• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah komunikasi antar pribadi k 3

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah komunikasi antar pribadi k 3"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Manusia melakukan komunikasi setiap saat dalam setiap setting kehidupan baik itu antara individu dengan individu dan individu dengan kelompok. Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri untuk mempertahankan hidup. Manusia perlu dan harus berkomunikasi dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan biologis, seperti minum, makan, dan memenuhi kebutuhan psikologis, seperti kebahagiaan, sukses, rasa ingin tahu, dan lain-lain.

Komunikasi dapat terjadi pada siapa saja, baik antara guru dan muridnya, orang tua dengan anak, pedagang dengan pembeli, dan sebagainya. Pada dasarnya komunikasi tidak hanya berupa memberitahukan dan mendengarkan saja. Komunikasi harus mengandung informasi, sikap, ide, opini atau pendapat. Komunikasi merupakan suatu proses mulai dari merancang pesan, mendengarkan pesan, menginterpretasikan pesan, memahami pesan, sampai pada penyampaian pesan kembali oleh penerima (komunikan) untuk mencapai kesepakatan atau tujuan bersama. Salah satu jenis komunikasi, yaitu komunikasi antar pribadi yang merupakan jenis komunikasi yang efektif. Komunikasi antar pribadi didefinisikan sebagai proses hubungan yang tercipta, tumbuh dan berkembang antar individu yang satu (sebagai komunikator) dengan individu lain (sebagai komunikan), komunikator dengan gayanya sendiri menyampaikan pesan kepada komunikan, sedangkan komunikan dengan gayanya sendiri menerima pesan dari komunikator.

(2)

efektif hingga implementasinya dalam kegiatan konseling. Semua itu akan dibahas oleh penyusun dalam makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian komunikasi antar pribadi?

2. Apa fungsi komunikasi antar pribadi?

3. Bagaimana komunikasi antar pribadi yang efektif?

4. Bagaimana hubungan antar pribadi itu terjadi?

5. Bagaimana implementasi komunikasi antar pribadi yang efektif dalam konseling?

1.3 Tujuan

Tujuan Umum : Mahasiswa mengetahui dan memahami definisi komunikasi antar pribadi.

Tujuan Khusus : 1. Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian komunikasi antar pribadi

2. Mahasiswa dapat menyebutkan fungsi komunikasi antar pribadi.

3. Mahasiswa dapat menyebutkan komunikasi antar pribadi yang efektif.

4. Mahasiswa dapat menjelaskan hubungan antar pribadi dan menyebutkan jenis-jenis hubungan antar pribadi

5. Mahasiswa dapat mengimplementasikan dan

(3)

1.4 Manfaat

(4)

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Komunikasi Antar Pribadi

Sebelum membahas mengenai definisi komunikasi antar-pribadi, kita perlu membedakan antara komunikasi non-antarpribadi dan komunikasi antarpribadi. Miller dan Steinberg (1975) membedakannya berdasarkan tingkatan analisis yang digunakan untuk melakukan prediksi guna mengetahui apakah komunikasi itu bersifat non-antarpribadi atau antarpribadi. Menurut mereka terdapat tiga tingkatan dalam melakukan prediksi, yaitu kultural, sosiologi, dan psikologis.

a. Analisis Tingkat Kultural

Kultur merupakan keseluruhan karangka kerja komunikasi: kata- kata, tindakan-tindakan, postur, gerak-isyarat, nada suara, ekspresi wajah, penggunaan waktu, ruang, dan materi, dan cara ia bekerja, bermain, bercinta, dan mempertahankan diri. Kesemuanya itu dan selebihnya merupakan sistem-sistem komunikasi yang lengkap dengan makna-makna yang hanya dapat dibaca secara tepat apabila seseorang akrab dengan prilaku dalam konteks sejarah, sosial, dan kultural ( Edward T. Hall, 1976 ). Terdapat dua macam-macam, yaitu homogeneous apabila orang-orang di suatu kultur berprilaku kurang lebih sama dan menilai sesuatu juga sama. Sedangkan yang heterogemous adanya perbedaan-perbedaandi dalam pola prilaku dan nilai-nilai yang dianutnya. Jadi, apabila komunikator melakukan prediksi terhadap reaksi penerima atau receiver sebagai akibat menerima pesan dengan mengguanakan dasar kultural.

(5)

berbeda maknanya bagi orang Jawa, kata tersebut memiliki arti “ mengigit” dan bagi orang sunda berarti “ mengambil”. Men-cokot sabun bagi orang Sunda berarti mrngambil sabun sedangkan bagi orang Jawa berarti mengigit sabun. Perbedaan makna tersebut bisa juga berkaitan dengan stereotip sosial yang sifatnya negatif terhadap pihak lain. Jadi, bukan hanya masalah perbedaan makana sebuah kata tetapi bisa juga perbedaan sikap, persepsi seseorang terhadap orang lain yang berbada latar belakang budayanya. Selain itu juga manyangkut masalah tradisi, adat istiadat, kebiasaan, peraturan yang tertulis maupun tidak tertulis yang bisa saja berbeda dengan budaya lain.

b. Analisi Pada Tingkat Sosiologis

Apabila prediksi komunikator tentang reaksi komunikan terhadap pesan-pesan yang ia sampaikan didasarkan kepada keanggotaan komunikan didalam kelompok sosial tertentu, maka komunikator melakukan prediksi pada tingkat sosiologis. Keanggotaan kelompok merupakan golongan orang-orang yang memiliki karakteristik tertentu yang sama. Kelompok menyerupai budaya karena anggota kelompok memperlihatkan pola perilaku dan nilai yang membedakannya dari kelompok lain. Kelompok pada umumnya terdapat jumlah anggota yang lebih sedikit dibandingkan dengan anggota yang ada di seluruh budaya.

c. Anlisis Pada Tingkat Psikologis

(6)

mendapatakan pengertian didalam karakteristis yang unik mengenai kepribadian satiu sama lain.

