BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah - Forum Solidaritas Mahasiswa Medan (Forsolima) Dan Kelompok Studi Mahasiswa Merdeka (KSMM) 1990-1998: Studi Gerakan Mahasiswa Di Medan

25 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Sejarah gerakan mahasiswa bermula sejak pembentukan nation-Indonesia yang

diletakkan pada awal abad XX. Lahirnya Politik Etis1

Pentingnya berorganisasi menandai cara berjuang yang efektif dan efisien. Oleh

karena itu, dampak positif pendidikan menumbuhkan bibit organisasi modern pada 1908, di

antaranya Boedi Oetomo (BO) dan Indische Vereeninging (IV).

menyebabkan perkembangan politik

terutama bagi kalangan berpendidikan. Mereka kala itu, baik di Belanda maupun di

Indonesia, berefleksi untuk memperjuangkan kemerdekaan. Dengan kata lain, arti penting

kesadaran akan hak kebebasan diperoleh melalui lembaga pendidikan pasca-Politik Etis.

2

1

Politik Etis lahir tahun 1900. Pada hakikatnya, hal itu merupakan sebuah kebijakan lunak Belanda guna menenangkan rakyat Indonesia terutama dari perhatian internasional. Jadi, bukan balas budi sebagaimana sering ditafsirkan orang. Paling tidak berbagai gelombang kecaman lahir terhadap stelsel Belanda yang dianggap sebagai akibat buruk liberalisme. Kecaman berasal dari golongan Kristen, liberal progresif, dan sosial demokrat. Parakitri T. Simbolon, Menjadi Indonesia (Jakarta: Kompas, 1995), hlm. 168.

Keduanya lahir di dua

tempat berbeda: Jawa (Hindia Belanda) dan Belanda. Kedua organisasi ini menjadi awal

dimulainya pergerakan kaum terpelajar Indonesia. pemerintah kolonial Belanda sendiri

belum mengganggap secara serius dampak yang akan ditimbulkan nantinya. Pembentukan

organisasi seiring berlakunya Politik Etis masih dianggap sejalan dengan tujuan Politik Etis

2

Boedi Oetomo didirikan oleh Sutomo bersama beberapa rekannya dari sekolah dokter Jawa, Stovia, sekolah guru, sekolah pertanian, dan kehewanan dan sekolah pamong praja. Berdiri pada 20 Mei 1908, Budi Utomo menjadi jelmaan awal kebersamaan dalam corak modern atau sekarang ini disebut berorganisasi. Selengkapnya lihat Dawam Rahardjo dalam Denny J.A. Gerakan Mahasiswa dan Politik Kaum Muda era 80-an

(Yogyakarta: LKIS, 2006) hlm. xiii. Sedangkan Indische Vereeninging terbentuk pada 25 Oktober 1908.

(2)

itu sendiri, yaitu salah satunya, mendapatkan asisten dalam mengurusi bagian administrasi.

Perhitungan ini menguntungkan pihak kolonial sesuai perkembangan zaman sebab Belanda

cukup hanya mengawasi dan memberi komando yang mempermudah pekerjaan mereka.

Meskipun lembaga pendidikan masih diperuntukkan bagi anak bangsawan atau orang kaya,

kesempatan langka ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh pemuda/pelajar Indonesia.

Periode 1920-an, sebagian dari mereka membentuk Kelompok Studi (selanjutnya

disingkat KS).3 KS adalah organisasi yang beranggotakan beberapa mahasiswa/pelajar

dengan kegiatan utamanya berdiskusi. Irene H. Gayatri mendefinisikan KS sebagai suatu

bentuk kegiatan sekelompok mahasiswa di luar kampus yang masih tetap mempertahankan

posisi mahasiswa sebagai pelaku utama dan sekaligus kelompok sasaran yang dituju, dengan

penekanan kepada intelektualisme, khususnya mengkaji masalah-masalah teoritis.4

Satu hal yang menarik dari KS adalah peranannya dalam proses membangun

kebangsaan sejak awal abad XX. KS, dengan semangat nasionalismenya, telah memberikan

pengaruh besar berwujud penolakan terhadap kebijakan pemerintah kolonial Belanda.

Meskipun zaman silih berganti, pemikiran untuk membentuk KS memiliki alasan

yang sama, yaitu adanya kekuasaan yang melarang mahasiswa berkelompok atau

3

KS yang terbentuk, misalnya Kelompok Studi Indonesia (Indonesisce Studie-club) yang dibentuk pada 1924 di Surabaya. Di samping itu, berdiri Kelompok Studi Umum (Algemeen Studie-club) yang berdiri pada 1925. Adi Suryadi Cula, Patah Tumbuh Hilang Berganti: Sketsa Pergolakan Mahasiswa dalam Sejarah Politik Indonesia, 1990-1998 (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998), hlm. 24.

4

Irene H. Gayatri, Arah Baru Gerakan Mahasiswa 1989-1993 dalam Muridan S. Widjojo, (et.al.),

(3)

berorganisasi.5 Kekuatiran terhadap kelompok mahasiswa oleh penguasa Orde Baru turut

memengaruhi KS hadir sebagai organisasi alternatif.6

Di awal Orde Baru, 1968, KS terbentuk setelah kelompok mahasiswa yang tergabung

dalam KAMI meredup.7 KS yang ketika itu dinamakan dengan Studi Grup,8

Studi Grup (SG) berkembang dari Bandung yang dipelopori oleh kelompok

Mahasiswa Indonesia.

berdiri sebagai

simbol kekecewaan terhadap mantan aktivis mahasiswa yang masuk parlemen sebagai wakil

rakyat.

9

SG era enam puluhan muncul sebagai bentuk kekecewaan terhadap sikap aktivis,

terutama bagi mereka yang terpilih menjadi anggota legislatif, yang meninggalkan idealisme

yang diusung saat menjatuhkan Soekarno. Dalam sikap politik mahasiswa yang acapkali Setelah KAMI melemah, SG kemudian muncul hingga ke berbagai

kota, misalnya Jakarta, Jogjakarta, Surabaya, Denpasar dan sebagainya.

5

Lahirnya KS pada 1930-an, era Soekarno muda, diakibatkan oleh tiga hal: pertama, pemuda tidak bisa menyesuaikan diri dan kecewa pada partai politik yang ada; kedua, KS bisa menjadi media alternatif ketika pemerintah represif; ketiga, tidak dibatasi sekat-sekat kedaerahan. Muhammad Umar Syadat Hasibuan, Revolusi Politik Kaum Muda (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008), hlm. 38.

