• Tidak ada hasil yang ditemukan

makalah sosiologi konflik 1.pdf (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "makalah sosiologi konflik 1.pdf (1)"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH SOSIOLOGI

“PENYELESAIAN KONFLIK KURANG KEDISIPLINAN SISWA

TERHADAP PERATURAN SEKOLAH DI SMA KSATRYA”

DISUSUN OLEH : AL-AMARA MIFTAHUL JANNAH

M.AKHSAN .S M.IKHSAN

TALITHA FAIRUZ SALSABILA

KELAS XI IPS 3

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

Makalah yang dibuat dengan judul “PENYELESAIAN KONFLIK KURANG KEDISIPLINAN SISWA TERHADAP PERATURAN SEKOLAH DI SMA KSATRYA”disahkan dan disetujui pada:

Hari/Tanggal : Minggu,21 Mei 20170 Tempat : SMA KSATRYA

Perwakilan kelompok Guru pembimbing Sosiologi

(3)

Kata Pengantar

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua,sehingga makalah yang berjudul “PENYELESAIAN KONFLIK KURANG KEDISIPLINAN SISWA TERHADAP PERATURAN SEKOLAH DI SMA KSATRYA”ini dapat dibuat sebaik

baiknya.shalawat dan salam kita limpahkan kepada junjungan Nabi Muhammas SAW,keluarga,sahabat dan insyaallah sampai kepada kita semua umat nya

Tak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada guru pembimbing sosiologi kami Ibu Julia Ristiana

Dalam pembuatan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan maka dari itu kami berharap kritik dan saran dari berbagai pihak.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami dan pembaca pada umumnya

Jakarta,21 Mei 2017 Penyususun

(4)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN………... 2

KATA PENGANTAR………... 3

DAFTAR ISI………. 4

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang……… 5

1.2 Perumusan Masalah……… 5

1.3 Tinjauan Pustaka………. 6

1.4 Metode Penelitian……….. 10

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pembahasan……….. 11

2.2 Analisis Hasil Penelitian……….. 13

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan………... 14

3.2 Saran………... 14

(5)

PENYELESAIAN KONFLIK KURANG KEDISIPLINAN SISWA

TERHADAP PERATURAN SEKOLAH DI SMA KSATRYA

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Maraknya kasus di indonesia seperti kasus siswa Sekolah Menengah pertama Islam Terpadu Al Karim Noer yang nekat menikam gurunya sendiri di daerah Sekayu,42 siswa SMAN 6 jakarta langgar tata tertib sekolah di karenakan tawuran pelajar serta kasus siswa kelas XII SMA Ksatrya 51 yang membolos sekolah dan pergi menongkrong dengan kawan kawannya.membuat pihak sekolah mengetatkan peraturan sekolah dan menindak lanjuti kasus para muridnya. idisiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya merupakan tanggung jawabnya.

Pendisiplinan adalah usaha usaha untuk menanamkan nilai ataupun pemaksaan agar subjek memiliki kemampuan untuk menaati sebuah peraturan. Pendisiplinan bisa jadi menjadi istilah pengganti untuk hukuman ataupun instrumen hukuman di mana hal ini bisa dilakukan pada diri sendiri ataupun pada orang lain.

Seperti hal yang kami amati di lingkungan sekolah kami para siswa masih saja melanggar peraturan sekolah seperti misalnya terlambat masuk sekolah,tidak mengerjakan tugas,membolos,bermain handphone saat jam pelajaran,seragam yang tidak rapih,tidak memakai dasi gesper dan topi saat upacara.tentu saja pihak sekolah membuat kegiatan seperti razia disetiap kelas agar para murid merasa jera dan tidak mengulang perbuatan mereka lagi.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut rumusan masalah yang didapat sebagai berikut.

1. Apa tindakan yang harus di lakukan ketika ada siswa yang tidak mematuhi peraturan yang ada di sekolah ?

2. Bagaimana cara pihak sekolah untuk menertibkan siswa yang melanggar kedisiplinan di sekolah ?

(6)

1.3Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka berisi teori teori yang di kemukakan oleh para ahli berkaitan dengan topik yang dipilih

Teori disiplin

iiSiswanto (2001) memandang bahwa disiplin adalah suatu sikap menghormati, menghargai, patuh, dan taat terhadap peraturan-peraturan yang berlaku, baik yang tertulis maupun tidak tertulis serta sanggup menjalankannya dan tidak mengelak untuk menerima sanksi-sanksinya apabila ia melanggar tugas dan wewenang yang diberikan kepadanya.