Memahami komunikasi dan hubungan antar pribadi dari sudut padang individu adalah menempatkan pemahaman mengenai komunikasi di dalam proses psikologis. Setiap individu dalam tindakan komunikasi memiliki pemahaman dan makna tersendiri terhadap hubungan dimana dia terlihat di dalamnya. Karena pemahaman tersebut bersifat sangat pribadi dan sangat bermakna bagi individu, maka pemahaman psikologis acapkali dianggap sebagai makna yang sesungguhnya dari suatu hubungan antar pribadi.

Perbedaan Pokok Antar Komunikasi Non-Antarpribadi Dan Komunikasi Antarpribadi

(7)

Sebaliknya, pada komunikasi antarpribadi, prediksi pada tingkat psikologis mengenai hasil komunikasi dapat disamakan dengan perbedaan rangsangan (stimulus discrimination), yaitu seseorang dalam melakukan prediksi mencari perbedaan yang relevan pada komunikan. Jadi komunikator melihat bahwa individu memiliki karakteristik yang khas yang membedakannya satu sama lainnya.

.Komunikasi antar pribadi sesungguhnya baru akan tercipta kalau terdapat kesadaran dari dua pihak untuk mengamati keadaan masing-masing pihak dan memberikan respon atas keadaan tersebut. Sebagaimana sifat komunikasi, maka hubungan yang terjadi ditandai dengan adanya sikap saling memperhatikan, saling memahami, penuh pengertian, dan keakraban. Berdasarkan uraian di atas, maka Komunikasi Antarpribadi dapat di definisikan sebagai proses hubungan yang tercipta, tumbuh dan berkembang antar individu yang satu (sebagai komunikator) dengan individu lain (sebagai komunikan), komunikator dengan gayanya sendiri menyampaikan pesan kepada komunikan, sedangkan komunikan dengan gayanya sendiri menerima pesan dari komunikator.

2.2 Fungsi Komunikasi Antar Pribadi

Komunikasi antar pribadi memiliki 2 fungsi yaitu fungsi sosial dan fungsi pengambilan keputusan :

1. Fungsi Sosial

 Untuk kebutuhan biologis dan psikologis

(8)

hormat, rasa bangga, bahkan iri hati dan kebencian. Melalui komunikasi kita dapat mengalami berbagai kualitas perasaan itu dan membandingkannya antara perasaan satu dengan perasaan yang lain.

 Mengembangkan hubungan timbal balik

Komunikasi dengan suatu proses sebab-akibat atau aksi-reaksi yang arahnya bergantian. Seseorang menyampaikan pesan baik secara verbal atau nonverbal, seseorang penerima beraksi dengan jawaban verbal atau menggunakan kepala, kemudian orang pertama beraksi lagi setelah menerima respons atau umpan balik dari kedua, dan begitu seterusnya. Jadi hubungan timbal balik ini berfungsi sebagai unsur pemerkarya, pemerkuat komunikasi antar pribadi sehingga harapan-harapan dalam proses komunikasi menjadi sungguh-sunguh terjadi.

 Untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu diri sendiri

Komunikasi itu penting membangun konsep diri kita, aktualisasi diri, kelangsungan hidup untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan. Pembentukan konsep diri. Konsep diri adalah pandangan kita mengenai siapa diri kita dan itu hanya bias kita peroleh lewat informasi yang diberikan orang lain kepada kita. Pernyataan eksistensi diri orang berkomunikasi untuk menunjukkan dirinya eksis. Inilah yang disebut aktualisasi diri atau pernyataan eksistensi diri. Ketika berbicara, kita sebenarnya menyatakan bahwa kita ada.

 Menangani konflik

(9)

mencegah timbulnya suatu konflik didalam suatu organisasi atau kelompok masyarakat. Dengan adanya KAP maka permasalahan kecil.

2. Fungsi pengambilan keputusan

 Manusia berkomunikasi untuk membagi informasi

Dalam proses memberi atau bertukar informasi, komunikasi sangat memiliki pengaruh yang sangat efektif digunakan karena dalam hal ini komunikasi dapat mewakili informasi yang dikehendaki dalam pesan yang dia sampaikan sebagai bahan perakapan pada kegiatan komunikasi.

 Manusia berkomunikasi untuk mempengaruhi orang lain

Komunikasi yang berfungsi seperti ini mengandung muatan persuasif dalam arti pembicara ingin pendengarnya mempercayai bahwa fakta atau informasi yang disampaikan akurat dan layak untuk diketahui. Bahkan komunikasi yang sifatnya menghiburpun secara tidak langsung membujuk kalayak untuk melupakan persoalan hidup mereka.

Hal-hal yang mempengaruhi komunikasi antar pribadi : 1. Persepsi Interpersonal

Persepsi adalah memberikan makna pada stimuli inderawi, atau menafsirkan informasi inderawi. Persepsi interpersonal adalah

meberikanmakna terhadap stimui inderawi yang berasal dari seseorang (komunikan), yang berupa pesan verbal dan nonverbal. Kecermatan dalam persepsi interpersonal akan berpengaruh terhaddap keberhasilan komunikasi, seorang peserta komunikasi yang salah memberi makna terhadap pesan akan mengakibatkan kegagalan komunikasi.

2. Konsep diri

Konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Konsep diri yang positif, ditandai dengan 5 hal yaitu :

a. Yakin akan kemampuan mengatasi masalah b. Merasa setara dengan orang lain

(10)

d. Menyadari, bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui oleh masyarakat.

e. Mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubah. Konsep diri merupakan factor yang sangat menentukan dalam komunikasi antar pribadi yaitu :

 Nubuat yang dipenuhi sendiri. Karena setiaporang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya. Bila seorang mahasiswa menganggap dirinya sebagai orng yang rajin, ia akan berusaha menghadiri kuliah secara teratur, membuat catatan yang baik, memplajari materi kuliah dengan sungguh-sungguh, sehingga memperoleh nilai akademis yang baik.

 Membuka diri. Pengetahuan tentang diri kita akan meningkatkan komunikasi, dan pada saat yang sama, berkomunikasi dengan orang lain meningkatkan pengetahuan tentang diri kita. Dengan membuka diri, konsep diri menjadi dekat dengan kenyataan. Bila konsep diri sesuai dengan pengalaman kita, kita akan lebih terbuka untuk menerima pengalaman dan gagasan baru.

