Sejarah
• Tahun 689, Kerajaan Sriwijaya mengundangkan penggunaan opium • Tahun 1360, Raja Hayam Wuruk memerintahkan Empu Prapanca
untuk menuliskan tentang opium dalam Negarakertagama
• Tahun 1678, konsumsi opium yang diimport oleh VOC untuk Pulau
Jawa sebanyak 113.000 pound
• Tahun 1779, penggunaan opium dikontrol di Bengkulu
• Tahun 1803, Pejuang Padri melarang penggunaan opium karena
bertentangan dengan agama Islam
• 1829, kebanyakan kabupaten di Jawa memiliki ladang opium,
Sejarah
• Tahun 1880, Madiun dikenal sebagai produsen terbesar di
Indonesia
• Tahun 1890, sebuah penelitian menunjukkan bahwa opium
digunakan untuk pengobatan terhadap kolera, malnutrisi berat dan TB
• Tahun 1903, opium dalam bentuk pill dan bubuk dari Cina dijual
di Jawa sebagai pengobatan anti opiat.
• Tahun 1908, Gerakan Boedi Oetomo berkampanye tentang anti
penggunaan opium bagi kaum bumiputra
• Tahun 1912, penanaman koka untuk ekspor (lebih dari dari 1
ton)
• Tahun 1920-1930, dilakukan registrasi pengguna opium di Hindia
Sejarah
• Tahun 1927, sebuah undang-undang dibuat untuk melarang
penggunaan ganja dan erythroxylon coca di Hindia Belanda
• Tahun 1947, dibuat peraturan tentang otoritas Departemen
Kesehatan dalam produksi, distribusi dan penggunaan obat-obatan berbahaya.
• Tahun 1962, Departemen Kesehatan mengeluarkan surat keputusan
untuk mengendalikan penggunaan obat ketegori G dan O
Definisi Napza
•
Napza adalah suatu zat yang apabila
dikonsumsi akan berpengaruh secara fisik
dan/atau fungsi psikologis
– Zat Legal adalah zat yang digunakan sebagai obat atau
digunakan di dalam dunia kedokteran
• Obat, tembakau, alkohol, kopi/teh
– Zat ilegal adalah zat yang digunakan untuk memperoleh
kesenangan atau perasaan yang menyenangkan
Bagaimana napza digunakan?
• Dihisap: tembakau, marijuana, opium, heroin, ATS, lem
• Diminum: alkohol, opium, heroin, marijuana, pil penenang(misal,
diazepam), buprenorphine
• Disuntik: heroin, kokain, pil penenang, ATS, buprenorphine • Dihirup dengan hidung: kokain
• Beberapa orang berganti-ganti dalam menggunakan napza
(misalnya dari menghisap menjadi menyuntik heroin)
• Beberapa yang lain menggunakan dengan cara yang berbeda tetapi
Jenis Napza
•
Stimulan
•
Halusinogen
Stimulan
•
Meningkatkan aktivitas pada sistem syaraf
pusat (mempercepat aliran darah, detak
jantung meningkat dll)
•
Mempercepat proses mental, membuat lebih
waspada dan energik
•
Caffeine, nikotine, amphetamine type
Depresan
•
Memperlambat aktivitas dari sistem syaraf
pusat
•
Membuat lebih rileks dan kurangnya
kesadaran terhadap sekelilingnya
•
Alcohol,Valium, Rohypnol, Serapax,
Halusinogen
•
Mengubah persepsi, mood dan pikiran
•
Membuat orang melihat atau mendengar hal
yang berbeda (atau sesuatu yang tidak nyata)
•
Lysergic Acid Diethylamine (LSD), magic
Drugs sebagai masalah kesehatan
•
Kesehatan Jiwa
–
Penggunaan narkoba karena masalah kejiwaan (termasuk
gangguan kepribadian dan tingginya faktor resiko akibat
keluarga)
–
Kerusakan jiwa akibat narkoba, dll.
