Case Study Report PENERAPAN ASAS NONSELF

13  Download (0)

Teks penuh

(1)
(2)

Case Study Report :

PENERAPAN ASAS NONSELF

INCRIMINATION PADA BERKAS

PERKARA SPLITSING : STUDI

KASUS PADA PENGADILAN

TINDAK PIDANA KORUPSI

Disusun oleh :

RAFLI FADILAH ACHMAD

(1206246313)

UNIVERSITAS INDONESIA

FAKULTAS HUKUM

(3)

BAGIAN I

PENDAHULUAN

I.A. Keterangan Tempat dan Waktu

 Tempat : Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat yang beralamat di

____________..Lantai 1-2 Gedung Ombudsman RI, Jl. HR. Rasuna Said Kav.C-19

____________..Kuningan, Jakarta Selatan.

 Hari/Tanggal : Kamis, 23 April 2015.

Pukul : 14.05 – 14.47 WIB, sidang ditunda selama 2 minggu atau sampai pada

____________.. tanggal 7 Mei 2015 dengan agenda pembacaan surat tuntutan dari

____________.. Jaksa Penuntut Umum.

I.B. Kasus Posisi

Pelaksanaan case study report yang dilakukan oleh Penulis bertempat di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat dengan Nomor Perkara 10/Pid.Sus/TPK/2015/PN. Dimana yang menjadi obyek utama pengamatan adalah pemeriksaan keterangan terdakwa pada kasus korupsi pembebasan lahan Proyek Double Double Track (DDT) atas nama Terdakwa Iskandar Rasyid. Berdasarkan wawancara lebih lanjut Penulis dengan salah seorang Penasehat Hukum Terdakwa, yaitu Bapak Wilvridus Watu S.H di kantor hukumnya di daerah Kalibata didapatkan fakta bahwa kasus ini bermula ketika Terdakwa Iskandar Rasyid menjadi bendahara proyek pembangunan Double Double Track pada tahun 2002-2006 di daerah Kampung Melayu. Kasus ini berawal dari hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang menemukan penyimpangan dana sebesar Rp. 33 Milyar dalam penggunaan anggaran terhadap proyek Double Double Track (DDT) sejak tahun 2002-2005. Temuan ini kemudian ditindaklanjuti oleh anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal DKI Jakarta yaitu Marwan Batubara untuk melaporkan hal ini ke Komisi Pemberantasan Korupsi.

(4)

sejatinya sudah dibebaskan, akan tetapi Iskandar Rasyid mengeluarkan anggaran pembebasan lagi untuk tanah yang sama.

Akibat tindakan yang dilakukan oleh Terdakwa secara bersama-sama atau sendiri-sendiri dengan Ketua Proyek Yoyok Sulaiman telah mengakibatkan kerugian kepada negara sebesar Rp. 22,7 Milyar. Bukan hanya kerugian negara saja yang terjadi, tetapi masyarakat Kampung Melayu yang terkena pembebasan lahan juga mengalami kerugian berupa digusurnya rumah warga tanpa nilai ganti rugi yang telah disepakati. Menurut Iswadi selaku tokoh masyarakat setempat, terdapat kejanggalan dalam proses pembebasan lahan proyek ini, misalnya ada warga yang terima ganti rugi Rp.20 juta, tapi di kwitansi ditulis Rp.60 juta, ada pula kwitansi yang dibuat dengan tanda tangan palsu.1 Berdasarkan penelusuran lebih lanjut Penulis, ternyata kasus ini bukanlah yang pertama bagi Terdakwa, karena berdasarkan penelusuran Penulis didapati bahwa Terdakwa juga pernah dipenjara selama 5 Tahun karena melakukan korupsi dengan modus yang serupa di daerah yang berbeda yaitu jalur Cikarang-Manggarai di Dinas Perhubungan DKI Jakarta.

Berdasarkan tindak pidana yang dilakukan oleh Terdakwa, maka Jaksa Penuntut Umum menuangkan dakwaannya dalam Surat Dakwaan No. Reg. Perkara PDS : 04/JKT.PST/2015 dengan adanya dugaan perbuatan tindak pidana sebagaimana diatur pada Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 ayat (1) Jo. Pasal 18 Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke -1 KUHP.