 Percaya diri. Ketakutan untuk melakukan komunikasi dikenal sebagai communication apprehension. Orang yang aprehensif dalam komunikasi disebabkan oleh kurangnya percaya diri. Untuk menumbuhkan percaya diri, menumbuhkan konsep diri yang sehat menjadi perlu.

 Selektifitas. Konsep diri mempengaruhi perilaku komunikasi kita karena konsep diri mempengaruhi kepada pesan apa kita bersedia membuka diri ( terpaan selektif ), bagaimana kita mempersepsi pesan ( persepsi selektif ), dan apa yang kita ingat ( ingatan selektif ). Selain itu konsep diri juga berpengaruh dalam penyandian pesan ( penyandian selektif ).

3. Atraksi Interpersonal

(11)

 Penafsiran pesan dan penilaian. Pendapat dan penilaian kita terhadap orang lain tidak semata – mata berdasarkan pertimbangan rasional, kita juga makhluk emosional. Karena itu, ketika kita menyenangi seseorang, kita juga cenderung melihat segala hal yang berkaitan dengan dia secara positif sebaliknya jika membencinya, kita cenderung melihat karakteristiknya secara negative.

 Efektivitas komunikasi. Komunikasi antar pribadi dinyatakan efektif bila pertemuan komunikasi merupakan hal yang menyenangkan bagi komunikan. Bila kita berkumpul dengan satu kelompok yang memiliki kesamaan dengan kita, kita akan gembira dan terbuka. Bila kita berkumpul dengan orang yang kita benci akan membuat kita tegang, resah, dan tidak enak. Kita akan menutup diri dan menghindari komunikasi.

4. Hubungan Interpersonal

Hubungan Interpersonal dapat diartikan sebagai hubungan antara seseorang dengan orang lain. Hubungan interpersonal yang baik akan menumbuhkan derajat keterbukaan orang untuk mengungkapkan dirinya, makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya, sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung diantara peserta komunikasi. Miller ( 1976 ) dalam explorations in interpersonal communication, menyatakan bahwa “memahami proses komunikasi interpersonal menuntut hubungan simbiosis antara komunikasi dan perkembangan rasional, dan pada gilirannya ( secara serentak ), perkembangan rasional mempengaruhi sifat komunikasi antar pihak yang terlibat dalam hubungan tersebut.”

(12)

2.3 Komunikasi Antar Pribadi yang Efektif

Jalaluddin Rachmat (1986:147) menyatakan bahwa komunikasi antar pribadi yang efektif bila pertemuan komunikasi merupakan hal yang menyenangkan bagi komunikan. Bila kita berkumpul dalam satu kelompok yang memiliki kesamaan dengan kita, maka kita akan menyenangi mereka. Komunikasi pun berlangsung lebuh santai, gembira, dan terbuka. Sedangkan apabila kita berkumpul dengan orang-orang yang kita benci atau tidak sukai, maka akan membuat kita tegang, resah dan tidak enak. Kita akan cenderung menutup diri dan menghindari komunikasi.

a. Komunikasi antar pribadi yang efektif harus adanya:

1. Keterbukaan

Kualitas keterbukaan mengacu pada sedikitnya tiga aspek dari komunikasi interpersonal. Pertama, komunikator interpersonal yang efektif harus terbuka kepada orang yang diajaknya berinteraksi. Ini tidaklah berarti bahwa orang harus dengan segera membuka semua riwayat hidupnya. Aspek keterbukaan yang kedua mengacu kepada kesediaan komunikator untuk bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang. Orang yang diam, tidak kritis, dan tidak tanggap pada umumnya merupakan peserta percakapan yang menjemukan. Kita ingin orang bereaksi secara terbuka terhadap apa yang kita ucapkan. Dan kita berhak mengharapkan hal ini. Kita memperlihatkan keterbukaan dengan cara bereaksi secara spontan terhadap orang lain. Aspek ketiga menyangkut “kepemilikan” perasaan dan pikiran (Bochner dan Kelly, 1974). Terbuka dalam pengertian ini adalah mengakui bahwa perasaan dan pikiran yang kita lontarkan adalah memang milik kita dan kita dapat mempertanggungjawabkannya.

2. Empati

(13)

Sedangkan berempati adalah merasakan sesuatu seperti orang yang mengalaminya, berada di kapal yang sama dan merasakan perasaan yang sama dengan cara yang sama.

Orang yang empatik mampu memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan dan sikap mereka, serta harapan dan keinginan mereka untuk masa mendatang.

Kita dapat mengkomunikasikan empati baik secara verbal maupun non verbal. Secara nonverbal, kita dapat mengkomunikasikan empati dengan memperlihatkan (1) keterlibatan aktif dengan orang itu melalui ekspresi wajah dan gerak-gerik yang sesuai; (2) konsentrasi terpusat meliputi kontak mata, postur tubuh yang penuh perhatian, dan kedekatan fisik; (3) sentuhan atau belaian yang sepantasnya.

3. Sikap Mendukung

Hubungan interpersonal yang efektif adalah hubungan dimana terdapat sikap mendukung. Komunikasi yang terbuka dan empatik tidak dapat berlangsung dalam suasana yang tidak mendukung.Kita memperlihatkan sikap mendukung dengan bersikap (1) deskriptif, bukan evaluatif, (2) spontan, bukan strategic, dan (3) provisional, bukan sangat yakin.

