PERAN FABLES KARYA JEAN DE LA FONTAINE (1621-1694) DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK
Tania Intan
Pada awal abad ke XVII, Prancis mengalami banyak masalah, mulai dari perang agama, bencana dan kelaparan, hingga instabilitas politik (Blondeau, 2004:22). Setelah peristiwa pembunuhan yang menimpa Henri IV pada tahun 1610, istrinya, Marie de Médicis, berusaha mengembalikan wibawa kerajaan. Putranya, Louis XIII, menjadi raja pada tahun 1617-1643, dan kekuasaan itu selanjutnya diwariskan kepada Louis XIV, Roi de soleil, ‘Raja Matahari’ yang memerintah dengan kekuasaan tak terbatas mulai tahun 1661-1715 (Husen, 2001:33). Selama masa itu, Prancis menjadi negara yang terkuat di seluruh Eropa berkat penerapan prinsip monarki absolut. Segala aspek kehidupan masyarakat berada di bawah pengawasan raja, termasuk juga semua hal yang berkaitan dengan bahasa dan sastra.
Pada periode Klasisisme, genre karya sastra utama yang menarik minat publik adalah drama serta tulisan yang bersifat moralis. Melalui media tersebut, para sastrawan Prancis diberi tugas untuk mengajari masyarakat agar menjadi pribadi yang bermoral, elegan dalam bertindak, serta berperilaku terpuji (Lagarde et Michard, 1970:8). Salah satu karya moralis yang dikenal luas masyarakat Prancis saat itu adalah Fables karya Jean de La Fontaine, yang mempresentasikan tokoh binatang untuk menggambarkan kondisi masyarakat pada umumnya. Melalui sajak-sajaknya, sang penyair menertawakan perilaku manusia dengan menggunakan gaya bahasa yang unik dan mudah dipahami. Ia membongkar segala ambisi, keegoisan, ketamakan, dan sifat-sifat buruk manusia lainnya. Karya ini juga merupakan satir politik dan kritik sosial. Seperti yang terlihat dalam beberapa puisinya, La Fontaine pun tidak luput mempertanyakan kebijakan yang dibuat Louis XIV dan juga kalangan atas di istana (Aksa,
1990:17).
Kisah Hidup Jean de la Fontaine
seorang moralis. La Fontaine terinsipirasi oleh para pengarang fabel Yunani-Romawi. Kumpulan Fables pertamanya terdiri dari buku I-VI yang ditulis tahun 1668, kemudian yang kedua tahun 1678, dan yang terakhir tahun 1694. Ia
mengolah dengan baik sajak-sajaknya yang sarat dengan pesan moral, walaupun seringkali pada kesan pertama, hal-hal implisit itu tidak terlalu terlihat dengan baik.
Jean de La Fontaine berasal dari keluarga borjuis, sebagai putra dari Charles de La Fontaine dan Françoise Pidoux. Ia memiliki seorang adik bernama Claude dan saudari tiri, Anne de Jouy, anak dari pernikahan pertama sang ibu. Tempat tinggal keluarga itu kemudian menjadi museum Jean de La Fontaine, cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah Prancis sejak tahun 1887 hingga saat ini.
Pada masa remajanya, Jean melanjutkan studi di bidang hukum di Paris dan meraih gelar sarjana pada tahun 1649. Sebelum lulus, ayah Jean
menjodohkan putranya itu dengan Marie Héricart, dan mereka pun menikah pada tahun 1647. Setelah memiliki seorang anak laki-laki, Jean merasa jenuh dengan perkawinan yang diatur orang tuanya itu. Dengan segera, ia melebur dalam pergaulan kaum libertin (orang-orang bebas) Paris. Sejak itulah, Jean mulai fokus menulis. Namun tulisan pertamanya, sebuah teks drama berjudul L’Eunuque yang dipublikasikan pada tahun 1654, sama sekali tidak menarik perhatian publik.
Dalam menata karirnya, Jean berada dalam perlindungan Fouquet, menteri keuangan Louis XIV dan sering menulis untuknya. Namun sejak kejatuhan sang menteri dari kabinet raja pada tahun 1661, Jean de La Fontaine lalu bekerja untuk Duchesse d’Orléans. Karyanya Contes (1665), yang meniru karya Arioste dan Boccace, meraih kesuksesan besar. Jean lalu berteman dengan para tokoh terkenal Prancis masa itu seperti Madame de La Fayete, La
Rochefoucault, Racine, Molière, dan Boileau. Ia pun mulai menyusun kumpulan puisinya, Fables. Yang dilakukan Jean de La Fontaine sebenarnya adalah
menuliskan kembali dengan gaya yang lebih menarik karya-karya di masa lampau dari Esope, penulis fabel Yunani, dan Phèdre, pendongeng Latin. Jean menggambarkan kehidupan manusia dan tatanan masyarakat dengan
mengeksplorasi adegan-adegan yang dilakoni para binatang (atau pun manusia) yang ia gunakan sebagai simbol, mulai dari rubah, gagak, serigala, hingga semut dan jangkrik.
nymphes de Vaux (1660), Ode au roi (1663), Les Amours de Psyché et de
Cupidon (1669), Recueil de poésies chrétiennes et diverses (1671), Poème de la captivité de Saint Malc (1673), Daphné (1674), Poème du Quinquina (1682), Ouvrages de prose et de poésie (1685), dan Astrée (1691).