6

KS dikatakan sebagai alternatif yang lahir karena ketidakmampuan organisasi mahasiswa formal di kampus untuk menyatakan ide-ide kritis mahasiswa agar terciptanya suatu perubahan sosial. Suharsih dan Ign Mahendra K., Bergerak Bersama Rakyat: Sejarah Gerakan Mahasiswa dan Perubahan Sosial di Indonesia

(Yogyakarta: Resist Book, 2007), hlm. 91. 7

Tertanggal 25 Oktober 1965, Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) berdiri. KAMI dibentuk sebagai wadah penggalangan berbagai pandangan mahasiswa yang tampak beragam, namun memiliki keinginan bersama dalam memberikan koreksi bagi pemerintah Orde Lama. Selama dua tahun lebih, KAMI memiliki posisi tawar yang cukup besar terhadap konstelasi politik nasional. Satu di antaranya adalah aksi besar yang berlangsung sepanjang 1966 dan KAMI merupakan kesatuan mahasiswa yang turut menggalang aksi tersebut. Namun di akhir 1968, KAMI perlahan-lahan menghilang sejak adanya masalah wakil-wakil mahasiswa di DPR. Francois Raillon, Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia: Pembentukan dan Konsolidasi Orde Baru 1966-1974, Cetakan I (Jakarta: LP3ES, 1985), hlm. 12-15.

8

Studi Grup Mahasiswa Indonesia, Grup Diskusi Universitas Indonesia, Club Diskusi Kita, Kelompok Diskusi Generasi Muda adalah beberapa KS yang berdiri di penghujung 1960-an. Francois Raillon, ibid., hlm. 71-74.

9

(4)

menyedot perhatian, kali ini SG kelihatan tidak mampu berbicara banyak. SG tidak mampu

mengembalikan posisi tawar mahasiswa seperti halnya KAMI yang sanggup menyatukan

berbagai organisasi mahasiswa.

Peran SG tidak tampak jelas dalam dinamika politik yang kembali menggeliat sejak

memasuki tahun 1970. Sebaliknya aksi mahasiswa justru dilakukan oleh pimpinan organisasi

intrakampus, seperti Dewan Mahasiswa.

Masih di tahun yang sama, ternyata situasi politik semakin memanas. Hal ini ditandai

dengan retaknya, atau meminjam pernyataan Arif Budiman, sebagai kandasnya bulan madu

antara mahasiswa dan ABRI. Ditambah maraknya kasus korupsi seperti yang terjadi di tubuh

Permina (Pertamina) pimpinan Mayjend Ibnu Sutowo dan Bulog yang dipimpin oleh

Mayjend Ahmad Tirtosudiro. Sejak dari situasi yang tidak tenang inilah, mahasiswa mulai

kecewa terhadap rezim Soeharto.10

Sementara di sisi lain, mahasiswa mulai menyusun aksi protes atas perilaku pejabat,

korupsi yang merajalela, dan terutama terhadap kenaikan harga minyak tanah. Tidak hanya

sampai di situ, mahasiswa juga mulai menyoroti persoalan investasi asing yang tergolong

dalam IMF, World Bank, Inter-Govermental Group on Indonesia (IGGI) yang dipimpin J.P.

Pronk. “Namun terkait modal asing ini, kami lebih fokus kepada kedatangan Perdana Menteri

Jepang Kakuei Tanaka,” demikian menurut pimpinan Dewan Mahasiswa UI ketika itu.11

10

Imran Hasibuan, (et.al.), Hariman dan Malari: Gelombang Aksi Mahasiswa Menentang Modal Asing (Jakarta: Q-Communication, 2011), hlm. 25.

Saat

itu dualisme investasi asing sedang bertarung: pro-investasi Amerika versus pro-investasi

Jepang. Jepang dipilih sebagai investor yang mendorong model perekonomian.

11

(5)

Manuver-manuver politik pun menjadi ramai dalam perbincangan media. Baik Ali

Murtopo maupun Soemitro sama-sama melakukan manuver politik antara lain dengan

mengundang mahasiswa berdialog. Ali Murtopo mendirikan Centre for Strategic and

International Studies (CSIS) dan membangun koalisi dengan kelompok keagamaan. Lain

Murtopo, Soemitro pun berkeliling kampus-kampus di Jawa, kecuali Universitas Indonesia.

Bahkan Soemitro berkunjung ke Pulau Buru dan berniat akan membebaskan para tahanan

politik.

Pemantik perseteruan kekuasaan antara dua pembantu presiden telah terpicu sebelum

meletusnya gerakan 1973/1974. Yaitu antara Ali Murtopo yang menjabat asisten pribadi

presiden (aspri) dan Jenderal Soemitro selaku Pangkopkamtib. Keduanya berseteru dalam

kapasitas posisinya masing-masing yang banyak menunjukkan drama keintelijenan. Drama

ini menggambarkan kerumitan dalam mencari posisi kekuasaan dan mencair sejak peristiwa

Malari.12

Puncaknya pertikaian berujung pada Lima Belas Januari (Malari) 1974. Huru-hara

ketika itu terjadi setelah kedatangan PM Jepang Tanaka. Mahasiswa berdemonstrasi di jalan

dengan rute dari Salemba Universitas Indonesia dan berakhir di Universitas Trisakti, Grogol.

Di Grogol mereka membakar patung bergambar Ali Murtopo, Sudjono Hoemardani, dan

Tanaka. Akhirnya peristiwa 1974 ditutup dengan berbagai penangkapan terhadap aktivis

mahasiswa.

