• Tidak ada hasil yang ditemukan

INSTITUSI HUKUM PERCERAIAN DI PA.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "INSTITUSI HUKUM PERCERAIAN DI PA.docx"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

INSTITUSI HUKUM PERCERAIAN DI PENGADILAN

AGAMA

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Institusi Hukum Islam

Dosen Pengampu

Dr. Zaenul Mahmudi, MA

Oleh:

Ahkam Riza Kafabih 15781025

PROGRAM MAGISTER AL-AHWAL AL-SYAKHSHIYAH SEKOLAH PASCASARJANA

UINVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perceraian merupakan salah satu materi kompetensi absolut dalam Peradilan Agama. Kewenangan mengadili perkara perceraian telah ada bahkan sebelum Peradilan Agama mendapatkan dasar hukum yang kuat.

Perceraian harus dilakukan di Pengadilan Agama, adapun bentuk perkaranya dapat dilihat dari pihak yang menghendaki perceraian, apakah suami (permohonan cerai talak) atau isteri (cerai gugat). Adapun perceraian yang dilakukan di luar Pengadilan Agama, maka dianggap tidak sah secara hukum.

Pembahasan mengenai perkara perceraian di Peradilan Agama

merupakan suatu hal yang penting, karena menurut data statistik perkara pada tahun 2013, perceraian merupakan kasus yang dominan di Pengadilan

Agama.1 Hal ini dapat menjadi indikasi tentang maraknya kasus perceraian di masyarakat.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian perceraian?

2. Apa peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang perkara perceraian di Pengadilan Agama

3. Bagaimana prosedur penyelesaian perkara perceraian di Pengadilan Agama?

1 Hermansyah, “Cerai Gugat 59 Persen Ekonomi Syariah 0,01 Persen”, Badilag Online,

(3)

http://www.badilag.net/seputar-ditjen-badilag/seputar-ditjen-badilag/cerai-gugat-59-persen-BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Perceraian

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai perceraian, ada baiknya jika terlebih dahulu memahami tentang istilah perceraian, sehingga dapat diketahui batasan-batasan mengenai pembahasan perceraian dalam makalah ini.

Perceraian berasal dari kata cerai, yang berarti pisah dan talak, kata cerai berarti berpisah, sedang kata talak artinya sama dengan cerai. Kata mentalak berarti menceraikan.2 Jadi kata talak sama artinya dengan cerai atau menceraikan. Istilah talak, dan cerai itu dalam bahasa Indonesia sudah umum dipakai oleh masyarakat Indonesia dengan arti yang sama.

Perceraian dalam bahasa Arab disebut “t}ala>k” atau “furqah”. Adapun talak berarti membuka ikatan atau membatalkan perjanjian,

sedangkan furqah berarti berpisah, lawan dari berkumpul, kemudian dua kata itu dipahami oleh para ahli fiqh sebagai istilah yang berarti perceraian antara suami istri.3 Sayid Sabiq dalam bukunya Fiqh al-Sunnah, menjelaskan bahwa talak menurut istilah syara’ adalah: “melepaskan tali perkawinan dan mengakhiri hubungan perkawinan suami istri.”4

Menurut Amir Syarifuddin, putusnya perkawinan adalah istilah hukum yang digunakan dalam Undang-Undang Perkawinan untuk menjelaskan “perceraian” atau berakhirnya hubungan perkawinan. Putusnya perkawinan itu ada dalam beberapa bentuk tergantung dari segi siapa sebenarnya yang berkehendak untuk putusnya perkawinan itu. Dalam hal ini ada empat kemungkinan:5

2 W.J.S. Poerwodarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1976), 20, 998.

3 Kamal Mukhtar, Azas-azas Hukum Islam Tentang Perkawinan, (Yogyakarta: Bulan Bintang, 1993), 156.

4 Sayid Sabiq,Fiqh al-Sunnah, (Beirut: Daar al-Fikr, 1992), II, 206.

(4)

1. Putusnya perkawinan atas kehendak Allah sendiri melalui matinya salah seorang suami istri. Dengan kematian itu dengan sendirinya berakhir pula hubungan perkawinan.

