• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN PUSAT DAN DAERAH APAKAH PENGATU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HUBUNGAN PUSAT DAN DAERAH APAKAH PENGATU"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN PUSAT DAN DAERAH

APAKAH PENGATURAN OTONOMI KHUSUS DAN ISTIMEWA DI INDONESIA MENCERMINKAN CIRI DESENTRALISASI ASIMERTIS

(kajian atas D.I Yogyakarta, D.I Aceh, dan Daerah Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat)

Abdul Rauf Alauddin Said NIM. 14/371881/PHK/08233

Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada

A. Latar Belakang

Permasalahan pemerintahan daerah, sudah sejak dahulu dibahas dan dirumuskan oleh para pendiri bangsa Indonesia. Pemerintahan daerah adalah elemen penting dalam penyelenggaraaan pemerintahan, negara Indonesia akan kuat dan kokoh jika daerahnya atau pemerintahan daerahnya kuat. Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kedaulatan tertinggi terletak pada pemerintah pusat, namun seluruh urusan penyelenggaraan pemerintahan Indonesia, tidak semuanya dapat dilakukan oleh pemrintah pusat. Oleh karena itu sejak dahulu Indonesia menerapakan desentralisasi dan otonomi daerah. Hanya saja makna desentralisasi dan otonomi daerah yang baik dalam tataran teoritik dan konsep, selalu berbeda dengan apa yang terjadi di lapangan atau praktik.

(2)

Permasalahan yang terjadi ialah apakah penerapan desentralisasi asimetris sesuai bagi Indonesia yang berbentuk negara kesatuan, sebab banyak lahirnya konsep desentralisasi asimetris berasal dari negara berbentuk federal. Menurut Ni’matul Huda1, desentralisasi asimetris sesuai atau tidak kembali pada konstitusi Indonesia, hanya perlu diperjelas mengenai makna atau parameter pasal 18B itu, karena hingga saat ini perihal tersebut tidak ditegaskan. Pemerintah atau DPR selaku pembuat UU harus membuat parameter atau indikator yang jelas, sebuah daerah diberikan istimewa atau kekhususan. Masih menurut Ni’matul huda, dalam risalahnya Pasal 18B hanya untuk memberikan dasar Aceh dan Papua untuk diberikan otsus, namun tidak bisa menggantung karena harus jelas pemaknaannya dalam bentuk UU. Pemberian status istimewa dan khusus jangan hanya alasan politis, melainkan harus jelas derajatnya apa dan seperti apa.2

Untuk mengetahui dan memahami apakah penerapan desentralisasi asimetris sesuai bagi NKRI, terdapat hal-hal yang perlu dikaji dalam konstitusi negara Indonesia, kemudian peraturan pelaksana dari konstitusi berupa undang-undang tentang pemerintahan daerah perlu dijabarkan. Berikut analisis kesesuaian penerapan desentralisasi asimetris dengan melihat konstitusi negara Indonesia dan aturan mengenai pemerintahan daerah.

B. Bentuk Penerapan Desentralisasi Asimetris di Indonesia

Dalam perjalanan sejarah ketatanegaraan Republik Indonesia, penerapan desentralisasi asimetris dalam bentuk daerah istimewa dan otonomi khusus telah lahir dan berjalan sejak dahulu. Salah satunya ialah Yogyakarta diberikan keistimewaan dalam Undang-Undang (UU) No. 30 Tahun 1950 tentang Pembentukan daerah Istimewa Yogyakarta, yang disempurnakan dengan UU No. 13 Tahun 20012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), selanjutnya di Provinsi Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam) melalui UU No. 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh yang terakhir disempurnakan dengan UU No. 11 Tahun 2006

1 Tesis Helmy Boemiya, 2014, Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Hasil wawancara dengan Dr. Ni’matul Huda pakar HTN dan dosen FH UII, pada tanggal 22 Mei 2014.

