• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMBANGUN TATA KELOLA PELAYANAN PUBLIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MEMBANGUN TATA KELOLA PELAYANAN PUBLIK"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

MEMBANGUN TATA KELOLA PELAYANAN PUBLIK BAGI ANAK JALANAN DI KOTA JAYAPURA

Amoye Pekei, S.Sos, M.Si

Contact Person : ‐ /081354018593  

Email       : [email protected] 

Organisasi     : Ketua DPD Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI ) PAPUA  

   Periode 2014‐2017 

 

Abstrak

Masalah kesejahteraan sosial di Papua yang kompleks, penulis berupaya melihat permasalahan dengan melakukan pengamatan secara langsung terlibat dalam tiap pelayanan kesejahteraan sosial khususnya anak jalanan. Pelayanan kesejahteraan sosial yang seharusnya dijadikaan sebagai sala satu urusan wajib pemerintahan daerah tidak bisa berjalan dengan baik. Banyak Maraknya anak jalanan sudah masuk dalam kategori mendesak namun belum diimbangi dengan ketersediaan pelayanan yang responsif, mulai dari pemberian bantuan fisik, dukungan emosi, dukungan pendidikan, dukungan integrasi sosial.

(2)

A. Masalah Kemiskinan dan Anak Jalanan Di Papua

Papua adalah sala satu Pulau dikawasan ras Melanesia yang berada di wilayah kekuasaan

Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI). Setiap kali menyebut nama ini kita semua akan

berpikir kearah timur Indonesia. Sejarah telah membuktikan masalah di Papua sangat kompleks,

mulai dari masalah politik, ekonomi, sosial dan budaya. Masalah Kemiskinan merupakan

pencerminan dari lingkaran masalah – masalah di Papua. Hingga 2014 Kemiskinan di Papua masi

menduduki urutan terbawa indikator kemiskinan. Angka kemiskinan di Papua dari 31,53%1

dimana indeksnya dua kali lipat lebih tinggi dari tingkat rata-rata kemiskinan di Indonesia yaitu

11,37 %. Sala satu indeks yang menujukan kesejahteraan masyarakat sangat erat dengan bidang

kesejahteraan sosial adalah Indeks Pembanguan Manusia ( IPM ).

Bidang pelayanan kesejahteraan sosial yang menyumbang pelayanan dalam

mempengaruhi IPM. Pelayanan tersebut antara lain kegiatan pemenuhan kebutuhan penyandang

masalah kesejahteraan sosial ( PMKS ). Beberapa PMKS diantaranya adalah masalah anak jalaan,

anak terlantar, anak yang berhadapan dengan hokum, anak cacat, anak berkebutuhan khusus, fakir

miskin, komunitas adat terpencil, Orang Dengan HIV Aids, kekerasan terhadap perempuan, dan

lain lainnya. IPM Papua sejak 2008 hingga 2012 yang bergeser sedikit saja sebesar 0,86 point

pertahun, walaupaun diakui kucuran dana OTSUS sangat besar. Kondisi IPM dan Indeks

kemiskinan ini bisa menjadi potret indikator pelayanan kesejahteraan masyarakat Papua yang

buruk.

Sala satu masalah yang cukup meresahkan adalah masalah anak jalanan yang sejak dulu

hingga saat ini belum tuntas penanganannya. Walaupun mempunya sumber daya yang cukup baik

itu dana dan dukungan kebijakan dengan hadirnya kebijakan undang – undang otonomi khusus di

Papua. Perlu diketahui masalh anak jalanan adalah asalah yang kompleks sebenarnya masalah ini

ada pencerminan kemiskinan di Papua yang Nampak di pandangan mata kita, karena latar elakang

anak jalanan adalah masalah kemiskinan yang disebutkan diatas.

Banyak dari anak jalanan lahir dari keluarga yang berada di bawa garis kemiskinan.

Sehingga menangani anak jalanan adalah sala satu indikator yang perlu didefiniskian oleh pihak –

pihak yang berkecimpung dalam upaya mengurangi kemiskinan di Papua. Namun hingga saat ini

belum ada indikator kemiskinan di Papua yang lebih dioperasionalkan dalam konteks kemiskinan

      

(3)

di Papua. Sehingga kebijakan menangani masalah kemiskinan sala satuya adalah menangani anak

jalanan. Karena anak jalanan merupakan bagian dari keluarga yang tidak mampu dimana mereka

hidup di pemukiman kumuh di perkotaan yang makanya hanya sekali bahkan tidak memilik

makan, makanpun hannya nasi putih, keluarganya tidak utuh, dengan masyarakatnya yang lebih

individualis sehingga yang miskin urus dirinya sendiri. Sebenarnya inilah yang dimaksudkan

kemiskinan perkotaan yang sesungguhnya.

