• Tidak ada hasil yang ditemukan

EKOLOGI SATWA LIAR DI PULAU RAMBUT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "EKOLOGI SATWA LIAR DI PULAU RAMBUT"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN

EKOLOGI SATWA LIAR DI PULAU RAMBUT

Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekologi Satwaliar (KSH211)

Oleh: Kelompok 20

Mutiara Zulfraini (E34120078)

Muhamad Fahmi Mafruchi (E34130050)

Sofia Ucu Utami (E34130051)

Helyos Stevani Purba (E34130100)

Dosen Pengajar : Dr. Ir. Abdul Haris Mustari, M.Sc.F

Asisten : Insan Kurnia, S.Hut, M.Si.

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN

EKOWISATA

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Suaka Margasatwa Pulau Rambut merupakan kawasan suaka alam dengan ciri khas sebagai habitat Mangrove dan habitat burung khususnya jenis-jenis burung merandai dan beberapa burung migran seperti Bluwok (Mycteria nicerea). Suaka margasatwa ini terkategori ke dalam ekosistem lahan basah (Wetland), dan masuk dalam pengelolaan ekosistem esensial sesuai dalam Inpres 03 Tahun 2010 tentang Pembangunan Yang Berkeadilan.

Secara geografis, Suaka Margasatwa Pulau Rambut terletak pada 106,5º 41’ 30” BT dan 5,5 º 58’ 30” LS. Berdasarkan administrasi pemerintahan, kawasan Suaka Margasatwa Pulau Rambut terletak di Kelurahan Untung Jawa, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kotamadya Kepulauan Seribu.

Pulau Rambut ditetapkan secara resmi sebagai cagar alam melalui Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 7 tanggal 3 Mei 1937 dengan luas kawasan sebesar 20 ha. Dalam perkembangannya, kondisi Cagar Alam Pulau Rambut terus berubah, mengalami kerusakan pada vegatasi Mangrove yang disebabkan oleh sampah organik maupun anorganik serta terdapat indikasi berkurangnya jenis burung dan populasi mamalia jenis

Kalong (Pterus vampyrus). Selanjutnya pada tahun 1999 terjadi perubahan

status dari cagar alam menjadi suaka margasatwa yang ditetapkan melalui keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 275/KPTS-II/1999 tertanggal 7 Mei 1999 tentang perubahan status Cagar Alam Pulau Rambut menjadi Suaka Margasatwa Pulau Rambut dengan luas 90 Ha yang terdiri dari 45 Ha daratan dan 45 Ha perairan. (BKSDA DKI JAKARTA 2013)

(3)

Tipe hutan sekunder campuran ini ditumbuhi oleh pohon-pohon yang tinggi diantaranya adalah Kepuh (Sterculia foetida), Kesambi (Schleichera oleosa), Kayu Hitam (Diospyros maritima), Mengkudu (Morinda citrifolia), Soka (Ixora timorensis), dan Ketapang (Terminalia catappa). Sedangkan vegetasi yang terdapat pada tipe hutan Mangrove seperti Pasir-pasir (Ceriops tagal), Bakau (Rhizophora mucronata) dan Bola-bola (Xylocarpus granatum).

Suaka Margasatwa Pulau Rambut memiliki tingkat keanekaragaman tinggi khususnya untuk jenis burung. Pada musim berbiak, di pulau ini bisa terdapat sekitar 24.000 spesies burung dan 4.500 spesies burung pada musim lainnya sehingga sering kali Pulau Rambut disebut dengan Pulau Surga Burung (Rambut Island of Sanctuary Birds). Adapun jenis burung yang terdapat di suaka margasatwa ini seperti Cangak Abu (Ardea cinerea), Pecuk Ular (Anhinga melanogaster), Bluwok (Mycteria cinerea), Kowak Malam (Nycticorax nicticorax), Cangak Merah (Ardea purpurea), Kuntul besar (Egretta alba), Kuntul kecil (Egretta garzetta), Kuntul sedang (Egretta intermedia), Kuntul karang (Egretta sacra), Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis), Roko-roko (Plegadis falcinellus), Pelatuk Besi (Threskiornis melanocephalus) dan sebagainya. (Departemen Kehutanan. 1994)

Di Pulau ini terdapat menara pengamatan burung setinggi 15 meter. Menara ini terletak di tengah tengah Pulau Rambut, dari menara ini seluruh kawasan Pulau Rambut dapat terlihat.