Penyair ini jatuh sakit pada akhir 1692 karena menderita tuberkulosis dan meninggal pada 13 April 1695.
I. Simbolisasi Kehidupan Manusia melalui Perilaku Tokoh Binatang Secara umum, fabel adalah suatu karya sastra mengenai dunia binatang,
tumbuhan, atau mahluk tak bernyawa. Jenis cerita ini selalu mengandung pesan/ amanat, karena tujuan utama fabel adalah menyampaikan pelajaran moral dan budi pekerti kepada pembacanya. Pesan pengarang tersebut biasanya
disampaikan melalui analogi tindakan para tokoh (Keraf, 1994:140).
Yang membedakan fabel yang ditulis Jean de La Fontaine dengan penulis-penulis fabel lainnya adalah kualitas kesastraan yang tinggi dan konteks sejarah yang kuat. Fabel di masa sebelumnya hanya dikenal sebagai salah satu jenis dongeng yang dibacakan pada anak-anak sebelum tidur, atau diajarkan guru di sekolah dasar dan menengah pada siswa untuk mengenalkan retorika maupun pembelajaran bahasa Latin.
Les Fables choisies, mises en vers par M. de La Fontaine (Fabel Terpilih, Ditulis dalam Sajak oleh Jean de La Fontaine) ditulis antara tahun 1668 hingga 1694. Seperti namanya, koleksi dongeng yang ditulis berbentuk puisi ini kebanyakan menggambarkan hewan antropomorfk dan mengandung moralitas pada bagian awal atau akhir teks. Fabel ini ditulis untuk tujuan pendidikan, seperti yang ditegaskan penyair tersebut, "Saya menggunakan hewan untuk mendidik manusia." Moralitas berupa ungkapan terpisah yang terdapat di dalam karya-karyanya diakui hingga kini sebagai peribahasa yang dikenal oleh masyarakat Prancis, seperti:
- Para penjilat hidup dari mereka yang mendengarkannya (Le Corbeau et le Renard),
- Alasan yang paling kuat selalu menjadi yang terbaik (Le Loup et l’Agneau) - Lebih baik menderita daripada mati (La Mort et le Bûcheron)
- Kesabaran dan waktu lebih berguna daripada kemarahan (Le Lion et le Rat) - Kewaspadaan adalah sumber dari keamanan (Le Chat et un vieux Rat) - Ular kecil lama kelamaan akan menjadi besar (Le Petit Poisson et le Pêcheur) - Satu yang kau miliki lebih baik daripada dua yang akan kau terima (Le Petit
- Pekerjaan adalah harta karun (Le Laboureur et ses Enfants)
- Bantulah dirimu sendiri, maka langit akan membantumu (Le Chartier embourbé)
- Karya yang paling singkat adalah yang terbaik (Discours à M. le duc de La Rochefoucauld)
- Jangan menjual kulit beruang sebelum berburu (L'Ours et les deux Compagnons)
Pada bagian selanjutnya, akan dipaparkan beberapa fabel yang paling terkenal karya Jean de La Fontaine dengan pembahasannya.
a. Le Corbeau et Le Renard (Si Gagak dan si Rubah)
Maître Corbeau, sur un arbre perché, Tenait en son bec un fromage. Maître Renard, par l'odeur alléché,
Lui tint à peu près ce langage: Et bonjour, Monsieur du Corbeau, Que vous êtes joli! Que vous me semblez beau!
Sans mentir, si votre ramage Se rapporte à votre plumage, Vous êtes le Phénix des hôtes de ces bois. À ces mots le Corbeau ne se sent pas de joie,
Apprenez que tout faaeur Vit aux dépens de celui qui l'écoute. Ceae leçon vaut bien un fromage sans doute.
Le Corbeau honteux et confus
Jura, mais un peu tard, qu'on ne l'y prendrait plus.
Pada suatu hari, si gagak sedang berada di atas pohon dan di paruhnya terdapat sepotong keju yang tampak lezat. Si rubah yang lewat pun tertarik dengan aroma harum keju itu dan menyapa si burung hitam dengan ramah. Ia memuji-muji penampilan si gagak yang tampan, yang menurutnya, bulu-bulu burung itu sangat mengkilap dan mengingatkannya pada legenda burung feniks.