B. Definisi Anak Jalanan dan Masalahnya

Anak jalanan adalah salah satu masalah sosial yang kompleks dan bertalian dengan

masalah sosial lain, terutama kemiskinan. Strategi intervensi maupun indikator keberhasilan

penanganan anak jalanan dilakukan secara holistik mengacu kepada visi atau grand design

pembangunan kesejahteraan dengan memperhatikan karakteristik anak jalanan, fungsi dan model

penanganan yang diterapkan. Dalam tulisan tersebut dijelaskan Anak jalanan ( ANJAL ) adalah

anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalan bekerja atau hidup di jalanan dan

tempat - tempat umum, seperti pasar, mall, terminal taksi, taman kota tanpa pengawasan langsung

dari orang tua. Pada Umumnya anak jalanan bertahan hidup dengan melakukan aktivitas seperti

mencuci motor, mengumpulkan barang bekas, meminta - minta, ada yang mencuri, mencopet atau

terlibat perdagangan sex ( pekerja seks jalanan ).2

Di Papua anak jalanan identik dengan anak ketergantungan aibon atau sering dikenal

dengan istilah “ anak aibon “. Mengisap Aibon merupakan perilaku menghilangkan stres akibat

tidak diterima di keluarga, kekerasan dalam rumah tangga, putus sekolah. Selain itu ada juga yang

menghirup karena pengaruh linkungan pergaualannya.

Beberapa penyebab anak berada di jalan, menurut Festa antara lain ; Pertama anak jalanan turun ke jalan karena adanya desakan ekonomi dalam keluarga, sehingga orang tua menyuruh

anaknya untuk turun ke jalan guna mencari tambahan ekonomi keluarga. Kedua, rendahnya pendidikan orang tua menyebabkan mereka tidak mengetahui fungsi dan perannya sebagai orang

tua, disamping tidak mengetahui hak-hak yang dimiliki oleh anaknya. Ketiga, orangtua tidak memiliki kemampuan dalam pola asuh yang tepat bagi anak sehingga anak tidak memiliki

      

(4)

kecakapan dalam menghadapi tekanan. Keempat, peran masyarakat dalam memberikan kontrol sosial masih sangat rendah. Kelima, masih ditemukan pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari kehidupan anak jalanan. Keenam, lembaga-lembaga, organisasi sosial belum berperan dalam mendorong partisipasi masyarakat menangani masalah anak jalanan. Ketuju, belum ada payung kebijakan mengenai pencegahan anak agar tidak turun ke jalan atau penanganan menyeluruh yang

mencakup aspek sosial, psikologis dan spiritual. 3

Hasil asessment di kota Jayapura faktor penyebab anak di jalanan terjadi akibat keluarga

tidak harmonis, perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, ditelantarkan oleh keluarganya, yatim

piatu, dan pengaruh lingkungan dan diajak oleh teman. Beberikut ini daftar klien dan masalhnya

di kota Jayapura

Tabel Ringkasan Assessment Anak Jalanan Kota Jayapura

Sumber : Olahan Data Assessment DPD IPSPI Papua 2016

Hingga saat ini data anak jalanan yang baru diassessment sebanyak 22 Anak lokasi

assessment ini diambil dari tempat – tempat pusat bermain Anak jalanan yang tersebar di Distrik

Abepura dan Distrik Jayapura Utara. Dari data diatas anak jalanan berada pada kisaran usia antara

9-15 tahun pada usia sekolah. Mereka semua adalah anak – anak yang putus sekolah karena yatim

      

(5)

piatu dan keadaan ekonomi keluarga yang tidak cukup membiayai studi dan karena kekerasan

dalam rumah tangga.

Foto bersama anak jalanan kota jayapura bersama pekerja sosial pendamping usai penjangkauan

dan assessment awal di Lokasi pusat Anak jalanan distrik Abepura

Pada umumnya meraka merupakan korban dari kondisi keretakan keluarga dan kondisi

pendapatan keluarga yang rendah, yang membuat anak – anak jalanan tidak mendapatkan hak –

hak mereka seperti yang dijamin dalam Undang – Undang Perlindungan anak. Mereka tidak bisa

tumbuh kembang dengan baik, karena Gizi, mereka tidak bisa bermain karena hidupnya di jalan,

mereka tidak mengakses pendidikan, kesehatan mereka terganggu sehingga karena sangat lemah

mengakses hak akses layanan kesehatan mereka, apalagi beribadah tidak ada yang mengajak

mereka beribada, ada juga dua anak cacat tapi hak mereka juga tidak mereka terima.

