• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Umu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Umu"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Puskesmas Medan Helvetia 4.1.1 Lokasi Puskesmas

Puskesmas Medan Helvetia terletak di Jalan Kemuning Perumnas Helvetia, Kelurahan Helvetia, Kecamatan Medan Helvetia. Batas wilayahnya yaitu :

 Utara : Berbatasan dengan Kab.Deli Serdang  Selatan : Berbatasan dengan Kec. Medan sunggal  Barat : Berbatasan dengan Kec. Medan Sunggal

 Timur : Berbatasan dengan Kec. Medan Barat dan Medan Petisah

 Luas wilayah kerja : 11,60 Km2  Jumlah lingkungan : 88 lingkungan 4.1.2 Wilayah Kerja Puskesmas Medan Helvetia

Puskesmas Helvetia adalah salah satu Puskesmas rawat inap di Kota Medan dengan luas tanah 410,7 m2. Luas tanah rumah dinas Dokter 357,75 m2. Luas tanah rumah dinas paramedis masing masing 178,875m2. Luas bangunan Puskesmas 350 m2 dan luas bangunan rumah dinas masing-masing 100 m2. Keadaan rumas dinas dokter rusak berat dan tidak ditempati. Puskesmas Helvetia diresmikan pada tahun 1979 oleh Walikota Medan AS Rangkuti.

Puskesmas Helvetia melakukan pelayanan kesehatan terhadap 7 kelurahan yang ada di wilayah kerja kecamatan Medan Helvetia, yaitu:

(2)

2. Kelurahan Helvetia Tengah 3. Kelurahan Helvetia Timur 4. Kelurahan Tanjung Gusta 5. Kelurahan Sei Sikambing C II 6. Kelurahan Dwikora

7. Kelurahan Cinta Damai

Pada wilayah kerja Puskesmas Helvetia terdapat 2 buah Puskesmas Pembantu (Pustu), yaitu Puskesmas Pembantu Tanjung Gusta yang terletak di jalan Gaperta Ujung kelurahan Tanjung Gusta dan Puskesmas Pembantu Dwikora yang terletak di jalan Setia Luhur Kelurahan Dwikora.

4.2 Data Umum Puskesmas Medan Helvetia 4.2.1 Data Geografis

Wilayah kerja Puskesmas Medan Helvetia, Kecamatan Medan Helvetia ini terdiri dari :

 Luas wilayah kerja : 11,60 km2

 Jumlah kelurahan : 7

kelurahan

 Jumlah lingkungan : 88

lingkungan

(3)

Kecamatan Medan Helvetia terdiri atas 7 kelurahan dengan jumlah penduduk yang dicakup oleh Puskesmas Helvetia sebanyak 145.239 jiwa yang terdiri dari 31.652 kepala keluarga.

Tabel 4.1 Distribusi Jumlah Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Helvetia Kecamatan Medan Helvetia Tahun 2015

No. Kelurahan Jlh. Pend.

(Jiwa)

Jlh. Pend.

Laki Laki

Jlh. Pend

Perempuan Jlh Ling

Jlh. KK

1 Helvetia 11376 5519 5857 12 2627

2 Helvetia Timur 24111 11732 12379 13 5233

3 Helvetia Tengah 26756 12891 13865 22 6039

4 Dwikora 24374 11321 13053 12 5414

5 SSC II 12384 6075 6309 14 2862

6 Tanjung Gusta 29402 15295 14107 7 5639

7 Cinta Damai 17116 8378 8738 8 3838

Jumlah 145.519 71211 74308 88 31652

Sumber : Kecamatan Medan Helvetia, 2015

4.3. Upaya Puskesmas Medan Helvetia

Puskesmas Helvetia telah melaksanakan tujuh (7) upaya wajib kota Medan dan ditambah dengan sepuluh (10) upaya pengembangan.

(4)

1. Promosi Kesehatan (Promkes).

2. Upaya Kesehatan Lingkungan (Kesling).

3. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta Keluarga Berencana (KB).

4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat (UPGM) 5. Upaya Pemberantasan Penyakit Menular (P2M). 6. Upaya Pengobatan.

