• Tidak ada hasil yang ditemukan

NARSISME DALAM PELAPORAN KEUANGAN ANALIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "NARSISME DALAM PELAPORAN KEUANGAN ANALIS"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

NARSISME DALAM PELAPORAN KEUANGAN :

ANALISIS SEMIOTIK ATAS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN YANG MENGALAMI KERUGIAN

Rizka Julia Budiani

Anis Chariri, SE, M.Com., Akt, Ph.D

ABSTRACT

This study is a qualitative research with approach of case study at annual report of companies that have experienced losses. The purpose of this study is to answer, understand and analyze why a nd how financial reporting practice of companies suffering from losses is surrounded by narcissism. In addition, this study was intended to understand and analyze the ways and reasons used by the company in delivering and presenting information that is narrative in the annual report.

This study uses a semiotic analyses and narcissism to analyze narrative texts on the companies’ financial statements that had experienced losses. The analyzed data are annual reports of the three companies namely banking, telecommunications service providers and providers of television broadcasting services.

Results of this study indicate that three companies (PT. Indosiar, PT. Mobile-8 and PT BII) use language of narcissism in financial reporting by way of designing such a way as narrative text in the annual report. In addition, this study also showed that language of narcissism used by three companies for the reasons of going legitimate through impression management based on certain interests of management.

(2)

PENDAHULUAN

Laporan keuangan merupakan salah satu alat yang bermanfaat bagi manajemen untuk pelaksanaan kegiatan operasi manajemen sehari-hari. Belkaoui (2006) menyebutkan bahwa laporan keuangan merupakan sarana untuk mempertanggungjawabkan apa yang dilakukan oleh manajer atas sumber daya pemilik. Laporan keuangan merupakan hasil dari suatu aktivitas yang bersifat teknis agar tujuan untuk menyediakan informasi yang bermanfaat itu dapat dicapai. Namun demikian, dalam kaitan dengan pihak luar, laporan keuangan berperan sebagai suatu media perantara. Oleh karena itu, laporan keuangan merupakan media komunikasi yang dapat digunakan untuk menghubungkan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan.

Penelitian-penelitian yang terkait dengan laporan keuangan cenderung meneliti kualitas, manfaat dan penyajian informasi dari laporan keuangan (Cohen, et al. 2004; Razeen 2004; Clatworthy dan Michael 2006; Chatterjee, et al. 2010; Yeoh 2010). Cohen, et al. (2004) melakukan penelitian tentang bagaimana cara meningkatkan kualitas pelaporan keuangan. Penelitian lainnya dimaksudkan untuk meneliti manfaat laporan dalam membantu pengambilan keputusan ekonomi (Anderson dan Epstein 1995; Bartlett dan Chandler 1997). Penelitian berikutnya, dikaitkan dengan issu tentang bagaimana informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat mempengaruhi efisiensi pasar dan perilaku individu (Amir dan Lev 1996; Healy, et a l. 1999; Lev dan Ohlson 1982; Lev dan Zarowin 1999).

(3)

Teks naratif (narrative text) merupakan bagian yang memainkan peranan penting bagi perusahaan dalam membentuk image perusahaan. David (dikutip oleh Watson, 2005) mengatakan bahwa teks naratif antara lain meliputi diskusi dan analisis manajemen dan sambutan yang disampaikan direktur dan komisaris. Diskusi dan analisis manajemen digunakan sebagai suatu media untuk menginterpretasikan dan mendiskusikan suatu tujuan perusahaan. Sambutan tertulis digunakan sebagai surat pengantar yang ditandatangani oleh Dewan Komisaris dan Dewan Direksi yang berisi informasi tentang ringkasan kinerja yang lalu dan rencana masa yang akan datang (Yuthas, et al. 2002)

Gardner dan Martinko (1988) mengungkapkan bahwa melalui teks naratif, perusahaan secara aktif berusaha membentuk image positif dan menghindari image negatif. Cara yang digunakan perusahaan untuk mengirimkan pesan melalui annual report merupakan strategi komunikasi perusahaan yang digunakan untuk membangun kepercayaan publik (Kohut dan Segars, 1992). Oleh karena itu, tidak mengherankan jika perusahaan mengalami kerugian, manajemen akan membuat pernyataan bahwa kerugian tersebut tidak disebabkan oleh kesalahan strategi manajemen melainkan disebabkan oleh faktor di luar kemampuan manajemen.

Pada laporan tahunan, teks naratif (narrative text) merupakan komplemen penting dari laporan keuangan (Courtis, 2002). Untuk mencapai transparansi bagi pihak yang berkepentingan, terutama investor, kejelasan dari teks naratif juga menjadi hal yang lebih penting (Rutherford, 2003). Hal ini yang mendorong manajemen untuk membentuk image positif dan menghindari image negatif. Sikap untuk menghindari image negatif dan membentuk image positif tidak dapat dipisahkan dari perilaku narsis individu. Oleh kerena itu, tidak mengherankan jika narsisme bahasa cenderung digunakan manajemen untuk menciptakan image positif melalui pemakaian narrative text.

(4)

Oleh karena itu, perilaku narsis cenderung untuk berupaya menciptakan image positif atas dirinya, yang juga akan menimbulkan optimisme dan keyakinan yang kuat atas hasil yang diperoleh nantinya.

Atas dasar argumen di atas, penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis narsisme bahasa yang dilakukan manajemen pada pelaporan keuangan terlebih ketika perusahaan mengalami kerugian. Pemahaman terhadap narsisme dalam penyampaian pesan tidak terlepas dari aspek semiotik karena aspek semiotik inilah yang membentuk bahasa yang digunakan dalam komunikasi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dalam paradigma interpretive dan menggunakan pendekatan kualitatif berupa studi kasus pada perusahaan yang mengalami kerugian.