Keberadaan anak jalanan di kota Jayapura sudah sangat meresahkan publik, bulan Juni

Dinas sosial telah mendapat surat dari pimpinan Saga Mall Abepura yang mengeluhkan kehadiran

anak jalanan telah mencemaskan para konsumenya. Selain itu ada beberapa arahan wali kota yang

menyampaikan ada anak jalanan yang berkeliaran tanpa adanya perhatian dari dinas terkait di kota

Jayapura. Selain itu menurut laporan warga bagi pekerja sosial pada tempat tinggal di Abepura,

keberadaan mereka suda menjadi ancaman karena sering terjadi kecurian oleh anak – anak jalanan

(6)

menjadi masalah publik sehingga masyarakat, perusahaan dan pemerintah selayaknya memberikan

perhatian bersama untuk menangani masalah ini.

Untuk mensikapi maraknya anak jalanan dan kompleksitas masalah sosial anak jalanan di

kota Jayapura ini dibutuhkan penanganan yang menyeluruh dan terintegrasi untuk menangani

masalah anak secara menyeluruh baik itu masalah sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan,

kerohanian, fisik dan masalah mental. Sehingga pelayanan ini harus terintegrasi dari berbagai

sektor.

Perlu diketahui bahwa sebenarnya pelayanan kesejahteraan sosial ini sangat singkron

dengan visi dan misi gubernur yaitu Papua Bangkit Mandiri dan Sejahtera. Jika pelayanan terhadap

PMKS Anak Jalan yang disebutkan diatas berjalan mulus, maka akan memenuhi kebutuhan dan

keinginan gubernur Lukas Enembe, untuk menurunkan angka kemiskinan dari 31, 53 % menjadi

25 %, pada tahun 2018. Karena menangani anak jalanan tidak terlepas dari menangani masalah

kemiskinan keluarga. Untuk mencapai harapan Gubernur Papua yang juga harapan kita semua,

perlu melihat Papua dari potret kondisi pelayanan kesejahteraan sosial itu sendiri.

C. Kondisi Pelayanan Publik Bidang sosial dan Anak Jalanan

Pelayanan publik bidang sosial adalah pemberian bantuan sosial untuk menangani dan

mengurangi beban dan menjawab kebutuhan PMKS dengan pola pelayanan dan manajemen

pelayanan yang terorganisir dengan baik. Terkait penanganan anak jalanan di kota Jayapura, belum

ditemukan pelayanan menyeluruh untuk tuntas menyelesaikan masalah anak jalanan tersebut.

Padahal masalah anak jalanan suda cukup meresahkan dan menjadi masalah publik. Pelayanan

bantuan sosial antara laian bantuan fisik, emosi, pendidikan, dan integrasi sosial belum sesuai

peruntukannya.

Dalam menangani beberapa PMKS pemerintah hanya memberikan bantuan fisik tanpa

pelayanan hingga klien terpenuhi bantuan integrasi sosialnya. Jika ada bantuan sosial dalam bentuk

dukungan emosi dan dukungan kadang pelayanan itu sala sasaran. Contoh pemerintah sering

memberikan bantuan gizi untuk anak jalanan tapi dari hasil pengamatan dan wawancara dengan

anak jalanan mereka belum pernah menerima bantuan pemerintah terkait dengan bantuan Gizi.

(7)

Dari pemberian bantuan materi dan fisik (support concrete) kepada masyarakat imbasnya hanya memberikan ketergantungan masyarakat terhadap bantuan pemerintah dan tidak membantu

meringankan beban masyarakat. Sebut saja paket keluarga harga harapan sala satu batuan bagi

keluarga yang miskin. Namun keluarga miskin seperti disebutkan diatas belum tersentuh.

Diharapkan dari program pemberian bantuan diatas dapat memberikan dampak yang memiliki

daya ungkit, artinya bantuan tersebut harus memberikan dampak menyelesaikan masalah lainnya.

Misalnya masalah bantuan bagi keluarga ekonomi lemah harus dapat menyelesaikan masalah anak

jalanan, putus sekolah dan lainnya. Hal lain yang terlewatkan dalam pelayanan peberian bantuan

sosial ini.

