• Tidak ada hasil yang ditemukan

FILSAFAT ANALITIK BAHASA Pengertian Perk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "FILSAFAT ANALITIK BAHASA Pengertian Perk"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

FILSAFAT ANALITIK BAHASA

(Pengertian, Perkembangan, dan Teori-teori Arti)

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah

Filsafat Bahasa

Dosen Pengampu :

Dr. Mohamad Jazeri, M.Pd

Disusun Oleh :

Muhammad Zaenal Faizin (12504174018)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB (PBA)

PASCASARJANA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

TULUNGAGUNG

(2)

PRAKATA

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat, taufik dan

hidayah-Nya yang telah dilimpahkan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan

makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini disusun oleh penulis untuk

memenuhi tugas matakuliah “Filsafat Bahasa”.

Penulis menyampaikan rasa hormat dan penghargaan serta terima

kasih kepada :

1. Dr. Maftukhin, M.Ag selaku Rektor IAIN Tulungagung yang telah

memberi kesempatan untuk dapat mengenyam pendidikan pascasarjana.

2. Prof. Dr. H. Akhyak, M.Ag selaku Direktur Pascasarjana IAIN

Tulungagung atas izinnya untuk menuntut ilmu di jurusan Pendidikan

Bahasa Arab.

3. Dr. Mohamad Jazeri, M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah “Filsafat Bahasa” yang telah memberikan arahan dalam penyelesaian makalah ini. 4. Seluruh civitas akademika IAIN Tulungagung yang ikut dalam kelancaran

penulisan makalah ini.

5. Serta semua pihak yang telah banyak membatu penulis dalam penulisan

makalah ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekuranga dalam

penyusunan makalah ini. Penulis sangat mengharap kritik dan saran yang

membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Tulungagung, 10 April 2018

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

PRAKATA ... ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 1

C. Tujuan Pembahasan ... 2

BAB II PEMBAHASAN ... 3

A. Pengertian Filsafat Analiti Bahasa ... 3

B. Perkembangan Filsafat Analiti Bahasa ... 4

C. Teori-teori Arti Filsafat Analitik Bahasa ... 6

BAB III PENUTUP ... 13

A. Kesimpulan ... 13

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sekarang ini, filsafat bukan lagi merupakan bidang yang dijauhi

orang lantaran kemisteriusannya. Sudah banyak bermunculan buku

filsafat, baik berupa karya ilmiah yang disusun sendiri oleh penulis

Indonesia maupun hasil pengalihbahasaan dari kepustakaan asing, ada

yang ditulis oleh para ahli filsafat, ada pula yang bukan, ada juga karya

filsafat yang disusun dengan bahasa ilmiah yang begitu ketat dan rumit,

namun tak kurang pula yang disajikan dengan bahasa yang cukup

bersahaja.1

Belajar filsafat, sepertinya memasuki suatu medan yang luas tiada

bertepi, tiada rambu-rambu petunjuk jelas yang dapat menuntun ke jalan

keluar yang paling tepat, sehingga semuanya menjadi serba misteri dan

penuh problema. Kebanyakan orang menganggap bahasa itu satu hal yang

wajar, seperti udara yang kita isap, tetapi pada waktu sekarang, banyak

ahli termasuk didalamnya filosof-filosof yang memakai “metode logical

analitik” melihat bahwa penyelidikan tentang arti serta prinsip-prinsip dan

aturan-aturan bahasa merupakan problema yang pokok dalam filsafat. Para

filosof menyadari bahwa terdapat beberapa macam problema filsafat yang

dapat dijelaskan melalui suatu analisis bahasa. Tradisi inilah oleh para ahli

sejarah filsafat disebut sebagai “Filsafat Analitik” yang berkembang di

Eropa terutama di Inggris abad XX.2

Oleh karena itu dalam makalah ini akan dibahas mengenai

pengertian, perkembangan, dan teori-teori arti dalam filsafat analitik

bahasa.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana pengertian Filsafat Analitik Bahasa itu ?

1

Rizal Mustansyir, Filsafat Analitik : Sejarah, Perkembangan, dan Peranan Para Tokohnya, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007), hlm. v

2

(5)

2. Bagaimana sekilas mengenai perkembangan Filsafat Analitik Bahasa ?

3. Bagaimana teori-teori arti dalam Filsafat Analitik Bahasa ?

C. Tujuan Pembahasan

1. Untuk mengetahui pengertian Filsafat Analitik Bahasa

2.