Mendengar kata-kata sanjungan itu, si gagak ingin membuka mulutnya untuk menunjukkan bahwa ia pun bersuara indah. Namun sepotong keju di paruh gagak terjatuh, dan dengan segera rubah meraihnya sambil lari menjauh. Si rubah tidak lupa menasihati bahwa pujian seringkali membahayakan. Si gagak yang malu hati dan kecewa pun bersumpah, meskipun terlambat, bahwa ia tidak akan pernah lagi diakali seperti itu.
Pada kisah ini, si rubah telah mengetahui kelemahan si gagak (dan
manusia pada umumnya) yaitu senang dipuji. Ia memulai rayuannya dari aspek penampilan (vous me semblez beau, ‘Anda tampak tampan’), kemudian
melanjutkannya dengan membuat perbandingan yang tidak masuk akal di antara gagak yang berbulu hitam dengan feniks, burung mitologis yang berwarna merah keemasan (dalam legenda, burung feniks diketahui hanya dapat mati bila terbakar, tapi ia pun akan hidup kembali dari abu tubuhnya). Meskipun tahu bahwa komparasi yang dibualkan si rubah itu sungguh tidak rasional, si burung tetap merasa senang hatinya. Hal ini pun membuatnya lupa diri terlebih saat si rubah ingin mendengar suaranya, yang pastinya sangat merdu.
Dalam konteks sosio-politik Prancis masa itu, La Fontaine seperti ingin mengingatkan pada para pembacanya, terutama raja dan para pejabat negara, untuk tidak terbuai oleh laporan atau kata-kata yang tidak sesuai dengan kenyataan. Untuk mencapai keinginannya, banyak orang licik akan melakukan apapun dengan cara apapun, termasuk memuji-muji dan menyatakan hal-hal yang ingin didengar oleh lawan bicaranya. Memang sudah menjadi sifat dasar manusia yang senang bila disanjung dan dipuja, meskipun dalam hatinya ia tahu bahwa sanjungan itu palsu adanya. Pujian yang tidak tulus itu kemudian bisa mendatangkan kerugian bila kita tidak berhati-hati.
Pada akhir cerita fabel ini, si gagak yang malu dan kecewa menyatakan bahwa ia merasa jera, sehingga ia berjanji untuk lebih hati-hati agar peristiwa seperti yang dialaminya tidak terjadi lagi, qu'on ne l'y prendrait plus. Secara tersirat, si burung hitam ini tidak akan lagi mudah mempercayai pernyataan orang yang belum jelas kebenarannya.
b. La Cigale et la Fourmi (Si Jangkrik dan si Semut)
La cigale ayant chanté Tout l'été,
Se trouva fort dépourvue Quand la bise fut venue. Pas un seul petit morceau De mouche ou de vermisseau.
Elle alla crier famine Chez la Fourmi sa voisine,
Quelque grain pour subsister Jusqu'à la saison nouvelle. Je vous paierai, lui dit-elle, Avant l’août, foi d'animal,
Intérêt et principal. La Fourmi n'est pas prêteuse,
C'est là son moindre défaut. Que faisiez-vous au temps chaud?
Dit-elle à ceae emprunteuse. Nuit et jour à tout venant, Je chantais, ne vous déplaise. Vous chantiez? j'en suis fort aise,
Eh bien! dansez maintenant.
Fabel tentang si Jangkrik dan si Semut merupakan puisi pertama dari 124 kisah yang ditulis La Fontaine. Karya ini dipersembahkan untuk Dauphin, putra Louis XIV dan Marie-Thérèse, yang baru berusia 6 tahun. Seperti yang ditulis La Fontaine pada bagian prolog, kehidupan kedua binatang yang tergambar dalam kisah ini mencerminkan karakter manusia pada umumnya.
Si jangkrik yang selama musim panas hanya bernyanyi dan berpesta, baru menyadari bahwa angin musim dingin mulai menghampirinya. Ia sama sekali tidak memiliki apapun untuk dimakan. Si jangkrik pun mendatangi rumah si semut untuk meminjam sedikit makanan hingga musim berganti, dan tidak lupa ia berjanji akan segera membayarnya sebelum bulan Agustus, beserta bunga pinjaman. Namun si semut tidak percaya begitu saja. Ia tahu benar sifat si jangkrik yang hanya pandai menyanyi siang dan malam tapi tidak pandai berburu. Ia membiarkan si jangkrik dalam kondisi kelaparan, sebagai pelajaran untuk kehidupan selanjutnya.