Bantuan sosial emosi ( Emosional support ) dukungan dan pendampingan pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak khususnya anak jalanan jarang diberikan, salah satunya yang

menghambat adalah belum adanya pelayanan penjangkauan (outreach) dengan menjangkau, memberikan penyuluhan, konseling dan motivasi. Dengan pola pelayanan penjangkauan ini akan

juga turut memenuhi kebutuhan utuk sekolah bagi mereka yang putus sekolah (education support)

sehingga dengan pelayanan penjangkauan klien tersebut bisa integrasi kembali dalam lingkungan

sosial ( social integration). Tiga pihak yang diuntungkan dari pelayanan Outreach ini yaitu masyarakat mendapat informasi dari pelayanan kesejahteraan sosial melalui pemberian informasi,

dan keluarga sasaran mendapat pengetahuan dan ketrampilan memberikan dukungan bagi anak

mereka yang masi mengakses kehidupannya di jalanan. Dengan menguatnya masyarakat dan

keluarga berarti akan menujukan indikator sisi demand ( penerima ) semakin berfungsi karena ada keterlibatan masyarakat dalam menangani masalah sosial. Dengan ini akan memberikan dorongan

(8)

Gambar. Kerangka pikiran membangun tatakelolah pelayanan publik bidang sosial

Melemahnya sistem pelayanan kesejahteraan sosial dari sisi suplay adalah Prosedur penangan panti yang berjalan tidak sesuai dengan standar pelayanan sesuai Standar Pelayanan

Minimum ( SPM) bidang sosial dan nyatanya belum ada laporan realisasi SPM pelayanan sosial

di provinsi Papua bahkan di beberapa kabupaten kota di Papua. Ini mengindikasikan pelayanan

publik masi sangat parsial sehingga penangan kasus belum berjalan sesuai dengan Standar

Operasional Prosedur yang berpedoman pada pelayanan minimum.

Rendahnya kapasitas manajemen pelayanan rehabilitasi klien di LKS karena belum ada pelayanan rehabilitasi untuk PMK anak Jalanan, walaupun ada sarana balai untuk bina remaja di

Kabupaten Jayapura milik Dinas Sosial Provinsi, namun balai itu tidak difungsikan untuk

pelayanan rehabilitasi. Beberapa isu lain yang berhubungan kelembagaan baik itu swasta dan

pemerintah adalah penyediaan tenaga pekerja sosial, profesi lain seperti, psikiater, dokter,

rohaniawan yang sesuai dengan kebutuhan. Hal ini menyebabkan pelayanannya belum terintegrasi

dengan lintas profesi tersebut karena sistem penjangkaun klien dan sistem rujukan belum

terbangun sehigga penanganan masalah sangat terbatas sehingga ada anak jalanan yang perlu dan

mendesak ditangani akhirnya tidak ditangani.

Diketahui ada 163 lembaga panti dan pemberian layanan kesejahteraan sosial di Papua

untuk anak khusus untuk anak di kota Jayapura, menurut laporan direktorat Anak Kementrian

sosial ada sekitar 11 Panti dan yayasan yang bergerak menangani masalah anak. Dari 11 tersebut

tercatat 155 anak yang menerima layanan di panti asuhan dan yayasan milik masyarakat tersebut.

(9)

pelayanan lainnya. Beberapa masalah ini mengingikasikan masalah tersebut belum ada pelayanan

terintegrasi lintas sektor dalam menangani masalah anak jalanan di Jayapura.

Meresponi masalah ini Pemerintah provinsi dan kota sampai saat ini belum ada upaya

khusus untuk menangani masalah anak jalanan yang sangat kompleks tersebut. Hal ini ditandai

dengan belum adanya data terkait masalah anak jalanan di Dinas Sosial Provinsi. Upaya yang baru

dilakukan adalah pembentukan tim bersama penanganan anak jalanan yang bertugas

mengidentifikasi lembaga kesejahteraan sosial ( LKS ) yang menangani masalah anak jalanan dan

mencari model layanan yang tepat.4 Sedangkan di kota Jayapura hingga tulisan ini dibuat baru

mulai mengembangkan program penangan anak jalanan dengan pola kasih dan menurut Ibu Milka

Asor kepala bidang rehabilitas sosial Dinas Sosial kota Jayapura mereka telah berupaya

memasukan penanganan anak jalaan dengan pola terintegrasi dan RKA untuk program tahun

2017.5

Melihat kondisi pelayanan sosial ini menujukan dukungan kebijakan pemerintah bidang

sosial masi sangat lemah dimana belum memiliki peraturan daerah khusus terkait standar

pelayanan minimum bidang sosial, bahkan turunnya hingga peraturan yang berhubungan dengan

anak jalanan dan penangananya yang beresiko pada budged anggaran daerah.