–
Mengganggu kesehatan jiwa keluarga
•
Kesehatan Fisik Personal
–
HIV, Hepatitis, Endocarditis, Abses, kanker hati, ginjal,
kerusakan otak, dll.
•
Kesehatan Masyarakat
Drugs sebagai masalah Sosial
Melanggar hukum-pemakain
sembunyi-sembunyi-hidden population-Angka
Drugs sebagai masalah Ekonomi
•
Ekonomi: Pasar gelap harga menjadi
Kebijakan : Supply Reduction
•
Mengacu pada batasan legalitas dan upaya
penegakan hukum yang digunakan semua
negara untuk mengendalikan atau
Supply Reduction
•
Hanya efektif jika permintaan rendah
•
Dapat efektif jika semua negara bisa bekerja
sama
•
Biaya untuk supply reduction dapat sangat tinggi
•
Umumnya efektivitasnya antara 5-10%
•
Memungkinkan sekali terjadinya korupsi karena
Kebijakan : Demand Reduction
•
Mengarah pada pendidikan di masyarakat
umum tentang penggunaan napza, membina
generasi muda agar tidak mencoba napza dan
yang masih menggunakan agar
mengendalikan, mengurangi atau
Demand Reduction
•
Akan efektif jika yang membutuhkan napza hanya sedikit
•
Banyak pendidikan tentang napza tidak efektif karena
isinya tidak realistis dan lebih banyak didasarkan pada
rasa takut
•
Sering menyederhanakan permasalahan sehingga pesan
yang dibuatpun menjadi tidak kontekstual (tidak realistis)
•
Dalam perawatan seringkali tidak mampu untuk
Ada Beragam Program Terapi Napza
•
Program 12 Langkah (mis. AA, NA) 1935
•
Behaviourists (mis. Daytop TC, Aversion T ) 1950
•
Cognitive (mis. Rational Recovery, Moderation T) 1960
•
Substitution (mis. Methadone, Subutex) 1980
•
Psychoreligious (mis. Gereja, pesantren, dll) sejak awal
namun menuntut landasan spiritual pribadi sejak awal.
If the only tool you have is a hammer,
you tend to see every problem as a nail
Tujuan
Aspek Kesehatan
• Membantu pasien untuk tetap sehat
• Mengurangi penggunaan napza ilegal oleh pasien
• Mengurangi risiko yang terkait dengan penggunaan napza seperti HIV,
hepatitis B dan C
Aspek Kriminalitas
• Mengurangi kegiatan kriminal untuk membiayai penggunaan napza
Aspek Psikososial
• Mendorong pasien lebih stabil dengan pengobatan substitusi sehingga
menghilangkan gejala putus obat
Model yang Diidealkan
Perawatan
Pasien Penyalahguna Obat
Pelayanan Terapi & Rehabilitasi Komprehensif
HIV/AIDS, HCV,PMS
PELAYANAN HIV/AIDS, HCV,
PMS
ASSESSMENT INTAKE
ASSESSMENT INTAKE URINE & DARAH
MONITORING URINE & DARAH
KELP. SELF HELP / PEER SUPPORT
KELP. SELF HELP / PEER SUPPORT
TERAPI & KONSELING
TERAPI & KONSELING
Kenyataan di lapangan
•
Perawatan belum dapat memenuhi harapan
publik – Belum ada jenis perawatan yang
efektif bagi semua orang
•
Perawatan DAPAT berhasil, tetapi seringkali
Apa yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan epidemi HIV di kalangan pengguna NAPZA
suntik??