7. Upaya Pencatatan dan Pelaporan (SP2TP) Upaya Kesehatan Pengembangan yaitu :

1. Upaya Kesehatan Sekolah (UKS). 2. Upaya Kesehatan Olahraga (Kesorga)

3. Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat (UPKM) 4. Upaya Kesehatan Kerja (UKK)

5. Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut (UKGM) 6. Upaya Kesehatan Jiwa (UKJ)

7. Upaya Kesehatan Mata (UKM) 8. Upaya Kesehatan Usia Lanjut (Usila)

9. Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional (Batra) 10. Upaya Laboratorium Sederhana

4.4 Analisis Univariat

(5)

dan jumlah paritas), variabel independen (pengetahuan responden dan sikap responden), dan variabel dependen (tindakan responden).

4.4.1 Faktor Internal Responden

Responden dalam penelitian ini adalah Wanita Usia Subur (WUS) yang berusia 30-45 tahun dan berstatus sudah menikah di wilayah kerja Puskesmas Helvetia Kota Medan yang berjumlah 50 orang. Faktor internal responden yang diambil adalah pendidikan terakhir, pekerjaan, penghasilan, dan jumlah paritas. 1. Pendidikan

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan di wilayah kerja Puskesmas Helvetia kota Medan Tahun 2016

No Pendidikan Frekuensi (n) Persentase (%)

1 SD 1 2,0

2 SMP 2 4,0

3 SMA/SMEA/SMK 24 48,0

4 Diploma (D3) 4 8,0

5 Sarjana (S1) 19 38,0

Total 50 100,0

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 50 responden tingkat pendidikan yang paling banyak adalah pendidikan SMA/SMEA/SMK sebanyak 24 orang (48,0%), Sarjana (S1) sebanyak 19 orang (38,0%), tingkat Diploma (D3) sebanyak 4 orang (8,0%), tingkat SMP sebanyak 2 orang (4,0%), dan untuk tingkat SD sebanyak 1 orang (2,0%).

2. Pekerjaan

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan di wilayah kerja Puskesmas Helvetia kota Medan Tahun 2016

(6)

1 Wiraswasta 12 24,0

2 PNS 2 4,0

3 Karyawan Swasta 14 28,0

4 Ibu Rumah Tangga 22 44,0

Jumlah 50 100,0

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa pekerjaan responden dalam penelitian ini yang paling banyak adalah Ibu Rumah Tangga (IRT) yaitu sebanyak 22 orang (44,0%), karyawan swasta sebanyak 14 orang (28,0%), wiraswasta sebanyak 12 orang (24,0), dan PNS sebanyak 2 orang (4,0%).

3. Penghasilan

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Penghasilan di wilayah kerja Puskesmas Helvetia kota Medan Tahun 2016

No Penghasilan Frekuensi (n) Persentase (%)

1 < Rp 1.811.875,- 14 28,0

2 ≥ Rp 1.811.875,- 36 72,0

Total 50 100,0

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh 50 responden, terdapat 14 orang (28,0%) yang memiliki penghasilan dibawah Rp. 1.811.875,- dan sebanyak 36 orang (72,0%) memiliki penghasilan diatas Rp.

1.811.875,-4. Jumlah Paritas

(7)

No Penghasilan Frekuensi (n) Persentase (%)

1 < 3 12 24,0

2 ≥ 3 38 76,0

Total 50 100,0

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh 50 responden, jumlah paritas <3 sebanyak 12 responden (24,0%) sedangkan responden yang jumlah paritasnya ≥3 sebanyak 38 orang (76,0%).

4.4.2 Variabel Independen 4.4.2.1 Pengetahuan Responden

Tabel 4.6 Distribusi Responden Berdasarkan Jawaban Pertanyaan Pengetahuan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim dengan Test IVA Di Wilayah Kerja Puskesmas Helvetia kota Medan Tahun 2016

No. Pertanyaan Jawabann %

1 Deteksi dini kanker ialah :

a. Usaha untuk mengidentifikasi atau mengenali penyakit atau kelainan yang secara klinis belum jelas, dengan menggunakan tes (uji) maupun pemeriksaan

29 58,0

b. Usaha untuk menghentikan perkembangan sel kanker 10 20,0 c. Usaha untuk mendeteksi perkembangan jaringan abnormal

pada tubuh

11 22,0 2 Tujuan deteksi dini kanker ialah:

a. Untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan jaringan abnormal pada tubuh