(3)

tentang Pemerintahan Aceh, selanjutnya diberlakukannya otonomi khusus di provinsi Papua, yaitu melalui UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. Kemudian dikembangkan lagi dengan keluarnya UU No. 35 Tahun 2008 yang menjadikan Papua Barat diberlakukan otonomi khusus. Setelah itu Jakarta juga menyandang status Daerah Khusus Ibukota melalui UU No. 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Berdasarkan praktik ketatanegaraan dan dasar hukum tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa otonomi asimetris/desentralisasi asimetris di Indonesia perwujudannya berbentuk “Daerah Khusus dan Daerah Istimewa”.3

a. Daerah Khusus

Daerah khusus, yakni satuan-satuan pemerintahan yang bersifat khusus yang diberikan otonomi khusus, sementara otonomi khusus adalah kewenangan khusus yang diakui dan diberikan kepada daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dan hak-hak dasar masyarakat daerah.4 Dasar hukum daerah khusus diatur dalam UUD NRI 1945 setelah amandemen pasal 18A ayat (1) dan Pasal 18B ayat (1). Latar belakang pemberian otonomi khusus lebih didasarkan pada pertimbangan non sejarah dan hak asal-usul. Pemberian otonomi khusus lebih dititik beratkan pada kondisi dan kebutuhan riil daerah sehingga diperlukan penyelenggaraan wewenang yang bersifat khusus, seperti Provinsi Papua, Papua Barat, dan DKI Jakarta.5

Sedikit berbeda mengenai DKI Jakarta yang diberikan kekhususan karena sebagai Ibu Kota Negara Republik Indonesia. Dilihat dari model pengembangan desentralisasi asimetris, Aceh, Papua dan Papua Barat termasuk dalam model kombinasi antara otonomi khusus dan otonomi reguler, yang mana otonomi khusus diberikan sebagai solusi untuk

3 DPD RI, 2013, Kajian Desentralisasi Asimetris Dan Otonomi Khusus di Indonesia (studi kasus Provinsi Bali dan Provinsi Kepulauan Riau), Sekjen DPD RI, Jakarta, hlm. 2.

(4)

menyelesaikan ketegangan antara pemerintah nasional dan daerah yang mau memisahkan diri.

b. Daerah Istimewa

Daerah istimewa ialah daerah yang mempunyai keistimewaan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), keistimewaan yang dimaksud ialah keistimewaan kedudukan hukum yang dimiliki oleh daerah berdasarkan sejarah dan hak asal-usul menurut UUDNRI 1945 setelah amandemen.6 Dasar hukum istimewa diatur dalam Pasal 18B ayat (1).

Contoh konkrit penerapan desentralisasi asimetris berbentuk daerah istimewa ialah Provinsi Aceh dan DIY, namun Aceh semenjak disahkan UU No. 11 Tahun 2006 menjadi otonomi khusus bukan daerah istimewa seperti yang disebutkan dalam UU No. 44 tahun 1999. Daerah istimewa dalam beberapa penelitian, dikatakan termasuk dalam kekhasan daerah berbasis sosio-budaya. Maksud sosio-budaya disini ialah suatu daerah menjadi khas karena memiliki sistem sosial budaya yang sudah terbentuk sebelum negara tersebut lahir. Dalam hal ini DIY seudah ada sebelum Indonesia merdeka.

DIY memiliki nilai historisitas yang kuat hal ini yang menjadi dasar kuat diberikannya keistimewaan DIY, yang mana DIY berbentuk kerajaan. Sebelum DIY.DIY semenjak UU No. 3 Tahun 1950 hingga UU No. 13 tahun 2012 tetap disebut darah istimewa yang memiliki kewenangan urusan istimewa yakni: mengenai tata cara pengisian jabatan Gubernur dan wakil gubernur, kelembagaan daerah, pertanahan, tata ruang dan kebudayaan.