4. Sikap Positif

Sikap positif mengacu pada sedikitnya dua aspek dari komunikasi interpersonal. Pertama, komunikasi interpersonal terbina jika seseorang memiliki sikap positif terhadap diri mereka sendiri. Kedua, perasaan positif untuk situasi komunikasi pada umumnya sangat penting untuk interaksi yang efektif. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada berkomunikasi dengan orang yang tidak menikmati interaksi atau tidak bereaksi secara menyenangkan terhadap situasi atau suasana interaksi

(14)

Dalam setiap situasi, barangkali terjadi ketidaksetaraan. Salah seorang mungkin lebih pandai. Lebih kaya, lebih tampan atau cantik, atau lebih atletis daripada yang lain. Tidak pernah ada dua orang yang benar-benar setara dalam segala hal. Terlepas dari ketidaksetaraan ini, komunikasi interpersonal akan lebih efektif bila suasananya setara. Artinya, harus ada pengakuan secara diam-diam bahwa kedua pihak sama-sama bernilai dan berharga, dan bahwa masing-masing pihak mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan. Dalam suatu hubungan interpersonal yang ditandai oleh kesetaraan, ketidak-sependapatan dan konflik lebih dillihat sebagai upaya untuk memahami perbedaan yang pasti ada daripada sebagai kesempatan untuk menjatuhkan pihak lain.kesetaraan tidak mengharuskan kita menerima dan menyetujui begitu saja semua perilaku verbal dan nonverbal pihak lain. Kesetaraan berarti kita menerima pihak lain, atau menurut istilah Carl rogers, kesetaraan meminta kita untuk memberikan ”penghargaan positif tak bersyarat” kepada orang lain.

b. Unsur – unsur Komuniasi yang Efektif

Jika ingin komunikasi menjadi efektif maka unsure-unsur berikut perlu diperhatikan.

1. Sumber (komunikasi). Komunikator sebagai pengirim esan hendaknya benar-benar siap dengan pesanya. Pesan dikemas dengan bahasa tulis atau bahasa lisan yang benar-benar bisa dipahami oleh pendengar pesan. 2. Media atau saluran pengiriman pesan. Media yang digunakan dalam

mengirim pesan juga harus jelas dan tidak bias. Mengajarkan organ tubuh manusia bagi anak-anak sekoah dasar maka medianya harus jelas dengan menggunakan alat perasa torso manusia.

(15)

4. Efek, yaitu apa yang terjadi setelah menerima pesan. Apakah dengan mudah komunikan merespon kembali pesan yang diterima, atau apakah ada perubahan sikap setelah melakukan komunikasi, atau apakah terjadi perubahan perilaku. Jika terjadi perubahan yang diharapkan oleh komunikator sebagai akibat dari komunikasi iti maka komunikasi akan menjadi sangat efektif.

c. Syarat - syarat Komunikasi yang Efektif

Agar komunikasi menjadi efektif maka syarat-syarat berikut perlu diperhatikan yaitu, (1) meniptakan suasana yang saling menguntungkan, (2) menggunakan bahasa yang mudah dimengerti bila mungkin bahasa yang digunakan adalah bahasa yang setara (3) pesan yang disampaikan menggugah perhatian atau minat bagi pihak komunikan, (4) pesan yang disampaikan menggugah kepentingan komunikan yang dapat menguntungkan, (5) pesan yang disampaikan dapat menumbuhkan suatu penghargaan bagi pihak komunikan. Berikut adalah beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam komunikasi yang efektif:

1. Harus diingat bahwa komunikasi adalah suatu proses. Komunikasi adalah suatu proses karena merupakan kegiatan yang terus meneerus dalam sebuah proses. Jadi dalam tersebut ada yang mempengaruhi dan ada pula yang dipengaruhi.

2. Komunikasi adalah sebuah system. Bahwa komunikasi merupakan sebuah system terdiri dari beberapa sub system. Ada komunikator ada komunikan dan ada saliran, ada media komuniasi manakala satu sub system terganggu akan yang lain jga terganggu.

(16)

d. Cara-cara Melakukan Komunikasi yang Efektif

Agar komunikasi yang kita lakukan menjadi efektif maka perlu memperhatikan cara-cara berikut.

1. Menguasai ragam komunikasi. Komunikasi itu banyak ragamnya. Berkomunikasi dengan bahasa lisan atau bisa pula berkomunikasi dengan bahasa tulisan. Ada pula berkomunikasi dengan bahasa isyarat atau bahasa non verbal. Tehnik yang dipakai tergantung pada dimana komunikasi itu dilakukan dengan siapa berkomunikasi. Jika menggunakan bahasa verbal maka hal-hal yang perlu diperhatikan adalah (1) kata-kata digunakan dalam berkmunikasidapat dimengerti, (2) kecepatan (speed) dapat diatur dengan tepat artinya tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, (3) intonasi suara, dalam pengucapan dan pengejaan kata harus jelas dengan kata dan intonasi yang benar dan tepat, (4) volime suara, dapat diatur dengan baik tidak terlalu keras dan tidak terlalu kecil, tergantung pada komunikan, (5) singkat dan jelas. Komunikan akan efektif bila pesan yang disampaikan jelas dan singkat. (6) Timing ( waktu yang tepat) artinya, menyediakan waktu untuk mendengar atau memperhatikan apa yang didengar apa yang disampaikan. Bila menggunakan bahasa tubuh atau bahasa isyarat maka hal-hal yang perlu diperhatikan adalah, ekspresi wajah, kontak mata, postur tubuh dan gerak isyarat. Semua itu akan menggabarkan isi hati pengiriman pesan atau penerima pesan. Apakah semua itu telah sesuai dengan apa yang dikemukakan secara lisan.

2. Bersikap empati. Sebagaimana disebutkandidepan bahwa empati adalah memposisikan diri dalam situasi yang dialami dan sekaligus memahami apa yang dirasakan oleh komunikan.

(17)

4. Lugas dan ringkar. Gunakan kata atau kalimat yang to the point dan ringkas. Dan sedapat mungkin dengan kata atau kalimat pendek tetapi tidak mengurangi makna atau maksud. Pemakaian kata atau kalimat yang bertele-tele menjadi membosankan.

5. Memahami bahasa non verbal yang tepat. Terkadang bahsa tubuh lebih bermakna ketimbang bahasa verbal karena sulit dimanipulasi.

6. Menjadi pendengar yang baik. Artinya apabila ada seseorang yang sedang berbicara maka kita harus mendengarkan dengan baik agar bisa memberikan respon yang tepat sesuai dengan harapan lawan bicara kita. 7. Konsisten. Konsisten mempunyai makna kesucian. Dalam konteks komunikasi maka komunikator tidak dengan mudah memindahkan topik-topik pembicaraan kepada komunikan sehingga komunikan menjadi bingung.

8. Egaliter. Artinya tidak membuat sekat-sekat atau pembatas antara komunikator dengan komunikan. Jika ini tersa makna hubungan baik menjadi terhapus.