13 26,0 b. Untuk mengetahui adanya jaringan kanker yang

berkembang dalam tubuh

16 32,0 c. Mengidentifikasi penyakit pada stadium yang lebih awal

atau dengan kata lain menemukan adanya kelainan sejak dini

21 42,0

Tabel 4.6 Lanjutan

No Pertanyaan Jawaban

n %

3 Deteksi dini kanker leher rahim dapat dilakukan dengan cara:

(8)

b. Test IVA 25 50,0

c. Vaksinasi 16 32,0

4 Akibat dari keterlambatan dalam mendeteksi kanker serviks ialah:

a. Mengakibatkan penyakit komplikasi 4 8,0 b. Mengakibatkan perubahan fisik pada tubuh 9 18,0 c. Mengakibatkan perkembangan sel kanker (hingga pada

stadium akhir)

37 74,0 5 Skrinning adalah :

a. Tindakan pencegahan kanker leher rahim 29 58,0 b. Tindakan terapi kanker leher rahim 8 16,0 c. Tindakan deteksi dini kanker leher rahim 13 26,0 6 Kanker leher rahim (serviks) merupakan :

a. Penyakit ganas yang disebabkan oleh bakteri dan menyerang rahim

21 42,0 b. Penyakit ganas yang disebabkan oleh virus dan menyerang

leher rahim

8 Kepanjangan dari HPV adalah :

a. Human Papilloma Virus 14 28,0

b. Human Papil Virus 9 18,0

c. Human Papilo Virus 27 54,0

9 Stadium kanker serviks ada sebanyak:

a. 4 stadium 25 50,0

b. 3 stadium 21 42,0

c. 2 stadium 4 8,0

10 Gejala-gejala kanker leher rahim/kanker serviks ialah:

a. Terasa nyeri di vagina 24 48,0

b. Keputihan dan perdarahan 22 44,0

c. Mual dan muntah 4 8,0

11 Kanker serviks pada stadium lanjut memiliki gejala seperti:

a. Keputihan 5 10,0

b. Penurunan berat badan yang drastic 10 20,0 c. Pendarahan berlebihan di vagina di luar siklus menstruasi 35 70,0

Tabel 4.6 Lanjutan

No Pertanyaan Jawaban

(9)

a. Jumlah kelahiran 28 56,0

b. Hamil usia tua 15 30,0

c Merokok 7 14,0

13 Wanita yang merokok beresiko lebih besar untuk terkena kanker serviks karena:

a. Karena rokok mengandung zat-zat yang berbahaya 28 56,0 b. Karena rokok mengandung zat karsinogen 16 32,0 c. Karena kandungan nikotin pada rokok 6 12,0 14 Berganti-ganti pasangan dapat memperbesar resiko untuk

terkena kanker serviks karena:

a. Karena hubungan seks dapat menularkan virus HPV 29 58,0 b. Karena dengan banyak pasangan, kemungkinan untuk

tertular virus HPV semakin besar 15 30,0

c. Karena dengan bersentuhan saja sudah menularkan virus HPV

6 12,0 15 Ibu mengetahui penyakit kanker leher rahim dari:

a. Dokter / petugas medis 9 18,0

b. Media cetak dan elektronik 24 48,0

c. Teman 17 34,0

16 Ibu pernah mendapatkan informasi mengenai program puskesmas terkait deteksi dini kanker leher rahim:

a. Pernah 13 26,0

b. Tidak pernah 28 56,0

c. Tidak tahu 9 18,0

17 Test IVA ialah :

a. Upaya pengambilan cairan dari mulut rahim untuk melihat

kelainan sel disekitar mulut rahim 39 78,0

18 Manfaat dari pemeriksaan test IVA ialah:

a. Dapat mengetahui kelainan pra kanker leher rahim secara dini atau lanjut, sehingga dapat dicegah dan ditangani dengan segera.