Gambar Diksusi Pertemuan Antar Dinas Sosial Kota, DPD IPSPI, Anak Jalanan, Pekerja Sosial

Pengusaha dalam upaya membangun pelayanan terintegrasi dalam penanganan anak jalanan di

Kota Jayapura.

      

(10)

D. Solusi Pelayanan Sosial Yang Terintegrasi

Layanan kesejahteraan sosial yang baik yang perlu dikembangkan oleh pemerintah untuk

menangani masalah ini sebaiknya dilakukan dengan mengembangkan model pelayanan yang

terhubung sehingga pendekatan pelayanan manajemen kasus dapat berjalan dengan baik sehingga

masalah ditangani yang akan memberikan dampak bagi faktor – faktor penyebab lainnya ( daya

ungkit ).

Pelayanan sosial yang baik hendaknya memperhatikan pelayanan yang menyediakan

kebutuhan berbasis pada masalah prioritas daerah yang menjadi isu publik dan pelayanan itu harus

terintegrasi karena pelayanan sosial sesungguhnya adalah pelayanan yang diarahkan untuk suatu

keberfungsian sosial sehingga idealnya fungsi – fungsi sub sistem yang mendukung sistem sosial

itu harus berfungsi.

Pelayanan yang terintegrasi tersebut antara lain adalah membangun sistim rujukan

pelayanan Anak jalanan antara dinas sosial, pekerja sosial dan pelayanan kesehatan membangun

kerjasama untuk penataan manajemen pelayanan kesehatan masyarakat (PKM) yang khusus

menangani anak jalanan. Sistem rujukan yang sama bisa dibangun untuk menangani kekerasan

terhadap anak dan perempuan antara kepolisian dan badan pemberdayaan perempuan dan anak

dengan dinas sosial dan pekerja sosial.

Selain dinas kesehatan dan pemberdayaan perempuan dinas pendidikan untuk menangani

kasus anak jalanan yang putus sekolah untuk disekolahkan kembali dengan pengawasan pekerja

sosial pendampingan di sekolah khusus menangani anak jalanan yang putus sekolah. Dalam seting

kesehatan jiwa sistem integral pelayanannya adalah proses rehabilitasi untuk orang dengan

gangguan kesehatan jiwa seperti anak yang mengalami gangguan mental dalamnya melibatkan

pekerja sosial untuk terlibat dalam proses rehabilitasi di rumah sakit dan proses pengembaliannya

ke keluarga.

Dalam memberikan pelayanan bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial anak jalanan

ada beberapa hal yang perlu dilihat secara khusus adalah memastikan SPM bidang sosial bisa

terealisasi yang terintegrasi dengan perencanaan dinas sosial dengan prosedur yang realistis.

Dengan begitu masalah dinas sosial yang minim anggarannya bisa teratasi karena implikasinya

(11)

bidang sosial termasuk kegiatan penjangkauan dan rehabiliasi. Sehingga upaya ini membutuhkan

keterlibatan pemerintah dalam bentuk kebijakan yang kongkrit menghidupkan sistem pelayanan

kesejahteraan bagi anak jalanan yang sudah ada dalam bentuk panti yang terintegrasi dengan

sistem sumber lainnya yang berada di rana stakeholder lainnya.

Dengan demikian hal yang berhubungan yang perlu dilihat secara baik dan detail melalui

kajian kapasitas organisasi penyediaan layanan kesejahteraan sosial yang telah ada antara lain

komponen kebijakan, struktur, sumber daya manusia, keuangan dan manajerial organisasinya

termasuk sistem rujukan dan dukungan komponen komunitas dalam pelayanan mulai dari

penggunaan pelayanan dan memberikan keluhan dan bersama mengawasi layanan melalui

mekanisme yang terbangun.

Dengan demikian pelayanan kesejahteraan sosial tersebut bisa berubah status dari

pelayanan karitas menjadi pelayanan organisasi yang professional. Karena pelayanan

penyelenggaraan sosial harus memenuhi standar pelayanan praktik yang sesuai dengan profesional

kerja yang sesuai dengan petunjuk standar pelayanan minimum ( SPM ) bidang sosial. Sehingga

pemerintah bias membentuk satu Pusat Pelayanan Kesejahteraan Sosial ( PUSPELKESOS ) seperti

halnya di bidang kesehatan adalah Pusat Kesehatan Masyarakat PKM) sebagai model pusat

pelayanan dasar bidang sosial di kota jayapura.