12

(6)

Empat tahun kemudian, gerakan mahasiswa kembali bersuara. Waktu itu kondisi

ekonomi mengalami disparitas yang mencolok dengan perbedaan pendapatan yang tidak

seimbang. Statistik mengungkapkan bahwa 40% penduduk miskin menguasai kekayaan

nasional hanya 15%. Sementara itu 40% penduduk menengah memegang kekayaan nasional

sebesar 40%. Namun ironinya, hanya 20% penduduk lapisan atas justru menguasai 45%

kekuasaan negara. Hal ini menyebabkan mahasiswa menilai bahwa pemerintah telah gagal

dan berbohong atas janjinya memperbaiki distribusi kesempatan dan hasil pembangunan.13

Gerakan mahasiswa muncul mengkritisi persoalan di atas. Keprihatinan ditunjukkan

dengan menggelar protes seperti menggelar spanduk yang berisi tuntutan menguak isu

penolakan terhadap pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden untuk yang ketiga

kalinya. Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) menerbitkan Buku Putih Perjuangan

Mahasiswa 1978. Buku ini berisi protes dan mencerca pemerintah terkait korupsi yang

meluas, kebijakan ekonomi yang akrab hanya memperkaya diri sendiri, dan hilangnya

komunikasi dengan rakyat.14

Akan tetapi pemilihan umum tahun 1976 tetap membawa Soeharto menuju

singgasana RI-1. Sesuai dengan penolakan sebelumnya, mahasiswa kembali memprotes hasil

pemilihan tersebut. Mereka tidak mengakui Soeharto sebagai presiden terpilih. Di sini

mereka menolak tegas dengan berunjuk rasa hingga ke depan istana negara. Mereka

menyatukan diri dari pelbagai Dewan Mahasiswa dan menghindari afiliasi dengan faksi elite.

Dengan demikian, mereka melakukan aksi demonstrasi di mana tuntutan diarahkan kepada

Presiden Soeharto, bukan pembantu-pembantunya sehingga dianggap melawan hukum.

13

Suharsih, op.cit., hlm. 84. 14

(7)

Praduga ini kemudian direalisasikan melalui Staf Komando Soedomo yang

menyatakan bahwa mahasiswa telah melawan hukum dan melanggar konstitusi. Hal ini

diperjelas lagi ketika kedatangan mahasiswa ke MPR pada 07 Januari 1978 yang dianggap

sebagai pelecehan terhadap lembaga tertinggi di Indonesia.

Menanggapi aksi protes mahasiswa, Presiden Soeharto angkat bicara. Ia menyatakan

bahwa demonstrasi sah-sah saja asalkan sesuai dengan fakta dan kebenaran. Sebab jika unjuk

rasa dilakukan dengan tidak benar apalagi tanpa fakta yang tepat, maka bisa membahayakan

Pancasila dan melanggar konstitusi. Oleh karena itu, beliau berharap agar mahasiswa

hati-hati dalam mempergunakan hak kebebasannya.

Meskipun pidato tersebut menyerupai himbauan, namun melalui pidato inilah keluar

kebijakan untuk membubarkan lembaga resmi mahasiswa seperti Dewan Mahasiswa. Dengan

demikian, lahirlah SK Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib)

21 Januari 1978 tentang pembubaran Dewan Mahasiswa semua universitas dan pendudukan

kampus oleh militer. Tidak hanya itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan juga

mengeluarkan instruksi nomor 1/U/1978 dan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor

037/U/1979. Sejak saat itu, mahasiswa hanya diperbolehkan berkegiatan seputar

kesejahteraan, rekreasi, dan persoalan akademik.

Pemerintah melalui Panglima Kopkamtib Sudomo (Militer) dan Daoed Joesoef

(Mendikbud) mengeluarkan kebijakan baru tentang aktivitas mahasiswa yang dipandang

(8)

normalisasi kehidupan kampus (NKK) yang digunakan sebagai alat untuk mendepolitisasi

kampus.15

Selain itu, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi juga mengeluarkan instruksi nomor

002/DK/Inst/1978 yang menempatkan semua aktivitas mahasiswa berada di bawah kendali

Pembantu Rektor III dan Pembantu Dekan III di setiap fakultas. Kebijakan ini bermuara bagi

adanya koordinasi kampus demi menjalankan normalisasi politik kampus seperti diharapkan

pemerintah. Dengan demikian, pada 24 Februari 1979, Mendikbud mengeluarkan SK nomor

037/U/1979 tentang susunan lembaga/organisasi kemahasiswaan lingkungan Perguruan

Tinggi Departemen P dan K. Wujudnya adalah di setiap Perguruan Tinggi dibentuk badan

koordinasi kemahasiswaan (BKK) sebagai badan non-struktural yang membantu rektor untuk

merencanakan kegiatan mahasiswa. Sesuai peraturan tersebut, kampus berbenah untuk tidak

berdiskusi seputar tema politik yang cenderung dianggap menjadi akar perlawanan

mahasiswa.

Pertengahan 1980-an, setelah legislasi pemagaran ditetapkan, KS16 hadir sebagai

respons terhadap kebijakan baru pemerintah yang mengekang mahasiswa berpolitik praktis.

Dengan mengangkat isu-isu lokal,17

15

Gerakan mahasiswa sejak 1974 sampai 1978 direspons oleh pemerintah Orde Baru dengan cara-cara represif dan militeristik. Tindakan ini kemudian diperkuat dengan Keputusan Pangkopkamtib No. SKEP.02.KOPKAM/1978 tentang pembekuan Dewan Mahasiswa diikuti dengan keputusan Menteri P & K, Dr. Daoed Joesoef, No. 0156/U/1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus. Muchtar E. Harahap dan Adris Basril, Gerakan Mahasiswa dalam Politik Indonesia (Jakarta: Network for South East Asian Studies, 2000), hlm. 55. Lihat juga Adi Suryadi Cula, op.cit., hlm. 118-120.

mereka mencoba untuk membangkitkan semangat kritis

16

Pembungkaman pemerintah terhadap kampus-kampus dalam 1980-an memunculkan format baru gerakan mahasiswa. Beberapa KS yang lahir ketika itu, di antaranya Kelompok Diskusi Nommensen (KDN), Kelompok Studi Mahasiswa Hukum (KSMH), Kelompok Kerja Studi Perkotaan, Forum Komunikasi Nommensen.

17

(9)

dan daya juang mahasiswa yang berlangsung hingga dekade berikutnya.18

Perbedaan yang dapat dilihat terhadap gerakan mahasiswa era 1980-an adalah dalam

bentuk aksi yang mereka lakukan. Jika pada periode 1966, 1974, dan 1978, gerakan

mahasiswa akrab dengan aksi massa, turun ke jalan dan dalam kurun waktu yang cukup

lama, maka gerakan mahasiswa 1980-an justru bergerak dalam aksi informasi seperti melalui

pers mahasiswa, membagikan selebaran, dan melakukan penyadaran. Aksi informasi tentu

tidak membutuhkan massa sampai ratusan bahkan ribuan orang.

