia tinggal untuk sementara itu membelanjakan uang yang didapatkannya di lain tempat...”.

Dari beberapa definisi wisatawan di atas, wisatawan adalah orang yang melakukan perjalanan wisata.

2.3 Pengertian Daya Tarik dan Atraksi Wisata

UU RI No. 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan disebutkan bahwa Daya Tarik Wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya dan hasil buatan manusia yang menjadi sarana atau tujuan kunjungan wisatawan.

Kesrul menjelaskan objek dan atraksi wisata memiliki dua karakteristik yang berbeda. Asal usul dasar perbedaannya adalah sebagai berikut:

1. Objek atau atraksi wisata yang bersifat alami ( natural )

Artinya, objek atau atraksi wisata sudah terjadi sebelum manusia dilahirkan atau terjadinya karena kondisi/perubahan alam, contoh: gunung, pantai, hutan, dan danau.

(6)

2. Objek atau atraksi wisata buatan manusia( man made ) serta perpaduan antara buatan manusia dan alami, contoh: Pelabuhan alam Cilacap, Tembok Cina, dan Candi Borobudur.

Selain itu, atraksi wisata dapat pula dibedakan bentuknya sehingga dikenal: a. atraksi wisata alam

b. atraksi wisata sejarah

c. atraksi wisata budaya, (Dalam Kesrul 2003:34).

Dari kedua definisi Daya Tarik dan Atraksi Wisata di atas, maka Daya Tarik Wisata adalah suatu hal yang indah dan unik di mana dapat membuat orang selalu tertarik untuk mengunjungi tempat wisata itu, baik hal itu berupa benda abstrak maupun nyata. Sedangkan atraksi wisata adalah sesuatu kegiatan yang menjadi ciri khas tempat wisata tersebut dan dapat disaksikan yang merupakan karya manusia.

2.4 Pengertian Produk Wisata

Pada umumnya yang dimaksud dengan product adalah sesuatu yang dihasilkan melalui suatu proses produksi. Produk wisata bukanlah suatu produk yang nyata, tetapi merupakan suatu rangkaian jasa yang tidak hanya bersifat ekonomis, tetapi juga bersifat sosial, psikologis dan alam, namun demikian produk wisata sebagian besar dipengaruhi oleh faktor ekonomi.

Suwantoro (1997:49), berpendapat: “...produk wisata merupakan keseluruhan pelayanan yang diperoleh dan dirasakan atau dinikmati wisatawan semenjak ia meninggalkan tempat tinggalnya, sampai ke daerah tujuan wisata yang telah dipilihnya dan kembali ke rumah dimana ia berangkat semula...”.

(7)

Ciri-ciri suatu produk wisata adalah :

1. Hasil atau produk wisata tidak dapat dipindahkan. Karena itu dalam penjualannya tidak mungkin produk itu dibawa kepada konsumen, sebaliknya konsumen (wisatawan) yang harus dibawa ketempat dimana produk iu dihasilkan.

2. Produksi dan konsumsi terjadi pada tempat dan saat yang sama. Tanpa adanya konsumen yang membeli produk/jasa maka tidak akan terjadi produksi.

3. Produk wisata tidak menggunakan standar ukuran fisik tetapi menggunakan standar pelayanan yang didasarkan atas suatu criteria tertentu.

4. Konsumen tidak dapat mencicipi atau mencoba contoh produk itu sebelumnya, bahkan tidak dapat mengetahui atau menguji produk itu sebelumnya.

5. Hasil atau produk wisata itu banyak tergantung pada tenaga manusia dan hanya sedikit yang mempergunakan mesin.

6. Produk wisata merupakan usaha yang mengandung risiko besar, (Suwantoro,1997:48).

Jadi produk wisata merupakan rangkaian dari beberapa jasa yang saling terkait, yaitu jasa yang dihasilkan berbagai perusahaan (segi ekonomis), jasa masyarakat (segi sosial / psikologis) dan jasa alam.

Menurut Muljadi (2009:46) mendefinisikan produk wisata adalah suatu bentukan yang nyata dan tidak nyata, dalam suatu kesatuan rangkaian perjalanan yang hanya dapat dinikmati apabila seluruh rangkaian perjalanan tersebut dapat memberikan pengalaman yang baik bagi yang melakukan perjalanan tersebut.

Untuk memenuhi kebutuhan wisatawan yang melakukan kegiatan wisata sangat diperlukan serangkaian upaya yang saling terkait dan terpadu oleh dunia usaha, masyarakat dan pemerintah.