LANDASAN TEORI

Konsep Pelaporan Keuangan

Pelaporan keuangan (financial reporting) adalah media yang digunakan perusahaan untuk mengkomunikasikan kegiatan masa lalu, hasil usaha dan kegiatan masa depan organisasi kepada pihak luar. Pelaporan keuangan merupakan praktik pelaporan, pengungkapan dan pertanggungjawaban perusahaan terhadap pemegang saham (shareholders) dan pemilik modal atas sumber daya yang dikelolanya. Adapun tujuan dari financial reporting Menurut SFAC no 1 (FASB, 1978) adalah untuk menyediakan:

1. Informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan investasi; 2. Informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan kredit; 3. Informasi dalam menilai arus kas masa depan; dan

4. Informasi mengenai sumber daya perusahaan, claim terhadap sumber daya dan perubahan yang terjadi pada sumber daya tersebut.

(5)

laporan keuangan yang diaudit tetapi juga mencakup media pelaporan informasi lainnya.

Melalui teks naratif, perusahaan secara aktif berusaha membentuk image positif dan menghindari image negatif (Gardner and Martinko, 1988). Hyland (1998) juga mengatakan bahwa surat pernyataan Direksi merupakan alat untuk “membangun kredibilitas dan kepercayaan diri” yang digunakan untuk mempromosikan citra perusahaan ke berbagai pihak. Oleh karena itu, pesan yang disampaikan melalui narrative text pada laporan tahunan merupakan salah satu strategi komunikasi yang dilakukan perusahaan. Pemahaman terhadap strategi komunikasi tidak dapat dipisahkan dari teori komunikasi yang terbentuk melalui proses sosial.

Teori Komunikasi Aksi Habermas

Untuk memahami proses sosial, Habermas (1983a) mengatakan bahwa harus ada perubahan paradigma dasar dari proses sosial. Teori komunikasi aksi merupakan teori yang memandang masyarakat melalui paradigma komunikasi. Proses sosial dapat dilihat sebagai dua analisis konseptual, yaitu lifeworld dan system mechanism. Lifeworld diartikan oleh Habermas (1983b) sebagai suatu situasi bertemunya individu dengan individu yang lain dalam melakukan hubungan timbal balik atas claim yang diberikan masing-masing individu, yang dapat mengkritisi dan mengkonfirmasi claim tersebut, serta menyelesaikan perbedaan pendapat hingga mencapai adanya kesepakatan. Oleh karena itu, segala sesuatu kehidupan atau aktivitas manusia dapat dilihat sebagai suatu interaksi yang mengikuti mekanisme lifeworld.

(6)

Teori Legitimasi

Teori legitimasi merupakan teori berbasis sistem yang telah berkembang selama tiga dekade terakhir ini (Conway dan Patricia, 2008). Hal ini didasarkan pada konsep bahwa suatu organisasi diasumsikan memiliki pengaruh dan dipengaruhi oleh masyarakat di mana organisasi tersebut beroperasi (Deegan, 2001). Dalam konsep tersebut ditegaskan bahwa organisasi berusaha untuk beroperasi dalam batas dan norma yang ada dan ingin memastikan bahwa aktivitas yang dilakukan mendapat legitimasi dari masyarakat (Conway dan Patricia, 2008). Legitimasi mempengaruhi seseorang dalam memahami dan bertindak terhadap suatu organisasi. Organisasi yang dianggap sah atau legitimate, lebih dipandang sebagai organisasi yang dipercaya, layak, bermakna dan memiliki prediksi. Selain itu, organisasi dianggap lebih legitimate bilamana organisasi tersebut mudah untuk dimengerti, bukan hanya sekedar diinginkan. Lebih lanjut, Suchman (1995) mendefinisikan legitimasi sebagai persepsi atau asumsi umum di mana tindakan sebuah entitas merupakan tindakan yang diinginkan, layak/pantas, atau sesuai dengan beberapa sistem yang dibangun secara sosial berupa norma, nilai, kepercayaan dan ketentuan-ketentuan.

Gardner and Martinko (1988) mengatakan bahwa suatu perusahaan akan secara aktif mencari image (melakukan pencitraan) yang positif dan menghindari image yang negatif. Pencitraan ini dapat dilakukan melalui “impression management” (Marcus and Goodman 1991) baik yang bersifat symbolic (melakukan sesuatu yang baik hanya secara simbolis) maupun substantive (melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak sekedar simbolisme) (Fitriany, 2009). Hal ini berkaitan dengan usaha perusahaan dalam memperoleh legitimasi dari masyarakat. Oleh karena itu, teori legitimasi benar-benar memberikan saran bagi perusahaan untuk membangun kesesuaian nilai sosial yang diterapkan oleh perusahaan dengan norma yang berlaku di masyarakat (Lindblom, 1983 dalam Chariri dan Nugroho 2009).

(7)

digunakan perusahaan dalam hal memperoleh legitimasi. Hal ini diperkuat oleh Aerts (1994) yang mengatakan bahwa narrative text merupakan salah satu alat yang dapat digunakan manajemen perusahaan untuk membuat aktivitas dan hasil dari perusahaan tersebut terlihat legitimate.

Narsisme

Chatterjee dan Hambrick (2006) mengatakan bahwa narsisme merupakan suatu hal yang dikaitkan secara positif dengan harga diri (self-esteem) (Emmons, 1984; Morf dan Rhodewalt, 1993), peningkatan bias diri (biased self-enhancement) (John and Robins, 1994), intensitas afektif (mood swings) (Emmons, 1987) dan penggunaan kata ganti personal saat berbicara (Raskin and Shaw, 1988). Sebagai suatu karakteristik kepribadian, narsisme memiliki dua elemen penting yaitu kognitif dan motivasi (Chatterjee dan Hambrick 2006).

Pada sisi kognitif, narsisme memerlukan adanya kepercayaan atas kualitas unggul individu yang dimiliki. Pelaku narsis cenderung melakukan penilaian yang tinggi atas dirinya sendiri, baik kecerdasan, kreativitas, kompetensi dan kemampuan dalam memimpin (John dan Robins, 1994; Farwell dan Wohlwend-Lloyd, 1998;. Hakim, et al , in press dalam Chatterjee dan Hambrick, 2006). Oleh karena itu, pelaku narsis sangat yakin dan percaya diri atas kemampuan yang mereka miliki dalam domain tugas (Campbell, et al., 2004). Dari sisi motivasi, narsisme memiliki kebutuhan yang kuat atas ketegasan orang lain terhadap keunggulan yang dimiliki. Hal ini diperoleh baik dalam bentuk penguatan, tepuk tangan, dan sanjungan (Wallace, 2002 dalam Chatterjee dan Hambrick, 2006).

