• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH DAN ASUHAN KEPERAWATAN ASFIKSIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH DAN ASUHAN KEPERAWATAN ASFIKSIA"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH DAN ASUHAN KEPERAWATAN ASFIKSIA NEONATUS Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Anak

Dibimbing olrh :

Ns. Venny Erlisa Riska Irawan, S.Kep, M.Kep

Disusun Kelompok 8 :

Nabilatul Ummah (1501070397) Ni Ketut Lidya Oktapiani (1501070399)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KENDEDES MALANG PROGRAM STUDI S1-KEPERAWATAN

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Asuhan Keperawatan Asfiksia Neonatus ”.

Penulisan makalah ini adalah salah satu syarat untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Keperawatan Anak Program Studi S1- Keperawatan. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada pembimbing, Ns. Venny Erlisa Riskia Irawan, S.Kep,M.Kes yang telah meluangkan waktunya dan memberikan banyak masukan dalam penyusunan makalah ini sehingga penulis dapat menyelesaikan tepat pada waktunya.

Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, baik isi maupun susunan bahasanya, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca sebagai koreksi dalam penulisan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat, akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Malang, 19 Maret 2018

(3)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. .LATAR BELAKANG

Asfiksia neonaturium ialah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah (Hutchinson,1967).keadaan ini disertai dengan hipoksia,hiperkapnia dan berakhir dengan asidosis.Hipoksia yang terdapat pada penderita Asfiksia ini merupakan fackor terpenting yang dapat menghambat adaptasi bayi baru lahir terhadap kehidupan ekstrauterin (Grabiel Duc,20111) .penilaian statistik dan pengalaman klinis atau patologi anatomis menunjukkan bahwa keadaan ini merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas bayi baru lahir.Hal ini dibuktikan oleh Drage dan Berendes (2006) yang mendapatkan bahwa skor Apgar yang rendah sebagai manifestasi hipoksia berat pada bayi saat lahir akan mmperlihatkan angka kematian yang tinggi

(4)

1.2. TUJUAN

1.2.1. Tujuan Umum

Setelah membaca makalah ini mahasiswa dapat memahami apa yang dimaksud dengan Asfiksia dan hal-hal yang menyangkut asuhan keperawatannya.

1.3. Rumusan Masalah 1. Apa definisi Asfiksia ? 2. Apa etiologi Asfiksia ?

3. Apa manifestasi klinis Asfiksia ? 4. Apa patofisiologi asfiksia ? 5. Apa komplikasi Asfiksia ?

6. Bagaimana tentang penatalaksanaan Asfiksia ?

7. Bagaimana asuhan keperawatan pada kasus Asfiksia ?

1.4 Setelah membaca makalah ini mahasiswa dapat : 1. Mengetahui definisi Asfiksia

2. Mengetahui etiologi dan manifestasi klinis Asfiksia 3. Mengetahui komplikasi Asfiksia

4. Mengetahui tentang penatalaksanaan Asfiksia 5. Mengetahui tentang patofisiologi dari Asfiksia

(5)

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Asfiksia Neonatorum 2.1.1 Pengertian

Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan atau segera lahir (Prawiro Hardjo, Sarwono, 2007).

Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak bisa bernafas secara spontan dan adekuat (Wroatmodjo,2004).

Asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan dengan sempurna, sehingga tindakan perawatan dilaksanakan untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan mengatasi gejala lanjut yang mungkin timbul. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, beberapa faktor perlu dipertimbangkan dalam menghadapi bayi dengan asfiksia.

2.1.2 Etiologi dan Faktor Predisposisi

Ada beberapa faktor etiologi dan predisposisi terjadinya asfiksia, antara lain sebagai berikut:

1. Faktor Ibu

Hipoksia ibu akan menimbulkan hipoksia janin dengan segala akibatnya. Hipoksia ibu dapat terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian analgetika atau anesthesi dalam gangguan kontraksi uterus, hipotensi mendadak karena pendarahan, hipertensi karena eklamsia, penyakit jantung dan lain-lain.

2. Faktor Plasenta

Yang meliputi solutio plasenta, pendarahan pada plasenta previa, plasenta tipis, plasenta kecil, plasenta tak menempel pada tempatnya.

(6)

Meliputi tali pusat menumbung, tali pusat melilit ke leher, kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir, gemelli, IUGR, kelainan kongenital dan lain-lain.

4. Faktor Persalinan

Meliputi partus lama, partus tindakan dan lain-lain.