32 64,0

b. Untuk mengetahui penyakit 6 12,0

c. Untuk mengetahui perkembangan sel kanker leher rahim 12 24,0

Tabel 4.6 Lanjutan

No Pertanyaan Jawaban

(10)

19 Sebaiknya pemeriksaan test IVA ditujukan kepada:

a. Semua wanita yang sudah menikah / >30 tahun dan sudah aktif melakukan hubungan seks

12 24,0

b. Semua wanita dewasa 31 62,0

c. Tidak tahu 7 14,0

20 Pemeriksaan test IVA dilakukan pada:

a. Sebaiknya tidak dalam keadaan haid 8 16,0 b. Kapan saja dalam siklus menstruasi, pada masa kehamilan,

nifas atau pasca keguguran.

b. Sosial ekonomi yang rendah dan kebersihan kurang 6 12,0

c Melahirkan banyak anak 7 14,0

22 Penyakit kanker leher rahim dapat diturunkan ke anak:

a. Tidak dapat diturunkan ke anak 20 40,0

b. Ya dapat diturunkan ke anak 30 60,0

c. Tidak tahu 0 00,0

23 Pemeriksaan test IVA dapat dilakukan di:

a. Puskesmas 12 24,0

b. Praktek dokter/bidan 8 16,0

c. Rumah sakit 30 60,0

24 Apabila dalam pemeriksaan test IVA hasilnya negatif, kita tetap perlu untuk melaksanakan pemeriksaan berikutnya :

a. Ya 37 74,0

b. Ragu-ragu 3 6,0

c. Tidak 10 20,0

25 Test IVA idealnya dilakukan :

a. Setiap 2 tahun sekali 47 94,0

b. Setiap 3 tahun sekali 0 00,0

c. Setiap 5 tahun sekali 3 6,0

Total 50 100,0

(11)

penyakit pada stadium yang lebih awal atau dengan kata lain menemukan adanya kelainan sejak dini. Sebanyak 25 orang (50,0%) menjawab deteksi dini kanker leher rahim dapat dilakukan dengan cara test IVA, sebanyak 37 orang (80,0%) menjawab akibat dari keterlambatan dalam mendeteksi kanker serviks adalah mengakibatkan perkembangan sel kanker (hingga pada stadium akhir), sebanyak 29 orang (58,0%) menjawab yang responden tahu tentang skrinning ialah tindakan pencegahan kanker leher rahim.

(12)

Sebanyak 24 orang (48,0%) menjawab mengetahui penyakit kanker leher rahim dari tmedia cetak/elektronik, sebanyak 28 orang (56,0%) menjawab tidak pernah mendapatkan informasi mengenai program puskesmas terkait deteksi dini kanker leher rahim. Sebanyak 39 orang (78,0%) menjawab test IVA adalah upaya pengambilan cairan dari mulut rahim untuk melihat kelainan sel disekitar mulut rahim, sebanyak 32 orang (64,0%) menjawab manfaat dari pemeriksaan test IVA adalah untuk Dapat mengetahui kelainan pra kanker leher rahim secara dini atau lanjut, sehingga dapat dicegah dan ditangani dengan segera, sebanyak 31 orang (62,0%) menjawab sebaiknya pemeriksaan test IVA ditujukan kepada semua wanita dewasa, sebanyak 28 orang (56,0%) menjawab pemeriksaan test IVA dilakukan pada saat merasa ada gejala.

Sebanyak 37 orang (74,0%) menjawab faktor resiko yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit kanker leher rahim ialah pasangan seksual yang berganti-ganti, sehingga mempunyai resiko untuk terjadinya infeksi pada leher rahim., sebanyak 30 orang (60,0%) menjawab penyakit kanker leher rahim dapat diturunkan ke anak, sebanyak 30 orang (60,0%) menjawab pemeriksaan test IVA dapat dilakukan di rumah sakit, sebanyak 37 orang (74,0%) menjawab ya apabila dalam pemeriksaan test IVA hasilnya negatif, tetap perlu untuk melaksanakan pemeriksaan berikutnya, sebanyak 47 orang (94,0%) menjawab idealnya test IVA dilakukan setiap 2 tahun sekali.

4.4.2.2 Kategori Pengetahuan Responden

(13)

No. Pengetahuan Jumlah (n) Persentase (%)

1. Baik 4 8,0

2. 3.

Sedang Kurang

29 17

58,0 34,0

Jumlah 50 100,0

Berdasarkan Tabel 4.7 diatas dikategorikan bahwa 4 responden, pengetahuan responden tentang sikap deteksi dini kanker leher rahim dengan test IVA adalah kategori baik yaitu 8,0%, kategori sedang yaitu 29 orang (58,0%) dan kategori kurang sebanyak 17 orang (34,0%).