(8)

Dalam konteks narsisme di atas, dapat dirumuskan bahwa narrative text terhadap pelaporan keuangan dapat didesain sedemikian rupa sehingga mengarah pada narsisme. Narsisme ini dibuat dan dilakukan oleh manajemen melalui argumen, data dan angka tertentu. Hal ini diharapkan mampu meyakinkan stakeholders bahwa aktivas perusahaan yang telah dijalankan dan dikelola dengan benar dapat mengarah pada kepercayaan diri dalam laporan keuangan, sehingga manajer dipandang berhasil dalam menjalankan tugasnya dengan baik. Cara yang dilakukan manajer dalam melakukan narsisme pada pelaporan keuangan adalah melalui struktur dan penulisan kalimat (semiotik).

Semiotik

Semiotik adalah ilmu yang berkaitan dengan tanda (simbol) dan cara-cara fungsi yang sistemastis untuk menyampaikan makna. Pemahaman terhadap tanda dapat dikaitkan pada konsep yang dikembangkan para strukturalis yang merujuk konsep Ferdinand deSaussure (1916). DeSaussure (dikutip oleh Hoed, 2007) mengungkapkan bahwa tanda dapat dikomposisikan pada dua aspek, Penanda (signifier) untuk segi bentuk suatu tanda, dan petanda (signified) untuk segi maknanya.

Fokus dari semiotik tidak terletak pada keakuratan atau efisiensi dari proses transmisi, melainkan lebih pada bentuk komunikasi itu sendiri, yaitu pesan atau teks. Suatu makna tidaklah mutlak dan terlihat intrinsik pada teks, tetapi dihasilkan dari interaksi orang dengan teks tersebut. Teks merupakan suatu kesatuan kebahasaan (verbal) yang mempunyai wujud dan isi, atau segi ekspresi dan segi isi. Oleh karena itu agar dapat disebut sebagai teks, seperti yang diungkapkan Hoed (2007), haruslah memenuhi kriteria tekstualitas sebagai berikut:

1. di antara unsur-unsurnya terdapat kaitan semantik yang ditandai secara formal (kohesi),

2. segi isinya dapat berterima karena memenuhi logika tekstual (koherensi), 3. teks diproduksi dengan maksud tertentu (intensionalitas),

(9)

5. mempunyai kaitan secara semantik dengan teks yang lain (intertekstualitas), 6. mengandung informasi dan pesan tertentu (informativitas).

Dalam konteks penelitian ini, diperlukan usaha untuk memahami makna dari tiap kata dan kalimat yang terkandung dalam narrative text pada annual report. Makna tersebut diintepretasikan dalam bentuk pesan yang ingin disampaikan manajemen kepada para pemakai laporan keuangan.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berupa analisis semiotik naratif atas laporan keuangan perusahaan yang pernah mengalami kerugian. Metode kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati (Bodgan dan Taylor, 2007 dalam Meutia, 2010). Pada penelitian ini, dihasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis yang bersumber dari narrative text pada pelaporan keuangan perusahaan, baik perbankan, penyedia jasa telekomunikasi dan penyedia jasa penyiaran televisi.

Objek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu berupa Annual report PT. Indosiar Karya Media, Tbk (2007 dan 2008), PT. Mobile-8 Telecom, Tbk (2007 dan 2008) dan PT. Bank Internasional Indonesia, Tbk (2008 dan 2009). PT. Indosiar Karya Media, Tbk mengalami kerugian pada tahun 2007 dan memperoleh laba pada tahun 2008. PT. Mobile-8 Telecom, Tbk memperoleh laba pada tahun 2007 dan mengalami kerugian pada tahun 2008. Sementara PT. Bank Internasional Indonesia, Tbk memperoleh laba pada tahun 2008 dan mengalami kerugian pada tahun 2009. Atas dasar inilah annual report PT. Indosiar Karya Media, Tbk, PT. Mobile-8 Telecom, Tbk dan PT. Bank Internasional Indonesia, Tbk digunakan sebagai objek penelitian yang nantinya akan dianalisis lebih lanjut mengenai perbandingan antara keduanya.

(10)

belum dirumuskan dengan baik. Adapun analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan analisis semiotik narrative text atas laporan keuangan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Membentuk image positif

Perilaku narsis individu yang memerlukan kepercayaan diri atas kualitas unggul yang dimiliki, menuntun individu tersebut dalam membentuk image yang positif. Image positif yang dibentuk dapat dilakukan perusahaan dengan cara mengklaim keberhasilan yang diperolehnya melalui narrative text pada pelaporan keuangan, baik keberhasilan atas usaha yang telah dilakukan ataupun keberhasilan atas kemampuan internal. Sebagai contoh dapat dilihat pada annual report PT. Indosiar pada saat mengalami kerugian tahun 2007 dalam sambutan Direksi (hal.6),

Kini usaha anak perusahaan untuk merebut kembali perhatian pemirsa dan pengiklan telah berhasil menempatkan anak perusahaan pada jajaran tiga besar televisi nasional sejak pertengahan tahun 2007, bahkan pada posisi teratas di penghujung tahun 2007.

Peryataan yang disampaikan diatas menunjukkan bahwa keberhasilan PT. Indosiar atas penempatan anak perusahaan pada jajaran tiga besar televisi nasional dijadikan sebagai alasan untuk mengklaim bahwa meskipun mengalami kerugian, manajemen tetap mampu mengelola perusahaan. Campbell, et al. (2004) mangatakan bahwa pelaku narsis sangat yakin dan percaya diri atas kemampuan yang mereka miliki dalam domain tugas. Jadi, dengan penuh percaya diri dan keyakinan, manajemen cenderung untuk tetap membentuk image positif atas keberhasilan usaha yang telah dilakukan.