PUSPELKESOS adalah Unit pelayanan holistic (biopsikososial) dalam penangan masalah sosial secara menyeluruh yang berpusat pada pemenuhan kebutuhan klien ( pembangunan

manusia ) dengan menghubungkan sumber – sumber pelayanan kesejahteraan sosial dari sisi

internal dan eksternal dalam suatu manajemen kasus dalam pusat pelayanan baik itu sistem

pelayanan dasar klien dan sistem rujukan. Tujuan umum dari layanan ini adalah Terciptanya Tata

Kelolah Pemerintahan Yang Baik Dengan Meningkatan Kualitas Pelayanan Publik Bidang Sosial

Melalui Pengembangan Pusat Pelayanan Kesejahteraan Sosial di Papua. Tujuan khusus dari

pelayanan kesejahteraan sosial tersebut antara lain :

1.  Memudahkan akses layanan kesejahteraan sosial kepada PMKS melalui kegiatan

penjangkauan dan pendampingan klien

2.  Mengembangkan layanan yang terintegrasi melalui pengembangan sistem rujukan

3.  Menyediakan pelayanan kesejahteraan sosial yang berkualitas dan respon terhadap masalah –

(12)

4.  Optimalisasi standar pelayanan minimum SPM bidang sosial yang terintegrasi dengan

perencanaan dinas dan pelayanan kesejahteraan sosial di papua

5.  Penguatan sistem pendataan PMKS Papua yang akurat dan terupdate melalui pendataan

berbasis kasus yang terpusat.

6.  Terbangunnya sistem praktik pekerjaan sosial dalam mengembangkan kompetensi pekerja

sosial di papua.

7.  Menyiapkan pekerja sosial yang memberikan pelayanan kesejahteraan sosial integral yang

berpusat pada manusia dan untuk keberfungsian sosial bagi klien.

Kualitas pelayanan kesejahteraan sosial dalam mendukung peningkatan IPM di Papua akan

semakin terukur dan berkualitas, pertama jika sentuhan pelayanan kesejahteraan sosial yang terintegrasi dengan sektor lain. Kedua sistem standar pelayanan minimum ( SPM) itu terintegrasi dengan perencanaan dinas kesejahteraan sosial dan proses pengawasannya berjalan baik, ketiga

penguatan kapasitas kelembagaan pelayanan berjalan dengan baik dengan menjunjung tinggi

standar prosedur operasional ( SOP) dan layanan di institusi tersebut yang realistis, responsive

Gambar

Tabel Ringkasan Assessment Anak Jalanan Kota Jayapura
Gambar.  Kerangka pikiran membangun tatakelolah pelayanan publik bidang sosial
Gambar Diksusi Pertemuan Antar Dinas Sosial Kota, DPD IPSPI, Anak Jalanan, Pekerja Sosial

Referensi

Dokumen terkait

Definisi operasional pengelolaan sampah adalah kegiatan untuk melakukan pengumpulan, penampungan sementara, pengolahan, pengangkutan dan pemrosesan akhir

Za uspešno obrambo zoper naštete vrste zlonamerne kode in načine na katere ogroža naš sistem je potrebno nekaj truda in sredstev seveda nameniti tudi varnostnim aplikacijam

Dengan memberikan perlakuan pada bahan logam tersebut, yaitu dengan memanaskan logam sampai 200°C kemudian memberikan pendinginan secara cepat dengan zat cair

Out put rencana kerja Perubahan Kecamatan STL Ulu Terawas Kabupaten Musi Rawas adalah program tahunan Kecamatan STL Ulu Terawas yang sesuai dengan tupoksi

- Melihat kembali apakah informasi yang ada pada soal cukup serta kondisi apa yang harus dipenuhi. Dalam permasalahan tersebut syarat ini sudah terpenuhi karena

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk dan tata cara pemberian kompensasi terhadap pelayanan yang tidak sesuai dengan standar pelayanan publik

Pemberian jus daun ubi jalar dengan dosis 0,006 ml/ gr BB tikus selama 14 hari kurang efektif dalam menurunkan kadar trigliserida pada tikus wistar jantan yang diberi

Manfaat dari penggunaan media pembelajaran dalam kegiatan belajar di kelas menurut Kemp & Dayton (1985) adalah sebagai berikut. 1) Penyampaian pesan lebih