1.2 Tujuan

Secara umum praktikum lapang ini bertujuan untuk mengetahui aspek-aspek ekologi satwa liar di kawasan Suaka Margasatwa Pulau Rambut. Tujuannya adalah untuk:

a. Menganalisis keanekaragaman jenis satwa liar b. Mengetahui distribusi jenis satwa liar

c. Mengetahui populasi jenis satwa liar

(4)

f. Mengamati pola pergerakan satwa liar

g. Menganalisis gangguan terhadap habitat maupun populasi satwa liar.

1.3 Manfaat

(5)

BAB II METODE

2.1 Waktu dan Tempat Pengamatan

Pengamatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 6 Desember 2014 sampai dengan hari Minggu, 7 Desember 2014 di Suaka Marga Satwa Pulau Rambut. Kegiatan pada tanggal 6 Desember 2014

Waktu Kegiatan Lokasi Keterangan

Kegiatan pada tanggal 7 Deaember 2014

(6)

maupun kamera.

Alat yang digunakan dalam praktikum lapang di Pulau Rambut adalah sebagai berikut :

a. Binokuler : untuk melihat objek yang jaraknya jauh agar terlihat lebih jelas.

b. Kamera : untuk dokumentasi

c. Fieldguide burung : untuk membantu identifikasi burung

d. Alat tulis menulis (pensil,penghapus, papan alas dan buku lapang) : untuk mencatat segala sesuatu yang perlu dicatat.

e. Jam: untuk mengatur waktu dalam penghitungan/sensus burung yang masuk dan keluar pada waktu pagi dan sore hari.

Selain peralatan praktek, dibutuhkan juga peralatan penunjang dan peralatan lapang baik bersifat pribadi, maupun kelompok.

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini berupa obyek pengamatan. Obyek pengamatannya adalah seluruh jenis satwa liar (mamalia, burung, dan herpetofauna) yang terdapat di Suaka Margasatwa Pulau Rambut dan juga ekosistem yang ada di pulau tersebut.

2.3 Jenis dan Cara Pengambilan Data

Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi langsung dan penggiringan secara alamiah. Data yang diambil meliputi:

a. Keanekaragaman jenis satwaliar

(7)

Jenis satwaliar yang diamati adalah seluruh jenis dan tipe satwaliar yang ada.

b. Distribusi jenis satwaliar

Distribusi jenis satwaliar diambil dengan observasi secara langsung, kemudian memetakan distribusi setiap jenis satwaliar yang ada di SM Pulau Rambut. Jenis satwaliar yang diamati adalah seluruh jenis dan tipe satwaliar yang ada.

c. Populasi jenis satwaliar

Populasi jenis satwaliar yang diamati, difokuskan pada jenis-jenis burung air dan Kalong vampir sebagai mamalia yang ada di SM Pulau Rambut. Perhitungan populasi burung air dilakukan dengan metode penggiringan secara alamiah. Perhitungan dilakukan pada waktu sore (16.00-18.30) dan pagi hari (06.15-07.15).