Untuk mengetahui sekilas mengenai perkembangan Filsafat Analitik

Bahasa.

(6)

BAB II

PEMBAHASAN

A.Pengertian Filsafat Analitik Bahasa

Perhatian filosof terhadap bahasa semakin besar. Mereka sadar bahwa

dalam kenyataannya banyak persoalan-persoalan filsafat, konsep-konsep

filosofis akan menjadi jelas dengan menggunakan analisis bahasa.

Tokoh-tokoh filsafat analitika bahasa hadir dengan terapi analitika bahasanya untuk

mengatasi kelemahan kekaburan, kekacauan yang selama ini ada dalam

berbagai macam konsep filosofis.

Secara etimologi kata analitik berarti menginvestigasi, logis, mendalam,

sistematis, tajam dan tersusun.3 Sedangkan pengertian filsafat analitik secara

terminologi yaitu:

Menurut Rudolph Carnap, filsafat analitik adalah pengungkapan secara

sistematik tentang syntax logis (struktur gramatikal dan aturan-aturannya) dari

konsep-konsep dan bahasa khususnya bahasa ilmu yang semata-mata formal.

Roger jones menjelaskan arti filsafat analitik bahwa baginya tindak

menganalisis berarti tindak memecah sesuatu ke dalam bagian-bagiannya.

Tepat bahwa itulah yang dilakukan oleh para filosof analitik. 4

Kaelan juga mengungkapkan sebagaimana dikutip oleh A. Chaedar

Alwasilah, bahwa analitik bahasa adalah metode yang khas untuk menjelaskan,

menguraikan, dan menguji kebenaran ungkapan-ungkapan filosofis.5 Asep

Ahmad Hermawan dalam bukunya juga menjelaskan bahwa analitik itu sendiri

berarti kata dan kalimat-kalimat biasa (analisisndum) diganti dengan

kata-kata atau kalimat-kalimat yang lain (analisisns) yang mempunyai arti yang

sama tetapi bentuknya menjadi lebih jelas.6

Jadi dapat disimpulkan bahwa filsafat analitik bahasa adalah sebuah

metode yang khas untuk menjelaskan, menguraikan, dan menguji kebenaran

A. Chaedar Alwasilah, Filsafat Bahasa dan Pendidikan, (Bandung : Remaja Rosda Karya, 2014), hlm. 23

6

(7)

ungkapan-ungkapan filosofis, dengan cara mengganti kata-kata dan

kalimat-kalimat biasa dengan kata-kata atau kalimat-kalimat-kalimat-kalimat yang lain yang

mempunyai arti yang sama tetapi bentuknya menjadi lebih jelas, logis,

mendalam, sistematis, tajam dan tersusun.

B.Perkembangan Filsafat Analitik Bahasa

Bilamana dikaji perkembangan filsafat setidaknya terdapat empat fase

perkembangan pemikiran filsafat, sejak munculnya pemikiran yang pertama

sampai dewasa ini, yang menghiasi panggung sejarah umat manusia. Pertama,

kosmosentris yaitu fase pemikiran filsafat yang meletakkan alam sebagai objek

pemikiran dan wacana filsafat, yaitu yang terjadi pada zaman kuno. Kedua,

teosentris yaitu fase pemikiran filsafat yang meletakkan Tuhan sebagai pusat

pembahasan filsafat, yang berkembang pada zaman abad pertengahan. Ketiga,

antroposentris yaitu fase pemikiran filsafat yang meletakkan manusia sebagai

objek wacana filsafat, hal ini terjadi dan berkembang pada zaman modern.

Keempat, logosentris yaitu fase perkembangan pemikiran filsafat yang meletakkan bahasa sebagai pusat perhatian pemikiran filsafat dan hal ini

berkembang setelah abad modern sampai sekarang. Fase perkembangan

terakhir ini ditandai dengan aksentuasi filosof pada bahasa yang disadarinya

bahwa bahasa merupakan wahana pengungkapan peradaban manusia yang

sangat kompleks itu. 7

Perhatian filsafat terhadap bahasa sebenarnya telah berlangsung lama,

bahkan sejak zaman Pra Sokrates, yaitu ketika Herakleitos membahas tentang

hakikat segala sesuatu termasuk alam semesta. Bahkan Aristoteles

menyebutnya sebagai “para fisiologis kuno” atau ‘hoi arkhaioi physiologoi’.