Gerakan dalam era

ini secara kasat mata berbeda dengan gerakan periode sebelumnya.

19

Jika gerakan mahasiswa sebelum 1980 selalu menonjolkan isu-isu nasional, maka isu

lokal menggantikannya sebagai bentuk perlawanan baru dengan pertimbangan ketidaksiapan

mendobrak pusat kekuasaan. Pergeseran isu dari nasional ke lokal merupakan keunikan

tersendiri dari gerakan mahasiswa. Jika menelaah gaya hidup mahasiswa, maka tampaklah

betapa mereka jarang memberi waktu untuk memperhatikan kehidupan masyarakat kelas

bawah seperti petani, buruh dan sebagainya. Namun, para aktivis mahasiswa 1980-an

membuktikan kalau mereka juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kaum tani,

buruh, nelayan ataupun kaum miskin kota.

Pada masa ini mahasiswa memiliki kesempatan luas mempelajari berbagai literatur

dan juga membantu advokasi kasus-kasus rakyat. Itulah yang mereka lakukan selama

tanah di Tapanuli Utara yang dirampas oleh PT. Inti Indorayon Utama (IIU) atau kini berganti nama menjadi PT. Toba Pulp Lestari dengan lokasi pabrik terletak di Sosor Ladang, Porsea, Toba Samosir. Selain itu terdapat juga Sei Belumai, Sei Lepan di Sumatera Utara. Lihat Dimpos Manalu, Gerakan Sosial dan Perubahan Kebijakan Publik: Studi Kasus Gerakan Perlawanan Masyarakat Batak vs PT. Inti Indorayon Utama di Sumatera Utara (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2009).

18

Syadat Hasibuan, op.cit., hlm. 69. 19

(10)

tindakan pemerintah masih mengekang aktivitas politik mahasiswa. Hilangnya peranan

negara dalam mensejahterakan rakyat mengakibatkan munculnya ketimpangan sosial atau

ketidakadilan.20

Selanjutnya di era 1990-an sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia meninggalkan

catatan yang panjang. Berlarutnya sterilisasi politik kampus dari kepekaan terhadap

sosial-politik akhirnya membawa dampak pada organisasi mahasiswa ekstra-kampus. Organisasi

ekstra-kampus, salah satunya KS, pada era ini adalah sebentuk bandul baru dalam

membangun gerakan mahasiswa.

Berbicara mengenai gerakan mahasiswa di Indonesia, tentu tidak dapat dipisahkan

dari faktor-faktor khusus yang mendukungnya. Betapapun gerakan mahasiswa berperan dan

ikut dalam setiap perubahan politik, umumnya diperankan oleh organisasi mahasiswa.

Skripsi ini membahas tentang dua organisasi mahasiswa di Medan, yaitu Forum

Solidaritas Mahasiswa Medan (Forsolima) dan Kelompok Studi Mahasiswa Merdeka

(KSMM) dalam kurun 1990-1998. Dalam konteks menjelang reformasi, kapasitas KS

merupakan satu bagian yang mendapat perhatian. Hal ini disebabkan oleh KS menjadi

inspirasi gerakan mahasiswa waktu itu.

20

(11)

1.2Rumusan Masalah

Rumusan masalah skripsi ini terdiri atas:

a) Bagaimana latar belakang, kelahiran dan bentuk kaderisasi Forsolima dan

KSMM?

b) Bagaimana aktivitas Forsolima dan KSMM dalam aksi pra-reformasi di Medan.

1.3Tujuan dan Manfaat Penelitian

Adapun tujuan penulisan skripsi ini adalah menjelaskan ruang lingkup Forsolima dan

KSMM serta keterkaitan keduanya, sebagai KS, terhadap gerakan mahasiswa di Medan

dalam kurun waktu 1990-1998.

Adapun manfaat yang diharapkan dari skripsi ini:

a) Menambah perbendaharaan atau melengkapi sejarah gerakan sosial di Medan.

b) Sebagai pengayaan tentang perjalanan gerakan mahasiswa di Medan.

1.4Tinjauan Pustaka

Dalam kajian gerakan mahasiswa 1990-an, Gunawan21

21

FX Rudi Gunawan (et.al.), Menyulut Lahan Kering Perlawanan Gerakan Mahasiswa: Tribute to Andi Munajat (Jakarta: Penerbit Spasi & VHR Book bekerja sama dengan Friedrich Ebert Stiftung, 2009).

mendeskripsikan mereka

sebagai “semak kering yang mudah dibakar.” Refleksi atas kondisi sosial politik, dan

ekonomi pada masa Orde Baru menjadi dasar utama hadirnya gerakan mahasiswa yang lebih

kritis. Gerakan mahasiswa 1990-an itu sendiri tidak bisa dilepaskan dari pergerakan periode

sebelumnya. Seperti telah disinggung di atas, gerakan mahasiswa pasca-kebijakan yang

(12)

rakyat. Misalnya, kasus Kedung Ombo di mana KS turun ke basis membantu petani untuk

melawan perampas tanah.

Gunawan juga memperbincangkan pertumbuhan awal gerakan mahasiswa dasawarsa

itu dari KS hingga forum-forum mahasiswa lintas kota. Selain itu, turut ikut terlibat adalah

Persatuan Rakyat Demokratik (PRD).22

Karya lain, Daniel Dhakidae dalam bukunya Cendekiawan dan Kekuasaan dalam

Negara Orde Baru menjelaskan dengan panjang lebar dan terperinci, turut membantu bagi

penulisan skripsi ini.23

Dhakidae membahas wacana intelektualitas dalam interval Orde Baru. Di mana

sepanjang tiga dasawarsa tersebut, Dhakidae mengkaji kedudukan kaum cendekiawan yang

masih secuil dari segudang persoalan kecendekiaan yang tidak maksimal dan tepat sasaran

selama masa pembangunan. Bahkan kelompok cendekiawan dikatakan memiliki kepentingan

politis yang terlalu bercampur-baur dengan kegiatan akademis-ilmiah murni. Dengan kata

lain, kaum cendekia tidak bisa lepas dari intervensi politis dalam lingkungan kekuasaan Orde

Baru.

Diterbitkannya kebijakan yang ditujukan untuk mempersempit peran politik

mahasiswa merupakan salah satu buah dari miringnya tugas kaum cendekiawan di Indonesia.

