1
GARIS BESAR PERJANJIAN SCHENGEN, MAASTRICHT DAN AMSTERDAM Oleh Fitri Haryanti H.S.A (0906491383)
Judul : Perjanjian Amsterdam sebagai Perjanjian yang Mengakomodasi Semangat Kebersamaan Uni Eropa
Sumber :
http://kajianeropa.blogspot.com
http://europa.eu/legislation_summaries/institutional.../amsterdam.../index_en.htm
Proses integrasi Eropa menjadi Uni Eropa telah melalui berbagai perjanjian yang
saling melengkapi satu sama lain. Perjanjian yang ikut berperan penting dalam
perkembangan Uni Eropa adalah Perjanjian Schengen, Maastricht dan Amsterdam. Ketiga
perjanjian itu memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Uni Eropa. Esai ini membahas
Perjanjian Amsterdam yang menjadi salah satu bentuk perjanjian yang paling
mengakomodasi semangat kebersamaan Uni Eropa.
Perjanjian Schengen ditandatangani tanggal 14 Juni 1985 oleh lima negara di Eropa
Barat yaitu Prancis, Belanda, Luxembourg, Jerman dan Belgia. Adanya perdebatan
mengenai kebebasan mobilisasi seseorang tahun 1980 memicu lahirnya Perjanjian
Schengen yang bertujuan memberi kemudahan perpindahan manusia antar negara anggota
wilayah Schengen. Perjanjian Schengen ini sebelum tahun 1997 hanya merupakan
kesepakatan antar lima negara anggota-anggota European Community (EC) yang menandatangani sehingga bukan sebagai dokumen resmi Uni Eropa. Berbeda dengan
Perjanjian Schengen, kelanjutan proses integrasi Eropa yang berhubungan langsung
dengan Eropean Community adalah Perjanjian Maastricht dan Perjanjian Amsterdam.
Tujuan utama ketiga perjanjian itu sama yaitu merintis Eropa yang bersatu. Pada
Perjanjian Schengen adanya kemudahan mobilitas dari satu negara jelas memberi efek
positif terhadap Eropa bersatu. Seseorang yang telah memiliki visa Schengen
diperkenankan untuk memasuki semua wilayah negara tersebut dengan bebas tanpa harus
melalui pemeriksaan imigrasi saat melintasi perbatasan satu negara dengan negara lain. Hal
ini ditekankan kembali pada Perjanjian Maastricht yang dipicu keinginan masyarakat Uni
Eropa untuk mencapai kemajuan dalam suatu ikatan Eropa yang lebih kuat dari sebelumnya.
Tercapainya pelaksanaan Perjanjian Maastricht ternyata belum mampu mengakomodir
2 Intergovernmental Conference (IGC) tahun 1966 dan berakhir dengan ditandatanganinya Perjanjian Amsterdam tahun 1997.
Perubahan struktur organisasi melahirkan tiga pilar dalam Perjanjian Maastricht
sebagai substansi penting organisasi, sedangkan pada Perjanjian Amsterdam proses
administrasi penerimaan anggota baru dari negara dunia ketiga yang diatur pada pilar ketiga
(Justice and Home Affaires) dipindah ke pilar pertama (Eropean Community). Selain itu, Perjanjian Maastricht bertujuan dengan pengambilan kebijakan-kebijakan baru, sedangkan
Perjanjian Amsterdam lebih mengefektifkan kemampuan menunjuk seorang High Representative serta berisi persiapan menghadapi perluasan anggota dari Eropa Timur.
Dari uraian di atas, sekilas mengenai Perjanjian Schengen, Maastricht dan
Amsterdam, manakah perjanjian yang paling mengakomodir semangat kebersamaan Uni
Eropa sehingga menjadi sebuah organisasi besar seperti sekarang ini?
Terjadi perombakan besar-besaran pada struktur organisasi setelah ditandatangani
Perjanjian Maastricht dan pelaksanaan pilar-pilar dalam Perjanjian Maastricht belum mampu
menyelesaikan permasalahan sehingga lahirnya Perjanjian Amsterdam sebagai revisi dari
Perjanjian Maastricht mampu memberikan suatu hal yang baru bagi integrasi Eropa. Uraian
berikut akan memberikan gambaran singkat tentang Perjanjian Amsterdam yang memberi
pengaruh signifikan terhadap proses menuju Eropa bersatu.
Para kepala negara dan pemerintahan kelima belas negara anggota Uni Eropa
mengadakan pertemuan pada tanggal 17 Juni 1997 di Amsterdam. Pertemuan itu merevisi
Treaty of Eoropean Union (TEU) dan menghasilkan sebuah perjanjian baru yaitu Perjanjian
Amsterdam.
Perjanjian Amsterdam lebih mempersiapkan Uni Eropa untuk menghadapi
perubahan Eropa termasuk memenuhi tantangan masa depan seperti pembesaran Uni
Eropa dengan mengakui negara-negara anggota baru dari Eropa Timur, evolusi yang cepat
dari situasi internasional, globalisasi ekonomi dan dampaknya terhadap pekerjaan, melawan
terorisme, kejahatan internasional dan perdagangan narkoba, masalah lingkungan serta
ancaman terhadap kesehatan publik.
Struktur institusi Eropa dalam Perjanjian Amsterdam lebih efisien sehingga
memudahkan pemahaman terhadap perjanjian mengenai Uni Eropa dengan memasukkan
Treaty of European Union (TEU) dan Treaty of Eropean Community (TEC) yang terwujud
3 Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Perjanjian Amsterdam telah memberi
warna perubahan baru yang berorientasi terhadap kebebasan manusia, kebijakan asing dan
reformasi lembaga Uni Eropa. Prinsip Hak Asasi Manusia diperkuat dalam perjanjian ini.