Seluruh minat Herakleitos terpusatkan pada dunia fenomenal. Ia tidak setuju

bahwa di atas dunia fenomenal ini terdapat „dunia menjadi‟ namun ada dunia yang lebih tinggi, dunia idea, dunia kekal yang berisi „ada‟ yang murni.

Meskipun begitu ia tidak puas hanya dengan fakta perubahan saja, ia mencari

prinsip perubahan. Menurut Herakleitos, prinsip perubahan ini tidak dapat

ditemukan dalam benda material. Petunjuk ke arah tafsiran yang tepat terhadap

7

(8)

tata kosmis bukanlah dunia material melainkan dunia manusiawi, dan dalam

dunia manusiawi ini kemampuan bicara menduduki tempat yang sentral.

Dalam pengertian inilah maka medium Herakleitos bahwa “kata” (logos)

bukan semata-mata gejala antropologi. Kata tidak hanya mengandung

kebenaran universal. Bahkan Herakleitos mengatakan “jangan dengar aku”,

“dengarlah pada sang kata dan akuilah bahwa semua benda itu satu”. Demikian

sehingga pemikiran Yunani awal bergeser dari filsafat alam kepada filsafat

bahasa yang meletakkan sebagai objek kajian filsafat.8

Filsafat bahasa mulai berkembang pada abad ke XX dengan telaah

analitik filosofik Wittgenstein tentang bahasa. Noam Chomsky-lah yang

pertama-tama mengangkat bahasa sebagai disiplin linguistic. Grice dan

Quine-lah yang mengangkat meaning sebagai intensionalitas si pembicara dan

meaning dalam konteks kejadiannya. Davidson lebih lanjut mengetengahkan

tentang struktur semantik, untuk memahami bahasa, termasuk unsur-unsurnya

dan mengembangkan tentang interpretasi yang dapat berbeda antara si

pembicara dan yang dibicarakan. Frege lebih lanjut mengembangkan konsep

tentang referensi. Ekspresi bahasa bukan hanya representasi of mine, tetapi juga

mengandung referensi, yaitu hal-hal yang relevan dengan pernyataan yang

ditampilkan.9

Filsafat abad modern memberikan dasar-dasar yang kokoh terhadap

timbulnya filsafat analitika bahasa. Peranan rasio, indra, dan intuisi manusia

sangat menentukan dalam pengenalan pengetahuan manusia. Oleh karena itu,

aliran rasionalisme yang menekankan otoritas akal, aliran empirisme yang

menekankan peranan pengalaman indera dalam pengenalan pengetahuan

manusia serta aliran imaterialisme dan kritisisme Immanuel kant menjadi

sangat penting sekali pengaruhnya terhadap tumbuhnya filsafat analitika

bahasa terutama dalam pengungkapan realistas segala sesuatu melalui

ungkapan bahasa.10

8

Kaelan, Filsafat Bahasa Hakikat dan Realitas Bahasa, (Yogyakarta : Paradigma, 2017), hlm. 77

9

Chaer, Filsafat… , hlm. 92 10

(9)

C.Teori-teori Arti Filsafat Analitik Bahasa

Masalah arti atau makna suatu ungkapan bahasa merupakann persoalan

yang paling mendasar di dalam filsafat bahasa.11 Arti suatu kata tergantung

pada penggunaannya dalam kalimat, sedangkan arti suatu kalimat tergantung

pada penggunaannya dalam bahasa. Ini menunjukkan bahwa kita dapat terjebak

ke dalam kerancuan bahasa, manakala kita menjelaskan pengertian suatu kata

dengan memisahkannya dari situasi yang melingkupinya.12

Arti atau makna mengandung implikasi yang begitu luas, maka ada

baiknya kita mengetahui beberapa upaya pemecahan yang coba dilakukan.

Dalam hal ini ada beberapa teori arti yang perlu mendapat perhatian kita.