Lingkungan kekuasaan yang teknokratis oleh Dhakidae disebut menjadi salah kaprah dalam

22

PRD merupakan salah satu kelompok yang sifatnya lintas kota dan ditujukan untuk menampung aktivis-aktivis yang dianggap radikal. Persatuan Rakyat Demokratik dibentuk pada 02 Mei 1994 di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI) Jakarta bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Ketua Umum PRD terpilih adalah Sugeng Bahagijo, mahasiswa filsafat UGM didampingi Tumpak Sitorus, mahasiswa Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) Jakarta Selatan sebagai Sekretaris Jenderal. (Tabloid MomenT, No. 04/Tahun I/1994)

23

(13)

kapasitas seorang Mendikbud sebagai cendekiawan. Mahasiswa justru disuruh hanya

memenuhi pekerjaan belajar dan tidak perlu mencampuri urusan politik. Padahal mahasiswa

adalah bagian dari kelompok cendekiawan yang tidak sedikit menyumbang ilmu pengetahuan

dan juga semangat mudanya yang menjadi penerus dalam menahkodai bangsa Indonesia.

Tomagola memerinci Cendekiawan dan Kekuasaan sebagai berikut:

“Dengan memanfaatkan, baik kerangka pikiran maupun cara pendekatan Foucaultian yang

sangat menekankan pentingnya peneropongan realitas sebagai sesuatu yang terus bergerak dalam suatu

proses relasional yang dialektis, Dhakidae menggeledah-periksa ruang bawah tanah dan loteng penuh

laba-laba di mana bertebaran dokumen-dokumen tentang cengkeraman kuku rezim Orde Baru dan

kiprah-geliat perlawanan para cendekiawannya.”24

Kajian lain yang memberikan deskripsi mengenai mahasiswa adalah Patah Tumbuh

Hilang Berganti: Sketsa Pergolakan Mahasiswa dalam Politik Sejarah Indonesia

(1990-1998).25

Kajian berikutnya yang membahas tentang KS adalah karya Denny J.A., mantan

aktivis mahasiswa. Ia mengatakan bahwa akurasi pergerakan dengan sasaran patutnya Buku ini menguraikan proses gerakan mahasiswa di Indonesia sejak

pra-kemerdekaan hingga reformasi 1998. Isinya merunut gerakan-gerakan mahasiswa yang telah

terjadi di tiap zamannya. Sebagaimana judulnya, gerakan mahasiswa diurutkan bagai anak

tangga dengan catatan-catatan peristiwanya. Demikianlah secara ringkas buku ini

merekapitulasi perjalanan gerakan mahasiswa yang berimplikasi langsung terhadap

kehidupan berbangsa dan bernegara.

24

Tamrin Amal Tomagola, Republik Kapling (Yogyakarta: Resist Book, 2006), hlm. 170. 25

(14)

dikonsentrasikan agar dalam pergerakan mahasiswa memiliki tendensi yang

dinanti-nantikan.26

Selain itu ada karya Muchtar E. Harahap dan Andrias Basril dalam Gerakan

Mahasiswa dalam Politik Indonesia.

Buku ini menjelaskan refleksi terhadap gerakan mahasiswa yang telah

berkali-kali terjun menyuarakan aspirasinya, namun acapberkali-kali tidak menemukan hasil memuaskan.

Kemudian di dalam buku ini juga diuraikan bagaimana refleksi terhadap perkembangan

gerakan mahasiswa yang selanjutnya melahirkan KS. KS dalam dinamikanya juga

mengalami pro dan kontra sebagai wadah yang tepat dalam memompa kekritisan mahasiswa.

Singkatnya, maju-mundurnya politik kaum muda dalam era KS merupakan fokus yang

menarik untuk dikaji.

27

Dalam perspektif lain, Bergerak Bersama Rakyat: Sejarah Gerakan Mahasiswa dan

Perubahan Sosial di Indonesia karangan Suharsih dan Ign Mahendra K. memuat deskripsi

untuk memenuhi ruang teori dalam memandang skripsi ini.

Buku ini menjelaskan tentang sikap mahasiswa yang

militan, progresif, dan posisi politik (bargaining) yang kuat. Mahasiswa disebut sebagai

gerakan oposan paling mungkin dan ideal. Tetapi sehubungan dengan hal itu, buku ini

menekankan bahwa gerakan mahasiswa bukanlah faktor utama, melainkan salah satu faktor

dalam gerakan sosial menentang pemerintah, termasuk pada rezim Soeharto. Di samping itu,

Harahap dan Basril juga memberi analisis terhadap politik mahasiswa dan sebab-sebab

kemunculan aksi-aksi politik dan serangkaian teori. Terkait aksi, dijelaskan secara periode

per periode.

28

26

Denny J. A., loc.cit.

Isinya memuat analisis seputar

27

Muchtar E. Harahap dan Adris Basril, loc.cit.

28

(15)

resistensi mahasiswa terhadap sikap dan kebijakan rezim neo-liberal yang didukung oleh

penguasa-penguasa dalam negeri. Hal ini juga mengungkapkan bahwa perjuangan mahasiswa

harus terus digelorakan dengan banyak bercermin dari sejarah. Gerakan mahasiswa

diharapkan dapat lebih kritis, bermutu, kuat, dan agar lebih cepat mencapai cita-citanya:

memperjuangkan kepentingan rakyat. Memperjuangkan rakyat merdeka sepenuhnya tanpa

harus dijajah kekuatan asing, sehingga mendongkel impian seluruh anak bangsa.

Karya lain adalah Kisah Perjuangan Reformasi oleh Selo Soemardjan (ed.) yang

merupakan kumpulan tulisan dari para akademisi tentang kajian sosiologi dan ekonomi.

Kajian yang sedikit-banyak membantu menjelaskan peristiwa reformasi 1998 di Indonesia

serta menguraikan sebab-sebab munculnya aksi-aksi politik yang berujung pada reformasi

secara nasional.29

Buku lain yang mengkaji tentang pergerakan mahasiswa adalah Radikalisme Kaum

Pinggiran: Studi tentang Ideologi, Isu, Strategi dan Dampak Gerakan.30 Karya ini

menuturkan bahwa gerakan mahasiswa yang terjadi di Medan tergolong lambat, terbukti dari

masih banyaknya kelompok mahasiswa yang konsisten dengan peraturan kampus. Di sinilah

dapat digolongkan beberapa jenis mahasiswa mulai dari yang apatis hingga yang kritis.