Populasi Kalong vampir dihitung langsung di pohon istirahatnya. Waktu perhitungan siang hari dengan metode perhitungan terkonsentrasi.

d. Karakteristik habitat dan pemanfaatannya oleh satwaliar

Pengamatan dilakukan dengan cara melakukan observasi seluruh kawasan kemudian memetakannya berdasarkan tipe habitat, serta menghubungkan penggunaan dan pemanfaatan habitat tersebut oleh setiap jenis satwaliar. e. Hubungan dan interaksi antar satwaliar

Pengamatan terhadap hubungan dan interaksi antar satwaliar dilakukan dengan mengobservasi seluruh kawasan. Pengamatan hubungan dan interaksi antar satwaliar ini dapat dilakukan secara bersamaan dengan pengamatan distribusi serta pemanfaatan habitat.

f. Pergerakan satwaliar

Pengamatan pola pergerakan satwaliar dilakukan dengan memetakan pola-pola dan arah pergerakan setiap jenis satwaliar, khususnya jenis-jenis burung air.

g. Gangguan

(8)

gangguan ini dilakukan dengan melihat berbagai macam bentuk/kegiatan yang aktual maupun potensial menjadi gangguan terhadap habitat yang kemudian akan berpengaruh terhadap populasi satwaliar di SM Pulau Rambut.

(9)

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil

a. Keanekaragaman jenis satwa liar

 Mamalia

No Nama Jenis

1 Kalong vampir (Pteropus vampirus)

Tabel 1. Keanekaragaman mamalia

 Burung Air

No Nama Jenis

1 Bangau Bluwok (Mycteria cinerea)

2 Cangak Abu (Ardenea cinerea)

3 Cangak Merah (Ardenea purpurea)

4 Cikalang Christmas (Fregata andrewsi)

5 Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster) 6 Ibis Roko-roko (Plegadis falcinellus)

7 Kowak Malam Kelabu (Nycticorax nycticorax)

8 Kuntul Besar (Egretta alba)

9 Kuntul Sedang (Egretta intermedia)

10 Kuntul Kecil (Egretta garzetta)

11 Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis)

12 Pecuk Padi Hitam (Phalacrocorax sulcirostris)

13 Pecuk Pular Asia (Anhinga melanogaster)

14 Pergam Laut (Ducula bicolor)

Tabel 2. Keanekaragaman burung air

 Reptil

No .

Nama Jenis

1 Biawak (Varanus salvator)

Tabel 3. Keanekaragaman reptil

(10)

Gambar 1. Peta situasi distribusi satwa liar

c. Populasi jenis satwa liar

 Mamalia

No .

Nama Jenis Jumlah

1 Kalong Vampir (Pteropus

vampirus)

2 Cangak Merah (Ardenea

purpurea)

1 21

3 Elang Laut Perut Putih

(Haliaeetus leucogaster)

2 1

4 Ibis Roko-roko (Plegadis

falcinellus)

0 557

5 Kowak Malam Kelabu

(Nycticorax nycticorax)

5 4

6 Kuntul Besar (Egretta alba) 1 8

7 Kuntul Sedang (Egretta

intermedia)

30 207

(11)

9 Kuntul Kerbau 0 113

10 Pecuk Padi Hitam(Phalacrocorax

sulcirostris)

132 286

11 Pecuk ular Asia(Anhinga

melanogaster)

28 32

Tabel 5. Populasi burung air

 Reptil

No .

Nama Jenis Jumlah

1 Biawak (Varanus salvator) 1

Tabel 6. Populasi reptile

d. Pemanfaatan serta fungsi habitat bagi satwa liar

Gambar 2. Peta situasi habitat

 Mamalia

No. Jenis Satwa Bentuk

Pemanfaatan

Deskripsi Pemanfaatan

1. Kalong Vampir Cover Menggunakan

pohon xnangkaan untuk bersarang

Tabel 7. Pemanfaatan habitat oleh mamalia

(12)

No. Jenis Satwa Bentuk Pemanfaatan

Deskripsi Pemanfaatan

1. Bangau Bluwok Cover Bersarang di

pohon tinggi dengan tajuk lebat

2. Cangak Abu (Ardenea cinerea) Cover Bersarang di

pohon tinggi dengan tajuk lebat

3. Cangak Merah (Ardenea

purpurea)

