• Tidak ada hasil yang ditemukan

INFORMASI DASAR NAPZA DAN PROGRAM TERAPI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "INFORMASI DASAR NAPZA DAN PROGRAM TERAPI"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Sejarah

Tahun 689, Kerajaan Sriwijaya mengundangkan penggunaan opiumTahun 1360, Raja Hayam Wuruk memerintahkan Empu Prapanca

untuk menuliskan tentang opium dalam Negarakertagama

Tahun 1678, konsumsi opium yang diimport oleh VOC untuk Pulau

Jawa sebanyak 113.000 pound

Tahun 1779, penggunaan opium dikontrol di Bengkulu

Tahun 1803, Pejuang Padri melarang penggunaan opium karena

bertentangan dengan agama Islam

1829, kebanyakan kabupaten di Jawa memiliki ladang opium,

(4)

Sejarah

Tahun 1880, Madiun dikenal sebagai produsen terbesar di

Indonesia

Tahun 1890, sebuah penelitian menunjukkan bahwa opium

digunakan untuk pengobatan terhadap kolera, malnutrisi berat dan TB

Tahun 1903, opium dalam bentuk pill dan bubuk dari Cina dijual

di Jawa sebagai pengobatan anti opiat.

Tahun 1908, Gerakan Boedi Oetomo berkampanye tentang anti

penggunaan opium bagi kaum bumiputra

Tahun 1912, penanaman koka untuk ekspor (lebih dari dari 1

ton)

Tahun 1920-1930, dilakukan registrasi pengguna opium di Hindia

(5)

Sejarah

Tahun 1927, sebuah undang-undang dibuat untuk melarang

penggunaan ganja dan erythroxylon coca di Hindia Belanda

Tahun 1947, dibuat peraturan tentang otoritas Departemen

Kesehatan dalam produksi, distribusi dan penggunaan obat-obatan berbahaya.

Tahun 1962, Departemen Kesehatan mengeluarkan surat keputusan

untuk mengendalikan penggunaan obat ketegori G dan O

(6)

Definisi Napza

Napza adalah suatu zat yang apabila

dikonsumsi akan berpengaruh secara fisik

dan/atau fungsi psikologis

Zat Legal adalah zat yang digunakan sebagai obat atau

digunakan di dalam dunia kedokteran

Obat, tembakau, alkohol, kopi/teh

Zat ilegal adalah zat yang digunakan untuk memperoleh

kesenangan atau perasaan yang menyenangkan

(7)

Bagaimana napza digunakan?

Dihisap: tembakau, marijuana, opium, heroin, ATS, lem

Diminum: alkohol, opium, heroin, marijuana, pil penenang(misal,

diazepam), buprenorphine

Disuntik: heroin, kokain, pil penenang, ATS, buprenorphineDihirup dengan hidung: kokain

Beberapa orang berganti-ganti dalam menggunakan napza

(misalnya dari menghisap menjadi menyuntik heroin)

Beberapa yang lain menggunakan dengan cara yang berbeda tetapi

(8)

Jenis Napza

Stimulan

Halusinogen

(9)

Stimulan

Meningkatkan aktivitas pada sistem syaraf

pusat (mempercepat aliran darah, detak

jantung meningkat dll)

Mempercepat proses mental, membuat lebih

waspada dan energik

Caffeine, nikotine, amphetamine type

(10)

Depresan

Memperlambat aktivitas dari sistem syaraf

pusat

Membuat lebih rileks dan kurangnya

kesadaran terhadap sekelilingnya

Alcohol,Valium, Rohypnol, Serapax,

(11)

Halusinogen

Mengubah persepsi, mood dan pikiran

Membuat orang melihat atau mendengar hal

yang berbeda (atau sesuatu yang tidak nyata)

Lysergic Acid Diethylamine (LSD), magic

(12)
(13)

Drugs sebagai masalah kesehatan

Kesehatan Jiwa

Penggunaan narkoba karena masalah kejiwaan (termasuk

gangguan kepribadian dan tingginya faktor resiko akibat

keluarga)

Kerusakan jiwa akibat narkoba, dll.

Mengganggu kesehatan jiwa keluarga

Kesehatan Fisik Personal

HIV, Hepatitis, Endocarditis, Abses, kanker hati, ginjal,

kerusakan otak, dll.