Dalam dunia nyata, binatang seperti juga manusia dan tumbuhan,
dengan cara mengiba-iba di depan rumah si semut, elle alla crier famine chez la Fourmi sa voisine. Tapi teringat pada harga dirinya, si jangkrik pun
menyatakan niatnya meminjam makanan untuk persiapan menghadapi musim dingin berupa lalat dan cacing, de mouche ou de vermisseau, atau beberapa butir biji-bijian, quelque grain. Ia bukan hendak meminta-minta pada tetangganya itu.
Demi meyakinkan si semut, si jangkrik lalu berjanji, bahkan bersumpah atas nama sesama binatang, Je vous paierai, lui dit-elle, Avant l’août, foi d'animal, Intérêt et principal. Sebagaimana manusia yang berhutang, si jangkrik juga memahami bahwa ia untuk membalas budi, ia harus
membayar bunga tambahan selain dari jumlah makanan yang ia pinjam. Bulan Agustus menjadi batas pengembalian yang ia janjikan, sebagai akhir musim panas, yang diyakininya akan menjadi masa yang berpihak padanya.
Si semut sebenarnya merupakan binatang yang baik hati, tapi ia bukan sosok yang suka memberi pinjaman, La Fourmi n'est pas prêteuse, C'est là son moindre défaut. Hanya itulah sifatnya yang dianggap kurang baik. Semut adalah hewan yang rajin bekerja, ramah, peduli pada sesamanya, namun sangat hemat. Ia menganggap memberi pinjaman adalah sebuah bentuk pemborosan. Terlebih si jangkrik diketahuinya adalah emprunteuse, (orang) yang suka meminjam. Dengan klasifkasi yang tegas ini, terlihat bahwa hubungan di antara yang meminjam (emprunteuse) dan yang dipinjam (prêteuse) tergantung pada ada atau tidak adanya kesepakatan di antara mereka mengenai pinjaman. Dalam hal ini, si semut mengetahui bahwa si jangkrik tidak memiliki kemampuan untuk mengembalikan apa yang sudah atau akan dipinjamnya. Serangga itu hanya bisa menyanyi sepanjang siang dan malam. Oleh karenanya, si semut pun terpaksa harus bersikap tega menolak permintaan si jangkrik. Dengan sindiran, ia juga menyuruh tetangganya itu untuk menikmati sisa hidupnya dengan menari, Eh bien! Dansez maintenant.
Meskipun memberikan pesan moral yang baik dan menarik, kisah si jangkrik dan si semut ini ternyata dikritisi oleh para pembacanya, salah satunya oleh Jean-Henri Fabre (1823-1915) dalam Souvenirs Entomologiques yang
Berarti dalam fabel ini terdapat hal-hal yang tidak logis dan tidak sesuai realita. Namun pembela La Fontaine, René Bray, bersikeras bahwa penyair itu adalah seorang naturalis yang kaya dengan fantasi. Seluruh karyanya memiliki nilai tinggi, jadi tidak perlu membesar-besarkan nyata atau tidaknya poin-poin yang ia lukiskan di sana.
Dalam kehidupan masyarakat Prancis abad 17, memang ada golongan yang gaya hidupnya mencerminkan perilaku si jangkrik, yaitu kaum libertin, termasuk di dalamnya para seniman. Mereka dianggap selalu bersenang-senang, menghabiskan penghasilan mereka dalam satu malam, dan malas bekerja. Namun di saat krisis dan tidak lagi memiliki uang untuk makan, mereka akan melakukan apapun, termasuk menjual idealisme seni mereka, demi
menyenangkan sang majikan (raja dan kaum bangsawan).
c. Le Loup et l’Agneau (Si Serigala dan si Domba)
La raison du plus fort est toujours la meilleure. Nous l’allons montrer tout à l’heure.
Un Agneau se désaltérait Dans le courant d’une onde pure.
Un Loup survient à jeun qui cherchait aventure, Et que la faim en ces lieux aairait.
Qui te rend si hardi de troubler mon breuvage? Dit cet animal plein de rage:
Tu seras châtié de ta témérité. Sire, répond l’Agneau, que votre Majesté
Mais plutôt qu’elle considère Que je me vas désaltérant
Dans le courant,
Plus de vingt pas au-dessous d’elle; Et que par conséquent en aucune façon
Je ne puis troubler sa boisson. Tu la troubles, reprit ceae bête cruelle, Et je sais que de moi tu médis l’an passé. Comment l’aurais-je fait si je n’étais pas né?
Reprit l’Agneau, je tète encor ma mère, Si ce n’est toi, c’est donc ton frère : Je n’en ai point. C’est donc quelqu’un des tiens:
Car vous ne m’épargnez guère, Vous, vos bergers, et vos chiens. On me l’a dit: il faut que je me venge.