Cover Bersarang di

pohon tinggi dengan tajuk lebat

4.. Elang Laut Cover Menggunakan

Pohon tinggi umtuk bersinggah

6. Kuntul Besar Cover Bersarang di

pohon pohon tinggi

7. Kuntul Perak Cover Bersarang di

Pohon-pohon

9. Pecuk ular Asia (Anhinga

melanogaster)

11. Pergam Laut Mencari

Makan

(13)

12 Cikalang christmas Bertengger

Tabel 8. Pemanfaatan habitat oleh burung air

 Herpetofauna

No. Jenis Satwa Bentuk

Pemanfaatan

Deskripsi Pemanfaatan

1. Biawak Cover Menggunakan

kayu untuk berlindung dan berkamuflase

Tabel 9. Pemanfaatan habitat oleh herpetofauna

e. Hubungan dan interaksi antar satwa liar

No. Satwa 1 Satwa 2 Pola Interaksi

1. Bangau Bluwok Pecuk Ular Bersarang di satu

pohon

2. Ibis Roko-roko Ibis Roko-roko Terbang dalam

posisi

3 Kalong Vampir Kalong Vampir Bergelantungan

berkelompok di satu pohon

4 Kuntul kecil Kuntul kecil Terbang

berkelompok

5 Kuntul perak Kuntul besar Bersarang di satu

pohon

6 Pecuk padi Pecuk padi Bersarang di satu

pohon

7 Cangak abu Kuntul Besar Berbagi sarang

8 Cangak merah Cangak Merah Berbagi pohon untuk

bertengger

(14)

f. Pola pergerakan satwa liar

Gambar 3. Peta situasi pergerakan satwa liar

g. Gangguan terhadap habitat maupun populasi satwa liar No

.

Jenis gangguan

1. Sampah

2. Aktivitas pengunjung

3. Abrasi

4. Badai

Tabel 11. Gangguan

3.2 Pembahasan

a. Keanekaragaman jenis satwa liar

(15)

Burung air yang praktikan temui adalah Bangau Bluwok (Mycteria cinerea), Cangak Abu (Ardenea cinerea), Cangak Merah (Ardenea purpurea), Cikalang Christmas (Fregata andrewsi), Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster), Ibis Roko-roko (Plegadis falcinellus), Kowak Malam Kelabu (Nycticorax nycticorax), Kuntul Besar (Egretta alba), Kuntul Sedang (Egretta intermedia), Kuntul Kecil (Egretta garzetta), Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis), Pecuk Padi Hitam (Phalacrocorax sulcirostris), Pecuk Pular Asia (Anhinga melanogaster), Pergam Laut (Ducula bicolor).

Praktikan juga menemukan satwa liar lain yaitu satwa yang termasuk mamalia dan juga herpetofauna. Mamalia yang ditemui praktikan berupa

Kalong vampir (Pteropus vampirus). Herpetofauna yang praktikan temui

yaitu jenis reptile berupa Biawak (Varanus Salvator). Praktikan pada saat pengamatan juga menemukan tanda-tanda adanya jenis reptile berupa ular, karena pada saat pengamatan praktikan menemukan sisik ular bekas pergantian kulit di semak-semak.

b. Distribusi jenis satwa liar

Satwa liar di Suaka Margasatwa Pulau Rambut didominasi oleh jenis burung air, sedikitnya ada 14 jenis burung air yang telah dicatat oleh praktikan selama pengamatan. Satwa liar selain burung air yang dicatat praktikan yaitu herpetofauna dan mamalia.

Perbedaan jenis habitat yang ada di Pulau Rambut menentukan persebaran burung yang berada di Pulau Rambut. Berdasarkan hasil pengamatan, praktikan berhasil membuat pemetaan distribusi 10 jenis burung air dari 14 jenis burung air yang ditemui selama pengamatan. Dari data yang diperoleh burung air di Suaka Margasatwa Pulau Rambut lebih banyak memilih bersarang di habitat hutan pantai dan hutan mangrove. Burung air tersebut lebih banyak bersarang di sisi utara Pulau Rambut.