Untuk lebih memahami penerapan desentralisasi asimetris terhadap pemerintahan daerah (pemda) dalam NKRI, dapat dilihat dari daerah-daerah atau pemda yang telah memiliki payung hukum atau dasar yuridis berupa Undang-Undang mengenai kekhususan dan keistimewaan daerah. Beberapa pemda yang memiliki undang-undung khusus atau istimewa, antara lain sebagai berikut.

1. Pemerintahan Aceh

(5)

Pemberian otonomi khusus pada Aceh, merupakan jalan panjang perjuangan masyarakat daerah Aceh. Sebelumnya pada tahun 1953, Aceh bergejolak menuntut keistimewaan yang dipimpin oleh Daud Beureuh, yang pada intinya menginginkan syariat islam diterapkan di daerah Aceh, kemudian perjuangan selanjutnya ialah perjuangan, yang lebih menekankan pada kesejahteraan masyarakat Aceh, yang mana Aceh memiliki sumber daya alam melimpah, namun masyarakat Aceh tidak merasakannya dan hidup tidak sejahtera.

Landasan filosofis pengaturan Pemerintahan Aceh ialah sistem Pemrintahan NKRI mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus dan istimewa, kemudian berdasarkan perjalanan ketatanegaraan Republik Indonesia, Aceh merupakan satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau istimewa, salah satu karakternya ialah masyarakat Aceh memiliki ketahanan dan daya juang tinggi. Ketahanan dan daya juang tinggi tersebut bersumber dari pandangan hidup yang berlandaskan syari’at Islam yang melahirkan budaya Islam yang kuat, sehingga Aceh menjadi daerah modal bagi perjuangan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan NKRI.7

Landasan sosiologis pengaturan pemerintahan Aceh ialah penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan di Aceh belum dapat sepenuhnya mewujudkan kesejahteraan rakyat, keadilan serta pemajuan, pemenuhan, dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) sehingga pemerintahan Aceh perlu dikembangkan dan dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik. Selain hal tersebut, bencana alam gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Aceh pada tanggal 26 Desember 2006, telah menumbuhkan solidaritas seluruh potensi bangsa Indonesia untuk membangun kembali masyarakat dan wilayah Aceh serta menyelesaikan konflik secara damai, menyeluruh, berkelanjutan, dan bermartabat dalam kerangka NKRI.

(6)

Dasar yuridis (hukum) pijakan Aceh diberikan perbedaan perlakuan oleh pemerintah pusat ialah Pasal 18A dan 18B ayat (1). Dalam UU No. 11 Tahun 2006, terdapat beberapa hal substansi yang membedakan Aceh dari daerah lainnya ialah sebagai berikut8 :

1) Aceh disebut daerah provinsi yang merupakan kesatuan masyarakat hukum yang bersifat istimewa dan diberi kewenangan khusus untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakatnya.

2) Pemerintahan Aceh dan kab/kota berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam semua sektor publik kecuali urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan, meliputi : urusan pemerintahan yang bersifat nasional, politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, dan urusan tertentu di dalam agama.

3) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di Aceh dibedakan menjadi dua yaitu Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Aceh (DPRA) dan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten/Kota (DPRK).

4) Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) di Aceh disebut Komisi Independen Pemilihan (KIP), yang tugasnya menyelenggarakan pemilihan umum Presiden/Wakil Presiden, anggota DPR RI, anggota DPD RI, anggota DPRA, dan pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur.

5) Penduduk Aceh diberikan hak untuk membuat partai politik lokal yang dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia yang berdomisili di Aceh. Partai politik lokal tidak boleh bertentangan dengan Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945.

6) Aceh dapat melaksanakan syari’at Islam meliputi aqidah, syar’iyah dan akhlak, yang terdiri dari ibadah, ahwal alsyakhshiyah (hukum keluarga),

(7)

muamalah (hukum perdata), jinayah (hukum pidana), qadha’ (peradilan), tarbiyah (pendidikan), dakwah, syiar, dan pembelaan Islam.