Penggolongan tersebut tidak dijabarkan dalam skripsi ini karena sudah cukup jelas betapa

gerakan mahasiswa masih terlihat belum berani keluar dari zona nyaman mereka.

29

Selo Soemardjan (ed.), Kisah Perjuangan Reformasi (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999). 30

(16)

1.5Metode Penelitian

Dalam penelitian sejarah terdapat empat tahapan sebagaimana disebut Kuntowijoyo,31

Dalam kajian ini juga dilakukan wawancara. Dalam hal penelitian, wawancara

merupakan salah satu bentuk implementasi penelitian yang sangat penting. Setelah

pengumpulan data, maka dilanjutkan dengan kritik ekstern dan kritik intern. Langkah

berikutnya adalah membuat interpretasi atau penafsiran berdasarkan data dan fakta

se-objektif mungkin. Terakhir, melakukan eksplanasi peristiwa secara kronologis dan sistematis

dalam historiografi.

yaitu heuristik, verifikasi, kritik sumber, dan terakhir historiografi atau tahap penulisan.

Tahap pertama adalah yang paling penting karena bergelut dengan data dan fakta atau

sumber, sebab sumberlah yang berbicara dalam penelitian sejarah yang apa adanya.

Selebihnya, penambahan oleh penulis sebagai eksplanasi agar data dan fakta itu tidak

tercerabut, melainkan terjalin utuh. Sehubungan dengan hal itu, studi pustaka diperlukan

dengan mempergunakan buku-buku dan dokumen. Studi kepustakaan juga dilakukan untuk

mengumpulkan studi-studi lain yang sedikit banyak membahas tema yang sama sebagai

bahan perbandingan.

32

1.6Pendekatan Teori

Gerakan mahasiswa berhubungan langsung dengan kondisi sosial-politik yang terjadi

di masyarakat. Kondisi sosial-politik masyarakat di bawah dominasi politik Orde Baru

melahirkan kemiskinan dan kebodohan. Ekspresi demokrasi yang hampa telah membuat

kualitas kesejahteraan rakyat jauh dari harapan. Di samping itu, kenyataan bahwa selama 30

31

Lihat Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah (Yogyakarta: PT. Bentang Pustaka, 1993). 32

(17)

tahun lebih masyarakat Indonesia hidup di bawah represifnya Orde Baru berdampak bagi

psikologi masyarakat yang tidak mampu melakukan usaha atau inovasi.

Selama Orde Baru berkuasa, bangsa Indonesia tenggelam dalam pusaran politik

kekuasaan otoriter dan manipulatif. Bangsa ini dibuai dengan konsep kapitalis yang lebih

menekankan modal daripada melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas. Dengan

demikian, kondisi sosial sulit dapat dikatakan berpihak kepada rakyat sekalipun sering

disebut sebagai masa pembangunan. Kesan pembangunan yang dikumandangkan tidak

berbanding lurus terhadap kehidupan rakyat yang larut dalam kemiskinan.

Berangkat dari situasi sosial, ekonomi, dan politik yang melandasi kekecewaan

masyarakat menjadi fokus dalam pendekatan teori. Dalam kaitan tersebut, pengalaman

kesulitan di atas pada akhirnya akan menciptakan kesadaran masyarakat. Sehubungan dengan

itu, penulis juga mengaitkannya dengan teori gerakan sosial. Pendapat Marx bahwa

kesadaran dipengaruhi oleh keadaan sosial di sekitarnya, misalnya tampak seperti berikut:

“Menurut Marx, kesadaran itu berakar pada praxis manusia yang pada gilirannya bersifat

sosial. Inilah pengertian dari bukan kesadaran yang menentukan eksistensi orang, tetapi

sebaliknya kehidupan sosial merekalah yang menentukan kesadaran mereka.”33

Kesadaran sosial akan menjadi kekuatan bagi masyarakat untuk meretas kehidupan

sehari-hari mereka demi melepaskan diri dari kondisi sosial lama. Oleh karena itu, satu hal

yang menjadi analisis dalam keterkaitan itu adalah pentingnya gerakan sosial. Lebih lanjut

33

(18)

gerakan sosial menurut Giddens adalah suatu keberanian untuk berusaha menstabilkan suatu

tata kehidupan yang baru.

Agar pemahaman tidak meluas, maka perlu kiranya definisi gerakan sosial dibahas

supaya dapat menjadi acuan dalam pembahasan berikutnya. Ada berbagai macam defenisi

yang menguraikan tentang gerakan sosial, misalnya Singh dan Wilson.34

Gerakan sosial kerap dipandang sebagai simbol protes yang dilancarkan masyarakat

terhadap struktur-struktur sosial pemerintah yang jarang merealisasikan kehendak rakyat.

Oleh karena itu, gerakan sosial secara umum dilancarkan oleh masyarakat termasuk

mahasiswa agar tercipta suatu perubahan sosial dan juga politik dengan dukungan dari

masyarakat di luar struktur politik formal. Dari sini dapat disimpulkan bahwa gerakan

mahasiswa merupakan bagian dari gerakan sosial.

Keduanya memiliki

tendensi terhadap peletakan perubahan setelah mengusir ketidakpuasan. Hal ini merupakan

siklus yang saling melengkapi, namun kurang padu apabila digeneralisasikan.

Kecenderungan kembalinya kekuasaan yang mengacaukan perjuangan panjang menjadi satu

hal yang harus diwaspadai. Akan tetapi, pandangan Wilson tentu mendapat tempat lebih luas

sebab menurutnya gerakan sosial tidak ditujukan untuk memperoleh posisi-posisi kekuasaan.

Akan tetapi, secara spesifik ditujukan sebagai tawar-menawar agar pembuat keputusan

terpengaruh dan memihak mereka. Jadi, gerakan sosial adalah jalan menuju sebuah

perubahan.

34

(19)

Munculnya gerakan sosial tidak terlepas dari situasi sosial yang permanen di

masyarakat. Mereka akrab menerima perlakuan tidak adil; campur tangan pemerintah hanya

sekadar penampakan muka; ketidaksetaraan akibat dari pembangunan yang meminggirkan

masyarakat. Konsep ini kerap dikenal dalam bidang ilmu sosial di mana Rajendra Singh

sebagai tokoh yang turut ambil andil dalam teori sosial.