Persidangan yang digelar pada 23 April 2015 silam, terdapat dua agenda sidang sekaligus yang diselenggarakan yaitu mendengarkan keterangan Ahli yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum atas nama Suproni S.E., Ak., M.M (Auditor Ahli Madya dari BPKP Pusat) dan mendengarkan keterangan Terdakwa. Sidang yang dilaksanakan selama 42 menit tersebut dihadiri oleh tiga Majelis Hakim, satu orang Panitera, dua Jaksa Penuntut Umum, dua Penasehat Hukum atas nama Hasyim Nahumarury,S.H., dan Wilvridus Watu S.H dan Terdakwa sendiri. Secara umum persidangan berjalan dengan sangat baik, hanya saja secara formil ada beberapa hal yang menjadi fokus utama Penulis, yaitu :

1 CRM, “Korupsi Proyek Double-Double Track Segera disidangkan” http://www.hukumonline.com/berita/

(5)

a.Tidak adanya Petugas atau keamanan di ruang persidangan. Padahal sejatinya petugas memiliki perananan yang sangat penting dalam suatu persidangan, salah satunya adalah menjaga agar sidang tetap kondusif dan berjalan dengan lancar.2 Tanpa adanya petugas keamanan, dikhawatirkan ada pihak-pihak yang sengaja ingin mengacaukan jalannya persidangan. Adapun yang penulis lihat hanyalah dua orang polisi yang berjaga di luar ruang persidangan (dekat lift), itupun yang dilakukannya bukan menjaga, tapi bersantai-santai dengan merokok dan minum kopi.

b. Hakim anggota sempat tertidur. Penulis memahami bahwa menjadi profesi sebagai Hakim sangatlah melelahkan, terlebih lagi persidangan pada satu hari sangatlah banyak intensitasnya dan dilakukan dijam-jam “ngantuk”. Akan tetapi hal tersebut tidaklah dapat menjustifikasi kelalaian hakim untuk tidur di ruang persidangan, meskipun hanya 3 menit menutup mata saja, hal itu dapat mengakibatkan runtuhnya marwah persidangan dan bisa saja para pihak merasa tidak dihargai karena tidak didengarkan secara seimbang (Audi Alteram Partem).3 Terlebih lagi Hakim adalah profesi penegak hukum yang digaji oleh Negara, maka sudah sepatutnya para Hakim menjalankan profesinya sebaik mungkin sebagai bentuk totalitas pengabdian kepada Negara, dan salah satu bentuknya adalah dengan tidak tidur di ruang persidangan.

c. Ketika sidang sudah selesai dan Terdakwa sudah keluar dari ruang sidang, anehnya Terdakwa dipanggil kembali ke ruang persidangan untuk mengurus berkas yang belum diserahkan ke hadapan Majelis Hakim. Menurut Penulis sejatinya ketika sidang sudah ditutup oleh Hakim Ketua maka sejak saat itu pula tidak ada lagi segala aktivitas persidangan dalam bentuk apapun dan jika ada aktivitas lagi maka harus konsisten dilanjutkan dengan agenda sidang selanjutnya atau setidak-tidaknya sidang tersebut dibuka kembali, maka dari itu sejatinya Majelis Hakim harus cermat atas segala sesuatu yang berkaitan dengan jalannya persidangan, mulai dari pokok perkara hingga berkas administrasi. Akan tetapi kenyataanya dalam sidang ini, ketika sidang sudah ditutup Majelis Hakim memanggil kembali Terdakwa yang sudah ada di luar ruang persidangan untuk mengurus berkas administrasi.

d. Hakim yang bijak. Penulis sejatinya tertegun dengan kebijaksanaan Hakim Ketua pada persidangan kali ini, dimana Hakim Ketua benar-benar tidak hanya menjalankan fungsinya