7) Aceh terdapat Mahkamah Syar’iyah Aceh, mahkamah ini bagian dari sistem peradilan nasional dalam lingkungan peradilan agama.

8) Aceh terdapat Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), yang merupakan majelis yang terdiri atas ulama dan cendekiawan muslim yang merupakan mitra kerja Pemerintah Aceh dan DPRA

9) Lembaga Wali Nanggroe, merupakan kepemimpinan adat sebagai pemersatu masyarakat yang independen, berwibawa, dan berwenang membina dan mengawasi penyelenggaan kehidupan lembaga-lembaga adat, adat istiadat, dan pemberian gelar/derajat dan upacara-upacara adat lainnya.

10) Pemerintahan Aceh berhak membuat Qanun, hal ini khusus yang berkaitan dengan syari’at Islam antara Pemerintahan Aceh dan pemerintahan kab/kota.

11) Mengenai perekonomian dan pengelolaan sumber daya alam, pemerintahan Aceh diberikan kewenangan untuk mengurus sendiri sesuai aturan.

2. Provinsi Papua dan Papua Barat

Papua adalah salah satu provinsi diujung timur NKRI yang dulunya selama masa orba dinamakan Irian Jaya. Papua memiliki sumber daya alam (SDA) melimpah daripada daerah lainnya, hanya saja kualitas sumber daya manusia (SDM) sangat lemah, hal ini dapat dilihat dari indeks pembangunan manusia (IPM) yang sangat rendah dari daerah lainnya.

(8)

hal yang perlu diperhatikan juga ialah penduduk asli di Provinsi Papua adalah salah satu rumpun dari ras Melanesia yang merupakan bagian dari suku-suku bangsa di Indonesia, yang memiliki keragaman kebudayaan, sejarah, adat istiadat, dan bahasa sendiri.9

Landasan filosofis Provinsi Papua Barat diberikan kekhsusan yang sama seperti Papua ialah keberadaan Provinsi Irian Jaya Barat yang kemudian berubah menjadi Provinsi Papua Barat, dalam kenyataannya telah menjalankan urusan pemerintahan dan pembangunan serta memberikan pelayanan kepada masyarakat sejak Tahun 2003, namun belum diberlakukan Otonomi Khusus berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua

Landasan sosiologis pemberian otonomi khusus bagi provinsi Papua adalah penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan di Provinsi Papua selama ini belum sepenuhnya memenuhi rasa keadilan, belum sepenuhnya memungkinkan tercapainya kesejahteraan rakyat, belum sepenuhnya mendukung terwujudnya penegakan hukum, dan belum sepenuhnya menampakkan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) di Provinsi Papua, khususnya masyarakat Papua.

Kemudian permasalahan selanjutnya ialah pengelolaan dan pemanfaatan hasil kekayaan alam Provinsi Papua belum digunakan secara optimal untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat asli, sehingga telah mengakibatkan terjadinya kesenjangan antara Provinsi Papua dan daerah lain, serta merupakan pengabaian hak-hak dasar penduduk asli Papua.

Oleh karena itu pemberlakuan kebijakan khusus dimaksud didasarkan pada nilai-nilai dasar yang mencakup perlindungan dan penghargaan terhadap etika dan moral, hak-hak dasar penduduk asli, HAM, supremasi hukum, demokrasi, pluralisme, serta persamaan kedudukan, hak, dan kewajiban sebagai warga negara. Telah lahir kesadaran baru di kalangan masyarakat Papua untuk memperjuangkan secara damai dan konstitusional pengakuan terhadap

(9)

hak dasar serta adanya tuntutan penyelesaian masalah yang berkaitan dengan pelanggaran dan perlindungan HAM penduduk asli Papua.10

Landasan Sosiologis otonomi khusus bagi Papua Barat ialah Provinsi Papua Barat memerlukan kepastian hukum yang sifatnya mendesak dan segera agar tidak menimbulkan hambatan percepatan pembangunan khususnya bidang sosial, ekonomi, dan politik serta infrastruktur di Provinsi Papua Barat.11