9. Terbuka. Dalam artian bersedia untuk dikresi jika ada kekeliruan dan meminta maaf jika salah. Sikap seperti ini turut mendukung komunikasi.

2.4 Hubungan Antar Pribadi

(18)

Metode peningkatan hubungan menurut Arnold P. Goldstein (1975) yaitu ada tiga prisip : makin baik hubungan antar pribadi (1) makin terbuka pasien mengungkapkan perasaannya, (2) makin cenderung ia meneliti perasaannya secara mendalam beserta penolongnya dan (3) makin cenderungg ia mendengarkan dengan penuh perhatian dan bertindak atas nasehat yang diberikkan penolongnya. Semakin baik hubungan antar pribadi, maka semakin terbuka orang untuk mengungkapkan dirnya, makin cemat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya, sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung di atara komunikator dan komunikan.

Kita dapat menggolongkan orang yang kita ajak berhubungan sebagai kenalan, teman, dan sahabat atau teman akrab ( Verderber et al., 2007). Adapun jenis-jenis hubungan antar pribadi, yaitu :

a. Kenalan

Kenalan adalah orang yang kita kenal melalui namanya dan berbicara bila ada kesempatan, tetapi interaksi kita dengan mereka terbatas. Banyak hubungan dengan kenalan tumbuh atau berkembang pada konteks khusus.

b. Teman

(19)

akhirnya menjadi teman. Beberapa dari persahabatan kita atau temen tetangga. Persahabatan konteks ini bisa hilang atau putus jika konteksnya berubah. Misalnya, persahabatab anda dengan orang di kantor bisa putus jika anda atau teman anda dapat pekerjaan baru di perusahaan lain.

Agar persahabatan itu berkembang dan berkesinambungan, beberapa prilaku kunci harus ada. Samter (2003), menjelaskan lima kompetensi penting perlu untuk hubungan persahabatan.

1. Inisiasi (initiation). Di mana seseorang harus berhubungan atau bekenalan dengan orang lain dan interaksi harus berjalan mulus, santai, dan menyenangkan. Sebuah persahabatan tidak akan terjalain dua orang yang jarang berinteraksi atau interaksinya tidak memuaskan.

2. Sifat mau mendengarkan (responsivenees). Masing-masing harus mendengarkan kepada orang lain, fokus kepada mitranya, dan merespon pembicaraan mitranya. Adalah sulit untuk menjalin persahabatan kepada orang yang fokus pada dirinya sendiri atau masalahnya sendiri.

3. Pengungkapan diri (self-disclosure). Kedua belah pihak mampu mengungkapakan perasaan pribadinya terhadap satu sama lain. Persahabatan tidak akan terjalin, jika masing-masing hanya mendiskusikan hal-hal yang abstrak saja atau membicarakan masalah-masalah yang dangkal sifatnya dan tidak mendalam.

4. Dukungan emosional (emotionalvsupportr). Orang berharap mendapatkan kenyamanan dan dukungan dari temanya. Kita berharap mendapatakan teman dengan sifat-sifat seperti ini.

(20)

disetujui ini. Pada kenyataan, dengan mengelola konflik secara kompeten, maka orang dapat mempeerat persahabatnya.

c. Sahabat Kental atau Teman Akrab

Sahabat kental atau teman akrab atau close friend or intimate adalah mereka yang jumlahnya sedikit dengan siapa seseorang secara bersama – sama mempunyai komitmen tingkat tinggi, saling ketergantungan, kepercayaan, pengungkapan, kesenangan di dalam persahabatan. Seseorang bisa mempunyai kenalan yang tidak terbatas jumlahnya dan banyak teman tetapi ia hanya mempunyai sejumlah kecil teman yang benar – benar akrab. Dengan sahabat kental, kita menunjukkan tanggung jawab kita dengan saling berikrar terhadap satu sama lain. Kita tunjukkan kepercayaan kita dengan mempunyai harapan – harapan positif terhadap lainnya dan percaya bahwa ia akan berperilaku dengan adil dan jujur. Dengan sahabat kental, kehidupan kita adanya saling ketergantungan atau jalin – menjalin. Kita saling mengandalkan atau bergantung terhadap satu sama lain. Kita saling mengungkapkan informasi pribadi mengenai diri kita dengan sahabat kental. Walaupun hubungan dengan kenalan dapat menyenangkan, kebanyakan orang mengalami kesenangan dan kegembiraan terbesar dari hubungan dengan sahabat kental dan teman karib.

Dalam hubungan antarpribadi, memiliki tahapan – tahapan tertentu sampai pada akhirnya seseorang mampu melakukan proses self disclosure. Tahap – tahap tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pembentukan hubungan interpersonal

(21)

sikap dan pendapat; tentang orang atau objek (3) rencana yang akan datang (4) kepribadian (5) perilaku pada masa lalu (6) orang lain (7) hobi dan minat.

2. Peneguhan hubungan interpersonal

Hubungan interpersonal bersifat statis. Cara memelihara hubungan pada tahap ini adalah dengan empat faktor, yaitu keakraban, control, respon yang tepat, dan nada emosi yang tepat.

3. Konfirmasi

Tahap ini adalah tahap dimana seseorang membutuhkan pengakuan langsung, perasaan positif, respon meminta keterangan, respon setuju dan respon suportif.

4. Diskonfirmasi

Diskonfirmasi adalah keseraian suasana emosional ketika berlangsungnya komunikasi. Walaupun kemungkinan, saat terjadinya komunikasi, keduanya berinteraksi dalam suasana emosional yang berbeda 5. Pemutusan hubungan interpersonal

Dalam tahap ini, kita dapat mengambil analisis dari R.D Nye (1973) yang menyebutkan lima sumber konflik : (1) kompetisi, salah satu pihak berusaha memperoleh sesuatu dengan mengorbankan orang lain; misalnya menunjukan kelebihan dalam bidang tertentu dengan merendahkan orang lain (2) dominasi, salah satu pihak berusaha mengendalikan pihak lain sehingga orang itu merasakan hak – haknya dilanggar (3) kegagalan masing – masing, berusaha menyalahkan yang lain apabila tujuan bersama tidak tercapai (4) provokasi, salah satu pihak terus – menerus berbuat sesuatu yang ia ketahui menyinggung perasaan orang lain (5) perbedaan nilai, kedua pihak tidak sepakat tentang nilai – nilai yang mereka anut.