Teori-teori arti tersebut adalah :

1. Teori Acuan (Referential Theory)

Teori acuan ini merupakan teori arti yang mengenali

(mengidentifikasikan) arti suatu ungkapan dengan apa yang diacunya atau

dengan hubungan acuan itu.13 Kita dapat mengenali arti suatu istilah atau

ungkapan berdasarkan sesuatu yang diacu oleh istilah atau ungkapan

tersebut, dan juga berdasarkan hubungan antara istilah atau ungkapan itu

dengan sesuatu yang diacunya. Contoh, kata “si manis” mempunyai arti karena mengacu pada seekor kucing atau kata “si belang” mengacu pada

seekor anjing.14

Dalam contoh di atas, kita belum menghadapi kesulitan yang

berarti, karena nama “si manis” atau “si belang” mengacu kepada sesuatu

yang konkret, yaitu kucing dan anjing itu tadi. Bagaimana halnya dengan

ungkapan-ungkapan atau kata-kata yang tidak memiliki acuan konkret

(10)

seperti “si manis” atau “si belang” itu tadi. Acuan ini dapat juga berupa

jenis sesuatu (sama halnya dengan nama-nama yang umum seperti

“kucing”), suatu kualitas, suatu bentuk peristiwa, suatu hubungan, dan

seterusnya. Contohnya :

a) Sokrates itu bijaksana (Bijaksana merupakan kualitas),

b) Gempa bumi yang berkekuatan lebih dari 6 skala Ritcher hampir selalu

merenggut korban jiwa (Gempa bumi merupakan suatu bentuk

peristiwa),

c) Wanita itu adik saya (mengacu kepada suatu hubungan keluarga yaitu

tante dan bibi)

Jadi menurut teori acuan ini, suatu ungkapan atau kata harus

mempunyai acuan agar ungkapan atau kata itu mengandung arti atau

makna. Dalam contoh-contoh di atas, masing-masing ungkapan

mempunyai acuan, meskipun jenis-jenis acuannya berbeda-beda.15

Kelemahan paling mendasar dari teori ini adalah tidak dapat

dipastikan bahwa setiap ungkapan yang mengandung arti itu mengacu

kepada sesuatu,16 yakni teori ini sangat tidak memadai (inadequate)

lantaran ada dua buah ungkapan yang mengandung arti berbeda padahal

mempunyai acuan yang sama. Contohnya : “Nyonya Corazon Aquino” dan “Presiden Filipina sekarang”. Kedua ungkapan ini mengacu pada atau

pribadi yang sama. Ini jelas dan dapat dipahami. Namun kita tidak dapat

mengatakan bahwa ungkapan “Nyonya Corazon Aquino” itu sama artinya

dengan “Presiden Filipina sekarang”. Sebab kesamaan arti yang demikian

itu membingungkan, tetapi juga mengandung konsekuensi yang sangat

mendasar terhadap arti ungkapan tersebut.17

Kelemahan yang lain justru sebaliknya yakni artinya sama

sedangkan acuannya berbeda. Contohnya “saya”, “kamu”, “di sini”, “ini”,

istilah-istilah ini semua secara sistematis berubah acuannya seiring dengan

perubahan kondisi-kondisi pengucapannya. Misalnya kata “saya” akan

(11)

mengacu pada si C apabila si C yang mengucapkannya, demikian

seterusnya.18

2. Teori Ideasi (The Ideational Theory)

Teori Ideasi ini adalah suatu jenis teori arti yang mengenali

(mengidentifikasi) arti ungkapan dengan gagasan-gagasan (idea-idea) yang

berhubungan dengan ungkapan tersebut. Dalam hal ini, teori ideasi ini

menghubungkan makna atau arti makna atau ungkapan dengan suatu ide

atau representasi psikis yang ditimbulkan kata atau ungkapan tersebut

kepada kesadaran. Atau dengan kata lain, teori ideasi ini

mengidentifikasikan arti E (Expression, atau ungkapan) dengan

gagasan-gagasan (ide-ide) yang menimbulkan atau juga yang ditimbulkan E

(Expression). Jadi pada dasarnya teori ideasi meletakkan gagasan (ide)

sebagai titik sentral yang menentukan arti suatu ungkapan. Teori ini

melatarbelakangi pola berpikir orang mengenai bahasa sebagai, “suatu arti

atau alat (instrumen) bagi komunikasi pikiran atau gagasan”, atau sebagai

suatu “gambaran fisik dan eksternal dari suatu keadaan internal”, atau

bilamana orang menetapkan suatu kalimat sebagai suatu rangkaian

kata-kata yang mengungkapkan suatu pikiran yang lengkap.19

Menurut teori ini, apa yang memberi suatu arti yang pasti terhadap

suatu ungkapan bahasa yaitu kenyataan bahwa ungkapan tersebut

digunakan secara teratur dalam komunikasi sebagai “tanda” (mark) dari

suatu gagasan yang pasti. Jadi peranan bahasa sangatlah ditentukan oleh

gagasan atau pikiran yang ada dalam diri manusia. Ungkapan-ungkapan

bahasa itu baru punya arti atau makna apabila ia berfungsi sebagai

“pengembang tugas” dari gagasan manusia.20

Berdasarkan teori ideasi ini, apabila suatu kata atau ungkapan

bahasa itu dipergunakan, paling tidak ada beberapa hal yang harus

dipenuhinya : (a) Gagasan atau ide itu harus hadir di dalam pemikiran si

pembicara, (b) Si pembicara haruslah melontarkan ungkapan itu sehingga

(12)