Beberapa definisi produk wisata di atas, maka produk wisata adalah beberapa bentuk pelayanan dan jasa yang di hasilkan oleh perusahaan-perusahaan yang ditawarkan kepada calon wisatawan dan akan dinkmati oleh wisatawan tersebut selama melakukan perjalanan wisata.

(8)

2.5 Pengertian Industri Pariwisata

Pengertian tentang industri pariwisata yang lainnya adalah suatu susunan organisasi, baik pemerintah maupun swasta yang terkait dalam pengembangan, produksi dan pemasaran produk suatu layanan yang memenuhi kebutuhan dari orang yang sedang bepergian, (Dalam Kusudianto 1996:11).

Harus diperhatikan bahwa meskipun kita berbicara tentang industri pariwisata, akan tetapi industri disini tidak dalam arti ekonomis biasa. Industri pariwisata adalah industri yang kompleks, yang meliputi industri-industri lain. Dalam kompleks industri pariwisata terdapat industri perhotelan, industri rumah makan, industri kerajinan/cendera mata, industri perjalanan dan sebagainya, (Dalam Soekadijo 1997:29).

G.A. Schmoll dalam bukunya Tourism Promotion memberi batasan tentang industri pariwisata sebagai berikut: “...Tourism is a highly decentralized industry

consisting of enterprises different in size, location, function, type organization, range of service provided and method used to market and sell them...”, (Dalam Yoeti

1996:1).

Dari beberapa definisi Industri pariwisata di atas, maka Industri pariwisata adalah perusahaan-perusahaan yang menghasilkan produk berupa barang dan jasa yang dibutuhkan oleh para wisatawan.

(9)

2.6 Pengertian Sarana dan Prasarana Pariwisata 2.6.1 Sarana Pariwisata

Sarana pariwisata adalah perusahaan-perusahaan yang memberikan pelayanan kepada wisatawan, baik secara langsung maupun tidak langsung dan hidup serta kehidupannya tergantung pada kedatangan wisatawan.

Ada 3 macam sarana kepariwisataan yaitu: a. Sarana Pokok Kepariwisataan

Yang dimaksud dengan sarana pokok kepariwisataan adalah perusahaan-perusahaan yang hidup dan kehidupannya sangat tergantung pada lalu lintas wisatawan dan travellers lainnya. Adapun perusahaan-perusahaan yang termasuk dalam kelompok ini adalah:

1. Perusahaan-perusahaan yang usaha kegiatannya mempersiapkan dan merencanakan perjalanan wisatawan.

Di dalam literatur kepariwisataan “Receptive Tourist Plant”. Yang dimaksudkan dengan “Receptive Tourist Plant” ialah perusahaan-perusahaan yang mempersiapkan perjalanan dan penyelenggaraan tour, sightseeing bagi wisatawan, seperti: Travel Agent, Tour Operator, Tourist Transportation ( tourist bus, taxi, coach bus, rent-a-car, dan sebagainya).

2. Perusahaan-perusahaan yang memberikan pelayanan di daerah tujuan kemana wisatawan pergi.

Dalam isitilah kepariwisataan perusahaan ini biasa disebut dengan

“Residential Tourist Plant”. Yang dimaksudkan dengan “Residential Tourist Plant”

adalah perusahaan-perusahaan yang memberikan pelayanan untuk menginap, menyediakan makanan dan minuman di daerah tujuan misalnya: Hotel, Motel, Youth Hostel, Cottages, Camping Areas, Caravaning Taverns, dan sebagainya dan Catering Establishment, seperti: Bar dan Restaurant, Coffee Shop, Cafetaria, Grill-Room, Self Service, dan sebagainya. Dapat pula ditambahkan di sini kantor-kantor pemerintah seperti: Tourist Information Center, Government Tourist Office dan Tourist Association dapat pula dimasukkan ke dalam kelompok ini karena mereka juga memberikan pelayanan kepada wisatawan yang datang walaupun tidak langsung.