(22)

Konseling merupakan hubungan komunikasi antar pribadi antara konselor dan konseli yang bersifat psikologis. Di dalam proses konseling, keterampilan seorang konselor dalam merespon pernyataaan konseli dan mengkomunikasikannya kembali sangatlah diperlukan. Agar proses komunikasi yang dimaksud dapat efektif dan efisien, maka konselor seyogyanya memiliki kemampuan dan keterampilan berkomunikasi.

Dalam proses wawancara konseling, konselor harus mampu menggali perasaan dan pikiran konseli. Proses penggalian ini membutuhkan sebuah teknik khusus agar pertanyaan maupun pernyataan yang dilontarkan konselor kepada konseli dapat menghipnotis konseli untuk semakin terbuka. Untuk itu konselor harus menguasai teknik-teknik konseling secara verbal maupun nonverbal.

a. Teknik Konseling Verbal

Menurut Wndinkell (1991: 316), teknik konseling verbal adalah tanggapan-tanggapan verbal ( dengan kata-kata) yang diberikan konselor, yang merupakan perwujudan konkret dari maksud pikiran, perasaan yang terbentuk dalam batin konselor untuk membantu konseli pada saat tertentu. Ungkapan konselor kepada konseli akan menggunakan sebuah teknik verbal, tergantung pada intensitas pertemuannya. Tanggapan verbal konselor akan dituangkan dalam bentuk pertanyaan maupaun pernyataan, kalimat tanya, atau kombinasi dari pernyataan dan kalimat Tanya. Teknik-teknik konseling secara verbal adalah sebagai berikut (Winkell, 1991: 316):

1. Ajakan untuk memulai (invitation to talk)

(23)

a. “Apa yang ingin saudara bicarakan dengan saya?”

b. “Coba ceritakan apa yang membuat saudara ingin bertemu dengan saya!” c. “Adakah yang mengganggu pikiran atau perasaan saudara saat ini?” d. “Tampaknya ada hal yang mengganggu saudara saat ini, apa boleh saya

tahu?”

2. Penerimaan atau pengertian (acceptance/understanding)

Konselor menyatakan penerimaan dan atau pengertiannya terhadap ungkapan konsel, sekaligus mempersilahkan konseli memberikan pernyataan selanjutnya. Dengan ungkapan-ungkapan tersebut konselor tidak bermaksud menyatakan bahwa ia setuju, sependapat atau sepaham. Sebagai contoh, konselor dapat berkata,

a. “Saya mengerti….Ya,ya,ya.”

b. “Mm…mmm. Saya memahami maksud saudara.”

3. Perumusan pikiran-gagasan atau refleksi pikiran (reflection of content)

Menyangkut komponen pengalaman dan komponen reflektif dalam pesan yang disampaikan konseli. Disebut pikiran-gagasan karena subjek

menggunakan bentuk-bentuk representative mental,

peristiwa/kejadian/pengalaman, gagasan dari pihak selain konseli, atau pendapat/pandangan konseli sendiri terhadap apa apa yang telah terjadi yang tertangkap secara eksplisit, dirumuskan kembali oleh konselor dalam bentuk kata-kata sendiri atau kata-kata konseli. Sebagai contoh, perhatikan percakapan antara konseli dengan konselor, berikut:

Konseli : ” Saya berharap akan mendapatkan kenyamanan setelah tinggal di rumah yang baru.”

Konselor: “ Jadi, saudara akan mendapatkan kenyamanan setelah tinggal di rumah yang baru.”

4. Perumusan perasaan atau refleksi perasaan (reflection of feelings)

(24)

Oleh konselor pernyataan tersebut dipantulkan kembali tanpa menambah atau mengurangi makna dan bobot perasaan konseli.

Contoh :

Konseli : “Saya sungguh-sungguh kecewa dengan cara seperti itu.” Konselor : “ Saudara sangat kecewa dengan cara demikian.”

5. Penjelasan pikiran-gagasan atau klarifikasi pikiran (clarification of content) Menyangkut komponen reflektif dalam pesan konseli, yang biasanya mencangkup suatu keyakinan, pandangan, atau evaluasi terhadap pengalaman. Reflektif pikiran ini akan bersifat tentatif (meraba atau menduga) sehingga konseli diminta untuk memberikan umpan balik kepada konselor dengan kata-kata khusus atau dengan bentuk kalimat tanya.

Contoh :

Konseli : “Saya kira saya mampu untuk melakukan itu, akan tetapi kadang-kadang saya menjadi ragu.”

Konselor :“Tampaknya saudara masih belum yakin pada kemampuan saudara?” (meminta umpan balik dengan menggunakan kalimat tanya)

Konseli : “Ya,… mungkin memang demikian. Saya tidak percaya pada diri sendiri.”

6. Penjelasan perasaan atau klarifikasi perasaan (clarification of feelings)

Menyangkut komponen afektif dalam pesan konseli. Konselor ingin mengecek apakah konseli telah menangkap dengan tepatat isi dan bobot/kedalaman perasaan secara implisit yang telah diungkapkannta. Ungkapan perasaan konseli dapat berupa ungkapan verbal maupun nonverbal (secara tidak langsung).

Contoh :

Konseli : “ Saya kira persahabatan kami selama ini baik-baik saja.”

Konselor : “Jadi, saudar sangat puas dengan pertemanan tersebut?” (konselor meminta umpan balik dengan kalimat khusus)

(25)

Konselor mempersilakan konseli untuk memberikan ulasan/penjelasam mengenai sesuatu yang telah dikemukakannya. Jika konselor ingin menggunakan kalimat tanya, sebaiknya memakai pertanyaan terbuka. Teknik ini dapat dipakai dalam beberapa selama proses konseling. Tujuan penggunaan teknik ini adalah agar konseli menjelaskan secara mendalam, menggali lebih dalam, dan memperluas pandangan, dengan pemberian umpan balik ya:ng merangsang. Contoh: “Lalu, bagaimana?”, “Bagaimana maksud Anda tersebut?”, “maka”, “dan”, “Coba lanjutkan dengan lebih jelas.”