Hal yang senada dalam membentuk image positif dinyatakan PT. BII pada pada saat mengalami kerugian tahun 2009 dalam Analisa dan Pembahasan Manajemen (hal.38),

(11)

mengalami kemajuan yang baik dalam mempersiapkan pertumbuhan yang berkelanjutan dan memberikan layanan prima.

Pernyataan serupa ditujukkan pada annual report PT. Mobile-8 saat mengalami kerugian tahun 2008 dalam Analisis dan Pembahasan Manajemen (hal.28), yang mengklaim keberhasilan atas kemampuan internal perusahaan sebagai berikut:

Mobile-8 juga bekerjasama dengan Baznas menyelenggarakan program Infaq, yang hasilnya disumbangkan untuk mendukung program Baznas dalam mensejahterakan masyarakat Indonesia, dimana program ini menghasilkan penghargaan kepada PT Mobile-8 sebagai satu-satunya operator telekomunikasi yang membantu program kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia.

Upaya perusahaan dalam menciptakan image positif lebih sering terlihat ketika perusahaan tersebut memperoleh laba. Hal ini disebabkan manajemen cenderung lebih yakin dan percaya diri atas keberhasilan yang diperolehnya. Sebagai contoh dapat dilihat pada annual report PT. Indosiar, PT. Mobile-8 dan PT BII pada saat memperoleh laba dalam Analisis dan Pembahasan Manajemen sebagai berikut:

PT. Indosiar tahun 2008 (hal.16),

Dalam kondisi krisis finansial yang telah meluas ke berbagai belahan dunia, perseroan dan anak perusahaan akan tetap berupaya memperbaiki kinerjanya, sebagai kesinambungan dari kinerja perseroan yang secara berangsur-angsur mulai membaik pada tahun ini, ditandai dengan dibukukannya saldo laba, dengan melanjutkan berbagai program kerja serta menetapkan strategi.

PT. Mobile-8 tahun 2007 (hal.25),

Pendapatan usaha perseroan naik 48,8 % menjadi Rp. 1.117,7 miliar pada 2007 dibandingkan Rp. 751,2 miliar pada 2006. peningkatan tersebut didorong oleh peningkatan jumlah pelanggan yang berdampak pada peningkatan pendapatan yang signifikan dari percakapan, SMS, dan data.

PT. BII tahun 2008 (hal.26),

(12)

Pernyataan di atas menunjukkan bahwa perusahaan menciptakan image positif dengan mengklaim keberhasilan usaha yang telah dilakukan. Seperti pemakaian kata “peningkatan tersebut didorong oleh peningkatan jumlah pelanggan…” ataupun “…meningkatnya portofolio aset dan penetapan suku bunga pendanaan yang efektif..” Oleh karena itu tidak mengherankan jika dalam menyampaikan pesan melalui narrative text, narsisme bahasa cenderung digunakan perusahaan.

Menghindari Image Negatif

Upaya membentuk image terus dilakukan perusahaan dalam memperoleh legitimasi. Tidak mengherankan jika perusahaan mengalami kerugian, manajemen akan menjustifikasi bahwa kerugian tersebut disebabkan oleh faktor eksternal di luar kendali perusahaan. Sebagai contoh, pernyataan yang disampaikan pada annual report PT. Indosiar yang mengalami kerugian pada tahun 2007 yang disajikan dalam Analisis dan Pembahasan Manajemen (hal.17):

kenaikan terjadi pada akun biaya utilitas, dan perbaikan & pemeliharaan yaitu masing-masing naik sebesar Rp. 12,75% dan 91,91%. Meningkatnya biaya perbaikan dan pemeliharaan karena pembelian sparepart peralatan penyiaran dan produksi di tahun 2007, akibat tertundanya pemeliharaan non rutin di tahun-tahun sebelumnya.

Contoh yang sama ditunjukkan pada annual report PT. Mobile-8 yang mengalami kerugian pada tahun 2007 dibagian Analisis dan Pembahasan Manajemen (hal.26):

Walaupun telah melalui segala daya dan upaya, penyebaran jaringan Mobile-8 di luar Pulau Jawa yang dijadwalkan selesai tahun 200Mobile-8 akhirnya tetap mengalami pengunduran penyelesaian akibat semakin banyaknya hambatan dan rintangan, baik dari internal maupun eksternal. Dari internal antara lain kesulitan pemenuhan para mitra kerja dalam menyelesaikan pekerjaan instalasi perangkat jaringan, serta eksternal antara lain semakin sulitnya mendapatkan ijin membangun dan sulitnya pasokan tenaga listrik.

(13)

Bank mencatat kerugian konsolidasian sebesar Rp40.969 juta pada tahun 2009, merupakan penurunan dari laba bersih tahun 2008. Penurunan ini terutama disebabkan karena pada tahun 2008 Bank memperoleh pendapatan non operasional „one off’ dari pelepasan dan penjualan aset kantor luar negeri yang tidak beroperasi lagi.

Meskipun perusahaan telah memperoleh laba, tidak menutup kemungkinan adanya penurunan yang terjadi ataupun hasil yang belum dicapai perusahaan. Namun demikian, perusahaan tetap mengklaim faktor eksternal sebagai penyebab atas terjadinya hal tersebut. Sebagai contoh, dapat dilihat pada annual report PT. Indosiar yang memperoleh laba pada tahun 2008 dalam Analisis dan Pembahasan Manajemen (Hal.11):

nilai buku aset tetap berkurang karena anak perusahaan melakukan pembatasan atas pembelajaan barang modal disamping penurunan sebesar Rp. 62,53 miliar karena penjualan sebagian dari peralatan pada awal tahun 2008, yang dilakukan berdasarkan pertimbangan manajemen antara lain masalah efektivitas dan efisiensi serta perbaikan cash flow, dimana perolehan dananya telah dipergunakan untuk melunasi pinjaman dari pihak ketiga.

Pada pernyataan di atas, disebutkan bahwa berkurangnya nilai buku aset tetap yang terjadi yaitu disebabkan adanya pembatasan pembelajaan modal dan penjualan sebagian peralatan. Selain itu, efektivitas dan efisiensi yang juga dikaitkan dengan pihak ketiga dijadikan alasan bagi perusahaan atas berkurangnya nilai aset.