4.4.2.3 Sikap Responden

(14)

Test IVA di Wilayah Kerja Puskesmas Helvetia kota Medan

1 Pemeriksaan test IVA penting dilakukan sebagai salah satu deteksi dini penyakit kanker leher rahim.

36 72,0

14

28,0

2 Seorang ibu yang terlihat sehat, bersih dari perilaku seksual yang buruk tidak perlu melakukan test IVA.

22 44,0

28

56,0

3 Wanita yang belum aktif secara seksual bisa melakukan test IVA

18 36,0

32

64,0

4 Jika ibu mendapat informasi tentang test IVA untuk pemeriksaan dini kanker

6 Pada saat ini program pemeriksaan test IVA di puskesmas dilaksanakan hanya dengan membayar Rp. 5.000, apabila suatu saat diharuskan untuk membayar lebih dari itu, ibu tetap mau melakukan test IVA.

47 94,0

3

6,0

7 Manfaat dari pemeriksaan test IVA yaitu dapat mengetahui kelainan pra kanker pada leher rahim secara dini atau lanjut, sehingga dapat dicegah dan ditangani

8 Pemeriksaan test IVA dilakukan setelah ada gejala-gejala kanker leher rahim.

10 Jika suami melarang ibu untuk tidak test IVA, ibu tetap menjalankan test IVA.

32 64,0 18

36,0

(15)

No

14 Jika ibu rutin melakukan pemeriksaan test IVA, maka ibu akan terhindar dari kanker leher rahim

35 70,0 15 30,0

15 Berganti –ganti pasangan seksual dan wanita perokok tidak perlu melakukan

18 Test IVA dilakukan setelah ada gejala-gejala kanker leher rahim 20 Ibu merasa malu melakukan test IVA

karena yang melakukan adalah petugas kesehatan laki-laki

14 28,0 36 72,0

(16)

bahwa wanita yang belum aktif secara seksual bisa melakukan test IVA, sebanyak 39 orang (78,0%) setuju bahwa jika ibu mendapat informasi tentang test IVA untuk pemeriksaan dini kanker leher rahim, sebaiknya ibu segera melakukannya, sebanyak 27 orang (54,0%) tidak setuju bahwa pemeriksaan test IVA sebaiknya dilakukan secara berkala maksimal lima tahun sekali bila dinyatakan normal. Sebanyak 47 orang (94,0%) setuju bahwa pada saat ini program pemeriksaan test IVA di puskesmas dilaksanakan hanya dengan membayar Rp. 5.000, apabila suatu saat diharuskan untuk membayar lebih dari itu, ibu tetap mau melakukan test IVA, sebanyak 45 orang (90,0%) setuju bahwa manfaat dari pemeriksaan test IVA yaitu dapat mengetahui kelainan pra kanker pada leher rahim secara dini atau lanjut, sehingga dapat dicegah dan ditangani dengan segera, setujukah ibu dengan pernyataan tersebut, sebanyak 40 orang(80,0%) tidak setuju bahwa pemeriksaan test IVA dilakukan setelah ada gejala-gejala kanker leher rahim, sebanyak 34 orang (68,0%) setuju bahwa jika ibu sedang dalam kondisi menstruasi, ibu tidak boleh melakukan test IVA, sebanyak 32 orang (64,0%) setuju bahwa jika suami melarang ibu untuk tidak test IVA, ibu tetap menjalankan test IVA.

(17)

akan periksa, sebanyak 35 orang (70,0%) setuju bahwa jika ibu rutin melakukan pemeriksaan test IVA, maka ibu akan terhindar dari kanker leher rahim, sebanyak 46 orang (92,0%) setuju bahwa berganti –ganti pasangan seksual dan wanita perokok tidak perlu melakukan pemeriksaan IVA secara rutin, sebanyak 45 orang (90,0%) setuju bahwa test IVA dapat membantu mencegah kematian akibat kanker leher rahim, sebanyak 31 orang (62,0%) tidak setuju bahwa test IVA hanya dilakukan di rumah sakit tertentu yang memiliki fasilitas yang lengkap, sebanyak 37 orang (74,0%) tidak setuju bahwa test IVA dilakukan setelah ada gejala-gejala kanker leher rahim dan 46 orang (92,0%) setuju bahwa kanker serviks hanya terjadi pada wanita diatas usia 50 tahun, sebanyak 36 orang (72,0%) menyatakan tidak setuju dengan pernyataan ibu merasa malu melakukan test IVA karena yang melakukan adalah petugas kesehatan laki-laki.