Kesehatan Masyarakat

(14)

Drugs sebagai masalah Sosial

Melanggar hukum-pemakain

sembunyi-sembunyi-hidden population-Angka

(15)

Drugs sebagai masalah Ekonomi

Ekonomi: Pasar gelap harga menjadi

(16)
(17)

Kebijakan : Supply Reduction

Mengacu pada batasan legalitas dan upaya

penegakan hukum yang digunakan semua

negara untuk mengendalikan atau

(18)

Supply Reduction

Hanya efektif jika permintaan rendah

Dapat efektif jika semua negara bisa bekerja

sama

Biaya untuk supply reduction dapat sangat tinggi

Umumnya efektivitasnya antara 5-10%

Memungkinkan sekali terjadinya korupsi karena

(19)

Kebijakan : Demand Reduction

Mengarah pada pendidikan di masyarakat

umum tentang penggunaan napza, membina

generasi muda agar tidak mencoba napza dan

yang masih menggunakan agar

mengendalikan, mengurangi atau

(20)

Demand Reduction

Akan efektif jika yang membutuhkan napza hanya sedikit

Banyak pendidikan tentang napza tidak efektif karena

isinya tidak realistis dan lebih banyak didasarkan pada

rasa takut

Sering menyederhanakan permasalahan sehingga pesan

yang dibuatpun menjadi tidak kontekstual (tidak realistis)

Dalam perawatan seringkali tidak mampu untuk

(21)
(22)

Ada Beragam Program Terapi Napza

Program 12 Langkah (mis. AA, NA)  1935

Behaviourists (mis. Daytop TC, Aversion T )  1950

Cognitive (mis. Rational Recovery, Moderation T)  1960

Substitution (mis. Methadone, Subutex)  1980

Psychoreligious (mis. Gereja, pesantren, dll)  sejak awal

namun menuntut landasan spiritual pribadi sejak awal.

If the only tool you have is a hammer,

you tend to see every problem as a nail

(23)

Tujuan

Aspek Kesehatan

Membantu pasien untuk tetap sehat

Mengurangi penggunaan napza ilegal oleh pasien

Mengurangi risiko yang terkait dengan penggunaan napza seperti HIV,

hepatitis B dan C

Aspek Kriminalitas

Mengurangi kegiatan kriminal untuk membiayai penggunaan napza

Aspek Psikososial

Mendorong pasien lebih stabil dengan pengobatan substitusi sehingga

menghilangkan gejala putus obat

(24)

Model yang Diidealkan

Perawatan

Pasien Penyalahguna Obat

(25)

Pelayanan Terapi & Rehabilitasi Komprehensif

HIV/AIDS, HCV,

PMS

PELAYANAN HIV/AIDS, HCV,

PMS

ASSESSMENT INTAKE

ASSESSMENT INTAKE URINE & DARAH

MONITORING URINE & DARAH

KELP. SELF HELP / PEER SUPPORT

KELP. SELF HELP / PEER SUPPORT

TERAPI & KONSELING

TERAPI & KONSELING

(26)

Kenyataan di lapangan

Perawatan belum dapat memenuhi harapan

publik – Belum ada jenis perawatan yang

efektif bagi semua orang

Perawatan DAPAT berhasil, tetapi seringkali

(27)

Apa yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan epidemi HIV di kalangan pengguna NAPZA

suntik??

(28)

Fakta Pengguna Napza Suntik (Penasun)

1. Penasun berada disetiap lapisan masyarakat

2. Produksi Narkoba makin meningkat

3. Pengguna narkoba makin bertambah

4. HIV dan AIDS pada penasun makin meningkat

5. Karakteristik penasun cenderung tertutup dan

ekslusif

6. Info kesehatan dikalangan penasun rendah sekali

(29)

Fakta penularan HIV dikalangan Penasun

HIV ditularkan apabila seorang yang terinfeksi

bertukar (sharing) peralatan suntikan (alat, jarum,

air) dengan orang lain

HIV juga sangat cepat menular dari Penasun ke

masyarakat umum melalui hubungan seks yang

berisiko

Pencegahan HIV pada penasun sangat bermanfaat

(30)