(16)

sehingga praktikan tidak bisa membuat distribusi persebaran burung terestrial yang ada di Pulau Rambut. Praktikan selama pengamatan di habitat hutan campuran hanya berhasil menemui kalong vampir. Kalong vampir tersebut praktikan temui dalam satu populasi. Kalong vampir tersebut bergelantungan pada satu pohon yang sama.

Jenis satwa liar lain berupa herpetofauna praktikan temui di hutan pantai yang berada di sekitar kantor BKSDA yang ada di Suaka Margasatwa Pulau Rambut. Herpetofauna yang praktikan temui yaitu jenis reptil berupa biawak.

c. Populasi jenis satwa liar

Populasi satwa liar yang ada di Suaka Margasatwa Pulau Rambut didominasi oleh burung air. Berdasarkan hasil pengamatan, praktikan lebih banyak menemui jenis satwa liar berupa burung air dibandingkan jenis lain seperti herpetofauna, maupun mamalia.

Data yang diperoleh praktikan pada saat pengamatan menunjukkan bahwa populasi ibis roko-roko (Plegadis falcinellus) merupakan populasi tertinggi diantara populasi burung air lainnya. Elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaster) menjadi burung air dengan populasi paling rendah.

Populasi jenis satwa liar lain yang tercatat oleh praktikan adalah populasi kalong vampir. Kalong vampir yang ditemui hanya populasi dengan jumlah individu kalong vampire sebesar 21 ekor. Kalong vampire yang ditemui tersebut 3 diantaranya teridentifikasi sebagai jantan, terlihat dari lehernya yang berwarna merah. Populasi lain yang tercatat yaitu populasi biawak, dengan jumlah individu 1 ekor.

d. Pemanfaatan serta fungsi habitat bagi satwa liar

(17)

1. Hutan Pantai

Hutan pantai adalah hutan yang terdapat di daerah-daerah kering tepi pantai dengan kondisi tanah berpasir dan terletak di atas garis pasang tertinggi. Hutan pantai yang ada di Suaka Margasatwa Pulau Rambut terletak di bagian selatan dan timur pulau dengan ketebalan lebih kurang 20 meter. Hutan pantai di kawasan Suaka Margasatwa Pulau Rambut memiliki substrat berupa pasir putih. Tipe ekosistem hutan pantai ini memiliki keanekaragaman jenis flora maupun fauna.

Tumbuhan yang terdapat pada ekosistem ini antara lain: Cemara laut (Casuarina equisetifolia), Centigi (Pemphis acidula), Ipomea pescapre , Jati pasir (Guettarda speciosa), Kedoya (Dysoxylum gaudichaudianum), Kepuh (Sterculia foetida), Ketapang (Terminalia catapppa), Waru laut (Thespesia populnea).

Satwa yang terdapat pada ekosistem hutan pantai yang ada di kawasan Suaka Margasatwa Pulau Rambut adalah jenis burung air dan herpetofauna. Jenis burung air yang dapat ditemui di habitat hutan pantai antara lain: Cangak Abu (Ardea cinerea), Elang Laut Perut Putih (Haliaeeteus leucogaster), Ibis Roko-Roko (Plegadis falcinellus), Kowak Malam Kelabu (Nycticorax nycticorax), Kuntul Besar (Egretta alba), Kuntul Kecil (Egretta garzetta), Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis), Pecuk Padi Hitam (Phalacrocorax sulcirostris), Pecuk Ular Asia (Anhinga melanogaster).

Herpetofauna yang dapat ditemui pada ekosistem hutan pantai di kawasan SMPR adalah biawak (Varanus salvator). Biawak dapat ditemui diantara tegakan vegetasi dalam ekosistem hutan pantai di kawasan SMPR.