8. Pengulangan satu-dua kata (accent)

Konselor mengulangi satu atau dua kata kunci pernyataan konseli dalam bentuk kalimat tanya agar konseli memberikan penjelasaan lebih lanjut. Konselor dapat memilih kata-kata yang lebih mengungkapkan pikiran atau gagasan, atau yang lebih mengungkapkan perasaan.

Contoh:

Konseli : “Saya merasa terlalu resah dengan kegiatan tersebut, menjengkelkan rasanya. Sayalah yang harus memikul tugas yang berat.”

Konselor : “Terlalu resah atau menjengkelkan, atau tugas yang berat?”

9. Ringkasan/rangkuman (summary)

Konselor merumuskan secara singkat dan jelas apa yang telah dikatakan oleh konseli. Ada empat kemungkinan, yaitu :

a. Pikiran dan gagasan yang telah dikemukakan oleh konseli sampai sekarang,

(26)

c. Isi pembicaraan antara konseli dan konselor samapai, dan

d. Isi pembicaraan selama wawancara

10. Pertanyaan mengenai hal tertentu (PHT, questioning/probing)

Konselor ingin mendapat tanggapan tentang hal tertentu, maka jawaban konseli terbatas isinya, yaitu sesuai dengan hal yang ditanyakan. Pertanyaan ini bias bersifat tertutup maupun terbuka. Contohnya : “Kapan?”, Siapa saja?”, “Bagaimana itu terjadi?”, “Di mana?”, dan seterusnya.

11.Pemberian umpan balik (feedback)

Pemberian umpan balik dilakukan oleh konselor untuk menyampaikan kepada konseli bagaimana kata-kata, sikap, dan tindakanya dalam mempengaruhi orang lain. Dalam hal ini, konselor menyampaikan sendiri perasaan/pikiranya kepada konseli mengenai sikap konseli selama wawancara berlangsung atau mengenai kemajuan yang telah dicapai konseli selama proses wawancara.

Contoh :

Konselor : “Mulailah membaur bersama teman-temanmu, jika ada permasalahan bicarakan dengan teman-teman, siapa tau mereka bisa membantu.”

Konseli : “Maksud Ibu, saya seharusnya bersikap terbuka dengan seluruh teman ?

Konselor : Nah, bagus, tampaknya pemikiranmu ini membuat kita akan selangkah lebih maju

12.Pemberiaan informasi (information giving)

(27)

Penyampaian informasi ini tidak boleh mengandung unsur saran, misalnya konselor menerangkan ciri-ciri masa remaja, hasil tes IQ, dan lain-lain.

13.Penyajian alternatif (forking response)

Konselor mengemukakan beberapa alternatif. Konseli diminta untuk memilih salah satu dari dari beberapa alternatif yang diberikan.

Contoh :

Konseli : “Saya ingin kuliah di perguruan tinggi guru dan mengambil jurusan Bimbingan Konseling, tapi saya binggung untuk kuliah dimana Bu.”

Konselor: “ Saudara ingin perguruan tinggi negeri atau swasta? Apabila perguruan tinggi negeri saudara bisa ke UNDIKSHA Singaraja, jika ingin perguruan tinggi swasta saudara bisa ke IKIP PGRI di Denpasar.”

14.Penyelidikan (Investigation)

Konselor mengajak konseli untuk bersama-sama menyelidiki alternatif – alternatif yang dapat dipilih. Meninjau bersama – sama konsekuensi pada masing – masing alternatif. Biasanya teknik penyelidikan ini digunakan pada beberapa alternative pemecahan yang disebut pengambilan keputusan (decision making).

Contoh :

Konseli : “Saya akan memilih masuk jurusan IPS.”

Konselor: “ Apa keuntungan dan kerugian anda jika masuk jurusan IPS?” 15.Pemberian struktur (structuring)

Konselor memberikan petunjuk tentang urutan langkah berpikir atau urutan tahap dalam pembicaraan yang diikuti agar sampai pada pemecahan masalah/penyelesaian masalah.

(28)

uangkapkan tadi.” , “Nah, ada baiknya kita kembali pada hal-hal yang saudara banyak bicarakan tadi.”

16.Interpretasi (interpretation)

Konselor menambahkan sesuatu pada hal – hal yang sudah terungkap dan yang elum disadari konseli. Konselor menggali makna yang terdapat di balik kata – kata konseli atau dibalik tindakan yang telah diceritakan.

Contoh : “ Saudara tadi mengatakan berat jika harus masuk jurusan IPA. Apakah keberatan masuk jurusan IPA itu muncul karena belajar di jurusan IPA anda harus belajar dengan keras, sedangkan jurusan IPS membuat saudara puas karena saudara merasa tidak memerlukan prestasi belajar? Bagaimana menurut pendapat saudara?”

17.Konfrontasi (confrontation)

Konselor mengarahkan perhatian konseli atas beberapa hal yang menurut pandangan konselor tidak sesuai satu sama lain. Ketidaksesuaian ini terdapat pada hal – hal yang diungkapkan konseli, baik secara verbal maupun nonverbal.

Contoh:

Konselor : “Bagaimana perasaan saudara saat ini ?”

Konseli : “Baik – baik saja, Bu… (berbicara sangat lambat, ekspresi wajah ingin menangis)

Konselor : “Anda tadi mengatakan baik – baik saj tetapi mengapa Anda bersedih? Kiranya apa yang terjadi?”

18.Diagnosis

Konselor mejelaskan kepada konseli apa yang menjadi inti masalahnya/ mengapa masalah tersebut muncul. Dalam hal ini, konselor menggelar semua data hasil percakapan dengan konseli, baik yang bersifat psikologis maupun hasil wawancara dengan konseli.

(29)

Konselor : “Rasa takut saudara untuk berenang di kolam renang saat ini bersumber dari pengalaman saudara sewaktu kelas 1 SD. Saat itu saudara pernah tercebur di kolam renang sehingga saudara tenggelam tak sadarkan diri. Tampaknya demikian ?”