2.1.3 Patofisiologi

Bila janin kekurangan O2 dan kadar CO2 bertambah, timbulah rangsangan terhadap nervus vagus sehingga DJJ (denyut jantung janin) menjadi lambat. Jika kekurangan O2 terus berlangsung maka nervus vagus tidak dapat dipengaruhi lagi. Timbulah kini rangsangan dari nervus simpatikus sehingga DJJ menjadi lebih cepat akhirnya ireguler dan menghilang. Janin akan mengadakan pernafasan intrauterin dan bila kita periksa kemudian terdapat banyak air ketuban dan mekonium dalam paru, bronkus tersumbat dan terjadi atelektasis. Bila janin lahir, alveoli tidak berkembang.

Apabila asfiksia berlanjut, gerakan pernafasan akan ganti, denyut jantung mulai menurun sedangkan tonus neuromuskuler berkurang secara berangsur-angsur dan bayi memasuki periode apneu primer.

Jika berlanjut, bayi akan menunjukkan pernafasan yang dalam, denyut jantung terus menurun , tekanan darah bayi juga mulai menurun dan bayi akan terluhat lemas (flascid). Pernafasan makin lama makin lemah sampai bayi memasuki periode apneu sekunder. Selama apneu sekunder, denyut jantung, tekanan darah dan kadar O2 dalam darah (PaO2) terus menurun. Bayi sekarang tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak akan menunjukkan upaya pernafasan secara spontan. Kematian akan terjadi jika resusitasi dengan pernafasan buatan dan pemberian tidak dimulai segera.

(7)
(8)

Gejala klinik Asfiksia neonatorum yang khas meliputi : a. Pernafasan terganggu

b. Detik jantung berkurang c. Reflek / respon bayi melemah d. Tonus otot menurun

e. Warna kulit biru atau pucat

2.1.6 Diagnosis

Asfiksia pada bayi biasanya merupakan kelanjutan dari anoksia atau hipoksia janin. Diagnosa anoksia / hipoksia dapat dibuat dalam persalinan dengan ditemukan tanda-tanda gawat janin untuk menentukan bayi yang akan dilahirkan terjadi asfiksia, maka ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatikan.

1. Denyut Jantung Janin

Frekuensi normal ialah 120 sampai 160 denyutan per menit, selama his frekuensi ini bisa turun, tetapi diluar his kembali lagi kepada keadaan semula. Peningkatan kecepatan denyutan jantung umumnya tidak banyak artinya, akan tetapi apabila frekuensinya turun sampai dibawah 100/menit, dan lebih-lebih jika tidak teratur, hal itu merupakan tanda bahaya.

2. Mekonium Dalam Air Ketuban

Mekonium pada presentasi sungsang tidak ada artinya, akan tetapi pada prosentase kepala mungkin menunjukkan gangguan oksigenasi dan terus timbul kewaspadaan. Adanya mekonium dalam air ketuban pada prosentase kepala dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan bila hal itu dapat dilakukan dengan mudah.

3. Pemeriksaan pH Pada Janin

(9)

tanda bahaya. Dengan penilaian pH darah janin dapat ditemukan derajat asfiksia yaitu :

Tabel 1.1. Penilaian pH Darah Janin

NO Hasil Apgar Score Derajat Asfiksia Nilai pH

1. 0 – 3 Berat < 7,2

2. 4 – 6 Sedang 7,1 – 7,2

3. 7 – 10 Ringan > 7,2

Sumber : Wiroatmodjo, 1994

4. Dengan Menilai Apgar Skor

Cara yang digunakan untuk menentukan derajat asfiksia yaitu dengan penilaian Apgar Skor. Apgar mengambil batas waktu 1 menit karena dari hasil penyelidikan sebagian besar bayi baru lahir mempunyai Apgar terendah pada umur tersebut dan perlu dipertimbangkan untuk melakukan tindakan resusitasi aktif. Sedangkan nilai Apgar lima menit untuk menentukan prognosa dan berhubungan dengan kemungkinan terjadinya gangguan neurologik di kemudian hari. Ada lima tanda (sign) yang dinilai oleh Apgar, yaitu :

Tabel 1.2 Apgar Skor Tanda-tanda

Tidak ada <100 x/ menit >100 x/ menit

3. Grimace

(10)

(tonus otot) gerakan dalam posisi fleksi

Tidak bernapas Menangis lemah, terdengar seperti peninggian frekuensi jantung menandakan prognosis yang peka. Keadaan akan memburuk bila frekuensi tidak bertambah atau melemah walaupun paru-paru telah berkembang. Dalam hal ini pijatan jantung harus dilakukan. Usaha nafas adalah nomor dua. Bila apnea berlangsung lama dan ventilasi yang dilakukan tidak berhasil maka bayi menderita depresi hebat yang diikuti asidosis metabolik yang hebat. Sedang ketiga tanda lain tergantung dari dua tanda penting tersebut.