4.4.2.3 Kategori Sikap Responden

Tabel 4.9 Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Sikap Responden

No. Sikap Jumlah (n) Persentase (%)

1. Baik 25 50,0

2. 3.

Sedang Kurang

9 16

18,0 32,0

Jumlah 50 100,0

Berdasarkan Tabel 4.9 diatas dikategorikan bahwa 25 orang (50,0%) memiliki sikap baik dalam deteksi dini kanker leher rahim dengan test, kategori sedang sebanyak 9 orang (18,0%) dan kategori kurang sebanyak 16 orang (32,0%).

(18)

4.4.3.1 Tindakan Responden

Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Tindakan Responden Berdasarkan Tindakan Pernah Melakukan Test IVA di Wilayah Kerja

Berdasarkan Tabel 4.10 diatas dari 50 responden hanya 10 orang (20,0%) dikategorikan baik yang artinya pernah melakukan test IVA dan sebanyak 40 orang (80,0%) masuk dalam kategori kurang yang artinya tidak pernah melakukan test IVA.

4.5 Analisa Bivariat

4.5.1 Hubungan Pengetahuan Dengan Tindakan Pemeriksaan IVA

Tabel 4.11 Hasil Hubungan Pengetahuan Responden Dengan Tindakan

(19)

17 orang (100,0%). Hasil uji chi-square menunjukkan (p<0,05) dengan demikian ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan WUS dengan tindakan test IVA.

4.5.2 Hubungan Sikap Dengan Tindakan Pemeriksaan IVA

Tabel 4.12 Hasil Hubungan Sikap Responden Dengan Tindakan

Berdasarkan tabel 4.12 diatas dapat dilihat bahwa responden yang pernah melakukan test IVA dan memiliki sikap baik sebanyak 9 orang (36,0%) sedangkan yang tidak pernah test IVA dan memiliki sikap kurang sebanyak 16 orang (100,0%). Hasil uji chi-square menunjukkan (p<0,05) dengan demikian ada hubungan yang signifikan antara sikap WUS dengan pemeriksaan IVA.

4.6 Responden yang Melakukan Pap Smear sebagai Tindakan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim di Wilayah Kerja Puskesmas Helvetia Kota Medan Tahun 2016

(20)

mengetahui adanya program Puskesmas mengenai deteksi dini kanker leher rahim dengan metode test IVA.

Gambar

Tabel 4.1 Distribusi Jumlah Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Helvetia
Tabel 4.5Distribusi  Frekuensi  Berdasarkan  Jumlah  Paritas  di  wilayahkerja Puskesmas Helvetia kota Medan Tahun 2016
Tabel 4.6Distribusi  Responden  Berdasarkan  Jawaban  Pertanyaan
Tabel 4.6 Lanjutan
+7

Referensi

Dokumen terkait

1) Apakah tegangan jala-jala terlalu rendah : periksa tegangan jala-jala. 2) Apakah penekan packing menekan terlalu keras : kendorkan penekan packing.. 3) Apakah ada

Berdasarkan hasil dapat diketahui bahwa dari 94 subjek yang diteliti, sebanyak 50 orang atau 53% memiliki kejenuhan belajar yang kategorisasinya rendah, berarti

Jumlah tenaga kerja yang ditempatkan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bantul tahun 2015 tercatat sebanyak 863 jiwa, yang terdiri dari 178 orang

Perencanaan penerapan penghafalan al-Qur’an oleh orang tua ayah H dan ibu A akan dibagi menjadi 2 yaitu secara sistematis dan secara bebas. Secara

Upaya pencegahan penyakit malaria lainnya yang perlu dilakukan agar terhindar malaria adalah menjaga kebersihan WC dan menyiapkan air untuk WC, membersihkan lingkungan

Jumlah Petani Responden Berdasarkan Desa/Kelurahan (Orang) Bangun Sari Karyadadi Mardiharjo Purwodadi Rejosari Sadar Karya.. sebanyak 13 petani responden, Desa Karyadadi

Pernyataan mengenai frekuensi memiliki nilai positif pada suara dalam iklan, sebanyak 49 orang (53.3%) menjawab sangat setuju, sebanyak 34 orang (37%) menjawab setuju, sedangkan

“ya..mungkin masih ada juga ibu yang harus dikasih tapi saya juga tidak datang tiap bulan...jadi saya kurang tau apa-apa lagi yang kita dapat pas kalau