2. Hutan Mangrove

(18)

Jenis tumbuhan yang tumbuh di hutan ini, antara lain: Api-api (Avicennia spp.), Buta-buta (Exoecaria agallocha), Tancang (Soneratia alba), Pohon Bakau (Rhizhopora spp.)

Satwa yang praktikan temui di hutan mangrove hanya jenis-jenis burung air. Jenis burung air yang ditemui antara lain: Pecuk Padi Hitam (Phalacrocorax sulcirostris), Ibis Roko-Roko (Plegadis falcinellus), Cangak Merah(Ardenea purpurea), Pergam Laut (Ducula bicolor), Cikalang (Fregata andrewsi), Kuntul Besar (Egretta alba), Kuntul Kecil (Egrettagarzetta),Cangak Abu(Ardenea cinerea), Kowak Malam Kelabu, Bangau Bluwok, Kuntul Kerbau.

3. Hutan Sekunder Campuran

Hutan Campuran: hutan antara mangrove dan pantai, substratnya berupa tanah berpasir dan berlumpur. Tipe hutan sekunder campuran ini ditumbuhi oleh pohon-pohon yang tinggi diantaranya adalah kepuh (Sterculia foetida), kesambi (Schleichera oleosa), kayu hitam (Diospyros maritima), soka (Ixora timorensis), dan ketapang (Terminalia catappa), Pohon mengkudu (Morinda cibifolia), Pohon

srikaya (Annona squamosa), Pohon Akasia (Acacia mangium), Pohon

Xnangkaan.

Berdasarkan hasil pengamatan praktikan tidak menemukan satwa jenis burung air di habitat hutan ini, namun praktikan hanya menemukan beberapa sarang burung diatas pohon. Praktikan juga menemukan beberapa telur burung yang sudah pecah di tanah. Habitat hutan sekunder campuran ini adalah habitat bagi kalong vampir. Dari data yang didapatkan saat pengamatan, kalong vampir praktikan temui di habitat ini khususnya di pohon xnangkaan.

(19)

e. Hubungan dan interaksi antar satwa liar

Hubungan dan interaksi antar satwa liar adalah suatu pola yang tergantung pada jenis satwaliar tersebut dan juga hal ini dipengaruhi juga oleh faktor faktor lain seperti makanan, ancaman oleh predator dan juga faktor lingkungannya. Pola interaksi dan hubungan antar satwa liar dapat dilihat pada Tabel 10.

Dari data yang diperoleh selama pengamatan pada dasarnya antar satwa liar yang ada di Suaka Margasatwa Pulau Rambut saling berhubungan dan berinteraksi baik itu langsung maupun tidak langsung.

Persebaran burung air yang berada di Pulau Rambut menyebabkan burung-burung ini harus berinteraksi satu sama lain, yaitu sesama jenis atau berlainan jenis. Interaksi yang dilakukan berbagai jenis, seperti bertengger, terbang, dan bersarang, namun jika diperhatikan lagi terdapat ciri-ciri yang membedakan antara masing-masing jenis burung selama interaksi, yang contoh-contohnya dapat dilihat pada tabel 10. Pada tabel dapat dilihat ternyata masing-masing jenis memiliki relung sendiri meskipun terlihat berinteraksi bersama dan dalam waktu yang sama. f. Pola pergerakan satwa liar

(20)

g. Gangguan

Keberadaan populasi dan habitat di Pulau Rambut terganggu oleh beberapa hal, diantaranya adalah gangguan sampah yang berserakan di sekitar pantai dan hutan mangrove sehingga menganggu satwa yang akan mencari makan. Pengunjung di Pulau Rambut juga dapat menjadi gangguan terhadap satwa yang berada pada kawasan Suaka Margastawa Pulau Rambut, karena terlihat dari kebisingan yang disebabkan oleh praktikan saat pengamatan menyebabkan beberapa jenis satwa bergerak menjauhi praktikan.