Flippo (dalam Atmodiwirjo, 2000) mengemukakan bahwa displin adalah setiap usaha mengkoordinasikan perilaku seseorang pada masa yang akan datang dengan mempergunakan hukum dan ganjaran.

Definisi diatas memfokuskan pengertian disiplin sebagai usaha untuk menata perilaku seseorang agar terbiasa melaksanakan sesuatu sebagaimana mestinya yang dirangsang dengan hukuman dan ganjaran.

Atmosudirjo (dalam Atmodiwirjo, 2000) mendefinisikan disiplin sebagai bentuk ketaatan dan pengendalian diri erat hubungannya rasionalisme, sadar, tidak emosional. Pendapat ini mengilustrasikan bahwa displin sebagai suatu bentuk kepatuhan terhadap aturan melalui pengendalian diri yang dilakukan melalui pertimbangan yang rasional.

Depdiknas (2001) mendefinisikan disiplin atau tetib adalah suatu sikap konsisten dalam melakukan sesuatu. Menurut pandangan ini displin sebagia suatu sikap konsisten dalam melakukan sesuatu. Menurut pandangan ini disiplin sebagia sikap yang taat terhadap sesuatu aturan yang menjadi kesepakatan atau telah menjadi ketentuan.

Fathoni (2006) kedisiplinan dapat diartikan bila mana pegawai selalu datang dan pulang pada tepat waktu yang ditentukan oleh kepala manejer, pimpinan dari masing-masing instansi.

Menurut Hasibuan (2002) disiplin adalah suatu sikap menghormati dan menghargai suatu peraturan yang berlaku,baik secara tertulis maupun tidak tertulis serta sanggup menjalankannya dan tidak menolak untuk menerima sanksi-sanksi apabila dia melanggar tugas dan wewenang yang diberikan kepadanya.

Dari pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, ketentraman, keteraturan dan ketertiban.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kedisiplinan

(7)

Pada dasarnya banyak faktor yang mempengaruhi tingkat kedisiplinan siswa suatu sekolah, diantaranya :

a. Tujuan dan kemampuan

Tujuan dan kemampuan ikut mempengaruhi tingkat kedisiplinan siswa. Tujuan yang

akan dicapai harus jelas dan ditetapkan secara ideal serta cukup menantang bagi

kemampuan siswa. Hal ini berarti bahwa tujuan (pelajaran) yang dibebankan kepada

siswa harus sesuai dengan kemampuan siswa bersangkutan, agar belajar

sungguh-sungguh dan disiplin dalam mengerjakannya. Akan tetapi, jika pelajaran itu di luar

kemampuannya atau jauh di bawah kemampuannya maka kesungguhan dan

kedisiplinan siswa rendah.

b. Teladan Guru

Teladan guru sangat berperan dalam menentukan kedisiplinan siswa karena guru

dijadikan teladan dan panutan oleh para siswanya. Guru harus memberi contoh yang

baik, jujur, adil, serta sesuai kata dengan perbuatan. Dengan teladan guru yang baik,

kedisiplinan siswa pun akan ikut baik. Jika teladan guru kurang baik (kurang

berdisiplin), para siswa pun akan kurang disiplin. Guru jangan mengharapkan

kedisiplinan siswanya baik jika dia sendiri kurang disiplin. Guru harus menyadari

bahwa perilakunya akan dicontoh dan diteladani siswanya, Hal inilah yang

mengharuskan guru mempunyai kedisiplinan yang baik agar para siswa pun

mempunyai disiplin yang baik pula.

c. Balas jasa

Balas jasa ikut mempengaruhi kedisiplinan siswa karena balas jasa akan memberikan

(8)

semakin baik terhadap pelajaran, kedisiplinan mereka akan semakin baik pula. Untuk

mewujudkan kedisiplinan siswa yang baik, sekolah harus memberikan balas jasa yang

sesuai. .

d. Keadilan

Keadilan ikut mendorong terwujudnya kedisiplinan siswa, karena ego dan sifat

manusia yang selalu merasa dirinya penting dan minta diperlakukan sama dengan

manusia lainnya. Keadilan yang dijadikan dasar kebijaksanaan dalam pemberian balas

jasa (pengakuan) atau hukuman akan merangsang terciptanya kedisiplinan siswa yang

baik. Guru yang cakap dalam mengajar selalu berusaha bersikap adil terhadap semua

siswanya. Dengan keadilan yang baik akan menciptakan kedisiplinan yang baik pula.