Dalam teori gerakan sosial terdapat tiga kecenderungan sebagaimana pembagian yang

diletakkan Ron E. Robert dan Robert Marsh Kloss: industrialisasi, birokratisasi, dan

imperialisasi.35

Kecenderungan sosial terhadap birokratisasi memunculkan konflik di tengah-tengah

masyarakat akibat alienasi, kontrol masyarakat yang hierarkis, serta tidak sesuainya praktik

kerja lembaga masyarakat dengan kapasitasnya. Kecenderungan ini memunculkan gerakan

mahasiswa yang anti-birokrasi di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia. Secara

umum gerakan sosial dipicu oleh kekecewaan terhadap sebuah sistem politik suatu negara.

Akibat ketidakpuasan ini lahirlah titik-titik api penyulut perlawanan. Sementara itu, Dimpos

Manalu dalam studi kasusnya menyebutkan juga selain karena desakan kekecewaan, desakan

legalitas, bahkan melalui institusi formal, gerakan sosial juga terlahir sebagai akibat dari

gerakan rakyat yang didukung secara luas.

Setiap kecenderungan tersebut memiliki alasan dan varian yang berbeda.

Gerakan sosial yang berbeda satu sama lain dapat dibaca sesuai dengan teori yang disebut

Robert dan Kloss. Dalam pada itu, pembahasan hanya difokuskan terhadap kecenderungan

birokratisasi.

36

35

Seta Basri dalam

Dalam konteks Indonesia, gerakan sosial dipicu

36

(20)

oleh masifnya tindakan dan kebijakan represif dari pemerintah. Selain itu, terdapat juga

pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), ketimpangan sosial dan ketidakpastian hukum serta

militerisme.

Gerakan sosial di Indonesia merupakan gerakan pro-demokrasi yang

dikumandangkan demi menegasi cengkeraman militeristik Orde Baru. 37

Manalu menulis bahwa Gerakan Sosial Baru (GSB)

Konfrontasi itu

dibangun secara multiorganisasional seperti gerakan mahasiswa, gerakan perempuan dan

lembaga swadaya masyarakat. Mereka pun melakukan aksi nyata seperti unjuk rasa ke jalan,

selebaran gelap, boikot, penerbitan pers alternatif, aksi teatrikal dan seterusnya merupakan

tindakan kolektif yang dilandasi kesadaran bersama setiap elemen. Dalam hal gerakan sosial,

di sini difokuskan kepada sub-gerakan sosial yang juga tidak kalah daya dobraknya terhadap

kekuasaan suatu rezim, yakni mahasiswa.

gerakan mahasiswa dengan gerakan sosial. Keterkaitan keduanya, terutama sekali terlihat

sejak 1968 dalam gerakan reformasi yang terjadi di Perancis dan Berlin serta Italia (1969)

yang dipelopori oleh mahasiswa.

38

(21)

Tentang gerakan di era 1960-an ditandai dengan Perang Dingin. Perang Dingin yang

melambangkan perseteruan antara komunis melawan kapitalis sedikit banyak memengaruhi

peta perpolitikan dunia. Salah satu akibat Perang Dingin antara Amerika Serikat dengan

sekutunya dan Uni Soviet dengan sekutunya adalah pecahnya perang Vietnam. Vietnam

sebagai salah satu basis komunis diserang oleh Amerika, namun perang ini dimenangkan

Vietnam. Perang ini menjadi sejarah baru dalam perpolitikan dunia dalam logika kekuasaan

negara adidaya.

Sementara itu pendulum global pada dasawarsa 1980 bergerak ke Kanan.39 Hal ini

ditandai dengan rubuhnya Sosialisme di Eropa Timur dan runtuhnya totalitarianisme

Komunis di Cina. Melihat fenomena ini, tesis Francis Fukuyama seolah menemui

kebenarannya yang mengatakan, “Kapitalisme merupakan akhir dari sejarah umat manusia.”

Ia berpendapat bahwa Sosialis maupun Komunis telah berakhir dan sulit menandingi

kapitalisme.40

Pada 1989, peristiwa di Cina mengejutkan dunia dengan memaksa demonstran damai

tunduk di bawah desingan bayonet. Peristiwa Tiananmen tersebut membunuh ratusan

39

Terminologi “Kanan” dan juga “Kiri” berawal dari rapat parlemen pasca-Revolusi Perancis abad ke-18. Dalam rapat paripurna yang digelar ketika itu terdiri dari tiga kelompok yang duduk dengan perspektif yang berbeda satu sama lain. Kelompok pertama yang pro-ideologi konservatif dan liberal bersila di sebelah kanan pemimpin sidang dan kelompok yang kontra duduk di barisan sebelah kiri. Sedangkan kelompok terakhir duduk di tengah atau tidak memihak, netral. Kelompok yang terakhir ini disebut juga sebagai kaum yang demokrat. Sejak itulah terminologi Kiri/Kanan masuk ke dalam leksikon politik. Pendukung Kanan yang berciri demokrasi liberal adalah Amerika Serikat sebagaimana berikutnya pada dasawarsa 1990, Presiden AS, Ronald Reagen dan Perdana Menteri Inggris Margaret Tatcher kemudian membawa kelompok konservatif menjadi satu-satunya ideologi yang dianggap oleh Barat sebagai yang lebih baik. Hal ini juga dijabarkan Francis Fukuyama. Sementara untuk terminologi Kiri, sejak Revolusi Perancis lebih ditujukan sebagai kelompok oposisi, bukan komunisme sebagaimana dua abad kemudian pasca Revolusi Perancis. Kiri akrab dikaitkan dengan ideologi Komunis. Kasijanto Sastrodinomo, Kiri (Juga Kanan) dalam Majalah Tempo, 30 Mei 2011.

40

(22)

demonstran, kemudian ratusan lainnya juga ditangkapi bahkan sampai ada yang melarikan

diri meminta suaka ke luar negeri.

Akhir sejarah yang dimaksud muncul dari pengamatan terhadap pelbagai sistem

ideologi yang dimiliki berbagai negara khususnya negara-negara kuat pasca-perang.

