• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PATI DAN GULA LILIS RATNASARI Q1A1 15 270

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN PATI DAN GULA LILIS RATNASARI Q1A1 15 270"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PATI DAN GULA

"Pembuatan Gula Cair dari pati sagu"

OLEH :

KELOMPOK 1 KELAS Q1A1-C

NAMA : LILIS RATNASARI

NIM : Q1A1 15 270

KELAS : GENAP

KELOMPOK : 1 (Ganjil)

JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI DAN INDUSTRI PERTANIAN

UNIVERSITAS HALU OLEO KENDARI

(2)

I. PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Indonesia memiliki luasan sagu paling luas di dunia, lebih dari 50% populasi sagu dunia dan 90% dari populasi tersebut ditemukan di Papua dan Papua Barat (Bintoro 2008). Luas lahan sagu di Provinsi Papua dan Papua Barat mencapai 5.2 juta ha dan dari luasan tersebut 1.1 juta ha sudah diizinkan untuk dikonversi menjadi lahan non sagu (Djoefrie et al. 2014). Sekitar 40% dari vegetasi sagu di Papua merupakan areal produksi yang potensial dan siap untuk dipanen (Yumte, 2008).Tanaman sagu yang ditemukan di Provinsi Papua lebih dari 60 jenis aksesi dan Papua dianggap sebagai sentra keragaman genetik sagu terbesar di dunia (Limbongan, 2007). Tanaman sagu dapat tumbuh baik di lahan sub optimal seperti daerah rawa. Tanah masam atau bersalinitas tinggi yang tanaman lain belum tentu mampu tumbuh baik (Flach dan Schuiling, 1989). Sistem perakaran yang kuat menjadikan pohon sagu sangat kuat dan mampu menahan banjir, goncangan angin, agen bioremediasi untuk menghilangkan kontaminan logam berat maupun mikroorganisme (Stanton, 1991).

(3)

juta ton yang terdiri dari 2,8 juta ton untuk konsumsi langsung masyarakat dan 2,9 ton untuk memenuhi kebutuhan industri (BPS, 2015).

Dalam upaya memenuhi kebutuhan gula dapat digunakan beberapa sumber pemanis alternatif pengganti gula tebu seperti siklamat, aspartam, stevia, dan gula hasil hidrolisis pati. Industri makanan dan minuman saat ini memiliki kecenderungan untuk menggunakan sirup glukosa. Di Indonesia bahan baku untuk pembuatan sirup glukosa adalah pati, tersedia banyak baik jumlah maupun jenisnya, misalnya tapioka, pati jagung, pati umbi-umbian dan pati sagu (Triyono, 2008). Pati sagu memiliki potensi yang besar sebagai bahan dasar pembuatan gula cair, hingga mencapai 20–40 ton ha-1 tahun, maka kebutuhan gula akan tercukupi dari pengolahan pati sagu (Bintoro et al. 2010). Pati sagu dapat dijadikan gula cair dengan cara menghidrolisis pati menggunakan enzim.

Pembuatan Gula cair dengan cara penggunaan enzim, konsentrasi merupakan salahsatu faktor yang menjadi penentu kualitas dan tingkat kesukaan gula cair, sehingga diperlukan konsentrasi enzim yang tepat pada pembuatan gula cair dari pati sagu ini. Berdasarkan uraian tersebut maka dibuatlah praktikum ini agar dapat menentukan konsentrasi enzim yang tepat yang disukai panelis.

1.2. Tujuan

(4)

II. TINJAUAN PUSTAKA

Istilah sagu telah digunakan secara luas untuk pati atau tepung yang dihasilkan oleh batang tumbuhan palma, pakis atauumbi akar. Selama ini nama pati dan tepung disamakan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, pengertian pati dan tepung disamakan baik sebagai hasil ekstrasi dari pokok batang palma maupun hasil penghancuran (penggilingan) umbi atau bijibijian seperti ubi kayu, gandum dan padi. Menurut Louhenapessy et al (2010) pati adalah hasil ekstrasi secara mekanik dalam keadaan basah dari empulur pohon, sedangkan tepung adalah hasil yang didapat dari penggilingan kering dari suatu bahan, yang tetap mengandung serat dan bahan kasar lainnya.

Pati sagu diperoleh dari hasil ekstraksi inti batang sagu atau empulur sagu dengan bantuan air sebagai perantara (Haryanto dan Pangloli, 1992) Salah satu pati umbi-umbian yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi sirup glukosa adalah pati sagu. Sirup glukosa adalah cairan kental dan jernih dengan komponen utama glukosa yang diperoleh dari hidrolisis pati dengan cara kimia atau enzimatik.

(5)

Hidrolisis secara asam memutus rantai pati secara acak, sedangkan hidrolisis secaraenzimatis memutus rantai pati secara spesifik pada percabangan tertentu.