Landasan yuridis diberikannya otonomi khusus bagi Provinsi Papua terdiri dari Pasal 18, 18A, dan 18B, Tap MPR Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah, Pengaturan, Pembagian, dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan, serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, Tap MPR Nomor IV/MPR/1999 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara Tahun 1999-2004, Tap MPR Nomor IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah.12

Landasan yuridis pemberian Papua Barat sebagai otonomi khusus ialah Pasal 18B dan Pasal 22 UUD NRI Tahun 1945 sesudah amandemen, UU No. 21 Tahun 2001, UU No. 23 Tahun 2014, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-Undang Bagi Provinsi Papua dan UU No. 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua.

Papua merupakan contoh penerapan desentralisasi asimetris terhadap pemda berupa pemberian otonomi khusus, berikut beberapa hal substansi Provinsi Papua yang berbeda dari daerah lain :

10Ibid.,

11 Lihat Konsideran Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-Undang Bagi Provinsi Papua, Lembran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 57 dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 4842

(10)

1) Provinsi Papua adalah Provinsi Irian Jaya yang kemudian menjadi Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat

2) Provinsi Papua adalah provinsi Irian Jaya yang diberi otonomi khusus dalam NKRI, otonomi khusus adalah kewenangan khusus yang diakui dan diberikan kepada provinsi Papua untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dan hak-hak dasar masyarakat Papua.

3) DPRD di Provinsi Papua disebut dewan perwakilan rakyat Papua (DPRP) 4) Dalam provinsi Papua terdapat Majelis Rakyat Papua (MRP), merupakan

representasi kultural orang asli Papua, yang memiliki wewenang tertentu dalam rangka perlindungan hak-hak orang asli Papua dengan berlandaskan pada penghormatan terhadap adat dan budaya, pemberdayaan perempuan, dan pemantapan kerukunan hidup beragama

5) Pemerintahan Daerah provinsi Papua berhak membuat peraturan daerah khusus (perdasus), dalam rangka melaksanakan kekhususan yang dimiliki oleh Provinsi Papua.

6) Provinsi Papua mempunyai pengaturan mengenai adat, masyarakat adat, hukum adat dan masyarakat hukum adat tersendiri.

7) Provinsi Papua mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan, kecuali kewenangan bidang politik luar negeri, pertahanan, keamanan, moneter, dan fiskal, agama dan peradilan.

8) Gubernur dan Wakil Gubernur provinsi Papua harus orang asli Papua 9) Dalam hal Perekonomian Provinsi Papua yang merupakan bagian dari

perekonomian nasional dan global, diarahkan dan diupayakan untuk menciptakan sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan seluruh rakyat Papua, dengan menjunjung tinggi prinsip-prinsip keadilan dan pemerataan.

3. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)

(11)

Landasan filosofis Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diberikan keistimewan adalah NKRI mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan yang bersifat khusus dan istimewa. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman yang telah mempunyai wilayah, pemerintahan, dan penduduk sebelum lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 berperan dan memberikan sumbangsih yang besar dalam mempertahankan, mengisi, dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.13

Landasan Sosiologisnya, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Jogjakarta sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1955 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 3 Jo. Nomor 19 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta belum mengatur secara lengkap mengenai keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Landasan Yuridisnya ialah Pasal 18, 18A dan 18B UUD NRI Tahun 1945 sesudah amandemen, UU No. 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta jo UU No 19 Tahun 1950 tentang Perubahan Pembentukan Daerah Istimewa Yogayakrta dan UU 23 Tahun 2014.14

DIY merupakan contoh penerapan desentralisasi asimetris yang bentuknya disebut daerah istimewa. DIY memiliki beberapa kewenangan istimewa yang berbeda dengan daerah lainnya. Hal-hal substansial tersebut anatara lain : 1) DIY adalah daerah provinsi yang mempunyai keistimewaan dalam

penyelenggaraan urusan pemerintahan dalam kerangka NKRI.