Fakta Pengguna Napza Suntik (Penasun)
1. Penasun berada disetiap lapisan masyarakat
2. Produksi Narkoba makin meningkat
3. Pengguna narkoba makin bertambah
4. HIV dan AIDS pada penasun makin meningkat
5. Karakteristik penasun cenderung tertutup dan
ekslusif
6. Info kesehatan dikalangan penasun rendah sekali
Fakta penularan HIV dikalangan Penasun
HIV ditularkan apabila seorang yang terinfeksi
bertukar (sharing) peralatan suntikan (alat, jarum,
air) dengan orang lain
HIV juga sangat cepat menular dari Penasun ke
masyarakat umum melalui hubungan seks yang
berisiko
Pencegahan HIV pada penasun sangat bermanfaat
Pendekatan Program Untuk Mengatasi Permasalahan
Napza
1. Supply reduction (mengurangi pasokan)
Pemberantasan produksi napza
Pemberantasan peredaran gelap napza
2. Demand Reduction (mengurangi permintaan)
Pencegahan: pendidikan sejak dini tentang risiko pemakai
napza
3. Harm reduction (mengurangi dampak buruk)
Pengertian
Harm Reduction menurut WHO
•
Konsep -digunakan dalam wilayah kesehatan
masyarakat- yang bertujuan untuk
mencegah/mengurangi konsekuensi negatif
kesehatan yang berkaitan dengan perilakunya, dalam
hal ini perilaku penggunaan napza dengan jarum
suntik. Komponen pengurangan dampak buruk napza
merupakan intervensi holistik yang bertujuan
mencegah penularan HIV dan infeksi lainnya.
Pengertian HARM REDUCTION/ HR
:
Sumber : Permenko Kesra No 2 th. 2007 Tentang Pencegahan HIV melalui Program HR
Cara praktis dalam pendekatan
kesehatan masyarakat untuk
12 Kegiatan Utama Program HR
1. Komunikasi, Informasi, danEdukasi (KIE)
2. Penjangkauan dan Pendampingan
3. Konseling pengurangan risiko
4. Konseling dan tes HIV sukarela (VCT)
5. Program-program pencegahan infeksi
6. Program jarum suntik steril (NSP)
7. Pembuangan peralatan suntik yang telah dipakai 8. Layanan terapi
ketergantungan napza 9. Layanan klinik substitusi
napza
10. Perawatan dan pengobatan HIV
11. Perawatan Kesehatan Dasar
Mengapa HR Penting?
1. Penasun banyak terinfeksi HIV
2. Belum ada vaksin HIV
3. Belum ada pengobatan yg manjur untuk
menyembuhkan kecanduan
4. Penasun selalu melakukan kontak dengan
Tujuan HR
1. Mencegah HIV baik di kalangan penasun dan
masyarakat umum.
2. Memberdayakan penasun agar mandiri mengakses
layanan kesehatan untuk memperoleh perawatan
dan pengobatan
Prinsip-prinsip Kebijakan HR
1. Pemberian layanan Pengurangan Dampak Buruk
Penggunaan Napza Suntik tetap menghormati Hak Asasi
Manusia.
2. Pelaksanaan Pengurangan Dampak Buruk Penggunaan
Napza Suntik merupakan respon multi sektoral yang
melibatkan sektor kesehatan, penegakan hukum,
pengawasan obat-obatan, sektor pendidikan, sosial, agama,
lingkungan hidup, pemberdayaan perempuan, politik dan
keamanan.