Sirup glukosa adalah adalah cairan kental dan jernih dengan komponen utamaglukosa yang diperoleh dari hidrolisis patidengan cara kimia atau enzimatik (SNI 012978-1992). Sirup glukosa merupkan hasilhidrolisis pati menggunakan enzim a-amilase dan enzim amiloglukosidase. Pemecahan partikel besar mengurangi kekentalan larutan pati tergelatinisasi. Prosesini disebut likuifikasi. Tahap akhir depolimerisasi pembentukan mono-,di-,trisakarida disebut sakarifikasi (Wang, 2006).

Proses produksi glukosa melalui hidrolisis enzimatis terdiri atas tahap likuifikasi dan tahap sakarifikasi. Proses likuifikasi merupakan proses pencairan gel pati dengan menggunakan enzim a-amilase yang menghidrolisis pati menjadi molekulmolekul yang lebih sederhana dari oligosakarida atau dekstrin yang memutus ikatan a-(1,4) glikosidik pada amilosa dan amilopektin (Maksum et al.

2001). Hasil penelitian Wibisono (2004) pH optimum aamilase sebesar 5.2 dengan suhu optimum 95°C. Budiyanto et al .(2006) waktu optimum tahap likuifikasi 60 menit.

(6)

III. METODE PRAKTIKUM

III.1. Tempat dan Waktu

Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Pangan, Fakultas Teknologi dan Industri Pertanian, Universitas Halu Oleo Kendari, Pada hari Jumat, 08 Juni 2018, Pukul 10.0 WITA sampai selesai

III.2. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan pada praktikum ini ialah Tepung sagu, enzim ɑ

-Amilase, enzim glukoamilase, air dan aquades. Sedangkan alat yang digunakan pada praktikum ini ialah erlenmeyer, gelas ukur, panci, baskom, timbangan analitik, botol, dan kompor gas.

III.3. Prosedur kerja

3.3.1. Prosedur Pembuatan gula cair

- ditimbang 100 gram

- ditambahkan air 1000 ml (1 L) - ditambahkan enzim -Amilase ɑ

sambil diaduk

(7)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

a. Foto Kualitas warna Gula cair Tabel 1. Foto Kualitas warna Gula cair

No Konsentrasi Enzim Gambar/Foto

1.

1 mL

2.

1,5 mL

3.

2 mL

4.

2,5 mL

(8)

No Konsentrasi Enzim Total Padatan terlarut (TPT)

Tabel 3. Penilaian Sensorik (Kualitas) Aroma No

Grafik 1. Penilaian Sensorik (Kualitas) Aroma Tabel 4. Penilaian Sensorik (Kualitas) Warna

(9)

1 ml 1.5 ml 2 ml 2.5 ml

Grafik 2. Penilaian Sensorik (Kualitas) warna Tabel 5. Penilaian Sensorik (Kualitas) Kekentalan

No

Grafik 3. Penilaian Sensorik (Kualitas) Kekentalan Tabel 6. Penilaian Sensorik (Kualitas) Rasa

(10)

. enzim Menarik

Grafik 4. Penilaian Sensorik (Kualitas) Rasa 4.2. Pembahasan

(11)

median semakin kecil. Pada tabel 2. diatas menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi enzim yang dihasilkan maka TPT yang semakin rendah Pula TPT nya. Hal ini disebabkan karena seiring bertambahnya konsentrasi enzim menyebabkan hidrolisis pati semakin banyak, yang menghasilkan molekul-molekul larut air seperti maltosa dan molekul yang lebih sederhana lainnya. Sehingga dengan meningkatnya molekul yang terlarut akan menurunkan total padatan dalam dekstrin.

Uji organoleptik pada gula cair dari pati sagu dilakukan uji aroma, warna, rasa dan kekentalan. Aroma pada gula cair Pada tabel 3. menunjukkan semakin banyak konsentrasai enzim yang ditambahkan maka aroma sagunya semakin hilang, Hal ini diduga karena penambahan konsentrasi enzim yang tinggi dapat munutupi aroma sagu. Menurut Winarno (1997), aroma menentukan kelezatan dari suatu produk. Aroma terjadi karena adanya sejumlah komponen volatil yang berasal dari produk tersebut yang dapat terdeteksi oleh indera pembau (Rachmawati, 2001), gula cair parameter gula cair yang bagus ialah gula tidak memiliki aroma yang khas.

(12)

coklat. Warna coklat yang memudar ini diduga karena aktivitas enzim mampu menghambat reaksi mailard meskipun tdk signifikan. Warna yang terbaik adalah yang tidak mengubah warna asli dari gula cair yaitu perlakuan konsentrasi 2,5 ml dengan warna coklat muda.