2. Putusnya perkawinan atas kehendak suami oleh alasan tertentu dan dinyatakan dengan ucapan tertentu (ikrar). Perceraian dalam bentuk ini disebut dengan talak.

3. Putusnya perkawinan atas kehendak istri karena adanya sesuatu yang menghendaki putusnya perkawinan yang disampaikan istri dengan cara tertentu dan diterima oleh suami, lalu dilanjutkan dengan ucapannya untuk memutus perkawinan. Putus perkawinan dengan cara ini disebut khulu’.

4. Putusnya perkawinan atas kehendak hakim sebagai pihak ketiga setelah melihat adanya sesuatu pada suami dan/atau istri yang menandakan tidak dapatnya hubungan perkawinan itu dilanjutkan. Putusnya perkawinan ini disebut dengan fasakh.

Menurut pasal 114 Kompilasi Hukum Islam (KHI), dijelaska bahwa putusnya perkawinan yang disebabkan karena perceraian dapat terjadi karena talak atau berdasarkan gugatan perceraian. Maka pengertian perceraian menurut KHI terbatas pada cerai talak dan cerai gugat.

Dari penjelasan mengenai berbagai pengertian perceraian di atas, maka perceraian dapat dimaknai dalam arti sempit dan dalam arti luas. Dalam arti sempit, perceraian dimaknai sebagai cerai talak dan cerai gugat. Sedangkan dalam arti luas, perceraian dapat dimaknai dengan putusnya perkawinan, yang mencakup di dalamnya kematian suami dan/atau istri serta pembatalan perkawinan.

Karena pembahasan dalam makalah ini lebih difokuskan pada perceraian sebagai institusi hukum serta penyelesaiannya dalam Pengadilan Agama, maka menurut hemat penulis, alangkah tepatnya jika perceraian dimaknai secara sempit sebagai cerai talak dan cerai gugat, dan

(5)

B. Peraturan Perundang-Undangan Perkara Perceraian di Pengadilan Agama

Ketika membahas tentang institusi hukum, maka tak akan lepas dari peraturan perundang-undangan yang mendasarinya, sehingga perlu

memunculkan pembahasan mengenai peraturan perundang undangan tersebut. Adapun peraturan perundang-undangan yang mendasari perkara perceraian di Pengadilan agama antara lain adalah:

1. UU no. 1 tahun 1974 tentang perkawinan, dalam bab VIII tentang putusnya perkawinan,

a. Pasal 38 menjelaskan tentang sebab-sebab putusnya perkawinan, yakni kematian, perceraian dan atas keputusan Pengadilan. Pasal ini menjelaskan secara umum tentang putusnya perkawinan, yang termasuk di dalamnya khulu’, talak dan fasakh.

b. Pasal 39 menjelaskan bahwa perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan dengan cukup alasan bahwa suami dan istri tidak dapat rukun setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak, dengan melalui prosedur yang diatur dalam undang-undang.

c. Pasal 40 menjelaskan bahwa Gugatan perceraian diajukan kepada Pengadilan, sesuai ketentuan yang diatur dalam undang-undang. Kata Gugatan ini termasuk di dalamnya adalah permohonan cerai talak, sebab dalam perkara permhonan cerai talak terdapat unsur gugatan (contentius) dan bukan merupakan permohonan semata (voluntair). d. Pasal 41 menjelaskan tentang akibat putusnya perkawinan karena

perceraian

2. Kompilasi Hukum Islam dalam bab XVI tentan putusnya perkawinan, a. Pasal 113 senada dengan UU Perkawinan pasal 38, yakni tentang

sebab-sebab putusnya perkawinan,

b. Pasal 114 menjelaskan tentang perceraian yang menjadi penyebab putusnya perkawinan, yakni talak dan gugatan perceraian,

(6)

d. Pasal 116 menjelaskan tentang alasan-alasan perceraian, dalam pasal ini dijelaskan bahwa alasan-alasan perceraian antara lain:

1) Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan

2) Salah satu pihak mninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya

3) Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung 4) Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat

yang membahayakan pihak lain

5) Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau isteri 6) Antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan

pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga

7) Suami menlanggar taklik talak

8) Peralihan agama tau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga

e. Pasal 117 menjelaskan tentang pengertian talak, yaitu ikrar suami di hadapan sidang Pengadilan Agama yang menjadi salah satu sebab putusnya perkawinan

f. Pasal 118 sampai pasal 122 menjelaskan tentang istilah-istilah yang berkaitan dengan talak dan uraiannya, yaitu talak raj’i, talak bain sughra, talak bain kubro, talak sunni dan talak bid’i

g. Pasal 123 tertulis, Perceraian itu terjadi terhitung pada saat perceraian itu dinyatakan di depan sidang pengadilan. Menurut penulis, yang dimaksud pernyataan perceraian dalam pasal ini adalah ikrar talak, sebab untuk cerai gugat terdapat pasal tersendiri yang membahasnya. h. Pasal 124 menyatakan bahwa khuluk dapat didasarkan atas alasan

perceraian sesuai ketentuan pasal 116

i. Pasal 125 sampai 128 menjelaskan tentang li’an

(7)

k. Pasal 149 sampai 162 menjelaskan tentang akibat putusnya perkawinan sebab perceraian, termasuk di dalamnya akibat talak, khulu’, li’an dn cerai gugat

3. UU no. 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama (UU PA) pada bab IV tentang hukum acara bagian kedua tentang pemeriksaan sengketa

perceraian, pasal 65 menjelaskan bahwa percraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama setelah Pengadilan Agama berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak, senada dengan pasal 39 ayat 1 UU Perkawinan dan pasal 115 KHI. Adapun pasal 66 sampai 91, menjelaskan tentang hukum formal mengenai pemeriksaan sengketa perkawinan.

Mengenai Pasal-pasal yang berhubungan dengan mekanisme dan hukum acara dalam penyelesaian perkara perceraian akan diuraikan dalam sub bab selanjutnya mengenai prosedur penyelesaian perkara perceraian di Pengadilan Agama.

C. Prosedur Penyelesaian Perkara Perceraian di Pengadilan Agama

1. Penerimaan Perkara

Berdasarkan ketentuan pasal 129 dan pasal 132 KHI, pengajuan perkara perceraian dapat dilakukan secara tertulis (surat) dan secara lisan. Surat tersebut ditujukan ke ketua Pengadilan Agama tempat istri tinggal, kecuali apabila istri meninggalkan tempat kediaman tanpa izin suami atau berada di luar negeri (Pasal 132 KHI jo. Pasal 66 dan 73 UU PA).

Penggugat/pemohon menuju ke meja I untuk menyerahkan berkas gugatan/permohonan. Perkara tersebut kemudian akan ditaksir besarnya panjar biaya perkara oleh petugas meja I dan dituangkan dalam Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM).6

Berkas perkara yang diajukan kepada Pengadilan Agama harus memuat antara lain:

a. Surat gugatan, yang juga memuat nama, umur dan tempat kediaman para pihak serta alasan yang menjadi dasar perceraian

6 Ibrahim Ahmad Harun, Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Peradilan Agama

(8)

(Pasal 67 UU PA) sebanyak jumlah pihak ditambah tiga rangkap untuk majelis hakim

b. Surat kuasa khusus, jika menguasakan kepada pihak lain c. Fotokopi kartu anggota advokat, bagi yang menggunakan jasa

advokat

d. Surat keterangan hubungan keluarga bagi kuasa insidentil.7 Setelah perkara diterima oleh meja I, petugas memberikan SKUM untuk pemohon/penggugat. Pemohon/penggugat melakukan pembayaran panjar biaya ke bank yang ditunjuk oleh Pengadilan, kemudian menyerahkan bukti pembayaran kepada kasir (meja I). Meja I kemudian memberikan surat gugatan yang telah diberi nomor perkara kepada pemohon/penggugat untuk didaftarkan ke meja II. Oleh petugas meja II, perkara didaftarkan dalam register buku induk perkara dan dibuat berkas perkaranya, kemudian berkas perkara diserahkan kepada panitera untuk kemudian disampaikan kepada ketua Pengadilan