Là-dessus au fond des forêts Le Loup l’emporte, et puis le mange,
Sans autre forme de process
Puisi ini berkisah tentang relasi di antara yang kuat dan yang lemah. Yang kuat, si serigala, bertemu dengan si lemah, seekor domba muda, di tepi danau. Si serigala yang telah lama tidak mendapatkan makanan bersorak dalam hatinya melihat sang calon mangsa. Dengan kasar dan penuh nada kemarahan, ia menegur domba yang menurutnya telah berani mengotori tempatnya minum. Karena merasa takut, domba yang malang itu meminta maaf meskipun
sebenarnya ia tidak mengerti atas tuduhan tersebut.
Si serigala terus mengancam dengan cara mengingatkan bahwa setahun yang lalu ia mendengar si domba pernah menjelek-jelekkan dirinya. Si domba yang bingung dengan tuduhan itu, sedapat mungkin mencoba menyampaikan bahwa ia tidak pernah melakukan hal tersebut, terlebih setahun yang lalu
menyerang si domba, membawanya ke hutan dan memakannya. Mereka tidak perlu lagi berdebat, karena si serigala sudah terlalu lapar.
Dalam fabel ini, moralitas atau pesan moral ditulis di bagian awal puisi, bahwa la raison du plus fort est toujours la meilleure, ‘Alasan dari yang terkuat adalah yang terbaik’. Peringatan ini menunjukkan bahwa sebenar apapun argumentasi dari pihak yang lemah, ia tidak akan berdaya menghadapi lawannya yang kuat. Dengan demikian, pembaca telah memahami bahwa di dalam puisi ini akan ada semacam debat kusir yang hasilnya bisa ditebak dengan mudah, yaitu pihak yang kuat akan selalu menang.
Si domba yang kehausan bermaksud menghilangkan dahaganya di tepi sebuah danau yang jernih airnya, namun ia malah dipertemukan dengan sang algojo, seekor serigala yang sedang kelaparan. Campur tangan takdir dalam hal ini sangat kuat. Si domba yang masih sangat muda itu sebenarnya bisa lari dari serigala yang lemah dan lapar, tapi karena rasa takut menguasai dirinya, si domba tidak dapat beranjak dari tempat itu. Kurangnya pengalaman hidup dan kemudaan si domba dimanfaatkan dengan baik oleh si serigala untuk
mengintimidasi. Qui te rend si hardi de troubler mon breuvage?‘Siapa yang membuatmu begitu lancang mengacaukan tempat minumku?’
Meskipun sangat jelas bahwa danau dan airnya yang bening itu bukan milik siapapun, si serigala melakukan klaim atas tempat tersebut dengan memberi penekanan bahwa si domba telah melakukan kesalahan besar berupa intrusi/ penerobosan sehingga ia patut dihukum, Tu seras châtié de ta témérité.
Dengan menyadari posisinya yang tersudut dan peluangnya yang sangat kecil untuk selamat dari situasi ini, si domba mencoba melunakkan hati si serigala dengan menyanjungnya melalui penyebutan ‘Sire’ dan ‘Votre Majesté’, sebutan yang biasa ditujukan pada raja. Ia juga meminta maaf atas kesalahannya yang merasa haus dan ingin minum di tempat itu. Si domba berusaha tetap obyektif dan menerangkan bahwa jarak di antara mereka cukup jauh, jadi tidak mungkin ia mengeruhkan air minum si serigala.
karena semua pihak bersalah di matanya. Kalau bukan si domba pelakunya, pasti saudara si domba yang mencoreng nama baiknya, Si ce n’est toi, c’est donc ton frère, ‘Kalau bukan kamu, pasti saudaramu.’ Baginya tidak penting bila bukan si domba muda pelakunya, dengan tanpa keraguan, si domba telah divonis bersalah untuk hal yang tidak dilakukannya.
Anti-klimaks dari debat ini adalah keputusan si serigala bahwa dirinya harus membalas dendam, il faut que je me venge. Terlepas dari jenis kesalahan yang dibuat si domba atau pun pelaku yang sebenarnya dari kekeliruan yang tidak jelas itu, si serigala tetap menghukum si domba dengan mengabaikan fakta-fakta yang ada, sans autre forme de procès, ‘tanpa proses apa pun lagi.’ Dua hal yang didapatkan si serigala terungkap pada akhir cerita, yaitu makanan untuk memuaskan rasa laparnya, dan
kemenangan mutlak atas debat dengan si domba.