Jadi, keadilan harus diterapkan dengan baik pada setiap sekolah supaya kedisiplinan

siswa sekolah baik pula

e. Waskat

Waskat (pengawasan melekat) adalah tindakan nyata dan paling efektif dalam

mewujudkan kedisiplinan siswa sekolah. Dengan waskat berarti guru harus aktif dan

langsung mengawasi perilaku, moral, sikap, gairah belajar, dan prestasi belajar

siswanya. Hal ini berarti guru harus selalu ada/hadir di sekolah agar dapat mengawasi

dan memberikan petunjuk, jika ada siswanya yang mengalami kesulitan dalam

menyelesaikan pelajarannya.

f. Sangsi atau Hukuman

Sanksi hukuman berperan penting dalam memelihara kedisiplinan siswa. Dengan

(9)

peraturan-peraturan sekolah, sikap dan perilaku indispliner siswa akan berkurang.

Berat/ringannya sanksi hukuman yang akan diterapkan ikut mempengaruhi

baik/buruknya kedisiplinan siswa. Sanksi hukuman harus ditetapkan berdasarkan

pertimbangan logis, masuk akal dan diinformasikan secara jelas kepada semua siswa.

Sanksi hukuman seharusnya tidak terlalu ringan atau terlalu berat supaya hukuman itu

tetap mendidik siswa untuk mengubah perilakunya. Sanksi hukuman hendaknya cukup

wajar untuk setiap tingkatan yang indisiliner, bersifat mendidik dan menjadi alat

motivasi untuk memelihara kedisiplinan dalam sekolah.

g. Ketegasan

Ketegasan guru dalam melakukan tindakan akan mempengaruhi kedisiplinan siswa

sekolah. Guru harus berani dan tegas, bertindak untuk menghukum setiap siswa yang

indisipliner sesuai dengan sanksi hukuman yang telah ditetapkan. Guru yang berani

bertindak tegas menerapkan hukuman bagi siswa yang indisipliner akan disegani dan

diakui kedisiplinannya oleh siswa. Dengan demikian, guru akan dapat memelihara

kedisiplinan siswa sekolah. Sebaliknya apabila seorang guru kurang tegas atau tidak

menghukum siswa yang indisipliner, sulit baginya untuk memelihara kedisiplinan

siswanya, bahkan sikap indisipliner siswa semakin banyak karena mereka beranggapan

bahwa peraturan dan sanksi hukumannya tidak berlaku lagi. Guru yang tidak tegas

menindak atau menghukum siswa yang melanggar peraturan, sebaiknya tidak usah

membuat peraturan atau tata tertib pada sekolah tersebut.

Hubungan kemanusiaan yang harmonis di antara sesama siswa ikut menciptakan

kedisiplinan yang baik pada suatu sekolah. Hubungan-hubungan baik bersifat vertikal

(10)

arelationship dan cross relationship hendaknya harmonis. Guru harus berusaha menciptakan suasana hubungan kemanusiaan yang serasi serta mengikat, vertikal maupun horizontal diantara semua siswanya. Terciptanya human relationship yang serasi akan mewujudkan lingkungan dan suasana belajar yang nyaman. Hal ini akan

memotivasi kedisiplinan yang baik pada sekolah. Jadi, kedisiplinan siswa akan tercipta

apabila hubungan kemanusiaan dalam sekolah tersebut baik.

1.3Metode penelitian

(11)

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pembahasan

Membicarakan tentang disiplin sekolah tidak bisa dilepaskan dengan persoalan perilaku negatif siswa. Perilaku negatif yang terjadi di kalangan siswa remaja pada akhir-akhir ini tampaknya sudah sangat mengkhawarirkan, seperti: kehidupan sex bebas, keterlibatan dalam narkoba, gang motor dan berbagai tindakan yang menjurus ke arah kriminal lainnya, yang tidak hanya dapat merugikan diri sendiri, tetapi juga merugikan masyarakat umum. Di lingkungan internal sekolah pun pelanggaran terhadap berbagai aturan dan tata tertib sekolah masih sering ditemukan yang merentang dari pelanggaran tingkat ringan sampai dengan pelanggaran tingkat tinggi, seperti : kasus bolos, perkelahian, nyontek, pemalakan, pencurian dan bentuk-bentuk penyimpangan perilaku lainnya.Tentu saja, semua itu membutuhkan upaya pencegahan dan penanggulangganya, dan di sinilah arti penting disiplin sekolah.