Kekentalan gula cair pada tabel 5. menunjukkan bahwa semua perlakuan konsentrasi enzim pada gula cair tidak menarik karena tidak memberikan kekentalan. Gula cair yang baik adalah gula cair yang tidak kental atau cair. Kesamaan ini diduga karena kurang akuratnya panelis dalam menilai kekentalan suatu cairan.

(13)

V. PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Semakin besar konsentrasi enzim pada pembuatan gula cair maka kualitas organoleptik semakin baik, namun jika konsentrasi enzim yang ditambahkan melibihi konsentrasi optimun maka kualitas organoleptik menjadi menurun.

(14)

Saran untuk praktikum selanjutnya agar pengujian kekentalan dilakukan uji viskositas bukan uji organileptik karena penilaian panelis terhadap kekentalan tidak akurat.

DAFTAR PUSTAKA

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2015. Statistik Tebu Indonesia 2013. Jakarta (ID): Badan Pusat Statistik.

Badan Standarisasi Nasional. 1992. Standar Mutu Sirup Glukosa SNI 01-29781992.Standar Nasional Indonesia:Jakarta.

Bintoro M.H, Purwanto MYP, Amarillis S. 2010. Sagu di Lahan Gambut. IPB Press. Bogor (ID).hlm 169.

Bintoro MH. 2008. Bercocok Tanam Sagu. IPB Press. Bogor (ID). 71 hlm.

(15)

Flach M, Schuilling DL. 1989. Revival of an ancient starch crop: a review of the agronomy of the sago palm. J Agroforestry Systems. 7(1):259–281.

Haryanto, B. dan P. Pangloli. 1992. Potensi dan Pemanfaatan Sagu. Kanisius: Yogyakarta (ID).

Hastuti.S, S. Suryawati dan I. Maflahah. Pengujian Sensoris Nugget Ayam Fortifikasi Daun Kelor. AGROINTEK Volume 9, No.1 Maret 2015.

Limbongan J. 2007. Morfologi beberapa jenis sagu potensial di Papua. J Litbang Pertanian. 26(1):16-24.

Louhenapessy, J. E., M. Luhukay, S. Talakua, H. Salampessy dan J Riry. 2010. Sagu Harapan Dan Tantangan. PT. Bumi Aksara: Jakarta

Murtias. K.D, A.H. Mulyati dan A. Budiyanto.2016. Optimasi Produksi Gula Cair Dari Pati Sagu (Metroxylon Spp.) Asal Sulawesi Tenggara.

Universitas Pakuan, Bogor.

Rahmawati, A. 2010. Pemanfaatan Limbah Kulit Ubi Kayu (Manihot utilissima Pohl.) dan Kulit Nanas (Ananas comosus L.) pada Produksi Bioetanol Menggunakan

Stanton WR. 1991. Long-Term and Ancillary Environmental Benefits from Sago Agroforestry Systems. Di dalam: Ng Thai-Tsiung, Tie Yiu-Liong, Kueh Hong-Siong. Proceedings of the Fourth International Sago Symposium: 1991 Aug 6-9; Kuching, Malaysia. Kuching (KL): The Internasional Sago Palm Society. hlm 24-35.

Syarief, R. dan H. Halid. 1993. Teknologi Penyimpanan Pangan. Arcan, Jakarta. Triyono, A. 2008. Karakteristik Gula Glukosa Dari Hasil Hidrolisa Pati Ubi

Jalar (Ipomea Batatas, L.) Dalam Upaya Pemanfaatan Pati Umbiumbian. Prosiding Seminar Nasional Teknoin Bidang Teknik Kimia dan Tekstil: Yogyakarta.

Wang, N. N. 2006. Starch Hidrolysis byAmilase. Di dalam www.glue.umd.edu/diakses tanggal 8 Desember 2015.

Winarno, F. G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia, Jakarta.

(16)
(17)

Gambar

Tabel 1. Foto Kualitas warna Gula cair
Tabel 3. Penilaian Sensorik (Kualitas) Aroma
Tabel 5. Penilaian Sensorik (Kualitas) Kekentalan
Grafik 4. Penilaian Sensorik (Kualitas) Rasa

Referensi

Dokumen terkait

Perlakuan jenis gula dan konsentrasi saribuah Jeruk Keprok Garut dalam pembuatan sirup Jeruk Keprok Garut memberikan perbedaan pengaruh yang nyata terhadap

Perlakuan konsentrasi penambahan kapur (K) memberikan pengaruh yang sangat nyata (α=0,01) terhadap kadar gula reduksi gula merah.. Pembuatan Carang Mas. Skripsi Jurusan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, Perbedaan cara ekstraksi jahe dan penambahan konsentrasi gula kelapa yang berbeda dalam pembuatan sirup jahe

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,