Agama.8

2. Pemeriksaan Perkara a. Pembukaan Sidang

Pada sidang pertama yang ditetapkan melalui penetapan hari sidang, suami dan istri harus hadir secara pribadi di persidangan, kecuali ketika bertempat tinggal di luar negeri (Pasal 82 UU PA). Apabila pihak tergugat tidak hadir dalam sidang pertama karena alamat tidak jelas, maka pengadilan mengeluarkan pengumuman melalui media sebanyak dua kali dengan tenggang waktu selama satu bulan (Pasal 138 KHI ayat 2), apabila telah diumumkan dan tidak hadir, maka gugatan diterima tanpa hadirnya tergugat kecuali gugatan itu tanpa hak atau tidak beralasan pasal 138 KHI ayat 4).

b. Penanyaan identitas pihak

Setelah sidang dinyatakan terbuka, untuk menghindari error in persona (keliru mengenai orang) maka hal pertama yang dilakukan majelis hakim adalah menanyakan identitas pihak-pihak, dimulai dari penggugat dan selanjutnya tergugat meliputi nama, bin/ti,

(9)

alias/julukan/gelar/, umur, agama, pekerjaan, dan tempat tinggal terakhir.

Penanyaan identitas bersifat formal, meskipun majelis hakim sudah mengenali pihak-pihak tetap harus dilakukan, penanyaan identitas bersifat kebijaksanaan umum dalam persidangan yang dilakukan oleh ketua majelis yang bertanggung jawab mengenai arah pemeriksaan. Selain itu majelis juga menanyakan apakah para pihak ada/tidak memiliki hubungan darah atau hubungan semenda dengan para hakim dan panitera yang menyidangkan perkara, untuk

mengantisipasi adanya kewajiban hakim mengundurkan diri dalam memeriksa perkara.

c. Anjuran damai

Pada sidang pertama jika kedua belah pihak hadir maka pengadilan berusaha mendamaikan mereka melalui mediasi (Pasal 130 HIR / Pasal 154 RBg jo Pasal 82 UU PA, jo PERMA no. 1 tahun 2008)9, jika berhasil perkara diakhiri dengan perdamaian yang dituangkan dalam akta perdamaian yang kekuatan hukumnya sama dengan putusan, tetapi tidak dapat dibanding atau diajukan lagi (Pasal 83 UU PA). Dalam sengketa perceraian, anjuran damai menjadi satu asas hukum acara Peradilan Agama yang menjadi kewajiban

pemeriksaan.10

Upaya mendamaikan menjadi kewajiban hukum bagi hakim yang bersifat imperatif terutama dalam sengketa perceraian atas alasan perselisihan dan pertengkaran. Upaya yang ditempuh oleh hakim harus berupa usaha yang nyata dan optimal bahkan jika tidak berhasil pada sidang pertama dapat terus diupayakan selama perkara belum diputus (Pasal 143 KHI), dan dalam dalam proses tersebut, hakim dapat meminta bantuan kepada orang atau badan hukum lain yang ditunjuk, seperti mediator.

d. Pembacaan gugatan

9 Harun, Pedoman Pelaksanaan Tugas., 38-39.

(10)

Setelah gugatan dibacakan, sebelum tahap jawaban tergugat, penggugat berkesempatan untuk menyatakan sikap sehubungan dengan gugatannya.11 Terdapat kemungkinan sikap penggugat:

1) Mencabut gugatan

Menurut sistem HIR atau R.Bg tidak ada pengaturan tentang pencabutan gugatan, akan tetapi karena majelis hakim berperan aktif, majelis hakim dapat menyarankan kepada

penggugat untuk tidak meneruskan perkara yang bersangkutan dan diupayakan diselesaikan saja diluar sidang pengadilan.12