Perilaku siswa terbentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor lingkungan, keluarga dan sekolah. Tidak dapat dipungkiri bahwa sekolah merupakan salah satu faktor dominan dalam membentuk dan mempengaruhi perilaku siswa. Di sekolah seorang siswa berinteraksi dengan para guru yang mendidik dan mengajarnya. Sikap, teladan, perbuatan dan perkataan para guru yang dilihat dan didengar serta dianggap baik oleh siswa dapat meresap masuk begitu dalam ke dalam hati sanubarinya dan dampaknya kadang-kadang melebihi pengaruh dari orang tuanya di rumah. Sikap dan perilaku yang ditampilkan guru tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari upaya pendisiplinan siswa di sekolah.

Brown dan Brown mengelompokkan beberapa penyebab perilaku siswa yang indisiplin, sebagai berikut :

1. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh guru.

2. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh sekolah; kondisi sekolah yang kurang

menyenangkan, kurang teratur, dan lain-lain dapat menyebabkan perilaku yang kurang atau tidak disiplin.

3. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh siswa , siswa yang berasal dari keluarga yang broken home.

(12)

Sehubungan dengan permasalahan di atas, seorang guru harus mampu menumbuhkan disiplin dalam diri siswa, terutama disiplin diri. Dalam kaitan ini, guru harus mampu melakukan hal-hal sebagai berikut :

1. Membantu siswa mengembangkan pola perilaku untuk dirinya; setiap siswa berasal dari latar belakang yang berbeda, mempunyai karakteristik yang berbeda dan kemampuan yang berbeda pula, dalam kaitan ini guru harus mampu melayani berbagai perbedaan tersebut agar setiap siswa dapat menemukan jati dirinya dan mengembangkan dirinya secara optimal.

2. Membantu siswa meningkatkan standar prilakunya karena siswa berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda, jelas mereka akan memiliki standard prilaku tinggi, bahkan ada yang mempunyai standard prilaku yang sangat rendah. Hal tersebut harus dapat diantisipasi oleh setiap guru dan berusaha meningkatkannya, baik dalam proses belajar mengajar maupun dalam

pergaulan pada umumnya.

3. Menggunakan pelaksanaan aturan sebagai alat; di setiap sekolah terdapat aturan-aturan umum. Baik aturan-aturan khusus maupun aturan umum. Perturan-peraturan tersebut harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, agar tidak terjadi pelanggaran-pelanggaran yang mendorong perilaku negatif atau tidak disiplin.

Selanjutnya, Brown dan Brown mengemukakan pula tentang pentingnya disiplin dalam proses pendidikan dan pembelajaran untuk mengajarkan hal-hal sebagai berikut :

1. Rasa hormat terhadap otoritas/ kewenangan; disiplin akan menyadarkan setiap siswa tentang kedudukannya, baik di kelas maupun di luar kelas, misalnya kedudukannya sebagai siswa yang harus hormat terhadap guru dan kepala sekolah.

2. Upaya untuk menanamkan kerja sama; disiplin dalam proses belajar mengajar dapat dijadikan sebagai upaya untuk menanamkan kerjasama, baik antara siswa, siswa dengan guru, maupun siswa dengan lingkungannya.

3. Kebutuhan untuk berorganisasi; disiplin dapat dijadikan sebagai upaya untuk menanamkan dalam diri setiap siswa mengenai kebutuhan berorganisasi.

4. Rasa hormat terhadap orang lain; dengan ada dan dijunjung tingginya disiplin dalam proses belajar mengajar, setiap siswa akan tahu dan memahami tentang hak dan kewajibannya, serta akan menghormati dan menghargai hak dan kewajiban orang lain.

5. Kebutuhan untuk melakukan hal yang tidak menyenangkan; dalam kehidupan selalu dijumpai hal yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan. Melalui disiplin siswa dipersiapkan untuk mampu menghadapi hal-hal yang kurang atau tidak menyenangkan dalam kehidupan pada umumnya dan dalam proses belajar mengajar pada khususnya.