Dalam konteks realita, seperti yang telah dipaparkan di awal, Jean de La Fontaine hidup di masa Louis XIV, raja Prancis yang kekuasaannya nyaris tanpa batas. Diam-diam penyair ini menyindir proses peradilan yang kerap dilakukan dengan absurd dan semena-mena oleh raja. La Fontaine menunjukkan bahwa ia tidak setuju dengan kebiasaan raja yang gemar menghukum tanpa ampun orang-orang yang tidak disukainya, terlebih mereka yang berani melawannya. Perlawanan defensif si domba
menempatkannya pada posisi terdakwa (le coupable), dan serangan bertubi-tubi si serigala menunjukkan tempatnya sebagai pihak penuntut
(l’accusateur). Hal ini memperlihatkan bagaimana situasi yang kerap terjadi di ruang pengadilan pada masa pemerintahan Louis XIV. Kondisi tersebut bergeser menjadi lebih buruk, karena si domba kemudian menjadi korban dan si serigala menjadi algojonya.
Penyebutan ‘Sir’ ‘Tuan’ dan ‘Votre Majesté’ ‘Yang Mulia’ dalam puisi Le Loup et l’Agneau adalah tanda-tanda yang sangat jelas menunjukkan jarak dan relasi pertentangan di antara kedua binatang. Betapapun keras si lemah berusaha mempertahankan diri, perlawanannya menjadi sia-sia karena si kuatlah yang pasti akan selalu menang.
Une Grenouille vit un Bœuf Qui lui sembla de belle taille.
Elle, qui n'était pas grosse en tout comme un œuf, Envieuse, s'étend, et s'enfe, et se travaille,
Pour égaler l'animal en grosseur, Disant : « Regardez bien, ma sœur ;
Est-ce assez? Dites-moi; n'y suis-je point encore? - Nenni. - M'y voici donc? - Point du tout. - M'y voilà?
- Vous n'en approchez point. » La chétive pécore S'enfa si bien qu'elle creva.
Le monde est plein de gens qui ne sont pas plus sages: Tout bourgeois veut bâtir comme les grands seigneurs,
Tout petit prince a des ambassadeurs, Tout marquis veut avoir des pages.
Fabel di atas menceritakan kisah seekor katak yang merasa iri pada si kerbau, binatang besar yang tampak begitu gagah dan memukau di matanya. Ia pun berlatih dengan berbagai cara supaya tubuhnya dapat menjadi sebesar kerbau. Si katak pun dinasihati bahwa apa yang ia lakukan tidak bijak. Di dunia manusia hal yang sama pun terjadi. Seringkali manusia tidak puas dan tidak bersyukur untuk apa yang ia miliki. Kritik dalam puisi ini sebenarnya ditujukan La
atmosfer komikal di dalamnya, fabel ini lebih cenderung bersifat satire tentang sifat iri dan ambisi yang ada pada diri setiap manusia.
Si katak yang berukuran normal seperti katak pada umumnya, qui n'était pas grosse en tout comme un œuf, ‘yang ukurannya tidak besar hanya seperti sebuah telur’, terkagum-kagum pada tubuh si kerbau qui lui sembla de belle taille, ‘yang menurutnya memiliki ukuran yang bagus’. Seperti manusia biasa yang memandang takjub pada sesuatu yang tidak dimilikinya, si katak pun merasa iri, envieuse. Sifat tersebut bukan hanya berkaitan dengan kedengkian tapi juga ambisi yang sangat tinggi.
Personifkasi yang digunakan La Fontaine dalam fabel ini bukan hanya berkaitan dengan karakter tokoh binatang yang menyerupai manusia, tapi juga bagaimana nama mereka ditulis dengan huruf besar (Grenouille dan Boeuf), dan mereka melakukan percakapan, seperti yang terjadi di antara si katak yang ingin menjadi sebesar kerbau, dengan katak lainnya, ‘ma soeur’, ‘saudara
(perempuan)ku’.
Dialog di antara mereka pun terus berlanjut karena si katak yang ingin menjadi sebesar kerbau itu melatih tubuhnya dengan berolahraga pour égaler l’animal en grosseur, ‘untuk menyamai besarnya (tubuh) si binatang (kerbau)’. Ia pun ingin tahu pendapat katak lainnya tentang hasil latihannya, namun selalu dijawab secara negatif dan tidak apresiatif: Nenni, ’Tidak’, Point du tout ‘sama sekali tidak’, Vous n'en approchez point ‘mendekati pun tidak’. Pada akhirnya, si katak yang ingin menjadi sebesar kerbau itu menyerah, La chétive pécore s'enfa si bien qu'elle creva. Ia menyadari bahwa usahanya untuk menjadi sebesar kerbau sia-sia belaka.