pendengarnya mengetahui bahwa gagasan atau ide itu ada dalam pikiran si

pembicara pada saat itu, dan (c) Sejauh komunikasi itu berhasil, maka

ungkapan bahasa itu haruslah membangkitkan gagasan atau ide yang sama

dalam pikiran si pendengar.

Untuk menguji kebenaran teori ideasi ini, kita dapat melihat contoh

kalimat-kalimat sebagai berikut :

a) Seandainya saya menjadi orang kaya, maka saya akan pergi ke tanah

suci Makkah

b) Barang siapa memalsukan uang ini baik dengan sengaja maupun tidak,

akan dituntut di muka hakim.

Dua kalimat di atas dapat membuktikan bahwa tidaklah tepat

dalam setiap ungkapan bahasa atau suatu kata yang dipergunakan, maka

gagasan atau ide tentang kata atau ungkapan itu harus hadir di dalam

pikiran si pembicara. Sekarang kita bertindak sebagai si pembicara yang

melontarkan kalimat a) dan b). Kemudian kita tanyakan kepada diri kita

sendiri, apakah yang tersirat di benak kita sewaktu kita mengucapkan

kata-kata seperti : “seandainya”, “menjadi”, “maka”, “barangkali”, “akan”?

Ternyata kita tidak menemukan ide apapun tentang kata-kata itu tadi di

dalam pikiran kita. Hal ini membuktikan bahwa tidak setiap kata atau

ungkapan bahasa yang dilontarkan itu mencerminkan ide yang ada dalam

pikiran si pendengar.

Kelemahan lain dari teori ideasi ini yaitu tidak dapat dipastikan

dalam setiap komunikasi yang berhasil, ungkapan bahasa yang dilontarkan

itu akan membangkitkan atau mengakibatkan gagasan atau ide yang sama

dalam pikiran si pendengar. Sebagai suatu ilustrasi, dalam forum diskusi

sering terjadi perbedaan pendapat atau pandangan antara si pembicara

dengan si pendengar. Mungkin lantaran gagasan yang dilontarkan oleh si

pembicara itu tidak sesuai dengan gagasan atau ide yang ada dalam pikiran

si pendengar.21

Di dalam forum diskusi, acapkali komunikasi itu berhasil baik atau

berjalan sukses, lantaran terjadinya silang pendapat diantara si pembicara

21

(13)

dan si pendengar. Salah satu bentuk silang pendapat itu adalah ungkapan

bahasa yang dilontarkan oleh si pembicara menimbulkan atau

mengakibatkan gagasan yang berbeda dalam pikiran si pendengar. Padahal

menurut teori ideasi ini, jika komunikasi itu berhasil, maka ungkapan

bahasa itu haruslah membangkitkan gagasan atau ide yang sama dalam

pikiran si pendengar.22

3. Teori Tingkah Laku (Behavioral Theory)

Teori tingkah laku ini merupakan salah satu jenis teori arti yang

mengenali (mengidentifikasi) arti suatu kata atau ungkapan bahasa dengan

rangsangan-rangsangan (stimuli) yang menimbulkan ucapan tersebut,

dan/atau tanggapan-tanggapan (responses) yang ditimbulkan oleh ucapan

tersebut. Teori ini menanggapi bahasa sebagai semacam kelakuan yang

mengembalikannya kepada teori stimulus dan response. Makna atau arti

menurut teori ini merupakan rangsangan untuk menimbulkan perilaku

tertentu sebagai response kepada rangsangan itu tadi.

Ada beberapa kesamaan prinsip diantara teori tingkah laku ini

dengan teori ideasi. Pertama, teori tingkah laku ini juga memusatkan

perhatiannya pada sesuatu yang terlibat dalam penggunaan bahasa di

dalam komunikasi. Kedua, teori tingkah laku ini juga mengandaikan

adanya situasi dan tanggapan tertentu yang umum sifatnya dan selalu sama

manakala kata atau ungkapan bahasa itu dikatakan mempunyai arti sama.