19.Dukungan atau bimbingan (reassurance/support)

Konselor memberikan semangat dan keyakinan kepada konseli, lebih – lebih pada saat segalanya menjadi sulit bagi konseli. Konselor membesarkan hati konseli, memberikan harapan – harapan agar konseli tidak kehilangan semangar. Namun, bimbingan yang diberikan jangan terlalu berlebihan. Contoh : “Yakinlah dengan keputusanmu ini.”, “Tidak sesulit seperti yang saudar pikirkan, bukan?”, “Saya yakin saudara mampu melaksanakannya.” 20.Usulan atau saran (suggestion/advice)

Dalam proses konseling kadang ditemukan konseli yang sangat mebutuhkan saran apabila sedang dalam keadaan bingung. Konselor yang berpengalaman tidak akan ragu-ragu dalam menggunakan teknik ini, tetapi konselor harus sangat bijaksana dalam menentukan terhadap siapa dan kapan teknik ini digunakan. Usul/saran biasanya digunakan dalam fase peyelesaian masalah.

Contoh: “Waktu yang tepat seandainya saudara ingi membicarakan pemilihan jurusan kepada ibu saudara adalah pada saat acara santai dengan keluarga. Bagaimana?”, “Kalau boleh saya usul, waktu yang tepat adalah setelah makan malam, baimana?”

21.Penolakan (criticsm)

Konselor menyatakan pendapatnya berdasarkan objektif, yang bersifat menolak pandangan, tindakan, atau rencana konseli. Akan tetapi, pemberian teknik ini harus sangat hati-hati karena penyampaian yang kurang tepat bisa merusak hubungan dalam proses konseling. Dalam hal tindakan moral dan pendidikan, teknik ini kiranya akan mudah digunakan.

(30)

Selain menggunakan teknik konseling verbal, konselor harus mamapu menggunakan teknik konseling nonverbal. Dengan menguasai teknik konseling nonverbal, konselor dapat menangkap isyarat atau pesan konseli yang belum terungkap secara verbal. Penggunaan teknik ini harus memiliki kesesuaian antara apa yang diungkapkan konselor dengan perilaku yang tampak di hadapan konseli.

c. Teknik Konseling Nonverbal

1. Anggukan kepala : untuk menyatakan sependapat, setuju, searah dengan jalan yang diungkapkan konseli.

2. Senyuman : untuk menyatakan sikap menerima. Biasanya pada saat menyambut keedatangan konseli,

3. Tatapan mata : untuk menyatakan sikap sedang memperhatikan. Tentunya tatapan mata yang dimaksud adalah menatap atau memperhatikan kea rah seluruh wajah konseli.

4. Intonasi suara: untuk menyatakan kesesuaian pembicaraan dengan konseli. 5. Ekspresi muka : untuk mendukung reaksi-reaksi yang diungkapka konseli. 6. Diam : untuk menyatakan atau mempersilakan konseli untuk terus

melanjutkan pembicaraan atau empati terhadap ungkapan perasaan konseli. Diam bukan berarti membiarkan konseli. Diam adalah sikap menghargai. 7. Gerakan tangan : untuk memperkuat atau mendukung apa yang diungkapkan

konselor secara verbal.

8. Gerakan bibir : gerakan bibir harus dilakukan secara wajar jika konselor tidak bebicara karena gerakan bibir yang berlebihan bisa menimbulkan efek sikap negatif bagi konseli.

9. Pakaian : pakaian konselor akan sangat mendukung dalam proses konseling. Jika konselor menggunakan pakaian rapi, bersih wangi, dan sesuai, konseli akan merasa sangat nyaman berbicara dengan konselor.

(31)

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan

Komunikasi Antarpribadi dapat di definisikan sebagai proses hubungan yang tercipta, tumbuh dan berkembang antar individu yang satu (sebagai komunikator) dengan individu lain (sebagai komunikan), komunikator dengan gayanya sendiri menyampaikan pesan kepada komunikan, sedangkan komunikan dengan gayanya sendiri menerima pesan dari komunikator.

Fungsi komunikasi antar pribadi, yaitu fungsi sosial dan fungsi pengambilan keputusan. Fungsi sosial untuk memenuhi kebutuhan biologis dan psikologis, mengembangkan hubungan timbale balik, meningkatkan dan mempertahankan mutu diri sendiri, dan untuk menangani konflik. Sedangkan fungsi pengambilan keputusan untuk membagi informasi dan untuk mempengaruhi orang lain. Komunikasi antar pribadi yang efektif harus adanya keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan. Jenis-jenis hubungan antar pribadi, yaitu kenalan, teman, sahabat kental atau teman akrab.

Implementasi komunikasi antar pribadi dalam proses konseling memerlukan suatu teknik agar konseling berjalan dengan efektif, yaitu teknik komunikasi verbal dan nonverbal.

3.2 Saran

Referensi

Dokumen terkait

Ilmu  kebidanan  adalah  ilmu  yang  mempelajari  tentang  kehamilan, persalinan,  dan  kala  nifas  serta  kembalinya  alat  reproduksi  ke  keadaan normal.  Tujuan 

Pengendalian sosial melalui tindakan preventif telah dilakukan oleh guru, sebelum memulai proses pembelajaran guru menasehati, mengingatkan, membimbing siswa agar

Obat jerawat alami yang cocok untuk semua jenis kulit dan terbukti mampu. menuntaskan berbagai masalah kulit

a) Tidak melakukan perubahan dari kedua sistem penilaian kualitas tersebut, namun perlu meningkatkan upaya sosialisasi dari kedua sistem tersebut untuk menjelaskan

Didalamekstrak batang pisang ambon, terdapat kandunganflavonoid yang memiliki manfaat sebagai hepatoprotektor melalui detoksifikasi dengan jalan peningkatan ekspresi enzim

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti mengenai peran perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar Bahasa Indonesia di SD Negeri Krandon 1 Tegal dan

Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMAN 10 Bandung tahun ajaran 2016/2017, dan sebagai sampel penelitian ini adalah 18 orang kelas X Bahasa 1 sebagai kelas eksperimen

Syukur Alhamdulillah penulis haturkan ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat serta hidayah-Nya yang telah diberikan sehingga dapat menyususun dan