2 Mahkamah Konstitusi, Peraturan Mahkamah Konstitusi tentang Tata Tertib Persidangan, PMK Nomor

03/PMK/2003, Ps.1

(6)

sebagai pencari kebenaran materil semata,4 tetapi juga mencoba memahami kondisi psikologis Terdakwa. Menurut catatan Penulis, setidaknya Hakim ketua sempat menanyakan kepada Terdakwa apabila diputus bersalah oleh Majelis Hakim, “Apakah saudara punya anak,dan sudah berapa umurnya?”, “Apa pekerjaan istri saudara?”, “apakah saudara menyesal dan tidak mau melakukannya lagi?”. Itu artinya Majelis Hakim mencoba menilai perkara ini dengan objektif, holistik dan komprehensif dengan tidak hanya menilai perbuatan yang dilakukan oleh Terdakwa secara kacamata kuda, tetapi juga menanyakan perasaan Terdakwa apabila diputus bersalah, apalagi Terdakwa memiliki anak dan istri untuk dinafkahi. Meskipun jika dilihat dari perspektif yuridis pada dasarnya pertanyaan ini tidak boleh diajukan oleh Hakim Ketua berdasarkan Pasal 158 KUHAP, karena Majelis Hakim menilai kesalahan Terdakwa terlalu prematur, dan harusnya pembuktian salah atau tidaknya Terdakwa hanya dilakukan melalui putusan yang dikeluarkan.

Bagian II

DASAR HUKUM

Ketentuan yang mengatur masalah penerapan Asas nonself incrimination pada perkara Korupsi Iskandar Rasyid yang di splits tertuang dalam beberapa peraturan di Indonesia, diantaranya yaitu :

1. Tindak Pidana Korupsi dan Pemalsuan yang dilakukan oleh Terdakwa

a. Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi.

b. Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi.

c. Pasal 263 KUHP tentang pemalsuan surat.

2. Keterangan Terdakwa

a. Keterangan Terdakwa tidak dibawah sumpah, artinya Terdakwa memiliki hak ingkar dalam menjawab pertanyaan. Hal ini tertuang dalam Pasal 175 KUHAP yang menyatakan bahwa Terdakwa memiliki hak untuk tidak menjawab atau menolak untuk menjawab pertanyaan, yang kemudian dipertegas melalui Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-IX/2011.

(7)

b. Keterangan Terdakwa hanya merupakan alat bukti terhadap dirinya sendiri. Sebagaimana diatur dalam Pasal 189 ayat (3) KUHAP, bahwa keterangan yang diberikan oleh Terdakwa hanya berlaku bagi dirinya sendiri, itu artinya apabila ada Terdakwa lain, maka keterangan tersebut tidak boleh dipergunakan.5

c. Nilai kekuatan pembuktian keterangan Terdakwa adalah Bebas. Itu artinya Hakim tidak terikat pada nilai kekuatan yang terdapat pada alat bukti keterangan Terdakwa. Hakim bebas untuk menilai kebenaran yamg terkandung didalamnya.6

3. Asas Nonself Incrimination

a. Asas non self-incrimination adalah hak terdakwa untuk tidak mengkriminalkan atau menjerat dirinya sendiri dalam suatu kasus persidangan.7 Sejatinya tidak ada ketentuan hukum positif di Indonesia yang secara spesifik mengatur asas ini, akan tetapi Pasal 66, 169 dan 175 KUHAP merupakan bentuk pasal yang merujuk

asas nonself incrimination, dimana dinyatakan bahwa Terdakwa tidak dibebani kewajiban pembuktian. Secara tegas asas mengenai non-self incrimination ini diatur dalam Article 14 Poin 3 ICCPR yang menyatakan bahwa terdakwa tidak boleh dipaksa untuk mengaku bersalah, memiliki arti bahwa seorang tidak dapat dipaksa bersaksi dan memberikan keterangan bagi pemeriksaan atas dirinya termasuk hak untuk bebas dari paksaan untuk mengaku bersalah.

b. Yurisprudensi Putusan Mahkamah Agung tanggal 25 Oktober 1967 No. 60 K/Kr/1967 menegaskan akan hadirnya saksi mahkota bahwa seorang terdakwa dalam perkara lain, meskipun peristiwanya sama, tetapi keterangannya sebagai saksi dapat didengar di hadapan persidangan.

4. Berkas perkara yang di splits

a. Splitsing adalah hak jasa dalam melakukan pemisahan berkas perkara yang sama dan dilakukan oleh Terdakwa yang berbeda sebagaimana diatur dalam Pasal 142 KUHAP.8 Biasanya Jaksa melakukan splitsing apabila suatu tindak pidana

5 M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP, Edisi 2, Cet 4, (Jakarta: Sinar

Grafika, 2002) , hlm. 321.