Ada 3 derajat Asfiksia dari hasil Apgar Skor diatas yaitu : 1. Nilai Apgar 7-10, Vigorous baby atau asfiksia ringan.

Bayi dalam keadaan merintih, adanya retraksi sela iga, dengan nafas takipnea ( >60x/menit), bayi tampak sianosis, adanya pernafasan cupping hidung, bayi kurang aktifitas, pada pemeriksaan auskultasi terdapat .ronchi, rales, dan wheezing. 2. Nilai Apgar 4-6 Mild Moderat atau asfiksia sedang.

Pada pemeriksaan fisik akan dilihat frekuensi jantung menurun menjadi (60 – 80x/menit), usaha nafas lambat, tonus otot baik, bayi masih bereaksi terhadap rangsangan, bayi sianosis, tidak terjadi kekurangan O2 yang bermakna selama proses persalinan.

(11)

Pada pemeriksaan ditemukan frekuensi jantung kecil ( <40x/menit),tidak ada usaha nafas, tonus otot lemah bahkan hampir tidak ada, bayi tidak dapat memberikan reaksi jika diberikan rangsangan, bayi pucat, terjadi kekurangan O2 yang berlanjut sebelum atau sesudah persalinan..

2.1.7 Pelaksanaan Resusitasi

Segera setelah bayi baru lahir perlu diidentifikasi atau dikenal secara cepat supaya bisa dibedakan antara bayi yang perlu diresusitasi atau tidak. Tindakan ini merupakan langkah awal resusitas bayi baru lahir. Tujuannya supaya intervensi yang diberikan bisa dilaksanakan secara tepat dan cepat (tidak terlambat).

1. Membuka Jalan Nafas

Tujuan : Untuk memastikan terbuka tidaknya jalan nafas. Metode :

a. Meletakkan bayi pada posisi yang benar.

Letakkan bayi secara terlentang atau miring dengan leher agak ekstensi/ tengadah. Perhatikan leher bayi agar tidak mengalami ekstensi yang berlebihan atau kurang. Ekstensi karena keduanya akan menyebabkan udara yang masuk ke paru-paru terhalangi.

Letakkan selimut atau handuk yang digulung dibawah bahu sehingga terangkat 2-3 cm diatas matras.

Apabila cairan/lendir terdapat bar dalam mulut, sebaiknya kepala bayi dimiringkan supaya lendir berkumpul di mulut (tidak berkumpul di farings bagian belakang) sehingga mudah disingkirkan.

b. Membersihkan Jalan Nafas

(12)

Urutan kedua metode membuka jalan nafas ini bisa dibalik, penghisapan terlebih dahulu baru meletakkan bayi dalam posisi yang benar, pembersihan jalan nafas pada semua bayi yang sudah mengeluarkan mekoneum, segera setelah lahir (sebelum baru dilahirkan) dilakukan dengan menggunakan keteter penghisap no 10 F atau lebih. Cara pembersihannya dengan menghisap mulut, farings dan hidung.

2. Mencegah Kehilangan Suhu Tubuh / Panas

Tujuan : Mencegah komplikasi metabolisme akibat kehilangan panas. Metode :

Meletakkan bayi terlentang dibawah pemancar panas (Infant warmer) dengan temperatur untuk bayi aterm 34°C, untuk bayi preterm 35°C.

Tubuh dan kepala bayi dikeringkan dengan menggunakan handuk dan selimut hangat, keuntungannya bayi bersih dari air ketuban, mencegah kehilangan suhu tubuh melalui evaporosi serta dapat pula sebagai pemberian rangsangan taktik yang dapat menimbulkan atau mempertahankan pernafasan.

Untuk bayi sangat kecil (berat badan kurang dari 1500 gram) atau apabila suhu ruangan sangat dingin dianjurkan menutup bayi dengan sehelai plastik tipis yang tembus pandang.

3. Pemberian Tindakan VTP (Ventilasi Tekanan Positif) Tujuan : untuk membantu bayi baru lahir memulai pernafasan. Metode :

Pastikan bayi diletakkan dalam posisi yang benar.

Agar VTP efektif kecepatan memompa (Kecepatan Ventilasi dan tekanan ventilasi harus sesuai, kecepatan ventilasi sebaiknya 40-60 kali/menit.