Gangguan juga dapat terjadi karena faktor alamiah seperti abrasi, dan badai. Abrasi juga dapat menyebabkan satwa kesulitan mencari makan, terutama burung seperti kuntul dan ibis yang mencari makan dengan berjalan menyusuri pantai untuk mendapatkan makanan. Badai atau angin yang besar dapat mengganggu satwaliar di Suaka Margasatwa Pulau Rambut, khususnya burung-burung yang akan berburu ikan di laut. Satwa tersebut akan kesulitan untuk berburu ikan.

BAB IV PENUTUP 4.1 Simpulan

(21)

meninggalkan pulau rambut. Pemanfaatan yang dilakukan satwa di pulau ini berupa cover dan pangan. Pangan tersebut di dapat dari ikan yang berada di pantai dan untuk jenis burung elang memakan jenis burung lain. Gangguan habitat pada pulau ini antara lain para pengunjung, hal tersebut karena burung pada kawasan tersebut ternyata sangat sensitif, gangguan habitat lain yaitu sampah. Sampah dapat mencemari ikan yang menjadi sumber pakan beberapa jenis burung di kawasan tersebut.

4.2 Saran

Kawasan suaka marga satwa ini, diharapkan dapat terlestari didukung sekitar pantai yang jauh dari hamparan sampah, serta pembatasan pengunjung diharapkan tetap ditegakkan. Bagi para pengunjung diharapkan adanya larangan yang kuat agar tidak mengambil segala sesuatu yang bersumber dari kawasan tersebut seperti karang laut di pesisir pantai dan sebagainya. Pihak pengelola Suaka Margasatwa Pulau Rambut juga perlu melakukan perbaikan pemecah ombak yang ada disepanjang garis Pulau Rambut karena beberapa pemecah ombak juga sudah rusak.

Daftar Pustaka

BKSDA DKI Jakarta. 2013. Kawasan Pulau Rambut. [Internet] [diunduh pada 2014 Des 15] tersedia pada: http://bksdadkijakarta.com/

Departemen Kehutanan. 1994. Laporan inventarisasi fauna di Pulau Rambut dan Pulau Bokor serta pemeriksaan dan pemasangan tagging pada 1993/1994. Jakarta (ID): Dephut

Gambar

Tabel 1. Keanekaragaman mamalia
Gambar 1. Peta situasi distribusi satwa liar
Tabel 5. Populasi burung air
Tabel 8. Pemanfaatan habitat oleh burung air
+2

Referensi

Dokumen terkait

Setiap bentuk latihan untuk keterampilan teknik, taktik, fisik dan mental sekalipun harus berpedoman pada prinsip beban lebih. Kalau beban latihan terlalu

Pengawasan pasar untuk penerapan regulasi teknis dengan sistem tertentu dapat dilakukan dengan menggunakan jasa dari lembaga penilaian kesesuaian yang telah diakreditasi oleh

Zainal Arifin Adnan, dr., Sp.PD-KR-FINASIM sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, dengan ini Dekan Fakultas Kedokteran.. Universitas Sebelas Maret

Hasil penelitian ini adalah sebuah program komputer yang termasuk dalam kategori sistem pakar yang mempunyai kemampuan untuk mendiagnosis penyakit, memberikan saran

Namun mari kita memperhatikan ayat 16, yang merupakan satu perintah yang jelas; "Maksudku, hiduplah oleh Roh maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging."

Penelitian yang telah dilakukan oleh Kristanto (2006) mengenai analisis sedimen terhadap usia guna bendungan Sempor”, menyimpulkan bahwa usia guna bendungan Sempor

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh dan setelah melihat kendala-kendala yang dialami pada saat penelitian, maka diberikan beberapa saran dari penelitian ini

Perkembangan teknologi selalu terbaharui sesuai dengan kebutuhan manusia dalam berbagai aspek kehidupan yang tidak ada habisnya. Salah satu teknologi yang kini hampir digunakan