6Ibid., hal. 332

7 Indriyanto Seno Adji, Korupsi dan Penegakan Hukum, (Jakarta: Diadit Media, 2009) , hlm. 298.

8 Lilik Mulyadi, Tindak Pidana Korupsi di Indonesia : Normatif, Teoritis, Praktik, dan Masalahnya

(8)

dilakukan oleh beberapa pelaku, namun tidak ada saksi yang secara langsung melihat dan mendengar tidak pidana tersebut dilakukan sehingga yang paling mengetahui tentang peristiwa tersebut adalah para pelaku sendiri.

Bagian III

PEMBAHASAN

Berdasarkan pengamatan lebih lanjut Penulis kepada Jaksa Penuntut Umum, bahwa sebelumnya pada jam 11 siang telah ada persidangan terhadap kasus yang sama atas nama Yoyok Sulaiman selaku Kuasa Pengguna Anggaran sekaligus Ketua Proyek Double Double Track (DDT), itu artinya terhadap kasus ini Jaksa Penuntut Umum melakukan pemisahan berkas perkara antara Yoyok Sulaiman dan Iskandar Rasyid. Konsekuensi logis dari pemisahan berkas dakwaan adalah menyebabkan Terdakwa Iskandar memiliki dua kedudukan dalam kasus ini, yaitu sebagai saksi mahkota terhadap persidangan Yoyok Sulaiman dan menjadi Terdakwa dikasusnya sendiri.

Pada prinsipnya, pemisahan berkas perkara adalah hak jaksa.9 Dalam kasus ini Penulis setuju dengan Jaksa Penuntut Umum dengan melakukan pemisahan berkas perkara antara Yoyok Sulaiman dan Iskandar Rasyid. Dengan dipecahnya berkas tersebut, tentunya akan memudahkan pembuktian pada kasus korupsi yang memiliki sedikit saksi dan bukti. Lagipula secara logika setiap Terdakwa pasti ingin diringankan hukumannya, konsekuensi logisnya keterangan itu akan membuat rekannya seolah-olah menjadi lebih bersalah dan hal itu pastinya akan membuat mudah siapa sebenarnya dalang dari korupsi Double Double Track (DDT), ini. Terlebih lagi kasus ini identik dengan syarat sebagaimana diatur dalam Pasal 142 KUHAP. Dimana pemecahan berkas perkara cocok terhadap kasus-kasus yang memiliki ciri yaitu terdapatnya beberapa tindak pidana yang dilakukan oleh beberapa orang tersangka.10 Dalam perkara ini diduga banyak tindak pidana yang dilakukan baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama seperti contohnya adalah dengan memanipulasi data pembebasan tanah, melakukan penggelembungan dana (mark up) dan membuat dokumen fiktif. Jika ditarik dari perspektif historis, pada zaman kolonial Belanda

9Mon/Ali, “Splitsing Memungkinkan Pelanggaran Azas Hukumhttp://www.hukumonline.com/berita/baca/

hol18013/isplitsingi-memungkinkan-pelanggaran-azas-hukum , diakses pada 2 Maret 2015

10 M. Karjadi dan R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana dengan Penjelasan Resmi dan

(9)

splitsing itu sudah ada dengan tujuan memecah berkas pekara karena kurangnya saksi.11 Jikalau alasan yang digunakan oleh Jaksa Penuntut Umum seraya adalah kurangnya saksi, maka menurut Penulis itu adalah kurang tepat. Hal tersebut dikarenakan, dalam kasus ini terdapat berlimpahnya saksi dan bukti-bukti seperti kwitansi transaksi keuangan, putusan Mahkamah Agung yang menyatakan terdakwa bersalah sebelumnya, korban warga Kampung Melayu yang digusur, laporan audit BPKP, keterangan ahli, dan lain-lain.