Tekanan ventilasi yang dibutuhkan sebagai berikut :

(13)

 Bayi dengan kondisi / penyakit paru-paru yang berakibat turunnya compliance membutuhkan 20-40 cm H2O.

 Tekanan ventilasi hanya dapat diukur apabila digunakan balon yang mempunyai pengukur tekanan.

4. Observasi gerak dada bayi

Adanya gerakan dada bayi naik turun merupakan bukti bahwa sungkup terpasang dengan baik dan paru-paru mengembang. Bayi seperti menarik nafas dangkal. Apabila dada bergerak maksimum, bayi seperti menarik nafas panjang, menunjukkan paru-paru terlalu mengembang, yang berarti tekanan diberikan terlalu tinggi. Hal ini dapat menyebabkan pneumotoraks.

5. Observasi gerak perut bayi

Gerak perut tidak dapat dipakai sebagai pedoman ventilasi yang efektif. Gerak perut mungkin disebabkan masuknya udara kedalam lambung.

6. Penilaian suara nafas bilateral

Suara nafas didengar dengan menggunakan stetoskop. Adanya suara nafas di kedua paru-paru merupakan indikasi bahwa bayi mendapat ventilasi yang benar.

7. Observasi pengembangan dada bayi

Apabila dada terlalu berkembang, kurangi tekanan dengan mengurangi meremas balon. Apabila dada kurang berkembang, mungkin disebabkan oleh salah satu sebab berikut yakni perlekatan sungkup kurang sempurna, arus udara terhambat, atau tidak cukup tekanan.

8. Pemberian Obat-Obatan Penunjang

(14)

Obat-obatan yang diperlukan pada bayi asfiksia :

a. Beri adrenalin (larutan 1 : 10.000) dengan dosis 0,1-0,3 ml/kg berat badan, apabila bayi mengalami bradikardia menetap diberikan sublingual atau diberikan intravena, sementara NaHCO3 tetap diberikan, disertai pernafasan buatan.

b. Natrium bicarbonat (NaHCO3) diberikan dengan dosis 2 ml/kg berat badan (cairan 7,5%) dilarutkan dengan Dextrose 10% dalam perbandingan 1 : 1 disuntikkan perlahan-lahan kedalam Vena umbilikus dalam waktu 5 menit.

c. Infus NaCl 0,9% atau Ringer laktat 10 ml/kg berat badan. 9. Penatalaksanaan Berdasarkan Penilaian Apgar Skor

a. Apgar skor menit I : 0-3

 Jaga agar bayi tidak kedinginan, sebab dapat menimbulkan hipotermis dengan segala akibatnya. Jangan diberi rangsangan taktil, jangan diberi obat perangsang nafas lekukan resusitasi.

 Lakukan segera intubasi dan lakukan mouth ke tube atau pulmanator to tube ventilasi. Bila intubasi tidak dapat, lakukan mouth to mouth respiration kemudian dibawa ke ICU.

 Ventilasi Biokemial

 Dengan melakukan pemeriksaan blood gas, kalau perlu dikoreksi dengan Natrium Bicarbonat. Bila fasilitas Blood gas tidak ada, berikan Natrium Bicarbonat pada asfiksia berat dengan dosis 2-4 mcg/kg BB, maksimum 8 meg/kg BB / 24 jam. Ventilasi tetap dilakukan. Pada detik jantung kurang dari 100/menit lakukan pijat jantung 120/menit, ventilasi diteruskan 40 x menit. Cara 3-4x pijat jantung disusul 1x ventilasi.

b. Apgar skor menit I : 4-6

 Seperti yang diatas, jangan dimandikan, keringkan seperti diatas.  Beri rangsangan taktil dengan tepukan pada telapak kaki, maksimum

15-30 detik.

(15)

 Skor apgar 4-6 dengan detik jantung kurang dari 100 kali permenit lakukan bag dan mask ventilation dan pijat jantung.

c. Apgar skor menit I : 7-10

 Bersihkan jalan nafas dengan kateter dari lubang hidung dahulu (karena bayi adalah bernafas dengan hidung) sambil melihat adakah atresia choane, kemudian mulut, jangan terlalu dalam hanya sampai fasofaring. Kecuali pada bayi asfiksia dengan ketuban mengandung mekonium, suction dilakukan dari mulut kemudian hidung karena untuk menghindari aspirasi paru.

 Bayi dibersihkan (boleh dimandikan) kemudian dikeringkan, termasuk rambut kepala, karena kehilangan panas paling besar terutama daerah kepala.

 Observasi tanda vital sampai stabil, biasanya 2 jam sampai 4 jam.