Perbedaannya, teori tingkah laku ini lebih memfokuskan perhatiannya

pada aspek-aspek yang dapat diamati di depan umum dari situasi

komunikasi.

Teori ini biasanya dipergunakan oleh psikolog untuk menjelaskan

pelbagai aspek tingkah laku manusia berdasarkan rangsangan-rangsangan

(stimuli) dan tanggapan-tanggapan (responses) yang timbul dari kesadaran

manusia.23 Paling tidak ada dua pengandaian yang terkandung dalam teori

(14)

a) Harus ada bentuk-bentuk yang umum dan khas pada semua situasi

sehingga pada saat suatu ungkapan bahasa itu diucapkan, maka ia akan

memberikan suatu pengertian.

Sebagai contoh, apabila kita mengatakan : “Manusia adalah

satu-satunya makhluk yang bereksistensi”, maka ungkapan itu haruslah

berlaku bagi situasi yang umum dan khas dalam lingkup bahasa

filsafat. Dengan demikian kita tidak dapat lagi mengatakan bahwa

“hewan itu juga bereksistensi”, karena pernyataan yang terakhir ini

tidak mencakup situasi umum.

Kelemahan pengandaian ini adalah dalam kenyataan sering kita

jumpai suatu ungkapan yang sama, tetapi diucapkan atau dilontarkan

dalam situasi yang berbeda-beda, sehingga artinya juga berlainan.

Misalnya, ucapan “awas!”, dapat saja muncul pada situasi tertentu,

seperti mengancam seseorang atau meminta seseorang agar

berhati-hati. Contoh lain misalnya ucapan “ayo pergi!” juga dapat timbul pada

situasi-situasi tertentu seperti mengusir seseorang, mengajak seseorang

atau beberapa temannya agar pergi bersama-sama.

b) Harus ada bentuk-bentuk yang umum dan khas pada semua tanggapan

(responses) yang ditimbulkan oleh pengucapan dari ungkapan yang

diajukan itu tadi.

Misalnya, jika seorang Ayah memarahi anaknya seraya

mengatakan : “Pergi dan jangan injak lagi rumah ini!”, maka

diandaikan adanya tanggapan dari si anak terhadap ungkapan yang

dilontarkan oleh sang ayah itu tadi. Tentu saja tanggapan itu bisa

bermacam-macam. Seorang anak yang berperasaan halus mungkin

akan menangis terisak-isak dan minta maaf kepada ayahnya atas segala

kekhilafan yang dilakukannya. Tetapi anak yang bandel mungkin

melawan atau menanggapi hardikan ayahnya itu dengan hardikan yang

tak kalah serunya, misal : “Saya tidak mau pergi, bapak mau apa?”.

Jadi ada suatu tanggapan yang umum dan khas sifatnya

manakala suatu ungkapan itu dilontarkan dalam situasi tertentu, dan

(15)

tanggapan positif (seperti si anak yang meminta maaf ketika diusir

oleh ayahnya) maupun tanggapan yang bersifat negatif (seperti si anak

yang balas menghardik ayahnya ketika ia diusir).

Kelemahan pengandaian ini adalah apabila ada suatu ungkapan

bahasa dilontarkan atau diucapkan pada situasi umum yang khas, atau

pada situasi yang sama, namun tanggapan yang muncul belum tentu

sama, dapat saja berbeda-beda. Misalnya, seorang tuan rumah

mendengar pintu rumahnya diketuk pada malam hari, kemudian ia

berseru “tunggu sebentar!” Tanggapan si pengetuk pintu dapat saja

berbeda-beda. Jika si pengetuk pintu itu memang benar-benar tamu

atau keluarga si empunya rumah, besar kemungkinan ia akan

menunggu sampai tuan rumah itu membuka pintu. Akan tetapi

mungkin saja si pengetuk pintu itu langsung ambil langkah seribu,

ketika mendengar si empunya rumah berseru : “tunggu sebentar!”,

karena ia seorang maling yang ingin mengetahui apakah tuan rumah

sudah tidur atau belum.