3. Program HR dilaksanakan secara komprehensif di seluruh
wilayah Indonesia dengan prioritas jumlah penasun yang
tinggi, termasuk di dalam LAPAS /Rutan dan Pusat
pemulihan napza
4. Penglibatan penasun adalah mutlak untuk menjamin
efektivitas program
Dasar Hukum Kebijakan HR
• UU Narkotika dan Psikotropika Th 1997 • BKNN BNN
• Workshop Ciloto 1999 • Komitmen Sentani 2001
• Implementasi meluas program HR (2002) • Kesepakatan KPA – BNN 2004
• Kepmenkes (tentang implementasi HR) – 2006 • Permenkokesra (tentang Kebijakan HR) -2007
• Kebijakan global bergeser – INCB, CND, UNODC - 2008 • SEMA No 35, th 2009
• UU Narkotika No 35 Tahun 2009 • Deklarasi Vienna 2009
• Surat Edaran MA No 4, tahun 2010
UU Narkotika
(No 35 tahun 2009)
•
Membuka kesempatan untuk vonis rehab bagi pecandu
(Pasal 127 ayat 3 dan Pasal 128 ayat 3)
•
Kewajiban rehab untuk pecandu
standar layanan
untuk pecandu (pasal 54, 55,56, 57, 58 dan 59)
•
Peran Kemenkes, Kemensos dan BNN (pasal 70 huruf d)
•
Menjelaskan otoritas BNN untuk mengkoordinasikan
penanggulangan Narkotika (mulai Pasal 64)
•
Tidak menghambat program HR yang ada (Pasal 4
Dasar Hukum HR Bagi Aparat Penegak Hukum (1)
UU No 35/2009 tentang Narkotika
Pasal 103
Hakim yang memeriksa perkara Pecandu Narkotika dapat:
a. memutus untuk memerintahkan yang bersangkutan menjalani pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi jika
Pecandu Narkotika tersebut terbukti bersalah melakukan tindak pidana Narkotika; atau
b. menetapkan untuk memerintahkan yang bersangkutan
menjalani pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi jika Pecandu Narkotika tersebut tidak terbukti bersalah
melakukan tindak pidana Narkotika.
Dasar Hukum HR
Bagi Aparat Penegak Hukum (2)
Surat Edaran Mahkamah Agung No 4 tahun
2010
Tentang Penempatan penyalahgunaan,
korban penyalahgunaan dan pecandu
narkotika ke dalam rehabilitasi medis dan
sosial
Peraturan Menko Kesra No. 02/PER/MENKO/KESRA/I/2007 Tentang
Kebijakan Nasional Program Pengurangan Dampak Buruk Penggunaan Napza Suntik
(Harm Reduction)
Pasal 1 ayat (1)
•
Kebijakan Nasional Penanggulangan HIV dan
AIDS melalui Pengurangan Dampak Buruk
Penggunaan Napza Suntik dilaksanakan di
seluruh wilayah Indonesia.
Pasal 3 : Tujuan
Tujuan Kebijakan Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS
melalui Pengurangan Dampak Buruk Penggunaan Napza
Suntik, adalah :
1. mencegah penyebaran HIV di kalangan penasun dan
pasangannya;
2. mencegah penyebaran HIV dari penasun dan
pasangannya ke masyarakat luas;
3. mengintegrasikan pengurangan dampak buruk
penggunaan napza suntik ke dalam
sistem kesehatan
masyarakat
dalam layanan pencegahan, perawatan,
dukungan dan pengobatan HIV dan AIDS serta
pemulihan ketergantungan napza.
Pasal 4 : Sasaran
a) menjangkau dan melayani penasun sedikitnya 80% pada
tahun 2010 dan dilaksanakan secara bertahap;
b) menyediakan paket komprehensif pencegahan, pengobatan,
dan perawatan untuk menjamin perawatan berkelanjutan;
c) menyediakan akses pengobatan yang terjangkau oleh seluruh
penasun;
d) menyediakan kegiatan layanan Pengurangan Dampak Buruk
Penggunaan Napza Suntik di unit pelayanan pemerintah
termasuk di LAPAS, RUTAN dan unit pelayanan non
pemerintah di seluruh Indonesia
e) mengembangkan upaya pembinaan dengan merujuk
penasun dari sistem hukum pidana ke perawatan dan
pengobatan dengan asas praduga tak bersalah.