2.1.8 Komplikasi

Komplikasi yang mungkin muncul akibat asfiksia adalah: a. Sembab Otak

b. Pendarahan Otak c. Anuria atau Oliguria d. Hyperbilirubinemia

e. Obstruksi usus yang fungsional f. Kejang sampai koma

g. Komplikasi akibat resusitasinya sendiri : Pneumothorax 2.1.9 Prognosa

a. Asfiksia ringan / normal : Baik

b. Asfiksia sedang tergantung kecepatan penatalaksanaan bila cepat prognosa baik.

(16)

BAB III

Konsep Asuhan Keperawatan Asfiksia Neonatorum

Asuhan keperawatan adalah tindakan yang berurutan dilakukan sistematis untuk menentukan masalah pasien, membuat perencanaan untuk mengatasinya, melaksanakan rencana itu/menugaskan orang lain untuk melakukan dan mengevaluasi keberhasilan secara efektif terhadap masalah yang diatasinya (Efendi. Nasrul, 1995 ; 3).

3.1 Pengkajian

Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang pasien agar dapat mengidentifikasi, mengenali masalah, kebutuhan kesehatan dan keperawatan pasien baik fisik, mental, sosial dan lingkungan. Dalam tahap pengkajian ini dibagi menjadi tiga meliputi pengumpulan data, pengelompokan data dan perumusan masalah. Ada beberapa pengkajian yang harus dilakukan yaitu :

1. Sirkulasi

a. Nadi apikal dapat berfluktuasi dari 110 sampai 180 x/mnt. b. Tekanan darah 60 sampai 80 mmHg (sistolik), 40 sampai 45

mmHg (diastolik).

c. Bunyi jantung, lokasi di mediasternum dengan titik intensitas maksimal tepat di kiri dari mediastinum pada ruang intercosta III/ IV.

d. Murmur biasa terjadi di selama beberapa jam pertama kehidupan. e. Tali pusat putih dan bergelatin, mengandung 2 arteri dan 1 vena. 2. Eliminasi

a. Dapat berkemih saat lahir. 3. Makanan/ cairan

a. Berat badan : 2500-4000 gram b. Panjang badan : 44 - 45 cm

(17)

4. Neurosensori

a. Tonus otot : fleksi hipertonik dari semua ekstremitas.

b. Sadar dan aktif mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30 menit pertama setelah kelahiran (periode pertama reaktivitas). Penampilan asimetris (molding, edema, hematoma).

c. Menangis kuat, sehat, nada sedang (nada menangis tinggi

menunjukkan abnormalitas genetik, hipoglikemi atau efek narkotik yang memanjang)

5. Pernafasan

a. Skor APGAR : 1 menit s/d 5 menit dengan skor optimal harus antara 7-10.

b. Rentang dari 30-60 permenit, pola periodik dapat terlihat.

c. Bunyi nafas bilateral, kadang-kadang krekels umum pada awalnya silindrik thorak : kartilago xifoid menonjol, umum terjadi.

6. Keamanan

a. Suhu rentang dari 36,5º C sampai 37,5º C. Ada verniks (jumlah dan distribusi tergantung pada usia gestasi).

(18)

3.2 Analisa Data 1. Data Subyektif

Data subyektif adalah persepsi dan sensasi klien tentang masalah kesehatan.

Data subyektif terdiri dari

a. Biodata atau identitas pasien :

Bayi meliputi nama tempat tanggal lahir jenis kelamin b. Orangtua meliputi : nama (ayah dan ibu, umur, agama, suku atau

kebangsaan, pendidikan, penghasilan pekerjaan, dan alamat. 2. Riwayat kesehatan

1.

Riwayat antenatal yang perlu dikaji atau diketahui dari riwayat antenatal pada kasus asfiksia berat yaitu :

a. Keadaan ibu selama hamil dengan anemia, hipertensi, gizi buruk, merokok ketergantungan obat-obatan atau dengan penyakit seperti diabetes mellitus, kardiovaskuler dan paru. b. Kehamilan dengan resiko persalinan preterm misalnya

kelahiran multipel, inkompetensia serviks, hidramnion, kelainan kongenital, riwayat persalinan preterm.

c. Pemeriksaan kehamilan yang tidak kontinyuitas atau periksa tetapi tidak teratur dan periksa kehamilan tidak pada petugas kesehatan.

d. Gerakan janin selama kehamilan aktif atau semakin menurun. e. Hari pertama hari terakhir tidak sesuai dengan usia kehamilan

(kehamilan postdate atau preterm). 2.