Bagian pesan moral terletak di akhir fabel mengingatkan pembaca bahwa le monde est plein de gens qui ne sont pas plus sages, ‘dunia ini penuh dengan
manusia yang tidak bijaksana’. Manusia yang tidak bijaksana dalam konteks tersebut adalah manusia yang menjalani hidup seperti si katak yang ingin menjadi sebesar kerbau. Mereka terdiri dari kaum borjuis, para pangeran dan bangsawan (bourgeois, petit prince, marquis). Kaum high class ini tentunya telah mapan secara sosial-ekonomi, tapi ternyata mereka masih mengharapkan hal-hal yang berada jauh di luar jangkauannya (kekayaan, jabatan), dan bersedia
Peran Fabel dalam Pembentukan Karakter Anak
Cerita binatang atau fabel merupakan salah satu bentuk cerita tradisional yang menampilkan binatang sebagai tokoh cerita (Nurgiyantoro, 2013:190). Selaras dengan pendapat tersebut, Winarni (2014:21) menyatakan bahwa fabel adalah cerita yang menggambarkan watak dan budi manusia yang pelakunya
diperankan oleh binatang. Tokoh cerita berupa binatang tersebut diibaratkan seperti manusia, yang berarti dapat berpikir, berinteraksi, dan memiliki permasalahan hidup layaknya manusia. Dalam berinteraksi, mereka juga menggunakan bahasa seperti manusia.
Menurut Sugihastuti (2013:25-26), fabel termasuk karya sastra atau teks sastra. Melalui tokoh binatang, pengarang ingin memengaruhi pembaca agar mencontoh tokoh yang baik dan tidak mencontoh tokoh yang tidak baik.
Berdasarkan karakter tersebut, fabel dapat dikategorikan sebagai teks persuasif yang bertujuan membawa perubahan, agar pembaca terkesan oleh teks tersebut sehingga bereaksi sesuai dengan yang diharapkan pengarang. Ciri persuasif inilah yang mengantarkan fabel sebagai teks didaktis atau bermuatan
pendidikan.
Fabel mengajarkan sesuatu yang meyakinkan, yang kadang bersifat humoristik, mengharukan, dan atau memberi informasi. Di atas semua itu, tujuan cerita binatang ini tidak lain adalah untuk memberikan pesan-pesan moral (Mitchell, 2003:245). Tokoh binatang dalam cerita fabel digunakan sebagai sarana personifkasi untuk menyampaikan pelajaran moral tersebut.
Sebagai sebuah karya rekaan, meskipun juga banyak dibaca remaja dan orang dewasa, fabel dapat dikategorikan sebagai bagian dari sastra anak.
Menurut Rukayah (2012:4), sastra anak adalah karya yang menggunakan media bahasa baik lisan maupun tertulis bentuknya dapat berupa puisi, prosa, maupun drama. Karya tersebut dapat ditulis oleh orang dewasa, remaja, maupun anak-anak, yang secara khusus diperuntukkan pada anak-anak-anak, sehingga dapat dipahami anak dan mengisahkan tentang dunia yang dikenal oleh anak. Sementara itu, Winarni (2014:2) menjelaskan bahwa sastra anak merupakan karya yang dari segi bahasa mempunyai nilai estetis dan dari segi isi
mengandung nilai-nilai pendidikan moral yang dapat memperkaya pengalaman jiwa bagi anak.
Sastra anak pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan sastra orang dewasa. Keduanya sama-sama berada pada wilayah sastra yang meliputi
diurai dalam karya tersebutlah yang membedakannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Huck (1987) bahwa sastra anak menggambarkan masalah yang berhubungan dengan kehidupan anak yang memiliki nilai kebermaknaan bagi anak. Agar dapat menggambarkan masalah yang berhubungan dengan dunia anak, maka konsekuensinya, sastra anak harus bertokoh utama anak, dengan permasalahan khas anak yang dipahami dengan perspektif anak. Dalam hal ini Huck (1987) mengemukakan bahwa siapapun yang menulis sastra anak tidak perlu dipermasalahkan, asalkan dalam penggambarannya ditekankan pada kehidupan anak yang memiliki nilai kebermaknaan bagi mereka.
Melalui pengisahan dan dialog dalam fabel, terwujud penyajian suasana dan perilaku tokoh yang jelas, baik sifat, peran, maupun fungsinya dalam cerita. Pada umumnya, fabel menggunakan penokohan dengan sifat tokoh yang hitam dan putih. Artinya, setiap tokoh yang dihadirkan hanya mengemban satu sifat utama, yaitu tokoh baik atau tokoh buruk. Hal tersebut dilakukan untuk memudahkan identifkasi fgur yang akan menjadi panutan atau teladan.
Pembentukan watak atau karakter pada anak selain dilakukan di rumah oleh keluarga, juga dapat ditunjang oleh pendidikan di sekolah. Pada umumnya, kegiatan pembentukan karakter ini bertujuan untuk memberikan tuntunan pada anak dalam mengembangkan nilai-nilai kebaikan di dalam dirinya. Hal ini sejalan dengan pendapat Kesuma (2011:5), yang menyatakan bahwa pendidikan karakter adalah usaha untuk mendidik anak agar mengambil keputusan yang bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Rahmanto (2008) dalam Azis (2014:5) menyatakan bahwa pengajaran sastra dapat membantu pendidikan manusia secara utuh apabila cakupannya meliputi empat manfaat, yaitu membantu keterampilan berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta dan rasa, serta menunjang pembentukan watak.