Meskipun demikian, Fukuyama menegaskan bahwa bukanlah perang yang akan berakhir,

melainkan pemahaman sejarah sebagai proses tunggal, bersifat evolusioner, koheren, serta

memperhitungkan pengalaman manusia dari setiap zaman. Negara-negara totaliarianisme

seperti Jerman maupun Uni Sovyet telah gagal mempertahankan kekuasaannya. Dampaknya

yang terus berkembang hingga Perang Dunia Kedua berakhir adalah munculnya

negara-negara demokrasi sebagai tuntutan dari tidak tahannya masyarakat terus-menerus berada di

bawah kekuasaan totaliter. Hal ini berbeda dengan gaya otoriter tradisional. Munculnya

demokrasi liberal yang marak di beberapa negara seperti pecahan-pecahan Uni Sovyet

membuat Fukuyama menarik tesis bahwa sistem fasis, totaliter sudah tidak terpakai lagi

dalam sejarah masa depan umat manusia.

Pendapatnya yang kuat bahwa sejak runtuhnya Uni Sovyet pada 1991 dan ambruknya

Tembok Berlin adalah dua hal yang menjadi data sahih dari sekian banyak lagi pasca-Perang

Dingin yang merepresentasikan secara akurat kemenangan kapitalisme dan demokrasi liberal

di seluruh penjuru dunia.41

41

Francis Fukuyama, loc.cit.

Runtuhnya Uni Sovyet menimbulkan beberapa dampak terhadap

situasi global: berakhirnya Perang Dingin; berkurangnya kecemasan dunia terhadap

(23)

demokrasi; Amerika Serikat bertengger sendirian sebagai negara adidaya; serta tumbangnya

komunisme di beberapa negara Eropa Timur.

Dengan bergeraknya pendulum global ke Kanan, ideologi Kiri42

Gerakan sosial yang berkembang pun seolah didukung penganut kapitalisme itu

sendiri dengan mengangkat tema-tema berupa feminisme, lingkungan dan HAM. Amerika

Serikat yang menjadi sentral Kanan turut menggalakkan teori gerakan sosial tersebut.

Indonesia yang menjalin hubungan erat dengan Amerika di bawah Soeharto terpaksa menurut

kepada perintah Amerika Serikat mengenai penggunaan teori baru tersebut.

seperti kata Marx

seakan menggali kuburnya sendiri. Dengan demikian tesis Fukuyama menjadi bulan-bulanan

perbincangan politik dunia yang seolah lebih dipercaya. Di sinilah teori kapitalisme yang

dianggap telah menang kemudian didesain menjadi ideologi global.

Sebagai negara yang membutuhkan donor, terutama dari Amerika Serikat, Indonesia

mulai menerapkan kebijakan yang lebih lunak, disesuaikan dengan isu HAM. Bahkan

Indonesia diminta untuk mengusut kasus-kasus pelanggaran HAM.

Pada kesempatan ini, di Indonesia mulai terjadi perubahan politik di tingkat elite. Era

keterbukaan mulai didengungkan yang ditandai dengan banyaknya bermunculan Lembaga

Swadaya Masyarakat, aksi gerakan mahasiswa maupun masyarakat yang menunjukkan

42

(24)

ketidakpuasannya terhadap pemerintahan Orde Baru. Bahkan di tubuh militer sendiri mulai

terjadi perpecahan.

Berkaca terhadap negeri sendiri, Soeharto, diyakini akan mengalami kehancuran tidak

berapa lama lagi. Terkait pengaruh, justru gerakan buruh di Indonesia semakin menguat.

Misalnya, munculnya Wiji Thukul dengan sajaknya yang dianggap begitu membahayakan:

“Hanya ada satu kata: Lawan!”43

Inilah wacana baru yang bahkan menjadi awal koreksi tanpa henti terhadap kekuasaan

Orde Baru. Gerakan di Indonesia terutama pejuang demokrasi seperti mahasiswa bahkan

semakin intens mencari teori-teori Kiri untuk memecahkan persoalan yang mereka hadapi.

Meskipun pelarangan terhadap buku-buku44

Selanjutnya, Dimpos Manalu menjabarkan bahwa kehadiran GSB tersebut merupakan

suatu jalan lain dari gerakan sosial yang selama ini bertumpu kepada Marx, yakni

pertentangan kelas. Pertentangan kelas populer sebagai ideologi gerakan sosial yang

dipelopori oleh kaum buruh. Dengan demikian, gerakan sosial lama (konvensional) bertumpu berpendirian kiri dilarang peredarannya,

namun bagi mahasiswa hal itu bukan menjadi penghalang. Sebaliknya mereka semakin

mencari dan membacanya dari tangan ke tangan, walaupun dalam bentuk fotokopian.

43

Penyair asal Solo yang bernama asli Widji Widodo merupakan aktivis yang hilang hingga hari ini. Ia merupakan penyair yang membangkitkan semangat perlawanan, terutama kaum buruh. Menyair tentang kisah pedih sosial-politik Orde Baru sejak 1980 terkenal dengan puisinya berjudul “Peringatan.” Dalam baris terakhir puisi inilah tertulis kalimat bermarwah dan terdengar menusuk bagi rezim Orde Baru: Hanya ada satu kata: Lawan! Pengaruh barisan puisi ini ternyata sangat berdampak bagi gerakan, termasuk gerakan mahasiswa.

Tempo, edisi khusus 13-19 Mei 2013. 44

(25)

kepada buruh. Sementara GSB dinyatakan telah meliputi berbagai sektor, salah satunya

gerakan mahasiswa.

Demikianlah Forsolima dan KSMM dalam pembahasan ini telah turut bersinggungan

dengan kondisi sosial-politik di Medan. Kehadiran keduanya pada dasarnya disebabkan

karena kondisi sosial-politik yang tidak pernah lagi menjadi kebanggaan semua orang.

Mereka dalam praktiknya menjadi bagian dari gerakan sosial yang berpusat bagi perlawanan

terhadap birokrasi militer yang kala itu dilambangkan oleh Soeharto. Sosok Soeharto yang

dianggap mewakili keseluruhan sistem yang sewenang-wenang menjadi musuh bersama

dalam tujuan mahasiswa mendobrak birokratisasi Orde Baru.

Hadir sebagai organisasi mahasiswa ekstra-kampus, Forsolima dan KSMM, tumbuh

dalam dasawarsa terakhir Orde Baru. Meskipun demikian, kehadiran mereka telah memberi

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...