Pernyataan lain yang juga menjadikan faktor eksternal sebagai penyebab yaitu pada annual report PT. Mobile-8 yang memperoleh laba pada tahun 2007 dalam Sambutan Direksi (hal.19):

Pada tahun 2007, Perseroan menunjuk Samsung Electronics Ltd. (“Samsung”) untuk pembangunan perluasan cakupan jaringan telepon seluler CDMA kami di seluruh Jawa, Bali, serta sebagian wilayah Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Namun disayangkan, Samsung tidak dapat memenuhi jadwal penyelesaian yang telah disepakati, yang mengakibatkan keterlambatan dalam beberapa target pengembangan dan perluasan jaringan selama tahun 2007.

(14)

Beban operasional lainnya naik 6%. Beban ini mencakup beban umum dan administrasi yang naik 13% sejalan dengan ekspansi jaringan cabang dan peningkatan bisnis, sedangkan beban tenaga kerja dikendalikan dengan baik sehingga hanya naik 7% dan dipertahankan dibawah tingkat inflasi.

Perilaku narsis individu dalam membentuk image, memiliki kebutuhan yang kuat atas ketegasan orang lain terhadap keunggulan yang dimiliki (Wallace, 2002 dalam Chatterjee dan Hambrick, 2006). Oleh karena itu, kecenderungan narsisme yang digunakan semata-mata untuk memperoleh legitimasi dari pihak yang berkepentingan. Selain itu, alasan manajamen dalam menggunakan narsisme bahasa dalam annual report terkait erat dengan teori komunikasi aksi Habermas, yaitu adanya kepentingan (interest).

Peranan Money dalam Interest

Money mempengaruhi keputusan dalam pertimbangan profit dan loss serta perhitungan ekonomis lain (Habermas, 1983b). Selain itu, dalam annual report dapat dilihat jelas peranan dari money yaitu dari adanya pengungkapan informasi yang diberikan perusahaan berkenaan dengan aspek finansial. Hal tersebut seperti yang diungkapkan pada annual report PT Indosiar ketika mengalami kerugian pada tahun 2007 dalam Analisis dan Pembahasan Manajemen (hal.17):

Kenaikan tipis pendapatan bersih yang diperoleh anak perusahaan sebesar 0,08% dibandingkan dengan tahun sebelumnya terutama terjadi sejak kuartal ke-3 yang membukukan masing-masing sebesar Rp. 350, 71 miliar dan Rp. 314, 05 miliar untuk enam bulan terakhir tahun 2007 dan 2006.

Hal yang serupa juga dinyatakan PT Indosiar pada saat memperoleh laba dalam Analisis dan Pembahasan oleh Manajemen (hal.15) sebagai berikut:

Di samping tercapainya usaha anak perusahaan dalam melakukan efisiensi biaya, kenaikan rating dan share telah mendongkrak kenaikan pada pendapatan iklan anak perusahaan hingga 32,4% dari tahun sebelumnya, sehingga berhasil membukukan saldo laba.

(15)

Pernyataan yang senada mengenai peran money, diungkapkan pada annual report PT. Mobile-8 dalam sambutan Dewan Komisaris sebagai berikut:

Pada saat mengalami kerugian pada tahun 2008 (hal.15),

Dengan berbagai langkah ini, yang antara lain mencakup program revitalisasi produk dan layanan Mobile-8, konsolidasi sumber daya Perseroan, penghematan belanja modal dan efisiensi biaya disertai dengan suntikan modal tambahan memadai, perseroan diperkirakan kembali meraih laba selambat-lambatnya pada tahun buku 2011.

Pada saat memperoleh laba pada tahun 2007 (hal.17),

Tahun 2007 merupakan tahun yang penuh tantangan sekaligus memberikan kepuasan bagi Mobile-8. Perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp1.117,7 miliar di tahun 2007, meningkat sebesar 48,8% dari Rp751,2 miliar di tahun 2006.

.Hal senada juga diungkapkan pada annual report PT. BII dalam Analisis dan Pembahasan Manajemen sebagai berikut:

Pada saat mengalami kerugian tahun 2009 (hal.40),

Kontribusi pendapatan bunga kredit meningkat menjadi 73% dari total pendapatan bunga tahun 2009, dibandingkan kontribusi tahun 2008 sebesar 66%. Selama beberapa tahun terakhir ini, pendapatan bunga kredit telah menjadi kontributor terbesar pendapatan bunga.

Pada saat memperoleh laba tahun 2008 (hal.25),

Dengan besar hati kami laporkan bahwa tahun 2008 merupakan tahun yang sangat positif bagi BII, sebagaimana ditunjukkan oleh hasil yang dicapai. Laba bersih naik 36% menjadi Rp480 miliar atau Rp9,79 per saham.

(16)

Peranan Power dalam Interest

Peranan power sangat jelas dapat dilihat pada annual report perusahaan dengan adanya pengungkapan informasi yang terkait dengan prinsip tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance). Sebagai contoh telah dinyatakan pada annual report PT. Indosiar dalam Analisis dan Pembahasan Manajemen sebagai berikut:

Pada saat mengalami kerugian pada tahun 2007 (hal.18):

Dalam perjalanannya menjadi perusahaan publik, perseroan telah merampungkan sejumlah proses yang menerapkan prinsip-prinsip good corporate governance yakni transparency, fairness, responsibility dan accountability, yang sesuai dengan ketentuan dan peraturan pasar modal.

Pada saat memperoleh laba pada tahun 2008 (hal.13):

Perseroan memastikan bahwa anak Perusahaan pada prinsipnya siap menjalankan Undang-undang dan telah melakukan persiapan-persiapan yang diperlukan sehubungan dengan peraturan dan perundang-undangan yang terkait, khususnya menyangkut persiapan jaringan penyiaran TV lokal nasional di kota-kota besar.