2) Penerapan desentralisasi asimetris terhadap DIY bentuknya berupa daerah istimewa yang memiliki keistimewaan, keistimewaan adalah keistimewaan kedudukan hukum yang dimiliki oleh DIY berdasarkan sejarah dan hak asal-usul menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 untuk mengatur dan mengurus kewenangan istimewa.

13 Lihat Konsideran UU Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 170 dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5339.

(12)

3) Kewenangan istimewa adalah wewenang tambahan tertentu yang dimiliki DIY selain wewenang sebagaimana ditentukan dalam undang-undang tentang pemerintahan daerah

4) Pemerintahan DIY diberikan kewenangan untuk membuat Peraturan Daerah Istimewa (perdais) dalam hal mengatur urusan keistimewaan.

5) Keistimewaan DIY berada di Provinsi, kewenangan dalam urusan keistimewaan meliputi: a) tata cara pengisian jabatan, kedudukan, tugas, dan wewenang Gubernur dan Wakil Gubernur; b) kelembagaan Pemerintah Daerah DIY, c) kebudayaan, d) pertanahan; dan e) tata ruang.

C. Kesimpulan

Dari uraian singkat yang telah dikemukakan di atas, maka penulis menarik sebuah kesimpulan bahwa pada dasarnya, pemberian status khusus maupun istimewa pada suatu daerah, dalam hal ini pada ke tiga daerah yakni D.I.Yogyakarta, D.I.Aceh, dan Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat yang menjadi objek kajian, selain dari pada landasan filosifis dan sosisologisnya adalah juga lebih didasarkan atas pertimbangan politik oleh pemerintah pusat. Hal ini dikarenakan tidak adanya parameter yang mengatur secara jelas dan tegas dalam menentukan status daerah khusus maupun keistimewaan bagi suatu daerah. Pemberian status kekhususan maupun keistimewaan bisa dikatakan lebih bergantung pada kepentingan politik pemerintah pusat dan adanya tekanan politik dari masyarakat yang berasal dari daerah tersebut di atas, olehnya penulis berkesimpulan bahwa pemberian kekhususan maupun keistimewaan terhadap daerah-daerah tersebut belum mencerminkan ciri desentralisasi asimetris secara utuh seperti yang diatur dalam Pasal 18B UUDNRI 1945 dalam konteks negara kesatuan.

Referensi

Dokumen terkait

Dari semua yang sudah dicatat tentang tabib Lukas dan Injilnya ini kita dapat melihat satu hal yang sangat indah bahwa Lukas tahu memberikan atau mempersembahkan yang terbaik

Dari tabel di atas PT TITAN SARANA NIAGA komputer client memiliki software yang umum digunakan dalam setiap perusahaan..

Apabila tabungan hanya ditimbun tanpa diinvestasikan, hal tersebut bagaikan harta yang tidak berguna karena Islam tidak menyukai adanya tindakan penimbunan harta

 90 % dari draf yang disiapkan pemerintah mengalami perubahan yang sangat mendasar, baik dari segi substansi maupun formulasi rumusannya, yang disepakati pada

Oleh sebab itu, pada skripsi ini akan dibahas penggunaan metode C5.0 dan metode CHAID, serta pemilihan model terbaiknya untuk melakukan klasifikasi terhadap pendapatan

Dari perencanaan ini dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut:  Unit pengolahan yang diperlukan untuk mengolah air banjir di Surabaya menjadi air minum adalah unit

Bahwa dalil Pemohon sebagaimana dalam permohonannya tentang telah terjadi pelanggaran-pelanggaran secara terstruktur, sistematis, dan masif pada proses Pemilihan

Penelitian ini menggunakan instrumen SGRQ versi Indonesia sebagai alat pengumpul data untuk mengukur kualitas hidup pada pasien yang sedang mengalami kontrol PPOK di