Pendekatan Program Untuk Mengatasi Permasalahan

Napza

1. Supply reduction (mengurangi pasokan)

Pemberantasan produksi napza

Pemberantasan peredaran gelap napza

2. Demand Reduction (mengurangi permintaan)

Pencegahan: pendidikan sejak dini tentang risiko pemakai

napza

3. Harm reduction (mengurangi dampak buruk)

(31)

Pengertian

Harm Reduction menurut WHO

Konsep -digunakan dalam wilayah kesehatan

masyarakat- yang bertujuan untuk

mencegah/mengurangi konsekuensi negatif

kesehatan yang berkaitan dengan perilakunya, dalam

hal ini perilaku penggunaan napza dengan jarum

suntik. Komponen pengurangan dampak buruk napza

merupakan intervensi holistik yang bertujuan

mencegah penularan HIV dan infeksi lainnya.

(32)

Pengertian HARM REDUCTION/ HR

:

Sumber : Permenko Kesra No 2 th. 2007 Tentang Pencegahan HIV melalui Program HR

Cara praktis dalam pendekatan

kesehatan masyarakat untuk

(33)

12 Kegiatan Utama Program HR

1. Komunikasi, Informasi, dan

Edukasi (KIE)

2. Penjangkauan dan Pendampingan

3. Konseling pengurangan risiko

4. Konseling dan tes HIV sukarela (VCT)

5. Program-program pencegahan infeksi

6. Program jarum suntik steril (NSP)

7. Pembuangan peralatan suntik yang telah dipakai 8. Layanan terapi

ketergantungan napza 9. Layanan klinik substitusi

napza

10. Perawatan dan pengobatan HIV

11. Perawatan Kesehatan Dasar

(34)

Mengapa HR Penting?

1. Penasun banyak terinfeksi HIV

2. Belum ada vaksin HIV

3. Belum ada pengobatan yg manjur untuk

menyembuhkan kecanduan

4. Penasun selalu melakukan kontak dengan

(35)

Tujuan HR

1. Mencegah HIV baik di kalangan penasun dan

masyarakat umum.

2. Memberdayakan penasun agar mandiri mengakses

layanan kesehatan untuk memperoleh perawatan

dan pengobatan

(36)

Prinsip-prinsip Kebijakan HR

1. Pemberian layanan Pengurangan Dampak Buruk

Penggunaan Napza Suntik tetap menghormati Hak Asasi

Manusia.

2. Pelaksanaan Pengurangan Dampak Buruk Penggunaan

Napza Suntik merupakan respon multi sektoral yang

melibatkan sektor kesehatan, penegakan hukum,

pengawasan obat-obatan, sektor pendidikan, sosial, agama,

lingkungan hidup, pemberdayaan perempuan, politik dan

keamanan.

3. Program HR dilaksanakan secara komprehensif di seluruh

wilayah Indonesia dengan prioritas jumlah penasun yang

tinggi, termasuk di dalam LAPAS /Rutan dan Pusat

pemulihan napza

4. Penglibatan penasun adalah mutlak untuk menjamin

efektivitas program

(37)

Dasar Hukum Kebijakan HR

UU Narkotika dan Psikotropika Th 1997 BKNN  BNN

Workshop Ciloto 1999Komitmen Sentani 2001

Implementasi meluas program HR (2002)Kesepakatan KPA – BNN 2004

Kepmenkes (tentang implementasi HR) – 2006Permenkokesra (tentang Kebijakan HR) -2007

Kebijakan global bergeser – INCB, CND, UNODC - 2008SEMA No 35, th 2009

UU Narkotika No 35 Tahun 2009Deklarasi Vienna 2009

Surat Edaran MA No 4, tahun 2010

(38)

UU Narkotika

(No 35 tahun 2009)

Membuka kesempatan untuk vonis rehab bagi pecandu

(Pasal 127 ayat 3 dan Pasal 128 ayat 3)

Kewajiban rehab untuk pecandu

standar layanan

untuk pecandu (pasal 54, 55,56, 57, 58 dan 59)

Peran Kemenkes, Kemensos dan BNN (pasal 70 huruf d)

Menjelaskan otoritas BNN untuk mengkoordinasikan

penanggulangan Narkotika (mulai Pasal 64)

Tidak menghambat program HR yang ada (Pasal 4

(39)

Dasar Hukum HR Bagi Aparat Penegak Hukum (1)

UU No 35/2009 tentang Narkotika

Pasal 103

Hakim yang memeriksa perkara Pecandu Narkotika dapat:

a. memutus untuk memerintahkan yang bersangkutan menjalani pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi jika

Pecandu Narkotika tersebut terbukti bersalah melakukan tindak pidana Narkotika; atau

b. menetapkan untuk memerintahkan yang bersangkutan

menjalani pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi jika Pecandu Narkotika tersebut tidak terbukti bersalah

melakukan tindak pidana Narkotika.