Lampiran :
PETUNJUK PELAKSANAAN
Departemen Kesehatan bertanggungjawab
dalam memberikan layanan Pengurangan
Dampak Buruk Penggunaan Napza Suntik yang
komprehensif yaitu:
1. Layanan jarum alat suntik steril (LJASS),
2. Layanan terapi rumatan metadon,
3. Perawatan pemulihan kecanduan napza
4. Perawatan pengobatan bagi penasun yang HIV.
20050 2006 2007 2008 2009 2010 2011
DATA KASUS PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI NUSA TENGGARA TIMUR PERIODE TAHUN 2005 - JUNI 2011
NARKOTIKA PSIKOTROPIKA
GANJA SHABU EXTACY SOMADRIL ACTIVAN COLLAGEN
47
DATA KASUS BERDASARKAN BARANG BUKTI
20050 2006 2007 2008 2009 2010 2011
JUMLAH TERSANGKA KASUS PENYALAHGUNAAN DAN PEREDARAN GELAP NARKOBA PERIODE TAHUN 2005 - JUNI 2011
NARKOTIKA PSIKOTROPIKA
DATA TERSANGKA BERDASARKAN USIA
3%
12%
81% 5%
DATA TERSANGKA BERDASARKAN TINGKAT PENDIDIKAN TERAKHIR
SD SLTP SLTA SARJANA
PNS
SUDAH DIREHABILITASI CALON REHABILITASI PENASUN DI KOTA KUPANG PENASUN DI SIKKA PENASUN DI BELU 14
9
62
14 14
JUMLAH KASUS NARKOBA DI NTT TAHUN 2005 S.D PEBRUARI 2011
NARKOTIKA
NO TAHUN 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JUMLAH
1 KOTA KUPANG 5 5 6 10 5 31
11 MANGGARAI 1 1
12 SUMBA TIMUR 1 3 2 1 1 7
13 SUMBA BARAT 0
14 LEMBATA 0
15 ROTE NDAO 0
16 MANGGARAI BARAT 1 1
17 SUMBA BARAT DAYA 1 1
18 MANGGARAI TIMUR 0
19 SUMBA TENGAH 0
20 NAGEKEO 0
21 SABU RAIJUA 0
JUMLAH 0 6 5 11 14 6 5 47
TAHUN
PSIKOTROPIKA
NO 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JUMLAH 1 KOTA KUPANG 1 3 2 6 2 0 2 16
11 MANGGARAI 2 2
12 SUMBA TIMUR 1 1 0 2 4
13 SUMBA BARAT 0
14 LEMBATA 0
15 ROTE NDAO 0
16 MANGGARAI BARAT 0
17 SUMBA BARAT DAYA 0
18 MANGGARAI TIMUR 0
19 SUMBA TENGAH 0
20 NAGEKEO 0
21 SABU RAIJUA 0
JUMLAH 3 4 3 7 4 4 6 27
JUMLAH TERSANGKA KASUS NARKOBA DI NTT TAHUN 2005 S.D JUNI 2010
NARKOTIKA
NO TAHUN 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JUMLAH 1 KOTA KUPANG 8 8 8 11 5 40
11 MANGGARAI 1 1
12 SUMBA TIMUR 1 4 4 2 11
13 SUMBA BARAT 0
14 LEMBATA 0
15 ROTE NDAO 0
16 MANGGARAI BARAT 0
17 SUMBA BARAT DAYA 1 1
18 MANGGARAI TIMUR 0
19 SUMBA TENGAH 0
20 NAGEKEO 0
21 SABU RAIJUA 0
JUMLAH 0 9 8 15 17 7 3 59
PSIKOTROPIKA
NO TAHUN 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JUMLAH 1 KOTA KUPANG 1 3 3 12 3 22
11 MANGGARAI 3 3
12 SUMBA TIMUR 0 1 3 4
13 SUMBA BARAT 0
14 LEMBATA 0
15 ROTE NDAO 0
16 MANGGARAI BARAT 0
17 SUMBA BARAT DAYA 0
18 MANGGARAI TIMUR 0
19 SUMBA TENGAH 0
20 NAGEKEO 0
21 SABU RAIJUA 0