Terlepas dari hal-hal diatas, faktanya splitsing memanglah hak Jaksa Penuntut Umum yang dibenarkan oleh Undang-Undang, akan tetapi dalam penerapannya pemisahan berkas perkara itu kerap menimbulkan suatu masalah. Salah satunya adalah terlanggarnya asas nonself incrimination sebagaimana yang terjadi pada perkara dengan nomor 10/Pid.Sus/TPK/2015/PN.

Splitsing mengakibatkan Iskandar Rasyid menjadi memiliki dua kedudukan, yaitu sebagai saksi mahkota pada kasus Yoyok Sulaiman dan menjadi Terdakwa pada kasusnya sendiri. Pada kasus Yoyok Sulaiman, Iskandar Rasyid dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum dengan kapasitasnya sebagai saksi mahkota berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor 1986/K/Pid/1989 tanggal 21 Maret 1990 yang menegaskan bahwa saksi mahkota dapat dihadirkan ke persidangan. Sebagai saksi mahkota, maka Iskandar Rasyid harus memberikan keterangannnya dibawah sumpah terlebih dahulu sebagaimana diatur dalam Pasal 160 ayat 3 KUHAP. Itu artinya, Iskandar tidak boleh berbohong apabila ditanya oleh Majelis Hakim, Penasehat Hukum, atau Jaksa Penuntut Umum karena sudah disumpah sebelumnya. Lebih lanjut, tidak dapat dipungkiri adanya kemungkinan apabila Majelis Hakim atau Penasehat Hukum atau Jaksa Penuntut Umum menanyakan hal mengenai perbuatan pidana yang dilakukannya sebagai saksi mahkota, maka saksi mahkota itu harus menjawab secara jujur karena saksi tidak memiliki hak ingkar. Hal ini tentunya bertentangan dengan nafas KUHAP itu sendiri dimana sejatinya beban pembuktian berada di tangan Jaksa Penuntut Umum, bukan berada di Terdakwa yang seolah-olah diselimuti status sebagai saksi mahkota.

Terjadi dilematika, disatu sisi Iskandar Rasyid juga memiliki kapasitas sebagai Terdakwa dalam kasusnya sendiri. Dimana seorang Terdakwa berdasarkan KUHAP memiliki hak ingkar berupa membantah keterangan yang tidak benar dan dapat mencabut keterangannya sendiri di dalam penyidikan.12 Hak ingkar tersebut merupakan konsekuensi logis dengan tidak

11 M.Yahya Harahap, Pembahasan permasalahan dan penerapan KUHAP: Pemeriksaan sidang

pengadilan, banding, kasasi, dan peninjauan kembali (Jakarta: Sinar Grafika, 2000).

12 Mario Kalendesang, “Tinjauan Yuridis Tentang Pencabutan Keterangan Terdakwa Dalam Persidangan,”

(10)

disumpahnya Terdakwa dalam memberikan keterangan di persidangan. Akibat dari dijadikannya Iskandar sebagai saksi mahkota pada kasus Yoyok Sulaiman, tentunya hal ini mempengaruhi kondisi psikis Terdakwa karena tidak bebas dalam memberikan keterangan di kasusnya sendiri. Apalagi, apabila terdapat perbedaan keterangan pada saat menjadi saksi mahkota dan menjadi Terdakwa, hal ini dapat mengakibatkan Iskandar diancam pidana lagi dengan alasan memberikan kesaksian palsu sebagaimana diatur dalam Pasal 174 ayat 1 dan ayat 2 KUHAP jo 242 KUHP. Itu artinya dengan dipecahnya berkas perkara oleh Jaksa Penuntut Umum, membuat Iskandar Rasyid tidak dapat memaksimalkan hak ingkarnya dan tentunya hal ini bertentangan dengan asas

nonself incrimination karena disatu sisi Terdakwa tersandra oleh keterangannya sendiri sebagai saksi mahkota.