Adanya power memberikan kemampuan kepada seseorang atau suatu entitas untuk mempengaruhi orang lain ataupun entitas lain untuk melakukan apa yang diinginkan oleh entitas yang memiliki power tersebut. Penjelasan ini sejalan dengan definisi power yang diberikan Vail (2004): “The ability of one entity to influence the action of another entity” dan Boulding (1989): “The ability to get what you want” (Meutia, 2010).

Pernyataan narrative lain yang senada disampaikan pada Annual report PT Mobile-8 yang menunjukkan adanya komitmen perusahaan untuk menjamin kepatuhan terhadap power, sebagai berikut:

Pada saat mengalami kerugian tahun 2008 dalam Analisis dan Pembahasan Manajemen (hal.25),

Perusahaan menunjuk TDM, sebagai manajer investasi, untuk mengelola dana milik perusahaan sesuai dengan arahan investasi perusahaan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(17)

Pada tahun 2007, Mobile-8 juga menyisihkan waktu dan sumber daya untuk melaksanakan kegiatan Tanggung Jawab Sosial Perseroan (CSR) sebagai bagian dari komitmen Perseroan terhadap masyarakat dimana kami beroperasi, dan sejalan dengan Undang-Undang No.40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Pernyataan pertama diatas diungkapkan bahwa perusahaan menunjuk TDM sebagai manajer investasi yang sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sedangkan pernyataan kedua menunjukkan komitmen PT. Mobile-8 yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial Perseroan (CSR).

Hal serupa mengenai peran power, ditunjukkan pada annual report PT. BII sebagai berikut:

Pada saat mengalami kerugian tahun 2009 dalam Sambutan Direksi (hal. 37), Standar baku yang dipegang teguh dalam beberapa bulan kepemimpinan kami, merupakan bukti nyata komitmen kami untuk menjamin kepatuhan pada seluruh kebijakan internal BII dan peraturan yang ada.

Pada saat memperoleh laba tahun 2008 dalam Analisis dan Pembahasan Manajemen (hal. 31),

Penyediaan dana kepada debitur/grup telah dilakukan sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia terkait dengan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK), tidak terdapat pelampauan maupun pelanggaran BMPK.

Hal tersebut di atas tentunya dilakukan perusahaan dalam upaya membentuk image. Alasan lain manajemen dalam menggunakan narsisme bahasa, yang merupakan ujung dari upaya manajemen dalam membentuk image berdasarkan kepentingan yang ada, yaitu dalam pemerolehan legitimasi.

Pemerolehan Legitimasi

(18)

kenyataannya tidak. Berikut merupakan kutipan dari pernyataan Dewan Komisaris PT. Indosiar dan PT. Mobile-8:

Annual report PT. Indosiar yang mengalami kerugian pada tahun 2007 (hal.4) dewan komisaris yang dibantu oleh komite audit dalam menelaah aspek hukum dan bisnis perseroan, terus mendorong perseroan untuk menerapkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik guna menjaga kredibilitas perseroan di mata para stakeholder.

Annual report PT. Mobile-8 yang mengalami kerugian tahun 2008 (hal.12), Dengan arah dan langkah yang jelas di bawah kepemimpinan para anggota Direksi yang sangat berpengalaman, jerih payah serta dedikasi setiap staf dan karyawan, beserta dukungan segenap pemangku kepentingan Perseroan, mari kita antar Mobile-8 kembali ke jalur pertumbuhan yang menjanjikan.

Hal serupa atas pentingnya legitimasi diungkapkan PT. BII pada saat mengalami kerugian pada tahun 2009 dalam Analisis dan Pembahasan Manajemen (hal.30) sebagai berikut:

Ke depan, dengan dukungan penuh Grup Maybank, BII akan menjalankan rencananya untuk melakukan ekspansi dan revitalisasi. Pada 2010 BII akan melakukan rights issue hingga senilai Rp1,4 triliun untuk memperkuat modal inti. Penambahan modal ini akan meningkatkan rasio modal inti yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang. Pemegang saham mayoritas, Grup Maybank berkomitmen kuat pada pertumbuhan jangka panjang dan optimis pada potensi yang dimiliki oleh BII. Peningkatan modal disetor ini merupakan dukungan Maybank untuk meningkatkan brand BII di Indonesia.

Legitimasi merupakan hal yang penting bagi perusahaan. Oleh karena itu, dalam penyampaian informasi pada annual report, baik ketika perusahaan mengalami kerugian ataupun memperoleh laba, manajemen tetap berupaya untuk melakukan pencitraan yang positif. Berikut contoh yang dinyatakan tersebut yang disajikan pada annual report PT. Indosiar yang memperoleh laba pada tahun 2008 dalam Sambutan Dewan Komisaris (hal.29):

(19)

Pernyataan yang senada atas pentingnya legitimasi dapat dilihat pada annual report PT. Mobile-8 yang memperoleh laba pada tahun 2007 dalam Analisis dan Pembahasan Manajemen (hal.26):

Sesuai dengan misi “Untuk memaksimalkan nilai-nilai bagi para pihak yang berkepentingan dengan terus berinovasi dengan mengimplementasikan tata kelola perusahaan yang kuat secara konsisten", Perseroan menghayati sepenuhnya pentingnya Good Corporate Governance (GCG) untuk meningkatkan shareholder value dalam jangka panjang dan untuk melindungi kepentingan para pemegang saham minoritas.

Hal yang serupa dinyatakan PT. BII yang memperoleh laba pada tahun 2008 dalam Analisis dan Pembahasan Manajemen (hal.26):

Keyakinan yang kami nyatakan dalam laporan tahun lalu mengenai kapasitas yang tersedia, ekspansi kredit dan pendanaan, interest spread, kesinambungan profitabilitas dan prospek pertumbuhan telah terbukti. Kehadiran Grup Maybank sebagai pemegang saham mayoritas memberikan peluang yang besar untuk meningkatkan lebih jauh lagi prospek pertumbuhan dan pendapatan Bank di masa mendatang.