2) Mengubah gugatan

Pengertian mengubah surat gugatan yang dibolehkan adalah jika tuntutan yang dimohonkan pengubahan itu tetap berdasarkan hubungan hukum yang menjadi dasar tuntutan semula. Jadi, pengubahan yang dimaksud tidak mengubah kejadian materiil yang menjadi dasar gugatan.13

e. Jawaban tergugat

Didalam HIR tidak ada ketentuan yang mewajibkan tergugat untuk menjawab gugatan penggugat. Pasal 121 ayat 2 HIR (pasal 145 ayat 2 Rbg) hanya menentukan bahwa tergugat dapat menjawab, baik secara tertulis maupun lisan.14

f. Replik dan duplik

Setelah tergugat memberikan jawabannya, selanjutnya

kesempatan beralih kepada penggugat untuk memberikan replik yang menanggapi jawaban tergugat sesuai dengan pendapatnya. Penggugat mungkin mempertahankan gugatan dan menambah keterangan untuk memperjelas dalil-dalilnya atau mengubah sikap dengan

membenarkan jawaban/bantahan tergugat.15

Setelah replik penggugat, maka bagi tergugat dapat

membalasnya dengan mengajukan duplik yang kemungkinan sikapnya

11 Aris Bintania, Hukum Acara Peradilan Agama, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2012), 23.

12 Abdul Kadir Muhammad, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2012), 68.

13 Muhammad, Hukum Acara Perdata., 64.

(11)

sama seperti replik penggugat. Replik dan duplik (jawab-menjawab) dapat terus diulangi sampai didapat titik temu atau dianggap cukup oleh hakim.16

g. Pembuktian

Pembuktian adalah suatu proses pengungkapan fakta-fakta yang menyatakan bahwa suatu peristiwa hukum benar sudah terjadi. Peristiwa hukum yang sudah terjadi itu dapat berupa perbuatan, kejadian, atau keadaan tertentu seperti yang diatur oleh hukum. Peristiwa hukum yang sudah terjadi tersebut menimbulkan suatu konsekuensi yuridis, yaitu suatu hubungan hukum yang menjadi dasar adanya hak dan kewajiban pihak-pihak.17

Pembuktian dalam proses perdata adalah upaya yang dilakukan para pihak untuk menyelesaikan persengketaan mereka atau untuk memberi kepastian tentang benar terjadinya peristiwa hukum tertentu, dengan menggunakan alat bukti yang ditentukan hukum, sehingga dapat dihasilkan suatu penetapan atau putusan oleh pengadilan.18 h. Kesimpulan para pihak

Setelah tahap pembuktian berakhir sebelum dibacakan keputusan, para pihak diberikan kesempatan untuk memberikan pendapat akhir yang merupakan kesimpulan mereka terhadap hasil pemeriksaan selama persidangan. Konklusi sifatnya membantu Majelis Hakim, pihak yang sudah biasa berperkara biasanya selalu membuat catatan-catatan penting mengenai persidangan dan catatan itulah biasanya yang diajukan sebagai konklusi, mengingat hakim adalah juga manusia biasa yang kemampuan ingatannya juga terbatas, disamping mungkin ada pergantian majelis hakim dalam persidangan. Dalam perkara-perkara yang sederhana dan jika memang tidak

diperlukan konklusi para pihak dapat ditiadakan.19 i. Musyawarah majelis Hakim

16 Bintania, Hukum Acara Peradilan., 26.

17 Muhammad, Hukum Acara Perdata., 125.

18 Achmad Ali dan Wiwie Heryani, Asas-Asas Hukum Pembuktian Perdata, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2012), 21.

(12)

Musyawarah majelis hakim merupakan perundingan yang dilaksanakan untuk mengambil keputusan terhadap suatu perkara yang diajukan kepadanya dan sedang diproses dalam persidangan di

pengadilan Agama yang berwenang. Musyawarah majelis hakim dilakukan secara rahasia, tertutup untuk umum. Semua pihak maupun hadirin disuruh meninggalkan ruangan sidang. Dikatakan rahasia artinya, baik dikala musyawarah maupun sesudahnya, kapan dan dimana saja hasil musyawarah majelis tersebut tidak boleh dibocorkan sampai ia diucapkan dalam keputusan yang terbuka untuk umum.20 j. Putusan Perkara

Pengucapan keputusan dilakukan selalu dalam sidang terbuka untuk umum sekalipun mungkin dahulunya, karena alasan tertentu sidang-sidang dilakukan tertutup (Pasal 81 UU PA). Pengucapan keputusan hanya boleh dilakukan minimal setelah keputusan selesai terkonsep rapi yang sudah ditandatangani oleh hakim dan panitera sidang.