Pendidikan karakter anak memang sebaiknya tidak hanya berujung pada pencapaian kecerdasan intelektual, tetapi juga mengarah pada pencapaian pembentukan sikap mental, yaitu pengembangan watak positif dalam
kehidupan sehari-hari anak. Melalui pendidikan karakter dapat diajarkan baik secara tidak langsung maupun secara eksplisit, anak akan mengenai nilai religius dan moralitas yang dapat disisipkan dalam kegiatan membaca cerita, bermain drama, dan sebagainya.
Penutup
Fabel sebagai puisi atau cerita pendek merupakan dongeng yang
tumbuhan. Karena memuat ilustrasi mengenai moralitas dan memiliki tujuan yang bersifat didaktis, fabel layak dijadikan sebagai bahan ajar untuk
menanamkan pendidikan karakter pada anak. Dari fabel, anak-anak dapat meniru sikap dan perilaku tokoh dalam cerita yang sesuai dengan norma ideal, dan sebaliknya, menghindari sikap dan perilaku tokoh yang bertentangan dengan norma ideal.
Walaupun ditulis 325 tahun yang lalu, Fables karya Jean de La Fontaine masih dibaca untuk dipelajari hingga hari ini di seluruh sekolah dasar Prancis, dan juga di negara frankofon di seluruh dunia. Kenyataan ini menunjukkan bahwa karya sastra yang baik dan bermutu tidak hanya dinikmati pada masa penciptaannya saja tapi jauh hari setelahnya, berkat nilai-nilai kebajikan yang bersifat universal dan masih relevan sampai sekarang. Kisah tentang La Cigale et La Fourmi, misalnya, masih dapat diambil pelajarannya oleh pembaca untuk dapat memilih sikap dalam menghadapi kehidupan yang semakin tak menentu.
Ambisi Jean de La Fontaine untuk mendidik manusia melalui binatang adalah ambisi yang baik, sebagaimana pernyataan sahabatnya, Maucroix, yang menulis kesan mendalam tentang fabulis ini di hari kematiannya. “Ia memiliki hati yang jujur, yang paling tulus yang pernah saya kenal: tidak pernah berpura-pura. Saya bahkan tidak tahu apakah ia pernah berdusta selama hidupnya.”
Daftar Acuan
Aksa, Yati Haswidi. 1990. Rubah dan Kancil Suatu Gambaran Tatanan Dunia: Studi Perbandingan Beberapa Fabel Karya La Fontaine dan Satjadibrata. Disertasi. Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Azis, Abdul.2014. Fabel sebagai Bahan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Dasar. JURNAL PARAMASASTRA Vol.1 No.2. diunduh melalui htp://ejournal.fbs.unesa.ac.id/index.php/Paramasastra/article/view/13 tanggal 3 Maret 2018.
Blondeau, Nicole et al. 2004. Liaérature Progressive du français. Paris: CLE International.
Dwi Syafutri, Husni & Fatma Hidayati. 2016. Fabel sebagai Alternatif Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Sastra Anak. Prosiding Seminar Nasional Sastra Anak., Yogyakarta 2016. diunduh melalui
htp://pbsi.uad.ac.id/wp-content/uploads/Husni-Dwi-Syafutri-Fatma-Hidayati.pdf tanggal 12 Maret 2018.
Husen, Ida Sundari. 2001. Mengenal Pengarang-pengarang Prancis dari Abad ke Abad. Jakarta: Grasindo.
Keraf, Gorys. 1994. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Karya Utama Kesuma, Dharma. 2001. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah.
Bandung: Remaja Rosdakarya
Lagarde, André dan Laurent Michard. 1970. XVIIe siècle: Les Grands Auteurs du français du Programme. Paris: Bordas.
Mitchell, Diana. 2003. Children’s Literature, an Invitation to the World. Boston: Ablongman.
Nurgiyantoro, Burhan. 2013. Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak Cetakan Ketiga. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Rukayah. 2012. Pedoman Pelaksanaan Pembelajaran Sastra Anak dengan Pendekatan Koperatif di Sekolah Dasar. Surakarta: Universitas Sebelas Maret Press. Sugihastuti. 2013. Tentang Cerita Anak. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Winarni, Retno. 2014. Kajian Sastra Anak Edisi 2. Yogyakarta: Graha Ilmu. htp://www.la-fontaine-ch-thierry.net/cigale.htm