Dari pernyataan-pernyataan diatas dapat dikatakan bahwa dalam memperoleh legitimasi, ketiga perusahaan yaitu PT. Indosiar, PT. Mobile-8 dan PT BII lebih mementingkan manajamen substantif daripada manajemen simbolik sebagai strategi. Hal tersebut telah dibuktikan masing-masing perusahaan dengan strategi-strategi yang memang dilakukan oleh ketiganya, meskipun dalam keadaan rugi sekalipun. Jadi, sulit untuk menemukan setiap bahasa yang tidak penting yang digunakan sebagai “topeng” untuk menutupi kerugian pada periode sebagaimana yang digambarkan dalam annual report (Fitriani, 2009).

(20)

mendesain sedemikian rupa narrative text pada pelaporan keuangan yang diharapkan dapat mempengaruhi penilaian stakeholder atas perusahaan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Penelitian ini bertujuan untuk menjawab dua rumusan masalah. Yang pertama adalah bagaimana perusahaan tersebut menggunakan narsisme bahasa dalam pelaporan keuangan ketika perusahaan tersebut mengalami kerugian. Dapat disimpulkan bahwa ketiga perusahaan tersebut (PT. Indosiar, PT. Mobile-8 dan PT BII) menggunakan narsisme bahasa dalam pelaporan keuangan dengan cara mendesain sedememikian rupa narrative text pada annual report.

Rumusan masalah yang kedua adalah mengapa narsisme bahasa digunakan perusahaan dalam pelaporan keuangan. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa narsisme bahasa digunakan ketiga perusahaan dengan alasan untuk membentuk image positif dan menghindari image negatif, melalui pesan yang disampaikan pada narrative text atas laporan keuangan. Alasan Kedua yang mendasari kecenderungan narsisme bahasa digunakan perusahaan yaitu karena adanya kepentingan (interest), yang dipengaruhi dua hal yaitu money dan power. Alasan lain yang tidak kalah penting yaitu karena perusahaan ingin mendapatkan pengakuan (legitimasi) dari para stakeholder. Narrative text merupakan media yang mudah dan tepat digunakan perusahaan untuk memperoleh legitimasi berdasarkan kepentingan tertentu dari manajemen.

Karena penelitian ini adalah studi kasus maka terdapat beberapa keterbatasan. Pertama, penelitian ini hanya menggunakan data dokumenter tanpa adanya wawancara dan observasi langsung dengan pihak perusahaan. Kedua, kemungkinan ada kesalahan dalam hasil analisis data pada penelitian ini yang menggunakan interpretasi kalimat, karena kalimat-kalimat yang dianalisis tanpa pengesahan dari pihak ketiga yang netral.

(21)

perusahaan, dan sebagainya. Dan untuk selanjutnya, analisis yang dilakukan dapat lebih diperluas dan dikembangkan, misalkan tidak hanya berdasarkan hasil pemikiran peneliti saja, tetapi disertakan hasil pemikiran dari pihak lain.

DAFTAR PUSTAKA

Aerts, W. 1994. “On the Use of Accounting Logic as an Explanatory Category in Narrative Accounting Disclosures”. Accounting, Organization, and Society. Vol. 19, No. 4/5, Hal. 337-353.

Amir, E. and B. Lev. 1996. “Value Relevance of Non Financial Information: The Wireless Communications Industry”. Journal of Accounting and Economics. Vol.22, No.1 dan 3, Hal. 3-30.

Anderson, RH., and M.J. Epstein. 1995. “The Usefulness of Annual Report Australian Accountant”. April, Hal. 25-28.

Balata, P. and G. Breton. 2005. “Narratives vs Numbers in the Annual Report: Are They Giving the Same Message to the Investors?”. Review of Accounting & Finance: 5-25.

Bartlett, S. dan R. Chandler. 1997. “The corporate report and the private shareholder: Lee and Tweedie twenty years on” British Accounting Review, 29(3): 24561.

Belkaoui, Ahmed R. 2006. Teori Akuntansi. Cambridge : The University Press. Campbell, W. K., A. S. Goodie, dan J. D. Foster. 2004. “Narcissism, confidence,

and risk attitude.” Journal of Behavioral Decision Making, 17: 297– 311.

Chariri, Anis. 2006. The Dynamics of Financial Reporting Practice in An Indonesian Insurance Company : A Reflection of Javanese Views on An Ethical Social Relationship. Unpublished thesis PhD in Accounting, University of Wollongong, Australia.

(22)

Aneka Tambang, Tbk”. Simposium Nasional Akuntansi XII. Palembang 4-6 November 2009.

Chatterjee, A and D.C. Hambrick. 2006. “It‟s All About Me: Narcissistic CEOs and Their Effects on Company Strategy and Performance”. The Pennsylvania State University

Chatterjee, B., Mirshekary, S., Al Farooque., Omar, and Safari, M. 2010. “Users‟Information Requirements and Narrative Reporting: The Case of Iranian Companies”. Australasian Accounting Business and Finance Journal, 4(2), 2010, 79-96.

Clatworthy, M. dan J. Michael. 2006. “Differential Patterns of Textual Characteristics and Company Performance in the Chairman's Statement”. Accounting, Auditing & Accountability Journal : 493. Cohen, J., G. Krishnamoorthy, and A. Wright. 2004. “The Corporate Governance

Mosaic and Financial Reporting Quality”. Journal of Accounting Literature, 23, hal.87-152.

Conway, S., dan Patricia. 2008. Impression Management and Legitimacy in an NGO Environment. Working Paper Series No: 2. University of Tasmania.

Deegan, C. 2001. Financial Accounting Theory. Sydney : The McGraw-Hill Companies, Inc.

Ferry dan Eka.W. 2004. “Pengaruh Informasi Laba Aliran Kas dan Komponen Aliran Kas terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Manufaktur Di Indonesia”. Simposium Nasional Akuntansi VII, 2-3 Desember 2004: 1122 – 1132.

Fitriany, Kiki. 2009. “Retorika dalam Pelaporan Keuangan : Analisis atas Narrative Text dalam Annual Report Perusahaan yang Mengalami Kerugian”. Skripsi Program S1 Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang.

(23)

Ghauri, P. 2004. “Designing and Conducting Case Studies in International Business Research”. Handbook of Qualitative Research Methods for International Business. Hal.109-122.

Ghozali, I dan A. Chariri. 2007. Teori Akuntansi, Badan Penerbit Undip, Semarang.