Dalam perkara dengan nomor 10/Pid.Sus/TPK/2015/PN, lebih uniknya lagi Majelis Hakim melakukan diskresi dan terobosan hukum tanpa adanya landasan hukum dan yurisprudensi yang jelas dengan cara menawarkan untuk mengadopsi secara utuh keterangan Iskandar Rasyid dalam kapasitasnya sebagai saksi mahkota kedalam sidang Terdakwa. Jadi sidang ini hanya untuk memperdalam keterangan Terdakwa, bukan untuk mendengarkan ulang keterangan Terdakwa. Berikut adalah tawaran dari Majelis Hakim yang telah disepakati oleh para pihak:

Ini adalagi tawaran pemikiran hukum terkait dengan penyederhanaan, anda waktu itu didalam perkara saudara Yoyok telah didengar keterangannya sebagai saksi. -Sudah yang mulia- Anda masih ingat keterangan yang anda berikan itu semua? –Ya, yang mulia- Kalau kira-kira kita ambilalih keterangan anda sebagai saksi menjadi keterangan terdakwa bagaimana, apakah keberatan? –Ya, bisa- Saudara Penasehat Hukum, bagaimana apakah keberatan apabila keterangan yang pernah ia berikan pada perkara Yoyok sebagai saksi kita ambilalih keterangannya sebagai Terdakwa dalam perkara ini, namun demikian tentunya masih ada hal-hal yang perlu dipertajam dan didalami tetap dipersilahkan, bisa? -Ya,yang mulia-.13

Terobosan hukum ini tentunya menjadi fokus penulis untuk dianalisa lebih mendalam, karena Penulis belum pernah menemukan diskresi semacam ini dalam literatur maupun di sidang-sidang sebelumnya. Terhadap hal ini secara singkat penulis menilai terdapat nilai positif

13 Hasil rekaman penulis pada persidangan dengan nomor perkara 10/Pid.Sus/TPK/2015/PN, di Pengadilan

(11)

dan negatif atas terobosan hukum ini. Sisi positifnya adalah menjadikan sidang menjadi lebih sederhana, sehingga sidang menjadi lebih cepat, dan juga Terdakwa tidak perlu berbelit-belit untuk mengemukakan keterangannya kembali. Hal ini tentunya menguntungkan Terdakwa, karena tidak perlu memaparkan kembali keterangannya sebagai Terdakwa karena dikhawatirkan apabila terjadi perbedaan keterangan antara kapasitasnya sebagai saksi mahkota dan kapasitasnya sebagai Terdakwa dapat diduga beliau telah memberikan keterangan palsu dan diancam pidana lagi sebagaimana diatur Pasal 174 ayat 1 dan ayat 2 KUHAP jo. Pasal 242 KUHP.

Kemudian sisi negatifnya adalah tidak dipenuhinya asas nonself incrimination dan hak ingkar Terdakwa. Hal itu dikarenakan Terdakwa tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan keterangannya kembali dan mengingkarinya, karena dianggap sudah dilakukan pada saat menjadi saksi mahkota. Padahal logikanya status antara saksi mahkota dan Terdakwa itu berbeda. Dalam posisinya sebagai saksi, maka keterangan yang diberikan hanyalah menyangkut bagaimana cara agar terangnya perkara Yoyok, sedangkan apabila posisisnya sebagai Terdakwa, maka keterangan yang diberikannya seharusnya adalah menyangkut bagaimana cara untuk mengelak dari tuntutan jaksa dengan hak ingkarnya. Rekonstruksi diatas secara nyata memperlihatkan terlanggarnya asas nonself incrimination, dimana sejatinya terdakwa memiliki hak untuk tidak mengkriminalkan atau menjerat dirinya sendiri dalam satu kasus persidangan.

Tabrakan antara kedua konsepsi ini (Nonself Incrimination dan Splitsting) tentunya sangat tidak adil bagi Terdakwa dan membuat nafas dari KUHAP itu sendiri menjadi ternoda, karena KUHAP memiliki cita-cita mulia untuk melindungi hak setiap warga negara Indonesia yang tersandung masalah hukum pidana.14

Maka dari itu perlu langkah konkret untuk menyempurnakan penerapan asas

nonselfincrimination tersebut, salah satunya adalah mengakomodir kebutuhan praktikal itu ke dalam Rancangan KUHAP yang saat ini tengah digodok. Poin-poin kritis dan saran Penulis akan dituangkan dalam bab selanjutnya.