(19)

persalinan lama, partus kasep, fetal distress, ibu kelelahan, persalinan dengan tindakan (vacum ekstraksi, forcep ektraksi). Adanya trauma lahir yang dapat mengganggu sistem pernafasan. Persalinan dengan tindakan bedah caesar, karena pemakaian obat penenang (narkose) yang dapat menekan sistem pusat pernafasan.

3.

Riwayat post natal

Yang perlu dikaji antara lain :

a. Apgar skor bayi baru lahir 1 menit pertama dan 5 menit kedua AS (0-3) asfiksia berat, AS (4-6) asfiksia sedang, AS (7-10) asfiksia ringan.

b. Berat badan lahir : kurang atau lebih dari normal (2500-4000 gram). Preterm/BBLR < 2500 gram, untu aterm  2500 gram lingkar kepala kurang atau lebih dari normal (34-36 cm).

c. Adanya kelainan kongenital : Anencephal, hirocephalus anetrecial aesofagal.

3. Pola nutrisi

Yang perlu dikaji pada bayi dengan post asfiksia berat gangguan absorbsi gastrointentinal, muntah aspirasi, kelemahan menghisap sehingga perlu diberikan cairan parentral atau personde sesuai dengan kondisi bayi untuk mencukupi kebutuhan elektrolit, cairan, kalori dan juga untuk mengkoreksi dehidrasi, asidosis metabolik, hipoglikemi disamping untuk pemberian obat intravena.

Tabel kebutuhan nustrisi BBL

(20)

Kebutuhan nutrisi enteral BB < 1250 gram = 24 kali per 24 jam

BB 1250 - < 2000 gram = 12 kali per 24 jam BB > 2000 gram = 8 kali per 24 jam

Kebutuhan minum pada neonatus : Hari ke 1 = 50-60 cc/kg BB/hari

Hari ke 2 = 90 cc/kg BB/hari

Yang perlu dikaji pada neonatus adalah : BAB : frekwensi, jumlah, konsistensi. BAK : frekwensi, jumlah

5. Latar belakang sosial budaya

Kebudayaan yang berpengaruh terhadap kejadian asfiksia, kebiasaan ibu merokok, ketergantungan obat-obatan tertentu terutama jenis psikotropika

Kebiasaan ibu mengkonsumsi minuman beralkohol, kebiasaan ibu melakukan diet ketat atau pantang makanan tertentu.

6. Hubungan psikologis

Sebaiknya segera setelah bayi baru lahir dilakukan rawat gabung dengan ibu jika kondisi bayi memungkinkan. Hal ini berguna sekali dimana bayi akan mendapatkan kasih sayang dan perhatian serta dapat mempererat hubungan psikologis antara ibu dan bayi. Lain halnya dengan asfiksia karena memerlukan perawatan yang intensif

7. Data Obyektif

Data obyektif adalah data yang diperoleh melalui suatu pengukuran dan pemeriksaan dengan menggunakan standart yang diakui atau berlaku (Effendi Nasrul, 1995)

a. Keadaan umum

(21)

gerakan yang aktif dan menangis keras. Kesadaran neonatus dapat dilihat dari responnya terhadap rangsangan. Adanya BB yang stabil, panjang badan sesuai dengan usianya tidak ada pembesaran lingkar kepala dapat menunjukkan kondisi neonatus yang baik.

b. Tanda-tanda Vital

Neonatus post asfiksia berat kondisi akan baik apabila penanganan asfiksia benar, tepat dan cepat. Untuk bayi preterm beresiko terjadinya hipothermi bila suhu tubuh < 36 C dan beresiko terjadi hipertermi bila suhu tubuh < 37

C. Sedangkan suhu normal tubuh antara 36,5C – 37,5C, nadi normal antara 120-140 kali per menit respirasi normal antara 40-60 kali permenit, sering pada bayi post asfiksia berat pernafasan belum teratur.

.

8. Data Penunjang

Data penunjang pemeriksaan laboratorium penting artinya dalam menegakkan diagnosa atau kausal yang tepat sehingga kita dapat memberikan obat yang tepat pula.

Pemeriksaan yang diperlukan adalah : 1) Darah

a. Nilai darah lengkap pada bayi asfiksia terdiri dari :

(22)

 Leukositnya lebih dari 10,3 x 10 gr/ct (normal 4,3-10,3 x 10 gr/ct) karena bayi preterm imunitas masih rendah sehingga resiko tinggi.

 Trombosit (normal 350 x 10 gr/ct)

 Distrosfiks pada bayi preterm dengan post asfiksi cenderung turun karena sering terjadi hipoglikemi.

b. Nilai analisa gas darah pada bayi post asfiksi terdiri dari :

 pH (normal 7,36-7,44). Kadar pH cenderung turun terjadi asidosis metabolik.