Habermas,J. 1983a. The Theory of Communicative Action, Reason and the Rationalization of Society. Volume 1. Beacon Press. Boston.

Habermas,J. 1983b. The Theory of Communicative Action, Lifeworld and System: A Critique of Functionalist Reason. Volume 2. Beacon Press. Boston.

Halim, J., Meiden, C., dan Lumban Tobing, Rudolf. 2005. “Pengaruh manajemen laba pada tingkat pengungkapan laporan keuangan pada perusahaan manufaktur yang termasuk dalam indeks LQ-45”. Simposium Nasional Akuntansi 8. Solo 15-16 september 2005.

Healy, P., A. Hutton, dan K. Palepu. 1999. “Stock Performance and Intermediation Changes Surrounding Sustained Increase In disclosure”. Contemporary Accounting Research. Vol.16, No.3, Hal.485-520. Hoed, Benny. H. 2007. “Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya”. Fakultas Ilmu

Pengetahuan Budaya (FIB) : UI Depok.

Hyland, K. 1998. “Exploring corporate rhetoric: Metadiscourse in the CEO‟s letter”. The Journal of Business Communication, 35(2), 224-245. Jones, M., 1996, “Readability of annual reports: Western verus Asian evidence – a

comment on contextualize” Accounting, Auditing & Accountability Journal 9(2): 86.

Jonnal, K. dan G. Rimmel. 2010. “CEO Letters as Legitimacy Builders: Coupling Text to Numbers”. Journal of HRCA : Human Resource Costing & Accounting : 307-328.

Kernberg, O. F. 1975. Borderline conditions and pathological narcissism. New York: Aronson.

(24)

Communications: An International Journal. Vol. 14 No. 4, hal. 389-403.

Kohut, G.F., dan A.H. Segars. 1992. “The President‟s Letter to Stakeholders : An Examination of Corporate Communication Strategy”. Journal of Business Communication, Vol. 29, No.1, Hal. 7-21

Lev, B. dan J.A. Ohlson. 1982. “Market-Based Accounting Research in Accounting: A Review, Interpretation, and Extension”. Journal of Accounting Research. Vol.20 (Supplement), Hal. 249-332.

Lev, B. dan P. Zarrowin. 1999. “The Boundaries of Financial Reporting and How to Extend Them”. Journal of Accounting Research. Vol.37, No.2. Hal.353-385.

Marcus, A, dan R. Goodman. 1991. “Victims and Shareholders : The Dilemmas of Presenting Corporate Policy During A Crisis”. Academy of Management Journal. Vol.34, No.2, Hal. 281-305.

Meutia, Inten. 2010. “Shari‟ah Enterprise Theory sebagai Dasar Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial untuk Bank Syariah”. Disertasi Program Doktor Ilmu Akuntansi Universitas Brawijaya, Malang.

Nuryaman. 2008. “Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan, Ukuran Perusahaan, dan Mekanisme Corporate Governance terhadap Manajemen Laba”. Simposium Nasional Akuntansi, Vol.1. Pontianak (Tanjung Pura) 23-24 Juli 2008.

Rahayu, Sovi. 2008. “Pengaruh Tingkat Ketaatan Pengungkapan Wajib dan Luas Pengungkapan Sukarela terhadap Kualitas Laba (Studi Empiris pada Perusahaan Publik Sektor Manufaktur)”. Simposium Nasional Akuntansi 11, Vol.1. Pontianak (Tanjung Pura) 23-24 Juli 2008.

Raskin, R., J. Novacek, and R. Hogan. 1991. “Narcissistic self-esteem management.” Journal of Personality and Social Psychology, 60(6): 911-918.

(25)

Tauringana, V. dan G. Chong. 2004. “Neutrality of Narrative Discussion in Annual Reports of UK Listed Companies”. Journal of Applied Accounting Research : 74-107.

Utari, Agnes. 2001. “Analisis Faktor-Faktor Yang Berpengaruh terhadap Earnings Management Pada Perusahaan Go Public Di Indonesia”. Jurnal Akuntansi & Keuangan. November Vol. 3 No. 2.

Wallace, H. M., and R. F. Baumeister. 2002. “The performance of narcissists rises and falls with perceived opportunity for glory.” Journal of Personality and Social Psychology. 82(5): 819-834.

Watson, Marcia. 2005. Illusions of Trust: A Comparison of Corporate Annual Report Executive Letters Before and After SOX. presented at the 8th International Public Relations Research, University of Miami.

Wills, Debbie. 2008. Perceptions of Company Performance: A study of impression management. Working Paper Series No: 1. University of Tasmania.

Yeoh, Peter. 2010. “Narrative reporting: the UK experience”. International Journal of Law and Management : 211-231.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dimulai dengan terlebih dahulu mempelajari proses produksi barecore, menghitung waktu baku masing-masing proses produksi, menghitung waktu baku masing-masing

Prof.Dr.Ir.. Gumanti di bawah bimbingan Muhadar selaku pembimbing 1 dan Hj. Nur Azisa selaku pembimbing 2. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui pertanggungjawaban

Terjadinya kelongsoran pada pekerjaan Timbunan Tanah dengan nilai risk Rp3,065,276,679 yang disebabkan hujan dan human eror akibat kurangnya perkuatan serta gambar

Derajat determinasi antara implementasi perubahan kebijakan jabatan Pengawas sekolah dengan variabel kualitas kinerja Pengawas TK/SD telah mengikuti diklat di Kabupaten Lebak

“Produktivitas kerja seorang pegawai (individu) dapat dinilai dari apa yang dilakukan individu terhadap pekerjaan yang akan dilakukannya, yaitu bagaimana seseorang melaksanakan

Dilihat dari nilai r yang bemilai positif (+) maka hubungan antara variasi kadar ekstrak dengan daya lekat krim adalah semakin tinggi kadar ekstrak yang ditambahkan menyebabkan

[r]

Dapat memberikan gambaran kepada guru mengenai pelaksanaan self and peer assessment untuk menilai kinerja siswa pada kegiatan praktikum sehingga guru dapat melibatkan