Bagian IV

PENUTUP

14 Justice Publishing, KUHP dan KUHAP Dilengkapi, Pasal-Pasal penting KUHP Yang Perlu

(12)

IV.A Kesimpulan

1. Secara umum persidangan sudah berjalan dengan cukup baik dan hikmat, akan tetapi masih ada kekurangan yang masih perlu disempurnakan seperti tidak adanya petugas keamanan, hakim anggota yang tertidur, dan alur perkara yang sedikit berantakan. 2. Bahwa dengan dipecahnya berkas perkara mengakibatkan Sdr. Iskandar

Rasyid menjadi memiliki dua kedudukan yaitu sebagai saksi mahkota pada perkara Yoyok Sulaiman dan menjadi Terdakwa dalam kasusnya sendiri.

3. Bahwa ‘saksi mahkota’ pada esensinya adalah berstatus sebagai terdakwa. Faktanya sebagai saksi mahkota seseorang tidak memiliki hak ingkar karena telah di bawah sumpah, sedangkan Terdakwa memiliki hak ingkar karena memberikan keterangannya tidak di bawah sumpah.

4. Dengan dipecahnya berkas perkara, hal ini mengakibatkan Terdakwa tidak dapat menggunakan hak ingkarnya dalam keterangannya sebagai Terdakwa, karena apabila terdapat perbedaan dengan keterangannya sebagai saksi akan diancam pidana memberikan keterangan palsu sebagaimana diatur Pasal 242 KUHPidana.

5. Majelis Hakim dalam kasus ini menuangkan pemikiran hukumnya dengan melakukan diskresi untuk mengambilalih keterangan Iskandar Rasyid sebagai saksi mahkota, menjadi keterangannya sebagai Terdakwa.

IV.B. Saran

1. Meminimalisir penggunaan pemisahan berkas perkara (splitsing), karena hal tersebut merupakan bentuk “kemalasan” dari Jaksa Penuntut Umum untuk menguak kebenaran materiil dan berpotensi melanggar asas nonself incrimination Terdakwa.

2. Mengatur secara ketat ketentuan mengenai saksi mahkota, dimana seharusnya saksi mahkota adalah pengecualian untuk tidak di sumpah mengingat statusnya sebagai Terdakwa dalam kasus yang lain.

3. Diskresi yang dilakukan oleh Majelis Hakim patut dijadikan sebagai yurisprudensi terhadap kasus-kasus lain yang memiliki masalah serupa.

(13)

Kalendesang, Mario. “Tinjauan Yuridis Tentang Pencabutan Keterangan Terdakwa Dalam

_________Persidangan.” Lex Crimen Vol. II/No.6. (Oktober-November 2013.

BUKU

Adji, Indriyanto Seno. Korupsi dan Penegakan Hukum.Jakarta: Diadit Media, 2009.

Harahap, M.Yahya. Pembahasan permasalahan dan penerapan KUHAP: Pemeriksaan sidang _________pengadilan, banding, kasasi, dan peninjauan kembali. Jakarta: Sinar Grafika, 2000. Harahap, M. Yahya. Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP, Edisi 2, Cet 4.

_________Jakarta: Sinar Grafika, 2002.

Harun, Badriyah. Tata Cara Menghadapi Gugatan.Yogyakarta : Pustaka Yustisia, 2009.

Karjadi, M dan R. Soesilo. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana dengan Penjelasan _________Resmi dan Komentar. Bogor: Politeia, 1997.

Mulyadi, Lilik. Tindak Pidana Korupsi di Indonesia : Normatif, Teoritis, Praktik, dan _________Masalahnya. Bandung: Alumni, 2007.

Syamsuddin, Amir. Integritas Penegak Hukum. Jakarta: Kompas, 2008.

WEBSITE

CRM.“Korupsi Proyek Double-Double Track Segera disidangkan”

_________.

http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol16039/korupsi-proyek-idoubledouble-_________tracki-segeradisidangkan. Diakses pada 2 Maret 2015

Mon/Ali. “Splitsing Memungkinkan Pelanggaran Azas Hukum

_________

http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol18013/isplitsingi-memungkinkan-_________pelanggaran-azas-hukum. Diakses pada 2 Maret 2015

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Mahkamah Konstitusi. Peraturan Mahkamah Konstitusi tentang Tata Tertib Persidangan. PMK

_________Nomor03/PMK/2003.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di