(40)

Dasar Hukum HR

Bagi Aparat Penegak Hukum (2)

Surat Edaran Mahkamah Agung No 4 tahun

2010

Tentang Penempatan penyalahgunaan,

korban penyalahgunaan dan pecandu

narkotika ke dalam rehabilitasi medis dan

sosial

(41)

Peraturan Menko Kesra No. 02/PER/MENKO/KESRA/I/2007 Tentang

Kebijakan Nasional Program Pengurangan Dampak Buruk Penggunaan Napza Suntik

(Harm Reduction)

(42)

Pasal 1 ayat (1)

Kebijakan Nasional Penanggulangan HIV dan

AIDS melalui Pengurangan Dampak Buruk

Penggunaan Napza Suntik dilaksanakan di

seluruh wilayah Indonesia.

(43)

Pasal 3 : Tujuan

Tujuan Kebijakan Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS

melalui Pengurangan Dampak Buruk Penggunaan Napza

Suntik, adalah :

1. mencegah penyebaran HIV di kalangan penasun dan

pasangannya;

2. mencegah penyebaran HIV dari penasun dan

pasangannya ke masyarakat luas;

3. mengintegrasikan pengurangan dampak buruk

penggunaan napza suntik ke dalam

sistem kesehatan

masyarakat

dalam layanan pencegahan, perawatan,

dukungan dan pengobatan HIV dan AIDS serta

pemulihan ketergantungan napza.

(44)

Pasal 4 : Sasaran

a) menjangkau dan melayani penasun sedikitnya 80% pada

tahun 2010 dan dilaksanakan secara bertahap;

b) menyediakan paket komprehensif pencegahan, pengobatan,

dan perawatan untuk menjamin perawatan berkelanjutan;

c) menyediakan akses pengobatan yang terjangkau oleh seluruh

penasun;

d) menyediakan kegiatan layanan Pengurangan Dampak Buruk

Penggunaan Napza Suntik di unit pelayanan pemerintah

termasuk di LAPAS, RUTAN dan unit pelayanan non

pemerintah di seluruh Indonesia

e) mengembangkan upaya pembinaan dengan merujuk

penasun dari sistem hukum pidana ke perawatan dan

pengobatan dengan asas praduga tak bersalah.

(45)

Lampiran :

PETUNJUK PELAKSANAAN

Departemen Kesehatan bertanggungjawab

dalam memberikan layanan Pengurangan

Dampak Buruk Penggunaan Napza Suntik yang

komprehensif yaitu:

1. Layanan jarum alat suntik steril (LJASS),

2. Layanan terapi rumatan metadon,

3. Perawatan pemulihan kecanduan napza

4. Perawatan pengobatan bagi penasun yang HIV.

(46)

20050 2006 2007 2008 2009 2010 2011

DATA KASUS PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI NUSA TENGGARA TIMUR PERIODE TAHUN 2005 - JUNI 2011

NARKOTIKA PSIKOTROPIKA

GANJA SHABU EXTACY SOMADRIL ACTIVAN COLLAGEN

47

DATA KASUS BERDASARKAN BARANG BUKTI

(47)

20050 2006 2007 2008 2009 2010 2011

JUMLAH TERSANGKA KASUS PENYALAHGUNAAN DAN PEREDARAN GELAP NARKOBA PERIODE TAHUN 2005 - JUNI 2011

NARKOTIKA PSIKOTROPIKA

DATA TERSANGKA BERDASARKAN USIA

(48)

3%

12%

81% 5%

DATA TERSANGKA BERDASARKAN TINGKAT PENDIDIKAN TERAKHIR

SD SLTP SLTA SARJANA

PNS

(49)

SUDAH DIREHABILITASI CALON REHABILITASI PENASUN DI KOTA KUPANG PENASUN DI SIKKA PENASUN DI BELU 14

9

62

14 14

(50)