 PCO2 (normal 35-45 mmHg) kadar PCO2 pada bayi post asfiksia cenderung naik sering terjadi hiperapnea.

 PO2 (normal 75-100 mmHg), kadar PO2 pada bayi post asfiksia cenderung turun karena terjadi hipoksia progresif.

 HCO3 (normal 24-28 mEq/L) 2) Urine

Nilai serum elektrolit pada bayi post asfiksia terdiri dari : Natrium (normal 134-150 mEq/L)

Kalium (normal 3,6-5,8 mEq/L) Kalsium (normal 8,1-10,4 mEq/L) 3) Photo thorax

Pulmonal tidak tampak gambaran, jantung ukuran normal.

3.2.1 Analisa data dan Perumusan Masalah

(23)

menentukan masalah kesehatan dan keperawatan pasien (Effendi Nasrul,1995 : 23).

Tabel 1.3 Analisa Data dan Perumusan Masalah

Sign / Symptoms Kemungkinan Penyebab Masalah

1. Pernafasan tidak teratur, pernafasan cuping hidung, cyanosis, ada lendir pada hidung dan mulut, tarikan inter-costal, abnormalitas

2. Akral dingin, cyanosis pada ekstremmitas, keadaan umum lemah, suhu tubuh dibawah normal

- lapisan lemak dalam kulit tipis

hipotermia

3. Keadaan umum lemah, reflek menghisap lemah, masih terdapat retensi pada sonde

- Reflek menghisap lemah gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi.

4. Suhu tubuh diatas normal, tali pusat layu, ada tanda-tanda infeksi, abnormal kadar leukosit, kulit kuning, riwayat persalinan dengan ketuban mekonial

(24)

1. Gangguan pemenuhan kebutuhan O2 sehubungan dengan post asfiksia berat.

2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi sehubungan dengan reflek menghisap lemah.

(25)

No. Diagnosa Perawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi Rasional

- Wajah dan seluruh tubuh

1. Letakkan bayi terlentang dengan alas yang data, kepala lurus, dan leher sedikit tengadah/ekstensi dengan meletakkan bantal atau selimut diatas bahu bayi sehingga bahu terangkat 2-3 cm

1. Memberi rasa nyaman dan mengantisipasi flexi leher yang dapat mengurangi kelancaran jalan nafas.

2. Bersihkan jalan nafas, mulut, hidung bila perlu.

2. Jalan nafas harus tetap

dipertahankan bebas dari lendir untuk menjamin pertukaran gas yang sempurna.

3. Observasi gejala kardinal dan tanda-tanda cyanosis tiap 4 jam

3. Deteksi dini adanya kelainan.

(26)

4. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian O2 dan pemeriksaan kadar gas darah arteri.

4. Menjamin oksigenasi jaringan yang adekuat terutama untuk jantung dan otak. Dan

peningkatan pada kadar PCO2 menunjukkan hypoventilasi

Suhu tubuh 36,5 – 37,5°C Akral hangat

1. Letakkan bayi terlentang diatas pemancar panas (infant warmer)

1. Mengurangi kehilangan panas pada suhu lingkungan sehingga meletakkan bayi menjadi hangat

dingin suhu tubuh dibawah 36° C

Warna seluruh tubuh kemerahan 2. Singkirkan kain yang sudah dipakai untuk mengeringkan tubuh, letakkan bayi diatas handuk / kain yang kering dan hangat.

(27)

No. Diagnosa Perawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi Rasional 3. Observasi suhu bayi tiap

6 jam.

3. Perubahan suhu tubuh bayi dapat menentukan tingkat hipotermia

4. Kolaborasi dengan team medis untuk pemberian Infus Glukosa 5% bila ASI tidak mungkin

- Bayi dapat minum pespeen / personde dengan baik.

1. Lakukan observasi BAB dan BAK jumlah dan frekuensi serta

konsistensi.

1. Deteksi adanya kelainan pada eliminasi bayi dan segera mendapat tindakan / perawatan yang tepat.

- Berat badan tidak turun lebih dari 10%.

- Retensi tidak ada.

2. Monitor turgor dan mukosa mulut.

2. Menentukan derajat dehidrasi dari turgor dan mukosa mulut.

Tabel 1.4. Perencanaan / Intervensi

(28)

put. cairan tubuh (balance) 4. Beri ASI sesuai

kebutuhan.