b. Sarana Pelengkap Kepariwisataan

Yang dimaksud dengan sarana pelengkap kepariwisataan adalah fasilitas-fasilitas yang dapat melengkapi sarana pokok sedemikian rupa, sehingga fungsinya dapat membuat wisatawan lebih lama tinggal di tempat atau daerah yang dikunjunginya. Dalam literatur kepariwisataan dikenal dengan istilah “recreative and

sportive plant” seperti ski, golf, course, tennis court, swimming pool, boating

(10)

c. Sarana Penunjang Kepariwisataan

Yang dimaksud dengan sarana pendukung kepariwisataan adalah sarana penunjang kepariwisataan adalah fasilitas yang diperlukan wisatawan (khususnya business tourist), yang berfungsi tidak hanya melengkapi sarana pokok dan sarana pelengkap, tetapi fungsinya lebih penting adalah agar wisatawan lebih banyak membelanjakan uangnya di tempat yang dikunjunginya tersebut. Termasuk ke dalam kelompok ini adalah nigh club, steambath, casino, souvenir shop, bioskop, opera. (Dalam Yoeti 1996:10).

2.6.2 Prasarana Pariwisata

Prasarana adalah semua fasilitas yang memungkinkan proses perekonomian dapat berjalan dengan lancar sedemikian rupa, sehingga dapat memudahkan manusia untuk memenuhi kebutuhannya, (Yoeti, 1996:10).

Dalam pengertian di atas yang termasuk dalam prasarana adalah: a. Prasarana Umum (General Infrastructure)

yaitu prasarana yang menyangkut kebutuhan umum bagi kelancaran perekonomian. Adapun yang termasuk dalam kelompok ini diantaranya adalah:

• Sistem penyediaan air • Pembangkit tenaga lisitrik • Jaringan jalan raya dan jembatan

• Airport, pelabuhan laut, terminal, dan stasiun • Kapal tambang (Ferry), kereta api, dan lain-lain • Telekomunikasi

b. Kebutuhan masyarakat banyak (Basic Needs of Civilized Life).

Yaitu prasarana yang menyangkut kebutuhan masyarakat banyak. Termasuk dalam kelompok ini adalah: rumah sakit, apotik, bank, kantor pos, pompa bensin, administration offices (pemerintahan umum, polisi, pengadilan, badan-badan legislatif, dan lain sebagainya).

Dalam pengembangan sebuah objek wisata sarana dan prasarana tersebut harus dilaksanakan sebaik mungkin karena apabila suatu objek wisata dapat membuat wisatawan untuk berkunjung dan betah untuk melakukan wisata disana maka akan menyedot banyak pengunjung yang kelak akan berguna juga untuk peningkatan

(11)

ekonomi baik untuk komunitas di sekitar objek wisata tersebut maupun pemerintah daerah.

Menurut Muljadi (2009:13) menerangkan tentang pengertian prasarana dan sarana kepariwisataan yaitu:

1. Prasarana kepariwisataan

Prasarana kepariwisataan adalah semua fasilitas yang mendukung agar sarana pariwisata dapat hidup dan berkembang serta dapat memberikan pelayanan kepada wisatawan guna memenuhi kebutuhan mereka yang beraneka ragam, antara lain:

a. Prasarana perhubungan, seperti jaringan jalan raya dan jaringan rel kereta api, bandara (airport), pelabuhan laut (sea-port), terminal angkutan darat dan stasiun kereta api.

b. Instalasi tenaga listrik dan instalasi penjernihan air bersih.

c. Sistem pengairan untuk keperluan pertanian, peternakan, dan perkebunan. d. Sistem perbankan dan moneter.

e. Sistem telekomunikasi, seperti telepon, internet, pos, televisi, dan radio. f. Pelayanan kesehatan dan keamanan.

2. Sarana kepariwisataan

Sarana kepariwisataan adalah perusahaan-perusahaan yang memberikan pelayanan kepada wisatawan, baik secara langsung atau tidak langsung dan kelangsungan hidupnya, tergantung dari wisatawan yang datang. Jenis-jenis sarana pokok pariwisata antara lain adalah:

a. Perusahaan perjalanan (Travel Agent atau Biro Perjalanan Wisata). b. Perusahaan angkutan wisata.

c. Perusahaan akomodasi.

d. Perusahaan makanan dan minuman. e. Perusahaan daya tarik wisata dan hiburan. f. Perusahaan cinderamata atau art shops.

Bagi wisatawan, sebenarnya dengan tersedianya sarana pariwisata di atas belum sepenuhnya dianggap mencukupi kebutuhannya, sehingga perlu adanya industri lain sebagai industri pendukung antara lain bank/ATM, money changer, kantor pos, rumah sakit, warung telepon, supermarket, fasilitas umum, dan lain-lain.

Figur

Memperbarui...

Referensi

  1. pemasaran
Related subjects :