Dengan demikian juga tidak dapat dipastikan, bahwa suatu

ungkapan bahasa yang dilontarkan pada situasi tertentu, pasti akan

menimbulkan tanggapan yang tertentu pula.24

24

(16)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Filsafat analitik bahasa merupakan sebuah metode yang khas untuk

menjelaskan, menguraikan, dan menguji kebenaran ungkapan-ungkapan

filosofis, dengan cara mengganti kata-kata dan kalimat-kalimat biasa dengan

kata-kata atau kalimat-kalimat yang lain yang mempunyai arti yang sama tetapi

bentuknya menjadi lebih jelas, logis, mendalam, sistematis, tajam dan tersusun.

Perhatian filsafat terhadap bahasa sebenarnya telah berlangsung lama,

bahkan sejak zaman Pra Sokrates, yaitu ketika Herakleitos membahas tentang

hakikat segala sesuatu termasuk alam semesta. Filsafat bahasa mulai

berkembang pada abad ke XX dengan telaah analitik filosofik Wittgenstein

tentang bahasa. Noam Chomsky-lah yang pertama-tama mengangkat bahasa

sebagai disiplin linguistic.

Arti atau makna mengandung implikasi yang begitu luas dalam Filsafat

Analitik Bahasa, maka ada baiknya kita mengetahui beberapa upaya

pemecahan yang coba dilakukan. Dalam hal ini ada beberapa teori arti yang

perlu mendapat perhatian kita. Teori-teori arti tersebut adalah :

1. Teori Acuan (Referential Theory)

Teori acuan ini merupakan teori arti yang mengenali (mengidentifikasikan)

arti suatu ungkapan dengan apa yang diacunya atau dengan hubungan

acuan itu.

2. Teori Ideasi (The Ideational Theory)

Teori Ideasi ini adalah suatu jenis teori arti yang mengenali

(mengidentifikasi) arti ungkapan dengan gagasan-gagasan (idea-idea) yang

berhubungan dengan ungkapan tersebut.

3. Teori Tingkah Laku (Behavioral Theory)

Teori tingkah laku ini merupakan salah satu jenis teori arti yang mengenali

(mengidentifikasi) arti suatu kata atau ungkapan bahasa dengan

(17)

dan/atau tanggapan-tanggapan (responses) yang ditimbulkan oleh ucapan

(18)

DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, A. Chaedar, 2014. Filsafat Bahasa dan Pendidikan, Bandung : Remaja

Rosda Karya.

Chaer, Abdul, 2015. Filsafat Bahasa, Jakarta : Rineka Cipta.

Hermawan, Asep Ahmad, 2009. Filsafat Bahasa : Mengungkapkan Hakikat

Bahasa, Makna, dan Tanda, Bandung : Remaja Rosda Karya,.

Kaelan, 2006. Perkembangan Filsafat Analitika Bahasa dan Pengaruhnya

Terhadap Ilmu Pengetahuan, Yogyakarta : Paradigma.

Kaelan, 2017. Filsafat Bahasa Hakikat dan Realitas Bahasa, Yogyakarta :

Paradigma.

Mustansyir, Rizal, 2007. Filsafat Analitik : Sejarah, Perkembangan, dan Peranan

Referensi

Dokumen terkait

Melihat dari berbagai khasiat serta manfaat yang dihasilkan dari labu kuning tersebut, maka melalui karya tulis yang berjudul “ Pelatihan Pembuatan Klepon Waluh

Dari pengertian diatas maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pemerintah daerah merupakan sebuah lembaga atau institusi yang memiliki kewenangan dan kekuatan

Berdasarkan kuesioner yang telah dilakukan, terdapat perubahan yang terjadi pada pendapatan masyarakat yang dipengaruhi oleh wisata Goa Pindul dilihat dari grafik di

Akad wadi’ah yang diterapkan di BRI Syariah KCP Purbalingga yaitu produk tabungan faedah, dimana simpanan dana nasabah pada bank, yang bersifat titipan dan penarikannya

selaku dosen pembimbing kedua yang telah memberikan pedoman skripsi baik materi maupun non materi yang jelas, terarah dan yang selalu memberikan motivasi, masukan, dan saran

Dari pemaparan di atas, perlu dilakukan penelitian untuk mendeskripsikan kemampuan multirepresentasi siswa kelas X dalam menyelesaikan soal-soal hukum Newton di SMA

TOYOTA AVANZA G MT 2011 silver, brg bagus istimewa, mesin prima, terawat, siap pakai, TDP 15Jt, proses cepat data dibantu.. Km 54Rb,

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Kubang Kutu 2, menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan jumlah 20