4. Kebutuhan nutrisi terpenuhi secara adekuat.

5. Lakukan kontrol berat badan setiap hari.

5. Penambahan dan penurunan berat badan dapat di monito 4. Resiko terjadinya

infeksi

Tujuan:

Selama perawatan tidak terjadi komplikasi (infeksi)

Kriteria

1. Lakukan teknik aseptik dan antiseptik dalam memberikan asuhan keperawatan

1. Pada bayi baru lahir daya tahan tubuhnya kurang / rendah.

- Tidak ada tanda-tanda infeksi.

- Tidak ada gangguan fungsi tubuh.

2. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.

2. Mencegah penyebaran infeksi nosokomial.

Tabel 1.4 Perencanaan / Intervensi

No. Diagnosa Perawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi Rasional

3. Pakai baju khusus/ short waktu masuk ruang

(29)

4. Lakukan perawatan tali pusat dengan triple dye 2 kali sehari.

4. Mencegah terjadinya infeksi dan memper-cepat pengeringan tali pusat karena mengan-dung anti biotik, anti jamur, desinfektan. 5. Jaga kebersihan (badan,

pakaian) dan lingkungan bayi.

5. Mengurangi media untuk pertumbuhan kuman. 6. Observasi tanda-tanda

infeksi dan gejala kardinal

6. Deteksi dini adanya kelainan

Tabel 1.4. Perencanaan / Intervensi

No. Diagnosa Perawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi Rasional

7. Hindarkan bayi kontak dengan sakit.

7. Mencegah terjadinya penularan infeksi. 8. Kolaborasi dengan tim

medis untuk pemberian antibiotik.

(30)

laboratorat sesuai advis dokter yaitu pemeriksaan DL, CRP.

(31)

keperawatan yang merupakan realisasi rencana tindakan yang telah ditentukan dalam tahap perencanaan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi secara optimal

5. Tahap Evaluasi

Evaluasi adalah merupakan langkah akhir dari proses keperawatan yaitu proses penilaian pencapaian tujuan dalam rencana perawatan, tercapai atau tidak serta untuk pengkajian ulang rencana keperawatan. Evaluasi dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan pasien, perawat dan petugas kesehatan yang lain. Dalam menentukan tercapainya suatu tujuan asuhan keperawatan pada bayi dengan post Asfiksia sedang, disesuaikan dengan kriteria evaluasi yang telah ditentukan. Tujuan asuhan keperawatan dikatakan berhasil bila diagnosa keperawatan didapatkan hasil yang sesuai dengan kriteria evaluasi.

(32)

BAB IV PENUTUP 1. Kesimpulan

Pada dasarnya penyebab asfiksia dapat disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut yaitu perdarahan, infeksi, kelahiran preterm/bayi berat lahir rendah, asfiksia, hipotermi, perlukaan kelahiran dan lain-lain. Bahwa 50% kematian bayi terjadi dalam periode neonatal yaitu dalam bulan pertama kehidupan, kurang baiknya penanganan bayi baru lahir yang lahir sehat akan menyebabkan kelainan-kelainan yang dapat mengakibatkan cacat seumur hidup bahkan kematian.

Umur ibu pada waktu hamil sangat berpengaruh pada kesiapan ibu sehingga kualitas sumber daya manusia makin meningkat dan kesiapan untuk menyehatkan generasi penerus dapat terjamin. Kehamilan di usia muda/remaja (dibawah usia 20 tahun) akan mengakibatkan rasa takut terhadap kehamilan dan persalinan, hal ini dikarenakan pada usia tersebut ibu mungkin belum siap untuk mempunyai anak dan alat-alat reproduksi ibu belum siap untuk hamil. Begitu juga kehamilan di usia tua (diatas 35 tahun) akan menimbulkan kecemasan terhadap kehamilan dan

persalinannya serta alat-alat reproduksi ibu terlalu tua untuk hamil. 2. Saran

Semoga dengan adanya makalah ini kita semua dapat lebih memahami masalah asfiksia pada bayi baru lahir, dan semoga dapat bermanfaat bagi kita semua

(33)

Aminullah Asril. 2014. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina pustaka Sarwono Prawirohardjo

Effendi Nasrul. 2012. Pengantar Proses Keperawatan. EGC : Jakarta.

Manuaba, Ida Bagus Gde. 2011. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC

Gambar

Tabel 1.2  Apgar Skor
Tabel 1.3 Analisa Data dan Perumusan Masalah
Tabel 1.4. Perencanaan / Intervensi
Tabel 1.4. Perencanaan / Intervensi
+3

Referensi

Dokumen terkait