(13)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Perceraian dapat dimaknai dalam arti sempit dan dalam arti luas. Dalam arti sempit, perceraian dimaknai sebagai cerai talak dan cerai gugat. Sedangkan dalam arti luas, perceraian dapat dimaknai dengan putusnya perkawinan, yang mencakup di dalamnya kematian suami dan/atau istri serta pembatalan perkawinan.

Peraturan perundang-undangan yang mendasari perkara perceraian di Pengadilan agama antara lain adalah Undang-Undang No. 1 Tahun 174 tentang Perkawinan pasal 38 sampai 41, Kompilasi Hukum Islam pasal 113 sampai 162 dan Undang-undang No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama pasal 65 sampai 91.

Pengajuan perkara perceraian dapat dilakukan secara tertulis (surat) dan secara lisan. Surat tersebut ditujukan ke ketua Pengadilan Agama tempat istri tinggal, kecuali apabila istri meninggalkan tempat kediaman tanpa izin suami atau berada di luar negeri.

Prosedur pemeriksaan perkara perceraian diawali dengan

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Kadir Muhammad, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2012).

Achmad Ali dan Wiwie Heryani, Asas-Asas Hukum Pembuktian Perdata, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2012).

Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009).

Aris Bintania, Hukum Acara Peradilan Agama, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2012).

A. Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama, (Jakarta: Kencana, 2009).

Hermansyah, “Cerai Gugat 59 Persen Ekonomi Syariah 0,01 Persen”, Badilag Online, http://www.badilag.net/seputar-ditjen-badilag/seputar-ditjen-badilag/cerai-gugat-59-persen-ekonomi-syariah-001-persen-34 Diakses tanggal 4 November 2016.

Ibrahim Ahmad Harun, Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Peradilan Agama (Mahkamah Agung RI: Dirjen Badan Peradilan Agama, 2013) II. Kamal Mukhtar, Azas-azas Hukum Islam Tentang Perkawinan, (Yogyakarta:

Bulan Bintang, 993).

Roihan A. Rasyid, Hukum Acara Peradilan Agama, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2006).

Sayid Sabiq,Fiqh al-Sunnah, (Beirut: Daar al-Fikr, 1992).

Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Yogyakarta: Cahaya Atma Pustaka, 2013).

Referensi

Dokumen terkait

Pemasangan Gelagar memanjang Tepi dipasang terlebih dahulu kemudian dilanjutkan pemasangan Gelagar memanjang Tengah untuk menghindari kesulitan pemasangan

mendukung proses dan atmosfir akademik yang kondusif. Memiliki 7 Fakultas dan 1 program Pascasarjana yang terdiri dari 24 program studi. Kegiatan kemahasiswaan Universitas

Sedangkan pada penelitian ini, aplikasi mobile Android yang dihasilkan terdiri dari pembelajaran Huruf Hangeul, Batchim dan Batchim Gabungan serta ditambahkan fitur mini

Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis ditolak, dengan demikian tidak terdapat hubungan antara tipe kepribadian terhadap kesabaran pasien hemodialisa di rumah sakit

UNP dalam melaksanakan pendidikan akademik maupun pendidikan profesional dapat membuka atau menutup Fakultas/Program Pascasarjana/jurusan dan program studi atas pertimbangan

Dipipet 10 mL lamtan standar sulfat dengan konsentrasi 20 mg/L dan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 50 mL Kemudian ditambahkan 1 mL lamtan asam induk (campuran lamtan standar sulfat

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul “Analisis Pengaruh Rasio Rentabilitas dan Likuiditas terhadap Capital

Ketoasidosis Diabetik adalah keadaan kegawatan atau akut dari DM tipe I, disebabkan oleh meningkatnya keasaman tubuh benda-benda keton akibat kekurangan