(13)

2.2Analisis hasil penelitian

Sejauh yang kita teliti sebagian besar para pelajar sering melanggar peraturan yang ada di sekolah

disebabkan kurangnya kesadaran diri dan ketidak ingin ketahuan siswa untuk menaati aturan

sekolah.vDisiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya merupakan

tanggung jawabnya. Disiplin diri merujuk pada pelatihan yang didapatkan seseorang untuk memenuhi

tugas tertentu atau untuk mengadopsi pola perilaku tertentu, walaupun orang tersebut lebih senang

melakukan hal yang lain. Sebagai contoh, seseorang mungkin saja tidak melakukan sesuatu yang

menurutnya memuaskan dan menyenangkan dengan membelanjakan uangnya untuk sesuatu yang ia

inginkan dan menyumbangkan uang tersebut kepada organisasi amal dengan pikiran bahwa hal tersebut

le ih pe ti g. “e ara eti ologi disipli erasal dari ahasa Lati disi el ya g erarti Pe gikut. “eiri g

de ga perke a ga za a , kata terse ut e gala i peru aha e jadi disipli e ya g arti ya

kepatuhan atau yang menyangkut tata tertib. Disiplin memerlukan integritas emosi dalam mewujudkan

keadaan. Disiplin diri berawal dari hal-hal kecil, seperti misalnya bagi pelajar yang mampu membagi waktu

untuk belajar , untuk bermain sehingga tak menimbulkan suatu pertabrakan kegiatan pada waktu yang

sama. Disiplin diri juga bisa kita lihat dengan contoh sederhana yaitu dengan pelajar tersebut mengerjakan

(14)

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kedisiplinan sangatlah penting karena mengajarkan kita untuk lebih memerhatikan kerapihan dan

kebersihan dalam diri sendiri serta menjaga nama baik,karena sebagian besar perilaku seseorang

berasal dari kebiasaan dirumah maka dari itu peran orangtua juga sangat penting

3.2 Saran

Sebaiknya kita para pelajar lebih sadar diri akan kedisiplinan,kedisiplinan akan membawa kita

kesesuatu yang akan lebih baik lagi kemudian

i Hari : Rabu ,tanggal : 10 Mei 2017,pukul : 7.22, alamat web : https://id.wikipedia.org/wiki/Disiplin ii Hari: Rabu ,tanggal : 10 Mei 2017,pukul : 7.26,alamat web :

http://infodanpengertian.blogspot.co.id/2016/02/pengertian-disiplin-menurut-para-ahli.html

iii Hari: Kamis ,tanggal : 11 Mei 2017 ,pukul : 9.28,alamat web :

http://kajiankedisiplinan.blogspot.co.id/2013/12/faktor-yang-mempengaruhi-disiplin-siswa.html

iv Hari: Jumat ,tanggal : 12 Mei 2017,pukul : 7.33,alamat web :

http://akrizz.blogspot.co.id/2012/07/sebab-sebab-pelanggaran-disiplin-dan.html

v Hari : Rabu,tanggal :17 Mei 2017 ,pukul : 4.38 ,alamat web: https://id.wikipedia.org/wiki/Disiplin

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Wikipedia.https://id.wikipedia.org/wiki/Disiplin

Kumpulan pengertian.

http://infodanpengertian.blogspot.co.id/2016/02/pengertian-disiplin-menurut-para-ahli.html

Kajian Kedisiplinan.

http://kajiankedisiplinan.blogspot.co.id/2013/12/faktor-yang-mempengaruhi-disiplin-siswa.html

AKRIZ’Z kumpulan Ilmu Yang bermanfaat.

Referensi

Dokumen terkait

Ensimmäiseen tutkimuskysymykseen, mitkä tekijät edistävät luovuutta ICT-alan organisaatioissa saatiin vastauksiksi: Vapaus tehdä työtä ajasta ja paikasta riippumatta,

Protokoler Dan Keuangan Pimpinan Dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 90, Tambahan Lembaran Negara

Terlepas dari kemungkinan terbatasnya fasilitas belajar berupa buku-buku dan lingkungan belajar yang belum memadai untuk mendukung pembelajaran bahasa Inggris bagi

 b. Peserta didik melakukan refleksi atas manfaat proses pembelajaran yang telah dilakukan dan menentukan tindakan yang akan dilakukan berkaitan dengan materi arti

Long Term Evolution (LTE) merupakan teknologi berbasis Internet Protocol (IP) yang mendukung transfer paket data dengan rate yang tinggi dibandingkan teknologi

9 Majelis Sinode GPIB, Katekisasi GPIB, h.. Dengan demikian, nampaknya teks ini mulai/telah menjadi acuan perumusan baptisan yang berkaitan erat dengan Trinitas.

Dari data maupun infromasi yang telah didapatkan, peserta didik diminta menyelesaikan beberapa soal di LKPD, yaitu mencoba untuk menyelesaikan soal yang

Dari definisi-definisi yang telah dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa akuntansi sektor publik merupakan proses pencatatan, pengklasifikasian, penganalisisan dan