JUMLAH KASUS NARKOBA DI NTT TAHUN 2005 S.D PEBRUARI 2011

NARKOTIKA

NO TAHUN 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JUMLAH

1 KOTA KUPANG 5 5 6 10 5 31

11 MANGGARAI 1 1

12 SUMBA TIMUR 1 3 2 1 1 7

13 SUMBA BARAT 0

14 LEMBATA 0

15 ROTE NDAO 0

16 MANGGARAI BARAT 1 1

17 SUMBA BARAT DAYA 1 1

18 MANGGARAI TIMUR 0

19 SUMBA TENGAH 0

20 NAGEKEO 0

21 SABU RAIJUA 0

JUMLAH 0 6 5 11 14 6 5 47

(51)

TAHUN

PSIKOTROPIKA

NO 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JUMLAH 1 KOTA KUPANG 1 3 2 6 2 0 2 16

11 MANGGARAI 2 2

12 SUMBA TIMUR 1 1 0 2 4

13 SUMBA BARAT 0

14 LEMBATA 0

15 ROTE NDAO 0

16 MANGGARAI BARAT 0

17 SUMBA BARAT DAYA 0

18 MANGGARAI TIMUR 0

19 SUMBA TENGAH 0

20 NAGEKEO 0

21 SABU RAIJUA 0

JUMLAH 3 4 3 7 4 4 6 27

JUMLAH TERSANGKA KASUS NARKOBA DI NTT TAHUN 2005 S.D JUNI 2010

NARKOTIKA

NO TAHUN 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JUMLAH 1 KOTA KUPANG 8 8 8 11 5 40

11 MANGGARAI 1 1

12 SUMBA TIMUR 1 4 4 2 11

13 SUMBA BARAT 0

14 LEMBATA 0

15 ROTE NDAO 0

16 MANGGARAI BARAT 0

17 SUMBA BARAT DAYA 1 1

18 MANGGARAI TIMUR 0

19 SUMBA TENGAH 0

20 NAGEKEO 0

21 SABU RAIJUA 0

JUMLAH 0 9 8 15 17 7 3 59

PSIKOTROPIKA

NO TAHUN 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JUMLAH 1 KOTA KUPANG 1 3 3 12 3 22

11 MANGGARAI 3 3

12 SUMBA TIMUR 0 1 3 4

13 SUMBA BARAT 0

14 LEMBATA 0

15 ROTE NDAO 0

16 MANGGARAI BARAT 0

17 SUMBA BARAT DAYA 0

18 MANGGARAI TIMUR 0

19 SUMBA TENGAH 0

20 NAGEKEO 0

21 SABU RAIJUA 0

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian dengan judul KEEFEKTIFAN COGNITIVE BEHAVIOUR THERAPY (CBT) SEBAGAI TERAPI TAMBAHAN PASIEN SKIZOFRENIA KRONIS DI PANTI REHABILITASI MENTAL BUDI MAKARTI BOYOLALI,

Menjadi Ahli Madya Okupasi Terapi yang mampu memberikan pelayanan Okupasi Terapi kepada pasien anak sampai lanjut usia yang mengalami dengan gangguan fisik dan/ atau mental,

n/ program okupasi terapi untuk pasien, klien, keluarga, masyarakat baik secara keseluruhan atau spesifik  Pelayanan okupasi terapi sesuai dengan standar proses okupasi

Pelayanan pada ruangan rawat inap untuk memudahkan pasien mendapatkan pelayanan kesehatan yang komprehensif, memudahkan pengobatan dan terapi yang akan harus didapatkan

BIDANG DATA, INFORMASI PELAYANAN UMUM, & PENGADUAN DAN BIDANG PENGOLAHAN & PENERBITAN PERIZINAN & NON PERIZINAN NAMA SOP : Pelayanan Surat Izin Okupasi Terapi..

Pelaksanaan Program Rehabilitasi perawat berperan penting sebagai provider, educator, advocator, dan role model dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat termasuk

Manfaat terapi lintah untuk kesehatan & pengobatan karena dalam air liur lintah [hirudin] banyak terkandung antikogulan [anti pembekuan darah] juga zat lainnya seperti

Pemberian terapi SQEFT selama empat minggu, tiga kali seminggu, dua kali sehari pada residen NAPZA yang sedang menjalani rehabilitasi dengan program TC efektif menurunkan nilai